PREFERENSI PANGAN ANAK SEKOLAH DASAR
DI KOTA BOGOR
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
ABSTRACT
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS. Food Preference of School Children in Bogor City. Under direction of YAYUK FARIDA BALIWATI.
Food preference has an important role in defining children’s food pattern. Food preference that is formed earlier will persist to influence food preference in adult. In the other words, children’s food preference is a critical point in defining
adult’s food preference. Thus, study about children’s food preference and many
factors that were related is important to do. The general objective of this study was to identified factors that is correlate to food preference of school children in bogor city, and the specific objectivess were to: 1). Identified individual characteristic of subject, 2). Identified Family’s socio economics condition of subject, 3). Identified school children’s food preference, and 4). Analyze correlation between food preference and many factors. This study used cross-sectional design and the subject was 90 students from 3 elementary school in Bogor City. The correlation between factors and food preferences analized use inferensia statistics which are: Chi Square and Rank Spearman. Food preference of school children shows that school children tend to like certain kind of food in each food groups. There are several kinds of food in each foods group which is less like by school children. Fruits are liked by most school children. Most of school children like a kind of food because of the organoleptic characteristic of food, especially taste. Individual characteristics and family’s socio economic conditions explained little of the variation in school children’s food preference. The statistic test shows that preference of certain food has correlation with
individual and family’s socio economic conditions. School children’s food
preference doesn’t not show variety yet. Interventions are needed to direct school children’s food preference become more various.
RINGKASAN
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS. Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor. Dibimbing oleh YAYUK FARIDA BALIWATI.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor, sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi karakteristik individu contoh, (2) Mengidentifikasi keadaan sosial ekonomi keluarga contoh, (3) Mengidentifikasi preferensi pangan contoh terhadap berbagai jenis pangan menurut kelompok pangan serta olahannya, dan (4) Menganalisis hubungan preferensi pangan contoh dengan karakteristik individu dan keadaan sosial ekonomi keluarga contoh.
Desain yang digunakan dalam penelitian adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di sekolah dengan tingkat sosial ekonomi atas, menengah, dan bawah di Kota Bogor yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SD Bina Insani, SDN Gunung Batu I, dan SDN Balungbang Jaya 2. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive berdasarkan hasil konsultasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bogor. Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2009 sampai dengan Juni 2009. Contoh dari penelitian adalah siswa kelas 5 dan sebagian siswa kelas 4 SDN Balungbang Jaya 2, SDN Gunung Batu I, dan SD Bina Insani Kota Bogor. Pemilihan siswa kelas 4 dan 5 SD disengaja dengan pertimbangan siswa telah mampu menerima arahan dalam pengisian kuesioner, selain itu Hidayat (2004) menyatakan bahwa siswa kelas 4 dan 5 berada pada tahapan perkembangan yang sama yaitu pada masa formal operasional (11 tahun - dewasa). Pada tahap tersebut siswa telah mencapai kemampuan untuk berpikir sistematis terhadap hal-hal yang abstrak dan hipotesis, selain itu anak sudah bisa mengambil kesimpulan dari suatu pertanyaan. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui jumlah minimal sampel adalah 84 orang, sehingga ditetapkan jumlah sampel 90 orang yaitu 30 orang dari masing-masing SD terpilih. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan semi terbuka tentang karakteristik individu yaitu jenis kelamin dan pengetahuan gizi; kondisi sosial ekonomi keluarga contoh meliputi besar keluarga dan pendapatan keluarga; serta preferensi pangan, olahan dan alasannya. Kuesioner preferensi pangan contoh mengacu pada pedoman umum pemantauan dan analisis preferensi pangan masyarakat (Deptan 2008). Data sekunder yang dikumpulkan antara lain gambaran umum lokasi penelitian dan data mengenai siswa yang diperoleh dari literatur dan SD yang bersangkutan. Data diolah menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS ver. 16 for Windows dengan analisis deskriptif dan inferensia menggunakan Chi Square dan Rank Spearman.
Preferensi pangan contoh secara umum dapat dikatakan contoh belum menyukai beragam jenis pangan, masih terdapat jenis pangan yang kurang disukai oleh sebagian besar contoh, yaitu pada kelompok sumber karbohidrat yang berasal dari umbi-umbian, sebagian sumber lemak, sebagian kecil sumber protein hewani (ikan asin dan ikan pindang) dan sumber protein nabati serta pada sebagian jenis sayuran. Pada kelompok sumber karbohidrat pangan yang disukai oleh sebagian besar contoh adalah roti, beras, dan Kentang, serta olahan yang disukai adalah roti tawar dan roti manis untuk roti dan nasi serta bubur untuk nasi. Olahan kentang yang paling disukai adalah kentang goreng dan keripik kentang. Sebagian besar contoh menyukai kelapa dan cokelat pada kelompok sumber lemak. Olahan kelapa yang paling disukai adalah minuman kelapa dan santan, olahan coklat adalah coklat batang. Daging ayam dan susu adalah yang paling disukai contoh pada kelompok sumber protein hewani, olahan yang paling disukai adalah ayam goreng dan ayam panggang, serta susu segar dan susu kental manis. Pangan yang paling disukai pada kelompok sumber protein nabati adalah tahu dan tempe. Olahan tahu yang paling disukai adalah tahu goreng dan pepes, sementara olahan tempe adalah tempe goreng dan orek tempe. Mangga dan pisang adalah yang paling disukai oleh contoh pada kelompok buah dan sayur, dengan olahan yang paling disukai contoh adalah sebagai buah dan dalam bentuk jus. Sebagian besar pangan dan olahan tersebut disukai contoh karena rasa yang enak (organoleptik).
PREFERENSI PANGAN ANAK SEKOLAH DASAR
DI KOTA BOGOR
HALAMAN JUDUL
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada
Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor Nama : Yanni Trimur Cahyaning Tiyas
NRP : I14052788
Disetujui: Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS NIP 19630312 198703 2 001
Diketahui,
Ketua Departemen Gizi Masyarakat
Dr.Ir. Evy Damayanthi, MS NIP 19621204 198903 2 002
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga skripsi dengan judul “Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor” dapat diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan pikirannya, memberikan arahan, kritik dan saran, serta dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS selaku Dosen Penguji dan Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku Dosen Pemandu Seminar, yang telah memberikan saran dan masukan demi kesempurnaan skripsi. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Mat Ali Karjam, S.Pd, SD, Bapak Stevanus Marantika, S.Si, MA, M.Pd, serta Bapak Fachrudin SN, BA selaku kepala sekolah dari SD yang menjadi tempat penelitian serta Ibu Jannah, Bapak Mumu, dan Ibu Yanti yang telah membantu penulis selama proses pengumpulan data serta kemudahan yang diberikan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, seluruh keluarga, serta teman-teman semua atas doa, kasih sayang, serta dukungan yang tak henti-hentinya diberikan kepada penulis.
Semoga skripsi ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 6 Januari 1987 dari ayah Heriyono dan Ibu Mudawaningsih. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1999 di SD Cinta Manis Palembang. Kemudian penulis melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 2 Kota Mojokerto hingga tamat pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, penulis diterima di SMA Negeri 1 PURI Mojokerto dan tamat pada tahun 2005.
Penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2005. Setelah satu tahun menjalani masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB), akhirnya penulis memilih dan diterima di mayor Ilmu Gizi dengan minor Pengolahan Pangan (Ilmu Teknologi Pangan), Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang ... 1
Perumusan Masalah ... 3
Tujuan ... 4
Kegunaan ... 4
TINJAUAN PUSTAKA ... 5
Anak Usia Sekolah Dasar ... 5
Preferensi Pangan ... 6
Faktor-faktor yang mempengaruhi Preferensi Pangan Anak ... 7
KERANGKA PEMIKIRAN ... 12
METODE ... 14
Desain, Tempat, dan Waktu ... 14
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ... 14
Jenis dan Cara Pengumpulan Data... 15
Pengolahan dan Analisis Data ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
Gambaran Umum Sekolah ... 19
Karakteristik Keluarga Contoh ... 21
Karakteristik Contoh ... 25
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar ... 27
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar berdasarkan Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga ... 34
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar berdasarkan Karakteristik Individu 45 KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
Kesimpulan ... 57
Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Jenis dan cara pengumpulan data... 16
2 Data dan pengolahan data...17
3 Cara analisis data... 17
4 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga... 22
5 Sebaran contoh berdasarkan pendidikan terakhir orang tua... 23
6 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orang tua...24
7 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga per kapita per bulan.... 25
8 Sebaran contoh berdasarkan jawaban pengetahuan gizi yang benar... 26
9 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi...27
10 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber karbohidrat... 28
11 Olahan kelompok sumber karbohidrat paling disukai dan alasan... 29
12 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber lemak... 30
13 Olahan kelompok sumber lemak paling disukai dan alasan... 30
14 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber protein hewani...31
15 Olahan kelompok sumber protein hewani paling disukai dan alasan... 31
16 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber protein nabati... 32
17 Olahan kelompok sumber protein nabati paling disukai dan alasan... 33
18 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber vitamin dan mineral... 33
19 Olahan kelompok sumber vitamin dan mineral paling disukai dan alasan... 34
20 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber karbohidrat menurut besar keluarga... 35
21 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber lemak menurut besar keluarga... 36
22 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber protein hewani menurut besar keluarga...37
PREFERENSI PANGAN ANAK SEKOLAH DASAR
DI KOTA BOGOR
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
ABSTRACT
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS. Food Preference of School Children in Bogor City. Under direction of YAYUK FARIDA BALIWATI.
Food preference has an important role in defining children’s food pattern. Food preference that is formed earlier will persist to influence food preference in adult. In the other words, children’s food preference is a critical point in defining
adult’s food preference. Thus, study about children’s food preference and many
factors that were related is important to do. The general objective of this study was to identified factors that is correlate to food preference of school children in bogor city, and the specific objectivess were to: 1). Identified individual characteristic of subject, 2). Identified Family’s socio economics condition of subject, 3). Identified school children’s food preference, and 4). Analyze correlation between food preference and many factors. This study used cross-sectional design and the subject was 90 students from 3 elementary school in Bogor City. The correlation between factors and food preferences analized use inferensia statistics which are: Chi Square and Rank Spearman. Food preference of school children shows that school children tend to like certain kind of food in each food groups. There are several kinds of food in each foods group which is less like by school children. Fruits are liked by most school children. Most of school children like a kind of food because of the organoleptic characteristic of food, especially taste. Individual characteristics and family’s socio economic conditions explained little of the variation in school children’s food preference. The statistic test shows that preference of certain food has correlation with
individual and family’s socio economic conditions. School children’s food
preference doesn’t not show variety yet. Interventions are needed to direct school children’s food preference become more various.
RINGKASAN
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS. Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor. Dibimbing oleh YAYUK FARIDA BALIWATI.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor, sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi karakteristik individu contoh, (2) Mengidentifikasi keadaan sosial ekonomi keluarga contoh, (3) Mengidentifikasi preferensi pangan contoh terhadap berbagai jenis pangan menurut kelompok pangan serta olahannya, dan (4) Menganalisis hubungan preferensi pangan contoh dengan karakteristik individu dan keadaan sosial ekonomi keluarga contoh.
Desain yang digunakan dalam penelitian adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di sekolah dengan tingkat sosial ekonomi atas, menengah, dan bawah di Kota Bogor yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SD Bina Insani, SDN Gunung Batu I, dan SDN Balungbang Jaya 2. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive berdasarkan hasil konsultasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bogor. Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2009 sampai dengan Juni 2009. Contoh dari penelitian adalah siswa kelas 5 dan sebagian siswa kelas 4 SDN Balungbang Jaya 2, SDN Gunung Batu I, dan SD Bina Insani Kota Bogor. Pemilihan siswa kelas 4 dan 5 SD disengaja dengan pertimbangan siswa telah mampu menerima arahan dalam pengisian kuesioner, selain itu Hidayat (2004) menyatakan bahwa siswa kelas 4 dan 5 berada pada tahapan perkembangan yang sama yaitu pada masa formal operasional (11 tahun - dewasa). Pada tahap tersebut siswa telah mencapai kemampuan untuk berpikir sistematis terhadap hal-hal yang abstrak dan hipotesis, selain itu anak sudah bisa mengambil kesimpulan dari suatu pertanyaan. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui jumlah minimal sampel adalah 84 orang, sehingga ditetapkan jumlah sampel 90 orang yaitu 30 orang dari masing-masing SD terpilih. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan semi terbuka tentang karakteristik individu yaitu jenis kelamin dan pengetahuan gizi; kondisi sosial ekonomi keluarga contoh meliputi besar keluarga dan pendapatan keluarga; serta preferensi pangan, olahan dan alasannya. Kuesioner preferensi pangan contoh mengacu pada pedoman umum pemantauan dan analisis preferensi pangan masyarakat (Deptan 2008). Data sekunder yang dikumpulkan antara lain gambaran umum lokasi penelitian dan data mengenai siswa yang diperoleh dari literatur dan SD yang bersangkutan. Data diolah menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS ver. 16 for Windows dengan analisis deskriptif dan inferensia menggunakan Chi Square dan Rank Spearman.
Preferensi pangan contoh secara umum dapat dikatakan contoh belum menyukai beragam jenis pangan, masih terdapat jenis pangan yang kurang disukai oleh sebagian besar contoh, yaitu pada kelompok sumber karbohidrat yang berasal dari umbi-umbian, sebagian sumber lemak, sebagian kecil sumber protein hewani (ikan asin dan ikan pindang) dan sumber protein nabati serta pada sebagian jenis sayuran. Pada kelompok sumber karbohidrat pangan yang disukai oleh sebagian besar contoh adalah roti, beras, dan Kentang, serta olahan yang disukai adalah roti tawar dan roti manis untuk roti dan nasi serta bubur untuk nasi. Olahan kentang yang paling disukai adalah kentang goreng dan keripik kentang. Sebagian besar contoh menyukai kelapa dan cokelat pada kelompok sumber lemak. Olahan kelapa yang paling disukai adalah minuman kelapa dan santan, olahan coklat adalah coklat batang. Daging ayam dan susu adalah yang paling disukai contoh pada kelompok sumber protein hewani, olahan yang paling disukai adalah ayam goreng dan ayam panggang, serta susu segar dan susu kental manis. Pangan yang paling disukai pada kelompok sumber protein nabati adalah tahu dan tempe. Olahan tahu yang paling disukai adalah tahu goreng dan pepes, sementara olahan tempe adalah tempe goreng dan orek tempe. Mangga dan pisang adalah yang paling disukai oleh contoh pada kelompok buah dan sayur, dengan olahan yang paling disukai contoh adalah sebagai buah dan dalam bentuk jus. Sebagian besar pangan dan olahan tersebut disukai contoh karena rasa yang enak (organoleptik).
PREFERENSI PANGAN ANAK SEKOLAH DASAR
DI KOTA BOGOR
HALAMAN JUDUL
YANNI TRIMUR CAHYANING TIYAS
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada
Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor Nama : Yanni Trimur Cahyaning Tiyas
NRP : I14052788
Disetujui: Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS NIP 19630312 198703 2 001
Diketahui,
Ketua Departemen Gizi Masyarakat
Dr.Ir. Evy Damayanthi, MS NIP 19621204 198903 2 002
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga skripsi dengan judul “Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor” dapat diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan pikirannya, memberikan arahan, kritik dan saran, serta dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS selaku Dosen Penguji dan Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku Dosen Pemandu Seminar, yang telah memberikan saran dan masukan demi kesempurnaan skripsi. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Mat Ali Karjam, S.Pd, SD, Bapak Stevanus Marantika, S.Si, MA, M.Pd, serta Bapak Fachrudin SN, BA selaku kepala sekolah dari SD yang menjadi tempat penelitian serta Ibu Jannah, Bapak Mumu, dan Ibu Yanti yang telah membantu penulis selama proses pengumpulan data serta kemudahan yang diberikan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, seluruh keluarga, serta teman-teman semua atas doa, kasih sayang, serta dukungan yang tak henti-hentinya diberikan kepada penulis.
Semoga skripsi ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 6 Januari 1987 dari ayah Heriyono dan Ibu Mudawaningsih. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1999 di SD Cinta Manis Palembang. Kemudian penulis melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 2 Kota Mojokerto hingga tamat pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, penulis diterima di SMA Negeri 1 PURI Mojokerto dan tamat pada tahun 2005.
Penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2005. Setelah satu tahun menjalani masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB), akhirnya penulis memilih dan diterima di mayor Ilmu Gizi dengan minor Pengolahan Pangan (Ilmu Teknologi Pangan), Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang ... 1
Perumusan Masalah ... 3
Tujuan ... 4
Kegunaan ... 4
TINJAUAN PUSTAKA ... 5
Anak Usia Sekolah Dasar ... 5
Preferensi Pangan ... 6
Faktor-faktor yang mempengaruhi Preferensi Pangan Anak ... 7
KERANGKA PEMIKIRAN ... 12
METODE ... 14
Desain, Tempat, dan Waktu ... 14
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ... 14
Jenis dan Cara Pengumpulan Data... 15
Pengolahan dan Analisis Data ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
Gambaran Umum Sekolah ... 19
Karakteristik Keluarga Contoh ... 21
Karakteristik Contoh ... 25
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar ... 27
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar berdasarkan Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga ... 34
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar berdasarkan Karakteristik Individu 45 KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
Kesimpulan ... 57
Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Jenis dan cara pengumpulan data... 16
2 Data dan pengolahan data...17
3 Cara analisis data... 17
4 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga... 22
5 Sebaran contoh berdasarkan pendidikan terakhir orang tua... 23
6 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orang tua...24
7 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga per kapita per bulan.... 25
8 Sebaran contoh berdasarkan jawaban pengetahuan gizi yang benar... 26
9 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi...27
10 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber karbohidrat... 28
11 Olahan kelompok sumber karbohidrat paling disukai dan alasan... 29
12 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber lemak... 30
13 Olahan kelompok sumber lemak paling disukai dan alasan... 30
14 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber protein hewani...31
15 Olahan kelompok sumber protein hewani paling disukai dan alasan... 31
16 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber protein nabati... 32
17 Olahan kelompok sumber protein nabati paling disukai dan alasan... 33
18 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber vitamin dan mineral... 33
19 Olahan kelompok sumber vitamin dan mineral paling disukai dan alasan... 34
20 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber karbohidrat menurut besar keluarga... 35
21 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber lemak menurut besar keluarga... 36
22 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber protein hewani menurut besar keluarga...37
24 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber vitamin dan mineral menurut besar keluarga... 39 25 Sebaran contoh beradasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
karbohidrat menurut pendapatan keluarga... 40 26 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
lemak menurut pendapatan keluarga... 41 27 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
protein hewani menurut pendapatan keluarga... 42 28 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
protein nabati menurut pendapatan keluarga... 43 29 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
vitamin dan mineral menurut pendapatan keluarga... 44 30 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
karbohidrat menurut jenis kelamin... 46 31 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
lemak menurut jenis kelamin... 47 32 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
protein hewani menurut jenis kelamin...48 33 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
protein nabati menurut jenis kelamin... 49 34 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
vitamin dan mineral menurut jenis kelamin... 49 35 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
karbohidrat menurut pengetahuan gizi... 51 36 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
lemak menurut pengetahuan gizi... 52 37 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
protein hewani menurut pengetahuan gizi... 53 38 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
protein nabati menurut pengetahuan gizi...54 39 Sebaran contoh berdasarkan preferensi pangan pada kelompok sumber
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1 Kerangka Pemikiran Penelitian Preferensi Pangan Anak Sekolah
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan. Kualitas Sumber Daya manusia yang baik salah satunya didukung dengan status gizi yang baik pula. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, salah satunya adalah konsumsi pangan yang baik, yaitu yang memenuhi kaidah beragam, bergizi, dan berimbang. Menurut Ariani (2008), secara fisiologis manusia memerlukan lebih dari 40 jenis zat gizi yang terdapat pada berbagai jenis makanan untuk dapat hidup aktif dan sehat. Berkaitan dengan hal tersebut maka pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan pemenuhan kebutuhan akan pangan perlu mendapat perhatian. Bahkan arah pembangunan ketahanan pangan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara cukup, bergizi, aman, dan bermutu (Adnyana 2009).
Ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan manusia akan pangan dan gizi baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, makanan yang dikonsumsi harus cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi sesuai angka kecukupan yang dianjurkan. Sementara secara kualitas, makanan yang dikonsumsi harus bergizi seimbang dan aman (bebas dari cemaran bahan kimia/ mikroba/ fisik yang berbahaya). Berkaitan dengan hal ini, diversifikasi pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan.
produksi, ketersediaan dan distribusi, keanekaragaman pangan, serta promosi/ iklan.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Provinsi Jawa Barat (2007) diketahui Kota Bogor memiliki prevalensi BB lebih tertinggi anak lakilaki usia 6 -14 tahun (15.3%) dan tertinggi kedua untuk anak perempuan (8.6%) di Provinsi Jawa Barat, hal ini mengindikasikan tingginya konsumsi pangan sumber energi pada anak-anak. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Propinsi Jawa Barat tahun 2007 juga menunjukkan rata-rata konsumsi energi penduduk kota bogor per kapita per hari masih berada di bawah Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII tahun 2004 sebesar 2000 kkal/kap/hari. Konsumsi energi per kapita per hari masyarakat Kota Bogor adalah sebesar 1674 kkal/kap/hari. Sementara itu rata-rata konsumsi protein per kapita per hari masyarakat Kota Bogor (58.6 gram/kap/hari) telah mampu memenuhi bahkan melebihi Angka Kecukupan Protein (AKP) sebesar 52 gram/kap/hari. Selain itu, masih berdasarkan hasil Riskesdas diketahui bahwa prevalensi termasuk tinggi dengan nilai 96.7 % dibandingkan dengan prevalensi nasional sebesar 93.6 % hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar penduduk Kota Bogor yang berusia lebih dari 10 tahun sebagian besar masih belum terbiasa mengkonsumsi buah dan sayur atau konsumsi belum mencapai 5 porsi per hari selama 7 hari. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan konsumsi pangan dan gizi masyarakat Kota Bogor belum memenuhi aspek kuantitas dan kualitas.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi diversifikasi pangan adalah preferensi. Menurut Pilgrim dalam Suhardjo (1989) preferensi makanan (Food Preference) adalah tindakan atau ukuran suka atau tidak suka seseorang terhadap makanan, lebih lanjut preferensi akan mempengaruhi konsumsi pangan seseorang. Informasi mengenai preferensi makanan ini sangat diperlukan dalam upaya perencanaan dan pembinaan kualitas konsumsi pangan.
mendapatkan perhatian yang besar. Perhatian tersebut dapat diberikan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan fisik atau pemenuhan kecukupan zat gizi serta pemenuhan kebutuhan psikis. Pemenuhan kebutuhan pangan pada anak-anak tidak hanya sekedar pemenuhan secara kuantitas tetapi juga kualitas.
Berdasarkan hasil penelitian Bryan & Lowenberg dalam Sanjur (1982) dinyatakan bahwa kelompok anak-anak memiliki kecenderungan untuk memilih-milih makanan dan hal ini berkaitan dengan karakteristik makanan seperti rasa, tekstur, dan suhu. Pemilihan (preferensi) pangan memiliki peran penting dalam menentukan pola pangan anak (Birch & Fischer 1998). Dickins diacu dalam Sanjur (1982) menambahkan bahwa preferensi pangan sebagian besar ditentukan pada tahap awal kehidupan dan relatif stabil hingga terjadi perubahan pada preferensi kelompok secara keseluruhan. Pilihan makanan yang dibentuk sejak dini dan akan tetap berlaku untuk mempengaruhi preferensi makanannya saat dewasa. Dengan kata lain, preferensi pangan anak merupakan titik kritis atau yang menentukan preferensi pangan saat dewasa. Oleh sebab itu penelitian mengenai pilihan makanan anak-anak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya penting untuk dilakukan sehingga dapat menjadi bahan acuan atau rekomendasi dalam perencanaan pendidikan gizi yang efektif dan program intervensi gizi dalam upaya memperbaiki atau mengembangkan pola konsumsi yang bergizi seimbang.
Perumusan Masalah
Tersedianya Sumber Daya Manusia berkualitas tidak terlepas dari usaha pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup, bergizi, aman, dan bermutu. Kualitas konsumsi pangan secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia dan mendukung terciptanya Ketahanan Pangan yang baik. Seperti diketahui bersama, pemenuhan pangan yang baik adalah yang memenuhi baik segi kuantitas maupun kualitas. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketidakteraturan ekonomi menyebabkan pilihan pangan yang juga semakin beranekaragam.
dalam upaya memperbaiki atau mengembangkan pola konsumsi yang bergizi seimbang. Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana preferensi pangan anak sekolah dasar di Kota Bogor?
2. Apakah terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan keadaan sosial ekonomi keluarga dengan preferensi pangan?
Tujuan
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor, sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi karakteristik individu contoh yaitu pengetahuan gizi dan jenis kelamin contoh
2. Mengidentifikasi keadaan sosial ekonomi keluarga contoh
3. Mengidentifikasi preferensi pangan contoh terhadap berbagai jenis pangan dan produk olahannya
4. Menganalisis hubungan preferensi pangan contoh dengan karakteristik individu dan keadaan sosial ekonomi keluarga contoh
Kegunaan
TINJAUAN PUSTAKA
Anak Usia Sekolah Dasar
Hurlock (1980) menyebutkan bahwa para pendidik memberi label terhadap akhir masa anak-anak (late childhood) sebagai usia sekolah dasar. Usia ini berlansung dari usia enam hingga tiba saat anak menjadi matang secara seksual, yaitu usia 13 tahun untuk perempuan dan 14 tahun untuk laki-laki. Demikian halnya dengan Sumarwan (2002) yang juga menggolongkan anak usia 6-12 tahun ke dalam golongan atau kelompok anak usia sekolah. Suryabrata (1982) membagi anak Sekolah Dasar menjadi dua kelas, yaitu kelas rendah yang berusia 6-9 tahun dan kelas tinggi yang berusia 10-12 tahun.
Hidayat (2004) menambahkan bahwa anak usia enam tahun ke atas (usia sekolah) terbagi dalam masa pra remaja (6 – 10 tahun) dan masa remaja (10 – 18 atau 20 tahun). Pada masa sekolah pertumbuhan dan perkembangan anak akan mengalami proses percepatan pada usia 10 – 12 tahun. Secara umum, pada usia ini aktifitas fisik pada anak semakin tinggi dan memperkuat kemampuan motoriknya. Kemampuan kemandirian anak akan semakin dirasakan dimana lingkungan luar rumah dalam hal ini adalah sekolah cukup besar, sehingga beberapa masalah sudah mampu diatasi dengan sendirinya dan anak sudah mampu menunjukkan penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada, rasa tanggung jawab dan percaya diri dalam tugas sudah mulai terwujud sehingga dalam menghadapi kegagalan maka anak seringkali dijumpai reaksi kemarahan atau kegelisahan.
Perkembangan kognitif, psikososial, interpersonal, psikoseksual, moral, dan spiritual sudah mulai menunjukkan kematangan secara khusus, pada masa ini anak banyak mengembangkan kemampuan interaksi sosial, belajar tentang nilai moral dan budaya dari lingkungan keluarga serta mulai mencoba mengambil bagian dari keluarga atau berperan. Selain itu juga terjadi perkembangan konsep diri, ketrampilan membaca, menulis serta berhitung, dan belajar menghargai di sekolah.
Tahapan perkembangan anak menurut teori perkembangan Piaget dalam Hidayat (2004) dibagi menjadi 4 tahapan sebagai berikut:
1. Tahap sensori motor (usia 0 – 2 tahun) 2. Tahap pra operasional (usia 2 – 7 tahun) 3. Tahap kongkrit (usia 7 – 11 tahun)
Berdasarkan tahapan tersebut, maka anak usia 7 – 11 tahun berada pada tahapan perkembangan kongkrit dimana pada tahap ini anak sudah mulai memandang realistis dari dunianya serta mempunyai anggapan yang sama dengan orang lain, sifat egosentrik anak sudah mulai hilang sebab anak mempunyai pengertian tentang keterbatasan diri sendiri. Sifat pikiran anak sudah mempunyai dua pandangan (reversibilitas). Reversibilitas merupakan cara memandang dari arah yang berlawanan atau berkebalikan. Sifat realistik anak belum sampai ke dalam pikiran dalam membuat konsep atau hipotesa.
Anak-anak lebih mudah dididik pada usia Sekolah Dasar dibandingkan dengan anak usia sebelum atau sesudahnya. Oleh sebab itu, sangat tepat jika pada siswa SD ditanamkan dasar-dasar pengetahuan gizi dan kebutuhan makanan yang baik. Anak-anak usia Sekolah Dasar perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena berada pada masa pertumbuhan yang cepat dan sangat aktif. Karena itu, mereka membutuhkan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Wirakusumah & Pranadji 1989). Selain itu, anak-anak yang duduk di Sekolah Dasar merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih dalam hal pembinaan dan pengembangan mengenai cara-cara berpengetahuan, bersikap, dan bertindak dalam pemilihan makanan, baik selama mereka berada di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Preferensi Pangan
Setiap masyarakat mengembangkan cara yang turun temurun untuk mencari, memilih, menangani, menyiapkan, dan memakan makanan. Adat istiadat menentukan preferensi seseorang terhadap makanan (Suhardjo 1989). Latar belakang sosial budaya mempengaruhi pemilihan jenis pangan melalui dua cara yaitu informasi mengenai gizi dan preferensi. Preferensi terhadap makanan didefinisikan sebagai derajat kesukaan atau ketidaksukaan terhadap makanan dan preferensi ini akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan (Suhardjo 1989).
makanan, yang akan memberikan pengaruh yang kuat pada angka preferensinya (Sanjur 1982).
Preferensi memainkan suatu peran penting di dalam menjelaskan pola makanan anak-anak, sebagaimana kaitannya dengan penerimaan makanan (Birch & Fischer 1998). Riset menunjukkan bahwa anak-anak mengembangkan pilihan makanan mereka seiring dengan pertumbuhan mereka dan paparan terhadap berbagai karakteristik makanan, antara lain tekstur, rasa dan bumbu (Birch 1999). Skinner, et al. (1998) menambahkan anak-anak juga mempelajarinya dari model atau contoh dalam keluarga, orang tua dan saudara kandung, serta dari apa yang mereka alami di rumah, di sekolah bersama teman-teman mereka.
Preferensi pangan adalah pemilihan satu makanan terhadap makanan lain. Pada anak-anak preferensi pangan kebanyakan dipengaruhi oleh kegemaran pribadi, uang dan pengetahuan mereka tidak diterapkan dalam pemilihan pangan. Maka apa yang dipilih oleh seorang anak untuk dimakan pada umumnya apa yang ia sukai dan apa yang ia inginkan. Preferensi pangan berkembang sangat awal, bahkan sejak dalam kandungan tergantung pada diet ibu (Anonim 2008).
Berbagai macam pilihan (preferensi) makanan merupakan hasil interaksi dari kondisi-kondisi saling mempengaruhi yang berbeda, apa yang dipilih seorang anak untuk dimakan atau apa yang membuat makanan menjadi bagian dari konsumsi anak sehari-hari adalah kumpulan atau hasil interaksi dari beberapa faktor, antara lain: keturunan (genetik), budaya, serta status sosial dan ekonomi. Hal Ini merupakan suatu titik kritis sebab pilihan makanan dapat mempunyai konsekuensi kekal, artinya pilihan makanan dibentuk sejak dini dan akan tetap berlaku untuk mempengaruhi preferensi makanannya saat dewasa; sehingga apa yang dipelajari seorang anak pada tahun awal kehidupannya dapat membangun berbagai macam pilihan makanan pada saat dewasa. Inilah alasan kenapa membentuk pilihan makanan sejak dini dalam hidup dapat mempengaruhi kesehatan suatu generasi untuk seumur hidup mereka (Anonim 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi Preferensi Pangan Anak
keluarga yang lain, khususnya orang tua, 3) pembelian makanan dan penyediaannya yang mencerminkan hubungan kekeluargaan dan budaya, 4) rasa makanan, tekstur, dan tempat. Selain itu, menurut Soesanto (1988) diacu dalam Pradnyawati (1997), pengalaman seseorang yang menjadi landasan dalam membeli makanan tertentu yang disukainya bersumber pada beberapa faktor antara lain enak, menyenangkan, memberikan status, tidak membosankan, berharga murah, mudah didapat dan diolah.
Besar keluarga akan mempengaruhi pendapatan per kapita dan pengeluaran untuk konsumsi pangan, sehingga akan membatasi pilihan pangan. Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran antar anak yang sangat dekat akan menimbulkan lebih banyak masalah. Pangan yang tersedia untuk satu keluarga, mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga tersebut tetapi hanya mencukupi sebagian dari anggota keluarga itu (Martianto & Ariani 2004). Selain itu, Hartog, Staveren, dan Brouwer (1995) juga menyatakan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi kebiasaan makan dan gizi, khususnya pada rumah tangga miskin yang bergantung pada pendapatan tunai untuk membeli bahan pangan. Penelitian Rita (2002) mengenai Preferensi Konsumen terhadap Pangan Sumber Karbohidrat non-beras menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara besar keluarga dengan preferensi konsumen terhadap beberapa pangan sumber karbohidrat non-beras
Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya berpengaruh kepada keadaan gizi individu yang bersangkutan. Semakin tinggi tingkat pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin baik pula keadaan gizinya (Irawati, Damanhuri, dan Fachrurozi 1992). Pranadji (1995) menambahkan bahwa pengetahuan mengenai jenis-jenis makanan yang akan dikonsumsi pada diri anak-anak sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai dan kepercayaan terhadap makanan yang diperoleh melalui pendidikan di sekolah maupun dirumah. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi cara makan anak-anak, diantaranya tiga faktor yang paling penting adalah ketersediaan pangan, pola sosial, dan faktor-faktor pribadi.
pengetahuan gizinya dalam pemilihan maupun pengetahuan pangan sehingga konsumsi pangan yang mencukupi lebih terjamin.
Pengetahuan gizi diperoleh melalui pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal adalah jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan dan terdapat kronologis yang ketat untuk tingkatan umur populasi sasarannya. Pendidikan informal adalah jenis pendidikan yang berlangsung seumur hidup yang mempelajari aspek kehidupan (Pranadji 1988). Lebih lanjut Pranadji menjelaskan bahwa materi yang dipelajari dalam pendidikan informal meliputi keterampilan, pengetahuan, sikap, nilai dan cara hidup pada umumnya dan dikategorikan baik secara sosial maupun ekonomis misalnya pergaulan di lingkungan keluarga, teman maupun di masyarakat.
Pengukuran pengetahuan gizi dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen berbentuk pertanyaan pilihan berganda (multiple choice). Instrumen ini merupakan bentuk pertanyaan ataupun melanjutkan pertanyaan yang belum selesai. Tingkat pengetahuan dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu baik, sedang dan kurang (Khomsan 2000).
Preferensi konsumsi pangan dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi (Variyam & Blayblock 1998). Menurut Sajogjo yang diacu dalam Marud (2008) faktor pendapatan keluarga mempunyai peranan besar dalam masalah gizi dan kebiasaan makan keluarga. Ketersediaan pangan suatu keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan keluarga tersebut. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan orang tidak mampu membeli, memilih pangan yang bermutu gizi baik dan beragam. Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Pendapatan yang tinggi akan meningkatkan daya beli sehingga keluarga mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan dan akhirnya berdampak positif terhadap status gizi. Menurut Suhardjo (1986), pada umumnya jika pendapatan meningkat maka jumlah dan jenis pangan akan membaik.
Penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya antara lain yang dilakukan oleh Cooke dan Wardle (2005) terhadap 1291 orang anak yang berusia 4 sampai 16 tahun di Inggris. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study dan pengumpulan data dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar (di dalam kelas) menggunakan kuesioner yang meliputi 115 jenis pilihan makanan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perempuan menunjukkan tingkat kesukaan yang lebih besar terhadap buah (p<0.05) dan sayur (p<0.001) dibandingkan laki-laki, sedangkan kelompok laki-laki sendiri menunjukkan tingkat kesukaan yang lebih besar terhadap kategori makanan berlemak dan bergula (p<0.005), daging (p<0.001), olahan daging (p<0.001), dan telur (p<0.05) dibandingkan perempuan. Berdasarkan perbandingan usia dan jenis kelamin, tingkat kesukaan anak-anak yang paling tinggi adalah terhadap kategori makanan berlemak dan bergula, meskipun demikian tingkat kesukaan terhadap buah juga tinggi.
Pérez-Rodrigo, Ribas, Serra-Majem, dan Aranceta (2003) juga melakukan penelitian serupa dan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa secara keseluruhan menurut usia dan jenis kelamin, pisang dan apel adalah buah yang paling disukai oleh anak-anak dan dewasa muda di Spanyol. Pada kelompok sayuran, saus tomat dan aneka salad terutama salad selada dan tomat memiliki skor tertinggi, diikuti oleh wortel untuk semua umur dan jenis kelamin. Sebanyak 47% (95% CI 46-48%) sampel dilaporkan tidak menyukai sayuran dan 5.7% (95% CI 4.9-6.5%) sampel tidak menyukai buah. Proporsi individu yang mengkonsumsi buah dan sayur rendah secara signifikan masih lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilaporkan tidak menyukai sayur (x2=127.69; p<0.001); buah (x2=24.62; p<0.001); atau keduanya (x2=81.53; p<0.001). Terdapat hubungan yang signifikan antara kesukaan/ketidaksukaan terhadap buah dan sayur dengan kebiasaan mengkonsumsi kelompok ini pada anak-anak dan dewasa muda di Spanyol.
Penelitian Caine-Bish dan Scheule (2007) dilakukan terhadap 1818 pelajar kelas 3 hingga kelas 12 di salah satu sekolah di daerah Ohio. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan rendahnya preferensi terhadap sayuran. Sebaliknya, anak-anak menunjukkan tingkat kesukaan yang tinggi terhadap beberapa produk susu dan turunannya.
oleh persepsi rasa (pada semua komoditi), pengetahuan gizi (pada komoditi singkong dan jagung), pendidikan (pada komoditi kentang dan sukun), besar keluarga (pada komoditi sukun), dan status pekerjaan (pada komoditi singkong), sedangkan frekuensi konsumsi pangan sumber karbohidrat non-beras dipengaruhi oleh preferensi konsumsi (pada komoditas kentang, sukun, ubi, dan pisang), persepsi terhadap harga (pada komoditas singkong, talas, dan jagung), pengetahuan gizi (pada komoditas talas dan pisang), pendidikan (pada komodias talas dan pisang, status pekerjaan (pada komoditas sukun), dan persepsi terhadap harga (pada komoditas sukun).
Pengambilan contoh pada penelitian Krisnandika (2003) dilakukan secara purposif dengan metode kuota sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendidikan dengan merk minyak goreng yang sering dibeli. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi jenis minyak goreng yang sering dibeli contoh. Tidak terdapat hubungan yang nyata antara pengetahuan gizi dengan jenis minyak goreng yang dipilih. Tingkat pendapatan tidak memiliki hubungan nyata dengan merk minyak goreng yang dipilih.
KERANGKA PEMIKIRAN
Keterangan:
Hubungan yang diteliti Variabel yang diteliti Hubungan yang tidak diteliti Variabel yang tidak diteliti Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian Preferensi Pangan Anak Sekolah
Dasar di Kota Bogor Karakteristik Makanan
Rasa Tekstur Aroma
Karakteristik Individu
Pengetahuan Gizi Jenis Kelamin
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar
Lingkungan Sekolah
Teman sebaya
Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga
Besar Keluarga Pendapatan Keluarga
METODE
Desain, Tempat, dan Waktu
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei dengan disain penelitian cross sectional study. Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun & Effendy 1989).
Penelitian ini dilakukan di sekolah dengan tingkat sosial ekonomi menengah atas hingga bawah di Kota Bogor yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SD Bina Insani, SDN Gunung Batu I, dan SDN Balungbang Jaya 2. Pemilihan lokasi dilakukan berdasarkan pertimbangan kesediaan sekolah untuk dijadikan lokasi penelitian, serta keterbatasan waktu penelitian karena bertepatan dengan pelaksanaan ujian akhir sekolah siswa kelas 5 khususnya yang dilaksanakan pada bulan Juni. Sehingga penelitian berlangsung dari bulan Mei 2009 sampai dengan Juni 2009.
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
Keterangan: n = jumlah sampel N = populasi
e = % kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan contoh yang bisa ditolerir, yaitu 10%.
Berdasarkan perhitungan diketahui jumlah minimal contoh untuk penelitian adalah 84 orang, sehingga contoh yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 90 orang terdiri atas 45 orang laki-laki dan 45 orang perempuan. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana serta penentuan proporsi seimbang antara kedua jenis kelamin sengaja dilakukan karena berdasarkan penelitian Cooke dan Wardle (2005) dan juga Drewnowski & Hann (1999) yang menyatakan bahwa jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap preferensi pangan. Secara singkat pengambilan contoh disajikan dalam gambar 2 berikut ini.
Gambar 2 Pengambilan sampel
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil penggalian informasi dari contoh yang dilakukan melalui wawancara dan pengisian kuesioner. Kuesioner berisi pertanyaan-pertanyaan semi terbuka tentang karakteristik individu yaitu jenis kelamin dan pengetahuan gizi serta karakteristik lingkungan contoh meliputi besar keluarga dan pendapatan keluarga. Kuesioner preferensi pangan contoh mengacu pada Pedoman Umum Pemantauan dan Analisis Preferensi Pangan Masyarakat (Deptan 2008). Pangan olahan yang paling disukai dari masing-masing jenis pangan diperoleh dengan cara mengurutkan berdasarkan kesukaan
SD Bina Insani SDN Gunung Batu 1
SDN Balungbang Jaya 2
SD di Kota Bogor
L 15 org
P 15 org
L 15 org
P 15 org
L 15 org
P 15 org
Purposive
contoh terhadap produk olahan pangan tersebut, dimulai dari urutan satu sebagai yang paling disukai dan seterusnya sesuai dengan olahan pangan yang tersedia dalam kuesioner. Data sekunder yang dikumpulkan antara lain gambaran umum lokasi penelitian dan data mengenai siswa yang diperoleh dari literatur dan SD yang bersangkutan. Jenis dan cara pengumpulan data dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data
Jenis data Data Cara Pengumpulan
Data Alat Ukur Primer Karakteristik individu
Karakteristik lingkungan Preferensi Pangan
Preferensi Olahan Pangan
Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara
Kuesioner Kuesioner Kuesioner Kuesioner Sekunder Gambaran umum lokasi
penelitian
Profil sekolah -
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data ke komputer, cleaning, dan analisis data. Data dianalisis dengan metode deskriptif dan inferensia. Setelah seluruh data dientry ke dalam komputer dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS ver. 16 for Windows untuk penarikan kesimpulan.
Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan inferensia.
Tabel 2 menyajikan berbagai variabel yang diteliti dan cara pengolahan datanya, sedangkan Tabel 3 menyajikan cara analisis hubungan antar variabel yang diteliti.
Tabel 2 Data dan pengolahan data
No. Variabel Kategori Skala Dasar pengukuran 1. Jenis Kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan Nominal Sebaran contoh 2. Tingkat
No. Variabel yang dianalisis Cara analisis data 1. Jenis Kelamin Deskriptif
2. Tingkat pengetahuan gizi Deskriptif 3. Pendapatan keluarga Deskriptif 4. Besar keluarga Deskriptif 5. Pekerjaan orangtua contoh Deskriptif 6. Pendidikan orangtua contoh Deskriptif 7. Preferensi pangan dan olahan pangan Deskriptif 8. Hubungan preferensi pangan contoh
DEFINISI OPERASIONAL
Contoh adalah anak yang berusia antara 10 – 12 tahun yang duduk di kelas 5 SD Bina Insani, SD Gunung Batu I, dan SD Balungbang Jaya 2 Kota Bogor pada tahun ajaran 2008/2009.
Preferensi Pangan Anak Sekolah Dasar adalah sikap contoh terhadap berbagai jenis pangan yang diukur menggunakan skala sangat suka (5), suka (4), biasa (3), tidak suka (2) serta sangat tidak suka (1) dan juga produk olahannya yang paling disukai.
Pangan Olahan adalah makanan dan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan (PP No. 28 Tahun 2004 di dalam Deptan 2008).
Jenis kelamin adalah perbedaan contoh berdasarkan ciri biologis dengan kategori.
Pengetahuan gizi adalah tingkat pemahaman contoh terhadap gizi yang dilihat dari kemampuan menjawab pertanyaan dengan benar.
Besar Keluarga adalah banyaknya anggota dalam keluarga inti contoh.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sekolah
Penelitian dilakukan di tiga sekolah dasar yaitu SD Bina Insani, SDN Gunung Batu 1, dan SDN Balungbang Jaya 2 Kota Bogor. Pemilihan sekolah tersebut didasarkan atas pertimbangan kemudahan dalam melakukan penelitian, serta keterbatasan waktu penelitian karena bertepatan dengan pelaksanaan ujian akhir sekolah khususnya siswa kelas 5 yang dilaksanakan pada bulan Juni 2009.
Sekolah Dasar Bina Insani
Sekolah Dasar Bina Insani berdiri pada tahun 1990 dan terletak di Jalan KH. Sholeh Iskandar, Tanah Sareal Bogor. Sekolah Dasar Bina Insani merupakan organisasi profesional dalam penyelenggaraan pendidikan yang dibentuk oleh Yayasan Bina Insani sebagai upaya merealisasikan visi dan misi yayasan. SD Bina Insani dipimpin oleh kepala sekolah yang bergelar Magister. Jumlah guru/staf pengajarnya ada 53 orang, terdiri atas 22 orang guru laki-laki dan 32 orang guru perempuan. Para guru tersebut dibantu oleh 9 pegawai laki-laki dan 1 orang pegawai perempuan. Sekolah ini memiliki 149 orang siswa kelas 4 yang terdiri dari 65 orang siswa laki-laki dan 76 orang siswa perempuan, serta 124 orang siswa kelas 5 yang terdiri dari 80 orang siswa perempuan dan 68 orang siswa laki-laki. Sekolah ini mempunyai akses yang luas serta dekat dengan perumahan, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan. Sekolah ini dapat dilalui oleh beragam alat transportasi, seperti ojek, angkot, dan bis kota.
Waktu belajar dimulai pukul 07.15 WIB s.d. 14.00 WIB untuk kelas 4, 5, dan 6. Fasilitas yang dimiliki oleh sekolah meliputi fasilitas edukatif dan fasilitas pendukung. Fasilitas edukatif yang dimiliki meliputi ruang kelas, lapangan olahraga, ruang guru, perpustakaan, dan laboratorium. Fasilitas pendukung yang ada terdiri atas kantin, tempat ibadah, aula, gudang, toilet, UKS, taman, kebun sekolah dan lapangan parkir. Selain itu SD Bina Insani juga memiliki beberapa kegiatan ekstrakurikuler antara lain pramuka, paduan suara, karate, taekwondo, renang, sepak bola, drumband, Kelompok Imiah Anak, melukis, drama, tartil
Sekolah Dasar Gunung Batu 1
Sekolah Dasar Gunung Batu 1 Bogor berdiri pada tahun 1951 dan terletak di Jalan Raya Gunung Batu Loji Nomor 1. Pada awal terbentuk hanya ada satu SD yaitu SD Gunung Batu 1 tetapi kemudian pada tahun 1971 terpecah menjadi SD Gunung Batu 1 dan 2 karena jumlah siswa/peminat terlalu banyak. SD Gunung Batu 1 dipimpin oleh kepala sekolah yang bergelar Magister. SD Gunung Batu 1 memiliki 18 orang guru kelas yang 14 diantaranya bergelar sarjana, selain itu juga memiliki guru mata pelajaran yang terdiri dari mata pelajaran penjaskes, pendidikan agama, bahasa inggris, teknologi informasi dan komunikasi, multimedia bahasa inggris, serta pencak silat keseluruhan berjumlah 8 orang. Pegawai atau selain staf pengajar sebanyak 3 orang terdiri dari penjaga sekolah dan satpam sekolah. Saat ini siswa kelas 4 SD Gunung Batu 1 berjumlah 125 orang terdiri dari 74 orang siswa laki-laki dan 51 orang siswa perempuan, serta 76 orang siswa kelas 5 dengan siswa laki-laki berjumlah 46 orang dan 30 orang siswa perempuan. Akses sekolah sangat luas karena terletak di pinggir jalan raya dan dilalui oleh beragam angkutan kota serta alat transportasi lainnya. Selain itu juga lokasinya dekat dengan perumahan dan hypermarket.
Fasilitas yang dimiliki oleh SD Gunung Batu 1 antara lain 11 ruang belajar/kelas, Ruang Kepala sekolah/perpustakaan, ruang guru, ruang UKS, ruang Komputer, ruang Laboratorium Bahasa, dan Koperasi sekolah masing-masing sebanyak 1 ruangan. Selanjutnya terdapat 2 toilet guru dan 4 toilet siswa, dan juga 1 ruang Musholla. Waktu belajar di SD Gunung Batu 1 dimulai pukul 10.00 WIB s.d. pukul 14.30 WIB untuk kelas 5 dari hari Senin hingga Sabtu. Sekolah Dasar Gunung Batu 1 menyediakan kelas bilingual dengan mata pelajaran yang dikembangkan adalah IPA dan Matematika. Sebelum tahun 2009 SD Gunung Batu 1 menetapkan biaya tambahan sebesar Rp20 000 per bulan tetapi sejak tahun 2009 SD Gunung Batu 1 telah menjadi SD Gratis berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota Bogor.
ekstrakurikuler yang dilaksanakan di luar jam pelajaran selalu dilaksanakan pada hari Kamis dan terbagi lagi menjadi empat bidang yaitu :
1. Bidang Olahraga : Futsal dan Catur
2. Bidang Akademik : Matematika Nalaria Realistik dan Bahasa Inggris
3. Bidang Agama, Kesenian, Keterampilan, dan Kecakapan : Seni gambar/Lukis, Bina Vokalia, Seni Tari, dan pengembangan Agama
4. Bidang Lingkungan Hidup : Dokter Cilik dan Pramuka
Sekolah Dasar Balungbang Jaya 2
SD Balungbang Jaya 2 terletak di Jalan Swadaya Babakan Lebak, kecamatan Bogor Barat. SD Balungbang Jaya 2 dipimpin oleh kepala sekolah dengan pendidikan terakhir D3 dan memiliki sembilan orang guru serta satu orang karyawan yang bertugas sebagai penjaga sekolah. Jumlah siswa kelas 4 di SD Balungbang Jaya 2 seluruhnya ada 40 orang terdiri dari 20 orang siswa laki-laki dan 20 orang siswa perempuan, sementara siswa kelas 5 berjumlah 26 orang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Fasilitas yang dimiliki oleh SD Balungbang Jaya 2 antara lain 6 ruang kelas, 1 kantor yang dilengkapi dengan 1 unit komputer, 1 perpustakaan, 3 kamar mandi, dan 1 ruang Unit Kesehatan sekolah (UKS). Sekolah ini memiliki akses yang terbatas karena lokasi yang relatif terpencil. SD Balungbang Jaya 2 merupakan SD gratis, sehingga untuk bantuan operasional murni didapatkan dari pemerintah antara lain berupa buku paket dan biaya operasional. Biaya operasional berasal dari pusat sebesar Rp100 000 dan propinsi sebesar Rp25 000. Berdasarkan keterangan dari kepala sekolah sekitar 30% orang tua siswa tidak lulus Sekolah Dasar dan bekerja sebagai buruh kasar. Waktu belajar dimulai pukul 07.30 WIB s.d. pukul 12.00 WIB. SD Balungbang Jaya 2 memiliki kegiatan ektrakurikuler yang dapat diikuti oleh siswa antara lain Pramuka dan Bahasa Arab yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali, khusus kegiatan Pramuka dilaksanakan pada hari Rabu.
Karakteristik Keluarga Contoh
Besar Keluarga
dan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga lebih atau sama dengan delapan orang (Hurlock 1980). Menurut Martianto dan Ariani (2004) besar keluarga akan mempengaruhi pendapatan per kapita dan pengeluaran untuk konsumsi pangan. Pangan yang tersedia untuk satu keluarga, mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga tersebut tetapi hanya mencukupi sebagian dari anggota keluarga itu (Martianto & Ariani 2004).
Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa separuh dari keluarga contoh laki-laki atau sebesar 51.1% termasuk dalam golongan keluarga kecil dan hampir setengah dari contoh perempuan atau sebesar 48.9% termasuk dalam keluarga sedang. Secara keseluruhan, rata-rata jumlah anggota keluarga contoh adalah empat orang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga contoh, baik contoh laki-laki maupun perempuan merupakan keluarga kecil.
Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga
Besar Keluarga Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
Keluarga Kecil 23 51.1 21 46.7 44 48.9
Keluarga Sedang 20 44.4 22 48.9 42 46.7 Keluarga Besar 2 4.4 2 4.4 4 4.4
Total 45 100 45 100 90 100
Rata-rata ± SD (orang) 4.82±1.21 4.73±1.18 4.78 ± 1.19
Pendidikan Orangtua
Guhardja, Puspitawati, Hartoyo, dan Hastuti (1992) menyatakan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pendapatan keluarga. Orang dengan tingkat pendidikan tinggi biasanya memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik, sehingga pada umumnya akan mendapatkan gaji atau pendapatan yang tinggi pula.
Pendidikan orang tua contoh tersebar pada berbagai tingkat pendidikan antara lain tidak/belum tamat SD, SD/setara, SMP/setara, SMA/setara, Diploma, dan Perguruan Tinggi. Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa sebagian besar ayah contoh laki-laki (37.8%) pendidikan terakhirnya adalah perguruan tinggi, sedangkan pada contoh perempuan sebanyak 33.3% ayahnya berpendidikan terakhir SMA/setara. Demikian halnya dengan ibu contoh, sebanyak 26.7% ibu contoh laki-laki berpendidikan terakhir perguruan tinggi dan 28.9% ibu contoh perempuan berpendidikan terakhir SMA/setara.
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan pendidikan terakhir orang tua
Orang tua Pendidikan terakhir
Jenis Kelamin
Total Laki-laki Perempuan
n % n % n % Ayah Tidak sekolah/tidak tamat SD 1 2.2 4 8.9 5 5.6
SD/setara 6 13.3 5 11.1 11 12.2 SMP/setara 8 17.8 6 13.3 14 15.6 SMA/setara 9 20.0 15 33.3 24 26.7 Diploma 4 8.9 2 4.4 6 6.6 Perguruan tinggi 17 37.8 13 28.9 30 33.3
Total 45 100 45 100 90 100 Ibu Tidak sekolah/tidak tamat SD 2 4.4 4 8.9 6 6.6 SD/setara 11 24.4 9 20.0 20 22.2 SMP/setara 4 8.9 5 11.1 9 10.0 SMA/setara 8 17.8 13 28.9 21 23.3 Diploma 8 17.8 3 6.7 11 12.2 Perguruan tinggi 12 26.7 11 24.4 23 25.7
Total 45 100 45 100 90 100
Secara keseluruhan baik pendidikan terakhir ayah maupun ibu contoh adalah Perguruan Tinggi. Hal ini diduga karena lokasi penelitian berada di daerah perkotaan sehingga akses terhadap fasilitas pendidikan sangat luas dan mudah, selain itu juga disebabkan tingginya kesadaran untuk belajar dari orang tua contoh.
Pekerjaan Orangtua
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orang tua
Orang
tua Pekerjaan Orang tua
Jenis Kelamin
Total Laki-laki Perempuan
n % n % n % Ayah Tidak bekerja/almarhum 2 4.4 2 4.4 4 4.4 Pegawai Negeri Sipil/POLRI/ABRI 8 17.8 3 6.7 11 12.2 Pegawai Swasta/BUMN 12 26.7 13 28.9 25 27.8
Pedagang 4 8.9 3 6.7 7 7.8 Petani 1 2.2 2 4.4 3 3.3 Wiraswasta 10 22.2 12 26.7 22 24.4 Jasa 5 11.1 9 20 14 15.7 Lainnya* 3 6.7 1 2.2 4 4.4 Total 45 100 45 100 90 100 Ibu Tidak bekerja/almarhum 0 0 1 2.2 1 1.1 Pegawai Negeri Sipil/POLRI/ABRI 4 8.9 4 8.9 8 8.9 Pegawai Swasta/BUMN 4 8.9 2 4.4 6 6.7 Pedagang 4 8.9 3 6.7 7 7.8 Wiraswasta 5 11.1 6 13.3 11 12.2 Jasa 3 6.7 2 4.4 5 5.6 Ibu rumah Tangga 23 51.1 26 57.8 49 54.4
Lainnya* 2 4.4 1 2.2 3 3.3 Total 45 100 45 100 90 100 Keterangan: * Lainnya termasuk guru, wiraseni, dan pensiunan
Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga merupakan jumlah penghasilan yang berasal dari orang tua contoh yang dinilai dengan uang dalam kurun waktu satu bulan terakhir yang dinyatakan dalam rupiah/kapita/bulan. Pendapatan yang tinggi umumnya didukung juga dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Sanjur (1982) menyatakan tingkat pendapatan yang tinggi akan memberikan peluang yang lebih besar untuk memilih pangan yang baik. Selain itu juga dikemukakan bahwa pendapatan per kapita berhubungan erat dengan besar keluarga. Semakin besar ukuran keluarga maka pendapatan per kapita yang diterima akan semakin kecil.
Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa golongan pendapatan keluarga sebagian besar baik contoh laki-laki maupun perempuan termasuk dalam golongan pendapatan tinggi dengan pendapatan per kapita per bulan rata-rata sebesar Rp940 030. Tingginya pendapatan keluarga per kapita contoh disebabkan tingginya tingkat pendidikan dan pekerjaan orangtua contoh. Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa pendapatan keluarga contoh berhubungan dengan pendidikan orang tua contoh dan pekerjaan ayah contoh (p<0.01). Menurut Rita (2002) tingkat pendapatan ditentukan oleh jenis pekerjaan. Pendapatan yang tinggi berarti memiliki pekerjaan yang lebih baik dan membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi pula.
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga per kapita per bulan
Golongan Pendapatan Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
Rendah 14 31.1 18 40.0 32 35.6 Sedang 7 15.6 8 17.8 15 16.7 Tinggi 24 53.3 19 42.2 43 47.8
Total 45 100 45 100 90 100 Rata-rata ± SB (Rupiah) 981 862
±1 046 373
898 198 ±1 144 049
940 030 ±1 090 935
Karakteristik Contoh
Jenis Kelamin
Contoh dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Pengambilan proporsi yang sama antara jenis kelamin contoh laki-laki dan perempuan sengaja dilakukan sebab akan dijadikan kelompok yang dibandingkan. Keseluruhan contoh terdiri dari 45 contoh laki-laki dan 45 contoh perempuan yang berasal dari tiga sekolah dasar.
Tingkat Pengetahuan Gizi
Pertanyaan gizi yang diajukan kepada contoh seluruhnya berjumlah 20 buah. Terlihat bahwa persentase contoh perempuan yang menjawab pertanyaan dengan benar lebih tinggi dibandingkan dengan contoh laki-laki. Pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan benar oleh contoh dari semua pertanyaan yang diajukan adalah mengenai konsep makanan dan minuman bergizi (92.2%). Tingginya persentase contoh yang mampu menjawab pertanyaan mengenai konsep makanan dan minuman bergizi dengan benar diduga karena pertanyaan tersebut merupakan hal yang sudah umum diketahui oleh contoh. Sementara itu, pertanyaan yang paling sedikit dijawab dengan benar adalah mengenai fungsi zat gizi protein dalam tubuh (13.3%). Ketidakmampuan contoh dalam menjawab pertanyaan tersebut dengan benar diduga disebabkan pertanyaan tersebut terlalu spesifik dan contoh belum pernah mempelajarinya.
Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan jawaban pengetahuan gizi yang benar
No Pertanyaan Laki-laki Perempuan Total n % n % n % 1 Makanan dan minuman bergizi 42 93.3 41 91.1 83 92.2
2 Aneka ragam makanan 41 91.1 35 77.8 76 84.4 3 Jenis zat gizi 37 82.2 42 93.3 79 87.8 4 Sumber karbohidrat 25 55.6 20 44.4 45 50.0 5 Sumber protein 6 13.3 6 13.3 12 13.3
6 Kandungan minyak 27 60.0 35 77.8 62 68.9 7 Kandungan kangkung 22 48.9 23 51.1 45 50.0 8 Sumber lain karbohidrat 28 62.2 24 53.3 52 57.8 9 Sumber lain protein 25 55.6 22 48.9 47 52.2 10 Sumber lemak 13 28.9 21 46.7 34 37.8 11 Sumber serat 24 53.3 23 51.1 47 52.2 12 Sumber vitamin A 22 48.9 17 37.8 39 43.3 13 Fungsi karbohidrat 38 84.4 37 82.2 75 83.3 14 Fungsi protein 10 22.2 15 33.3 25 27.8 15 Fungsi serat 35 77.8 32 71.1 67 74.4 16 Fungsi vitamin A 35 77.8 40 88.9 75 83.3 17 Akibat kurang konsumsi karbohidrat 34 75.6 39 86.7 73 81.1 18 Akibat kurang konsumsi protein 17 37.8 21 46.7 38 42.2 19 Akibat kurang konsumsi serat 27 60.0 34 75.6 61 67.8 20 Akibat kurang konsumsi vitamin A 37 82.2 35 77.8 72 80.0