Pengelolaan penangkaran kupu-kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park Tabanan Bali

85  69  Download (5)

Teks penuh

(1)

PENGELOLAAN PENANGKARAN KUPU-KUPU DI PT IKAS

AMBOINA DAN

BALI BUTTERFLY PARK

TABANAN BALI

MAISER SYAPUTRA

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

(2)

PENGELOLAAN PENANGKARAN KUPU-KUPU DI PT IKAS

AMBOINA DAN

BALI BUTTERFLY PARK

TABANAN BALI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

MAISER SYAPUTRA

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

(3)

RINGKASAN

MAISER SYAPUTRA. E34063012. Pengelolaan Penangkaran Kupu-Kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park Tabanan Bali. Dibimbing oleh LIN NURIAH GINOGA dan BURHANUDDIN MASYUD.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan dan menganalisa tingkat keberhasilan penangkaran kupu-kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park sendiri sehingga dapat mengembangkan teknik budidaya serta pemanfaatan kupu-kupu lebih baik lagi, selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi pedoman untuk pengelolaan dan atau pengembangan penangkaran kupu-kupu lain di Indonesia.

Penelitian ini dilakukan melalui lima tahapan yaitu studi pustaka, pengukuran, pengamatan, dan wawancara, serta pengolahan data secara kualitatif. Dari hasil penelitian diketahui terdapat 15 jenis kupu-kupu yang ditangkarkan, terdiri dari dua famili yakni Papilionidae dan Nymphalidae. Dua jenis diantara famili Papilionidae termasuk kupu-kupu yang dilindungi yaitu Ornithoptera priamus dan Troides helena. Terdapat lima jenis kandang yang digunakan selama proses menangkarkan kupu-kupu, antara lain kandang reproduksi, kandang pemeliharan telur, tempat pemeliharaan larva, kandang kepompong, dan kandang kupu-kupu.

Tanaman yang digunakan dalam proses membudidayakan kupu-kupu berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi tiga, yaitu pakan larva, tanaman utama (penghasil nektar), dan tanaman pendukung (hias). Pengelolaan yang dilakukan di penangkaran meliputi pengadaan bibit, pemeliharaan telur, pemeliharaan larva, pemeliharaan kepompong, peliharan kupu-kupu dewasa, pemeliharaan kesehatan, pemberian pakan tambahan, dan pemanfaatan kupu-kupu hasil penangkaran melalui kegiatan pembuatan offset. Teknik budidaya kupu-kupu yang dilakukan secara intensif oleh PT Ikas Amboina mampu memperbesar peluang hidup kupu-kupu, yakni rata-rata 53.17% dari jumlah telur yang dihasilkan.

(4)

SUMMARY

MAISER SYAPUTRA. E34063012. The Management of Butterfly Captivity in PT Ikas Amboina and Bali Butterfly Park Tabanan Bali. Supervised by LIN NURIAH GINOGA and BURHANUDDIN MASYUD.

This study aims to determine and analyze the management of the breeding success rate of butterflies in PT Ikas Amboina and the Bali Butterfly Park. It is expected that this research can be an input for the PT Ikas Amboina and the Bali Butterfly Park itself in order to develop cultivation techniques and theutilization of butterflies better yet ,in addition this research also to expected to serve as guidelines for the management and or development of captive breeding butterfly elsewhere in Indonesia.

This research was conducted through five stages namely study literature, measurements, observations, and interviews, as well as qualitative data processing. From the research result shows there are 15 species of butterflies that captived, consisting of two families namely Papilionidae and Nymphalidae. Two species of family Papilionidae including a protected butterfly, Ornithoptera priamus and Troides helena. There are five types of cages used during the captive process of butterflies, among other reproductive cage, cage rearing the eggs, the larval rearing, cocoon cage, and cage of butterflies.

Plants used in the process of cultivating a butterfly on the basis of its functions can be divided into three, namely feed the larvae, the main plant (nectar-producing), and supporting plants (ornamental). Management conducted in captivity include the procurement of seed, maintenance of egg, larval rearing, maintenance pupa, maintenance of adult butterfly, health care, provision of additional food, and utilization of butterflies through activities of captive offset creation. Butterfly farming techniques are carried out intensively by PT Ikas Amboina able to increase the odds of living butterflies, which average 53.17% of the total eggs produced.

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Pengelolaan Penangkaran Kupu-Kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park Tabanan Bali adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2011

(6)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Pengelolaan Penangkaran Kupu-kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park Tabanan Bali

Nama Mahasiswa : Maiser Syaputra NRP : E34063012

Program Studi : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Waktu Pelaksanaan : Juni-Juli 2010

Menyetujui :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si Dr. Ir. Burhanuddin Masyud, MS NIP. 19651116 199203 2 001 NIP. 19581121 198603 1 003

Mengetahui,

Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, M.S. NIP. 19580915 198403 1 003

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan,

dukungan, ide, serta do‟a hingga skripsi ini selesai. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibunda tercinta Helitayati dan kakanda Juliarni.

2. Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si dan Bapak Dr. Ir. Burhanuddin Masyud, MS selaku dosen pembimbing, serta Bapak Dr. Ir. I Nyoman Jaya, MS, Bapak Dr. Ir. Bahruni, MS, dan Bapak Ir. Ejdje Djamhuri selaku dosen penguji dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Arbaimun selaku pimpinan Bali Butterfly Park dan karyawan Bapak Dullah, Ida bagus, Ibu Nengah, Mba Sayu, Mba Semi, Mba Eka, Bapak Gun, Bapak Gus, Bapak Lengkong, Bapak Tri, dan Bapak Hendra yang telah mendukung penulis dalam melakukan penelitian ini.

4. Karyawan PT Ikas Amboina Bapak Putu Krisna dan keluarga, serta Mba Kayan atas bantuannya selama pengumpulan data.

5. Teman-teman dari Universitas Udayana Bang An, Sanggar, Rizal, Furqon, Alan, dan Badron atas dukungan dan motivasinya kepada penulis.

6. Tim sukses Didint Dwi Prihantoro, Sherly Sandra, dan Debby Kurniwan. 7. Teman-teman dari Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu SARPEDON Ari

Susanti, Ari Listyowati, Reni, Marolop, Raya, Yaser, Frijal, Yeni, Lita, Clara, Ulfa, Arya, Azis, Meidi, Widi serta teman-teman KSH 43 dan keluarga besar HIMAKOVA atas rasa kekeluargaan yang diberikan selama penulis kuliah.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca.

Bogor, Januari 2011

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pekanbaru, Provinsi Riau pada tanggal 24 Mei 1988. Merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari keluarga Samsyu Akmal (ayah) dan Helitayati (ibu). Pendidikan formal dimulai di SD Negeri 004 Pekanbaru, Riau dari tahun 1994 hingga tahun 2000, SMP Negeri 8 Pekanbaru, Riau hingga tahun 2003. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMA Negeri 8 Pekanbaru, Riau dan lulus pada tahun 2006. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun 2006. Pada tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswa Mayor Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB dengan Minor Komunikasi.

Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) dan organisasi Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu (KPK) Sarpedon. Beberapa kegiatan yang diikuti oleh penulis diantaranya Inventarisasi Keanekaragaman Kupu-Kupu di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (Kalimantan Barat), Inventarisasi Kupu-Kupu di Cagar Alam Rawa Danau (Jawa Barat), Inventarisasi Keanekaragaman Kupu-Kupu di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru (Nusa Tenggara Timur), Inventarisasi dan Pengelolaan Penangkaran Kupu-Kupu di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), Inventarisasi Keanekaragaman Kupu-Kupu di Taman Nasional Sebangau (Kalimantan Tengah), Penulisan Karya Ilmiah

(9)

DAFTAR ISI

5.5 Tingkat keberhasilan penangkaran ... 54

5.6 Faktor penentu keberhasilan penangkaran ... 57

(10)

5.8 Implikasi penangkaran terhadap kelestarian

kupu-kupu ... 62

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 65

(11)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1 Fase perkembangan kupu-kupu ... 4

2 Jenis kupu-kupu dilindungi ... 12

3 Data primer penelitian ... 15

4 Tenaga kerja di PT Ikas Amboina ... 22

5 Tenaga kerja di Bali Butterfly Park ... 22

6 Kupu-kupu yang ditangkarkan PT Ikas Amboina ... 25

7 Taman kupu-kupu dan jenis yang ditangkarkan ... 26

8 Perbedaan kandang reproduksi di tiga penangkaran kupu ... 34

9 Perbedaan kandang pemeliharaan telur di tiga penangkaran kupu ... 36

10 Perbedaan tempat pemeliharaan larva di tiga penangkaran kupu ... 37

11 Perbedaan kandang pemeliharaan kepompong di tiga penangkaran kupu .... 39

12 Perbedaan kandang kupu-kupu di tiga taman kupu ... 54

13 Jenis kupu-kupu dan tanaman inangnya ... 54

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1 Anatomi tubuh kupu-kupu ... 4

2 Peta lokasi penelitian... 14

3 Panjang sayap dan venasi sayap kupu-kupu ... 16

5 Ornithoptera priamus ... 27

21 Sketsa kandang pemeliharaan telur dan Kandang pemeliharaan telur ... 35

22 Tempat pemeliharaan larva dan Sketsa tempat pemeliharaan larva ... 36

23 Sketsa kandang kepompong ... 38

24 Cara menggantung kepompong dan kandang kepompong ... 38

(13)

31 Pemasangan selubung jaring dan larva yang siap dipindahkan ... 48

32 Pembungkusan kepompong dan pengemasan kepompong ... 49

33 Peluang hidup kupu-kupu di penangkaran ... 56

34 Perbandingan tingkat keberhasilan penangkaran kupu ... 57

35 Kupu-kupu yang sedang mengeringkan sayap ... 59

36 Kupu-kupu yang telah diseting ... 60

37 Proses pengeringan kupu-kupu ... 60

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

(15)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kupu-kupu merupakan aset kekayaan hayati negara yang tak ternilai harganya. Selain sebagai satwa penyerbuk yang memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem di alam, kupu-kupu juga telah lama dikenal sebagai satwa yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yaitu sebagai objek rekreasi dan satwa koleksi. Keindahan warna dan bentuk sayapnya merupakan pesona dan daya tarik tersendiri yang mampu memikat hati banyak orang.

Koleksi kupu-kupu di pasar internasional dihargai mulai dari US$ 1 hingga US$ 3.400 tergantung tingkat kelangkaannya (Soehartono dan Mardiastuti, 1996). Nilai ekonomi tinggi inilah yang menyebabkan permintaan terhadap kupu-kupu terus meningkat setiap tahunnya, dan menimbulkan rangsangan kepada masyarakat untuk mengeksploitasi kupu-kupu sebanyak mungkin dari alam. Penangkapan dan perburuan terhadap spesies kupu-kupu merupakan salah satu penyebab utama kepunahan, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya perlindungan, salah satunya melalui kegiatan penangkaran agar eksploitasi kupu-kupu dari alam dapat dikurangi dan akhirnya kelestariannya diharapkan dapat terus terjaga.

PT Ikas Amboina merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penangkaran serangga termasuk kupu-kupu. Perusahaan ini berhasil membudidayakan berbagai jenis kupu-kupu dari beberapa propinsi di Indonesia seperti Papua, Sulawesi Selatan, Bali, dan kupu-kupu dari propinsi lainnya. Selain berhasil dalam membudidayakan kupu-kupu asli Indonesia, perusahaan ini juga telah menyelenggarakan kegiatan perdagangan kupu-kupu di dalam dan ke luar negeri.

(16)

Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yaitu Troides helena

(SK. Mentan No. 576/Kpts/Um/8/1980), dan Ornithoptera priamus (SK. Mentan No. 716/Kpts/Um1/10/1980). Kupu-kupu hasil penangkaran dimanfaatkan untuk kegiatan wisata dan penjualan sovenir.

Dengan adanya penangkaran kupu-kupu di PT Ikas Amboina dan taman kupu Bali Butterfly Park diharapkan dapat menjadi salah satu sarana percontohan (Trendsetter) bagi usaha pelestarian kupu-kupu di Indonesia. Untuk mengetahui pengelolaan penangkaran dan pemanfaatan kupu-kupu secara terperinci, diperlukan adanya penelitian secara lengkap dan tertata mengenai pengelolaan penangkaran dan pemanfaatan jenis kupu-kupu yang ada di PT Ikas Amboina dan

Bali Butterfly Park.

1.2 Tujuan

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan:

1. Mengetahui pengelolaan penangkaran kupu-kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park.

2. Menganalisa tingkat keberhasilan penangkaran.

2.3 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bahan masukan bagi PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park sehingga dapat mengembangkan teknik budidaya serta pemanfaatan kupu-kupu lebih baik lagi.

(17)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Kupu-kupu

Kupu-kupu merupakan jenis serangga yang memiliki ciri utama permukaan sayap yang ditutupi oleh sisik. Kupu-kupu di dalam taksonomi digolongkan pada bangsa Lepidoptera (lepis berarti sisik, pteron berarti sayap). Sisik yang tersusun pada sayap kupu-kupu memiliki pigmen yang mamberikan warna dan corak menarik sekaligus menjadi pembeda bagi setiap jenisnya. Sisik merupakan bulu berbentuk segitiga atau memanjang yang masing-masing melekat pada pangkal yang mirip batang pada sayap secara tumpang tindih (Pallister, 1986).

Menurut Smart (1975) tubuh kupu-kupu terdiri dari tiga bagian yaitu kepala(caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Kepala kupu-kupu berbentuk bulat kecil, terdapat sepasang antena, mata majemuk, dan alat penghisap nektar (haustellate) dalam bentuk probosis yang dapat digulung pada saat tidak digunakan. Bagian dada merupakan tempat melekatnya kepala yang dihubungkan oleh selaput tipis yang merupakan leher, bagian ini terdiri dari tiga segmen, terdapat sepasang kaki pada setiap segmennya dan sepasang sayap pada segmen kedua dan ketiga. Sayap merupakan organ terpenting bagi pergerakan kupu-kupu, organ ini berupa selaput tipis dan dilengkapi dengan vena-vena sehingga memperkuat melekatnya sayap pada toraks.

(18)

Gambar 1 Anatomi tubuh kupu-kupu.

(sumber : Sihombing, 1999).

Kupu-kupu termasuk satwa yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), karena semasa hidupnya kupu-kupu melalui empat fase perubahan yaitu: telur, ulat (larva), kepompong (pupa), dan kupu dewasa (imago). Setiap fase memiliki periode waktu tertentu, lama setiap periode dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Fase perkembangan kupu-kupu

Fase perkembangan Waktu

Perkawinan 6-8 jam Masa persiapan telur 3-5 hari Telur 10-16 hari Larva 14-21 hari Pupa 21-28 hari Kupu-kupu 21-28 hari Sumber : Sihombing (1999)

Lebih lanjut Pallister (1986) menjelaskan keempat fase metamorfosis kupu-kupu adalah:

1. Telur

(19)

masuknya spermatozoid ke dalam telur. Kupu-kupu betina biasa meletakkan telur-telurnya diatas atau berada dekat dengan tumbuhan pakan dari serangga mudanya. 2. Larva

Makhluk yang menetas dari telur kupu-kupu merupakan ulat, yang secara ilmiah dikenal sebagai larva. Larva kebanyakan kupu-kupu merupakan pemakan tumbuhan, beberapa jenis lainnya memakan daging, seperti pemakan kutu daun dan kutu perisai. Fase larva merupakan satu-satunya fase metamorfosis yang mengalami proses pertumbuhan. Larva memakan tumbuhan dengan sangat rakus, apabila kulit dari tubuhnya mengetat maka kulit ini akan berganti mengikuti pertumbuhan tubuhnya. Rata-rata larva berganti kulit sebanyak 5 atau 6 kali, walaupun beberapa jenis dapat bertukar kulit hingga 20 kali. Ulat memiliki 3 pasang kaki sejati pada setiap segmen toraksnya dan 1-5 pasang kaki pengganti pada bagian abdomen. Matanya sederhana dan tersusun dalam pasangan, terdapat 2-6 pasang pada setiap sisi kepala.

3. Pupa

Fase pupa atau kepompong merupakan suatu periode tidak bergerak, fase ini terjadi setelah larva mengalami sejumlah pergantian kulit. Tahapan ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan atau lebih tergantung jenisnya. Kebanyakan pupa kupu-kupu didapati terpaut pada suatu benda tetap yang sedikit jauh dari tanah. Beberapa jenis menggantungkan kepalanya kearah bawah melalui selapis sutera yang dipintal oleh ulat itu pada suatu benda yang terlindung sebelum berganti kulit.

4. Imago

(20)

2.2 Klasifikasi Kupu-kupu

Kupu-kupu pada penamaan ilmiah menrut Symposium Royal Entomology Society (1984) dalam Sihombing (1999) digolongkan kepada KingdomAnimalia, PhylumArthopoda, Class Insecta, Ordo Lepidoptera, Sub OrdoRhopalocera, dan selanjutnya digolongkan kembali pada beberapafamili, yakni:

1. Papilionidae ( Swallowtails, 700 spp.)

Famili ini meliputi kupu-kupu berukuran sedang hingga besar. Memiliki tiga pasang kaki, dengan kaki depan yang memiliki taji. Sayap berukuran besar, sel pada sayap belakang tertutup dan sering terdapat ekor. Ulat memiliki tanduk (osmeterium) yang mempunyai aroma, kepompong berduri, terikat pada bagian pinggang dan ekor dengan benang sutera. Telur bulat dengan warna putih hingga kuning.

2. Pieridae (White, yellows, 1.000-2.000 spp.)

Famili Pieridae meliputi kupu-kupu berukuran kecil hingga sedang (25-100 mm), memiliki tiga pasang kaki, sayap tidak berekor, dan biasanya berwarna putih atau kuning dengan sel sayap belakang yang tertutup. Famili ini dapat terbang jauh (beberapa spesies mempunyai sifat migrasi) dan sering ditemukan dalam jumlah banyak di sekeliling air. Ulat berwarna hijau atau coklat, telanjang atau sedikit berbulu, dan tidak memiliki tanduk atau duri. Kepompong tergantung dengan kepala keatas, kedua ujung agak tajam, Telur tajam pada kedua sisi. 3. Nymphalidae (6.000 spp)

Famili Nymphalidae meliputi kupu-kupu berukuran sedang hingga besar (25-150 mm). Kaki depan mereduksi sampai tidak berfungsi sehingga kelihatan hanya memiliki empat kaki, terutama pada jantan. Famili ini dapat terbang dengan cepat, suka pada sinar matahari dan sesuatu yang berbau busuk. Sayap berwarna cerah dan memiliki antena berukuran pendek (separuh dari panjang sayap). Ulat memiliki bulu dengan ekor yang terbagi dua. Kepompong bergantung dengan kepala ke bawah.

4. Lycaenidae (Coppers, 6.000 spp.)

(21)

memiliki ukuran sayap yang pendek dan sering berwarna cerah seperti logam, biasanya sayap bagian atas berwarna lebih gelap dari pada sayap bagian bawah. Sel sayap belakang terbuka, bentuk sayap betina lebih membulat. Ulat berbentuk seperti bekicot dan berbulu.

5. Hespiridae (Skipers, 3.500 spp.)

Dari segi evolusi famili ini merupakan jenis kupu-kupu primitif dan agak mirip dengan ngengat. Memiliki tubuh yang pendek, gemuk, dan kuat. Jarak antara kedua ujung antena agak jauh. Ukuran sayap pendek, seukuran dengan panjang badan. Sayap berdiri atau rata pada saat istirahat, dapat terbang dengan cepat. Warna sayap coklat, gelap, kekuningan. Ulat biasanya terdapat dalam gulungan daun.

2.3 Aktifitas Kupu-kupu

Kupu-kupu merupakan serangga yang umumnya melakukan aktivitas pada siang hari, aktifitas kupu-kupu sangat dipengaruhi oleh cuaca, pada cuaca mendung apalagi hujan akan membuat kupu-kupu enggan untuk terbang (Soekardi, 2007). Menurut Sihombing (1999), kupu-kupu biasanya melakukan aktifitas makan mengunjungi bunga pada pagi hari pukul 8.00-10.00, saat sinar matahari cukup menyinari untuk mengeringkan sayap mereka. Jika cuaca berkabut aktifitas makan akan tertunda, periode makan ini juga terjadi pada sore hari pukul 15.00-17.00. pada malam hari kupu-kupu akan tinggal di puncak pohon atau pada naungan untuk beristirahat.

(22)

kupu-kupu betina siap bertelur, kupu-kupu bertelur disekitar tumbuhan pakan larva dengan meletakkanya dibawah permukaan daun. Selama hidupnya kupu-kupu betina menghasilkan 200 butir telur, dalam satu hari bisa bertelur 10-15 butir (Sasmita, 2001).

2.4 Pengelolaan Kupu-kupu

Menurut Departemen Kehutanan (2003), pengelolaan kupu-kupu adalah upaya menjaga keanekaragaman kupu-kupu agar tetap lestari. Pengelolaan dapat dilakukan didalam habitatnya (in situ) dan di luar habitatnya (eks situ). Pengelolaan kupu-kupu di dalam habitatnya dapat dilakukan dalam bentuk identifikasi, inventarisasi, pemantauan, pembinaan habitat dan populasinya, penyelamatan jenis dan pengkajian, penelitian dan pengembangan sedangkan kegiatan pengelolaan kupu-kupu diluar habitatnya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan, pengembangbiakan, pengkajian, rehabilitasi dan penyelamatan jenis, penelitian dan pengembangan.

Kupu-kupu telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, selain untuk dinikmati keindahannya di alam bebas, telah dimanfaatkan pula untuk dikoleksi dalam bentuk awetan yang diperdagangkan. Perdagangan kupu-kupu skala internasional di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1992 dengan berbagai negara tujuan seperti Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis (Soehartono dan Mardiastuti, 1996). Kegiatan yang dilakukan masyarakat memberikan keuntungan secara ekonomis sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Perdagangan kupu-kupu oleh masyarakat umumnya dalam bentuk dekoratif, spesialis (ilmiah), dan perdagangan hidup (Morris et al, 1985).

(23)

2.5 Penangkaran Kupu-kupu

Menurut Basuni (1987) penangkaran adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan budidaya baik tumbuhan maupun satwa liar dengan maksud mempertahankan kelestarian atau eksistensi tumbuhan dan satwa liar tersebut atau memperbanyak populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun tujuan penangkaran adalah untuk mendapatkan spesimen tumbuhan dan satwaliar dalam jumlah, mutu, kemurnian jenis dan keanekaragaman genetik yang terjamin, untuk kepentingan pemanfaatan sehingga mengurangi tekanan langsung terhadap populasi alam, selain itu penangkaran juga bertujuan untuk mendapatkan kepastian secara administratif maupun secara fisik bahwa pemanfaatan spesimen tumbuhan atau satwaliar yang dinyatakan berasal dari kegiatan penangkaran adalah benar-benar berasal dari kegiatan penangkaran. Kegiatan penangkaran meliputi pengumpulan bibit atau induk, pembiakan atau perkawinan atau penetasan telur, pembesaran anak, serta restocking (Thohari, 1987).

Menurut Departemen Kehutanan (2003), kegiatan penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran kupu-kupu dapat berhasil bila dapat terbentuk kondisi lingkungan buatan yang sesuai untuk hidup dan perkembangbiakakan kupu-kupu. Untuk itu perlu pengetahuan tentang siklus hidup, jenis kelamin, perilaku kawin genetik serta komponen habitatnya seperti suhu, cahaya, kelembababn udara, iklim/variasi musim, sumber pakan, tempat berlindung dan berkembangbiak. Demikian pula teknik-teknik perlakuan spesies di tempat penangkaran mulai dari tahap pengumpulan bibit (induk), pemeliharaan telur, pemeliharaaan larva (ulat), pemeliharaan pupa (kepompong), hingga imago (kupu-kupu).

Lebih lanjut Departemen Kehutanan (2003) menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penangkaran kupu-kupu antara lain : 1. Spesies kupu-kupu yang ditangkarkan memiliki potensi ekonomi yang tinggi

(24)

2. Spesies kupu-kupu yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi umumnya memiliki populasi di alam yang cenderung menurun sehingga mengancam kelestariannya.

3. Sebagai upaya pemulihan populasi di alam yang telah menurun, perlu dilakukan restocking kupu-kupu dengan melepas kembali sebagian hasil penangkaran ke alam.

4. Spesies kupu-kupu hasil penangkaran kupu-kupu yang diperdagangkan adalah spesies generasi kedua (F2) dan generasi berikutnya, bukan turunan/ generasi pertama.

2.6 Perdagangan Kupu-kupu

2.6.1 Jenis perdagangan

Perdagangan kupu-kupu telah menjadi bisnis yang penting, namun belum diperoleh data yang pasti tentang jenis, jumlah, dan cara pengambilan dari alam dari kupu-kupu yang diperdagangkan tersebut, namun menurut Morris et al

(1985) pada dasarnya perdagangan kupu-kupu dapat dikelompokkan kedalam 3 jenis, ketiga jenis perdagangan ini adalah:

1. Perdagangan dekoratif

Perdagangan jenis dekoratif adalah perdagangan yang lebih

mengutamakan aspek keindahan dan keunikan, umumnya bersifat „nilai kecil dan volume tinggi‟ artinya tidak dibutuhkan spesimen bermutu tinggi melainkan

membutuhkan sumber yang berlimpah serta kemudahan untuk memperoleh spesimen tersebut. Tidak dibutuhkannya spesimen bermutu tinggi karena didalam proses pengerjaannya spesimen dapat dimanipulasi dan di atur sedemikian rupa melalui imajinasi si pembuat agar memperoleh benda bernilai seni tinggi. Perdagangan dekoratif dapat berwujud awetan spesimen didalam kotak (bingkai kaca) ataupun diproses didalam plastik seperti kap lampu, taplak hias, dan rak minuman.

2. Perdagangan spesialis

Berbeda dengan kupu-kupu untuk hiasan, perdagangan spesialis bersifat

(25)

seperti penelitian taksonomi ataupun koleksi museum. Perdangan spesialis umumnya dilakukan dalam bentuk spesimen mati, tidak hanya berupa kupu-kupu namun dapat pula berwujud pupa, larva, ataupun telur.

3. Perdagangan hidup

Perdagangan jenis ini memperjualbelikan kupu-kupu dalam kondisi hidup dapat berupa telur, larva, pupa, maupun kupu-kupu. Tujuannya agar pembeli dapat memelihara jenis kupu-kupu yang diinginkannya, selain itu juga memenuhi tantangan dan kesenangan akan jenis-jenis eksotik.

2.6.2 Aturan perlindungan

Meningkatnya permintaan pasar terhadap kupu-kupu indah dan unik mengakibatkan beberapa jenis kupu-kupu memiliki harga jual tinggi sebanding dengan tingkat kelangkaannya di alam. Untuk mencegah terjadinya kepunahan akibat perburuan dan perdagangan diberlakukan serangkaian kebijakan perundang-undangaan yang tegas. Beberapa kebijakan yang mengatur perdagangan kupu-kupu di Indonesia, khususnya jenis kupu-kupu dilindungi diantaranya:

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Jenis-jenis satwa tertentu karena faktor biologis, ekologis, geografis, maupun faktor-faktor yang disebabkan oleh tindakan manusia dapat mengalami keadaan dimana keberlangsungan hidupannya terancam atau dapat punah dalam waktu dekat (Penjelasan pasal 2 PP No.7 Tahun 1999). Berdasarkan PP No.7 Tahun 1999 telah ditetapkan jenis-jenis kupu-kupu yang dikategorikan satwa dilindungi di Indonesia, yakni meliputi 12 spesies Troides, 6 spesies

(26)

Tabel 2 Jenis kupu-kupu dilindungi

2. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)

CITES merupakan perjanjian internasional mengenai perdagangan jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang terancam punah dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kepunahan spesies satwa dan tumbuhan di seluruh dunia sebagai akibat kegiatan perdagangan (Departemen Kehutanan, 2003).

Nama Jenis PP No.7 tahun1999 CITES ( Appendix II)

(27)

CITES menggolongkan seluruh jenis kupu-kupu yang diperdagangkan didunia kedalam kategori Appendix II, yakni golongan satwa-satwa yang tidak terancam punah, namun apabila perdagangannya tidak diatur dengan ketat dapat menjadi punah. Jumlah spesies kupu-kupu dunia yang berada dalam daftar Appendix II CITES sebanyak 26 spesies yang terdiri dari 15 spesies Troides, 10 spesies Ornithoptera, dan 1 spesies Trogonoptera. Daftar jenis kupu dilindungi menurut CITES dapat dilihat pada Tabel 2.

Dengan berlakunya CITES maka semua spesimen kupu-kupu yang keluar masuk wilayah negara Indonesia baik untuk kepentingan komersil ataupun nonkomersil harus diikuti oleh dokumen yang diterbitkan oleh management authority yang ditunjuk (Departemen Kehutanan, 2003).

2.7 Pengelolaan Pasca Panen

Penanganan pasca panen merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap mutu hasil budidaya. Penanganan yang kurang baik menyebabkan produk mengalami penurunan harga jual, tidak diminati, ataupun kalah bersaing dipasaran.

(28)

III METODE PENELITIAN

3.1Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park di Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu bulan Juni hingga Juli 2010.

Gambar 2 Lokasi penelitian (A)

(sumber : http://maps.google.com/maps?um=1&hl= id&q=peta+bali, +skala&ie=UTF-8&sa=N&tab=il).

3.2Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kupu-kupu sebagai satwa yang ditangkarkan, sedangkan alat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah buku identifikasi kupu-kupu Butterfly of Borneo (Otsuka, 1988), kamera, meteran, termometer dry-wet, dan alat tulis.

3.3 Jenis Data

3.3.1 Data primer

(29)

Tabel 3 Data primer penelitian

Jenis data Metode pengumpulan data Lokasi pengamatan Pengamatan pengukuran Wawancara PT Ikas BBP A. Kupu-Kupu penelitian dan merupakan data yang sudah ada yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai metode. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi sejarah perkembangan penangkaran, dasar hukum, kondisi umum lokasi penangkaran, topografi, jenis fauna lain dan jenis vegetasi yang terdapat di sekitar lokasi penangkaran, dan pustaka mengenai kupu-kupu.

3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Data primer

Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan cara pengamatan, pengukuran, dan wawancara di lokasi penangkaran.

1. Pengamatan secara langsung dilakukan terhadap kupu-kupu, sistem perkandangan, tanaman pakan dan pendukung, pengelolaan reproduksi, dan teknik pengolahan hasil penangkaran.

2. Pengukuran secara langsung dilakukan terhadap morfologi kupu-kupu, fisik kandang, suhu kandang, dan tingkat keberhasilan penangkaran. - Pengukuran morfologi kupu-kupu dan identifikasi dilakukan untuk

(30)

spesies. Pengukuran panjang sayap dan identifikasi venasi sel sayap, pola warna dan warna sayap pada kupu-kupu dilakukan dengan mengacu pada metode Otsuka (1988). Peubah peubah yang diukur dan diidentifikasi dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. panjang sayap dan venasi sel sayap kupu-kupu. L: panjang sayap, A: basal, B: discal/central, C: submarginal, D: marginal, E: costal, F: apical, G:

subapical, H: tornus, dan I: dorsal.

- Pengukuran suhu kandang dilakukan dengan menggunakan termometer dry-wet. Pengukuran suhu dilakukan pada pagi (pukul 08.00), siang (pukul 12.00), dan sore (pukul 17.00) selama satu bulan dengan cara menggantungkan termometer di dalam kandang.

(31)

3.4.2 Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari sumber-sumber pustaka. Data sekunder merupakan data awal yang dikumpulkan sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, yang berguna untuk menunjang keabsahan dan pendalaman dalam menganalisis data yang akan dilakukan.

3.5 Analisis Data

Perolehan data berupa catatan-catatan dari hasil pengukuran, pengamatan langsung (observasi) di lapangan, wawancara mendalam, dan studi pustaka atau literatur dianalisis berdasarkan tiga jalur analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan data yang diperoleh dari lapangan dengan meringkas dan menggolongkannya. Kegiatan ini dilakukan untuk menajamkan dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga didapat data utama yang menjadi pokok penelitian serta mendapatkan kesimpulan akhir. Penyajian data dilakukan secara naratif deskriptif serta ditunjang dengan bentuk-bentuk bagan, Tabel, dan Gambar untuk mempermudah pemahaman mengenai hasil analisis data yang diperoleh secara lebih terpadu. Terakhir, penarikan kesimpulan dilakukan dengan memverifikasi data yaitu melakukan pengumpulan data, analisa, dan melakukan perbandingan dengan data penelitian lain untuk menarik kesimpulan yang kokoh dan tepat.

Kesimpulan tentang keberhasilan penangkaran dikatagorikan pada dua kriteria kualitatif, yakni:

a. Berhasil, apabila telah dapat menghasilkan turunan dari kupu-kupu yang ditangkarkan.

b. Tidak berhasil, apabila belum dapat menghasilkan turunan dari kupu-kupu yang ditangkarkan.

Sedangkan kesimpulan tentang keberhasilan pemanfaatan penangkaran dikatagorikan pada dua kriteria kualitatif, yakni:

(32)
(33)

IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Sejarah

4.1.1 Sejarah PT Ikas Amboina

PT Ikas Amboina merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penangkaran serangga, didirikan tanggal 29 Juli 1994 oleh Darwis dkk. Perusahaan ini menangkarkan berbagai jenis serangga baik serangga dilindungi ataupun tidak, diantaranya kupu-kupu, kalajengking, kumbang, kepik, belalang, dan banyak serangga lainnya.

PT Ikas Amboina pada awalnya berlokasi di kota Ambon, namun karena terjadinya kerusuhan besar tahun 1998 perusahaan ini pindah ke Bali. Bali dipilih karena akses perdagangan dalam dan luar negeri lebih mudah melalui Bandara Internasional Ngurah Rai. awalnya perusahaan ini memiliki lima lokasi penangkaran di Bali yaitu Tuban (kantor pusat), Abianlalang, Tuwak Ilang, Bedugul, dan Luwus. Namun pada saat ini hanya dua lokasi penangkaran yang aktif beroperasi yaitu Abianlalang dan Bedugul.

4.1.2 Sejarah Bali Butterfly Park

Penyelenggaraan Konferensi Kupu-kupu Internasional (International Butterfly Confrens) di Ujung Pandang pada tanggal 23-27 Agustus 1993 oleh Departemen Pariwisata Republik Indonesia, merupakan cikal bakal berdirinya

Bali Butterfly Park. Konferensi yang diikuti oleh para ahli kupu-kupu dari dalam dan luar negeri tersebut membahas mengenai kekayaan kupu-kupu yang dimiliki Indonesia serta upaya pengelolaan dan pemanfaatannya secara lestari sekaligus memperkenalkan taman kupu-kupu alami yang berada di Bantimurung Sulawesi Selatan kepada dunia pariwisata agar menjadi contoh bagi pendirian taman-taman kupu lainnya.

(34)

secara berkelanjutan. Tiga bulan setelah penyelenggaraan konferensi di Ujung Pandang tepatnya 28 November 1993, dibentuklah PT Kupu-kupu Taman Lestari sebagai pengelola dan pendiri taman kupu-kupu yang diberi nama Bali Butterfly Park. Perusahaan ini berlokasi di Bali dengan Akte Notaris No.119 dan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor C2-15.077.HT.01.04.TH.94 Tanggal 6 Oktober 1994, serta tercatat pada panitera Pengadilan Negeri Denpasar.

Pembangunan Bali Butterfly Park oleh PT Kupu-kupu Taman Lestari dimulai setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat maupun daerah serta dari masyarakat setempat. Setelah hampir tiga tahun membangun, pada tanggal 17 Desember 1996 Bali Butterfly Park dibuka secara resmi sebagai salah satu objek wisata alam. Wanasari, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali dengan luas areal 4.700 m².

Bali Butterfly Park terletak di Jalan Batu Karu, Desa Sesandan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, kawasan ini memiliki luas 1 ha terdiri dari taman yang dipasang jaring seluas 3.700 m² sebagai habitat kupu-kupu dan sisanya (6.300 m²) digunakan untuk taman bunga serta prasarana taman lainnya.

4.3 Tata Kelola Perusahaan

4.3.1 Pengelolaan penangkaran

(35)

memiliki izin menangkarkan dan memperdagangkan serangga dari pemerintah. Izin yang dimiliki adalah:

(i) Izin usaha penangkaran kupu-kupu yang dilindungi: SK. Direkturat Jendral PHKA No.118/IV/2008, tanggal 23 September 2008

(ii) Izin usaha penangkaran kupu-kupu yang tidak dilindungi: SK. Kepala Balai KSDA Bali No.SK 11/IV-K.17/PPA.3 /2008, tanggal 21 April 2008

(iii) Izin usaha pengedar ke luar negeri kupu-kupu dilindungi hasil Penangkaran SK. Direkturat Jendral PHKA. No.28/IV/Set-3/2005, tanggal 28 Maret 2005

(iv) Izin usaha pengedar ke luar negeri kupu-kupu tidak dilindungi hasil Penangkaran SK. Direkturat Jendral PHKA No.114/IV/Set/HO/2006, tanggal 15 Agustus 2006

(v) Izin penangkapan kupu-kupu dilindungi dari alam terbatas hanya untuk bibit atau indukan. Berdasarkan kuota yang dikeluarkan oleh Direkturat Jendral PHKA melalui SK.06/IV-KKH/2008, batas pengambilan dari alam untuk Ornithoptera priamus adalah 300 ekor pertahun dan Troides helena 200 ekor pertahun.

(vi) Serta perijinan lainnya seperti Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

4.3.2 Pengelolaan wisata

Bali Butterfly Park merupakan salah satu taman wisata kupu-kupu yang ada di Indonesia, berlokasi di Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Taman wisata kupu-kupu dikelola oleh PT Kupu-kupu Taman Lestari. Perusahaan ini didirikan oleh beberapa orang yang berada di bawah naungan PT Ikas Amboina. Tujuan didirikannya perusahaan ini adalah untuk menjamin keberlangsungan penangkaran di PT Ikas Amboina dan memperoleh keuntungan dari aktivitas wisata. PT Ikas Amboina menjadikan PT Kupu-kupu Taman Lestari sebagai pembeli utama kepompong hasil penangkaran.

(36)

dilakukan antara lain mengelola pengunjung, memperkenalkan fase-fase kehidupan kupu-kupu, serta menciptakan interaksi antara kupu-kupu dan pengunjung. Selain menonjolkan daya tarik wisata PT Kupu-kupu Taman Lestari juga mengedepankan aspek pendidikan dan konservasi kepada pengunjung.

4.4 Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang dimiliki PT Ikas Amboina berjumlah 22 orang, terdiri dari direktur, bagian administrasi, bagian quality control, bagian pemasaran, bagian keamanan, dan bagian penangkaran. Latar belakang pendidikan tenaga kerja tersebut diantaranya sarjana, SLTA, dan SLTP. Umumnya tenaga kerja ini berasal dari masyarakat lokal. Jumlah dan tingkat pendidikan tenaga kerja PT Ikas Amboina dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Tenaga kerja di PT Ikas Amboina

No Jabatan Jumlah (orang) Pendidikan berjumlah 11 orang terdiri dari direktur, bagian administrasi, bagian personalia, bagian penjualan tiket, bagian penjualan sovenir, bagian kebun, guide, dan bagian keamanan. Latar belakang pendidikan tenaga kerja diantaranya sarjana, SLTA, dan SLTP. Tenaga kerja ini umumnya berasal dari masyarakat lokal. Jumlah dan tingkat pendidikan tenaga kerja Bali Butterfly Park dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5 Tenaga kerja di Bali Butterfly Park

(37)

Tabel 5 Lanjutan

7 Kebun 3 SLTP

8 Keamanan 1 SLTP

4.5 Iklim dan Curah Hujan

Kabupaten Tabanan termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim yang berganti setiap enam bulan sekali. Daerah Tabanan memiliki dua musim yaitu musim kemarau antara bulan April hingga Oktober dan musim hujan antara bulan Oktober hingga April. Temperatur udara bervariasi (24ºC - 31ºC) , curah hujan dalam lima tahun terakhir bervariasi antara 893,4 mm sampai 2.702,6 mm, dengan kelembaban udara 79ºC.

4.6 Demografi Penduduk

Tabanan merupakan satu dari kabupaten yang bercorak agraris dengan luas wilayah 89.333 km² atau 14,9% dari luas Pulau Bali. Secara administratif Kabupaten Tabanan terbagi menjadi 10 kecamatan, 10 kelurahan, 103 desa, 66 lingkungan, dan 663 dusun. Tahun 2000 penduduk Kabupaten Tabanan berjumlah 386.850 jiwa sehingga kepadatan penduduknya sekitar 453 jiwa/km². Laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.17%. Sebagai daerah agraris maka mata pencaharian utama penduduknya adalah sektor pertanian, yaitu sebesar 50.16%, sedangkan sektor perdagangan, hotel, dan rumah makan merupakan mata pencaharian terbesar kedua dengan persentase 15.16%, selebihnya bergerak di sektor industri rumah tangga dan pengolahan sebesar 11.27% dan sektor jasa sebesar 10.93%.

4.7 Manfaat Penangkaran dan Taman Kupu Bagi Masyarakat Sekitar

(38)

4.8 Kondisi Biologi

4.8.1 Flora

Jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar lokasi penangkaran dan taman kupu antara lain kelapa (Coco nucifera), rambutan (Nephelium lapaceum), pisang (Musa sp.), coklat (Cocoa sp.), wani/binjai (Mangifera futida), mangga (Mangifera indica), bambu (Bambusa sp.), cempaka (Michelia champaca), nangka (Artocarpus intergra), dan kopi (Cofee arabica).

4.8.2 Fauna

(39)

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Kupu-Kupu yang Ditangkarkan

5.1.1 Jenis kupu

Jenis kupu-kupu yang ada di Bali Butterfly Park pada tahun 2010 saat penelitian ini dilaksanakan sebanyak 15 jenis (Tabel 6) terdiri dari dua famili yakni Papilionidae dan Nymphalidae. Semua kupu-kupu ini berasal dari hasil penangkaran PT Ikas Amboina. Dua jenis diantara famili Papilionidae termasuk kupu-kupu yang dilindungi yaitu Ornithoptera priamus danTroides helena.

Tabel 6 Kupu-kupu yang ditangkarkan PT Ikas Amboina

No Jenis Famili Panjang

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis kupu-kupu yang akan ditangkarkan (Departemen Kehutanan, 2003) antara lain :

5. Spesies kupu-kupu yang ditangkarkan memiliki potensi ekonomi yang tinggi sehingga dapat menutup biaya teknis operasional penangkaran dan memberikan keuntungan bagi penangkar.

6. Spesies kupu-kupu yang ditangkarkan memiliki populasi di alam yang cenderung menurun sehingga dibutuhkan upaya pelestarian.

(40)

diantaranya memiliki tiga pasang kaki dengan kaki depan memiliki taji, sering terdapat perpanjangan ekor (tail), larva memiliki Osmeterium (tanduk) yang memiliki aroma, dan kepompong terikat pada bagian pinggang dan ekor dengan benang sutera.

Berdasarkan kriteria pemilihan jenis oleh Departemen Kehutanan (2003), 9 jenis kupu-kupu dari famili Papilionidae yang ditangkarkan merupakan pilihan yang baik, karena keindahan bentuk dan corak yang dimilikinya merupakan daya tarik bagi kelompok kupu-kupu ini. Kupu-kupu yang indah akan banyak disukai oleh masyarakat, sehingga permintaan pasar dan wisata dapat dipertahankan. Selain itu terdapat dua jenis kupu-kupu dilindungi yang ditangkarkan sebagai upaya membantu pelestarian.

Berbeda dengan famili Papilionidae, famili Nymphalidae berukuran lebih kecil dan tidak memiliki perpanjangan ekor. Ciri umum dari famili ini diantaranya kaki depan yang mereduksi sehingga terlihat hanya memiliki dua pasang kaki, dan kepompong bergantung dengan kepala ke bawah. Terdapat 6 jenis dari famili ini yang ditangkarkan, meskipun tidak tergolong kupu-kupu yang dilindungi, kelompok kupu-kupu ini ditangkarkan sebagai pelengkap dari famili Papilionidae, karena teknik budidyanya telah diketahui dan tidak sulit. Bila dilihat dari jumlah kupu dan luas beberapa taman kupu lainnya di Indonesia, Bali Butterfly Park

masih berpotensi untuk menambah jumlah kupu yang ditangkarkan. Perbandingan jumlah kupu-kupu di beberapa lokasi taman kupu di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Taman kupu-kupu dan jenis yang ditangkarkan

No Nama Lokasi Luas (m²) Jumlah Kupu yang

Ditangkarkan

(41)

1. Ornithoptera priamus

Panjang sayap 70 mm, kupu jantan berwarna hijau. Terdapat warna hitam dengan bentuk hampir lonjong pada bagian discal sayap depan yang dikelilingi oleh warna hijau pada bagian depan dan belakangnya. Terdapat pola warna hitam di sepanjang tepi sayap. Sayap belakang berwarna hijau dengan tepi sayap berwarna hitam. Betina berwarna hitam dengan garis putih pada sayap depan dan pola warna putih pada sayap bagian belakang. Pada masing-masing sayap belakang terdapat empat titik hitam.

(a) (b) Gambar 5 Ornithoptera priamus (a) jantan (b) betina

2. Troides helena

Panjang sayap 70 mm, sayap depan berwarna colat tua kehitaman, terdapat sisik-sisik halus berwarna kuning yang tersusun membentuk garis. Pada jantan bagian apical sayap bewarna hitam dan di bagian tornus terdapat titik hitam yang terpisah. Sayap belakang berwarna kuning emas dengan vena berwarna hitam. Pada betina bagian tornus sayap atas berwarna hitam, terdapat titik yang berbaris pada bagian submarginal.

(42)

3. Graphium agamemnon

Panjang sayap 41 mm, mudah dibedakan dengan adanya banyak titik hijau dengan dasar berwarna hitam pada sayap, corak sayap atas dan bawah tidak berbeda. Di daerah costal terdapat dua bintik berwarna putih dan di daerah dorsal terdapat rambut-rambut halus berwarna hitam. Bagian ventral sayap depan berwarna coklat keunguan dengan bercak hijau yang sama dengan bagian dorsal. Baik pada jantan maupun betina terdapat perpanjangan ekor pada bagian tornus, namun pada betina lebih panjang.

(a) (b)

Gambar 7 Graphium agamemnon (a) jantan (b) betina

4. Pachliopta aristolochiae

Panjang sayap 45 mm, berwarna coklat tua kehitaman. Pada jantan dan betina bagian tornus di sepanjang garis luar marginal sayap bawah terdapat titik merah yang mencolok. Ruang antar vena pada sayap depan daerah discal hingga apex berwarna lebih terang. di bagian marginal sayap belakang terdapat bintik merah dan terdapat perpanjangan ekor pada vena keempat sayap belakang. Terdapat rambut merah di sisi bawah abdomen. Pada betina bagian apical sayap depan lebih membulat dan berwarna pucat.

(43)

5. Papilio demolion

Panjang sayap 51 mm, berwarna hitam, mudah dibedakan dengan adanya

bulatan-bulatan hijau pucat membentuk pita bersambung dari ujung sayap

hingga pertemuan sayap belakang. Terdapat beberapa bintik hijau pucat pada

tepi sayap belakang; pada bagian tornus terdapat bulatan hitam dengan cincin

oranye dan mempunyai perpanjangan ekor pada vena keempat sayap belakang.

Jantan dan betina memiliki corak yang sama.

Gambar 9 Papilio demolion

6. Papilio helenus

Panjang sayap 55 mm, berwarna hitam, jantan dan betina memiliki bercak putih di bagian tornus dan titik merah pada bagian submarginal. Permukaan bawah sayap depan mempunyai sisik-sisik halus yang membentuk garis berwarna putih kekuningan. Memiliki perpanjangan ekor.

Gambar 10 Papilio helenus

7. Papilio memnon

(44)

bagian marginal hingga submarginal sayap belakang berwarna abu-abu dengan bintik-bintik berwarna hitam. Pada betina corak sayap berbeda, sayap belakang berwarna hitam dengan bercak putih, dan di bagian atas sayap depan terpdapat titik merah.

(a) (b)

Gambar 11 Papilio memnon (a) jantan (b) betina

8. Papilio peranthus

Panjang sayap 50 mm, berwarna hitam dengan pita biru kehijauan pada bagian sayap atas. Betina berukuran lebih besar. Apabila terkena cahaya pita sayap terlihat berwarna hijau kebiruan.

Gambar 12 Papilio peranthus

9. Papilio polytes

(45)

Gambar 13 Papilio polytes

10. Chetosia hypsea

Panjang sayap 44 mm, warna dasar sayap oranye dengan warna hitam pekat Di bagian tepi sayap dan apex. Terdapat pita putih mencolok di separuh daerah sayap depan. Di bagian termen sayap depan dan belakang terdapat pola zigzag. Sayap belakang bagian bawah tidak memiliki pita putih. Bagian tepi sayap berbentuk gerigi.

Gambar 14 Chetosia hypsea

11. Doleschalia bisaltide

Panjang sayap 35 mm, berwrna oranye kecoklatan. Di bagian sayap atas, pada bagian apex sayap depan berwarna gelap dengan bercak-bercak berwarna putih. Sayap bagian bawah berwarna coklat gelap. Bagian sisi bawah sayap berwarna menyerupai serasah.

(46)

12. Euploea phaenareta

Panjang sayap 60 mm, berwarna coklat gelap dengan titik-titik putih di bagian apex yang menyebar dari vene ke vena. Titik-titik putih tersebut berukuran lebih besar pada jantan.

Gambar 16 Euploea phaenareta

13. Euploea core

Panjang sayap 42 mm, berwarna coklat gelap dengan pola putih krem berbaris pada sayap belakang. Sayap depan memiliki bercak putih menyebar pada bagian apical.

Gambar 17 Euploea core

14. Moduza procris

(47)

Gambar 18 Moduza procris

15. Vindula dejone

Panjang sayap 38 mm, namun betina mencapai 45 mm. Sayap bagian atas dipenuhi warna oranye. Pada sayap belakang betina terdapat pita putih dengan warna dasar coklat kehijauan di kedua sisi pita.

Gambar 19 Vindula dejone

5.2 Perkandangan

5.2.1 Kandang PT Ikas Amboina

PT Ikas Amboina sebagai perusahaan penangkar kupu-kupu memiliki beberapa jenis kandang yang berbeda menurut fungsinya. Terdapat tiga jenis kandang yang digunakan yakni kandang reproduksi, kandang pemeliharaan telur, dan kandang pemeliharaan larva.

5.2.1.1 Kandang reproduksi

(48)

(a) (b)

Gambar 20 (a) Sketsa kandang reproduksi, (b) Kandang reproduksi.

Tanaman dalam kandang lebih diutamakan pakan kupu-kupu dewasa yaitu tanaman-tanaman penghasil nektar sedangkan pakan larva tidak begitu banyak, karena kandang reproduksi tidak berfungsi sebagai tempat perkembangan larva. Kandang reproduksi hanya berfungsi sebagai tempat melakukan perkawinan dan bertelur. Setelah kupu-kupu betina selesai bertelur, maka telur-telur tersebut dipindahkan ke kandang penetasan telur. Untuk mendukung kegiatan penangkaran, kandang reproduksi dilengkapi beberapa peralatan pendukung seperti jaring serangga, pinset, kuas, dan peralatan-peralatan berkebun. Kandang reproduksi Abianlalang milik PT Ikas Amboina dapat dilihat pada Gambar 20 (b).

Bila dibandingkan dengan kandang reproduksi milik penangkaran kupu lainnya seperti penangkaran kupu Cilember dan penangkaran kupu-kupu di Kampus IPB Darmaga, kandang reproduksi PT Ikas Amboina memiliki ukuran yang lebih besar. Kandang reproduksi Cilember berukuran 6x3x3 m sedangkan kandang reproduksi Kampus IPB Darmaga berukuran 3x2x3 m. Perbedaan ukuran kandang reproduksi ke tiga penangkaran dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Perbedaan kandang reproduksi di tiga penangkaran kupu

Penangkaran Ukuran (m) Luas (m²) Konstruksi

PT Ikas Amboina 12x10x3 120 Rangka besi dan paranet

Cilember 6x3x3 18 Rangka besi dan paranet

(49)

5.2.1.2 Kandang pemeliharaan telur

Kandang pemeliharaan telur memiliki konstruksi lebih sederhana, tersusun dari balok kayu kecil dengan atap terbuat dari seng, berukuran 145x75x135 cm. Letak kandang penetasan telur berada di dalam kandang reproduksi. Kandang ini berfungsi sebagai tempat meletakkan telur kupu-kupu yang telah dipanen dari kandang reproduksi. Sketsa kandang pemeliharaan telur dapat dilihat pada Gambar 21 (a).

(a) (b)

Gambar 21 (a) Sketsa kandang pemeliharaan telur, (b) Kandang pemeliharaan telur.

Telur-telur yang dipanen dimasukkan ke dalam toples yang dilengkapi penutup kain dari kasa halus dan digantung menggunakan jepitan kain pada sebuah kawat, satu toples penyimpanan dapat menampung 200 telur. Untuk menghindari telur dari serangan predator, keempat kaki dari tiang kandang ini diberi lem tikus begitu pula kedua ujung pada kawat. Kandang penetasan telur PT Ikas Amboina dapat dilihat pada Gambar 21 (b).

(50)

rendah 62.2% (Nurjannah 2010) karena penangkaran ini baru dikembangkan dan masih dalam tahap pengembangan. Perbedaan metode pemeliharaan telur di ketiga penangkran dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Perbedaan kandang pemeliharaan telur di tiga penangkaran kupu

Penangkaran Media penyimpanan

Lokasi Penyimpanan

Tingkat Keberhasilan

PT Ikas Amboina Toples Luar ruangan 74.9%

Cilember Cawan petri Dalam ruangan 72.1 %

Kampus IPB Darmaga Cawan petri Dalam ruangan 62.22 %

5.2.1.3 Tempat Pemeliharaan Larva

Tempat pemeliharaan larva berbentuk selubung jaring (Gambar 22.a) yang menutupi dahan dari tanaman inang (pakan larva), berukuran 2x1.5m dan berfungsi menghindari larva dari serangan predator. Tempat pemeliharaan larva berada di kebun inang PT Ikas Amboina, tepatnya disamping kandang reproduksi. Sketsa tempat pemeliharaan larva dapat dilihat pada Gambar 22 (b).

(a) (b)

Gambar 22 (a) Tempat pemeliharaan larva, (b) Sketsa tempat pemeliharaan larva.

Jaring yang digunakan merupakan jenis jaring yang kasar dan kaku akan tetapi masih dapat ditembus oleh cahaya matahari, hal ini memungkinkan daun tetap hidup dan berfotosistesis. Pangkal dari dahan yang digunakan sebagai kandang diberi lem tikus untuk mencegah masuknya predator seperti semut.

(51)

200 ekor larva. Penangkaran PT Ikas Amboina memiliki lima kandang pemeliharaan larva.

Bila dibandingkan dengan penangkaran kupu-kupu Cilember dan Kampus IPB Darmaga, metode pemeliharan larva di PT Ikas Amboina berbeda dan memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi. Penangkaran Cilember dan Kampus IPB Darmaga memelihara larva di dalam wadah dan pakan diberikan langsung oleh keeper sedangkan penangkaran PT Ikas Amboina memelihara larva langsung di pohon inang. Tingkat keberhasilan pemeliharaan larva di PT Ikas Amboina sebesar 78.95% sedangkan Cilember 47.52% (Dewi 2003) dan Kampus IPB Darmaga 33.12% (Nurjannah 2010). Perbedaan metode pemeliharaan larva di ketiga penangkaran dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Perbedaan tempat pemeliharaan larva di tiga penangkaran kupu

Penangkaran Media

Cilember Kotak kayu 0.4x0.35x0.15 Dalam ruangan 47.52 %

Kampus IPB Darmaga Gelas kaca d=0.1 t=0.15 Dalam ruangan 33.12 %

Kedua metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila pemeliharaan larva dilakukan langsung pada pohon inang dapat mengurangi kontak antara keeper dan larva, Selain itu larva juga dapat memilih sendiri pakannya. Salah satu kekurangan dari metode ini yaitu membutuhkan lahan yang luas sebagai kebun tanaman inang. Pemeliharaan di dalam kotak kayu tidak membutuhkan lahan yang luas karena dapat dilakukan di dalam ruangan, namun dapat menyebabkan stress pada larva bila interaksi antara keeper dan larva terlalau tinggi, hal ini sering terjadi saat memberikan pakan dan membersihkan kotak.

5.2.2 Kandang Bali Butterfly Park

(52)

5.2.2.1 Kandang Kepompong

Kandang kepompong berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan kepompong yang siap menetas sekaligus sebagai daya tarik bagi wisatawan yang datang. Kandang kepompong memiliki kapasitas 1.000 kepompong, terbuat dari rangka alumunium berukuran 1.5x0.5x2 m, dikelilingi oleh kawat halus, memiliki empat rak penyimpanan, dan jendela pada bagian depan yang dapat dibuka tutup. Sketsa kandang pemeliharaan telur dapat dilihat pada Gambar 23.

Gambar 23 Sketsa kandang kepompong.

Bagian yang menjadi dasar rak terbuat dari kawat berukuran besar, dengan tujuan untuk mempermudah peletakan kepompong. Kepompong diletakkan dengan cara digantung menggunakan jepitan kain. Cara penggantungan kepompong dapat dilihat pada Gambar 24 (a). Kandang kepompong sendiri berada pada sebuah bangunan berbentuk segi delapan di tengah taman, berjumlah tiga kandang. Kandang kepompong Bali Butterfly Park dapat dilihat pada Gambar 24 (b).

(a) (b)

(53)

Dilihat dari metode penyimpanan dan lemari yang digunakan baik oleh

Bali Butterfly Park maupun penangkaran Cilember dan Kampus IPB Darmaga secara umum tidak jauh berbeda. Perbedaan hanya terletak pada bahan konstruksi lemari, penangkaran Cilember dan Kampus IPB Darmaga menggunakan lemari kepompong yang terbuat dari kayu. Persentase keberhasilan menetasnya kupu-kupu di penangkaran PT Ikas Amboina dan Cilember tidak jauh berbeda yakni 89.64% dan 83.89% (Dewi 2003). Sedangkan penangkaran Kampus IPB Darmaga memiliki persentase lebih rendah karena masih dalam tahap pengembangan. Perbedaan kandang kepompong di ketiga penangkaran dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Perbedaan kandang pemeliharaan kepompong di tiga penangkaran kupu

Penangkaran Media Penyimpanan

Ukuran (m) Lokasi Penyimpanan Tingkat Keberhasilan

Bali Butterfly Park Lemari alumunium 1.5x0.5x2 Dalam ruanagan 89.64%

Cilember Lemari kayu 2.5x1x2 Dalam ruangan 83.89%

Kampus IPB Darmaga Lemari kayu 0.4x0.4x0.4 Dalam ruangan 51.42%

5.2.2.2 Kandang Kupu-kupu

Kandang kupu-kupu atau yang sering disebut „taman‟, milik Bali Butterfly Park memiliki luas 3700 m² dengan ketinggian jaring 7 m dan memiliki kapasitas 3700 ekor kupu-kupu. Hal ini sesuai dengan yang diuatarakan oleh pengelola taman, bahwa idealnya luas bidang 1 m² dapat diisi oleh seekor kupu-kupu, hal ini dimaksudkan agar kupu-kupu selalu dapat terlihat di taman. Ketinggian jaring taman adalah 7 m, pengelola mengatakan ketinggian 7 m telah sesuai dengan karakteristik terbang kupu-kupu yang tidak terlalu tinggi. Konstruksi kandang diawali dengan pagar beton setinggi 0.5 m di bagian bawah mengelilingi seluruh sisi kandang, dilanjutkan dengan rangka besi. Bila dibandingkan dengan taman kupu Cilember dan kubah penangkaran IPB, taman kupu milik Bali Butterfly Park

(54)

Tabel 12 Perbedaan kandang kupu-kupu di tiga taman kupu

Penangkaran Luas (m²) Konstruksi

PT Ikas Amboina 3.700 Rangka besi dan paranet

Cilember 500 Rangka besi dan paranet

Kampus IPB Darmaga 133 Rangka besi dan paranet

Jaring/net dipasang menutupi seluruh bagian taman, pada bagian tengah taman jaring ditopang oleh beberapa tiang beton. Tiang penopang jaring dapat dilihat pada Gambar 25 (a). Jaring bersifat lentur, kuat, dan memungkinkan cahaya matahari tetap masuk agar tanaman dan kupu-kupu yang terdapat didalamnya memperoleh cahaya yang cukup.

Tanaman di dalam taman diatur sedemikian rupa dengan teknik pemadatan strata agar populasi kupu-kupu memusat pada bagian yang diinginkan seperti bagian tengah taman ataupun sepanjang jalan setapak. Hal ini bertujuan agar kupu-kupu selalu terlihat banyak oleh wisatawan yang melintas. Untuk menambah kesan alami taman dialiri oleh beberapa sumber air buatan berupa air terjun sederhana yang mengaliri sejumlah tempat di dalam taman. Kondisi di dalam taman dapat dilihat pada Gambar 25 (b).

(a) (b)

Gambar 25 (a) Tiang penopang jaring, (b) kondisi di dalam taman kupu.

(55)

kupu-kupu melintas keluar. Untuk menambah kesejukan terutama dimusim panas, taman juga dilengkapi dengan sprayer atau penyemprot air.

Keterangan 1: rumah kepompong, 2: rumah belalang, 3: rumah kumbang, 4: visitor center,

5: kantor, 6: toilet, 7: gudang, 8: penampungan air, 9: pos satpam, 10: parkir

Gambar 26 Denah Bali Butterfly Park.

Didalam taman terdapat tiga bangunan utama yakni rumah kepompong, rumah belalang dan terowongan kumbang. Rumah kepompong berisi tiga buah kandang kepompong, rumah belalang berisi display beraneka jenis belalang, begitu juga terowongan kumbang berisi beragam jenis kumbang. Tiga bangunan ini merupakan bagian dari atraksi yang dimiliki oleh taman sebagai daya pikat wisata. Denah Bali Butterfly Park dapat dilihat pada Gambar 26.

5.3 Tanaman Pakan dan Tanaman Pendukung

(56)

5.3.1 Tanaman pakan larva

Tanaman pakan larva atau tanaman inang berfungsi sebagai tempat bertelur kupu-kupu dan pakan larva apabila telur tersebut menetas. Hasil pengamatan diketahui bahwa beberapa kupu-kupu dalam satu famili memiliki tanaman inang yang sama. Adapun jenis kupu-kupu dan tanaman inangnya dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Jenis kupu-kupu dan tanaman inangnya

No Jenis Tanaman Inang

Nama Lokal Nama Latin Famili

1 Ornithoptera priamus Sirih hutan Aristolochia tagala Aristolochiaceae

2 Troides helena Sirih hutan Aristolochia tagala Aristolochiaceae 3 Graphium agamemnon Sirsak Annona muricata Annonaceae 4 Pachliopta aristolochiae Sirih hutan Aristolochia tagala Aristolochiaceae

5 Papilio demolion Ki sampang Melicope latifolia Rutaceae

6 Papilio helenus Ki sampang Melicope latifolia Rutaceae 7 Papilio memnon Jeruk bali Citrus grandis Rutaceae 8 Papilio peranthus Pangkal buaya Zanthoxylum rhetsa Rutaceae 9 Papilio polytes Muraya Murraya koenigii Rutaceae 10 Chetosia hypsea Passiflora Passiflora foetida Passifloraceae 11 Doleschalia bisaltide Melati jepang Pseuderanthemum

reticulatum

Acanthaceae

12 Euploea phaenareta Kamboja Cerbera manghas Apocynaceae 13 Euploea core Kamboja Aganosma sp. Apocynaceae 14 Moduza procris Nusa indah Mussaenda

pubescens

Rubiaceae

15 Vindula dejone Passiflora Passiflora foetida Passifloraceae

Menurut Matsuka (2001), kebanyakan larva kupu-kupu hanya memakan satu jenis tanaman inang atau beberapa tanaman inang yang masih dalam satu famili. Seperti Ornithoptera priamus menjadikan Aristolochia tagala sebagai tanaman inang utama, namun pada kondisi tertentu kupu-kupu ini dapat menjadikan tanaman Pararistolochia tithonusiana sebagai pengganti tanaman inang utamanya. Aristolochia tagala dan Pararistolochia tithonusiana keduanya berasal dari famili yang sama yaitu Aristolochiaceae. Karakter larva ini menjadi acuan dalam memilih tanaman inang yang akan di tanam.

(57)

tumbuhan merambat dan berakar tunggang, daun berbentuk jantung atau segitiga dengan ujung daun yang runcing. Permukaan atas daun licin dan permukaan bawah berambut halus. Bunga majemuk, buah kapsul, dan biji bersayap.

Beberapa kupu-kupu jenis Nymphalidae memiliki tanaman inang dari jenis Passiflora yang merupakan jenis tumbuhan merambat dengan bentuk daun menjari. Sedangkan kupu-kupu jenis Papilio menjadikan suku jeruk-jerukan seperti ki sampang atau Melicope latifolia sebagai tanaman inangnya. Baik di kandang reproduksi maupun di taman kupu-kupu tidak diutamakan penanaman jenis-jenis tanaman inang karena proses pemeliharaan larva tidak dilakukan di kedua tempat ini, melainkan di kandang pemeliharaan larva. Tanaman inang yang terdapat di PT Ikas Amboina dapat dilihat pada Gambar 27 (a-k).

Gambar 27 (a) Aristolochia tagala. Gambar 27 (b) Annona muricata.

Gambar 27 (c) Zanthoxylum rhetsa. Gambar 27 (d) Melicope latifolia.

(58)

Gambar 27 (g) Passiflora foetida Gambar 27 (h) P. Reticulatum.

Gambar 27 (i) Cerbera manghas. Gambar 27 (j) Aganosma sp.

Gambar 27 (k) Mussaenda pubescens.

5.3.2 Tanaman utama

Tanaman utama yaitu tanaman bunga-bungaan penghasil nektar yang berfungsi sebagai pakan kupu-kupu dewasa. Tanaman utama kupu ditanam di dalam kandang taman kupu-kupu milik Bali Butterfly Park. Tanaman ini memiliki ciri-ciri utama berupa bunga yang banyak dan berwarna-warni. Daftar jenis-jenis tanaman utama dapat dilihat pada Lampiran 1.

(59)

berwarna-warni beberapa diantaranya seperti Sudo kalmia (Pseudocalymna alliaceum). soka merah (Ixora javanica), nusa indah (Mussaenda pubescens), kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis), dan pagoda (Clerodenrum japonicum).Tanaman utama dapat dilihat pada Gambar 28.

Pseudocalymna alliaceum Mussaenda pubescens

Gambar 28 Tanaman utama.

5.3.3 Tanaman pendukung

Selain tanaman pakan larva dan kupu, di dalam kandang juga ditanam jenis tanaman-tanaman pendukung yaitu tanaman yang memiliki dua kegunaan sebagai tempat berlindung kupu dan juga sebagai tanaman hias. Kupu-kupu menggunakan tanaman sebagai tempat berlindung pada saat matahari terik, menghindar dari predator, dan pada saat istirahat di malam hari sedangkan tanaman hias berguna menambah nilai keindahan taman. Jenis-jenis tanaman pendukung tersebut diantaranya alamanda (Alamanda cathartica), melati

(Jasminum sambac), lili (Lilium longiflorum) teratai putih (Nymphaea lotus), lengkuas merah (Alpinia purpurata), dan paku sarang burung (Lycopodicia sp.). Tanaman pendukung dapat dilihat pada Gambar 29. Daftar lengkap jenis-jenis tanaman pendukung dapat dilihat pada Lampiran 1.

Alpinia purpurata Lilium longiflorum

(60)

5.4 Budidaya

5.4.1 Pengelolaan budidaya di PT Ikas Amboina

5.4.1.1 Pengadaan bibit

PT Ikas Amboina memiliki tiga metode dalam pengadaan bibit kupu-kupu: Pertama, pengambilan betina dari alam. Kedua, mengambil jantan dari alam untuk dikawinkan dengan betina hasil penangkaran, dan Ketiga, mengawinkan jantan dan betina dari hasil penangkaran. Kupu yang dijadikan bibit harus memenuhi beberapa kriteria seperti sehat, berukuran normal, dan terlihat lincah. Setelah didapat kupu-kupu yang akan dijadikan bibit tersebut dimasukkan ke dalam kandang reproduksi.

Pengambilan bibit dari alam merupakan metode yang paling baik karena dapat menghasilkan telur dalam jumlah banyak dengan kualitas yang baik pula. Pengambilan jantan dari alam dan betina hasil penangkaran juga dapat dilakukan, namun sedapat mungkin menghindari metode perkawinan jantan dan betina hasil penangkaran, karena metode ini menghasilkan anakan yang kurang baik. Umumnya jumlah telur yang dihasilkan lebih sedikit dan mudah terserang penyakit.

Pengambilan bibit dari alam biasanya dilakukan dua minggu sekali, dengan menangkap sekitar dua puluh ekor kupu betina dengan komposisi acak dari kelima belas kupu yang ditangkarkan dan ada kalanya jenis tertentu tidak ditemukan sehingga harus memperbanyak jenis lainnya. Kupu betina hasil tangkapan di alam umumnya telah melakukan perkawinan, karena menurut karakternya kupu betina yang baru lahir dari kepompong akan segera melakukan perkawinan bahkan sebelum kupu tersebut mencari makan.

Figur

Gambar 3. panjang sayap dan venasi sel sayap kupu-kupu. L: panjang sayap, A: basal, B: discal/central, C: submarginal, D: marginal, E: costal, F: apical, G: subapical, H: tornus, dan I: dorsal

Gambar 3.

panjang sayap dan venasi sel sayap kupu-kupu. L: panjang sayap, A: basal, B: discal/central, C: submarginal, D: marginal, E: costal, F: apical, G: subapical, H: tornus, dan I: dorsal p.30
Tabel 4  Tenaga kerja di PT Ikas Amboina

Tabel 4

Tenaga kerja di PT Ikas Amboina p.36
Tabel 5  Tenaga kerja di Bali Butterfly Park

Tabel 5

Tenaga kerja di Bali Butterfly Park p.36
Tabel 6  Kupu-kupu yang ditangkarkan PT Ikas Amboina

Tabel 6

Kupu-kupu yang ditangkarkan PT Ikas Amboina p.39
Gambar  5 Ornithoptera priamus (a) jantan (b) betina

Gambar 5

Ornithoptera priamus (a) jantan (b) betina p.41
Gambar  7 Graphium agamemnon (a) jantan (b) betina

Gambar 7

Graphium agamemnon (a) jantan (b) betina p.42
Gambar  8  Pachliopta aristolochiae

Gambar 8

Pachliopta aristolochiae p.42
Gambar 10   Papilio helenus

Gambar 10

Papilio helenus p.43
Gambar 11  Papilio memnon (a) jantan (b) betina

Gambar 11

Papilio memnon (a) jantan (b) betina p.44
Gambar 12   Papilio peranthus

Gambar 12

Papilio peranthus p.44
Gambar 13   Papilio polytes

Gambar 13

Papilio polytes p.45
Gambar 18   Moduza procris

Gambar 18

Moduza procris p.47
Gambar 20  (a) Sketsa kandang reproduksi, (b) Kandang reproduksi. (a)                                                                           (b)

Gambar 20

(a) Sketsa kandang reproduksi, (b) Kandang reproduksi. (a) (b) p.48
Gambar 21 (a).

Gambar 21

(a). p.49
Gambar 22  (a) Tempat pemeliharaan larva, (b) Sketsa tempat pemeliharaan larva.

Gambar 22

(a) Tempat pemeliharaan larva, (b) Sketsa tempat pemeliharaan larva. p.50
Tabel 9  Perbedaan kandang pemeliharaan telur di tiga penangkaran kupu

Tabel 9

Perbedaan kandang pemeliharaan telur di tiga penangkaran kupu p.50
Tabel 10 Perbedaan tempat pemeliharaan larva di tiga penangkaran kupu

Tabel 10

Perbedaan tempat pemeliharaan larva di tiga penangkaran kupu p.51
Gambar 24  (a) Cara menggantung kepompong, (b) kandang kepompong.

Gambar 24

(a) Cara menggantung kepompong, (b) kandang kepompong. p.52
Tabel 11 Perbedaan kandang pemeliharaan kepompong di tiga penangkaran kupu

Tabel 11

Perbedaan kandang pemeliharaan kepompong di tiga penangkaran kupu p.53
Tabel 12 Perbedaan  kandang kupu-kupu di tiga taman kupu

Tabel 12

Perbedaan kandang kupu-kupu di tiga taman kupu p.54
Gambar 25  (a) Tiang penopang jaring, (b) kondisi di dalam taman kupu.

Gambar 25

(a) Tiang penopang jaring, (b) kondisi di dalam taman kupu. p.54
Gambar 26  Denah Bali Butterfly Park.

Gambar 26

Denah Bali Butterfly Park. p.55
Tabel 13 Jenis kupu-kupu dan tanaman inangnya

Tabel 13

Jenis kupu-kupu dan tanaman inangnya p.56
Gambar 27 (b)  Annona muricata.

Gambar 27

(b) Annona muricata. p.57
Gambar 27 (j) Aganosma sp.

Gambar 27

(j) Aganosma sp. p.58
Gambar 31  (a) pemasangan selubung jaring, (b) larva yang siap dipindahkan.

Gambar 31

(a) pemasangan selubung jaring, (b) larva yang siap dipindahkan. p.62
Gambar 32  (a) Pembungkusan kepompong, (b) pengemasan kepompong.

Gambar 32

(a) Pembungkusan kepompong, (b) pengemasan kepompong. p.63
Tabel 14 Persentase keberhasilan setiap fase kehidupan kupu-kupu

Tabel 14

Persentase keberhasilan setiap fase kehidupan kupu-kupu p.68
Gambar 33  (a-d) Peluang hidup kupu-kupu di penangkaran.

Gambar 33

(a-d) Peluang hidup kupu-kupu di penangkaran. p.70
Gambar 34  Perbandingan tingkat keberhasilan penangkaran kupu.

Gambar 34

Perbandingan tingkat keberhasilan penangkaran kupu. p.71

Referensi

Memperbarui...