PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Kasus Nomor.114/Pid./2012/PT.TK)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK

PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Kasus Nomor.114/Pid./2012/PT.TK)

Oleh

FERRY ADTIA HUTAJULU

(2)

menurut hemat penulis terlalu ringan mengingat terdakwa adalah seorang anggota polisi yang memiliki tugas melindungi dan mengayomi masyarakat.

(3)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK

PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Putusan No.114/pid/2012 PT.TK)

Oleh

FERRY ADTIA HUTAJULU

(Skripsi)

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Porsea, pada Tanggal 19 November 1987 sebagai anak Kelima dari tujuh bersaudara, dari bapak Edyson Hutajulu dan Ibu Tiolina Tampubolon

Penulis menyelesaikan Pendidikan Dasar di Sekolah Dasar Negeri Blok C Cilegon pada Tahun 2000, Kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Swasta Pembangunan Cilegon dan menyelesaikannya pada Tahun 2003 dan Sekolah Menegah Atas di SMA Swasta Mardiyuana Serang pada Tahun 2006.

Pada Tahun 2007 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan pada Tahun 2010 penulis melaksanakan program Praktik Kerja Lapangan Hukum (PKLH) di Kejaksaan Tinggi Lampung

(7)

PERSEMBAHAN

Aku mempersembahkan karya ini kepada:

Kedua Orang Tua Ku Bapak Ku Edyson Hutajulu dan Mama Ku Tiolina Tampubolon

Kepada Ketiga Abang Ku Jhonny,Ricky,Andry, Kepada kakak Ku Nova dan Kedua Adik ku Lenny dan Marini

Serta Keluarga besar yang selalu berdoa dan berharap demi keberhasilanku dalam meraih cita-cita.

(8)

MOTO

Kesuksesan tidak pernah final, kegagalan tidak pernah

fatal, keberanian yang utama.

( Anonim)

Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah

semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!

(9)

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup...5

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian...6

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual...6

E. Sistematika Penulisan...9

II. TINJAUAN PUSTAKA...11

A. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana ...11

B. Pengertian dan Unsur – Unsur Tindak Pidana ...17

1. Pengertian Tindak Pidana...17

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana...19

C. Pengertian Pencabulan...22

1. Pengertian Pencabulan...22

2. Pasal-pasal yang mengatur kejahatan pencabulan...22

D. Pengertian Kepolisian...24

1. Gambaran Kepolisian Republik Indonesia...24

2. Larangan-larangan Bagi Anggota Kepolisian Republi Indonesia...26

3. Sanksi Pelanggaran Disiplin Anggota Kepolisian Indonesia...27

III. METODE PENELITIAN...28

A. Pendekatan Masalah...28

(10)

C. Penentuan Populasi Dan Sampel...30

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data...31

E. Analisis Data...32

IV. HASIL PENELITIAN...33

A. Karakteristik Nara Sumber...34

B. Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Pencabulan Yang Dilakukan Oleh Oknum Anggota Polisi...35

C. Pertimabangan Hakim Dalam Perkara Tindak Pidana Pencabulan Yang Dilakukakn Oleh Oknum Polisi...41

V. PENUTUP ...54

A. Simpulan...54

(11)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang maha, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Delik Perkosaan Yang Dilakukan Oleh Oknum Anggota Polisi (Studi Putusan No.114/pid/2012 PT.TK)” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S-1) .

Sehubungan dengan selesainya karya ilmiah ini, penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung

2. Ibu Diah Gustiniati, S.H., M.H., Selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung

3. Ibu Hj. Firganefi S.H., M.H., selaku Sekretaris Bagian Hukum Pidana dan sekaligus Pembimbing Utama atas kesediannya memberikan saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;

4. Bapak Eko Raharjo S.H., M.H., selaku Pembimbing Kedua atas kesediaan memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;

5. Bapak Dr. Maroni S.H., M.H., selaku Penguji Utama pada ujian skripsi ini. Terimakasih atas saran-saran pada seminar terdahulu;

6. Bapak Rinaldy Amrullah S.H., M.H., selaku Pembahas 2 pada Seminar 1 dan 2, terimakasih masukan yang telah diberika kepada penulis

7. Ibu Marindowati S.H., M.H., selaku Pembimbing Akademik

8. Bapak dan Ibu Staf Administrasi Fakultas Hukum Universitas Lampung

9. Bapak Ulibasa Hutagalung S.H., M.H., Hakim pada Pengadilan Tinggi Lampung dan Bapak Sobeng Surandal S.H., M.H., Jaksa pada Kejaksaan Tinggi Lampung

10.Bapak dan Mama yang telah membesarkan, mendoakan, memberikan semangat, serta bantuan materi yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini 11.Abang Jhonny Hutajulu, Ricky Hutajulu S.T, Briptu Andri Hutajulu, Kakak Nova

(12)

12. Berlian Manik S.H, Carlos Sitorus, Torang,Roy Siagian S.H, Obey Tambunan S.H,Richie Napitupulu S.H, Boris Gurning S.H Daniel Siagian S.H, Debol Sitanggang S.H Raja Manik S.H Terimakasih atas dorongan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis

13.Seluruh Rekan–rekan Fakultas Hukum Pidana angkatan 04-05-06-07-08-09-10 yang tidak bias saya sebutkan satu-persatu terimakasih atas kebersamaannya selama ini

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 9 Febuari 2015

Penulis

(13)

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kejahatan merupakan salah satu masalah kehidupan masyarakat Indonesia.Berkaitan dengan masalah kejahatan, maka kekerasan sering menjadi pelengkap dari bentuk kejahatan itu sendiri. Dilihat dari perspektif kriminologi, kekerasan ini menuju pada tingkah laku yang berbeda-beda baik mengenai motif maupun tindakannya, seperti kekerasan-kekerasan seksual yang akhir-akhir ini semakin marak terjadi dimasyarakat, diantaranya tindakan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi, penyiksaan, dan juga tindakan pencabulan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat terdapat 400.939 kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Dimana terdapat 93.960 kasus kekerasan seksual, 4.845 kasus diantaranya adalah kasus perkosaan,berikutnya perdagangan perempuan untuk tujuan seksual (1.359), pelecehan seksual (1.049), dan penyiksaan seksual (672) dan8.784 di antaranya adalah gabungan dari kasus perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi dan pencabulan terhadap perempuan.1

Dari data tersebut, sangat jelas bahwa kekerasan terhadap perempuan semakinmarak terjadi dalam kehidupam masyarakat.Seiring dengan perkembangankejahatan seksual tersebut,diperlukan kesadaran baik dari masyarakat maupundariaparat keamanan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai media pelayan masyarakat yang memiliki tugas utama yaitu

1

KOMPAS, Dalam Artikel “ Perkosaan, kekerasan seksual terbanyak di Indonesia”, kamis, 24

(14)

2

ketertiban dan keamanan masyarakat (Kamtibmas) untuk menangani maraknya perkembangan tindak kejahatan seksual tersebut.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, nuansa kemasyarakatan atau sosial memunculkan paradigma baru dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia.Berbagai kejahatan dan tindak pidana sering dilakukan oleh oknum anggota polisi. Salah satu contohnya adalah kasus kejahatan seksual yang pelakunya adalah oknum anggota polisiyang melibatkan 4 (empat) oknum anggota polisi di Polresta Bandar Lampung yang terjadipada bulan mei 2011.

Aparat hukum yang seharusnya sebagai pelindung masyarakat justru melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang–undang. Seperti yang telah diketahui bahwa polri memiliki fungsi dan tugas pokok yang mulia sebagai aparat penegak hukum, yang mana fungsi dan tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dalam Pasal 13 Undang –Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri.

Tugas pokok yang dimaksud diklasifikasi menjadi 3 tiga, yaitu: a. Memelihara keamanaan dan ketertiban masyarakat. b. Menegakan hukum.

c. Memberikan perlindungan,pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat kegiatan masyarakat.

Sedangkan yang menjadi wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, adalah :

(15)

3

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum.

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat.

d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administrasi kepolisian.

f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan.Melakukan tindakan pertama ditempat kejadian.

g. sidik jari dan identitas serta memotret seseorang. h. Mencari keterangan dan barang buukti.

i. Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional.

j. Mengeluarkan izin/surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat.

k. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusanpengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat.

Tindak pidanakejahatan seksual yang dilakukan oleh oknum anggota polisi menjadi perhatian khusus karena seharusnya tindakan tersebut tidak dilakukan oleh aparat penegak hukum yang memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban negara. Moral yang dewasa ini sudah mulai tergeser kedudukannya oleh prioritas kebutuhan jasmani manusia menjadi titik yang penting untuk diperhatikan, tindakan amoral berupa kejahatan seksual yang dilakukan oleh oknum anggota polisi menjadi sebuah fenomena tersendiri, sungguh sangat disayangkan mengingat aparat kepolisian merupakan unsur yang sangat diharapkan peranannya dalam melindungi masyarakat dan menjadi garda terdepan dalam pemberantasan suatu delik.

(16)

4

dikenakan Pasal 285, 289, dan 335 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP oleh hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang.

Dari keempat pelaku tersebut, yang lebih menarik perhatian yaitu putusan terhadap terdakwa Aulia Rahman, yang membiarkan ketiga rekannya melakukan tindak pidana perkosaan terhadap korban dan juga melakukan perbuatan cabul, yaitu memegang kemaluan korban. Atas perbuatannya tersebut, terdakwa dikenakan sanksi pidana selama 2 (dua) tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang yang mana sebelumnya didakwa melanggar Pasal 289oleh jaksa penuntut umum selama 1,6 tahun penjara. Bunyi Pasal 289 KUHP tersebut yaitu:

“barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun”

Atas putusan tersebut, kuasa hukum terdakwa Aulia Rahman mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tanjung Karang, dengan alasan tidak terpenuhinya unsur kekerasan dalam Pasal 289.Dan hakim Pengadilan Tinggi Tanjung Karang memutus perkara banding tersebut dengan pidana penjara hanya 10 (sepuluh) bulan terhadap terdakwa Aulia Rahman.

(17)

5

putusan hakim yang memutus perkara tersebut. Oleh karena itu, dari kasus tersebut penulis sangat tertarik untuk mengangkat judul“Pertanggungjawaban pidana terhadap delik pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi (Studi Kasus Putusan Nomor.114/PID.B/2012/PT.TK).

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan hal-hal yang diuraikan diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

a. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi? (Studi kasus putusan nomor: 114/PID.B/2012/PT.TK)

b. Bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap delik pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi dalam perkara nomor 114/PID.B/2012/PT.TK?

2. Ruang Lingkup

(18)

6

Pengadilan Tinggi Kelas IA Tanjung Karang, Bandar Lampung.Penelitian ini akan dilaksanakan pada Tahun 2014.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimanakah pertanggungjawaban pidanapelaku tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi dalam perkara Nomor 114/PID.B/2012/PT.TK?

2. Untuk mengetahui bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusantindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi dalam perkara Nomor 114/PID.B/2012/PT.TK?

2. Kegunaan Penelitian

a. Diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi mahasiswa Fakultas Hukum dan mahasiswa yang mengambil jurusan pidana pada khususnya.

b. Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi para praktisi mahasiswa dan pihak-pihak lain tentang pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan perkara pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

(19)

7

mengadakan identifikasi terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti2.

Tindak pidana dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam perundang undangan Negara kita.Dalam hampir seluruh perundang-undangan kita mengunakan istilah tindak pidana untuk merumuskan suatu tindakan yang dapat diancam dengan suatu pidana tertentu.

Tindak pidana pencabulan, dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP) diatur dalam BAB XIV Pasal 289 yang menyatakan bahwa :

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun”.

Dengan demikian unsur-unsur Pasal yang terdapat dalam Pasal 289 KUHP adalah sebagai berikut :

a. Barang siapa

b. Ancaman kekerasan/dengan kekerasan c. Menyerang kehormatan kesusilaan d. Membiarkan dilakukan perbuatan cabul

Pembuktian tindak pidana pencabulan di Pengadilan sangatlah tergantung sejauh mana penyidik dan penuntut umum mampu menunjukan bukti-bukti bahwa telah terjadi tindak pidana pencabulan. Harus diakui dalam tindak pidana pencabulan

2

(20)

8

sangatlah sulit, sebab pihak yang berwenang harus memastikan apakah pencabulan tersebut dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.

2. Konseptual

Menurut Abdul Kadir Muhamad, kerangka Konseptual adalah susunan dari beberapa konsep sebagai suatu kebulatan yang utuh sehingga terbentuk dari berbagai konsep sebagai landasan, acuan dan pedoman dalam penelitian atau penulisan. Sumber konsep adalah Undang–undang, buku/karya tulis, laporan peneitian, ensiklopedia, kamus dan fakta/peristiwa adalah sebagai berikut: a. Pertanggungjawaban pidana adalah suatu perbuatan pidana yang harus

dipertanggungjawabkan atas perbuatan yang dilakukan.

b. Pelaku tindak pidana adalah orang yang melakukan tindak pidana yang bersangkutan, dalam arti orang dengan suatu kesengajaan atau suatu ketidaksengajaan seperti yang telah diisyaratkan oleh Undang-undang, telah menimbulkan suatu akibat yang tidak dikehendaki oleh Undang-undang atau telah melakukan tindakan yang terlarang atau mengalfakan tindakan yang diwajibkan oleh Undang-undang, atau dengan perkataan lain ia adalah orang yag memenuhi semua unsur-unsur suatu delik seperti yang telah ditentukan didalam Undang-undang, baik itu merupakan unsure-unsur subjektif, maupun unsure-unsur objektif.

c. Pencabulan adalah proses, cara, perbuatan melecehkan, kotor, tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan)

(21)

9

e. Kepolisian adalah segala hal-ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan pertaturan perundang-undangan (Undang- undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia).

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam memahami skripsi ini secara keseluruhan, maka penulis menguraikan secara garis besar keseluruhan sistematika materi sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

Bab ini memuat pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka teoritis dan konseptual, sistematika penulisan dan metode penelitian, tentang tinjauan yuridis mengenai pertimbangan hakim terhadap tindak pidana perkosaan yang dilakukan oknum polisi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini memuat telaah kepustakaan yang berupa pengertian-pengertian dan konsep umum tentang pertanggungjawaban pidana terhadap tindakan perkosaan yang dilakukan oleh oknum anggota Polisi.

III. METODE PENELITIAN

(22)

10

pengolahan data, serta analisis data, tentang tinjauan yuridis mengenai pertimbangan hakim terhadap tindak pidana perkosaan yang dilakukan oknum Polisi.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil penelitian dan pembahasan yang memuat tentang analisis tinjauan yuridis mengenai pertimbangan hakim terhadap tindak pidana perkosaan yang dilakukan oknum polisi.

V. PENUTUP

(23)

11

II.TINJAUAN PUSTAKA

A.Pengertian Pertanggungjawaban Pidana

Pertanggungjawaban pidana mengandung makna bahwa setiap orang yang melakukan tindak pidana atau melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang, maka orang tersebut patut mempertanggungjawabkan perbuatan sesuai dengan kesalahannya15.Untuk dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya itu harus memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam undang-undang sehingga pelaku secara sah dapat dikenai pidana karena perbuatannya.

Pertanggungjawaban pidana menurut hukum pidana adalah kemampuan bertanggungjawab seseorang terhadap kesalahan.Pertanggungjawaban dalam hukum pidana menganut asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld).Walaupun tidak dirumuskan dalam undang-undang, tetapi dianut dalam praktik. Tidak dapat dipisahkan antar kesalahan dan pertanggungjawaban atas perbuatan.16

15

Andi Hamzah. Asas-Asas Hukum Pidana. Rineka Cipta. Jakarta. 2001: Hlm.12.

16

(24)

12

Untuk adanya kesalahan, terdakwa harus :

a. Melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum); b. Diatas umur tertentu mampu bertanggung jawab;

c. Mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan;

d. Tidak adanya alasan pemaaf.17

Menurut Roeslan Saleh18, orang yang mampu bertanggung jawab harus memenuhi tiga syarat :

1. Dapat menginsyafi makna perbuatannya.

2. Dapat menginsyafi bahwa perbuatan itu tidak dapat dipandang patut dalam pergaulan masyarakat.

3. Mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya dalam melakukan perbuatan.

Kemampuan bertanggungjawab sebagai unsur kesalahan, maka untuk membuktikan adanya kesalahan tersebut harus dibuktikan lagi.masalah kemampuan bertanggungjawab ini terdapat dalam Pasal 44 Ayat (1) KUHP : “Barangsiapa

melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena cacat, tidak dipidana”. Bila tidak dipertanggungjawabkan itu disebabkan hal lain, misalnya jiwanya tidak normal dikarenakan dia masih muda, maka Pasal tersebut tidak dapat dikenakan.

17

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2002 : Hlm.165.

18

(25)

13

Mengenai adanya penentuan pertanggungjawaban, seseorang pembuat dalam melakukan suatu tindak pidana harus ada “sifat melawan hukum” dari tindak pidana

itu, yang merupakan sifat terpenting dari tindak pidana. Tentang sifat melawan hukum apabila dihubungkan dengan keadaan psikis (jiwa) pembuat terhadap tindak pidana yang dilakukannya dapat berupa “kesengajaan” (opzet) atau karena

“kelalaian” (culpa). Akan tetapi kebanyakan tindak pidana mempunyai unsur kesengajaan bukan unsur kelalaian.

Bentuk corak kesengajaan ada 3 macam19, yaitu :

1) Kesengajaan sebagai maksud untuk mencapai suatu tujuan (opzet als oogmerk) atau dolus directus

Kesengajaan untuk mencapai tujuan, si pelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang.Apabila kesengajaan seperti ini ada pada suatu tindak pidana, si pelaku pantas dikenakan hukuman pidana.Karena dengan adanya kesengajaan yang bersifat tujuan ini, berarti si pelaku benar-benar menghendaki mencapai suatu akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya ancaman hukuman ini.

Menurut VOS yang dinyatakan sengaja dengan maksud, apabila pembuat menghendaki akibat perbuatannya.Ia tidak pernah melakukan perbuatannya apabila pembuat mengetahui bahwa akibat perbuatannya tidak akan terjadi.20

19

Tri Andrisman. Hukum Pidana Asas-Asas Dan Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia. Unila. 2009 :

Hlm.103-104.

20

(26)

14

2) Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn)

Kesengajaan ini ada apabila si pelaku, dengan perbuatannnya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu. Dengan kata lain ada akibat yang memang dituju si pembuat dan akibat yang tidak diinginkan pasti timbul atau terjadi karena mengikuti perbuatan itu.

3) Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (voorwaardelijk opzet atau doluseventualis)

Kesengajaan ini yang terang-terang tidak disertai bayangan suatu kepastian akan terjadi akibat yang bersangkutan, melainkan hanya dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu. Atau dengan kata lain ada keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi kemudian benar-benar terjadi.

Jika pelaku tetap melaksanakan kehendaknya meskipun ada kemungkinan akibat lain yang sama sekali tidak diinginkannya terjadi atau mengetahui ada akibat lain tetapi tetap menginginkan maka terjadilah kesengajaan.

Kealpaan merupakan bentuk dari kesalahan yang menghasilkan akibat dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan seseorang yang dilakukannya.Bentuk kesalahan dari kealpaan lebih ringan daripada kesengajaan, seperti kurang berhati-hati, sehingga akibat yang tidak disengaja terjadi.

(27)

15

pembagian antara “dasar pembenar” (permisibility) dan “dasar pemaaf (illegalexcuse) dalam dasar penghapus pidana. Adanya salah satu dasar penghapusan pidanaberupa dasar pembenar maka suatu perbuatan kehilangan sifat melawan hukumnya, sehingga menjadi legal/boleh, pembuatannya tidak dapat disebut sebagai pelaku tindak pidana.Jika yang ada adalah dasar penghapus berupa dasar pemaaf maka suatu tindakan tetap melawan hukum, namun si pembuat dimaafkan, jadi tidak dijatuhi pidana.

Alasan pembenar yaitu alasan yang menghapus sifat melawan hukumnya perbuatan, sehingga apa yang dilakukan oleh si pembuat lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar21, sedangkan alasan pemaaf yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum, jadi tetap merupakan perbuatan pidana, tetapi ia tidak dipidana, karena tidak ada kesalahan.22

Dasar-dasarnya ditentukan dalam KUHP sebagai berikut : a. Alasan pemaaf / kesalahannya ditiadakan :

- Jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit (Pasal 44 KUHP) - Pengaruh daya paksa (Pasal 48 KUHP)

- Pembelaan terpaksa karena serangan (Pasal 49 Ayat(2) KUHP) - Perintah jabatan karena wewenang (Pasal 51 Ayat (2) KUHP)

21

Tri Andrisman. Op.Cit.,Hlm.112

22

(28)

16

b. Alasan pembenar / peniadaan sifat melawan hukum : -Keadaan darurat (Pasal 48 KUHP)

-Terpaksa melakukan pembelaan karena serangan terhadap diri sendiri maupun orang lain, terhadap kehormatan kesusilaan, atau harta benda sendiri atau orang lai (Pasal 49 Ayat (1) KUHP)

-Perbuatan yang dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang (Pasal 50 KUHP) -Perbuatan yang dilaksanakan menurut perintah jabatan oleh penguasa yang

berwenang (Pasal 51 Ayat (1) KUHP).

Dasar penghapus pidana atau juga bisa disebut dengan alasan-alasan menghilangkan sifat tindak pidana ini termuat di dalam buku I KUHP, selain itu ada pula dasar penghapus di luar KUHP, antara lain :

1) Hak untuk mendidik seperti orang tua wali terhadap anaknya atau guru terhadap muridnya.

2) Hak yang dapat timbul dari pekerjaan seperti dokter yang membedah pasiennya.

(29)

17

menjadi masukan untuk pembentukan hukum pidana yang akan datang ( ius constituendum ).

B. Pengertian Dan Unsur-Unsur Tindak Pidana

1. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana merupakan terjemahan dari istilah Belanda, yaitu strafbaarfeit yang berasal dari kata strafbaar artinya dapat dihukum dan feit artinya sebagian dari suatu kenyataan. Sehingga secara harafiah strafbaar feit diterjemahkan sebagai

“sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum.23 Beberapa kata yang digunakan menerjemahkan kata strafbaarfeit antara lain : tindak pidana, delict dan perbuatan pidana.24

Pengertian perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan yang mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut .Perbuatan yang oleh aturan hukum pidana yang dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dinamakan tindak pidana, yang disebut juga delik.Menurut wujud dan sifatnya, tindak pidana ini adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan-perbuatan-perbuatan tersebut juga merugikan

23

P.A.F. Lamintang..Dasar-Dasar Hukum Pidanaindonesia.Bandung.Citra Aditya Bakti. 1997 : Hlm.181.

24

(30)

18

masyarakat dalam bertentangan dengan atau menghambat terlaksananya tata pergaulan masyarakat yang dianggap adil.25

Menurut Wirjono Prodjodikoro memberikan definisi “ tindak pidana” atau dalam

bahasa Belanda strafbaar feit, yang sebenarnya merupakan istilah resmi dalam Strafwetboek atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang sekarang berlaku di indonesia. Ada istilah dalam bahasa asing, yaitu delict. Menurut Wirjono Prodjodikoro, strafbaarfeit merupakan suatu perilaku yang sifatnya bertentangan dengan hukum, serta tidak ada suatu tindak pidana tanpa melanggar hukum.

Menurut Wirjono Prodjodikoro, tindak pidana dapat digolongkan 2(dua) bagian, yaitu:26

1) Tindak pidana materil

Pengertian tindak pidana materil adalah, apabila tindak pidana yang dimaksud dirumuskan sebagai perbuatan yang menyebabkan suatu akibat tertentu, tanpa merumuskan wujud dari perbuatan itu.

2) Tindak pidana formil.

Pengertian tindak pidana formal yaitu apabila tindak pidana yang dimaksud, dirumuskan sebagai wujud perbuatan tanpa menyebutkan akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu.

25

Moeljatno, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana. Jakarta:Bina

Aksara.2001: Hlm.19.

26

Wiryono Prodjodikoro.1986.Dalam Wiji Rahayu.Tindak Pidana Pencabulan (Studi

(31)

19

Menurut Simon, Tindak pidana adalah sejumlah aturan-aturan dan keharusan-keharusan yang ditentukan oleh negara atau kekuasan lain yang berwenang unruk menentukan peraturan-peraturan pidana, yang berupa larangan, keharusan dan disertai ancaman pidana dan apabila hal ini dilangar timbullah hak dari negara untuk melakukan tuntutan.27

Moeljatno menerjemahkan istilah “strafbaar feit” dengan perbuatan pidana.Menurut pendapat beliau istilah “perbuatan pidana” adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu

suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut.28

Teguh Prasetyo merumuskan bahwa : “Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh

aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana.Pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh hukum) dan perbuatan yang bersifat pasif (tidak berbuat sesuatu yang sebenarnya diharuskan oleh hukum).”29

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Menurut Lamintang unsur tindak pidana dibagi menjadi dua macam unsur yakni unsur-unsur subjektif dan Unsur-unsur objektif.

- Unsur – unsur Subjektif

(32)

20

Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana adalah : 1. Kesengajaan (dolus) atau ketidaksengajaan (culpa);

2. Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP;

3. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat dalam kejahatan kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan lain-lain;

4. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad yang terdapat dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP;

5. Perasaan takut atau vress yang antara lain terdapat dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP. 30

- Unsur – unsur Objektif

Unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari pelaku harus dilakukan. Unsur-unsur objektif dari suatu tindak pidana adalah sebagai berikut :

1. Sifat melawan hukum atau wederrechttelijkheid;

2. Kualitas dari pelaku, misalnya keadaan sebagai seorang pegawai negeri menurut Pasal 415 KUHP;

3. Kausalitas, yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.31

Terdapat dua pandangan mengenai unsur-unsur tindak pidana yang dikemukakan oleh ahli hukum yakni pandangan monistis dan pandangan dualistis.

30

P.A.F. Lamintang,Dasar-Dasar Hukum Pidanaindonesia, Bandung, : Citra Aditya Bakti, 1997: Hlm.193.

31

(33)

1. Pandangan Aliran Monistis

Pandangan yang tidak memisahkan antara pengertian perbuatan pidana dengan pertanggungjawaban pidana.32

Aliran Monistis :

1) Suatu perbuatan 2) Melawan hukum 3) Diancam dengan sanksi 4) Dilakukan dengan kesalahan

5) Oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan.33

2.Pandangan Aliran Dualistis

Pandangan yang memisahkan antara dilarangnya suatu perbuatan pidana dan pertanggungjawabannya si pembuat.34

Aliran dualistis:

1) Suatu perbuatan

2) Melawan hukum (dilarang) 3) Diancam dengan sanksi pidana35

32

Tri Andrisman. 2009.Op.Cit.hlm.71.

33

Teguh Prasetyo.Op.Cit.hlm.66.

34

Tri Andrisman. 2009.Op.Cit.hlm.71.

35

(34)

22

C. Pencabulan

Pencabulan adalah kejahatan seksual yang dilakukan seorang pria atau perempuan dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.Pencabulan memiliki pengertian sebagai suatu gangguan psikoseksual dimana seseorang memperoleh kepuasan seksual. Di berbagai Negara terdapat perbedaan definisi mengenai pencabulan. Amerika mendefinisikan pencabulan adalah kontak atau interaksi antara anak dan orang dewasa dimana anak tersebut dipergunakan untuk stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memiliki kekuatan atau kendali atas korban. Termasuk kontak fisik yang tidak pantas, membuat anak melihat tindakan seksual atau pornografi, menggunakan seorang anak untuk membuat pornografi atau memperlihatkan alat genital orang dewasa kepada anak.

Sedangkan Belanda memberikan pengertia yang lebih umum untuk pencabulan, yaitu persetubuhan diluar perkawinan yang dilarang dan diancam pidana.Bila mengambi definisi dari buku kejahatan seks dan aspek medikolegal gangguan psikoseksual, maka definisi pencabulan adalah semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus menggangu kehormatan kesusilaan.

Pasal-pasal tentang Kejahatan Pecabulan

Pasal yang mengatut tentang pencabulan dalam KUHP dijelaskan daam Pasal 289, Pasal 290, Pasal 293, Pasal 294 dan Pasal 296.

Adapun isi dari Pasal yang mengatur tentang delik pencabulan adalah sebagai berikut:

(35)

23

“barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun”

Pasal 290 KUHP :

1e. “barang siapa yang melakukan perbuatan cabul dengan sesorang sedang diketahuinya bahwa orang tersebut pingsan atau tidak berdaya” 2e. “barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang sedang diketahuinya bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa orang itu belum masanya buat kawin”

3e. “barang siapa membujuk (menggoda) seseorang yang diketahuinya atau patut harus disangkanya bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata umurnya, bahwa ia belum masanya buat kawin, akan melakukan atau membiarkan dilakukan padanaya perbuatan cabul atau akan bersetubuhdengan orang lain dengan tiada kawin”

Pasal 292 KUHP :

“orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya hal belum dewasa itu, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun”

Pasal 293 KUHP :

“barang siapa dengan menggunakan hadiah atau perjanjianakan

memberikan uang atau barang, dengan salah mempergunakan pengaruh yang berlebih-lebihan yang ada disebabkan oleh perhubungan yang sesungguhnya ada atau dengan tipu, sengaja membujuk orang yang belum dewasa yang tidak bercacat kelakuannya, yang diketahuinya atau patut disangkanya belum dewasa akan melakukan perbuata cabul dengan dia atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul pada dirinya, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun”

Pasal 294 KUHP :

“barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya yang belum dewasa, anak tiri atau anak pungutnya, anak peliharaannya atau dengan seseorang yang belum dewasa dipercayakan padanya untuk ditanggung, dididik atau dijaga, atau dengan bujang atau orang sebawah yang belum dewasa dihukum dengan penjara selama-lamanya lima tahun”

(36)

24

“barang siapa yang pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.15.000 (lima belas ribu rupiah)

D.Kepolisian

Gambaran Kepolisian Republik Indonesia

Bangsa Indonesia sebagai salah satu Negara yang menempatkan hukum sebagai landasan bernegara dan berbangsa adalah hasil konsensus para pendiri Negara yang telah dituangkan di dalam konstitusi dan secara resmi berlaku sejak diperlakukannya UndangUndang Dasar 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Dengan berlakunya UUD 1945 maka Negara Indonesia telah dinyatakan dan menunjukan sebagai Negara hukum berdampingan dengan Negara-negara hukum di belahan dunia. Sebagai konsekuensinya bentuk Negara demikian, maka ada keharusan dipenuhinya alat-alat perlengkapan Negara yang antara lain difungsikan sebagai sarana pengendalian sosial. Perlengkapan Negara demikian adalah apa yang dikenal dengan lembaga peradilan.

(37)

25

Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia menurut Pasal 13 Undang-Undang Kepolisian No.2 Tahun 2002 adalah:

a.Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat b. Menegakkan hukum; dan

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang:

a. Menerima laporan dan/atau pengaduan

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya peyakit masyarakat

d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administrasi kepolisian;

f. Melaksanakan pemerikasaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian

h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang i. Mencari keterangan dan barang bukti

j. Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional

(38)

26

l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.

Larangan-larangan bagi anggota Polri

Beberapa larangan yang harus tidak dilakukan oleh setiap anggota Polri menurut Peraturan Disiplin Anggota Polri dirumuskan sebagai berikut:

a. Membocorkan rahasia operasi kepolisian

b. Meninggalkan wilayah tugas tanpa ijin pimpinan c. Menghindarkan tanggungjawab dinas

d. Menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi

e. Menguasai barang milik dinas yang bukan diperuntukan baginya f. Mengontrakkan/menyewakan rumah dinas

g. Menguasai rumah dinas lebih dari 1 (satu) unit h. Mengalihkan rumah dinas kepada yang tidak berhak i. Berpihak dalam perkara pidana yang sedang ditangani j. Memanipulasi perkara

k. Menggunakan barang bukti untuk kepentingan pribadi

l. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun untuk kepentingan pribadi, golongan, atau pihak lain

(39)

27

Sanksi Pelanggaran Disiplin Polri

Terhadap suatu pelanggaran disiplin sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri, memiliki dua jenis sanksi, yakni “sanksi tindakan disiplin” dan/atau “sanksi hukuman

disiplin”.

Sanksi hukuman disiplin menurut Pasal 9 Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri, berupa:

a.Teguran tertulis

b. Penundaan mengikuti pendidikan paling lama 1 (satu) tahun c. Penundaan kenaikan gaji berkala

d. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun e. Mutasi yang bersifat demosi

f. Pembebesan dari jabatan

g. Penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 (dua puluh satu) hari.

(40)

III.METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan dua pendekatan,yaitu:

1. Pendekatan secara yuridis normatif

Pendekatan yuridis normatif digunakan untuk melakukan penelaahan terhadap teori-teori, konsep-konsep, pandangan-pandangan, peraturan-peraturan serta perumusan-perumusan yang berkaitan dengan tindakan turut serta melakukan tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum polri.Secara operasional, pendekatan ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library research), studi komparatif dan interprestasi terhadap berbagai literatur.Dengan mengadakan pendekatan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas terhadap permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini mengenai pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi.

2. Pendekatan Yuridis Empiris

(41)

29

B. Sumber Data dan Jenis Data

Jenis data dilihat dari sumbernya, dapat dibedakan antara data yang diperoleh langsung dari masyarakat dan data yang diperoleh dari bahan pustaka.1

1. Data primer, adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian pada objek penelitian yakni dengan melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum polri. Data primer ini diambil dari praktisi hukum, yaitu Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Tinggi Negeri Lampung, dan Hakim pada Pengadilan Tinggi Tanjung Karang.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan yang bersumber dari literatur-literatur yang mencakup dokumen-dokumen resmi.Data sekunder terdiri dari :

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan hukum mengikat berupa perundang undangan yang terdiri dari :

1.Undang-undang (UU) 1946 No.1 (1/1964) Jo. Undang-undang No 73 Tahun 1958 Tentang berlakunya Undang-undang No.1 Tahun 1946

2.Undang-undang No.8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana 3.Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian

4.Undang-undang RI Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman maupun yang terkandung dalam hukum-hukum yang lain yang berhubungan dengan penulisan ini.

b. Bahan hukum sekunder yaitu sebagai bahan yang menjelaskan bahan hukum primer, terdiri dari bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai

1

(42)

30

bahan hukum primer seperti yurisprudensi, keputusan-keputusan peradilan lainnya, aturan-aturan pelaksanaan perundang-undangan, dan sebagainya.

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang fungsinya melengkapi dari bahan hukum primer dan skunder agar dapat menjadi lebih jelas, seperti kamus, bibliografi, literatur-literatur yang menunjang dalam skripsi ini, media masa dan sebagainya.

C. Penentuan Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Mengingat objek penelitian ini mengenai pertanggungjawaban pidana terhadap anggota polri yang melakukan tindak pidanapencabulan sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian.Dalam menentukan sampel yang akan diteliti penulis menggunakan metode “purposive

sampling” yaitu dengan cara penunjukan, artinya penentuan dan pengambilan

anggota sampel berdasarkan atas pertimbangan dan tujuan penulis dalam rangka memenuhi data yang diinginkan penulis dan dianggap telah mewakili populasi.

Adapun responden yang dianggap dapat mewakili sampel dalam mencapai penelitian adalah sebagai berikut :

1. Hakim Pengadilan TinggiTanjung Karang Bandar Lampung: 1 Orang 2. Jaksa di Kejaksaan Tinggi Lampung: 1 Orang

Jumlah : 2 Orang

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Prosedur Pengumpulan Data

(43)

31

a.Studi kepustakaan (library research)

Studi kepustakaan yang dilakukan dengan cara untuk mendapatkan data sekunder, yaitu melakukan serangkaian kegiatan studi dokumentasi, dengan cara membaca, mencatat dan mengutip buku-buku atau literatur serta peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mempunyai hubungan dengan tindakan turut serta melakukan tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum polri.

b. Studi lapangan (field research)

Studi lapangan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data primer, yang dilakukan dengan mengadakan wawancara dengan responden atau pihak-pihak yang dianggap dapat memberikan informasi terhadap permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini.

2. Prosedur Pengolahan Data

Data-data yang telah diperoleh kemudian diolah melalui kegiatan seleksi, yaitu:

a. Editing, yaitu memeriksa kembali mengenai kelengkapan, kejelasan dari kebenaran data yang diperoleh serta relevansinya dengan penulisan.

b. Klasifikasi data yaitu: pengelompokan data sesuai dengan pokok bahasan sehingga memperoleh data yang benar-benar diperlukan.

(44)

32

E. Analisis Data

(45)

V. PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya di dalam skripsi ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pertanggungjawaban pidana terhadap orang yang melakukan tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum polisi diputus oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi Tanjung Karang pada perkara Nomor.114/Pid.B/2012/PT.TK yang menyatakan bahwa terdakwa Aulia Rahman Bin Abdul Jalil telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencabulan dan membiarkan dilakukannya tindak pidana perkosaan terhadap warga sipil dengan korban bernama Rini Hatati Binti Darmo Suwito yang diatur dalam Pasal 289 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Terdakwa sudah dianggap mampu bertanggungjawab atas tindak pidana yang dilakukan tersebut, karena sudah memenuhi unsur unsur suatu tindak pidana yaitu perbuatan terdakwa telah mempunyai unsur-unsur perbuatan manusia, diancam atau dilarang oleh Undang-undang, bersifat melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan dan perbuatan tersebut mampu dipertanggungjawabkan.

(46)

55

adalah tidak terpenuhinya seluruh unsur-unsur Pasal yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum yaitu unsur-unsur dari Pasal 289 KUHP. Unsur-unsur tersebut adalah:

1. Barang siapa;

2. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita; 3. Bersetubuh dengan dia;

4. Diluar perkawinan.

Hakim menjatuhkan pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan selain karena unsur-unsur Pasal 289 KUHP yang tidak sepenuhnya terpenuhi, hakim juga memperhatikan hal-hal yang memberatkan terdakwa, yaitu:

1 Perbuatan terdakwa mencemarkan nama baik dan masa depan korban;

1. Perbuatan terdakwa dapat mencemarkan nama baik Lembaga Kepolisian Republik Indonesia khususnya Kepolisian Daerah Lampung;

2. Terdakwa sebagai anggota Polisi yang bertugas untuk melindungi seluruh masyarakat, akan tetapi melakukan perbuatan yang sangat meresahkan masyarakat.

B. Saran

Adapun saran yang akan diberikan penulis berkaitan dengan analisis pertanggungjawaban tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum polisi (Studi Putusan Pengadilan Tinggi Tanjung Karang No.114/Pid.B/2012/PT.TK adalah sebagai berikut:

(47)

56

putusan hakim merupakan puncak pencerminan nilai-nilai keadilan dan kebenaraan hakiki, Visualisasi hukum dan moralitas hakim tersebut, dan juga harus mampu memberikan efek jera, baik terdakwa untuk tidak melakukan kembali perbuatannya maupun bagi masyarakat agar takut melakukan tindak pidana. Walaupun yang melakukan tindak pidana adalah seorang oknum penegak hukum, bukan berarti jadi semena-mena dalam menjalankan tugas termasuk melanggar aturan hukum di Indonesia.

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid, Muhammad Irfan, 2001, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual Advodkasi atas Hak Perempuan. Refika Aditama, Bandung.

Andrisman, Tri, 2009, Asas-asas Dan Aturan Umum Hukum Pidana Indonesa,. Unila Bandar Lampung

Darminta, Poerwa, W.J.S, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Farid, Zainal, Abidin, 2009, Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.

Hamzah, Andi,2008 Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.

Hamzah, Andy, 2009, Delik-delik tertentu dalam KUHP, Sinar Grafika, Jakarta.

Marpaung, Leden, 1991 Unsur-unsur Perbuatan yang dapat dihukum, Sinar Grafika, Jakarta. Moeljatno, 2008, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta.

Moeljatno, 2008, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.

Poernomo, Bambang, 1982, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Prakoso, Djoko, 1987, Pembaharua Hukum Pidana di Indonesia, Liberty Yogyakarta, Yogyakarta.

Prodjodikoro, Wirdjono, 1986, Tindak-tindak Pidana tertentu di Indonesia, Bandung. Santoso, Topo, 1997, Seksualitas dan Hukum Pidana, IND.HILL-CO, Jakarta.

Soerjono, Soekanto,. 1984, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Soeharto,1999, Hukum Pidana Materiil, Sinar Grafika, Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 1999, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.

Suparman, Marzuki, 1997, Pelecehan Seksual, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Sugahandi, R., 1980, Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan penjelasannya, Surabaya. Tongat, 2009, Dasar-dasar Hukum Pidana dalam Persfektif Pembaharuan, UMM Press,

Malang.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Outline : METODE PENELITIAN