• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efisiensi Pemasaran Udang Windu (Penaeus monodon) di Desa Panimbang, Serang, Banten.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Efisiensi Pemasaran Udang Windu (Penaeus monodon) di Desa Panimbang, Serang, Banten."

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN

UDANG WINDU (Penaeus monodon)

(Studi Kasus : di Desa Panimbang, Serang, Banten)

SKRIPSI

AHMAD BANGUN H34076012

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN

(2)

RINGKASAN

AHMAD BANGUN. Analisis Efisiensi Pemasaran Udang Windu (Penaeus monodon) di Desa Panimbang, Serang, Banten. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan POPONG NURHAYATI).

Indonesia merupakan negara agraris, dengan dukungan kondisi alamnya menempatkan sektor perikanan sebagai salah satu sektor yang menunjang perekonomian nasional disamping sektor pertanian lainnya. Sampai saat ini udang windu masih menjadi komoditas perikanan yang memiliki peluang usaha cukup baik karena digemari konsumen lokal (domestik) dan luar negeri. Hasil perikanan yang melimpah akan mengalami kerugian apabila tanpa ada proses pemasaran yang cepat dan tepat. Arus pemasaran udang windu dari produsen ke konsumen melalui berbagai lembaga pemasaran sangat beragam. Banyak dan sedikitnya lembaga pemasran yang dilalui akan sangat berpengaruh terhadap share harga yang diterima produsen maupun yang harus dibayar konsumen. Di bidang pemasaran, khususnya udang windu merupakan salah satu komoditas perikanan yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Pada tahun 2003, volume ekspor udang tercatat 92,1 ton dengan nilai US$ 11,28 per kg. Pada masa yang datang, jika kualitas udang nasional terus ditingkatkan dan memenuhi standar mutu produk yang dibutuhkan oleh negara-negara konsumen maka akan dapat meningkatkan permintaan akan udang windu diperkirakan akan meningkat.

Penelitian dilaksanakan di Desa Panimbang, Serang, Banten pada aktivitas kelompok petambak udang windu. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (Purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa Panimbang, Serang, Banten merupakan salah satu daerah produksi udang windu yang berkembang. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2009. Responden penelitian adalah petambak udang windu yang ada di Desa Panimbang, Serang, Banten sebanyak 20 orang, pedagang pengumpul lima orang dan pedagang pengecer tujuh orang. Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan data kuantitatif dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah menganalisis saluran pemasaran udang windu di Desa Panimbang, Serang, Banten, menganalisis lembaga pemasaran dalam menjalankan fungsi-fungsi pemasaran tersebut dan menganalisis struktur dan perilaku pasar pemasaran udang windu di Desa Panimbang, Serang, Banten serta menganalisis saluran pemasaran udang windu yang efisien bagi petambak di Desa Panimbang, Serang, Banten

(3)

dihancurkan sebanya enam balok es berkisar Rp 160.000 sebanyak lima balok es per 800 kilogram udang windu, sementara ditingkat pedagang pengecer membutuhkan empat tenaga kerja masing-masing Rp 25.000 sehingga total biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer berkisar Rp 100.000 per 800 kilogram. Kemudian transportasi atau kendaraan bermotor dengan kebutuhan biaya bahan bakar dalam satu kali pemasaran Rp 30.000 per 800 kilogram udang windu. Kebutuhan es balok oleh pedang pengecer sebanyak empat balok Rp 60.000 per 800 kilogram, sewa lapk untuk usaha perhari dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 per 800 kilgram dengan biaya retribusi sebesar Rp 1.000. Pada pola saluran dua, margin terbesar diperoleh pedagang pengecer sebesar Rp 15.000 atau 17,64 persen dari harga jual akhir dengan biaya yang jauh lebih besar Rp 2.260 dari biaya yang harus dikeluarkan pedagang pengumpul sebesar 525.

(4)

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN

UDANG WINDU (Penaeus monodon )

(Studi Kasus : di Desa Panimbang Serang, Banten)

AHMAD BANGUN H34076012

Skrisi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN

(5)

Judu l Skripsi : Analisis Efisiensi Pemasaran Udang Windu (Penaeus monodon)

(Studi Kasus : di Desa Panimbang Serang, Banten)

Nama : Ahmad Bangun

NRP : H34076012

Disetujui, Pembimbing

Ir. Popong Nurhayati, MM NIP 19670211 199203 2002

Diketahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP 19580908 198403 1002

(6)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Efisiensi

Pemasaran Udang Windu (Penaeus monodon) Kasus di Desa Panimbang, Serang, Banten “ adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada

perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya

yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam

teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2010

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sumatra Utara pada tanggal 4 Februari 1986, yang

merupakan anak ketiga dari pasangan Bapak Kerani Bangun dan Ibu Nurcahaya

Sitepu. Penulis menyelesaikan Pendidikan Dasar di SD Negeri No 112320

Sumatera Utara dan lulus pada Tahun 1998. Pendidikan Madrasyah Sanawiah

Pesantren Darul Arafah Deli Serdang dapat penulis selesaikan dengan baik pada

tahun 2001. Setelah itu penulis langsung melanjutkan pendidikan Madrsyah

Aliyah di Pesantren Darul Arafah Deli Serdang dan lulus pada Tahun 2004.

Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program

Diploma III Manajemen Bisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Institut Pertanian Bogor. Penulis aktif dalam berbagai kegiatan organisasi

kamahasiswaan baik di program Studi Diploma III, Manajemen Bisnis Perikanan

dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dan

lulus pada Tahun 2007. Penulis melanjutkan studi di Program Sarjana Agribisnis

Penyelenggaraan Khusus, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT atas segala berkat

dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul,

Analisis Efisiensi Pemasaran Udang Windu (Penaeus monodon) di Desa Panimbang, Serang, Banten.

Penelitian ini bertujuan menganalisis saluran pemasaran udang windu serta

menganalisis fungsi-fungsi lembaga pemasaran yang terlibat di dalamnya. Sangat

disadari masih terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang

dihadapi.

Namun demikian, sangat disadari masih terdapat kekurangan karena

keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran

dan kritik yang membangun ke arah penyempurnaan pada sekripsi ini sehingga

dapat bermanfaat bagi semua pihak.

(9)

i

2.7 Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu ... 12

III KERANGKA PEMIKIRAN... 14

3.1.8.3Rasio Keuntungan dan Biaya (R/C)………. 24

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional………. 25

(10)

ii

5.1 Letak Geografis, Topografi, Curah Hujan, dan Jenis Tanah .... 35

5.2 Gambaran Umum Demografis ... 36

5.1.1 Kondisi Perekonomian Daerah ... 36

5.1.2 Fasilitas Umum dan Sosial ... 37

5.1.3 Sarana dan Prasarana Pemukiman ... 39

5.1.4 Kelembagaan Desa dan Kemasyarakatan ... 39

VI HASIL DAN PEMBAHASAN... 40

6.1 Karakteristik Responden Petambak... 40

6.2 Karakteristik Responden Pedagang Pengumpul (Bakul) ... 42

6.3 Saluran Pemasaran ... 43

6.4 Fungsi Pemasaran ... 45

6.4.1 Fungsi-Fungsi Pemasaran oleh Pedagang Petambak... 46

6.4.2 Fungsi-Fungsi Pemasaran oleh Pedagang Pengumpul... 47

6.4.3 Fungsi-Fungsi Pemasaran oleh Pengecer ... 48

6.5 Analisis Struktur Pasar ... 51

6.5.1 Jumlah Lembaga Pemasaran ... 51

6.5.2 Sifat Produk ... 53

6.6.4 Kerjasama Antar Lembaga Pemasaran ... 58

(11)

iii DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Perkembangan Ekspor Nasional Udang 2003 – 2007... 2

2. Perkembangan Ekspor Nasional Udang 2003 – 2007... 3

3. Perkembangan Konsumsi Nasional Udang 2003 – 2007.. 3

4. Karakteristik Struktur Pasar ... 20

5. Kualitas Penduduk Berdasarkan Kualitas Pendidikan... 38

6. Persentase Usia Petambak Udang Windu di

Desa Panimbang.. ... 40

7. Persentase Tingkat Pendidikan Petambak Udang Windu di Desa Panimbang ... 41

8. Data Responden Mengenai Pengalaman Petambak

Udang Windu di Desa Panimbang……….. 41

9. Persentase Usia Pedagang Pengumpul Udang Windu di

Desa Panimbang………... 42

10. Fungsi- Fungsi Lembaga Pemasaran Udang Windu di Desa Panimbang, Kabupaten Serang. Banten... 50

11. Harga Beli Udang Windu di Masing-Masing Lembag

Pemasaran di Desa Panimbang, Serang.Banten... 53

12. Komponen Biaya Pemasaran dari Pola Saluran Pemasaran Udang Windu di Desa Panimbang, Serang. Banten ... 60

13. Biaya, Margin dan Keuntungan pemasaran dari

masing-masing pola saluran... 62

14. Persentase Farmer’s Share Pada Setiap

Saluran Pemasaran………. 64

15. Rasio Keuntungan terhadap Biaya Pada Setiap Saluran

Pemasaran Udang Windu di desa Panimbang, Serang... 64

(12)

iv DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Jalur distribusi Pemasaran Komoditi Pertanian... 19

2. Hubungan antara Marjin Pemasaran dan Nilai Marjin

Pemasaran Menurut Dahl dan Hammond, (1977) ... 23

3. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ... 26

(13)

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara agraris, dengan dukungan kondisi alamnya,

menempatkan sektor perikanan sebagai salah satu sektor perekonomian nasional

disamping sektor lainnya. Sampai saat ini udang windu masih menjadi komoditas

perikanan yang memiliki peluang usaha cukup baik karena digemari konsumen

lokal (domestik) dan luar negeri. Hal ini disebabkan oleh rasa udang windu yang

enak dan gurih serta kandungan gizinya yang tinggi. Daging udang windu

diperkirakan mengandung 17-20 persen protein. Protein dalam daging udang

(termasuk udang windu) mengandung asam amino esensial yang lengkap, dan

kandungan lemaknya hanya sedikit. Di pasaran, udang windu yang dipilih sebagai

udang konsumsi, dimana udang yang dipasarkan terdiri dari udang yang masih

segar, udang beku, udang kupas beku (tanpa kepala), dan udang olahan. Udang

olahan tersedia dalam bentuk kalengan atau bentuk olahan lainnya. Udang segar

lebih banyak dipasarkan di dalam negeri (domestik), sementara udang beku

umumnya dipasarkan ke luar negeri (ekspor).

Hasil perikanan yang melimpah akan mengalami kerugian apabila tanpa

ada proses pemasaran yang cepat dan tepat. Arus pemasaran udang windu dari

produsen ke konsumen melalui berbagai lembaga pemasaran sangat beragam.

Banyak dan sedikitnya lembaga-lembaga pemasaran yang dilalui akan sangat

berpengaruh terhadap share harga yang diterima produsen maupun yang harus

dibayar konsumen. Penangkapan sumberdaya kelautan yang masih dilakukan

secara langsung dari alam membuat kelangkaan pada komoditas udang di musim

tertentu. Oleh karena itu, sangat diperlukan beberapa unit pelaksanaan teknis

Daerah sekaligus penyuluhan yang berkaitan dengan peningkatan prosuktivitas

sumberdaya perikanan dan kelautan khususnya, di Daerah Panimbang, Serang,

Banten. Budidaya perikanan merupakan potensi yang cukup potensial untuk di

ekspor. Hingga saat ini udang merupakan komoditi budidaya yang mempunyai

prospek cukup baik, baik untuk konsumsi dalam negri maupun konsumsi luar

(14)

2 Tabel 1.

Tahun

Perkembangan Produksi Nasional Udang Tahun 2003-2007

Volume (Ton) Pertumbuhan %

2003 368.190 -

2004 375.776 2,87

2005 416.000 9,669

2006 360.000 -15,555

2007 365.750 15,972

Jumlah 1.885.716 -

Sumber : BPS Serang, Banten (2007)

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa produksi udang Nasional

mengalami peningkatan setiap tahunnya, kondisi ini menunjukkan usaha tambak

udang memberikan nilai ekonomi yang layak dan menguntungkan dan menjadi

salah satu produk.

Di bidang pemasaran, khususnya udang windu merupakan salah satu

komoditas perikanan yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap

perekonomian nasional. Pada tahun 2003, volume ekspor udang tercatat 92,1 ton

dengan nilai US$ 11,28 per kg. Meski demikian pada tahun selanjutnya,

khususnya sejak tahun 2004, sebagai akibat menurunnya harga udang di pasaran

internasional menjadi US$ 6,08 per kg, nilai ekspor udang pada tahun 2007

mengalami penurunan menjadi US$ 127,3. Pada masa yang datang, jika kualitas

udang nasional terus ditingkatkan dan memenuhi standar mutu produk yang

dibutuhkan oleh negara-negara konsumen khususnya Jepang dan AS. Prospek

pemasaran udang nasional diperkirakan akan meningkat. Kedua negara itu, sangat

ketat terhadap produk makanan yang masuk ke negaranya. Untuk itu standar

manajemen mutu di Indonesia harus mampu dipenuhi oleh pengusaha tambak

udang nasional, sehingga mampu memiliki nilai kompetitif dengan produk udang

(15)

3 Tabel 2.Perkembangan Ekspor Nasional Udang Tahun 2003 – 2007

Tahun Volume (Ribu Ton) Nilai (US$)

2003 92,1 1.007 971,5

2004 140,5 1.007 231,8

2005 106,3 887 262,4

2006 114,0 887.625,4

2007 127,3 1.003 259,7

Sumber : BPS Serang, Banten (2007)

Sementara jika dilihat dari perkembangan konsumsi udang nasional yang

dilakukan dengan metoda produksi nasional ditambah impor dikurangi ekspor,

maka dapat dilihat pada tahun 2003, tingkat konsumsi nasional udang tercatat

276.607 ton, yang kemudian menurun menjadi 243.556 ton pada tahun 2004.

Tingkat konsumsi tersebut, menunjukkan bahwa selain sebagai komoditas pasar

internasional, udang windu memiliki peluang yang sangat baik untuk memenuhi

permintaan pasar domestik. Apalagi, seiring dengan perkembangan perekonomian

Indonesia yang diperkirakan membaik pada tahun-tahun yang akan datang,

sehingga memberikan peluang yang cukup besar bagi petambak udang karena

dengan terjadinya perbaikan perekonomian akan meningkatkan daya beli

masyarakat terhadap udang dan konsumsi udang pada masyarakat Indonesia akan

meningkat. Perkembangan konsumsi lokal dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Perkembangan Konsumsi Nasional Udang Tahun 2003 – 2007

Tahun Produksi

2003 368.190 93.043 1.460 276.607

2004 375.776 140.158 7.938 243.556

2005 416.000 106.300 14.956 324.656

2006 360.000 114.000 13.450 259.450

2007 365.750 121.250 8.083 252.583

Jumlah 1.885.716 574.751 45.887 1.356.852

Sumber : BPS Serang, Banten (2007)

Semakin banyak permintaan konsumsi terhadap udang windu di pasar,

(16)

4 berproduksi. Dalam menghadapi hal ini diperlukan setrategi pemasaran yang tepat

agar dapat bersaing dengan petambak lainnya dan dapat memperluas pasar. Salah

satu cara untuk dapat memperluas pasar yaitu dengan mengefektifkan pemasaran

yang efesiensi dan memperlancar arus barang dari produsen ke konsumen, melalui

efesiensi pemasaran ini, harga udang windu akan meningkat dan akhirnya akan

meningkatkan keuntungan petambak udang windu yang terlibat.

1.2. Perumusan Masalah

Kabupaten Serang berjumlah 347.042 jiwa dan dapat digolongkan dalam

kelas Kota sedang, dimana berdasar kriteria BPS mengenai kelas Kota, Kota

Sedang adalah Kota dengan jumlah penduduk antara 100.000 sampai 500.000

jiwa. Luas wilayah Kabupaten Serang 2.492 Ha dan Desa Panimbang merupakan

salah satu Desa yang terdapat di Kabupaten Serang, Banten.

Desa Panimbang merupakan salah satu desa yang memiliki lahan subur di

di Kabupaten Serang, Sehingga sebagian lahannya digunakan untuk pertanian.

Disamping itu, Desa Panimbang memiliki pantai yang terbentang sepanjang 84,23

kilometer. Dalam hal ini yang menjadi pembahasan adalah salah satu sektor

migas, yaitu sektor perikanan, Khususnya pada perikanan tambak. Kondisi ini

dapat dilihat dari potensi tambak yang telah dimanfaatkan secara sempurna di

Propinsi Banten. Sehingga tidak heran sebagian besar horeka (Hotel, Restoran,

Kafe) di Banten memberikan harga yang cukup tinggi bagi hasil perikanan

tangkap dan perikanan budidaya yang dilakukan masyarakat serta dijual pada

pedagang pengumpul di masing-masing wilayah. Besarnya potensi ini tida dapat

dimanfaatkan bagi sebagian besar masyarakat Serang, Khususnya yang ada di

Desa Panimbang. Hal ini terkait dengan masih maraknya penggunaan induk dari

alam yang sebagian besar tidak seragam sehingga berdampak pada penurunan

produktivitas udang windu yang dihasilkan.

Udang windu merupakan jenis udang yang potensial dan merupakan

komoditas unggulan di sektor perikanan, sebagian besar petambak di Desa

Panimbang masih menggunakan tambak tradisional yang dibangun pada lahan

pasang surut dekat rawa hutan bakau, sehingga sangat rentan dengan penyebaran

virus yang tidak jarang menyebabkan kematian pada udang windu, sementara

(17)

5 penerimaan petambak. Sebagai contoh, untuk harga jual udang windu di Desa

Panimbang, Serang, Banten dengan size 30 (30 ekor per kilogram) ditingkat

petambak sebagai produsen Rp 70.000 sedangkan ditingkat pedagang pengecer

sebesar Rp 85.000, sehingga

Harga udang windu dapat bersifat fluktuatif, karena komoditas ini termasuk

komoditas ekspor sehingga cukup tergantung pada nilai dolar terhadap rupiah.

Selain itu, fluktuasi pada permintaan dapat juga terjadi karena panjangnya rantai

pemasaran yang harus dilalui, kurangnya informasi pasar, yang dibutuhkan pelaku

pasar yang terlibat dalam aktifitas pemasaran. Begitu pula ketidak tepatan dalam

menentukan peluang pasar dan segmentasi pasar terhadap komoditas udang windu

yang bersifat segmented. Kondisi ini tentu saja akan menyebabkan timbulnya

marjin di tingkat petambak dan konsumen akhir,

posisi petambak udang windu sebagai produsen yang

paling tidak diuntungkan, disebabkan adanya perbedaan harga yang diterima

antara petambak dan pedagang pengecer yang jauh berbeda. Dalam hal ini

petambak udang windu tidak dapat berbuat banyak, karena petambak hanya

sebagai penerima harga (price taker), sehingga peranan pedang pengecer lebih

menonjol dan keuntungan yang diperoleh pedagang pengecer lebih besar dari

keuntungan yang diterima petambak dan permasalahan ini menyebabkan kerugian

bagi petambak.

Oleh karena itu, diperlukan analisis untuk mengetahui seberapa besar marjin

yang terjadi akibat proses pemasaran terhadap komoditas udang windu dan

seberapa efesien saluran pemasaran udang windu yang ada di Desa Panimbang,

Serang, Banten. Selain itu, di perjelas dengan alat analisis pemasaran melalui

pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatif berdasarkan studi kasus di Desa

Panimbang, Serang, Banten. Dari pendekatan ini dapat diketahui fungsi-fungsi

yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran yang ada di Desa Panimbang,

Serang, Banten.

1. Bagaimana pemasaran Udang Windu dari petani produsen sampai konsumen

akhir di Desa Panimbang Serang, Banten?

Berdasarkan uraian, maka dapat dirumuskan beberapa

permasalahan sebagai berikut:

2. Bagaimana lembaga-lembaga pemasaran dalam menjalankan fungsi-fungsi

(18)

6 3. Bagaimana struktur pasar dan Perilaku Pasar yang terjadi ?

4. Bagaimana Keragaan Pasar pada setiap saluran pemasaran?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah :

1. Menganalisis saluran pemasaran Udang Windu di Desa Panimbang

2. Menganalisis lembaga pemasaran dalam menjalankan fungsi-fungsi

pemasaran tersebut

3. Menganalisis struktur dan perilaku pasar pemasaran Udang Windu di Desa

Panimbang

4. Menganalisis efisiensi pemasaran Udang Windu di Desa Panimbang

1.4. Ruang lingkup dan Manfaat Penelitian

Ruang lingkup penelitian meliputi kegiatan sistem pemasaran Udang Windu

yang ditinjau dari saluran pemasaran, lembaga dan fungsi pemasarann, analisis

struktur dan perilaku pasar, analisis keragaan pasar yang meliputi marjin, farmer’s

share dan rasio keuntungan dan biaya pemasaran. Pengamatan juga dilakukan

terhadap kegiatan budidaya udang windu seperti budidaya pembesaran yang siap

dipanen untuk dipasarkan serta menganalisis usaha pemasaran udang windu.

Pada analisis saluran pemasaran udang windu difokuskan pada sistem

pemasaran udang windu di Desa Panimbang Serang, Banten. Hal ini dilakukan

karena keterbatasan waktu dan materi yang dimiliki oleh peneliti. Untuk analisis

sistem pemasaran dilakukan dengan cara mengambil sampel rata-rata dari

petambak dengan penggunaan beberapa kreteria yang mendasar. Hasil penelitian

ini diharapkan dapat sebagai masukan dan sebagai bahan pertimbangan bagi

kelompok tani di Desa Panimbang, Serang, Banten dalam memilih rantai

pemasaran udang windu. Hasil penelitian ini juga diharapkan akan memberikan

tambahan informasi bagi pihak-pihak yang memerlukan dan dapat menjadi

(19)

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Komoditas Udang Windu

Udang windu merupakan komoditas perikanan dari Penaeus monodon dan

salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya yang potensial untuk

dikembangkan. Klasifikasi udang menurut Mujiman (1989) adalah sebagai

berikut:

Phylum : Arthopoda

Sub Phylum : Mandibulata

Class : Crustacea

Ordo : Decapoda

Sub Ordo : Nantantia

Famili : Penaeidea

Genus : Penaeus

Budidaya udang adalah kegiatan usaha pemeliharaan/pembesaran udang

mulai ukuran benih sampai ukuran layak untuk dikonsumsi (Mujiman 1989).

2.2. Morfologi Udang Windu

Bebarapa udang tambak yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah

udang windu yang lebih dikenal sebagai Penaeus monodon, sedangkan beberapa

jenis udang laut yang juga memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan

komoditi ekspor antara lain adalah Penaeus setiperus (udang putih), Penaeus

Aztecus (udang coklat), dan Penaeus duorarum (udang kesumba).

Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan

bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax

yang terdiri dari 13 ruas, yaitu lima ruas di bagian kepala dan delapan ruas di

bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari enam ruas, tiap-tiap ruas

(segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas

pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas empat lembar dan satu telson

yang berbentuk runcing.

Sementara bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala bagian depan

meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau

(20)

8 dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (Pleopoda) yang

melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas

keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (Uropoda).

Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang

disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (Intestine) yang

bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.

2.3 Sifat dan Karakteristik Udang Windu

Terdapat beberapa sifat dan karakteristik udang windu yang perlu untuk

diketahui. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam pembudidayaan dan

dalam jangka panjang akan membahayakan keselamatan udang secara missal.

Diantara sifat dan karaktristik udang antara lain :

1. Sifat Nokturnal, yaitu sifat inatang yang aktif mencari makanan pada saat

malam hari. sedangkan pada siang hari lebih digunakan untuk beristirahat

dengan cara membenamkan diri ke dalam lumpur atau menempel pada

suatu benda. Dan dalam kondisi normal udang pada siang hari jarang

menampakkan diri.

2. Sifat kanibalisme, yaitu sifat saling memakan ketika terjadi kontak antara

sesame udang. Kondisi ini biasanya terjadi pada udang sehat denagn

mangsa udang lain yang seang ganti kulit.

3. Ganti kulit, yaitu kondisi ini terjadi pada setiap udang ketika ingin tumbuh

menjadi ukuran yang lebih besar, sehingga harus membuang kulit lama

yang cukup keras. udang muda biasanya lebih sering melakukan

pergantian kulit dibandingkan dengan udang dewasa.

2.4. Siklus Hidup Udang windu

Udang windu merupakan spesies Penaeus monodon, dimana udang windu

dewasa memijah di laut lepas, sedangkan udang windu muda bermigrasi ke daerah

pantai. Setelah telur-telur menetas, larva hidup di laut lepas menjadi bagian dari

zooplankton. Saat stadium post larva mereka bergerak ke daerah dekat pantai dan

perlahan-lahan turun ke dasar di daerah estuari dangkal. Perairan dangkal ini

memiliki kandungan nutrisi, salinitas dan suhu yang sangat bervariasi

(21)

9 udang dewasa kembali ke lingkungan laut dalam dimana kematangan sel kelamin,

perkawinan dan pemijahan terjadi.

2.5. Panen dan Pasca Panen

Panen akan dilakukan pada saat usia pemeliharaan 3-4 bulan, yang

harus diperhatikan adlah mutu dan kualitas udang windu yang akan berpindah ke

tangan konsumen. Hal ini dilakukan agar pembelian dapat berlangsung secara

kontiniu. kualitas udang dapat dilihat dari ukuran udang, semakin besar udang

maka semakin menjanjikan. Berkulit keras, bersih, licin, dan tidak terdapat cacat

pada tubuh udang, udang dalam kondisi segar, atau masih hidup maka harga yang

ditetapkan juga akan semakin tinggi. selain dari beberapa persyaratan ini, maka

udang akan ditolok khususnya oleh cold storage sebagai penampung komoditas

hasil perikanan. Waktu panen udang, pada umumnya dilakukan pada malam hari.

Hal ini terkait dengan sifat udang yang mencari makan pada malam hari dan

bergerak dipermukaan sekitar tambak, sehingga alat yang digunakan dalam panen

tidak begitu sulit mencari keberadaan udang

2.6. Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian tentang saluran dan sistem pemasaran yang pernah

dilakukan sebelumnya :

Simamora (2007), Mengenai Analisis Sistem Tataniaga Pisang di Desa

Suka Baru Buring, Kecamatan Panengahan, Kabupaten Lampung Selatan,

Propinsi Lampung. Berdasarkan hasil penelitian terdapat empat jalur tataniaga

yaitu : 1) Petani-PPD-Grosir I-Pengecer-Konsumen, 2) Petani-PPD-Grosir

II-Pedagang Pengecer-Konsumen, 3) Petani-PPD-Grosir 1-Grosir II-II-Pedagang

Pengecer-Konsumen, 4) Petani-Konsumen lokal. Dalam penelitian ini dapat

dihasilkan bahwa saluran satu merupakan saluran yang lebih efisien, dilihat dari

jumlah marjin, biaya, dan keuntungan maka karena keuntungan lebih besar,

marjin lebih kecil dan juga biaya lebih kecil. Rasio keuntungan terhadap biaya

saluran satu mempunyai nilai yang paling besar yaitu Rp 3,39 dan berada pada

tingkat pengecer 3,39 yang artinya setiap Rp 1,00 per kilogram biaya pemasaran

yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 3,39 per kilogram.

(22)

10 kepada pedagang pengumpu dengan cara memberitahukan terlebih dahulu pada

pedagang pengumpul waktu panen. Setelah itu pedagang pengumpul

mentranformasikan kembali produk kepada pedagang pengecer dan seterusnya.

Sehinga dalam penelitian ini dapat dihasilkan bahwa saluran pemasaran satu

merupakan saluran yang lebih efisien, dilihat dari jumlah marjin, biaya, dan

keuntungan, karena keuntungan lebih besar, marjin lebih kecil dan juga biaya

lebih kecil.

Melani (2002), Studi mengenai saluran pemasaran Ikan Koi di Kecamatan

Cisaat, Sukabumi menunjukkan bahwa saluran pemasaran Ikan Koi melibatkan

tengkulak kampung, tengkulak pasar, dan pedagang eceran. Rantai pemasaran

yang panjang diakibatkan oleh daerah pemasaran yang jauh, semakin jauh daerah

pemasaran akan melibatkan banyaknya lembaga pemasaran yang terkait.

Bertambahnya jarak daerah pemasaran dan lembaga pemasaran yang terlibat,

maka biaya pemasaran tinggi. Hal ini akan mendorong pedagang untuk

menetapkan harga jual Ikan Koi yang tinggi, sehingga pedagang mendapatkan

keuntungan yang besar, menunjukkan bahwa perbedaan yang tinggi antara harga

jual petani dengan harga beli konsumen mengakibatkan farmer’s share yang

rendah. Dari saluran pemasaran ikan Koi di Kecamatan Cisaat, Sukabumi

melibatkan beberapa lembaga pemasara diantaranya tengkulak, pedagang

pengumpul dan pedagang pengecer. Jauhnya Daerah pemasaran bagi petani Ikan

Koi, sehingga melibatkan beberapa lembaga pemasaran dan mengeluarkan biaya

pemasaran yang tinggi. Hal ini akan mendorong pedagang untuk menetapkan

harga jual Ikan Koi yang tinggi, sehingga pedagang mendapatkan keuntungan

yang besar, menunjukkan bahwa perbedaan yang tinggi antara harga jual petani

dengan harga beli konsumen mengakibatkan farmer’s share yang rendah.

Haris (2003) Penelitian yang dilakukan di Pasar Porda Juwana, Kecamatan

Juwana, Kabupaten Pati dengan judul Analisis Saluran Pemasaran Ikan Bandeng

menghasilkan beberapa informasi penting diantaranya terkait dengan pola saluran

pemasaran di daerah setempat, yaitu bandar, grosir dalam daerah, dan pengecer

luar daerah. Masing-masing lembaga pemasaran menyalurkan ikan bandeng dari

produsen petani ke konsumen. Saluran yang terbentuk dibedakan menjadi dua

(23)

11 pemasaran luar daerah Kabupaten Pati. Diantara saluran pemasaran dalam daerah,

yaitu :

I. Petani – Bandar – Grosir dalam daerah – Konsumen akhir

II. Petani – Bandar – Pengecer dalam daerah – Konsumen akhir

III. Petani – Bandar – Grosir dalam daerah – Konsumen Lembaga

Dan polasuran pemasaran yang terbentuk di luar daerah Kabupaten Pati, yaitu :

I. Petani – Bandar – Grosir dalam daerah – Konsumen akhir

II. Petani – Bandar – Grosir dalam daerah – Konsumen lembaga

Selain itu analisis fungsi yang dilakukan oleh lembaga yang terlibat dalam proses

pemasaran adalah fungsi pertukaran antara petani, bandar, dan grosir. Biasanya,

para bandar di daerah setempat menawarkan jasa pelelangan kepada petani dalam

mematok komisi 3 – 5 persen dari petani dan grosir. Tidak jarang bandar

melakukan penjualan dengan grosir luar daerah untuk menjual panennya karena

pasokan tidak dapat lagi ditampung oleh grosir dalam daerah. Untuk menghemat

biaya pemasaran, bandar melakukan penjualan kepada grosir luar daerah ketika

tiba saat panen sekitar empat bulan sekali, sehingga ikan bandeng yang dipasok

dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini terkait dengan besarnya biaya transportasi

yang harus dikeluarkan bandar pada saat distribusi berlangsung. Pada saluran

pertama pemasaran dalam daerah, bandar memperoleh marjin pemasaran dari

komisi yang diberikan petani sebesar tiga persen. Hal ini dapat dilihat dari harga

ikan ukuran 5 – 7 ekor per kilogram dengan harga rata – rata Rp 6.200,00 menjadi

6.014,00 dipotong dengan biaya jasa pelelangan yang ditetapkan bandar pada

petani atas jasa pelelangan. Kemudian dijual kembali dengan pedagang grosir

sebesar Rp 7.200,00 sehingga marjin yang diperoleh pedagang grosir sebesar Rp

1.000,00. Begitu juga dengan saluran II dan III pada pemasaran dalam daerah

serta saluran I dan II pada saluran pemasaran luar Kabupaten Pati. Berbicara

marjin pasti terkait dengan keuntungan yang diperoleh masing – masing lembaga

pemasaran. Contoh pasara saluran I pada pemasaran dalam daerah Kabupaten

Pati, yaitu biaya pemasaran yang harus dikeluarkan petani terdiri dari biaya

angkut Rp 20,00 per kilogram atas sewa mobil, biaya retribusi angkutan Rp 1,00

per kilogram, pembayaran komisi 186,00 per kilogram, sehingga total biaya yang

dikeluarkan petani Rp 207, 00 per kilogram, dan keuntungan pun diperoleh dari

(24)

12 bandar Rp 155,54, keuntungan grosir Rp 955,00 dan total keuntungan yang

diperoleh dalam satu saluran penuh sekitar Rp 1.110,54. pada saluran I, distribusi

marjin dan farmer’s share yang diperoleh cukup tinggi sebesar Rp 83,35 persen

karena penjualan yang dilakukan grosir pada konsumen lebih banya dengan

jumlah pembeli sedikit sehingga harga pun lebih tinggi dibandingkan penjualan

yang dilakukan kepada pedagang pengecer. Hal ini menunjukkan adanya

keuntungan bagi petani karena persentase harga jual yang cukup tinggi.

Sitompul (2007) Analisis usahatani dan tataniaga ikan hias mas koki

oranda di desa Parigi Mekar, Kecamatan Ciseeng, kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa saluran tataniaga melibatkan petani,

pedagang pengumpul, supplier, dan konsumen akhir/hobbies. Harga jual anakan

Ikan mas koki oranda ditingkat petani pembenihan ke petani pembesaran berkisar

antara Rp 130 sampai dengan Rp 150/ekor. Harga jual Ikan mas koki oranda

ditingkat petani pembesaran ke pedagang pengumpul berkisar antara Rp 800

sampai dengan Rp 900 per – ekor. Harga yang berlaku ditingkat supplier ke

pedagang pengecer berkisar antara Rp 1400 sampai dengan Rp 1500 per ekor,

sedangkan ditingkat pedagang pngecer ke konsumen akhir berkisar antara Rp

2000 sampai dengan Rp 2500 per ekor. Farmer’s share yang diterima petani pada

pola 1 dan pola 2 yaitu masing-masing sebesar 39,5 persen. Pada pola 3, rata-rata

harga jual petani adalah sebesar Rp. 1.116,7 per ekor, sedangkan rata-rata harga

yang dibayar oleh konsumen akhir adalah sebesar Rp. 1.250 per ekor. Farmer

share yang diterima oleh petani pada pola 3 adalah sebesar 89,3 persen

merupakan saluran tataniaga yang paling menguntungkan bagi petani, karena

saluran tataniaga ikan hias mas koki yang paling pendek dan efisien. Farmer’s

share yang tinggi dapat dicapai jika petani mampu mengefisienkan saluran

(25)

13 2.7. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian tentang efisiensi saluran pemasaran udang windu

yang dikaji adalah saluran pemasaran dan fungsi-fungsi masing-masing lembaga

pemasaran dalam saluran pemasaran udang windu, struktur pasar yang terbentuk

pada setiap tingkat lembaga pemasaran, perilaku para pelaku pasar, dan keragaan

pasar yang diukur melalui margin pemasaran, bagian harga yang diterima petani,

rasio keuntungan dan biaya, serta keterpaduan pasar. Secara umum pemasaran

komoditas agribisnis belum mengarah kepada bentuk pasar yang efisien secara

keseluruhan, mengingat saluran tataniaga yang terbentuk menghasilkan margin

yang kurang merata, penentuan harga umumnya merugikan petani, dimana

penentuan harga dilakukan oleh lembaga pemasaran diatasnya dan petani hanya

bertindak sebagai penerima harga (Price taker).

Berdasrkan hasil penelitian-penelitian di atas, ada kesamaan dalam analisis

saluran pemasaran yaitu persamaan dalam penggunaan alat analisis untuk

menganalisis sistem pemasaran dan efisiensi saluran pemasaran. Perbedaan

penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada studi kasus, tempat serta

lokasi dilakukannya penelitian. Perbedaan lain terletak pada komoditas yang

diteliti adalah komoditas perikan tambak udang windu (Penaeus monodon) yang

merupakan salh satu komoditas unggulan dan tergantung pada fluktuasi mata uang

(26)

14

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Konsep Pemasaran

Limbong dan Sitorus (1985) menyatakan bahwa pemasaran pertanian

adalah mencakup segala kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan

perpindahan hak milik dan fisik barang-barang hasil pertanian dan barang-barang

kebutuhan usaha pertanian dari tangan produsen ke tangan konsumen, termasuk

didalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan bentuk dari

barang yang ditujukkan untuk lebih mempermudah penyalurannya dan memberi

kepuasan yang lebih kepada konsumennya. Azzaino (1983) menyatakan bahwa

pemasaran disebut suatu proses pertukaran yang meliputi kegiatan pemindahan

barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Pemasaran suatu proses sosial

dimana individu-individu atau kelompok-kelompok mendapatkan apa yang

dibutuhkan dan yang diinginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran

produk-produk yang bernilai.

Pemasaran merupakan kegiatan aliran barang dan jasa dari produsen ke

konsumen dengan tujuan untuk memberi kepuasan kepada konsumen. Untuk

menganalisis saluran pemasaran dapat dilkaukan tiga pendekatan, yaitu :

1. Pendekatan Fungsi (Functional approach); merupakan pendekatan yang

mempelajari fungsi-fungsi yang ada dalam lembaga pemasaran yang terlibat

dalam tataniaga suatu komoditi. Pendekatan fungsi terdiri dari fungsi

pertukaran meliputi pembelian dan penjualan, fungsi fisik meliputi

penyimpanan, pengolahan dan pengangkutan, dan fungsi fasilitas yang meliputi

standarisasi dan grading, penanggungan resiko, pembiayaan dan informasi

pasar.

2. Pendekatan kelembagaan (Institutional approach), pendekatan kelembagaan ini

berguna untuk mempelajari atau mengamati peranan masing-masing lembaga

pemasaran dalam kegiatan pemasaran yang terdiri dari produsen, bandar,

pengecer, konsumen, dan lain-lain.

3. Pendekatan perilaku (Behavioral system approach), pendekatan ini merupakan

(27)

15 ada dalam proses pemasaran seperti perubahan dan perilaku lembaga

pemasaran. Pemasaran produk pertanian merupakan pemasaran produk yang

memerlukan penangan yang intesif hingga sampai ketangan konsumen. Hl ini

disebabkan oleh karaktristik produk pertanian yang mudah rusak,

membutuhkan ruang, di produksi dalm jumlah besar, dan lain sebagainya. Oleh

karena itu, dibutuhkan integrasi berbagai pihak agar produk yang dipasarkan

sampai ke tangan konsumen tanpa mengurangi kualitas produk yang

dihasilkan.

3.1.2 Lembaga-lembaga pemasaran

Hanafiah dan Saefuddin (1983), menjelaskan bahwa lembaga pemasaran

adalah badan-badan yang bertanggungjawab menyelenggarakan kegiatan atau

fungsi pemasaran dimana barang harus bergerak dari produsen sampai ke

konsumen. Lembaga pemasaran ini bisa termasuk golongan produsen, pedagang

perantara dan lembaga pemberi jasa. Tugas lembaga pemasaran adalah

menjalankan fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen

semaksimal mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga

pemasaran berupa marjin pemasaran.

Limbong dan Sitorus (1987) dalam pemasaran barang atau jasa terlibat

beberapa lembaga pemasaran mulai dari produsen, lembaga-lembaga perantara

dan konsumen. Karena jarak antara produsen yang menghasilkan barang atau jasa

sering berjauhan dengan konsumen, maka fungsi badan perantara sangat

diharapkan kehadirannya untuk menggerakkan barang-barang dan jasa-jasa

tersebut dari titik produksi ke titik konsumsi. Lembaga pemasaran merupakan

suatu lembaga dalam bentuk perorangan, perserikatan atau perseroan yang akan

melakukan fungsi– fungsi pemasaran yang berusaha untuk memperlancar arus

barang dari produsen sampai tingkat konsumen melalui berbagai

kegiatan/aktifitas. Lembaga–lembaga pemasaran tersebut juga berfungsi sebagai

sumber informasi mengenai suatu barang dan jasa. Dalam sistem tataniaga

terdapat lembaga-lembaga tataniaga yang cukup penting yaitu:

1. Pedagang pengumpul yaitu pedagang yang membeli atau mengumpulkan

(28)

16 partai besar kepada pedagang lain. Dalam hal ini pedagang pengumpul

bisanya ada disetiap desa.

2. Pedagang besar yaitu pedagang yang membeli dari pedagang pengumpul

dalam partai besar dan mendistribusikan kesetiap pedagang pengecer atupun

ke pasar.

3. Pengecer yaitu pedagang yang membeli barang dari pedagang besar dan

mendistribusikannya barang secara langsung ke konsumen akhir.

3.1.3 Fungsi-Fungsi Pemasaran

Pendekatan fungsi menurut Khols dan Uhl (1985) adalah suatu pendekatan

yang mempelajari bagaimana system pemasaran dilakukan. Pendekatan ini untuk

menganalisis dan mempelajari berbagai gejala dalam proses pemasaran untuk

beberapa aspek , sehingga seluruh proses pemasaran dapat memberikan gambaran

yang ringkas dan lengkap. Fungsi tersebut terdisri dari :

1. Fungsi pertukaran adalah kegiatan yang berhubungan dengan perpindaha hak

milik dari barang dan jasa yang dipasarkan. Fugsi pertukaran meliputi (a)

kegiatan pembelian dan (b) kegiatan penjualan. Pembelian merupakan kegiatan

melakukan penetapan jumlah dan kualitas barang, mencari sumber barang,

menetapkan harga, dan syarat-syarat pembelian. Kegiatan penjualan diikut i

mencari pasar, menetapkan jumlah, kualitas serta menentukan saluran tataniaga

yang paling sesuai.

2. Fungsi fisik adalah semua tindakan yang berhubungan langsung dengan barang

dan jasa yang menimbulkan kegunaan tempat, waktu dan bentuk. Fungsi ini

meliputi (a) penyimpanan, untuk menbuat komoditas selalu ada ketika

dibutuhkan konsumen, (b) pengolahan, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk

mendapatkan nilai tambah dari produk tersebut, sehingga kepuasan, kebutuhan

konsumen dapat terpenuhi, (c) pengangkutan, pemindahan, merupakan

kegiatan yang dilakukan untuk memindahkan barang dari suatu tempat

ketempat lain, yang akan memudahkan konsumen mendapatkan barang

tersebut.

3. Fungsi fasilitas adalah semua tindakan yang mendukung dalam kegiatan

pertukaran yang terjadi antara produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas

(29)

17 pembelian barang, mempermudah pelaksanaan jual beli, mengurangi biaya

pemasaran dan memperluas pasar, (b) fungsi penanggungan risiko, merupakan

fungsi menerima kemungkinan kehilangan dalam proses pemasaran yang

disebabkan risiko, (c) fungsi pembayaran, merupakan kegiatan pembayaran

dalam bentuk uang untuk memperlancar proses tataniaga, dan (d) informasi

pasar, merupakan kegiatan dengan mengumpulkan sejumlah data sehingga

proses pemasaran menjadi lebih sempurna.

3.1.4 Saluran Pemasaran

Saluran pemasaran merupakan cara atau sistem untuk menyampakai

produk yang dihasilkan oleh produsen kepada konsumen. Dalam saluran

pemasaran terdapat lembaga-lembaga pemasaran seperti produsen (petani),

pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang antar kota dan lain sebagainya.

Menurut Sudiono (2001), lembaga pemasaran menurut penguasaan

terhadap komoditi yang diperjual belikan dapat dibedakan atas tiga :

1. Lembaga yang tidak memiliki tapi menguasai benda, seperti agen, makelar

(broker, selling broker, buying broker)

2. Lembaga yang memiliki dan menguasai komodi-komodi pertanian yang

diperjualbelikan, seperti pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir dan

importir.

3. Lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai komodi-komodi

pertanian yang diperjualbelikan. Seperti perusahan perusahaan yang

menyediakan fasilitas-fasilitas ternsportasi, asuransi pemasaran dan

perusahaan penentu kualitas produk pertanian (Surveyor).

Sehingga terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam

memilih saluran pemasaran yaitu:

1. Pertimbangan pasar, yang meliputi konsumen sasaran akhir mencakup pembeli

potensial, konsentrasi pasar secara geografis, volume pesanan, dan kebiasaan

pembeli.

2. Pertimbangan barang, yang meliputi nilai barang per unit, besar dan berat

barang, tingkat kerusakan, sifat teknis barang, dan apakah barang tersebut

(30)

18 3. Pertimbangan internal perusahaan, yang meliputi sumber permodalan,

kemampuan dan pengalaman manajemen, pengawasan penyaluran, dan

pelayanan penjualan.

4. Pertimbangan terhadap lembaga perantara, yang meliputi pelayanan lembaga

perantara, kesesuaian lembaga perantara dengan kebijaksanaan produsen, dan

pertimbangan biaya.

Banyaknya lembaga yang terlibat dalam suatu saluran pemasaran

dipengaruhi oleh jarak dari produsen ke konsumen, sifat komoditas, skal produksi,

dan kekuatan modal yang dimiliki (Saefuddin dan Hanafiah 1986 ). Saluran

pemasaran yang dilalui oleh barang dan jasa akan sangat menentukan nilai

keuntungan suatu prodak dan berpengaruh terhadap pembagian penerimaan yang

diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalamnya. Pada

umumnya, semakin pendek saluran pemasaran akan memberikan keuntungan

yang lebih besar dibandingkan saluran pemasaran yang panjang. Lembaga yang

terlibat dalam pemasaran udang windu dari petambak sampai konsumen akhir

diantaranya, pedagang pengumpul, pedagang besar, perusahaan ekspor, konsumen

lembaga. Saluran pemasaran dapat dilihat pada Gambar 1 :

Gambar 1. Saluran Pemasaran Komoditi Pertanian Sumber : (Khols dan Downey, 1985) Pedagang desa di

pasar lokal Agen Perantara

Pedagang pengecer (retailers) Pedagang besar

(Wholesalers)

Agen Processor

(31)

19 3.1.5 Struktur Pasar

Struktur pasar (Market structure) adalah suatu dimensi yang menjelaskan

pengambilan keputusan oleh perusahaan atau industri, jumlah perusahaan dalam

suatu pasar, distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran seperti size atau

concentration, deskripsi dan diferensiasi produk, syarat-syarat entry dan

sebagainya (Limbong, 1997). Pada struktur pasar dijelaskan bagaimana perilaku

penjual dan pembeli yang terlibat (Market conduct) dan selanjutnya akan

menunjukkan keragaan yang terjadi dari struktur dan perilaku pasar (Market

performance) yang ada di dalam sistem tataniaga tersebut.

Analisis struktur pasar mendorong studi tentang faktor teknik, motivasi,

institusi, dan organisasi yang mempengaruhi kebiasaan perusahaan dalam pasar.

Struktur pasar dicirikan oleh : (1) jumlah dan ukuran pasar, (2) diferensiasi

produk, (3) kebebasan keluar masuk pasar, dan (4) pengetahuan partisipan tentang

biaya, harga, dan kondisi pasar (Dahl dan Hammond, 1977). Tabel 4 menyajikan

karakteristik struktur pasar.

Tabel 4. Jenis-jenis Struktur Pasar Berdasarkan Jumlah Perusahaan dan Sifat Produk

Karakteristik Struktur Pasar

Jumlah Perusahaan

Sifat Produk Dari Sudut Penjual Dari Sudut Pembeli

Banyak Homogen Persaingan Murni Persaingan Murni Banyak Diferensiasi Persaingan Persaingan Sedikit Homogen Monopolistik Monopolistik Sedikit Diferensiasi Oligopoli Murni Oligopsoni Murni Satu Unik Oligopoli diferensiasi Oligopsoni

Monopoli Diferensiasi

Monopsoni Sumber : Dahl dan Hammond (1977)

Menurut Saefuddin dan Hanafiah (1986) struktur pasar produk perikanan

yang banyak dijumpai dalam praktek adalah pasar persaingan monolistik dan

(32)

20 persaingan tidak sempurna, baik berupa monopoli, oligopoli, maupun pasar

persaingan monopolistik. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

1. Bagaimana pangsa pasar (Market share) yang dimiliki petani umumnya

sangat kecil, sehingga petani dalam pemasaran produk pertanian bertindak

penerima harga (Price taker).

2. Produk pertanian pada umumnya diproduksi secara massal dan homogen,

sehingga apabila petani menaikkan harga komoditi yang akan dihasilkan

menyebabkan konsumen beralih untuk mengkonsumsi komodi yang

dihasilkan petani lainnya.

3. Komoditi yang dihasilkan mudah rusak (Perishable), sehingga harus

secepatnya dijual tanpa memperhitungkan harga.

4. Lokasi produksi terpencil dan sulit tercapai oleh alat tranportasi yang

mudah dan cepat.

5. Petani kekurangan informasi harga dan kualitan dan kuantitas yang

diinginkan konsumen, sehingga petani mudah diperdaya lembaga-lembaga

pemasaran yang berhubungan dengan petani langsung.

6. Adanya kredit dan pinjaman dari lembaga pemasaran kepada petani yang

bersifat meningkat.

3.1.6 Perilaku Pasar

Perilaku pasar menunjukkan tingkah laku perusahaan dalam struktur pasar

tertentu, terutama bentuk-bentuk keputusan apa yang harus diambil dalam

menghadapi berbagai struktur pasar. Perilaku pasar meliputi kegiatan penjualan,

pembelian, penentuan harga, dan strategi tataniaga. Perilaku pasar dapat dilihat

dari proses pembentukan harga dan stabilitas harga, serta ada tidaknya praktek

jujur dari lembaga yang terlibat dalam tataniaga (Azzaino 1982).

Menurut Asmarantaka (1999), bahwa perilaku pasar ada tiga cara yaitu : (1)

penentuan harga dan setting level of output; menetapkan penentuan harga tidak

berpengaruh terhadap perusahaan lain, melainkan ditetapkan secara bersama-sama

oleh penjual atau penetapan harga berdasarkan pemimpin harga, (2) product

promotion policy; melalui pameran dan iklan atas nama perusahaan, (3) predatory

and exlusivenary tactics; strategi ini bersifat ilegal karena bertujuan mendorong

(33)

21 bahan baku, sehingga perusahaan pesaing tidak berproduksi dengan menggunakan

bahan baku yang sama.

Perilaku pasar terkait dengan tindak tanduk serta langkah yang

diimplementasikan oleh penjual saat memasarkan. Tindakan yang dilakukan

dapat berpengaruh pada penetapan harga dan keragaan pasar di daerah yang

menjadi fokus penelitian. Perikalaku pasar dapat mencerminkan aliran suatu

produk mulai dari tangan produsen hingga ke tangan konsumen. Pada umumnya

perilaku pasar tercermin pada saat beroprasi. Seperti saat penentuan harga,

sosialisasi, penetapan pangsa pasar, serta aktifitas transaksi di pasar. Terdapat tiga

cara mengenal perilaku pasar, yaitu :

1. Penentuan Harga dan Setting of Output : Penentuan harga yang dilakukan

tanpa mempengaruhi perusahaan lain. Penetapan ini dilakukan secara bersama

– sama dengan para penjual yang lain, dan penetapan harga yang dilakukan

dipimpin oleh pemimpin harga.

2. Kebijakan atau Aturan Promosi Produk (Product Promotion Policy) : yaitu

promosi yang dilakukan penjual dengan cara mengikuti pemasaran atau

membuka stand produk atas nama perusahaan.

3. Peredatory and Exlusivenary Tactics : Strategi ini tidak cukup sehat karena

perusahaan yang satu berusaha untuk mengeluarkan perusahaan yang lain dari

pasar dengan menetapkan harga dibawah biaya marjin, sehingga perusahaan

lain tidak dapat melakukan kompetisi tersebut. Selain itu, cara lain juga dapat

dilakukan dengan menguasai bahan baku yang akan mengakibatkan

perusahaan lain tidak dapat menggunakan sumber bahan baku yang sama.

3.1.7 Keragaan Pasar

Keragaan pasar menunjukkan akibat dari keadaan struktur dan perilaku

pasar dalam kenyataan sehari-hari yang ditunjukkan dengan harga, biaya, volume

produksi, yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem

tataniaga (Dahl dan Hammond 1977). Menurut Sudiyono( 2001 ) keragaan pasar

adalah hasil keputusan akhir yang diambil adalah hubungannya dengan proses

tawar menawar dan persaingan pasar.

Deskripsi keragaan pasar dapat dilihat dari: harga dan penyebarannya

(34)

22 setiap tingkat harga. Selain itu analisis terhadap keragaan pasar dapat didekati

melalui analisis perkembangan harga, elastisitas tansmisi dan integrasi pasar.

3.1.8 Efisiensi Pemasaran

Pemasaran yang efesien merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam

sistem pemasaran, dimana sistem pemasarn memberikan kepuasan kepada setiap

pihak-pihak yang terlibat produsen, konsumen, dan lembaga-lembaga pemasaran .

Menurut Sudiono (2001) untuk mengukur efesiensi pemasaran dapat dilakukan

pendekatanstruktur, keragaan, dan tingkahlaku pasar. Upaya perbaikan efesiensi

pemasaran dapat dilakukan dengan meningkatkan output pemasaran dan

mengurangi biaya pemasaran.

Menurut Sudiyono (2001) secara sederhana konsep efisiensi ini didekati

dengan rasio output-input, suatu proses pemasarn dikatakan efesien apabila :

1. Output tetap konstan dicapai dengan input yang lebih sedikit.

2. Output meningkat sedanngkan input yang digunakan tetap konstan.

3. Output dan input sama-sama mengalami kenaikan, tetapi laju kenaikan output

lebih cepat dari pada input

4. Output dan input sama mengalami penurunan, tetapi penurunan output lebih

lambat dari pada input.

Efesiensi pemasarn dapat dibedakan atas efesiensi teknis (operasional) dan

efesiensi ekonomis (harga). Menurut Saefuddin dan Hanafiah (1986) efesiensi

teknis berarti pengendalian fisik daripada produk dan dalam ”term” ini mencakup

dalam hal-hal: prosedur, teknis, dan besarnya skala operasi, dengan tujuan

penghematan fisik seperti mengurangi kurusakan (Waste), mencegah merosotnya

mutu produk dan penghematan tenaga kerja. Sedangkan dalam pengukuran

efesiensi ekonomis maka marjin pemasaran sering dipakai sebagai alat ukur.

3.1.8.1 Marjin Pemasaran

Marjin adalah perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen

dengan harga yang diterima petani produsen, atau dapat juga dinyatakan sebagai

nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan pemasaran sejak dari tingkat produsen

sampai ke titik konsumen akhir. Kegiatan untuk memindahkan barang dari titik

(35)

23 Pengeluaran yang harus dilakukan untuk menyalurkan komoditi dari produsen ke

konsumen disebut sebagai biaya tataniaga.

Menurut Dahl dan Hammond (1977) mendefenisikan marjin pemasaran

sebagai perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga pedagang pengecer

(Pr). Marjin pemasaran menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat

pernyataan mengenai jumlah produk yang dipasarkan. Nilai margin pemasaran

(Value of marketing margin) merupakan perkalian antara marjin pemasaran

dengan volume produk yang terjual (Pr-Pf) x Qrf yang mengandung pengertian

marketing cost dan marketing charge seperti yang terlihat pada Gambar 1.

Pendekatan terhadap nilai marjin pemasaran dapat melalui return to factor

(Marketing cost) yaitu penjumlahan dari biaya pemasaran, yang merupakan balas

jasa terhadap input yang digunakan seperti tenaga kerja, modal, investasi yang

diberikan untuk lancarnya proses pemasaran dan input-input lainnya, serta dengan

pendekatan return to institution (Marketing charge), yaitu pendekatan melalui

lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses penyaluran atau

pengolahan komoditi yang dipasarkan (pedagang pengumpul, pengolah, grosir,

agen, dan pengecer.

Setiap lembaga pemasaran melakukan fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi

yang dilakukan antar lembaga biasanya berbeda-beda. Hal ini menyebabkan

perbedaan harga jual dari lembaga satu dengan yang lainnya sampai ke tingkat

konsumen akhir berbeda. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat, akan

semakin besar perbedaan harga antar produsen dengan harga di tingkat konsumen.

Secara grafis marjin pemasaran dapat dilihat pada Gambar 2 :

Harga

Gambar 2. Hubungan Antara Fungsi-fungsi Pertama dan Turunan Terhadap

(36)

24 Keterangan :

A = Nilai marjin pemasaran((Pr-Pf).Qr,f) B = Marketing cost andMarketing charge C = Marjin pemasaran (Pr-Pf)

Pr = Harga di tingkat pedagang pengecer Pf = Harga di tingkat petani

Sr = Supply di tingkat pengecer (Derived supply) Sf = Supply di tingkat petani (Primary supply) Dr = Demand di tingkat pengecer (Derived demand) Df = Demand di tingkat petani (Primary demand)

Qr,f = Jumlah keseimbangan di tingkat petani dan tingkat pengecer

Besarnya marjin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat

dinyatakan sebagai jumlah dari marjin pada masing-masing lembaga pemasaran

yang terlibat. Rendahnya biaya pemasaran suatu komoditi belum tentu dapat

mencerminkan efisiensi yang tinggi.

3.1.8.2 Farmer’s Share

Salah satu indikator yang berguna dalam melihat efisiensi kegiatan

pemasaran adalah dengan membandingkan bagian yang diterima petani (Farmer’s

share) terhadap harga yang dibayar konsumen akhir. Bagian yang diterima

lembaga pemasaran sering dinyatakan dalam bentuk persentase (Limbong dan

Sitorus 1987).

3.1.8.3 Rasio Keuntungan dan Biaya (R/C)

Berdasarkan nilai marjin pemasaran yang diperoleh dapat diketahui tingkat

rasio keuntungan terhadap biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran. Rasio

ini menunjukkan besarnya keuntungan yang diperoleh terhadap biaya pemasaran

yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Semakin tinggi nilai

rasio semakin besar keuntungan yang diperoleh. Rasio tersebut diperoleh dengan

menggunakan rumus sebagai berikut (Limbong dan Sitorus 1987) :

Rasio Keuntungan/Biaya (%) = 100%

)

Rasio keuntungan dan biaya pemasaran adalah besarnya keuntungan yang

diterima atas biaya pemasaran yang dikeluarkan. Dengan demikian semakin

meratanya penyebaran rasio keuntungan dan biaya, maka dari segi operasional

(37)

25

3.2Kerangka Pemikiran Operasional

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk

memperlancar arus barang atau jasa dari produsen ke konsumen sehingga dalam

proses tersebut terjadi pemindaha kepemilikian. Dalam memasarkan suatu

komoditi baik barang atau jasa akan melibatkan beberapa faktor pemasaran,

anatara lain sistem pemasaran dan lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat

melakukan fungsi pemasaran dan serta struktur, perilaku pasar dan keragaan pasar

yang menentukan tingkat harga suatu komoditi.

Sistem pemasaran merupakan segala aktivitas yang diperlukan dalam

pemindahan hak miliki dan menyelenggarakan saluran fisiknya termasuk jasa-jasa

dan fungsi-fungsi pemasaran dalam menjalankan distribusi barang dari produsen

ke konsumen. Saluran pemasaran udang windu dari Desa Panimbang, Serang,

Banten melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu petambak, pedagang

pengumpul pedagang pengecer dan eksportir. Fungsi-fungsi pemasaran udang

windu dari Desa Panimbang, Serang, Banten dianalisis melalui pendekatan serba

fungsi yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Struktur pasar

dapat diketahui dengan melibatkan jumlah penjualan dan pembelian, informasi

pasar, jenis transaksi yang terjadi dan hambatan keluar masuk pasar. Perilaku

pasar dapat diketahui dengan melihat praktek penjualan dan pembelian, penentuan

harga, cara pembayaran dan kerjasama antar lembaga, sedangkan keragaan pasar

dapat diketahui dengan melihat marjin pemasaran dan keterpaduan pasar.

Berdasarkan teori pemasaran khususnya tentang efesiensi pemasaran yang

berdampak pada peningkatan keuntungan petani dan lembaga pemasaran yang

terlibat serta dalam rangka merangsang industri perikananagar kondusif, maka

peneliti perlu mengkaji tentang bagai mana pola saluran pemasaran udang windu

dari Desa Pnimbang, Serang, Banten nilai dari marjin pemasaran yang terbentuk

dari setiap fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran serta

dilihat dari struktur dan prilaku pasar, dan keterpaduan pasar yang terjadi dilihat

dari pembentukan harga yag terjadi akibat pembentukan harga antara lembaga

pemasaran yang satu dengan lainnya. Kerangka pemikiran yang melandasi

(38)

26 Gambar 3. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional, Analisis Efisiensi Pemsaran Udang Windu ( Studi Kasus : di Desa Panimbang, Serang, Banten )

Petani Udang Windu

Adanya perbedaan harga yang cukup besar antara harga jual udang windu di tingkat petani dan harga jual udang windu di tingkat konsumen

Analisis Kualitatif

1. Saluran Pemasaran dan Lembaga Pemasaran 2. Fungsi-fungsi Pemsaran 3. Struktur Pemsaran 4. Keragaan Pemasaran

Analisis Kuantitaf 1. Marjin Pemasaran 2. Farmer’s Share

3. Rasio Keuntungan dan Biaya

Efisiensi Pemasaran

Efesiensi Operasional 1. Marjin Tataniaga 2. Farmer’s Share

3. Rasio keuntungan dan Biaya

(39)

27

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Panimbang, Serang, Banten pada aktivitas

Kelompok Tani udang windu. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja

(Purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa Panimbang, Serang, Banten

merupakan salah satu daerah produksi udang windu yang berkembang. Penelitian

dilakukan pada bulan Desember 2009.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data

sekunder. Data primer diperoleh melalui pembagian daftar pertanyaan yang telah

disiapkan dengan tehnik wawancara langsung kepada petani serta

lembaga-lembaga tataniaga yang terlibat seperti pedagang pengumpul, pedagang pengecer,

dan konsumen lembaga. Data sekunder dari instansi yang terkait dengan masalah

penelitian seperti Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian Perikanan dan

Peternakan Kesambi Serang, Banten, serta buku-buku literatur yang terkait

lainnya. Adapun data-data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk analisis lembaga dan saluran pemasaran, data yang dikumpulkan

meliputi:

a. Tingkat petani, yaitu:

- Karakteristik petani: Umur, pendidikan dan pengalaman bertani.

- Gambaran usahatani: Jumlah produksi, luas panen, tehnik serta peralatan

yang digunakan serta luas lahan. - Cara penjualan produk.

- Tujuan penjualan produk (dijual kemana). b. Tingkat pedagang perantara, yaitu :

- Karakteristik pedagang: Umur, tingkat pendididikan, pengalaman berdagang.

- Cara pembelian produk: Sumber pembelian produk, frekuensi pembelian dan jumlah yang dibeli, serta harga beli produk.

(40)

28 2. Untuk menganalisis fungsi pemasaran, dianalisis berdasarkan

fungsi-fungsi ditiap lembaga pemasaran. Data-data yang dikumpulkan meliputi :

1) Fungsi pertukaran :

a. Petani :

- Jumlah atau volume penjualan kepada pedagang

- Frekuensi penjualan

- Proses penjualan

b. Pedagang :

- Jumlah pembelian dari petani atau pedagang lain

- Frekuensi pembelian

- Jumlah/volume penjualan ke pedagang lain atau ke konsumen

- Frekuensi penjualan

2) Fungsi Fisik

a. Petani :

- Jumlah produk yang disimpan

- Lokasi penyimpanan hasil panen

- Lama penyimpanan.

- Biaya penyimpanan

- Biaya trasnportasi atau pengangkutan

b. Pedagang :

- Jumlah produk yang disimpan

- Lokasi penyimpanan produk

- Lama penyimpanan

- Biaya penyimpanan

- Biaya trasnportasi

- Alat transportasi yang digunakan

- Biaya pengolahan

- Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pengolahan

3) Fungsi fasilitas

a. Petani :

- Proses penyortiran dan grading

(41)

29 - Pembiayaan (persiapan lahan sampai panen)

- Biaya pengangkutan

- Biaya penyimpanan

- Biaya penyusutan

- Resiko yang ditanggung petani

- Sumber informasi pasar

- Cara memperoleh informasi pasar

b. Pedagang :

- Proses penyortiran dan grading

- Biaya-biaya yang dikeluarkan : biaya pengangkutan, biaya

penyimpanan, biaya pengemasan, biaya bongkar muat, biaya

penyusutan, biaya tenaga kerja dan lain-lain.

- Resiko usaha yang ditanggung pedagang

- Sumber informasi pasar

- Cara memperoleh informasi pasar

3. Untuk menganalisis struktur pasar, data yang dikumpulkan meliputi :

- Jumlah pelaku yang terlibat (jumlah pembeli dan penjual)

- Keragaman produk : Klasifikasi mutu udang windu

- Hambatan keluar masuk pasar:

 Hambatan yang dialami petani

 Hambatan yang dialami pedagang pengumpul

 Hambatan yang dialami oleh pedagang besar

 Hambatan yang dialami oleh pedagang pengecer

 Modal yang diperlukan oleh masing-masing lembaga tataniaga

 Jumlah pesaing dipasar - Informasi pasar:

 Sumber informasi pasar/harga

 Cara memperoleh informasi harga ditingkat petani dan pedagang

(42)

30 4. Untuk menganalisis perilaku pasar data yang diperlukan adalah:

- Praktek pembelian dan penjualan antar lembaga-lembaga tataniaga

- Sistem penentuan harga

- Cara pembayaran harga dari pedagang ke petani

- Cara pembayaran harga diantara lembaga pemasaran

- Praktek kerjasama antar lembaga pemasaran

5. Untuk menganalisis margin pemasaran dan farmer’s share data yang

dikumpulkan adalah:

- Harga jual dari petani

- Harga beli dari pedagang pengumpul

- Biaya-biaya tataniaga yang dikeluarkan pedagang pengumpul

- Keuntungan pedagang pengumpul

- Harga jual dari pedagang pengumpul

- Harga beli dari pedagang besar

- Biaya-biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang besar

- Keuntungan pedagang besar

- Harga jual dari pedagang besar

- Harga beli dari pedagang pengecer

- Biaya-biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer

- Keuntungan pedagang pengecer

- Harga jual dari pedagang pengecer ke konsumen

6. Untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian, data yang dikumpulkan

meliputi :

- Kondisi geografis daerah penelitian

- Tata guna lahan

- Sarana dan prasarana di daerah penelitian

- Kelembagaan Desa Kesambi Serang, Banten

(43)

31 4.3. Metode Penentuan Responden

Produk yang diteliti adalah komoditas perikanan, tepatnya Udang Windu

(Penaeus monodon). Komoditas ini dapat dikatakan umggulan di Desa

Panimbang, Serang, Banten sehingga memudahkan akan kebutuhan data dan

informasi yang akan diperoleh dari lokasi tempat penelitian yang telah disurvei

sebelumnya. Metode penentuan populasi berdasarkan petambak yang berada

dalam satu komoditas dengan kepemilikan lahan yang seragam. Anggota

komoditas tersebut menggunakan empat petak dalam dua hektar lahan yang

dimiliki. Pemilihan responden petambak udang windu dilakukan dengan cara

keputusan (Judgement sample). Jumlah seluruh responden yang diambil sebanyak

20 petambak dan tambak yang digunakan merupakan tambak tradisional sebagian

petambak menggunakan polikultur pada empat petak tambak, lima orang

pedagang pengumpul, serta tujuh orang pedagang pengecer. Penentuan responden

pada saluran pemasaran dilakukan dengan penelusuran saluran pemasaran mulai

dari tingkat petambak sampai ke tingkat konsumen akhir.

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Metode pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Proses analisis data kualitatif

menggambarkan secara deskriptif saluran tataniaga , fungsi-fungsi pemasaran

serta struktur dan perilaku pasar. Sedangkan analisis data kuantitatif dipergunakan

untuk menganalisis besaran margin tataniaga, farmer share dan rasio keuntungan

dan biaya. Alat analisis data kuantitatif yang digunakan adalah berupa kalkulator,

program komputer dan tabulasi data.

4.4.1 Analisis Saluran Pemasaran

Analisis saluran pemasaran komoditas udang windu (Penaeus monodon)

diamati melalui beberapa lembaga pemasaran yang turut berkontribusi pada

penyaluran atau transformasi hasil panen dari produsen ke konsumen akahir.

Saluran pemasaran yang diteliti meliputi produsen, pedagang pengumpul,

pedagang pengecer, konsumen lembaga, dan konsumen rumah tangga. Banyaknya

lembaga yang berkontribusi pada aktifitas pemasaran akan berpengaruh terhadap

Gambar

Tabel 2. Perkembangan Ekspor Nasional Udang Tahun 2003 – 2007
Gambar 1. Saluran Pemasaran Komoditi Pertanian
Gambar 3. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional, Analisis Efisiensi Pemsaran
Gambar 4 menjelaskan saluran-saluran pemasaran yang dimulai dari
+7

Referensi

Dokumen terkait

Rasio keuntungan-biaya terbesar pada saluran empat diperoleh pedagang pengecer sebesar 25,60, yaitu dengan biaya sebesar Rp25,60/Kg maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp

Pada saluran I margin pemasarannya yaitu Rp 2.500,saluran II Yaitu Rp 2.250, dan saluarn III yaitu Rp 18.000 Dilihat dari efisiensi secara ekonomis dari ketiga saluran

Pedagang besar non-lokal menjual stroberi kepada pedagang pengecer non-lokal seperti pada saluran pemasaran lima dan saluran pemasaran enam dengan harga jual

Margin tertinggi terdapat pada pola saluran distribusi pemasaran pedagang besar, pedagang pengecer dan konsumen yaitu sebesar Rp7.438,- atau sebesar 48,17% dari

Pada saluran II dapat dilihat bahwa biaya pedagang pengecer memiliki biaya pemasaran yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp.2.000 sehingga diperoleh nilai

Pada saluran pemasaran yang ke II yaitu petani garam menjual langsung kepada pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Jangka dengan haraga jual Rp 3.500/Kg dan dari

263,01/kg melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar, sedangkan nilai efisiensi saluran pemasaran II dengan tingkat persentase sebesar 11,70

Untuk melihat besarnya margin pemasaran digunakan rumus : Mi = Hci – Hpi, dimana : M = Margin tataniaga Rp/Kg Hc = Harga ditingkat pedagang pengecer Rp/Kg Hp = Harga ditingkat