• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PEMBINAAN KEAGAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STRATEGI PEMBINAAN KEAGAM"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

SAWANGAN KOTA DEPOK.

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Disusun Oleh:

Diah Maulidia

NIM. 109051000099

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

SAWANGAN

KOTA

DEPOK.

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh Diah Maulidia NIM: 109051000099

JURUSAN

KOMUNIKASI

DAN

PENYIARAN

ISLAM

FAKULTAS

ILMU

DAKWAH

DAN

ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS

ISLAM NEGERI

SYARIF

HIDAYATULLAH

JAKARTA

2013 M

I

1434H
(3)

REMAJA

ISLAM

MUSHOLLA AL-HIDAYAH (RISMA)

SAWANGAN

KOTA DEPOK telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan IlmLr Kot.t.ittnil<asi UIN Syarif Hidayatullah Jakarla pada tanggal ?0 Septenber

20i3.

Skripsi

ini

telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sar.iana Komunikasi Islam (S.Kom.L) pada Jurusan Kornunikasi dan Penyiaian Islam.

.Iakafta, 20 September 20 1 3

Sidang Munaqasyah

Sekretaris

Anggota, l-lrs. Studv.Kizal.

LK

Nrr'. 196d0428 199303 NIP. 197108

Drs. Stud./Rizal.LK

NrP. t9K40428 199303 199503 1 001

(4)

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

Skripsi ini merupakan hasil karya

salah satu persyaratan memperoleh

Jakarta.

asli saya yang diajukan untuk memenuhi gelar Strata

I

di UIN Syarif Hidayatullah l.

2.

J.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini saya cantumkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di uIN syarif Hidayatullah Jakarta. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya

ini

bukan hasil asli

saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di UIN syarif Hidayatulrah Jakarta.

Jakarta, September 2013

(5)

iv

NIM : 109051000099

Strategi Pembinaan Keagamaan Remaja Islam Musholla Al-Hidayah (RISMA) Sawangan Kota Depok

Perkembangan teknologi informasi kian hari semakin canggih. kehadiran informasi global berteknologi tinggi telah membawa berbagai dampak negatif dan positif. Kini dengan hadirnya teknologi di tengah-tengah kita telah menyita waktu senggang anak-anak, remaja bahkan sampai orang dewasa. Kondisi ini membuat

lingkungan majelis ta’lim, musholla dan masjid sepi dari jama’ah remaja. Hal ini tak lain disebabkan kurangnya pengetahuan agama dengan baik serta peran orang tua yang minim. Dengan melihat kondisi di atas, perlu adanya tindakan khusus dalam mengatasi hal tersebut. Disini pengajian RISMA yang merupakan suatu lembaga remaja sebagai wadah dakwah mempunyai peran untuk membina keagamaan pada remaja. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibutuhkan suatu strategi. Seperti halnya RISMA yang mempunyai strategi dalam kegiatan dakwahnya.

Peneliti memandang bahwa strategi dakwah cukup penting dalam pembinaan keagamaan pada remaja, maka sebagai rumusan masalahnya yaitu bagaimana strategi dakwah yang dilakukan RISMA dalam pembinaan keagamaan pada remaja?

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskritif analisis, dengan menggunakan pengamatan langsung atau observasi yang dilanjutkan dengan wawancara kepada narasumber dan kemudian menggunakan dokumentasi sebagai dokumen aktual dalam penyusunan penelitian ini. Setelah semua data yang dibutuhkan telah terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menyusun data secara sistematis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam melakukan analisa data.

(6)

v

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan karunia yang berlimpah kepada penulis sehingga dengan izin-Nya dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad saw, sebagai suri tauladan yang baik bagi umatnya.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan yang harus ditempuh untuk menyelesaikan pendidikan strata 1 (S1) jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam segala sesuatu yang kita perjuangkan tentunya tidak akan lepas dari segala kesulitan, hambatan dan rintangan, baik dari segi waktu, materi dan perasaan, namun itu semua tidak menyurutkan semangat penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. penulis menyadari bahwa terselainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak, baik berupa material maupun moril, berupa saran-saran, bimbingan dan sebagainya. oleh karena itu, sudah semestinya penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak yang sudah berjasa, diantaranya kepada :

1. Keluarga yang selalu mendukung, membantu, memotivasi sertamendo’akan kepada penulis dengan kasih sayang yang tak terhingga selama perkuliahan berlangsung

2. Dr. Arief Subhan, MA., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi, serta wakil-wakil dekan Drs. Wahidin Saputra, M.Ag., Drs, Mahmud Jalal, M.A., dan Drs. Study Rizal LK, M.A.

3. Drs. Jumroni, M.Si., sebagai Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. 4. Dra. Hj. Umi Musyarofah, M.A., sebagai Sekretaris Jurusan Komuikasi dan

Penyiaran Islam.

5. Bapak Mahmud Jalal, M.A., sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses skripsi ini berjalan.

(7)

vi

8. Para pembina, penasihat, ketua, pengurus serta anggota pengajian Remaja Musholah Al-Hidayah (RISMA), yang telah mengarahkan dan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

9. Kawan-kawan KPI C angkatan 2009, serta teman dan sahabat penulis lainnya, yang telah membantu penulis dalam segala hal, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

10.Kawan-kawan KKN SADARI 2012, yang telah memberikan dukungan serta motivasi baik di saat suka dan duka.

11.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan maupun bantuan dengan tulus dan ikhlas baik moril maupun materil.

Penulis menyadari penulisan skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, dengan kerendahan hati dan ucapan terima kasih, penulis senantiasa menerima kritik dan saran dari berbagai pihak yang membangun demi kesempurnaan. Semoga skripsi ini akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya, terutama bagi penulis.

Jakarta,31 Agustus 2013

(8)

vii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

D. Metodologi Penelitian ... 7

E. Kajian Pustaka ... 11

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II KERANGKA TEORITIS A. Strategi ... 14

B. Dakwah ... 16

1. Pengertian ... 16

2. Unsur-unsur Dakwah ... 19

3. Macam-macam Dakwah ... 22

C. Strategi Dakwah ... 22

1. Pengertian ... 22

2. Prinsip-prinsip Strategi Dakwah ... 24

3. Bentuk-bentuk Strategi Dakwah ... 26

D. Pengajian ... 28

E. Pembinaan Keagamaan Remaja ... 33

F. Remaja Musholah ... 35

1. Pengertian Remaja ... 35

2. Pengertian Musholah ... 37

3. Pengertian Remaja Musholah ... 37

BAB III GAMBARAN UMUM PENGAJIAN REMAJA ISLAM MUSHOLAH AL-HIDAYAH (RISMA) A. Sejarah berdiri dan Perkembangan ... 39

B. Visi dan Misi ... 41

C. Sarana Prasarana ... 42

D. Struktur Organisasi ... 43

E. Program Kegiatan ... 46

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA A. Identitas Informan... 51

B. Strategi Pembinaaan Keagamaan Pengajian RISMA ... 54

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 70

B. Saran-saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA

(9)

1

A. Latar Belakang Masalah

Di era informasi dan globalisasi tak dapat dipungkiri lagi bahwa kehadiran informasi global berteknologi tinggi telah membawa berbagai dampak negatif dan positif, kemajuan teknologi amat dekat hubungannya dengan kemajuan hidup manusia untuk lebih mudah dan lebih efisien. Tetapi manusia sering tebuai dengan nikmat yang kita dapatkan, hingga kita melupakan atau menyampingkan fitrah kita sebagai umat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Perkembangan teknologi telah dikuasi oleh mayoritas dari kalangan remaja, kini dengan hadirnya teknologi di tengah-tengah kita telah menyita waktu senggang anak-anak, remaja bahkan sampai orang dewasa yang

seharusnya berada di lingkungan majelis ta’lim, musholla dan masjid, kini

yang sering kita jumpai mereka lebih memilih berada di warung internet (WARNET) dan layar kaca dengan jutaan informasi yang disajikan mulai dari berita, hiburan, musik, permainan dan lain sebagainya yang cukup banyak menyita waktu mereka untuk mengukir akidah dimasa dini.

(10)

Dengan melihat kondisi di atas, perlu adanya tindakan khusus dalam

mengatasi hal tersebut khususnya dari peranan orang tua dengan dibekali pengetahuan agama yang cukup. Dengan bekal agama yang cukup kita dapat

membentengi diri dari hal-hal negatif.

Pengajian merupakan wadah dalam menuntut ilmu yang biasa dihadiri mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Pengajian merupakan

alternatif dari lembaga formal yang ada di sekitar kita. pengajian lebih terjangkau dalam segi waktu, biaya dan lokasi. Untuk mengatasi permasalahan

remaja perlu upaya peningkatan mutu atau kualitas dalam segi kegiatannya. Khususnya kegiatan dalam pembinaan umat melalui kegiatan dakwah, salah

satunya pengajian, yang disusun dengan kurikulum dan pokok-pokok bahasan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan problematika yang sedang dihadapi. Disamping itu juga kegiatan keagamaan yang dikemas dengan baik dan

menarik akan memberikan input positif bagi jamaah. Sehingga diharapkan pelaksanaan dakwah yang dilakukan tepat sasaran dan efektif.1

Islam sebagai agama dakwah menaruh harapan yang besar pada

remaja, yaitu melanjutkan cita-cita islam dan bangsa tercinta. Mereka seolah-olah sedang meniti jembatan yang panjang dan banyak rintangan yang

menghadapi. Ada kalanya mereka tergelincir dari jalan yang lurus dan terbawa arus zaman modern.

Dakwah Islam memerlukan sebuah strategi baru yang mampu

mengantisipasi perubahan zaman yang semakin dinamis. Oleh sebab itu dalam rekayasa peradaban Islam sekarang ini untuk menyongsong kebangkitan umat

1

(11)

di zaman modern diperlukan formasi strategi yang tepat.2

Dakwah harus tampil secara aktual, faktual, dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah terkini (kontemporer) yang sedang hangat di

tengah-tengah masyarakat. Untuk itu dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat. Hal ini mengacu pada firman Allah SWT dalam surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:







Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang

mendapat petunjuk. (Q.S. an-Nahl:125)

Untuk mempermudah dakwah Islam maka dibentuklah suatu

organisasi yang merupakan sebuah kekuatan umat yang disusun dalam satu kesatuan berupa bentuk persatuan mental dan spiritual serta fisik material di bawah pimpinan sehingga dapat melaksanakan tugas lebih mudah, terarah,

dan jelas motivasinya serta jelas arah dan tujuannya sehingga dapat mengetahui tahapan-tahapan yang harus dilaluinya.3

Majelis ta’lim atau pengajian remaja musholla Al-Hidayah (RISMA)

merupakan suatu lembaga pendidikan non formal Islam yang berusaha mengajak para remaja yang berada di lingkungan Sawangan untuk lebih

meningkatkan agama kepada masyarakat agar lebih bertakwa kepada Allah

2

M.Bahri Ghazali, Komunikaif Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi Dakwah,

(Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1997), cet ke-1,h.33

3

Tuty Alawiyah,AS, Strategi Dakwah Di kalangan Majelis Ta’lim, (Bandung: Mizan

(12)

SWT. Selain itu, pengajian ini juga mempunyai peran penting sebagai media

dakwah untuk memberikan pembinaan lebih mengenai agama Islam terhadap para remaja setempat. Hal ini dibuktikan dengan RISMA mengadakan

kegiatan-kegiatan islami dan menyajiakan materi-materi pembelajaran dengan beberapa metode seperti melalui metode ceramah, media audio visual, media tulis dan beberapa kegiatan positif lainnya, sehingga para remaja yang

terjerumus dalam lembah hitam secara perlahan-lahan masuk dalam organisasi RISMA dan menjadi pribadi yang religi.

Keberadaan pengajian ini berada di lingkungan Sawangan yang mayoritas penduduknya Islam. Namun kesadaran para remaja dalam

peningkatan ibadah dan pengetahuan agamanya sangat kurang dan sangat memprihatinkan. Disini, RISMA ingin membangkitkan kembali semangat anak remaja ke dalam kegiatan positif. Untuk dapat membangun dan

mewujudkan sistem Islam dalam kehidupan manusia yang menjadi esensi dakwah, maka apa yang menjadi tugas dan fungsi dari dakwah harus dituntut dengan baik

Sebagai salah satu forum komunikasi umat islam, pengajian RISMA mempunyai fungsi dan peran dalam menyiarkan ajaran islam khususnya bagi

para remaja. Di zaman modern ini merupakan sebuah tantangan baru bagi RISMA untuk mencari solusi agar program yang dijalankannya dapat disukai dan digemari para remaja. Dengan memanfaatkan media yang ada dan para

ustadz setempat RISMA bekerja sama dengan ustadz untuk menyajiakan materi dengan menggunakan audio visual, hal ini dilakuakan RISMA karena

(13)

berdakwah dengan menggunakan media yang canggih, dapat meminimalisir

hambatan-hambatan efektifitas dakwah”.

Bedasarkan latar belakang di atas dan mengingat pentingnya sebuah

lembaga non-formal yang harus memiliki suatu strategi untuk memberikan

atmosfir yang baik kepada para remaja, agar mereka dapat menjadi pribadi

yang baik serta menjunjung nilai-nilai agama Islam. Hal ini yang membuat

penulis tertarik mengambil penelitian di lembaga non-formal Pengajian

Remaja Islam Musholla Al-Hidayah (RISMA) Sawangan Kota Depok, dengan

mengangkat judul skripsi: “Strategi Pembinaan Keagamaan Remaja Islam

Musholla Al-Hidayah (RISMA) Sawangan Kota Depok”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis pembatasi penulisan ini pada strategi

dakwah yang dilakukan pengajian remaja Islam musholla Al-Hidayah

(RISMA) dalam pembinaan keagamaan pada remaja di Sawangan Kota

Depok yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu pada malam sabtu.

Strategi dakwah yang dimaksud disini adalah sebagai metode, siasat,

taktik atau manuver yang dipergunakan dalam aktivitas (kegiatan)

dakwah. Tempat yang akan diteliti yaitu dibatasi pada lingkungan RT

01-02, RW 07. Pembinaan keagamaan disini meliputi syari’ah seperti ibadah

yang meliputi sholat fardu, puasa, membaca al-quran dan zakat. dan

mu’amalah yang meliputi dampak dari pergaulan bebas, mengenai

(14)

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan yakni Bagaimana strategi pembinaan

keagamaan pengajian RISMA pada remaja Sawangan Kota Depok.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui strategi dakwah pengajian “Remaja Islam Musholla Al- Hidayah (RISMA)” dalam pembinaan keagamaan pada remaja di Sawangan Kota Depok.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan dokumentasi ilmiah untuk perkembangan ilmu keagamaan, dan sebagai dasar bagi studi-studi selanjutnya, terutama

dalam rangka meningkatkan fungsi dan peranan remaja khususnya dalam pembinaan kehidupan beragama dikalangan remaja.

b. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, khususnya penulis dan pada umumnya pembaca, masyarakat, praktisi dakwah dan

tokoh masyarakat. Dan dengan data ini diharapkan akan menjadi bahan informasi bagi semuanya untuk dapat pembinaan mutu kegiatan yang

(15)

D. Metodelogi Penelitian

1. Metode Penelitian

Dalam menyusun rancangan penelitian kualitatif, peneliti tidak diharapkan membangun asumsi, bahwa peneliti mengetahui apa yang tidak diketahui. Karena itu bersifat terbuka dan penelitipun memasuki lapangan dengan sikap perasaan dimana dirinya adalah tidak tahu tentang apa yang ada dalam obyek studinya. Berkaitan dengan itu, aspek metode dalam rancangan kualitatif tidaklah dirinci sedemikian rupa. Cukuplah ditentukan strategi-strategi umumnya saja yang akan dan harus digunakan sebagai teknik-teknik yang dimiliki pendekatan kualitatif itu sendiri. Misalnya, untuk kegiatan pengumpulan data dicantumkan observasi partisipan dan wawancara mendalam, di samping itu dapat juga menggunakan dokumen-dokumen dan rekaman-rekaman data.4

Jenis penelitian menggunakan studi lapangan dengan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.5

2. Subjek dan objek penelitian a. Subjek penelitian

Yang menjadi subjek adalah orang atau kelompok yang memberi informasi, dalam hal ini adalah para Pembina RISMA yang berjumlah

4

Moh. Kasiram, Metodelogi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: UIN –Maliki

Press ,2010), Cet ke-2, h. 237.

5

(16)

dua orang yaitu ustadz Iwan Edi, S.ThI dan bapak Mustofa, ketua RISMA Asmuni Sudrajat, pengurus dalam bidang peribadatan Diah dan Zainal Abidin, dan empat guru pengajar: ustadzah miyah, Iwan Edi, S. ThI, Ustadz Amil Misar dan Ustadz Baidowi Tafsir. Dan sepuluh anggota RISMA tingkat pendidikan mulai dari tingkat SMA. b. Objek penelitian

Selain mempelajari subjek, penelitian ini juga akan mempelajari dengan seksama tentang objek penelitian, meliputi strategi pembinaan keagamaan Remaja Islam Musholla Al-Hidayah (RISMA) Pada Remaja Di Sawangan Kota Depok.

3. Tempat penelitian dan waktu penelitian a. Tempat penelitian

Penelitaian ini dilakukan di Pengajian Remaja Islam Musholla Al-Hidayah RT.01-02 RW.07 Sawangan Lama, Kelurahan Sawangan, Kota Depok.

b. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2013. 4. Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh data dari penelitian lapangan, peneliti menggunakan tehnik-tehnik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi.

a. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia

(17)

digunakan untuk menghimpun data penelitian, data-data penelitian ini

dapat diamati oleh peneliti. Dalam arti bahwa data tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui pengamatan panca indra. 6

Dalam observasi ini penulis melakukan pengamatan serta mengikuti berlangsungnya pengajian secara langsung selama 4 bulan terhitung mulai dari bulan Mei sampai bulan Agustus 2013 terhadap

objek penelitian mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi di lokasi penelitian yang berkaitan dengan pembinaan keagamaan remaja yaitu

aktifitas pengajian pada malam sabtu. b. Wawancara

Pada wawancara ini penulis mengadakan komunikasi langsung dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa pihak yakni Tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung.

Keterangan-keterangan yang terdiri dari ketua RISMA, Sekretaris, pembimbing RISMA dan delapan anggota RISMA.

Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data dari sumber

tentang masalah yang diteliti. Wawancara ini dilakukan secara bebas, tetapi tetap menggunakan pedoman wawancara agar pertanyaan

terarah.

Pada wawancara ini penulis mengadakan komunikasi langsung

dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa pihak yakni

Tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung.

Keterangan-keterangan yang terdiri dari Pembina RISMA, ketua

6

Burhan Bugin, Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta; Prenada Media Group,2005)

(18)

RISMA, pengurus, sepuluh anggota dan para staf pengajar RISMA dan

dilengkapi dengan data-data informan.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah proses pengumpulan data dan mengambil

data berdasarkan tulisan-tulisan berbentuk catatan, buku, dokumentasi,

taupun arsip-arsip yang didapatkan dari pengurus RISMA dan yang

berkaitan dengan pokok bahasan.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data menurut Patton yang dikutip oleh Lexy Maleong

adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam

suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.7

Dalam penelitian ini, sebelum memulai wawancara dan observasi

langsung ke tempat penelitian, terlebih dahulu penulis menyusun kerangka

dasar penelitian yang dijadikan acuan dasar bagi penelitian ini, agar proses

penelitian berjalan sesuai dengan apa yang ingin diketahui oleh penulis.

Di dalam penelitian ini penulis menganalisa data dengan

menggunakan teknik analisa deskiptif kualitatif yaitu dengan cara

mengumpulkan data, disusun dan disajikan yang kemudian dianalisa untuk

mengungkapkan arti dari data tersebut, menggambarkan keadaan sasaran

apa adanya.8

Setelah semua data diperoleh, maka penulis menyusunnya sesuai

dengan urutan penelitian kemudian menganalisa hasil dari wawancara dan

7

Lexy j. moleong, MA. Metodelogi Penelitian Kualitatif, edisi revisi, cet. Ke-18, h.280

8

(19)

menjelaskannya sesuai dengan kenyataan yang diperoleh pada saat

penelitian berlangsung.

Teknik penulisan skripsi ini penulis mengacu kepada Buku

Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang diterbitkan oleh Ceqda UIN Jakarta tahun 2007.

E. Tinjauan Pustaka

Pada kajian pustaka ini, penulis mencoba menjelaskan tentang

perbedaan skripsi yang hendak penulis teliti, dengan skripsi yang terdahulu yang memiliki judul :

1. Imas Maspupah, dengan skripsi yang berjudul “Strategi Dakwah Ikatan Remaja Masjid Al-Muttaqin Kelurahan Pondok Jagung”. Fakultas Dakwah

Dan Ilmu Komunikasi, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. adapun dalam skripsi ini membahas mengenai strategi dakwah IRMA dalam aktivitasnya.

2. Fitriani Nurhasana, dengan skripsi yang berjudul “Strategi Dakwah DKM Al-Qolam Depok”, adapun dalam skripsi ini membehas mengenai strategi

masjid tanpa melibatkan pengajian remaja.

Yang membedakan judul-judul di atas dengan penulis adalah penulis meneliti mengenai strategi dakwah yang dilakukan pengajian remaja musholla

dalam pembinaan keagamaan dan objek yang di pakai adalah para remaja yang berada di lingkungan Sawangan Depok, dalam penulisan skripsi ini lebih

(20)

F. Sistematika Penulisan

Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diuraikan dalam penelitian ini, maka penulis membagi sistematika penyusunan ke dalam lima bab. Di mana masing-masing bab dibagi ke dalam sub-sub dengan penulisan sebagai berikut:

Bab I. Pendahuluan

Dalam bab satu akan membahas pendahuluan yang memaparkan latar belakang masalah, dengan memberikan batasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

Bab II. Kajian Teori

Pada bab dua menjelaskan mengenai strategi dakwah yang meliputi pengertian strategi, pengertian dakwah, unsur-unsur dakwah, macam-macam dakwah, pengertian strategi dakwah, prinsip-prinsip strategi dakwah, bentuk-bentuk strategi dakwah, pengertian pengajian, pembinaan keagamaan, dan mengenai remaja musholla yang meliputi pengertian remaja, pengertian musholla, dan pengertian remaja musholla.

Bab III. Gambaran Umum Pengajian RISMA Di Kelurahan Sawangan

Kota Depok

Pada bab tiga membahas tentang gambaran umum subjek penelitian yang terdiri dari sejarah berdirinya pengajian RISMA, visi dan misi, sarana dan prasarana, struktur organisasi, kegiatan RISMA.

Bab IV. Analisis Strategi Pembinaan Keagamaan Pengajian “RISMA”

Pada Remaja Di Sawangan Depok

(21)

tentang bagaimana strategi pembinaan keagamaan yang dilakukan pengajian

“RISMA” pada remaja di Sawangan kota Depok.

Bab V. Penutup

(22)

14

A. Strategi

1. Pengertian Strategi

Agar lebih mengetahui pengertian strategi lebih jauh lagi penulis memberikan pengertian melalui dua perspektif yaitu: pertama perspektif etimologi dan yang kedua perspektif terminologi.

a. Perspektif Etimologi

Dari segi perspektif etimologi kata “strategi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu Stratogos yang berarti militer dan Ag yang berarti memimpin. Dalam konteks awalnya, strategi diartikan

Ghaneralship atau sesuatu yang dilakukan oleh para jendral dalam

membuat rencana untuk menaklukan musuh dan memenangkan perang.1

Namun saat ini, Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan kata strategi banyak diadopsi dan diberi arti yang lebih luas sesuai dengan bidang ilmu atau kegiatan yang menempatkannya. Pengertian strategi tidak lagi tebatas pada konsep atau seni seorang jendral di masa perang. Tetapi saat ini kata strategi sudah berkembang pada tanggung jawab seorang pemimpin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

disebutkan bahwa istilah strategi adalah “seni atau ilmu untuk

menggunakan sumber daya untuk melaksanakan kebijakan tertentu.2

1

Fitriani Nurhasanah, Strategi Dakwah DKM Al-Qalam Depok, (Manajemen Dakwah

2012) h. 15

2

(23)

Penggunaan kata strategi dalam manajemen atau suatu

organisasi diartikan sebagai “kiat, cara atau taktik utama yang

dirancang secara sistematik dalam melaksanakan fungsi manajemen

yang terarah pada tujuan strategi organisasi.3

b. Secara terminologi

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai strategi penulis memaparkan sejumlah para pakar mengenai pengertian strategi, diantaranya :

1) Onong Uchayana Effendi, mengatakan bahwa “strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan managmen untuk mencapai suatu tujuan, akan tetapi untuk mencapai suatu tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya memberikan peta jalan saja, melainkan harus mampu menunjukan bagaimana taktik operasionalnya.4

2) Syarif Usman mendefinisikan strategi sebagai “kebijkan menggerakan dan membimbing seluruh potensi kekuatan, daya dan kemampuan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan

kebahagiaan”.5

3) Prof. Din Syamsudin strategi mengandung arti antara lain: a) Rencana dan cara yang seksama untuk mencapai tujuan.

b) Seni dalam menyiasati pelaksanaan rencana atau program untuk mencapai tujuan.

3

Hadari Nawawi, Manajemen Strategi Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan

Dengan Ilustrasi Di Bidang Pendidikan (Yogyakarta :Gajah Mada Universitas Press, 2000),Cet Ke-1, h.147

4

Onong Uchana Effendi, Teori Dan Praktek Ilmu Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 1992), Cet Ke-6, h 32

5

Syarif Usman, Strategi Pembangunan Indonesia Dan Pembangunan Dalam Islam,

(24)

c) Sebuah penyesuaian terhadap lingkungan untuk menampilkan

fungsi dan peran penting dalam mencapai keberhasilan bertahap.6

4) M. Bahri Ghazali M.A dalam bukunya mengatakan strategi adalah langkah-langkah operasional dalam menuju terlaksanakannya suatu kegiatan yang merupakan taktik untuk mencapai suatu tujuan dari

kegiatan. Pelaksanaan dakwah dapat dilaksanakan melalui modifikasi kegiatan dakwah sesuai dengan situasi dan kondisi

lingkungan dakwah tersebut.7

Dalam strategi mengandung visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan,

program dan kegiatan yang nyata dengan mengantisipasi perkembangannya. Kurangnya penerapan dalam strategi yang baik dapat menyebabkan strategi yang telah direncanakan gagal. Akan tetapi

penetapan strategi dengan baik dapat mengkokohkan strategi menjadi lebih efektif.

B. Ruang Lingkup Dakwah

1. Pengertian Dakwah

Dakwah secara lughawi berasal dari bahasa Arab, merupakan bentuk dari kata masdar da’a, yad’u, da’watan yang berarti seruan,

panggilan, undangan. Secara istilah, kata dakwah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk,

menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang

6

Din Syamsudin, Etika Agama Dalam Membangun Masyarakat Madani,(Jakarta: Lagos, 2000),Cet Ke-1, h.127

7

M. Bahri Ghazali, Dakwah Komunikatif: Membangun Kerangka Dasar Ilmu

(25)

dilarang oleh Allah swt dan Rasul-Nya agar manusia mendapatkan

kebahagiaan di dunia dan di akhirat.8

Adapun pengertian dakwah menurut beberapa pakar :

a. Sayyid Qutub yang dikutip oleh A.Ilyas Ismail dakwah adalah merupakan salah satu kewajiban bagi orang islam, dakwah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kaum muslim baik individu maupun kelompok.9

b. Hj. Tuty Alawiyah AS mengatakan bahwa dakwah dalam arti amr

ma’ruf nahyi munkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan

keselamatan hidup masyarakat. Ini adalah kewajiban manusia yang memiliki pembawaan fitrah sebagai social being (makhluk sosial), dan kewajiban yang ditegaskan oleh risalah sebagaimana tercantum dalam Kitabullah dan sunnah Rasull-Nya. Oleh karena itu, dakwah bukan

monopoli golongan yang disebut “ulama” atau “cendik-cendikiawan”

saja.10

c. Wahyu Ilaihi M.A dalam bukunya mengatakan mengenai dakwah

adalah “ajakan atau seruan kepada yang baik dan yang lebih baik.

Dakwah mengandung ide tentang progresivitas, sebuah proses terus-menerus menuju kepada yang baik dan yang lebih baik dalam mewujudkan tujuan dakwah tersebut.11

d. Samsul Munir Amin berpendapat dalam bukunya dakwah adalah sebuah proses penyampaian ajaran agama Islam kepada umat manusia.12

8

Armawati Arbi, Dakwah Dan Komunikasi, Cet 1,(UIN Jakarta Press), h 33

9

A. Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah Sayyid Quthub Rekontruksi Pemikiran Dakwah

Harakah, (Jakarta: Penerbit Madani, 2006), h 20

10

Tuty alawiyah, Strategi Dakwah di Kalangan Majelis Ta’lim, h 25

11

Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah (PT. Remaja Rosdakarya), cet 1, h 17

12

(26)

e. HM Arifin berpendapat dalam bukunya, bahwa dakwah adalah suatu

ajakan baik dalam bentuk tulisan, lisan, tingkah laku dan sebagainya, yang dilakukan dengan secara sadar dan terencana dalam usaha

mempengaruhi orang lain baik secara sadar dan terencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap

penghayatan serta pengahayatan terhadap ajaran sebagai message yang disampaikan kepadanya tanpa adanya unsur pemaksaan.13

Islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang berisi petunjuk-petunjuk agar manusia menjadi lebih baik, beradab dan

berkualitas. Selalu berbuat baik sehingga mampu membangun sebuah peradaban yang maju. Sebuah tatanan kehidupan yang manusiawi dalam arti kehidupan yang adil, maju bebas dari berbagai ancaman, penindasan,

dan berbagai kekhawatiran. Agar mencapai semua itu, maka perlu dilakukan dakwah. Karena dengan masuknya Islam dalam sejarah umat manusia, agama ini mencoba meyakinkan umat manusia tentang

kebenarannya.14

Bedasarkan dari beberapa pendapat di atas mengenai pengenai

pengertian dakwah penulis menyimpulkan, dakwah ialah usaha seseorang

da’I dalam menyampaikan pesan-pesan ajaran Islam yang bersumber dari

Al-Quran dan Al-Hadis, yang dilakukan dengan cara mengajak, menyeru,

membimbing manusia agar kembali kejalan yang Allah SWT, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

13

H.M Arifin, M.Ed, Psikologi Dakwah, Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993),Cet Ke-2, h 6

14

(27)

2. Unsur-unsur Dakwah

Terlepas dari perbincangan dan analisis dari definisi dakwah yang sudah ada dalam fokus pembahasan ilmu dakwah. Maka ada lima faktor

atau kompenen dalam dakwah, diantaranya: 1. Subyek dakwah, 2. Obyek dakwah, 3. Materi dakwah, 4. Media dakwah, 5. Metode dakwah. Yang dimaksud dari lima komponen tersebut ialah komponen yang selalu ada

dalam pelaksanaan kegiatan dakwah.15 a. Subyek dakwah (da’i)

Da’i adalah orang yang melakukan dakwah baik lisan, tulisan dan

perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat

organisasi atau lembaga.

Secara umum kata da’i ini sering disebut dengan sebutan mubaligh

(orang yang menyampaikan ajaran Islam),

b. Objek dakwah (mad’u)

Seorang da’i menyedari bahwa yang diajak kedalam Islam bukan

saja sebagian manusia atau manusia tertentu, melainkan semua

manusia. Berdakwah bukan untuk waktu sementara, tetapi sepanjang zaman hingga datangnya kiamat. Selain itu, berdakwah tidak

membedakan jenis kelamin, sertifikasi sosial, etnis, waktu dan tempat tertentu.

Seorang dai harus mengetahui keberagaman audiens. Dari sudut

ideologi, mereka ada yang ateis, musrik dan munafik. Ada juga yang muslim tetapi membutuhkan bimbingan atau umat Islam yang masih

15

(28)

melakukan maksiat. Mereka juga berbeda dari segi intelektualitas,

status sosial, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.16 c. Materi dakwah

Pada dasarnya materi dakwah adalah ajaran Islam yang memiliki karakter sejalan dengan fitrah manusia dan kebutuhannya. Sirah nabi yang mengajarkan kepada kita bahwa materi pertama yang

menjadi landasan utama ajaran Islam, yang disampaikan rasulullah SAW yang disampaikan manusia adalah masalah yang berkaitan

dengan aqidah salimah. Keimanan yang benar, masalah al-insan, tujuan program, status dan tugas hidup manusia di dunia dan tujuan

akhir yang harus dicapainya dan persamaan manusia di hadapan Allah SWT.17

d. Media dakwah

Media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat di pergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah ini dapat berupa barang (material), orang, tempat,

kondisi tertentu dan sebagainya. Media dakwah bukan saja berperan sebagai alat bantu dakwah, namun bila ditunjau dakwah sebagai suatu

sistem, yang mana sistem ini terdiri dari beberapa komponen (unsur) yang komponen satu dengan yang lainnya.

Di zaman modern sekarang ini, dakwah harus menyesuaikan

situasi dan kondisi yang semakin berubah kearah yang lebih maju.

Dituntut efektifitas dan efesiensi dalam pelaksanaan dakwah. Tidak hanya

16Sa’id Bin Ali Bin Wahif Al

-Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, (Jakarta: Gema

Insani Press, 1994), Cet Ke-1, h 100

17

(29)

asal dalam melaksanakan dakwah, tetapi harus dipikirkan terlebih dahulu

apakah dakwah yang dilaksanakan sudah mengena atau belum, dan apakah

berhasil ataukah tidak.

Hamzah Ya’qub membagi media dakwah menjadi lima, yaitu

media lisan, tulisan, lukisan, audio visual, dan akhlak. Sedangkan

DR. Moh. Ali Aziz membagi media menjadi dua, yaitu media tradisional dan modern (elekronik).18 Media dakwah yang tradisional ini cukup banyak, salah satu diantaranya adalah wayang. Media wayang ini dahulu

digunakan para Walisongo saat berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia. Khususnya di pulau Jawa.

Dalam era tradisional dakwah biasanya dilakukan di tempat ritual keagamaan (masjid, musholla dan majelis ta’lim) dengan media seadanya. Seiring dengan perkembangan zaman, media dakwah lebih variatif dan

bisa dilakukan dimana saja (fleksibel). Tentunya dengan bantuan media yang canggih, yang dapat meminimalisir hambatan-hambatan efektivitas

dakwah.

Sementara media modern (elektronik) ramai digunakan di

millennium ke tiga, yaitu di zaman sekarang ini. Media modern ini berupa

radio, film, televisi, internet, dan sebagainya. Dakwah sebagai komunikasi

keagamaan diharapkan kepada perkembangan dan kemajuan teknologi

komunikasi yang semakin canggih, memerlukan adaptasi terhadap

kemajuan tersebut.19

18

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h.120

19

M. Bahri Ghazali, Dakwah Komunikatif: Membangun Kerangka Dasar Ilmu

(30)

3. Macam-macam Dakwah

Dakwah Islam dapat dikategorikan kedalam tiga macam,20 yaitu:

a. Dakwah bi Al-Lisan

Dakwah bi al-lisan yaitu dakwah yang dilaksanakan melalui lisan,

yang dilakukan antara lain dengan ceramah-ceramah, khutbah, diskusi, nasihat, dan lain-lain.

b. Dakwah bi Al-Hal

Dakwah bi al-hal adalah dakwah dengan perbuatan nyata yang

meliputi keteladanan. Seperti melalui tindakan amal karya nyata yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat sebagai objek dakwah.

c. Dakwah bi Al-Qalam

Dakwah bi al-qalam adalah dakwah yang dilakukan melalui tulisan

yang di implementasikan melalui surat kabar, majalah, buku, maupun internet.

C. Strategi Dakwah

1. Pengertian Strategi Dakwah

Menurut Asmuni Syukir dalam bukunya Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam mengatakan bahwa Strategi dakwah diartikan sebagai metode, siasat, taktik atau manuver yang dipergunakan dalam aktivitas (kegiatan) dakwah.21 Strategi dakwah sangat erat kaitannya dengan managemen. Karena orientasi kedua term atau istilah tersebut sama-sama mengarah pada sebuah keberhasilan planning yang sudah ditetapkan oleh individu maupun organisasi.

20

Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, h. 11

21

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Penerbit Al-Ikhlas

(31)

Menurut Abu Zahra yang dikutip oleh Acep Aripudin mengatakan bahwa strategi dakwah Islam adalah perencanaan, penyerahan kegiatan dan operasi dakwah Islam yang dibuat secara rasional untuk mencapai tujuan-tujuan Islam yang meliputi seluruh dimensi kemanusiaan.22

Menurut pendapat Al-Bayuni strategi dakwah (manhaj al-da’wah) adalah ketentetuan-ketentuan dakwah dan rencana-rencana yang dirumuskan untuk kegiatan dakwah.23

Bedasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi dakwah merupakan perpaduan dari perencanaan (planning), metode dan taktik untuk mencapai suatu tujuan dakwah. Dalam mencapai tujuan tersebut, maka strategi dakwah harus dapat menunjukan bagaimana operasionalnya yang harus dilakukan secara tekhnik atau taktik.

Strategi dakwah tidak berbeda dengan strategi komunikasi. Jika dalam dakwah menggunakan strategi komunikasi, maka dakwah yang dilakukan akan berhasil karena sebelum memulai berkomunikasi terlebih dahulu harus paham siapa yang menjadi audiens, media apa yang digunakan sesuai dengan keadaan, pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh audiens.

Strategi yang digunakan dalam usaha dakwah harus memperhatikan beberapa azas dakwah di antaranya :

a. Azas filosofis: membicarakan mengenai tujuan yang hendak dicapai dalam proses aktifitas dakwah.

b. Azas kemampuan dan keahlian da’i: membicarakan mengenai kemampuan serta profesionalisme da’i dalam subjek dakwah.

22

Acep Aripudin & Syukriadi Sambas, Dakwah Damai: Pengantar Dakwah Antar

Budaya, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2007), Cet. Ke-1, h.138.

23

(32)

c. Azas sosiologis: membicarakan mengenai situasi dan kondisi sasaran

dakwah.

d. Azas psikologi: membicarakan mengenai dengan kejiwaan manusia.

e. Azas efektivitas dan efesiensi: maksud azas ini adalah di dalam aktifitas dakwah harus diusahaan keseimbangan antara biaya,waktu, maupun tenaga yang dikeluarkan dengan pencapaian hasilnya.

Sehingga hasilnya dapat maksimal.24

Dalam rangka menyusun strategi dakwah diperlukan suatu

pemikiran yang lugas dan rasional dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi tersebut.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan kata strategi banyak diadopsi dan diberikan pengertian lain sesuai bidang ilmu atau kegiatan yang menyertainya. Ilmu dakwah juga mengadopsi kata strategi

untuk menjelaskan rangkaian kegiatan dakwah yang dapat membantu pencapaian tujuan dakwah itu sendiri. Sebenarnya menurut Fuad Amsyari,

kata strategi “merupakan bagian dari Islam atau dengan kata lain Islam itu

sendiri merupakan manifestasi dari strategi manusia untuk hidup mencapai kebahagiaan lahir dan batin individu masyarakat.25

2. Prinsip-prinsip Strategi Dakwah

Bedasarkan pada makna dan urgensi dakwah tersebut, serta kenyataan dakwah di lapangan dan aspek-aspek normative tentang dakwah yang

terdapat dalam al-quran dan hadist, maka ditemukan prinsip strategi dakwah, antara lain sebagai berikut:

24

Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Islam, h. 32

25

(33)

a. Memperjelas secara gamblang sasaran ideal

Sebagai langkah awal dalam berdakwah, terlebih dahulu harus diperjelas sasaran apa yang ingin dicapai, kondisi umat Islam

bagaimana yang diharapkan. Baik dalam wujudnya sebagai individu maupun wujudnya sebagai suatu komunitas masyarakat.

b. Merumuskan masalah pokok umat islam

Dakwah bertujuan untuk menyelamatkan umat dari kehancuran dan untuk mewujudkan cita-cita ideal masyarakat. Rumuskanlah terlebih dahulu masalah pokok yang dihadapi umat, kesenjangan antara sasaran ideal dan kenyataan yang kongkret dari pribadi-pribadi muslim, serta kondisi masyarakat dewasa ini. jenjang masalah ini pun tidak sama antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok yang lainnya. Setiap kurun waktu tertentu harus ada kajian ulang terhadap masalah itu seiring dengan pesatnya perubahan masyarakat tersebut.

c. Merumuskan isi dakwah

Jika kita sudah berhasil merumuskan isi dakwah beserta masalah yang dihadapi masyarakat islam, pada langkah selanjutnya adalah menentukan isi dakwah itu sendiri. Isi dakwah harus sinkron dengan masyarakat Islam sehingga tercapai sasaran yang telah ditetapkan. Ketidaksingkronan dalam menentukan isi dakwah ini bisa

menimbulkan dampak negative yang disebut dengan istilah “split

personality” atau “double morality” pribadi muslim. Misalnya

(34)

Jadi, untuk bisa menyusun isi dakwah secara cepat, dibutukan

secara tepat, dibutuhkan penguasaan ilmu yang komprehensif atau dengan menghimpun pemikiran-pemikiran para pakar.26

3. Bentuk-bentuk Pendekatan Strategi Dakwah

Jika seorang dai atau sebuah lembaga mampu menjalankan strategi dakwah secara bijak, insyaallah ia akan mencapai keinginannya, yakni keberhasilan dakwahnya.

Nabi Muhammad sebagai imam para da’I, telah menerapakan strategi

dakwah secara bijak, sehingga melalui beliau Allh SWT memberiii manfaat kepada hambanya dan menyelamatkan mereka dari syirik menuju tauhid. Siasat beliau tersebut bermanfaat besar dalam menyukseskan dakwahnya, membangun negaranya, menguatkan kesuksesannya dan meninggikan kedudukannya.

Sepanjang sejarah politik umat manusia tidak pernah ada seorang pun pembaharu yang mempunyai pengaruh besar seperti nabi Muhammad SAW. Terkumpul padanya jiwa seorang pemimpin, pendidik yang bijak, kecerdasan akal, orisinalitas pendapat, semangat yang kuat serta kejujuran. Semua itu telah terbukti pada diri beliau.27

Bentuk-bentuk dalam menentukan strategi dakwah antara lain sebagai berikut:28

a. Memilih waktu kosong dan kegiatan terhadap kebutuhan penerima dakwah (audiens).

Usahakan agar mereka tidak jenuh dan waktu mereka banyak terisi dengan petunjuk, pengajaran yang bermanfaat dan nasehat yang

26

Dr.Muhammad Idris, Ilmu Dakwah, h 20-21

27

Sa’id Bin Ali Bin Wahif Al-Qhatani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, h 84

28

(35)

baik. Nabi SAW tidak selalu monton dalam memberiii nasihat, sehingga orang yang dinasihati tidak merasa bosan. Strategi yang dicontihkan nabi SAW dicontohkan oleh para sahabat. Sabda nabi SAW :

ارِّنت الو ارِّبو ارِّعت الو ارِّي

Artinya: “Permudahlah dan jangan kamu persulit, berilah kabar

gembira dan jangan berkata yang membuat mereka lari jauh”. (HR.

Bukhari dan Muslim).

b. Jangan memerintahkan sesuatu yang jika tidak dilakukakan

Terkadang seorang da’i menjumpai suatu kaum yang sudah

mempunyai tradisi mapan. Tradisi tersebut tidak menentang syariat, tetapi jika dilakukan perombakan akan memdatangkan kebaikan. Jika seorang dai menyadari bahwa apabila jika melakukan perombakan akan terjadi fitnah, maka hal itu tidak perlu dilakukan. Nabi SAW tidak

membiarkan ka’bah di renovasi dari fondasi buatan Nabi Ibrahim karena

menghindari fitnah kaum yang baru menetas dari kehidupan jahiliyah. c. Menjinakan hati

Dilakukan jika memberiiikan maaf jika dihina, berbuat baik jika disakiti, berbuat lembut jika dikasari dan bersabar jika dizhalimi. Cemoohan dibalas dengan kesabaran, tergesa-gesa dibalas dengan kehati-hatian.

(36)

d. Pada saat memberi nasihat, jangan menunjuk langsung kepada orangnya, tetapi berbicara kepada sasaran umum seperti yang sering dilakukan Nabi SAW.

e. Memberikan sarana yang dapat mengantarkan seorang pada tujuannya. f. Seorang dai harus siap menjawab berbagai pertanyaan, setiap

pertanyaan sebaiknya dijawab secara rinci dan jelas sehingga orang yang bertanya merasa puas.

D. Pengajian

1. Pengertian Pengajian

Pengajian menurut bahasa berasal dari kata “kaji” yang berarti

pengajaran (agama, pengetahuan umum dsb), penyelidikan (tentang sesuatu).29 Kata kaji diberi awalan pe- dan akhiran an- menjadi pengkajian yang berarti mengkaji Al-quran yang berarti juga mengkaji agama islam.

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pengajian berarti pengajaran (agama Islam); menanamkan norma agama melalui pengajian dan dakwah;

pembacaan Al-quran.30

Pengajian adalah salah satu media terbaik dalam menyampaikan dakwah, dan pengajian ini biasanya diberikan di tengah-tengah orang

banyak, yang kemungkinan semuanya dikenal oleh juru dakwah atau hanya sebagian saja. Selain itu, pengajian juga biasanya dipergunakan

untuk menerangkan ayat-ayat Al-quran, hadist-hadist, atau menerangkan suatu masalah agama, seperti fiqih.

29

Purwadarminta, WS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999),

h.291

30

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai

(37)

Adapun pengertian pengajian menurut Drs. Abdul Karim Zaidan

adalah suatu forum yang dimiliki oleh orang-orang tertentu yang sengaja datang untuk mendengakan materi pengajian, diantara keterangan

ayat-ayat Al-quran, hadist atau menerangkan suatu masalah agama islam seperti masalah akhlak, aqidah, fiqih dan sebagainya.31

Sedangkan ensiklopedi islam mengatakan bahwa pengajian atau

majelis ta’lim adalah suatu tempat yang di dalamnya terkumpul

sekelompok manusia untuk melakukan aktivitas atau perbuatan.32

2. Tujuan Pengajian

Untuk mengetahui tujuan pengajian, dapat dilihat pada firman

Allah SWT dalam surat Ali-Imran ayat 104:

















Artinya: dan khendaklah ada diantara kamu segolongan umat

yang menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar,

mereka itulah orang-orang yang beruntung (Qs: Ali-Imran 104).

Ayat tersebut menjelaskan tentang tujuan pengajian (dakwah )

yaitu mengikuti jalan atau tuntunan Allah SWT dan mewujudkan kebaikan dengan cara menyuru orang berbuat baik mencegah orang lain dari perbuatan jelek, dengan harapan mereka dapat hidup bahagiasejahtera

didunia dan akhirat.

Menurut A.Rosyad Shaleh, tujuan pengajian (dakwah Islam)

adalah:

31

Abdul Karim Zaidan, Dasar-dasar ilmu dakwah, (Jakarta: Media Dakwah, 1984),

h.270

32

Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : PT. Ichtar Baru Van Hoeve, 1994), Cet

(38)

a. Meningkatkan dan memperdalam kesadaran dan pengertian umat islam

tentang ajaran Islam

b. Menanamkan kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan c. Memperhatikan kehidupan dan perkembangan masyarakat, khususnya

yang berhubungan dengan kehidupan manusia

d. Membendung tindakan-tindakan dari golongan agama atau aliran lain yang berusaha untuk berubah islam dalam keyakinan agamanya

e. Menghidupkan dan membina kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.33

3. Metode Pengajian

Metode adalah cara yang dalam fungsinya alat untuk mencapai tujuan.34 Metode dalam kaitannyadalam pelaksanaan pengajian adalah jalan atau cara yang dipakai, agar pengajian agama mendapatkanhasil atau sampai pada sasaran dengan baik dan tepat sesuai dengan yang diharapkan.

Dilihat dari segi jama’ah pengajian agama, metode yang disebut diatas

berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, diantaranya adalah: a. Metode personal Approach

Metode personal Approach adalah metode yang dilaksanakan dengan cara langsung melakukan pendekatan pada setiap pribadi35 metode ini pada praktenya dilaksanakan secara individu, yaitu dari pribadi ke pribadi secara tatap muka meskipun jamaah yang hadir berjumlah banyak tetapi secara menghadapinya satu persatu.

33

A. Rasyid Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997),h.80

34

B. Surybroto, Mengenai Metode Pengajaran Di Sekolah Dan Pendekatan Baru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Amarta, 1986), h.3

35

Proyek Penerangan Bimbingan Dan Dakwah/Khutbah Agama Islam Pusat. Risalah

(39)

b. Metode ceramah

Metode ceramah adalah suatu metode yang banyak diwarnai oleh cirri karakteristik bicara oleh seorang mubaligh pada suatu aktivitas

dakwah.36 Metode ceramah ini sangat tepat apabila jama’ah yang dihadapi merupakan kelompok yang berjumlah besar dan perlu dihadapi secara sekaligus.

c. Metode Tanya jawab

Metode Tanya jawab adalah penyampaian materi dakwah dengan cara

mendorong sasarannya untuk menanyakan suatu masalah yang dirasa belum mengerti dan mubaligh sebagai penjawabnya.37

d. Metode diskusi

Metode diskusi adalah suatu metode di dalam mempelajari atau menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikan materinya sehingga

menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku. e. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi adalah suatu metode dengan cara memperlihatkan

contoh, baik berupa benda, peristiwa, perbuatan dan sebagainya dapat dinamakan bahwa seorang mubaligh yang bersangkutan menggunakan

demonstrasi. f. Metode khalaqah

Dalam metode khalaqah, peserta jama’ah terlibat langsung dalam arti

turun aktif dalam pembicaraan. Kelebihan metode ini ditinjau dari segi pedidikan, dapat meningkatkan kualitas kepribadian seperti kerja sama,

36

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, h.104

37

(40)

toleran, kritis dan disiplin. Sedangkan jika ditinjau dari segi ilmu jiwa

akan menimbulkan persaingan yang positif.38

4. Materi Pengajian

Amalan bila ditinjau dari pembagiannya terbagi menjadi tiga. Pada dasarnya materi dakwah tergantung pada tujuan dakwah yang hendak dicapai. Namun secara global dapat dikatakan bahwa materi dakwah dapat di klasifikasikan menjadi tiga hal pokok, 39 yaitu:

a. Masalah keimanan (aqidah)

Aqidah di dalam Islam adalah bersifat I’tiqad bathiniyah yang

mencakup masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rukun iman.

b. Masalah keislaman (syariah)

Syariah dalam Islam adalah berhubungan erat dengan amal lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan/hokum allah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya dan mengatur pergaulan hidup manusia.

c. Masalah budi pekerti (akhlak)

Masalah akhlak yaitu untuk melengkapi keimanan dan keislama seseorang sebagai penyempurna keimanan dan keislaman.

Pada dasarnya masalah mengenai pengetahuan agama mencakup ajaran Islam yang terkandung dalam al-quran dan as-sunah. Karena agama Islam yang menganut kedua kitab tersebut merupakan sumber utama ajaran-ajaran Islam.

38

Direktorat Jendral Masyarakat Islam 1974 h.58

39

(41)

E. Pembinaan Keagamaan Remaja

1. Pengertian Pembinaan Keagamaan

Pembinaan berasal dari kata “bina” yang berarti bangun atau

bentuk. Apabila diberi awalan me-, maka jadi membina, yang artinya membangun, mendirikan, mengusahakan supaya lebih baik sehingga pembinaan mengandung arti proses tindakan dan kegiatan yang dilakukan

secara berdayaguna dan hasil guna untuk menperoleh hasil yang lebih baik.40

Pengertian agama terbatas bagi pemeluk agama samawi terutama agama Islam adalah “ agama merupakan petujuk allah yang terpenting

dalam bentuk kaidah-kaidah perundangan yang ditujukan kepada orang-orang berakal budi supaya mereka mampu berusaha di jalan yang benar

dalam rangka memperoleh kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat”.41

Masa remaja adalah masa peralihan, seorang remaja bukan anak-anak lagi, tetapi dia belum bisa dikatakan sudah dewasa secara jasmani boleh jadi sudah dewasa tetapi emosi serta cara berfikirnya belum mantap

dan mapan sebagaimana layaknya orang dewasa.

Islam memiliki enam aspek yaitu, keimanan kepada allah, pada

para malaikatnya, pada kitab-kitabnya, iman kepada Rasul-Nya, pada hari akhir, dan iman kepada ketentuan yang telah dikehendaki. Dan seluruh aspek ini merupakan hal yang ghaib, kita tidak mampu menangkapnya

dengan panca indera, hal ini yang tampak membingungkan kita bagaimana

40

Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota, Evaluasi Terhadap Existansi Bapinroh, (Jakarta : Badan Pembinaan Pegawai, Bapinroh, 1995), h.10

41

M. Arifin, Kapita Seletja Pendidikan (Islam Dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara 1993),

(42)

cara menjelaskannya pada anak, dengan cara apa kita menanamkan enam

aspek keimanan tersebut padanya, dan bagaimana kita bisa mengekspresikan keimanan mereka. namun apabila kita mencoba

mempelajari proses kehidupan Rasulullah dengan segala yang telah beliau ajarkan, kita akan memperoleh sebuah jawaban dari berbagai pertanyaan tadi. Kita akan menemukan lima pola dasar pembinaan akhlak seperti,

membacakan dua kalimat tauhid kepada anak, menanamkan kecintaan kepada Allah, pada Rasul, mengajarkan Al-quran, dan menanamkan nilai

perjuangan serta pengorbanan.42

Kehidupan beragama salah satu diantara sekian banyak sektor yang

harus mendapatkan perhatian besar bagi bangsa dibandingkan dengan sector kehidupan yang lain. Sebab pencapaian pembangunan bangsa yang bermoral dan beradab sangat ditentukan dari aspek kehidupan beragama,

terutama dari hal pembinaan bagi generasi muda.

Secara harfiah pembinaan berarti pemeliharaan secara dinamis dan berkesinambungan. Di dalam konteksnya dengan suatu kehidupan

beragama, maka pengertian pembinaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran memelihara secara terus

menerus terhadap tatanan nilai agama agar segala perilaku kehidupannya senantiasa di atas norma-norma yang ada dalam tatanan itu. namun perlu dipahami bahwa pembinaan tidak hanya berkisar pada usaha untuk

mengurangi serendah-rendahnya tindakan-tindakan negative yang dilahirkan dari suatu lingkungan yang bermasalah, melainkan pembinaan

42

(43)

harus merupakan terapi bagi masyarakat untuk mengurangi perilaku buruk

dan tidak baik dan juga sekaligus bisa mengambil manfaat dari potensi masyarakat, khususnya generasi muda.

Membangun kesadaran bagi generasi muda bukanlah hal yang gampang untuk tercapai secara maksimal, tetapi dalam pembinaan kesadaran yang menjadi pokok untuk dibangun. Kesadaran hendaknya

disertai niat untuk mengintensifkan pemilikan nilai-nilai dari pada yang sudah dimiliki., sebab dengan cara tersebut akan mampu mewujudkan

pemeliharaan yang dinamis dan berkesinambungan.

F. Remaja Musholla

1. Pengertian Remaja

Masa remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibaawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama.

Sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasai dalam masyarakat mempunyai aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang khas dan cara berfikir remaja

ini menginginkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa yang kenyatannya merupakan ciri khas yang umum dari periode

perkembangan ini.

Masa remaja adalah masa peralihan, seorang remaja bukan

(44)

Dalam perkembangan kepribadian seseorang, masa remaja

mempunyai arti yang khusus ada yang mengatakan masa remaja adalah

masa yang paling indah, sehingga tidaklah boleh dilewatkan begitu saja.

Ada pula pendapat bahwa masa remaja adalah masa yang paling

menentukan kelanjutan hidup seseorang dimasa tuanya. Remaja juga

dikatakan generasi penerus perjuangan bangsa, baik buruk masa depan

bangsa tergantung pada baik buruk moral dan akhlak remajanya.43

Pendapat lain juga dikatakan oleh Sarlito Wirawan Sarwono,

dimana ia mendefinisikan remaja sebagai “masa peralihan dari anak-anak

ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologi tetapi juga fisik. Bahkan

perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala

primer dalam perubahan remaja, sedangkan perubahan-perubahan

psikologi muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan

fisik itu.44

Mengenai batas usia remaja prof. Dr. Hj. Zakiyah Derajat

menetapkan batasan usia remaja mulai dari usia 13-21 tahun.45 Akan tetapi

para ahli menegaskan bahwa yang dapat ditentukan masa remaja itu adalah

masa permulaannya, yaitu ditandai dengan mimpi pertama bagi laki-laki,

sedangkan wanita ditandai dengan menstruasi pertama.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan remaja adalah

suatu masa dimana :

43

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, ( Jakarta: Rajawali Press,2000) Cet. Ke-5, h.9

44

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, h.51

45

(45)

a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda

seksual sekunder sampai ia mencapai kematangan seksual.

b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan perlu di identifikasi

dari anak-anak sampai dewasa.

c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh

kepada keadaan yang relatif mandiri.46

2. Pengertian Musholla

Musala atau Musholla (bahasa Arab: ىّلصم) adalah tempat atau

rumah kecil menyerupai masjid yang digunakan sebagai tempat mengaji

dan salat bagi umat Islam. Musala juga sering disebut dengan surau atau

langgar.47

3. Remaja Musholla

Remaja musholla merupakan bentuk aktivitas yang sedang tumbuh

dan berkembang, namun kehadirannya tidak muncul begitu saja. Berawal

dari usaha-usaha menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang

melibatkan anak muda (remaja), lalu timbul kesadaran perlunya organisasi

yang permanen, dan akhirnya dibentuklah suatu oerganisasi remaja masjid

atau musholla.

Saat ini remaja masjid atau musholla telah menjadi wadah favorit

kegiatan remaja muslim. Umumnya di desa-desa yang banyak kita jumpai.

Meskipun masih banyak hambatan atas keberadaanya, namun secara

umum masyarakat sudah semakin lebih bisa diterima keberadaannya.

46

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Press 1991) Cet Ke-2, h 9

47

(46)

Pada dasarnya remaja musholla dan remaja masjid tidak ada

perbedaan hanya saja tempat pelaksanaannya yang berbeda. Saat ini remaja musholla telah menjadi fenomena bagi kegairahan remaja muslim

dalam mengkaji dan mendakwahkan Islam di Indonesia. Sebenarnya, dakwah Islam yang dilakukan para remaja bukanlah hal yang baru.

Remaja masjid membina para anggotannya agar berilmu dan

beriman kepada allah SWT. Pembinaan dilakukan dengan menyusun aneka program yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan berbagai aktifitas

remaja masjid yang telah mapan biasanya mampu bekerja secara terstruktur dan terencana.48

48

(47)

39

MUSHOLAH AL-HIDAYAH (RISMA) SAWANGAN DEPOK

A. Sejarah Berdiri Dan Perkembangan

Organisasi remaja ini bernama RISMA (Remaja Islam Musholah Al-Hidayah). RISMA ini suatu organisasi non formal yang berada di lingkungan Sawangan Lama Kota Depok. Organisasi ini memiliki tujuan membentuk pemuda dan pemudi Islam yang bertaqwa, beriman dan berakhlaktul karimah, sehingga dapat berperan aktif dalam mengisi pembangunan di lingkungan warga sekitar.

Pengajian remaja ini berdiri sejak tahun 1990 bertempat di musholah Al-hidayah Rt 02, Rw 07, Sawangan Lama, kota Depok. Latar belakang pendirian pengajian ini didasarkan melalui musyawarah para remaja karena kepedulian para remaja untuk lebih membangun spiritualitas di lingkungan sekitar yang dibekali dengan pengetahuan agama dan melibatkan para remaja dan masyarakat sekitar kepada kegiatan positif.1

Berdirinya organisasi ini merupakan wujud dari harapan dan keinginan para remaja sekitar untuk mempersatukan para remaja lain yang berada di lingkungan Sawangan dengan maksud dan tujuan memberikan pembinaan

kepada para remaja dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, di mana pada saat

itu umumnya para remaja masih sangat kurang memiliki pengetahuan dibidang agama.2

1

Mustofa, Penasihat RISMA, Wawancara Pribadi, Sawangan Depok, 29 Mei 2013, Jam 19.00 WIB

2

(48)

Bila dilihat dari aktivitas keseharian sebagian remaja, mereka

cenderung menyimpang dari norma agama. Sehingga atas dasar itu para perintis berdirinya organisasi ini mencoba mengumpulkan remaja sekaligus

masyarakat beserta para tokoh masyarakat yang ada untuk membentuk wadah organisasi remaja sebagai perkumpulan remaja di dalam melakukan segala aktifitas keagamaannya yang tentunya sangat memberii manfaat.

Seiring berjalannya waktu, RISMA menghadapi suatu keadaan yang menyebabkan anggota pengajian berkurang dan selalu mengalami fluktuasi

masalah keanggotaannya.

Hingga saat ini RISMA telah mengalami perkembangan yang cukup

pesat, baik dari segi keanggotaanya maupun kegiatan yang dilaksanakannya. Perlahan tapi pasti RISMA telah berhasil menumbuhkan kepercayaan dan membuka mata masyarakat bahwa RISMA adalah organisasi remaja yang

patut diperhitungkan dan diberikan dukungan karena besarnya kontribusi RISMA terhadap perkembangan kehidupan beragama remaja dan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan pengajian. Kesabaran dan keuletan serta

keseriusan para pengurus yang ada telah mampu menarik perhatian para remaja dan warga yang ada disekitar lingkungan RW 07 untuk ikut serta

berperan aktif dalam segala kegiatan yang diselenggarakan oleh RISMA dan senantiasa mendapat dukungan serta bantuan secara moril maupun materil hingga saat ini.

(49)

didalam keanggotaan sudah termasuk pengurus RISMA sebanyak 14 orang. Untuk mayoritas pendidikan dari anggota yang ada adalah SLTA yang setara dengan SMA, MA, SMK sebanyak 20 orang, sebagian lagi berasal dari SMP, MTS sebanyak 25 orang, yang setara SD,MI sebanyak 7 orang, adapun yang mahasiswa seb

Gambar

gambaran yang cukup jelas kepada audiensi tentang informasi yang

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji; 1) Guru PAI dalam kegiatan pembinaan keagamaan ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Palangka Raya dan 2) Strategi guru

Strategi yang harus dilakukan oleh guru pendidikan Agama Islam dalam pembinaan akhlak anak didik, selain menggunakan beberapa metode dalam penyampaian materi juga harus ditunjang

Peneliti : Materi apa saja yang diberikan dalam pembinaan keagamaan bagi remaja Putus Sekolah di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran Informan : Secara

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………. Proses Penerapan Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Keagamaan Peserta Didik di SMK Negeri 1 Galang ……… ...

Seperti beberapa konsep pembinaan guru SMK agar professional, yaitu dapat dilakukan dengan berbagai strategi seperti (1) pembinaan guru sebagai suatu system, (2)

iii STRATEGI PELAKSANAAN BIMBINGAN KEAGAMAAN DALAM PEMBINAAN MENTAL SPIRITUAL ANAK PANTI ASUHAN AR-RISALAH HIDAYATULLAH KOTA PAREPARE Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk

Materi pembinaan keagamaan di Lapas Perempuan dan Anak kelas II Tenggarong ini memiliki jenis materi pembinaan seperti yang ada didalam teori di atas yang mencakup Aqidah, Syariah dan

iii PEMBELAJARAN FIQIH MUBTADI’ MATERI BAB THAHARAH MENGGUNAKAN STRATEGI ACTIVE KNOWLEDGE SHARING AKS DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL DI KELAS III B MADRASAH IBTIDAIYAH IRSYADUN NASYI’IN