SAWANGAN KOTA DEPOK.
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Disusun Oleh:
Diah Maulidia
NIM. 109051000099
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
SAWANGAN
KOTA
DEPOK.Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh Diah Maulidia NIM: 109051000099
JURUSAN
KOMUNIKASI
DANPENYIARAN
ISLAM
FAKULTAS
ILMU
DAKWAH
DANILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITASISLAM NEGERI
SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013 MI
1434HREMAJA
ISLAM
MUSHOLLA AL-HIDAYAH (RISMA)
SAWANGANKOTA DEPOK telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan IlmLr Kot.t.ittnil<asi UIN Syarif Hidayatullah Jakarla pada tanggal ?0 Septenber
20i3.
Skripsiini
telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sar.iana Komunikasi Islam (S.Kom.L) pada Jurusan Kornunikasi dan Penyiaian Islam..Iakafta, 20 September 20 1 3
Sidang Munaqasyah
Sekretaris
Anggota, l-lrs. Studv.Kizal.
LK
Nrr'. 196d0428 199303 NIP. 197108
Drs. Stud./Rizal.LK
NrP. t9K40428 199303 199503 1 001
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
Skripsi ini merupakan hasil karya
salah satu persyaratan memperoleh
Jakarta.
asli saya yang diajukan untuk memenuhi gelar Strata
I
di UIN Syarif Hidayatullah l.2.
J.
Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di uIN syarif Hidayatullah Jakarta. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya
ini
bukan hasil aslisaya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN syarif Hidayatulrah Jakarta.
Jakarta, September 2013
iv
NIM : 109051000099
Strategi Pembinaan Keagamaan Remaja Islam Musholla Al-Hidayah (RISMA) Sawangan Kota Depok
Perkembangan teknologi informasi kian hari semakin canggih. kehadiran informasi global berteknologi tinggi telah membawa berbagai dampak negatif dan positif. Kini dengan hadirnya teknologi di tengah-tengah kita telah menyita waktu senggang anak-anak, remaja bahkan sampai orang dewasa. Kondisi ini membuat
lingkungan majelis ta’lim, musholla dan masjid sepi dari jama’ah remaja. Hal ini tak lain disebabkan kurangnya pengetahuan agama dengan baik serta peran orang tua yang minim. Dengan melihat kondisi di atas, perlu adanya tindakan khusus dalam mengatasi hal tersebut. Disini pengajian RISMA yang merupakan suatu lembaga remaja sebagai wadah dakwah mempunyai peran untuk membina keagamaan pada remaja. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibutuhkan suatu strategi. Seperti halnya RISMA yang mempunyai strategi dalam kegiatan dakwahnya.
Peneliti memandang bahwa strategi dakwah cukup penting dalam pembinaan keagamaan pada remaja, maka sebagai rumusan masalahnya yaitu bagaimana strategi dakwah yang dilakukan RISMA dalam pembinaan keagamaan pada remaja?
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskritif analisis, dengan menggunakan pengamatan langsung atau observasi yang dilanjutkan dengan wawancara kepada narasumber dan kemudian menggunakan dokumentasi sebagai dokumen aktual dalam penyusunan penelitian ini. Setelah semua data yang dibutuhkan telah terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menyusun data secara sistematis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam melakukan analisa data.
v
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan karunia yang berlimpah kepada penulis sehingga dengan izin-Nya dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad saw, sebagai suri tauladan yang baik bagi umatnya.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan yang harus ditempuh untuk menyelesaikan pendidikan strata 1 (S1) jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam segala sesuatu yang kita perjuangkan tentunya tidak akan lepas dari segala kesulitan, hambatan dan rintangan, baik dari segi waktu, materi dan perasaan, namun itu semua tidak menyurutkan semangat penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. penulis menyadari bahwa terselainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak, baik berupa material maupun moril, berupa saran-saran, bimbingan dan sebagainya. oleh karena itu, sudah semestinya penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak yang sudah berjasa, diantaranya kepada :
1. Keluarga yang selalu mendukung, membantu, memotivasi sertamendo’akan kepada penulis dengan kasih sayang yang tak terhingga selama perkuliahan berlangsung
2. Dr. Arief Subhan, MA., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi, serta wakil-wakil dekan Drs. Wahidin Saputra, M.Ag., Drs, Mahmud Jalal, M.A., dan Drs. Study Rizal LK, M.A.
3. Drs. Jumroni, M.Si., sebagai Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. 4. Dra. Hj. Umi Musyarofah, M.A., sebagai Sekretaris Jurusan Komuikasi dan
Penyiaran Islam.
5. Bapak Mahmud Jalal, M.A., sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses skripsi ini berjalan.
vi
8. Para pembina, penasihat, ketua, pengurus serta anggota pengajian Remaja Musholah Al-Hidayah (RISMA), yang telah mengarahkan dan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
9. Kawan-kawan KPI C angkatan 2009, serta teman dan sahabat penulis lainnya, yang telah membantu penulis dalam segala hal, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
10.Kawan-kawan KKN SADARI 2012, yang telah memberikan dukungan serta motivasi baik di saat suka dan duka.
11.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan maupun bantuan dengan tulus dan ikhlas baik moril maupun materil.
Penulis menyadari penulisan skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, dengan kerendahan hati dan ucapan terima kasih, penulis senantiasa menerima kritik dan saran dari berbagai pihak yang membangun demi kesempurnaan. Semoga skripsi ini akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya, terutama bagi penulis.
Jakarta,31 Agustus 2013
vii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6
D. Metodologi Penelitian ... 7
E. Kajian Pustaka ... 11
F. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II KERANGKA TEORITIS A. Strategi ... 14
B. Dakwah ... 16
1. Pengertian ... 16
2. Unsur-unsur Dakwah ... 19
3. Macam-macam Dakwah ... 22
C. Strategi Dakwah ... 22
1. Pengertian ... 22
2. Prinsip-prinsip Strategi Dakwah ... 24
3. Bentuk-bentuk Strategi Dakwah ... 26
D. Pengajian ... 28
E. Pembinaan Keagamaan Remaja ... 33
F. Remaja Musholah ... 35
1. Pengertian Remaja ... 35
2. Pengertian Musholah ... 37
3. Pengertian Remaja Musholah ... 37
BAB III GAMBARAN UMUM PENGAJIAN REMAJA ISLAM MUSHOLAH AL-HIDAYAH (RISMA) A. Sejarah berdiri dan Perkembangan ... 39
B. Visi dan Misi ... 41
C. Sarana Prasarana ... 42
D. Struktur Organisasi ... 43
E. Program Kegiatan ... 46
BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA A. Identitas Informan... 51
B. Strategi Pembinaaan Keagamaan Pengajian RISMA ... 54
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 70
B. Saran-saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA
1
A. Latar Belakang Masalah
Di era informasi dan globalisasi tak dapat dipungkiri lagi bahwa kehadiran informasi global berteknologi tinggi telah membawa berbagai dampak negatif dan positif, kemajuan teknologi amat dekat hubungannya dengan kemajuan hidup manusia untuk lebih mudah dan lebih efisien. Tetapi manusia sering tebuai dengan nikmat yang kita dapatkan, hingga kita melupakan atau menyampingkan fitrah kita sebagai umat untuk beribadah kepada Allah SWT.
Perkembangan teknologi telah dikuasi oleh mayoritas dari kalangan remaja, kini dengan hadirnya teknologi di tengah-tengah kita telah menyita waktu senggang anak-anak, remaja bahkan sampai orang dewasa yang
seharusnya berada di lingkungan majelis ta’lim, musholla dan masjid, kini
yang sering kita jumpai mereka lebih memilih berada di warung internet (WARNET) dan layar kaca dengan jutaan informasi yang disajikan mulai dari berita, hiburan, musik, permainan dan lain sebagainya yang cukup banyak menyita waktu mereka untuk mengukir akidah dimasa dini.
Dengan melihat kondisi di atas, perlu adanya tindakan khusus dalam
mengatasi hal tersebut khususnya dari peranan orang tua dengan dibekali pengetahuan agama yang cukup. Dengan bekal agama yang cukup kita dapat
membentengi diri dari hal-hal negatif.
Pengajian merupakan wadah dalam menuntut ilmu yang biasa dihadiri mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Pengajian merupakan
alternatif dari lembaga formal yang ada di sekitar kita. pengajian lebih terjangkau dalam segi waktu, biaya dan lokasi. Untuk mengatasi permasalahan
remaja perlu upaya peningkatan mutu atau kualitas dalam segi kegiatannya. Khususnya kegiatan dalam pembinaan umat melalui kegiatan dakwah, salah
satunya pengajian, yang disusun dengan kurikulum dan pokok-pokok bahasan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan problematika yang sedang dihadapi. Disamping itu juga kegiatan keagamaan yang dikemas dengan baik dan
menarik akan memberikan input positif bagi jamaah. Sehingga diharapkan pelaksanaan dakwah yang dilakukan tepat sasaran dan efektif.1
Islam sebagai agama dakwah menaruh harapan yang besar pada
remaja, yaitu melanjutkan cita-cita islam dan bangsa tercinta. Mereka seolah-olah sedang meniti jembatan yang panjang dan banyak rintangan yang
menghadapi. Ada kalanya mereka tergelincir dari jalan yang lurus dan terbawa arus zaman modern.
Dakwah Islam memerlukan sebuah strategi baru yang mampu
mengantisipasi perubahan zaman yang semakin dinamis. Oleh sebab itu dalam rekayasa peradaban Islam sekarang ini untuk menyongsong kebangkitan umat
1
di zaman modern diperlukan formasi strategi yang tepat.2
Dakwah harus tampil secara aktual, faktual, dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah terkini (kontemporer) yang sedang hangat di
tengah-tengah masyarakat. Untuk itu dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat. Hal ini mengacu pada firman Allah SWT dalam surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. (Q.S. an-Nahl:125)
Untuk mempermudah dakwah Islam maka dibentuklah suatu
organisasi yang merupakan sebuah kekuatan umat yang disusun dalam satu kesatuan berupa bentuk persatuan mental dan spiritual serta fisik material di bawah pimpinan sehingga dapat melaksanakan tugas lebih mudah, terarah,
dan jelas motivasinya serta jelas arah dan tujuannya sehingga dapat mengetahui tahapan-tahapan yang harus dilaluinya.3
Majelis ta’lim atau pengajian remaja musholla Al-Hidayah (RISMA)
merupakan suatu lembaga pendidikan non formal Islam yang berusaha mengajak para remaja yang berada di lingkungan Sawangan untuk lebih
meningkatkan agama kepada masyarakat agar lebih bertakwa kepada Allah
2
M.Bahri Ghazali, Komunikaif Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi Dakwah,
(Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1997), cet ke-1,h.33
3
Tuty Alawiyah,AS, Strategi Dakwah Di kalangan Majelis Ta’lim, (Bandung: Mizan
SWT. Selain itu, pengajian ini juga mempunyai peran penting sebagai media
dakwah untuk memberikan pembinaan lebih mengenai agama Islam terhadap para remaja setempat. Hal ini dibuktikan dengan RISMA mengadakan
kegiatan-kegiatan islami dan menyajiakan materi-materi pembelajaran dengan beberapa metode seperti melalui metode ceramah, media audio visual, media tulis dan beberapa kegiatan positif lainnya, sehingga para remaja yang
terjerumus dalam lembah hitam secara perlahan-lahan masuk dalam organisasi RISMA dan menjadi pribadi yang religi.
Keberadaan pengajian ini berada di lingkungan Sawangan yang mayoritas penduduknya Islam. Namun kesadaran para remaja dalam
peningkatan ibadah dan pengetahuan agamanya sangat kurang dan sangat memprihatinkan. Disini, RISMA ingin membangkitkan kembali semangat anak remaja ke dalam kegiatan positif. Untuk dapat membangun dan
mewujudkan sistem Islam dalam kehidupan manusia yang menjadi esensi dakwah, maka apa yang menjadi tugas dan fungsi dari dakwah harus dituntut dengan baik
Sebagai salah satu forum komunikasi umat islam, pengajian RISMA mempunyai fungsi dan peran dalam menyiarkan ajaran islam khususnya bagi
para remaja. Di zaman modern ini merupakan sebuah tantangan baru bagi RISMA untuk mencari solusi agar program yang dijalankannya dapat disukai dan digemari para remaja. Dengan memanfaatkan media yang ada dan para
ustadz setempat RISMA bekerja sama dengan ustadz untuk menyajiakan materi dengan menggunakan audio visual, hal ini dilakuakan RISMA karena
berdakwah dengan menggunakan media yang canggih, dapat meminimalisir
hambatan-hambatan efektifitas dakwah”.
Bedasarkan latar belakang di atas dan mengingat pentingnya sebuah
lembaga non-formal yang harus memiliki suatu strategi untuk memberikan
atmosfir yang baik kepada para remaja, agar mereka dapat menjadi pribadi
yang baik serta menjunjung nilai-nilai agama Islam. Hal ini yang membuat
penulis tertarik mengambil penelitian di lembaga non-formal Pengajian
Remaja Islam Musholla Al-Hidayah (RISMA) Sawangan Kota Depok, dengan
mengangkat judul skripsi: “Strategi Pembinaan Keagamaan Remaja Islam
Musholla Al-Hidayah (RISMA) Sawangan Kota Depok”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis pembatasi penulisan ini pada strategi
dakwah yang dilakukan pengajian remaja Islam musholla Al-Hidayah
(RISMA) dalam pembinaan keagamaan pada remaja di Sawangan Kota
Depok yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu pada malam sabtu.
Strategi dakwah yang dimaksud disini adalah sebagai metode, siasat,
taktik atau manuver yang dipergunakan dalam aktivitas (kegiatan)
dakwah. Tempat yang akan diteliti yaitu dibatasi pada lingkungan RT
01-02, RW 07. Pembinaan keagamaan disini meliputi syari’ah seperti ibadah
yang meliputi sholat fardu, puasa, membaca al-quran dan zakat. dan
mu’amalah yang meliputi dampak dari pergaulan bebas, mengenai
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan yakni Bagaimana strategi pembinaan
keagamaan pengajian RISMA pada remaja Sawangan Kota Depok.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui strategi dakwah pengajian “Remaja Islam Musholla Al- Hidayah (RISMA)” dalam pembinaan keagamaan pada remaja di Sawangan Kota Depok.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan dokumentasi ilmiah untuk perkembangan ilmu keagamaan, dan sebagai dasar bagi studi-studi selanjutnya, terutama
dalam rangka meningkatkan fungsi dan peranan remaja khususnya dalam pembinaan kehidupan beragama dikalangan remaja.
b. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, khususnya penulis dan pada umumnya pembaca, masyarakat, praktisi dakwah dan
tokoh masyarakat. Dan dengan data ini diharapkan akan menjadi bahan informasi bagi semuanya untuk dapat pembinaan mutu kegiatan yang
D. Metodelogi Penelitian
1. Metode Penelitian
Dalam menyusun rancangan penelitian kualitatif, peneliti tidak diharapkan membangun asumsi, bahwa peneliti mengetahui apa yang tidak diketahui. Karena itu bersifat terbuka dan penelitipun memasuki lapangan dengan sikap perasaan dimana dirinya adalah tidak tahu tentang apa yang ada dalam obyek studinya. Berkaitan dengan itu, aspek metode dalam rancangan kualitatif tidaklah dirinci sedemikian rupa. Cukuplah ditentukan strategi-strategi umumnya saja yang akan dan harus digunakan sebagai teknik-teknik yang dimiliki pendekatan kualitatif itu sendiri. Misalnya, untuk kegiatan pengumpulan data dicantumkan observasi partisipan dan wawancara mendalam, di samping itu dapat juga menggunakan dokumen-dokumen dan rekaman-rekaman data.4
Jenis penelitian menggunakan studi lapangan dengan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.5
2. Subjek dan objek penelitian a. Subjek penelitian
Yang menjadi subjek adalah orang atau kelompok yang memberi informasi, dalam hal ini adalah para Pembina RISMA yang berjumlah
4
Moh. Kasiram, Metodelogi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: UIN –Maliki
Press ,2010), Cet ke-2, h. 237.
5
dua orang yaitu ustadz Iwan Edi, S.ThI dan bapak Mustofa, ketua RISMA Asmuni Sudrajat, pengurus dalam bidang peribadatan Diah dan Zainal Abidin, dan empat guru pengajar: ustadzah miyah, Iwan Edi, S. ThI, Ustadz Amil Misar dan Ustadz Baidowi Tafsir. Dan sepuluh anggota RISMA tingkat pendidikan mulai dari tingkat SMA. b. Objek penelitian
Selain mempelajari subjek, penelitian ini juga akan mempelajari dengan seksama tentang objek penelitian, meliputi strategi pembinaan keagamaan Remaja Islam Musholla Al-Hidayah (RISMA) Pada Remaja Di Sawangan Kota Depok.
3. Tempat penelitian dan waktu penelitian a. Tempat penelitian
Penelitaian ini dilakukan di Pengajian Remaja Islam Musholla Al-Hidayah RT.01-02 RW.07 Sawangan Lama, Kelurahan Sawangan, Kota Depok.
b. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2013. 4. Teknik pengumpulan data
Untuk memperoleh data dari penelitian lapangan, peneliti menggunakan tehnik-tehnik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi.
a. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia
digunakan untuk menghimpun data penelitian, data-data penelitian ini
dapat diamati oleh peneliti. Dalam arti bahwa data tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui pengamatan panca indra. 6
Dalam observasi ini penulis melakukan pengamatan serta mengikuti berlangsungnya pengajian secara langsung selama 4 bulan terhitung mulai dari bulan Mei sampai bulan Agustus 2013 terhadap
objek penelitian mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi di lokasi penelitian yang berkaitan dengan pembinaan keagamaan remaja yaitu
aktifitas pengajian pada malam sabtu. b. Wawancara
Pada wawancara ini penulis mengadakan komunikasi langsung dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa pihak yakni Tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung.
Keterangan-keterangan yang terdiri dari ketua RISMA, Sekretaris, pembimbing RISMA dan delapan anggota RISMA.
Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data dari sumber
tentang masalah yang diteliti. Wawancara ini dilakukan secara bebas, tetapi tetap menggunakan pedoman wawancara agar pertanyaan
terarah.
Pada wawancara ini penulis mengadakan komunikasi langsung
dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa pihak yakni
Tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung.
Keterangan-keterangan yang terdiri dari Pembina RISMA, ketua
6
Burhan Bugin, Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta; Prenada Media Group,2005)
RISMA, pengurus, sepuluh anggota dan para staf pengajar RISMA dan
dilengkapi dengan data-data informan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah proses pengumpulan data dan mengambil
data berdasarkan tulisan-tulisan berbentuk catatan, buku, dokumentasi,
taupun arsip-arsip yang didapatkan dari pengurus RISMA dan yang
berkaitan dengan pokok bahasan.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Patton yang dikutip oleh Lexy Maleong
adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam
suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.7
Dalam penelitian ini, sebelum memulai wawancara dan observasi
langsung ke tempat penelitian, terlebih dahulu penulis menyusun kerangka
dasar penelitian yang dijadikan acuan dasar bagi penelitian ini, agar proses
penelitian berjalan sesuai dengan apa yang ingin diketahui oleh penulis.
Di dalam penelitian ini penulis menganalisa data dengan
menggunakan teknik analisa deskiptif kualitatif yaitu dengan cara
mengumpulkan data, disusun dan disajikan yang kemudian dianalisa untuk
mengungkapkan arti dari data tersebut, menggambarkan keadaan sasaran
apa adanya.8
Setelah semua data diperoleh, maka penulis menyusunnya sesuai
dengan urutan penelitian kemudian menganalisa hasil dari wawancara dan
7
Lexy j. moleong, MA. Metodelogi Penelitian Kualitatif, edisi revisi, cet. Ke-18, h.280
8
menjelaskannya sesuai dengan kenyataan yang diperoleh pada saat
penelitian berlangsung.
Teknik penulisan skripsi ini penulis mengacu kepada Buku
Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang diterbitkan oleh Ceqda UIN Jakarta tahun 2007.
E. Tinjauan Pustaka
Pada kajian pustaka ini, penulis mencoba menjelaskan tentang
perbedaan skripsi yang hendak penulis teliti, dengan skripsi yang terdahulu yang memiliki judul :
1. Imas Maspupah, dengan skripsi yang berjudul “Strategi Dakwah Ikatan Remaja Masjid Al-Muttaqin Kelurahan Pondok Jagung”. Fakultas Dakwah
Dan Ilmu Komunikasi, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. adapun dalam skripsi ini membahas mengenai strategi dakwah IRMA dalam aktivitasnya.
2. Fitriani Nurhasana, dengan skripsi yang berjudul “Strategi Dakwah DKM Al-Qolam Depok”, adapun dalam skripsi ini membehas mengenai strategi
masjid tanpa melibatkan pengajian remaja.
Yang membedakan judul-judul di atas dengan penulis adalah penulis meneliti mengenai strategi dakwah yang dilakukan pengajian remaja musholla
dalam pembinaan keagamaan dan objek yang di pakai adalah para remaja yang berada di lingkungan Sawangan Depok, dalam penulisan skripsi ini lebih
F. Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diuraikan dalam penelitian ini, maka penulis membagi sistematika penyusunan ke dalam lima bab. Di mana masing-masing bab dibagi ke dalam sub-sub dengan penulisan sebagai berikut:
Bab I. Pendahuluan
Dalam bab satu akan membahas pendahuluan yang memaparkan latar belakang masalah, dengan memberikan batasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.
Bab II. Kajian Teori
Pada bab dua menjelaskan mengenai strategi dakwah yang meliputi pengertian strategi, pengertian dakwah, unsur-unsur dakwah, macam-macam dakwah, pengertian strategi dakwah, prinsip-prinsip strategi dakwah, bentuk-bentuk strategi dakwah, pengertian pengajian, pembinaan keagamaan, dan mengenai remaja musholla yang meliputi pengertian remaja, pengertian musholla, dan pengertian remaja musholla.
Bab III. Gambaran Umum Pengajian RISMA Di Kelurahan Sawangan
Kota Depok
Pada bab tiga membahas tentang gambaran umum subjek penelitian yang terdiri dari sejarah berdirinya pengajian RISMA, visi dan misi, sarana dan prasarana, struktur organisasi, kegiatan RISMA.
Bab IV. Analisis Strategi Pembinaan Keagamaan Pengajian “RISMA”
Pada Remaja Di Sawangan Depok
tentang bagaimana strategi pembinaan keagamaan yang dilakukan pengajian
“RISMA” pada remaja di Sawangan kota Depok.
Bab V. Penutup
14
A. Strategi
1. Pengertian Strategi
Agar lebih mengetahui pengertian strategi lebih jauh lagi penulis memberikan pengertian melalui dua perspektif yaitu: pertama perspektif etimologi dan yang kedua perspektif terminologi.
a. Perspektif Etimologi
Dari segi perspektif etimologi kata “strategi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu Stratogos yang berarti militer dan Ag yang berarti memimpin. Dalam konteks awalnya, strategi diartikan
Ghaneralship atau sesuatu yang dilakukan oleh para jendral dalam
membuat rencana untuk menaklukan musuh dan memenangkan perang.1
Namun saat ini, Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan kata strategi banyak diadopsi dan diberi arti yang lebih luas sesuai dengan bidang ilmu atau kegiatan yang menempatkannya. Pengertian strategi tidak lagi tebatas pada konsep atau seni seorang jendral di masa perang. Tetapi saat ini kata strategi sudah berkembang pada tanggung jawab seorang pemimpin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
disebutkan bahwa istilah strategi adalah “seni atau ilmu untuk
menggunakan sumber daya untuk melaksanakan kebijakan tertentu.2
1
Fitriani Nurhasanah, Strategi Dakwah DKM Al-Qalam Depok, (Manajemen Dakwah
2012) h. 15
2
Penggunaan kata strategi dalam manajemen atau suatu
organisasi diartikan sebagai “kiat, cara atau taktik utama yang
dirancang secara sistematik dalam melaksanakan fungsi manajemen
yang terarah pada tujuan strategi organisasi.3
b. Secara terminologi
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai strategi penulis memaparkan sejumlah para pakar mengenai pengertian strategi, diantaranya :
1) Onong Uchayana Effendi, mengatakan bahwa “strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan managmen untuk mencapai suatu tujuan, akan tetapi untuk mencapai suatu tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya memberikan peta jalan saja, melainkan harus mampu menunjukan bagaimana taktik operasionalnya.4
2) Syarif Usman mendefinisikan strategi sebagai “kebijkan menggerakan dan membimbing seluruh potensi kekuatan, daya dan kemampuan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan
kebahagiaan”.5
3) Prof. Din Syamsudin strategi mengandung arti antara lain: a) Rencana dan cara yang seksama untuk mencapai tujuan.
b) Seni dalam menyiasati pelaksanaan rencana atau program untuk mencapai tujuan.
3
Hadari Nawawi, Manajemen Strategi Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan
Dengan Ilustrasi Di Bidang Pendidikan (Yogyakarta :Gajah Mada Universitas Press, 2000),Cet Ke-1, h.147
4
Onong Uchana Effendi, Teori Dan Praktek Ilmu Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1992), Cet Ke-6, h 32
5
Syarif Usman, Strategi Pembangunan Indonesia Dan Pembangunan Dalam Islam,
c) Sebuah penyesuaian terhadap lingkungan untuk menampilkan
fungsi dan peran penting dalam mencapai keberhasilan bertahap.6
4) M. Bahri Ghazali M.A dalam bukunya mengatakan strategi adalah langkah-langkah operasional dalam menuju terlaksanakannya suatu kegiatan yang merupakan taktik untuk mencapai suatu tujuan dari
kegiatan. Pelaksanaan dakwah dapat dilaksanakan melalui modifikasi kegiatan dakwah sesuai dengan situasi dan kondisi
lingkungan dakwah tersebut.7
Dalam strategi mengandung visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan,
program dan kegiatan yang nyata dengan mengantisipasi perkembangannya. Kurangnya penerapan dalam strategi yang baik dapat menyebabkan strategi yang telah direncanakan gagal. Akan tetapi
penetapan strategi dengan baik dapat mengkokohkan strategi menjadi lebih efektif.
B. Ruang Lingkup Dakwah
1. Pengertian Dakwah
Dakwah secara lughawi berasal dari bahasa Arab, merupakan bentuk dari kata masdar da’a, yad’u, da’watan yang berarti seruan,
panggilan, undangan. Secara istilah, kata dakwah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk,
menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang
6
Din Syamsudin, Etika Agama Dalam Membangun Masyarakat Madani,(Jakarta: Lagos, 2000),Cet Ke-1, h.127
7
M. Bahri Ghazali, Dakwah Komunikatif: Membangun Kerangka Dasar Ilmu
dilarang oleh Allah swt dan Rasul-Nya agar manusia mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.8
Adapun pengertian dakwah menurut beberapa pakar :
a. Sayyid Qutub yang dikutip oleh A.Ilyas Ismail dakwah adalah merupakan salah satu kewajiban bagi orang islam, dakwah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kaum muslim baik individu maupun kelompok.9
b. Hj. Tuty Alawiyah AS mengatakan bahwa dakwah dalam arti amr
ma’ruf nahyi munkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan
keselamatan hidup masyarakat. Ini adalah kewajiban manusia yang memiliki pembawaan fitrah sebagai social being (makhluk sosial), dan kewajiban yang ditegaskan oleh risalah sebagaimana tercantum dalam Kitabullah dan sunnah Rasull-Nya. Oleh karena itu, dakwah bukan
monopoli golongan yang disebut “ulama” atau “cendik-cendikiawan”
saja.10
c. Wahyu Ilaihi M.A dalam bukunya mengatakan mengenai dakwah
adalah “ajakan atau seruan kepada yang baik dan yang lebih baik.
Dakwah mengandung ide tentang progresivitas, sebuah proses terus-menerus menuju kepada yang baik dan yang lebih baik dalam mewujudkan tujuan dakwah tersebut.11
d. Samsul Munir Amin berpendapat dalam bukunya dakwah adalah sebuah proses penyampaian ajaran agama Islam kepada umat manusia.12
8
Armawati Arbi, Dakwah Dan Komunikasi, Cet 1,(UIN Jakarta Press), h 33
9
A. Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah Sayyid Quthub Rekontruksi Pemikiran Dakwah
Harakah, (Jakarta: Penerbit Madani, 2006), h 20
10
Tuty alawiyah, Strategi Dakwah di Kalangan Majelis Ta’lim, h 25
11
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah (PT. Remaja Rosdakarya), cet 1, h 17
12
e. HM Arifin berpendapat dalam bukunya, bahwa dakwah adalah suatu
ajakan baik dalam bentuk tulisan, lisan, tingkah laku dan sebagainya, yang dilakukan dengan secara sadar dan terencana dalam usaha
mempengaruhi orang lain baik secara sadar dan terencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap
penghayatan serta pengahayatan terhadap ajaran sebagai message yang disampaikan kepadanya tanpa adanya unsur pemaksaan.13
Islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang berisi petunjuk-petunjuk agar manusia menjadi lebih baik, beradab dan
berkualitas. Selalu berbuat baik sehingga mampu membangun sebuah peradaban yang maju. Sebuah tatanan kehidupan yang manusiawi dalam arti kehidupan yang adil, maju bebas dari berbagai ancaman, penindasan,
dan berbagai kekhawatiran. Agar mencapai semua itu, maka perlu dilakukan dakwah. Karena dengan masuknya Islam dalam sejarah umat manusia, agama ini mencoba meyakinkan umat manusia tentang
kebenarannya.14
Bedasarkan dari beberapa pendapat di atas mengenai pengenai
pengertian dakwah penulis menyimpulkan, dakwah ialah usaha seseorang
da’I dalam menyampaikan pesan-pesan ajaran Islam yang bersumber dari
Al-Quran dan Al-Hadis, yang dilakukan dengan cara mengajak, menyeru,
membimbing manusia agar kembali kejalan yang Allah SWT, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
13
H.M Arifin, M.Ed, Psikologi Dakwah, Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993),Cet Ke-2, h 6
14
2. Unsur-unsur Dakwah
Terlepas dari perbincangan dan analisis dari definisi dakwah yang sudah ada dalam fokus pembahasan ilmu dakwah. Maka ada lima faktor
atau kompenen dalam dakwah, diantaranya: 1. Subyek dakwah, 2. Obyek dakwah, 3. Materi dakwah, 4. Media dakwah, 5. Metode dakwah. Yang dimaksud dari lima komponen tersebut ialah komponen yang selalu ada
dalam pelaksanaan kegiatan dakwah.15 a. Subyek dakwah (da’i)
Da’i adalah orang yang melakukan dakwah baik lisan, tulisan dan
perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat
organisasi atau lembaga.
Secara umum kata da’i ini sering disebut dengan sebutan mubaligh
(orang yang menyampaikan ajaran Islam),
b. Objek dakwah (mad’u)
Seorang da’i menyedari bahwa yang diajak kedalam Islam bukan
saja sebagian manusia atau manusia tertentu, melainkan semua
manusia. Berdakwah bukan untuk waktu sementara, tetapi sepanjang zaman hingga datangnya kiamat. Selain itu, berdakwah tidak
membedakan jenis kelamin, sertifikasi sosial, etnis, waktu dan tempat tertentu.
Seorang dai harus mengetahui keberagaman audiens. Dari sudut
ideologi, mereka ada yang ateis, musrik dan munafik. Ada juga yang muslim tetapi membutuhkan bimbingan atau umat Islam yang masih
15
melakukan maksiat. Mereka juga berbeda dari segi intelektualitas,
status sosial, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.16 c. Materi dakwah
Pada dasarnya materi dakwah adalah ajaran Islam yang memiliki karakter sejalan dengan fitrah manusia dan kebutuhannya. Sirah nabi yang mengajarkan kepada kita bahwa materi pertama yang
menjadi landasan utama ajaran Islam, yang disampaikan rasulullah SAW yang disampaikan manusia adalah masalah yang berkaitan
dengan aqidah salimah. Keimanan yang benar, masalah al-insan, tujuan program, status dan tugas hidup manusia di dunia dan tujuan
akhir yang harus dicapainya dan persamaan manusia di hadapan Allah SWT.17
d. Media dakwah
Media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat di pergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah ini dapat berupa barang (material), orang, tempat,
kondisi tertentu dan sebagainya. Media dakwah bukan saja berperan sebagai alat bantu dakwah, namun bila ditunjau dakwah sebagai suatu
sistem, yang mana sistem ini terdiri dari beberapa komponen (unsur) yang komponen satu dengan yang lainnya.
Di zaman modern sekarang ini, dakwah harus menyesuaikan
situasi dan kondisi yang semakin berubah kearah yang lebih maju.
Dituntut efektifitas dan efesiensi dalam pelaksanaan dakwah. Tidak hanya
16Sa’id Bin Ali Bin Wahif Al
-Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, (Jakarta: Gema
Insani Press, 1994), Cet Ke-1, h 100
17
asal dalam melaksanakan dakwah, tetapi harus dipikirkan terlebih dahulu
apakah dakwah yang dilaksanakan sudah mengena atau belum, dan apakah
berhasil ataukah tidak.
Hamzah Ya’qub membagi media dakwah menjadi lima, yaitu
media lisan, tulisan, lukisan, audio visual, dan akhlak. Sedangkan
DR. Moh. Ali Aziz membagi media menjadi dua, yaitu media tradisional dan modern (elekronik).18 Media dakwah yang tradisional ini cukup banyak, salah satu diantaranya adalah wayang. Media wayang ini dahulu
digunakan para Walisongo saat berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia. Khususnya di pulau Jawa.
Dalam era tradisional dakwah biasanya dilakukan di tempat ritual keagamaan (masjid, musholla dan majelis ta’lim) dengan media seadanya. Seiring dengan perkembangan zaman, media dakwah lebih variatif dan
bisa dilakukan dimana saja (fleksibel). Tentunya dengan bantuan media yang canggih, yang dapat meminimalisir hambatan-hambatan efektivitas
dakwah.
Sementara media modern (elektronik) ramai digunakan di
millennium ke tiga, yaitu di zaman sekarang ini. Media modern ini berupa
radio, film, televisi, internet, dan sebagainya. Dakwah sebagai komunikasi
keagamaan diharapkan kepada perkembangan dan kemajuan teknologi
komunikasi yang semakin canggih, memerlukan adaptasi terhadap
kemajuan tersebut.19
18
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h.120
19
M. Bahri Ghazali, Dakwah Komunikatif: Membangun Kerangka Dasar Ilmu
3. Macam-macam Dakwah
Dakwah Islam dapat dikategorikan kedalam tiga macam,20 yaitu:
a. Dakwah bi Al-Lisan
Dakwah bi al-lisan yaitu dakwah yang dilaksanakan melalui lisan,
yang dilakukan antara lain dengan ceramah-ceramah, khutbah, diskusi, nasihat, dan lain-lain.
b. Dakwah bi Al-Hal
Dakwah bi al-hal adalah dakwah dengan perbuatan nyata yang
meliputi keteladanan. Seperti melalui tindakan amal karya nyata yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat sebagai objek dakwah.
c. Dakwah bi Al-Qalam
Dakwah bi al-qalam adalah dakwah yang dilakukan melalui tulisan
yang di implementasikan melalui surat kabar, majalah, buku, maupun internet.
C. Strategi Dakwah
1. Pengertian Strategi Dakwah
Menurut Asmuni Syukir dalam bukunya Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam mengatakan bahwa Strategi dakwah diartikan sebagai metode, siasat, taktik atau manuver yang dipergunakan dalam aktivitas (kegiatan) dakwah.21 Strategi dakwah sangat erat kaitannya dengan managemen. Karena orientasi kedua term atau istilah tersebut sama-sama mengarah pada sebuah keberhasilan planning yang sudah ditetapkan oleh individu maupun organisasi.
20
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, h. 11
21
Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Penerbit Al-Ikhlas
Menurut Abu Zahra yang dikutip oleh Acep Aripudin mengatakan bahwa strategi dakwah Islam adalah perencanaan, penyerahan kegiatan dan operasi dakwah Islam yang dibuat secara rasional untuk mencapai tujuan-tujuan Islam yang meliputi seluruh dimensi kemanusiaan.22
Menurut pendapat Al-Bayuni strategi dakwah (manhaj al-da’wah) adalah ketentetuan-ketentuan dakwah dan rencana-rencana yang dirumuskan untuk kegiatan dakwah.23
Bedasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi dakwah merupakan perpaduan dari perencanaan (planning), metode dan taktik untuk mencapai suatu tujuan dakwah. Dalam mencapai tujuan tersebut, maka strategi dakwah harus dapat menunjukan bagaimana operasionalnya yang harus dilakukan secara tekhnik atau taktik.
Strategi dakwah tidak berbeda dengan strategi komunikasi. Jika dalam dakwah menggunakan strategi komunikasi, maka dakwah yang dilakukan akan berhasil karena sebelum memulai berkomunikasi terlebih dahulu harus paham siapa yang menjadi audiens, media apa yang digunakan sesuai dengan keadaan, pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh audiens.
Strategi yang digunakan dalam usaha dakwah harus memperhatikan beberapa azas dakwah di antaranya :
a. Azas filosofis: membicarakan mengenai tujuan yang hendak dicapai dalam proses aktifitas dakwah.
b. Azas kemampuan dan keahlian da’i: membicarakan mengenai kemampuan serta profesionalisme da’i dalam subjek dakwah.
22
Acep Aripudin & Syukriadi Sambas, Dakwah Damai: Pengantar Dakwah Antar
Budaya, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2007), Cet. Ke-1, h.138.
23
c. Azas sosiologis: membicarakan mengenai situasi dan kondisi sasaran
dakwah.
d. Azas psikologi: membicarakan mengenai dengan kejiwaan manusia.
e. Azas efektivitas dan efesiensi: maksud azas ini adalah di dalam aktifitas dakwah harus diusahaan keseimbangan antara biaya,waktu, maupun tenaga yang dikeluarkan dengan pencapaian hasilnya.
Sehingga hasilnya dapat maksimal.24
Dalam rangka menyusun strategi dakwah diperlukan suatu
pemikiran yang lugas dan rasional dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi tersebut.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan kata strategi banyak diadopsi dan diberikan pengertian lain sesuai bidang ilmu atau kegiatan yang menyertainya. Ilmu dakwah juga mengadopsi kata strategi
untuk menjelaskan rangkaian kegiatan dakwah yang dapat membantu pencapaian tujuan dakwah itu sendiri. Sebenarnya menurut Fuad Amsyari,
kata strategi “merupakan bagian dari Islam atau dengan kata lain Islam itu
sendiri merupakan manifestasi dari strategi manusia untuk hidup mencapai kebahagiaan lahir dan batin individu masyarakat.25
2. Prinsip-prinsip Strategi Dakwah
Bedasarkan pada makna dan urgensi dakwah tersebut, serta kenyataan dakwah di lapangan dan aspek-aspek normative tentang dakwah yang
terdapat dalam al-quran dan hadist, maka ditemukan prinsip strategi dakwah, antara lain sebagai berikut:
24
Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Islam, h. 32
25
a. Memperjelas secara gamblang sasaran ideal
Sebagai langkah awal dalam berdakwah, terlebih dahulu harus diperjelas sasaran apa yang ingin dicapai, kondisi umat Islam
bagaimana yang diharapkan. Baik dalam wujudnya sebagai individu maupun wujudnya sebagai suatu komunitas masyarakat.
b. Merumuskan masalah pokok umat islam
Dakwah bertujuan untuk menyelamatkan umat dari kehancuran dan untuk mewujudkan cita-cita ideal masyarakat. Rumuskanlah terlebih dahulu masalah pokok yang dihadapi umat, kesenjangan antara sasaran ideal dan kenyataan yang kongkret dari pribadi-pribadi muslim, serta kondisi masyarakat dewasa ini. jenjang masalah ini pun tidak sama antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok yang lainnya. Setiap kurun waktu tertentu harus ada kajian ulang terhadap masalah itu seiring dengan pesatnya perubahan masyarakat tersebut.
c. Merumuskan isi dakwah
Jika kita sudah berhasil merumuskan isi dakwah beserta masalah yang dihadapi masyarakat islam, pada langkah selanjutnya adalah menentukan isi dakwah itu sendiri. Isi dakwah harus sinkron dengan masyarakat Islam sehingga tercapai sasaran yang telah ditetapkan. Ketidaksingkronan dalam menentukan isi dakwah ini bisa
menimbulkan dampak negative yang disebut dengan istilah “split
personality” atau “double morality” pribadi muslim. Misalnya
Jadi, untuk bisa menyusun isi dakwah secara cepat, dibutukan
secara tepat, dibutuhkan penguasaan ilmu yang komprehensif atau dengan menghimpun pemikiran-pemikiran para pakar.26
3. Bentuk-bentuk Pendekatan Strategi Dakwah
Jika seorang dai atau sebuah lembaga mampu menjalankan strategi dakwah secara bijak, insyaallah ia akan mencapai keinginannya, yakni keberhasilan dakwahnya.
Nabi Muhammad sebagai imam para da’I, telah menerapakan strategi
dakwah secara bijak, sehingga melalui beliau Allh SWT memberiii manfaat kepada hambanya dan menyelamatkan mereka dari syirik menuju tauhid. Siasat beliau tersebut bermanfaat besar dalam menyukseskan dakwahnya, membangun negaranya, menguatkan kesuksesannya dan meninggikan kedudukannya.
Sepanjang sejarah politik umat manusia tidak pernah ada seorang pun pembaharu yang mempunyai pengaruh besar seperti nabi Muhammad SAW. Terkumpul padanya jiwa seorang pemimpin, pendidik yang bijak, kecerdasan akal, orisinalitas pendapat, semangat yang kuat serta kejujuran. Semua itu telah terbukti pada diri beliau.27
Bentuk-bentuk dalam menentukan strategi dakwah antara lain sebagai berikut:28
a. Memilih waktu kosong dan kegiatan terhadap kebutuhan penerima dakwah (audiens).
Usahakan agar mereka tidak jenuh dan waktu mereka banyak terisi dengan petunjuk, pengajaran yang bermanfaat dan nasehat yang
26
Dr.Muhammad Idris, Ilmu Dakwah, h 20-21
27
Sa’id Bin Ali Bin Wahif Al-Qhatani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, h 84
28
baik. Nabi SAW tidak selalu monton dalam memberiii nasihat, sehingga orang yang dinasihati tidak merasa bosan. Strategi yang dicontihkan nabi SAW dicontohkan oleh para sahabat. Sabda nabi SAW :
ارِّنت الو ارِّبو ارِّعت الو ارِّي
Artinya: “Permudahlah dan jangan kamu persulit, berilah kabar
gembira dan jangan berkata yang membuat mereka lari jauh”. (HR.
Bukhari dan Muslim).
b. Jangan memerintahkan sesuatu yang jika tidak dilakukakan
Terkadang seorang da’i menjumpai suatu kaum yang sudah
mempunyai tradisi mapan. Tradisi tersebut tidak menentang syariat, tetapi jika dilakukan perombakan akan memdatangkan kebaikan. Jika seorang dai menyadari bahwa apabila jika melakukan perombakan akan terjadi fitnah, maka hal itu tidak perlu dilakukan. Nabi SAW tidak
membiarkan ka’bah di renovasi dari fondasi buatan Nabi Ibrahim karena
menghindari fitnah kaum yang baru menetas dari kehidupan jahiliyah. c. Menjinakan hati
Dilakukan jika memberiiikan maaf jika dihina, berbuat baik jika disakiti, berbuat lembut jika dikasari dan bersabar jika dizhalimi. Cemoohan dibalas dengan kesabaran, tergesa-gesa dibalas dengan kehati-hatian.
d. Pada saat memberi nasihat, jangan menunjuk langsung kepada orangnya, tetapi berbicara kepada sasaran umum seperti yang sering dilakukan Nabi SAW.
e. Memberikan sarana yang dapat mengantarkan seorang pada tujuannya. f. Seorang dai harus siap menjawab berbagai pertanyaan, setiap
pertanyaan sebaiknya dijawab secara rinci dan jelas sehingga orang yang bertanya merasa puas.
D. Pengajian
1. Pengertian Pengajian
Pengajian menurut bahasa berasal dari kata “kaji” yang berarti
pengajaran (agama, pengetahuan umum dsb), penyelidikan (tentang sesuatu).29 Kata kaji diberi awalan pe- dan akhiran an- menjadi pengkajian yang berarti mengkaji Al-quran yang berarti juga mengkaji agama islam.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pengajian berarti pengajaran (agama Islam); menanamkan norma agama melalui pengajian dan dakwah;
pembacaan Al-quran.30
Pengajian adalah salah satu media terbaik dalam menyampaikan dakwah, dan pengajian ini biasanya diberikan di tengah-tengah orang
banyak, yang kemungkinan semuanya dikenal oleh juru dakwah atau hanya sebagian saja. Selain itu, pengajian juga biasanya dipergunakan
untuk menerangkan ayat-ayat Al-quran, hadist-hadist, atau menerangkan suatu masalah agama, seperti fiqih.
29
Purwadarminta, WS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999),
h.291
30
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Adapun pengertian pengajian menurut Drs. Abdul Karim Zaidan
adalah suatu forum yang dimiliki oleh orang-orang tertentu yang sengaja datang untuk mendengakan materi pengajian, diantara keterangan
ayat-ayat Al-quran, hadist atau menerangkan suatu masalah agama islam seperti masalah akhlak, aqidah, fiqih dan sebagainya.31
Sedangkan ensiklopedi islam mengatakan bahwa pengajian atau
majelis ta’lim adalah suatu tempat yang di dalamnya terkumpul
sekelompok manusia untuk melakukan aktivitas atau perbuatan.32
2. Tujuan Pengajian
Untuk mengetahui tujuan pengajian, dapat dilihat pada firman
Allah SWT dalam surat Ali-Imran ayat 104:
Artinya: dan khendaklah ada diantara kamu segolongan umat
yang menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar,
mereka itulah orang-orang yang beruntung (Qs: Ali-Imran 104).
Ayat tersebut menjelaskan tentang tujuan pengajian (dakwah )
yaitu mengikuti jalan atau tuntunan Allah SWT dan mewujudkan kebaikan dengan cara menyuru orang berbuat baik mencegah orang lain dari perbuatan jelek, dengan harapan mereka dapat hidup bahagiasejahtera
didunia dan akhirat.
Menurut A.Rosyad Shaleh, tujuan pengajian (dakwah Islam)
adalah:
31
Abdul Karim Zaidan, Dasar-dasar ilmu dakwah, (Jakarta: Media Dakwah, 1984),
h.270
32
Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : PT. Ichtar Baru Van Hoeve, 1994), Cet
a. Meningkatkan dan memperdalam kesadaran dan pengertian umat islam
tentang ajaran Islam
b. Menanamkan kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan c. Memperhatikan kehidupan dan perkembangan masyarakat, khususnya
yang berhubungan dengan kehidupan manusia
d. Membendung tindakan-tindakan dari golongan agama atau aliran lain yang berusaha untuk berubah islam dalam keyakinan agamanya
e. Menghidupkan dan membina kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.33
3. Metode Pengajian
Metode adalah cara yang dalam fungsinya alat untuk mencapai tujuan.34 Metode dalam kaitannyadalam pelaksanaan pengajian adalah jalan atau cara yang dipakai, agar pengajian agama mendapatkanhasil atau sampai pada sasaran dengan baik dan tepat sesuai dengan yang diharapkan.
Dilihat dari segi jama’ah pengajian agama, metode yang disebut diatas
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, diantaranya adalah: a. Metode personal Approach
Metode personal Approach adalah metode yang dilaksanakan dengan cara langsung melakukan pendekatan pada setiap pribadi35 metode ini pada praktenya dilaksanakan secara individu, yaitu dari pribadi ke pribadi secara tatap muka meskipun jamaah yang hadir berjumlah banyak tetapi secara menghadapinya satu persatu.
33
A. Rasyid Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997),h.80
34
B. Surybroto, Mengenai Metode Pengajaran Di Sekolah Dan Pendekatan Baru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Amarta, 1986), h.3
35
Proyek Penerangan Bimbingan Dan Dakwah/Khutbah Agama Islam Pusat. Risalah
b. Metode ceramah
Metode ceramah adalah suatu metode yang banyak diwarnai oleh cirri karakteristik bicara oleh seorang mubaligh pada suatu aktivitas
dakwah.36 Metode ceramah ini sangat tepat apabila jama’ah yang dihadapi merupakan kelompok yang berjumlah besar dan perlu dihadapi secara sekaligus.
c. Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah penyampaian materi dakwah dengan cara
mendorong sasarannya untuk menanyakan suatu masalah yang dirasa belum mengerti dan mubaligh sebagai penjawabnya.37
d. Metode diskusi
Metode diskusi adalah suatu metode di dalam mempelajari atau menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikan materinya sehingga
menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku. e. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu metode dengan cara memperlihatkan
contoh, baik berupa benda, peristiwa, perbuatan dan sebagainya dapat dinamakan bahwa seorang mubaligh yang bersangkutan menggunakan
demonstrasi. f. Metode khalaqah
Dalam metode khalaqah, peserta jama’ah terlibat langsung dalam arti
turun aktif dalam pembicaraan. Kelebihan metode ini ditinjau dari segi pedidikan, dapat meningkatkan kualitas kepribadian seperti kerja sama,
36
Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, h.104
37
toleran, kritis dan disiplin. Sedangkan jika ditinjau dari segi ilmu jiwa
akan menimbulkan persaingan yang positif.38
4. Materi Pengajian
Amalan bila ditinjau dari pembagiannya terbagi menjadi tiga. Pada dasarnya materi dakwah tergantung pada tujuan dakwah yang hendak dicapai. Namun secara global dapat dikatakan bahwa materi dakwah dapat di klasifikasikan menjadi tiga hal pokok, 39 yaitu:
a. Masalah keimanan (aqidah)
Aqidah di dalam Islam adalah bersifat I’tiqad bathiniyah yang
mencakup masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rukun iman.
b. Masalah keislaman (syariah)
Syariah dalam Islam adalah berhubungan erat dengan amal lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan/hokum allah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya dan mengatur pergaulan hidup manusia.
c. Masalah budi pekerti (akhlak)
Masalah akhlak yaitu untuk melengkapi keimanan dan keislama seseorang sebagai penyempurna keimanan dan keislaman.
Pada dasarnya masalah mengenai pengetahuan agama mencakup ajaran Islam yang terkandung dalam al-quran dan as-sunah. Karena agama Islam yang menganut kedua kitab tersebut merupakan sumber utama ajaran-ajaran Islam.
38
Direktorat Jendral Masyarakat Islam 1974 h.58
39
E. Pembinaan Keagamaan Remaja
1. Pengertian Pembinaan Keagamaan
Pembinaan berasal dari kata “bina” yang berarti bangun atau
bentuk. Apabila diberi awalan me-, maka jadi membina, yang artinya membangun, mendirikan, mengusahakan supaya lebih baik sehingga pembinaan mengandung arti proses tindakan dan kegiatan yang dilakukan
secara berdayaguna dan hasil guna untuk menperoleh hasil yang lebih baik.40
Pengertian agama terbatas bagi pemeluk agama samawi terutama agama Islam adalah “ agama merupakan petujuk allah yang terpenting
dalam bentuk kaidah-kaidah perundangan yang ditujukan kepada orang-orang berakal budi supaya mereka mampu berusaha di jalan yang benar
dalam rangka memperoleh kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat”.41
Masa remaja adalah masa peralihan, seorang remaja bukan anak-anak lagi, tetapi dia belum bisa dikatakan sudah dewasa secara jasmani boleh jadi sudah dewasa tetapi emosi serta cara berfikirnya belum mantap
dan mapan sebagaimana layaknya orang dewasa.
Islam memiliki enam aspek yaitu, keimanan kepada allah, pada
para malaikatnya, pada kitab-kitabnya, iman kepada Rasul-Nya, pada hari akhir, dan iman kepada ketentuan yang telah dikehendaki. Dan seluruh aspek ini merupakan hal yang ghaib, kita tidak mampu menangkapnya
dengan panca indera, hal ini yang tampak membingungkan kita bagaimana
40
Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota, Evaluasi Terhadap Existansi Bapinroh, (Jakarta : Badan Pembinaan Pegawai, Bapinroh, 1995), h.10
41
M. Arifin, Kapita Seletja Pendidikan (Islam Dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara 1993),
cara menjelaskannya pada anak, dengan cara apa kita menanamkan enam
aspek keimanan tersebut padanya, dan bagaimana kita bisa mengekspresikan keimanan mereka. namun apabila kita mencoba
mempelajari proses kehidupan Rasulullah dengan segala yang telah beliau ajarkan, kita akan memperoleh sebuah jawaban dari berbagai pertanyaan tadi. Kita akan menemukan lima pola dasar pembinaan akhlak seperti,
membacakan dua kalimat tauhid kepada anak, menanamkan kecintaan kepada Allah, pada Rasul, mengajarkan Al-quran, dan menanamkan nilai
perjuangan serta pengorbanan.42
Kehidupan beragama salah satu diantara sekian banyak sektor yang
harus mendapatkan perhatian besar bagi bangsa dibandingkan dengan sector kehidupan yang lain. Sebab pencapaian pembangunan bangsa yang bermoral dan beradab sangat ditentukan dari aspek kehidupan beragama,
terutama dari hal pembinaan bagi generasi muda.
Secara harfiah pembinaan berarti pemeliharaan secara dinamis dan berkesinambungan. Di dalam konteksnya dengan suatu kehidupan
beragama, maka pengertian pembinaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran memelihara secara terus
menerus terhadap tatanan nilai agama agar segala perilaku kehidupannya senantiasa di atas norma-norma yang ada dalam tatanan itu. namun perlu dipahami bahwa pembinaan tidak hanya berkisar pada usaha untuk
mengurangi serendah-rendahnya tindakan-tindakan negative yang dilahirkan dari suatu lingkungan yang bermasalah, melainkan pembinaan
42
harus merupakan terapi bagi masyarakat untuk mengurangi perilaku buruk
dan tidak baik dan juga sekaligus bisa mengambil manfaat dari potensi masyarakat, khususnya generasi muda.
Membangun kesadaran bagi generasi muda bukanlah hal yang gampang untuk tercapai secara maksimal, tetapi dalam pembinaan kesadaran yang menjadi pokok untuk dibangun. Kesadaran hendaknya
disertai niat untuk mengintensifkan pemilikan nilai-nilai dari pada yang sudah dimiliki., sebab dengan cara tersebut akan mampu mewujudkan
pemeliharaan yang dinamis dan berkesinambungan.
F. Remaja Musholla
1. Pengertian Remaja
Masa remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibaawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama.
Sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasai dalam masyarakat mempunyai aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang khas dan cara berfikir remaja
ini menginginkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa yang kenyatannya merupakan ciri khas yang umum dari periode
perkembangan ini.
Masa remaja adalah masa peralihan, seorang remaja bukan
Dalam perkembangan kepribadian seseorang, masa remaja
mempunyai arti yang khusus ada yang mengatakan masa remaja adalah
masa yang paling indah, sehingga tidaklah boleh dilewatkan begitu saja.
Ada pula pendapat bahwa masa remaja adalah masa yang paling
menentukan kelanjutan hidup seseorang dimasa tuanya. Remaja juga
dikatakan generasi penerus perjuangan bangsa, baik buruk masa depan
bangsa tergantung pada baik buruk moral dan akhlak remajanya.43
Pendapat lain juga dikatakan oleh Sarlito Wirawan Sarwono,
dimana ia mendefinisikan remaja sebagai “masa peralihan dari anak-anak
ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologi tetapi juga fisik. Bahkan
perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala
primer dalam perubahan remaja, sedangkan perubahan-perubahan
psikologi muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan
fisik itu.44
Mengenai batas usia remaja prof. Dr. Hj. Zakiyah Derajat
menetapkan batasan usia remaja mulai dari usia 13-21 tahun.45 Akan tetapi
para ahli menegaskan bahwa yang dapat ditentukan masa remaja itu adalah
masa permulaannya, yaitu ditandai dengan mimpi pertama bagi laki-laki,
sedangkan wanita ditandai dengan menstruasi pertama.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan remaja adalah
suatu masa dimana :
43
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, ( Jakarta: Rajawali Press,2000) Cet. Ke-5, h.9
44
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, h.51
45
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda
seksual sekunder sampai ia mencapai kematangan seksual.
b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan perlu di identifikasi
dari anak-anak sampai dewasa.
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh
kepada keadaan yang relatif mandiri.46
2. Pengertian Musholla
Musala atau Musholla (bahasa Arab: ىّلصم) adalah tempat atau
rumah kecil menyerupai masjid yang digunakan sebagai tempat mengaji
dan salat bagi umat Islam. Musala juga sering disebut dengan surau atau
langgar.47
3. Remaja Musholla
Remaja musholla merupakan bentuk aktivitas yang sedang tumbuh
dan berkembang, namun kehadirannya tidak muncul begitu saja. Berawal
dari usaha-usaha menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang
melibatkan anak muda (remaja), lalu timbul kesadaran perlunya organisasi
yang permanen, dan akhirnya dibentuklah suatu oerganisasi remaja masjid
atau musholla.
Saat ini remaja masjid atau musholla telah menjadi wadah favorit
kegiatan remaja muslim. Umumnya di desa-desa yang banyak kita jumpai.
Meskipun masih banyak hambatan atas keberadaanya, namun secara
umum masyarakat sudah semakin lebih bisa diterima keberadaannya.
46
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Press 1991) Cet Ke-2, h 9
47
Pada dasarnya remaja musholla dan remaja masjid tidak ada
perbedaan hanya saja tempat pelaksanaannya yang berbeda. Saat ini remaja musholla telah menjadi fenomena bagi kegairahan remaja muslim
dalam mengkaji dan mendakwahkan Islam di Indonesia. Sebenarnya, dakwah Islam yang dilakukan para remaja bukanlah hal yang baru.
Remaja masjid membina para anggotannya agar berilmu dan
beriman kepada allah SWT. Pembinaan dilakukan dengan menyusun aneka program yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan berbagai aktifitas
remaja masjid yang telah mapan biasanya mampu bekerja secara terstruktur dan terencana.48
48
39
MUSHOLAH AL-HIDAYAH (RISMA) SAWANGAN DEPOK
A. Sejarah Berdiri Dan Perkembangan
Organisasi remaja ini bernama RISMA (Remaja Islam Musholah Al-Hidayah). RISMA ini suatu organisasi non formal yang berada di lingkungan Sawangan Lama Kota Depok. Organisasi ini memiliki tujuan membentuk pemuda dan pemudi Islam yang bertaqwa, beriman dan berakhlaktul karimah, sehingga dapat berperan aktif dalam mengisi pembangunan di lingkungan warga sekitar.
Pengajian remaja ini berdiri sejak tahun 1990 bertempat di musholah Al-hidayah Rt 02, Rw 07, Sawangan Lama, kota Depok. Latar belakang pendirian pengajian ini didasarkan melalui musyawarah para remaja karena kepedulian para remaja untuk lebih membangun spiritualitas di lingkungan sekitar yang dibekali dengan pengetahuan agama dan melibatkan para remaja dan masyarakat sekitar kepada kegiatan positif.1
Berdirinya organisasi ini merupakan wujud dari harapan dan keinginan para remaja sekitar untuk mempersatukan para remaja lain yang berada di lingkungan Sawangan dengan maksud dan tujuan memberikan pembinaan
kepada para remaja dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, di mana pada saat
itu umumnya para remaja masih sangat kurang memiliki pengetahuan dibidang agama.2
1
Mustofa, Penasihat RISMA, Wawancara Pribadi, Sawangan Depok, 29 Mei 2013, Jam 19.00 WIB
2
Bila dilihat dari aktivitas keseharian sebagian remaja, mereka
cenderung menyimpang dari norma agama. Sehingga atas dasar itu para perintis berdirinya organisasi ini mencoba mengumpulkan remaja sekaligus
masyarakat beserta para tokoh masyarakat yang ada untuk membentuk wadah organisasi remaja sebagai perkumpulan remaja di dalam melakukan segala aktifitas keagamaannya yang tentunya sangat memberii manfaat.
Seiring berjalannya waktu, RISMA menghadapi suatu keadaan yang menyebabkan anggota pengajian berkurang dan selalu mengalami fluktuasi
masalah keanggotaannya.
Hingga saat ini RISMA telah mengalami perkembangan yang cukup
pesat, baik dari segi keanggotaanya maupun kegiatan yang dilaksanakannya. Perlahan tapi pasti RISMA telah berhasil menumbuhkan kepercayaan dan membuka mata masyarakat bahwa RISMA adalah organisasi remaja yang
patut diperhitungkan dan diberikan dukungan karena besarnya kontribusi RISMA terhadap perkembangan kehidupan beragama remaja dan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan pengajian. Kesabaran dan keuletan serta
keseriusan para pengurus yang ada telah mampu menarik perhatian para remaja dan warga yang ada disekitar lingkungan RW 07 untuk ikut serta
berperan aktif dalam segala kegiatan yang diselenggarakan oleh RISMA dan senantiasa mendapat dukungan serta bantuan secara moril maupun materil hingga saat ini.
didalam keanggotaan sudah termasuk pengurus RISMA sebanyak 14 orang. Untuk mayoritas pendidikan dari anggota yang ada adalah SLTA yang setara dengan SMA, MA, SMK sebanyak 20 orang, sebagian lagi berasal dari SMP, MTS sebanyak 25 orang, yang setara SD,MI sebanyak 7 orang, adapun yang mahasiswa seb