• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hukum Mengenai Penerapan Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Terhadap Pelaku Perusakan Hutan (Studi Putusan No : 21/Pid.Sus/2015/PN.Tkn)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Hukum Mengenai Penerapan Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Terhadap Pelaku Perusakan Hutan (Studi Putusan No : 21/Pid.Sus/2015/PN.Tkn)"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

A.Buku

Akib, Muhammad, Politik Hukum Lingkungan Dinamika dan Refleksinya Dalam Produk Hukum Otonomi Daerah, PT. Rajagrafindo Persada: Jakarta, 2012 Alwan, Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Illegal Logging

Berdasarkan Asas Strict Liability, Ratu Jaya: Medan, 2009

Amrani, Hanafi, Mahrus Ali, Sistem Pertanggungjawaban Pidana Perkembangan dan Penerapan, PT RajaGrafindo Persada : Jakarta, 2015

Ediwarman, Monograf Metodologi Penelitian Hukum, PT. Sofmedia : Medan, 2015

---, Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kriminologi, Genta Publishing : Yogyakarta, 2014

Ekaputra, Mohammad, Dasar-dasar Hukum Pidana, USU Press : Medan, 2015 H.S, Salim, Dasar-Dasar Hukum Kehutanan, Sinar Grafika : Jakarta, 2002 Hamzah, Andi, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika : Jakarta, 2005 Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, Sinar Grafika : Jakarta, 2012

Husin, Sukanda, Penegakan hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika: Jakarta, 2009

Iskandar, Hukum Kehutanan, Prinsip Hukum Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup Dalam Kebijakan Pengelolaan Kawasan Hutan Berkelanjutan, Mandar Maju: Bandung, 2015

Khakim ,Abdul, Pengantar Hukum Kehutanan Indonesia Dalam Era Otonomi Daerah, PT. Citra Aditya Bakti : Bandung, 2005

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta : Jakarta, 2002

Nawawi Arief, Barda, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti: Bandung, 1996

(2)

Rahmadi, Takdir, Hukum Lingkungan di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2013

Siahaan, N.H.T. Hukum Lingkungan, Pancuran Alam Jakarta : Jakarta, 2009 ---, Hutan, Lingkungan dan Paradigma Pembangunan, Pancuran Alam:

Jakarta, 2007

Sukardi, Illegal Logging dalam Perspektif Politik Hukum Pidana (Kasus Papua), Universitas Atma Jaya Yogyakarta : Yogyakarta, 2005

Sumardi, S.M. Widyastuti, Dasar-Dasar Perlindungan Hutan, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta, 2004

Supramono, Gatot , Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Di Indonesia, Rineka Cipta: Jakarta, 2013

Supriadi, Hukum Kehutanan dan Hukum Perkebunan Di Indonesia, Sinar Grafika : Jakarta, 2010

Supriyadi, Bambang Eko, Hukum Agraria Kehutanan Aspek Hukum Pertanahan Dalam Pengelolaan Hutan Negara, PT Raja Grafindo: Jakarta, 2013 Syahrin , Alvi, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, PT. Sofmedia:

Jakarta, 2009

---, Ketentuan Pidana Dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, PT. Sofmedia : Jakarta, 2011

Yusuf Abdul Muis, Mohammad Taufik Makarao, Hukum Kehutanan Di Indonesia, Rineka Cipta: Jakarta, 2011

Zain, Alam Setia, Hukum Lingkungan Konservasi Hutan, Rineka Cipta: Jakarta, 1997

B.Peraturan Perundang-Undangan :

Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

(3)

C.Internet :

Cut Yusnawati, Tesis Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan Pengaruh Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, 2004, http://repository.usu.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/6548/D0400 223.pdf?sequence=1

FWI/GFW, Majalah Hukum, “Keadaan Hutan Indonesia”, Bogor : Forest Watch

Indonesia dan Washington D.C, 2001,

http://www.wri.org/sites/default/files/pdf/indoforest_full_id.pdf

Intip Hutan (Media Informasi Seputar Hutan Indonesia), Bogor : Forest Watch

Indonesia, 2015,

http://fwi.or.id/wp-content/uploads/2015/03/intip_hutan_HR.pdf

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan), http://kbbi.web.id/deforestasi

Potret Keadaan Hutan Indonesia periode 2009-2013, Bogor : Forest Watch Indonesia, 2014,http://fwi.or.id/wp-content/uploads/2015/05/PKHI-2009-2013_update__sz.pdf

Potret Keadaan Hutan Indonesia periode 2009-2013, Bogor : Forest Watch Indonesia, 2014, http://fwi.or.id/wp-content/uploads/2015/05/PKHI-2009-2013_update__sz.pdf

Pusat Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan, “Deforestasi Indonesia

Pada Tahun 2011 – 2012 Hanya Sebesar 24 Ribu Hektar”, Dalam Siaran

Pers Nomor : S. 409 /PHM-1/2014,

http://www.dephut.go.id/uploads/files/ce7d69be1e3df78967e11864d92d34 e1.pdf

Wahyu Eridiana, Peningkatan Pendidikan Pada Masyarakat Sekitar Hutan di Kabupaten Bandung (Suatu Alternative Untuk Menekan Terjadinya

Perambahan Hutan),

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195505051 986011WAHYU_ERIDIANA/artikel_pengingkatan_pendidikan.pdf

D.Putusan Pengadilan

(4)

A.Faktor Ekonomi Masyarakat

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki.49

Krisis keuangan dan ekonomi yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1997 sampai saat ini belum dapat dituntaskan dengan baik sehingga dampaknya masih sangat terasa terutama oleh masyarakat strata bawah. Harga-harga kebutuhan pokok menjadi melambung tinggi sementara penghasilan masyarakat relatif tetap merupakan indikator semakin rendahnya daya beli masyarakat dan menurunnya tingkat kesejahteraan bangsa Indonesia. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Rendahnya tingkat kesejahteraan ini dapat pula berakibat pada rendahnya

49

(5)

pemahaman masyarakat dan para penyelenggara negara sistem penegakan hukum di bidang kehutanan.50

Di negara berkembang seperti Indonesia, pengrusakan sumber daya alam antara lain disebabkan oleh kemiskinan dan tingkat pengangguran rakyatnya khususnya masyarakat lokal di daerah hutan tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang terlibat bahkan menjadi ujung tombak kegiatan Illegal Logging. Akan tetapi keterlibatan masyarakat setempat didasari adanya desakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena kurang atau tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi mereka.51 Keterpurukan ekonomi menyebabkan tidak adanya pekerjaan tetap atau ketiadaan alternatif mata pencarian yang produktif sekaligus mampu mengangkat kualitas hidup mereka.52

Banyak sekali masyarakat Indonesia, meskipun jumlahnya tidak diketahui secara pasti, yang tinggal di dalam atau di pinggir hutan atau hidupnya bergantung pada hutan.53 Pada pertengahan tahun 2000, Departemen Kehutanan melaporkan bahwa 30 juta penduduk secara langsung mengandalkan hidupnya pada sektor kehutanan meskipun tingkat ketergantungannya tidak didefenisikan. Sebagian besar masyarakat ini hidup dengan berbagai strategi ekonomi portofolio tradisional, yakni menggabungkan perladangan padi berpindah dan tanaman pangan lainnya dengan memancing, berburu, menebang dan menjual kayu, dan mengumpulkan hasil-hasil hutan nonkayu seperti rotan, madu, dan resin untuk

50

Abdul Muis Yusuf dan Mohammad Taufik Makarao, Hukum Kehutanan Di Indonesia, Rineka Cipta: Jakarta, 2011, Halaman 220.

51

Alwan, Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Illegal Logging Berdasarkan Asas Strict Liability, Ratu Jaya: Medan, 2009, Halaman 26.

52 Ibid, Halaman 25. 53

(6)

digunakan dan dijual. Budidaya tanaman perkebunan seperti kopi dan karet juga merupakan sumber pendapatan yang penting. Salah satu hasil hutan nonkayu yang paling berharga adalah rotan. Indonesia mendominasi perdagangan rotan dunia, dengan pasokan yang melimpah dari rotan liar dan hasil budidaya yang mencapai 80 sampai 90 persen dari pasokan rotan di seluruh dunia. Jutaan orang juga menggunakan tumbuh-tumbuhan hutan yang diketahui khasiatnya untuk pengobatan.54

Wilayah di dalam dan sekitar hutan menjadi wilayah yang sarat dengan aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Banyak masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan menggantungkan hidupnya dari sumberdaya hutan. Hasil analisis Brown (2004) mengestimasi berapa banyak orang yang tinggal di hutan negara dan berapa banyak yang miskin di Indonesia. Penduduk pedesaan yang tinggal di lahan hutan negara sebanyak 48,8 juta orang dan 9,5 juta orang diantaranya adalah masyarakat miskin. Kebijakan pemerintah yang mendukung perusahaan membuat masyarakat tidak punya ruang kelola sehingga tingkat kesejahteraan rakyat rendah. Didukung kurangnya perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat lokal, kompensasi yang tidak memuaskan, atau janji-janji yang tidak ditepati membuat masyarakat semakin menggantungkan hidupnya dari sumberdaya hutan. Akses masyarakat yang dibatasi setelah masuknya perusahaan memaksa masyarakat untuk merambah hutan untuk melangsungkan hidupnya. Secara langsung terjadi pemiskinan masyarakat lingkar hutan yang aksesnya terhadap sumberdaya hutan dibatasi oleh kehadiran perusahaan.

54

(7)

Semakin banyak orang yang menggantungkan hidupnya terhadap hutan, maka akan semakin banyak pula yang merambah hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Memperhatikan kesejahteraan masyarakat lingkar hutan perlu dilakukan untuk mengurangi deforestasi. Kemiskinan yang dialami masyarakat lingkar hutan, ketergantungan hidupnya terhadap hutan, cenderung tinggi.55

Fungsi sosial budaya dari hutan dapat dilihat dengan adanya keterkaitan antara hutan dengan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan, baik dalam hubungannya sebagai sumber mata pencaharian, hubungan religius, hubungan adat dan sebagainya. Kemiskinan masyarakat desa sekitar hutan yang awalnya disebabkan oleh kebijakan struktural pemerintah, ke depan dapat disebabkan oleh keterbatasan sumber alam yang sudah tidak bisa berproduksi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Oleh karenanya diperlukan suatu upaya pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui upaya rehabilitasi sumber daya hutan dan lahan.56

B.Faktor Pendidikan Dan Pengetahuan Masyarakat

Adanya perkembangan global serta peningkatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh pada peningkatan kesadaran masyarakat.57 Kesadaran hukum masyarakat yang masih rendah merupakan kendala yang sangat terasa dalam penegakan hukum di samping penerangan dan penyuluhan hukum lingkungan secara luas.58

55

Potret Keadaan Hutan Indonesia periode 2009-2013, op.cit., Halaman 86

56

Alwan, Op. Cit, Halaman 66.

57

Bambang Eko Supriyadi, Op.cit, Halaman 135.

58Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika : Jakarta, 2005, Halaman

(8)

Penduduk Indonesia, dengan persebarannya yang tidak merata, di Pulau Jawa dan Pulau Bali sangat padat, serta di Pulau-pulau lain tersebar dan terpisah-pisah. Begitu juga tingkat pendidikan berbeda, kualitas penduduk di pulau-pulau besar jauh lebih baik daripada penduduk di pulau-pulau lainnya, apalagi untuk tingkat pendidikan di pulau-pulau terpencil. Tentu dengan sendirinya untuk penduduk yang tingkat pendidikannya lebih tinggi, akan lebih mudah menerima memahami peningkatan sistem penegakan hukum di bidang kehutanan, dibandingkan dengan penduduk yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Dengan adanya perbedaan terhadap pendidikan dan kualitas penduduk tentu akan menjadikan suatu perbedaan pula di dalam meningkatkan sistem penegakan hukum di bidang kehutanan. Bagi penduduk yang kualitas dan tingkat pendidikannya lebih tinggi dan tidak tersebar tentunya akan lebih cepat dalam menerima sistem penegakan hukum di bidang kehutanan dibandingkan dengan penduduk dengan kualitas dan tingkat pendidikannya lebih rendah dan tersebar. 59

Karena sumber daya itu dapat dan bebas untuk dimanfaatkan oleh setiap orang untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, maka setiap orang berusaha dan berlomba-lomba untuk memanfaatkan atau mengeksploitasi sumber daya semaksimal mungkin guna perolehan keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya. Setiap orang berpikir, bahwa kalaupun ia berusaha menggunakan sumber daya secara bijaksana hal itu akan sia-sia saja karena orang lain tidak berpikir dan berbuat demikian, sehingga orang yang pada mulanya memikirkan upaya konservasi atau perlindungan sumber daya alam akan merasa kehilangan

59

(9)

motivasi untuk melakukan upaya-upaya konservasi. Pada akhirnya tiap orang berpikir egoistis dan berpacu untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya alam. Pada akhirnya semua orang atau masyarakat secara keseluruhan yang akan menderita kerugian. Jadi adanya kebebasan untuk mengeksploitasi sumber daya alam akan membawa kehancuran bagi masyarakat.60

Pemanfaatan serta eksploitasi sumber daya hutan memberikan kesejahteraan bagi segelintir masyarakat tetapi sebaliknya menjanjikan kehancuran bagi kebanyakan masyarakat yang secara menyeluruh dapat berupa, banjir, kekeringan, tingginya laju erosi, timbulnya sedimen, hilangnya keanekaragaman hayati, hilangnya tingkat pendapatan masyarakat, terancamnya ekosistem dan keprihatinan sosial. Menurut Durjat menyatakan keprihatinan antara lain : perilaku masyarakat berkembang semakin rumit, sumber daya alam dan lingkungan hidup semakin mundur daya dukungnya. Pada kondisi seperti ini sumber daya hutan terasa sekali akibat faktor sosial ekonomi, budaya, perilaku masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan masalah-masalah keleastarian sumber daya hutan. Perilaku masyarakat tidak bisa dipersalahkan tanpa melihat penyebab terjadinya sikap dan perilaku yang demikian bukan hanya diakibatkan besarnya kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat tersebut saja tetapi juga dipengaruhi oleh dorongan dan desakan para pemodal/pengusaha. Sebenarnya pembangunan kehutanan sangat memerlukan dukungan berupa kegiatan penyuluhan,

60

(10)

pendidikan, dan pelatihan, peraturan perundang-undangan, penyediaan informasi serta penelitian dan pengembangan. 61

Untuk menghilangkan kendala diperlukan metode khusus. Bahkan orang yang mendidik, memberi penerangan dan penyuluhan hukum perlu dibekali dengan pengetahuan terlebih dahulu mengenai metode di samping substansi yang harus disampaikan kepada masyarakat. 62 Sebelum melaksanakan program pendidikan pada masyarakat sekitar hutan, terlebih dahulu harus melakukan pengelompokan keluarga petani perambah berdasarkan : usia, jenis kelamin, dan status perkawinan mereka. Gunanya adalah untuk memudahkan pemilihan jenis pendidikan yang tepat dan kelompok mana yang perlu didahulukan atau diprioritas pendidikannya. Jenis pendidikan yang dapat ditawarkan yaitu pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan keterampilan jangka pendek bersertifikat (kurang dari 1 tahun). Bagi anak-anak usia sekolah yang masih duduk di Sekolah Dasar, dapat dibantu pendidikannya hingga menyelesaikan sekolah kejuruan tingkat menengah. Bagi anak-anak usia sekolah tetapi tidak melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama maupun menengah atas diberikan pendidikan jangka pendek bersertifikat itu agar mereka memperoleh kekuatan ketika melamar pekerjaan. Demikian pula bagi kepala keluarga yang berusia produktif, keterampilan jangka pendek yang bisa cepat menghasilkan uang lebih diutamakan pelaksanaan programnya, supaya mereka dapat secepatnya

61

Cut Yusnawati, Tesis Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan Pengaruh Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove di Kecamatan

Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, 2004,

http://repository.usu.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/6548/D0400223.pdf?sequence=1, diakses pada tanggal 1 april 2016 pukul 20.00 WIB

62

(11)

mengalihkan pekerjaan atau mendapat tambahan penghasilan dari keterampilan barunya itu. Ibu-ibu rumah tangga dapat pula diberi pendidikan kewirausahaan, misalnya dengan membuat aneka makan yang bahan bakunya dari daerah itu sendiri. Melalui perbaikan pendidikan di atas, diharapkan pada masyarakat hutan akan terjadi perubahan struktur sosial yang akan mengarah kepada masyarakat yang memiliki kemampuan dan lebih bermakna dalam kehidupannya. 63

Tingkat kesadaran dan ketaatan hukum terhadap pentingnya fungsi dan peranan hutan, kiranya dapat eksis di semua strata sosial baik yang secara langsung terlibat dalam pemanfaatan hutan maupun mereka yang sekadar memahami kaidah hukum perlindungan sumber daya hutan. 64

C.Faktor Pengawas Kehutanan

Wilayah Indonesia yang sangat luas ini dan daerah hutan yang terpencil menyebabkan kurangnya pengawasan aparat kehutanan. Ditambah lagi terbatasnya sarana dan prasarana bagi aparat kehutanan dalam pelaksanaan pengawasan tersebut serta rendahnya sumber daya manusia aparat keamanan itu sendiri.65 Dengan terjadinya tumpang tindih dalam peraturan perundang-undangan mengakibatkan terjadinya kerancuan dalam menerapkan dan menegakkan hukum dalam bidang kehutanan ini dan juga mengakibatkan tumpang tindihnya instansi

63

Wahyu Eridiana, Peningkatan Pendidikan Pada Masyarakat Sekitar Hutan di Kabupaten Bandung (Suatu Alternative Untuk Menekan Terjadinya Perambahan Hutan),

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195505051986011WAHYU_ERID IANA/artikel_pengingkatan_pendidikan.pdf, diakses pada tanggal 1 april 2016 pukul 21.00 WIB

64

Alam Setia Zain, Hukum Lingkungan Konservasi Hutan, Rineka Cipta: Jakarta, 1997, Halaman 67.

65

(12)

yang berwenang dalam menangani masalah kehutanan. Sehingga dengan demikian akan timbul kesulitan dalam menangani kejahatan kehutanan ini.66.

Seringkali yang menjadi dalih minimnya keberhasilan penegakan hukum kehutanan yaitu dikarenakan minimnya petugas polisi kehutanan (Polhut). Padahal, Kementerian Kehutanan telah membentuk Satuan Khusus Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) pada Januari 2005 yang hingga tahun 2007, anggota SPORC67 berjumlah 893 orang yang tersebar dalam 11 brigade. Kementerian Kehutanan juga telah memiliki 8.800 anggota Polhut dan sebanyak 1.240 orang Polhut saat ini telah menjadi Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPPNS). Namun kenyataannya, permasalahan penegakan hukum bukan semata masalah kurangnya jumlah aparat penegak hukum, akan tetapi lebih pada komitmen lembaga penegakan hukum kehutanan itu sendiri. 68

66

Ibid.

67

SPORC merupakan satuan Polhut khusus yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan kompetensi Polhut reguler. Kemampuan tersebut terkait dengan tingkat kehandalan, profesionalitas, dukungan kemampuan dan keterampilan fisik serta memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi. Kekuatan SPORC nantinya akan berjumlah 1500 orang anggota yang akan dibentuk selama 5 tahun dimulai tahun 2005. Pembentukan SPORC ini juga akan menjawab kekurangan jumlah aparat pengamanan hutan yang saat ini berjumlah 8.800 orang yang ditempatkan di Pusat sebanyak 3.100 orang dan di Daerah berjumlah 5.700 orang. Sebanyak 1.240 anggota diantaranya telah menjadi Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Berdasarkan kualifikasi pendidikan Polhut yang ada terdiri dari 350 anggota berpendidikan jenjang sarjana (S1), sarjana muda/diploma 28 orang, dan lebih kurang 8.420 orang berpendidikan SLTA. Pada tahun pertama ini telah ditetapkan sebanyak 300 orang anggota SPORC yang berasal dari 10 propinsi, yaitu Papua, Irjabar, Sulsel, Kaltim, kalteng, Kalbar, Jambi, Sumsel, Riau, dan Sumut. Mereka akan mengikuti Diklat selama 38 hari mulai tanggal 28 November 2005 di Secapa Polri Sukabumi. Pembukaan Diklat rencananya akan dibuka oleh Deputi Operasi Kapolri yang akan dihadiri oleh unsur pimpinan dari dephut dan Polri. Dan direncanakan akan ditutup oleh Menteri Kehutanan dan Kapolri. Melalui Diklat satuan khusus SPORC ini diharapkan para anggota akan mempunyai kemampuan yang lebih di bidang kepolisian dan kompetensi lainnya yang pada akhirnya dapat diterapkan di lapangan guna mengamankan kawasan hutan dari berbagai gangguan dan tekanan yang semakin meningkat. Lihat SATUAN POLHUT REAKSI CEPAT (SPORC) oleh Kepala Pusat Informasi Kehutanan, Jakarta, 25 November 2005 diakses dari http://www.dephut.go.id/index.php/news/details/1733, diunduh 29 maret 2016

68

(13)

Pasal 59 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menerangkan, pengawasan kehutanan dimaksudkan untuk mencermati, menelusuri, dan menilai pelaksanaan pengurusan hutan, sehingga tujuannya dapat tercapai secara maksimal dan sekaligus merupakan umpan balik bagi perbaikan dan atau penyempurnaan pengurusan hutan lebih lanjut. Penjelasan Pasal 59 menyatakan, Yang dimaksud dengan pengawasan kehutanan adalah pengawasan ketaatan aparat penyelenggara dan pelaksana terhadap semua ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan.

Pasal 65 UU Nomor 41 Tahun 1999 menerangkan ketentuan lebih lanjut tentang pengawasan kehutanan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Penjelasan Pasal 65 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyatakan, Peraturan pemerintah memuat aturan antara lain :

a. Tata cara dan mekanisme pengawasan b. Kelembagaan pengawasan

c. Objek pengawasan

d. Tindak lanjut pengawasan

(14)

bersalah mendapat sanksi pemberhentian dan pencabutan kartu penguji hasil hutan.69

Faktanya sering terjadi, pertama, tidak jarang aparat kehutanan bisa sendiri atau melalui keluarganya terlibat dalam perilaku kolusi, seperti melibatkan diri dalam bisnis kehutanan. Untuk level menengah, ada semacam pembenaran dan menganggap pemberian hadiah tertentu merupakan hal yang biasa. Kondisi ini pun sudah lazim dilakukan oleh pengusaha untuk urusan dari meja ke meja. Akibatnya, oknum aparat kehutanan terjebak dan sulit mengambil keputusan yang mendorong tercapainya penegakan hukum. Kedua, pemeriksaan fisik hutan hanya dilakukan di atas meja, bukan terjun ke lapangan. Bisa saja alasan instansi kurangnya jumlah aparat. Sementara jika terjun ke lapangan memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, jika aparat kehutanan benar-benar memeriksa sesuai prosedur, kemungkinan ia dianggap menghambat kegiatan di industri dan akhirnya mereka tidak akan mendapat honor dari pengusaha. Ketiga, peredaran kayu berjalan terus dan tidak mengenal waktu. Contoh sederhana, kayu yang akan masuk ke pabrik, bisa tengah malam atau dini hari. Sementara aparat kehutanan tidak mungkin terus-menerus standby di lokasi pabrik. Ini lebih menyangkut persoalan komitmen aparat kehutanan. Keempat, permasalahan kondisi geografis dimana luasnya wilayah hutan juga menuntut adanya aparat dengan jumlah dan kualitas yang memadai, serta didukung dengan sarana dan kewenangan yang jelas.70

69

Abdul Muis Yusuf dan Mohammad Taufik Makarao, op.cit., Halaman 236.

70

(15)

Hal yang sangat membingungkan pengusaha sektor kehutanan adalah siapa yang sebenarnya berwenang mengendalikan dan mengawasi kegiatan kehutanan, Polisi Kehutanan (POLHUT) atau Polri? Maka tidak jarang pengusaha sektor kehutanan kemudian berkolaborasi dengan oknum Polri untuk mengatur keleluasaan pengangkutan hasil hutan, daripada dengan POLHUT.71

Dalam praktiknya sering terjadi penyalahgunaann wewenang para petugas yang menjadi ujung tombak dalam peredaran kayu bulat dengan meloloskan kayu liar ke konsumen. Akibat lolosnya kayu bulat tanpa izin ke industri menyebabkan praktik pencurian kayu dan perdagangan kayu liar terus berlangsung, bahkan semakin meningkat. Dengan dilakukannya penertiban petugas-petugas kehutanan di lapangan yang menjadi ujung tombak dalam pengawasan peredaran kayu, diharapkan dapat meminimalisasi peredaran kayu ilegal.

D.Faktor Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Perusakan Hutan Masalah penegakan hukum, baik secara “in abstracto” maupun secara “in

concreto”, merupakan masalah aktual yang akhir-akhir ini mendapat sorotan

tajam dari masyarakat.72 Banyak faktor yang memengaruhi dan menentukan kualitas penegakan hukum. Faktor itu dapat berupa kualitas individual (SDM), kualitas institusional/struktur hukum (termasuk mekanisme tata kerja dan manajemen), kualitas sarana/prasarana, kualitas perundang-undangan (substansi hukum), dan kualitas kondisi lingkungan (sistem sosial, ekonomi, politik, budaya;termasuk budaya hukum masyarakat). Dengan demikian, upaya

71

Ibid, Halaman 196.

72

(16)

peningkatan kualitas penegakan hukum harus mencakup keseluruhan faktor/kondisi/kausa yang memengaruhinya.73

Penegakan hukum dan keadilan di negara kita tampaknya belum maksimal, bahkan menjadi terpuruk. Menurut Ali bahwa keterpurukan hukum kita semakin menjadi-jadi. Kepercayaan warga masyarakat terhadap law Enforcement semakin memburuk, sehingga khawatir masyarakat Indonesia tidak sekedar termasuk bad trust society, tetapi sudah sampai pada klasifikasi worst trust society. Keterpurukan hukum jelas berdampak terhadap sektor lain, termasuk sistem perekonomian. Untuk itu penegakan hukum bidang kehutanan menjadi penting untuk diperhatikan dalam menangani berbagai persoalan yang tidak kunjung selesai, masalah penebangan liar (illegal logging) dan peredaran hasil hutan secara liar (illegal trade) misalnya.74 Kelemahan-kelemahan dan kendala dalam aspek hukum pidana terhadap kejahatan penebangan liar (illegal logging) 75 disebabkan karena obyek penegakan hukum masih sulit ditembus oleh aturan hukum. Obyek yang dimaksud disini adalah pelaku yang terlibat dalam kejahatan penebangan liar (illegal logging) yaitu pelaku intelektual, terutama oknum pejabat penyelenggara negara, oknum aparat penegak hukum atau oknum pegawai negeri.76

Berbagai permasalahan penegakan hukum kehutanan menjadi semakin rumit lagi ketika adanya euphoria terhadap pemahaman otonomi daerah yang “kebablasan”, dimana memaknai otonomi daerah sebagai kedaulatan daerah yang

73

Ibid, Halaman 20.

74

Abdul Khakim, op.cit., Halaman 193.

75 Sukardi, op.cit., Halaman 130.

(17)

muncul karena kebijakan bupati yang begitu drastis tanpa mengindahkan makna otonomi daerah secara utuh dalam bingkai integrasi nasional. Pengelolaan hutan cenderung hanya untuk kepentingan kelompok tertentu karena realitas selama ini harus diakui juga bahwa pengelolaan hutan hanya “dimaling” dan dikapling oleh

orang-orang pusat. Inilah sebenarnya substansi masalah karena hutan selama ini bukan betul-betul untuk kesejahteraan rakyat. Masyarakat semakin dipinggirkan dan terpinggirkan (marjinal), sehingga akses terhadap hutan sangat dibatasi.77

Kendala dalam rangka penegakan hukum pidana yang menurut Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) adalah antara lain :

1. Kebijakan di bidang kehutanan masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini cenderung kepada pengelolaan hutan yang eksploitatif dibanding kepada upaya konservasi dan pelestarian hutan sehingga kebijakan tersebut cenderung mengabaikan prinsip-prinsip good governance dan prinsip-prinsip sustainable development serta sustainable forest management.

2. Pengelolaan hutan masih cenderung sentralistik dan mengabaikan hak-hak masyarakat lokal (masyarakat adat yang hidup di kawasan hutan), sehingga masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan itu masih tetap miskin.

3. Masih terdapat inskonsistensi perundang-undangan yang berkaitan dengan kebijakan dalam bidang kehutanan dan otonomi daerah.

77

(18)

4. Lemahnya kapasitas dan integritas penegak hukum. Hal ini berawal dari proses rekruitmen yang tidak berdasarkan prinsip-prinsip transparan, partisipatif, akuntabel (TPA) dan fit and proper test secara profesional serta pendidikan kejuruan, pelatihan-pelatihan dan pembekalan-pembekalan yang masih kurang intensif dalam rangka pembinaan personil aparat penegak hukum, sehingga profesionalitas aparat penegak hukum dalam rangka penanggulangan tindak pidana kehutanan belum maksimal.

(19)

mencarter helicopter, biaya bongkar muat barang bukti dan untuk kasus penyelundupan kayu ke luar negeri membutuhkan biaya untuk pengejaran tersangka, dan sebagainya. Kondisi ini sangat mempengaruhi kinerja penegak hukum dalam upayanya untuk mengoptimalkan operasi penegakan hukum terhadap kejahatan tersebut.

6. Sarana dan prasarana. Dukungan sarana dan prasarana yang memadai adalah salah satu faktor yang menentukan efektifitas penegakan hukum.

Lemahnya penegakan hukum bukan hanya karena lemahnya sistem hukum dalam melindungi kawasan hutan dan lingkungan hidup semata, tetapi juga karena adanya keterlibatan aparat penegak hukum dalam berbagai praktik eksploitasi kawasan hutan.78 Pelaksanaan tugas oleh aparat penegak hukum baik pemerintah maupun lembaga yudisial dan pelaku usaha yang mengemban kewajiban menjaga pelestarian fungsi lingkungan hidup, dihadapkan pada sejumlah permasalahan yang menjadi faktor penghambat dalam penegakan hukum kehutanan. Permasalahan tersebut diantaranya : 1) Lemahnya daya penegakan hukum dan kebijakan, yang disebabkan oleh regulasi dan kebijakan antarsektor yang tidak sinkron dan harmonis, terutama terkait dengan persoalan kewenangan; 2) Lemahnya komitmen lembaga internal penegak hukum kehutanan, baik pejabat administrasi maupun fungsional dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya di lapangan; 3) Lemahnya komitmen pengusaha dalam pengelolaan kawasan hutan

78

(20)

berkelanjutan; 4) Adanya ketimpangan kepentingan dalam penerapan kebijakan antara pusat dan daerah; 5) Adanya kepentingan pemerintah atas kebijakan pelepasan kawasan hutan untuk pengembangan perkebunan besar bagi kepentingan ekonomi; 6) Adanya kepentingan pemerintah untuk meningkatkan devisa negara dari sektor perdagangan kayu; 7) Adanya dominasi kepentingan pengusaha atas penerapan kebijakan pelepasan kawasan hutan, guna menguasai lahan seluas-luasnya dengan berbagai cara. 79

Upaya penegakan hukum juga dipengaruhi adanya kesadaran masyarakat untuk terwujudnya penegakan hukum itu sendiri. Tidak cukup jika hanya peraturannya saja yang baik dan aparat penegak hukum berdisiplin, tentu masih memerlukan peran serta masyarakat. Jadi, peran masyarakat dalam hal ini sangat penting untuk mendukung terwujudnya penegakan hukum. Peran aparat penegak hukum dalam menangani tindak pidana bidang kehutanan masih sering menjadi “cibiran” juga, ketika menangkap barang bukti kemudian barang bukti seperti ribuan kubik kayu gelondong lenyap begitu saja dengan berbagai dalih, seperti tidak jelas pemiliknya. Atau kemudian dokumennya mendadak lengkap, dan keanehan lain. Untuk itu, maka penegakan hukum kehutanan memerlukan sinergitas dan komitmen para stakeholder.80

Keberhasilan penegakan hukum mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempunyai arti yang netral, sehingga dampak negatif atau positifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor ini mempunyai hubungan

79

Ibid, Halaman 102-103. 80

(21)

yang saling berkaitan dengan eratnya, merupakan esensi serta tolak ukur dari efektifitas penegakan hukum. Faktor-faktor tersebut adalah :81

1. Hukum (undang-undang)

2. Penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum

3. Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum 4. Masyarakat, yakni di mana hukum tersebut diterapkan

5. Dan faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Mewujudkan supremasi hukum melalui upaya penegakan hukum secara konsisten akan memberikan landasan kuat bagi terselenggaranya pembangunan, baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan. Namun dalam kenyataannya, untuk mewujudkan supremasi hukum tersebut masih memerlukan proses dan waktu yang cukup panjang, agar supremasi hukum dapat benar-benar memberikan implikasi yang menyeluruh terhadap perbaikan pembangunan nasional.82

Kunci utama dalam penegakan hukum lingkungan yang baik, yaitu adanya pemahaman atas prinsip hukum pelestarian fungsi lingkungan di dalamnya. Bertolak dari prinsip hukum dimaksud, akan dapat diperoleh tolak ukur kinerja suatu penegakan hukum lingkungan. Baik dan tidak baiknya penyelenggaraan penegakan hukum lingkungan, dapat dinilai apabila pelaksanaannya telah bersinggungan dengan semua unsur prinsip hukum pelestarian fungsi lingkungan.

81 Abdul Muis Yusuf dan Mohammad Taufik Makarao, Op. Cit., Halaman 21.

82

(22)
(23)

A.Kebijakan Penal

Dalam menyelesaikan sebuah permasalahan hukum, terdapat berbagai sarana untuk menyelesaikan suatu masalah hukum. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan melalui sarana penal yang berarti melalui lembaga pengadilan, dan juga dapat diselesaikan melalui sarana non penal yaitu penyelesaian permasalahan hukum diluar pengadilan. Sarana penal dapat juga disebut sebagai kebijakan yang bersifat represif. Kebijakan ini menjadi salah satu bentuk kebijakan yang paling sering digunakan dalam permasalahan hukum. Dengan sarana penal maka ditentukan perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana, dan sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar.

Bentuk perbuatan yang seharusnya dijadikan tindak pidana, merupakan perbuatan perbuatan yang memiliki unsur-unsur kesalahan dalam suatu perbuatan. Apakan perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang dilakukan dengan kesengajaan, ataupun perbuatan yang dilakukan karena kelalaian subjek hukum. 1. Perbuatan-perbuatan Yang Termasuk Tindak Pidana Perusakan Hutan Menurut

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

(24)

diatur dalam peraturan perundang-undangan, dan juga perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang dianggap negatif oleh masyarakat. Dari perbuatan tersebut, akan ditemukan akibat-akibat yang ditimbulkan, dan akibat dari perbuatan tersebut akan berdampak negatif terhadap orang lain.

Perusakan lingkungan, merupakan salah satu perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan pidana. Perusakan lingkungan ini dikatakan sebagai perbuatan pidana dikarenakan perbuatan tersebut telah banyak merugikan orang lain, ataupun merugikan kondisi negara. Akibat dari perusakan lingkungan ini adalah terjadinya erosi yang berakbat banjir, terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dan lainnya.

Pemerintah membentuk peraturan perundang-undangan terkait larangan untuk melakukan suatu perbuatan yang berakibat kerusakan lingkungan, dan juga memberikan sanksi pidana berupa sanksi pidana penjara, kurungan, maupun denda, bagi pelaku yang dalam perbuatannya mengakibatkan kerusakan lingkungan. Bentuk peraturan perundang-undangan ini juga merupakan bentuk kebijakan penal dari pemerintah, sebagai upaya represif untuk menangani permasalah kerusakan lingkungan.

(25)

hukum dan bertentangan dengan kebijaksanaan / tanpa adanya persetujuan pemerintah.83

Peraturan pemerintah dalam kebijakan penal untuk mencegah dan memberantas perusakan hutan adalah dengan membentuk Undang-undang Nomor l8 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dan Undang-undang lainnya yang mengatur mengenai kerusakan hutan.

Perbuatan perusakan hutan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini meliputi :

1. Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan hutan (Pasal 12 huruf a)

Dalam penjelasan resmi Pasal 12 huruf a dijelaskan yang dimaksud dengan “izin pemanfaatan hutan” adalah izin untuk memanfaatkan hutan dalam kawasan hutan produksi yang berupa Izin Usaha Pemanfaatan Kawasan, Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu, Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu, atau Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu.

2. Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang (Pasal 12 huruf b)

Yang dimaksud dengan ”penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin” berdasarkan penjelasan resmi Pasal 12 huruf b adalah penebangan pohon yang dilakukan berdasarkan izin pemanfaatan hutan yang diperoleh secara

83

(26)

tidak sah, yaitu izin yang diperoleh dari pejabat yang tidak berwenang mengeluarkan izin pemanfaatan hutan.

3. Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah; (Pasal 12 huruf c)

Yang dimaksud dengan ”penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin” adalah penebangan pohon yang dilakukan berdasarkan izin pemanfaatan hutan yang diperoleh secara tidak sah, yaitu izin yang diperoleh dari pejabat yang tidak berwenang mengeluarkan izin pemanfaatan hutan.

Penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf c merupakan penebangan pohon yang dilakukan dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan :

a. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau;

b. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa;

c. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai;

d. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai; e. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang; dan/atau

f. 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai.

4. Memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki hasil penebangan di kawasan hutan tanpa izin (Pasal 12 huruf d)

(27)

dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil hutan; (Pasal 12 huruf e)

6. Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong, atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang; (Pasal 12 huruf f)

7. Membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang;(Pasal 12 huruf g) 8. Memanfaatkan hasil hutan kayu yang diduga berasal dari hasil

pembalakan liar;(Pasal 12 huruf h)

9. Mengedarkan kayu hasil pembalakan liar melalui darat, perairan, atau udara; (Pasal 12 huruf i)

10.Menyelundupkan kayu yang berasal dari atau masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui sungai, darat, laut, atau udara; (Pasal 12 huruf j)

11.Menerima, membeli, menjual, menerima tukar, menerima titipan, dan/atau memiliki hasil hutan yang diketahui berasal dari pembalakan liar; (Pasal 12 huruf k)

12.Membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah; dan/atau (Pasal 12 huruf l)

(28)

yang diambil atau dipungut secara tidak sah. (Pasal 12 huruf m)

14.Memalsukan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu dan/atau (Pasal 14 huruf a)

15.Menggunakan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu yang palsu (Pasal 14 huruf b)

16.Melakukan penyalahgunaan dokumen angkutan hasil hutan kayu yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang (Pasal 15)

17.Membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lain yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk melakukan kegiatan penambangan dan/atau mengangkut hasil tambang di dalam kawasan hutan tanpa izin menteri. (Pasal 17 ayat (1) huruf a)

18.Melakukan kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri (Pasal 17 ayat (1) huruf b)

19.Mengangkut dan/atau menerima titipan hasil tambang yang berasal dari kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin (Pasal 17 ayat (1) huruf c).

20.Menjual, menguasai, memiliki, dan/atau menyimpan hasil tambang yang berasal dari kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin dan/atau (Pasal 17 ayat (1) huruf d)

21.Membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil tambang dari kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin (Pasal 17 ayat (1) huruf e)

(29)

patut diduga akan digunakan untuk melakukan kegiatan perkebunan dan/atau mengangkut hasil kebun di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri; (Pasal 17 ayat (2) huruf a)

23.Melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di dalam kawasan hutan; (Pasal 17 ayat (2) huruf b)

24.Mengangkut dan/atau menerima titipan hasil perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin; (Pasal 17 ayat (2) huruf c)

25.Menjual, menguasai, memiliki, dan/atau menyimpan hasil perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin; dan/atau (Pasal 17 ayat (2) huruf d)

26.Membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil kebun dari perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin. (Pasal 17 ayat (2) huruf e)

27.Menyuruh, mengorganisasi, atau menggerakkan pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah; (Pasal 19 huruf a)

28.Ikut serta melakukan atau membantu terjadinya pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah; (Pasal 19 huruf b)

(30)

tidak sah secara langsung atau tidak langsung; (Pasal 19 huruf d) 31.Menggunakan dana yang diduga berasal dari hasil pembalakan liar

dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah; (Pasal 19 huruf e)

32.Mengubah status kayu hasil pembalakan liar dan/ atau hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah, seolah-olah menjadi kayu yang sah, atau hasil penggunaan kawasan hutan yang sah untuk dijual kepada pihak ketiga, baik di dalam maupun di luar negeri; (Pasal 19 huruf f)

33.Memanfaatkan kayu hasil pembalakan liar dengan mengubah bentuk, ukuran, termasuk pemanfaatan limbahnya; (Pasal 19 huruf g) 34.Menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan,

menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, dan/atau menukarkan uang atau surat berharga lainnya serta harta kekayaan lainnya yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil pembalakan liar dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah; dan/atau (Pasal 19 huruf h)

35.Menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta yang diketahui atau patut diduga berasal dari hasil pembalakan liar dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. (Pasal 19 huruf i)

(31)

37.Menggunakan surat izin palsu pemanfaatan hasil hutan kayu dan/atau penggunaan kawasan hutan (Pasal 24 huruf b)

38.Memindahtangankan atau menjual izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang kecuali dengan persetujuan Menteri (Pasal 24 huruf c) 39.Merusak sarana dan prasarana perlindungan hutan (Pasal 25)

40.Merusak, memindahkan, atau menghilangkan pal batas luar kawasan hutan, batas fungsi kawasan hutan, atau batas kawasan hutan yang berimpit dengan batas negara yang mengakibatkan perubahan bentuk dan/atau luasan kawasan hutan.

2. Perumusan Sanksi Terhadap Tindak Pidana Perusakan Hutan Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

Sanksi merupakan salah satu sarana terapi yang paling ampuh diberikan kepada orang, masyarakat, dan badan hukum yang melakukan pelanggaran terhadap hukum, terutama dalam bidang kehutanan. Sebab dengan pemberian hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan oleh perusak lingkungan, masalah kehutanan ini akan dapat dicegah dari adanya kegiatan yang mengarah ke perbuatan yang merusak dan mengeksploitasi hutan secara tidak beraturan.84

Ketentuan pidana dalam bidang kehutanan sebenarnya perlu diperberat lagi agar pelaku tindak pidana kehutanan jera. Walaupun dalam beberapa

84

(32)

undang sudah cukup diatur, tetapi implementasinya juga sering tidak membuat efek jera bagi pelakunya.

Fungsionalisasi hukum pidana untuk mengatasi masalah perusakan lingkungan akibat pembangunan diwujudkan melalui perumusan sanksi pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ada dua alasan diperlukannya sanksi pidana, yaitu :85

1. Sanksi pidana selain dimaksudkan untuk melindungi kepentingan lingkungan karena manusia tidak dapat menikmati harta benda dan kesehatannya dengan baik jika persyaratan dasar tentang kualitas lingkungan yang baik tidak terpenuhi.

2. Pendayagunaan sanksi pidana juga dimaksudkan untuk memberikan rasa takut kepada pencemar potensial. Sanksi pidana dapat berupa pidana penjara, denda, perintah memulihkan lingkungan yang tercemar dan/atau rusak, penutupan tempat usaha dan pengumuman melalui media massa yang dapat menurunkan nama baik badan usaha yang bersangkutan.

Perumusan Sanksi Terhadap Tindak Pidana Perusakan Hutan Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan adalah sebagai berikut :

Pasal 82

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:

a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud

85 Alvi Syahrin, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, PT. Sofmedia: Jakarta,

(33)

dalam Pasal 12 huruf a;

b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b; dan/atau

c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf c dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Setiap orang yang melakukan tindak pidana seperti yang disebutkan dalam Pasal 12 huruf a, b, dan c dikenakan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Dalam Pasal 82 ayat (2) disebutkan apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan, maka pelaku dipidana pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Dan apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh korporasi seperti dalam Pasal 82 ayat (3) pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 83

(34)

sengaja dan yang karena kelalaiannya :

a. memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki hasil penebangan di kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf d;

b. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan kayu yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf e; dan/atau

c. memanfaatkan hasil hutan kayu yang diduga berasal dari hasil pembalakan liar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf h

Pelaku orang perseorangan yang dengan sengaja, dipidana dengan pidana penjara pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Sedangkan pelaku orang perseorangan yang karena kelalaiannya, dipidana dengan pidana penjara pidana penjara paling singkat 8 (delapan ) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Dan pada ayat (3) disebutkan bahwa apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan, pelaku dipidana pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(35)

(lima belas miliar rupiah). Pasal 84

Pasal 84 mengatur orang perseorangan yang dengan sengaja dan yang karena kelalaiannya :

Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong, atau membelah pohon didalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf f

Pelaku yang melakukan tindak pidana tersebut dengan sengaja dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (tahun) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Sedangkan yang karena kelalaiannya dipidana dengan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan dipidana pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan serta paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Apabila yang melakukan adalah korporasi maka dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah)

(36)

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal12 huruf g dipidana dengan pidanapenjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Apabila dilakukan oleh korporasi sebagaimana diatur dalam ayat (2) maka akan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 86

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:

a. Mengedarkan kayu hasil pembalakan liar melalui darat, perairan, atau udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf i; dan/atau

b. Menyelundupkan kayu yang berasal dari atau masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui sungai, darat, laut, atau udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf j

Pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

(37)

Pasal 87

Dalam Pasal 87 mengatur tindak pidana yang dengan sengaja ataupun yang karena kelalaiannya :

a. menerima, membeli, menjual, menerima tukar, menerima titipan, dan/atau memiliki hasil hutan yang diketahui berasal dari pembalakan liar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf k;

b. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf l; dan/atau

c. menerima, menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, dan/atau memiliki hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf m

Jika tindak pidana tersebut dilakukan dengan sengaja, maka pelaku dikenakan pidana dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Jika tindak pidana tersebut terjadi karena kelalaian, maka pelaku dikenakan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(38)

Dalam ayat (3) disebutkan bahwa apabila yang melakukan tindak pidana tersebut adalah korporasi, maka akan dikenakan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 88

a. melakukan pengangkutan kayu hasil hutan tanpa memiliki dokumen yang merupakan surat keterangan sahnya hasil hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16

b. memalsukan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu dan/atau menggunakan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu yang palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14; dan/atau

c. melakukan penyalahgunaan dokumen angkutan hasil hutan kayu yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15

Pelaku tindak pidana tersebut dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Apabila pelakunya korporasi maka akan dikenakan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 89

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja :

a. kegiatan penambangan dan/atau mengangkut hasil tambang di melakukan kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b; dan/atau

(39)

atau patut diduga akan digunakan untuk melakukan dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a

Terhadap pelaku orang perseorangan yang melakukan tindak pidana tersebut dikenakan pidana dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Korporasi yang melakukan tindak pidana tersebut dikenakan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

Pasal 90

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja mengangkut dan/atau menerima titipan hasil tambang yang berasal dari kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf c

Orang yang melakukan tindak pidana tersebut dikenakan pidana pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(40)

Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 91

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja :

a. Menjual, menguasai, memiliki, dan/atau menyimpan hasil tambang yang berasal dari kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf d; dan/atau b. Membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil tambang dari kegiatan

penambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf e

Orang perseorangan yang melakukan tindak pidana sebagaimana disebutkan diatas dikenakan dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Korporasi yang melakukan tindak pidana tersebut dikenakan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 92

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja :

a. melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di dalam kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b; dan/atau

b. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk melakukan kegiatan perkebunan dan/atau mengangkut hasil kebun di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a

(41)

penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Korporasi yang melakukan tindak pidana tersebut dikenakan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

Pasal 93

Pasal ini mengatur orang perseorangan yang melakukan tindak pidana yang dengan sengaja dan yang karena kelalaiannya :

a. mengangkut dan/atau menerima titipan hasil perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf c;

b. menjual, menguasai, memiliki, dan/atau menyimpan hasil perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf d; dan/atau

c. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil kebun dari perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf e

Orang perseorangan yang melakukan tindak pidana dengan sengaja dikenakan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(42)

pidana denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Korporasi yang melakukan tindak pidana tersebut dikenakan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 94

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja :

a. Menyuruh, mengorganisasi, atau menggerakkan pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a;

b. Melakukan permufakatan jahat untuk melakukan pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c;

c. Mendanai pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah secara langsung atau tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf d; dan/atau

d. Mengubah status kayu hasil pembalakan liar dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah, seolah-olah menjadi kayu yang sah atau hasil penggunaan kawasan hutan yang sah untuk dijual kepada pihak ketiga, baik di dalam maupun di luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf f

Bagi pelaku orang perseorangan yang melakukan tindak pidana tersebut diatas dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

(43)

banyak Rp 1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah). Pasal 95

Pasal ini mengatur orang perseorangan yang melakukan tindak pidana yang dengan sengaja dan yang karena kelalaiannya :

a. Memanfaatkan kayu hasil pembalakan liar dengan mengubah bentuk, ukuran, termasuk pemanfaatan limbahnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf g;

b. Menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri dan/atau menukarkan uang atau surat berharga lainnya serta harta kekayaan lainnya yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil pembalakan liar dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf h; dan/atau

c. Menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta yang diketahui atau patut diduga berasal dari hasil pembalakan liar dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf i

Pelaku orang perseorangan yang melakukan tindak pidana tersebut dengan sengaja dikenakan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

Apabila karena kelalaiannya dikenakan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(44)

paling sedikit Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah).

3. Kasus Berdasarkan Putusan No : 21/Pid.Sus/2015/PN.Tkn 86 a. Posisi Kasus

Terdakwa yang bernama Iswandi bin Hasyim, merupakan salah seorang pelaku tindak pidana pengerusakan hutan. Pelaku Iswandi bin Hasyim pada saat melakukan perbuatan pidana tersebut berusia 35 Tahun merupakan warga Desa Nosar Tengah Kp. Nosar Baru Kec. Bener Kelipah Kab. Bener Meriah Takengon.

Terdakwa Iswandi bin Hasyim ditangkap oleh Polisi pada tanggal 30 Juni 2014. Pada Bulan Maret 2014, Iswandi bin Hasyim diketahui berada di dalam Hutan Rebol Kampung Nosar Baru Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten Bener Meriah pada titik koordinat E 096o51‟ 11,8” dan N 04 o 47‟ 36,8”. Pada saat itu, terdakwa yang memiliki satu mesin chain saw kecil yang digunakan untuk memotong pohon di Hutan Rebol Kampung Nosar Baru Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten Bener secara perlahan hingga pohon tersebut terpotong dan tumbang.

Selain itu, dari hasil penyidikan dan dituangkan dalam surat dakwaan, terdakwa diketahui melakukan penebangan pohon tersebut dengan tujuan untuk membuka lahan dan lahan tersebut akan dilakukan cocok tanam kentang oleh terdakwa.

Hutan Rebol Kampung Nosar Baru Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten Bener Meriah pada titik koordinat E 096o 51‟ 11,8” dan N 04 o 47‟ 36,8”

86

(45)

berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : SK.941/Menhut-II/2013 Tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan, termasuk dalam kawasan hutan di Provinsi Aceh.

Berdasarkan keterangan saksi Dasril bin M. Dinar Ismail, saksi Dasril melihat pada tanggal 30 Juni 2014 pada saat Saksi Dasril bin Dinar Ismail melakukan operasi pemeriksaan di lokasi yang diduga terjadi perambahan liar di kawasan hutan lindung di Hutan Paya Rebol Kampung Nosar Baru Kec. Bener Kelipah Kab. Bener Meriah, dan pada saat itu saksi Dasril bin M. Dinar Ismail melihat gumpalan asap serta melihat terdakwa Iswandi bin Hasyim keluar dari areal tersebut. Pada saat tersebut, terdakwa Iswandi bin Hasyim yang tidak memiliki izin untuk melakukan penebangan pohon hutan lindung, mengakui bahwa terdakwa telah melakukan penebangan pohon lalu membakar pohon yang telah dibakar.

b. Dakwaan

Dalam Putusan Nomor 21/Pid.sus/2015/PN.Tkn, diketahui bahwa Jaksa memberikan dakwaan dengan bentuk surat dakwaan alternatif. Adapun dakwaan terhadap terdakwa adalah sebagai berikut :

Kesatu :

Perbuatan terdakwa diancam dengan pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 82 ayat (1) huruf c Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

(46)

Perbuatan terdakwa diancam dengan pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 82 ayat (2) huruf c Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

Atau Ketiga :

Perbuatan terdakwa diancam dengan pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 78 ayat (3) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan jo Pasal 112 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pncegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

c. Fakta Hukum

Hakim untuk menjatuhkan pidana kepada terdakwa, harus mempertimbangkan fakta yang terungkap dalam persidangan. Adapun fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan adalah sebagai berikut :

1) Bahwa benar pada hari Senin Tanggal 30 Juni 2014 mulai sekitar Pukul 10.00 WIB, sampai dengan Pukul 14.00 WIB, saksi Dasril bin Dinar Ismail bersama Musmulyadi bin Ridwan dan saksi Irwansyah bin Dahang serta 30 (tiga puluh) orang pasukan Polres Bener Meriah melakukan operasi pemeriksaan di lokasi yang diduga terjadi perambahan liar di kawasan hutan lindung di hutan Paya Rebol Kampung Nosar Kec. Bener Kapilah Kab. Bener Meriah.

(47)

Dahang bahwa terdakwa yang melakukan penebangan serta membakar pohon tersebut.

3) Saksi Dasril Bin M.Dinar Ismail bersama saksi Musmulyadi Bin Ridwan dan saksi Irwansyah Bin Dahang ke lokasi tempat terjadinya pembakaran bersama dengan terdakwa, lalu di tempat tersebut saksi melihat pohon kayu yang telah jatuh ditebang

4) Pohon yang ditebang adalah pohon dengan jenis kayu Gesing dan ada kayu lainnya.

5) Lebar pohon yang telah jatuh tertebang ada yang kecil berdiameter 5 (lima) cm dan ada yang besar hingga 50 cm, jumlahnya sekitar ratusan batang.

6) Pohon ditebang dengan menggunakan mesin chain saw dengan ukuran kecil.

7) Terdakwa melakukan penebangan tersebut untuk membuka lahan yang kemudian di lahan tersebut akan terdakwa tanami tanaman kentang.

8) Terdakwa membakar ranting-ranting yang sudah kering dimana apinya membesar dan menjalar ke kayu yang lebih besar.

(48)

10) Lokasi pada titik koordinat tersebut berada dalam kawasan hutan lindung dan tidak dibenarkan melakukan kegiatan apapun yang dapat merusak kawasan hutan lindung.

11) Terdakwa tidak ada memiliki ijin untuk melakukan penebangan dan pembakaran di kawasan hutan tersebut.

12) Saksi menyatakan barang bukti 1 (satu) unit Sepeda motor jenis honda GL Pro tanpa nomor polisi dengan spakboard bagian depan berwarna putih adalah sepeda motor yang Terdakwa kendarai untuk pergi ke lokasi dan terhadap barang bukti 1 (satu) unit mesin chainshaw kecil dengan penutup mesin warna jingga adalah alat yang digunakan untuk menebang pohon.

Hakim harus melihat fakta-fakta yang muncul dalam persidangan pada saat memberikan putusan pada terdakwa. Selain itu, hakim juga harus melihat apa

Referensi

Dokumen terkait

Apa Antibiotik Buat Sipilis Yang Paling Manjur Di Apotik Online ~ Pengobatan memang hal wang wajib dilakukan untuk memutus rantai penularan dari penyakit sipilis ini apalagi

Kecamatan yang memiliki daya saing di Kabupaten Ciamis terutama dalam hal sektor unggulan dan memiliki tingkat hirarki yang tinggi adalah: Kecamatan Pangandaran

Kompetensi andragogik yang dinilai responden adalah kemampaun PPL mengidentifikasi kebutuhan petani, menjelaskan pengetahuan dan informasi baru usahatani dengan tidak

Sebagai ilmu yang selamat dan menyelamatkan, Ekonomi Islam dijalankan dengan kegiatan ekonomi yang didasarkan pada nilai amal-saleh dan menghindarkan diri dari

Dengan mengacu pada pendapat-pendapat diatas maka pemecahan masalah merupakan suatu subyek (materi yang harus dipelajari), strategi pemebelajaran dan

Salah satu kebenaran lain yang terungkap dalam Al Qur’an adalah pengembangan jagat raya yang ditemukan pada akhir tahun 1920-an. Penemuan Hubble tentang pergeseran merah

Adapun tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan pendekatan spiritual berbasis video terhadap kepatuhan pembatasan cairan atau

Thought Stoppin g disini konselor mengajarkan konseli dengan teknik istighfar konseli diajak untuk menutup mata kembali serta mengambil nafas dalam-dalam tiga kali