• Tidak ada hasil yang ditemukan

Determinan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Peserta Jamkesmas di Puskesmas Medan Helvetia Tahun 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Determinan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Peserta Jamkesmas di Puskesmas Medan Helvetia Tahun 2013"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

DETERMINAN KINERJA PETUGAS LAPANGAN KB (PLKB) BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA DI

KOTA MEDAN TAHUN 2014

SKRIPSI

OLEH :

NIM. 101000202 EELA UTHARIE

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

DETERMINAN KINERJA PETUGAS LAPANGAN KB (PLKB) BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA DI

KOTA MEDAN TAHUN 2014

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

Nim. 101000202 Eela Utharie

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

ii ABSTRAK

Program KB Nasional adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera menuju keluarga berkualitas. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2010 di Sumatera Utara adalah sekitar 1,11%. Di Kota Medan, jumlah akspetor KB cenderung menurun. Penurunan drastis terjadi pada tahun 2013, yaitu sebesar 9,25%. Kesuksesan Program KB Nasional erat kaitannya dengan Kinerja Petugas Lapangan KB di Lapangan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei analitik. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif untuk mengetahui determinan kinerja petugas lapangan KB (PLKB) BPPKB di Kota Medan Tahun 2014. Populasi adalah seluruh PLKB di Kota Medan yang berjumlah 135 orang. Sampel diambil 57 PLKB diambil dengan teknik simple random sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis

dengan menggunakan uji regresi logistik pada α 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan dari 57 responden, Sebanyak 25 responden (43,9%) memiliki kinerja yang baik dan 32 responden (56,1%) memiliki kinerja yang kurang baik. Berdasarkan uji regresi logistik menunjukkan bahwa variabel status perkawinan (p=0,035), keterampilan (p=0,041), sumber daya (p=0,021), dan imbalan (p=0,007) berpengaruh terhadap kinerja PLKB di Kota Medan. Variabel umur, pendidikan, sikap, motivasi, dan desain pekerjaan tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja PLKB di Kota Medan.

(5)

ABSTRACT

The National Family Planning Program is the improvement effort of role and caring and also society through by adult age for marriage, arrangement in birth, construction of family resilience, make-up of prosperity of family to realize secure and prosperous happy small family to a family with quality. Resident growth rate in 2000-2010 in North Sumatera is about 1,11%. In Medan city, amount of family planning acceptor tend to extremely decrease. It is happened at 2013 about 9,25%. The successfulness of family planning Program it is hand by Officer Performance at field.

The type of this research is analytic survey with quantitative approach to know the determinant performance of officer KB (PLKB) BPPKB in Medan city in 2014.the population is aal PLKB in Medan City amount to 135 person. The samples are 57 person PLKB taken by use simple random sampling. Data analyzed by using regression test logistics at α 0,05.

The Result of this research showed from 57 responder, counted 25 responder (43,9%) owning good performance and 32 responder ( 56.1%) owning unfavorable performance. Pursuant to test of regress logistics indicate that marriage status variable (p=0.035), skill, (p=0.041), resource (p=0.021), and reward (p=0.a007) have an effect on to performance of PLKB in Medan city.

PLKB in Medan City need some effort to increase the performance. Expected to the Government of Medan city and BPPKB improve coordinate cross-sector strategic work in the area, establish commitment and technical coordination of family planning services, support of the organization's resources and operational support, training by periodical to PLKB, and give rewards to PLKB who have a good performance.

(6)

iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Eela Utharie

Tempat/ Tanggal Lahir :Sigli/ 01 Juli 1991 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Anak ke : 1 dari 3 bersaudara Status Perkawinan : Belum Kawin

Alamat Rumah : Jl. Let Umar Baki No.274 Binjai Kec : Binjai Barat

Riwayat Pendidikan :

1. Tahun 1996-1997 : TK YKA Banda Aceh 2. Tahun 1997-2002 : SD Negeri 006 Pekanbaru 3. Tahun 2003-2005 : SMP Negeri 1 Kota Solok 4. Tahun 2006-2008 : SMA Negeri 1 Kota Solok 5. Tahun 2010-2014 : Fakultas Kesehatan Masyarakat

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Determinan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Peserta Jamkesmas di Puskesmas Medan Helvetia Tahun 2013 sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.

Begitu banyak tantangan yang dihadapi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, namun berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak baik secara moril maupun material, penulis dapat menyelesaikan proposal ini. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Dr. Drs. Surya Utama, MS., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Univesitas Sumatera Utara.

2. dr. Heldy B Z, MPH., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan dan sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.

3. Siti Khadijah Nasution, SKM, M.Kes., Selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.

(8)

vi

5. dr. Fauzi, SKM, selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan masukan terhadap skripsil ini.

6. dra. Syarifah, MS., selaku Dosen Penasehat Akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

7. Para Dosen dan Staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Khususnya Departemen Administrasi dan kebijakan Kesehatan

8. Kepala Badan PP dan KB dan Staf di Badan PP dan KB yang telah memberi izin peneliti untuk melakukan penelitian dan membimbing peneliti selama melakukan penelitian.

9. Terkhusus kepada kedua orang tua tercinta, Mukhtaruddin Nasution dan Khairiah serta adik saya Annisa Nadia dan Fatan Maulana yang senantiasa mendukung dan mendoakan penulis, memberikan dukungan, dan motivasi tiada henti untuk menyelesaikan skripsi ini.

10. Terkhusus kepada sahabat saya Muhammad Iqbal yang senantiasa mendoakan, mendukung, dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

11. Buat sahabat-sahabat SMA saya Novita Syari, Ficho Cahaya, Mega, dan Aldi yang telah banyak membantu penulis menyelesaikan skrisi ini

12. Buat teman-teman seperjuangan Ashela Risa, Widya Oktalisa, Febria Octasari, Riri Astika Indriyani , Ayu Febrini Meutia dan seluruhnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

(9)

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.

Medan, Januari 2014 Penulis

(10)

x

2.1.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja………... 13

2.1.3 Penilaian Kinerja ... 17

2.1.4 Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja ... 22

2.2 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ... 24

2.2.1 Sejarah BKKBN ... 24

2.2.2 BKKBN Provinsi Sumatera Utara ... 28

2.2.4 BPPKB Kota Medan ... 30

2.2.4 Koordinasi Kerja BKKBN Provsu dengan BPPKB Kota Medan ... 32

2.2.4.1 Perencanaan Kebutuhan Alat/Obat Kontrasepsi ... 32

2.2.4.2 Alur Distribusi Alat dan obat Kontrasepsi ... 35

2.2.4.3 Alur Pencatatan dan Pelaporan Pendataan Keluarga ... 37

2.2.4.4 Pengembangan Sumber Daya Manusia ... 39

2.2.4.5 Sarana dan Prasarana Pelayanan KB ... 40

2.3 Program KB Nasional ... 41

2.4 Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) ... 42

2.4.1 Peran, Fungsi, dan Tugas PLKB ... 43

2.4.2 Penjenjangan Jabatan PLKB ... 47

2.4.3 Hubungan Langkah Kerja PLKB Dengan Puskemas ... 47

(11)

2.6 Kerangka Konsep Penelitian ... 52

2.7 Hipotesis Penelitian ... 52

BAB III METODE PENELITIAN ... 53

3.1 Jenis Penelitian ... 53

3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 53

3.3 Populasi dan Sampel ... 53

4.3.1 Tabulasi Silang Umur Dengan Kinerja PLKB ... 76

4.3.2 Tabulasi Silang Pendidikan Dengan Kinerja PLKB ... 77

4.3.3 Tabulasi Silang Status Perkawinan Dengan Kinerja PLKB ... 78

4.3.4 Tabulasi Silang Keterampilan Dengan Kinerja PLKB ... 78

4.3.5 Tabulasi Silang Sikap Dengan Kinerja PLKB ... 79

4.3.6 Tabulasi Silang Motivasi Dengan Kinerja PLKB ... 80

4.3.7 Tabulasi Silang Sumber Daya Dengan Kinerja PLKB ... 81

4.3.8 Tabulasi Silang Imbalan Dengan Kinerja PLKB ... 82

4.3.9 Tabulasi Silang Desain Pekerjaan Dengan Kinerja PLKB ... 83

4.3.10 Ringkasan Hasil Uji Statistik Chi Square ... 84

4.4 Analisis Multivariat ... 84

BAB V PEMBAHASAN ... 87

(12)

xii

di Kota Medan ... 88

5.2.1 Pengaruh Umur Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 88

5.2.2 Pengaruh PendidikanTerhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 90

5.2.3 Pengaruh Status Perkawinan Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 91

5.2.4 Pengaruh Keterampilan Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 93

5.3 Pengaruh Faktor Psikologis Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 96

5.3.1 Pengaruh Sikap Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 96

5.2.2 Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 97

5.4 Pengaruh Faktor Organisasi Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 99

5.4.1 Pengaruh Sumber Daya Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 99

5.4.2 Pengaruh Imbalan Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 100

5.4.3 Pengaruh Desain Pekerjaan Terhadap Kinerja PLKB di Kota Medan ... 101

Lampiran 1 Kuesioner

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian

Lampiran 3 Surat Keterangan Selesai Penelitian dari Badan PP dan KB Kota Medan Lampiran 4 Surat Keterangan Izin Penelitian dari Balitbang Kota Medan

(13)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1.1 Cakupan Peserta KB Baru, Peserta KB Aktif,

dan Drop Out (DO) Kota Medan Tahun 2009-2013 ... 6 1.2 Persentase Peserta KB Aktif (PA) Berdasarkan

Alat Pemakaian Alat Kontrasepsi……… 7 3.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Metode Simple Random Sampling

di Kota Medan Tahun 2014 ... 54 3.6 Aspek Pengukuran ... 56 2.3 Distribusi Karakteristik Responden ... 63

2.4 Distribusi PLKB Berdasarkan Keterampilan

di Kota Medan Tahun 2014 ... 64 2.5 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Keterampilan

di Kota Medan Tahun 2014 ... 66 2.6 Distribusi PLKB Berdasarkan Sikap

di Kota Medan Tahun 2014 ... 67 2.7 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Sikap

di Kota Medan Tahun 2014 ... 68 2.8 Distribusi PLKB Berdasarkan Motivasi

di Kota Medan Tahun 2014 ... 68 2.9 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Motivasi

di Kota Medan Tahun 2014 ... 69 2.10 Distribusi PLKB Berdasarkan Indikator Sumber Daya

di Kota Medan Tahun 2014 ... 70 2.11 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Sumber Daya

(14)

xiv

2.12 Distribusi PLKB Berdasarkan Indikator Imbalan

di Kota Medan Tahun 2014 ... 71 2.13 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Imbalan

di Kota Medan Tahun 2014 ... 72 2.14 Distribusi PLKB Berdasarkan Indikator Desain Pekerjaan

di Kota Medan Tahun 2014 ... 72 2.15 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Desain Pekerjaan

di Kota Medan Tahun 2014 ... 73 2.16 Distribusi PLKB Berdasarkan Kinerja

di Kota Medan Tahun 2014 ... 74 2.17 Distribusi PLKB Berdasarkan Kategori Kinerja

di Kota Medan Tahun 2014 ... 76 4.18 Tabulasi Silang Umur Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 77 4.19 Tabulasi Silang Pendidikan Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 78 4.20 Tabulasi Silang Status Perkawinan Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 79 4.21 Tabulasi Silang Keterampilan Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 79 4.22 Tabulasi Silang Sikap Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 80 4.23 Tabulasi Silang Motivasi Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 81 4.24 Tabulasi Silang Sumber Daya Dengan Kinerja PLKB

di Kota Medan Tahun 2014 ... 82 4.25 Tabulasi Silang Imbalan Dengan Kinerja PLKB

(15)

di Kota Medan Tahun 2014 ... 83 4.27 Hasil Analisis Statitistik Hubungan Variabel Independen

Dengan Variabel Dependen

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

(17)

ABSTRAK

Program KB Nasional adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera menuju keluarga berkualitas. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2010 di Sumatera Utara adalah sekitar 1,11%. Di Kota Medan, jumlah akspetor KB cenderung menurun. Penurunan drastis terjadi pada tahun 2013, yaitu sebesar 9,25%. Kesuksesan Program KB Nasional erat kaitannya dengan Kinerja Petugas Lapangan KB di Lapangan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei analitik. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif untuk mengetahui determinan kinerja petugas lapangan KB (PLKB) BPPKB di Kota Medan Tahun 2014. Populasi adalah seluruh PLKB di Kota Medan yang berjumlah 135 orang. Sampel diambil 57 PLKB diambil dengan teknik simple random sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis

dengan menggunakan uji regresi logistik pada α 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan dari 57 responden, Sebanyak 25 responden (43,9%) memiliki kinerja yang baik dan 32 responden (56,1%) memiliki kinerja yang kurang baik. Berdasarkan uji regresi logistik menunjukkan bahwa variabel status perkawinan (p=0,035), keterampilan (p=0,041), sumber daya (p=0,021), dan imbalan (p=0,007) berpengaruh terhadap kinerja PLKB di Kota Medan. Variabel umur, pendidikan, sikap, motivasi, dan desain pekerjaan tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja PLKB di Kota Medan.

(18)

iii ABSTRACT

The National Family Planning Program is the improvement effort of role and caring and also society through by adult age for marriage, arrangement in birth, construction of family resilience, make-up of prosperity of family to realize secure and prosperous happy small family to a family with quality. Resident growth rate in 2000-2010 in North Sumatera is about 1,11%. In Medan city, amount of family planning acceptor tend to extremely decrease. It is happened at 2013 about 9,25%. The successfulness of family planning Program it is hand by Officer Performance at field.

The type of this research is analytic survey with quantitative approach to know the determinant performance of officer KB (PLKB) BPPKB in Medan city in 2014.the population is aal PLKB in Medan City amount to 135 person. The samples are 57 person PLKB taken by use simple random sampling. Data analyzed by using regression test logistics at α 0,05.

The Result of this research showed from 57 responder, counted 25 responder (43,9%) owning good performance and 32 responder ( 56.1%) owning unfavorable performance. Pursuant to test of regress logistics indicate that marriage status variable (p=0.035), skill, (p=0.041), resource (p=0.021), and reward (p=0.a007) have an effect on to performance of PLKB in Medan city.

PLKB in Medan City need some effort to increase the performance. Expected to the Government of Medan city and BPPKB improve coordinate cross-sector strategic work in the area, establish commitment and technical coordination of family planning services, support of the organization's resources and operational support, training by periodical to PLKB, and give rewards to PLKB who have a good performance.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kondisi kependudukan di Indonesia saat sekarang ini baik dari segi kuantitas, kualitas, dan persebarannya masih merupakan tantangan yang berat bagi pembangunan nasional. Jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah dan pertumbuhan yang cepat ini akan memperlambat tercapainya kondisi yang ideal antara kualitas dan kuantitas dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatur dan menekan angka kelahiran adalah melalui program keluarga berencana nasional. Program KB nasional adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masayarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera menuju keluarga berkualitas ( Kepmen nomor 120/M.PAN/9/2004).

Program Keluarga Berencana Nasional yang dicanangkan sejak tahun1970, pada perkembangannya dikukuhkan dan diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. Berbagai perubahan lingkungan strategis baik nasional, regional, maupun internasional, telah memberi pengaruh dalam pelaksanaan Program Kependudukan dan KB Nasional di Indonesia. Perubahan paradigma kependudukan dan pembangunan dunia seperti yang telah dihasilkan dalam International Conference on

(20)

tahun 2000 tentang Millenium Development Goals (MDG’s), perkembangan globalisasi, kerjasama regional ASEAN dan Asia Pasific (APEC), serta tuntutan perubahan di Indonesia telah memberi nuansa baru dan perubahan mendasar dalam pengelolaan dan pelaksanaan program KB Nasional di Indonesia. Dengan berbagai perubahan dukungan strategi tersebut, maka UU Nomor 10 Tahun1992 itu telah dilakukan amandemen sehingga pada tahun 2009 terbit UU No.52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sebagai pengganti UU No. 10 Tahun 1992 (BKKBN, 2013).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga tertuang bahwa pembangunan nasional mencakup semua aspek dan dimensi kehidupan termasuk perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang dilaksanakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Oleh karena itu, penduduk sebagai modal dasar dan faktor dominan pembangunan harus menjadi titik sentral dalam pembangunan berkelanjutan (UU nomor 52 tahun 2009).

(21)

tertuang pada misi meningkatkan kualitas masyarakat kota yaitu, peningkatan kedudukan, fungsi dan peranan perempuan dalam pembangunan guna mewujudkan keluarga kecil sejahtera (BKKBN, 2013).

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah, yang dipimpin oleh kepala badan yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui sekretaris daerah. BPPKB mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebiijakan urusan pemerintahan daerah dibidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana. Untuk menunjang keberhasilan program-program BPPKB, masing - masing bidang bekerjasama dengan lintas sektoral di masing-masing kecamatan terkait pengelolaan program, melakukan pembinaan terhadap kader KB yang ada dikelurahan oleh Petugas Lapangan KB (PLKB), melakukan pembinaan terhadap pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan Sub PPKBD.

(22)

menunjukkan tidak ada kenaikan yang berarti dalam penggunaan kontrasepsi dibandingkan dengan hasil SDKI 2007. Pada tahun 2007, SDKI mencatat sebanyak 57,4% pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi modern, sedangkan SDKI 2012 mencatat angka 57,9% atau kenaikannya hanya sebesar 0,5%. (BKKBN, 2013). Di Sumatera Utara, laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2010 adalah sekitar 1,11% (SDKI 2012) . Persentase pencapaian KB baru terhadap PPM-PB tahun 2010 sekitar 138%, tahun 2011 sekitar 115,4%, 2012 sekitar 127,3%. Perkembangan pencapaian peserta KB baru (PB) mandiri tahun 2010-2012 adalah 109.876, 96.168, 75.147. Persentase pencapaian peserta KB aktif (PA) terhadap total PA dari tahun 2010-2012 adalah 35,9%, 32,1%, dan 30,2%. (BKKBN, 2013).

PLKB besar peranannya dalam meningkatkan program keberhasilan program KB. PLKB mengajak, mengkampanyekan, dan memberikan konseling tentang KB kepada PUS di setiap kecamatan dan kelurahan. PLKB adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan, pelayanan, evaluasi dan pengembangan KB Nasional. Tugas dan fungsi dasar PLKB/PKB meliputi sepuluh langkah, yaitu pendekatan tokoh formal, pendataan dan pemetaan, pendekatan tokoh informal, pembentukan kesepakatan, penegasan kesepakatan, penerangan dan motivasi, peneladanan atau pembentukan grup pelopor, pelayanan KB-KS, pembinaan peserta, pencatatan, pelaporan, dan evaluasi.

(23)

melakukan urusan kegiatan-kegiatan koordinasi dan bimbingan pelaksanaan program keluarga berencana di wilayah kerjanya. Dalam melaksanakan tugas dan funginya ada beberapa permasalahan yang mungkin dihadapi oleh PLKB. Masalah-masalah tersebut antara lain adalah konsolidasi dengan semua pihak terkait dalam mengemban tugasnya, kemampuan para petugas dalam merencanakan, menganalisis, mengevaluasi pelaksanaan program keluarga berencana di wiliayah kerjanya, upaya yang dilakukan untuk memperoleh kesepakatan dalam pelaksanaan program KB, kendala dalam melibatkan peran serta masyarakat dan institusi masyarakat dalam pelaksanaan program KB, kemampuan untuk melakukan kerjasama dengan semua pihak terkait.

Kinerja adalah prestasi atau hasil kerja yang dicapai individu, kelompok, atau perusahaan, baik secara kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi sesuai dengan tugas pokok, fungsi, wewenang, dan tanggungjawab masing-masing individu dalam mencapai tujuan organisasi. Kinerja tidak hanya tentang hasil kerja yang dicapai, melainkan juga tentang proses kerja berlangsung. Kinerja suatu lembaga organisasi sangat dipengaruhi oleh kinerja individu dalam organisasi tersebut. Perilaku individu berpengaruh terhadap output yang dihasilkan dan outcome yang akan diraih organisasi tersebut.

(24)

variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi. Variabel organisasi terdiri dari sub variabel sumber daya, keemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan. Kinerja Menurut Robbins (2006) merupakan fungsi interaksi antara kemampuan atau Ability (A), motivasi (M), dan kesempatan atau opportunity (O). kesempatan kinerja adalah tingkat kinerja yang tinggi, sedangkan kemampuan dan motivasi merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-rintangan yang akan menjadi kendala bagi karyawan.

Data cakupan peserta KB Baru (PB), peserta KB Aktif (PA), dan Drop Out (DO) PB di Kota Medan pada tahun 2013 tidak menunjukkan peningkatan yang berarti. Di tahun 2013 terjadi penurunan cakupan PB dan persentase DO peseta KB tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.

Tabel 1.1 Cakupan Peserta KB Baru, Peserta KB Aktif, dan Drop Out (DO) Kota Medan Tahun 2009-2013

Th. Peserta KB Baru Peserta KB aktif Drop Out (DO)

319.004 205.162 64,49 %

45.697 40.671 89,13%

2010 47.712 49.621 104,7 %

325.511 189.796 58,73 %

47.712 36.306 74,46%

2011 49.296 48.294 97,97 %

369.973 221.802 59,95 %

48.294 46.648 97%

2012 51.361 46.936 91,38 %

330.376 221.063 66,91 %

46.936 46.069 98%

2013 65.764 54.668 83,13 %

333.525 229.879 68,92 %

54.668 53.574 98%

Berdasarkan tabel cakupan peserta KB baru, peserta KB aktif (PA), dan Drop

(25)

sebesar 15,62% dari tahun 2009. Namun, pada tahun-tahun berikutnya cakupan PB menurun. Di tahun 2013 terjadi penurunan persentase PB yang signifikan yaitu menjadi dibawah 90 %. Cakupan PB ditahun 2013 hanya mencapai 83,13%. Sedangkan persentase PA pada tahun 2013 terjadi peningkatan sebesar 2,01% dari tahun 2012. Persentase DO peserta KB pada tahun 2010 menurun, hal ini menunjukkan peningkatan peserta KB yang tidak DO. Namun, pada tahun 2011-2013 terjadi peningkatan yang siginifikan pada jumlah peserta KB yang DO yaitu mencapai 98%.

Data cakupan PA berdasarkan alat kontrasepsi yang dipakai di Kota Medan menunjukkan bahwa alat kontrasepsi yang dipakai oleh PUS yang paling banyak adalah suntik.

Tabel 1.2 Persentase peserta KB aktif (PA) berdasarkan pemakaian alat kontrasepsi

Tahun 2011 2012 2013

Jumlah peserta KB aktif

221.802 221.063 229.879

(26)

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa persentase PA yang memakai suntik sebagai alat kontrasepsinya jauh lebih banyak dari alat kontrasepsi lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Siti Amanah, dkk (2009) yang menemukan adanya kasus di salah satu desa penelitian yang warganya tidak memiliki pengetahuan mengenai alat kontrasepsi selain suntik. Itulah sebabnya alat KB ini menjadi alat KB yang dominan dipilih untuk menjarangkan kelahiran.

Rendahnya perilaku ber-KB dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internalnya antara lain tingkat pendidikan (terutama perempuan), tingkat pengetahuan tentang KB, kondisi sosial ekonomi keluarga, relasi suami-istri serta pemahaman tentang agama dan sistem nilai sosial masyarakat. Adapun faktor eksternalnya antara lain ketersediaan alat/obat/metode kontrasepsi yang dapat diakses keluarga miskin, jarak antara rumah dengan fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga medis.

(27)

program KB. Penelitian Alfikri (2009) menyatakan bahwa kinerja penyuluh KB dipengaruhi oleh kompetensi dan motivasi.

Kompensasi yang berupa imbalan, tunjangan, dan insentif merupakan salah satu motivasi pegawai dalam melakukan pekerjaan. Ketika karyawan sudah dipenuhi haknya dalam mendapatkan imbalan akan mendorong karyawan terebut untuk merasakan kepuasan atas pekerjaannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yng dilakukan oleh Salamuk dan kusnanto (2006) yang menunjukkan bahwa insentif berpengaruh signifikan terhadap kinerja bidan di Puskesmas Kabupaten Puncak Jaya

Berdasarkan hal tersebut maka penulis melakukan penelitian tentang determinan kinerja PLKB Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana ( BPPKB) di Kota Medan tahun 20114.

1.2.Perumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah dijabarkan di awal, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja determinan yang memengaruhi kinerja petugas lapangan KB (PLKB) BPPKB Kota Medan tahun 2014.

1.3.Tujuan Penelitian

(28)

1.4.Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai masukan bagi pihak BPPKB, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan data mengenai kinerja PLKB BPPKB di Kota Medan

2. Sebagai masukan bagi pihak BPPKB, dapat dijadikan dasar dlaam proses pengambilan keputusan dan kebijakan dalam peningkatan kinerja PLKB BPPKB Kota Medan.

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja

2.1.1. Pengertian Kinerja

Hariandja (2002) kinerja adalah hasil kerja yang dihasilkan oleh pegawai atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai dengan peranannya dalam organisasi.

Ilyas (2001) menyatakanKinerja adalah penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja dapat merupakan penampilan individu maupun kerja kelompok personel. Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang memangku jabatan fungsional maupun struktural, tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam organisasi.

Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donnelly, Gibson and Ivancevich: 1996).

Kinerja adalah suatu perbuatan, prestasi, dan suatu pameran umum keterampilan, serta pelakasanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang. Kinerja menetapkan standard-standard tertinggi seseorang, standard yang melampaui apa yang diminta atau apa yang diharapkan orang lain pada dirinya (John Whitmore, 1997).

(30)

melakukan pekerjaan tersebut, apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi ( Wibowo, 2013).

Menurut Veithzal Rivai (2011) kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak menlanggar hokum, dan tidak bertentangan dengan moral atau etika.

Pada dasarnya kinerja menekankan pada apa yang dihasilkan (output) dari fungsi-fungsi suatu pekerjaan. Kinerja merupakan proses mengolah input menjadi output (Moeheriono, 2012).

Menurut Moeherino (2012) kinerja mengandung dua komponen, yaitu : 1. Kompetensi, yaitu individu atau organisasi memiliki kemampuan untuk

mengidentifikasikan tingkat kinerjanya.

2. Produktivitas kompetensi, yaitu tindakan atau kegiatan- kegiatan yang tepat untuk mencapai outcome.

Robbins (2006), Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau

ability (A), motivasi atau motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O), yaitu

(31)

Kemampuan, motivasi, dan kesempatan adalah faktor yang menentukan kinerja. Kesempatan kinerja adalah tingkat kinerja yang tinggi yang sebagian merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-rintangan yang menghambat karyawan itu. Meskipun seorang individu mungkin bersedia dan mampu, bisa saja ada rintangan yang menjadi penghambat. Jadi sehubungan dengan itu, kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.

2.1.2.Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja

Beberapa teori menerangkan tentang faktor-faktor yang memengaruhi kinerja seorang baik sebagai individu atau sebagai individu yang ada dan bekerja dalam suatu lingkungan. Sebagai individu setiap orang mempunyai ciri dan karakteristik yang bersifat fisik maupun non fisik. Dan manusia yang berada dalam lingkungan maka keberadaan serta perilakunya tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerjanya.

Menurut Gibson (1996), ada tiga kelompok variabel yang memengaruhi kinerja, yaitu: variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis. Ketiga kelompok variabel tersebut memengaruhi kelompok kerja yang secara tidak langsung memengaruhi kinerja individu.

(32)

Variabel individu dikelompokkan atas sub variabel kemampuan dan keterampilan, latar belakang dan demografis.

2. Variabel psikologis

Variabel psikologis dikelompokkan atas sub variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi. Variabel persepsi, sikap, dan kepribadian ini merupakan hal yang kompleks dan sulit untuk diukur.

3. Variabel Organisasi

Variabel organisasi dikelompokkan atas sub variabel sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.

Gambar 2.1 variabel yang memengaruhi perilaku

(33)

a. Variabel Individu

Variabel individu pada gambar 2.1 digolongkan atas kemampuan dan keterampilan, latar belakang, dan demografis.

a. Kemampuan adalah sifat yang dibawa lahir atau yang dipelajari seseorang dari proses belajar yang memungkinkan seseorang menyelesaikan pekerjaannya.

b. Keterampilan adalah kecakapan yang berhubungan dengan tugas yang dimiliki dan dipergunakan seseorang pada waktu yang tepat.

Kemampuan dan keterampilan memainkan peranan utama dalam perilaku dan prestasi individu.

b. Variabel Psikologis

Variabel psikologis pada gambar 2.1 digolongkan atas persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi.

(34)

tentang perilaku atasan dalam memberikan pengakuan dan penghargaan kepada bawahannya.

b. Sikap adalah kesiap-siagaan mental yang dipelajari melalui pengalaman dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara tanggap seseorang terhadap obyek disekitarnya.

c. Kepribadian adalah pola perilaku dan proses mental yang unik yang mencirikan seseorang.

d. Motivasi adalah dorongan dan kekuatan yang menimbulkan perilaku individu.

c. Variabel Organisasi

Variabel organisasi pada gambar 2.1 digolongkan atas sumber daya, kepemimpinan, imbalan, sturktur, dan desain pekerjan.

a. Sumber daya adalah manusia, sarana dan prasarana, peralatan, dan anggaran yang dimiliki oleh organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

b. Kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan pengaruh kekuasaan untuk memotivasi dan memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.

(35)

dapat berupa gaji, tunjangan, fasilitas, dan sebagainya yang dapat dinilai dengan uang.

d. Struktur adalah pola formal kegiatan dan hubungan diantara sub-unit dalam organisais. Struktur adalah tentang bagaimana orang dan pekerjaan dikelompokkan.

e. Desain pekerjaan mengacu pada proses yang digunakan para manajer merinci isi, metode, dan hubungan setiap pekerjaan untuk memenuhi tuntutan organisasi.

Menurut Mathis dan Jackson (2007) dalam Rivai (2011) ada beberapa faktor yang memengaruhi kinerja karyawan, antara lain : (1) kemampuan individu, (2) motivasi, (3) dukungan yang diterima, (4) keberadaan pekerjaan yang dilakukan, (5) hubungan individu dengan organisasi. Sedangkan menurut Mangkunegara (2000), faktor yang memengaruhi kinerja yaitu :

1. Faktor kemampuan secara psikologis

Kemampuan individu terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan sesuai keahliannya.

2. Motivasi

(36)

2.1.3. Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manajemen atau penyelia penilai untuk menilai kinerja tenaga kerja dengan cara membandingkan kinerja dengan uraian atau deskripsi pekerjaan dalam suatu periode tertentu (Sastrohadiwiryo, 2003).

Dalam mengembangkan organisasi, penilaian kerja menjadi suatu hal yang penting. Melalui penilaian kita dapat mengetahui apakah suatu pekerjaan sudah sesuai atau belum dengan uraian pekerjaan yang telah disusun sebelumnya. Dengan melakukan penilaian, seorang pimpinan akan menggunakan uraian pekerjaan yang telah disusun tersebut sebagai tolok ukur. Bila pelaksanaan sudah sesuai atau melebihi uraian pekerjan, berarti pekerjaan itu berhasil dilaksanakan dengan baik. Namun sebaliknya, jika pelaksanaan dibawah uraian pekerjaan, maka pelaksanaan pekerjaan tersebut dinilai masih kurang.

Menurut Ilyas (2001) penilaian kinerja adalah proses menilai hasil karya personel dalam suatu organisasi melalui instrumen penilaian kinerja. Pada dasarnya, penilaian kinerja merupakan suatu evaluasi terhadap penampilan kerja personel dengan membandingkannya dengan standar baku penampilan. Penilaian kinerja mencakup faktor-faktor sebagai berikut:

(37)

2. Ukuran, yaitu untuk mengukur prestasi kerja seorang petugas dibandingkan dengan uraian pekerjaan yang telah ditetapkan untuk personal tersebut.

3. Pengembangan, yaitu penilaian yang bertujuan untuk memotivasi personil mengatasi kekurangannya dan mendorong individu untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang ada pada dirinya.

Ruky (2001) menjelaskan sistem penilaian kinerja melalui pendekatan

“input-process-output.

1. Input ( person oriented performance management ) adalah apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang karyawan untuk dapat melaksanakan kerjanya dengan berhasil. Pendekatan input lebih menekankan pada penilaian ciri-ciri kepribadian karyawan, seperti : disiplin, kejujuran, pengetahuan, kemampuan, inisiatif, kreativitas, komitmen, dll.

2. Process ( process oriented performance management) merupakan metode menilai prestasi karyawan dengan cara menilai sikap dan perilaku karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pada metode ini penilaian tidak menekankan pada ciri-ciri kepribadian, tetapi pada baik buruknya pelaksanaan tugas oleh seorang karyawan.

(38)

Soedjono (2005) menyebutkan ada enam kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja pegawai secara individu yakni :

1. Kualitas hasil pekerjaan yang dikerjakan individu .

2. Kuantitas pekerjaan yang merupakan jumlah yang dihasilkan atau jumlah aktivitas yang dapat diselesaikan individu.

3. Ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.

4. Efektivitas pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang ada pada organisasi untuk meningkatkan keuntungan dan mengurangi kerugian. 5. Kemandirian dalam melaksanakan pekerjaan/

6. Komitmen kerja, yaitu komitmen kerja antara pegawai dengan organisasinya dan tanggung jawab pegawai terhadap organisasinya.

Skema Penilaian Kinerja Menurut Mangkuprawira (2004) sebagai berikut :

Kinerja Karyawan

Keputusan SDM

Standard Kinerja Ukuran Kinerja

Penilaian Kinerja Umpan Balik Karyawan

(39)

Penilaian kinerja erat kaitannya dengan pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja dalam Reference Guide yang dikutip dari Moeheriono (2012) merupakan suatu metode untuk menilai kemajuan yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan, sekaligus sebagai alat komunikasi dan alat manajemen untuk memperbaiki kinerja organisasi. Selanjutnya untuk mengukur kinerja harus didasarkan pada indikator kinerja. Indikator kinerrja adalah ukuran kuantitatif dan/ atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan organisasi ( Moeheriono, 2012).

Adapun Jenis-jenis indikator terbagi atas :

1. Tolok ukur jangka pendek, terdiri dari input, output,outcome.

a. Indikator input mencakup identifikasi jumlah sumber daya yang dibutuhkan untuk menyediakan barang dan jasa, seperti jumlah dana yang dibutuhkan, tenaga, material, peralatan, dan perlengkapan

b. Indikator output menggambarkan jumlah barang atau jasa dan/ atau pelayanan yang akan disediakan

c. Indikator outcome menggambarkan tingkat pencapaian hasil atau keluaran dari indikator output.

2. Tolok ukur jangka panjang, terdiri dari manfaat dan dampak.

(40)

b. Indikator dampak memperlihatkan pengaruh yang ditimbulkan dari manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan.

2.1.4. Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja

Penilaian tentang kinerja individu semakin penitng ketika organisasi akan melakukan reposisi karyawan dan pengembangan organisasi. Hal ini berarti organisasi harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kinerja. Hasil penilaian kinerja akan bermanfaat untuk membuat program pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara optimal yang nantinya akan berdampak pada optimalisasi pengembangan organisasi. Adapun, tujuan penilaian kinerja adalah untuk meningkatkan kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja individu (Rivai, 2011).

Tujuan dan manfaat penilaian kinerja menurut Hariandja (2002) sebagai berikut :

1. Perbaikan unjuk kerja memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengambil tindakan-tindakan perbaikan untuk meningkatkan kinerja melalui

feedback yang diberikan oleh organisasi.

2. Penyesuaian gaji dapat dipakai sebagai informasi untuk mengkompensasi pegawai secara layak sehingga dapat memotivasi mereka.

(41)

4. Pelatihan dan pengembangan, yaitu melalui penilaian akan diketahui kelemahan-kelemahan dari pegawai sehingga dapat dilakukan program-program pelatihan dan pengembangan yang efektif.

5. Perencanaan karier, yaitu organisasi dapat memberikan bantuan perencanaan karier bagi pegawai dan menyelaraskannya dengan kepentingan organisasi.

6. Mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dalam proses penempatan, yaitu unjuk kerja yang tidak baik menunjukkan adanya kelemahan dalam penempatan sehingga dapat dilakukan perbaikan.

7. Dapat mengidentifikasi adanya kekurangan dalam desain pekerjaan, yaitu kekurangan kinerja akan menunjukkan adanya kekurangan dalam perancangan jabatan.

8. Meningkatkan adanya perlakuan kesempatan yang sama pada pegawai, yaitu dengan dilakukannya penilaian yang obyektif berarti meningkatkan perlakuan yang adil bagi pegawai.

9. Dapat membantu pegawai mengatasi masalah yang bersifat eksternal, yaitu dengan penilaian unjuk kerja atasan akan mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya unjuk kerja yang jelek, sehingga atasan dapat membantu menyelesaikannya.

(42)

informasi sejauh mana fungsi sumber daya manusia berjalan dengan baik atau tidak.

2.2. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2.2.1.Sejarah BKKBN

1. Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) dibentuk dengan tugas mencakup dua hal, yakni melembagakan KB dan mengelola segala jenis bantuan untuk KB. Setahun LKBN berdiri, proses pengenalan KB kepada masyarakat berlangsung memuaskan dan tidak menghadapi tantangan yang berarti, sehingga pemerintah memutuskan mengambil alih menjadi program pemerintah dan menetapkan program KB nasional merupakan bagian integral dari program pembangunan nasional dan masuk dalam program pembangunan lima tahunan.

(43)

ditetapkan. Dalam melaksanakan tugasnya, BKKBN bertanggung jawab kepada presiden, yang sehari-hari didampingi oleh Musyawarah Pertimbangan KB Nasional.Berdasarkan Keppres Nomor 8 Tahun 1970, wilayah program meliputi enam provinsi di Jawa Bali yakni : DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali.

3. BKKBN Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1972 menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berkedudukan langsung di bawah presiden dengan fungsi membantu presiden dalam menetapkan kebijaksanaan pemerintah di bidang program KB nasional dan mengkoordinasikan pelaksanaan program KB nasional.Penanggung jawab umum penyelenggaraan program KB nasional berada di tangan presiden, sedangkan Ketua BKKBN bertanggung jawab langsung kepada presiden. Dalam Keppres ini, wilayah program diperluas dengan sepuluh provinsi di luar Jawa Bali I yakni : DI Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat. Disamping itu, Keppres ini menyatakan bahwa Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikota Kepala Daerah Tingkat II adalah Penanggung Jawab Umum penyelenggaraan program KB nasional di daerahnya masing-masing.

(44)

1978 maka perlu penyesuaian dan peningkatan organisasi BKKBN dan wilayah program KB diperluas lagi ke sebelas provinsi lainnya di Luar Jawa Bali II, yakni : Riau, Jambi, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Irian Jaya, Timor Timur.

5. BKKBN Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 64 Tahun 1983 dengan melihat pada GBHN 1983 dirumuskan bahwa program KB nasional bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera, dengan cara mengendalikan kelahiran untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk Indonesia. Untuk itu dilakukan penyempurnaan organisasi BKKBN yang dilandasi pertimbangan bahwa penyelenggaraan program KB nasional sebagai bagian integral pembangunan nasional oleh karenanya perlu ditingkatkan dengan jalan lebih memanfaatkan dan memperluas kemampuan fasilitas dan sumber daya yang tersedia dan untuk lebih menjamin tingkat kesejahteraan rakyat yang memadai, dengan mempercepat penurunan kelahiran.

(45)

7. BKKBN Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 20 Tahun 2000 penyempurnaan kembali organisasi BKKBN dilandaskan pada pertimbangan bahwa program KB harus seiring dengan perkembangan program KB, pembangunan nasional, era reformasi dan globalisasi. Dasar Pertimbangan keluarnya Keppres ini adalah untuk mempercepat terwujudnya keluarga berkualitas, maju, mandiri dan sejahtera, dipandang perlu untuk meningkatkan peran serta semua pihak secara terkoordinasi, terintegrasi dan tersinkronisasi dalam program KB nasional dan pembangunan KS serta pemberdayaan perempuan. Status BKKBN dalam Keppres ini merupakan lembaga pemerintah non departemen yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden dan dipimpin oleh seorang kepala yang dijabat oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

(46)

presiden, dan dipimpin oleh seorang kepala yang dijabat dan dikoordinasikan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

9. BKKBN Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 103 Tahun 2001 yang diikuti dengan Keputusan Presiden RI Nomor 110 Tahun 2001. Dalam Keppres ini dikukuhkan kembali bahwa BKKBN tetap mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintah di bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BKKBN sebagai lembaga non departemen dipimpin oleh seorang kepala dan berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden melalui koordinasi Menteri Kesehatan RI. Berdasarkan Keppres ini, sebagian kewenangan BKKBN diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. Demikian pula kelembagaan BKKBN kabupaten/kota telah diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota per-Januari 2004. Dengan diserahkannya kelembagaan ini, maka lembaga yang menangani program KB di kabupaten/kota bentuknya bervariasi, ada yang berbentuk dinas/badan yang demerger dengan instansi lain, ada yang berbentuk kantor KB.

(47)

2.2.2. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) provinsi sumatera utara adalah perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala BKKBN pusat. Dalam melaksanakan kegiatannya, Perwakilan BkkbN Provinsi Sumatera Utara melayani 33 Kabupaten/Kota yang terdapat di provinsi Sumatera Utara.

BKKBN Provinsi Sumatera Utara mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang Kependudukan Keluarga Berencana di wilayah Provinsi Sumatera Utara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud, BKKBN Provinsi Sumatera Utara mempunyai fungsi:

1. Perumusan kebijakan teknis Kependudukan dan Keluarga Berencana;

2. Fasilitasi Kependudukan dan Keluarga Berencana;

3. Pengoordinasian pelaksanaan kegiatan Kependudukan dan Keluarga Berencana;

(48)

5. Pengumpulan, pengolahan , penyajian data dan informasi permasalahan dan potensi Kependudukan dan Keluarga Berencana;

6. Penyelenggaraan kebijakan bina sosial dan bina fisik pemberdayaan masyarakat kelurahan;

7. Fasilitasi, pembinaan dan pengembangan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna;

(49)

2.2.3. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Medan

Badan pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana (BPPKB) merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah, yang dipimpin oleh kepala badan yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui sekretaris daerah. Badan mepunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebiijakan urusan pemerintahan daerah dibidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana.

Dalam melaksanakan tugas, badan menyelenggarakan fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis dibidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana.

b. Pemberian dukungan atas penyelanggaraan pemerintah daerah dibidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana.

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana.

(50)
(51)

2.2.4. Koordinasi Kerja BKKBN Provinsi Sumatera Utara dengan BPPKB Kota Medan

2.2.4.1 Perencanaan Kebutuhan Alat/Obat Kontrasepsi

Perencanaan kebutuhan alat/obat kontrasepsi telah tertuang di dalam Petunjuk Pelaksanaan Perencanaan Kebutuhan Alat/Obat Kontrasepsi dan Nonkontrasepsi Program KB Nasional (BKKBN, 2008). Perencanaan kebutuhan alat/obat kontrasepsi setiap tahun dilaksanakan dengan cara perhitungan yang didasarkan pada data sasaran kesertaan ber‐KB meliputi permintaan partisipasi masyarakat (PPM) baik peserta KB baru maupun peserta KB aktif menggunakan rumusan‐rumusan tertentu serta data

stock kontrasepsi di gudang pada bulan terakhir. Tugas masing‐masing pihak yang

terlibat perencanaan kebutuhan alokon, meliputi: a. BKKBN Pusat

1. Kepala bagian perencanaan kebutuhan melakukan koordinasi dengan komponen dan bagian terkait untuk memperoleh data dan informasi mengenai angka PPM PA dan PPM PB tahun depan, data stock kontrasepsi di gudang bulan terakhir.

2. Kepala bagian perencanaan kebutuhan dan bagian terkait menyusun perkiraan kebutuhan kontrasepsi tahun depan dengann berbagai alternatif dan analisa kecukupan kontrasepsi saat ini dan yang akan datang.

(52)

4. Kepalan bagian perencanaan kebutuhan mengajukan kepada kepala biro perlengkapan dan perbekalan, hasil analisa kecukupan kontrasepsi saat ini dan yang akan datang.

b. BKKBN provinsi

1. Sekretaris BKKBN provinsi bersama staf yang kompeten menyusun perencanaan kebutuhan kontrasepsi.

2. Sekretaris BKKBN provinsi bersama staf melakukan analisis kondisi stock kontrasepsi di wilayahnya.

3. Sekretaris BKKBN provinsi mengajukan hasil analisis dan rencana kebutuhan kontrasepsi kepada Kepala BKKBN Provinsi.

c. Satuan Kerja Perangkat Daerah/SKPD KB Kabupaten/Kota

1. Kepala bagian tata usaha SKPD/Organisasi Perangkat Daerah (OPD) KB bersama staf melakukan analisa kebutuhan kontrasepsi di wilayahnya.

2. Kepala bagian tata usaha SKPD/OPD KB bersama staf melakukan koordinasi untuk memperoleh angka stock alokon bulanan.

(53)

Dalam merencanakan kebutuhan alokon, perlu mempertimbangkan 6 tepat sesuai prinsip manajemen logistik agar kebutuhan barang yang direncakan dapat semaksimal mungkin memenuhi permintaan sasaran. Keenam prinsip tersebut meliputi:

a. Tepat Kuantitas: perencanaan kebutuhan didasarkan pada jumlah yang tepat sesuai dengan permintaan klien yang menjadi sasaran program.

b. Tepat Jenis: perencanaan kebutuhan didasarkan pada jenis barang yang tepat sesuai dengan permintaan klien yang menjadi sasaran program.

c. Tepat Tempat: Perencanaan kebutuhan alokon didasarkan pada permintaan yang

tepat tempat sesuai dengan permintaan klien yang menjadi sasaran program di tempatnya sehingga alokon dapat bermanfaat.

d. Tepat waktu: Perencanaan kebutuhan alokon didasarkan pada permintaan yang tepat waktu artinya barang dapat disalurkan tepat pada waktu klien yang menjadi klien sasaran program membutuhkannya.

e. Tepat Kondisi: Perencanaan kebutuhan alokon didasarkan pada permintaan yang tepat kondisi sesuai dengan kondisi di tempat klien yang menjadi sasaran program.

(54)

2.2.4.2. Alur Distribusi Alat dan Obat Kontrasepsi

Mekanisme penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran alokon telah diatur di dalam Petunjuk Teknis Penerimaan, Penyimpanan, dan Penyaluran Kontrasepsi Program KB Nasional di Kabupaten/Kota (BKKBN, 2009). Secara rinci, alur distribusi alokon dari BKKBN pusat sampai ke akseptor KB dapat digambarkan sebagai berikut:

Pustu Polindes PPKBDP

(55)

a. BKKBN pusat melaksanakan pengadaaan alokon kemudian mendistribusikannya ke BKKBN provinsi. Pengadaan alokon didasarkan pada besarnya perkiran permintaan masyarakat dan ketersediaan stock alokon;

b. BKKBN provinsi melanjutkan distribusi alokon ke setiap kabupaten/kota. Di era otonomi, kewenangan BKKBN berhenti sampai dengan distribusi alokon ke kabupaten/kota;

c. Kabupaten/kota menyalurkan kontrasepsi ke puskesmas di wilayah masing‐masing menggunakan pengangkutan ekspedisi;

d. Kabupaten/kota dapat pula menyalurkan alokon ke klinik, LSM/organisasi profesi, RS swasta, Bidan Praktek Swasta /BPS, Dokter Praktek Swasta/DPS khusus untuk IUD dan kondom, sedangkan kontrasepsi lainnya dapat diberikan apabila pelayanan ditujukan bagi KPS dan KS‐I;

e. Puskesmas menyalurkan ke puskesmas pembantu, puskesmas desa/polindes, dan Pos Pembina KB Desa (PPKBD). Untuk puskesmas pembantu dan polindes diberikan alokon IUD, suntik, implant, pil, dan kondom yang diberikan kepada akseptor KB baru dan aktif/ulang dari KPS dan KS‐I, sementara untuk PPKBD hanya diberikan alokon jenis pil dan kondom untuk peserta KB aktif dari KPS dan KS‐I;

f. Untuk distribusi alokon dari swasta, kabupaten/kota hanya mendistribusikan alokon ke RS, RS swasta, LSM, KB swasta, organisasi profesi, dan dokter/bidan

(56)

2.2.4.3. Alur Pencatatan dan Pelaporan Pendataan Keluarga

Bentuk koordinasi antara BKKBN provinsi dan BPPKB Kota Medan ditunjukkan dalam bagan berikut :

Keterangan Gambar :

(57)

pelaksanaan, serta pengumpulan data basis melalui pendataan keluarga. Untuk melaksanakan tugas tersebut, PLKB dibantu oleh kader KB yaitu : PPKBD dan sub PPKBD. Hasil kegiatan yang dilaksanakan oleh PPKBD dan sub PPKBD dicatat dalam R/1/PUS/10 kemudian disampaikan kepada PLKB. kemudian PLKB membuat laporan hasil kegiatan dan pencatatan data dari klinik KB selama satu bulan ke dalam C/1/Des-Dal/10 dan F/1/Dal/10. Laporan tersebut kemudian diserahkan kepada Pengawas petugas lapangan KB (PPLKB) di kecamatan.

PPLKB membuat laporan Rek.Kec.F/I/Dal/10 sesuai data yang dibuat oleh PLKB dari setiap kelurahan yang ada diwilayahnya dan diirimkan ke SKPD KB kab/kota (BPPKB). Kemudian BPPKB membuat laporan bulanan pengendalian lapangan tingkat kab/kota (Rek.Kab.F/I/Dal/10) sesuai data yang diperoeh dari seluruh kecamatan Kota Medan dan dikirimkan ke BKKBN Provinsi. BKKBN Provinsi membuat laporan pengendalian lapangan program kependudukan dan KB Nasional Provinsi Sumatera Utara ( Rek.Prov.F/I/Dal/10) yang diterima dari seluruh SKPD KB kab/kota yang ada di provinsi sumatera utara dan dikirimkan ke BKKBN Pusat setiap bulan.

(58)

Dalam pelaksanaan program KB, BPPKB Kota Medan telah berupaya dengan intensif untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, antara lain yaitu petugas lini lapangan, bidan, dokter, puskesmas, klinik, RS, Bappeda, BKKBN provinsi, dinas kesehatan, dan dinas sosial serta pemerintah kota/Kabupaten. Substansi koordinasi mencakup baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan serta evaluasinya. Koordinasi yang paling intensif dilakukan adalah dengan BKKBN provinsi, khususnya untuk pengadaan alokon dan pelaksanaan program KB.

BPPKB Kota Medan juga cukup intensif melakukan konsultasi dengan Pemko Medan terkait penyampaian pelaksanaan program KB. Upaya untuk meningkatkan dukungan pelaksanaan program melalui APBD juga telah cukup intensif dikoordinasikan dengan Bappeda. Tidak kalah pentingnya adalah penyusunan perencanaan program yang melibatkan partisipasi petugas lini lapangan. Di tingkat puskesmas koordinasi kerja yang dilakukan oleh puskesmas antara lain adalah safari KB dengan Muyan. Dilaksanakan melalui kerja sama antara BKKBN Provinsi Sumut dengan BPPKB Kota Medan. Dalam rangka pengumpulan akseptor, puskesmas bekerjasama dengan PLKB atau petugas KB serta dinas sosial.

2.2.4.4. Pengembangan Sumber Daya Manusia

(59)

1) Pelatihan untuk petugas lini lapangan • Latihan dasar umum PKB,

• Refreshing bagi PKB, • Latihan KIP Konseling KB.

2) Pelatihan untuk bidang/ tenaga medis • Pelatihan insersi IUD dan implant, • vasektomi tanpa pisau,

• pelatihan contraceptive technology update/CPU, • Pelatihan KIP Konseling KB,

• Pelatihan konseling KB dengan alat bantu peraga,Kesehatan/ABPK, • Pelatihan Teknis Program KB–RS.

3) Pelatihan recording dan reporting/RR

Selain BKKBN, Pemda juga memberikan dukungan dalam pengembangan SDM, sebagaimana dukungannya kepada BPPKB Kota Medan untuk pelatihan komputer.

2.2.4.5. Sarana dan Prasarana Pelayanan KB

(60)

Dana Alokasi Khusus dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus, yang terkait dengan fisik (sarana dan prasarana layanan KB), dan merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional. Dengan adanya kebijakan DAK KB tersebut, ketidaktersediaan sarana dan prasarana layanan KB didaerah dapat diatasi. Sarana dan prasarana tersebut antara lain adalah Muyan, Mupen, sepeda motor, dan sarana KIE lainnya, seperti alat peraga penyuluhan, BKB Kit, KIE Kit.

2.3. Program KB Nasional

Program KB Nasional adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera menuju keluarga berkualitas (Kepmen No.120/M.PAN/9/2004).

(61)

Arah program KB dalam jangka panjang adalah terwujudnya penduduk tumbuh seimbang (PTS) dan meningkatnya kualitas penduduk pada seluruh dimensi penduduk. Untuk mewujudkan PTS dan meningkatkan kualitas penduduk, diupayakan pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk melalui peningkatan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk keluarga berencana yang bermutu, efektif, merata dam terjangkau, pemberdayaan keluarga dan masyarakat serta peningkatan ketahanan keluarga menuju terbentuknya keluarga kecil yang berkualitas.

2.4. Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

Petugas Lapangan Keluarga Berencana ( PLKB) atau disebut juga dengan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) adalah pegawai negeri sipil yang diberikan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwewenang untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan, pelayanan, evaluasi, dan pengembangan keluarga berencana nasional (Kepmen No.120/M.PAN/9/2004). Sebagai petugas lapangan KB Nasional, PLKB meyelenggarakan fungsi sebagai :

1. Penyuluhan KB, yaitu kegiatan penyampaian informasi dalam rangka meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku keluarga dan masyarakat untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

(62)

Sasaran utama program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yakni suami istri di mana istri berusia 15-49 tahun karena mempunyai kemungkinan untuk hamil dan memiliki anak. Dengan demikian, PLKB harus mampu memberikan informasi kepada mereka agar menjadi tahu, mau dan mampu merencanakan dan membentuk keluarga kecil sejahtera.

2.4.1. Peran, fungsi, dan tugas PLKB

Petugas Lapangan KB (PLKB) berperan sebagai :

1. Pengelola pelaksanaan kegiatan Program KB Nasional di desa/kelurahan 2. Penggerak partisipasi masyarakat dalam program KB Nasional di

desa/kelurahan

3. Pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam pelaksanaan program KB Nasional di desa/kelurahan,

4. Menggalang dan mengembangkan kemitraan dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan program KB Nasional di desa/kelurahan

PLKB mempunyai fungsi merencanakan, mengorganisasikan, mengembangkan, melaporkan dan mengevaluasi program KB Nasional dan program pembangunan lainnya di tingkat kecamatan/Kelurahan.

Tugas PLKB:

1. Perencanaan

(63)

penyusunan rencana kerja dan memfasilitasi penyusunan jadwal kegiatan tingkat RT, RW dan Desa/Kelurahan

2. Pengorganisasian

Tugas PLKB dibidang pengorganisasian meliputi memperluas pengetahuan dan wawasan program, rekruitmen kader, mengembangkan kemampuan dan memerankan kader dan mitra kerja lainnya dalam program KB Nasional. Bila di wilayah kerjanya tidak ada kader, PLKB diharapkan dapat membentuk kader, memberikan pelatihan/orientasi untuk meningkatkan pengetahuna dan ketrampilan kader, memfasilitasi dan memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kader untuk berperan sampai dengan pengembangan kemitraan dan jaringan kerja dengan berbagai instansi yang ada.

3. Pelaksana dan Pengelola Program

Tugas PLKB/PKB sebagai pelaksana dan pengelola melakukan berbagai kegiatan mulai penyiapan IMP dan mitra kerja lainnya dalam melaksanakan program, memfasilitasi peran IMP dan mitra lainnya penyiapan dukungan untuk terselenggaranya program KB Nasional di kecamatan/kelurahan serta Advokasi, KIE/Konseling maupun pemberian pelayanan program KB (KB-KR) dan program KS-PK.

4. Pengembangan

(64)

5. Evaluasi dan Pelaporan

Tugas PLKB/PKB dalam evaluasi dan pelaporan progam KB Nasional sesuai dengan sistem pelaporan yang telah ditentukan secara berkala.

Dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugas sehari-hari, PKB mengacu kepada 10 langkah PLKB, yaitu:

1. Pendekatan Tokoh Formal 2. Pendataan dan Pemetaan 3. Pendekatan Tokoh Informal 4. Pembentukan Kesepakatan 5. Penegasan Kesepakatan 6. Penerangan dan Motivasi 7. Pembentukan Grup Pelopor 8. Pelayanan KB

9. Pembinaan

10. Pencatatan, Pelaporan dan Evaluasi

Adapun tugas PLKB adalah:

(65)

2. Mengumpulkan dan mengolah data mengenai aspek-aspek demografis, sosial bidaya, geografis, tingkat peran serta masyarakat dan IMP sebagai bahan analisis dan evaluasi tingkat desa.

3. Melakukan kunjungan/pendekatan kepada tokoh formal/informal dalam rangka pendekatan untuk memperoleh kesepakatan operasional dalam program KB Nasional.

4. Melakukan penggerakan kepada masyarakat dan IMP agar lebih aktif berperan dalam program KB Nasional di wilayah kerjanya.

5. Mengumpulkan data dan informasi masalah serta melakukan pembahasan masalah bersama kader atau poktan dan pihak-pihak terkait dalam pertemuan berkala.

6. Melakukan hubungan kerjasama dengan pihak terkait ditingkat desa untuk memperoleh dukungan dalam kegiatan koordinasi pelaksanaan program KB ditingkat desa.

7. Menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas kerjanya.

8. Menyampaikan laporan kepada Camat dan PPLKB/Koordinator/ dengan tembusannya kepala desa mengenai tugas pekerjaan yang telah diselesaikan.

(66)

2.4.2. Penjenjangan Jabatan PLKB

Jenjang jabatan fungsional PLKB terdiri dari PLKB terampil dan PLKB ahli. PLKB terampil adalah PLKB yang mempunyai latar belakang pendidikan minimal SLTA atau D I. pangkat serendah-rendahya adalah pengatur muda (II/a) ditambah dengan kualifikasi pendidikan (bidang studi) disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Jenjang jabatan PLKB terampil dari yang terendah sampai dengan tertinggi adalah (a)PLKB pelaksana Pemula, (b) PLKB Pelaksana, (c) PLKB Pelaksana Lanjutan, (d) PLKB Penyelia.

PLKB ahli adalah PLKB yang berpendidikan minimal sarjana (SI), pangkat/golongan (III/a) dengan kualifikasi pendidikan (bidang studi) sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Jenjang jabatan PLKB ahli dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah (a) PLKB Pertama, (b)PLKB Muda, (c)PLKB Madya. 2.4.3. Hubungan Langkah Kerja PLKB Dengan Puskesmas

Keberhasilan program KB salah satunya sangat tergantung oleh berjalannya kegiatan langkah kerja PLKB dan hubungan kerja ditingkat lini lapangan dengan puskesmas. Langkah kerja PLKB sangat erat korelasinya dengan puskesmas dalam menunjang dan meningkatkan program KB nasional. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.

(67)

Koordinasi tersebut mencakup perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta penilaian. Dalam hal pelaksanaan fungsi penggalian sumber daya masyarakat oleh puskesmas, koordinasi dengan kantor kecamatan mencakup pula kegiatan fasilitasi.

Tanggungjawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk mendapat hasil yang optimal, penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada di tingkat kecamatan. Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas, yakni terwujudnya Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat, puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.

Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah :

(68)

c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana d. Upaya Perbaikan Gizi

e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular f. Upaya Pengobatan

Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus menerapkan azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. azas penyelenggaran puskesmas terdiri dari :

1. Azas pertanggungjawaban wilayah

2. Azas pemberdayaan masyarakat 3. Azas keterpaduan

(69)

telah didata dan dibina oleh PLKB. ini menunjukkan kerjasama lintas sektoral puskesmas dengan PLKB untuk memberikan pelayanan KB. Di Puskesmas pengusulan permintaan alokon gratis dilaksanakan setiap 3 bulan sekali dan apabila persediaan alokon habis maka dapat diajukan permintaan sewaktu – waktu. Sedangkan laporan dilakukan tiap bulan ke kecamatan dan kemudian diteruskan ke tingkat dua. Namun, di lapangan dinas kesehatan tidak tahu persis pencatatan distribusi alokon di puskesmas karena tidak pernah mendapat tembusan administrasi pendistribusiannya.

Biaya pendistribusian alokon dari SKPD KB ke puskesmas/klinik juga belum mendapat dukungan maksimal dari pemda sehingga terkadang beban biaya ini dibebankan kepada peserta KB sebagai bagian dari biaya administrasi. Kota Medan telah mendapat bantuan biaya pendistribusian alokon dari APBD.

Koordinasi kerja lainnya yang dilakukan oleh puskesmas antara lain adalah safari KB dengan Muyan. Dilaksanakan melalui kerja sama antara BKKBN Provinsi Sumut dengan BPPKB Kota Medan. Dalam rangka pengumpulan akseptor, puskesmas bekerjasama dengan PLKB atau petugas KB serta dinas sosial.

2.5. Kinerja Petugas Lapangan KB (PLKB)

(70)

Menurut Badan Kepegawaian Negara (2005), kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilihat dari aspek kuantitas kerja, kualitas kerja, ketepatan waktu, penggunaan tenaga sesuai dengan kemampuan, kemandirian, dan komitmen kerja. Dalam konteks penilaian kinerja PLKB dikukur melalui indikator sepuluh langkah kerja PLKB yaitu, pendekatan tokoh formal, pendekatan tokoh informal, pendataan dan pemetaan, pembentukan kesepakatan, pemantapan kesepakatan, Komunikasi, edukasi dan informasi (KIE) pada masyarakat, pembentukan grup pelopor, pelayanan KB, pembinaan peserta, evaluasi, pencatatatan, dan pelaporan.

Berdasarkan penelitian oleh Joniwar dan Meyzi Heriyanto (2008) ditemukan beberapa gejala mengenai pelaksanaan kinerja PLKB, yaitu : (1) Dalam pelaksanaan kinerja PLKB belum sesuai dengan tugas yang diberikan, karena tidak semua PLKB terampil dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sehingga berdampak terhadap hasil kinerja PLKB. (2) Capaian program tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan, karena tidak semua Petugas Lapangan KB mempunyai kemampuan yang memadai (3) Petugas Lapangan KB masih terlihat setengah hati dalam menjalankan tugasnya, karena masih dipengaruhi oleh sifat-sifat individu yang diminta dahulu baru dikerjakan.

(71)

2.6. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

2.7. Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh faktor individu (umur, pendiidkan, status perkawinan, kemampuan, dan keterampilan), psikologis (sikap dan motivasi), organisasi (sumber daya, imbalan, dan desain pekerjaan) terhadap

Variabel Individu • Umur • pendidikan

• Status perkawinan • keterampilan

Variabel Psikologis • Sikap

• motivasi

Variabel Organisasi • Sumber daya • Imbalan

• Desain pekerjaan

Kikinerja Petugas Lapangan KB

Gambar

Tabel 1.1 Cakupan Peserta KB Baru, Peserta KB Aktif, dan Drop Out  (DO) Kota Medan Tahun 2009-2013 Peserta KB Baru  Peserta KB aktif  (DO)
Tabel 1.2 Persentase peserta KB aktif (PA) berdasarkan pemakaian alat kontrasepsi
Gambar 2.1 variabel yang memengaruhi perilaku
Table 3.1 Distribusi sampel berdasarkan metode simple random sampling di Kota   Medan tahun 2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis uji statistik dengan menggunakan uji regresi linier berganda dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel faktor pembinaan puskesmas (pembinaan lingkungan

Hasil analisis uji statistik dengan menggunakan uji regresi logistik ganda dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor predisposisi (pengetahuan), pendukung (jarak

Jenis penelitian ini adalah survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh faktor predisposisi (pendidikan, pengetahuan, sikap, dan

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan Regresi Linier Ganda tahap I diperoleh hasil bahwa dari kelima variabel mutu pelayanan kesehatan yang di teliti hanya dua

Uji multivariate digunakan untuk menganalisis secara bersama-sama seluruh faktor dengan menggunakan uji analisis regresi logistik berganda untuk mengetahui faktor-faktor

Hasil analisis menggunakan uji regresi logistik diketahui bahwa variabel sikap (p- value = 0.044), motivasi (0.036), sumber daya (0.020), dan imbalan (0.021)

Hasil dari analisis statistik dengan menggunakan uji regresi logistik dalam penelitian ini terhadap sampel penelitian yang berjumlah 100 responden menunjukkan bahwa

Berdasarkan uraian pada latar belakang yang dipaparkan diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Determinan pemanfaatan pelayanan jaminan