Batak Toba Muslim : Studi Perubahan Budaya Pada Masyarakat Pesisir
Di Sibolga (1970-2000)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
NAMA
: Mifani Septriani Manalu
NIM
: 090706028
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
BATAK TOBA MUSLIM : STUDI PERUBAHAN BUDAYA PADA MASYARAKAT PESISIR DI SIBOLGA (1970-2000)
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O
L E H
MIFANI SEPTRIANI MANALU 090706028
Pembimbing,
Dr. Budi Agustono
NIP 196008051987031001
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi Salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Dalam bidang Ilmu Sejarah
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
BATAK TOBA MUSLIM : STUDI PERUBAHAN BUDAYA PADA MASYARAKAT PESISIR DI SIBOLGA (1970-2000)
Yang diajukan oleh : Nama: Mifani .s. Manalu
NIM: 090706028
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh:
Pembimbing,
Dr. Budi Agustono, M.S. tanggal 14 Juni 2013
NIP 196008051987031001
Ketua Departemen Sejarah tanggal
Drs. Edi Sumarno, M.Hum.
NIP 196409221989031001
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Lembar Persetujuan Ketua Departemen
DISETUJUI OLEH:
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen,
Drs. Edi Sumarno, M.Hum.
NIP 196409221989031001
Lembar Pengesahan Skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian
PENGESAHAN:
Diterima oleh:
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya
Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan
Pada :
Tanggal :
Hari :
Fakultas Ilmu Budaya USU
Dekan,
Dr. Syahron Lubis, M.A.
NIP 195110131976031001
Panitia Ujian
No. Nama Tanda Tangan
1 Drs. Edi Sumarno, M.Hum (………..)
2 Dra.Nurhabsyah, Msi (………..)
3 Dr. Budi Agustono (………..)
4 Dra.Fitriaty Harahap, S.U (………..)
KATA PENGANTAR
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan yang diberikan kepada
penulis sehingga seluruh proses penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik
meskipun mungkin masih banyak kekurangan. Beribu puji dan syukur penulis sembahkan
hanya kepada Tuhan Yesus, Bapa baik, untuk semua keceriaan, harapan serta cobaan dalam
proses berkehidupan penulis maupun proses pengumpulan data, verifikasi, interpretasi dan
sampai pada penulisan skripsi ini. Let Your blessings rain down upon me, Lord.
Skripsi ini berjudul “Batak Toba Muslim: Studi Perubahan Budaya pada
Masyarakat Pesisir Sibolga (1970-2000)”. Skripsi ini tentunya membahas bagaimana suatu
kebudayaan itu tidak bersifat statis namun berubah. Perubahan budaya Batak Toba khusunya
yang beragama Muslim ditempat baru meliputi pada adat perkawinan dan bahasa. Walaupun
perubahan terjadi namun upaya untuk mempertahankan identitas suku masih dilakukan oleh
masyarakat Batak Toba. Segalanya disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar
sarjana dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Tidak dapat dimungkiri peran banyak pihak yang memberikan kontribusi atas
selesainya skripsi penulis. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
orang-orang yang telah mendorong penulis sekaligus juga yang telah meluangkan waktunya
dalam membantu penulis meyelesaikan tugas akhir ini sehingga penulis dapat memperoleh
banyak bantuan, kritik, saran, motivasi, serta doa dari berbagai pihak. Rasa syukur yang
sungguh tak terhingga nilainya dalam menyelesaikan skripsi ini, kepada: Pertama Dr.
Syahron Lubis, M. A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU, Pembantu Dekan serta
Seluruh staf pengajar Departemen Sejarah dan dosen-dosen yang berperan dalam studi
penulis memperoleh banyak wawasan sebagai bekal di kemudian hari. Kemudian ucapan
terima kasih kepada Drs. Edi Sumarno, M. Hum, selaku Ketua Departemen Sejarah dan
dosen penasehat akademik penulis serta Dra, Nurhabsyah, M. Si, selaku Sekretaris
Departemen Sejarah yang selalu terbuka kepada penulis dan selama mengikuti perkuliahan
membantu penulis dalam mencerdaskan pikiran penulis. Tak lupa juga ucapan terima kasih
disampaikan kepada Dr. Budi Agustono atas ketersediaan menjadi pembimbing,
mengarahkan, meluangkan waktu di sela-sela kepadatan jadual yang sangat luar biasa,
menyempatkan waktu padat beliau di tengah jadual-jadual menulis, talkshow, seminar,
kegiatan mengajar, hingga family time. Beliau sebagai pembimbing memberi penulis banyak
arahan mulai dari substansi materi skripsi hingga mengajarkan bagaimana meneliti yang baik,
memberi bimbingan dengan sabar, saran dan kritik yang membangun, menebarkan semangat
dan keceriaan serta optimismenya kepada penulis dan akan selalu diingat. Adalah sebuah
kesalahan besar untuk membuat sebuah teori sebelum kita memiliki data fakta. Berikutnya
bang Ampera selaku staf Tata Usaha Departemen Ilmu Sejarah yang membantu dalam
melancarkan segala urusan akademik dan urusan administrasi.
Selain itu, terima kasih kepada seluruh informan yang telah banyak memberikan
informasi penting dalam penyelesaian skripsi ini. Banyak bantuan yang penulis terima dari
mereka.
Penulis menyadari selama mengharungi pendidikan mulai dari taman kanak-kanak
sampai menjadi sarjana, tidaklah mungkin dilepaskan dari kasih sayang orangtua penulis dan
tidak akan ada yang bisa membalas semua jasa kalian. Skripsi ini penulis persembahkan
khusus untuk kalian sebagai bukti cinta dan pengabdian, penulis akan selalu menjaga nama
Ibunda D. Situmorang yang selalu memberi kasih sayang, dukungan, nasehat dan doa selama
perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini. I am nothing without you. I never let you down.
Terima kasih juga disampaikan kepada Saudara-saudara terkasih Kak ice, Kak mona, Bang
Juan dan Yosayat yang senantiasa berdoa dan memberi motivasi kepada penulis.
Terimakasih kepada seluruh rekan-rekan stambuk 2009, terimakasih untuk semua
yang telah dilewati bersama di Ilmu Sejarah. I am proud of you guys. Terkhusus kepada Ita
Apulina Ginting dan Roventina Gultom yang telah melewati beberapa peristiwa yang
mengesankan dengan penulis. Sahabat kecil saya yang selalu setia berada dalam 1 lokasi
yang sama dengan saya Mora Prima Siregar.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memberi manfaat bagi kita semua.
Terima Kasih.
Medan, 06 Desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR…...……….. i
DAFTAR ISI………...………... iv
ABSTRAK………...………... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah………... 1
1.2 Rumusan Masalah………...…... 8
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian………...……... 8
1.4 Tinjauan Pustaka……….……... 9
1.5 Metode Penelitian………...……... 12
BAB II SIBOLGA SEBELUM TAHUN 1970 2.1 Letak Geografis Kota Sibolga ………... 15
2.2 Sibolga Pada Masa Kolonial ……….. 17
2.3 Sibolga Pada Masa Pendudukan Jepang ………... 22
2.4 Sibolga Pada Masa Kemerdekaan ... 32
2.5 Mata Pencaharian Masyarakat 1970-2000... 38
BAB III KEDATANGAN ETNIS BATAK TOBA KE SIBOLGA 3.1 Migrasi Batak Toba ke Sibolga………... 43
3.2 Keberadaan Etnis Lain……….…………... 49
3.3 Islamisasi di Sibolga ... 58
3.4 Konversi Agama ... 64
4.1 Terbentuknya Adat Budaya dan Kesenian Muslim Pesisir Sibolga..… 66
4.2 Adat Sumando Pesisir Sibolga...……….…... 68
BAB V PERUBAHAN BUDAYA ETNIS BATAK TOBA PADA MASYARAKAT
PESISIR SIBOLGA
5.1 Faktor Mempengaruhi Perubahan Budaya ... 77
5.2 Perubahan Budaya ... 81
BAB VI KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan………... 93
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR INFORMAN
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul “Batak Toba Muslim : Studi Perubahan Budaya Pada Masyarakat Pesisir Di Sibolga (1970-2000)” adalah sebuah kajian sejarah yang dapat diselesaikan dengan berbagai tahapan dalam penulisan sejarah yang mana kajian mengenai perubahan orang orang Batak Toba Muslim di Sibolga belum pernah diteliti secara rinci.
Pada hakikatnya tidak ada kebudayaan yang statis. Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Perubahan tersebut terjadi karena hubungan dengan manusia-manusia lainnya. Orang Batak Toba tepatnya masyarakat suku Batak Toba banyak yang turun dari pegunungan dan mencari tempat-tempat baru untuk dijadikan perkampungan baru. Sibolga salah satu daerah yang menjadi tempat baru bagi mereka. Ditempat baru mereka berupaya untuk tetap mempertahankan adat budaya mereka seperti ditempat asal. Namun, invansi Islam yang dilakukan kelompok Paderi dan perpindahan masyarakat Poncan serta dibukanya perkebunan oleh Pemerintah kolonial membawa perubahan yang cukup signifikan pada adat budaya masyarakat Batak Toba. Perubahan itu terletak pada adat perkawinan dan penggunaan bahasa. Masyarakat Batak Toba Muslim mulai menggunakan adat sumando pada upacara perkawinan mereka. Bahasa yang digunakan juga memakai bahasa beko.
Faktor-faktor perubahan budaya ini adalah situasi kultural dan agama saling berkaitan dalam perubahan budaya yang terjadi pada masyarakat yang bersuku Batak Toba. Masyarakat Batak Toba yang sudah menganut agama Muslim tidak lagi melaksanakan ritual adat budaya yang bertentangan dengan agama Muslim. Sehingga mereka lebih memilih menggunakan adat sumando yang notabene bernafaskan Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan Batak Toba Muslim yang terdapat di kota Sibolga dengan serangkaian dorongan yang memaksa mereka untuk berpindah sehingga menimbulkan pembauran dengan masyarakat baru yang memiliki budaya yang kuat sehingga terjadi perubahan budaya pada masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, library research, dan data visual. Sehingga berdasarkan hal tersebut dapatlah ditarik kesimpulan sesuai dengan serangkaian proses penelitian yang dilakukan penulis.
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul “Batak Toba Muslim : Studi Perubahan Budaya Pada Masyarakat Pesisir Di Sibolga (1970-2000)” adalah sebuah kajian sejarah yang dapat diselesaikan dengan berbagai tahapan dalam penulisan sejarah yang mana kajian mengenai perubahan orang orang Batak Toba Muslim di Sibolga belum pernah diteliti secara rinci.
Pada hakikatnya tidak ada kebudayaan yang statis. Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Perubahan tersebut terjadi karena hubungan dengan manusia-manusia lainnya. Orang Batak Toba tepatnya masyarakat suku Batak Toba banyak yang turun dari pegunungan dan mencari tempat-tempat baru untuk dijadikan perkampungan baru. Sibolga salah satu daerah yang menjadi tempat baru bagi mereka. Ditempat baru mereka berupaya untuk tetap mempertahankan adat budaya mereka seperti ditempat asal. Namun, invansi Islam yang dilakukan kelompok Paderi dan perpindahan masyarakat Poncan serta dibukanya perkebunan oleh Pemerintah kolonial membawa perubahan yang cukup signifikan pada adat budaya masyarakat Batak Toba. Perubahan itu terletak pada adat perkawinan dan penggunaan bahasa. Masyarakat Batak Toba Muslim mulai menggunakan adat sumando pada upacara perkawinan mereka. Bahasa yang digunakan juga memakai bahasa beko.
Faktor-faktor perubahan budaya ini adalah situasi kultural dan agama saling berkaitan dalam perubahan budaya yang terjadi pada masyarakat yang bersuku Batak Toba. Masyarakat Batak Toba yang sudah menganut agama Muslim tidak lagi melaksanakan ritual adat budaya yang bertentangan dengan agama Muslim. Sehingga mereka lebih memilih menggunakan adat sumando yang notabene bernafaskan Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan Batak Toba Muslim yang terdapat di kota Sibolga dengan serangkaian dorongan yang memaksa mereka untuk berpindah sehingga menimbulkan pembauran dengan masyarakat baru yang memiliki budaya yang kuat sehingga terjadi perubahan budaya pada masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, library research, dan data visual. Sehingga berdasarkan hal tersebut dapatlah ditarik kesimpulan sesuai dengan serangkaian proses penelitian yang dilakukan penulis.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negeri yang banyak mengalami perubahan budaya dunia.
Dalam rentang sejarahnya, Indonesia mendapat pengaruh budaya India, Cina, Arab, dan
Eropa. Bahkan hingga kini, di awal abad XXI, proses tersebut masih berlangsung, termasuk
pengaruh budaya lokal dari daerah lain. Jika melihat lanskap saling serbuk antar budaya lokal
sangat adaptif terhadap budaya non lokal yang memproduksi fertilisasi silang antarbudaya.
Penyesuaian atau adaptasi antara budaya lokal dengan budaya non lokal ini memperlihatkan
budaya bangsa ini sangat lentur berhadapan dengan tradisi besar manapun. Sikap lentur dan
saling serbuk antarbudaya ini bukannya melemahkan budaya lokal, tetapi justru menjadi
modal penguatan budaya bangsa yang plural ini.1
Budaya atau kebudayaan manusia adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari jiwa
manusia itu sendiri. Manusia dan kebudayaan manusia merupakan satu kesatuan yang erat,
ada manusia ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya yaitu
manusia2
Masing-masing etnis dan sub etnis memiliki ciri khas budaya masing-masing. Suatu
kelompok etnis yang datang ke suatu daerah yang memiliki penduduk dengan budaya yang . Di Indonesia terdapat banyak sekali suku dengan budaya yang berbeda satu dengan
yang lainnya. Namun, perbedaan itulah yang menjadi identitas bangsa Indonesia, bukanlah
suatu perbedaan yang menyebabkan perselisihan.
1
Budi, Agustono. Fertilisasi Silang antar Budaya. Nabil Forum Edisi V, Juli-Desember 2012, hlm 9.
2
berbeda akan menimbulkan pembauran atau saling mempengaruhi. Akan tetapi proses
pembauran dapat terjadi jika masing-masing etnis saling terbuka satu dengan yang lainnya.
Sikap tertutup memungkinkan untuk tidak terjadinya perubahan bagi setiap kebudayaan
masing-masing etnis. Hal inilah yang secara garis besar disebut sebagai perubahan budaya.
Kota Sibolga merupakan salah satu kota dari 33 kota/kabupaten provinsi Sumatera Utara,
Indonesia. Kota ini terletak di pantai Barat pulau Sumatera, membujur sepanjang pantai dari
Utara ke Selatan dan berada pada kawasan teluk yang bernama Teluk Tapian Nauli, sekitar ±
350 km dari kota Medan. Dengan batas-batas wilayah: Timur, Selatan, Utara pada kabupaten
Tapanuli Tengah, dan Barat dengan Samudera Hindia. Letak wilayah yang strategis
menjadikan Kota Sibolga sangat cepat berkembang terutama sebagai tempat persinggahan
para pelaut. Kota ini juga dikenal sebagai kota Pelabuhan. Pulau-pulau yang terhampar
didepannya menjadi penyangga ombak dan gelombang dari Lautan lepas Samudera Hindia,
sehinga membuat pelabuhan Sibolga lebih aman untuk bebagai aktifitas, khususnya aktifitas
ekspor-impor.
Struktur masyarakat Sibolga dikenal horizontal. Hal ini ditandai oleh kenyataan adanya
kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku-bangsa, perbedaan agama, adat serta
perbedaan-perbedaan kedaerahan. Struktur Sibolga ini dipengaruhi oleh letaknya yaitu berada
didaratan pantai Barat dan berdekatan dengan pegunungan pedalaman.3
3
. S. Budhisantoso, Studi Pertumbuhan dan Pemudaran Kota Pelabuhan: Kasus Barus dan Sibolga, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995), hlm.33
Kondisi Sibolga yang
berada pada daerah Pesisir pantai Sibolga telah menyebabkan terjadinya interaksi antara
masyarakat di pesisir pantai dengan orang-orang yang tinggal dipedalaman. Orang-orang
Angkola, yang sangat membutuhkan garam dan bahan-bahan lainnya yang hanya bisa
diperoleh dari pesisir pantai. Disebut sebagai orang pedalaman karena letak daerah mereka
yang jauh dari pantai. Mereka melakukan barter dengan hasil hutan yang mereka peroleh
dengan garam dan lain-lain. Banyak dari mereka khususnya etnis Batak Toba yang hilir
mudik dan menetap ditepi pantai.4
Islam semakin berkembang di Sibolga sejak terjadinya peperangan antara Aceh dengan
kelompok masyarakat Batak (1820-1837). Oleh karena peperangan ini banyak penduduk
yang berpindah untuk membuka pemukiman baru di wilayah Barat. Pada saat Perang Paderi
daerah Batak bagian Selatan dan Barat menjadi Islam. Perkampungan orang Batak bagian
Selatan dan Barat dikuasai oleh kaum Paderi5. Selama menduduki tanah Batak, kaum Paderi
ini menyebarkan agama Islam terutama dibagian Selatan dan Barat (Mandailing dan
Angkola). Namun pada saat memasuki wilayah danau Toba mendapat perlawanan dari
Belanda, sehingga Islam tidak berkembang secara luas didaerah danau Toba khususnya bagi
Batak Toba6
4
. Tengku Luckman Sinar, Lintasan Sejarah Sibolga dan Pantai Barat Sumatera Utara, Waspada 23 Juni 1981
. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya banyak dari orang Minangkabau
dan Aceh masuk kedaerah Sibolga melalui Sidempuan. Orang Batak Toba dari Silindung,
berangsur angsur menyebar ke arah pantai Barat Sumatera Utara, salah satunya yang
melakukan perpindahan kewilayah pesisir pantai Barat adalah keturunan dari marga
Hutagalung. Mereka kemudian membuka perkampungan di sekitar aliran sungai Aek Doras,
dalam perkembanganya kemudian masyarakat dari Silindung tersebut berkembang dan
5
Elisa Tinambunan, Masuknya Zending Protestan di Tapanuli Utara, (Medan: Tanpa Penerbit, 2011), hlm. 27
6
membentuk kelompok masyarakat yang terstruktur yang dipimpin oleh seorang kepala
Kuria/Raja, bersama-sama kelompok masyarakat7
Sibolga mulai dikenal sebagai kota pelabuhan sejak ditetapkannya kota ini menjadi
sebuah ibukota keresidenan Tapanuli pada tanggal 7 Desember 1842
. Oleh karena pada saat itu banyak dari
masyarakat Toba yang berpindah belum menganut suatu kepercayaan (masyarakat Toba
dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kepercayan terhadap roh-roh nenek moyang)
maka pembauran dengan masyarakat dari Aceh, Angkola dan Mandailing yang menganut
agama Islam membawa dampak. Banyak dari masyarakat batak Toba mulai menganut agama
Islam.
8
oleh pemerintah Hindia
Belanda. Rawa-rawa yang terdapat di daerah Sibolga dikeringkan dan diatasnya dibangun
pelabuhan. Oleh karena itu maka penduduk Pulau Poncan9 beserta dengan tokoh
masyarakatnya pindah ke wilayah Sibolga. Penduduk yang berada di Sibolga sebelum
kedatangan penduduk dari Pulau Poncan disebut sebagai orang “daratan”10
7
U. T Sipahutar ‘Perhitungan Jadinya Kota Sibolga’ , Hari Jadi Sibolga , Pemko Sibolga, 1998. hlm : 111
. Sampai pada
abad ke-19 suku Batak pada umumnya dikenal sebagai penganut kepercayaan Palbegu.
Kepercayaan Palbegu yaitu suatu kepercayaan yang banyak mengandung unsur-unsur
animisme ataupun dinamisme. Penganut kepercayaan ini menyembah semua benda yang
8
Sultan Parhimpunan, Kerajaan Sibolga (1700-1842), (Depok: Tanpa Penerbit, 2008), Hlm.63
9
Pulau Poncan merupakan pulau yang terletak 3 mil dari kota Sibolga. Poncan dikenal sebagai daerah kaya penghasil garam. Ditahun 1700an pulau ini pernah menjadi semacam pusat kendali kekuasaan tempur kolonial dipantai Barat Sumatera. Poncan pada masa jayanya sudah menjadi tujuan terpenting dari para pedagang sehingga pulau ini dikenal sebagai pulau pelabuhan dan persinggahan para pedagang. Banyaknya saudagar dari Arab, Aceh dan Minangkabau yang datang untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam di pulau Poncan mengakibatkan masyarakat pulau Poncan mengenal dan menganut agama Islam. Pada tahun 1829 pulau Poncan diberikan kepada Belanda oleh Inggris dalam traktat London. Oleh karena luas pulau Poncan yang tidak begitu besar, maka pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat pemerintahan ke Sibolga. Pemindahan ini juga dikarenakan Sibolga letak yang strategis sebagai tempat perlindungan dari serangan musuh.
10
dianggap punya begu atau roh. Mereka percaya terhadap roh nenek moyang dan benda-benda
besar11
Pada awal kedatangan masyarakat Pulau Poncan sebagai pendatang dan masyarakat
Sibolga sebagai yang lebih dahulu menetap, mengalami berbagai masalah dalam adat istiadat
yang menimbulkan perbedaan-perbedaan. Selain dari perbedaan agama yang dianut oleh
kedua masyarakat tersebut, terdapat perbedaan dalam pemakaian atribut-atribut kebesaran
adat. Dalam hal ini hanya penduduk penetap yang dibenarkan memakai atribut kebesaran
adat.
. Begitu juga pada masyarakat Batak Toba Sibolga pada saat itu masih banyak yang
menganut kepercayaan ini. Sebaliknya masyarakat yang datang dari Pulau Poncan telah
cukup lama menganut agama Islam. Demikian pula masyarakat pendatang ke wilayah
Sibolga dari kawasan Minangkabau dan pesisir Pantai Barat Sumatera lainnya atau daerah
Batak bagian Selatan dan Barat yaitu Mandailing dan Angkola. Masyarakat Poncan lebih
dulu mengenal Islam karena merupakan pusat pelabuhan pantai Barat Sumatera. Banyak dari
saudagar Arab, Aceh, Minangkabau datang dan menyebarkan agama Islam.
12
Pada perkembangan selanjutnya antara masyarakat lokal dan masyarakat pendatang ini
kemudian telah menyatu dalam adat istiadat yang mempunyai ciri tersendiri yaitu adat
pesisir.Penyatuan adat pesisir ini selanjutnya lebih ditopang setelah masyarakat lokal yang
berasal dari pedalaman Tapanuli menganut agama yang sama dengan masyarakat pendatang,
yaitu agama Islam. Kemudian antara masyarakat pendatang dan penetap terjalin perkawinan, Apabila seorang masyarakat dari Pulau Poncan ingin memakai atribut kebesaran adat
tersebut harus terlebih dahulu meminta izin kepada para tokoh-tokoh adat setempat.
11
Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, (Jogjakarta: Penerbit Ombak, 2007), hlm.41
12
di mana pemuda pendatang mengawini perempuan lokal, atau sebaliknya yang senantiasa
memakai adat istiadat pesisir atau yang lebih dikenal dengan nama “Adat Sumando”13
Sumando Pesisir sebagai kesatuan adalah suatu pertambahan dan pencampuran satu
keluarga dengan keluarga lain yang seiman. Adat Sumando ini berasal dari Poncan. Dengan
perpindahan penduduk Poncan ke Sibolga adat Sumando dibawa serta dan kemudian
berkembang keseluruh daerah Tapanuli. Adat Sumando ini merupakan pencampuran adat
Minangkabau dan budaya Batak yang bernafaskan agama Islam.
.
14
Menurut tradisi lokal adat
Sumando ini lahir ketika seorang pemuda Minangkabau yang tinggal di Sibolga hendak
meminang gadis Batak Toba. Kedua belah pihak menganut keyakinan yang sama yaitu Islam.
Karena keduanya memiliki hakekat budaya yang berbeda maka diadakanlah musyawarah
yang menghasilkan toleransi dengan mengendurkan beberapa teknis adat dari kedua belah
pihak. Hingga akhirnya terlahirlah adat Sumando. Maka masyarakat Pesisir Sibolga banyak
yang mengikuti adat Sumando ini sebagai adat mereka. Secara keseluruhan adat ini
bernafaskan agama Islam.15
Etnis Batak Toba yang berasal dari pedalaman berusaha untuk tinggal menetap di Sibolga
dengan mempertahankan budayanya. Selaku golongan minoritas dan sebagai pendatang maka
untuk mengembangkan proses interaksi serta sosialisasi dengan masyarakat Sibolga yang
dikenal sebagai masyarakat Pesisir, maka muncul keinginan untuk menyesuaikan diri dengan
masyarakat dan budaya setempat16
13
Hamid Panggabean, Bunga Rampai Tapian-Nauli, (Jakarta: Tapian-Nauli-Tujuh Sekawan. 1995), hlm. 192
. Dalam interaksinya, secara tidak langsung etnis Batak
14
Sultan Parhimpunan, op.cit, hlm. 258 15
Hamid Panggabean, op.cit, hlm.94
16
Toba telah melakukan pembauran dengan budaya Sumando. Hal ini dilakukan agar
masyarakat dari etnis Batak Toba dapat diterima oleh masyarakat Pesisir Sibolga. Salah satu
carayang dilakuakan adalah menjadi seorang Muslim. Sehingga mereka disebut sebagai
Batak Toba Muslim Pesisir. Sebagai masyarakat etnis Batak Toba yang telah menganut
agama Islam adat Sumando merupakan adat yang tidak melanggar hukum syariat Islam.
Sementara itu pada adat Batak Toba sendiri sebagaian adat menyajikan babi yang tidak dapat
dimakan oleh Muslim. Hal inilah yang membuat etnis Batak Toba menerima pembauran
dengan adat Sumando.
Penelitian ini membahas tentang Perubahan Budaya Etnis Batak Toba pada Masyarakat
Pesisir di Sibolga (1970-2000). Tahun 1970 adalah sebagai tahun awal penelitian merupakan
periode perubahan budaya etnis Batak Toba terlihat. Perubahan budaya dilihat pada unsur
kebudayaan yaitu pada sistem kemasyarakatan yakni perubahan bahasa dan tata cara upacara
pernikahan. Masyarakat etnis Batak Toba menerapkan pembauran dan perubahan pada
bahasa mereka serta tata cara pernikahan dengan budaya masyarakat pesisir di Sibolga.
Perubahan yang terjadi pada upacara pernikahan yaitu masyarakat Batak Toba mulai
menggabungkan dan menggunakan adat masyarakat pesisir setempat yaitu adat Sumando
dengan adat Batak Toba. Pada bab selanjutnya akan dijelaskan lebih dalam lagi tentang latar
belakang terjadinya perubahan budaya di Sibolga. Kemudian tahun 2000 sebagai akhir dari
penelitian ini adalah bahwa selama tiga puluh tahun terdapat perubahan budaya etnis Batak
Toba dengan budaya lokal serta membawa dampak yang mempengaruhi kebudayaan Batak
itu sendiri dan masyarakat etnis Batak Toba sudah menyadari adanya perubahan pada
Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul Batak Toba Muslim : Studi Perubahan Budaya Pada Masyarakat Pesisir di
Sibolga (1970-2000)
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, untuk mempermudah penulis dalam penulisan dan
menghasilkan penelitian yang objektif, maka penulis perlu membatasi masalah yang akan
dibahas. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana keadaan Sibolga sebelum tahun 1970?
2. Bagaimana proses migrasi orang Batak Toba ke Sibolga dan perubahan agama
menjadi Muslim?
3. Bagaimana latar belakang budaya masyarakat Pesisir Sibolga?
4. Apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan budaya pada orang Batak Toba
Muslim di Sibolga?
1.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Setelah diketahui apa rumusan masalah dalam penelitian, maka yang menjadi
permasalahan selanjutnya adalah apa yang menjadi tujuan dan manfaat dari penelitian
tersebut. Setiap penelitian yang dilakukan pasti memiliki tujuan dan manfaat yang dicapai.
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui keadaan Sibolga sebelum tahun 1970
2. Menganalisi proses perubahan budaya etnis Batak Toba di masyarakat Pesisir
kota Sibolga
3. Menganalisis pengaruh budaya masyarakat Pesisir terhadap budaya etnis
Batak Toba.
4. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan
budaya pada etnis Batak Toba.
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat :
1. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang proses perubahan budaya etnis
Batak Toba pada masyarakat Pesisir Sibolga
2. Menambah informasi tentang histori kota Sibolga sebelum tahun 1970
3. Memberikan informasi pada masyarakat tentang adanya perubahan budaya,
faktor yang mempengaruhi perubahan budaya serta bentuk dari perubahan
budaya etnis Batak Toba pada masyarakat Pesisir di Sibolga.
4. Menambah literatur bacaan dalam ilmu sejarah dan menjadi acuan bagi
penulis lain manakala penelitian ini dirasa perlu penyempurnaan
1.4.Tinjauan Pustaka
Buku yang mengulas tentang kehidupan masyarakat Pesisir sibolga telah banyak ditulis
dan Pemudaran Kota Pelabuhan : Kasus Barus dan Sibolga yang menjelaskan tentang
perkembangan penduduk Sibolga, gambaran umum kota, adaptasi penduduk, dan sosial
budaya masyarakat Sibolga. Perubahan kota Sibolga sebagai kota Pelabuhan menjadi pusat
pemerintahan serta menjelaskan pemudaran kota Barus sebagai kota Pelabuhan.
Perkembangan sosial budaya yang dikota ini. Pengaruh-pengaruh yang didapat dari luar
sebagai kota pelabuhan dan persinggahan para pedagang.17
Selanjutnya karya Suwardi Lubis yang berjudul Komunikasi antar Budaya, Studi Kasus
Etnis Batak Toba dan Etnis Cina yang menjelaskan bahwa kekayaan, kehormatan dan
kebahagiaan (hamoraon, hasangapon, hagabeon) yang lebih dikenal dengan konsep 3H
adalah tujuan hidup masyarakat etnis Batak Toba. Konsep itu merupakan wujud dari
kebudayaan sebagai ide dan gagasan yang terus terwarisi dan mendarah daging bagi
masyarakat etnis Batak Toba. Dan juga bagaimana Etnis Cina berinteraksi dengna budaya
diluar budaya nya sendiri. komunikasi yang terjalin antara budaya yang berbeda. 18
Kajian lain adalah buku Sjawal Pasaribu dalam bukunya yang berjudul Masyarakat
Budaya dan Pariwisata Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga menjelaskan tentang masuknya
suku bangsa lain untuk melakukan perdagangan di daerah Pinggiran Pantai Barat,
bertambahnya keanekaragaman suku yang ada di pinggiran Pantai Barat Sumatera,
perkawinan campur yang dilakukan pendatang kepada masyarakat setempat yang merupakan
17
S. Budhisantoso, Studi Pertumbuhan dan Pemudaran Kota Pelabuhan: Kasus Barus dan Sibolga, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995)
18
cikal bakal lahirnya etnis pesisir. Buku ini juga menjelaskan budaya masyarakat Pesisir yang
berkembang yang disebut sebagai adat Sumando.19
Kemudian kajian Antonius Simanjuntak yang berjudul Melayu Pesisir dan Batak
Pegunungan (Orientasi Nilai Budaya) tentang budaya masyarakat Pesisir Pantai dan budaya
batak dari pegunungan. Buku ini membahas tentang orientasi nilai budaya pada melayu
pesisir dan batak pegunungan serta perubahan-perubahan budaya yang terjadi serta 14
unsur-unsur nilai budaya yang harus dimiliki setiap yang mengaku dirinya sebagai orang modern.
Buku ini mengulas bagaimana masyarakat pesisir dan batak pegunungan yang menjadi objek
penelitian berupaya menjadi orang yang dianggap modern dengan mengikuti 14 unsur nilai
budaya.20
Selajutnya Kajian Hamid Panggabean yang berjudul Bunga Rampai Tapian-Nauli. Buku
ini membahas tentang sejarah masyarakat Sibolga, kemudian Sibolga dalam masa pejajahan
dan perjuangan melawan penjajah dan menyambut kemerdekaan. Buku ini mengulas tentang
budaya masyarakat Pesisir yaitu adat Sumando yang sudah banyak diterapkan dalam
upacara-upacara adat di Sibolga. Adat Sumando ini hanya terfokus pada masyarakat Sibolga yang
beragama muslim. Hal ini dikarenkan adat ini merupakan adat yang bernafaskan agama
Islam.21
19
Sjawal Pasaribu, Masyarakat Budaya dan Pariwisata Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga, (Medan: Depdikbud Sibolga, 2008).
20
Bungaran Antonius Simanjuntak, MelayuPesisir dan Batak Pegunungan (Orientasi Nilai Budaya), (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010).
21
Karya lain yang masih relevan dengan penelitian ini adalah Togar Nainggolan yang
berjudul Batak Toba di Jakarta Kontinuitas dan Perubahan Identitas. Dalam buku ini
dijelaskan bagaimana masyarakat yang memiliki suku Batak Toba menyerap budaya baru
dari daerah baru dan menjadikan mereka mennghilangkan identitas asli dan mengalami
perubahan identitas etnik. suku batak Toba selaku golongan Batak Toba mencoba mengubah
identitas diri mereka mengikuti daerah tempat tinggal mereka. Hal ini diperlukan dari buku
ini untuk penelitian adalah bagaimana proses penyerapan budaya baru pada budaya asli
mereka dan mengalami perubahan idnetitas budaya.22
1.5. Metode Penelitian
Dalam penulisan sejarah ilmiah, pemakaian metode sejarah ilmiah sangatlah penting.
Metode penelitian sejarah lazimnya disebut sebagai metode sejarah. Metode penelitian ini
dimaksudkan untuk merekontruksi masa lampau manusia sehingga menghasilkan suatu karya
ilmiah yang bernilai. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu proses menguji
danmenganalisis secara kritis rekaman dari peninggalan masa lampau23. Ada beberapa tahap
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi dan
histiografi24
Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah heuristik atau
pengumpulan data atau bahan-bahan sebanyak mungkin yang memberi penjelasan tentang .
22
Togar Nainggolan, Batak Toba di Jakarta Koninuitas dan Perubahan Identitas, (Medan: Bina Media, 2006).
23
Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah (Jakarta: UI Press,1971), hlm. 18.
24
masalah dalam penelitian ini. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
melalui studi kepustakaan dan studi lapangan. Studi kepustakaan yaitu mencari sumber
tertulis yang berasal dari buku seperti dari perpustakaan, perpustakaan daerah maupun dari
toko-toko buku lainnya, majalah, surat kabar, hasil laporan penelitian, dan data yang
diperoleh dari internet. Studi lapangan bisa dilakukan dengan cara wawancara.adapun
wawancara yang dilakukan adalah wawancara bebas, dan melakukan pengamatan langsung
ke lapangan.
Langkah berikutnya, melakukan kritik terhadap sumber. Untuk memeriksa
keabsahan sumber melalui kritik intern yang bertujuan untuk memperoleh fakta yang
kredibel dengan cara menganalisis isi ataupun penjelasan dalam sumber tertulis dan kritik
ekstern dalam memperoleh fakta yang otentik dengan cara meneliti asli atau tidaknya sumber
tersebut. Sesudah melakukan langkah pertama dan langkah kedua berupa heuristik dan kritik
sumber, langkah selanjutnya dilakukan interpretasi. Langkah ini merupakan metode yang
dilakukan untuk menafsirkan fakta-fakta yang sudah diseleksi dan menghasilkan data yang
valid.
Langkah terakhir yang dilakukan dalam metode penelitian ini adalah metode
penulisan sejarah atau histiografi. Langkah ini penulis akan menjabarkan data hasil penelitian
sekaligus rangkaian secara kronologis dan sistematis dalam bahasa tulisan dapat berbentuk
BAB II
GAMBARAN UMUM KOTA SIBOLGA
2. 1. Letak Geografis Kota Sibolga
Letak geografis adalah letak suatu daerah dilihat dari kenyataannya di bumi atau
posisi daerah itu pada bola bumi dibandingkan dengan posisi daerah lain. Letak geografis
ditentukan pula oleh segi astronomis, geologis, fisiografis dan sosial budaya. Kota Sibolga
terletak di pantai Barat Sumatera. Posisi pantai Barat Sumatera dari Singkel di Utara hingga
Indrapura di Selatan. Di sebelah Utara daerah ini terdapat kerajaan Aceh, Sebelah Timur
terdapat derah batak, Kerajaan Siak dan Indragiri, sebelah Selatan terdapat daerah Kerincidan
Bengkulu, di sebelah Barat terhampar Samudera Hindia. Ciri utama topografi kawasan pantai
Barat adalah berbukit-bukit. Salah satu wilayah dari gugusan pegunungan ini adalah teluk
Sibolga.25
Secara astronomi, Sibolga terletak pada 10 44-10 46 LU dan 980 44-980 48 BT.
Batas Kota Madya Sibolga disebelah utara dan timur adalah kecamatan Sibolga, di sebelah
selatan adalah kecamatan Pandan dan di sebelah barat adala Teluk Tapian Nauli.
26
25
Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Suamtera, (Jogjakarta: Penerbit Ombak, 2007), hlm.21
Kotamadya Sibolga merupakan salah satu Daerah Tingkat II yang berada dalam wilayah
daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Utara. Jaraknya lebih kurang 344 km dari Kota Medan,
ibukota Provinsi Sumatera Utara. Bentuk Kota memanjang dari Utara ke Selatan mengikuti
garis pantai. Sebelah Timur terdiri dari gunung dan sebelah Barat adalah lautan. Lebar kota
yaitu jarak dari garis pantai ke pegunungan sangat sempit hanya lebih kurang 500 meter
26
sedangkan panjangnya adalah 8. 520 km. Karena sempitnya daratan yang tidak sebanding
dengan jumlah penduduk, akhirnya banyak tepian pantai yang ditimbun menjadi daratan
untuk dijadikan lahan pemukiman. Bahkan sebagian pemukiman didirikan diatas laut.27
Kota Sibolga mempunyai wilayah seluas 1077,00 Ha yang terdiri dari 889,16 Ha
(82,5%) daratan, 187,84 Ha (17,44%) daratan kepulauan dan 2.171,6 luas lautan. Beberapa
pulau-pulau yang tersebar disekitar teluk Tapian Nauli yang termasuk kedalam wilayah
administratif kota Sibolga adalah pulau Poncan Gadang, Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik,
dan pulau Panjang28. Kota Sibolga dipengaruhi oleh letaknya yang berada pada daratan
pantai, lereng dan pegunungan, terletak pada ketinggian di atas permukaan laut berkisar
antara 0 - 150 meter. Keadaan alamnya relatif kurang beraturan. Kemiringan (lereng) lahan
bervariasi antara 0-2 % sampai dengan 40%. Sebagian besar (69%) wilayah kota madya ini
merupakan perairan dan pulau-pulau yang tersebar di Teluk Tapian Nauli sedangkan sisanya
merupakan dataran bekas rawa dipantai dataran Sumatera yang ditimbun, membujur dari
barat Laut ke tenggara dengan ukuran 5,6 kali 0,5 km. Dataran ini merupakan tempat
pemukiman penduduk.29
Sumber pendapatan masyarakat Kota Sibolga didominasi bersumber dari perairan,
yaitu melalui mata pencarian masyarakat sebagai nelayan. Kondisi geografis Sibolga yang
memiliki banyak wilayah perairan mendukung keadaan ini. Di samping itu, mata pencaharian
dari penduduk kota Sibolga adalah pertanian. Sementara itu sungai-sungai yang termasuk
27
Hernita Malau, Adat Sumando Sibolga, (Medan: Tanpa Penerbit, 2011), hlm.23
28
Pemko Sibolga, Geografis Kota Sibolga, Sibolga : Tanpa Penerbit. 2000, hlm. 12
29
Mona Manalu, Sejarah Kota Sibolga Dan Perkembangannya Setelah Kemerdekaan (1945-2011),
dalam kawasan kota Sibolga antara lain, Sungai Aek Doras, Sungai Sihopo-hopo, Sungai
Muara Baiyon, dan Sungai Aek Horsik.30
2.2 Sibolga pada Masa Kolonial
Setelah mengalami kehancuran sebagai akibat perang Napoleon yang bertahun-tahun
dan isolasi ekonomi, maka Negeri Belanda kehilangan sebagian besar perdagangannya dan
pelayarannya. Peranannya sebagai Pasar penimbun barang mundur. Ditanah jajahan
pedagang-pedagang Belanda tidak mampu bersaing dengan pedagang-pedagang Inggris. Hal
ini mengakibatkan depresi ekonomi. Untuk menyelamatkan perdagangan dan industri
Nasionalnya diadakan perjanjian Traktat London. Setelah Perjanjian ditandatangani (1824),
kota-kota disepanjang pantai pesisir barat Sumatera jatuh ke tangan Belanda termasuk
Sibolga. Traktat London menyelamatkan kedudukan mereka dipantai barat Sumatera yang
dulu dikuasai sebagian oleh Inggris31. Traktat London membuat Inggris memilih menguasai
Selat Malaka dan Pantai lainnya sebelah Timur Sumatera. Dalam perjanjian ini Inggris
menyerahkan daerah di Pesisir Barat Sumatera yaitu : Fort Marlborough (Bengkulu), Poncan,
Natal dan Tapian Nauli (Sibolga). Setelah menduduki Sibolga kolonial terus melakukan
perubahan. Karena Sibolga merupakan kota pelabuhan yang cukup ramai, mulailah mereka
memfokuskan kegiatan seputar Sibolga32
Pada masa pemerintahan Belanda, Sibolga mengalami perkembangan sangat pesat,
terutama setelah dijadikannya Sibolga menjadi ibu Kota Keresidenan. Hanya dalam beberapa .
30
Erwin J. V Nababan, Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga, ( Medan : Tanpa Penerbit, 2009), hlm. 35
31
Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah pergerakan Nasional dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), hlm. 10
32
tahun saja Sibolga berubah menjadi sentrum Tapian Nauli. Pelabuhannya menyedot banyak
kapal niaga pelayaran antar negara dan pulau. Mereka membangun pelabuhan di Sibolga
guna memperlancar pemasukan. Pantai Barat Sumatera termasuk pulau-pulau Nias,
semuanya dilebur menjadi satu unit keresidenan Tapanuli dengan pusatnya Sibolga. Guna
memenuhi kebutuhan tenaga pegawai yang berpengalaman di keresidenan baru akan dimutasi
karyawan terampil dari kantor pegawai kolonial di Air Bangis tangga1 7 Desember 1842
Sibolga secara resmi menjadi keresidenan33. Setelah Sibolga ditetapkan menjadi Ibukota
Keresidenan Tapanuli, kota ini berfungsi sebagai kota transit barang perdagangan hampir dari
seluruh kawasan Tapanuli untuk dikirim ke kawasan lainnya bahkan keluar negeri. Tidaklah
mengherankan jika penduduk dari kawasan lain mengadakan urbanisasi ke kota ini amatlah
besar. Dalam waktu singkat saja Sibolga telah menjadi kota pelabuhan yang amat ramai.34
Periode antara tahun 1838-1842 setelah Belanda membuka jalan dari Sibolga hingga
Portibi (Tapanuli Selatan) dan pada saat itu Sumatera Barat sudah meningkat menjadi
“gouvernement”(Propinsi) dan Tapanuli menjadi salah satu residen nya, dimana dengan
Beslit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 7 Desember 1842 ditetapkan Sibolga
menjadi ibukota Residen Tapanuli yang dipimpin oleh seorang afdelinghoofd (kepala
daerah). Afdeling dibawah keresidenan Tapanuli : afdeling Singkil, afdeling Barus, afdeling
Mandailing, afdeling Natal, afdeling Angkola, afdeling Nias, dan afdeling Sibolga
35
Wilayah yang termasuk distrik afdeling Sibolga ialah : Sibolga, Tapian Nauli, Badiri,
Sarudik, Kolang, Tukka, Sai Ni Huta, dan pulau–pulau kecil di depan teluk Tapian Nauli.
Setiap afdeling dipimpin oleh afdelinghoofd dibantu kepala kuria. Disamping itu, setiap .
33
Hari jadi Sibolga, Pemko Sibolga, 1998, hlm.13
34
Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, Sejarah Perkembangan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, (Medan: Tanpa Penerbit, 1993), hlm.130
35
distrik di kepalai oleh seorang districhoofd (Demang). Dalam proses selanjutnya, afdeling
dibagi menjadi onder afdeling Sibolga dan onder afdeling Batang Toru. Lantas untuk
memudahkan roda pemerintahan, onder afdeling Sibolga dibagi lagi menjadi 5 kuria yaitu
Kuria Kolang, Kuria Unte Mungkur, Kuria Tapian Nauli, Kuria Sibolga, Kuria Sarudik36
Perubahan dilakukan lagi pada tahun 1846 karena berbagai hambatan dan kendala
dengan garis komando yang tidak flesibel maka perubahan dilakukan dengan memberlakukan
Afdeling Sibolga en Ommelanden, yakni Sibolga dan daerah takluknya: afdeling Sibolga,
afdeling Barus, afdeling Nias, dan afdeling Singkil. Selanjutnya di tahun 1871 Belanda
menghapuskan sistem pemerintahan Raja-Raja/Kepala Kuria dan diganti oleh Demang tetapi
sebagian masyarakat masih menganggap Raja/Kepala kuria sebagai pemangku adat yang sah. .
Oleh karena situasi politik yang memaksa akhirnya tahun 1885 (berlangsung hingga
1906), ibukota residen Tapanuli dipindahkan ke Padang Sidempuan. Berdasarkan staatsblad
No. 428 Tahun 1905, dipisahkan pulalah Tapanuli dari Sumatera Barat beralih menjadi
dibawah Gubernur Sumatera yang berkedudukan di Medan yang membagi wilayah
Keresidenan Tapanuli dalam 5 afdeling, yaitu : afdeling Natal dan Batang Natal, afdeling
Sibolga dan Batang Toru, afdeling Padangsidimpuan, afdeling Nias, afdeling Tanah Batak.37
Afdeling Sibolga diperintah oleh seorang controleur dengan wilayah meliputi 13
Kakuriaan dan masing-masing dipimpin oleh kepala Kuria. Pada saat itu onder afdeling
Barus masih termasuk afdeling Tanah Batak. Dengan keluarnya Staatsblad No. 93 Tahun
1933 maka sebagian onder afdeling Barus digabung ke afdeling Sibolga dan sebagian lagi
masuk afdeling dataran-dataran tinggi Toba
38
36
Erwin J. V Nababan, op.cit, hlm. 19
. Selanjutnya dengan Staatsblad No. 563 Tahun
37
Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, op.cit, hlm. 131
38
1937 onder afdeling Barus keseluruhannya dimasukkan ke afdeling Sibolga dimana
berdasarkan Staatsblad tersebut keresidenan-keresidenan Tapanuli dibagi atas 4 Afdeling,
yaitu: afdeling Sibolga, afdeling Nias, afdeling Sidempuan, afdeling Tanah Batak.
Yang termasuk afdeling Sibolga adalah : onder distrik Sibolga, onder distrik Lumut,
onder sistrik Barus. Sedang Sorkam berada dalam lingkungan onder Distrik Barus.
Kemudian tiap onder Distrik membawahi beberapa negara yang disebut Negeri hoofd.
Negeri-negeri ini terdiri dari beberapa kampung yang yang dipimpin seorang kepala yang
disebut Kampung hoofd dan juga diangkat sama dengan pengangkatan Negeri hoofd. Tugas
Utama Negeri dan Kampung hoofd memelihara keamanan dan ketertiban memungut pajak
(Blasting/Rodi) dari penduduk negeri39
Daerah Tingkat II Tapanuli Tengah adalah pencerminan dari pembagian wilayah yang
diatur dengan Staatsblad No. 563 tahun 1937 tersebut diatas. Sibolga memang potensial
menjadi pelabuhan kapal-kapal dagang baik milik pemerintah Hindia Belanda maupun
bangsa Eropa lainnya, atau sebagian dari pembangunan sarana pelayaran nasional.
Sedangkan untuk kepentingan pertahanan militer, Sibolga dipandang strategis, khususnya
menghalau serangan dari utara
.
40
Pada zaman Belanda sesuai dengan sifat kolonialnya, terdapat rasialisme dalam
pendidikan rakyat Indonesia, terutama pendidikan dasarnya. Pemberian pendidikan kepada
rakyat Indonesia khususnya di Sibolga oleh Belanda adalah agar dapat membantu mereka
sebagai pegawai kecil seperti Juru tulis, klerk atau komis. .
39
Elisa Tinambunan, Masuknya Zending Protestan di Tapanuli Utara, (Medan: Tanpa Penerbit, 2011), hlm. 16
40
Pada zaman kolonial, pemerintah Belanda mendirikan sekolah-sekolah Gouverment
(orang Batak menyebutnya Sikola Gubernemen) di seluruh keresidenan Tapanuli, tetapi tidak
sampai kedesa-desa, hanya di negeri-negeri atau yang dianggap kota. Terdapat empat macam
pendidikan dasar pada zaman kolonial, yaitu: ELS, untuk anak-anak Belanda atau anak-anak
Indonesia/Cina yang telah dipersamakan kedudukannya dengan Belanda. Kemudian
pendidikan HIS, untuk anak-anak Indonesia kelas menengah atas, baik pegawai negeri
maupun pengusaha dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dan HCS, untuk
anak-anak Cina kelas menengah ke atas dengan bahasa Belanda sebagai pengantar. Sekolah
Kampung/ Rakyat (volkschool) dengan masa belajar tiga tahun, bagi anak-anak pribumi baik
dikota maupun dikampung-kampung. Sekolah kampung lima tahun (vervolgschool) untuk
anak-anak pribumi atau untuk orang Melayu dan tidak mempelajari bahasa Belanda.
Anak-anak lulusan volkschool dapat menyambung ke vervolgschool (masuk kelas 4). Sekolah
Swasta yang terdiri dari HIS Pasrtikular, yang dibangun oleh Abdul Munip41
Sementara itu perekonomian pada masa Kolonial ditunjang oleh monopoli
perdagangan disepanjang Pantai Barat Sumatera. Untuk memajukan perdagangan ini
pembangunan pelabuhan pun dilakukan. Sehingga perekonomian Sibolga banyak berpusat
pada perdagangan. Namun tidak hanya dari perdagangan saja, Belanda juga membuka
perkebunan di Sibolga. Banyak rakyat dari Sibolga di pekerjakan sebagai kuli perkebunan. . Banyak
anak-anak Sibolga yang tidak diterima di HIS Pemerintah masuk ke HIS Partikular, Christelyke
HIS, yang dibangun oleh organisasi Agama Protestant, Rooms Katholike ke HIS, yang
dibangun oleh organisasi agama Katolik dan Sekolah Cina yang dibangun oleh masyarakat
Cina di Sibolga.
41
B.A Simanjuntak, Kemajuan Pendidikan dan Cita Kemerdekaan di Tanah Batak (1861-1940),
Pembukaan perkebunan ini juga melatarbelakangi kedatangan suku etnik lain ke Sibolga
seperti Jawa dan Bugis. Mereka didatangkan sebagai kuli kontrak karena ketiadaan tenaga
kerja yang mencukupi di Sibolga. Sehingga sumber penghasilan rakyat dan pendapatan
pemerintah adalah dari perkebunan karet rakyat, ordeneming Belanda, perikanan, dan
perdagangan antar pulau dipantai barat Sumatera.42
2.3 Sibolga Pada Masa Pendudukan Jepang
Negara-negara Asia Pasifik berada dalam jajahan Inggris, Perancis, Belanda dan
Amerika. Oleh karena negara-negara Asia Pasifik merupakan negara jajahan bangsa Eropa,
Jepang mulai mengiming-imingkan akan membebaskan bangsa-bangsa Asia dari penjajahan
Barat dengan semboyan Asia untuk bangsa Asia. Taktik Jepang tersebut sedikit banyak nya
telah menggugah hati kaum pergerakan nasional di Indonesia. Di dalam usahanya untuk
membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah meletuskan suatu perang di Pasifik.43
Untuk mencapai maksudnya Jepang melaksanakan strategi pukul dulu kekuatan
musuh yang terkuat sampai babak belur baru mengumumkan perang. Hal ini dikarenakan
agar Jepang mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan perang kilat menyapu kekuatan
sekutu yang masih tersisa sampai hancur luluh. Pada tanggal 8 Desember 1941 dini hari,
pesawat-pesawat terbang Jepang menyerang dan membom Pearl Harbour di Hawaii, yang
merupakan pangkalan armada Pasifik Amerika Serikat. Akibat serangan mendadak itu,
armada Pasifik Amerika Serikat hancur luluh sampai tidak berdaya sama sekali. 4 jam setelah
pesawat Jepang menghancurkan armada Pasifik tersebut, barulah kaisar Jepang Hirohito
42
Wawancara dengan Bisler Simamora, pada tanggal 22 Oktober 2013 di Sibolga
43
mengumumkan ‘Perang Asia Timur Raya’ atau Dai Toa Senso untuk membebaskan
bangsa-bangsa Asia dari penjajahan Barat dan membangun kemakmuran bersama Asia Timur
Raya44
Dengan demikian pecahlah perang dunia ke II di Asia. Ketika itu pada hari yang sama
Gubernur Jendral Hindia Belanda mengumumkan perang terhadap kerajaan Jepang, maka
secara resmi Indonesia pun telah masuk dalam kanca perang dunia ke II. Oleh sebab itu
Belanda bergabung dalam ABCD front (America, British, Cina, Dutch) untuk melawan
penyerbuan Jepang.
. Hal ini merupakan titik awal lenyapnya kolonial Barat dari seluruh kawasan Asia
Pasifik.
45
Setelah mengumumkan perang, Jepang segera mengirimkan balatentaranya ke Selatan
di bawah pimpinan Jendral Terauchi untuk menaklukan Hongkong, Indo China, Thailand,
Burma, Malaya, Singapore, Indonesia dan Pilipina. Dalam waktu 3 bulan saja, kekuasaan
Inggris di Hongkong, Burma, Malaya, dan Singapore, kekuasaan Perancis di Indo China,
kekuasaan Belanda di Indonesia dan kekuasaan Amerika Serikat di Pilipina telah beralih
ketangan balatentara Jepang46. Pada tanggal 15 januari 1942 Singapura yang merupakan
benteng pertahanan Inggris yang terkuat di Asia Timur bertekuk lutut setelah digempur
jendral Yamasita yang terkenal dengan julukan Harimau Malaya47
44
M. Panggabean, Berjuang dan Mengabdi, (Jakarta: PT Sinar Agape Press, 1993), hlm. 35
. Dengan demikian terbuka
lah pintu bagi Jepang untuk merebut Indonesia dari tangan Belanda.
45
Sagiman M.D., Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Fasisme Jepang, (Jakarta: inti Idayu Press, 1985), hlm. 21,22
46
Soebagijo I.N, Sudjono, Mendarat Dengan Pasukan Jepang di Banten, (Jakarta: Gunung Agung, 1983), hlm. 172
47
Pasukan Jepang yang dikerahkan untuk merebut Indonesia adalah tentara ke tujuh
menaklukkan Sumatra, tentara ke-16 menaklukkan Jawa dan Madura, armada Selatan dari
Angkatan Laut menaklukkan Borneo Sulawesi, dan Indonesia bagian Timur. Siaran-siaran
radio di Jepang tidak henti-hentinya menyiarkan propoganda dengan cara yang simpati
menjelaskan bahwa perang Asia Timur Raya itu adalah untuk membebaskan bangsa-bangsa
Asia dari penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Tentara Jepang ke-16, terpisah sendiri dari
Tentara Jepang di Sumatera Timur membagi Sumatera Timur di dalam 5 pusat : Binjai/
Padang Berahrang, Sungai Karang (Galang), Dolok Merangir, Kisaran, dan Perkebunan
Wungfoot.48
Secara resmi Belanda menyerah kepada Jepang melalui Letnan Jendral H. Ter
Poorten, Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda, pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati.
Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.49 Pada tanggal 12 Maret
1942 kesatuan-kesatuan tentara Jepang telah mendarat di Tanjung Tiram, kemudian dengan
menggunakan sepeda yang dirampas dari penduduk, sebagian dari mereka menuju Medan
yang dimasuki pada tanggal 13 Maret 194250 dan 2 hari kemudian 15 Maret 1942 pasukan
infantri sepeda Jepang yang datang dari Tarutung menyerbu Sibolga tanpa perlawanan.
Tentara Jepang telah merebut Sibolga dari tangan Belanda. Belanda tidak mampu
mempertahankan dari tangan jajahannya.51
48
Tengku Luckman Sinar, Sejarah Medan Tempo Doeloe, (Medan: Percetakan Perwira, 1991), hlm.108
49
Cahyo Budi Utomo, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1995), hlm. 177
50
Tengku, op.cit, hlm.109
51
Pada umunya, kedatangan Jepang diterima dengan penuh sukacita. Rakyat Indonesia
percaya bahwa Jepang datang sebagai pembebas. Kepercayaan ini semakin kuat ketika
Jepang mengizinkan bendera nasional merah-putih dikibarkan dan lagu nasional Indonesia
Raya dikumandangkan, dua hal penting yang dulu dilarang oleh Belanda. Alasan terpenting
pendudukan Jepang justru diterima oleh mayoritas kaum terpelajar Indonesia adalah karena
penguasa baru tersebut lebih mampu meningkatkan status sosial ekonomi orang Indonesia,
cukup dengan kebijakan tanpa kekerasan52
Setelah 3 bulan berjalan masa kedudukan Jepang di Sibolga, mereka mulai
menunjukkan belangnya. Bendera merah putih tidak lagi diperbolehkan untuk dikibarkan.
Semua radio milik rakyat dikumpulkan dan di simpan dalam gudang dibawah pengawasan
Jepang. Rakyat sibolga tidak diperbolehkan untuk membaca surat kabar yang terbit di
Medan. Semua surat kabar itu dihentikan penerbitannya menunggu penerbitan oleh Jepang.
Untuk mengambil hati umat Islam, Jepang mengizinkan terbitnya majalah semangat Islam
dengan pimpinan redaksi M.Yunan Nasution .
53
Pada masa penjajahan Jepang ini pemerintahan kedudukan Jepang di Indonesia
terbagi atas 3 wilayah yang terpisah satu sama lain, sesuai dengan strategi Jepang sewaktu
menyerbu ke Indonesia. Pulau Jawa dan Sumatera berada dibawah kekuasaan angkatan darat
(Rikugun) sedangkan pulau-pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia bagian Timur berada
dibawah kekuasaan Angkatan Laut
yang juga mengalami pengawasan yang keras.
54
52
George Mcturnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, (Depok: Komunitas Bambu, 2013), hlm.144
.
53
Soebagijo, ADINEGORO Pelopor Jurnalistik Indonesia, (Jakarta: CV. Masagung, 1987), hlm 53
54
Panglima tentara ke-25 yang merupakan panglima tertinggi antara Jepang di Sumatera
di sebut Saiko Sikikan. Untuk melanjutkan pemerintahan dibentuk kantor pemerintahan
militer yang disebut gunseikanbu yang dikepalai oleh gunseikan dan berkedudukan di Bukit
Tinggi serta bertanggung jawab pada saikosikikan.55 Gunsaikanbu di Bukit Tinggi
membawahi 10 gunseiibu di Sumatera atau bekas keresidenan zaman Belanda yang disebut
syu kepala gunseiibu disebut syu chokan. Syu yang ada di Sumatra adalah : Aceh, Sumatera
Timur, Tapanauli, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Palembang, Bangke dan Biliton, Bengkulu,
Lampung. Jabatan syu chokan sampai berakhirnya kekuasaan Jepang tetap dipegang oleh
pejabat Jepang. Untuk menarik kepercayaan Indonesia terhadap kejujuran Jepang, sejak
tahun 1944 Jepang mulai mengangkat orang Indonesia sebagai fuku syu chokan atau sama
dengan wakil residen. Dr. Ferdinand L Tobing yang terpilih sebagai fuku syu chokan untuk
Tapanuli56
Kantor gunseibu semula berkedudukan di Sibolga. Namun Sibolga dianggap kurang
aman karena sering mendapat serangan tembakan dari kapal selam Sekutu sehingga
dipindahkan ke Tarutung yang terletak 66 Km dari Sibolga arah ke pedalaman. Pada masa
kependudukan Jepang struktur dan pembagian wilayah pemerintahan Tapanuli hampir sama
dengan sistem pemerintahan dan pembagian wilayah pada masa Hindia Belanda. Daerah syu
(keresidenan) terbagai atas daerah ken (setara dengan kabupaten) dan shi jika ada , seorang dokter dan cendikiawan masyarakat Sibolga yang dikenal sebagai
seorang dokter berjiwa sosial.
55
M. Panggabean, op.cit, hlm. 41
56
Kotapraja/Staatsgemeente57
Pada jaman Jepang khususnya sistem pemerintahan keresidenan Tapanuli lebih
dititikberatkan pada strategi pertahanan misalnya heiho, gyugun, kaygon heiho dan
badan-badan lainnya. Untuk melaksanakan pemerintahan, Sibolga shico dibantu oleh seorang
Guncho (dulu setingkat dengan Wedana) dan dua orang fuku guncho (kira-kira sama dengan
camat sekarang)
. Oleh sebab itu kota Sibolga disebut shi dan dikepalai oleh
seorang shico. Yang menjadi Sibolga shico adalah S. Takeuchi.
58
Untuk Kuria-kuria lainnya yang termasuk Sibolga Shicho, Guncho Sibolga dibantu
oleh Fuku Guncho, yaitu :
. Guncho Sibolga membawahi pelaksana pemerintahan Sibolga dan
sekitarnya meliputi: Kotapraja/gemeente Sibolga yang terdiri dari: kepala-kepala Lingkungan
I, II, III (dahulu disebut wijkmeester), kapitan Cina, yang mengurus masyarakat Cina
perantauan, kepala-kepala kampung Aek Habil, Sibolga Julu dan Huta Tonga-tonga. Kepala
kuria disekitar Sibolga terdiri kuria Sibolga, kuria Poriaha, kuria Sibuluan, kuria kalangan,
kuria Lopian.
- Fuku Guncho Barus, yang membawahi kepala-kepala kuria yang berada sekitar
Barus
- Fuku Guncho Lumut, yang membawahi kepala-kepala kuria yang berada sekitar
lumut59
Dalam rangka mengambil hati rakyat Indonesia sejak tahun 1944 di setiap syu atau
keresidenan dibentuk suatu badan berupa dewan penasihat tingkat syu, yang disebut syu
57
Sagimun M.D, Ibid
58
Mona Manalu, Sejarah Kota Sibolga Dan Perkembangannya Setelah Kemerdekaan (1945-2011),
(Medan: Tanpa Penerbit, 2011), hlm. 4
59
sangikai. Hal ini juga dilatarbelakangi karena jumlah militer Jepang yang sedikit. Mereka
terpaksa mengambil orang Indonesia untuk mengisi lowongan hampir semua jabatan tingkat
menengah-atas dalam bidang administrasi dan teknis yang dulu diduduki oleh orang Belanda
atau Indo-Eropa. Jadi, hampir semua personel Indonesia dalam bidang pemerintahan
mendapat kenaikan pangkat satu, bahkan kerap mencapai dua atau tiga tingkat dalam hierarki
tempat mereka bekerja60
Para anggota dewan syu ini adalah pemuka-pemuka pemerintahan, masyarakat,
agama dan cendekiawan. Walaupun namanya dewan penasihat, tentu saja nasihatnya harus
sesuai dengan keinginan pemerintah Jepang. Disinilah anggota-anggota dewan harus pandai
membungkus inti dari nasihatnya bagi kepentingan rakyat, agar tidak dicurigai oleh pihak
Jepang yang terpilih sebagai ketua Tapanauli syu sangikai adalah Dr.Ferdinan L Tobing
menggantikan ketua lamanya Mangaraja parlindungan, yang kemudian terpilih sebagai Fuku
Syu Chokan
.
61
Kemudian kira-kira sebelum perang dunia berakhir di Sumatera di bentuk pula
Sumatora Chuo Sangi In yaitu dewan penasihat seluruh Sumatera dan berkedudukan di Bukit
Tinggi.
.
62
Ketua Sumatora Chuo Sangi In ini adalah Moh.Safeii dari Sumatera Barat, seorang
tokoh yang terkenal dengan pendidikan I.N.S di Kayu Tanam (dekat Padang). Yang menjadi
sekretaris adalah Adinegoro, seorang tokoh pers dari Medan.
Anggota-anggota dewan ini antara lain : Teuku Sya’ Arief dari Aceh, Mangaradja
Suongkupon dan HAMKA dari Sumatra Timur, Dr.Ferdinan L Tobing dari Tapanauli, Moh.
Syafeii dari Sumatra Barat, Dr.A.K Gani dari Palembang, Mr.Abbas dari Lampung.
60
George Mcturnan Kahin, op.cit, hlm.145
61
Hamid Panggabean, op.cit, hlm 83
62
Untuk bidang pendidikan, sekolah-sekolah kolonial Belanda terdahulu dilebur
menjadi satu jenis saja yaitu Sekolah Rakyat 6 tahun, yang disebut dalam bahasa Jepang
‘Zinzyo Koto Syogakko’ milik pemerintah. Anak-anak sekolah yang sebelumnya
terkotak-kotak menurut ras dan status sosial orang tuanya pada jaman Jepang harus berbaur sama
tingginya karena Jepang tidak membeda-bedakan status sosial63
Selama pendudukan Jepang pendidikan bangsa Indonesia tidak begitu diperdulikan
oleh pemerintah Jepang. Hal ini dilandasi oleh pemerintah Jepang hanya membutuhkan
rakyat Sibolga untuk kepentingan perang. Walaupun begitu, pendidikan pada masa Jepang
dilaksanakan tanpa diskriminasi golongan. Susunan sekolah disederhanakan yaitu Sekolah
Rakyat, Sekolah Lanjutan (SMP dan SMT), Sekolah Guru Laki-laki (SGL), Sekolah Guru
Putri (SGP), Sekolah Teknik, Sekolah Teknik Tinggi, Sekolah Kedokteran Tinggi, sedangkan
penyelenggaraan sekolah swasta dilarang. Pemerintah Jepang juga mengharuskan pemakaian
bahasa Indonesia di semua tingkat sekolah dan bahasa Jepang. .
64
Para pelajar di Indonesia termasuk di Sibolga pada masa Jepang lebih banyak
mempelajari pelajari militer seperti berbaris (kyoren), senam (taiso), dan gotong royong ala
Jepang (kinrohosi) membantu para Romusha atau mencangkul halaman sekolah untuk
menanam pohon jarak yang digunakan dalam perlengkapan perang.
65
63
Sumarmo, op.cit, hlm. 13
Pemuda-pemuda
Indonesia secara besar-besaran diperkenalkan dengan peperangan. Beribu-ribu pemuda
64
Suradi, dkk, Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986), hlm.16
65
dilatih menjadi militer. Semangat berani mati (jibaku) ditanamkan dikalangan para pemuda.
Banyak juga dari pemuda-pemuda ini merupakan hasil penculikan oleh Jepang.66
Keadaan perekonomian Sibolga setelah pendudukan Jepang lambat laun mulai
merosot. Pada tahun pertama pendudukan Jepang persediaan makanan dan barang masih
memadai. Uang pemerintah Hindia Belanda mulai diganti dengan uang yang dibuat oleh
pemerintah Jepang. Jepang mulai membentuk perusahaan perkebunan yang disebut noyen
renggo kai yang mengurus perkebunan dan menjual hasilnya67. Karena Sibolga bukan
merupakan daerah pertanian melainkan daerah perkebunan terutama karet, maka yang
pertama merasakan akibat pecahnya perang adalah pemilik kebun dan pekerjanya. Karet
tidak dapat lagi diekspor. Sibolga yang bukan merupakan daerah pertanian harus memenuhi
kebutuhan berasnya dari daerah-daerah tetangganya Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan.
Tetapi karena masing-masing daerah menjaga persediaan makanan daerahnya, maka
Pemerintah Jepang mengeluarkan peraturan yang melarang perdagangan dan lalu lintas beras
antar daerah.68
Oleh Jepang rakyat Sibolga yang bertani dianjurkan untuk meningkatkan produksi
berasnya. Tetapi pada musim panen para petani dipaksa menjualnya kepada pemerintah
Jepang dengan harga yang sangat murah. Demikian pula pada petani yang bertanam
sayur-sayuran. Belakangan perdagangan ikan di Sibolga juga dimonopoli oleh pemerintah Jepang.
Jepang mendirikan koperasi kumiai, semua hasil penangkapan ikan tidak boleh dijual
langsung kepada rakyat tetapi harus melalui kumiai. Dengan demikian lebih mudah bagi
66
Marnixius Hutasoit, Percikan Revolusi di Sumatera, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1986), hlm.6
67
Tengku Luckman Sinar, op.cit, hlm. 112
68
Jepang untuk mengontrol ikan yang masuk dan mereka dapat memilih terlebih dahulu ikan
yang masuk dan sisanya dijual kepada rakyat. Untuk mendapatkan ikan sisanya ini rakyat
harus berdesak-desakan karena takut tidak kebagian69
Dalam rangka menghadapi serangan balik terhadap Jepang maka bala tentara Jepang
memperkuat pertahanannya dengan membangun gua pertahanan digunung-gunung sepanjang
pantai. Jepang juga memperkuat infrastruktur pertahanannya dengan membangun jalur-jalur
pertahanan, pangkalan dan dok kapal serta meningkatkan produksi pertambangan
bahan-bahan vital. Proyek tersebut memerlukan banyak tenaga buruh kasar. Untuk memenuhi
tenaga buruh kasar ini Pemerintah Jepang menarik para buruh dari perkebunan yang ada
disekitar Sibolga dan Sumatera Timur. Karena tidak mencukupi kemudian pihak Jepang
mengerahkan dan menangkapi pemuda-pemuda dan bapak-bapak yang masih kuat secara
fisik. Mereka dijadikan pekerja Romusha guna mencapai rencana pemerintah Jepang .
70
Masyarakat Sibolga juga diharuskan mengerjakan dua proyek besar yaitu
pembangunan pangkalan pesawat ampihibi dipelabuhan Sibolga lama dan pembangunan dok
kapal di Pulau Sarudik Sambas. Para pekerja Romusha ini tidak diberlakukan secara layak.
Mereka tidak mendapatkan pakaian selain apa yang melekat ditubuhnya. Setiap hari mereka
bekerja selama hampir 24 jam. Dalam waktu 3-4 bulan saja banyak dari para Romusha ini
menjadi kurus kering. Umumnya mereka terkena borok ulcus tropicum akibat kekurangan
protein yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengana makanan yang cukup.
.
71
69
Wawancara denganLeo Sinaga pada tanggal 17 Oktober 2013 di Sibolga
Banyak dari
70
Wawancara dengan Rosita Silalahi pada tanggal 23 Oktober 2013 di Sibolga
71
para Romusha ini harus meninggal tanpa mendapat penguburan yang layak dari Pemerintah
Jepang.
2.4 Sibolga Pada Masa Kemerdekaan
Saat Jepang sudah mulai melemah dalam perang Pasifik dan tidak mungkin menang,
mereka mulai mengambil hati rakyat Indonesia dengan janji-janji akan memberikan
kemerdekaan bagi Indonesia. Beberapa tokoh masyarakat Indonesia mulai diikut sertakan
dalam pemerintah daerah. Disetiap keresidenan dibentuk semacam dewan penasehat yang di
sebut syu sangi kai dan Dr. Ferdinand Tobing diberikan keperayaan sebagai ketuanya,
menggantikan ketua lama, Mangaraja Parlindungan. Dengan demikian mulailah beliau terjun
dalam bidang pemerintahan yang lebih luas dalam bidang kedokteran72
Pada tahun 1944 Dr.tobing di angkat sebagai Wakil Presiden (fuku syuchikan)
sedangkan jabatan presiden (chokan) masih di tempati oleh pejabat Jepang .
73
Setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta,
panitia kemerdekaan Indonesia dalam sidangnya tanggal 22 Agustus 1945 telah menetapkan
Mr. Teuku M. Hasan sebagai gubernur Sumatera Utara, yang terdiri dari 10 keresidenan dan
salah satu diantaranya adalah Tapanuli. Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Medan, Mr. . Pada waktu itu
kapal sekutu Inggris sudah sering menembaki tangki-tangki minyak di Sibolga. Oleh sebab
Sibolga sebagai pusat pemerintahan keresidenan dianggap sudah tidak aman lagi mana di
pindahkan ke Tarutung (66 km dari sibolga).
72
Zaidar Jalal, Seri Pahlawan DR. F. L. Tobing, (Jakarta:Penerbit Mutiara, 1978), hlm 5
73
Teuku M. Hasan mampir ke Tarutung untuk menyampaikan berita mengenai Proklamasi
kepada Dr.Tobing. Kemudian sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia untuk Sumatera Dr.
Tobing dianjurkan untuk membentuk Komite Nasional Keresidenan Tapanuli74
Untuk mengisi kekosongan pada peralihan kekuasaan dari tangan Jepang ke pihak
Indonesia Dr. Tobing bersama sama tokoh pemerintahan dan tokoh masyarakat Tapanuli di
Tarutung, yaitu Sutan Naga, Abdul Hakim, Dr. Luhut Lumban Tobing, Mr. Rufinus Lumban
Tobing, dan Mr A.H Silitonga mendirikan Badan Keselamatan Rakyat (BKR). Tujuan
tertulisnya adalah bergerak di bidang ekonomi dan sosial tetapi tersirat adalah untuk
menyiapkan diri merealisasikan proklamasi di Tapanuli, sambil menunggu komando dari
gubernur Sumatera Utara. Anggota-anggota dari BKR itu sebagian besar terdiri dari gyugun,
heiho beserta pemuda-pemuda yang sudah pernah mendapat latihan dari Jepang
. Tetapi
anjuran itu belum dapat di laksanakan beliau, karna adanya pertimbangan pertimbangan
Politis, Yuridis dan keamanan di Tapanuli .
75
Situasi Indonesia mulai panas ketika pada tanggal 14 September 1945 para anggota
BKR mengadakan demokrasi ke kantor syuchokan (residen Jepang) menuntut agar Jepang
menyerahkan kekuasaan pemerintahan pada bangsa Indonesia. Pada mulanya pihak jepang
bertahan tidak mau memenuhi tuntuntan BKR tersebut sehingga hampir saja terjadi
pertumpahan darah. Untunglah Dr. Tobing tampil untuk mengendalikan semangat pemuda
yang berapi api. Dipihak lain beliaupun mampu meyakinkan pihak Jepang bahwa jalan
terbaik adalah menyerahkan pemerintahan kepada pihak Indonesia dari pada ke pihak .
74
Edisaputra, Sumatera Dalam Perang Kemerdekaan, (Jakarta: Yayasan Bina Satria’45, 1987), hlm. 123, 124
75