• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pembudidayaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dalam Kolam Air Tawar Dan Campuran Air Laut Berdasarkan Perubahan Kandungan Mineral

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Pembudidayaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dalam Kolam Air Tawar Dan Campuran Air Laut Berdasarkan Perubahan Kandungan Mineral"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

TESIS

Oleh

SUWARDI MUNTHE

097006022/KIM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Kimia Pascasarjana FMIPA

Universitas Sumatera Utara

Oleh

SUWARDI MUNTHE

097006022/KIM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PENGESAHAN TESIS

Judul Tesis : ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA

(Oreochromis niloticus) DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

Nama Mahasiswa : Suwardi Munthe Nomor Pokok : 097006022

Program Studi : Magister Ilmu Kimia

Menyetujui Komisi Pembimbing

( Jamahir Gultom Ph.D ) ( Dr.Hamonangan Nainggolan, M.Sc )

Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof. Basuki Wirjosentono, M.S, Ph.D) (Dr. Sutarman, M.Sc)

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

TESIS

Dengan ini saya nyatakan bahwa saya mengakui semua karya tesis ini adalah hasil kerja saya sendiri kecuali kutipan dan ringkasan yang tiap satunya telah dijelaskan sumbernya dengan benar.

Medan, 22 Juni 2011

Suwardi Munthe

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN

AKADEMIS

Sebagai sivitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

N a m a : Suwardi Munthe

Nomor Pokok : 097006022

Program Studi : Magister Ilmu Kimia Jenis Karya Ilmiah : Tesis

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non – Exclusif Royalty Free Right) atas Tesis saya yang berjudul :

ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini, Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media, memformat, mengelola dalam bentuk data-base, merawat dan mempublikasikanTesis saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemegang dan atau sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.

Medan, 22 Juni 2011

(6)

Telah diuji pada Tanggal : 22 Juni 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Jamahir Gultom, Ph.D

Anggota : 1. Dr.Hamonangan Nainggolan, M.Sc 2. Prof. Basuki Wirjosentono, MS, Ph.D 3. Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc, M.Phil 4. Dr. Minto Supeno, MS

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 30 Agustus 1967 di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan keluarga L.Munthe (Ayah) dan R.br Simamora (Ibu).

Penulis mengikuti pendidikan formal dimulai tahun 1974 di Sekolah Dasar (SD) Negeri 173393 Dolok Sanggul, lulus tahun 1980. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Dolok Sanggul, lulus tahun 1983. Kemudian pada tahun 1983 penulis melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Dolok Sanggul, lulus tahun 1986.

Tahun 1986 penulis diterima di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Medan melalui jalur seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan terdaftar sebagai mahasiswa pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), jurusan Pendidikan Kimia Strata-1 (S-1), lulus tahun 1992.

Setelah menyelesaikan pendidikan dari IKIP Medan penulis diterima sebagai Staf Pengajar Bidang Studi Kimia di SMA Swasta St. Thomas 1 Medan mulai dari tahun 1992 – 2008. Dan di SMA Swasta RK Deli Murni Diski tahun 2008 sampai dengan sekarang.

(8)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis menyampaikan segala puji syukur kehadir Tuhan Allah

Bapa, Putera, dan Roh Kudus atas segala limpahan rahmat dan kasih karunia-Nyalah

sehingga tesis ini dapat terselesaikan.

Dengan selesainya tesis ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada:

Bapak Gubernur Sumatera Utara c.q Ketua Bappeda Provinsi Sumater Utara

yang memberikan kesempatan menerima beasiswa kepada penulis sebagai

mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, sampai selesainya

tesis ini.

Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H

M.Sc (CTM), Sp. A(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk

mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister.

Dekan Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Dr. Sutarman, M.Sc atas

kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister pada Program Pascasarjana

FMIPA Universitas Sumatera Utara.

Ketua Program Studi Magister/Doktor Kimia, Prof. Basuki Wirjosentono,

MS, Ph.D, Sekretaris Program Studi Magister/Doktor Kimia, Dr.Hamonangan

Nainggolan M.Sc beserta seluruh Staf Pengajar pada Program Studi Magister Kimia

Program Pascasarjana Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga

serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Jamahir Gultom Ph.D dan

Dr.Hamonangan Nainggolan M.Sc, selaku Pembimbing Utama dan Pembimbingan

Lapangan yang dengan penuh perhatian dan telah memberikan dorongan, bimbingan,

(9)

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah SMA Swasta RK

Deli Murni Diski, Bapak Bastian Bangun S.Pd yang telah memberikan kesempatan

dan bantuan moril kepada penulis untuk mengikuti Program Pascasarjana di

Universitas Sumatera Utara.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Laboratorium Analitik

FMIPA, Laboratorium Ilmu-ilmu Dasar (LIDA) Universitas Sumatera Utara, juga

kepada semua asisten dosen di Laboratorium Analitik yang telah banyak membantu

penulis selama penelitian, Laboratorium RISPA, dan Sucofindo Medan.

Terima kasih penulis ucapkan kepada teman-teman Mahasiswa Magister

Kimia angkatan 2009 dan teman lainnya yang telah memberikan bantuan dan

dukungannya serta doanya selama ini.

Kepada Ayah L.Munthe (Op. Hitler doli), Ibunda R. br Simamora (Op.Hitler

boru), Bapak mertua H.Lumban Gaol (Op.Polma doli) almarhum dan Ibu mertua I br

Banjarnahor (Op.Polma boru) yang telah banyak memberikan dorongan dan nasehat

selama dalam mengikuti perkuliahan.

Teristimewa kepada isteri penulis yang tercinta Dra. Esrut Runggu br

Lumban Gaol, anak-anakku terkasih Fransiskus H.M Munthe, Alfonsus Rikardo

Munthe, dan Florensus Okto J. Munthe, terima kasih atas segala pengertian,

pengorbanan dan doanya sehingga bapak dapat menyelesaikan pendidikan.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih kurang sempurna, oleh karena itu

penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pihak

pembaca demi kesempurnaan tesis ini.

Akhirnya semoga tesis ini dapat bermamfaat bagi penelitian dan kemajuan Ilmu

Pengetahuan demi Nusa dan bangsa.

Medan, Juni 2011 Penulis

(10)

ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang studi pengaruh mineral dalam air terhadap pertumbuhan ikan nila dalam tiga macam media air yaitu dalam: air tawar, campuran air tawar dengan air laut dengan perbandingan 1:1, dan campuran air tawar dengan air laut dengan perbandingan 2:1 selama 50 hari. Wadah yang digunakan berupa akuarium dengan ukuran 60 x 40 x 40 cm sebanyak 3 buah, dengan volume air masing-masing 36 liter dengan menggunakan sistem penyaringan dan aerator terus menerus selama penelitian. Materi yang lain yang digunakan dalam penelitian ini meliputi benih ikan nila hitam berumur 2 bulan dengan berat rata-rata 3,68 gram dengan panjang rata-rata 2,50-3,78 cm yang ditebar sebanyak 10 dan 12 ekor/wadah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Pakan ikan yang diberikan dengan frekuensi 3 kali sehari yaitu pagi pukul 08.00, siang pukul 13.00, dan sore hari pada pukul 18.00 WIB. Dengan dosis pemberian pakan 4% dari bobot biomassa. Parameter yang diukur pada media air adalah pH, kadar mineral Ca, Mg, Fe, Cl dan Na. Sedangkan pada ikan adalah pengukuran pertambahan bobot ikan. Hal ini dilakukan setiap selang waktu 10 hari selama 50 hari. Dari hasil analisis di laboratorium menunjukkan terdapat pertambahan bobot pada ikan nila yang signifikan yaitu pada media air tawar pada 0 hari = 4,420 gr, setelah 50 hari menjadi 18,3667 gr (naik 315,5361%), pada media campuran air tawar + air laut (1:1), 0 hari = 3,6833 gr, setelah 50 hari menjadi 15,3000 gr (naik 315,3883%), sedangkan pada media campuran air tawar + air laut (2:1), 0 hari = 3,7166 gr, setelah 50 hari menjadi 15,8222 gr (naik 325,7170%). Sedangkan pada analisa kandungan mineral Ca, Mg, Fe, Cl, dan Na selama pembudidayaan ikan nila pada masing-masing media air selama 0-50 hari terdapat hasil yang menunjukkan terjadinya kandungan masing-masing mineral yang berfluktuasi akibat dari pemberian pakan ikan yang mengandung mineral yang cukup besar. Hasil pengamatan yang lain pada ikan selama pembudidayaan 50 hari terjadi perubahan warna pada tubuh ikan nila pada masing-masing media air, pada air tawar ikan perubahan warna yang terjadi menjadi agak putih kekuning-kuningan sedangkan pada media air campuran menjadi berbintik hitam.

(11)

ABSTRACT

AN ANALYSIS OF BREEDING NILA FISH (OREOCHROMIS NILOTICUS) ON FRESHWATER AND COMBINED SEAWATER CULTURE

BASES THE CHANGE OF MINERAL CONTENT

It has been conducted a study about the influence of mineral in water against the growth of nila fish with three water media such as freshwater, combined freshwater and sea water with ratio 1:1, and combined freshwater and sea water with ratio 2:1 for 50 days. Using aquarium sized of 60 x 40 x 40 cm as culture of 3 pieces, with volume of water each 36 liters, is using filter system and aerator continuously during research. Other material used within this research covering black nila fish breed aged 2 months with average weight of 3.68 grams with average length of 2.50-3.78 cm to spread out some 10 and 12 fishes/ culture. The method used within this research known as experiment method. The fish feed presented in frequency 3 times daily such as morning at 8 a.m, afternoon at 1.p.m, and evening at 6 p.m, with dosage given feed of 4% of biomass weight. Parameter to measure on water media namely pH, rate. Of mineral Ca, Mg, Fe, Cl and Na. Whereas on fish as measured about the extension of fish weight. This matter was done each intermittent 10 days for 50 days. From the result of analysis on laboratory showed existing additional in significantly weight of nila fish noted on freshwater culture on 0 day = 4,4200 g, after 50 days become 18,3667 g (rose 315,5361%), on the combined freshwater + sea water culture (1:1), 0 day = 3,6833 g, after 50 days become 15,3000 gr (rose 315,3883%), while on combined freshwater + sea water culture (2:1), 0 day = 3,7166 g, after 50 days become 15,8222 g (rose 325,7170%). Whereas on analysis about the content of mineral Ca, Mg, Fe, Cl, and Na as long as breeding of nila fish on each water culture for 0-50 days found its result indicating occurrence the content of each mineral fluctuated resultedy by giving fish feed containing sufficiently amount of mineral. The result of other investigation on fish as long as breeding for 50 days has occurred change of color on nila fish body on each water culture, on freshwater the change of fish color seen become a yellowish quite whitish while on the combined water culture become a black spots .

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

ABSTRAK iii

ABSTRACT iv

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Permasalahan 4

1.3 Pembatasan Permasalahan 4

1.4 Tujuan Penelitian 4

1.5 Mamfaat Penelitian 4

1.6 Lokasi Penelitian 4

1.7 Metodologi Penelitian 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1 Klasifikasi Ikan Nila 7

2.2 Jenis-Jenis Strain Ikan Nila 9

2.3 Habitat Ikan Nila 11

2.4 Pengaruh Salinitas Dalam Proses Osmoregulasi 14

2.5 Pakan Ikan 19

2.5.1 Jenis-Jenis Pakan 19

2.5.2 Komposisi Pakan 21

2.5.3 Fungsi Pakan 24

2.5.4 Kebutuhan Nutrisi Pada Ikan 27

(13)

2.5.4.2 Lemak 29

2.5.4.3 Karbohidrat 30

2.5.4.4 Vitamin 30

2.5.4.5 Mineral 31

2.5.5 Pemberian Pakan Pada Ikan 37

2.5.6 Penentuan Kadar Mineral Pakan 38

BAB III METODE PENELITIAN 39

3.1 Alat dan Bahan 39

3.1.1 Alat-Alat Yang Digunakan 39

3.1.2 Bahan-Bahan Yang Digunakan 40

3.2 Prosedur Kerja 41

3.2.2 Penyediaan Reagen 41

3.2.2.1 Pembuatan Pereaksi dan Larutan Standar

Untuk Penentuan Ca+Mg 41

3.2.2.2Pembuatan Pereaksi dan Larutan Standar

Untuk Penentuan Fe 42

3.2.2.3Pembuatan Pereaksi dan Larutan Standar

Untuk Penentuan Cl 43

3.2.2.4Pembuatan Pereaksi dan Larutan Standar

Untuk Penentuan Na 44

3.2.3 Penentuan Kalsium Dengan Metode Titrimetri 45

3.2.4 Penentuan Magnesium + Kalsium Dengan Metode

Titrimetri 45

3.2.5 Penentuan Fe Total Dengan Metode

Spektrofotometri 45

3.2.6 Pembuatan Kurva Standar Fe dengan metode

Spektrofotometri 46

3.2.7 Penentuan Klorida Dengan Metode Titrimetri 46

(14)

3.2.8 Penentuan Natrium Dengan Metode

Flamephotometer 46

3.2.9 Pengukuran pH Sampel 47

3.3 Bagan Penelitian 48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 55

4.1 Hasil Penelitian 55

4.1.1 Hasil Analisa Pakan Ikan 55

4.1.2 Hasil Pengukuran Pertambahan Bobot Pada

Ikan Mulai 0-50 Hari 56

4.1.3 Hasil Analisis Parameter Pada Masing-Masing

Air Dalam Setiap Akuarium 59

4.2 Pembahasan 73

4.2.1 Data Kolektif Dari Setiap Parameter Dari Media Air Tawar Dalam Akuarium Mulai 0 Hari-50 Hari 73

4.2.2 Data Kolektif Dari Setiap Pameter Dari Media Air Tawar + Air Laut = 1:1 Dalam

Akuarium Mulai 0 Hari – 50 Hari 73

4.2.3 Data Kolektif Dari Setiap Pameter Dari Media Air Tawar + Air Laut = 2:1 Dalam

Akuarium Mulai 0 Hari – 50 Hari 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 79

5.1 Kesimpulan 79

5.2 Saran 79

DAFTAR PUSTAKA 81

LAMPIRAN L-1

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 2.2

Salinitas Air

Kimia Utama Yang Terkandung Di Air Laut

12 13 2.3 Persyaratan Mutu Tepung Ikan Untuk Pakan (SNI

01-2715-1996)

23

2.4 Persyaratan Standar Mutu Tepung Ikan Menurut FAO 23

3.1 Daftar Alat-Alat Yang Digunakan 39

3.2 Daftar Bahan-Bahan Yang Digunakan 40

4.1 Data Hasil Analisa Pakan 55

4.2 Pertambahan Bobot Ikan Nila 56

4.3 Persentase Pertambahan Bobot Ikan 56

4.4 Data Keadaan Jumlah Ikan Nila Selama 50 Hari 57 4.5 Jumlah Pakan Yang Diberikan Yang Diberikan Pada Ikan

Nila Dalam Masing-Masing Media Air

58

4.6 Data Pengukuran pH Pada Masing-Masing Media Air 59 4.7 Data Pengukuran Kandungan Kalsium (Ca2+) 60

4.8 Data Persentase Perubahan Jumlah Kandungan Ca2+ 61

4.9 Data Pengukuran Kandungan Magnesium (Mg2+) 62 4.10 Data Persentase Perubahan Jumlah Kandungan Magnesium

(Mg)

63

4.11 Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standard Fe 64

4.12 Data Penurunan Persamaan Garis Regresi Untuk Besi (Fe2+) 66

4.13 Data Pengukuran Kandungan Besi (Fe2+) 68

4.14 Data Persentase Perubahan Jumlah Kandungan Besi (Fe2+) 68

4.15 Data Pengukuran Kandungan Klor (Cl-) 69

4.16 Data Persentase Perubahan Jumlah Kandungan Klor (Cl-) 70

4.17 Data Hasil Pengukuran Kandungan Natrium (Na) 72

4.18 Data Hasil Persentase Pertambahan Kadar Natrium (Na+) 72

(16)

4.20 Data Parameter Media Air Tawar + Air Laut (1:1) Dari 0-50 Hari

73

4.21 Data Parameter Media Air Tawar + Air Laut (2:1) Dari 0-50 Hari

(17)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

4.1

4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8

Kurva Kenaikan Bobot Ikan Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari

Kurva pH Ketiga Media Air Mulai 0 - 50 Hari

Kurva Kadar Ca Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari Kurva Kadar Mg Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari Kurva Kalibrasi Larutan Standar Besi (Fe)

Kurva Kadar Fe Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari Kurva Kadar Cl Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari Kurva Kadar Na Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari

57

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

A Mengambil Air Laut Dari Pantai Poncan Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah

L-1

B Mengambil Air Tawar Danau Toba Dari Tangga Batu, Rianiate Kabupaten Samosir

L-2

C Mengambil Air Dari Masing-Masing Media Untuk Analisa Mineral

L-3

D Pengukuran pH Dari Masing-Masing Media Air L-3

E Penentuan Kadar Kalsium L-3

F Penentuan Kadar Klor L-4

G Penentuan Kadar Magnesium L-5

H Gambar Alat AAS Untuk Penentuan Kadar Natrium L-5

I Penentuan Kadar Besi L-5

J Pemeriksaan Kadar Besi Pada Ketiga Media Air L-6

K Penimbangan Pakan L-6

L Pemberian Pakan Pada Ikan L-6

M Keadaan Media Air Pada Saat 0 Hari L-7

N Keadaan Media Air Pada Saat 10 Hari L-7

O Keadaan Media Air Pada Saat 20 Hari L-8

P Keadaan Media Air Pada Saat 30 Hari L-8

Q Keadaan Media Air Pada Saat 40 Hari L-9

R S T

Keadaan Media Air Pada Saat 50 Hari Komposisi Unsur kimia Di Air Laut Laporan Hasil Analisis Pakan Ikan

(19)

ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT

BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang studi pengaruh mineral dalam air terhadap pertumbuhan ikan nila dalam tiga macam media air yaitu dalam: air tawar, campuran air tawar dengan air laut dengan perbandingan 1:1, dan campuran air tawar dengan air laut dengan perbandingan 2:1 selama 50 hari. Wadah yang digunakan berupa akuarium dengan ukuran 60 x 40 x 40 cm sebanyak 3 buah, dengan volume air masing-masing 36 liter dengan menggunakan sistem penyaringan dan aerator terus menerus selama penelitian. Materi yang lain yang digunakan dalam penelitian ini meliputi benih ikan nila hitam berumur 2 bulan dengan berat rata-rata 3,68 gram dengan panjang rata-rata 2,50-3,78 cm yang ditebar sebanyak 10 dan 12 ekor/wadah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Pakan ikan yang diberikan dengan frekuensi 3 kali sehari yaitu pagi pukul 08.00, siang pukul 13.00, dan sore hari pada pukul 18.00 WIB. Dengan dosis pemberian pakan 4% dari bobot biomassa. Parameter yang diukur pada media air adalah pH, kadar mineral Ca, Mg, Fe, Cl dan Na. Sedangkan pada ikan adalah pengukuran pertambahan bobot ikan. Hal ini dilakukan setiap selang waktu 10 hari selama 50 hari. Dari hasil analisis di laboratorium menunjukkan terdapat pertambahan bobot pada ikan nila yang signifikan yaitu pada media air tawar pada 0 hari = 4,420 gr, setelah 50 hari menjadi 18,3667 gr (naik 315,5361%), pada media campuran air tawar + air laut (1:1), 0 hari = 3,6833 gr, setelah 50 hari menjadi 15,3000 gr (naik 315,3883%), sedangkan pada media campuran air tawar + air laut (2:1), 0 hari = 3,7166 gr, setelah 50 hari menjadi 15,8222 gr (naik 325,7170%). Sedangkan pada analisa kandungan mineral Ca, Mg, Fe, Cl, dan Na selama pembudidayaan ikan nila pada masing-masing media air selama 0-50 hari terdapat hasil yang menunjukkan terjadinya kandungan masing-masing mineral yang berfluktuasi akibat dari pemberian pakan ikan yang mengandung mineral yang cukup besar. Hasil pengamatan yang lain pada ikan selama pembudidayaan 50 hari terjadi perubahan warna pada tubuh ikan nila pada masing-masing media air, pada air tawar ikan perubahan warna yang terjadi menjadi agak putih kekuning-kuningan sedangkan pada media air campuran menjadi berbintik hitam.

(20)

ABSTRACT

AN ANALYSIS OF BREEDING NILA FISH (OREOCHROMIS NILOTICUS) ON FRESHWATER AND COMBINED SEAWATER CULTURE

BASES THE CHANGE OF MINERAL CONTENT

It has been conducted a study about the influence of mineral in water against the growth of nila fish with three water media such as freshwater, combined freshwater and sea water with ratio 1:1, and combined freshwater and sea water with ratio 2:1 for 50 days. Using aquarium sized of 60 x 40 x 40 cm as culture of 3 pieces, with volume of water each 36 liters, is using filter system and aerator continuously during research. Other material used within this research covering black nila fish breed aged 2 months with average weight of 3.68 grams with average length of 2.50-3.78 cm to spread out some 10 and 12 fishes/ culture. The method used within this research known as experiment method. The fish feed presented in frequency 3 times daily such as morning at 8 a.m, afternoon at 1.p.m, and evening at 6 p.m, with dosage given feed of 4% of biomass weight. Parameter to measure on water media namely pH, rate. Of mineral Ca, Mg, Fe, Cl and Na. Whereas on fish as measured about the extension of fish weight. This matter was done each intermittent 10 days for 50 days. From the result of analysis on laboratory showed existing additional in significantly weight of nila fish noted on freshwater culture on 0 day = 4,4200 g, after 50 days become 18,3667 g (rose 315,5361%), on the combined freshwater + sea water culture (1:1), 0 day = 3,6833 g, after 50 days become 15,3000 gr (rose 315,3883%), while on combined freshwater + sea water culture (2:1), 0 day = 3,7166 g, after 50 days become 15,8222 g (rose 325,7170%). Whereas on analysis about the content of mineral Ca, Mg, Fe, Cl, and Na as long as breeding of nila fish on each water culture for 0-50 days found its result indicating occurrence the content of each mineral fluctuated resultedy by giving fish feed containing sufficiently amount of mineral. The result of other investigation on fish as long as breeding for 50 days has occurred change of color on nila fish body on each water culture, on freshwater the change of fish color seen become a yellowish quite whitish while on the combined water culture become a black spots .

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beberapa tahun terakhir ini, budidaya ikan nila di beberapa wilayah di

Sumatera Utara berkembang dengan pesat. Dalam skala rumah tangga pada

masyarakat ada yang membuat budidaya ikan nila sebagai sampingan atau sebagai

hobi dengan memamfaatkan kolam berupa persawahan atau dengan sistem keramba

tanam di sepanjang aliran sungai dengan tujuan untuk menambah pendapatan mereka.

Ada yang memamfaatkan kolam air deras dan kolam air tenang sebagai tempat

budidaya ikan untuk kebutuhan pasar lokal. Hasilnya inilah yang dapat kita jumpai di

beberapa pajak ikan yang tersebar di kota Medan dan sekitarnya. Ikan nila sudah

banyak diminati oleh para ibu-ibu rumah tangga untuk dijadikan sebagai bahan

panganan untuk keluarga. Selain itu dibeberapa restoran dan kedai-kedai nasi ikan

nila sudah menjadi salah satu menu sajian. Hal ini mengingat lebih banyak konsumen

lebih dahulu menanyakan menu ikan nila ketimbang ikan emas, sehingga sebagian

pengelola rumah makan kemudian lebih menambah stok ikan nila ketimbang ikan

emas.

Pada saat ini harga jual ikan nila di pasaran lokal sudah mencapai harga Rp 20.000–

Rp25.000/kg (http://suharjawanasuria.tripod.com/ikan_air_tawar_01.htm).

Selain itu budidaya ikan pada kolam air tenang dipakai juga sebagai orientasi

pemijahan dan hanya menjual benih seperti yang dilakukan petani ikan di desa Totap

ma Jawa Pondok Ladang, Tanah Jawa Kabupaten Simalungun. Benih ikan dengan

ukuran 2-3 sentimeter, umur delapan puluh hari sudah mempunyai harga jual

(22)

Dalam skala besar (perusahaan) budidaya ikan nila dilakukan dengan sistem

Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai usaha utama pada waduk atau danau. Hal ini

dapat dijumpai di sekitar Danau Toba yang diusahai oleh P.T Charoen Pokphand

yang bekerja sama dengan P.T Aquafarm Nusantara. Sedangkan sistem keramba dan

kolam berada di Lubuk Naga Kabupaten Serdang Bedagai. Hasilnya diekspor keluar

negeri seperti ke Eropa, Timur Tengah, dan Amerika yang dibuat berupa fillet atau

daging ikan tanpa tulang. (Wiryanta Wahyu, B.T.,dkk 2010).

Di pasar lokal yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah jenis ikan

nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) sebagai ikan konsumsi, sedangkan untuk

produk ekspor adalah ikan nila jenis merah (Oreochromis sp).

Budidaya ikan nila pada saat ini dan dimasa yang akan datang adalah

merupakan suatu kegiatan yang sangat penting. Hal ini disebabkan ikan pada

umumnya adalah merupakan salah satu jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh

manusia sebagai sumber protein. Disamping itu pembudidayaan ikan nila tergolong

mudah dan membutuhkan biaya produksi yang minim dibandingkan pembudidayaan

jenis ikan yang lain. Resiko terhadap penyakit atau hama pada ikan nila relatif lebih

kecil. Ikan nila juga memiliki toleransi pH dalam kondisi asam atau basa (Khairuman,

dkk.,2007)

Budidaya ikan yang dilakukan secara tradisional, kebutuhan akan pakan dapat

dipenuhi oleh pakan alami yang tumbuh di kolam. Akan tetapi kolam ikan yang

dikelola secara intensif produksi pakan alami sudah tidak mampu lagi memenuhi

kebutuhan ikan yang ditebarkan dengan kepadatan tinggi. Konsekuensinya, untuk

memenuhi kebutuhan pakan yang tepat dan berkesinambungan, harus digunakan

pakan buatan. Penyediaan pakan buatan ini harus ditangani secara sungguh-sungguh

karena sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya. Adapun pakan buatan tidak

dapat dipisahkan dari pengetahuan nutrisi. Menurut Djajasewaka (1985), yang

dimaksud dengan pengetahuan nutrisi ikan adalah pengetahuan mengenai pemberian

(23)

Jumlah dan komposisi zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh ikan sangat

bervariasi, tergantung dari spesies, ukuran, jenis kelamin, kondisi tubuh, dan kondisi

lingkungan.

Pada dasarnya, zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh ikan dapat dibedakan atas 3

kelompok yaitu :

1. Kelompok yang menghasilkan energi yaitu: protein, lemak, dan karbohidrat

yang disebut juga komponen makro (macro component) dibutuhkan dalam

jumlah relatif besar karena akan menghasilkan energi bila dicerna oleh ikan.

2. Kelompok yang tidak menghasilkan energi yaitu vitamin dan mineral yang

disebut juga komponen mikro (micro component) dibutuhkan dalam jumlah

relatif kecil. Walau diperlukan dalam jumlah yang kecil namun berguna untuk

menjaga keseimbangan gizi dalam tubuh ikan. Kedua komponen ini sangat

besar peranannya dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan

pertumbuhan ikan.

3. Kelompok yang ketiga adalah air. Meskipun bukan pakan dalam arti

sebenarnya, air tetap diperlukan sebagai media dalam proses metabolisme dan

pembentukan cairan tubuh(Afrianto .E., dkk., 2009).

Berdasarkan hal di atas, ikan nila diduga dapat direkomendasikan menjadi

salah satu komoditas yang tidak hanya di air tawar tetapi juga pada air payau, dan air

laut. yang dapat meningkatkan produktifitas tambak. Akan tetapi, dugaan tersebut

belum dapat dipraktekkan secara langsung di lapangan. Salah satu aspek yang harus

dikaji terlebih dahulu adalah pengaruh perbedaan salinitas dan mineral dalam air

terhadap pertumbuhan ikan nila. Hal tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

untuk mengetahui kondisi yang optimum dalam pertumbuhan ikan nila dalam

budidaya ikan mengingat ikan nila tergolong ikan tawar meskipun memiliki potensi

(24)

1.2 Permasalahan

1. Bagaimanakah pertumbuhan ikan nila pada kolam yang media airnya tidak

diganti selama pembudidayaan.

2. Bagaimana perubahan kandungan mineral dalam air selama pembudidayaan.

1.3 Pembatasan Permasalahan

- Ikan nila yang dibudidayakan adalah jenis ikan nila hitam.

- Kandungan mineral yang menjadi parameter dalam penelitian ini adalah klorida, natrium, magnesium, kalsium, dan besi.

- Medium budidaya ikan nila hitam dilakukan dalam 3 jenis air yaitu: air tawar, air tawar dicampur dengan air laut dengan perbandingan 1 :1 dan 2 : 1.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini difokuskan untuk:

1. Mempelajari perkembangan ikan nila dalam kolam selama 50 hari dengan

hanya melakukan aerasi.

2. Mengetahui perubahan kandungan mineral di dalam media air budidaya ikan

nila baik dalam air tawar maupun dalam media air campuran yaitu air tawar +

air laut (1:1) dan (2:1) selama pembudidayaan.

1.5Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat membantu masyarakat khususnya yang

berminat beternak ikan baik sebagai penghasilan utama maupun sebagai penghasilan

tambahan.

1.6Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik FMIPA USU,

(25)

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (Rispa) Medan, dan Laboratorium Sucofindo di

Jl.Jendral Gatot Subroto Medan.

1.7Metodologi Penelitian

- Penelitian ini adalah eksperimen laboratorium yang bersifat purposif.

- Air Tawar diambil dari Danau Toba desa Tangga Batu, Rianiate Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

- Air laut diambil dari pantai Poncan Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah.

- Campuran air tawar dengan air laut dibuat dengan perbandingan 2 : 1 dan 1 : 1.

- Bibit ikan nila hitam diambil dari penjual bibit ikan yang ada di daerah Simpang Selayang Tanjung Sari Medan.

- Budidaya ikan nila dilakukan di dalam tiga buah akuarium, masing-masing berukuran 60 x 40 x 40 cm yang diisi dengan tiga jenis air tersebut

di atas dengan volume masing-masing 36 liter.

- Banyaknya ikan nila yang dibudidayakan di dalam masing-masing akuarium adalah antara 10 dan 12 belas ekor.

- Pada saat bibit ikan nila dimasukkan kedalam masing-masing akuarium diambil sejumlah air dari masing-masing akuarium untuk penyelidikan

kandungan mineral khususnya klorida, natrium, magnesium, kalsium, dan

besi.

- Metode yang digunakan dalam penentuan kandungan mineral disesuaikan metode yang direkomendasi pada Standard Methods for the Examination

of Water and Wastewater (AWWA, APHA, WPCF, 1985).

- Pemberian pakan terhadap masing-masing ikan dalam akuarium dilakukan 3 kali sehari sesuai dengan standar pemberian pakan ikan yaitu metode

(26)

- Penentuan kadar atau jumlah kandungan mineral dilaksanakan setiap sepuluh hari. Demikian juga pengukuran terhadap pertambahan massa

pada masing-masing ikan pada akuarium.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Nila

Ikan nila mempunyai nama ilmiah Oreochromis niloticus dan dalam bahasa

Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila bukanlah ikan asli perairan Indonesia,

melainkan ikan introduksi (ikan yang berasal dari luar Indonesia, tetapi sudah

dibudidayakan di Indonesia). Bibit ikan ini didatangkan ke Indonesia secara resmi

oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969 dari Taiwan ke Bogor.

Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada

petani di seluruh Indonesia(Wiryanta Wahyu, B.T.,dkk, 2010).

Sesuai dengan nama Latinnya Oreochromis niloticus berasal dari sungai Nil di

Benua Afrika. Awalnya ikan ini mendiami hulu sungai Nil di Uganda. Selama

bertahun-tahun, habitatnya semakin berkembang dan bermigrasi ke arah selatan

(kehilir) sungai melewati danau Raft dan Tanganyika sampai ke Mesir. Dengan

bantuan manusia, ikan nila sekarang sudah tersebar sampai kelima benua meskipun

habitat yang disukainya adalah daerah tropis dan sub tropis. Sedangkan di wilayah

beriklim dingin , ikan nila tidak dapat hidup baik (Suyanto ,S.R., 2009).

Pada awalnya ikan nila dikenal dengan nama Tilapia nilotica. Aristoteles dan

rekan-rekannya memberi nama itu sekitar tahun 300 tahun SM. Mengingat Mesir

kuno bukan satu-satunya negeri yang menghargai nila tetapi di kawasan Junani juga

telah dikenal sebagai penggemar ikan nila sehingga diyakini telah menamakan

Tilapia nilotica (ikan Nil) pada waktu tersebut (http://ikan nila.com/mengenal ikan

nila dan legendanya).

Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah Indonesia

melalui Direktur Jenderal Perikanan sejak tahun 1972. Menurut klasifikasi yang

(28)

Oreochromis menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tilapia.

Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh para ilmuwan

meskipun dikalangan awam tetap disebut Tilapia nilotica. Perubahan klasifikasi

tersebut dipelopori oleh Dr.Trewavas (1980) dengan membagi genus Tilapia menjadi

tiga genus berdasarkan prilaku ikan terhadap telur dan anak-anaknya yaitu:

- Genus Oreochromis

Pada genus Oreochromis induk ikan betina mengerami telur di dalam

rongga mulut dan mengasuh sendiri anak-anaknya.

Anggota genus ini adalah : Oreochromis hunteri, Oreochromis niloticus,

Oreochromis mossambicus, Oreochromis aureus, dan Oreochromis

spilurus.

- Genus Sarotherodon

Pada genus Sarotherodon induk jantanlah yang mengerami telur dan

mengasuh anaknya.

Yang termasuk spesies ini adalah Sarotherodon melanotheron dan

Sarotherodon galilaeus.

- Genus Tilapia

Ikan yang termasuk genus ini memijah dan menaruh telur pada suatu

tempat atau benda (substrat). Induk jantan dan betina bersama-sama atau

bergantian menjaga telur dan anak-anaknya.

Contoh spesies ini adalah Tilapia sparmanii, Tilapia rendalli, dan Tilapia

zillii.

Klasifikasi lengkap yang kini dianut oleh para ilmuwan adalah yang telah

dirumuskan oleh Dr.Trewavas sebagai berikut:

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Sub-filum : Vertebrata

(29)

Ordo : Percomorphi

Sub-ordo : Percoidea

Famili : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Jenis (spesies) : Oreochromis niloticus (Suyanto,S.R.,2009)

2.2

Jenis-Jenis Strain Ikan Nila

Semenjak pertama kali ikan nila datang pada tahun 1969 ke Indonesia, sudah

banyak mengalami perkembangan, khususnya dalam perbaikan genetis yang

dilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BPPAT), Balai Benih Induk

(BBI), Balai Benih Air Tawar (BBAT), dan lembaga penelitian lainnya. Selain

melakukan pemuliaan genetis, pemerintah juga mendatangkan strain baru yang

berasal dari Filipina, Taiwan, dan Thailand. Dengan terciptanya strain baru ini

diharapkan dapat memperbaiki kualitas dan dipasaran tidak kalah bersaing khususnya

pasar ekspor.

Berikut beberapa strain ikan nila yang cukup dikenal dan digemari, baik oleh petani

maupun konsumen.

a. Nila Gift (Genetic Improvement of Farmed Tilapias)

Dikembangkan oleh International Center for Living Aquatic Research

Management (ICLARM) pada tahun 1987 dengan dukungan dari Asian

Development Bank dan Unites Nations Development Programe (UNDP).

Strain ini merupakan hasil seleksi dan persilangan ikan nila dari Kenya, Israel,

Senegal, Ghana, Singapura, Thailand, Mesir, dan Taiwan.

b. Nila Best (Bogor Enhanced Strain Tilapias)

Merupakan salah satu ikan unggulan yang dihasilkan pada tahun 2008.

Mempunyai fisik yang mirip dengan nila gift. Merupakan hasil seleksi

yang menggunakan populasi dasar yang salah satunya bersumber dari

(30)

strain ikan nila yaitu nila lokal, nila danau tempeh, nila gift generasi

ketiga, dan nila gift generasi keenam (generasi terakhir).

c. Nila Gesit (Genetically Supermale Indonesian Tilapias)

Yang berarti ikan nila yang secara genetis diarahkan menjadi jantan super.

Ikan ini dihasilkan di BBPBAT Sukabumi hasil kerja sama dengan IPB dan

BBPBAT. Rintisannya sudah dimulai sejak 2001 dan dirilis tahun 2007.

Sumber gennya berasal dari nila Gift G3.

d. Nila Jica (Japan for International Cooperation Agency)

Jica adalah sebuah lembaga donor dari Jepang. Tahun 2002, Jica bekerja

sama dengan BBAT Jambi melakukan rekayasa genetis strain ikan nila hasil

penelitian Kagoshima Fisheries Research Station , Jepang di Jambi. Tahun

2004 dihasilkan ikan nila unggul yang dinamakan strain Jica. Sebagian

masyarakat Jambi menyebut nila strain Jica dengan nama nila kagoshima.

e. Nila Nifi (National Inland Fishery Institute)

Disebut juga nila Bangkok. Nifi pertama kali didatangkan dari Thailand pada

tahun 1989. Dikenal juga sebagai nila merah atau nirah. Ada juga

menyebutnya mujarah (mujair merah) atau kakap merapi. Pertumbuhannya

lebih cepat dari ikan nila lokal. Keunggulan lainnya mampu menghasilkan

keturunan yang dominan jantan. Ikan ini kemungkinan merupakan hasil

persilangan antara mujair dengan nila O.aureus, O.zilii, O.hornorum.

f. Nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa)

Berasal dari Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Merupakan hasil pemuliaan

genetis dari nila gift dan nila get dari Filipina yang dilakukan oleh Balai

Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, di Purwakarta, Jawa Barat dan

(31)

akhir. Gennya berasal dari nila gift dan nila get (Genetically Enhanced of

Tilapias).

g. Nila hitam

Merupakan strain ikan nila yang pertama kali didatangkan dari Taiwan.

Karena begitu akrabnya masyarakat dengan ikan nila ini sehingga tidak heran

jika ada yang menyebutnya dengan ikan nila lokal. Memiliki keunggulan

mudah berkembang biak, pertumbuhan badannya cepat, serta pemakan

plankton dan tanaman air lunak yang tumbuh di dalam kolam.

h. Nila Cangkringan

Merupakan nila yang berasal dari Cangkringan. Ikan nila merah

ini merupakan hasil pemuliaan genetis dari strain nifi, citralada, Singapura,

dan Filipina oleh BAT atau BBI Cangkringan. Strain ini sebenarnya belum

resmi dirilis ke masyarakat.

i. Nila Larasati

Dikenal juga dengan nila janti. Ikan nila strain ini merupakan hasil pemuliaan

BBI Janti di Klaten. Memiliki keseragaman warna sampai 90% warna

merah(Wiryanta Bernard T.W, dkk.,2010).

Jenis nila unggul yang direkomendasikan sebagai bibit untuk pembesaran secara

cepat ( 2,5 bulan panen) adalah nila merah hasil silangan (hibrida), nila Gesit dan

nila Best(Carman Odang, dkk., 2010).

2.3 Habitat Ikan Nila

Habitat artinya lingkungan hidup tertentu sebagai tempat tumbuhan atau

(32)

Ikan nila memiliki eurihaline yang menyebabkan ikan nila dapat hidup di

dataran rendah yang berair tawar hingga perairan bersalinitas, sehingga

pembudidayaannya sangat mudah.

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas

dapat juga mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Salinitas air berdasarkan

[image:32.612.115.531.283.419.2]

persentase garam dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Salinitas Air

Salinitas Air Garam (%)

Air tawar <0,05

Air payau 0,05 – 3

Air saline 3 – 5

Brine >5

Sumber : http://rudy-dblues.blogspot.com/2010/01/tingkatan-salinitas-pada-air...

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami

sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan

garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu,

air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai

5%. Lebih dari 5%, disebut brine.

Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar

3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam

lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam

(33)

Penyelidikan komposisi air laut pertama sekali diselidiki oleh seorang ahli

oseanografi W.Dittmar pada tahun 1873 dengan menggunakan contoh air laut

sebanyak 77 sampel dari beberapa perairan di Samudera Pasifik, Hindia, dan Atlantik

melalui ekspedisi yang dilakukan oleh H.M.S.Challenger hasilnya adalah seperti yang

tertera pada tabel 2.2 berikut ini.

Tabel 2.2 Kimia Utama Yang Terkandung Di Air Laut

No Ion Nilai (%)

1. Cl- 55,04

2. Na+ 30,61

3. SO42- 7,68

4. Mg2+ 3,69

5. Ca2+ 1,16

6. K+ 1,10

7. HCO3 - 0,41

8. Br - 0,19

9. H3BO3 0,07

10. Sr 2+ 0,04

12. F - 0,00

13. CO3 2- 0,00

Sumber : Sverdrup dkk, 1962. The Ocean

Hasil kajian terakhir kandungan kimia yang ada di laut dikeluarkan oleh The Open

University dan Buku Marine Chemistry, komposisi kimia yang terlarut di dalam air

laut terdapat sebanyak 81 unsur (dapat dilihat pada lampiran pada L-10).

Nila dapat hidup di lingkungan air tawar, air payau, dan air asin. Kadar garam

air yang disukai antara 0 – 35 permil(Watanabe, 1989).

Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan proses adaptasi yang

bertahap. Kadar garam air dinaikkan sedikit demi sedikit. Pemindahan ikan nila

secara mendadak ke dalam air yang kadar garamnya sangat berbeda dapat

(34)

Ikan nila bisa hidup pada kadar garam sampai 35%, namun ikan sudah tidak

dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada kadar garam yang tinggi ikan

membutuhkan energi yang minim untuk osmoregulasi sehingga energi yang

digunakan untuk pertumbuhan berkurang(Tim Karya Tani Mandiri, 2009).

Ikan nila yang masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan

dibanding dengan ikan yang sudah besar. Nila dapat tumbuh dan berkembang dengan

baik pada lingkungan perairan dengan alkalinitas rendah atau netral. Nilai pH air

tempat hidup ikan nila berkisar antara 6 – 8,5. Namun pertumbuhan optimalnya

terjadi pada pH 7 – 8. Batas pH yang mematikan adalah 11(Carman Odang,

dkk.,2010).

Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan

pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi

organisme perairan. Suhu kolam atau perairan yang masih bisa ditolirir ikan nila

adalah 15–37oC. Suhu optimum untuk pertumbuhan nila adalah 25-30oC. Oleh karena

itu, ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi hingga ketinggian

800 meter di atas permukaan laut. Sedangkan untuk pemijahan, suhu ideal untuk bisa

menghasilkan telur dan larva adalah 22–37oC(Wiryanta, B.T.W., dkk.,2010)

2.4 Pengaruh Salinitas Dalam Proses Osmoregulasi

Yang dimaksud dengan osmoregulasi adalah proses pengatur konsentrasi

cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau

organisme hidup. Sedangkan pengertian osmoregulasi bagi ikan adalah merupakan

upaya ikan untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan

lingkungan melalui mekanisme pengaturan tekanan osmotik.

Ginjal akan memompakan keluar kelebihan air tersebut sebagai air seni. Ginjal

(35)

ini bertujuan untuk menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus

memompa air seni sebanyak-banyaknya.

Air seni yang keluar dari tubuh ikan sangat encer dan mengandung sejumlah

kecil senyawa nitrogen, seperti: asam urat, creatine, creatinine, dan amonia.

(http://anaklautundip.blogspot.com/2010/04/osmoregulasi-ikan.html).

Ikan laut hidup pada lingkungan yang hipertonik terhadap jaringan dan cairan

tubuhnya, sehingga cenderung kehilangan air melalui kulit dan insang dan kemasukan

garam-garam. Untuk mengatasi kehilangan air, ikan “minum air laut

sebanyak-banyaknya”. Sehingga kandungan garam akan meningkat dalam cairan tubuh.

Padahal dehidrasi dapat dicegah dengan jalan proses ini dan kelebihan garam ini

harus dihilangkan. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk

mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air

tawar. Tubuli ginjal mampu berfungsi sebagai penahan air. Jumlah glomeruli ikan

laut cenderung lebih sedikit dan bentuknya lebih kecil dari pada ikan air tawar.

Untuk organisme akuatik, proses tersebut digunakan sebagai langkah untuk

menyeimbangkan tekanan osmose antara substansi dalam tubuhnya dengan

lingkungan melalui sel yang permeabel. Dengan demikian, semakin jauh perbedaan

tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme

yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, hingga batas

toleransi yang dimilikinya.

(http://rudy-dblues.blogspot.com/2010/01/tingkatan-salinitas-pada-air...).

Regulasi ion dan air pada ikan terjadi hipertonik, hipotonik atau isotonik

tergantung pada perbedaan (lebih tinggi, lebih rendah atau sama) konsentrasi cairan

tubuh dengan konsentrasi media. Perbedaan ini dapat dijadikan sebagai strategi dalam

(36)

Untuk ikan-ikan potadrom yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya

dalam proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke

lingkungannya dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat terjadi

dengan cara meminum sedikit air atau bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan

air dalam tubuhnya dapat dikurangi dengan cara membuangnya dalam bentuk urin.

Untuk ikan-ikan oseanodrom yang bersifat hipoosmotik terhadap

lingkungannya, air mengalir secara osmose dari dalam tubuhnya melalui ginjal,

insang, dan kulit ke lingkungannya, sedangkan ion-ion masuk ke dalam tubuhnya

secara difusi.

Sedangkan untuk ikan-ikan eurihalin, memiliki kemampuan yang cepat

menyeimbangkan tekanan osmotik dalam tubuhnya dengan media (isoosmotik),

namun karena kondisi lingkungan perairan tidak selalu tetap, maka proses

osmoregulasi seperti halnya pada kedua jenis ikan di atas tetap terjadi(Fujaya,

Y.,2004 dan Marshall, W.S., et al.,2006).

Perubahan kadar salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan,

sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar

proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila

salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar kondisi homeostasis dalam

tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang dimilikinya. Kerja osmotik

memerlukan energi yang lebih tinggi pula. Hal tersebut juga berpengaruh kepada

waktu kenyang (satiation time) dari ikan tersebut (Conides, A.J., et al.,2004).

Proses osmoregulasi juga menghasilkan produk buangan seperti feses dan

amoniak, sehingga media pemeliharaan akan berwarna keruh sebagai akibat

banyaknya feses yang dikeluarkan ikan. Dampak dari ekskresi nitrogen tersebut akan

mempengaruhi kehidupan ikan di dalamnya yaitu terhadap kondisi ambient, yang

(37)

toleransi, maka ikan tersebut mengalami kematian. Mengingat tidak semua ikan

mengalami kematian, maka dapat dipastikan bahwa daya toleransi pada populasi ikan

dalam akuarium berbeda-beda. Hal ini diduga karena perbedaan kondisi tubuh saat

sebelum dimasukkan dalam media praktik termasuk intensitas parasit, tingkat stress

dan lain-lain.

Tingkat stress juga berbeda-beda yang dialami oleh benih dalam akuarium,

sebagai akibat dari perlakuan. Kajian yang lebih mendalam, dapat ditelusuri dengan

kandungan kortisol. Banyak hal berkenaan dengan kortisol selama proses

metabolisme, misalnya saat starvasi (puasa), osmoregulasi, pengerahan simpanan

energi untuk migrasi, proses pematangan gonad, pemijahan dan selama stres yang

dialami oleh ikan itu sendiri(Van Ginneken.V.,et al.,2006).

Aktivitas osmoregulasi dapat dipengaruhi oleh stadia ikan atau krustase dalam

hubungannya dengan salinitas. Penelitian pada stadia juvenile dan dewasa krustase,

regulasi ion Na/K-ATP menunjukkan hal-hal yang berbeda-beda jika diamati dengan

aktivitas enzim Na/K-ATPase. Pada Artemia salina dan A. franciscana aktivitas

enzim, tersebut meningkat sejalan dengan perkembangannya sejak setelah menetas

hingga tahap mulai berenang bebas. Pada udang galah, hal tersebut juga berlangsung

demikian. Namun pada stadia dewasa, aktivitas Na/K-ATPase pada udang galah tidak

berbeda nyata setelah diperlakukan pada salinitas yang berbeda(N.Wilder,M.,et al.,

2001, Kordi K, M.G.H.,2007).

Kemampuan adaptasi ikan, juga dapat diketahui melalui penelitian pada

juvenile fugu Takifugu rubripes terhadap lingkungan bersalinitas rendah. Ikan

dipindahkan dari lingkungan air laut 100% ke dalam media air tawar 25, 50, 75, dan

100% air laut dan kemudian didata mortalitasnya selama 3 hari. Tidak ada kematian

ikan dalam media baru bersalinitas 25 – 100% air laut dan semua ikan mati dalam

media 100% air tawar. Nampaknya, pada ikan yang dipindahkan ke media 25 – 100%

(38)

dilanjutkan dengan memindahkan ikan dari lingkungan 100% air laut ke media air

tawar, 1, 5, 10, 15, dan 25% air laut. Semua ikan hidup dalam media 5 – 25%, tetapi

mati dalam media air tawar dan 1% air laut. Ikan yang hidup pada media 25% air laut

kemudian dipindahkan kembali ke media air tawar 1 dan 5% air laut dan

menunjukkan bahwa osmolalitas darahnya menurun hingga mendekati level subletal,

yakni sekitar 300 mOsm/kg.H2O. Nampaknya preaklimatisasi dalam 25% selama 7

hari tidak terlalu berpengaruh terhadap selang kemampuan survivalnya. Meskipun

kelangsungan hidup dan osmolalitas darahnya sedikit meningkat dengan cara

preaklimatisasi dalam 25%, osmolalitas darahnya mengalami penurunan setelah

dipindahkan ke dalam media bersalinitas kurang dari 10%. Penemuan ini

mengindikasikan bahwa fugu dapat beradaptasi pada lingkungan hipoosmotik karena

adanya kemampuan hiperosmoregulasi, namun sel-sel klorid yang dimilikinya

berkurang dalam mengabsorpsi ion-ion pada lingkungan hipoosmotik(Lee, K.M., et

al.,2005).

Untuk air tawar , organ yang terlibat dalam osmoregulasi antara lain insang,

usus dan ginjal. Sel-sel yang berperan dalam organ insang untuk proses tersebut

adalah mitokondria-rich dan role of pavement(Marshall,W.S., et al, 2006).

Struktur insang memiliki hubungan dengan kemampuan toleransi terhadap

kisaran salinitas. Hal ini dapat ditunjukkan dengan histology dari struktur insang

Caprella (Amphipoda: caprellidea) yang dikumpulkan dari komunitas Sargassum di

timur laut Jepang dan diamati di bawah mikroskop elektron. Epitel sel insang dari

ikan-ikan tersebut terdiri dari perkembangan apical infolding system (AIS) dan

basolateral infolding system (BIS) yang dihubungkan dengan mitokondria. Percobaan

tentang toleransi terhadap salinitas dari 4 spesies Caprella mengindikasikan bahwa

konsentrasi median letalnya pada 20oC berkisar antara 12,97- 18,84 practical salinity

unit (p.s.u) dengan kelangsungan hidup 80% pada kondisi salinitas di atas 25,37 p.s.u

(39)

pada Caprella spp, menunjukkan bahwa Caprella spp yang menghuni komunitas

Sargassum merupakan organisme yang eurihalin (Takeuchi,I.,et al.,2003).

2.5 Pakan Ikan

Setiap mahluk hidup, termasuk ikan membutuhkan energi untuk

mempertahankan kelangsungan hidup dan kelestarian lingkungannya. Sumber utama

energi bagi ikan berasal dari makanan sebab ikan tidak mampu memamfaatkan energi

matahari secara langsung seperti yang yang dilakukan oleh tanaman.

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertumbuhan ukuran baik bobot maupun

panjang dalam satu periode waktu tertentu (Effendi, 1979). Sedangkan menurut

Fujaya (2004), pertumbuhan adalah pertambahan ukuran baik panjang maupun berat.

Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Faktor

lingkungan yang paling penting adalah zat hara.

Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang

meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan

dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan

fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan , dan penyakit(Hepper dan

Prugnin, 1984).

2.5.1 Jenis-jenis Pakan

Di alam ikan memenuhi kebutuhan makannya dengan pakan yang tersedia di

alam. Dalam hal ini, ikan mempunyai kesempatan untuk memilih dan selalu sesuai

dengan selera ikan. Sedangkan dalam budidaya ikan, tidak ada yang lebih penting

selain pengadaan pakan buatan yang baik dan memaksimalkan tingkat konsumsi

(40)

pertumbuhan, bahkan akan mengalami kematian. Dan apabila pakan yang dikonsumsi

kurang memadai, ikan tidak mampu mempertahankan kesehatannya.

Secara umum, makanan ikan dibuat dari komposisi yang terdiri atas

bahan-bahan makanan yang berasal dari nabati dan hewani, terutama hasil ikutan dari sisa

proses pengolahan makanan dan pabrik. Dari sekian banyak bahan baku nabati,

70-75% merupakan biji-bijian dan hasil olahannya, 15-25% limbah industri makanan,

dan sisanya hijauan sebagaimana layaknya bahan pakan yang berasal dari tumbuhan,

kadar seratnya tinggi.

Bahan dari hewani terbuat dari: tepung ikan, tepung rebon dan benawa, tepung

kepala udang, tepung darah, silase ikan, tepung bulu ayam dan tepung tulang, tepung

bekicot, tepung cacing tanah, dan limbah unit penetasan ayam.

Bahan nabati terbuat dari: dedak, dedak gandum, jagung, cantle/sorgum,

tepung terigu, tepung kedele, tepung ampas tahu, tepung bungkil kacang tanah,

bungkil kelapa, biji kapuk/randu, biji kapas, tepung daun duri, tepung daun lamtoro,

tepung daun ketela pohon, dan isi perut besar hewan memamah biak.

(http://zaldibiaksambas.wordpress.com/2010/06/20/manajemen-pakan...).

Berdasarkan tingkat kebutuhannya, pakan buatan dapat dibagi menjadi tiga

kelompok, yaitu pakan tambahan, pakan suplemen, dan pakan utama.

Pakan tambahan adalah pakan yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan

pakan. Dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah mendapatkan pakan dari alam,

namun jumlahnya belum memadai untuk tumbuh dengan baik sehingga perlu diberi

pakan buatan sebagai pakan tambahan.

Pakan suplemen adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menambah komponen

(41)

mengandung beberapa vitamin dan mineral tertentu untuk melengkapi nutrient yang

diperoleh dari pakan alami

Pakan utama adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menggantikan sebagian besar

atau keseluruhan pakan alami.

Sampai saat ini, belum ada pakan yang dibuat khusus untuk jenis ikan

tertentu. Petani ikan umumnya mengenal pakan ikan dan pakan udang, tidak

mengenal pakan untuk ikan herbivor, karnivor, atau omnivor. Pada kenyataannya,

memang belum ada pakan buatan yang diproduksi oleh pabrik besar khusus

kebutuhan ikan tertentu. Semua jenis ikan dipaksa untuk menjadi omnivor (Afrianto

E., dkk.2005).

2.5.2 Komposisi Pakan

Standar nutrisi pakan tambahan antara lain mengandung protein 25-40%,

karbohidrat 10-12%, lemak 4-8%, serat kasar 5-13%, dan kadar air 13-14% (Afrianto

E, dkk., 2005, http://suharjawanasuria.tripod.com/ikan_air_tawar_01.htm).

Selain itu pabrik pakan juga melengkapinya dengan vitamin dan mineral

sebagai bahan tambahan dalam campurannya yang dikemas dalam bentuk premiks.

Berikut adalah contoh vitamin dan mineral tambahan pada pakan ikan:

- Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A,D,E,K,B kompleks), 2 asam

amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, I, Zn, Co dan

Cu), serta antioksidan (BHT).

- Rhodiamix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), asam

amino essensia metionin, dan 8 mineral (Mg, Fe, Mo, Ca, I, Zn, Co dan Cu),

(42)

- Mineral B12: mengandung tepung tulang, CaCO3, FeSO4, MnSO4, KI,

CuSO4, ZnCO3, serta vitamin B12 (sianokobalamin)

(http://zaldibiaksambas.wordpress.com/2010/06/20/manajemen-pakan...)

Pada dasarnya, pakan buatan yang sering kita jumpai termasuk dalam

kelompok senyawa pakan dan silase ikan. Dua jenis senyawa pakan yang biasa dibuat

oleh pabrik pakan adalah pakan yang berbentuk tepung, pasta, cake, serta pakan yang

berbentuk pelet.

Secara umum tepung ikan dikategorikan sebagai Fish Protein Consentrat

(FPC). Terdapat 3 tipe FPC yaitu A, B, dan C. Tepung ikan tipe A dan tipe B untuk

konsumsi manusia, sedangkan tipe C adalah untuk makanan ternak.

Dalam menentukan kelas tipe/tipe tepung ikan terdapat standard tertentu,

antara lain dengan memenuhi persyaratan mutunya. Persyaratan mutu tepung ikan

untuk pakan ternak yang harus dipenuhi dalam Standar Nasional Indonesia (SNI)

dapat dilihat pada tabel 2.2, sedangkan persyaratan mutu tepung ikan menurut FAO

(43)
[image:43.612.122.530.134.444.2]

Tabel 2.3 Persyaratan Mutu Tepung Ikan untuk Pakan (SNI 01-2715-1996)

K e l a s Persyaratan

Mutu I Mutu II Mutu III Kimia:

- Air(%; maks.)

- Protein kasar (%;min.)

- Serat kasar (%;maks.)

- Abu(%;maks) - Lemak(%;maks) - Kalsium(%;maks) - Phospor(%;maks) - Garam(%;maks) Mikrobiologi:

Salmonella (pada 25 g sample)

Organoleptik: Nilai Minimum 10 65 1,5 20 8 2,5-5,0 1,6-3,2 2 Negatif 7 12 55 2,5 25 10 2,5-6,0 1,6-4,0 3 Negatif 6 12 45 3 30 12 2,5-7,0 1,6-4,7 4 Negatif 6

Sumber : Revisi Standar Nasional Indonesia No. 01-2715-1992

Tabel 2.4 Persyaratan Standar Mutu Tepung Ikan menurut FAO

Komposisi Tipe A Tipe B Tipe C

Protein 67,5 65 60

Daya cerna pepsin (%; min.)

92 92 92

Lisin (%; min.) 6,5 dari protein 6,5 dari protein 6,5 dari protein

Air (%; maks.) 10 10 10

Lemak(%;maks.) 0,75 3 10

Klorida(%;maks) 1,5 1,5 2

SiO2 (%;maks.) 0,5 0,5 0,5

Bau, rasa Lemah Tidak ada

spesifikasi

[image:43.612.115.528.483.693.2]
(44)

2.5.3 Fungsi Pakan

Pakan tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi dan pertumbuhan. Fungsi

lain dari pakan bagi ikan adalah sebagai berikut:

1. Pengobatan

Pakan dengan kualitas dan kuantitas yang memadai akan akan berpengaruh terhadap

pertumbuhan ikan dan tidak mudah diserang penyakit. Karena pakan akan membantu

terciptanya mekanisme pertahanan tubuh (kekebalan alami) yang ditentukan sistem

hormonal. Dengan demikian, apabila pakan yang dikonsumsi baik, maka sistem

hormonal akan berjalan dengan baik dan dengan sendirinya akan terbentuk sistem

pertahanan tubuh yang baik pula. Pada dasarnya, pakan yang diperuntukkan bagi

pengobatan tidak berbeda dengan pakan buatan lainnya. Perbedaannya hanya pada

penambahan senyawa tertentu yang dapat berfungsi sebagai obat. Jenis obat yang

biasa ditambahkan ke dalam pakan buatan biasanya golongan antibiotik dan asam

organik. Oksitetrasiklin dan sulfanilamid merupakan dua jenis antibiotik yang banyak

digunakan dalam campuran pakan.

2. Pembentukan Warna Tubuh

Fungsi pakan buatan sebagai pembentuk warna tubuh ikan banyak dimamfaatkan

dalam budidaya ikan hias. Namun demikian dalam budidaya ikan konsumsi dapat

juga digunakan. Pakan yang digunakan untuk membentuk warna tubuh ikan tidak

berbeda dengan pakan buatan lainnya, kecuali adanya penambahan pigmen. Ikan

yang diberi pakan yang mengandung pigmen akan memiliki warna tubuh lebih

cemerlang. Ikan memiliki sel khusus penghasil pigmen, yaitu iridosit dan kromatofor.

Iridosit terdiri atas leukofor dan guanafor yang merupakan sel cermin untuk

memantulkan warna di luar tubuhnya. Kromatofor adalah sel-sel yang mengandung

(45)

yang mengandung pigmen kuning, linkofor yang mengandung pigmen putih, dan

melanofor yang mengandung pigmen hitam.

Ada dua jenis pigmen yang berperan dalam pembentukan warna tubuh ikan, yaitu

karoten dan melanin. Karoten membentuk warna kuning, jingga tua (oranye), dan

merah, sedangkan melanin terutama mempengaruhi pembentukan warna coklat

sampai hitam. Pigmen ini terutama tersimpan dalam kerangka luar, yaitu sisik atau

kulit.

Sumber pigmen yang baik adalah pakan yang mengandung karoten jenis:

- Xantofil (xantophyl) dengan konsentrasi 20-60 mg/kg pakan. Dapat diperoleh dari

udang rebon (tepung udang), rumput laut (kelp), daun alfalfa, dan tepung kelopak

bunga marigold.

- Astasantin (astaxanthin) dan xantaxanthin merupakan dua jenis pigmen karoten

yang juga berperan dalam pembentukan warna, selain itu dapat membantu proses

reproduksi dan meningkatkan proses metabolisme.

3. Peningkatan Cita Rasa

Cita rasa ikan dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi, baik pakan alami maupun

pakan buatan. Dengan demikian, ikan ikan di suatu perairan akan memiliki aroma dan

cita rasa yang relatif berbeda dengan ikan sejenis yang hidup di daerah lain.

Demikian pula, ikan sejenis yang tertangkap di daerah yang sama namun pada musim

berbeda akan memiliki aroma dan cita rasa yang relatif berbeda.

Saat ini, aroma dan cita rasa daging ikan yang kurang enak bukan merupakan

masalah besar. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan aroma dan

(46)

4. Reproduksi

Fungsi lain dari pakan buatan adalah untuk membantu mempercepat proses

pematangan gonad sehingga proses reproduksi dapat dipercepat. Pakan yang baik

akan menunjang kerja organ tubuh sehingga dapat bekerja lebih baik, termasuk sitem

hormone dan endokrin. Sistem endokrin sangat membantu proses reproduksi, yaitu

dengan cara mengatur pengangkutan hormon reproduksi menuju organ reproduksi.

Jenis pakan yang dapat memacu perkembangan dan pematangan gonad adalah:

- Cumi-cumi, udang, kepiting, kerang yang masih segar.

- Selain itu penambahan vitamin E ke dalam pakan buatan juga diketahui dapat merangsang pematangan gonad yaitu dengan mencegah oksidasi EPA

(eikosapentanoic acid) dimana EPA diubah menjadi prostaglandin yang berperan

mempercepat gonad.

- Bersama dengan vitamin A yang berperan sebagai antioksidan, penambahan vitamin E akan meningkatkan fungsi PUFA (polyunsaturated fatty acid) yang

diperlukan dalam proses pembentukan hormon.

- Pemberian pigmen karoten minimal 10 mg/kg pakan diketahui dapat mempengaruhi proses perkembangbiakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

pigmen karoten dapat merangsang proses pembuahan.

5. Perbaikan Metabolisme Lemak

Dibandingkan dengan protein ikan lebih mudah mencernannya dibandingkan dengan

lemak dan karbohidrat. Kondisi ini kurang menguntungkan, mengingat sebaiknya

protein diperuntukkan bagi pertumbuhan, sedangkan kebutuhan energi diperoleh dari

lemak dan karbohidrat. Maka untuk mengupayakan kemampuan ikan mencerna

lemak dan karbohidrat sehingga menghasilkan energi yang dapat dimamfaatkan

(47)

- Pabrik pakan menggunakan asam bile yaitu cairan yang dihasilkan oleh hati. Senyawa ini banyak mengandung garam natrium, dan kalium. Garam ini berfungsi

menurunkan tegangan permukaan lemak dan mengubah bentuk lemak menjadi

bola-bola kecil (micelle) membentuk emulsi sehingga lebih mudah diserap oleh

tubuh.

- Dengan penambahan lesitin yaitu lemak yang mengandung gliserol dan asam fosfat. Senyawa dapat ditemukan pada otak, kedelai, biji bunga mata hari, jagung, dan

kuning telur.

- Penambahan mikroba, selain menguraikan lemak sehingga mudah dicerna oleh ikan, mikroba juga dapat membantu pencernaan karbohidrat dan protein (Afrianto

E., dkk.,2005).

2.5.4 Kebutuhan Nutrisi Pada Ikan

Seperti halnya hewan lain, ikanpun membutuhkan zat gizi tertentu untuk

kehidupannya, yaitu untuk menghasilkan tenaga, menggantikan sel-sel yang rusak

dan untuk tumbuh. Zat gizi yang dibutuhkan adalah protein, lemak, karbohidrat,

vitamin, mineral, dan air.

2.5.4.1 Protein

Berbeda dengan tumbuhan, ikan tidak mampu mensintesis protein, asam amino dari

senyawa nitrogen anorganik. Oleh karena itu, kehadiran protein dalam makanan

(pakan) ikan mutlak diperlukan.

Ikan membutuhkan lebih banyak protein dibandingkan dengan mamalia. Kebutuhan

protein (%) pada ikan tinggi, tetapi kebutuhan absolute (g/kg penambahan berat

(48)

dibandingkan dengan mamalia. Alasan lain adalah protein digunakan sebagai sumber

energi utama.

Ikan membutuhkan protein berkisar antara 20 – 60% dari berat total makanan, namun

kebutuhan optimalnya hanya 30 – 36%. Bila terdapat kelebihan protein dalam pakan

akan menghambat laju pertumbuhan karena sebagian protein akan dimetabolisme

menjadi protein baru dan sisanya akan diubah menjadi energi.

Protein hewani memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan protein nabati. Hal

ini disebabkan kandungan asam amino pada protein hewani lebih lengkap daripada

protein nabati. Selain itu, protein nabati selalu dibungkus oleh lapisan selulosa

sehingga agak sulit atau lambat bagim ikan untuk mencernanya.

Kualitas protein sangat tergantung pada kemudahannya dicerna dan nilai biologisnya.

Kedua faktor tersebut sangat ditentukan oleh jumlah dan jenis asam amino yang

menyusunnya. Semakin lengkap kandungan asam aminonya, kualitas protein semakin

baik.

Adapun fungsi protein dalam tubuh ikan adalah:

a. Merupakan sumber energi bagi ikan, terutama apabila komponen lemak dan

karbohidrat yang terdapat di dalam pakan ikan tidak mampu memenuhi

kebutuhan energi.

b. Berperan dalam pertumbuhan maupun pembentukan jaringan tubuh.

c. Berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak.

d. Merupakan komponen utama dalam pembentukan enzim, hormone, dan

antibody

e. Turut berperan dalam pembentukan gamet.

Gambar

Tabel 2.1 Salinitas Air
Tabel 2.3 Persyaratan Mutu Tepung Ikan untuk Pakan (SNI 01-2715-1996)
Tabel 3.1 Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Tabel 3.2 Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

tangkapan di sungai dan yang dibudidayakan di KJA 21 6 Data kualitas perairan di masing-masing stasiun selama penelitian 22 7 Data biometrik ikan nila di Sungai Cimanuk

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “ Proksimat, Mineral dan Struktur Jaringan Daging Juvenil Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Umur Panen yang

Data hasil analasis kandungan mineral (Fe, Ca, Mg, Mn, dan Zn) dan logam berat (Pb dan Cu) disajikan dalam bentuk tabulasi dan histogram, dan dianalisis secara

KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA AIR, SEDIMEN DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus Linn.). DI KARAMBA

Menurut Reid (1961), perairan dengan kandungan bahan organik total di atas 26 mg/L adalah tergolong perairan yang subur.Kandungan BOT selama penelitian berkisar antara

Kadar abu kulit ikan Nila (O. niloticus) samak menunjukkan banyaknya kandungan mineral total yang terdapat pada kulit. Proses bating dapat menghilangkan

Hasil penelitian menunjukkan ikan nila di sungai Kali Tengah Sidoarjo mengandung logam berat timbal (Pb), kandungan logam berat timbal (Pb) dalam daging ikan nila yang hidup

Analisis Histopatologis Insang Dan Kandungan Logam Berat Pb, Cd Dan Fe Pada Ikan Nila Oreochromis Niloticus Yang Dibudidayakan Di Kolam Bekas Tambang Kota Samarinda.. Dinamika