EVALUASI TATA RUANG/ GEDUNG BADAN PERPUSTAKAAN, ARSIP DAN DOKUMENTASI PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu prasyarat dalam menyelesaikan studi Untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam
bidang studi perpustakaan dan informasi
OLEH
HEROPLIN MANIK (090709015)
DEPARTEMEN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standar dan kategorisasi tata ruang/gedung dan keterlengkapan perabot pada ruangan Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Penelitian ini dilakukan dengan merangkaikan kisi-kisi check list beserta tabel yang menjadi instrumen sebagai bahan analisis dalam penelitian ini. Kisi-kisi yang dirangkaikan terdiri dari 4 bagian yakni mengenai sistem tata rak, sistem pencahayaan (penerangan), sistem pengaturan hawa, dan sistem tata ruang. Penulis juga merangkaikan tabel yang mengevaluasi tentang kelengkapan perabot yang tersedia pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Jika dilihat dari nilai persentasi yang didapat, maka dapat diketahui bahwa tata ruang/gedung Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara dapat dikategorikan dengan nilai baik dengan besaran persentasi sebesar 70 %. Hasil ini didapatkan berdasarkan hasil observasi terhadap indikator yang dirangkaikan dalam kisi-kisi check list. Indikator yang diukur terdiri dari 4 indikator dengan 10 jumlah item yang dianalisis terhadap unit-unit analisis terhadap layanan Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara. Indikator yang diukur menjadi tolok ukur yang sangat berpengaruh signifikan terhadap hasil evaluasi tata ruang/gedung Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengelola atau pengembang perpustakaan untuk menghasilkan gedung/ruangan perpustakaan menjadi tempat yang efisien, nyaman dan menyenangkan baik bagi pustakawan maupun pengunjung.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria,
yang telah memberikan berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga peneliti dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi tata ruang/gedung Badan
Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Povinsi Sumatera Utara”.
Selama penulisan skripsi, peneliti mengucapkan terima kasih kepada
Ayahanda Robin Manik dan Ibu tercinta Lince Sinaga, yang telah banyak
berkorban untuk membesarkan, mendidik dan mendoakan peneliti, serta abang
dan kakak yang telah memberikan dorongan motivasi, semangat dan doa selama
mengikuti perkuliahan sampai selesai skripsi ini. Sebagai rasa syukur peneliti
mengucapkan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Irawaty A. Kahar, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Ilmu
Perpustakaan dan Informasi dan Dosen penguji I yang telah banyak
memberikan masukan dalam penelitian ini.
3. Bapak Dr. A. Ridwan Siregar, M. Lib, selaku pembimbing I dan Ibu Himma
Dewiyana, ST. M.Hum selaku pembimbing II yang telah membimbing dan
memberikan pengarahan demi kelancaran penelitian ini.
4. Bapak Ishak, S.S., M.Hum selaku penguji II yang telah banyak memberikan
masukan dalam penelitian ini.
5. Kepada Bapak Drs. Belling Siregar, M.Lib yang selalu memberikan nasehat
dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.
6. Seluruh Dosen Jurusan Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Sumatera Utara, selaku staf pengajar yang telah mendidik
peneliti.
7. Kepada Ibu Dra. Nurjani, M.si selaku pihak yang bersedia mengijinkan
peneliti untuk melakukan penelitian di Badan Perpustakaan, Arsip dan
Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
8. Kepada Bang Yudi yang telah membantu peneliti untuk urusan administrasi
9. Kepada kakanda yang sudah wisuda lebih awal stambuk 09’ Andi Pargo
Simamora S.Sos, Dian Utami S.Sos, Siti Aisyah S.Sos, Margaretha S.Sos,
yang membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
10. Kepada kawan-kawan seperjuangan stambuk 09’ Ruthsel, Renti, Rumi,
Melati, Indra, Samuel, Ramson, Erika, Astika, Ani, Tiodora, Adelina,
Lentina, jhonson, Grace, Rasyad, dan kawan-kawan yang tidak bisa saya
sebutkan satu per-satu yang telah bersama-sama selama masa perkuliahan.
11. Kepada ATC Adventure ‘Baron 08, Pargo (S.Sos), Tota Climber, yang
bersama-sama selama masa perkuliahan di Departemen Studi Perpustakaan
dan Informasi.
12. Kepada keluarga Hutapea/br.Napitupulu (amang/bou awak) yang selalu
memberikan bantuan baik secara moral dan material selama tinggal di Medan.
13. Kepada adik-adik stambuk 2010, 2011 Cristin (Titin), Sriwahyuni, Yessy
Tarihoran, David, Pradana, Retno, Christine, Sepdita, Kevy, Imanuel, yang
selalu bersama-sama peneliti selama perkuliahan, serta semua pihak yang
telah membantu peneliti yang tidak tidak dapat disebutkan satu persatu.
14. Kepada teman-teman satu kontrakan pasar mati dan CSC community’ bang
Acong (Johan Jasen), David (Ioo) , Ipul (appara), Anenk (bang Today), bang
Alfred, bang Febry, bang Chandra, lae Joseph, bang Fritz, uda Natal, Andes
Arinal, Boy yang selalu bersama-sama selama di Medan, serta semua pihak
yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaaan dan masih banyak kekurangannya, Namun demikian harapan
penulis skripsi ini dapat kiranya menambah khazanah ilmu dan bermanfaat bagi
semua.
Medan, oktober 2013
Heroplin Manik
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat penelitian ... 4
1.5. Ruang Lingkup ... 4
BAB II KAJIAN TEORITIS ... 5
2.1. Perancangan Fasilitas Informasi ... 5
2.1.1. Pengertian Perencanaan Fasilitas Informasi ... 5
2.1.2. Tujuan Perencanaan Fasilitas Informasi ... 6
2.2. Pengertian Perpustakaan Umum ... 6
2.2.1. Tujuan Perpustakaan Umum ... 7
2.2.2. Fungsi Perpustakaan Umum ... 8
2.3. Kajian Lingkungan dan Penentuan Tempat Perpustakaan ... 9
2.3.1. Perencanaan Gedung Perpustakaan ... 9
2.3.2. Desain Gedung Perpustakaan ... 11
2.4. Tata Ruang Perpustakaan ... 14
2.4.1. Pengertian Tata Ruang Perpustakaan ... 14
2.4.2. Tujuan Tata Ruang Perpustakaan ... 16
2.4.3. Ruangan Perpustakaan ... 17
2.4.4. Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan ... 20
2.5. Pengertian Evaluasi ... 24
2.5.1. Tujuan Evaluasi ... 25
2.5.2. Evaluasi Tata Ruang Perpustakaan ... 26
BAB III METODE PENELITIAN ... 27
3.1. Metode Penelitian ... 27
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28
3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 28
3.4. Unit Analisis ... 29
3.5. Variabel Penelitian ... 29
3.5.1. Kisi-kisi Check List ... 30
3.6. Analisis Data ... 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35
4.1. Gambaran Umum Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara ... 35
4.1.1. Sejarah Ringkas ... 35
4.2. Karakteristik Penilaian ... 40
4.3. Analisis Tata Ruang/Gedung ... 41
4.4. Evaluasi Tata Ruang/Gedung Berdasarkan Standarisasi ... 41
4.4.1. Evaluasi Tata Ruang/Gedung Berdasarkan Standarisasi Thompson . 42 4.5 Kajian Perabot dan Perlengkapan Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara. ... 64
4.6 Hasil Evaluasi dan Kategorisasi Tata Ruang/Gedung ... 67
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 74
5.1. Kesimpulan ... 74
5.2. Saran ... 75
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sesuai Standar Tata Ruang Perpustakaan Menurut Thompson.……..…30
Tabel 2. Kajian Perabot dan Perlengkapan setiap Ruangan Perpustakaan yang Terdapat dalam Pedoman Perlengkapan Perpustakaan Umum …...…...31
Tabel 3. Interpretasi data menurut Arikunto (2002) ………...……34
Tabel 4. Kisi-kisi Check List Menurut Standarisasi Thompson ………...42
Tabel 5. Hasil check list pada Layanan Dewasa A ………...43
Tabel 6. Hasil Check list pada Layanan Dewasa B ……….…..48
Tabel 7. Hasil Check list pada Layanan Remaja ……….…..54
Tabel 8. Hasil Check list pada Layanan Deposit ………. ……59
Tabel 9. Kajian Keterlengkapan Perabot dan Fasilitas Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara ………...64
Tabel 10. Evaluasi tata ruang/gedung Layanan Dewasa A ………...…68
Tabel 11. Evaluasi tata ruang/gedung Layanan Dewasa B ………...…69
Tabel 12. Evaluasi tata ruang/gedung Layanan Remaja ………...…70
Tabel 13. Evaluasi tata ruang/gedung Layanan Deposit ………...…71
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses Evaluasi ………25
Gambar 2. Struktur organisasi Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara ………..40
Gambar 3. Tinggi rak pada Layanan Dewasa A ………...44
Gambar 4. Jarak Rak pada Layanan Dewasa A ………44
Gambar 5. Lebar Rak pada Layanan Dewasa A ………...45
Gambar 6. Keadaan ruangan pada Layanan Dewasa A ………46
Gambar 7. Alat pendingin pada layanan dewasa A ………..46
Gambar 8. Ruang Baca pada Layanan Dewasa A ………47
Gambar 9. Tinggi rak pada Layanan Dewasa B ………...49
Gambar 10. Jarak rak pada Layanan Dewasa B ………50
Gambar 11. Lebar Rak pada Layanan Dewasa B ……….…51
Gambar 12. Keadaan ruangan Layanan Dewasa B ………...…52
Gambar 13. Alat pendingin pada layanan dewasa B ……….…52
Gambar 14. Ruang Baca pada Layanan Dewasa B ………...53
Gambar 15. Tinggi rak pada Layanan Remaja ………..…55
Gambar 16. Jarak rak pada Layanan Remaja ………56
Gambar 17. Lebar Rak pada Layanan Remaja ……….….56
Gambar 18. Keadaan ruangan Layanan Remaja ………...…57
Gambar 19. Alat pendingin pada layanan Remaja ………58
Gambar 20. Ruang Baca pada Layanan Remaja ………...…………59
Gambar 21. Tinggi rak pada Layanan Deposit ……….………60
Gambar 22. Jarak rak pada Layanan Deposit ……… ………….………61
Gambar 23. Lebar Rak pada Layanan Deposit ……….………61
Gambar 24. Keadaan ruangan Layanan Deposit …………...………62
Gambar 25. Alat pendingin pada layanan Deposit ………63
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standar dan kategorisasi tata ruang/gedung dan keterlengkapan perabot pada ruangan Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Penelitian ini dilakukan dengan merangkaikan kisi-kisi check list beserta tabel yang menjadi instrumen sebagai bahan analisis dalam penelitian ini. Kisi-kisi yang dirangkaikan terdiri dari 4 bagian yakni mengenai sistem tata rak, sistem pencahayaan (penerangan), sistem pengaturan hawa, dan sistem tata ruang. Penulis juga merangkaikan tabel yang mengevaluasi tentang kelengkapan perabot yang tersedia pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Jika dilihat dari nilai persentasi yang didapat, maka dapat diketahui bahwa tata ruang/gedung Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara dapat dikategorikan dengan nilai baik dengan besaran persentasi sebesar 70 %. Hasil ini didapatkan berdasarkan hasil observasi terhadap indikator yang dirangkaikan dalam kisi-kisi check list. Indikator yang diukur terdiri dari 4 indikator dengan 10 jumlah item yang dianalisis terhadap unit-unit analisis terhadap layanan Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara. Indikator yang diukur menjadi tolok ukur yang sangat berpengaruh signifikan terhadap hasil evaluasi tata ruang/gedung Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengelola atau pengembang perpustakaan untuk menghasilkan gedung/ruangan perpustakaan menjadi tempat yang efisien, nyaman dan menyenangkan baik bagi pustakawan maupun pengunjung.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Perpustakaan merupakan salah satu institusi yang bergerak dalam bidang
pelayanan jasa informasi dalam bentuk bahan pustaka baik dalam bentuk tercetak
maupun elektronik. Yang dilayankan kepada masyarakat untuk keperluan
pendidikan, penelitian, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan
merupakan salah satu lembaga penyelenggara pendidikan yang turut berpartisipasi
dalam mencerdaskan bangsa. Melalui perpustakaan masyarakat mendapatkan
pendidikan di luar pendidikan formal, yang membantu masyarakat dalam
mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah kebutuhan pokok yang harus
dimiliki oleh setiap orang agar dapat menjawab tantangan hidup.
Perpustakaan mempunyai peranan dalam meningkatkan taraf hidup
masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Perpustakaan sebagai wadah belajar sepanjang hayat agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional.
Tugas tersebut di atas dapat dilaksanakan melalui fungsi perpustakaan yaitu
untuk: mengadakan/mengumpulkan bahan pustaka, mengolah bahan pustaka dan
informasi sesuai dengan sistem yang dianut, sehingga bahan pustaka tersebut siap
untuk dilayankan dan digunakan oleh masyarakat, melestarikan/memelihara
bahan pustaka dan informasi. Memberi layanan kepada pengguna perpustakaan,
serta menyelenggarakan pameran, peragaan, bimbingan/penyuluhan dan
pertemuan. Dengan terlaksananya fungsi perpustakaan tersebut di atas maka
perpustakaan diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan taraf hidup
masyarakat, tetapi juga dapat membuat masyarakat yang berwawasan luas, kritis
dan tanggap terhadap gejala-gejala sosial yang ada dalam masyarakat.
Menurut Trimo (1985), berhasil tidaknya suatu pepustakaan dalam
melaksanakan fungsinya memberi pelayanan kepada pengguna dipengaruhi oleh 3
perpustakaan yang bersangkutan, 20% diakibatkan oleh koleksi bahan-bahan yang
ada, dan 75% adalah sebagai hasil dari staf perpustakaan yang bersangkutan” (p.
100). Salah satu faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menunjang
keberhasilan suatu perpustakaan adalah penentuan lokasi. Lokasi didefenisikan
sebagai tempat, Lokasi perpustakaan harus strategis karena dapat menentukan
tercapainya tujuan utama perpustakaan.
Jika dilihat dari persentase yang disebut di atas pengaruh gedung/ruangan
merupakan yang paling kecil pengaruhnya dibandingkan faktor yang lainnya.
Namun gedung/ruangan perpustakaan sering menjadi masalah yang besar di
indonesia. Untuk memastikan fungsi perpustakaan terlaksana sebagaimana
mestinya, harus memperhatikan pembangunan gedung dan penempatan gedung.
Pembangunan dan penempatan gedung harus tepat dan memenuhi persyaratan
sebagai perpustakaan, dengan demikian tujuan utama perpustakaan dapat dicapai.
Namun kenyataan yang kita lihat pada saat ini adalah banyak penempatan
gedung/ruangan perpustakaan yang tidak tepat, misalnya pemilihan letak
gedung/ruang perpustakaan yang salah membawa akibat kurang terjangkaunya
perpustakaan dengan mudah oleh pengguna. Pada saat perpustakaan berkembang,
gedung/ruang tidak memungkinkan untuk dilakukan perluasan yang semestinya
baik secara horizontal maupun vertikal.
Mengingat faktor tersebut di atas maka gedung/ruangan perlu
mendapatkan perhatian yang serius dari pustakawan dan pihak-pihak yang
bertugas dalam perpustakaan. Salah satu yang perlu dipertimbangkan dalam
pengelolaan gedung/ruangan adalah mengenai tata ruang gedung/ruangan
tersebut. Tata ruang terdiri dari dua kata yaitu “tata” dan “ruang”, Tata berarti
pengaturan, penyusunan. Sedangkan ruang yaitu suatu wadah yang meliputi ruang
daratan, ruang lautan, ruang udara sebagai suatu kesatuan wilayah tempat manusia
dan makhluk lainnya melakukan kegiatan/aktivitas dalam memelihara
kelangsungan hidup (UU. No. 24 Th. 1992). Jadi dapat disimpulkan bahwa tata
ruang merupakan penyusunan atau pengaturan segala sesuatu yang berada di
dalam gedung/ruangan yang dimanfaatkan untuk melakukan suatu kegiatan.
Penataan gedung/ruangan perpustakaan harus sesuai dengan standar tata
harus berdasarkan aturan dan memenuhi standar yang berlaku untuk
memperlancar seluruh kegiatan yang ada dalam perpustakaan tersebut.
Dalam pengamatan awal penulis pada Badan Perpustakaan ,Arsip dan
Dokumentasi (BPAD) Provinsi Sumatera Utara masih ada hal yang perlu
diperhatikan dalam penataan ruang/gedung perpustakaan tersebut. Penataan
gedung/ruangan serta penataan fasilitas pada pepustakaan tersebut masih belum
sesuai dengan standar tata ruang gedung/ruangan perpustakaan. Diantaranya
masih adanya rak buku pada perpustakaan tersebut yang terbuat dari kayu, dan
penyusunan rak buku yang kurang menciptakan suasana nyaman dimana jarak
antara rak buku dengan meja baca yang kurang luas sehingga kurang tercipta
suasana nyaman pada saat berada di perpustakaan tersebut, kondisi ruangan
perpustakaan yang kurang terang sehingga pada siang hari mengharuskan
perpustakaan tersebut harus menghidupkan semua lampu yang ada. Sebagaimana
kita ketahui bahwa Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD)
Provinsi Sumatera Utara merupakan perpustakaan umum yang pengunjung atau
penggunanya adalah seluruh masyarakat Sumatera Utara, jika di lihat dari kondisi
gedung saat ini, maka perlu dilakukan perubahan atau pembangunan gedung demi
kemajuan perpustakaan selanjutnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mempelajari dan
meneliti lebih jauh tentang “Tata Ruang/Gedung Badan Perpustakaan, Arsip dan
Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, maka rumusan
masalah yang dapat ditemukan yaitu:
1. Apakah standar tata ruang/gedung Badan Perpustakaan, Arsip dan
Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara sesuai dengan standar perpustakaan
umum menurut Thompson?
2. Apakah kelengkapan perabot pada setiap ruangan Badan Perpustakaan, Arsip
dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara sesuai dengan kelengkapan perabot
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui standar dan kategorisasi tata ruang/gedung Badan Perpustakaan,
Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
2. Mengetahui kelengkapan perabot pada setiap ruangan Badan Perpustakaan,
Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
1.4. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk :
1. Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara, untuk
menghasilkan gedung/ruangan perpustakaan yang dapat menjadi tempat kerja
yang efisien, nyaman dan menyenangkan bagi pustakawan dan pengunjung.
2. Peneliti, Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
3. Penulis, Untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang perabot dan
perlengkapan dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas perpustakaan.
1.5. Ruang Lingkup
Sesuai dengan kemampuan penulis dalam hal pemikiran serta waktu dan
materi, untuk itu penulis membatasi objek penelitian meliputi: Tata
Ruang/Gedung perpustakaan dan kelengkapan perabot pada layanan Badan
BAB II
KAJIAN TEORITIS 2.1. Perancangan Fasilitas Informasi
Perancangan Fasilitas Informasi merupakan salah satu langkah strategi
yang merupakan landasan yang berfungsi menjadi dasar dalam merancang fungsi
teknis yang berguna untuk mengatur fasilitas-fasilitas informasi dengan baik dan
benar.
Menurut Al Bahra Bin Ladjamudin dalam bukunya yang berjudul Analisis
& Desain Sistem Informasi (2005) ”Perancangan adalah suatu kegiatan yang
memiliki tujuan untuk mendesign sistem baru yang dapat menyelesaikan masalah
masalah yang dihadapi perusahaan yang diperoleh dari pemilihan alternatif sistem
yang terbaik” (p. 39).
Fasilitas merupakan sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi;
kemudahan dalam melakukan aktivitas dalam suatu organisasi. Menurut Jogiyanto
(2001) “
2.1.1. Pengertian Perencanaan Fasilitas Informasi
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna
dan lebih berarti bagi penerimanya” (p. 6). Senada dengan itu George R. Terry
(2000) mengemukakan bahwa “informasi adalah data yang penting yang
memberikan pengetahuan yang berguna” (p. 5). Pendapat yang sama
dikemukakan oleh Davis (2005) bahwa “Informasi adalah data yang telah diolah
menjadi sebuah bentuk yang penting bagi penerima dan mempunyai nilai yang
nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau
yang akan datang” (p. 4).
Dari pernyataan di atas dapat dikemukakan bahwa perancangan fasilitas
informasi adalah proses dalam pembuatan desain teknis dalam mengelola sarana
informasi dalam perpustakaan yang memudahkan pengguna maupun staf
perpustakaan dalam melakukan aktivitas di dalam perpustakaan.
Perencanaaan fasilitas infomasi merupakan suatu kegiatan atau proses
penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan sarana/alat yang
digunakan untuk mencapai tujuan utama perpustakaan.
Pengertian perencanaan fasilitas dapat dikemukakan sebagai proses
dan manusia yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan sistem
pelayanan. Aplikasi perencanaan fasilitas dapat ditemukan pada perencanaan
layout Perencanaan fasilitas merupakan rancangan dari fasilitas-fasilitas perpustakaan yang akan didirikan atau dibangun. Perencanaan fasilitas yang baik
harus dapat memberikan kemungkinan yang besar bahwa fasilitas yang dirancang
dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dimasa yang akan datang.
2.1.2. Tujuan Perencanaan Fasilitas Informasi
Pada dasarnya tujuan perancangan fasilitas secara umum, yaitu untuk
memenuhi kapasitas produksi dan kebutuhan kaulitas dengan cara yang ekonomis
melalui pengaturan dan kordinasi yang efektif dari fasilitas fisik. Perancangan
fasilitas akan menentukan bagaimana aktivitas-aktivitas dari fasilitas-fasilitas
produksi dapat diatur sedemikian rupa sehingga mampu menunjang upaya
pencapaian tujuan pokok secara efektif dan efisien.
2.2. Pengertian Perpustakaan Umum
Perpustakaan Umum merupakan salah satu jenis perpustakaan yang
terdapat di seluruh wilayah indonesia, mulai dari tingkat nasional (negara) sampai
ke tingkat kelurahan desa. Perpustakaan umum sering kali diibaratkan sebagai
universitas masyarakat. Sesuai dengan sebutan perpustakaan umum, maka segala
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya yang dimiliki harus bersifat
umum dalam arti merata baik dalam memberikan pelayanan, menyediakan
informasi maupun pemanfaatannya. Oleh karena itu, posisi perpustakaan umum
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangat strategis.
Menurut Sulistiyo-Basuki (1993) “Perpustakaan umum adalah
perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani
umum (p. 46). Sedangkan menurut Sutarno (2006) menyatakan bahwa:
Perpustakaan umum adalah lembaga pendidikan yang dinyatakan sangat demokratis karena menyediakan sumber belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan melayaninya tanpa membedakan suku bangsa, agama yang dianut, jenis kelamin, latar belakang, dan tingkat sosial, umur, pendidikan serta perbedaan lainnya. (p. 43)
Dari definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa perpustakaan umum
adalah sebuah lembaga pendidikan demokratis yang diselenggarakan dengan dana
serta melayani masyarakat akan informasi secara menyeluruh tanpa membedakan
stratifikasinya.
2.2.1. Tujuan Perpustakaan Umum
Sebuah lembaga yang telah diselenggarakan/dibentuk harus memiliki
tujuan agar setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat berhasil dengan maksimal.
Sama halnya dengan perpustakaan umum juga mempunyai tujuan tertentu yang
harus dicapai.
Tujuan perpustakaan umum menurut Perpustakaan Nasional RI (1992) adalah:
1. Untuk pendidikan masyarakat (sebagai sarana pendidikan non formal) dan membudidayakan kreasi, prakarsa dan swadaya masyarakat guna meningkatkan kemajuan kehidupan dan kesejahteraannya.
2. Menyediakan berbagai kebutuhan untuk penerangan, informasi dan data sekunder serta pengetahuan ilmiah.
3. Memberi semangat dan hiburan yang sehat dan pemanfaatan hal-hal yang bersifat membangun dalam waktu senggang.
4. Mendorong, menggairahkan, memelihara dan membina semangat membangun dan semangat belajar masyarakat.
5. Membekali berbagai pengetahuan dan ilmu serta pedoman-pengalaman kepada masyarakat diberbagai bidang (p. 2)
Sedangkan Manifesto Perpustakaan Umum Unesco yang dikutip oleh
Sulistiyo-Basuki (1993) menyatakan bahwa, perpustakaan umum mempunyai 4
tujuan utama yaitu:
1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.
2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan sedang hangat dalam kalangan masyarakat.
3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka. Fungsi ini sering disebut fungsi pendidikan perpustakaan umum, lebih tepat disebut sebagai pendidikan berkesinambungan ataupun pendidikan seumur hidup. 4. Bertindak selaku agen kultural artinya perpustakaan umum merupakan
pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitar (p. 46).
Dari uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa tujuan perpustakaan
umum adalah salah satu sarana pendidikan informal yang bertujuan mencerdaskan
serta bertindak sebagai agen kultural yang menyediakan sumber informasi bagi
umum untuk membaca bahan pustaka dengan cepat dan tepat, murah bagi
masyarakat.
2.2.2. Fungsi Perpustakaan Umum
Sebagai lembaga yang melayani masyarakat luas secara merata tanpa
perbedaan apapun, perpustakaan umum harus mempunyai fungsi dalam
melaksanakan aktifitasnya sebagai sumber informasi bagi masyarakat umum.
Dalam Perpustakaan Nasional (1992) Perpustakaan umum berfungsi sebagai pusat
untuk:
1. Menyediakan bahan pendidikan (educating).
2. Menyediakan dan menyebarluaskan informasi (informatif). 3. Menyediakan bahan-bahan yang berfungsi rekreasi (rekreatif).
4. Menyediakan bahan yang berisi petunjuk, pedoman, dan bahan-bahan rujukan bagi anggota masyarakat (referensif).
5. Melestarikan bahan pustaka dan hasil budaya bangsa untuk dapat dimanfaatkan masyarakat umum (dokumentatif).
6. Menyediakan layanan penelitian (riset kualitatif dan kuantitatif) (p. 2 ).
Sedangkan menurut Perpusnas RI yang dikutip oleh Sutarno (2006), fungsi
perpustakaan umum adalah:
1. Pengkajian kebutuhan pemakai dalam hal informasi dan bahan pustaka.
2. Penyediaan bahan pustaka yang diperkirakan diperlukan, melalui pembelian, langganan, tukar menukar, pengadaan, penerbitan dan lain-lain.
3. Pengolahan dan penyiapan bahan pustaka. 4. Penyimpanan dan pemeliharaan koleksi. 5. Pendayagunaaan/pemberdayaan koleksi.
6. Pemberian layanan kepada masyarakat dengan sistem yang mudah, cepat, dan tepat serta sederhana.
7. Permasyarakatan perpustakaan.
8. Pengkajian dan pengembangan atas semua aspek kepustakawanan. 9. Menjalin kerjasama dengan perpustakaan lain dalam rangka
pemanfaatan bersama koleksi, sarana prasarana.
10. Pelaksanaan koordinasi dengan berbagai pihak-pihak dan mitra kerja lainnya.
11. Administrasi perpustakaan, seperti kepegawaian, ketatausahaan, keuangan, dan kerumahtanggaan (p. 54).
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum
rekreasi, tempat penelitian, serta sebagai tempat mengumpulkan, mengolah,
menyimpan, memelihara, melestarikan, dan mendayagunakan bahan pustaka yang
sesuai dengan kebutuhan yang diperuntukkan bagi seluruh anggota masyarakat.
2.3. Kajian Lingkungan dan Penentuan Tempat Perpustakaan 2.3.1. Perencanaan Gedung Perpustakaan
Perencanaan gedung merupakan hal yang sangat penting di perhatikan
dalam membangun sebuah perpustakaan. Untuk menghasilkan gedung
perpustakaan yang dapat menjadi tempat kerja yang nyaman, efisien dan
menyenangkan bagi staf/pustakawan dan pengunjung maka gedung perpustakaan
harus direncanakan secara baik agar dapat menampung segala aktivitas dalam
pelaksanaan fungsi perpustakaan untuk menghasilkan tujuan utama perpustakaan
yang efektif dan efisien.
Seperti yang di kemukakan oleh Trimo (1986) bahwa “gedung yang baik
haruslah dapat memenuhi semaksimal mungkin ketentuan-ketentuan yang
dikemukakan oleh calon penggunanya, karena hanya mereka yang akan tahu apa
yang akan terjadi ataupun dikerjakan di dalam gedung tersebut (p. 1).
Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa untuk menghasilkan gedung
yang baik, maka perencana perlu memahami keperluan pengguna dan fungsi
perpustakaan, beberapa masalah yang biasanya akan timbul apabila kurang
memperhatikan perencanaan gedung, yang dikemukakan oleh Trimo (1986)
yang dikutip Siregar (2010):
1. Kurang terciptanya rasa kesenangan maupun betah dari pembaca/pengguna ataupun staf perpustakaan sebagai akibat dari tidak baiknya pengaturan cahaya, udara, suara, ataupun tata ruang di perpustakaan.
2. Terjadinya tata ruang yang tidak menguntungkan usaha peningkatan efektivitas dan efisiensi kerja, baik bagi para pustakawan maupun pengunjung perpustakaan.
3. Pada saat perpustakaan berkembang. Gedung tidak memungkinkan dilakukan perluasan yang semestinya baik secara horizontal maupun vertikal.
4. Karena pemilihan letak gedung perpustakaan yang salah, membawa akibat kurang terjangkau nya perpustakaan dengan mudah oleh penggunanya
Dalam merencanakan gedung perpustakaan perlu dipertimbangkan hal-hal
berikut:
- Perkembangan masa yang akan datang
- Pengembangan 10 tahun
- Jumlah pengunjung
- Penggunaan komputer
- Audiovisual
- Rencana badan induknya
Siregar (2010) mengemukakan ada beberapa alasan, baik secara teoritis
maupun segi praktis yang mengharuskan pembangunan gedung perpustakaan
direncanakan secara baik dan cermat antara lain:
1. Pada umumnya dana/anggaran yang disediakan untuk pembangunan gedung/ruang perpustakaan terbatas.untuk itu pemanfaatan dana/anggaran biaya yang tersedia harus dilakukan dengan membuat perencanaan yang baik dan cermat.
2. Untuk dapat mengikuti perkembangan perpustakaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan pengguna dituntut pemikiran/perhitungan yang cermat dari perencana atau pustakawan atas daya tampung gedung/ruang perpustakaan serta kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang
3. Ada beberapa ciri khas perpustakaan baik dari segi kegiatan, aktivitas yang dilakukan perpustakaan serta teknologi yang digunakan menuntut para perencana mempunyai pengetahuan yang baik tentang kekhususan aktivitas tersebut.
4. Pembangunan gedung perpustakaan menuntut persyaratan-persyaratan khusus berkaitan denganciri khas masyarakat pengguna perpustakaan, serta hubungannya dengan semua unit yang ada pada institusi yang menyelenggarakannya (p. 3).
Selain hal disebut di atas, pembangunan gedung juga harus luwes
(fleksibel) artinya mampu menyesuaikan tata letak tanpa perlu perubahan struktur
gedung. Dengan kata lain mudah dirubah pemanfaatannya tanpa mengeluarkan
biaya yang banyak dan melakukan perombakan total.
Perpustakaan harus mempertimbangkan lalulintas bahan pustaka,
pustakawan perlu membuat gambaran pemakaian gedung terlebih dahulu, hal ini
dibutuhkan untuk menghemat waktu, memperkecil jarak antara ruangan dan
pengolahan harus diperhatikan jaraknya dengan ruangan lainnya untuk
memudahkan penyaluran bahan pustaka kepada unit-unit yang berhubungan.
Dengan membuat lay-out ruangan perpustakaan dapat digambarkan
dengan pertimbangan berikut:
1. Bagian yang terpenting harus ditempatkan pada tingkat pertama.
2. Tingkat kedua digunakan untuk yang membutuhkan keterangan
3. Bagian peminjaman harus strategis untuk memudahkan pengontrolan
bahan pustaka yang disirkulasikan.
4. Adakalanya perpustakaan mempunyai ruang baca tak resmi yang
merangkap browsing.
Menurut Trimo (1986) ada beberapa tahapan yang harus dikerjakan dalam
pembangunan gedung yaitu:
1. Tahap persiapan penyusunan disain secara skematis 2. Tahap penggarapan disain gedung
3. Tahap penyelesaian dokumen pendirian gedung
4. Tahap penyelesaian administrasi umum pada pembangunan gedung. (p. 10)
Berdasarkan uraian di atas, proses perencanaan gedung perpustakaan
merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan penjapaian tujuan
utama perpustakaan, oleh karna itu diperlukan keseriusan dan ketelitian dalam
perencanaan gedung perpustakaan tersebut.
2.3.2. Desain Gedung Perpustakaan
Desain merupakan kata yang diambil dari bahasa inggris yaitu design yang
berarti rencana. Desain dapat dijabarkan sebagai ilmu yang berhubungan dengan
suatu perencanaan atau suatu perancangan, biasanya berbentuk suatu gambar yang
artinya dapat diwujudkan dalam bentuk sebenarnya.
Menurut pendapat Page (1965) menyatakan bahwa “desain adalah
lompatan, pemikiran dari kenyataan sekarang kearah kemungkinan-kemungkinan
dimasa depan” (p. 6), selain itu Reswick (1965) mengemukakan bahwa “desain
adalah kegiatan kreatif yang membawa pembaharuan” (p. 4).
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dikemukakan bahwa desain gedung
keterampilan, pengetahuan dan pengalaman manusia untuk mengelola suatu
gedung perpustakaan sehingga menjadi gedung yang layak pakai dan sesuai
dengan standar yang berlaku dan nyaman bagi para pengguna perpustakaan.
Kenyamanan ruang bagi pengguna perpustakaan adalah hal yang utama.
Sebagai penunjang kegiatan membaca maupun kegiatan yang lainnya, pustakawan
(pengelola perpustakaan) berkewajiban mendesain ruang perpustakaan senyaman
dan sesehat mungkin. Pengetahuan dan pemahaman mengenai ruang menjadi
penting bagi pustakawan (pengelola perpustakaan) untuk menarik pengunjung
sebanyak mungkin dan membuat mereka betah berlama-lama berada di
perpustakaan.
Menurut Trimo (1986) untuk dapat membangun sebuah gedung
perpustakaan yang baik perencana harus memperhatikan beberapa prinsip-prinsip
dsain gedung antara lain:
1. Harus memperhatikan desain fungsional (desain dibuat atas azas manfaat bukan azas monumental), dengan demikian gedung perpustakaan diharapkan benar-benar mampu menunjang pencapaian tujuan dan program-program kegiatan perpustakaan tersebut dan lembaga yang menyelenggarakannya.
2. Mudah melakukan pengontrolan
3. Pintu dan jendela harus aman untuk menghindari kecurian lewat pintu dan jendela.
4. Tinggi rak buku harus dalam batas normal, misalnya indonesia setinggi 175 cm (p. 5).
Menurut Frazer G. Poole yang dikutip oleh Siregar (2010) bahwa,
Untuk penentu mutu gedung yang direncanakan secara baik ditandai dengan beberapa sifat yang membuatnya berfungsi secara efisien dan hemat, memudahkan pengunjung atau staf perpustakaan, memberi lingkungan yang nyaman, menyenangkan dan menarik sebagai tempat belajar dan bekerja, dan tetap berfungsi sepuluh tahun kemudian sama seperti baru dibangun (p. 6).
Sifat utama dari gedung perpustakaan menurut pedoman perpustakaan
perguruan tinggi (1994) adalah sebagai berikut:
1. Kelenturan
lantai dapat menopang beban bergerak dan pencahayaan merata diseluruh gedung.
2. Perluasan
Perencanaan gedung perpustakaan harus memperhatikan perluasan di masa yang akan datang secara hemat dan efisien.
3. Kesederhanaan
Gedung perpustakaan tidak mementingkan kemegahan tetapi yang penting adalah kesederhanaan yang terletak pada denah lantai yang terbuka, tidak menghambat lalu lintas dan memudahkan pengunjung bergerak dari satu bagian ke bagian lainnya.
4. Tempat dan letak yang tepat
Lokasi perpustakaan harus mudah di capai oleh pengguna, pos, dan pemberhentian kendaraan.
5. Desain dan raut gedung
Raut yang ideal bagi gedung perpustakaan adalah empat persegi dengan perbandingan kira-kira 2:3.
6. Lokasi unsur mati
Unsur mati adalah konstruksi yang permanen dalam gedung, terdiri atas lalu lintas vertikal, pipa saluran dan fasilitas lain yang sama. 7. Pengaturan hawa
Pengadaan pengaturan hawa dimaksudkan untuk mengurangi serangan jamur serangga dan menambah umur kimia kertas dari serangan asam yang lengket pada kertas. Penggunaan alat pengukur hawa (air conditioning) adalah untuk menjaga agar kondisi temperatur dan kelembapan ruangan perpustakaan relative konstan. Hal ini dimaksudkan agar koleksi perpustakaan terjamin keawetannya,
Kondisi ruangan yang diinginkan adalah sebagai berikut: a. Temperatur 22-240
b. 20
C (untuk ruangan koleksi buku, ruang baca, dan ruang kerja)
0
c. Kelimbapan 40-50%
C untuk ruang komputer
d. Untuk merancang kondisi ruangan yang demikian perlu diperhatikan: efisiensi volume ruang sehingga penggunaan energi dapat dihemat; pemilihan sistem pengkondisian yang bertujuan agar diperoleh beban pendinginan yang minimum.
8. Lift
Ini berguna untuk mengangkut barang, orang jika gedung perpustakaan dibangun bertingkat.
9. Tinggi langit-langit
Penentuan langit-langit harus mempertimbangkan berbagai faktor antara lain: pengaturan hawa, penyebaran ahaya lampu dari langit-langit, fungsi ruangan, keindahan, reaksi psikologi pengguna ruangan dan biaya. Langit-langit harus sama tinggi di setiap ruangan. Dalam meranang ventilasi gedung perpustakaan perlu diperhatikan hal berikut:
b. Mengusahakan agar lubang ventilasi tersebut sejajar dengan angin lokal.
c. Mengusahakan luas lubang ventilasi sebanding dengan persyaratan dan fasilitas ruang.
Selain hal di atas, untuk menentukan letak ventilasi perlu diperhatikan agar kondisi ruang mempunyai tingkat kelembapan yang rendah agar keamanan koleksi terjamin.
Pengaturan cahaya/penerangan sebaiknya tidak menyebabkan penurunan gairah membaca, serta tidak membuat silau. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: menghindari sinar matahari langsung dan memilih jenis lampu yang dapat memberikan sifat dan taraf penerangan yang tepat.
10. Aliran kerja, pola lalu lintas dan organisasi gedung.
Pembangunan gedung harus mempertimbangkan aliran kerja agar perpustakaan berjalan secara efektif. Lalu lintas pengunjung, staf perpustakaan dan barang harus dipertimbangkan agar tidak menggangu pekerjaan, demikian juga dengan struktur organisasi perpustakaan (p. 121).
Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa desain gedung
perpustakaan merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan karena sangat
berpengaruh dalam mencapai tujuan utama perpustakaan.
2.4. Tata Ruang Perpustakaan
2.4.1. Pengertian Tata Ruang Perpustakaan
Keberadaan perpustakaan pada saat ini dapat ditemui pada setiap instansi
baik dari pemerintahan sampai daerah, instansi swasta maupun umum serta
dilembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah maupun perguruan tinggi. Hal ini
menggambarkan bahwa masyarakat telah memperhitungkan keberadaaan sebuah
perpustakaan yang dijadikan sebagai sumber informasi. Seiring dengan
perkembangan perpustakaan tersebut, dalam penyelenggaraan perpustakaan
terdapat faktor utama dalam lingkungan perpustakaan yang sangat mempengaruhi
kelancaran tugas dan fungsi perpustakaan yang terkadang terabaikan yaitu tata
ruang perpustakaan. Kebanyakan perpustakaan terlihat hanya berupa tempat kerja
yang kurang nyaman, kurang pencahayaan dan membosankan sehingga fungsi
perpustakaan sebagai tempat rekreasi menjadi terabaikan. Bila tata ruang didesain
dengan menarik, maka pengaruhnya bagi para petugas perpustakaan maupun
pengunjungnya dapat menimbulkan rasa nyaman, memberikan kesan yang positif
tugas-tugas sehari-hari bagi petugas-tugasnya, serta dapat meningkatkan minat pemakai untuk
mengunjunginya dan memanfaatkan layanan perpustakaan.
Sama halnya perpustakaan umum yang merupakan sarana pusat informasi
bagi masyarakat sekitarnya, penataan ruangan perpustakaan harus diperhatikan
dan dipertimbangkan dengan baik. Purwati (2007) menyatakan bahwa:
Suatu perpustakaan tidak hanya menyediakan ruang yang kemudian diisi dengan koleksi yang diatur berdasarkan suatu sistem tertentu serta siap dipinjamkan, tetapi letak perpustakaan, bentuk ruangan, penataan perabot dan perlengkapan, alur petugas dan pengguna serta penerangan, keserasian warna, dan sirkulasi udara yang baik perlu diperhatikan oleh penyelenggara perpustakaan (p. 2)
Berdasarkan pernyataan di atas, bahwa perpustakaan tidak hanya
menyediakan ruangan saja, tetapi juga harus memperhatikan penataan ruangan
tersebut baik dari bentuk ruangan, penataan perabotan dan perlengkapan, alur
petugas dan pengguna, serta penerangan, keserasian warna, sirkulasi udara yang
baik. Agar para pengunjung perpustakaan dapat menemukan, mencapai informasi
yang diinginkan dan mudah diakses, serta membuat petugas dan pengguna merasa
nyaman di dalam perpustakaan.
Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 16 (1990) menyatakan bahwa, ”Tata
ruang adalah upaya penataan dan pemanfaatan ruang” (p. 133) Sedangkan
menurut Sedarmayanti (2001): ”Tata ruang adalah pengaturan dan penyusunan
seluruh mesin kantor, alat perlengkapan kantor, serta perabot kantor pada tempat
yang tepat sehingga pegawai dapat bekerja dengan baik, nyaman leluasa dan
bebas bergerak, sehingga tercapai efisiensi kerja” (p. 125)
Selain itu, Afrianto (2007) mengemukakan bahwa:
Tata ruang adalah salah satu cara untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan dalam perpustakaan. Ruangan yang tertata rapi dan buku-buku yang juga tertata akan membuat suatu perpustakaan memberi nuansa nyaman sehingga pemakai perpustakaan tertarik untuk membaca buku dan berlama-lama di perpustakaan (p. 3)
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa tata ruang
perpustakaan adalah salah satu cara untuk menciptakan suasana kondusif dan
menyenangkan dalam perpustakaan. Dengan upaya penyusunan perabot dan
pengaturan tempat kerja sehingga memberi kepuasan kerja para pustakawan dan
pengguna perpustakaan secara efisien dan efektif disebuah perpustakaan.
2.4.2. Tujuan Tata Ruang Perpustakaan
Pengaturan tata ruang yang menarik dan fungsional akan mengakibatkan
pelaksanaan tugas dan fungsi perpustakaan dapat diatur secara tertib dan lancar.
Dengan demikian komunikasi baik antar petugas perpustakaan (pustakawan)
maupun pengguna perpustakaan akan semakin lancar, sehingga koordinasi dan
pengawasan semakin mudah serta mendapatkan pencapaian efisiensi dan
kenyamanan kerja. Penataan ruangan perpustakaan menurut Lasa (2005) bertujuan
untuk:
1. Memperoleh efektifitas kegiatan dan efisiensi waktu, tenaga dan anggaran.
2. Menciptakan lingkungan yang aman suara, nyaman cahaya, nyaman udara, dan nyaman warna.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan.
4. Meningkatkan kinerja petugas perpustakaan (p. 148).
Di samping tujuan tata ruang perpustakaan yang harus dicapai, maka perlu
juga diperhatikan asas-asas tata ruang, agar penataan dan pemanfaatan ruangan
dapat tertata dengan baik. Menurut Lasa (2005) asas-asas tata ruang adalah
sebagai berikut:
1. Asas jarak, yaitu suatu susunan tata ruang yang memungkinkan proses penyelesaian pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling pendek. 2. Asas rangkaian kerja, yaitu suatu tata ruang yang menempatkan tenaga
dan alat-alat dalam suatu rangkaian yang sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaan yang bersangkutan.
3. Asas pemanfaatan, yaitu tata susunan ruang yang mempergunakan sepenuhnya ruang yang ada (p. 149).
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa pentingnya penataan
ruangan dilakukan dengan memperhatikan tujuan dan asas-asas tata ruang agar
tercapainya keefisienan dan kenyamanan kerja. Untuk kenyamanan pengguna
maupun petugas dalam meningkatkan produktifitas, efisiensi, dan efektifitas
kerjanya di dalam ruangan perpustakaan, perlu diperhatikan penataan ruang
seperti ruang baca, ruang koleksi dan ruang sirkulasi dengan menggunakan
beberapa sistem tata ruang perpustakaan menurut Lasa (2005) yaitu:
1. Sistem Tata Sekat
Yaitu cara pengaturan ruangan perpustakaan yang menempatkan koleksi terpisah dari ruang baca pengunjung. Dalam sistem ini, pengunjung tidak diperkenankan masuk ke ruang koleksi dan petugaslah yang akan mengambilkan dan mengembalikan koleksi yang dipinjam atau dibaca ditempat itu. Namun demikian sistem ini bisa juga diterapkan pada sistem terbuka, yakni pemakai mengambil sendiri lalu dicatatkan/dilaporkan kepada petugas, selanjutnya petugaslah yang mengembalikan ke rak semula.
2. Sistem Tata Parak
Yaitu sistem pengaturan ruangan perpustakaan yang menempatkan koleksi terpisah dari ruang baca. Hanya saja dalam sistem ini, pembaca dimungkinkan untuk mengambil koleksi sendiri, lalu dicatat atau dibaca diruang lain yang tersedia. Cara ini lebih cocok untuk perpustakaan yang menganut sistem pinjam terbuka.
3. Sistem Tata Baur
Yaitu suatu cara penempatan koleksi yang dicampur dengan ruang baca agar pembaca lebih mudah mengambil dan mengembalikan sendiri. Sistem ini lebih cocok untuk perpustakaan yang menggunakan sistem pinjam terbuka (p. 158).
Dari uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa ruangan perpustakaan
harus ditata sedemikian rupa agar terlihat suatu gambar yang wajar dan menarik
serta adanya keleluasaan yang wajar dari pemakai.
2.4.3. Ruangan Perpustakaan
Ruangan perpustakaan adalah tempat atau bagian tertentu dalam satu
gedung perpustakaan yang dipakai untuk meletakaan suatu barang tertentu yang
mempunyai fungsi tertentu yang dibatasi oleh alat pemisah atau penyekat.
Setiap perpustakaan memiliki tempat atau bagian tertentu dari sebuah
gedung terdiri dari sejumlah ruangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda.
Ruangan disediakan untuk perpustakaan harus terpisah dari aktifitas lain. Selain
penempatan ataupun pembagian ruangan harus disesuaikan juga dengan sifat
kegiatan, sistem kegiatan, jumlah pengguna, jumlah staf, dan keamanan, dan tata
kerja perpustakaan. Sehingga kelancaran pelaksanaan kegiatan perpustakaan
berjalan dengan baik.
Dalam buku Pedoman Perlengkapan Perpustakaan Umum (1992)
dinyatakan bahwa, ”Ruangan perpustakaan berfungsi sebagai tempat
penyimpanan bahan pustaka, tempat melaksanakan kegiatan layanan perpustakaan
Berdasarkan pedoman Perpustakaan Nasional RI (1992) Agar pelaksanaan
kegiatan berjalan dengan baik dan efektif, maka perlu diperhatikan beberapa
faktor dalam perancangan ruang perpustakaan, antara lain:
1. Jumlah koleksi dan perkembangannya di masa yang akan datang. 2. Jumlah pemakai atau masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan. 3. Jumlah bentuk layanan perpustakaan yang disajikan.
4. Jumlah petugas/karyawan yang menggunakan ruangan (p. 5).
Selain itu Siregar (2010) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam menetukan ruangan perpustakaan yaitu:
1. Kegiatan yang dilakukan di dalam ruangan tersebut. Untuk itu perlu di identifikasi terlebih dahulu secara rinci kegiatan/pekerjaan serta tahapan pelaksanaan pekerjaan tersebut. Rincian kegiatan, dan rangkaian pelaksanaan pekerjaan itu harus jelas, sehingga diketahui perabot dan perlengkapan apa yang dibutuhkan setiap tahap pelaksanaannya.
2. Kegiatan yang dilakukan harus dihubungkan dengan luas ruangan yang dibutuhkan, kondisi dan daya tampung ruangan tersebut serta hubungannya dengan ruangan lain, karena hal ini akan menentukan perlengkapan yang dibutuhkan, sehingga dapat diketahui apakah suatu ruangan dapat digunakan untuk kegiatan yang dimaksud.
3. Perlu dipertimbangkan jumlah koleksi yang dimiliki dan yang direncanakan pada masa 10 tahun kemudian. Di samping itu jangkauan pelayanan yang akan diselenggarakan, petugas yang dibutuhkan dalam setiap ruangan, serta pengembangannya untuk 10 tahun mendatang. Penentuan ruangan ini juga dipengaruhi oleh pengelolaan bidang administrasi dan pengembangannya.
4. Pertimbangan khusus sesuai dengan penggunaan ruangan tersebut, seperti ruangan khusus untuk petugas perpustakaan dimana pengunjung tidak diperbolehkan masuk, dan dimana pengguna dapat masuk (p. 12).
Pada dasarnya suatu perpustakaan yang paling sederhana sekalipun harus
memiliki sejumlah ruangan yang mempunyai fungsi yang berlainan. Dengan kata
lain, suatu perpustakaan mempunyai ruang pokok, yang merupakan kebutuhan
minimal setiap perpustakaan. Adapun ruangan yang minimal harus dimiliki
sebuah perpustakaan menurut Perpustakaan Nasional RI (1992) adalah sebagai
berikut:
1. Ruang Koleksi
2. Ruang Baca
Ruang baca adalah ruang yang digunakan untuk membaca bahan pustaka. Luas ruangan ini tergantung pada jumlah pembaca/pemakai jasa perpustakaan.
3. Ruang Pelayanan
Ruang Pelayanan adalah tempat peminjaman dan pengembalian buku, meminta keterangan kepada petugas, menitipkan barang atau tas, mencari informasi dan buku yang diperlukan melalui katalog.
4. Ruang Kerja Teknis Administrasi
Ruang Kerja Teknis Administrasi adalah ruangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pemerosesan bahan pustaka mulai dari pengadaan sampai bahan pustaka tersebut siap untuk disajikan kepada pemakai perpustakaan. b. Ruang tata usaha untuk kepala perpustakaan dan stafnya.
c. Ruang untuk memperbaiki bahan pustaka yang rusak. 5. Ruang Khusus
Ruang khusus adalah ruang yang terdiri dari kamar kecil, ruang diskusi/pertemuan, ruang bercerita untuk anak-anak dan ruang lain untuk kantin (p. 5).
Dari sekian jumlah ruangan perpustakaan yang disebutkan di atas, perlu
mengadakan pengaturan sedemikian rupa, sehingga memberikan kesan sejuk,
menyenangkan, bagi petugas perpustakaan serta dapat mengundang para pemakai
menggunakan bahan perpustakaan serta membacanya. Menurut Purwati (2007)
standar pembagian ruangan perpustakaan berdasarkan presentase seluruh luas
lantai perpustakaan yang diperuntukkan bagi kepentingan koleksi, pengguna, staf,
dan keperluan lain, sebagai berikut:
a. Untuk perpustakaan dengan sistem tertutup -Areal untuk koleksi 45%
-Areal untuk pengguna 25% -Areal untuk staf 20%
-Areal untuk keperluan lain 10%
b. Untuk perpustakaan dengan sistem terbuka -Areal koleksi dan pengguan 70%
-Areal untuk staf 20%
-Areal untuk keperluan lain 10% (p. 7).
Menurut Sulistyo-Basuki (1991) sesuai standar yang dibuat oleh
Thompson Untuk menghitung luas ruangan sesuai dengan fungsinya, besarnya
a. Rak
Rak satu muka, dengan lebar 100 cm, dapat memuat 115 – 165 eksemplar buku, dan jarak antara rak 100 - 110 cm. Dengan demikian 1 m2 luas lantai dapat memuat 150 - 220 eksemplar.
b. Ruang baca
Untuk mahasiswa diploma dan sarjana membutuhkan ruang 1,2 – 2,3 m2 per mahasiswa, sedangkan mahasiswa pasca sarjana 3,25 – 3,70 m2 per mahasiswa.
c. Ruang khusus
Ruang khusus terdiri dari:
1. Areal pandang dengar: 3,0 m2/meja
2. Areal diskusi/seminar: 2,0 m2/tempat duduk 3. Areal untuk konfrensi: 1,9 m2/orang
Untuk ruangan lain seperti corridor (selasar), aula, toilet dan gudang diperlukan seluas 10-15% dari seluruh luas lantai yang telah dihitung.
d. Staf perpustakaan
1. Kepala dan wakil kepala perpustakaan 30 m2
2. Pengklasifikasi, pengkatalog, pustakawan pengadaan dan pemeliharaah 9 m2
3. Staf administrasi dan profesional yang tidak bertugas di titik jasa serta staf lainnya terkecuali (point b) adalah 5 m2.
e. Jasa
Ruang yang diperlukan untuk jasa bagi pemakai dihitung berdasarkan permintaan setempat, keperluan lainnya misalnya: tangga, korridor, lobi, pintu masuk, tembok, pengangkutan barang, dan lift sekitar 30% hingga sepertiga dari ruang untuk bahan pustaka, pembaca, serta ruang jasa untuk pembaca dan staf (p. 306).
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa setiap lembaga yang
menyelenggarakan perpustakaan dapat menentukan sendiri perhitungan luas
gedung/ruangan yang dibutuhkan oleh perpustakaan.
2.4.4. Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan
Perabot adalah semua barang-barang yang berfungsi sebagai wadah atau
wahana penunjang fungsi perpustakaan seperti: kursi, meja, rak buku,dan
lain-lain. Sedangkan perlengkapan adalah barang-barang yang merupakan dari suatu
komponen atau kegiatan perpustakaan antara lain komputer, mesin tik, proyektor,
speaker dan lain-lain.
Selain memerlukan ruangan yang baik, perpustakaan membutuhkan
perabot dan perlengkapan yang berbeda-beda pada setiap ruangannya serta
perpustakaan tersebut. Dalam buku Pedoman Umum Perlengkapan Perpustakaan
Umum (1992), Perabot perpustakaan adalah:
Barang-barang yang berfungsi sebagai wadah atau wahana penunjang fungsi perpustakaan seperti meja, kursi, rak buku, papan peragaan dan lain sebagainya. Sedangkan perlengkapan perpustakaan adalah barang-barang yang merupakan perlengkapan dan suatu komponen atau kegiatan perpustakaan misalnya mesin ketik, komputer, layar proyektor dan sebagainya (p. 4).
Berdasarkan definisi di atas, dapat diketahui bahwa perabot dan
perlengkapan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan dan digunakan
perpustakaan untuk membantu kelancaran kegiatan kerja pegawai perpustakaan
dan pengguna perpustakaan dalam melaksanakan kegiatannya. Perabot dan
perlengkapan perpustakaan merupakan komponen yang sangat penting untuk
menunjang kelancaran kegiatan perpustakaan. Untuk itu, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pengadaan perabot dan perlengkapan agar nantinya
kegiatan dan fungsi perpustakaan dapat berjalan dengan efisien berasarkan
Depdiknas RI (2004), antara lain:
1. Inventaris perabot dan perlengkapan yang ada dan masih dapat dimanfaatkan.
2. Kapasitas ruang tersedia.
3. Spesifikasi perabot dan perlengkapan yang dibutuhkan. 4. Rencana tata ruang perpustakaan.
5. Keperluan bantuan evaluasi contoh perabotan dan penawaran (p. 136).
Di samping itu, menurut Yusuf (1996) pustakawan harus merencanakan
perlengkapan dan perabot berdasarkan identifikasi kegiatan yang akan dilakukan
yaitu:
1. Kegiatan harus sesuai dengan rincian tahap pekerjaan sehingga perlengkapan dan perabot yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan tahap-tahap pekerjaan.
2. Kegiatan harus dihubungkan dengan ruang tempat dimana kegiatan dilakukan. Hal ini menyangkut bentuk dan ruangan.
3. Aspek lain yang diperlukan dalam penentuan perlengkapan dan perabotan adalah:
a. Jumlah dan jenis koleksi; bahan cetak atau bentuk lain yang ada dan akan dimiliki perpustakaan dalam rencana lima tahun mendatang. b. Jangkauan layanan yang akan diselenggarakan, termasuk jumlah
c. Pada keadaan tertentu ruangan pasti dipakai untuk perkantoran/kegiatan administrasi dan pengembangannya (p. 115).
Keberadaan ruangan perpustakaan dimaksudkan untuk menampung dan
melindungi koleksi dari kerusakan sekaligus sebagai wadah untuk melaksanakan
kegiatan kepustakawanan. Ruangan perpustakaan juga menentukan perabot dan
perlengkapan yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan pelayanan/kegiatan yang
akan dilaksanakan pada setiap ruang pokok yang ada di perpustakaan. Berikut
perabot dan perlengkapan yang diperlukan pada setiap ruangan perpustakaan yang
terdapat dalam buku Pedoman Perlengkapan Perpustakaan Umum (1992) adalah
sebagai berikut:
1. Perabot dan perlengkapan ruang koleksi a. Rak Buku, terdiri dari:
- Rak buku satu muka - Rak buku dua muka - Rak buku anak-anak
- Rak buku serbaguna untuk ruang kerja b. Rak majalah
c. Tangga injakan
d. Gantungan surat kabar e. Rak atlas
f. Rak kamus g. Rak brosur
h. Rak piringan hitam
i. Lemari alat piringan hitam/kaset
j. Lemari untuk menyimpan slide dan gambar OHP (OverHead Proyektor)
k. Rak untuk menyimpan roll film l. Kotak kartu mikro
m. Rak untuk menyimpan pita video dan kaset n. Rak kaset video
o. Rak display/peraga p. Alat pemadam api q. Telepon
r. AC/kipas angin s. Rak referensi
2. Perabot dan perlengkapan ruang baca a. Meja baca, terdiri dari:
- Meja serbaguna - Meja rendah
b. Kursi baca, terdiri dari: - Kursi duduk rendah
c. Sice untuk membaca santai (lobi) d. Karel/meja belajar perorangan e. Karpet lantai untuk anak-anak f. Kursi baca santai untuk anak-anak g. Poster dinding untuk penghias lainnya h. Telepon
i. AC/kipas angin
3. Perabot dan perlengkapan ruang pelayanan a. Meja sirkulasi
b. Locker/rak penitipan c. Lemari katalog d. Lemari kartu kardeks e. Papan pengumuman f. Rak buku baru
g. Tanda-tanda petunjuk h. Kotak saran
i. Kereta buku j. Mesin foto kopi
k. Mikrofilm reader printer l. Video cassette/televisi m. Meja proyektor n. Telepon
o. Kipas angin/AC p. Komputer
4. Perabot dan perlengkapan ruang kerja teknis administrasi a. Meja/kursi kerja
b. Lemari arsip c. Rak/lemari
d. Alat pembersih lantai e. Kursi tamu
f. Meja pengolahan g. Alat penjilidan h. Telepon i. AC/kipas angin
j. Mesing penghitung/kalkulator k. Book charger
l. Komputer
5. Perabot dan perlengkapan ruang khusus a. Meja dan kursi
b. Alat penghisap debu c. Papan tulis
d. AC/kipas angin e. TV/Video kaset
f. Kaset/perekam, tape recorder g. Microphone
k. Layar
l. Proyektor slide/film strip (p. 5).
2.5. Pengertian Evaluasi
Kata evaluasi berasal dari Bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian
atau penaksiran, sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan
kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan
menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk
memperoleh kesimpulan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) “Evaluasi adalah proses
penilaian yang sistematis, mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi,
pengenalan masalah dan pemberian solusi atas permasalahan yang ditemukan”.
Sedangkan Uzer (2003) menyebutkan bahwa:
Evaluasi adalah suatu proses yang ditempuh seseorang untuk memperoleh informasi yang berguna untuk menentukan mana dari dua hal atau lebih yang merupakan alternatif yang diinginkan, karena penentuan atau keputusan semacam ini tidak diambil secara acak, maka alternatif-alternatif itu harus diberi nilai relatif, karenanya pemberian nilai itu harus memerlukan pertimbangan yang rasional berdasarkan informasi untuk proses pengambilan keputusan (p. 120).
Pendapat lain mengenai evaluasi disampaikan oleh Arikunto dan Cepi
(2008), bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang
bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk
menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (p. 2).
Dari pengertian tentang evaluasi yang dikemukakan ahli di atas, dapat
diketahui bahwa evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh
seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan
program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh
program tersebut. Karenanya, dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat
didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. “Efektifitas merupakan perbandingan
antara output dan inputnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input
untuk menghasilkan output lewat suatu proses. Proses evaluasi dapat digambarkan
Gambar 1. Proses Evaluasi dalam Mugnesyiah (2006) (p. 48)
2.5.1. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah meningkatkan mutu program, memberikan
justifikasi atau penggunaan sumber-sumber yang ada dalam kegiatan,
memberikan kepuasan dalam pekerjaan dan menelaah setiap hasil yang telah
direncanakan. Suprihanto (1988), mengemukakan bahwa tujuan evaluasi antara
lain:
a. Sebagai alat untuk memperbaiki dan perencanaan program yang akan datang,
b. Untuk memperbaiki alokasi sumber dana, daya dan manajemen saat ini serta dimasa yang akan datang,
c. Memperbaiki pelaksanaan dan dan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program perencanaan kembali suatu program melalui kegiatan mengecek kembali relevansi dari program dalam hal perubahan kecil yang terus-menerus dan mengukur kemajuan target yang direncanakan (p. 63).
Berdasarkan pernyataan di atas dapat dinyatakan bahwa tujuan evaluasi
merupakan komponen yang penting yang perlu diperhatikan untuk mengetahui
2.5.2. Evaluasi Tata Ruang Perpustakaan
Evaluasi merupakan suatu proses untuk mengetahui/menguji apakah suatu
kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau
kriteria yang telah ditentukan. Menurut Sedarmayanti (2001): Tata ruang adalah
pengaturan dan penyusunan seluruh mesin kantor, alat perlengkapan kantor, serta
perabot kantor pada tempat yang tepat sehingga pegawai dapat bekerja dengan
baik, nyaman leluasa dan bebas bergerak, sehingga tercapai efisiensi kerja (p.
125).
Berdasarkan pernyataan di atas dapat dinyatakan bahwa evaluasi tata
ruang merupakan suatu proses untuk mengetahui/menguji kelayakan maupun
standarisasi terhadap fasilitas dan tata ruang dalam suatu institusi/lembaga
tertentu. Evaluasi tata ruang perpustakaan merupakan proses pengelolaan semua
perabot/perlengkapan perpustakaan dan barang-barang yang ada pada
perpustakaan sebaik mungkin agar perpustakaan bekerja dengan evektif dan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Penelitian merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan
atau penyelesaian suatu masalah. Selain itu, Indriantoro & Supomo (1999)
mengemukakan bahwa “penelitian pada dasarnya merupakan penelitian yang
sistematis dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat untuk
menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari”
(p. 5).
Metode Penelitian merupakan cara ilmiah yang membuktikan keabsahan
dan realibilitas terhadap fenomena yang berlangsung dalam kehidupan. Metode
penelitian membutuhkan analisis terhadap suatu masalah. Adapun metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif.
Jenis penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang mendeskripsikan atau
menggambarkan suatu variable yang telah diuji kebenarannya. Menurut Erlina
(2011),
Penelitian deskriptif adalah penelitian terhadap fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh oleh peneliti dari subjek berupa individu, organisasional, industri atau perspektif yang lain. Penelitian deskriptif dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang : siapa, apa, kapan, dimana dan bagaimana yang berkaitan dengan karakteristik populasi atau fenomena tersebut (p. 20).
Dalam penelitian ini penulis akan mengevaluasi tata ruang/gedung Badan
Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian,
penulis akan merangkaikan/membangun kisi-kisi check list dan formulir isian yang mendukung dalam proses penelitian, terutama dalam proses pengumpulan
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini beralamat di Jln. Brigjen Katamso No. 45 k
(Kelurahan Sukaraja Kecamatan Medan Maimun) Medan, Sumatera Utara, 20159.
Penulis meneliti sejak tanggal 1 Juni 2013- oktober 2013.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam
penyusunan karya ilmiah. Teknik pengumpulan data yang baik akan
menghasilkan penelitian yang baik dan sistematis. Menurut Nazir (2005) teknik
pengumpulan data adalah “prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan” (p. 174). Adapun teknik pengumpulan data
yang digunakan peneliti adalah
1. Teknik Dokumentasi merupakan salah satu cara dalam mengumpulkan
data dalam penelitian. Teknik dokumentasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah melalui pemanfaatan sarana fotografi yang
berguna untuk mendukung proses penyelesaian penelitian. Teknik
dokumentasi ini mendokumentasikan mengenai keadaan ruang dan
fasilitas yang tersedia pada Badan Perpustakaaan, Arsip, dan
Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
2. Observasi adalah pengamatan secara langsung terhadap gejala yang
diselidiki baik dalam situasi alamiah ataupun situasi buatan. Dalam
penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke
setiap ruang pelayanan perpustakaan. Peneliti akan melakukan
observasi pada setiap ruangan pada gedung dan juga mengobservasi
setiap fasilitas atau perabot yang tersedia pada Badan Perpustakaan,
Arsip, dan Dokumentasi Sumatera Utara.
3. Studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan buku, jurnal, majalah, dan
kepustakaan lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
3.3.1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat/tools yang berfungsi untuk mengumpulkan data suatu penelitian. Instrumen penelitian yang merupakan
Arikunto (2002), instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam
mengumpulkan data penelitian (p. 126). Dengan instrumen ini, maka dapat
dikumpulkan data sebagai alat untuk menyatakan besaran atau persentase yang
berbentuk kualitatif dan kuantitatif dari penelitian. Dalam penelitian ini instrumen
penelitian adalah formulir isiandan kisi-kisi check list yang dirangkaikan penulis.
3.4. Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian adalah satuan teretntu yang diperhitungkan
sebagai subjek penelitian. Dalam pengertian yang lain, Unit analisis diartikan
sebagai sesuatu yang berkaitan dengan fokus/komponen yang diteliti. Unit analisis
dilakukan oleh peneliti agar validitas dan reliabilitas penelitian dapat terjaga,
karena terkadang peneliti masih bingung membedakan antara objek penelitian dan
sumber data.
Defenisi unit analisis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) adalah
sebagai berikut:”Unit analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk
mengetahui keadaan yang sebenarnya” (p. 43).
Unit analisis dalam penelitian ini adalah ruang/gedung pada Badan
Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi provinsi Sumatera Utara yakni ruangan
layanan dewasa A, layanan dewasa B, layanan Deposit, Audio Visual & Remaja.
Dari unit analisis ini, akan diketahui bagaimana tata ruang/gedung pada Badan
Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi provinsi Sumatera Utara.
3.5. Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan suatu atribut, nilai/sifat dari objek,
individu/ kegiatan yang mempunyai banyak variasi tertentu antara satu dan
lainnya yang telah ditentukan ole
Informasinya serta ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian merupakan acuan
atau deskripsi penelitian yang ingin diteliti. Variabel penelitian ini adalah
ruang/gedung Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera
Utara. Dari variabel penelitian ini penulis akan mengetahui kondisi tata
ruang/gedung Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera
Nasional RI dan standarisasi menurut Thompson). Untuk mengukur standarisasi
tata ruang/gedung, penulis menggunakan formulir isian dan kisi-kisi check list.
3.5.1. Kisi-kisi Check List
Kisi-kisi check list merupakan sarana yang berfungsi untuk memeriksa maupun menguji reliabilitas suatu variabel penelitian. Menurut Arikunto (2002)
“kisi-kisi adalah sebuah tabel yang menunjukkan hubungan antara hal-hal yang
disebutkan dalam baris dengan hal-hal yang disebutkan dalam kolom” (p. 138).
Kisi-kisi ini dibuat untuk mengontrol dan memudahkan pengkoreksian. Kisi-kisi
[image:39.595.110.515.293.734.2]check list dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Sesuai Standar Tata Ruang Perpustakaan Menurut Thompson No Variabel Indikator yang diukur
Tata ruang/gedung
BPAD
Sesuai Standar Thompson Ya Tidak
1. Evaluasi tata ruang/gedung Badan
Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi provinsi Sumatera Utara
1. Sistem Tata Rak
a. Tinggi Rak 175 cm
b. Terbuat dari baja
c. Jarak Rak 100-110 cm
d. Lebar Rak 100 cm
2. Sistem Pencahayaan (Penerangan)
a. Terang
3. Sistem Pengaturan Hawa
a. Ruangan koleksi buku (22-24°�)
b. Ruang baca (22-24°�)
d. Ruang komputer (20°�)
4. Sistem Tata Ruang
a. Ruang baca Per Orang (1,2 – 2,3 m2)
Keterangan: Berdasarkan kisi-kisi check list di atas peneliti dapat mengukur maupun menghitung nilai keterlengkapan fasilitas tata ruang/gedung di Badan
[image:40.595.106.520.84.213.2]Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara.
Tabel 2. Kajian Perabot dan Perlengkapan setiap Ruangan Perpustakaan yang Terdapat dalam Pedoman Perlengkapan Perpustakaan Umum. N
o
Variabel Perabot/Perlengkapan Perpustakaan sesuai pedoman
perlengkapan perpustakaan Umum
Terdapat pada ruang/gedung
BPAD Ya Tidak
1. Evaluasi tata ruang/gedung Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi provinsi Sumatera Utara.
1. Perabot/perlengkapan Ruang koleksi
a. Rak buku
- Rak Buku Satu Muka - Rak Buku Dua Muka - Rak Buku Anak- Anak b. Rak Majala