BELAJAR SISWA PADA MATERI SUHU DAN KALOR DI KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 2 MEDAN T.P. 2014/2015
Oleh: Dwi Astini NIM 4103121017
Program Studi Pendidikan Fisika
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PEN G A R U H M O D E L PEM BEL A J A R A N K O O PER A TI F TI PE G R O U P INVESTIGATION (GI) MENGGUNAKAN PETA KONSEP TERHADAP HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATERI SUHU DAN KALOR DI KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 2 MEDAN T.P. 2014/2015
DWI ASTINI (NIM: 4103121017)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation menggunakan peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi suhu dan kalor di SMA Muhammadiyah 2 Medan Tahun Pelajaran 2014/2015.
Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian two group pretest postest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Semester genap SMA Muhammadiyah 2 Medan terdiri dari empat kelas. Sampel penelitian ini diambil dua kelas yaitu kelas X-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang masing-masing berjumlah 31 siswa ditentukan dengan teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu: 1) tes hasil belajar 2) lembar observasi. Tes hasil belajar berbentuk tes esai sebanyak 20 soal yang telah dinyatakan valid oleh tim validator. Lembar observasi terdiri dari penilaian aktivitas, afektif dan keterampilan. Uji hipotesis menggunakan uji t.
Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata pretes kelas eksperimen adalah 27,4 dan nilai rata-rata kelas kontrol adalah 28,2. Setelah pembelajaran selesai diberikan postes dengan hasil rata-rata kelas eksperimen 68,2 dan kelas kontrol 63,7. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer diperoleh bahwa aktivitas siswa di kelas eksperimen mengalami peningkatan. Pada pertemuan I rata-rata aktivitas siswa 67,5, pertemuan II rata-rata 69,5, pertemuan ke III rata-rata 72,7. Dari hasil uji t diperoleh thitung = 2,08 sedangkan ttabel = 1,67.
Karena thitung > ttabel (2,08 >1,67) maka Ho ditolak, dengan demikian diperoleh ada
pengaruh hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation menggunakan peta konsep di SMA Muhammadiyah 2 Medan.
vi
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan i
Riwayat Hidup ii
Abstrak iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi vi
Daftar Gambar viii
Daftar Tabel ix
Daftar Lampiran x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Batasan Masalah 4
1.4 Rumusan Masalah 4
1.5 Tujuan Penelitian 4
1.6 Manfaat Penelitian 5
1.7 Defenisi Operasional 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1Kerangka Teoritis 7
2.1.1 Pengertian Belajar 7
2.1.2 Pengertian Hasil Belajar 8
2.1.3 Aktivitas 8
2.1.4 Model Pembelajaran 12
2.1.5 Model Pembelajaran Kooperatif 13
2.1.6 Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) 18
2.2 Pembelajaran Konvensional 25
2.2.1. Struktur Pembelajaran Konvensional 25
2.3 Media Pembelajaran 26
2.3.1. Kegunaan Media Pembelajaran 27
2.3.2. Media Pembelajaran Peta Konsep 27
2.4. Materi Pembelajaran 30
2.4.1. Pemuaian 30
2.4.1.1. Pemuaian Zat Padat 30
2.4.1.1.1. Pemuaian Panjang 30
2.4.1.1.2. Pemuaian Luas 30
2.4.2. Kalor 31
2.4.2.1. Kalor Dapat Menyebabkan Kenaikan Suhu 31
2.4.2.2. Kalor Yang Menyebabkan Perubahan Wujud 33
2.4.3. Kalor Uap 34
2.4.4. Kalor Lebur 34
2.4.5. Asas Black 34
2.4.6. Perpindahan Kalor 35
2.4.6.2. Konveksi 35
2.4.6.3. Radiasi 36
2.5. Penelitian Terdahulu 36
2.6. Kerangka Konseptual 39
2.7. Hipotesis 39
BAB III. METODE PENELITIAN 40
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 40
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 40
3.2.1 . Populasi Penelitian 40
3.2.2. Sampel Penelitian 40
3.3. Variabel Penelitian 40
3.4. Jenis dan Desain Penelitian 41
3.4.1. Jenis Penelitian 41
3.4.2. Desain Penelitian 41
3.5. Prosedur Penelitian 41
3.6. Instrumen Penelitian 45
3.7. Teknik Analisis Data 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 50
4.1. Hasil Penelitian 50
4.1.1. Data Hasil Penelitian 52
4.1.2. Uji Persyaratan Analisis Data 52
4.1.3. Penilaian Aktivitas Siswa 54
4.1.4. Penilaian Afektif 55
4.1.5. Hasil Belajar Ranah Psikomotorik 56
4.1.6. Hasil Penilaian Kognitif,Afektif dan Psikomotorik 56
4.2. Pembahasan 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 64
5.1. Kesimpulan 64
5.2. Saran 64
DAFTAR PUSTAKA 66
ix
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 2.1. Sintaks Pembelajaran Kooperatif 15 Tabel 2.2. Perbandingan Empat Model Kooperatif 21
Tabel 2.3. Sintaks Model Pembelajaran GI 22
Tabel 2.4. Penelitian Terdahulu 36
Tabel 3.1. Desain Two Group Pretes Postes Design 41 Tabel 3.2. Kriteria dan Persentase Penilaian Sikap 43 Tabel 3.3. Kriteria dan Persentase Penilaian Aktivitas 43 Tabel 3.4. Tabel Spesifikasi Tes Materi Suhu Dan Kalor 44 Tabel 4.1. Hasil Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol 50 Tabel 4.2. Hasil Postes Kelas Eksperimen dan Kontrol 51
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas 51
Tabel 4.4. Hasil Uji Homogenitas 52
Tabel 4.5. Hasil Uji Hipotesis Pretes 52
Tabel 4.6. Hasil Uji Hipotesis Postes 53
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Skema Perubahan Wujud 33
Gambar 4.1. Diagram Batang Data Pretes Kelas Eksperimen 58 Dan Kelas Kontrol
Gambar 4.2. Diagram Batang Data Postes Kelas Eksperimen 58 Dan Kelas Kontrol
x
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1 68 Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2 80 Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 3 93
Lampiran 4. LKS I 104
Lampiran 5. LKS 2 106
Lampiran 6. LKS 3 109
Lampiran 7. Peta Konsep 1 111
Lampiran 8. Peta Konsep 2 112
Lampiran 9. Peta Konsep 3 113
Lampiran 10. Tabel Kisi-kisi 114
Lampiran 11. Tes Hasil Belajar 128
Lampiran 12. Data Pretes Kelas Eksperimen 134
Lampiran 13. Data Postes Kelas Eksperimen 135
Lampiran 14. Data Pretes Kelas Kontrol 136
Lampiran 15. Data Postes Kelas Kontrol 137
Lampiran 16. Perhitungan Statistika Dasar 138
Lampiran 17. Uji Normalitas 140
Lampiran 18. Uji Homogenitas 143
Lampiran 19. Uji Hipotesis 145
Lampiran 20. Pedoman Penilaian Ketrampilan 148
Lampiran 21. Lembar Penilaian Ketrampilan Kelas Eksperimen 150
Lampiran 22. Pedoman Penilaian Sikap 158
Lampiran 23. Lembar Penilaian Sikap Kelas Eksperimen dan Kontrol 160
Lampiran 24. Pedoman Penilaian Aktivitas 166
Lampiran 25. Lembar Penilaian Aktivitas Eksperimen 167 Lampiran 26. Lembar Penilaian Aktivitas Kontrol 173
Lampiran 27. Nilai Kritis Untuk Uji Liliefors 179
Lampiran 28. Tabel Wilayah Normal 180
Lampiran 29. Distribusi F 181
Lampiran 30. Distribusi T 183
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Berkembangnya pendidikan sudah pasti berpengaruh terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini dapat terlihat
dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sekarang ini. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang
ini tidak dapat terlepas dari kemajuan ilmu Fisika yang banyak menghasilkan
temuan baru dalam bidang sains dan teknologi. Oleh karena itu, Fisika
ditempatkan sebagai salah satu mata pelajaran yang penting karena salah satu
syarat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berhubungan dengan ilmu
pengetahuan alam (IPA) yang di dalamnya termasuk Fisika.
Fisika adalah salah satu cabang IPA yang merupakan suatu ilmu
pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam dan interaksi di dalamnya.
Pelajaran Fisika lebih menekankan pada pemberian langsung untuk meningkatkan
kompetensi agar siswa mampu berpikir kritis dan sistematis dalam memahami
konsep Fisika, sehingga siswa memperoleh pemahaman yang benar tentang
Fisika. Pemahaman yang benar akan pelajaran Fisika akan sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa.
Pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih rendah. Rendahnya
pendidikan Indonesia dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar siswa dalam
berbagai mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang memiliki nilai rendah
adalah mata pelajaran fisika. Hal ini terlihat dari obsevasi yang dilakukan di SMA
Muhammadiyah 2 Tanjung Sari, penulis menemukan masih rendahnya hasil
belajar siswa terutama pada mata pelajaran fisika. Dari hasil wawancara dengan
Mely Susilawati selaku guru mata pelajaran fisika di SMA tersebut mengatakan
hasil belajar siswa masih dibawah standart, dimana hanya 60% siswa yang
memiliki nilai ≥60, sedangkan 40% siswa selebihnya memiliki nilai <60.
Kemudian dari hasil wawancara dengan pemegang lab fisika, alat-alat lab sudah
2
Selanjutnya dari hasil data angket diperoleh semua siswa kelas X
mengatakan 42,9% diantaranya menyatakan tidak menyukai pembelajaran fisika
dan menganggap pelajaran fisika sulit dan kurang dimengerti. Setiap materi
pelajarannya membosankan sehingga nilai hasil belajar siswa tersebut tidak
memuaskan rata-rata dibawah KKM. Sebanyak 34,3% diantaranya menyatakan
pelajaran fisika biasa-biasa saja dan nilai hasil belajar siswa masih kurang
memuaskan rata-rata masih sebahagian dibawah KKM. Sementara itu, 22,8%
diantaranya menyatakan pelajaran fisika menarik dan menyenangkan dan nilai
hasil belajar siswa rata-rata diatas KKM. Selain itu, dari hasil angket semua siswa
mengatakan bahwa, 71,4% Ketika dalam proses belajar mengajar tidak pernah
menggunakan media dan model pembelajaran yang digunakan tidak bervariasi
hanya menggunakan model pembelajaran konvensional. Siswa juga mengatakan
jarang melakukan praktikum di laboratorium maupun dikelas.
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan
mengembangkan model pembelajaran yang efektif, yang melibatkan siswa secara
aktif, memperhatikan kemampuan siswa dan menggunakan alat peraga yang tepat.
Sehubungan dengan masalah diatas, maka salah satu alternatif yang dapat
digunakan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan menggunakan model
pembelajaran Koperatif tipe Group Investigation (GI).
Model kooperatif tipe GI ini juga dapat dilaksanakan dengan bantuan
media pembelajaran yang sesuai, karena model dan media pembelajaran
merupakan dua unsure penting dalam proses pendidikan. Kedua aspek ini saling
berkaitan dan berhubungan karena pada dasarnya fungsi utama media
pembelajaran adalah sebagai sumber belajar (Arsyad, 2007). Salah satu media
yang tepat digunakan dalam membantu proses penyampaian suatu materi adalah
media peta konsep. Penggunaan media peta konsep merupakan alat yang dapat
membantu siswa memahami materi pelajaran yang disampaikan. Siswa akan
mudah mengingat konsep - konsep fisika dan lebih memahami maknanya serta
Model pembelajaran Koperatif tipe Group Investigation (GI) lebih
menekankan kerjasama antar anggota kelompok dalam menemukan dan
memahami suatu konsep dengan melakukan serangkaian kegiatan konsep tersebut
akan lebih tertanam dalam ingatan siswa. Siswa akan lebih memahami konsep
fisika karena siswa mengalami dan menemukan sendiri pemecahan masalah yang
dihadapinya melalui referensi yang dapat mereka cari di buku.
Hasil penelitian (Istikomah, 2010) menunjukkan bahwa sikap ilmiah siswa
sesudah pembelajaran lebih baik dari sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa
model pembelajaran dapat menumbuhkan sikap ilmiah pada diri siswa.
Pembelajaran pada kelas memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengalami sendiri aktivitas dan pengalaman dalam belajar sains secara nyata.
Model pembelajaran yang dikembangkan diharapkan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa melalui penerapan bekerja sama memecahkan masalah,
menemukan sesuatu untuk dirinya dan saling mendiskusikan masalah tersebut
dengan teman-temannya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif. Seperti yang dikatakan bahwa teknik-teknik pembelajaran kooperatif
lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan
pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompetitif (Ibrahim, 2000).
Berdasarkan masalah di atas, penulis berkeinginan melakukan suatu
penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa menggunakan model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dengan Model
Pembelajaran Konvensional. Dengan judul penelitian “Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap Hasil Belajar Fisika Pada Materi Pokok Suhu dan Kalor Kelas X Semester II Di SMA Swasta Muhammadiyah 2 Tanjung Sari Medan T.P 2014/2015.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, beberapa masalah dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
1. Siswa menganggap fisika merupakan pelajaran yang sulit dan kurang
4
2. Siswa jarang melakukan praktikum ataupun percobaan saat proses
pembelajaran.
3. Model dan media pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi.
1.3.Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan maka perlu dilakukan pembatasan dalam
penelitian ini sebagai berikut:
1. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Group
Investigation (GI).
2. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Semester II di SMA Swasta
Muhammadiyah 2 Tanjung Sari T.P 2014/2015
3. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah materi kelas X semester II
yaitu Suhu dan Kalor.
1.4.Rumusan Masalah
Dalam masalah ini perumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model Kooperatif
Tipe Group Investigation (GI) pada materi Suhu dan Kalor kelas X semester II
SMA Muhammadiyah 2 Tanjung Sari T.P. 2014/2015?
2. Bagaimanakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran
konvensional pada materi materi Suhu dan Kalor kelas X semester II SMA
Muhammadiyah 2 Tanjung Sari T.P. 2014/2015?
3. Apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan model Kooperatif Tipe Group
Investigation (GI) lebih baik dari pada siswa yang diajar dengan pembelajaran
konvensional?
1.5.Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model
Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) pada materi Suhu dan Kalor kelas X
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran
konvensional pada materi Suhu dan Kalor kelas X semester II SMA
Muhammadiyah 2 Tanjung Sari T.P. 2014/2015.
3. Untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan model
pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) lebih baik daripada
siswa yang diajar dengan pembelajaran Konvensional.
1.6.Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai informasi hasil belajar Fisika dengan menerapkan model
pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) di SMA
Muhammadiyah 2 Tanjung Sari pada materi pokok Suhu dan Kalor.
2. Sebagai bahan informasi alternatif bagi pengajar fisika dalam memilih model
pembelajaran.
1.7.Defenisi Operasional
Beberapa defenisi/istilah yang diambil dari judul penelitian ini yaitu:
1. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau polah yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer dan lain-lain
(Trianto 2007: 5).
2. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran
yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan
bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk
meningkatkan pertisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap
kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama dengan
siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi, dalam pembelajaran kooperatif
siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru
6
3. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang di miliki siswa setelah ia
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan uji statistik serta pembahasan maka
disimpulkan hasil belajar Fisika pada materi suhu dan kalor kelas X semester 2 di
SMA Muhammadiyah 2 Medan T.P 2014/2015 sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan model Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)
menggunakan media peta konsep sebelum diberikan perlakuan rata-rata pretes
sebesar 27,4 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata postes siswa sebesar
68,2.
2. Pembelajaran secara Konvensional sebelum diberikan perlakuan rata-rata
pretes sebesar 28,2 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata postes siswa
sebesar 63,7.
3. Terdapat pengaruh model Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dengan
menggunakan media peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi
suhu dan kalor di kelas X SMA Muhammadiyah 2 Medan, hasil belajar siswa
kelas eksperimen sebesar 68,2 lebih tinggi daripada kelas control 63,7.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka sebagai tindak
lanjut dari penelitian disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Peneliti yang ingin meneliti tentang model pembelajaran kooperatif tipe GI
menggunakan peta konsep sebaiknya bekerja sama dengan guru mata
pelajaran sehingga mengetahui karakter kelas yang akan diteliti sehingga kelas
dapat dikuasai.
2. Peneliti yang ingin meneliti sebaiknya memperkirakan waktu yang digunakan
sehingga waktu yang digunakan efisien untuk melakukan penyelidikan dengan
mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan.
3. Peneliti yang ingin meneliti sebaiknya biasakan siswa didalam kelas latihan
berpendapat sehingga pada saat presentasi siswa bisa lebih percaya diri untuk
65
4. Peneliti yang ingin meneliti sebaiknya beri penjelasan bahwa yang akan
dikerjakan sudah ada di LKS yang telah dibagikan ke siswa sehingga siswa
tidak bertanya kembali.
5. Peneliti yang ingin meneliti sebaiknya memiliki suara yang tegas sehingga
DAFTAR PUSTAKA
Arends, R. (2008). Learning To Teach. Penerbit Pustaka Belajar. Yogyakarta.
Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Arsyad, A. (2007). Media Pembelajaran. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.
Dimyati, M. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Djamarah, S.B., Aswan, Z. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.
Hamalik, O. (2008). Proses Belajar Mengajar. PT Bumi Aksara. Jakarta
Ibrahim, M., Fida, R., Mohammad, N., Ismono. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Pusat University Press. Surabaya.
Istikomah, H., Hendratto,S., Bambang, S. (2010). Penggunaan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Untuk Menumbuhkan Sikap Ilmiah Siswa. Jurnal pendidikan Fisika Indonesia 6, 40-43Jihad, A., Haris, A. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Penerbit Multi Presindo. Yogyakarta.
Jihad, A., Haris, A. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Penerbit Multi Presindo. Yogyakarta.
Joyce, B., Weil, M., Calhoun, E. (2009). Models of Teaching: Model-Model Pengajaran. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Lie, A. (2008). Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning Di Ruang- Ruang Kelas. Penerbit PT. Grasindo. Jakarta.
Purwanto. 2008. Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Sadiman, A. S., Rahardjo, R., Haryono, A., Rahardjito. (2009). Media Pemdidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Penerbit Rajawali Pers. Jakarta.
Sagala, S. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran. Penerbit Alfabeta. Bandung.
67
Sardiman, A., (2011).Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-fakror yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.
Slavin, R., E. (2010). Cooperative Learning Teori, Riset,dan Praktik. Penerbit Nusa Media. Bandung.
Smaldino, S.E., Lowther, D.L., Russel, J.D. (2011). Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar (diterjemahkan dari Instructional Technology and Media For Learning). Penerbit Kencana. Jakarta.
Sudjana, N. (2009). Metoda Statistika. Tarsito. Bandung
Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Mengajar. PT. Rosdakarya. Bandung.
Suprijono, A. (2012). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Penerbit Pustaka Pelajar. Surabaya.
Suryadana, B., Suprihati, T. dan Astutik, S. (2012). Penerapan Model Pembelajaran dan Kooperatif Group Investigation (GI) disertai Media Kartu Masalah pada Pembelajaran Fisika di SMA, Vol. 1, No. 3. Jurnal Pembelajaran Fisika. Hal 268-271
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana. Jakarta.