PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKAT KAN HASIL BEL AJAR S ISWA PADA PO KO K
B AH AS AN ARI T M AT I K A S O S I AL DI KE L AS VI I MT s N P A N Y A B U N G A N T A H U N A J A R A N 2 0 1 4 / 2 0 1 5
Oleh: Nikmatul Fadilah
NIM 4101111039
Program Studi Pendidikan Matematika
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan hidayahnya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini berjudul “Penerapan model Pembelajaran Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial di Kelas VII MTsN Panyabungan Tahun Ajaran 2014/2015”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan matematika Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Asmin, M.Pd, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah
memberikan bimbingan dan motivasi yang sangat besar, serta saran – saran
kepada penulis sejak awal penelitian sampai dengan selesainya penulisan skripsi
ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs. M. Panjaitan,
M.Pd, Bapak Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd dan Ibu Dra. Ida Karnasih, M. Sc,Ph.D
selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan dan saran – saran dari
mulai rencana penelitian sampai selesai penyusunan skripsi ini. Ucapan terima
kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs. H. Banjarnahor, M.Pd selaku Dosen
Pembimbing Akademik yang sudah sangat banyak memberikan motivasi dan
pengarahan dalam penyelesaian mata kuliah selama perkuliahan, dan kepada
seluruh Bapak dan Ibu Dosen beserta Staf Pegawai Jurusan Matematika FMIPA
UNIMED yang sudah membantu penulis.
Terima kasih kepada Bapak Rektor UNIMED Prof. Dr. Ibnu Hajar, MS
beserta seluruh Pembantu Rektor sebagai pimpinan UNIMED, Bapak Prof. Drs.
Motlan, M.Sc., Ph.D selaku Dekan FMIPA UNIMED beserta Pembantu Dekan I,
II, dan III di lingkungan UNIMED, Bapak Drs. Edy Surya, M.Si selaku Ketua
Jurusan Matematika, Bapak Drs. Zul Amry, M.Si selaku Ketua Program Studi
Jurusan Matematika dan Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si selaku Sekretaris Jurusan
Matematika.
Ucapkan terima kasih juga kepada Bapak Drs. H. Saparuddin, MA selaku
v
studi matematika MTsN Panyabungan yang telah banyak membantu penulis
selama penelitian
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda
tercinta M. Ihsan Parinduri dan Ibunda tercinta Zahara Lubis, S.Pd.I yang selalu
mendukung, mendoakan, memberikan motivasi dan semangat demi keberhasilan
penulis menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada
Abang tersayang Denggan Soaloon, S.Pd.I , dan kakak – kakak tercinta Anna
Aprilina, M.Pd.I dan Nur Latifah, SE.I serta Adik - adikku tersayang Nora Husna
dan Nora Husni yang selalu memberikan dukungan dan motivasi.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dedy Kuspriyanto tersayang yang
telah memberikan semangat dan motivasi kepada penulis dan sahabat
seperjuangan Nisa, Jubaidah, Ita, Himma, Nicky, dan teman-teman lainnya di
jurusan Matematika khususnya kelas DIK B Reguler 2010 yang telah banyak
membantu penulis selama perkuliahan sampai menyelesaikan skripsi ini. Ucapan
terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman PPLT SMA Negeri 1
Sipispis Tahun 2013. Tak lupa terima kasih untuk kawan-kawan penulis Nisa dan
adik-adik kost penulis Husna, Husni dan Riri yang selama ini memberikan
semangat dan bantuan kepada penulis, beserta semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu yang turut memberi semangat dan bantuan kepada
penulis.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian skripsi
ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun
tata bahasa. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya skripsi ini dapat
bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.
Medan, 2015 Penulis,
iii
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL DI KELAS VII MTsN PANYABUNGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
Nikmatul Fadilah (4101111039)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa dan untuk mengetahui ada atau tidaknya respon siswa dan mengetahui bagaimana efektivitas pembelajaran melalui model problem solving di kels VII MTsN Panyabungan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTsN Panyabungan tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 25 orang. Objek penelitian ini adalah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran problem solving mada materi Aritmatika sosial untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Instrumen dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, lembar observasi kegiatan guru dan siswa. Pada akhir siklus II instrumen penelitian diberikan angket respon. Dari hasil tes belajar yang diberikan hasil belajar matematika siswa dari setiap tindakan yang diberikan meningkat. Pada tes awal diperoleh bahwa banyaknya siswa yang mencapai ketuntasan belajar yaitu 3 dari 25 orang siswa (12%) dengan rata-rata kelas 49,4 dengan kemampuan sangat rendah. Hasil analisis data pada siklus I setelah dilakukan pembelajaran melalui model problem solving banyaknya siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah 13 dari 25 orang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan persentase ketuntasan klasikal 52%. Pada siklus II diperoleh 22orang siswa (88%) dengan rata-rata kelas 85,24 dan mencapai kemampuan tinggi. Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar klasikal yaitu minimal 85% dari jumlah siswa, maka daya serap nilai hasil belajar siswa telah mencapai nilai rata-rata minimal 65. Maka dari hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem solving pada tiap siklus meningkat dan telah mencapai target ketuntasan belajar klasikal yang diharapkan. Untuk respon siswa berada pada kategori baik dengan rata-rata 51 (85%). Berdasarkan respon terhadap semua indikator, pada tiap indikator diperoleh bahwa indikator I, III, IV dan V berada pada kategori baik dan pada indikator II berada pada kategori cukup.
vi
1.2. Identifikasi Masalah 7
1.3. Batasan Masalah 8
2.1.1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika 10
2.1.1.1. Pengertian Belajar Matematika 10
2.1.1.2. Pengertian Pembelajran Matematika 11
2.1.2. Efektivitas Belajar 12
2.1.3. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran problem Solving 14
2.1.4. Hasil Belajar 15
2.1.5 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar 17
2.1.6 Hakikat Model pembelajaran 18
2.1.6.1 Pengertian model Pembelajaran Problem Solving 19 2.1.6.2 Langkah-Langkah dalam Problem Solving 20
vii 3.6.3.2 Analis Ketuntasan Hasil Belajar Siswa 41
3.6.3.3 Analisis Hasil Observasi 4 3
3.3.4 Analisis Angket Respon Siswa 44
3.7 Indikator Keberhasilan 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi hasil Penelitian Siklus I 46
4.1.1 Tahap Observasi Siklus I 50
4.1.2 Analisis Data I 51
4.1.2.1 Analisis Data Hasil Observasi Siklus I 51
4.1.3. Analisis Data Hasil Tes Belajar I 54
4.1.3.1 Deskripsi Nilai Tes Hasil Belajar I 54
4.1.3.2 Data Kesulitan Siswa Mengerjakan Tes Hasil Belajar I 55
4.1.4 Kesimpulan 57
4.2.5.1 Analisis Data Hasil Observasi Siklus II 63
viii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
x
Lampiran 6: Alternatif Jawaban LAS I 124
Lampiran 7: LAS II 130
Lampiran 8: Alternatif Jawaban LAS II 139
Lampiran 9:Kisi – kisi Tes Awal 146
Lampiran 10:Tes Awal 147
Lampiran 11:Alternatif Penyelesaian Tes Awal 148
Lampiran 12:Lembar Validasi Tes Awal 150
Lampiran 13 : Daftar Nilai Tes Awal 152
Lampiran 14 : Kisi-kisi THB 1 Pada Siklus I 153
Lampiran 15 : THB 1 154
Lampiran 16 : Alternatif Jawaban THB 1 pada Siklus I 156
Lampiran 17 : Pendoman Penskoran THB 1 158
Lampiran 18 : Lembar Validitas Soal THB I 159
Lampiran 19 : Daftar Nilai Tes Hasil Belajar I 161
Lampiran 20 : Kisi-kisi Soal THB II 163
Lampiran 21 : Soal THB II 164
Lampiran 22 : Alternatif Jawaban THB II 165
Lampiran 23 : Pendoman Penskoran THB II 167
Lampiran 24 : Lembar Validasi THB II siklus II 169
Lampiran 25 : Daftar Nilai THB II siklus II 172
Lampiran 26 : Kisi-kisi Angket Respon Siswa 174
Lampiran 27 : Angket Respon Siswa 175
Lampiran 28 : Lembar Validasi Angket Respon siswa 177
xi
Lampiran 30 : Analisis Nilai Angket Respon Siswa 179
Lampiran 31 : Lembar Observasi Kegiatan Guru I 180
Lampiran 32 : Lembar Observasi Kegiatan Guru II 182
Lampiran 33 : Deskripsi Nilai Observasi kegiatan Guru Siklus I 184
Lampiran 34 : Lembar Observasi Kegiatan Guru III 185
Lampiran 35 : Lembar Observasi Kegiatan Guru IV 187
Lampiran 36 : Deskripsi Nilai Observasi kegiatan Guru Siklus II 189
Lampiran 37 : Lembar Observasi Kegiatan Siswa I 190
Lampiran 38 : Lembar Observasi Kegiatan Siswa II 192
Lampiran 39 : Deskripsi Nilai Observasi kegiatan siswa Siklus I 194
Lampiran 40 : Lembar Observasi Kegiatan Siswa III 195
Lampiran 41 : Lembar Observasi Kegiatan Siswa IV 197
Lampiran 42 : Deskripsi Nilai Observasi kegiatan siswa Siklus II 199
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Berdasarkan undang – undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dari pengertian diatas bahwa
pendidikan merupakan upaya terorganisir yang dilakukan oleh usaha sadar
manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, adanya tahapan dan komitmen
bersama antara pendidik dan peserta didik di dalam proses pendidikan itu.
Dalam UUD 1945 juga dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan
untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasarkan kehidupan bangsa yang
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan
pendidikan tersebut, setiap lapisan dari dunia pendidikan mempunyai peranan
yang sangat penting, misalnya dalam mencapai hasil belajar. Di dunia pendidikan
hasil belajar merupakan tolak ukur yang paling mendasar yaitu semakin baiknya
hasil belajar yang dicapai dalam dunia pendidikan maka semakin besar
kemungkinan tercapainya tujuan pendidikan, misalnya saja dalam pembelajaran
matematika.
Sejalan dengan hal itu, tujuan pembelajaran matematika pada kurikulum
2013 adalah untuk mempersiapkan peserta didik siswa yang produktif, kreatif,
inovatif, afektif melalui penguatan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Menurut
peranan matematika sangat penting, seharusnya matematika menjadi pelajaran
2
semangat siswa dalam mempelajarinya. Banyak faktor yang menjadi penyebab
rendahnya hasil belajar matematika siswa, diantaranya adalah ada ditemukan
kesan bahwa sebagian besar siswa tidak menyukai pelajaran matematika karena
merupakan pelajaran yang ditakuti dan dianggap sulit. Hal ini senada dengan Mulyono Abdurrahman (2009 : 252) yang menyatakan bahwa :“Dari berbagai studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan bidang yang dianggap
sulit oleh para siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar, dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar”.
Sulitnya matematika juga disebabkan oleh faktor yang lain yaitu cara
penyampaian guru. Kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat
strategis dan menentukan. Kedudukan guru sangat strategis artinya guru akan
menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Kedudukan guru sangat
menentukan artinya bahwa gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran
yang akan disajikan kepada siswa. Karena posisi guru merupakan ujung tombak
dari keberhasilan suatu pembelajaran, untuk itu seorang guru dalam melaksanakan
pembelajaran dapat menggunakan strategi, metode atau pendekatan yang sesuai
dengan mata pelajaran juga kondisi siswanya. Dalam rangka meningkatkan hasil
belajar siswa pada pelajaran matematika harus didesain sedemikian rupa, sehingga
cocok untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan untuk dicapai. Ada
beberapa komponen yang harus dicapai dalam kegiatan belajar mengajar, seperti yang diungkapkan Djamarah (2006:41) :“Suatu sistem kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan
belajar mengajar, metode mengajar, alat dan sumber serta evaluasi”.
Diantara komponen tersebut, salah satu komponen yang perlu mendapat
perbaikan adalah model pembelajaran yang digunakan guru. Penggunaan model
pembelajaran yang kurang tepat yang digunakan guru, juga merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa. Banyak
guru di sekolah-sekolah mengajar matematika dengan metode ceramah dimana
pembelajaran berlangsung satu arah, sehingga siswa dikondisikan sebagai
3
disampaikan guru. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Ada lima kategori hasil belajar
menurut Gagne (dalam Nana Sudjana, 2009) : 22 yakni: “(a) informasi verbal, (b)
katerampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan
motoris”. Dalam system pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil
belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga
ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
Menurut Benyamin Bloom (dalam Nana Sudjana, 2009: 22) bahwa :
Hasil belajar terbagi 3 ranah aspek yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Pada kenyataannya, banyak siswa yang hanya mampu mengingat yaitu
tahap mengingat pada taksonomi Bloom, tetapi tidak mampu memahami apa yang
sudah diingat. Karena pada tahap pemahaman tidak berjalan dengan baik, maka
tahap selanjutnya juga tidak akan berjalan dengan baik, yaitu pada tahap
penerapan. Karena siswa tidak mampu memahami dan menggunakan
konsep-konsep yang sudah diingat, maka kemampuan penalarannya tidak akan
berkembang baik sehingga hasil belajarnya pun menjadi rendah.Permasalahan
rendahn ya hasil belajar matematika dialami siswa MTsN Panyabungan. Hasil
belajar siswa tidak terlepas dari aktivitas yang dilaksankan :
4
Selain itu, rendahnya hasil belajar dialami siswa MTsN Panyabungan
juga khususnya dalam sub pokok bahasan aritmatika sosial. Aritmatika sosial
adalah materi yang wajib dipelajari di dalam kehidupan nyata, penerapan konsep
aritmatika sosial banyak dijumpai terutama dalam jual beli. Tetapi masih banyak
siswa yang tidak memahami materi ini. Hal ini dikarenakan dalam menyelesaikan
masalah, siswa tidak dapat menghubungkan antara pengetahuan dan konsep yang
telah dipelajari dengan masalah yang dihadapi. Berdasarkan kenyataan tersebut,
dengan tidak mengurangi faktor lain dalam proses pembelajaran, perlu adanya
strategi pembelajaran sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan.
Aritmatika sosial merupakan salah satu pokok bahasan dalam
pembelajaran matematika di kelas VII SMP/MTs. Materi ini bukan merupakan
materi yang baru lagi bagi siswa karena sudah pernah di pelajari di tingkat SD.
Akan tetapi masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari
aritmatika sosial. Berdasarkan data hasil observasi yang dilaksnakan peneliti di
sekolah MTsN Panyabungan menunjukkam bahwa selama proses belajar
mengajar berlangsung, siswa cenderung diam dan tidak menjawab pertanyaan –
pertanyaan yang diajukan guru, dan siswa kurang aktif mennyampaikan
ide-idenya sehingga guru masih menjadi pusat dalam proses belajar mengajar. Pada
saat siswa menyelesaikan soal-soal latihan di depan kelas banyak siswa kurang
memahami soal, siswa sulit dalam menyelesaikan soal.
Siswa hanya mampu menjawab soal yang sama dengan apa yang telah
dicontohkan guru. Sehingga apabila di berikan soal yang berbeda, siswa tidak
mampu menyelesaikannya. Hal ini disebabkan karena siswa tidak mampu
menafsirkan kalimat dalam soal yang cocok dengan bentuk yang ditentukan yang
mengacu pada penyelesaiaan soal, yang menyebabkan rendahnya hasil belajar
dalam belajar matematika. Hal ini terlihat dari data yang diperoleh melalui
observasi yang dilakukan di kelas VII MTsN Panyabungan dengan memberikan
tes awal dengan hasil dari 25 orang siswa diperoleh 3 orang (12%) yang
memenuhi KKM atau dikatakan tuntas dan 22 (88%) orang siswa tidak memnuhi
KKM atau tidak tuntas. Adapun nila rata-ratanya 49,4 termasuk dalam kategori
5
Tabel 1.1 Persentase Tingkat Kemampuan Siswa Pada Tes awal pada Materi Aritmatika Sosial kelas VII MTsN Panyabungan Tahun Ajaran 2014/2015
Persentase
Banyak faktor yang membuat pelajaran matematika lebih menyenangkan
dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya di MTsN Panyabungan.
Salah satunya adalah dengan melakukan upaya perbaikan pembelajaran sebagai
suatu strategi untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui pemahaman
siswa terhadap konsep matematika dengan cara bagaimana materi itu dikemas
menjadi pelajaran yang menarik dan siswa berperan aktif dalam proses
pembelajaran. Selain guru, faktor lain yang mempengaruhi kualitas belajar siswa
adalah model atau metode yang digunakan guru. Sebagaimana diungkapkan Slameto (2010:65) bahwa ”metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula”. Berkaitan dengan faktor yang
mempengaruhi kualitas proses pembelajaran diatas tidak mengherankan bahwa
siswa dewasa ini sangat sulit mempelajari matematika. Guru masih banyak yang
tidak memperhatikan bagaimana mengajar yang baik, metode apa yang cocok
dipilih untuk suatu materi tertentu. Banyak guru yang masih mengajarkan suatu
pelajaran khusunya matematika dengan cara konvensional. Tidak ada variasi
dalam model atau metode yang dibawakan sehingga siswa menjadi bosan, pasif
dan kurang termotivasi untuk belajar khususnya belajar matematika. Seperti yang
6
Guru biasa mengajar dengan metode ceramah saja. Siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif dan hanya mencatat saja. Guru yang progesif berani mencoba metode-metode yang baru yang dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar mengajar, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus diusahakan yang setepat, efisien dan efektif mungkin.
Menurut Tim Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik kurikulum IKIP Surabaya (1988), Lince (2001) dalam slameto (2003) bahwa “efesiensi dan keefektifan mengajar dalam proses interaksi belajar yang baik adalah segala upaya
guru untuk membantu para siswa agar belajar dengan baik”. Agar dapat belajar
secara efektif, guru harus meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa (kuantitas)
dan meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya. Kesempatan belajar siswa dapat
di tingkatkan dengan cara melibatkan secara aktif dalam belajar. Karena siswa
tidak terampil dalam menyelesaikan masalah yaitu soal-soal dan tidak mampu
mengintegrasikan konsep-konsep matematika yang telah diberikan. Maka dari itu
peneliti memilih model pembelajaran problem solving yang akan mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu belum pernah diadakan penelitian
dengan model pembelajaran problem solving di MTsN Panyabungan.
Model pembelajaran problem solving memberikan peluang kepada siswa
untuk lebih banyak terlibat dalam proses pembelajaran matematika. Problem
solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah
dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat
diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. (Ardha, 2013). Sedangkan menurut
Polya dalam pirdaus (2009) yang banyak dirujuk pemerhati matematika. Polya
mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari
suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai.
Adapun keunggulan Problem solving antara lain : (1) Pemecahan masalah
(problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi
pelajaran. (2)Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan
siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi
siswa. (3)Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas
7
siswa bagaimana menstransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah
dalam kehidupan nyata (5)Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu
siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan. (6) Melalui pemecahan masalah (problem
solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran
(matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara
berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar
belajar dari guru atau dari buku-buku saja. (7) Pemecahan masalah (problem
solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
Model pembelajaran ini diharapkan dapat membantu para guru atau
tenaga pendidik dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Akan tetapi, dalam
pelaksanaanya akan berkaitan erat dengan efektif tidaknya atau tepat tidaknya
model pembelajaran tersebut pada materi yang akan diajarkan. Keefektifan dan
ketepatan atau kesesuaian strategi dan materi harus menjadi pertimbangan dalam
pelaksanaannya. Sehingga, rendahnya hasil pembelajaran yang selalu ada di
setiap penelitian mahasiswa, tidak cenderung dikarenakan penggunaan model
yang diterapkan saja. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mencoba
mengadakan penelitian yang diharapkan mampu melibatkan siswa secara aktif
dalam pembelajaran matematika. Penelitian dilakukan dengan judul : “Penerapan
model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan Aritmatika Sosial di kelas VII MTsN Panyabungan T.A 2014/2015”.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka beberapa masalah yang
dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Rendahnya hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah yang
berhubungan dengan aritmatika sosial.
2. Guru selalu menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tapi jarang
8
3. Matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit.
4. Pembelajaran problem solving dalam pokok bahasan sebagai penerapan
untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
5. Kurangnya pemahaman siswa dalam materi Aritmatika sosial.
6. Teknik pembelajaran yang digunakan guru belum efektif.
1.3 Batasan Masalah
Karena luasnya ruang lingkup permasalahan dan agar penelitian menjadi
lebih efektif, jelas dan terarah, masalah yang timbul dibatasi yaitu pembelajaran
problem solving sebagai penerapan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
pokok materi aritmatika sosial di kelas VII MTsN Panyabungan T.A 2014/2015.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang
menjadi fokus permasalahan dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran
problem solving pada materi Aritmetika Sosial siswa kelas VII MTsN
Panyabungan T.A 2014/2015?
2. Bagaimana keefektifan pembelajaran problem solving dalam
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII MTsN
Panyabungan T.A 2014/2015?
3. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran problem solving mada
materi Aritmatika social di kelas VII MTsN Panyabungan T.A
2014/2015?
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan
pokok penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan
pembelajaran problem solving pada materi Aritmetika Sosial di kelas
9
2. Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran problem solving dalam
meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII MTsN Panyabungan T.A
2014/2015 .
3. Untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran problem solving
mada materi Aritmatika sosial di kelas VII MTsN Panyabungan T.A
2014/2015
1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa, untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada
materi aritmatika social.
2. Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan masukan tentang suatu
alternatif pembelajaran matematika yang berpusat pada siswa untuk
meningkatkan hasil belajar melalui model pembelajaran problem
solving.
3. Bagi peneliti, untuk mengetahui gambaran kemampuan dan kesulitan
siswa yang diajarkan melalui model pembelajaran problem solving.
4. Bagi sekolah, sebagai suatu alternatif pengajaran untuk meningkatkan
hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem solving.
5. Bagi para ahli, sebagai referensi pembelajaran yang lebih kompleks
mengenai pendekatan belajar mengajar di kelas dan sebagai pijakan
untuk mengembangkan penelitian – penelitian yang menggunakan
pembelajaran problem solving.
77
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pelaksanaan penelitian, kesimpulan yang dapat
ditarik dari penelitian ini adalah :
1. Dari nilai rata-rata kelas pada Tes Hasil Belajar pada siklus I sebesar
65,44 (kemampuan sedang) dan pada Tes Hasil Belajar di siklus II
meningkat sebesar 85,24 (kemampuan tinggi), maka peningkatan nilai
rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II adalah 19,8.
2. Keefektifan Problem Solving pada pembelajaran matematika dapat
disimpulkan dari :
a) Ketercapaian peningkatan PKK (Persentase Ketuntasan Klasikal) pada
siklus I sebesar 52% (13 orang siswa) dan pada siklus II meningkat
menjadi 88% (22 orang siswa).
b) Ketercapaian peningkatan hasil observasi kegiatan guru dalam
mengelola pembelajaran dengan nilai rata-rata pada siklus I sebesar
2,35 berada dikategori cukup dan pada siklus II meningkat menjadi 3,2
dikategori baik.
c) Respon siswa memiliki respon yang baik terhadap pembelajaran
problem solving salah satunya pada materi Aritmatika Sosial.
Dari hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa dengan menerapkan
pembelajaran problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diambil dari hasil penelitian ini, yaitu :
1. Kepada guru matematika khususnya guru matematika MTsN Panyabungan
78
siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk itu disarankan hendaknya guru
matematika dapat menerapkan problem solving.
2. Kepada peneliti lanjutan agar hasil dan perangkat penelitian ini dapat
dijadikan pertimbangan untuk menerapkan model pembelajaran problem
solving pada materi Aritmatika Sosial ataupun materi yang lain dan dapat
79
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono, (2009), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Adinawan, Cholik & Sugijono, (2013), Matematika Untuk SMP/MTs Jilid I Berdasakarkan Kurikulum 2013, Erlangga, Jakarta.
Ardha, (2013), (dalam http://ardhaphys.blogspot.com/2013/05/model-pembelajaran-problem- solving.html).
Arikunto,S, dkk. (2012), Penelitian Tindakan Kelas, Bumi aksara, Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri, (2011), Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.
Djamarah, Syaiful & Aswan Zain, (2006), Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta.
Girsang, Anta Sarni (2012), Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui
Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Polya dalam Pokok Bahasan Aritmatika Sosial di Kelas VII SMP Negeri 6 Tebing Tinggi,
Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.
Hamalik,oemar, (2008), Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi aksara, Jakarta.
Hudojo, Herman, (2005), Pengembangan Kurikulum dan Pembelaja
ran Matematika, Malang : UM Press. Jihad,asep & abdul Haris. (2012), Evaluasi Pembelajaran, Multi Pressindo, Yogyakarta.
Kunandar, (2011), Guru Profesional, Raja Grafindo Persada, Jakarta
Lestary, (2013), (dalam http://lestarysnote.blogspot.com/2013/10/mengkaji-model-pembelajaran-problem.html).
Lubis, Sity Syafriyany (2013), Upaya Meningkatkan Kreativitas dan Hasil
Belajar Siswa dengan Menggunakan Model Problem Solving Pada Materi Pokok Himpunan di Kelas VII SMP Negeri 5 Tebing Tinggi T.A. 2012/2013, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.
80
Sanjaya, Wina., (2008), Strategi Pembelajaran, Kencana, Jakarta.
Slameto., (2010), Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta.
Sudjana, Nana., (2009), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Trianto, (2011), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-progresif : Konsep Landalasan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta, Prenada Media.
Yamin, Martinis, (2013), Strategi & metode dalam Model Pembelajaran, No table of authorities entries found.referensi (GP Press Group), Jakarta. Yanti, Eva, (2014), Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa
ii
RIWAYAT HIDUP
Nikmatul Fadilah dilahirkan di Sayur Maincat, pada tanggal 18 Februari
1992. Ayah bernama M. Ihsan Parinduri dan Ibu bernama Zahara Lubis, S.Pd.I
dan merupakan anak keempat dari enam orang bersaudara. Pada tahun 1998
penulis masuk SD Negeri 47890 Parbangunan dan lulus tahun 2004. Pada tahun
2004, penulis melanjutkan sekolah di MTsN Panyabungan lulus tahun 2007. Pada
tahun 2007, penulis melanjutkan sekolah MAN Payabungan dan lulus tahun 2010.
Pada tahun 2010, penulis diterima di Program Studi Pendidikan Matematika