• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Komunikasi Antar Pribadi Dalam Voluntary Counselling And Testing : (Studi Deskriptif Tentang Faktor Konsep Diri ODHA Setelah Melakukan Konseling dan Tes HIV di Klinik Voluntary Counselling and Testing RSU Pirngadi Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peran Komunikasi Antar Pribadi Dalam Voluntary Counselling And Testing : (Studi Deskriptif Tentang Faktor Konsep Diri ODHA Setelah Melakukan Konseling dan Tes HIV di Klinik Voluntary Counselling and Testing RSU Pirngadi Medan)"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING

(Studi Deskriptif Tentang Faktor Konsep Diri ODHA Setelah Melakukan Konseling dan Tes HIV di Klinik Voluntary Counselling and Testing RSU Pirngadi Medan)

Diajukan Oleh:

RIZKA WANDARI NASUTION 0 6 0 9 2 2 0 0 4

PROGRAM EKSTENSI

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh konselor dalam pembentukan konsep diri ODHA melalui konseling di Klinik Voluntary Counselling and Testing Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kuantitatif yaitu banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu metode yang bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penyebaran quesioner pada 47 klien klinik VCT dan melakukan wawancara pada tiga orang di antaranya untuk melengkapi penelitian. Kesemua responden adalah klien yang pernah berkunjung ke klinik VCT untuk melakukan konseling.

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahhirrahmanirrahim

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

skripsi ini. Tak lupa pula shalawat berangkaikan salam penulis haturkan kepada

junjungan alam Nabi Besar Muhammad Saw yang telah membawa manusia dari alam

kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan.

Dalam penulisan ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa isi dari tulisan ini

masih jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan masih minimnya pengetahuan dan

pengalaman penulis dalam mencari, mengumpulkan dan mengolah data-data penelitian.

Meskipun demikian, penulis berusaha secara maksimal agar tulisan ini dapat tersusun

sebaik mungkin. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis terbuka atas

segala kritikan dan saran yang membangun dari pembaca, sebagai masukan untuk

menyempurnakan tulisan ini.

Penyusunan skripsi ini sebagai tugas akhir penulis dimungkinkan berkat bantuan

berbagai pihak. Maka sudah pada tempatnya bila penulis menyampaikan penghargaan

dan rasa terima kasih yang tidak terhingga pada mereka. Pertama-tama, ucapan terima

kasih penulis tujukan kepada Bapak Drs. Syafruddin Pohan, MSi yang telah banyak

membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini. Selanjutnya, rasa terima kasih juga

penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. M. Arif Nasution, M.A selaku Dekan FISIP USU

(4)

3. Bapak Drs. Mukti Sitompul, MSi, selaku Dosen Wali penulis

4. Dosen-dosen ilmu komunikasi FISIP USU serta Dosen-Dosen mata kuliah

lainnya yang telah banyak membagi ilmunya kepada penulis.

5. Bapak Dr. Irwan Fahri Rangkuti, SpKK selaku Konsultan Klinik VCT dan Ibu

Drg. Haleni Delfi selaku Koordinator Konselor Klinik yang dengan kerendahan

hati menerima penulis di Klinik VCT dan mensuplai segala informasi yang

penulis butuhkan.

6. Ibu Hj. Mariani Angkat, S.Psi, Ibu MR Antis Naibaho, dan Ibu Tiarma Manurung,

S.Kep selaku Konselor dan Case Manager yang telah berkenan menyumbangkan

opininya serta informasi-informasi yang berkenaan dengan masalah penelitian

penulis.

7. Ika Noor Arbi selaku pegawai administrasi klinik VCT, terima kasih atas waktu

dan tenaganya.

8. Ayahanda Irwan Dwanda Nasution, SH dan Ibunda Hj. Butet Marike tercinta atas

doa restunya yang memberi kekuatan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

9. Saudara-saudaraku tersayang, Wina Avina Nasution, Dinda Rizvina Nasution,

dan Haikal Afkar Nasution. Sepupu kecilku yang ter-cute Azita Yasirah dan yang

paling manis dan centil Najla Yasmine.

10.Teman-teman ekstensi Ilmu Komunikasi stambuk 2006: K’Ulan, K’Na, K’Yuni,

B’Boby, Mustafa, K’Rotua, K’Minar, Rina, Wina dan yang lainnya yang tidak

bisa penulis sebutkan satu persatu. Atas dukungan dan perhatiannya yang

memberi semangat kepada penulis saat menyusun skripsi ini.

(5)

12.Terima kasih yang mendalam juga penulis sampaikan kepada Wanda Kalalo,

Novi Yulia Ningsih, dan Dr. Rezeki Sembiring, SpBS atas waktu, tenaga, dan

buku-bukunya.

13.Buat teman-teman terbaikku, Tetty, Nanda, Lia, Sinta, Lanie, Vira, Rere, Abah,

serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Namun, jasanya

begitu berarti bagi penulis.

Kiranya Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah kalian berikan.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca

nantinya.

Medan, September 2008

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR TABEL ...viii

DAFTAR BAGAN ...x

BAB I : PENDAHULUAN ...1

I.1. Latar Belakang Masalah ...1

I.2. Perumusan Masalah ...7

I.3. Pembatasan Masalah ...7

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...8

I.5. Kerangka Teori ...9

I.6. Kerangka Konsep ...12

I.7. Operasionalisasi Variabel ...13

I.8. Definisi Operasional ...14

BAB II : URAIAN TEORITIS ...15

II.1. Pengertian Komunikasi...15

II.2. Teori Komunikasi Antarpribadi ...18

II.3. Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure) ...25

II.4. Konsep Diri ...31

BAB III : METODE PENELITIAN ...33

(7)

III.1.2. Klinik VCT RSU Dr. Pirngadi Kota Medan ...36

III.1.2.1. Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela ..39

III.1.2.2 Tujuan Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela ...39

III.1.2.3. Peran Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela ...39

III.1.2.4. Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela ...40

III.1.2.5. Model Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela ...41

III.1.2.6. Proses Konseling ...42

III.1.2.7. Konselor untuk Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela ...43

III.1.2.8. Sasaran Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela ...44

III.2. Metode Penelitian ...45

III.2.1. Lokasi Penelitian ...45

III.2.2. Metode Penelitian ...45

III.2.3. Populasi dan Sampel ...46

III.2.4. Teknik Pengumpulan Data ...47

III.2.5. Teknik Analisa Data ...49

BAB IV : ANALISA DAN INTERPRETASI DATA ...50

(8)

IV.2. Hasil Wawancara ...71

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN ...77

V.1. Kesimpulan ...77

V.2. Saran ...79

(9)

DAFTAR TABEL

1. Kelompok Usia ...50

2. Jenis Kelamin ...50

3. Pekerjaan ...51

4. Penghasilan Per Bulan ...52

5. Keterbukaan Klien Pada Konselor ...52

6. Keterbukaan Konselor Pada Klien ...53

7. Kepercayaan Klien Pada Konselor ...54

8. Besar Kepercayaan Klien Pada Konselor ...55

9. Konselor Berempati Pada Klien ...55

10. Empati Konselor Berpengaruh Pada Klien Untuk Bercerita Secara Detail ...56

11. Konselor Memberi Dukungan ...57

12. Dukungan konselor Menambah Semangat Klien Beraktivitas ...57

13. Rasa Positif Klien Terhadap Dirinya Ketika Konseling ...58

14. Rasa Positif Klien Terhadap Konselor Ketika Konseling ...59

15. Klien Menyampaikan Permasalahan Dengan Cermat Sehingga Dapat Dipahami Konselor ...60

16. Kesamaan Kedudukan Antara Klien Dan Konselor ...61

17. Klien Merasa Nyaman Ketika Bercerita Pada Konselor ...61

18. Kesamaan Pandangan Antara Klien Dan Konselor ...62

(10)

20. Klien Menilai Dirinya Kurang Baik ...64

21. Orang Lain Juga Menilai Klien Kurang Baik ...64

22. Klien Menghargai Dirinya ...65

23. Orang Lain Juga Menghargai Klien ...66

24. Konseling Berpengaruh Terhadap Pembentukan Konsep Diri Klien...66

25. Selama Konseling Klien Menilai Dirinya Lebih Baik...67

26. Selama Konseling Orang Lain Juga Menilai Klien Lebih Baik ...68

27. Selama Konseling Klien Lebih Menghargai Dirinya ...69

28. Selama Konseling Orang Lain Juga Lebih Menghargai Klien ...69

(11)

DAFTAR BAGAN

(12)

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh konselor dalam pembentukan konsep diri ODHA melalui konseling di Klinik Voluntary Counselling and Testing Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kuantitatif yaitu banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu metode yang bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penyebaran quesioner pada 47 klien klinik VCT dan melakukan wawancara pada tiga orang di antaranya untuk melengkapi penelitian. Kesemua responden adalah klien yang pernah berkunjung ke klinik VCT untuk melakukan konseling.

(13)

B A B I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Secara sederhana komunikasi dapat dirumuskan sebagai proses pengoperan isi

pesan berupa lambang-lambang dari komunikator kepada komunikan. Pengertian

komunikasi menurut Dale Yoder, dkk (Surakhmat, 2006:17) dikutip dari

www.wordpress.com/fag/interpersonal-communication/ - diakses 05 Mei 2008 : 22.55

WIB Communication is the interchange of information, ideas, attitudes, thoughts, and/or

opinions. Komunikasi adalah pertukaran informasi, ide, sikap, pikiran dan/atau pendapat.

Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan

sehari-hari, sebagai medium bagi pembentukan atau pengembangan pribadi untuk kontak sosial.

Melalui komunikasi seseorang tumbuh dan belajar, menemukan pribadi kita dan orang

lain, kita bergaul, bersahabat, bermusuhan, mencintai, atau mengasihi orang lain,

membenci orang lain dan sebagainya. Menurut Johnson (Supratiknya, 1995:9-10)

komunikasi penting dilakukan dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia.

Pertama, komunikasi membantu perkembangan intelektual dan sosial kita. Kedua,

identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain.

Ketiga, dalam rangka memahami reaitas di sekeliling kita serta menguji kebenaran

kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang dunia di sekitar kita, kita perlu

membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang

sama, tentu saja hal ini dapat kita lakukan lewat komunikasi dengan orang lain. Keempat,

(14)

hubungan kita dengan orang lain, terlebih lagi orang-orang yang merupakan tokoh-tokoh

signifikan dalam hidup kita.

Kita membutuhkan konfirmasi dari orang lain, yaitu pengakuan berupa tanggapan

dari orang lain yang menunjukkan bahwa diri kita normal, sehat dan berharga. Ada juga

diskonfirmasi yang merupakan lawan dari konfirmasi, yaitu penolakan dari orang lain

berupa tanggapan yang menunjukkan bahwa diri kita abnormal, tidak sehat dan tidak

berharga. Semuanya itu hanya kita peroleh lewat komunikasi dengan orang lain.

Begitu juga halnya dengan para pengidap HIV/AIDS atau yang lebih dikenal

dengan ODHA (Orang dengan HIV AIDS). Dengan penyakit yang dideritanya mereka

terstigmatisasi menjadi seolah-olah berada dalam kenyataan yang memalukan atau

namanya tercemar. Pada umumnya, mereka akan merubah persepsi tentang dirinya atau

self-image dan mendefinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah bentuk lanjut dari infeksi

HIV yang menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit,

dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh dan akhirnya mengakibatkan kematian.

Berbagai pendapat dan sikap timbul dalam menghadapi pandemi AIDS di dunia. Begitu

cepatnya perkembangan penyakit itu sehingga seluruh dunia merasa ketakutan. Tentu

saja orang yang merasa takut adalah orang yang merasa melakukan sesuatu yang

memungkinkan tertularnya penyakit AIDS.

Kita sudah mengetahui bahwa penularan utama HIV ialah melalui kontak seksual

dengan orang yang telah mengidap HIV, dan juga secara bergantian menggunakan jarum

(15)

tercemar HIV, bahkan ibu hamil pengidap HIV bisa menularkan pada bayi yang

dikandungnya. Yang tidak kita ketahui adalah bahwa HIV/AIDS tidak menular melalui:

1. Bersalaman dengan ODHA

2. Tinggal serumah dengan ODHA

3. Berciuman

4. Makanan/makan bersama

5. Gigitan nyamuk

6. Alat makan

7. Renang bersama ODHA

8. Batuk/bersin

9. Air mata, Keringat

10.Sabun Mandi

11.WC/toilet

12.Pemakaian handuk/baju bergantian

Perlu diingat bahwa HIV dapat berada di dalam tubuh manusia jika masuk langsung ke

aliran darah. Darah merupakan media penularan virus HIV yang sangat efektik.

Di antara empat kemungkinan penularan di atas, penularan melalui kontak

seksual adalah yang paling sering terjadi. Cara penularan tersebut dapat dilakukan hampir

setiap saat tanpa diketahui oleh orang lain, dan dengan semakin banyaknya

penyimpangan norma-norma seksual, semakin besar pula kemungkinan tertular AIDS.

Pola hidup yang demikian menyebabkan rasa takut terhadap kemungkinan tertular AIDS

sehingga membuat sebagian orang menjadi panik, gelisah, sulit tidur, dan akhirnya tidak

(16)

Sebagian penderita AIDS akan mampu menerima dirinya sebagaimana adanya.

Dengan kemampuan menerima diri dia juga akan berusaha sembuh dan berusaha pula

untuk mencegah agar jangan menularkan penyakitnya kepada orang lain. Tetapi, pada

sebagian penderita lainnya, mereka merasa dihukum oleh masyarakat, atau tidak mampu

menerima penyakitnya. Mungkin mereka merasa bahwa sebenarnya mereka hanya

melakukan suatu perbuatan dosa yang kecil, tetapi hukumannya begitu besar. Mungkin

juga mereka merasa tidak berbuat sesuatu yang sangat terlarang tetapi mereka bisa

mengidap penyakit demikian. Berbagai pemikiran dan perasaan seperti disebutkan di atas

dapat mendorong penderita untuk tidak perduli akan penularan penyakitnya pada orang

lain atau mungkin juga timbul perasaan bermusuhan sehingga bahkan berusaha untuk

menularkannya. Juga kepribadian-kepribadian yang egoistis atau egosentrik yang tidak

perduli pada orang-orang di sekitarnya dan hanya mementingkan diri sendiri dapat

menyebabkan penderita HIV positif tidak dapat menahan diri untuk tidak menularkan

penyakitnya.

Menurut Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung H. Sukarni, SKM

yang dikutip dari Harian Analisa, jumlah penderita HIV positif di Sumatera Utara sejak

tahun 1994 hingga Februari 2008 berjumlah 724 kasus. Begitu juga jumlah kumulatif

kasus HIV/AIDS berdasarkan Kabupaten Kota di Sumatera Utara hingga Februari 2008

berjumlah 1218 kasus. Sementara itu telah ditemukan lagi 952 kasus HIV positif baru di

Sumatera Utara. Melihat tingginya jumlah kasus HIV positif tersebut di atas maka

masalah HIV/AIDS bukan hanya masalah kesehatan dari penyakit menular semata, tetapi

sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang luas. Dengan semakin banyaknya

(17)

dukungan yang mereka butuhkan adalah dukungan psikososial. Dukungan ini penting

bagi mereka yang memerlukan sahabat untuk mencurahkan permasalahannya. Mereka

bisa mendapatkan dukungan ini di Klinik atau Rumah Sakit yang menyediakan layanan

konseling dan tes HIV/AIDS sukarela.

Secara historis asal mula pengertian konseling adalah untuk memberi nasehat,

seperti penasehat hukum ataupun penasehat perkawinan, yang menekankan pada nasehat

(advise giving), mendorong, memberi informasi, menginterpretasi hasil tes, dan analisa

psikologis. Milton E. Hahn (Willis, 2004:18) mengatakan bahwa konseling adalah suatu

proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang

mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan seorang petugas profesional yang

telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien mampu

memecahkan kesulitannya.

Dalam hal ini, konseling yang dimaksud adalah layanan Voluntary Counselling

and Testing (VCT) yang merupakan pintu masuk untuk membantu setiap orang, baik

ODHA maupun OHIDA yang merasa curiga dirinya terinfeksi HIV/AIDS, untuk

membantu setiap orang mendapatkan akses ke semua pelayanan, baik informasi, edukasi,

terapi atau dukungan psikososial. Dengan terbukanya akses, maka kebutuhan akan

informasi yang akurat dan tepat dapat dicapai, sehingga proses pikir, perasaan dan

perilaku dapat di arahkan kepada perubahan perilaku yang lebih sehat. Proses konseling

ini termasuk mengevaluasi resiko pribadi atas penularan HIV dan memfasilitasi

perubahan perilaku untuk mencegah penularan. Perubahan perilaku seseorang dari

beresiko menjadi kurang beresiko terhadap kemungkinan tertular HIV memerlukan

(18)

nurani dan logika. Selain itu, diharapkan ODHA juga dapat merubah pandangan dan

penilaian tentang dirinya secara pribadi maupun di mata masyarakat. Proses ini sangat

unik dan membutuhkan pendekatan individual. Konseling merupakan salah satu

pendekatan yang perlu dikembangkan untuk mengelola kejiwaan dan proses

menggunakan pikiran secara mandiri.

Konseling yang dilakukan dalam VCT berperan sebagai komunikasi interpersonal

yang di dalamnya terjadi sebuah dialog antara ODHA dengan seorang konselor yang

bertujuan untuk memberdayakan orang untuk tegar dari stress dan membuat keputusan

pribadi terkait HIV/AIDS. Sesuai dengan definisi komunikasi antar pribadi menurut De

Vito (Liliweri, 1991:12), komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan-pesan

dari seseorang dan diterima oleh orang yang lain, atau sekelompok orang dengan efek

dan umpan balik yang langsung. Kebanyakan komunikasi interpersonal berbentuk verbal

disertai ungkapan-ungkapan nonverbal dan dilakukan secara lisan.

Melalui layanan ini mereka bisa bercerita secara detail mengenai penyakit yang

mereka idap sampai masalah-masalah yang disebabkannya kepada seorang konselor.

Konselor inilah yang nantinya menanggapi dan memberikan beberapa pertanyaan

berkaitan dengan penyakit mereka. Konselor sebagai komunikator dan klien sebagai

komunikan bicara langsung bertatap muka tanpa adanya media, dengan adanya

jawaban-jawaban dari klien berarti ada feedback atau umpan balik yang seketika. Dapat dilihat

bahwa konseling ini merupakan komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh konselor

terhadap penderita HIV/AIDS. Oleh sebab itu, penulis tertarik memilih topik ini untuk

(19)

I.2. Perumusan Masalah

Setelah masalah penelitian ditentukan, langkah selanjutnya adalah membuat

rumusan dgn jelas. Rumusan masalah harus dibuat secara jelas batasannya karena hal ini

berguna bagi pelaksanaan penelitian. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah

diuraikan, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Bagaimana komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh konselor dalam

pembentukan konsep diri ODHA melalui konseling yang dilakukan di Klinik Voluntary

Counselling and Testing Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan”.

I.3. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas dan membatasi ruang lingkup penelitian, diperlukan

pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Subjek penelitian adalah klien (ODHA) yang berkunjung ke klinik Voluntary

Counselling and Testing RSU Pirngadi Medan untuk melakukan konseling secara

sukarela.

b. Penelitian bersifat deskriptif, yaitu metode yang bertujuan untuk melukiskan

secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu

secara faktual dan cermat.

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

a. Tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui komunikasi antar pribadi yang terjadi antara konselor dan klien

(20)

2. Mengetahui cara pelayanan yang tepat dalam usaha pembentukan konsep diri

ODHA di Klinik Voluntary Counselling and Testing di Rumah Sakit Umum

Pirngadi Medan.

b. Manfaat penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman penulis

mengenai komunikasi antar pribadi, khususnya komunikasi antar pribadi yang

dilakukan antara konselor dan kliennya (ODHA) dalam usaha pembentukan

konsep diri.

2. Secara akademis, penelitian ini dapat menambah khasanah bacaan di

lingkungan FISIP USU khususnya jurusan ilmu komunikasi.

I.5. Kerangka Teori

Kerangka teori berfungsi untuk menguraikan teori, proposisi, konsep, atau

pendekatan terbaru yang ada hubungannya dengan masalah penelitian. Dalam penelitian

ini akan diuraikan teori-teori yang menyangkut isi penelitian di antaranya:

1. Komunikasi

Ilmu komunikasi mempelajari dan meneliti perubahan tingkah laku dan pendapat

yang diakibatkan oleh informasi yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Hal

ini sesuai dengan pendapat Carl I. Hovland (Purba, dkk, 2006:29) yang mengatakan :

“proses di mana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang-perangsang

(biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang

(21)

Dalam proses penyampaian pesan yang terjadi pada konseling ini membutuhkan

keterbukaan diri dari kedua pihak, komunikator dan komunikan. Membuka diri adalah

sebuah cara untuk memperoleh informasi tentang orang lain. Kita ingin agar kita mampu

memprediksikan pemikiran dan tindakan-tindakan orang-orang yang sudah kita kenal.

Membuka diri juga merupakan satu cara untuk mempelajari tentang apa yang dirasakan

dan dipikirkan oleh orang lain. Sekali seseorang terikat di dalam keterbukaan diri, secara

tidak langsung orang lain juga akan mengungkap informasi pribadinya. Hal ini disebut

juga sebagai norma timbal balik, maksudnya kita bisa melihat adanya umpan balik dalam

proses ini. Adanya saling keterbukaan dalam sebuah hubungan bisa mempererat

kepercayaan dan membantu setiap orang untuk saling memahami. Kita juga bisa merasa

bahwa hubungan dan diri kita menjadi lebih baik ketika orang lain mau menerima atau

mendengarkan apa yang kita katakan pada mereka.

Seperti yang dijelaskan dalam teori self-disclosure atau bisa diartikan sebagai

teori keterbukaan diri. Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham (1969)

yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui ataupun tidak mengetahui tentang

dirinya maupun orang lain. Teori ini dilihat sebagai suatu strategi yang sangat berguna

untuk berbagi informasi dengan orang lain. Berbagi informasi dengan orang lain yang

mungkin belum pernah dikenal atau ditemui, bisa beresiko dan menyebabkan kerapuhan

hati bagi seseorang ketika sedang berbagi informasi.

2. Komunikasi Antar Pribadi

Sebelum menganalisa lebih jauh mengenai komunikasi antar pribadi yang terjadi

dalam konseling dan tes sukarela HIV/AIDS, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih

(22)

(Liliweri, 1991:12), komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari

seseorang dan diterima oleh orang yang lain, atau sekelompok orang dengan efek dan

umpan balik yang langsung. De Vito juga mengemukakan suatu komunikasi antar pribadi

mengandung ciri-ciri; 1) keterbukaan atau openes; 2) empati atau empathy; 3) dukungan

atau support; 4) rasa positif atau positivenes; dan 5) kesamaan atau equality.

Sementara itu menurut Dean C. Barnlund (Liliweri, 1991:12), mengemukakan

bahwa komunikasi antar pribadi biasanya dihubungkan dengan pertemuan antar dua

orang atau tiga orang atau mungkin empat orang yang terjadi secara sangat spontan dan

tidak berstruktur. Ada juga definisi lain menurut Rogers dalam Depari (Liliweri,

1991:12), mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi dari

mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. Pendapat

lain dari Tan (Liliweri, 1991:12), mengatakan bahwa interpersonal communication

(komunikasi antar pribadi) adalah komunikasi tatap muka antar dua orang atau lebih.

3. Konsep Diri

Konsep diri menurut definisi William D. Brooks (Rakhmat, 1997:99) adalah

“those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived

from experiences and our interaction with others”. Jadi, konsep diri adalah pandangan

dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi,

sosial, dan fisis. Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga

penilaian kita tentang diri kita. Seperti yang diungkapkan oleh Anita Taylor et al

(23)

complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”. Jadi, konsep diri meliputi apa

yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tentang diri kita.

Dengan demikian, ada dua komponen konsep diri, yaitu komponen kognitif dan

komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self

image), dan komponen afektif disebut harga diri (self esteem). Keduanya, menurut

Wiliam D. Brooks dan Phillip Emmert (Rakhmat, 1999:100) berpengaruh besar pada

pola komunikasi interpersonal.

I.6. Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah:

a. Komunikasi Antar Pribadi, indikatornya:

1. Keterbukaan

2. Empati

3. Dukungan

4. Rasa positif

5. Kesamaan

b. Konsep Diri, indikatornya:

1. Citra diri (self image)

2. Harga diri (self esteem)

c. Karakteristik Responden, indikatornya:

1. Usia

2. Jenis Kelamin

(24)

8. Operasionalisasi Variabel

Berdasarkan kerangka konsep di atas, untuk lebih memudahkan operasionalisasi

pemecahan masalah maka perlu dibuat operasionalisasi variabel, sebagai berikut:

Variabel Teoritis Variabel Operasional

1. Komunikasi Antar Pribadi

2. Konsep Diri

3. Karakteristik Responden

a. Keterbukaan

b. Empati

c. Dukungan

d. Rasa positif

e. Kesamaan

a. Citra diri (self image)

b. Harga diri (self esteem)

a. Usia

b. Jenis kelamin

c. Pekerjaan

(25)

I.8. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah petunjuk pelaksanaan bagaimana caranya mengukur

suatu variabel. Untuk memperjelas uraian dalam tulisan ini, penulis memberikan

penjelasan atas istilah operasional:

1. Keterbukaan, adalah menaruh kepercayaan kepada orang lain atau pendengar yang kita

ajak bicara.

2. Empati, adalah keadaan mental yang mempengaruhi jiwa seseorang sehingga

menganggap pikirannya sama dengan pikiran orang lain.

3. Dukungan, adalah dorongan moril dalam hal mewujudkan komunikasi interpersonal

4. Rasa positif, adalah keyakinan bahwa telah melakukan persepsi dengan cermat dan

mengungkapkan petunjuk-petunjuk yang membuat orang lain menafsirkan kita dengan

cermat pula.

5. Kesamaan, maksudnya adalah kesamaan kedudukan antara klien dan konselor agar

terwujud komunikasi interpersonal yang lebih terbuka.

6. Citra diri, yaitu gambaran pribadi yang dimiliki setiap orang tentang dirinya sendiri.

7. Harga diri, yaitu nilai, martabat atau kehormatan seseorang.

8. Karakteristik responden adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang yang dapat

(26)

B A B I I URAIAN TEORITIS

II.1. Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu

pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada

umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat

dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat

dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan

gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan

kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata

Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama atau sama

makna (Effendy, 1990:9). Sama makna yang dimaksudkan adalah selain mengerti bahasa

yang digunakan dalam suatu percakapan kita juga harus mengerti makna dari bahan yang

dipercakapkan. Jika selama percakapan berlangsung tercapai kesamaan makna tersebut,

maka percakapan itu bisa dikatakan komunikatif.

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau

perasaan oleh komunikator kepada komunikan. Pikiran bisa merupakan gagasan,

informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa

keyakinan, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, kegairahan, dan sebagainya yang

timbul dari lubuk hati. Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap (Effendy, 1990:11),

(27)

a. Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau

perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau simbol sebagai

media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, gesture,

isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung dapat menterjemahkan

pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.

b. Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua

setelah memakai lambang sebagai media pertama. Pentingnya peranan media sekunder

dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya dalam mencapai komunikan.

Akan tetapi, para ahli komunikasi mengakui bahwa keefektifan dan efisiensi komunikasi

bermedia hanya dalam menyebarkan pesan-pesan yang bersifat informatif saja.

Selanjutnya, ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi menurut

William G. Scott (Suprapto, 2006:7), yakni:

1. The Act (Perbuatan)

Perbuatan komunikasi menginginkan pemakaian lambang-lambang yang dapat

dimengerti secara baik dan hubungan-hubungan yang dilakukan oleh manusia. Pada

umumnya lambang-lambang tersebut dinyatakan dengan bahasa atau dalam keadaan

tertentu tanda-tanda lain dapat pula dipergunakan.

2. The Scene (Adegan)

Adegan sebagai salah satu faktor dalam komunikasi ini menekankan

(28)

dilakukan, simbol apa yang digunakan, dan arti dari apa yang dikatakan. Dengan kata

lain, dengan menggunakan simbol apa sesuatu itu dapat dikomunikasikan.

3. The Agent (Pelaku)

Individu-individu yang mengambil bagian dalam hubungan komunikasi disebut

pelaku komunikasi. Pengirim (komunikator) dan penerima (komunikan) yang terlibat di

dalamnya adalah contoh pelaku komunikasi tersebut. Dan peranannya seringkali saling

menggantikan dalam situasi komunikasi yang berkembang.

4. The Agency (Perantara)

Alat-alat yang dipergunakan dalam komunikasi dapat membangun terwujudnya

perantara itu (the agency). Alat-alat itu selain dapat berwujud komunikasi lisan, tatap

muka, dapat juga alat komunikasi tertulis, seperti surat perintah, memo, buletin, nota,

surat tugas dan jenis lainnya.

5. The Purpose (Tujuan)

Menurut Grace dalam Thoha (Suprapto, 2006:8) ada empat macam tujuan

tersebut:

Tujuan Fungsional (The Functional Goals), ialah tujuan yang secara pokok

bermanfaat untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi atau lembaga.

Tujuan Manipulasi (The Manipulative Goals), tujuan ini dimaksudkan untuk

menggerakkan orang-orang yang mau menerima ide-ide yang disampaikan baik

sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan sikapnya sendiri.

Tujuan Keindahan (The Aesthetics Goals), tujuan ini bermaksud untuk

(29)

untuk memungkinkan seseorang mampu mengungkapkan perasaan tadi dalam

kenyataan.

Tujuan Keyakinan (The Confidence Goals), tujuan ini bermaksud untuk

meyakinkan atau mengembangkan keyakinan orang-orang pada lingkungan.

Wilbur Schramm (Effendy, 1990:13) menyatakan bahwa komunikasi akan

berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan

(frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences

and meanings) yang pernah diperoleh komunikan. Menurut Schramm, bidang

pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika

bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan,

komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, bila pengalaman komunikan tidak sama

dengan komunikator akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain.

II.2. Teori Komunikasi Antarpribadi

Menurut Dean C. Barnlund (Liliweri, 1991:12), mengemukakan bahwa

komunikasi antar pribadi biasanya dihubungkan dengan pertemuan antar dua orang atau

tiga orang atau mungkin empat orang yang terjadi secara sangat spontan dan tidak

berstruktur. Ada juga definisi lain menurut Rogers dalam Depari (Liliweri, 1991:12),

mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi dari mulut ke

mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. Pendapat lain dari

Tan (Liliweri, 1991:12), mengatakan bahwa interpersonal communication (komunikasi

(30)

Sementara itu de Vito (Liliweri, 1991:12), komunikasi antar pribadi merupakan

pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang yang lain, atau

sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung. De Vito juga

mengemukakan suatu komunikasi antar pribadi mengandung ciri-ciri; 1) keterbukaan

atau opennes; 2) empati atau empathy; 3) dukungan atau support; 4) rasa positif atau

positivenes; dan 5) kesamaan atau equality.

Setelah kita memahami pengertian komunikasi antarpribadi, dalam perjalanannya

antara komunikasi antarpribadi kepada sebuah konsep diri sebaiknya kita memberikan

sedikit pemaparan tentang ciri komunikasi antarpribadi yang efektif menurut de Vito:

1. Keterbukaan (Opennes)

Sikap keterbukaan paling tidak menunjuk pada dua aspek dalam komunikasi

antarpribadi. Pertama, kita harus terbuka pada orang lain yang berinteraksi dengan kita,

yang penting adalah adanya kemauan untuk membuka diri pada masalah-masalah yang

umum agar orang lain mampu mengetahui pendapat, gagasan, atau pikiran kita, sehingga

komunikasi akan mudah dilakukan. Kedua, dari keterbukaan menunjuk pada kemauan

kita untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain secara jujur dan terus terang

terhadap segala sesuatu yang dikatakannya.

2. Empati (Empathy)

Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada posisi

atau peranan orang lain. Dalam arti bahwa seseorang secara emosional ataupun

(31)

3. Dukungan (Support)

Setiap pendapat, ide, atau gagasan yang disampaikan mendapat dukungan dari

pihak-pihak yang berkomunikasi. Dengan demikian keinginan atau hasrat yang ada

dimotivasi untuk mencapainya. Dukungan membantu seseorang untuk lebih bersemangat

dalam melaksanakan aktivitas serta meraih tujuan yang didambakan.

4. Rasa Positif (positivnes)

Jika setiap pembicaraan yang disampaikan mendapat tanggapan pertama yang

positif, maka lebih mudah melanjutkan percakapan yang selanjutnya. Rasa positif

menghindarkan pihak-pihak yang berkomunikasi untuk curiga atau berprasangka yang

mengganggu jalinan interaksi.

5. Kesamaan (Equality)

Suatu komunikasi lebih akrab dan jalinan antarpribadi pun lebih kuat, apabila

memiliki kesamaan tertentu seperti kesamaan pandangan, kesamaan sikap, kesamaan

usia, kesamaan idiologi dan sebagainya.

Komunikasi antarpribadi merupakan kegiatan yang dinamis. Dengan tetap

memperhatikan kedinamisannya, komunikasi antarpribadi mempunyai ciri-ciri sebagai

berikut (Hardjana, 2003:86):

1. Komunikasi antarpribadi adalah verbal dan nonverbal

Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam

bentuk verbal atau nonverbal. Dalam komunikasi itu, seperti pada komunikasi umumnya,

selalu mencakup dua unsur pokok: isi pesan dan bagaimana isi itu dikatakan atau

(32)

sebaiknya diperhatikan dan dilakukan berdasarkan pertimbangan situasi, kondisi, dan

keadaan penerima pesannya.

2. Komunikasi antarpribadi mencakup perilaku tertentu

Ada tiga perilaku dalam komunikasi antarpribadi, yakni:

a. Perilaku spontan (spontaneus behavior) adalah perilaku yang dilakukan karena

desakan emosi dan tanpa sensor serta revisi secara kognitif. Artinya, perilaku itu

terjadi begitu saja.

b. Perilaku menurut kebiasaan (script behavior) adalah perilaku yang kita pelajari dari

kebiasaan kita. Perilaku itu khas, dilakukan pada situasi tertentu, dan dimengerti

orang. Misalnya: ucapan “selamat datang” pada teman yang datang.

c. Perilaku sadar (contrived behavior) adalah perilaku yang dipilih karena dianggap

sesuai dengan situasi yang ada. Perilaku itu dipikirkan dan dirancang sebelumnya,

dan disesuaikan dengan orang yang akan dihadapi, dan situasi serta kondisi yang ada.

3. Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang berproses pengembangan

Komunikasi antarpribadi berbeda-beda tergantung dari tingkat hubungan

pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi, pesan yang dikomunikasikan, dan cara pesan

disampaikan. Komunikasi itu berkembang berawal dari saling pengenalan yang dangkal,

berlanjut makin mendalam, dan berakhir dengan saling kenal yang amat mendalam, tetapi

bisa juga putus sampai akhirnya saling melupakan.

4. Komunikasi antarpribadi mengandung umpan balik, interaksi, dan koherensi

Kemungkinan umpan balik (feed back) dalam komunikasi antarpribadi besar

sekali. Dalam komunikasi ini, penerima pesan dapat langsung menanggapi dengan

(33)

terjadi interaksi (interaction) yang satu mempengaruhi yang lain, dan kedua-duanya

saling mempengaruhi dan memberi serta menerima dampak. Dari sini terjadilah

koherensi dalam komunikasi baik antara pesan yang disampaikan dan umpan balik yang

diberikan, maupun dalam keseluruhan komunikasi.

5. Komunikasi antarpribadi berjalan menurut peraturan tertentu

Agar berjalan baik, maka komunikasi antarpribadi hendaknya mengikuti

peraturan (rules) tertentu. Peraturan itu ada yang intrinsik dan ada yang ekstrinsik.

Peraturan intrinsik adalah peraturan yang dikembangkan oleh masyarakat untuk mengatur

cara orang harus berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan peraturan ekstrinsik adalah

peraturan yang ditetapkan oleh situasi atau masyarakat.

6. Komunikasi antarpribadi adalah kegiatan aktif

Komunikasi antarpribadi bukan hanya komunikasi dari pengirim kepada penerima

pesan dan sebaliknya, melainkan komunikasi timbal balik antara pengirim dan penerima

pesan. Komunikasi ini bukan sekedar serangkaian rangsangan-tanggapan,

stimulus-respons, tetapi serangkaian proses saling penerimaan, penyerapan, dan penyampaian

tanggapan yang sudah diolah oleh masing-masing pihak.

7. Komunikasi antarpribadi saling mengubah

Melalui interaksi dalam komunikasi, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dapat

saling memberi inspirasi, semangat dan dorongan untuk mengubah pemikiran, perasaan,

dan sikap yang sesuai dengan topik yang dibahas bersama. Oleh sebab itu, komunikasi ini

merupakan wahana untuk saling belajar dan mengembangkan wawasan, pengetahuan,

(34)

Kemudian Hardjana (2003:91) juga menyatakan agar komunikasi antarpribadi

berhasil, kita perlu memiliki kecakapan (skill) komunikasi antarpribadi baik sosial

maupun behavioral. Kecakapan sosial adalah kecakapan pada tingkat pemahaman

(kognitif), yang meliputi:

a. Empati (empathy), kecakapan untuk memahami pengertian dan perasaan orang lain

tanpa meninggalkan sudut pandang sendiri tentang hal yang menjadi bahan

komunikasi.

b. Perspektif sosial (social perspective), kecakapan melihat kemungkinan-kemungkinan

perilaku yang dapat diambil orang yang berkomunikasi dengan dirinya. Dengan

demikian kita dapat meramalkan perilaku apa yang sebaiknya diambil dan dapat

menyiapkan tanggapan kita yang tepat dan efektif.

c. Kepekaan (sensitivity) terhadap peraturan atau standar yang berlaku dalam

komunikasi antarpribadi. Dengan kepekaan itu kita dapat menetapkan perilaku mana

yang diteima dan perilaku mana yang ditolak oleh rekan yang berkomunikasi dengan

kita.

d. Pengetahuan akan situasi pada waktu berkomunikasi. Pengetahuan akan situasi dan

keadaan orang merupakan pegangan bagaimana kita harus berperilaku dalam situasi

itu. Berdasarkan pengetahuan akan situasi, kita dapat menetapkan kapan dan

bagaimana masuk dalam percakapan, menilai isi dan cara berkomunikasi pihak yang

berkomunikasi dengan kita, dan selanjutnya mengolah pesan yang kita terima.

e. Memonitor diri (self-monitoring), kecakapan memonitor diri membantu kita menjaga

ketepatan perilaku dan jeli memperhatikan pengungkapan diri orang yang

(35)

Sedangkan kecakapan behavioral merupakan kecakapan pada tingkat perilaku,

yang meliputi:

1. Keterlibatan interaktif (interactive involvement), yang menentukan keikutsertaan dan

partisipasi kita dalam komunikasi dengan orang lain, meliputi:

a. Sikap tanggap (responsiveness), dengan sikap ini kita dengan cepat akan

membaca situasi sosial di mana kita berada dan tahu apa yang harus dikatakan,

dilakukan, kapan dikatakan dan dilakukan, serta bagaimana dikatakan dan

dilakukan.

b. Sikap perseptif (perceptiveness), dengan kecakapan ini kita dibantu untuk

memahami bagaimana orang yang berkomunikasi dengan kita mengartikan

perilaku kita dan tahu bagaimana kita mengartikan perilakunya.

c. Sikap penuh perhatian (attentiveness), kecakapan ini membantu kita untuk

menyadari faktor-faktor yang menciptakan situasi di mana kita berada.

2. Manajemen interaksi (interaction management), kecakapan itu membantu kita

mampu mengambil tindakan-tindakan yang berguna bagi kita untuk mencapai tujuan

komunikasi kita. Misalnya, kapan mengambil inisiatif untuk mengawali topik baru,

dan kapan mengikuti saja topik yang dikemukakan orang lain.

3. Keluwesan perilaku (behavioral flexibility), kecakapan ini membantu kita untuk

melaksanakan berbagai kemungkinan perilaku yang dapat diambil untuk mencapai

tujuan komunikasi.

4. Mendengarkan (listening), kecakapan ini membantu kita untuk dapat mendengarkan

orang yang berkomunikasi dengan kita tidak hanya isi, tetapi juga perasaan,

(36)

komunikasi yang baik karena membuat orang tersebut merasa diterima, dan kita dapat

menanggapinya dengan baik.

5. Gaya sosial (social style), kecakapan ini membantu kita dapat berperilaku menarik,

khas, dan dapat diterima oleh orang yang berkomunikasi dengan kita.

6. Kecemasan komunikasi (communication anxiety), dengan kecakapan ini kita dapat

mengatasi rasa takut, bingung, dan kacau pikiran, tubuh gemetar, dan rasa demam

panggung yang muncul dalam komunikasi dengan orang lain.

II.3. Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)

Membuka diri adalah sebuah cara untuk memperoleh informasi tentang orang

lain. Kita ingin agar kita mampu memprediksikan pemikiran dan tindakan-tindakan

orang-orang yang sudah kita kenal. Membuka diri juga merupakan satu cara untuk

mempelajari tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. Sekali seseorang

terikat di dalam keterbukaan diri, secara tidak langsung orang lain juga akan mengungkap

informasi pribadinya. Hal ini disebut juga sebagai norma timbal balik, maksudnya kita

bisa melihat adanya umpan balik dalam proses ini. Adanya saling keterbukaan dalam

sebuah hubungan bisa mempererat kepercayaan dan membantu setiap orang untuk saling

memahami. Kita juga bisa merasa bahwa hubungan dan diri kita menjadi lebih baik

ketika orang lain mau menerima atau mendengarkan apa yang kita katakan pada mereka.

Menurut Morton (Dayaksini, et al, 2003:87) pengungkapan diri merupakan

kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi di

dalam pengungkapan diri ini bersifat deskriptif atau evaluatif. Deskriptif artinya individu

(37)

pendengar seperti jenis pekerjaan, alamat dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu

mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya seperti tipe orang yang kita sukai atau

hal-hal yang kita suka i atau kita benci.

Pengungkapan ini dapat berupa berbagai topik seperti informasi perilaku, sikap,

perasaan, keinginan, motivasi dan ide yang sesuai dan terdapat di dalam diri orang yang

bersangkutan. Kedalaman dari pengungkapan diri seseorang tergantung pada situasi dan

orang yang diajak untuk berinteraksi. Jika orang yang berinteraksi dengan kita

menyenangkan dan membuat kita merasa aman serta dapat membangkitkan semangat

maka kemungkinan bagi kita untuk lebih membuka diri amatlah besar. Sebaliknya pada

beberapa orang tertentu kita dapat saja menutup diri karena merasa kurang percaya,

seperti pernyataan de Vito (Dayaksini, et al, 2003:88).

Seperti yang dijelaskan dalam teori self-disclosure atau bisa diartikan sebagai

teori keterbukaan diri, yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui ataupun

tidak mengetahui tentang dirinya maupun orang lain. Teori ini dilihat sebagai suatu

strategi yang sangat berguna untuk berbagi informasi dengan orang lain. Berbagi

informasi dengan orang lain yang mungkin belum pernah dikenal atau ditemui, bisa

beresiko dan menyebabkan kerapuhan hati bagi seseorang ketika sedang berbagi

informasi.

Johari window atau lebih lanjut disebut juga jendela Johari, nama ini berasal dari

para penemunya, yakni Joseph Luft dan Harry Ingham. Teori ini adalah salah satu model

yang paling berguna untuk menggambarkan proses interaksi antar manusia. Sebuah

“jendela” berkaca empat yang membagi kewaspadaan pribadi ke dalam empat jenis yang

(38)

tidak dikenal. Garis-garis yang membagi keempat kuadran tersebut terlihat seperti bidang

jendela, yang dapat bergeser ketika sebuah interaksi mengalami kemajuan.

Hubungan antara konsep diri dan membuka diri dapat dijelaskan dengan Jendela

Johari. Dalam gambar Jendela Johari berikut ini diungkapkan tingkat keterbukaan dan

tingkat kesadaran diri kita (Rakhmat, 1997:108).

Kita ketahui Tidak kita ketahui

Orang lain tahu (publik)

Orang lain tidak tahu (privat)

Johari melukiskan bahwa dalam pengembangan hubungan antar manusia terdapat

empat kemungkinan sebagai mana terwakili melalui suasana di keempat bidang (jendela).

• Jendela 1, melukiskan suatu kondisi di mana antara seseorang dengan yang lain

mengembangkan suatu hubungan yang terbuka sehingga dua pihak saling

mengetahui masalah tentang hubungan mereka.

• Jendela 2, melukiskan bidang buta,masalah hubungan antara kedua pihak yang

hanya diketahui orang lain, tapi tidak diketahui diri sendiri.

• Jendela 3, disebut bidang tersembunyi, yakni masalah hubungan antara kedua

pihak diketahui diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain.

• Jendela 4, bidang tidak dikenal, di mana kedua pihak sama-sama tidak

mengetahui masalah hubungan di antara mereka.

Menurut Powell (Dayaksini, et al, 2003:89) terdapat tingkatan-tingkatan yang

berbeda dalam pengungkapan diri, yaitu:

1. Terbuka 2. Buta

(39)

1. Basa-basi, merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau dangkal,

walaupun terdapat keterbukaan di antara individu, tetapi tidak terjadi hubungan

antarpribadi. Masing-masing individu berkomunikasi basa-basi sekedar kesopanan.

2. Membicarakan orang lain, yang diungkapkan dalam komunikasi hanyalah tentang

orang lain atau hal-hal yang di luar dirinya. Walaupun pada tingkat ini isi komunikasi

lebih mendalam tetapi pada tingkat ini individu tidak mengungkapkan diri.

3. Menyatakan gagasan atau pendapat, pada tingkat ini sudah mulai dijalin hubungan

yang erat. Individu mulai mengungkapkan dirinya kepada individu lain.

4. Perasaan, setiap individu dapat memiliki gagasan atau pendapat yang sama tetapi

perasaan atau emosi yang menyertai gagasan atau pendapat setiap individu

berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan pertemuan antarpribadi yang

sungguh-sungguh, haruslah didasarkan atas hubungan yang jujur, terbuka dan menyatakan

perasaan-perasaan yang mendalam.

5. Hubungan puncak, pada tingkat ini pengungkapan diri telah dilakukan secara

mendalam, individu yang menjalin hubungan antarpribadi dapat menghayati perasaan

yang dialami individu lainnya. Segala persahabatan yang mendalam dan sejati

haruslah berdasarkan pada pengungkapan diri dan kejujuran yang mutlak.

Selanjutnya Derlega dan Grzelak (Dayaksini, et al, 2003:90) mengungkapkan ada

lima fungsi pengungkapan diri, yang meliputi:

1. Ekspresi (expression)

Dalam kehidupan ini terkadang kita mengalami suatu kekecewaan atau kekesalan,

baik itu yang menyangkut pekerjaan ataupun yang lainnya. Untuk membuang semua

(40)

sudah kita percaya. Dengan pengungkapan diri semacam ini kita mendapat kesempatan

untuk mengekspresikan perasaan kita.

2. Penjernihan diri (self-clarification)

Dengan saling berbagi rasa serta menceritakan perasaan dan masalah yang kita

hadapi kepada orang lain, kita berharap agar dapat memperoleh penjelasan dan

pemahaman orang lain akan masalah yang kita hadapi, sehingga pikiran kita akan

menjadi lebih jernih dan kita dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.

3. Keabsahan sosial (social validation)

Setelah kita selesai membicarakan masalah yang sedang kita hadapi, biasanya

pendengar kita akan memberikan tanggapan mengenai permasalahan tersebut. Sehingga

dengan demikian, kita akan mendapatkan suatu informasi yang bermanfaat tentang

kebenaran akan pandangan kita. Kita dapat memperoleh dukungan atau sebaliknya.

4. Kendali sosial (social control)

Seseorang dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang

keadaan dirinya yang dimaksudkan untuk mengadakan kontrol sosial, misalnya orang

akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik tentang dirinya.

5. Perkembangan hubungan (relationship development)

Saling berbagi rasa dan informasi tentang diri kita kepada orang lain serta saling

mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam usaha merintis suatu hubungan

sehingga akan semakin meningkatkan derajat keakraban.

Pengungkapan diri kadang-kadang menimbulkan bahaya, seperti resiko adanya

penolakan atau dicemooh orang lain, bahkan dapat menimbulkan kerugian material.

(41)

memutuskan untuk melakukan pengungkapan diri. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang

perlu dipertimbangkan dalam pengungkapan diri menurut de Vito (Dayaksini, et al,

2003:91) :

a. Motivasi melakukan pengungkapan diri

Pengungkapan diri haruslah didorong oleh rasa berkepentingan terhadap

hubungan dengan orang lain dan diri sendiri. Sebab pengungkapan diri tidak hanya

bersangkutan dengan diri kita saja, tetapi juga bersangkutan dengan orang lain.

Kadang-kadang keterbukaan yang kita ungkapkan dapat saja melukai perasaan orang lain.

b. Kesesuaian dalam pengungkapan diri

Dalam melakukan pengungkapan diri haruslah disesuaikan dengan keadaan

lingkungan. Pengungkapan diri haruslah dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.

Misalnya, bila kita ingin mengungkapkan sesuatu pada orang lain maka kita haruslah bisa

melihat apakah waktu dan tempatnya sudah tepat.

c. Timbal balik dari orang lain

Selama melakukan pengungkapan diri, berikan lawan bicara kesempatan untuk

melakukan pengungkapan dirinya sendiri. Jika lawan bicara kita tidak melakukan

pengungkapan diri juga, maka ada kemungkinan orang tersebut tidak menyukai

keterbukaan yang kita lakukan.

II.4. Konsep Diri

Konsep diri menurut definisi William D. Brooks (Rakhmat, 1997:99) adalah

“those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived

(42)

dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi,

sosial, dan fisis. Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga

penilaian kita tentang diri kita. Seperti yang diungkapkan oleh Anita Taylor et al

(Rakhmat, 1997:100) bahwa konsep diri adalah “all you think and feel about, the entire

complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”. Jadi, konsep diri meliputi apa

yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tentang diri kita.

Dengan demikian, ada dua komponen konsep diri, yaitu komponen kognitif dan

komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self

image), dan komponen afektif disebut harga diri (self esteem). Keduanya, menurut

Wiliam D. Brooks dan Phillip Emmert (Rakhmat, 1999:100) berpengaruh besar pada

(43)

B A B I I I

METODOLOGI PENELITIAN

III.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

III.1.1. Sejarah RSU Dr. Pirngadi Kota Medan

Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan didirikan pada tanggal 11 Agustus 1928

oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama “Gemente Zieken Huis”. Peletakan batu

pertamanya dilakukan oleh seorang anak berumur 10 tahun bernama Maria Constantia

Macky dan sebagai direktur yang pertama adalah Dr. W. Bays. Kemudian pada tahun

1942, rumah sakit ini diambil alih oleh pemerintah Jepang dan berganti nama menjadi

“Syuritsu Byusono Ince” dan sebagai direktur dipercayakan kepada putera Indonesia “Dr.

Raden Pirngadi Gonggo Putro”.

Setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus

1945, maka pada tahun 1947 rumah sakit ini berganti nama menjadi “Rumah Sakit Kota

Medan”. Dengan berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tanggal 17

Agustus 1950, maka Rumah Sakit Kota Medan diambil alih oleh Pemerintah

Pusat/Kementrian Kesehatan dan namanya berganti menjadi “Rumah Sakit Umum

Pusat”.

Pada tahun 1971, Rumah Sakit ini diserahkan dari Pemerintah Pusat ke

Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dan berganti nama menjadi “Rumah Sakit Umum

Pusat Propinsi Medan”. Kemudian pada tahun 1979 nama Rumah Sakit Umum Pusat

(44)

Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pada tanggal 27 Desember 2001

RSU Dr. Pirngadi diserahkan kepemilikannya dari Pemerintah Propinsi Sumatera Utara

kepada Pemerintah Kota Medan dan berganti nama menjadi “Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) Dr. Pirngadi Medan” serta mendapat Akreditasi Departemen Kesehatan

pada tanggal 14 april 2000. Pada tanggal 6 September 2002, status kelembagaan RSUD

Dr. Pirngadi Medan ditetapkan menjadi “Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi

Kota Medan” dan sejak tanggal 5 Maret 2002 sampai sekarang jabatan direktur

dipercayakan kepada dr. H. Sjahrial R. Anas, MHA.

Adapun Visi RSU Dr. Pirngadi Medan adalah MANTAP tahun 2010 yaitu:

a. MANDIRI : dalam pendanaan dan pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat.

b. TANGGAP : terhadap tuntutan masyarakat, perubahan pola penyakit dan kemajuan

IPTEK di bidang kesehatan.

c. PROFESIONAL : dalam pelaksanaan pelayanan sesuai standard dan etika.

Kemudian Misi Dr. Pirngadi Medan antara lain sebagai berikut:

a. Meningkatkan upaya kesehatan paripurna kepada semua golongan masyarakat secara

merata dan terjangkau, sesuai dengan tugas pokok, fungsi, serta perturan yang

berlaku.

b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bersifat spesialistik dan subspesialistik yang

bermutu.

c. Meningkatkan upaya pelayanan kesehatan secara proesional dan etis agar timbul

kepercyaan dan harapan serta rasa aman dan kenyamanan bagi penderita.

d. Meningkatkan peran RS sebagai tempat pendidikan, pelatihan, penelitian, dan

(45)

FASILITAS PELAYANAN RSU Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN

Merupakan Rumah Sakit Pemerintah Type B, yang dilengkapi dengan fasilitas –

fasilitas pelayanan lengkap antara lain :

1. INSTALASI GAWAT DARURAT 24 JAM

Tersedia Ruang Observasi, Unit Kebidanan, Unit Interna, Unit Anak, Unit Bedah,

P3K, Apotik Khusus, Laboratorium, tenaga medis siap 24 jam dan didukung tenaga

Spesialis / Konsultan, Ambulance 24 Jam.

2. UNIT RAWAT JALAN

Terdiri dari Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam, Kebidanan dan Kandungan, Bedah,

Mata, THT, Anak, Kulit dan Kelamin, Kulit dan Kecantikan, Jantung, Psikiatri, Paru,

Gigi dan Mulut, Rehabilitasi Medis, Konsultasi Gizi, Klinik VCT.

3. UNIT RAWAT INAP

Terdiri dari 650 tempat tidur yang memenuhi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat

dari pelayanan rawat inap kelas III hingga Super VIP yang terletak di gedung lama

dan gedung baru.

4. UNIT RAWAT INAP KHUSUS/ INTENSIVE

Terdiri dari ruang ICU, ICCU, NICU, HDU, Unit Stroke dan Ruang Isolasi.

5. TINDAKAN MEDIS

Haemodialysa Umum, VK (Kamar Bersalin), Bedah Kontap Tubektomi dan

Laparoscopy, Kamar Bedah Central dan Emergency.

6. PELAYANAN PENUNJANG

Radiologi ( CT Scan, USG, X – Ray dll.), Patologi Klinik dan Anatomi, Endoscopy,

(46)

7. FASILITAS PENUNJANG

Pelayanan Informasi, Tempat parkir, Toserba, Cafetaria, Bank SUMUT, ATM Bank

Niaga, Security.

III.1.2. Klinik VCT RSU Dr. Pirngadi Kota Medan

Klinik VCT (Voluntary Counselling and Testing) Poliklinik Khusus RSU Dr.

Pirngadi Kota Medan dibentuk pada tanggal 18 Juli 2005 berdasarkan Surat Keputusan

Direktur RSU Dr. Pirngadi Kota Medan No. 4075/443/VII/2005 dengan susunan anggota

sebagai berikut

Susunan Anggota Tim Pelayanan Kesehatan klinik VCT RSU Dr. Pirngadi Medan

No. Tim Pelayanan Kesehatan Jumlah

1. Konsultan 1

2. Dokter 1

3. Konselor Koordinator Klinik 1

4. Konselor 3

5. Case Manager 1

6. Petugas Laboratorium 2

7. Petugas Administrasi 1

8. Petugas Kebersihan 1

Total 11

Sumber : Klinik VCT RSU Dr. Pirngadi Medan

(47)

b. Membuat rujukan untuk pemeriksaan klinis terhadap penderita HIV/AIDS.

c. Memberikan dukungan perawatan dan pengobatan penderita HIV/AIDS secara

intensif yang membutuhkan penanganan secara khusus.

(48)

Kunjungan

Klien

Konselor

Petugas Klinik

Konseling

Pre Tes

Konselor

Tes HIV

(+)

Rujuk ke Dr

Protap Pelayanan Klien di Klinik VCT

Penjangkau

Lay conselor

Rujukan

Tidak mau

Mau

(-)

Ragu

Tes ulang 3 bln lagi

Tes ulang

Penilaian

klinis CD4

ARV

Profilaksis

Th.IO

(49)

III.1.2.1. Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela

Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan

psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV,

mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggung jawab, pengobatan ARV

(Antiretroviral) dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS.

III.1.2.2 Tujuan Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela

1. Tujuan umum adalah menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS melalui peningkatan

mutu pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela dan perlindungan bagi

petugas layanan VCT dan klien.

2. Tujuan khusus:

a. Sebagai pedoman penatalaksanaan pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS.

b. Menjaga mutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan manajemen yang

sesuai.

c. Memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling dan

testing HIV/AIDS.

III.1.2.3. Peran Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela

Konseling dan Testing Sukarela yang dikenal sebagai Voluntary Counselling and

Testing merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke

seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan:

1. Layanan VCT dapat dilakukan berasarkan kebutuhan klien pada saat klien mencari

(50)

baik kepada mereka dengan HIV positif maupun negatif. Layanan ini termasuk

konseling, dukungan, akses untuk tetap suportif, terapi infeksi oportunistik, dan ART

(Anti Retroviral Therapy).

2. VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk memperoleh intervensi

efektif di mana memungkinkan klien, dengan bantuan konselor terlatih, menggali dan

memahami diri akan risiko infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV/AIDS,

mempelajari status dirinya, dan mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku

berisiko dan mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain guna mempertahankan

dan meningkatkan perilaku sehat.

3. Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksaan, segera setelah klien memahami

berbagai keuntungan, konsekuensi, dan risiko.

III.1.2.4. Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela

1. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV.

Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa paksaan, dan

tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan testing terletak di tangan klien. Kecuali

testing HIV pada darah donor di unit transfusi dan transplantasi jaringan, organ tubuh

dan sel. Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak direkomendasikan untuk

testing wajib pada pasangan yang akan menikah, pekerja seksual, IDU (Injecting

(51)

2. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas.

Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien. Semua

informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya oleh konselor dan

petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien.

Semua informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat dijangkau

oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus klien selanjutnya dengan

seijin klien, informasi kasus dari diri klien dapat diketahui.

3. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien yang efektif.

Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti

pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku berisiko. Dalam VCT

dibicarakan juga respon dan perasaan klien dalam menerima hasil testing dan tahapan

penerimaan hasil testing positif.

4. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT.

WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat

digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti

oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lainnya yang

disetujui oleh klien.

III.1.2.5. Model Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela

Model layanan VCT terdiri dari:

1. Mobile VCT (Penjangkauan dan Keliling)

Layanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela model penjangkauan dan

(52)

langsung mengunjungi sasaran kelompok masyarakat yang memiliki perilaku berisiko

atau berrisiko tertular HIV/AIDS di wilayah tertentu. Layanan ini diawali dengan

survey atau penelitian atas kelompok masyarakat di wilayah tersebut dan survey

tentang layanan kesehatan dan layanan dukungan lainnya di daerah setempat.

2. Statis VCT (Klinik VCT tetap)

Pusat Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela terintegrasi dalam sarana kesehatan

dan sarana kesehatan lainnya, artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanan

kesehatan yang telah ada. Sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya harus

memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan Konseling dan Testing

HIV/AIDS, layanan pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan terkait

dengan HIV/AIDS.

III.1.2.6. Proses Konseling

Konseling merupakan proses interaksi antara konselor dan klien yang

membuahkan kematangan kepribadian pada konselor dan memberikan dukungan

mental-emosional kepada klien. Proses konseling mencakup upaya-upaya yang realistik dan

terjangkau serta dapat dilaksanakan. Proses konseling hendaknya mampu:

1. Memastikan klien mendapatkan informasi yang sesuai fakta

2. Menyediakan dukungan saat krisis

3. Mendorong perubahan yang dibutuhkan untuk pencegahan atau membatasi

penyebaran infeksi

4. Membantu klien memusatkan perhatian dan mengenali kebutuhan jangka pendek

(53)

5. Mengajukan tindakan nyata yang sesuai untuk dapat diadaptasikan klien dalam

kondisi yang berubah

6. Membantu klien memahami informasi peraturan perundangan tentang kesehatan dan

kesejahteraan

7. Membantu klien untuk menerima informasi yang tepat, dan menghargai serta

menerima tujuan tes HIV baik secara teknik, sosial, etika dan implikasi hukum

Selama proses berlangsung konselor bertindak sebagai pantulan cermin bagi pikiran,

perasaan dan perilaku klien, dan konselor memandu klien menemukan jalan keluar yang

diyakininya. Konseling berlangsung tidak cukup hanya satu sesi, beberapa kali pertemuan

konseling sering kali diperlukan, tergantung dari masalah dan kebutuhan klien.

III.1.2.7. Konselor untuk Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela

Konseling dilakukan oleh konselor terlatih yang memiliki keterampilan konseling

dan pemahaman akan seluk beluk HIV/AIDS. Konseling dilakukan oleh konselor yang

telah dilatih dengan modul VCT. Mereka dapat berprofesi perawat, pekerja sosial, dokter,

psikolog, psikiater atau profesi lain.

Konselor mempunyai kemampuan berjenjang dari dasar sampai mahir. Konselor

dengan kemampuan dasar dapat dilakukan oleh mereka yang menyediakan ruang dan

waktunya bagi ODHA, mempunyai keterampilan konseling, dan mampu membantu

ODHA. Sementara yang profesional dilakukan oleh mereka yang secara formal

mempunyai pendidikan konseling dan/atau psikoterapi, serta mampu melakukannya

(54)

diperlukan juga konselor untuk konselor. Mereka akan memberikan terapi saat konselor

mengalami atau mendekati kejenuhan (burn out).

Keterampilan yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah:

1. Mendengarkan aktif dan mengamati

2. Mengajukan pertanyaan dan menghayati

3. Merangkum dan menyimpulkan

4. Membaca dan merefleksikan perasaan

5. Membangun relasi dan persetujuan pelayanan

6. Menggali dan memahami masalah, penyebab dan kebutuhan

7. Mengenal alternatif penyelesaian masalah, memberi pertimbangan

8. Penyelesaian masalah, dapat memberikan jalan keluar dan menguatkan diri

9. Penyelesaian masalah, konsekuensi logis dan mengakhiri

III.1.2.8. Sasaran Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela

Masyarakat yang membutuhkan pemahaman diri akan status HIV agar dapat

mencegah dirinya dari penularan infeksi penyakit yang lain dan penularan kepada orang

lain. Masyarakat yang datang ke pelayanan VCT disebut dengan klien. Sebutan klien dan

bukan pasien merupakan salah satu pemberdayaan di mana klien akan berperan aktif di

dalam proses konseling. Tanggung jawab klien dalam konseling adalah bersama

mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan informasi akurat dan lengkap tentang

HIV/AIDS, perilaku berisiko, testing HIV dan pertimbangan yang terkait dengan hasil

Gambar

Tabel 2 Jenis Kelamin Responden
Tabel 3 Pekerjaan Responden
Tabel 8
Tabel 10
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hendro Gunawan, MA Pembina Utama Muda

Yang dapat membuat cara belajar lebih menyenangkan dan memungkinkan mahasiswa lebih cepat memahami materi counter dalam mata kuliah Sistem Digital. Dengan menggunakan

Hendro Gunawan, MA Pembina Utama Muda

Dengan perkembangan fungsi komputer tersebut, penulis melihat bahwa suatu materi pelajaran dapat ditampilkan dalam bentuk animasi dan modul interaktif yang dapat meningkatkan

Hendro Gunawan, MA Pembina Utama Muda

Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa debt to equity ratio, profitability, ukuran perusahaan (size) , umur perusahaan (age) , kepemilikan pihak luar

Dalam laporan akhir ini penulis mewawancarai langsung pemilik UKM Ridho Jaya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan penulis seperti jumlah produk yang

Pengolahan data from-to chart antar titik alternatif pemberhentian dengan tiap desa Pemetaan data koordinat kantor kepala. desa