Analisis Prediksi Kebangkrutan Pada Perusahaan Perbankan Yang Telah Go Publik Di Bursa Efek Indonesia (Dengan Menggunakan Metode Altman Z-Score)

80  28 

Teks penuh

(1)

1 SKRIPSI

ANALISIS PREDIKSI KEBANGKRUTAN PADA PERUSAHAAN PERBANKKAN YANG TELAH GO PUBLIK DI BURSA EFEK

INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ALTMAN Z-SCORE

OLEH

EFCA DWIYANTA PASARIBU 110522060

PROGRAM STUDI AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)

i ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji prediksi kebangkrutan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Karena perbankan mengambil peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Dengan menggunakan metode Altman Z-score untuk melihat seberapa besar prediksi kebangkrutan periode 2009-2011 di perusahaan perbankan. Menghitung masing-masing prediksi kebangkrutan pada setiap bank yang berjumlah 10 bank.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan bank yang berada pada Bursa Efek Indonesia. Teknik analisis yang digunakan adalah model prediksi kebangkrutan Altman Z-score. Dengan menggunakan lima variabel yang mewakili rasio likuiditas X1, profitabilitas X2 dan X3, aktivitas X4 dan X5. Memiliki rumus Z-Score = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5. Dengan kriteria penilaian Z-Score > 2,99 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat. 1,81 < Z-Score < 2,99 berada di grey area sehingga kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan bangkrut sama besarnya tergantung dari keputusan kebijaksanaan manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan.

Z-Score < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga kemungkian bangkrutnya sangat besar. Selama Periode pengamatan menunjukkan bahwa data penelitian sebanyak 10 bank go public masih ada beberapa yang berada dalam keadaan bangkrut. Tahun 2009, 95% bank mengalami prediksi kebangkrutan dengan nilai di bawah 1,88 dan 5% berada pada sehat. Tahun 2010, ada beberapa bank yang mengalami perbaikan kondisi keuangan dengan adanya 45% bank berada dalam kondisi sehat, 50% bangkrut dan 5% berada pada grey area. Tahun 2011, mengalami peningkatan untuk kondisi bangkrut yaitu sebesar 45%, 5% grey area dan sisanya sebesar 50 % berada dalam kondisi Sehat.

(4)

ii ABSTRACT

This study aims to test the prediction of insolvency in the banking company which listed on Indonesia Stock Exchange. It is due to because the banks play an important role in Indonesia's economy. The method of Altman Z-score is used to see how big the 2009-2011 period bankruptcy prediction in banking companies by counting each of the bankruptcy prediction on each bank of 10 banks.

The data used in this study is the bank's annual financial report that is on the Indonesia Stock Exchange. The analysis technique used is the predictive model of Altman Z-score bankruptcy to which it applies the five variables representing liquidity ratios X1, X2 and X3 profitability, activity X4 and X5. It has the formula Score = 1.2 X1 + 1.4 X2 + 3.3 X3 + 0.6 X4 + 1.0 X5 within the Z-Score assessment criteria> 2.99 is categorized as a very healthy company. 1.81 <Z-score <2.99 are in gray areas so that the chances were saved and the possibility of bankruptcy as much depends on the company's management policy decisions as decision makers.

Z-score <1.81 is categorized as a company that has enormous financial difficulties and are at high risk so that the possibility of bankruptcy is very large. During the observations point out that there are still in a state of bankruptcy for the research data as many as 20 public banks. In 2009, 95% of the bank had predicted bankruptcy with a value under 1.88 and 5% are in the healthy condition. In 2010, there are some banks that have improved financial conditions in the presence of 45% of banks which are in a healthy condition, 50% went bankrupt and 5% are in gray areas. In 2011, it has increased onto a healthy condition that is equal with 45%, 5% gray areas and the rest are in 50% a healthy condition.

(5)

iii

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik .

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Analisis Prediksi Kebangkrutan pada Perusahaan Perbankan yang telah Go Publik di Bursa Efek Indonesia (dengan Menggunakan Metode Altman Z-Score)” yang merupakan salah satu syarat kelulusan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada yang terhoramat :

1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, S.E., M.Ec.,Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Chairul Nazwar Msi, Ak selaku dosen pembimbing yang telah berkenan dan berbaik hati memberikan waktu, arahan, dan bimbingan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Bapak Drs. Sucipto, MM,Ak selaku dosen pembaca sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai dengan baik.

(6)

iv

5. Kepada Orang Tua dan seluruh keluarga saya terkhusus AYAH saya yang mana telah memberikan banyak cinta dan kasih sayang, dukungan, doa, waktu dan dana dalam penyusunan skripsi ini dan dalam studi yang saya tempuh selama ini.

6. Dan kepada teman terbaik saya Idarniaty B.Nahor, Sarah Samosir, Bonni Hutabalian dan seluruh teman yang banyak membantu dalam memberikan dukungan dan informasi dalam penulisan skripsi ini serta memberikan dukungan, doa dan motivasi agar penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Mengingat keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, maka penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi in masih jauh dari kesempurnaan, walaupun demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.

Medan, Januari 2015

(7)

v

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebangkrutan ... 8

1. Pengertian Kebangkrutan ... 8

2. Fakror-faktor Penyebab Kebangkrutan ... 10

2.2 Kebangkrutan Bank ... 11

1. Faktor-Faktor penilaian Tingkat Kesehatan Bank... 12

2. Model Prediksi Keuangan Bank ... 14

5. Keterbatasan Laporan Keuangan ... 25

6. Komponen Laporan Keuangan ... 27

7. Pihak yang Berkepentingan Terhadap Laporan Keuangan... 31

2.4 Penelitian Terdahulu ... 34

(8)

vi

2.6 Hipotesis Penelitian ... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 43

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 43

1. Tempat Penelitian ... 43

2. Waktu Penelitian ... 43

3.3 Definisi Oprasional Variabel ... 44

3.5 Populasi dan Sampel ... 46

3.6 Obyek Penelitian, Jenis dan Sumber Data ... 49

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 50

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Kondisi Rasio-rasio Keuangan Dengan Metode Altman Z- Score ... 51

2. Bagi Penelitian Selanjutnya ... 65

3. Keterbatasan dalam Penelitian ... 66

(9)

vii

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Daftar Bank yang Take Over dan Likuidsi ... 2

3.1 Daftar seleksi Sampel Penelitian ... 48

3.2 Daftar Sampel Perusahaan ... 49

4.1 Hasil Perhitungan Working Capital to Total Asset ... 53

4.2 Hasil Perhitungan Retained Earning to Total Asset ... 55

4.3 Hasil Perhitungan Earning Before Tax to Total Asset ... 56

4.4 Hasil Perhitungan Market Value of Equity to Book Value of Liabilities ... 57

4.5 Hasil Perhitungan Sales to Total asset... 59

4.6 Hasil Perhitungan Z – Score ... 61

(10)

viii

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

(11)

i ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji prediksi kebangkrutan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Karena perbankan mengambil peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Dengan menggunakan metode Altman Z-score untuk melihat seberapa besar prediksi kebangkrutan periode 2009-2011 di perusahaan perbankan. Menghitung masing-masing prediksi kebangkrutan pada setiap bank yang berjumlah 10 bank.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan bank yang berada pada Bursa Efek Indonesia. Teknik analisis yang digunakan adalah model prediksi kebangkrutan Altman Z-score. Dengan menggunakan lima variabel yang mewakili rasio likuiditas X1, profitabilitas X2 dan X3, aktivitas X4 dan X5. Memiliki rumus Z-Score = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5. Dengan kriteria penilaian Z-Score > 2,99 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat. 1,81 < Z-Score < 2,99 berada di grey area sehingga kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan bangkrut sama besarnya tergantung dari keputusan kebijaksanaan manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan.

Z-Score < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga kemungkian bangkrutnya sangat besar. Selama Periode pengamatan menunjukkan bahwa data penelitian sebanyak 10 bank go public masih ada beberapa yang berada dalam keadaan bangkrut. Tahun 2009, 95% bank mengalami prediksi kebangkrutan dengan nilai di bawah 1,88 dan 5% berada pada sehat. Tahun 2010, ada beberapa bank yang mengalami perbaikan kondisi keuangan dengan adanya 45% bank berada dalam kondisi sehat, 50% bangkrut dan 5% berada pada grey area. Tahun 2011, mengalami peningkatan untuk kondisi bangkrut yaitu sebesar 45%, 5% grey area dan sisanya sebesar 50 % berada dalam kondisi Sehat.

(12)

ii ABSTRACT

This study aims to test the prediction of insolvency in the banking company which listed on Indonesia Stock Exchange. It is due to because the banks play an important role in Indonesia's economy. The method of Altman Z-score is used to see how big the 2009-2011 period bankruptcy prediction in banking companies by counting each of the bankruptcy prediction on each bank of 10 banks.

The data used in this study is the bank's annual financial report that is on the Indonesia Stock Exchange. The analysis technique used is the predictive model of Altman Z-score bankruptcy to which it applies the five variables representing liquidity ratios X1, X2 and X3 profitability, activity X4 and X5. It has the formula Score = 1.2 X1 + 1.4 X2 + 3.3 X3 + 0.6 X4 + 1.0 X5 within the Z-Score assessment criteria> 2.99 is categorized as a very healthy company. 1.81 <Z-score <2.99 are in gray areas so that the chances were saved and the possibility of bankruptcy as much depends on the company's management policy decisions as decision makers.

Z-score <1.81 is categorized as a company that has enormous financial difficulties and are at high risk so that the possibility of bankruptcy is very large. During the observations point out that there are still in a state of bankruptcy for the research data as many as 20 public banks. In 2009, 95% of the bank had predicted bankruptcy with a value under 1.88 and 5% are in the healthy condition. In 2010, there are some banks that have improved financial conditions in the presence of 45% of banks which are in a healthy condition, 50% went bankrupt and 5% are in gray areas. In 2011, it has increased onto a healthy condition that is equal with 45%, 5% gray areas and the rest are in 50% a healthy condition.

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Penelitian

Perekonomian tumbuh dan berkembang dengan berbagai macam lembaga keuangan. Salah satu di antara lembaga-lembaga keuangan adalah Bank yang juga merupakan lembaga yang nampaknya paling besar peranannya dalam perekonomian juga melimpahnya jenis tabungan yang di promosikan oleh perbankan sebagai unit yang akan menarik perhatiamn nasabah. Bank merupakan salah satu wadah yang dimiliki pemerintah dalam melaksanakan fungsi kebijakan moneter. Bank sebagai institusi yang bertujuan untuk memperoleh laba, dimana dalam hal ini bank tidak akan lepas dari fungsinya dalam mencari laba yang tinggi dan untuk memberi keuntungan maksimal bagi pemegang saham. Bank menurut Undang - Undang No.10 tahun 1998, adalah usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat.

(14)

2

Sejak tahun 1998 sampai sekarang jumlah bank yang take over dan dilikuidasi lebih dari 40 bank, yaitu sebagai berikut:

Tabel 1.1

Bank yang take over dan likuidasi

1 Bank Duta

1 Bank Aken 21 Bank Mashill

2 Bank Sahid Gajah Perkasa 22 Bank Arya Pandu Arta

3 Bank Psp 23 Bank Central Dagang

4 Bank Namura 24 Bank Bahari

5 Bank Dana Asia 25 Bank Ciputra

6 Bank Budi Internasional 26 Bank Metropolitan Raya

7 Bank Yakin Makmur 27 Bank Alfa

8 Bank Lautan Berlian 28 Bank Kharisma

9 Bank Dana Hutama 29 Bank Dewa Ruci

10 Bank Orient 30 Bank Bumi Raya Utama

11 Bank Papan Sejahtera 31 Bank Baja

12 Bank Pesona 32 Bank Sanho

13 Bank Tata 33 Bank Dagang dan Industri

14 Bank Intan 34 Bank Sinno

15 Bank Aspac 35 Bank Ficorinves

16 Bank sewu 36 Bank Uppindo

17 Bank Hastin 37 Bank BPD indonesia

18 Bank Indonesia Raya 38 Bank Indotrade

19 Bank Umum Sertivia

20 Bank Dharmala

Bank Take Over tahun 1998

Bank Likuidasi 1998 - 2005

S umber : www.kompos .com (6/98/12)

(15)

3

pendapatan dan pengeluaran. Sementara itu, kegagalan keuangan disebabkan oleh biaya modal perusahaan yang lebih besar dari pada tingkat laba biaya historis investasi. Terjadinya likuidasi pada sejumlah bank telah menimbulkan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan stakeholder

dan shareholder. Hal ini sebenarnya tidak akan menimbulkan masalah yang lebih besar jika proses likuidasinya pada sebuah lembaga perbangkan dapat diprediksi lebih dini sehingga dapat diprediksi lebih dini sehingga dapat dilakukan tindakan-tidakan yang tidak saling merugikan(Ali Nurdin.2005). Dengan melakukan analisis secara mendalam terhadap keuangan, tanda-tanda melemahnya kondisi fundamental perusahaan dapat terlihat. Walaupun begitu, apabila penggunaan rasio-rasio yang jika dipergunakan secara bersamaan terkadang memberikan hasil yang saling bertentangan.

(16)

4

perusahaan untuk mengalami kesulitan keuangan atau bahkan kebangkrutan. Kesalahan prediksi terhadap kelangsungan operasi suatu perusahaan di masa yang akan datang dapat berakibat fatal, pentingnya suatu model prediksi kebangkrutan suatu perusahaan menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak seperti pemberi pinjaman, investor, pemerintah, akuntan, dan manajemen. Sehingga bank sangat memerhatikan kinerjanya, dengan kata lain yaitu bagaimana kinerja perusahaan bank tersebut. Banyak para pemegang rekening giro, deposito ataupun tabungan ingin mengetahui seberapa besar perusahaan ini dapat bertahan atau berapa besar prediksi kebangkrutannya. Untuk mendapatkan info ini, dinilai dengan beberapa indikator. Salah satu indikator utama yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan bank yang bersangkutan.

Penelitian ini meupakan replikasi dari peneliti Ali Nudrin dengan judul penelitian “ Analisis Prediksi Kebangkrutan pada Perbankkan Go Public di BursaEfek Jakarta, yaitu pada tahun 2005, dengan Periode penelitian antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2003,” perbedaan penelitian ini dengan peneliti sebelumnya terletak pada periode tahun penelitian tetapi memiliki kesamaan pada menemukan analisa rasio dan jenis perusahaan yang diteliti.

(17)

5

profitabilitas, dan rasio aktivitas. Alat ukur yang digunakan untuk menghitung rasio keuangan dengan pendekatan Altman Z – Score yaitu,

working capital to total assets ratio, retained earnings to total assets ratio

,earning before interest taxes to total assets ratio, market value of equity to

book value of Liabilities ratio, sales to total assets ratio.

Analisis rasio tidak memberikan jawaban, kecuali hanya menyediakan rambu-rambu tentang apa yang seharusnya diharapkan. Disisi lain informasi tentang prediksi kebangkrutan sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak, baik pihak intern maupun ekstern sebagai dasar untuk mengevaluasi dan perbaikan kinerja dimasa yang akan datang.

(18)

6

Adanya fakta yang terjadi tersebut memerlukan penyelesaian yang serius, untuk itu diperlukan suatu kajian mengenai model analisis untuk memprediksi adanya kemungkinan likuidasi terhadap perusahaan perbankkan beserta ketetapan prediksi kebangrutan tersebut terhadap terjadinya kasus likuidasi perbankkan go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Dengan harapan dapat menjadi masukan bagi para pihak – pihak yang berkepentingan supaya dapat dilakukan tindakan pencegahan yang terbaik sejak dini. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Analisis Prediksi Kebangkrutan pada Perusahaan perbankan Go Public di Bursa Efek Indonesia (Dengan Menggunakan metode Altman Z-Score).”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang masalah dan penelitian-penelitian empiris, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah Bagaimana memprediksi kebangkrutan pada perusahaan perbankan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan metode Altman Z-score?

1.3 Tujuan Penelitian

(19)

7 1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

a. Mengembangkan teori tentang kebangkrutan dengan metode Untuk Almant Z-Score

b. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat untuk membandingkan antaraaplikasi yang ada dengan teori yang dipelajari, dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat memberikan maanfaat.

2. Manfaat praktis

a. Bagi perusahaan, penelitian ini dapat diharapkan dapat menjadi sebuah evaluasi bagi kebijakan yang telah dikeluarkan dalam memahami kinerja perusahaan.

(20)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebangkrutan

1. Pengertian Kebangkrutan

Analisis kebangkrutan merupakan analisis untuk memperoleh tanda-tanda awal tentang kebangkrutan. Kebangkrutan (bankcruptcy) biasanya diartikan secara awam adalah sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba sedangkan menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1998 dimana suatu institusi dinyatakan oleh keputusan pengadilan bila debitur memiliki dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Sedangkan menurut Menurut Lesmana (2003:174) definisi kebangkrutan adalah sebagai berikut “Resiko kebangkrutan berhubungan dengan ketidakpastian mengenai kemampuan atas suatu perusahaan untuk melanjutkan kegiatan operasinya jika kondisi keuangan yang dimiliki mengalami penurunan”

(21)

9

Kebangkrutan dapat juga diartikan sebagai likuiditas perusahaan atau penutupan perusahaan ataupun insolvabilitas. Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan terjadi pada sebuah perusahaan didefinisikan dalam beberapa pengertian yaitu ;

a. Kegagalan ekonomi (Economic Distressed)

Kegagalan dalam ekonomi berarti bahwa perusahaan kehilangan uang attau pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti bahwa perusahaan memiliki tingkat laba lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah investasi tersebut.

b. Kegagalan keuangan (Finacial Distressed)

(22)

10 1). Insolvensi teknis

Perusahaan bias dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo, walaupun total aktiva melebihi total utang atau terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva lancar terhadap utang lancar yang telah ditetapkan atau rasio kekayaan bersih terhadap total aktiva yang diisyaratkan. Insolvensi teknis juga terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran bunga atau pembayaran kembali pokok pada tanggal tertentu.

2). Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan Insolvensi dalam pengerian kebangkrutan diidentifikasi dalam ukuran sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.

2. Faktor-Faktor Penyebab Kebangkrutan

(23)

11

pada perusahaan adalah factor umum, perusahaan, faktor eksternal pefactor internal perusahaan.

a. Faktor Umum

1). Sektor Ekonomi 2). Sektor Sosial 3). Teknologi

4). Sektor Pemerintah

5). Faktor Eksternal Perusahaan 6). Faktor pelanggan atau nasabah 7). Faktor pemasok / kreditur 8). Faktor pesaing / bank lain b. Faktor Internal Perusahaan

Faktor - Faktor yang menyebabkan kebangkrutan secara internal sebagai berikut :

1). Terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada nasabah sehingga akan menyebabkan adanya penunggakan dalam pembayaran sampai akhirnya tidak dapat membayar. 2). Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan dimana sering

dilakukan oleh karyawan, bahkan pimpinan.

2.2 Kebankrutan Bank

(24)

12

simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dari pengertian di atas dapat dijelaskan secara lebih luas bahwa kebangkrutan pada bank atau juga disebut likuidasi perusahaan atau penutupan peusahaan perbankkan ataupun insolvabilitas. Perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. (Kasmir, 2008 : 25-26). Kebangkrutan pada perbankkan dapat di lihat dari :

1. Faktor - faktor Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, penilaian tingkat kesehatan bank mencakup penilaian terhadap faktor-faktor sebagai berikut:

(25)

13

b. Asset Quality : Penilaian terhadap faktor kualitas aset meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: kualitas aktiva produktif, konsentrasi eksposur risiko kredit, perkembangan aktiva produktif bermasalah, dan kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP), kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem kaji ulang (review) internal, sistem dokumentasi, dan kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.

c. Management : Penilaian terhadap faktor manajemen meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: kualitas manajemen umum dan penerapan manajemen resiko ; Kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku dan komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.

d. Earning : Penilaian terhadap faktor rentabilitas meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: pencapaian

return on assets (ROA), return on equity (ROE), net interest margin (NIM), dan tingkat efisiensi Bank; perkembangan laba operasional, diversifikasi pendapatan, penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya, dan prospek laba operasional.

(26)

14

Deposit Ratio (LDR), proyeksi cash flow, dan konsentrasi pendanaan, kecukupan kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management / ALMA), akses kepada sumber pendanaan, dan stabilitas pendanaan.

f. Sensitivity to Market Risk : Penilaian terhadap faktor sensitivitas terhadap risiko pasar meliputi penilaian terhadap komponen - komponen sebagai berikut: kemampuan modal Bank dalam mengcover potensi kerugian sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga dan nilai tukar kecukupan penerapan manajemen risiko pasar.

2. Model Prediksi Keuangan Bank

Dalam prediksi keuangan kita mengenal beberapa model antara lain (Sofyan Syafri Harahap, 2009 : 343-350):

a. Linear Programming digunakan untuk merencanakan prediksi kombinasi input biaya yang paling optimal untuk menghasilkan suatu atau beberapa produk output.

b. Delphi forcasting sistem ini hampir sama dengan metode expert system. Di sini metode expert system disempurnakan dengan menggunakan metode diskusi antara para ahli, debat, dan akhirnya sampai pada kesimpulan terbaik yang merupakan konsensus para ahli.

(27)

15

garis tren yang terbaik kemudian dari kecenderungan garis dilihat angka masa depan sebagai angka ramalan.

d. Break Even Analysis Model ini mencoba mencari dan menganalisis perilaku hubungan antara besarnya biaya, besarnya volume dalam unit rupiah dan laba.

e. Just in time Model yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan mnekan pemborosan dan ketidakefesienan lainnya.

3. Rasio Keuangan Bank

Menurut Muljono (dalam Endri : 2005), rasio keuangan bank terdiri dari:

a. Rasio likuiditas bank : Rasio likuiditas bank digunakan untuk mengetahui kemampuan bank memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo.

b. Rasio rentabilitas bank : Rasio rentabilitas bank untuk mengetahui kemampuan bank di dalam menghasilkan laba dari operasi usaha.

c. Rasio risiko usaha bank : Rasio risiko usaha bank digunakan untuk mengukur besarnya risiko-risiko dalam menjalankan usahanya. d. Rasio permodalan : Analisa rasio permodalan sering disebut

(28)

16

yang akan dilakukan secara efisien dan mapu untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan.

e. Rasio efisiensi usaha : Rasio efisiensi usaha digunakan untuk mengukur performance manajemen suatu bank apakah telah menggunakan semua faktor-faktor produksinya dengan tepat guna dan berhasil guna serta tingkat efisiensi manajemen bank.

4. Analisis Rasio Keuangan Bank

(29)

17

perbandingan tersebut dengan rasio lain maka dapat diambil penilain dan kita dapat memperoleh informasi yang lebih cepat. Keunggulan analisis rasio yaitu analisis rasio mempunyai keunggulan - keungulan yang membuat analisis tersebut banyak dipergunakan oleh banyak perusahaan ataupun perusahaan jasa. Keunggulan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar satatistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.

b. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan sangat rumit. c. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industry lainnya.

d. sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi.

e. Menstandarisir size perusahaan

f. Lebih mudah membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodic atau “time-series”.

(30)

18 2.3 Laporan Keuangan

1. Laporan Keuangan

Laporan keuangan mengambarkan tentang bagaimana susunan kekayaan yang dimiliki perusahaan dan bagaimana perusahaan memperoleh sumber - sumber kekayaan tersebut dan dan juga untuk melihat perkembangan perusahaan, hal ini akan menunjukkan menajeman telah mengelola perusahaannya dengan baik. Menurut Darsono dan Asharo (2005 : 4) menyatakan bahwa laporan keuangan adalah sebagai berikut :

“ Keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang disebut dengan siklus akuntansi. Laporan keuangan menunjukkan posisi sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan selama satu periode “

Sedangkan Martono dan Agus (2010 : 51) berpendapat berikut : “Laporan keuangan(Financial Statement) merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahan pada suatu saat tertentu”.

Sedangkan menurut Myers yang dikutip oleh Munawir (2004:5) menyatakan bahwa :

(31)

19

Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Standar Akuntansi Keuangan, laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

2. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut APB statement No. 4 digolongkan sebagai berikut :

a. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan General Accepted Accounting Principle (GAAP).

b. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari laporan keuangan adalah sebagai berikut

1). Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi dan kewajiban perusahaan dengan maksud :

(32)

20

4). Untuk menilai kemampuannya untuk menyelasikan utang-utangnya.

5). Menunjukkan kemampuan sumber-sumber kekayaan yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.

6). Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud :

a). Memberikan gambaran tentang deviden yang diharapkan pemegang saham.

b). Menunjukkkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban kepada kreditur, supplier, pegawai, pajak, pengumpulan dana untuk perluasan,

c). Memberikan informasi kepada manajement untuk digunaka dalam pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengawasaan.

d). Menunjukkan kemampuan perusahaan mendaptkan laba dalam jangka panjang.

e). Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

(33)

21

g). Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan keuangan.

3. Manfaat Laporan Keuangan

Sesuai dengan Statement of Financial Accounting Concepts No. 1 tentang Tujuan dari pelaporan keuangan bank adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat kepada investor, kreditor dan pemakai lainnya, baik yang sekarang dan potensial pada pembuatan keputusan investasi, kredit dan keputusan sejenis secara rasional.Tujuan kedua pelaporan keuangan untuk menyediakan informasi untuk membantu investor, kreditor, dan pemakai lainnya baik yang sekarang maupun yang potensial dalam menilai jumlah, waktu dan ketidakpastian dari prospectivee penerimaan kas dari deviden atau bunga dalam (Yulia Purwanti, 2005). Selain tujuan laporan keuangan, laporan keuangan juga memiliki beberapa manfaat yang menurut para ahli antara lain adalah :

Di mana menurut Martono dan Agus (2010 : 52) laporan keuangan yang baik dan akurat dapat memberikan manfaat antara lain dalam :

a. Pengambilan keputusan investasi b. Keputusan pemberian kredit c. Penilaian aliran kas

d. Penilaian sumber ekonomi

(34)

22

f. Menganalisis perubahan yang terjadi terhadap sumber dana g. Menganalisis penggunaan danaKemudian menurut

dan mempunyai cukup working capital.

Selanjutnya menurut Fahmi (2011:4) manfaat laporan keuangan adalah “Untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu dan untuk mengetahui sudah sejauh mana perusahaan mencapai tujuannya”.

4. Analisis Laporan Keuangan

(35)

23

disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu proses menelaah laporan keuangan untuk melihat berbagai hubungan dan kecenderungan yang dapat memberikan pertimbangan terhadap keberhasilan perusahaan di masa datang

Analisis laporan keuangan adalah metode atau teknik analisis atas laporan keuangan yang berfungsi untuk mengkonversikan data yang berasal dari laporan keuangan sebagai bahan mentahnya menjadi informasi yang lebih berguna, lebih mendalam, dan lebih tajam dengan teknik tertentu. Tujuan pokok analisis keuangan adalah analisis kinerja di masa yang akan datang. Dalam menganalisis dan menilai posisi keuangan, kemajuan - kemajuan serta potensi dimasa mendatang, faktor utama yang pada umumnya mendapatkan perhatian oleh para analisis adalah:

a. likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi dalam jangka pendek atau saat jatuh tempo.

(36)

24

c. rentabilitas (profitability), yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam periode tertentu.

d. yang tidak kalah pentingnya adalah stabilitas dan perkembangan usaha, dan fokus-fokus analisis lainnya (S.Munawir, 2002: 56-57).

Untuk mengetahui tentang empat faktor ini perlu dilakukan analisis terhadap laporan keuangan. Terdapat tiga teknik analisis laporan keuangan yang lazim digunakan, yaitu:

1). Analisis horisontal adalah analisis dengan cara membandingkan neraca dan laporan laba rugi beberapa tahun terakhir secara berurutan. Maksudnya untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan - perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laporan laba rugi, sehingga dapat diperoleh gambaran selama beberapa tahun terakhir apakah telah terjadi kenaikan atau penurunan (Sawir, 2005; 46) (dalam Endri : 2008).

(37)

25

rugi dengan jumlah tertentu dari laporan laba rugi (Sawir, 2005; 46) dalam (Endri, 2008).

3). Analisis rasio menunjukkan hubungan yang relevan dan signifikan antara pos-pos terpilih dari data laporan keuangan. Rasio keuangan ini hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya (Sofyan Syafri Harahap, 2009: 297).

5. Keterbatasan laporan Keuangan Bank

Menurut ikatan Akuntan Indonesia (2002 : 6) dikatakan bahwa keterbatasan laporan keuangan adalah :

a. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang sudah lewat bukan masa kini. Karena laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi apalagi untuk meramalkan masa depan atau menentukan nilai (harga) perusahaan pada saat itu.

b. Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu atau pihak khusus saja seperti untuk pihak yang akan memebeli perusahaan.

(38)

26

d. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula, penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh secara material terhadap kelayakan laporan keuangan.

e. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternative yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. Laba yang belum direalisasikan tidak dicatat namun rugi kendatipun belum direalisasi tetapi sudah berlaku dipasar maka dapat dicatat, misalnya jika harga persediaan dipasar berada dibawah harga pokok maka perbedaan ini dicatat sebagai rugi namun jika harga pasar melebihi harga pokok tidak dicatat sebagai laba.

f. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/tarnsaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas). g. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah

teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memenuhi bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.

(39)

27

i. Informasi yang bersifat kualitatif dari fakta yang tidak dapat klasifikasikan umumnya diabaikan.

6. Komponen Laporan Keuangan

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia komponen laporan keuangan terdiri atas beberapa bagian diantaranya yaitu :

a. Neraca : Bank menyajikan aset dan kewajiban dalam neraca berdasarkan karakteristiknya dan disusun berdasarkan urutan likuiditasnya. Menurut Reeve, Warrant and Fees (2002 : 24) neraca adalah “Laporan mengenai suatu daftar aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu biasanya pada akhir bulan atau akhir tahun”.

Neraca terdiri dari 3 bagian yaitu : 1). Aktiva

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002 : 13) aktiva adalah “Sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dari mana manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diperoleh.” Aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan pada penghasilan yang akan datang serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets)

(40)

28

dasarnya aktiva dapat dikalsifikasikan menjadi dua bagian yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.

2). Kewajiban ( Hutang )

Hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur. Hutang dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu hutang lancar dan hutang jangka panjang.

3). Modal (Capital),

Modal adalah selisih antara Harta dan Hutang, yang merupakan kewajiban perusahaan kepada para pemilik, pada perusahaan perseorangan, modal dinyatakan dalam perkiraan modal pemiliknya itu sendiri. Modal terdiri dari 3 bagian yaitu modal yang di setor, cadangan, dan saldo laba ditahan.

b. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi bank menyajikan pendapatan dan beban, serta membedakan antara unsur pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan operasional dan non operasional. Bentuk- bentuk laporan laba rugi terbagi atas dua bagian yaitu :

(41)

29

sehingga untuk menghitung rugi laba bersihnya hanya memerlukan satu langkah yakni mengurangkan total biaya dengan total pendapatan. 2) Bentuk Multiple Step, yani pengelompokkan yang

lebih teliti sesuai prinsip yang digunakan secara umum.

Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kempuan rill perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsure kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar.

c. Laporan Arus Kas :

Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

(42)

30

Modal merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (Modal Saham), surplus dan laba yang ditahan, atau dapat diartikan sebagai selisih antara aktiva yang dimiliki perusahaan dengan seluruh hutang-hutang perusahaan. Terkadang prakteknya diklasifikasikan dalam neraca sering kali membingungkan pembaca dengan namareserve (cadangan) yang merupakan surplus, yang mana cadangan tersebut merupakan hak para pemilik perusahaan. Laporan perubahan ekuitas menyajikan peningkatan dan aset bersih atau kekayaan bank selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan.

e. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis.Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan :

(43)

31

2). Informasi yang diwajibkan dalam pernyataan standar akuntasi keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan ekuitas.

3). Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.

7. Pihak yang Berkepentingan Terhadap Laporan Keuangan

Menurut Munawir (2004 : 2), Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan adalah :

(44)

32

Dengan kata lain laporan keuangan diperlukan untuk menilai hasil-hasil yang akan dicapai dimasa yang akan datang sehingga bisa menafsirkan bagian keuntungan yang akan diterima.

b. Manajer atau pimpinan perusahaan : Dalam mengetahui posisi keuangan perusahaannya pada periode lalu, manajer atau pimpinan perusahaan dapat menyusun rencana yang lebih baik dan memperbaiki system pengawasannya dan menentukan kebijaksanaan - kebijaksanaan yang lebih tepat untuk masa yang akan datang. Tetapi yang terpenting bagi manajemen adalah bahwa laporan keuangan tersebut merupakan alat untuk mempertanggungjawabkan kepada pemilik perusahaan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Pertanggungjawaban pimpinan perusahaan itu dituangkan dalam bentuk laporan hanyalah sampai kepada penyajian secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha dalam suatu periode sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang dilaksanakan secara konsisten.

(45)

langkah-33

langkah yang harus dipempuhnya. Para investor berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan dalam rangka penentuan kebijakan penanaman modalnya, apakah mempunyai prospek yang cukup baik dan akan diperoleh keuntungan atau

“rate of return” yang cukup baik.

(46)

34

Berhubung dengan itu analisa yang dilakukan oleh kreditur dan

bankersadalah “analisis extern”.

e. Pemerintah : Pemerintah adalah suatu pihak dimana perusahaan beromisili, pemerintah sangat berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan juga sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan tenaga kerja untuk dasar perencanaan pemerintah.

f. Karyawan perusahaan : Karyawan perusahaan biasanya juga mengetahui laporan keuangan perusahaan tersebut. Bagi karyawan laporan keuangan diperlukan guna menawar kontrak kerja berikutnya.

2.4 Penelitian Terdahulu

(47)

35

adalah 82% sampai dengan 85%. Kemudian pada tahun 1984, Altman meneliti ulang prediksi kebangkrutan dengan menggunakan metode Z-Score

dengan memasukkan dimensi internasional. Sejumlah studi telah dilakukan untuk mengetahui kegunaan analisis ratio keuangan dalam memprediksi kegagalan atau kebangkrutan usaha.Salah satu studi tentang prediksi ini adalah Multiple Discriminant Analysis.

Dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan kita perlu memasukkan rasio-rasio keuangan kedalam model Altman yang dapat menentukan besarnya kemungkinan kebangkrutan. Rasio – rasio keuangan memberikan indikasi tentang kekuatan keuangan dari suatu perusahaan. Keterbatasan analisis rasio timbul dari kenyataan metodologinya yang pada dasarnya bersifat suatu penyimpangan (univariate), yang artinya setiap rasio diuji secara terpisah. Keterbatasan analisis rasio timbul dari kenyataan bahwa metodologinya pada dasarnya bersifat suatu penyimpangan (univariate),

yang artinya setiap rasio diuji secara terpisah. Untuk mengatasi kelemahan analisis-analisis tersebut, maka Altman telah mengkombinasikan beberapa rasio menjadi model prediksi dengan teknik analisis statistic, yaitu analisis diskriminan yang menghasilkan suatu indek yang memungkinkan klasifikasi dari suatu pengamatan menjadi satu dari beberapa pengelompokan yang bersifat apriori (Weston & Copeland, 2004 : 254) dalam (Dian Atim iflaha, 2008).

(48)

36

manufaktur, setengah diantaranya mengalami pailit, Altman memperoleh 22 rasio keuangan, dimana lima di antaranya ditemukan paling berkontribusi pada model prediksi. Penelitian Max L. Heine pada tahun 2000 yang memprediksi kesulitan keuangan pada perusahaan dengan menggunakan Z-Score.Penelitian Stephen A. Hillegeist, Elizabeth K. Keating, Donald P. Cram, dan Kyle G. Lundstedt dalam Assessing the Probability of Bankruptcy pada Review of Accounting Studies, 9, 2004 melakukan penelitian dengan membandingkan antara Altman-s (1968) Z-Score dan Ohlsons (1980) O-Score. Sampel penelitian pada tahun 1980 sampai 2000, untuk Z-Score terdiri dari 89.826 film-year Observations termasuk 762 yang diindikasikan akan mengalami kebangkrutan.

Selain penelitian luar negeri, terdapat beberapa penelitian mengenai ketepatan metode Altman Z-Score dalam memprediksi kebangkrutan yaitu :

a. Setyarini dan Abdul Halim (1999) dengan judul Penelitian “Implementasi dari metode Altman untuk memprediksi kebangkrutan dalam perusahaan perbankan di Indonesia”. Penelitan tersebut bertujuan untuk melakukan analisa potensi kebangkrutan perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ), dengan menggunakan analisa Z-Score Altman sebagai indikator tingkat kesehatan atau potensi kebangkrutan. Indikator Z-Score

(49)

37

menyimpulkan adanya perbedaan potensi kebangkrutan secara signifikan antara sebelum dan pada masa krisis moneter serta analisis Z-Score yang di gunakan merefer pada Altman lebih di tujukan pada sektor perbankan.

b. Muhammad Akhyar Adnan dan M Imam Taufiq (2001) melakukan penelitian terhadap kasus terjadinya likuidasi perbankan di Indonesia periode tahun 1997 sampai tahun 2000 dengan menggunakan sampel dua kelompok bank yaitu kelompok bank terlikuidasi dan bank tidak terlikuidasi. Bank-bank yang di gunakan sebagai sampel tersebut adalah Bank-bank-Bank-bank yang terlikudasi pada periode 13 Maret 1999 setelah melewati proses yang dilakukan oleh BPPN yang berjumlah 67 bank. Dalam penelitian ini Adnan dan Taufik menggunakan nilai cut off dari hasil penelitan yang di lakukan oleh Altman, demikian juga metode analisisnya yang menggunakan rumus hasil penelitian Altman yaitu Z-Score. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa analisis prediksi kebangkrutan metode Altman dapat di implementasikan dalam memprediksi kemungkinan likuidasi perbankan di Indonesia.

(50)

38

juga menggunakan sampel perbankan go public yang terlikuidasi dan tidak terlikuidasi dengan periode laporan keuangan tahun 1993, 1994, 1994, 1996, 1997. Dalam penelitian ini di samping menggunakan analisis diskriptif, juga menggunakan analisis inferensial berupa uji satu rata-rata dan melakukan pengujian terhadap hipotesis tentang ketepatan prediksi model Z-Score Altman pada perusahaan perbankan. Nilai cut off yang di gunakan dalam penelitan ini juga menggunakan nilai cut off hasil penelitian Altman. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa analisis kebangkrutan metode Altman dapat di terapkan pada lembaga perbankan di Indonesia.

2.5 Kerangka Konseptual

(51)

39

dilakukan oleh para investor dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan demi menjaga kelangsungan perusahaan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, penggunaan metode

multivariate discriminan analisys dan menghasilkan suatu model prediksi analisis yang disebut analisis Z-Score. Penggunaan rasio-rasio yang ada dalam metode Z-Score Altman dalam penelitian ini dilakukan karena rasio-rasio keuangan tersebut mempunyai keterkaitan terhadap kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada perbankkan, alam pendekatan altman ini terdapat gabungan rasio keuangan dalam melakukan penilaian dimana rasio likuiditas, aktivitas, dan profitabilitas digabung dalam penilaian, yang akan memberikan pengaruh terhadap laporan keuangan yang dianalisa. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain, variabel indevenden dalam penelitian ini adalah rasio keuangan Altman Z-Score. Altman menemukan lima jenis ratio keuangan yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan yang tidak bangkrut. Almant Z-Score Altman telah mengalami revisi agar dapat digunakan merupakan rumus Z-Score yang telah mengalami revisi agar dapat digunakan terhadap perusahaan perbankan yang telah go public, yaitu ditentukan dengan menggunakan persamaan dimana:

Z-Score = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5

(52)

40

X1 = Working Capital to Total Assets (Modal Kerja/Total Aset) X2 = Retained Earning to Total Assets (Laba Ditahan/Total Aset) X3= Earning Before Interest and Taxes (EBIT) to Total Assets

(Pendapatan Sebelum Dikurangi Biaya Bunga/Total Aset) X4 = Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities (Harga

Pasar Saham Dibursa/Nilai Total Utang) X5 = Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aset)

Dengan kriteria penilaian (S.Munawir, 2002: 311) sebagai berikut:

a. Z-Score > 2,99 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga tidak mengalami kesulitan keuangan.

b. 1,81<Z-Score < 2,99 berada di daerah abu-abu sehingga dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan, namun kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan bangkrut sama besarnya tergantung dari keputusan kebijaksanaan manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan.

c. Z-Score < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga kemungkinan bangkrutnya sangat besar.

(53)

41 Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

Dari hasil kinerja keuangan terhadap laporan keuangan yang dilakukan dengan metode Altman Z-Score akan mencerminkan seperti apa kinerja dari perusahaan. Seperti teoritis keadaan kinerja perusahaan yang tercermin didalam laporan keuangan akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Semakin baik laporan keuangan perusahaan maka akan semakin baik kinerja perusahaan. Menurut peneliti terdahulu Ali Nurdin (2005) terdapat hubungan yang positif antara hasil analisa kebangkrutan dengan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Aprilia Nugraheni (2005) pada perusahaan perbankkan dari tahun

1999-Working Capital to Total Assets

Retained Earning to Total assets

Earning Before Intrested Taxes to Total Assets

Market Value of equity to Book Value

ofLliabilities

Sales To Total Assets

(54)

42

2003 mencoba untuk memberikan bukti empiris mengenai rasio-rasio keuangan dalam perusahaan perbankkan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa rasio dari pendekatan Altman secara bersama-sama memiliki hubungan positif dengan analisis kebangkrutan. Penelitian ini menjelaskan bahwa hubungan secara postif antara laporan keuangan dengan kinerja keuanga memiliki hubungan yang positif baik secara parsial maupun secara simultan.

2.6 Hipotesis penelitian

(55)

43 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan.Penelitian pengembangan (termasuk di dalamnya metode survey deskriftif) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan teori dari masalah – masalah dari sutau fenomena yang dihubungkan dengan teori - teori dari suatu ilmu tertentu untuk memecahkan masalah rasional (biasanya berfikir secara deduktif). Dari pengertian tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah suatu perusahaan dapat diprediksi kebangkrutanya dengan metode Altman Z-score dengan melihat Working Capital to Total Assets, Retained Earning to Total Assets, Earning Before Intrested Taxes to

Total Assets, Market value of Equity to Book Value of Liabilities dan juga

sales toTotal Assets.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan situs

2. Waktu penelitian

(56)

44 3.3 Definisi Oprasional Variabel

Adapun batasan oprasional dalam penelitian ini adalah : 1. Working Capital to Total Assets.

2. Retained Earning to Total Assets.

3. Earning Before Interested Taxes to Total Assets,

4. market value of equity to book value of Liabilities.

5. Sales to Total Assets.

Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang digunakan, yaitu variabel devenden (terikat) dan variabel indevenden (bebas). Variabel Devenden adalah kinerja keuangan, sedangkan variabel indevenden terdiri dari Working Capital to Total Assets, Retained Earning to Total Assets, Earning Before Interested Taxes to Total Assets, market value of equity to

book value of Liabilities, dan Sales to Total Assets dengan penjelasan :

1. Working Capital to Total Assets atau WC/TA, yang dimaksud disini adalah selisih antara aktiva lancar (current assets) dengan hutang lancar (Current liabilities) sedangkan current assets pada perusahaan perbankkan terdiri dari cash on handand bank, placement in other bank, notes and securities, loand in investment. current liabilities

terdiri dari demand deposit, time deposit, saving deposit, sedangkan total asset adalah semau asset yang ada dalam perusahaan tersebut. Dari penjelasan diatas rasio ini diukur dalam ukuran persentase :

(57)

45

2. Retained Earning to Total assets atau RE/TA, rasio ini merupakan rasio profitabilitas yang mendeteksi atau mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dalam periode tertentu.

Retained earning disini adalah laba ditahan. Menurut mulyono (1994)

retained earning / Total Assets rasio profitabilitas yang dapat menditeksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, yang ditinjau dari kemampuan perusahanan dalam mendaptkan laba dibandingkan dengan kecepatan perputaran operating assets sebagai ukuran efesiensi usaha. Rasio ini mengatur akumulasi laba selama perusahaan beroperasi. Umur perusahaan berpengaruh terhadap rasio tersebut karena semakin lama perusahaan beroperasi memungkinkan untuk memperlancar akumulasi laba ditahan. Hal tersebut menyebabkan perusahaan yang masih relative muda pada umumnya akan menunjukkan hasil rasio tersebut yang rendah, kecuali yang labanya sangat besar pada masa awal berdirinya. Rasio ini dapat diukur dalam persentase :

Retained Earning to Total Assets =

(58)

46

piutang dagang yang meningkat, rugi terus – menerus dalam beberapa kwartal, persediaan meningkat, penjualan menurun, terlambatnya hasil penagihan piutang, kredibilitas perusahaan berkurang serta kesediaan memberi kredit kepada konsumen yang tak dapat membayar pada waktu yang telah ditetapkkan. Rasio ini dapat diukur dengan perhitungan :

Earning Before Interest and Taxes to Total Assets =

4. Market Value of Equity to Book Value of Liabilities, rasio ini dapat diukur dalam ukuran persentase :

Market Value of Equity to Book Value of Liabilities =

5. Sales to Total Assets, menurut M. Akhyar adnan ( 2001 : 190) rasio ini merupakan rasio yang menditeksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar dalam suatu periode tertentu. Rasio ini mengukur kemampuan manajemen dalam menggunakan aktiva untuk menghasilkan penjualan. Sales yang dipakai pada perusahaan perbankkan adalah revenue. Rasio ini dapat diukur dalam ukuran persentase :

(59)

47 3.4Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah total dari seluruh unit/elemen di mana penyelidik tertarik (Ulber Silalahi, 2009:253). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejumlah 10 perusahaan. Sampel adalah bagian tertentu yang dipilih dari populasi (Ulber Silalahi, 2009:254). Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah porposive sampling. Kemudian peneliti menetapkan berdasarkan pertimbangannya sebagian dari anggota populasi menjadi sampel penelitian, sehingga teknik pengambilan sampel secara

porposive ini didasarkan pada pertimbangan pribadi peneliti sendiri. (Prof.Dr.Sugiyono, 2011:218-219). Populasi yang digunakan sebanyak 27 populasi dengan sampel sebanyak 10 perusahaan dengan periode penelitian sebanyak 3 tahun mulai tahun 2009 - 2011 dengan nilai n observasi 27. Kreteria yang menjadi pertimbangan dalam menseleksi sampel adalah sebagai berikut :

-Perusahaan Perbankan yang Listing dan aktif di Bursa Efek Indonesia serta menerbitkan laporan keuangannya selama tahun 2009, 2010, 2011.

(60)

48

Tabel 3.1

Daftar Seleksi Sampel Penelitian

No. kode Nama Perusahaan Kreteria

Sampel

1 AGRO Bank Agroniaga X

2 INPC Bank Artha Graha Internasional V

3 BBKP Bank Bukopin V

4 BNBA Bank Bumi Artha X

5 BACA Bank Capital Indonesia X

6 BBCA Bank Central Asia V

7 BNGA Bank CIMB Niaga V

8 BDMN Bank Danamon V

9 BAEK Bank Ekonomi Raharja X

10 BEKS Bank Eksekutif Internasional X

11 SDRA Bank Himpunan Saudara 1906 X

12 BABP Bank ICB Bumi Putera X

13 BNII Bank Internasional Indonesia X

14 BKSW Bank Kesawan X

15 BMRI Bank Mandiri V

16 MAYA Bank Mayapada X

17 MEGA Bank Mega V

18 BBNI Bank Negara Indonesia X

19 BBNP Bank NUsantara parahyangan X

20 NISP Bank OCBC NISP V

21 PNBN Bank Pan Indonesia V

22 BNLI Bank Permata V

23 BBRI Bank Rakyat Indonesia X

24 BSWD Bank Swadesi X

25 BTPN Bank Tabungan Pensiun Nasional X

26 BVIC Bank Victoria Internasiona X

(61)

49

Setelah melihat data populasi diatas dapat peneliti klasifikasikan jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini, Persahaan yang akan menjadi sampel penelitian akan dicari nilai Z-score dari masing-masing perusahaan. Perusahaan yang akan menjadi sampel di sajikan dalam table dibawah ini :

Tabel 3.2

Daftar Sampel Penelitian

No Kode Nama Perusahaan

1 INPC Bank Artha Graha International Tbk. 2 BBKP Bank Bukopin Tbk.

3 BBCA Bank Central Asia Tbk. 4 BNGA Bank CIMB Niaga Tbk. 5 BDMN Bank Danamon Tbk. 6 NISP Bank OCBC NISP Tbk. 7 PNBN Bank Pan Indonesia Tbk. 8 BNLI Bank Permata Tbk 9 MEGA Bank Mega Tbk 10 BMRI Bank Mandiri Tbk

3.6 Obyek Penelitian, Jenis dan Sumber Data

(62)

50

dari tangan kedua atau dari sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan (Ulber Silalahi, 2009:291). Sumber data dalam penulisan skripsi ini adalah dari berbagai sumber buku, jurnal dan penelitian terdahulu yang mendukung penelitian. Sedangkan untuk sumber data yang akan diolah dalam analisis penelitian adalah www.idx.co.id, situs web resmi Bursa Efek Indonesia.

Data yang diperoleh adalah data polled yaitu data dalam bentuk gabungan dari data time series dan data cross section. Data time series

merupakan data yang berdasarkan dalam interval waktu ( interval waktu dalam penelitian ini mulai dari tahun 2009-2011), sedangkan data cross section merupakan data yang dikumpulkan dengan mengamati banyak subyek (seperti individu, perusahaan atau Negara / Wilayah ) pada titik waktu yang sama.

3.7 Metode Pengumpulan Data

(63)

51 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Rasio-Rasio Keuangan Dengan Metode Altman Z-Score

Analisis kesulitan keuangan yang dapat menyebabkan kebangkrutan akan sangat membantu pembuat keputusan untuk menentukan sikap terhadap perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Altman Z-Score merupakan salah satu model prediksi yang dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan (Resiko) kebangkrutan suatu perusahaan dengan menganalisis laporan keuangan tersebut.

Dalam model prediksi Altman Z-Score ini terdapat 5 indikator dari rasio-rasio keungan yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut, yaitu Working Capital to Total Assets, Retained Earning to Total Assets, EBIT to Total Asset, Market Value of

Equity to Book Value Total Liabilities, dan Sales ti Total Asset. Kelima rasio keuangan tersebut telah mewakili aspek-aspek Likuiditas, Profitabilitas, Solvabilitas dan Aktivitas.

1. Working Capital to Total Assets

Variabel ini merupakan variabel independen X1 dari

(64)

52

dengan total aktiva perusahaan. Besarnya variabel ini merupakan gambaran tentang besarnya kondisi likuiditas suatu perusahaan di bandingkan dengan total aktivanya, serta bagaimana posisi dari modal kerja tersebut.

Besarnya nilai variabel X1 (working capital to total asset)

mengindikasikan bahwa kondisi likuditas perbankan semakin baik. Baiknya kondisi tersebut seperti besarnya kecukupan kas, total kredit yang diberikan kepada nasabah yang besar. Investasi pada saham untuk di perjualbelikan yang besar, adanya penurunan nilai assets

terutama bila other assets dalam kelompok aktiva tetap yang kurang produktif, serta adanya penurunan penyisihan kerugian piutang dan penurunan total deposits.Sedangkan kecilnya nilai variabel X1 (working capital to total asset) menunjukkan adanya kondisi likuiditas perusahaan yang kecil. Kondisi tersebut mengambarkan tingginya utang lancar, aktiva tetap yang membengkak, penyaluran kredit yang kecil, menurunnya dana kas yang tersedia pada bank ataupun dana pada bank indonesia dan di bank lain, tingginya penyisihan kerugian piutang dan lainya.

Dari perhitungan yang di lakukan atas laporan keuangan yang di terbitkan oleh perbankan go public di BEJ untuk 1, 2 dan 3 tahun sebelum mengalami kebangkrutan/ketidakbangkrutan

Untuk mengetahui nilai WCTA dapat meggunakan rumus

(65)

53

Dari rumus diatas maka didapat perhitungan nilai variabel working capital to total assets dari seluruh bank dilihat tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1

Hasil Perhitungan Working Capital To Total Asset

No Bank 2009 2010 2011

1 Bank Artha Graha 0.55 0.55 0.5

2 Bank Bukopin 0.15 0.13 0.13

3 Bank Central Asia 0.08 0.07 0.06

4 Bank CIMB Niaga 0.22 0.17 0.16

5 Bank Danamon 0.08 0.07 0.06

6 Bank OCBC NISP 0.15 0.13 0.11

7 Bank Pan Indonesia 0.3 0.22 0.26

8 Bank Permata 0.13 0.12 0.9

9 Bank Mega 0.08 0.06 0.07

10 Bank Mandiri 0.05 0.04 0.04

Sumber : Pengolahan Data

Dari 10 perhitungan bank diatas tidak menunjukkan adanya perbaikan dari nilai working capital tiga tahun yaitu antara tahun 2009 – 2011 terdapat modal kerja terhadap asset yang dimiliki perusahaan, faktor keberhasilan dari bank-bank yang mempunyai rasio X1 positif sebagian besar di sebabkan karena working capital to total assets

(66)

54

jumlahnya yang besar, sehingga apabila ada penurunan yang relatif kecil maka tidak menyentuh level negatif.

Secara rata-rata pada bank - bank pada kelompok bank bangkrut, yaitu Bank Danpac dan Bank Global Internasinoal telah menunjukkan adanya peningkatan rasio X1 yang cukup.

2. Retained Earning to Total Assets

(67)

55

Retained Earning to Total Assets dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Retained Earning to Total Assets =

Berikut ini adalah tabel 4.2 yang menunjukkan besarnya laba ditahan yang dimiliki perusahaan perbankkan sehingga dari rumus diatas maka didapat perhitungan :

Tabel 4.2

Retained Earning to Total Assets Bank Periode 2009 – 2011

No Bank 2009 2010 2011

1 Bank Artha Graha 0.004 0.008 0.012

2 Bank Bukopin 0.014 0.013 0.015

3 Bank Central Asia 0.030 0.032 0.035

4 Bank CIMB Niaga 0.013 0.019 0.023

5 Bank Danamon 0.025 0.028 0.039

6 Bank OCBC NISP 0.013 0.016 0.014

7 Bank Pan Indonesia 0.017 0.017 0.017

8 Bank Permata 0.011 0.013 0.045

9 Bank Mega 0.016 0.021 0.035

10 Bank Mandiri 0.026 0.031 0.035

Sum ber : Pengolahan Data

(68)

56 3. Earning Before Tax to Total Assets

Rasio Earning Before Tax to Total Assets ini merupakan rasio untuk memperlihatkan apakah perusahaan menghasilkan valume bisnis yang cukup dibandingkan sebelum pajak dalam total aktivanya. Rasio ini mencerminkan efesiensi manajemen dalam menggunakan keseluran aktivanya perusahaan untul menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba.

Untuk mengetahui nilai Earning Before Tax to Total Assets

dapat menggunakan rumus sebagai berikut :\

EBTTA =

Dengan rumus diatas maka didapat perhitungan: Tabel 4.3

EBTTA selama periode 2009 – 2011

No Bank 2009 2010 2011

1 Bank Artha Graha 0.002 0.003 0.005

2 Bank Bukopin 0.011 0.010 0.010

3 Bank Central Asia 0.024 0.024 0.026

4 Bank CIMB Niaga 0.007 0.015 0.018

5 Bank Danamon 0.014 0.016 0.024

6 Bank OCBC NISP 0.009 0.050 0.078

7 Bank Pan Indonesia 0.012 0.012 0.012

8 Bank Permata 0.008 0.009 0.067

9 Bank Mega 0.014 0.014 0.018

10 Bank Mandiri 0.018 0.002 0.030

(69)

57

Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata Earning Before Tax to Total Assets terbesar pada periode 2009 – 2011 adalah bank Mandiri yaitu sebesar 0.030 nilai ini menunjukkan kemampuan pendapatan total aktiva dalam menahan laba sebelum pajak selama periode tertentu.

4. Market Value of Equity to Book Value of Liabilities

MVOE to BVTL merupakan rasio yang biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban dari nilai pasar modal sendiri. Nilai pasar modal diperoleh dengan mengalikan jmlah lembar saham biasa yang beredar dengan harga pasar per lembar saham biasa.

Untuk mengetahui nilai MVOE to BVTL dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

MVOE to BVTL =

Dengan rumus diatas diperoleh perhitungan: Tabel 4.4

(70)

58

No Bank 2009 2010 2011

1 Bank Artha Graha 0.023 0.080 0.112

2 Bank Bukopin 0.115 2.601 9.877

3 Bank Central Asia 10.756 9.440 11.839

4 Bank CIMB Niaga 0.433 7.736 10.700

5 Bank Danamon 1.112 19.934 1.030

6 Bank OCBC NISP 0.005 0.465 0.353

7 Bank Pan Indonesia 0.872 1.956 2.330

8 Bank Permata 0.004 0.225 2.470

9 Bank Mega 1.488 0.006 0.007

10 Bank Mandiri 1.770 12.756 11.273

Sumber : Pengolahan Data

Dari tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa nilai MVOE to BVOL memperlihatkan seberapa banyak asset dari suatu perusahaan dapat mengalami penurunan dalam nilai sebelum hutangnya melebihi asset yang dimiliki selama tahun 2009 – 2011. Dilihat dari tabel diatas, menunjukkan perkembangan dari nilai harga persaham dengan total utang yang dimiliki oleh perbankkan PT. Bank Artha Graha Tbk, PT. Bank Bukopin Tbk, PT. Bank Central Asia Tbk, PT. Bank CIMB Niaga Tbk, PT. Bank Danamon Tbk, PT. Bank OCBC NISP Tbk, PT. Bank Pan Indonesia, PT. Bank Permata Tbk, PT. Bank Mega Tbk, PT. Bank Mandiri Tbk, memiliki nilai perkembangan yang berfluktuasi yang ditandai dengan adanya peningkatan jumlah utang perusahaan dan menurunnya harga saham di pasar modal.

5. Sales to Total Assets

Figur

Tabel 1.1
Tabel 1 1 . View in document p.14
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Gambar 2 1 Kerangka Konseptual . View in document p.53
Tabel 3.1 Daftar Seleksi Sampel Penelitian
Tabel 3 1 Daftar Seleksi Sampel Penelitian . View in document p.60
Tabel 3.2 Daftar Sampel Penelitian
Tabel 3 2 Daftar Sampel Penelitian . View in document p.61
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.65
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.67
Tabel 4.3 EBTTA selama periode 2009 – 2011
Tabel 4 3 EBTTA selama periode 2009 2011 . View in document p.68
Tabel 4.5 Sales to Total Assets
Tabel 4 5 Sales to Total Assets . View in document p.71
Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Z-Score pada tahun 2009-2011
Tabel 4 6 Hasil Perhitungan Z Score pada tahun 2009 2011 . View in document p.74
Tabel 4.7 Hasil Persentase Metode Altman Z-Score (2009-2011)
Tabel 4 7 Hasil Persentase Metode Altman Z Score 2009 2011 . View in document p.75

Referensi

Memperbarui...