• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN LIFE SKILLANTARAJIGSAWDANVCTDENGAN MEMPERHATIKAN KONSEP DIRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN LIFE SKILLANTARAJIGSAWDANVCTDENGAN MEMPERHATIKAN KONSEP DIRI"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN VCT (VALUE CLARIFICATION

TECHNIQUE) DENGAN MEMPERHATIKAN KONSEP

DIRI SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU

SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 GADINGREJO

PRINGSEWU TAHUN AJARAN 2014/2015

Oleh :

Andreas saut H. malau

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

STUDI PERBANDINGAN LIFE SKILL ANTARA MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN VCT (VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE) DENGAN MEMPERHATIKAN KONSEP DIRI SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 GADINGREJO PRINGSEWU TAHUN

AJARAN 2014/2015

(Skripsi)

Oleh

Andreas Saut H. Malau

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(3)

Gambar Halaman

1. Kerangka Pikir ... 44

2. Hasil Konsep Diri Kelas Eksperimen ... 69

3. Hasil Konsep Diri Kelas Kontrol ... 71

4. HasilLife SkillKelas Eksperimen ... 73

5. HasilLife SkillKelas Kontrol ... 74

6. Life SkillSiswa yang Memiliki Konsep Diri Positif Kelas Kontrol ... 76

7. Life SkillSiswa yang Memiliki Konsep Diri Negatif Kelas Kontrol... 79

8. Life SkillSiswa yang Memiliki Konsep Diri Positif Kelas Eksperimen... 81

(4)

ABSTRAK

STUDI PERBANDINGAN LIFE SKILL ANTARA MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN VCT (VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE) DENGAN MEMPERHATIKAN KONSEP DIRI SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4

GADINGREJO PRINGSEWU TAHUN AJARAN 2014/2015

Oleh

Andreas Saut Halomoan Malau

Penelitian ini mengkaji tentang perbandingan Life Skill antara model pembelajaran Jigsaw dan VCT (Value Clarification Technique) dengan memperhatikan konsep diri pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Gadingrejo, Pringsewu Tahun Ajaran 2014/2015. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan Life Skill serta interaksi antara model pembelajaran dan konsep diri siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparatif dengan pendekatan eksperimen. Populasi penelitian ini 133 siswa dengan jumlah sampel sebanyak 60 siswa. Teknik penelitian ini adalah Cluster Random Sampling. Teknik pengambilan data dengan observasi, dan angket. Pengujian hipotesis menggunakan rumus analisis varian dua jalan dan t-test dua sampel independen.

Hasil analisis data menunjukkan (1) Ada perbedaan life skill siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Jigsaw dibandingkan menggunakan model pembelajaran

VCT (Value Clarification Technique). (2) Life Skill siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Jigsaw lebih tinggi dibandingkan menggunakan VCT (Value Clarification Technique) pada siswa yang memiliki konsep diri yang positif. (3) Life Skill Siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Jigsaw lebih rendah dibandingkan menggunakan VCT(Value Clarification Technique) pada siswa yang memiliki konsep diri yang negatif. (4) Ada interaksi antara model pembelajaran dengan konsep diri siswa terhadap Life Skill

pada mata pelajaran IPS Terpadu.

(5)

Lampiran

1. Daftar Nama Siswa Kelas VIII A (Eksperimen) 2. Daftar Nama Siswa Kelas VIII B (Kontrol) 3. Daftar Nama Kelompok Kelas Eksperimen 4. Daftar Nama Kelompok Kelas Kontrol 5. Silabus

6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen (VIIIA) 7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol (VIIIB) 8. Uji Normalitas

9. Uji Homogenitas 10. Uji T Tes

11. Uji ANAVA 12. Kisi-Kisi Angket

13. Lembar ObservasiLife Skill

14. Lembar Angket Konsep Diri 15. Uji Validitas Angket Konsep Diri 16. Uji Reliabilitas Angket

17. Daftar NilaiLife SkillKelas Eksperimen 18. Daftar NilaiLife SkillKelas Kontrol

19. Daftar Nilai Konsep Diri Kelas Eksperimen 20. Daftar Nilai Konsep Diri Kelas Kontrol 21. Profil Sekolah

(6)

Tabel Halaman

1. Kesenjangan antara Harapan dan Fakta yang Terjadi ... 4

2. Penelitian yang Relevan... 36

3. Desain Penelitian Eksperimen ... 49

4. Penilaian PernyataanFavorabledanUnfavorable... 54

5. Rumus Unsur Tabel Persiapan Anava Dua Jalan ... 59

6. Cara Untuk Menentukan Kesimpulan Hipotesis Anava ... 60

7. Daftar Sarana dan Prasarana SMP Negeri 4 Gading Rejo ... 64

8. Konsep Diri Siswa Kelas Eksperimen ... 69

9. Konsep Diri Siswa Kelas Kontrol ... 70

10. Life Skill Siswa Kelas Eksperimen ... 72

11. Life Skill Siswa Kelas Kontrol ... 74

12. Life Skill Siswa yang Memiliki Konsep Diri Positif Kelas Kontrol ... 76

13. Life Skill Siswa yang Memiliki Konsep Diri Negatif Kelas Kontrol ... 78

14. Life Skill Siswa yang Memiliki Konsep Diri Positif Kelas Eksperimen.. 81

15. Life Skill Siswa yang Memiliki Konsep Diri Negatif Kelas Eksperimen 83 16. Uji Normalitas Data ... 85

17. Rekapitulasi Uji Normalitas ... 86

18. Hasil Uji Homogenitas... 87

19. Hasil Pengujian Hipotesis 1 ... 89

20. Hasil Pengujian Hipotesis 2 ... 90

21. Hasil Pengujian Hipotesis 3 ... 92

(7)
(8)
(9)

“Dream, Believe, Achieve” (Andrea Barzagli)

“Kalau hari ini kita menjadi penonton bersabarlah menjaddi pemain esok hari”

(Alessandro Del Piero)

(10)

Segala puji dan syukur untuk Mu Tuhan Yesus Kristus

atas segala berkat dan anugrah yang Engkau berikan selama ini

.

Dengan Bangga Kupersembahkan Karya Ini Untuk

Ayah

Teima kasih selalu membimbing dan mendoakan agar sukses selalu

hari demi hari.

Ibu Tercinta yang penuh kasih

Dengan Penuh Kesabaran Membimbing Serta Mendidik Agar

Menjadi Manusia yang Lebih Baik hari demi hari. Terima kasih telah

membawa namaku di dalam doamu. Memberi Nasehat dan

Semangat untuk Masa Depan yang Lebih Baik.

Para Pendidik

Terima kasih Telah Berbagi Ilmu dan Pengalaman untuk Bekal

Menghadapi Kehidupan.

Kakak dan Abang Tercinta

Kalian telah membuatku termotivasi untuk segera menyelesaikanya.

Sahabat sahabatku

Terima kasih Telah Memberikan Warna dalam Hidup.

(11)

Penulis di lahirkan di Pringsewu, Kota Pringsewu,

Provinsi Lampung pada tanggal 23 November 1992

dengan nama lengkap Andreas Saut Halomoan Malau.

Penulis merupakan anak terakhir dari enam bersaudara,

Pasangan Bapak M. Malau dan Ibu D. Nainggolan.

Pendidikan formal yang diselesaikan penulis.

1. SD Fransiskus Pringsewu diselesaikan pada tahun 2005

2. SMP N 3 Pringsewu diselesaikan pada tahun 2008

3. SMA Xaverius Pringsewu diselesaikan pada tahun 2011

Pada tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan

Ekonomi Jurusan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas

Lampung melalui jalur Ujian Masuk Lokal (UML). Pada tahun 2014, penulis

mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Solo, Bali, Jogjakarta, Bandung dan

Jakarta. Serta pada bulan Juli-September mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di

Desa Jagaraga, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat dan Program

(12)

Puji dan syukur kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat, karunia,

petunjuk dan kemudahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan judul “STUDI PERBANDINGAN LIFE SKILL ANTARA MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN VCT

(VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE) DENGAN MEMPERHATIKAN

KONSEP DIRI SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 GADINGREJO PRINGSEWU TAHUN AJARAN 2014/2015”.

Selesainya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, motivasi,

bimbingan dan saran dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Unila.

2. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan

Kerjasama FKIP Unila.

3. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial FKIP Unila.

4. Bapak Drs. Tedi Rusman, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

(13)

memberikan motivasi, arahan dan nasehat dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Drs. Yon Rizal, M.Si., selaku pembimbing II dan pembimbing

akademik yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta

memberikan motivasi, arahan dan nasehat dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Bapak Drs. Tedi Rusman, M.Si., selaku penguji skripsi penulis yang telah

membantu mengarahkan dan memotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Unila, terima kasih untuk ilmu

dan pengalamannya yang telah diberikan kepada penulis.

9. Siswa-Siswi SMP Negeri 4 Gadingrejo Pringsewu, terima kasih atas

kerjasama dan kekompakkannya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan

dengan baik.

10. Kedua orang tua, Ibu D. Nainggolan beribu kata terima kasih karena telah

mendoakanku dalam pengharapan-pengharapan yang pasti. Kesabaran,

senyuman, air mata, tenaga dan pikiran tercurah di setiap perjuangan dan

doamu menjadi kunci kesuksesanku di kemudian hari dan Bapak M. Malau

yang selalu sabar mendidik dan sangat menyayangi.

11. Kakak dan Abang tercinta, Kak Ita, Kak Vera, Bang Arnold, Kak Yosi, dan

Kak Maya. Terima kasi atas doa dan motivasinya.

12. Teman-teman seperjuangan, Fredy, Tomi, Irpan, Irpan Hidayat, Komar, Edi, I

Wayan Wendra, Sabri, Ajeng, Leni, Yusmai, Lisna, Eka, Rini, Esti, Wulan,

(14)

13. Teman-teman seluruh angkatan 2011 Ganjil dan Genap yang tidak dapat

disebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas kebersamaannya selama

ini.

14. Teman KKN-KT, Agung, Dapi, Mira, Irma, Resti, Rosa, Riska, Neti, Erlina.

Satu lagi, Noris (temen ngopi) terima kasih telah memberikan banyak

pengalaman dan kebahagiaan. Juga semua warga kabupaten Lampung Barat

khususnya desa Jagaraga, terima kasih telah menerima kami selama tiga

bulan.

15. Teman-teman kosan Nata, Mardi, Rio, Riyan, Arief, dan Ando dll, suatu

kehormatan punya sahabat seperti kalian. Semoga kita semua sukses.

16. Teman-teman Pringsewu Rizal, Riko, Ebit, Bintang, Nunut, dll. Terima kasih

atas bantuannya selama ini, sukses.

17. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.

Semoga segala bantuan, bimbingan, dorongan dan doa yang diberikan kepada

penulis mendapat berkat dari Tuhan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak. Amin.

Bandar Lampung, September 2015 Penulis,

(15)
(16)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR TABEL...v

DAFTAR GAMBAR ………..vi

DAFTAR LAMPIRAN ………..vii

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah... 1

B. Identifikasi masalah... 9

C. Pembatan masalah... 9

D. Rumusan masalah... 10

E. Tujuan Penelitian... 11

F. Kegunaan Penelitian... 11

G. Ruang Lingkup Penelitian... 12

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka... 13

1. Pengertian Life Skill... 13

2. Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw... 17

3. Pengertian Model Pembelajaran VCT... 23

4. Pengertian Konsep Diri ………...……….. 30

B. Penelitian yang Relevan... 36

C. Kerangka Pikir... 39

D. Hipotesis Penelitian... 45

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian... 46

B. Populasi dan Sampel... 47

1. Populasi... 47

2. Sampel... 47

(17)

F. Definisi Operasional Variabel... 51

G. Instrumen Penelitian ... 53

H. Uji Persyaratan Instrumen...55

1. Uji Validitas... 55

2. Uji Reliabilitas... 56

I. Uji Persyaratan Statistik Parametrik... 57

1. Uji Normalitas... 57

2. Uji Homogenitas... 58

J. Teknik Analisis Data ………... 58

1. T-Tes Dua Sampel Independen... 58

2. Analisis Varians Dua Jalan... 60

K. Pengujian Hipotesis………61

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... ….64

1. Sejarah Singkat Berdirinya SMP Negeri 4 Gadingrejo... ….64

2. Situasi dan Kondisi SMP Negeri 4 Gadingrejo ... ….65

3. Visi dan Misi SMP Negeri 4 Gadingrejo ... ….66

4. Proses belajar mengajar SMP Negeri 4 Gadingrejo ... ….68

5. Gambaran Umum Responden ... ….68

6. Struktur Organisasi Sekolah ... ….68

B. Deskripsi Data ... ….69

1. Data Konsep Diri Siswa ... ….69

a. Deskripsi Data Konsep Diri Siswa pada Kelas Eksperimen (Model Jigsaw) ... ….69

b. Deskripsi Data Konsep Diri Siswa pada Kelas Kontrol (Model VCT) ... ….71

3. Data Life Skill Siswa dengan Memperhatikan konsep diri Siswa pada Kelas Kontrol ... ….76

a. Deskripsi Data Life Skill Siswa yang Memiliki konsep diri positif Kelas Kontrol (Model VCT) ... ….76 b. Deskripsi Data Life Skill Siswa yang Memiliki konsep diri negatif Kelas Kontrol (Model VCT) ... ….78

4. Data Life Skill Siswa dengan Memperhatikan konsep diri Siswa pada Kelas Eksperimen ... ….81

(18)

1. Uji Normalitas ... ….86

2. Uji Homogenitas ... 87

D. Pengujian Hipotesis ... 89

E. Pembahasan ... 97

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 107

B. Saran ... 108

(19)

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap

manusia. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam

kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan.

Pendidikan diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan menjadi

mendidik. Mendidik berarti memelihara atau memberi latihan mengenai

akhlak dan kecerdasan pikiran. Dari pengertian ini didapat beberapa hal yang

berhubungan dengan Pendidikan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah suatu usaha

manusia untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok

orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

latihan. Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha manusia untuk

memanusiakan manusia itu sendiri. Dalam pendidikan terdapat dua subjek

pokok yang saling berinteraksi. Kedua subjek itu adalah pendidik dan subjek

didik. Sehingga pada pendidikan terjadi interaksi antara pendidik dengan

(20)

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab.”

Oleh sebab itu, pendidikan merupakan modal utama untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa. Penyelenggaraan pendidikan dapat dibedakan menjadi

pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan formal adalah segala

bentuk pendidikan atau pelatihan yang diberikan secara terorganisasi dan

berjenjang, baik bersifat umum maupun bersifat khusus. Contohnya adalah

pendidikan SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi negeri ataupun swasta.

Pendidikan Informal dalah jenis pendidikan atau pelatihan yang terdapat di

dalam keluarga atau masyarkat yang diselenggarakan tanpa ada organisasi

tertentu (bukan organisasi). Pendidikan nonformal adalah segala bentuk

pendidikan yan diberikan secara terorganisasi tetapi di luar wadah pendidikan

formal.

Pada dasarnya setiap kegiatan yang dilakukan akan menimbulkan dua macam

dampak yang saling bertentangan. Kedua dampak itu adalah dampak positif

dan dampak negatif. Dampak positif adalah segala sesuatu yang merupakan

harapan dari pelaksanaan kegiatan tersebut, dengan kata lain dapat disebut

sebagai ’Tujuan’. Sedangkan dampak negatif adalah segala sesuatu yang

bukan merupakan harapan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, sehingga

dapat disebut sebagai hambatan atau masalah yang ditimbulkan. Jika

(21)

pendidikan akan menimbulkan dampak negatif yang disebut sebagai masalah

dan hambatan yang akan dihadapi. Hal ini akan lebih tepat bila disebut

sebagai permasalahan pendidikan. Istilah permasalahan pendidikan

diterjemahkan dari bahasa inggris yaitu “problem“. Masalah adalah segala

sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Sedangkan kata

permasalahan berarti sesuatu yang dimasalahkan atau hal yang dimasalahkan.

Jadi, permasalahan pendidikan adalah segala sesuatu hal yang merupakan

masalah dalam pelaksanaaan kegiatan pendidikan.

Salah satu program utama pengembangan pendidikan di Indonesia adalah

meningkatkan mutu pendidikan. Upaya untuk meningkatkan mutu

pendidikan, fungsi sekolah sangat penting. Sekolah merupakan suatu lembaga

pendidikan yang mempunyai tugas untuk membentuk manusia berkualitas

dalam pengetahuan, sikap, maupun keterampilan yang pencapaiannya

dilakukan terencana, terarah, dan sistematis. Semakin maju masyarakat

semakin penting peranan sekolah dalam mengembangkan kemampuan peserta

didiknya untuk memiliki kemampuan bersaing secara global.

Salah satu jenjang pendidikan formal yang dapat mengembangkan

kemampuan peserta didik adalah sekolah menengah pertama. SMP Negeri 4

Gadingrejo merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Pringsewu

Kecamatan Gadingrejo. SMP Negeri 4 Gadingrejo sendiri terletak di

lingkungan yang cukup sunyi, yaitu terletak di bawah pegunungan dan di

kelilingi persawahan sehingga aktivitas belajar dapat berjalan dengan baik di

(22)

pelajaran tertentu terutama IPS Terpadu. Selain itu, berdasarkan pengamatan

guru selama proses pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A dan VIII B

SMP Negeri 4 Gadingrejo, peserta didik kurang dalam menunjukkanlife

skills-nya. Berikut ini adalah hasil pengamatan tentang prilaku siswa yang

mencerminkanlife skill yang masih rendah.

Tabel 1. Kesenjangan antara Harapan dan Fakta yang Terjadi

No Fakta yang terjadi Harapan yang diinginkan

1 Siswa belum menyadari apa yang menjadi kelebihan dan

kekurangan yang dimiliki sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan makhluk sosial.

Siswa dapat menyadari dan

mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus

menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

2 Siswa masih mengandalkan dan berdasarkan perintah guru dalam memperoleh informasi.

Siswa dapat menggali dan menemukan informasi sendiri.

3 Di dalam kelas siswa sulit mengambil kesimpulan dalam hasil diskusi.

Siswa dapat mengolah dan mengambil keputusan termasuk dalam

pembahasan diskusi. 4 Siswa masih kurang baik dalam

berkomunikasi secara lisan dan tulisan.

Siswa dapat berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan.

Berdasarkan penelitian pendahulan dan wawancara dengan guru yang saya

lakukan, masih banyak siswa yang belum bisa bekerjasama dengan baik dan

aktif dalam kegiatan kelompok belajar. Demikian pula menggali informasi

dan memecahkan masalah juga siswa masih belum menguasainya dengan

baik, sedangkanUNESCO merekomendasikan “empat pilar pembelajaran”

untuk memasuki era globalisasi, yaitu

“Program pembelajaran yang diberikan hendaknya mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat sehingga mau dan mampu belajar

(23)

untuk hidup dalam era sekarang dan memiliki orientasi hidup ke masa depan (learning to be). Pembelajaran tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk keterampilan untuk dirinya sendiri, tetapi juga

keterampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan hidup dalam pergaulan antar bangsa-bangsa dengan semangat kesamaan dan kesejajaran (learning to live together)”.

Sejalan dengan itu Hidayanto (2002 : 5) menjabarkan empat pilar menjadi: pengetahuan, ketrampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk

menyesuaikan diri dan bekerjasama. Keempat pilar tersebut, merupakan pilar-pilar belajar yang harus menjadi basis dari setiap lembaga

pendidikan baik pendidikan formal (PF) maupun pendidikan Non-formal (PNF) dan pendidikan inNon-formal (PI) dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang bertujuan pada hasil belajar aktual yang diperlukan dalam kehidupan manusia. Empat pilar belajar tersebut tidak bisa dilihat sebagai suatu yang berdiri sendiri, melainkan keempatnya merupakan suatu garis kontinum dalam proses pencapaiannya.

Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan

model mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar. Guru-guru yang telah

berpengalaman umumnya sependapat, bahwa masalah ini sangat penting bagi

para calon guru karena menyangkut kelancaran tugasnya. Model mengajar

yang dipergunakan akan menentukan suksesnya pekerjaan saudara selaku

guru kelas. Cara guru mengajar merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhilife skill (kecakapan hidup) siswa. Guru yang mengajar

dengan model konvensional, seperti halnya model yang banyak digunakan

para pengajar di SMP Negeri 4 Gadingrejo, Pringsewu yang mana dengan

model ini guru akan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan

kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif sehingga

kurang menumbuhkan semangat dan kreativitas siswa. Aktivitas siswa pun

kurang sehingga sering menimbulkan kebosanan. Selain itu, ilmu yang

diperoleh siswa hanya sebatas apa yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu,

(24)

Perlu adanya perubahan dalam proses pembelajaran di sekolah untuk

menciptakan suasana yang aktif dan menyenangkan bagi siswa sehingga pada

akhirnya akan meningkatkan pemahaman belajar siswa. Hal ini sudah

sepatutnya diterapkan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran

kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan bagi

siswa untuk bekerjasama dengan sesama siswa lainnya dalam menjalankan

tugas-tugas yang terstruktur. Model-model pembelajaran tersebut dapat

diterapkan agar proses pembelajaran menjadi bervariasi dan tidak monoton.

Hal ini dilakukan agar siswa tidak merasa jenuh dalam belajar. Akan tetapi

pada kenyataannya, model pengajaran guru di dalam kelas masih

menggunakan model konvensional atau model ceramah sehingga dalam

kegiatan belajar-mengajar menimbulkan kejenuhan pada siswa. Penggunaan

model seperti ini juga membuat siswa tidak aktif dalam proses belajar.

Guru berperan dominan dalam kegiatan belajar-mengajar, baik dalam

mempersiapkan, menyusun dan memprogram proses pembelajaran di

sekolah. Kondisi pembelajaran berpusat pada guru (teacher center), guru

bersikap aktif sedangkan siswanya pasif sehingga proses pembelajaran

kurang melibatkan para siswa baik secara fisik maupun mental dalam

kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran demikian membuat sebagian

besar siswa kurang beminat. Kondisi ini ditunjukkan dengan jumlah siswa

yang bertanya sangat sedikit, kurang adanya keberanian untuk berpendapat

(25)

merasa cukup menerima materi yang telah dipersiapkan oleh guru yang dikait

dalam pembelajaran.

Situasi dan kondisi pembelajaran tersebut berpengaruh pada tingkat

pencapaian peningkatan pemahaman siswa yang rendah.

Kejenuhan yang dialami siswa dalam proses pembelajaran bukan hanya

semata disebabkan oleh cara pengajaran guru yang monoton, akan tetapi

terdapat faktor lain yang mempengaruhi kejenuhan siswa diantaranya yaitu

kondisi fisik, kepribadian, keyakinan, pendidikan, lingkungan, dan budaya.

Tipe model pembelajaran yang bervariasi akan memudahkan guru untuk

memilih tipe yang paling sesuai dengan pokok bahasan, tujuan pembelajaran,

suasana kelas, sarana yang dimiliki dan kondisi internal siswa. Model

pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu model pembelajaran Jigsaw dan

model pembelajaran VCT (Value Clarification Technique). Kedua model

pembelajaran kooperatif tersebut dapat diterapkan pada mata pelajaran IPS

Terpadu.

Menurut Zubaedi (2012: 288) mendefinisikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai mata pelajaran di sekolah yang didesain atas dasar fenomena, masalah dan realitas sosial dengan pendekatan interdisipliner yang melibatkan berbagai cabang ilmu-ilmu dan humanioran seperti kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, pendidikan. Hal tersebut berarti bahwa IPS Terpadu mempelajari masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat sehingga harus memadukan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan Maryani (2011: 12) menyatakan tujuan mata pelajaran IPS Terpadu sebagai berikut.

a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

(26)

d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan kompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.

Berdasarkan tujuan di atas, diharapkan penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe Jigsaw dan VCT (Value Clarification Technique)pada mata

pelajaran IPS Terpadu dapat meningkatkanlife skillsiswa di SMP Negeri 4

Gadingrejo. Melalui pembelajaran IPS Terpadu peserta didik akan mengenal

konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dengan

lingkungannya. PeningkatanLife Skilldipengaruhi oleh berbagai factor

psikologis yang terdapat dalam diri siswa. Diantara faktor tersebut yang

diduga berpengaruh adalah konsep diri. Peserta didik akan membutuhkan

pemahaman tentang konsep diri dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan

sekitarnya. Konsep diri akan diperoleh melalui proses pembelajaran dan

pengalaman hidup. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Gunawan (2004:

24) konsep diri terbentuk melalui.

1. Diperoleh melalui proses pembelajaran, bukan faktor keturunan. 2. Diperkuat melalui pengalaman hidup yang dialami setiap hari. 3. Dapat berubah secara drastis.

4. Mempengaruhi semua proses berpikir dan berprilaku. 5. Mempengaruhi proses pembelajaran dan presentasi.

6. Dapat dibangun dan dikembangkan dengan mengganti sistem kepercayaan yang merugikan dan menggantiself talkyang negatif dengan yang positif.

7. Bila konsep diri yang buruk terdapat dalam diri seorang guru atau orang tua maka ini akan sampai kepada siswa atau anak baik melalui komunikasi sadar atau komunikasi bawah sadar.

Model pembelajaran Jigsaw dan VCT dapat meningkatkanlife skill,dengan

memperhatikan konsep diri yaitu rasa percaya diri dan lebih optimistis

(27)

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka diperlukan penelitian

yang berjudul“Studi PerbandinganLife SkillAntara Model

Pembelajaran Jigsaw dan Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) dengan Memperhatikan Konsep Diri Siswa pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Gadingrejo PringsewuTahun Ajaran 2014/2015”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka masalah penelitian

dapat diidentifikasi sebagai berikut.

1. Masih belum sesuai harapanlife skillpada diri siswa terkait mata

pelajaran IPS Terpadu.

2. Aktivitas siswa sangat rendah di dalam kelas.

3. Model pembelajaran masih kurang efektif untuk meningkatkanLife Skill.

4. Siswa kurang memperhatikan pelajaran di dalam kelas.

5. Guru belum memperhatikan faktor-faktor psikologis yang berpengaruh

terhadapLife Skill.

6. Siswa kurang tertarik dan tidak berpusat pada pembelajaran.

7. Kurangnya variasi model pembelajaran yang diterapkan oleh guru.

8. Proses belajar mengajar yang masih monoton sehingga siswa merasa

bosan di kelas.

9. Guru belum memperhatikan konsep diri sebagai salah satu faktor yang

diduga berpengaruh terhadapLife Skill.

10. Lemahnya konsep diri siswa sehingga menimbulkan ketidak-percayaan

(28)

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka masalah

dalam penelitian ini dibatasi pada kajian perbandinganLife Skillantara Model

Pembelajaran Jigsaw dan Model Pembelajaran VCT (Value Clarification

Technique) kelas VIII SMP Negeri 4 Gadingrejo Pringsewu Tahun Ajaran

2014/2015. Dengan memperhatikan pengaruh variabel moderator yaitu

Konsep Diri. Dalam penelitian ini pada kajian perbandinganLife Skill

dibatasi oleh indikator-indikatornya yaitu antara lain,personal skill, thinking

skill, dan social skill.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah,

maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Apakah terdapat perbedaanlife skill antara siswa yang pembelajarannya

menggunakan model pembelajaran Jigsaw dengan VCT (Value

Clarification Technique)?

2. Apakahlife skillsiswa yang pembelajarannya menggunakan model

pembelajaran Jigsaw lebih baik dibandingkan menggunakan VCT (Value

Clarification Technique) pada siswa yang memiliki konsep diri yang

positif?

3. Apakahlife skillsiswa yang pembelajarannya menggunakan model

pembelajaran Jigsaw lebih baik dibandingkan menggunakan VCT (Value

Clarification Technique) pada siswa yang memiliki konsep diri yang

(29)

4. Apakah ada interaksi antara model pembelajaran dengan konsep diri

terhadaplife skillpada mata pelajaran IPS Terpadu?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui perbedaanlife skillsiswa pada pelajaran IPS Terpadu yang

pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan VCT

(Value Clarification Technique).

2. Mengetahui keefektifan model pembelajaran Jigsaw dibandingkan

dengan VCT (Value Clarification Technique) dalam mencapai indikator

life skillpada siswa yang memiliki konsep diri yang positif.

3. Mengetahui keefektifan model pembelajaran Jigsaw dibandingkan

dengan VCT (Value Clarification Technique) dalam mencapai indikator

life skillpada siswa yang memiliki konsep diri yang negatif.

4. Mengetahui interaksi antara model pembelajaran dengan konsep diri

terhadaplife skillpada mata pelajaran IPS Terpadu.

F. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi lebih

lengkap mengenai penelitian yang menekankan pada penelitian model

pembelajaran yang berbeda pada mata pelajaran IPS Terpadu.

Sumbangan khasanah keilmuan serta untuk melengkapi teori yang sudah

(30)

2. Secara Praktis

Bagi sekolah hasil penelitian diharapkan menjadi salah satu bahan

rujukan yang bermanfaat untuk perbaikan mutu pelajaran. Bagi guru

mata pelajaran IPS Terpadu diharapkan hasil penelitian ini dapat

memberikan masukan dalam pemilihan alternatif model pembelajaran

yang mampu meningkatkan hasil belajar danlife skillsiswa. Bagi siswa,

untuk membantu peningkatanlife skill. Bagi peneliti, sebagai referensi

yang ingin meneliti lebih lanjut.

G. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Objek penelitian

Objek penelitian ini adalah model pembelajaran Jigsaw, VCT (Value

Clarification Technique), life skill, dan konsep diri.

2. Subjek penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII.

3. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Gadingrejo Pringsewu.

4. Waktu penelitian

(31)

A. Tinjauan Pustaka

1. Life Skill (Kecakapan Hidup)

Brolin dalam Anwar (2004: 20) menjelaskan bahwalife skillatau

kecakapan hidup adalah sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan

yang diperlukan oleh seseorang agar menjadi independen dalam

kehidupan. Pendapat lain mengatakan bahwalife skillmerupakan

kecakapan yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat bahagia dalam

kehidupan.

Fajar (2002: 18) mengatakan bahwalife skilladalah;

Kecakapan yang dibutuhkan untuk bekerja selain kecakapan dalam bidang akademik. Sementara ituTeam Broad Base Education

Depdiknas mendefinisikan bahwalife skilladalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang agar berani dan mau menghadapi segala permasalahan kehidupan dengan aktif dan proaktif sehingga dapat menyelesaikannya.

Sedangkan Slamet PH mendefinisikanlife skilladalah kemampuan,

kesanggupan dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk

menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Kecakapan tersebut

mencakup segala aspek sikap perilaku manusia sebagai bekal untuk

(32)

Satori (2002: 20)life skills dapat dinyatakan sebagai:

kecakapan untuk hidup. Istilah hidup, tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu saja (vocational job), namun ia harus

memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti : membaca, menulis, menghitung, merumuskan, dan

memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja, mempergunakan teknologi.

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani

menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa

tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan

solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Fajar, 2002 : 11).

Menurut Delor (2012 : 1) mengatakan bahwa pada dasarnya programlife

skillsini berpegang pada empat pilar pembelajaran yaitu sebagai berikut:

1.Learning to know(belajar untuk memperoleh pengetahuan).

2.Learning to do(belajar untuk dapat berbuat/bekerja).

3. Learning to be(belajar untuk menjadi orang yang berguna).

4.Learning to live together(belajar untuk dapat hidup bersama dengan

orang lain).

Pendidikanlife skill adalah pendidikan yang memberikan bekal dasar dan

latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang

nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan dan berguna bagi perkembangan

kehidupan peserta didik. Dengan demikian, pendidikanlife skillharus

dapat merefleksikan kehidupan nyata dalam proses pengajaran agar

peserta didik memperoleh kecakapan hidup tersebut, sehingga peserta

(33)

Sedangkan pelaksanaan pendidikanlife skilladalah bervariasi ,

disesuaikan dengan kondisi anak dan lingkungannya, namun memiliki

prinsip-prinsip umum yang sama. Berikut ini adalah prinsip umum

pendidikanlife skill, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan

pendidikan di Indonesia (Hariyanto 2012: 18):

1. tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku;

2. tidak harus dengan mengubah kurikulum, tetapi yang diperlukan adalah penyiasatan kurikulum untuk diorientasikan dan

diintegrasikan kepada pengembangan kecakapan hidup; 3. etika-sosio-religius bangsa dapat diintegrasikan dalam proses

pendidikan;

4. pembelajaran menggunakan prinsiplearning to know, learning to do, learning to be,danlearning to live together;

5. pelaksanaan pendidikanlife skilldengan menerapkan menejemen berbasis sekolah (MBS);

6. potensi wilayah sekitar sekolah dapat direfleksikan dalam penyelenggaraan pendidikan, sesuai dengan prinsip pendidikan kontekstual dan pendidikan berbasis luas (broad base education); 7. paradigmalearning for life and school to workdapat dijadikan

dasar kegiatan pendidikan, sehingga terjadi pertautan antara pendidikan dengan kehidupan nyata peserta didik;

8. penyelenggaraan pendidikan harus selalu diarahkan agar peserta didik menuju hidup yang sehat, dan berkualitas, mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang luas serta memiliki akses untuk mampu memenuhi hidupnya secara layak.

Menurut peraturan Depdiknas (2003: 21) menyatakan bahwa:

“Ciri pembelajaranlife skilladalah (1) terjadi proses identifikasi kebutuhan belajar, (2) terjadi proses penyadaran untuk belajar bersama, (3) terjadi keselarasan kegiatan belajar untuk

mengembangkan diri, belajar, usaha mandiri, usaha bersama, (4) terjadi proses penguasaan kecakapan personal, sosial, vokasional, akademik, manajerial, kewirausahaan, (5) terjadi proses pemberian pengalaman dalam melakukan pekerjaan dengan benar, (6) terjadi proses interaksi saling belajar dari ahli, (7) terjadi proses penilaian kompetensi, dan (8) terjadi pendampingan teknis untuk bekerja”.

Apabila dihubungkan dengan pekerjaan tertentu,life skilldalam lingkup

(34)

(kemampuan kejuruan). Pada dasarnyalife skillmembantu peserta didik

dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn),

menghilangkan kebiasaan dan pola pikir yang tidak tepat(learning how

to unlearn). Menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan

dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan, dan

memecahkan secara kreatif.

Slamet (2002: 551), memberikan harapan-harapan yang ingin dicapai

dalam penerapan pendidikanlife skilldiantara harapan tersebut adalah:

Pertama, setelah mendapat pendidikanlife skill peserta didik mempunyai aset kualitas batiniyah, sikap dan perbuatan yang siap menghadapi perkembangan masa depan. Kedua, peserta didik memiliki wawasan perkembangan karir, sehingga mampu memilih, memasuki, bersaing dan maju dalam dunia kerja. Ketiga, peserta didik memiliki kemampuan untuk survival dalam kemandiriannya dan belajar tanpa bimbingan. Keempat, peserta didik memiliki tingkat kemandirian, keterbukaan, kerjasama dan akuntabilitas yang menjadi sikap mentalnya sehingga mampu hidup bahagia ditengah-tengah perkembangan zaman. Kelima, peserta didik memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.

Manfaat yang diharapkan dari pendidikanlife skillada dua, yang pertama

adalah manfaat bagi pribadi peserta didik, sedang yang kedua adalah

manfaat bagi lingkungan dimana peserta didik itu berada atau bagi

masyarakat luas. Manfaat bagi pribadi peserta didik diantaranya adalah

pendidikanlife skill dapat meningkatkan kualitas berpikir, kualitas kalbu

dan kualitas fisik. Bagi masyarakat pendidikan kecakapan hidup dapat

meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan

indikator-indikator adanya peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku

(35)

pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampu memadukan

nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni (cita rasa).

Indikator-indikator yang terkandung dalam life skills (Ditjen Penmum:

2002):

1. Kecakapan personal(personal skill) adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk memiliki kesadaran atas eksistensi dirinya dan kesadaran akan potensi dirinya. 2. Kecakapan berpikir(thinking skill) atauKecakapan

akademik(Academic Skill) meliputi kecakapan menggali informasi, kecakapan mengolah informasi, kecakapan

mengambil keputusan, dan kecakapan memecahkan masalah. 3. Kecakapan sosial(social skill) adalah kecakapan yang

dimiliki seseorang untuk mampu berkomunikasi lisan, berkomunikasi tertulis, dan bekerja sama.

4. Kecakapan vokasional(Vocational Skill) sering juga disebut

kecakapan kejuruan. Kecakapan kejuruan artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di dalam masyarakat.

Kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan berpikir, dan

kecakapan vokasional bukanlah kecakapan hidup (life skill) yang dapat

dipilah-pilah dalam pelaksanaan atau dalam kenyataan. Keempat

kecakapan itu kadang-kadang bisa menyatu dalam dan melebur dalam

tindakan. Tindakan yang menyatukan dan meleburkan kecakapan

tersebut biasanya melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan

intelektual. Akan tetapi, di dalam pembelajaran, guru dapat memberikan

stresing (penekanan) kepada kecakapan tertentu.

2. Model Pembelajaran Jigsaw

Model pembelajaran Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Aronson dan

(36)

teman-teman di Universitas John Hopkins (Trianto, 2009:73). Sedangkan

menurut Rusman (2011: 217) arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah

gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilahpuzzleyaitu

sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Model Jigsaw ini

mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa

melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerjasa sama dengan

siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Rusman (2011:218) model pembelajaran Jigsaw adalah:

sebuah model belajar yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Lie dalam Rusman (2011:

218), bahwa “Pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini merupakan

model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil

yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa

bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara

mandiri”.

Menurut Arends dalam Purnamasari (2010: 24) menyatakan bahwa:

(37)

menyampaikan informasinya kepada kelompok lain. Dalam model kooperatif Jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Menurut Lie dalam Mirnasari (2009: 25) menyatakan bahwa:

dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Jadi, keunggulan kooperatif tipe Jigsaw meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, akan tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain. Namun demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki keterbatasan, misalnya tidak dapat digunakan di kelas yang kemampuan

sosialisasinya rendah.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa Jigsaw adalah

suatu pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam

satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi

belajar akan tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan

materi tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain.

Jhonson and Jhonson dalam Rusman (2011: 219) melakukan penelitian

tentang pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang hasilnya

menunjukkan bahwa interaksi kooperatif memiliki berbagai pengaruh

positif terhadap perkembangan anak. Pengaruh positif tersebut adalah

sebagai berikut.

a. Meningkatkan hasil belajar. b. Meningkatkan daya ingat.

c. Dapat digunakan untuk mencapai tarap penalaran tingkat tinggi. d. Mendorong hubungan antar manusia yang heterogen.

e. Meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah. f. Meningkatkan sikap positif terhadap guru.

(38)

h. Meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif dan Meningkatkan keterampilan hidup gotong royong.

i. Tumbuhnya motivasi intrinsic (kesadaran individu).

Rusman (2011: 219) menyataka bahwa:

pembelajaran model Jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada

permasalahan yang berbeda. Tetapi permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, setiap utusan dalam kelompok yang berbeda membahas materi yang sama, kita sebut sebagai tim ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi, selanjutnya hasil pembahasan itu dibawa ke kelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya.

Stephen, Sikes and Snapp dalam Rusman (2011: 219) mengemukakan

langkah-langkah pembelajaran kooperatif model Jigsaw sebagai berikut.

1. Siswa dikelompokan ke dalam 1-5 anggota tim.

2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. 3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan. 4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari

bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.

5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.

6. Tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7. Guru member evaluasi.

8. Penutup.

Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok

ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa

terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan

memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus terampil dan

mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi

setiap anggota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok

(39)

ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan

kepada anggota kelompok asal.

Ibrahim, dkk (2011: 70) menyatakan bahwa dalam pelaksanaan

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki kelebihan dan kekurangan,

di antara kelebihannya, yaitu:

1. dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain;

2. siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan;

3. setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya; 4. dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan

positif;

5. setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.

Sedangkan Ibrahim (2011: 71) kekurangannya, yaitu:

1. membutuhkan waktu yang lama;

2. siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandai pun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

Kunci tipe Jigsaw ini adalahinterdependencesetiap siswa terhadap

anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para

siswa harus memiliki tanggungjawab dan kerjasama yang positif dan

saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan

masalah yang diberikan. Jadi pada dasarnya, dalam model ini guru

membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen

yang lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok

belajar kooperatif yang terdiri dari 4-6 orang sehingga setiap anggota

bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap subtopik yang ditugaskan

(40)

bertanggung jawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok

lagi yang terdiri dari dua atau tiga orang.

Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya

dalam hal. Pertama, siswa belajar dan menjadi ahli dalam subtopik

bagiannya dan selanjutnya siswa merencanakan bagaimana mengajarkan

subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu

siswa tersebut kembali kepada kelompok masing-masing sebagai “ahli”

dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya

juga bertindak serupa sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk

menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan

oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus

menguasai topik secara keseluruhan.

Jika dilihat dari proses penerapannya maka model pembelajaran ini

merupakan implementasi teori belajar konstruktivisme. Menurut

Hariyanto (2010: 1) dalam teori konstruktivisme siswa dapat berpikir

untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan.

Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam membina

pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu

mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selain itu, siswa terlibat secara

(41)

3. Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique)

Value Clarification Technique(VCT) sebagai teknik pengajaran untuk

menanamkan dan menggali mengungkapkan nilai-nilai tertentu dalil pada

diri siswa. VCT adalah sebuah metode dalam model pembelajaran

mediatif, VCT biasanya digunakan khususnya untuk pendidikan nilai/

afektif. Dalam konteks pendidikan persekolahan di Indonesia istilah VCT

sebenarnya sudah dikenal sejak berlakunya kurikulum 1975, yang

diartikan sebagai “Teknik Pembinaan Nilai”. Pembelajaran VCT dapat

dikembangkan dalam berbagai cara yang tentunya telah diadaptasi dari

Negara-negara barat. Beberapa diantaranya adalah model VCT dari

Kohelberg yang terkenal dengan“Controversial Issues”, VCT model

Hilda Taba yang terkenal dengan nama model “Value Inquiry Question

dan kemudian Simon, dkk. Teknik mengklarifikasi nilai (Value

Clarification Technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan

sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan

menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu

persoalan melaui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam

dalam diri siswa.

Menurut Djahiri (2009) model pembelajaran VCT meliputi:

metode percontohan; analisis nilai; daftar/matriks; kartu keyakinan; wawancara, yurisprudensi dan teknik inkuiri nilai. Selain itu, dikenal juga dengan metode bermain peran. Metode dan model di atas dianggap sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan PKn, karena kedua mata pelajaran tersebut mengemban misi untuk membina nilai, moral, sikap dan prilaku siswa, di samping

(42)

VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan

pencapaian pendidikan nilai. Pembelajaran VCT menurut Djahiri (2009:

115), mengemukakan bahwa:

Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi untuk:a)

mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai;b)

membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya;c)menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya.

Dengan kata lain, Djahiri (2009: 116) mengemukakan bahwa“VCT

dimaksudkan untuk melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara

menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk

kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat”.

VCT juga dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena; pertama,

mampu membina dan mempribadikan nilai dan moral; kedua, mampu

mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan;

ketiga mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa

dan nilai moral dalam kehidupan nyata; keempat, mampu mengundang,

melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama

potensi afektualnya; kelima, mampu memberikan pengalaman belajar

dalam berbagai kehidupan; keenam, mampu menangkal, meniadakan

mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai moral naif yang ada

dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang; ketujuh,

(43)

VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai

yang menurut anggapannya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut

akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Dalam praktik pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog

antara guru dan siswa. Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam

suasana santai dan terbuka, Sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan

secara bebas perasaannya. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru

dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog, yaitu sebagai

berikut.

1. Hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasihat, yaitu

memberikan pesan-pesan moral yang menurut guru dianggap baik.

2. Jangan memaksa siswa untuk memberi respons tertentu apabila

memang siswa tidak menghendakinya.

3. Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, Sehingga

siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa

adanya.

4. Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kelompok kelas.

5. Hindari respons yang dapat menyebabkan siswa terpojok, sehingga

ia menjadi defensive.

6. Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu.

7. Jangan mengorek alasan siswa lebih dalam.

Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap

adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya

(44)

memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa. Akibatnya,

sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena

ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru

yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam

menyelaraskan nilai lama dan nilai baru. Salah satu karakteristik VCT

sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses

penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada

sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan

nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan.

Langkah model pembelajaran VCT Jarolimek (2002) menjelaskan

langkah pembelajaran denganValue Clarification Technique(VCT)

dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat, setiap tahapan dijelaskan

sebagai berikut.

1. Kebebasan Memilih. Pada tingkat ini terdapat 3 tahap, yaitu: (1) Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh; (2) Memilih dari beberapa alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas; (3) Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.

2. Menghargai. Terdiri atas 2 tahap pembelajaran, yaitu; (1) Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dari dirinya; (2) Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita

menggagap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain. 3. Berbuat. Pada tahap ini, terdiri atas 2 tahap, yaitu; (1) Kemauan

dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya (2) Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam

(45)

Jarolimek juga merekomendasikan beberapa cara teknik pembelajaran

nilai, antara lain.

a. Teknik evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation).

b. TeknikLecturing.

c. Teknik menarik dan memberikan percontohan. d. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan. e. Teknik tanya-jawab.

f. Teknik menilai suatu bahan tulisan.

g. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan(games).

Langkah-langkah(Sintaks)model pembelajaran VCT pada umumnya

membuat/mencari media stimulus, berupa contoh keadaan/perbuatan yang

memuat nilai-nilai kontras sesuai dengan topik atau tema target pelajaran.

Media stimulus yang akan anda gunakan dalam VCT hendaknya.

a. Mampu merangsang, mengundang, dan melibatkan potensi afektual

siswa.

b. Terjangkau oleh pengetahuan dan potensi afektual siswa (ada dalam

lingkungan kehidupan siswa).

c. Memuat sejumlah nilai moral yang kontras.

Kegiatan Pembelajaran (KBM)

a. Guru melontarkan stimulus dengan cara membaca cerita atau

menampilkan gambar, foto, atau film.

b. Memberi kesempatan beberapa saat kepada siswa untuk berdialog

sendiri atau sesama teman sehubungan dengan stimulus tadi.

c. Melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan guru, baik secara

(46)

d. Menentukan argumen dan klarifikasi pendirian (melalui pertanyaan

guru dan bersifat individual, kelompok, dan klasikal).

e. Pembahasan/pembuktian argumen. Pada fase ini sudah mulai

ditanamkan target nilai dan konsep sesuai materi pelajaran.

f. Penyimpulan.

Prinsip reaksi model pembelajaran VCT berkaitan dengan pola kegiatan

yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru memberikan respon

terhadap siswa. Prinsip reaksi dalam model pembelajaran VCT adalah

sebagai berikut.

1. Guru sebagai pembimbing dalam pembelajaran.

2. Guru memberikan fasilitas agar proses pembelajaran berlangsung

optimal.

Berikut sistem sosial pada model pembelajaran VCT. Sistem sosial

adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses

pembelajaran. Sistem sosial pada model pembelajaran VCT adalah

sebagai berikut.

1. Kegiatan kelas berorientasi pada pemecahan masalah.

2. Guru dan siswa mengenal dan menganalisis masalah secara rinci.

3. Peranan guru dan siswa sederajat, walaupun dalam hal ini berbeda

peran.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran VCT

1. Kelebihan VCT

Menurut Djahiri, model ini dianggap unggul karena alasan berikut.

a. Mampu membina dan mempribadikan nilai dan moral.

(47)

c. Mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam kehidupan nyata.

d. Mampu mengundang, melibatkan, membina, dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya.

e. Mampu memberikan pengalaman belajar dalam berbagai kehidupan.

f. Mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai moral naïf yang ada dalam system nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang. g. Menuntun dan memotivasi untuk hidup layak dan bermoral

tinggi.

2. Kelemahan VCT

Proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, yang artinya guru yang menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang sudah ada tertanam dalam diri siswa. Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa. Karena ketidakcocokan antar nilai lama yang sudah ada terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru.

Dengan model pembelajaran VCT, akan mudah mengungkap sikap, nilai

dan moral siswa terhadap suatu kasus yang disajikan oleh guru. Tentu

saja harus dibekali dengan kemampuan guru dalam menguasai

keterampilan dan teknik dasar mengajar dengan baik. Sikap demokratis,

ramah, hangat dan nuansa kekeluargaan yang akrab diperlukan, sehingga

siswa berani berpendapat dan beda pendapat dengan guru maupun dengan

siswa lain. Sedangkan untuk evaluasi anda dapat melakukan evalusi

proses dan evaluasi hasil belajar. Pada evaluasi proses dapat dilakukan

dengan melakukan pengamatan jalannya diskusi, sikap dan aktivitas

siswa maupun proses pembelajaran secara menyeluruh dan evaluasi hasil

dapat dilihat dari hasil tes. Jangan lupa memberikan pujian kepada siswa

yang mampu berpendapat sekalipun kepada siswa yang berpendapat

(48)

Jika dilihat dari proses penerapannya maka model pembelajaran ini

merupakan implementasi teori behavioristik. Menurut Hariyanto (2010:

1) teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan

Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari

pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar

yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik

pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.

4. Konsep diri

Konsep diri merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

seseorang untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Djaali (2007: 129) berpendapat bahwa “Konsep diri adalah pandangan

seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui

dan rasakan tentang prilakunya, isi pikiran dan perasaannya, serta

bagaimana perilakunya tersebut berpengaruh terhadap orang lain”.

Menurut Agustiani dalam Ratnawuri (2007: 10) menyatakan bahwa:

konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus dan terdeferensiasi. Dasar dari konsep diri individu ditanamkan pada saat-saat dini kehidupan anak dan menjadi dasar yang mempengaruhi tingkah lakunya di kemudian hari.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat dinyatakan bahwa konsep diri

(49)

sendiri yang timbul sejak kecil dan dapat pula terjadi karena ada

pengaruh dari pihak luar yang mempengaruhi dirinya.

Konsep diri terbentuk melalui proses bukan faktor keturunan atau

bawaan. Seperti pendapat Djaali (2007: 130) bahwa:

konsep diri seseorang mula-mula terbentuk dari perasaan apakah ia di terima atau diinginkan kehadirannya oleh keluarganya. Melalui perlakuan yang berulang-ulang dan setelah menghadapi sikap-sikap tertentu dari ayah-ibu-kakak-adik ataupun orang lain di lingkup

kehidupannya, akan berkembanglah konsep diri seseorang. Konsep diri ini yang pada mulanya berasal dari perasaan dihargai atau tidak

dihargai. Perasaan inilah yang menjadi landasan dari pandangan atau penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri yang keseluruhannya disebut konsep diri.

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan

seseorang dari kecil hingga dewasa. Menurut pemikiran Erikson dalam

Djaali (2007: 130) ada lima tahap pembentukan konsep diri pada

perkembangan seseorang:

1. Pada usia 1,5-2 tahun disebutsense of trust.

Melalui hubungan dengan orang tuanya anak akan mendapat kesan dasar apakah orang tuanya merupakan pihak yang dapat dipercaya atau tidak.

2. Pada usia 2-4 tahun disebutsense of anatomy.

Yang terutama berkembang pesat pada usia ini adalah kemampuan motorik dan berbahasa, yang keduanya memungkinkan anak menjadi lebih mandiri (anatomy). 3. Pada usia 4-7 tahun disebutsense of initiative.

Pada usia ini anak selalu menunjukan perasaan ingin tahu dan mencoba-coba.

4. Pada usia 7-12 tahun disebutsense of industry.

Masa anak ingin membuktikan keberhasilan dari usahanya. Anak berkompetisi dan berusaha untuk bisa menunjukkan prestasi.

5. Pada usia 12 tahun ke atas disebutsense of identity.

(50)

Sedangkan Suparno (2008: 55) mengungkapkan bahwa konsep diri

terbentuk dari pengamatan, dan penilai terhadap diri sendiri maupun

respon/ reaksi orang-orang sekitar terhadap diri sendiri. Seseorang yang

pandai mawas diri akan meraih keuntungan karena dari respons

orang-orang disekitarnya dia akan berusaha memperbaiki citra dirinya

Menurut pendapat Gunawan (2004: 24) konsep diri terbentuk melalui.

1. Diperoleh melalui proses pembelajaran, bukan faktor keturunan.

2. Diperkuat melalui pengalaman hidup yang dialami setiap hari. 3. Dapat berubah secara drastis.

4. Mempengaruhi semua proses berpikir dan berprilaku. 5. Mempengaruhi proses pembelajaran dan presentasi.

6. Dapat dibangun dan dikembangkan dengan mengganti sistem kepercayaan yang merugikan dan menggantiself talkyang negatif dengan yang positif.

7. Bila konsep diri yang buruk terdapat dalam diri seorang guru atau orang tua maka ini akan sampai kepada siswa atau anak baik melalui komunikasi sadar atau komunikasi bawah sadar.

Suparno (2008: 81) berpendapat bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi konsep diri yaitu:

1. pengalaman di sekolah;

2. pola atau praktik-praktik pengasuhan;

3. perkembangan fisik seseorang.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut bahwa perubahan konsep diri

pada siswa terjadi jika siswa tersebut mengerti apa yang dimaksud

konsep diri, karena setiap orang memiliki pandangan dan gambaran

sendiri terhadap apa yang ada dalam dirinya. Gambaran tentang dirinya

(51)

dalam kehidupan sehari-hari. Jika konsep diri telah dipahami oleh siswa

maka kemungkinan akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.

Menurut Rini dalam Julianti (2008: 11-12) bahwa konsep diri

dikategorikan dalam dua kelompok dasar yakni.

1. Konsep diri positif

Konsep diri positif adalah pandangan atau keyakinan terhadap diri yang lebih optimis dan penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu juga termasuk kegagalan yang dialaminya.

2. Konsep diri negatif

Konsep diri negatif adalah pandangan atau keyakinan terhadap diri yang cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapi.

Menurut Ahmad, ciri-ciri pribadi dan prilaku orang yang memiliki

konsep diri yang positif yaitu.

1. Merasa yakin atau percaya diri akan kemampuannya untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.

2. Merasa setara dengan yang lain. 3. Dapat menerima pujian orang lain.

4. Mampu memperbaiki dirinya apabila mengalami kegagalan. 5. Mempunyai kepedulian terhadap kepentingan orang lain.

Ciri-ciri pribadi dan prilaku orang yang memiliki konsep diri yang

negatif yaitu:

1. Tidak mau dikritik orang lain 2. Senang dipuji orang lain

3. Suka meremehkan atau mencela orang lain

4. Merasa tidak disenangi, ditolak atau tidak diperhatikan orang lain

5. Bersikap pesimis dalam suasana persaingan, atau pesimis akan masa depannya.

Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri

(52)

1. Bersikap objektif dalam mengenali diri sendiri

Jangan pernah abaikan pengalaman positif atau keberhasilan sekecil

apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi yang

ada dalam diri dan carilah cara atau kesempatan untuk

mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa diri kita

dapat melakukan segala sesuatu sekaligus.

2. Hargailah diri sendiri

Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri

sendiri. Jika kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat

melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu

memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri sendiri ,

bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik

yang ada dalam diri orang lain secara positif. Jika kita tidak bisa

menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri

kita.

3. Jangan memusuhi diri sendiri

Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan

pertanda bahwa ada permusuhan antara harapan ideal dan kenyataan

diri sendiri, akibatnya akan timbul kelelahan mental dan rasa frustasi

yang dalam yang akan mengakibatkan negatif terhadap dirinya.

4. Berpikir positif dan rasional

Berpikirlah positif dan rasional dalam memandang segala sesuatu,

baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan

(53)

Tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh cara individu memandang

dirinya sendiri. Konsep diri positif maupun negatif akan mengarahkan

bagaimana individu tersebut bereaksi terhadap orang lain. Apabila konsep

diri positif ada dalam dirinya maka tingkah laku dan penilaiannya

terhadap orang lain akan positif, tetapi sebaliknya seseorang yang

bertingkah laku atau berpandangan buruk terhadap orang lain maka

konsep diri negatif ada dalam dirinya.

Konsep diri memiliki tiga dimensi, yaitu:

1. Pengetahuan tentang diri

Yaitu informasi yang dimiliki tentang diri. Misalkan jenis kelamin, penampilan, dsb.

2. Penghargaan bagi diri

Yaitu gagasan tentang kemungkinan apa yang akan terjadi nanti. 3. Penilaian terhadap diri

Yaitu pengukuran tentang keadaan diri dibandingkan dengan apa yang seharusnya terjadi pada diri. Hasil pengukuran tersebut adalah rasa harga diri.

Diperjelas dengan pendapat Gunawan (2004: 17) yang mengatakan

bahwa “Konsep diri adalah kunci utama harta karun. Konsep diri

merupakan pondasi utama keberhasilan proses pembelajaran”.Konsep

diri terdiri dari 3 komponen yaitu:

1. Diri Ideal (Self Ideal)

Diri ideal menentukan sebagian besar arah kehidupan. Diri ideal

menetukan arah perkembangan diri dan pertumbuhan karakter serta

kepribadian. Diri ideal merupakan gambaran dari sosok seseorang

Gambar

Tabel 1. Kesenjangan antara Harapan dan Fakta yang Terjadi
Tabel 2. Penelitian yang Relevan
Gambar 1. Kerangka Pikir
Tabel 3. Desain Penelitian Eksperimen
+4

Referensi

Dokumen terkait

menggunakan model kooperatif tipe Group Investigation (GI) lebih rendah dibandingkan yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada

(3) Keterampilan sosial siswa dalam pelajaran IPS Terpadu yang pembelajarannya menggunakan model Talking Stick lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang diajarkan menggunakan

Hasil analisis data menunjukkan (1) Ada perbedaan antara kemampuan life skills siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajarannya menggunakan problem based instruction

Pengaruh Penerapan Value Clarification Technique (VCT) Terhadap Sikap Ecoliteracy dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SD.. Deasy Rahmawati

PENGARUH PENERAPAN VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT) TERHADAP ECOLITERACY DAN KETERAMPILANBERPIKIR KRITIS SISWA SD. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Setelah siswa menerapkan model pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) tipe analisis nilai, nilai moral dasar siswa semakin nampak dan terus meningkat

Apakah hasil belajar pada tingkatan berpikir analisis siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw II lebih tinggi dibandingkan dengan siswa

Nah untuk penggunaan strategi yang sesuai adalah bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Value Clarification Technique