• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Imun Ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus (KHV)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon Imun Ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus (KHV)"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON IMUN AYAM

FAK IN

M SINGLE KOI HER

GE

KULTAS K NSTITUT P

E COMB BR RPESVIRUS

ETRA DOR

KEDOKTER PERTANIA

2007

ROWN LEG S (KHV)

RA

RAN HEWA N BOGOR

GHORN TE

AN

(2)

RESPON IMUN AYAM SINGLE COMB BROWN LEGHORN TERHADAP KOI HERPESVIRUS (KHV)

GETRA DORA

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan

Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

Hidup adalah cobaan dan pengorbanan,

kasabaran dalam menghadapi

segala cobaan tanpa keputusasaan,

akan terasa indah apabila kita

mampu melewatinya dengan

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul skripsi : Respon Imun Ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus (KHV)

Penyusun : Getra Dora

NRP : B04103033

Program Studi : Kedokteran Hewan

Disetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. drh. Fachriyan H. Pasaribu drh. Okti Nadia

Poetri, Msi

130 701 878 132 313 046

Diketahui

Wakil Dekan

DR. Drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS

131 129 090

(5)

RINGKASAN

GETRA DORA. Respon Imun Ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus (KHV). Dibimbing oleh Prof. Dr. drh. Fachriyan Hasmi Pasaribu

dan drh. Okti Nadia Poetri, Msi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon imun ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus dengan dua metode aplikasi penyuntikan. Penelitian ini menggunakan 2 ekor ayam Single Comb Brown Leghorn yang berumur 23 minggu. Kedua ayam divaksinasi dengan antigen Koi Herpesvirus (KHV), dengan titer virus 103,8TCID50/ml. Pada metode I, ayam

divaksinasi secara intramuskular dengan 0.4 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) ditambahkan freund adjuvan komplit sebanyak 0.4 ml pada vaksinasi pertama dan 0.3 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) ditambahkan freund adjuvan inkomplit sebanyak 0.3 ml pada vaksinasi kedua. Vaksinasi ketiga dan keempat dilakukan secara intramuskular masing-masing sebanyak 0.5 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) dan 0.5 ml freund adjuvan inkomplit. Sedangkan pada metode II, ayam divaksinasi sebanyak 0.3 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) secara intravena (0.1 ml selama tiga hari). Vaksinasi kedua sebanyak 0.3 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) dilakukan secara intramuskular dengan penambahan 0.3 ml freund adjuvan inkomplit. Sedangkan vaksinasi minggu ketiga dan keempat dilakukan secara intramuskular masing-masing 0.5 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) dan 0.5 ml freund adjuvan inkomplit. Serum dikumpulkan setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat). Keberadaan antibodi pada serum dideteksi menggunakan metode AGPT (Agar Gel Presipitation Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode I antibodi spesifik KHVdalam serum dapat terdeteksi setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat) dan bertahan sampai dengan enam minggu setelah vaksinasi terakhir. Sedangkan pada metode II antibodi spesifik KHV dapat terdeteksi setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat) dan bertahan sampai dengan 7 minggu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan respon imun dari kedua aplikasi penyuntikan, dan hasil yang lebih baik ditunjukkan pada metode I.

(6)

iii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat ALLAH SWT. Atas berkat

rahmat dan hidayah-Nya, penulisan skripsi dengan judul “Respon Imun Ayam

Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus dapat penulis selesaikan dengan baik dan lancar.

Terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Papa, mama dan saudara-saudara koe tersayang serta seluruh kelurga

atas doa restu, perhatian, nasihat dan perhatiannya.

2. Prof. Dr. drh. Fachriyan Hasmi Pasaribu dan drh.Okti Nadia Poetri,

Msi selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bantuan

biaya, bimbingan, pengarahan, koreksi dan saran serta nasehat dan

perhatiannya.

3. Dr.drh. Risa Tiuria selaku dosen pembimbing akademik atas perhatian

dan nasehatnya.

4. Pusat Riset Kelautan dan Perikanan Budidaya Pasar Minggu Jakarta

Selatan yang telah memberikan bantuan berupa isolat KHV (Koi

herpesvirus)

5. Mba Tuty, Uni Hessy, Mba Nila dan Seluruh staf Pusat Riset Kelautan

dan Perikanan Budidaya Pasar Minggu Jakarta Selatan yang telah

banyak mencurahkan tenaga dan waktu bersama kami selama

penelitian

6. Mba Santi, Mba ika, Mas Rizal atas bantuannya selama penelitian.

7. Staf Laboratorium Imunologi dan Bakteriologi (Pak Agus, Mba Sellin,

Mba Lia, Pak Lukman, Mas Wahyu, Pak Nur)

8. Abangkoe Sandi Mulyadi sebagai motivator dan inspiratorkoe atas

segala kasih sayang, perhatian, kesabaran, serta waktu, tenaga dan

fikiran.

9. Sahabatkoe Ramlah, sekaligus rekan sepenelitian Uni Dini, Sherlly,

Mas Rama terima kasih atas bantuan dan kerjasama serta kesabarannya

(7)

iv 10.“ Sahabat-sahabat tersayang” Mumud, Anyoet, Nandhito, Dajal, ‘mas’

Feri n Abang Aguih, Uda Cipal, Abang Anda, Uni Yeyen, Gitong, n

Cimon.

11.IKMPer’S, IPMM’erS atas Kebersamaannya.

12.Gymnolaemataer’S, atas kebersaman dan kekompakkannya, I love you

all friends.Adek-adekoe 41 dan 42 atas kebersamannya.

13.Adindaner’S atas kebersamaan dan bantuannya selama ini.

14.Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam tulisan ini dan masih jauh

dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

membangun sehingga karya ini menjadi sempurna. Namun penulis juga berharap,

semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan bagi

penulis serta semua pihak yang memerlukannya , amin.

Bogor, September 2007

(8)

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sialang Atas, Sumatera Barat pada tanggal 3 agustus

1984 dari pasangan Syakrani dan Elyaresni sebagai anak tunggal.

Pendidikan sekolah dasar penulis selesaikan di SD Negeri 14 Sialang Atas

Kapur IX, Sumatera Barat dari tahun 1991 sampai dengan tahun 1997. Penulis

melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 2 Kapur IX, Sumatera Barat dan lulus

tahun 2000. Pendidikan menengah atas diselesaikan di SMU Negeri 1 Harau,

Sumatera Barat dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun yang sama penulis diterima

menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor melalui

jaringan Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI).

Selama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian

Bogor penulis aktif di Himpunan Minat Profesi (HIMPRO) Ornithologi dan

Unggas sebagai anggota Bidang Eksternal 2004-2005, anggota Bidang Dana

Usaha 2005-2006. Disamping itu aktif sebagai anggota Gita Klinika

2004-sekarang. Disamping itu juga terdaftar sebagai anggota Himpunan Profesi

Ruminansia dan Forum Ilmiah Mahasiswa (FIM). Selain organisasi Intra kampus

penulis juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam sebagai Ketua Bidang KOHATI

2003-2004 dan WABENDUM 2006-2007 komisariat Fakultas Kedokteran Hewan

Institut Pertanian Bogor. Penulis juga aktif di OMDA Ikatan Persaudaraan

Mahasiswa Minang sebagai Ketua Bidang HUMAS 2005-2006, Sekretaris

2004-2006 dan Bendahara 2004-2006-sekarang Koperasi Mahasiswa Pelajar (KEMPAN)

(9)

vi

Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Ikan Koi…....……….. 3

Bab III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian... 18

3.2 Bahan dan Alat Penelitian... 18

3.3 Metoda penelitian... 18

3.3.1 Preparasi Antigen KHV (Koi Herpesvirus)... 18

(10)

vii

3.3.3 Preparasi Antigen KHV untuk AGPT ……… 19

3.3.4 Pengambilan Darah dan Pemisahan Serum ……... 19

3.3.5 Pengujian Serum dengan metode AGPT... 19

3.3.6 Pengenceran Serum dan Pengujian AGPT ………. 20

Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produksi Antibodi (IgY) Anti Koi Herpesvirus (KHV) pada Serum Ayam... 21 4.2 Penghitungan Konsentrasi (IgY) Anti Koi Herpesvirus (KHV) pada Serum Ayam ………. 26 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1 Kesimpulan ………... 28

5. 2 Saran ………. 28

DAFTAR PUSTAKA ………... 29

(11)

RESPON IMUN AYAM

FAK IN

M SINGLE KOI HER

GE

KULTAS K NSTITUT P

E COMB BR RPESVIRUS

ETRA DOR

KEDOKTER PERTANIA

2007

ROWN LEG S (KHV)

RA

RAN HEWA N BOGOR

GHORN TE

AN

(12)

RESPON IMUN AYAM SINGLE COMB BROWN LEGHORN TERHADAP KOI HERPESVIRUS (KHV)

GETRA DORA

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan

Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(13)

Hidup adalah cobaan dan pengorbanan,

kasabaran dalam menghadapi

segala cobaan tanpa keputusasaan,

akan terasa indah apabila kita

mampu melewatinya dengan

(14)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul skripsi : Respon Imun Ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus (KHV)

Penyusun : Getra Dora

NRP : B04103033

Program Studi : Kedokteran Hewan

Disetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. drh. Fachriyan H. Pasaribu drh. Okti Nadia

Poetri, Msi

130 701 878 132 313 046

Diketahui

Wakil Dekan

DR. Drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS

131 129 090

(15)

RINGKASAN

GETRA DORA. Respon Imun Ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus (KHV). Dibimbing oleh Prof. Dr. drh. Fachriyan Hasmi Pasaribu

dan drh. Okti Nadia Poetri, Msi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon imun ayam Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus dengan dua metode aplikasi penyuntikan. Penelitian ini menggunakan 2 ekor ayam Single Comb Brown Leghorn yang berumur 23 minggu. Kedua ayam divaksinasi dengan antigen Koi Herpesvirus (KHV), dengan titer virus 103,8TCID50/ml. Pada metode I, ayam

divaksinasi secara intramuskular dengan 0.4 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) ditambahkan freund adjuvan komplit sebanyak 0.4 ml pada vaksinasi pertama dan 0.3 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) ditambahkan freund adjuvan inkomplit sebanyak 0.3 ml pada vaksinasi kedua. Vaksinasi ketiga dan keempat dilakukan secara intramuskular masing-masing sebanyak 0.5 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) dan 0.5 ml freund adjuvan inkomplit. Sedangkan pada metode II, ayam divaksinasi sebanyak 0.3 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) secara intravena (0.1 ml selama tiga hari). Vaksinasi kedua sebanyak 0.3 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) dilakukan secara intramuskular dengan penambahan 0.3 ml freund adjuvan inkomplit. Sedangkan vaksinasi minggu ketiga dan keempat dilakukan secara intramuskular masing-masing 0.5 ml antigen Koi Herpesvirus (KHV) dan 0.5 ml freund adjuvan inkomplit. Serum dikumpulkan setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat). Keberadaan antibodi pada serum dideteksi menggunakan metode AGPT (Agar Gel Presipitation Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode I antibodi spesifik KHVdalam serum dapat terdeteksi setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat) dan bertahan sampai dengan enam minggu setelah vaksinasi terakhir. Sedangkan pada metode II antibodi spesifik KHV dapat terdeteksi setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat) dan bertahan sampai dengan 7 minggu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan respon imun dari kedua aplikasi penyuntikan, dan hasil yang lebih baik ditunjukkan pada metode I.

(16)

iii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat ALLAH SWT. Atas berkat

rahmat dan hidayah-Nya, penulisan skripsi dengan judul “Respon Imun Ayam

Single Comb Brown Leghorn terhadap Koi Herpesvirus dapat penulis selesaikan dengan baik dan lancar.

Terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Papa, mama dan saudara-saudara koe tersayang serta seluruh kelurga

atas doa restu, perhatian, nasihat dan perhatiannya.

2. Prof. Dr. drh. Fachriyan Hasmi Pasaribu dan drh.Okti Nadia Poetri,

Msi selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bantuan

biaya, bimbingan, pengarahan, koreksi dan saran serta nasehat dan

perhatiannya.

3. Dr.drh. Risa Tiuria selaku dosen pembimbing akademik atas perhatian

dan nasehatnya.

4. Pusat Riset Kelautan dan Perikanan Budidaya Pasar Minggu Jakarta

Selatan yang telah memberikan bantuan berupa isolat KHV (Koi

herpesvirus)

5. Mba Tuty, Uni Hessy, Mba Nila dan Seluruh staf Pusat Riset Kelautan

dan Perikanan Budidaya Pasar Minggu Jakarta Selatan yang telah

banyak mencurahkan tenaga dan waktu bersama kami selama

penelitian

6. Mba Santi, Mba ika, Mas Rizal atas bantuannya selama penelitian.

7. Staf Laboratorium Imunologi dan Bakteriologi (Pak Agus, Mba Sellin,

Mba Lia, Pak Lukman, Mas Wahyu, Pak Nur)

8. Abangkoe Sandi Mulyadi sebagai motivator dan inspiratorkoe atas

segala kasih sayang, perhatian, kesabaran, serta waktu, tenaga dan

fikiran.

9. Sahabatkoe Ramlah, sekaligus rekan sepenelitian Uni Dini, Sherlly,

Mas Rama terima kasih atas bantuan dan kerjasama serta kesabarannya

(17)

iv 10.“ Sahabat-sahabat tersayang” Mumud, Anyoet, Nandhito, Dajal, ‘mas’

Feri n Abang Aguih, Uda Cipal, Abang Anda, Uni Yeyen, Gitong, n

Cimon.

11.IKMPer’S, IPMM’erS atas Kebersamaannya.

12.Gymnolaemataer’S, atas kebersaman dan kekompakkannya, I love you

all friends.Adek-adekoe 41 dan 42 atas kebersamannya.

13.Adindaner’S atas kebersamaan dan bantuannya selama ini.

14.Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam tulisan ini dan masih jauh

dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

membangun sehingga karya ini menjadi sempurna. Namun penulis juga berharap,

semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan bagi

penulis serta semua pihak yang memerlukannya , amin.

Bogor, September 2007

(18)

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sialang Atas, Sumatera Barat pada tanggal 3 agustus

1984 dari pasangan Syakrani dan Elyaresni sebagai anak tunggal.

Pendidikan sekolah dasar penulis selesaikan di SD Negeri 14 Sialang Atas

Kapur IX, Sumatera Barat dari tahun 1991 sampai dengan tahun 1997. Penulis

melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 2 Kapur IX, Sumatera Barat dan lulus

tahun 2000. Pendidikan menengah atas diselesaikan di SMU Negeri 1 Harau,

Sumatera Barat dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun yang sama penulis diterima

menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor melalui

jaringan Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI).

Selama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian

Bogor penulis aktif di Himpunan Minat Profesi (HIMPRO) Ornithologi dan

Unggas sebagai anggota Bidang Eksternal 2004-2005, anggota Bidang Dana

Usaha 2005-2006. Disamping itu aktif sebagai anggota Gita Klinika

2004-sekarang. Disamping itu juga terdaftar sebagai anggota Himpunan Profesi

Ruminansia dan Forum Ilmiah Mahasiswa (FIM). Selain organisasi Intra kampus

penulis juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam sebagai Ketua Bidang KOHATI

2003-2004 dan WABENDUM 2006-2007 komisariat Fakultas Kedokteran Hewan

Institut Pertanian Bogor. Penulis juga aktif di OMDA Ikatan Persaudaraan

Mahasiswa Minang sebagai Ketua Bidang HUMAS 2005-2006, Sekretaris

2004-2006 dan Bendahara 2004-2006-sekarang Koperasi Mahasiswa Pelajar (KEMPAN)

(19)

vi

Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Ikan Koi…....……….. 3

Bab III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian... 18

3.2 Bahan dan Alat Penelitian... 18

3.3 Metoda penelitian... 18

3.3.1 Preparasi Antigen KHV (Koi Herpesvirus)... 18

(20)

vii

3.3.3 Preparasi Antigen KHV untuk AGPT ……… 19

3.3.4 Pengambilan Darah dan Pemisahan Serum ……... 19

3.3.5 Pengujian Serum dengan metode AGPT... 19

3.3.6 Pengenceran Serum dan Pengujian AGPT ………. 20

Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produksi Antibodi (IgY) Anti Koi Herpesvirus (KHV) pada Serum Ayam... 21 4.2 Penghitungan Konsentrasi (IgY) Anti Koi Herpesvirus (KHV) pada Serum Ayam ………. 26 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1 Kesimpulan ………... 28

5. 2 Saran ………. 28

DAFTAR PUSTAKA ………... 29

(21)

viii

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Produksi antibodi (IgY) anti Koi Herpesvirus (KHV) pada serum Ayam… 21 2 Penghitungan konsentrasi (IgY) anti Koi Herpesvirus (KHV) pada

(22)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Gejala Klinis Ikan yang terinfeksi Koi Herpesvirus (KHV)... 7 2 Struktur Imunoglobulin... 10

3 Mekanisme Presipitasi ….……… 17

4 Reaksi AGPT (Agar Gel Presipitation Test) Serum ……… 24 5 Kurva Presipitasi Kuantitatif ………. 25

(23)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

(24)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan koi berasal dari negara ”tirai bambu” Jepang. Di Jepang ikan ini lebih

dikenal dengan nama Nishikigoi. Ikan koi merupakan ikan hias air tawar yang memiliki bentuk badan seperti torpedo dengan berbagai variasi warna dan

termasuk golongan omnivora. Selain keanekaragaman warna, pola, serta bentuk

tubuh yang unik, ikan koi juga memiliki ketahanan terhadap perubahan kondisi

lingkungan. Kondisi kesehatan ikan koi sangat ditentukan oleh faktor kepadatan

ikan, air, kondisi lingkungan, parasit dan kondisi kesehatan ikan itu sendiri

(Effendy dan Hersanto 1993). Ikan koi memiliki sepuluh keistimewaan yaitu

merupakan karya seni jepang, raja ikan hias air tawar, ikan pemberani dan tidak

takut terhadap apapun, lemah lembut dan jinak, tidak memilih perawat, mudah

menerima pakan, mudah menyesuaikan diri,murah namun indah, warna-warninya

beragam serta bisa menjadi teman seumur hidup (Susanto 2002).

Walaupun harga ikan koi relatif mahal, tetapi karena bernilai estetika

tinggi menyebabkan banyak sekali orang yang menggemari ikan koi. Oleh karena

itu, ikan koi menjadi komoditi yang sangat prospektif untuk dikembangkan.

Selain sebagai alternatif hiburan dan pelepasan stress, ikan koi juga sudah

memiliki kontes resmi yang dilombakan baik domestik maupun internasional. Hal

ini semakin menambah nilai ekonomi dari ikan koi tersebut.

Namun demikian pengembangan ikan koi dewasa ini mengalami gangguan

yang sangat berarti. Ratusan hingga ribuan ikan koi mengalami kematian akibat

virus KHV (Koi Herpesvirus). Sampai saat ini belum ditemukan cara efektif untuk memberantas KHV (Koi Herpesvirus) karena informasi patogenitas KHV (Koi Herpesvirus) masih sangat terbatas. KHV (Koi Herpesvirus) ini mampu menyebabkan kematian pada peternakan ikan koi dengan persentase yang sangat

luar biasa yaitu mencapai 95% dan hal ini hanya membutuhkan waktu satu

minggu karena masa inkubasi virus ini yang sangat cepat yaitu maksimal 7 hari

(Davenport 2001). Kerugian ekonomi yang telah disebabkan KHV (Koi Herpesvirus) diperkirakan mencapai ratusan miliar. KHV (Koi Herpesvirus) pertama kali menyerang daerah Blitar pada tahun 2002. Meskipun penyebaran

(25)

2

Kelautan dan Perikanan (2002), tetapi KHV (Koi Herpesvirus) tidak menular pada manusia.

Pemanfaatan imunoglobulin Y (IgY) unggas sebagai kekebalan pasif

khususnya untuk pencegahan dan pengobatan sudah banyak dilakukan. Antibodi

asal kuning telur (IgY) dapat digunakan sebagai imunoterapi untuk memberikan

kekebalan pasif pada tubuh (Li-Chan 2000). Dibandingkan dengan menggunakan

mamalia seperti kelinci, mencit putih, tikus, babi, dan hewan mamalia besar

seperti kuda, kambing, domba dan sapi yang memproduksi imunoglobulin G

(IgG), maka ayam petelur sebagai produsen antibodi imunoglobulin Y (IgY)

memiliki potensi yang lebih efektif. Prosedur produksi antibodi pada mamalia

menyebabkan hewan mengalami cekaman (stress). Cekaman terjadi saat melakukan imunisasi pada hewan dan pengambilan darah untuk memanen

antibodi. Berkenaan dengan animal welfare dan juga efisiensi biaya, penggunaan telur untuk memproduksi antibodi lebih bisa diterima dibandingkan dengan

penggunaan hewan percobaan (Svendsen dan Hau 1995).

1.2 Tujuan

(26)

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Koi

Koi merupakan salah satu ikan hias yang sudah cukup populer di

Indonesia, dan sejenis dengan ikan mas (Cyprinus carpio). Perbedaan fisik antara keduanya terletak pada bentuk, pola warna, dan pemanfaatannya. Proses

budidaya, baik pembenihan maupun pembesarannya hampir sama. Namun

berbeda dalam seleksi dan pemberian pakan (Susanto 2002).

Menurut sejarah, orang Cina yang pertama kali menemukan ikan karper

pada tahun1300-an. Koi diklaim sebagai produk Jepang karena pusat pembenihan

koi di Jepang berada di daerah pegunungan Ojiya Niigata. Daerah ini terkenal

sebagai penghasil karper, karena penduduk Ojiya banyak membudidayakan karper

untuk lauk sewaktu musim panas. Dahulu peternak ikan di Jepang hanya

mengenal satu macam warna koi yang polos, yaitu hitam (Karisugoi dan

Sumigoi). Melalui suatu pembudidayaan selama ratusan tahun karena melalui

rekayasa breeding dari koi berwarna polos akhirnya diperoleh strain karper berwarna merah atau biru cerah. Kemudian mulai tahun 1930 ditemukan karper

warna dengan garis yang lain. Adapun koi-koi cantik yang mulai dikenal adalah

Showa Sanke (merah, putih ,dan hitam). Selain itu muncul juga koi dengan corak lain seperti Kinrin (sisik merah), Ginrin (sisik perak), dan Ogon (emas) (Susanto 2002)

Koi identik dengan Jepang. Ikan itu telah dianggap sebagai salah satu

tonggak budaya Jepang yang sangat dijunjung tinggi. Dengan badannya yang

kekar dan warna-warni yang memikat, koi mempunyai tempat tersendiri di hati

pencintanya (Susanto 2002).Ikan ini memang baru beberapa tahun terakhir cukup

populer, padahal telah masuk di Indonesia sudah sekitar 20 tahun yang lalu. Di

Jepang, ikan ini dinamakan nishikigoi (Cyprinus carpadie), artinya ikan berwarna warni. Goi sendiri artinya ikan karper dan kata koi berasal dari bahasa Cina.

Kebetulan ini sudah ada sejak 2.500 tahun lalu, pada zaman pemerintahan Raja

Shoko dan sampai sekarang dipakai para penggemarnya di seluruh dunia

(27)

4

Klasifikasi ikan koi (Cyprinus carpio) menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :

Subordo : Cyprinoidea

Family : Cyprinidae

Subfamily : Cyprininae

Genus : Cyprinus

Species : Cyprinus carpio

2.2 Koi Herpesvirus (KHV)

2.2.1 Sejarah

Wabah KHV pertama kali terjadi di Magan Michael Farm Israel dan

Amerika Serikat pada tahun 1998 yang menyebabkan kematian lebih kurang 6000

ton ikan jenis common carp dengan kerugian mencapai lebih kurang 4 juta dollar (OATA 2001). Virus ini merupakan virus DNA yang sangat virulen karena

menyebabkan kematian dalam waktu yang pendek. Di Asia khususnya di

Indonesia, KHV ditemukan pertama kali pada sentra-sentra budidaya ikan koi.

Di Indonesia penyakit KHV pertama kali terjadi pada ikan koi di Blitar,

Jawa Timur pada bulan Maret 2002. Pada bulan Desember 2001 dan Januari 2002

ikan koi yang berasal dari Cina ini masuk ke Surabaya melalui Hongkong setelah

dari Surabaya, ikan ini selanjutnya dibawa ke Blitar dan kematian massal

(80-95%) mulai terjadi. Sampai saat ini wabah KHV di Indonesia telah menyebar

sampai ke Bali (Denpasar), Jawa Timur (Banyuwangi, Tulungagung, Blitar,

Malang, Kediri, Surabaya), Jawa Tengah (Semarang, Brebes), Jawa Barat

(Subang, Bogor, Bandung, Purwakarta, Cianjur, Bekasi), Banten, Sumatera

(28)

5

2.2.2 Sifat dan Morfologi

Virus bukan termasuk sel dan hanya dapat hidup di dalam sel makhluk

hidup. Di luar sel, virus bersifat sebagai benda mati. Ukuran virus bervariasi

antara 30-300 nm. Virus herpes adalah virus yang berukuran besar dibandingkan

virus lainnya. Struktur virus herpes dari dalam keluar terdiri atas genom DNA

untai ganda linear berbentuk toroid, kapsid, lapisan tegumen dan selubung, sebagian selubung berasal dari membran sel yang diinfeksinya. Karena dalam

selubung mengandung unsur kapsid, virus herpes menjadi sensitif terhadap

pengaruh detergen dan pelarut lipid lainnya (Daili dan Makes 2002). Virus herpes

bereplikasi dalam metabolisme sel inang dengan menggunakan asam nukleatnya.

Virus yang menempel pada induk semang akan masuk ke metabolisme induk

semang dan bergabung membentuk sejumlah virus yang keluar dari sel induk

semang dangan merusak membran plasma (lisis sel) (Sugiri 1992).

Virus ini dapat hidup dan berkembang biak pada suhu antara 18 – 30˚ C

oleh karena itu serangan penyakit KHV akan mereda apabila ikan dipelihara di

luar rentang suhu tersebut. Kematian terjadi sangat cepat karena virus ini

mempunyai masa inkubasi antara 5 - 7 hari dengan tingkat kematian mencapai 80

- 95% dalam waktu satu minggu sejak gejala klinis pertama muncul (Davenport

2001).

2.2.3 Epizootiologi

Virus KHV ini hanya menyerang golongan ikan jenis ikan mas dan koi,

dan dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi mencapai 80 - 90%.

Penyebaran penyakit ini adalah melalui kontak langsung antara ikan yang sehat

dengan ikan yang sakit, kontaminasi air dan peralatan. Hipotesis dari fenomena ini

adalah virus bersifat laten dan akan aktif pada keadaan tertentu seperti stress dari

transportasi dan penanganan serta pergantian lingkungan dan fluktuasi temperatur

(Sunarto et al. 2005).

(29)

6

haemotopoietic necrosis virus (IHNV) diperoleh titer virusnya yaitu 103,19TCID50/ml (Gregorch et al. 2004, dalam Mulyana 2006).

2.2.4 Gejala Klinis

Gejala sakit yang ditimbulkan virus ini dapat bersifat klinis (nyata) dan

subklinis (tidak nyata). Umumnya virus ini menyerang secara akut dan gejalanya

tidak teramati, serta bersifat fatal pada populasi ikan koi. Gejala klinis ikan yang

terinfeksi akan terlihat lemah, ditunjukkan dengan kehilangan keseimbangan dan

kesulitan menghirup udara. Gejala klinis umum yang terlihat adalah terjadinya

pengelupasan epitel dengan produksi mukus yang berkurang dan kulit terasa

kasar, hemorhagi (perdarahan) pada operkulum, sirip, ekor, dan perut yag disertai

kerusakan pada insang. Beberapa ikan yang sakit memperlihatkan gejala

lepuh-lepuh pada kulit, yang disebut juga “penyakit melepuh-lepuh” di Indonesia. Selama

wabah KHV berlanjut, telah banyak diamati dan dilaporkan terjadi variasi gejala

klinis. Bagaimanapun juga, gejala klinis yang utama terlihat adalah nekrosis pada

insang (Rukyani dan Sunarto 2004).

Menurut Rabinow (1998) Diagnosa KHV dapat dilakukan dengan

berbagai cara, seperti deteksi PCR (Polymerase Chain Reaction), histopatologi, dan mengamati gejala klinisnya. PCR adalah sutu teknik yang dipakai untuk

melipatgandakan asam nukleat (DNA) in vitro secara enzimatis (Rabinow 1998). Virus Herpes merupakan golongan virus yang virulen dan termasuk virus DNA.

Metoda PCR (Polymerase Chain Reaction) digunakan sebagai konfirmasi keberadaan DNA virus KHV yang telah diinokulasikan pada masing-masing

kultur sel. Pada semua kultur sel yang telah diinokulasikan virus KHV dengan

berbagai perlakuan jam telah diuji menggunakan metoda PCR (Polymerase Chain Reaction), didapatkan hasil pada pengujian 0, 1, 2, 4, 8, 24, 48 dan 96 jam positif KHV, sedangkan pada perlakuan 192 jam didapat hasil yang negatif KHV (Arasyi

2005). Virus tidak dapat diobati dengan antibiotik, sampai saat ini belum ada

pengobatan yang efektif terhadap virus. Namun beberapa penyakit viral dapat

dicegah dengan vaksinasi misalnya rabies, polio, hepatitis dan sebagainya.

(30)

7

bakteri, fungi, dan parasit pada insang. Untuk meningkatan sistem kekebalan

diberikan vitaminC, tetapi bukan berarti bahwa ikan yang terinfeksi KHV (Koi Herpesvirus) dapat disembuhkan.

Gambar 1 Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV (Koi Herpesvirus) (Departemen Perikanan dan Kelautan 2004)

2.3 Antigen

Bahan asing dalam imunologi dikenal dengan istilah Antigen. Antigen

berasal dari kata Antibody Generating Substances, yang berarti suatu bahan atau senyawa yang dapat merangsang pembentukan antibodi. Antigen ini dapat

berwujud protein, lemak, polisakarida, asam inti, lipopolisakarida, lipoprotein dan

lain-lain. Sifat suatu senyawa yang mampu merangsang pembentukan antibodi

spesifik terhadap senyawa tersebut disebut antigenik (Wibawan et al. 2003). Ciri pokok yang harus dimiliki antigen antara lain dapat dilihat dari

limitasi fisikokimiawi, keteruraian dan keasingan. Dari segi limitasi

fisikokimiawi, agar dapat bersifat antigenik molekul harus besar, kaku dan

kimiawi komplek. Walau molekul kecil dapat berlaku sebagai antigen, molekul

besar jauh lebih baik. Makromolekul dengan struktur yang komplek seperti

protein merupakan antigen yang jauh lebih baik daripada polimer besar sederhana

dengan subunit berulang yang identik. Oleh sebab itu, lemak, karbohidrat dan

asam nukleat, maupun polimer satu asam amino, merupakan antigen yang buruk.

Senyawa yang memiliki struktur lentur (senyawa dengan konfigurasi tidak stabil)

tidak dapat dikenal dengan mudah, sehingga bersifat kurang antigenik. Contohnya

(31)

8

yang lemah, kecuali jika distabilkan oleh penggabungan molekul tirosin atau

triptofan (Tizard 1988).

Senyawa yang bersifat antigenik belum tentu dapat meningkatkan respon

kekebalan di dalam tubuh. Suatu senyawa yang dapat merangsang pembentukan

kekebalan atau imunitas disebut Imunogen yang berasal dari kata Immunity Generating Substance. Menurut Baratawijaya (1991), dalam Simorangkir (1993) kedua istilah dibedakan berdasarkan fungsionalnya. Banyak bahan yang tidak

menimbulkan respon imun, tetapi dapat mengikat komponen sistem imun yang

dapat ditimbulkan secara spesifik terhadapnya. Semua imunogen adalah antigen,

tetapi tidak semua antigen adalah imunogen. Sifat senyawa yang dapat

merangsang pembentukan antibodi spesifik yang bersifat protektif dan

peningkatan kekebalan seluler disebut imunogenik (Wibawan et al. 2003). Sedangkan imunogenitas merupakan kemampuan substansi untuk merangsang

respon imun, baik respons selular maupun respon humoral atau keduanya (Kresno

2001). 2.4 Antibodi

Antibodi adalah molekul protein yang dihasilkan oleh sel plasma sebagai

akibat interaksi antara Limfosit B peka-antigen dan antigen khusus. Antibodi

memiliki kemampuan berikatan khusus dengan antigen serta mempercepat

penghancuran dan penyingkirannya. Antibodi terbentuk sebagai hasil reaksi

sistem kekebalan yang bersifat humoral untuk mempertahankan tubuh terhadap

infeksi dari zat yang dianggap asing oleh tubuh. Molekul antibodi berupa protein

globulin sehingga dikenal sebagai imunoglobulin (Ig) (Tizard 1988). Globulin

ditemukan dalam serum darah yang terdiri dari globulin alfa, globulin beta dan

globulin gamma (Martin 1992, dalam Mulyono 1996). Antibodi terdapat dalam berbagai cairan tubuh tetapi terdapat dalam konsentrasi tertinggi dan termudah

diperoleh dalam jumlah yang banyak untuk analisis dari serum darah (Tizard

1988).

Istilah imunoglobulin dipakai untuk menggambarkan semua protein yang

mempunyai aktivitas antibodi maupun beberapa protein yang mempunyai struktur

(32)

9

2.5 Struktur Imunoglobulin

Antibodi (Ab) terdiri dari beberapa imunoglobulin (Ig) yang merupakan

substansi pertama yang diidentifikasi sebagai molekul dalam serum yang mampu

menetralkan sejumlah mikroorganisme penyebab infeksi. Imunoglobulin adalh

protein yang mempunyai aktivitas antibodi (Tizard 1988). Imunoglobulin

dihasilkan oleh sel plasma yang merupakan fase internal dalam diferensiasi sel B.

Dalam tubuh terdapat 2 bentuk imunoglobulin yang berbeda, yaitu sebagai

reseptor permukaan untuk antigen dan sebagai antibodi yang disekresikan ke

dalam cairan ektraseluler. Antibodi yang disekresikan dapat berfungsi sebagai

adaptor yang berfungsi untuk mengikat antigen pada struktur binding site-nya yang spesifik (Wibawan et al. 2003).

Imunoglobulin memiliki struktur dan fungsi biologik molekul protein yang

sama, namun berbeda dalam susunan asam amino pembentuknya (Wibawan et al. 2003). Imunoglobulin dibentuk oleh 4 rantai polipeptida dasar yang terdiri dari 2

rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang identik. Setiap rantai ringan terikat pada rantai berat melalui ikatan disulfida (S-S), demikian juga

rantai berat satu dengan yang lain dihubungkan dengan ikatan S-S. Enzim

proteolitik papain dapat memecah struktur ini menjadi 3 fragmen, yaitu 2 fragmen

yang memiliki susunan sama terdiri atas rantai berat (H) dan rantai ringan (L),

fragmen ini dapat bereaksi dengan determinan antigen serta hapten, (disebut

fragmen antigen binding site (Fab) dan satu fragmen yang tidak dapat mengikat antigen, tetapi dapat terkristalkan disebut fragmen crystallizable (Fc) (Tizard 1988, Jawetz et al. 1972). Fragmen antigen binding site (Fab) dibentuk oleh domain terminal N, sedangkan fragmen fragmen crystallizable (Fc) dibentuk oleh domain terminal C. Fab dan Fc dihubungkan dengan leher atau hinge yang fleksibel. Fab memiliki bagian yang dapat berubah- ubah sesuai dengan antigen

(33)

10

Gambar 2 Struktur Imunoglobulin (Anonimous 2007)

2.6 Imunoglobulin Y (IgY)

Imunoglobulin merupakan substansi pertama yang diidentifikasi sebagai

molekul protein dalam serum yang mampu menetralkan sejumlah mikroorganisme

penyebab infeksi. Pada ayam terdapat tiga kelas imunoglobulin yang analog

dengan imunoglobulin mamalia yaitu IgA, IgM dan IgY (IgG). Imunoglobulin Y

(IgY) memiliki fungsi yang setara dengan imunoglobulin G (IgG) mamalia

(Carlander 2002). Meskipun terdapat kemiripan struktur antara IgY amfibi, reptil

dan aves terhadap IgG mamalia, penyebutan IgY lebih tepat digunakan karena

IgY strukturnya berbeda dengan IgG (Szabo et al. 1998). IgY pada unggas identik dengan IgG pada mamalia, dengan perbedaan pada hinge IgY yang tidak fleksibel

serta IgY tidak dapat bereaksi dengan protein A. Imunoglobulin dengan berat

molekul terendah pada mamalia adalah IgG, sedangkan pada unggas, reptil, serta

amfibi adalah IgY. IgY memiliki sifat biologik yang merupakan gabungan dari

sifat biologik IgG dan IgE. IgY tidak dapat berikatan dengan komplemen dan FcR

mamalia. IgY memiliki rantai berat yang tersusun dari 4 bagian yang konstan

(Cv1-4) dan bagian variabel (VH) sedangkan rantai ringannya tersusun dari 1

rantai konstan (CL) dan 1 rantai variabel (VL) dengan bagian leher IgY tidak

fleksibel seperti IgG (Wibawan et al. 2003).

2.7 Mekanisme Sistem Imun

Respon imun merupakan serangkaian proses yang saling berkaitan dan

diatur oleh sistem yang saling menunjang. Dalam keadaan optimal atau dalam

(34)

11

terhindar dari dampak yang tidak menguntungkan akibat masuknya substansi

asing. Ada 3 keadaan yang mengkibatkan kegagalan sistem imun sebagai sistem

pertahanan tubuh yaitu: 1) Respon yang in-adekuat terhadap patogen

(imunodefisiensi) yang berakibat kepekaan terhadap infeksi; 2) Kegagalan dalam

mengenal antigen secara selektif yang berakibat hilangnya self-tolerance sehingga timbul penyakit auto imun; 3) Respon berlebihan dan tidak terkendali yang

berakibat hipersensitivitas (Kresno 2001)

Inti respon imun, khususnya respon imun didapat adalah aktivasi klon

limfosit yang dapat mengenal paparan antigen sebelumnya. Limfosit adalah

satu-satunya jenis sel dalam tubuh yang mengekpresikan reseptor antigen dengan

diversitas yang sangat tinggi dan dapat mengenal berbagai substansi asing yang

jenisnya sangat bervariasi. Diversitas ini terbentuk pada saat perkembangan sel

limfosit dari sel prekursor yang tidak mengekspresikan reseptor antigen dan tidak

dapat mengenal antigen. Pematangan (maturasi) limfosit menghasilkan sel yang

dapat mengenal antigen secara sangat spesifik, kemampuan untuk mengenal

bermacam-macam antigen yang sangat bervariasi, bergantung pada pembentukan

berbagai jenis reseptor antigen dipermukaan limfosit pada saat perkembangannya.

Fase awal respon imun adalah mengenal antigen dan ekspansi klon yang

diperlukan; fase berikutnya adalah diferensiasi selanjutnya dari sel-sel yang

mampu memberi respon dan rekrutmen serta aktivasi sistem efektor, misalnya

produksi antibodi, aktivasi makrofag, pembentukan sel sitotoksik dan lain-lain,

untuk menyingkirkan antigen bersangkutan (Kresno 2001). Reaksi kebal itu

diperantarai oleh sel, biasanya menunjukkan bahwa kekebalan dapat dipindahkan

dari hewan yang telah dibuat peka ke hewan normal dengan menggunakan

limfosit (Tizard 1988).

Pada saat pemaparan kedua, antigen akan dapat dikenal oleh sel

pertahanan dengan lebih efisien. Karena jumlah sel B dan sel T juga lebih banyak,

kemungkinan untuk berinteraksi dengan antigen akan lebih besar, sehingga titer

antibodi juga cepat meningkat. Di samping itu, antibodi yang tersisa juga dapat

bereaksi dengan antigen, sehingga komplek antigen-antibodi menjadi lebih mudah

(35)

12

B seperti halnya pada respon imun primer dengan kecepatan dan efisiensi yang

lebih tinggi.

Sistem imun dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kekebalan bawaan

(respon imun non spesifik) dan kekebalan dapatan (respon imun spesifik)

(Carlander 2002). Jika suatu individu terpapar oleh bahan asing maka yang

pertama kali akan berespon adalah sistem pertahanan bawaan/respon imun non

spesifik, yaitu kekebalan fisik-mekanik, kekebalan kimiawi, kekebalan biologis,

dan kekebalan seluler. Kekebalan fisik-mekanik terdiri dari kulit dan selaput

lendir, yang merupakan sistem pertahanan utama tubuh karena kulit dan lendir ini

merupakan bagian permukaan tubuh paling luar yang mencegah masuknya bahan

asing (Wibawan et al. 2003). Menurut Kresno (2001) komponen-komponen utama dalam respon imun spesifik lainnya adalah berbagai jenis protein dalam darah

termasuk komponen sistem komplemen, sel-sel fagosit yaitu sel-sel

polymorfonuklear dan makrofag serta sel natural killer (NK). Kekebalan bawaan (respon imun spesifik) berupa kekebalan tubuh yang bersifat fisik dan berfungsi

sebagai garis pertahanan pertama terhadap infeksi. Kekebalan bawaan dapat

dibagi menjadi empat jenis barier pertahanan yaitu anatomis, fisiologis,

endositik-fagositik dan peradangan. Menurut Bellanti (1993) respon imun spesifik

merupakan suatu reaksi tubuh terhadap benda asing yang mencakup rangkaian

interaksi seluler yang diekspresikan dengan penyebaran produk-produk sel

spesifik kekebalan dapatan sangat spesifik untuk partikular antigen. Antibodi

termasuk kekebalan dapatan (Carlander 2002). Menurut Kuby (1997) dua

kelompok sel yang berperan penting dalam respon imun spesifik ini adalah

limfosit dan antigen presenting cells (APC). Antigen presenting cells merupakan sel yang menghancurkan antigen melalui proses fagositosis dan menyajikan

bagian dari antigen tersebut sehingga dapat dikenali oleh sistem imun spesifik

(Kuby 1997).

Setelah antigen berhasil melalui sistem pertahanan non spesifik maka ia

(36)

13

(Wibawan et al. 2003). Menurut Kuby (1997) limfosit adalah satu dari beberapa jenis sel darah putih yang diproduksi di sumsum tulang selama proses

hematopoesis. Limfosit meninggalkan sumsum tulang bersirkulasi dalam darah

dan sistem limfatik menempati beberapa organ limfoid. Limfosit terdiri dari dua

kelompok sel yaitu sel limfosit B dan sel limfosit T (sel limfosit T-helper/sel Th dan sel limfosit T-cytotoxic/sel Tc). Sel T hanya akan bereaksi dengan antigen asing jika antigen tersebut ditampilkan pada permukaan antigen presenting cells (APC) bersama-sama dengan MHC, sel Th mengenali antigen yang berikatan

dengan molekul MHC kelas II (MHC II) dan sel Tc mengenali antigen yang

berikatan dengan molekul MHC kelas I ( MHC I). Dengan demikian, maka

molekul MHC berperan dengan mengatur interaksi antara berbagai sel yang

terlibat dalam respon imun. MHC II akan membawa antigen yang disajikan oleh

HPC kepada sel Th. Interaksi sel Th dengan MHC II dilakukan melalui molekul

permukaan sel Th yaitu CD4 (Cluster of Differentiation 4) dan TCR (T cell Receptor) yang dimiliki oleh sel Th. Interaksi sel Th dan antigen presenting cells (APC) akan menginduksi pengeluaran sitokin atau interleukin yang merupakan

alat komunikasi antar sel sehingga akan menginduksi pematangan sel limfosit B

menjadi sel plasma yang akan menghasilkan antibodi. Antibodi yang dihasilkan

dari proses ini hanya bereaksi dengan antigen yang ada di permukaan sel,

sehingga disebut sebagai kekebalan humoral atau kekebalan permukaan

(Humoral Mediated Immunity/ HMI) (Wibawan et al. 2003).

Kekebalan humoral ini tidak dapat berespon dengan antigen yang berada

di dalam sel, oleh karena itu mekanisme pembentukan kekebalan seluler adalah

dengan menggunakan sel limfosit Tc (Cytotoxic). Antigen akan dipresentasikan oleh APC ke sel Tc melalui MHC I. Interaksi antara sel Tc dengan MHC I

dilakukan melalui molekul CD8 dan TCR yang dimiliki oleh sel Tc. Sel Tc ini

akan mencari sel-sel yang mengalami kelainan fisiologis untuk kemudian

menghancurkan seluruh sel tersebut beserta antigen yang ada di dalamnya

walaupun host tidak menunjukkan gejala sakit. Tujuan dari penghancuran ini

adalah untuk mencegah penyebaran antigen intraseluler tersebut ke sel-sel sehat

lain yang ada di sekitarnya. Proses seperti ini dikenal sebagai proses kekebalan

(37)

14

Perbedaan dalam respon imun primer dan sekunder seperti kadar antibodi

yang dibentuk, lamanya lag fase dan lain-lain, sangat tergantung pada jenis, dan cara masuk antigen, serta sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur

antibodi.

Secara garis besar perbedaan respon imun primer dan respon sekunder

adalah sebagai:

1. Perbedaan dalam waktu. Respon imun sekunder menunjukkan lag fase yang lebih pendek dan waktu penurunan respon yang lebih panjang.

2. Kadar antibodi pada respon sekunder lebih tinggi bahkan dapat

mencapai 10x lebih tinggi dari kadar antibodi yang dihasilkan oleh

respon imun primer.

3. Perbedaan dalam kelas-kelas antibodi. Pada respon imun primer,

antibodi yang dihasilkan dalam jumlah banyak adalah IgM

sedangkan pada respon imun sekunder antibodi yang dihasilkan

dalam jumlah banyak adalah IgG dengan sedikit IgM.

4. Perbedaan dalam afinitas antibodi. Afinitas antibodi pada respon

imun sekunder biasanya lebih tinggi dibanding pada respon imun

primer.

Oleh karena itu kita dapat menganggap kebutuhan dasar sistem kebal

termasuk cara penjeratan dan pengolahan antigen; satu mekanisme untuk bereaksi

khusus terhadap antigen atau dengan kata lain, sel peka-antigen; sel untuk

menghasilkan antibodi atau berperan serta dalam tanggap kebal berperantara sel;

sel untuk menyimpan ingatan tentang peristiwa dan bereaksi khusus dengan

antigen pada pertemuannya kelak; dan akhirnya, sel untuk melenyapkan antigen.

Semua tipe sel di atas diketahui ada di dalam tubuh. Antigen diikat, diolah dan

akhirnya disingkirkan oleh makrofag. Sel peka-antigen, baik yang terdapat pada

permulaan tanggap primer dan sel memori yang akan memulai tanggap sekunder,

maupun sel efektor dalam tanggap yang berperantara sel, dikenal sebagai limfosit

kecil sedangkan sel penghasil antibodi berasal dari limfosit dan dikenal sebagai

(38)

15

2.8 Respon Imun terhadap Infeksi Virus

Kresno 2001 menyatakan bahwa virus mempunyai sifat-sifat khusus,

yaitu: 1) Dapat menginfeksi jaringan tanpa menimbulkan respon inflamasi; 2)

Dapat berkembang biak dalam sel penyaji tanpa merusaknya; 3) Ada kalanya

mengganggu fungsi khusus sel yang terinfeksi tanpa merusaknya secara nyata; 4)

Kadang-kadang virus merusak sel atau mengganggu perkembangan sel kemudian

menghilang dari tubuh.

Respon imun terhadap infeksi virus melibatkan respon nonspesifik

maupun spesifik. Ada 2 mekanisme utama respon non-spesifik terhadap virus

yaitu: 1) Infeksi virus secara langsung merangsang produksi IFN (Interferon) oleh sel-sel terinfeksi; IFN berfungsi menghambat replikasi virus; 2) Sel NK (natural killer) melisiskan berbagai jenis sel terinfeksi virus. Sel NK (natural killer) mampu melisiskan sel terinfeksi virus, walaupun virus menghambat presentasi

antigen dan ekspresi MHC I, karena sel NK cenderung diaktivasi oleh sasaran

yang MHC-negatif. Antibodi spesifik mempunyai peranan penting pada awal

terjadinya infeksi, dimana ia dapat menetralkan antigen virus dan melawan virus

sitopatik yang dilepaskan oleh sel yang mengalami lisis (Kresno 2001).

2.9 Interaksi antara Antigen dan Antibodi

Proses netralisasi dapat terjadi apabila antigen dikenali oleh antibodi.

Bagian antigen yang dikenal atau bereaksi dengan antibodi disebut epitop,

sedangkan bagian antibodi yang dapat mengenali antigen disebut paratop.

Wibawan et al. (2003) menyatakan bahwa antibodi selalu bersifat spesifik terhadap antigen tertentu. Sebagai contoh, (a) paratop antibodi 1 hanya dapat

berikatan dengan Epitop antigen I, (b) Paratop antibodi 2 hanya dapat berikatan

dengan Epitop antigen 2. Keadaan seperti contoh di atas disebut homolog, jadi

antibodi 1 homolog dengan antigen 1 dan antibodi 2 homolog dengan antigen 2.

jika antibodi tidak dapat mengenal antigen maka disebut antibodi dan antigen

tersebut heterolog, jadi antibodi 1 heterolog terhadap antigen 2 dan antibodi 2

heterolog terhadap antigen 1.

Antigen dapat memiliki lebih dari satu epitop, sehingga tubuh dapat

(39)

16

disuntikkan ke hewan percobaan, maka di dalam serum hewan tersebut akan

diperoleh antibodi yang dapat berinteraksi terhadap banyak epitop antigen.

Antibodi yang demikian disebut antibodi poliklonal. Sedangkan antibodi

monoklonal adalah antibodi yang hanya berikatan dengan satu epitop antigen.

Antibodi merupakan suatu produk sel yang dihasilkan oleh sel limfosit B dan

bereaksi spesifik/ khas terhadap antigen tertentu (Wibawan et al. 2003).

Antigen dapat dinetralkan dengan cara, antibodi membuat antigen tersebut

menjadi tidak larut di dalam tubuh, karena antigen hanya dapat menimbulkan efek

dalam tubuh jika ia larut. Dalam perannya sebagai penetral antigen, maka antibodi

berfungsi sebagai persipitin yang mengendapkan antigen, aglutinin yang menggumpal antigen, inhibin yang menghambat perlekatan antigen antigen dengan sel target serta sebagai apsonin atau saus agar antigen lebih mudah difagosit (Wibawan et al. 2003).

2.10 Agar Gel Presipitation Test (AGPT)

Pengujian keberadaan antibodi (IgY) dalam serum dilakukan uji

imunodifusi (teknik imunopresipitasi). Teknik imunopresipitasi merupakan salah

satu cara yang banyak dipakai untuk mengukur kadar antigen atau antibodi

(Kresno 2001). Teknik imunodifusi adalah menggunakan metode Agar Gel Precipitation Test (AGPT). Satu lubang diisi antigen, yang lain dengan antiserum, antigen diletakkan di sumur bagian tengah sedangkan serum diletakkan pada

sumur-sumur disekelilingnya. Pereaksi tadi akan berdifusi radial karena

terbentuknya gradien konsentrasi sirkuler untuk masing-masing pereaksi dan

akhirnya saling bertemu. Bila larutan antigen dan antibodi dilapiskan satu di atas

yang lain, tidak dengan pencampuran, komponen-komponen tadi akan berdifusi

satu sama lain. Pada rasio reagen dalam proporsi optimal, membentuk garis

presipitasi. Jadi akan terjadi proporsi optimal untuk terjadinya suatu presipitasi

pada suatu zone gradien yang berlapis, dan akan muncul garis buram putih

dikawasan ini (Kresno 2001). Antibodi umumnya bivalen dan karenanya hanya

mampu berikatan silang dengan dua determinan antigen dalam suatu waktu, tetapi

protein antigen umumnya multivalen, mempunyai determinan antigen yang relatif

(40)

17

ditutup dengan antibodi, mencegah ikatan silang dan karena itu mencegah

presipitasi. Bila pereaksi optimal, rasio antigen terhadap antibodi sedemikian

hingga keterikatan silang ekstensif dan terjadi pembentukan ”kisi-kisi”. Karena

kisi-kisi ini berkembang menjadi besar, menjadi tidak larut dan akhirnya

mengendap. Dalam campuran yang berlebihan antigen, setiap antibodi diikat

sepasang molekul antigen. Dalam hal ini ikatan silang selanjutnya tidak mungkin

dan karena itu kompleks ini kecil dan larut, tidak terjadi presipitasi. Sel sistem

fagositik-mononuklir sangat efisien mengikat dan menghasilkan kompleks yang

terbentuk pada proporsi optimal dan pada antibodi berlebihan (Tizard 1988).

Mekanisme presipitasi ditunjukkan pada Gambar 3.

Antibodi adalah bivalen

Antigen adalah multivalent

Antigen yang dicampur dengan

antibodi berlebihan

Antibodi yang dicampur dengan

antigen berlebihan

Antigen dan antibodi dicampur pada

proporsi optimal

(41)

18

BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari bulan September 2006 sampai bulan Juli 2007

di Laboratorium Bakteriologi dan Unit Pelayanan Terpadu Mikrobiologi Medik

Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner serta

Kandang Hewan Percobaan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

3.2 Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah isolat virus KHV yang

diperoleh dari Pusat Riset Perikanan dan Kelautan Budidaya Pasar Minggu dan

telah dikarakterisasi oleh Mulyana (2006), 2 ekor ayam Single Comb Brown Leghorn umur 23 minggu, freund Adjuvan komplit, freundAdjuvaninkomplit, Na-azide 0.1%, PBS (Phosphat Buffer Saline) dengan (pH 7.2), Agarose, Polyetilen Glikol (PEG) 6000 1,2 gram, aquades (pH 7.2), kapas, kertas tissu, alkohol 70%.

Alat yang digunakan adalah vortex mixer, tabung reaksi, gelas ukur berbagai ukuran, gelas objek, tabung Erlenmeyer, api bunsen, dispossible syringe volume 3 ml, water bath, inkubator, bulb, pipet berskala 5 ml dan 10 ml, microtube 1.5 ml (Ependorf), gel Puncher, microplate, refrigerator (Sanyo Medicool), deepfreezer (Sanyo Ultralow), mikropipet (10-100µl), tip, timbangan, microwave, wadah penyimpanan AGPT (Agar Gel Prespitation Test).

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Preparasi Antigen KHV (Koi Herpesvirus)

Isolat virus KHV yang diinokulasikan pada sel KT (Koi Tail 2)

mempunyai titer virus 103,8TCID50/ml dengan bentuk CPE (cytopathic effect)

berupa vakuolisasi pada biakan sel, nilai titer ini merupakan hasil isolasi virus dari

target organ yaitu ginjal, limpa, dan insang ikan koi yang terinfeksi pada Jawa

Barat (Mulyana 2006). Kemudian isolat virus KHV dihomogenkan dengan

menggunakan vortex. Setelah homogen virus KHV diinaktifkan dalam waterbath

60 ºC selama 30 menit, suspensi disimpan dalam refrigerator 4 ºC dan untuk

(42)

19

3.3.2 Vaksinasi Ayam

Dua ekor ayam disiapkan untuk perlakuan. Vaksinasi dilakukan dengan

dua metode aplikasi penyuntikan. Pada metode I ayam di vaksinasi secara

intramuskular pada otot dada sebanyak 0.4 ml antigen KHV dalam adjuvan

komplit ,satu minggu kemudian ayam divaksinasi dengan 0.3 ml antigen KHV

dalam freund adjuvan komplit secara intramuskular pada otot dada. Kemudian

vaksinasi pada minggu ketiga dan keempat dilakukan seperti pada minggu

sebelumnya, dengan jumlah antigen KHV 0,5 ml dalam freund adjuvan inkomplit

secara intramuskular (otot dada).

Pada metode II ayam divaksinasi dengan 0.1 ml antigen KHV secara

intravena selama 3 hari berturut-turut melalui vena axillaris. Kemudian pada minggu kedua disuntikkan antigen sebanyak 0.3 ml dalam freund adjuvan komplit

secara intra muskular pada otot dada. Setelah itu dilakukan pengulangan pada

minggu ketiga dan keempat menggunakan dosis 0.5 ml antigen KHV dalam

freund adjuvan inkomplit, secara intramuskular.

3.3.3 Preparasi antigen KHV (Koi Herpesvirus) untuk AGPT

Isolat KHV (Koi Herpesvirus) yang disimpan dalam deep freezer (Sanyo Ultralow),dicairkan (thawing). Kemudian antigen KHV (Koi Herpesvirus) dapat digunakan untuk AGPT (Agar Gel Presipitation Test).

3.3.4 Pengambilan Darah dan Pemisahan Serum

Untuk memperoleh serum maka darah diambil sebanyak 2 – 3 melalui

vena axillaris. Pengambilan darah dilakukan tiga minggu setelah vaksinasi ketiga Darah yang telah diambil diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 30 - 60 menit, lalu

serum dipisahkan dari gumpalan darah. Serum dapat disimpan dalam microtube pada suhu 4 ºC dan jika digunakan jangka waktu yang lama dapat disimpan pada

suhu -20ºC

3.3.5 Pengujian Serum dengan metode AGPT

(43)

20

aquades (pH 7.2). Larutan tersebut dipanaskan dalam microwave sampai larut (larutan terlihat bening). Dengan menggunakan pipet berskala agar dituang pada

kaca objek sebanyak 4 ml dan dibiarkan mengeras pada suhu ruang. Kemudian

dibuat sumur-sumur dengan gelpuncher. Media agar yang telah siap, diisi dengan antigen dan serum. Pada sumur tengah diteteskan antigen KHV (Koi Herpesvirus) sebanyak 25 µl sedangkan sumur-sumur disekelilingnya diteteskan serum yang

akan diuji, masing-masing sumur sebanyak 25 µl. Agar disimpan pada tempat

lembab dan suhu ruang berupa wadah lembab (baskom yang diberi alas kertas

tissu lalu dibasahi dan ditutup). Pengamatan dilakukan setelah 24 jam sampai 48

jam. Reaksi positif dicirikan dengan munculnya garis berwarna buram putih

(presipitasi) pada daerah antara sumur antigen dengan serum.

3.3.6 Pengenceran Serum dan Pengujian AGPT

Pengenceran serum dilakukan dengan mengisi sumur-sumur microplate PBS (Phosphat Buffer Saline) pH 7.2 sebanyak 50 µl pada masing-masing sumur (sumur 1-6). Serum yang telah diperoleh diambil sebanyak 50 µl lalu

dihomogenkan dengan PBS (Phosphat Buffer Saline) pH 7.2 yang telah diisi sebanyak 50 µl pada sumur pertama, setelah homogen diambil sebanyak 50 µl

larutan dan dimasukkan pada sumur kedua lalu dihomogenkan lagi. Pada

sumur-sumur berikutnya sampai sumur-sumur keenam dilakukan hal yang sama. Sehingga

diperoleh larutan dengan perbandingan 1/2 (20), 1/4 (22), 1/8 (24), 1/16 (26), 1/32 (28), 1/64 (216). Setelah media agar disiapkan untuk pengujian AGPT, antigen sebanyak 25 µl dimasukkan pada sumur bagian tengah dan serum yang telah

diencerkan dimasukkan pada sumur-sumur disekelilingnya sebanyak 25 µl.

(44)

21

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Keberadaan antibodi (IgY) dalam serum dapat dideteksi dengan pengujian

AGPT. Hasil AGPT ditunjukkan pada Tabel 1.

4.1 Produksi Antibodi (IgY) Anti Koi Herpesvirus (KHV) pada Serum Ayam

Tabel 1 Hasil AGPT pada serum

Hasil AGPT

Minggu ke-0 : Minggu sebelum vaksinasi

Minggu ke-1 dst : Minggu setelah vaksinasi terakhir

- : Tidak terjadi presipitasi

+ : Terjadi presipitasi

* : Tidak dilakukan pengujian

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa sampel serum minggu ke 0-3 (sebelum

vaksinasi) menunjukkan hasil AGPT negatif pada kedua ayam yang ditandai tidak

terbentuknya garis presipitasi (Gambar 4 B) karena belum dilakukannya pengujian

serum (pengumpulan serum). Pembentukan antibodi kedua ayam ditunjukan oleh

adanya reaksi positif dari AGPT serum ditandai dengan terbentuknya garis

presipitasi (Gambar 4 A) yang diperoleh setelah vaksinasi ketiga pada minggu

(45)

22

protein asing atau mikroorganisme yang memaparnya (akibat vaksinasi atau

infeksi alami) (Davis & Reeves 2002, dalam Rawendra 2005). Menurut Carlander (2002) ayam memiliki sensitivitas tinggi terhadap protein asing sehingga

walaupun dalam jumlah sedikit dapat memberikan respon pembentukan antibodi.

Keberadaan Hadrian gland didaerah nasotrakheal dan Bursa Fabricius juga

memungkinkan unggas sangat responsif terhadap berbagai protein asing (Coleman

2002, dalam Rawendra 2005).

Reaksi positif hasil AGPT pada metode I berlangsung sampai minggu

ke-10 (antibodi bertahan selama 7 minggu) sampai pengujian terakhir. Penurunan

produksi antibodi dapat terjadi apabila jumlah antigen berkurang sehingga tidak

mampu menggertak sistem kekebalan. Respon imun primer terjadi apabila antigen

pertama kali masuk ke dalam tubuh ditandai dengan munculnya IgM beberapa

hari setelah pemaparan. Kadar IgM mencapai puncaknya setelah kira-kira 7 hari.

Enam sampai 7 hari setelah pemaparan dalam serum mulai dapat dideteksi adanya

IgG, kadar IgG mencapai puncaknya yaitu 10 – 14 hari setelah pemaparan antigen

(Wibawan et al. 2003) dan menurut Bellanti (1993) reaksi antibodi akan terbentuk 10 – 14 hari pasca injeksi. Sedangkan pada metode II hasil AGPT juga

positif sampai minggu ke-10 (keberadaan antibodi bertahan selama 7 minggu).

Untuk minggu-minggu berikutnya pada metode II tidak dilakukan lagi pengujian.

Pembentukan antibodi dipengaruhi beberapa faktor diantaranya :

imunogenesitas, kualitas, bentuk kelarutan stimulan, spesies hewan yang di

imunisasi, rute aplikasi, dan sensitifitas assay. Pada metode I dilakukan secara intramuskular dengan penambahan freund adjuvan komplit dan freund adjuvan

inkomplit. Adjuvan merupakan substansi yang apabila dicampurkan antigen dapat

meningkatkan imunogenitas antigen tersebut. Freund adjuvan terdiri dari

campuran minyak mineral dan pengemulsi, adjuvan yang mengandung larutan

minyak mineral dan zat emulsi seperti Mannide monooleate (freund adjuvan inkomplit) mengedarkan minyak menjadi droplet kecil mengelilingi antigen.

Kemudian antigen dilepaskan secara perlahan dari tempat penyuntikan.

Sedangkan campuran minyak mineral dan zat emulsi yang mengandung

(46)

23

minyak, dan mengaktivasi makrofag sehingga freund adjuvan komplit lebih kuat

dari freund adjuvan inkomplit (Kuby 1997; Smith 1995). Penambahan adjuvan

juga mempertahankan keberadaan antigen dalam tubuh sehingga dapat

menyediakan rangsangan antigenik yang lama. Adjuvan dapat efektif pada setiap

tingkat proses imunisasi yang dapat memodifikasi imunogen atau bekerja pada

tingkat sel dari respon imun inang. Pada tingkat sistem imun inang, penambahan

adjuvan dapat memodifikasi membran sel (mengaktifkan agen di permukaan)

sehingga mempermudah pengikatan imunogen ke makrofag dan limfosit,

merangsang aktivitas sel yang terlibat dalam respon imun terutama fagositosis

oleh makrofag, dan membentuk depot imunogen sehingga memperlambat

pelepasannya dari lokasi inokulasi (Smith 1995). Keberadaan antigen yang

berkesinambungan bertujuan untuk meningkatkan produksi antibodi dan

mempertahankan keberadaan antibodi untuk waktu yang lama di dalam tubuh. Hal

yang sama dilakukan pada metode II tetapi imunisasi dilakukan secara intravena

dan intramuskular sehingga mampu merangsang terbentuknya respon imun

sekunder dan antibodi yang terbentuk lebih tinggi dibandingkan pada respon

imun primer. Penyuntikan antigen menyebabkan terbentuknya antibodi yang

bereaksi dengan antigen, antibodi hanya berikatan dengan antigen yang

merangsang pembentukannya (Tizard 1988). Jenis adjuvan sangat mempengaruhi

rute injeksinya, tetapi apabila menggunakan adjuvan yang diserap lambat

terutama freund adjuvan sebaiknya tidak diberikan secara intravena. Aplikasi

penyuntikan melalui intravena dan intramuskular dengan penambahan freund

adjuvan komplit pada metode II merangsang respon antibodi yang kuat untuk

waktu yang lama dengan membebaskan tetes-tetes emulsi dengan perlahan dan

merangsang fungsi makrofag serta dapat mempercepat proses induksi sehingga

antigen cepat menyebar dalam darah dan segera merangsang terbentuknya

antibodi (Smith 1995). Sedangkan aplikasi penyuntikan melalui intramuskular

dengan penambahan freund adjuvan komplit maupun freund adjuvan inkomplit

pada metode I diharapkan agar penderitaan hewan minimum dan dapat

merangsang pembentukan antibodi yang berkesinambungan dan dalam jumlah

(47)

24

A. B.

Gambar 4 (A) Reaksi positif dari AGPT serum pada minggu ke-6 metode I,

terdapat garis presipitasi antara sumur antigen (a) dan sumur antibodi

(b) dari serum ayam yang divaksinasi KHV (1-6). (B) Reaksi negatif

dari AGPT serum, tidak terdapat garis presipitasi antara sumur antigen

(a) dan sumur antibodi (b) dari serum ayam yang divaksinasi KHV

(1-6)

Antibodi yang direaksikan dengan antigen spesifik membentuk kompleks

yang tidak larut (presipitat) diukur dengan reaksi presipitasi. Hal yang paling

menentukan adalah spesifisitas antiserum yang digunakan, dan larutan standar

yang stabil dengan kadar yang pasti serta afiditas antibodi. Afiditas antibodi

menentukan derajat stabilitas kompleks antigen-antibodi pada tempat pengikatan

(antigen dinding site); kompleks yang tarbentuk cenderung berdisosiasi bila antibodi mempunyai afiditas yang lemah, sebaliknya makin tinggi afiditas

antibodi makin stabil kompleks antigen-antibodi yang terbentuk. Faktor-faktor

lain yang berpengaruh yaitu suhu, pH dan molaritas larutan yang dipakai serta

perbandingan antara konsentrasi antigen dan antibodi (Kresno 2001). Apabila

digunakan beberapa campuran antigen-antibodi, setiap komponen akan mencapai

proporsi optimal pada posisi yang tidak sama. Bila kedua garis tepat bersesuaian,

maka kedua antigen dianggap identik. Bila garis-garis bersilangan, maka kedua

antigen berbeda, sedangkan bila garis-garis bersatu dengan pembentukan taji,

maka terdapat identitas parsial dengan masing-masing antigen mempunyai

(48)

25

Zona proporsi optimal Jumlah presipitat

yang terbentuk (mg)

0 0,5 1 1,5

1 2 3 4

Zona antibodi berlebihan

Zona antigen berlebihan

Jumlah antigen yang bertambah (mg)

Gambar 5 Kurva presipitasi kuantitatif yang menunjukkan efek dari

penambahan jumlah antigen yang meningkat terhadap jumlah

antibodi yang konstan ( Tizard 1988)

Kondisi antigen berlebihan akan mengakibatkan melarutnya kembali

kompleks yang terbentuk, sedangkan antibodi berlebihan menyebabkan kompleks

antigen-antibodi tetap ada dalam larutan. Zona ekivalen merupakan daerah

antigen dan antibodi dalam keadaan seimbang. Pada umumnya bila digunakan

teknik imunopresipitasi yang menggunakan semisolid, diusahakan supaya reaksi

presipitasi berlangsung dalam zona ekivalen, jadi antigen dan antibodi berimbang

(Kresno 2001).

(49)

26

4.2 Penghitungan Konsentrasi (IgY) Anti Koi Herpesvirus (KHV) pada Serum Ayam

Tabel 2 Titer IgY pada serum

Hasil AGPT minggu

Minggu ke-0 : Minggu sebelum vaksinasi

Minggu ke-1 dst : Minggu setelah vaksinasi terakhir

- : Tidak terjadi presipitasi

+ : Terjadi presipitasi

* : Tidak dilakukan pengujian

# : dilakukan booster

2, 4, 8, 16, 32, 64 : Nilai titer IgY

Pada Tabel 2 Titer antibodi (IgY) pada serum metode I mulai terlihat dari

minggu ke-4 sampai minggu ke-10 dan mengalami penurunan dari minggu ke-8

sampai minggu ke-9 dan meningkat lagi pada minggu ke-10. Menurut Tizard

(1988) penurunan titer ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti kondisi ayam

(stress, sakit, kelelahan), lingkungan, dan nutrisi. Selain itu umur dan kondisi

hipofungsi berpengaruh pada imunitas (Kresno 2001). Faktor lain yang juga

mempengaruhi titer antibodi (IgY) adalah ukuran molekul antigen, kerumitan

struktur kimiawi antigen, konstitusi genetik, metode pemasukan antigen, dosis

(50)

27

Pada serum metode II titer antibodi (IgY) mulai terlihat pada minggu ke-4

sampai minggu ke-10. Tetapi pada minggu ke-7 nilai konsentrasi IgY 0

disebabkan tidak dilakukannya pengujian, serum tidak mencukupi untuk

dilakukan pengenceran. Titer IgY meningkat minggu ke-5 sampai minggu ke-6

dan mengalami penurunan pada minggu ke-8 sampai minggu ke-10, keberadaan

antibodi dalam keadaan kurang stabil. Untuk mendapatkan serum dengan titer dan

afiditas paling tinggi maka dosis pertama sebaiknya diberikan dalam freund

adjuvan komplit, sedangkan imunisasi selanjutnya harus diberikan dalam freund

adjuvan inkomplit untuk menghindari reaksi hipersensitivitas yang hebat (Goding

1986, dalam Smith).

Gambar 6 Grafik titer IgY pada serum ayam Single Comb Brown Leghorn Gambar 6 menunjukkan perbandingan grafik titer IgY pada metode I dan

metode II. Grafik menggambarkan serum pada metode I cenderung lebih stabil

dan berkesinambungan dibandingkan metode II. Menurut Carlander (2002) bahwa

persentase titer bergantung pada kondisi individu, prosedur vaksinasi serta

(51)

28

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

• Pada metode I antibodi spesifik KHV dalam serum dapat terdeteksi setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat) dan bertahan sampai dengan enam

minggu setelah vaksinasi terakhir. Pada metode II antibodi spesifik KHV

dapat terdeteksi setelah vaksinasi ketiga (minggu keempat) dan bertahan

sampai dengan 7 minggu.

• Terdapat perbedaan respon imun dari kedua aplikasi penyuntikan, dan hasil yang lebih baik ditunjukkan pada metode I.

SARAN

• Penelitian merupakan tahap awal, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai produksi antibodi anti KHV (Koi herpesvirus) pada kuning telur ayam single comb brown leghorn. Selanjutnya produksi antibodi dapat diuji efektifitasnya dalam pencegahan dan pengobatan penyakit KHV (Koi Herpesvirus) pada ikan.

• Manajemen kandang yang lebih baik sehingga sistem respon imun ayam

Gambar

Gambar 1  Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV (Koi Herpesvirus)
Gambar 2  Struktur  Imunoglobulin (Anonimous 2007)
Gambar 3  Mekanisme presipitasi ( Tizard 1988).
Tabel 1 Hasil AGPT pada serum
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian levamisol pra vaksinasi AI tidak berpengaruh nyata terhadap respon kebal spesifik yang humoral karena titer antibodi pada kelompok yang diberi maupun yang tidak diberi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam kampung dan burung puyuh 3 minggu setelah vaksinasi telah memberikan respon antibodi terhadap virus AI subtipe H5N1, dan berdasarkan hasil