• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN BAHASA DALAM POSTER DI KOTA BANDAR LAMPUNG SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGGUNAAN BAHASA DALAM POSTER DI KOTA BANDAR LAMPUNG SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa memegang peranan penting di dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa seseorang dapat berkomunikasi, menyampaikan pikiran, keinginan dan informasi kepada orang lain baik itu secara lisan atau pun tulisan. Bahasa memiliki banyak fungsi yakni fungsi instrumental, fungsi regulasi, fungsi represantasional, fungsi interaksional, fungsi personal, fungsi heuristik, dan fungsi imajinatif. Ketujuh fungsi bahasa tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya. Hal ini pun berlaku untuk sebuah poster. Mengapa demikian? Karena poster yang baik, selain bisa mengekspresikan apa yang ada dipikiran seseorang, poster pun harus bisa memberikan informasi, mengendalikan orang lain, menyampaikan fakta-fakta, menjamin kelangsungan komunikasi sosial, dan meneyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi.

(2)

Dalam membuat sebuah poster, haruslah memperhatikan penggunaan bahasanya karena poster yang baik harus menggunakan bahasa yang singkat, menarik, dan logis. Selain itu disertai dengan gambar-gambar yang sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh penulis poster, sehingga jika pembaca membaca poster itu dalam waktu singkat, pembaca akan langsung bisa memahaminya, tanpa membutuhkan waktu yang banyak untuk memahaminya.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa penulis memilih poster sebagai bahan kajian penelitian karena bahasa yang digunakan dalam poster menarik, singkat, dan logis, selain itu desain dan warna yang digunakan dalam poster pun tidak kalah menarik dengan media elektronik seperti televisi dan internet multimedia. Penulis memilih kelima jenis poster untuk dijadikan objek penelitian karena berdasarkan hasil survey dan pengamatan, poster-poster yang ada di Kota Bandar Lampung lebih mendominasi kepada lima jenis poster yang ingin penulis teliti, yakni (1) poster pendidikan; (2) poster niaga; (3) poster hiburan; (4) poster lingkungan; dan (6) poster penerangan.

(3)

Alasan penulis memilih ketujuh jalan protokol tersebut sebagai tempat diperolehnya poster-poster dalam penelitian ini karena berdasarkan hasil survey dan pengamatan serta informasi dari Kombes Pol Subardi, S.H., selaku polisi lalu lintas, beliau mengemukakan bahwa dewasa ini jalan-jalan protokol yang ada di Kota Bandar Lampung sudah mulai padat dan sering sekali dilalui oleh kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat, khususnya di ketujuh jalan protokol tersebut, karena di jalan-jalan tersebut terdapat tempat-tempat yang penting, seperti di sepanjang Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, jalan ini merupakan jalan yang bisa disebut sebagai lingkungan pendidikan, karena di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam ini banyak terdapat perguruan tinggi swasta, sekolah-sekolah, baik SD, SMP, dan SMA, selain merupakan jalan yang didominan dengan tempat-tempat pendidikan, di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam juga terdapat pusat perbelanjaan, sehingga volume kendaraan yang melewati Jalan Zainal Abidin Pagar Alam sangat tinggi dan padat.

Berbeda dengan jalan Teuku Umar, Jalan Radin Intan, dan Jalan R.A. Kartini, ketiga jalan ini bisa disebut jalan-jalan yang menjadi tempat pusat perbelanjaan Kota Bandar Lampung, karena di jalan-jalan tersebut banyak berdiri tempat-tempat perbelanjaan, seperti pasar tradisional yang terdapat di Jalan Teuku Umar, Mall Ramayana, Chandra Super Store, Toko Buku Fajar Agung, Toko Buku Gramedia, Plaza Lotus, Central Plaza, Mall Kartini, dan lain-lain yang terdapat di sepanjang Jalan Radin Intan dan Jalan R.A. Kartini.

(4)

karena di jalan tersebut terdapat kantor-kantor yang ditempati oleh pejabat-pejabat penting Kota Bandar Lampung, seperti kantor Walikota Bandar Lampung.

Perlu untuk diketahui, jika ingin memasang sebuah poster di jalan-jalan protokol harus mematuhi persyaratan pemasangan poster, karena jika poster-poster yang dipasang tidak memenuhi syarat dan tidak memiliki ijin dari Dinas Pendapatan Kota Bandar Lampung dan Badan Penanaman Modal Perijinan (BPMP) serta dari pihak kepolisian bagian Satuan Lalu lintas, poster tersebut akan termasuk ilegal.

Selain memperhatikan syarat-syarat perizinan pemasangan poster, ada lagi hal lain yang harus diketahui mengenai pemasangan poster, yakni berapa lama biasanya sebuah poster itu dipasang. Poster biasanya dipasang dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan lamanya, hal ini dikarenakan agar ada pembaharuan dan tidak terjadi kemonotonan pada poster-poster yang dipasang.

Penelitian mengenai bahasa poster, sebelumnya pernah diteliti oleh Jawan (2008) dengan judul “Diksi pada Papan Reklame di Jalan Proklamator Bandar Jaya dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP)”. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, perbedaan

(5)

Poster bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai materi dan media luar ruangan untuk pembelajaran di sekolah. Khususnya untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP kelas VIII semester 2, hal ini sejalan dengan kompetensi dasar yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam poster yakni, menulis slogan atau poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi serta persuasif. Guru dapat mengarahkan siswa untuk memelajari bahasa poster dengan menjadikan poster sebagai medianya. Menyadari pentingnya, memelajari persoalan bahasa poster, maka penulis mengadakan penelitian mengenai bahasa poster di Kota Bandar Lampung serta implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut. “Bagaimanakah penggunaan bahasa dalam poster di Kota Bandar

Lampung serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMP?”

1.3Tujuan Penelitian

(6)

1.4Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoeitis dan secara praktis.

a. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, yakni dapat menambah referensi penelitian pada bidang kebahasaan, khususnya tentang penggunaan bahasa dalam poster, sehingga penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi bagi para peneliti selanjutnya.

b. Manfaat Praktis

Secara parktis penelitian ini diharapakan dapat memberikan manfaat, diantaranya memberikan sumbangan pemikiran kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, untuk menggunakan poster sebagai materi dan media dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya di tingkat SMP.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Subjek Penelitian ini adalah beberapa poster yang dipilih di Kota Bandar Lampung.

2. Objek penelitian ini adalah penggunaan bahasa dalam poster yang dipilih di Kota Bandar Lampung.

3. Lokasi penelitian ini ialah di Kota Bandar Lampung.

(7)

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Fungi Bahasa

Fungsi bahasa menurut Haliday (dalam Henry, 1990: 6) mengemukakan ada tujuh fungsi bahasa, yaitu sebagai berikut.

a. Fungsi instrumental (the instrumental function) melayani pengelolaan lingkungan, menyebabkan persitiwa-peristiwa tertentu terjadi.

b. Fungsi regulasi (the regulatory function), bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan persitiwa-peristiwa. Fungsi regulasi ini bertindak untuk mengatur serta mengendalikan orang lain.

c. Fungsi representasional (the represantional function) adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan, realitas yang sebenarnya, seperti yang dilihat oleh seseorang.

d. Fungsi interaksional (the interactional function) bertugas untuk menjamin serta memantapkan ketahanan dan kelangsungan komunikasi sosial.

(8)

f. Fungsi heuristik (the heuristik function) melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mempelajari seluk beluk lingkungan.

g. Fungsi imajinatif (the imaginative function) melayani penciptaan sistem-sistem atau gagasan-gagasan yang bersifat imajinatif.

2.2 Konteks

Bahasa dan konteks merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Bahasa membutuhkan konteks tertentu dalam pemakaiannya, demikian juga sebaliknya konteks baru memiliki makna jika terdapat tindak berbahasa di dalamnya. Dengan demikian, bahasa bukan hanya memiliki fungsi dalam situasi interaksi yang diterapkan, tetapi bahasa juga membentuk dan menciptakan situasi tertentu dalam interaksi yang terjadi, Duranti (dalam Rusminto, 2009: 50).

2.2.1 Pengertian Konteks

Konteks adalah sebuah dunia yang diisi orang-orang yang memproduksi tuturan-tuturan. Orang-orang yang memiliki komunitas sosial, kebudayaan, identitas pribadi, pengetahuan, kepercayaan, tujuan, dan keiinginan, dan yang berinteraksi satu dengan yang lain dalam berbagai macam situasi yang baik yang bersifat sosial maupun budaya. Dengan demikian, konteks tidak saja berkenaan dengan pengetahuan, tetapi merupakan suatu rangkaian lingkungan di mana tuturan dimunculkan dan diimpretasikan sebagai realisasi yang didasarkan pada aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat pemakai bahasa (Schiffrin, 1994: 364).

(9)

(Brown dan Yule, 1996: 27-67). Konteks adalah segenap informasi yang berada di sekitar pemakaian bahasa, bahkan juga termasuk pemakaian bahasa yang ada di sekitarnya, misalanya situasi, jarak, waktu dan tempat, Presto (dalam Supardo, 1988 : 46).

Dari beberapa pendapat mengenai konteks, dalam penelitian ini penulis mengacu dengan pendapat yang dikemukakan oleh Presto dalam Supardo (1988: 46) yang mengemukakan konteks adalah segenap informasi yang berada di sekitar pemakaian bahasa, bahkan juga termasuk pemakaian bahasa yang ada di sekitarnya, misalanya situasi, jarak, waktu dan tempat. Alasan penulis mengacu dengan pendapat Supardo adalah karena penulis setuju dengan yang dikemukakan oleh Supardo, selain itu dalam penelitian ini konteks yang diteliti memang mencakup tempat, penutur dan mitra tutur, hasil yang diharapkan, bentuk dan isi pesan, saluran, norma, dan register yang dipakai.

2.2.2 Jenis-jenis Konteks

Konteks terbagi dalam dua jenis, yaitu konteks Nonlinguistis dan konteks Linguistis.

a.Konteks Nonlingusitis

(10)

b. Konteks Lingusitis

Konteks lingusitis adalah hubungan antara unsur bahasa yang satu dengan unsur bahasa yang lain. Konteks lingusitis mencakup konteks hubungan anatara kata dengan kata dalam frasa atau kalimat, hubungan antar frasa dalam sebuah kalimat atau wacana, dan juga hubungan antar kalimat dalam wacana (Keraf, 2009: 32--33).

2.2.3 Unsur-unsur Konteks

Dalam setiap peristiwa tutur selalu terdapat unsur-unsur yang melatarbelakangi terjadinya komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Unsur-unsur tersebut, yang sering juga disebut sebagai ciri-ciri konteks, meliputi segala sesuatu yang berbeda di sekitar penutur dan mitra tutur ketika peristiwa tutur sedang berlangsung. Dalam penelitian ini yang berperan sebagai penutur adalah pihak-pihak yang berkepentingan menyampaikan pesan dalam poster, dan mitra tutur adalah masyarakat yang membaca poster-poster tersebut.

Unsur-unsur konteks mencakup berbagai komponen yang disebut dengan akronim SPEAKING, Hymes (dalam Rusminto, 2009: 55). Akronim ini mencakup setting,

participants, ends, act sequences, keys, instrumentalities, norms, dan genres.

Berikut ini diuraikan penjelasan dari akronim tersebut serta kaitannya dalam penelitian ini.

1) Setting, yang meliputi waktu, tempat, atau kondisi fisik lain yang berbeda di sekitar tempat terjadinya peristiwa tutur.

(11)

jalan-jalan protokol itu meliputi Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, Jalan Teuku Umar, Jalan Radin Intan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Jendral Sudirman dan terakhir Jalan Raden Ajeng Kartini.

2) Participants, yang meliputi penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam peristiwa tutur.

Penutur pada peristiwa tutur dalam teks poster yang berada di Kota Bandar Lampung ini adalah pihak-pihak yang berkepentingan menyampaikan pesan melalui poster. Sedangkan mitra tutur pada peristiwa tutur dalam teks poster yang berada di Kota Bandar Lampung adalah masyarakat yang berlalu lalang melewati Kota Bandar Lampung, khususnya yang melewati ketujuh jalan protokol, yakni Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, Jalan Teuku Umar, Jalan Radin Intan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Raden Ajeng Kartini.

3) Ends, yaitu tujuan atau hasil yang diharapkan dapat dicapai dalam peritiwa tutur yang sedang terjadi.

Tujuan yang diinginkan dari poster-poster di Kota Bandar Lampung ini adalah tersampaikannya pesan-pesan yang ingin disampaikan, sehingga berdampak postif bagi si pemasang poster atau hal yang ada di dalam poster tersebut.

4) Act Sequences, yaitu bentuk dan isi pesan yang ingin disampaikan.

(12)

disampaikan oleh poster, hal itu pun didukung dengan ilustrasi gambar yang ada di dalam poster tersebut.

5) Keys, yaitu cara berkenaan dengan sesuatu yang harus dikatakan oleh penutur (serius, kasar, atau main-main).

Pesan dalam peristiwa tutur pada poster di Kota Bandar Lampung disampaikan dengan cara yang serius, tegas, dan berbobot.

6) Instrumentalities, yaitu saluran yang digunakan dan dibentuk tuturan yang dipakai oleh penutur dan mitra tutur.

Saluran dalam poster di Kota Bandar Lampung berupa teks (tulisan) dalam bentuk poster.

7) Norms, yaitu norma-norma yang digunakan dalam interasi yang sedang berlangsung.

Norma-norma yang digunakan dalam poster di Kota Bandar Lampung ialah normatif dan persuasif, berupa larangan, himbauan, penawaran dan ajakan.

8) Genres, yaitu register khusus yang dipakai dalam peristiwa tutur.

(13)

2.3 Pengertian Poster

Poster merupakan salah satu bentuk publikasi yang dapat berupa pengumuman, imbauan, protes, atau iklan dengan tujuan untuk mendidik masyarakat, mengimbau, menyalurkan aspirasi atau menawarkan barang. Poster merupakan media luar ruang yang ditulis di selembar kertas atau kain dengan huruf yang besar-besar dan mencolok supaya mudah dibaca (Eko, 2004: 128).

Poster atau plakat adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambar dan huruf di atas kertas berukuran besar. Pengaplikasiannya dengan ditempel di dinding atau permukaan datar lainnya dengan sifat mencari perhatian mata sekuat mungkin, karena itu poster biasanya dibuat dengan warna-warna kontras dan kuat (Ensiklopedia Wikipedia Bahasa Indonesia).

Poster lebih bersifat imbauan yang disertai gambar, poster mengandalkan kekuatan kata-kata untuk mempengaruhi pembaca. Selain itu desain, model, bentuk dan kombinasi warna akan membuat poster daapat mempengaruhi pembaca (Kosasih dan Mumpuni, 2004: 54).

Poster adalah media yang penempatannya di luar rumah dan berisi tulisan singkat yang menyangkut masalah pendidikan, kegiatan, niaga, hiburan, lingkungan, dan penerangan (Nurhidayati, 2005: 226).

(14)

Poster sosial meliputi pendidikan, penerangan, pembangunan, kebersihan, dan kesehatan, sedangkan poster komersial berhubungan dengan bisnis.

Alasan mengapa penulis mengacu dengan pendapat Nurhidayati, karena sebuah poster itu dalam penempatannya memang harus di luar ruangan, sebab poster merupakan salah satu media yang digunakan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Selain itu, poster tidak hanya terdiri dari satu jenis, melainkan beberapa jenis, seperti yang dikemukakan oleh Nurhidayati, yakni terdiri atas poster pendidikan, poster niaga, poster hiburan, poster lingkungan, dan poster penerangan.

2.4 Bahasa Poster

Bahasa poster yang baik adalah bahasanya singkat, menarik, logis serta sesuai dengan kaidah yang berlaku, sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.

a. Bahasa yang Singkat

Artinya adalah kalimat atau pesan-pesan yang tertulis biasanya hanya terbatas dengan satu nama yang dicetak menggunakan ukuran huruf yang besar-besar dan mencolok. Hal ini bisa terlihat dari contoh poster di bawah ini.

(15)

Contoh poster ini, sudah menggunakan bahasa yang singkat, karena dalam poster ini kata yang terlihat ditulis lebih mencolok adalah ‘pendidikan dan negara’, hal ini membuktikan jika poster ini sudah menggunakan bahasa

yang singkat.

b. Bahasa yang Menarik

Artinya kalimat yang tertulis mudah diingat, yakni kalimatnya ditulis dengan tampilan yang bervariasi dan tidak monoton, warna kalimatnya juga harus lebih kontras, dibandingkan warna dasar. Selain itu, dihiasi dengan aneka warna serta gambar-gambar yang bisa memudahkan pembaca untuk mengingat apa yang ingin disampaikan oleh sebuah poster. Hal ini bisa terlihat dari contoh poster di bawah ini.

(16)

Contoh poster ini, sudah menggunakan bahasa yang menarik, karena kalimat dalam poster tersebut mudah diingat oleh pembaca, sebab kalimatnya ditulis dengan tampilan yang bervariasi yakni disusun kebawah, dan tidak monoton disusun ke samping saja, warna kalimatnya juga lebih kontras dibandingkan warna dasar.

Selain itu, ilustrasi gambar dalam poster ini sudah mendukung dan mewakili pesan yang ingin disampaikan oleh poster lingkungan ini, yakni ilustrasi gambarnya adalah seorang anak yang membuang sampah ke tempatnya, hal ini menandakan bahwa pesan yang ingin disampakan poster ini ialah buanglah sampah pada tempatnya, jangan membuang sampah sembarangan karena akan merusak lingkungan.

c. Bahasa yang Logis

Artinya kalimat yang terdapat di dalam poster mudah untuk dipahami oleh pikiran masyarakat, karena menggunakan bahasa yang terbiasa digunakan masyarakat pada umumnya. Hal ini bisa terlihat dari contoh poster di bawah ini.

(17)

Bahasa yang digunakan dalam poster ini termasuk logis, karena bahasa dalam poster ini mudah untuk dipahami oleh pikiran masyarakat, sebab menggunakan bahasa yang terbiasa digunakan masyarakat pada umumnya, yakni Bahasa Indonesia.

d. Bahasa yang sesuai dengan Kaidah yang Berlaku

Artinya kalimat yang terdapat di dalam poster menggunakan struktur kalimat dan kata-kata yang baku (Datang, 2004: 84). Dalam penelitian ini, poster dinilai dengan tidak mempertimbangkan EYD karena poster merupakan ragam bahasa jurnalistik yang bebas dan tujuan poster adalah untuk menarik perhatian khalayak dengan bahasa yang dimengerti oleh khalayak. Hal ini bisa terlihat dari contoh poster di bawah ini.

Gambar 2.4 Poster Kegiatan

(18)

2.5 Ciri-ciri Poster

Seperti media luar ruangan lainnya, poster memiliki ciri-ciri tersendiri. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Wetty (2004: 72) ciri-ciri poster adalah sebagai berikut.

a. Berupa suatu lukisan atau gambaran.

b. Menyampaikan suatu pesan atau ide tertentu. c. Memberi kesan yang kuat/menarik perhatian.

Ketiga ciri tersebut dapat terlihat dari contoh poster di bawah ini.

Gambar 2.5 Poster Lingkungan

a. Berupa suatu lukisan atau gambaran.

(19)

b. Menyampaikan suatu pesan atau ide tertentu.

Contoh poster lingkungan ini ingin menyampaikan pesan yaitu bahwa kita harus menyelamatkan bumi dari pemanasan global yang terus meningkat akhir-akhir ini. Hal ini bisa terlihat dari kalimat yang terdapat dalam poster lingkungan itu yakni ‘SELAMATKAN BUMI KITA DARI PEMANASAN GLOBAL’.

c. Memberikan kesan yang kuat/menarik perhatian.

Contoh poster lingkungan ini sudah memberikan kesan yang kuat dan menarik perhatian pembaca, karena poster ini ditulis dengan bahasa yang singkat, mudah dipahami, serta didukung dengan ilustrasi gambar yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh poster lingkungan ini selain itu dihiasi dengan aneka warna yang bisa menarik perhatian pembacanya.

2.6 Jenis-jenis Poster

Poster dapat dibedakan menjadi enam jenis, antara lain poster pendidikan, poster kegiatan, poster niaga, poster hiburan, poster lingkungan dan poster penerangan (Ambary, 1994: 143). Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing jenis poster.

a. Poster Pendidikan

(20)

Gambar 2.6 Poster Pendidikan

b. Poster Kegiatan

Poster kegiatan biasanya dibuat untuk menyosialisasikan suatu kegiatan. Tujuannya untuk memberitahukan dan mengajak pembaca untuk mengikuti kegiatan tersebut, susunan kalimat bersifat ajakan. Hal ini bisa terlihat dari contoh poster kegiatan di bawah ini.

(21)

c. Poster Niaga

Poster niaga biasanya dibuat untuk keperluan kegiatan niaga atau kegiatan suatu usaha. Poster ini sangat menonjolkan unsur slogan dari organisasi yang membuat poster tersebut. Di bawah ini merupakncontoh poster niaga.

Gambar 2.8 Poster Niaga

d. Poster Hiburan

Poster hiburan biasanya dibuat untuk kegiatan yang bersifat hiburan. Susunan kalimatnya sangat sugestif, mengajak pembaca untuk menonton suatu kegitan yang bersifat hiburan. Di bawah ini merupakan contoh poster hiburan.

(22)

e. Poster Lingkungan

Poster lingkungan merupakan poster yang bertema lingkungan, mempunyai susunan kalimat yang bertema lingkungan serta ilustrasi gambar yang mewakili pesan. Di bawah ini merupakan contoh poster lingkungan.

Gambar 2.10 Poster Lingkungan f. Poster Penerangan

Poster penerangan biasanya dibuat oleh lembaga atau instansi tertentu untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang program atau informasi tertentu yang perlu diketahui.

(23)

2.7 Tujuan Poster

Sebagaimana media luar ruangan lainnya, pemasangan poster pasti memiliki tujuan tertentu. Adapun tujuan poster adalah sebagai berikut.

a) Komersial.

b) Pengumuman untuk Masyarakat. c) Mendidik masyarakat.

d) Alat propaganda. e) Murni hasil karya seni.

2.8 Karakteristik Poster

Ukuran poster yang sering digunakan saat ini sangat bervariasi. Mulai dari ukuran uang kertas kecil sampai ukuran yang sangat besar. Berikut ini adalah

karakteristik poster secara umum.

a) Ukuran dan Dominasi

Karena ukurannya yang pada umumnya cukup besar, maka poster mendominasi pemandangan dan mudah menarik perhatian.

b) Warna

Kebanyakan poster dihiasi dengan aneka warna, dengan gambar-gambar dan pemandangan yang realistis sehingga memudahkan pembaca untuk mengingat produk yang diwakilinya.

c) Pesan-pesan Singkat

(24)

atau pesan-pesan tertulis biasanya terbatas pada tulisan singkat atau sekedar dengan satu nama yang sengaja dicetak dengan huruf yang besar-besar dan mencolok.

d) Zoning

Kampanye iklan secara umum dapat diorganisir dalam suatu daerah atau zona tertentu.

e) Efek Mencolok

Mungkin karakteristik poster yang paling penting adalah kemampuannya dalam menciptakan kesan atau ingatan pembaca melalui penebalan warna, ukuran, dan pengulangan (Jefkins, 1996: 128).

2.9 Contoh Poster

Gambar 2.12 Poster Pendidikan

(25)

Dalam kalimat tersebut yang terlihat ditulis lebih mencolok yaitu ‘katakan tidak, narkoba, merdeka, mati’, hal ini membuktikan bahwa poster ini ingin menyampaikan pesan tentang penolakan terhadap penggunaan narkoba.

Kedua, bahasa poster harus menarik, dalam poster ini bahasa yang digunakan menarik, hal ini terlihat dari kalimat yang terdapat di dalam poster tersebut, yakni

Contoh poster ini, sudah menggunakan bahasa yang menarik, karena kalimat dalam poster tersebut mudah diingat oleh pembaca, sebab kalimatnya ditulis dengan tampilan yang bervariasi yakni disusun kebawah, dan tidak monoton disusun ke samping saja, warna kalimatnya juga lebih kontras dibandingkan warna dasar.

Selain itu, ilustrasi gambar dalam poster ini sudah mendukung dan mewakili pesan yang ingin disampaikan oleh poster pendidikan ini, yakni ilustrasi gambarnya adalah seorang siswi yang tergeletak lemas karena menggunakan

KATAKAN TIDAK UNTUK NARKOBA MERDEKA

ATAU MATI

DO NOT TRY THIS FOREVER KATAKAN TIDAK

UNTUK NARKOBA MERDEKA

ATAU MATI

(26)

narkoba, hal ini menandakan bahwa pesan yang ingin disampakan poster ini ialah penolakan terhadap penggunaan narkoba, karena sekali menggunakan narkoba, pilihan kita hanya dua, hidup atau mati.

Ketiga, bahasa poster logis dan terakhir bahasa poster sesuai dengan kaidah yang berlaku, usahakan menggunakan struktur kalimat dan kata-kata yang baku. Poster di atas sudah menggunakan struktur kalimat dan kata-kata yang baku, pembaca pun dengan mudah bisa memahami pesan yang ingin disampaikan dari poster tersebut.

Jika dilihat berdasarkan konteksnya, poster ini juga termasuk baik karena dilihat dari

1) Tempat (setting), teks poster ini termuat dalam poster yang dipasang di salah satu jalan protokol di Kota Bandar Lampung, yakni jalan Zainal Abidin Pagar Alam. Jalan Zainal Abidin Pagar Alam merupakan salah satu jalan yang banyak dilalui oleh kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat. Selain itu di jalan Zainal Abidin Pagar Alam juga banyak sekali sekolah-sekolah baik dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Mengah Atas (SMA), tidak hanya itu saja, di jalan Zainal Abidin Pagar Alam ini banyak juga berdiri perguruan tinggi, sehingga penempatan poster yang bertema bahaya penggunaan narkoba, sangat tepat di pasang di jalan Zainal Abidin Pagar Alam ini yang mayoritas merupakan lingkungan pendidikan.

(27)

adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan pesan melalui poster. Mitra tutur dalam peristiwa tutur melalui teks poster ini adalah seluruh masyarakat yang berlalu-lalang di jalan Zainal Abidin Pagar Alam.

3) Ends, tujuan atau hasil yang diharapkan dari poster di Kota Bandar Lampung, khusunya di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam ialah dapat tersampaikannya pesan yang disampaikan sehingga berdampak positif bagi pemasang poster.

4) Act Sequences, bentuk dan isi pesan yang disampaikan dalam poster di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam ini lebih menekankan pada kejelasan bagi pembaca atau mitra tutur, sedangkan dari segi isi lebih menekankan kepada hal yang ingin disampaikan. Isi pesan poster tersebut yakni mengimbau masyarakat untuk menjauhi narkoba, mengingat dampak negatif dari menggunakan narkoba sangatlah fatal, yakni kehilangan nyawa.

5) Keys, pesan dalam peristiwa tutur dalam poster di Kota Bandar Lampung, khususnya di jalan Zainal Abidin Pagar Alam disamapikan dengan cara yang tegas dan serius. Ini terlihat dari bahasa yang digunakan “KATAKAN TIDAK UNTUK NARKOBA ! MERDEKA ATAU MATI !”. Maksud dan isi

(28)

6) Instrumentalities, saluran dalam peristiwa tutur dalam poster di Kota Bandar Lampung, khususnya di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam berupa tulisan dalam bentuk poster.

7) Norm, norma-norma yang digunakan dalam poster di Kota Bandar Lampung khususnya di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam ialah normatif dan persuasif, berupa himbauan, larangan dan penawaran.

8) Genres, register khusus yang dipakai dalam peristiwa tutur ini adalah ragam tidak resmi. Peristiwa tutur pada poster ini di pinggir jalan dan bukan dalam peristiwa yang formal atau resmi.

2.10 Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP

Pembelajaran di sekolah disusun untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan antara peserta didik dengan guru, peserta didik dengan lingkungan, dan peserta didik dengan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.

(29)

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa saat membahas bahasa poster adalah mengamatai bermacam-macam contoh poster yang ditampilkan oleh guru, kemudian siswa bertanya jawab mengenai poster yang ditampilkan oleh guru, setelah itu siswa membahas bahasa dalam poster, kemudian siswa menulis poster sesuai dengan konteks, terakhir menyunting sendiri poster yang telah dibuat.

Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Aryad, 1996: 15). Media yang digunakan guru bisa bermacam-macam, salah satunya bisa memanfaatkan iklan poster sebagai media pembelajaran yang berkaitan dengan materi menulis slogan atau poster.

Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan oleh guru dalam memilih media sebagai sumber belajar siswa (Aryad, 1996: 75). Kriteria tersebut adalah sebagai berikut.

1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan itu dapat digambarkan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh siswa seperti mengamati dan mendokumentasikan variasi bahasa promosi pada iklan poster yang terdapat di jalan Raden Ajeng Kartini kota Bandar Lampung.

(30)

3. Praktis, luwes, dan bertahan. Kriteria ini menuntut para guru untuk memilih media yang ada, mudah diperoleh atau mudah dibuat sendiri oleh guru.

4. Guru terampil menggunakannya. Nilai dan manfaat media sangat ditentukan oleh guru ketika menggunakannya.

Poster dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang sangat bermanfaat dalam pengembangan pengetahuan siswa. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut.

1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehingga bisa menimbulkan motivasi belajar. Contohnya, poster yang terdapat di pinggir jalan, sering dijumpai oleh siswa dapat menarik perhatian siswa.

2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga siswa dapat lebih memahami dan siswa pun dapat mencapai tujuan pembelajaran.

3. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi siswa juga dapat melakukan aktifitas lain, seperti mengamati, melalukan, mendemonstrasikan, dan memerankan.

(31)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu prosedur penyelesaian masalah dengan memaparkan keadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampil sebagaimana adanya. Data yang diperoleh tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, tetapi dalam bentuk kulaitatif yang dinyatakan dalam kata-kata (Arikunto, 2010: 3). Peneliti melakukan analisis isi dengan memberikan pemaparan yang diteliti dalam bentuk uraian.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena mendeskripsikan penggunaan bahasa dalam poster di Kota Bandar Lampung dari Juni sampai dengan Juli 2012. Analisis data dalam penelitian ini bersifat kualitatif, karena dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Penelitian ini juga bersifat netral, karena menekankan pada kepercayaan terhadap apa yang dilihatnya.

3.2 Sumber Data

(32)
[image:32.595.112.511.290.740.2]

poster lingkungan, dan poster penerangan. Berdasarkan penghitungan acak dari 20 sampel data yang terdapat di Kota Bandar Lampung, diperoleh 15 poster di Kota Bandar Lampung yang terdiri atas 3 poster pendidikan, 3 poster niaga, 3 poster hiburan, 3 poster lingkungan, dan 3 poster penerangan, yang kemudian akan dijadikan sebagai objek penelitian. Tabel di bawah ini akan menyajikan jumlah dan jenis-jenis poster yang terdapat dalam penelitian ini.

Tabel 3.2 Indikator Jenis-jenis Poster di Kota Bandar Lampung

No. Jenis Poster Jumlah Asal Poster Objek yang

Diposterkan 1. Poster Pendidikan 3 Jl. Zainal Abidin

Pagar Alam

Wajib belajar 12 Tahun

Jl. Zainal Abidin Pagar Alam

Beasiswa kuliah gratis di Unila

Jl. Zainal Abidin Pagar Alam

Wujudkan cita-cita tanpa narkoba 2. Poster Niaga 3 Jl. Radin Intan Mokko Factory

Jl. R.A. Kartini Laserin Obat Batuk Jl. R.A. Kartini Flexi

3. Poster Hiburan 3 Jl. Teuku Umar Moscow Sircus Jl. Teuku Umar Duo Vaganza

Jl. P. Diponegoro Jamrud 4. Poster Lingkungan 3 Jl. Zainal Abidin

Pagar Alam

Lestarikan Lingkungan Jl. Zainal Abidin

Pagar Alam

Lestarikan Hutan

Jl. Zainal Abidin Pagar Alam

(33)

No. Jenis Poster Jumlah Asal Poster Objek yang Diposterkan 5. Poster Penerangan 3 Jl. Zainal Abidin

Pagar Alam

Jauhi narkoba

Jl. Zainal Abidin Pagar Alam

Jauhi narkoba

Jl. Radin Intan Asuransi sinar mas

3.3 Teknik Pengumpulan Data

(34)

3.4 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (B. Miles dan Huberman, 1992: 16). Berikut penjelasannya.

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data diartikan sebagai kegiatan awal dalam suatu penelitian yakni mengumpulkan data-data yang ada di lapangan, yang sesuai dengan keperluan penelitian.

Dalam penelitian ini data-data yang dikumpulkan dari lapangan adalah poster-poster yang berada di satuan lalu lintas Kota Bandar Lampung.

2. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerdehanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang

muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data, berlangsung terus menerus selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung.

(35)

Tabel 3.3 Indikator Penggunaan Bahasa dalam Poster

No. Kriteria Bahasa dalam Poster Keterangan

1. Bahasa yang Singkat. a. Artinya adalah kalimat atau pesan-pesan yang tertulis biasanya hanya terbatas dengan satu nama yang dicetak menggunakan ukuran huruf yang besar-besar dan mencolok.

2. Bahasa yang Menarik. a. Artinya kalimat yang tertulis mudah diingat, yakni

kalimatnya ditulis dengan tampilan yang bervariasi dan tidak monoton, warna

kalimatnya juga harus lebih kontras, dibandingkan warna dasar.

b. Selain itu, dihiasi dengan aneka warna serta gambar-gambar yang bisa

memudahkan pembaca untuk mengingat apa yang ingin disampaikan oleh sebuah poster.

3. Bahasa yang Logis. a. Kalimat yang terdapat di dalam poster mudah untuk dipahami oleh pikiran masyarakat, karena menggunakan bahasa yang terbiasa digunakan masyarakat pada umumnya.

4. Bahasa yang Sesuai dengan Kaidah yang Berlaku.

[image:35.595.116.510.124.751.2]
(36)

3. Penyajian Data

Penyajian data diartikan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut.

Dalam penelitian ini penyajian data yang dilakukan peneliti adalah menyajikan poster-poster yang telah diteliti bahasaannya, sesuai dengan teori yang digunakan untuk penelitian.

4. Menarik Kesimpulan

Kegiatan terakhir yaitu menarik kesimpulan yakni data-data yang telah terkumpul, diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, sehingga terbukti kebenaran dan kegunaannya. Jika tidak diuji yang terjadi adalah ketidakjelasan akan kebenaran dan kegunaan data-data tersebut.

Dalam penelitian ini poster-poster yang telah terpilih dan telah diuji kebenarannya, sesuai dengan teori yang digunakan, akan diperolehlah sebuah kesimpulan, sehingga akan terbukti apakah penggunaan bahasa dalam poster-poster yang ada di Kota Bandar Lampung, sudah sesuai dengan bahasa poster yang sebenarnya.

(37)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan

Poster-poster yang diteliti dalam penelitian ini adalah 3 poster pendidikan, 3 poster niaga, 3 poster hiburan, 3 poster lingkungan, dan 3 poster penerangan. Adapun jalan protokol yang menjadi tempat diperolehnya poster dalam penelitian ini adalah Jalan Zainal Abidi Pagar Alam, Jalan Teuku Umar, Jalan Radin Intan, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Ahmad Yani, Jalan Pangeran Diponegoro, dan Jalan Raden Ajeng Kartini.

Dari hasil penelitian, diperoleh simpulan bahwa poster-poster yang ada di Kota Bandar Lampung, mayoritas sudah menggunakan bahasa yang seharusnya digunakan dalam sebuah poster, yakni bahasa poster itu harus menggunakan bahasa yang singkat, bahasa yang menarik, bahasa yang logis dan bahasa yang sesuai dengan kaidah yang berlaku.

(38)

Kelima belas poster yang ada di Kota Bandar Lampung telah didukung oleh unsur-unsur konteks, guna mengetahui kejelasan pesan yang ingin disampaikan oleh masing-masing poster sehingga, mitra tutur dapat lebih jelas dan paham apa yang menjadi maksud dan tujuan dari si penutur.

Dari hasil penelitian ini, diketahui implikasi penggunaan bahasa dalam poster di Kota Bandar Lampung cukup mempengaruhi kegiatan pembelajaran, khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP kelas VIII semester 2. Hal ini disebabkan, poster-poster yang ada di lingkungan siswa dapat dijadikan media dan materi pembelajaran, sehingga siswa tidak merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran yang hanya menggunakan materi dan media yang di dalam ruangan saja.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut.

1. Sebaiknya dalam menulis sebuah poster usahakan untuk menggunakan bahasa yang singkat, menarik, logis dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Sebab poster merupakan media luar ruangan yang dimaksudkan untuk menarik perhatian orang-orang yang sedang bergerak dan mungkin saja hanya dilihat dari kejauhan.

(39)

Gambar

Gambar 2.2 Poster Lingkungan
gambarnya adalah seorang anak yang membuang sampah ke tempatnya, hal
Gambar 2.4 Poster Kegiatan
Gambar 2.5 Poster Lingkungan
+7

Referensi

Dokumen terkait

pragmatik dan implikasinya dalam pembelajaran ini dilakukan di SMPN 22 Bandar Lampung dan SMP IT Fitrah Insani Bandar Lampung selama Sembilan bulan, dari April

Hasil penelitian menunjukkan bahwa realisasi ketidaksantunan berbahasa dalam komunikasi remaja di daerah Teluk Betung Barat banyak dilakukan saat penutur sedang marah, atau

Gaya merupakan cara yang digunakan pengarang dalam memaparkan gagasan sesuai dengan tujuan dan efek yang ingin dicapainya (Luxemburg dkk, 1984:104). Penggunaan eufemisme dan

Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah membaca dan menandai setiap penggunaan kata berimbuhan yang mengalami proses morfofonemik yang terdapat pada laporan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa, percakapan yang mengandung implikatur dapat diklasifikasikan meliputi (1) implikatur berdasarkan klasifikasi tindak tutur,

Kesantunan dalam tindak tutur tidak langsung yang paling dominan ditemukan dalam tuturan siswa pada kegiatan diskusi di kelas VIII adalah tuturan deklaratif sebagai

Sumber data dalam penelitian ini adalah tindak tutur komisif pedagang perempuan di Pasar Induk Bandar Jaya Lampung Tengah. Data dalam penelitian ini berupa tuturan komisif

Perbedaan sikap bahasa siswa SLTA dan SLTP terhadap bahasa Inggris menunjukkan bahwa perbedaan nilai yang tertinggi ditunjukkan oleh sikap terhadap pentingnya belajar