DAFTAR PUSTAKA
Chie, Nakane. 1981. Masyarakat Jepang. Sinar harapan dan pusat kebuyaan jepang
Futagami, Noki. 2007. Boryouku Wa Oya Ni Mukau. Tokyo: tooyoo keizai shinbousha
Hayashi, Michioshi. 1996. Fusei no Fukken. Tokyo chuokoronsha
Imamura, Anne E. 1987. Urban Japanese Housewife : at home and in the
community. Honolulu: University of Hawaii press
Inamura, Hiroshi. 1987. Oyako Kankei Gaku. Tokyo: koundansha gendai shinsho
Inamura, Hiroshi. 1985. Kateinai Boryouku Kankenkeino Byori. Tokyo:
Shinyosha
Koyomi, morioka. 1993. Gakureki Shakai. kondansha encyclopedia of japan
Nasution, M. Arif. 2001. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Nazir, 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Ochiai, Emiko. 1992. ThE Japanese family system in trantition: A sosiological
analysis of family change postwar in japan. Osaka:
LCTBinternational library foundation.
Okonogi, Keigo. 1985. Imano kazoku korekarano kazoku. Tokyo, nihon hoso shuppan kyohai
Raharjo, Nurwatie B. 1993. Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak. CSIS.
Sangidu. 2007. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat.
Yogyakarta: Seksi Penerbitan Asia Barat, Fakultas Ilmu Budaya UGM
Soekanto, S. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Soumuchou, S.TH. 1987. Nippon no Kodomo to Hahaoya. Tokyo: Japan
Supardi. 1999. Pola Asuh dan Remaja Bermasalah. Info actual swara
Shibata, zeshin. 1981. Nihon no Bijutsu. Tokyo: shibundo
http://www.shôhiseikatsu.metro.tokyo.jp/kyôiku/shôhisa/, diakses pada 25
september
BAB III
USAHA-USAHA YANG DILAKUKAN UNTUK MENGATASI
KATEINAI BORYOUKU
3.1 Usaha yang Dilakukan Pemerintah
Adapun usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dalam penanganan
dan pencegahan kateinai boryouku adalah sebagai berikut:
3.1.1 Program Reformasi Pendidikan - Manbusho
Berdasarkan program reformasi pendidikan yang di keluarkan oleh
manbusho (departemen pendidikan jepang) pada tanggal 24 januari 1997, yang
kemudian direvisi pada tanggal 5 agustus tahun yang sama, manbusho
menekankan pentingnya pendidikan bagi perkembangan mental setiap individu.
Pendidikan merupakan pondasi dari segala macam sistem social. Oleh karena itu,
manbusho menganggap pelaksanaan reformasifundamental dalam pendidikan
sangat penting dan esensial untuk membangun sebuah masyarakat yang mampu
menunjukkan secara penuh kreativitas dan semangat yang mereka miliki.
Reformasi pendidikan ini tidak terpisah dari reformasi fundamental di dalam lima
bidang yang lain yakni admisnistrasi pemerintahan, struktur ekonomi, sistem
keuangan, sistem kesejahteraan sosial, dan struktur fiscal yang kesemuaannya ini
Untuk mewujudkan reformasi pendidikan, manbusho memusatkan
perhatiannya kepada dua elemen. Yang pertama adalah untuk mendidik
masyarakat sebaik-baiknya demi masa depan jepang. Yang kedua untuk
memberikan penghormatan yang tinggi terhadap individualitas tiap anak dalam
rangka menumbuhkan penghormatan yang tulus pada hidup dan orang lain,
simpati, rasa keadilan dan kesamaan, moral, kemasyarakatan, kreativitas dan
internasionalitas dalam upaya merangsang karya yang penuh dari kemampuan
seorang anak selama hidupnya.
Di dalam penjelasan yang lebih terperinci mengenai tujuan program
ini untuk menanggulangi kateinai boryouku, dan mendukung pengendalian
masalah kateinai boryouku dalam masyarakat. Walaupun memang tidak secara
tegas dikemukakan bahwa hal ini dapat di tunjuk sebagai sebuah cara dalam
menangulangi kateinai boryou, namun jika dilihat secara jangka panjang,
sesungguhnya tujuan program ini dapat mendukung pengendalian masalah
kateinai boryouku. Adapun tujuan-tujuan yang di maksud adalah sebagai berikut:
3.1.1.1 Pengembanga Disiplin di Dalam Rumah
Manbusho sangat membantu dalam mempertebal disiplin di dalam
rumah yang dapat mendorong anak-anak mendapatkan sifat dan kemampuan atau
“semangat untuk hidup” melalui interaksi yang intim dengan anggota keluarga
yang berasal dari ikatan bayi dan orang tuanya. Sifat dan kemampuan di sini
rasa simpati pada sesama anggota keluarga. Pengertian dasar tentang moral, tata
krama sosial, pengendalian diri dan kemandirian.
Manbusho akan bekerja sama dengan departemen kesehatan dan
kesejahteraan juga departemen dan dewan-dewan lainya. Manbusho akan
menekankan kembali pentingnya disiplin di dalam rumah juga kesempatan yang
lebih bagi keluarga dan masyarakat untuk interaksi dan berkomunikasi dengan
anak. Untuk menciptakan opini public bahwa para orang dewasa harus saling
membantu dalam mengasuh anak yang berhati kaya.
3.1.1.2 Dorongan untuk Mencari Kegiatan Diluar Sekolah
Dalam rangka mendorong anak-anak untuk berpartisipasi meneruskan
kegiatan belajar di luar sekolah, manbusho akan mengambil langkah-langkah
untuk memperdalam pengertian anak tentang kegiatan kelompok sukarelawan,
organisasi budaya, organisasi olah raga, organisasi kepemudaan lainnya seperti
pramuka, pertemuan anak dan kelompok olah raga anak. Manbusho akan
mendorong anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Seperti hal nya pada tahun fiscal 1997 manbusho akan melonggarkan
batas kualifikasi untuk mengikuti ujian persamaan sekolah dasar yang dapat
menjadi syarat masuk sekolah menengah bagi mereka yang lulus. Memberikan
jalan keluar bagi anak-anak yang punya masalah took kyohi apabila mereka
3.1.1.3 Menanggulangi Masalah Kenakalan Remaja, Ijime dan Penyalah Gunaan Obat Terlarang
Dalam rangka mengatsi kenakalan remaja yang dewasa ini makin
serius dengan tepat, dalam kerjasamanya dengan departemen dan agen-agen
terkait. Manbusho akan secepatnya mendiskusikan langkah-langkah untuk
mencegah masalah-masalah yang berhubungan dengan perilaku remaja.
Di setiap komunitas manbusho, akan mempercepat ikatan sekolah
dengan institusi dan organisasi terkait termasuk fasilitas kesejahteraan anak
seperti klinik bimbingan anak dan polisi, dengan PTA (parent teacher association)
dan organisasi kepemudaan dengan warga setempat. Dengan demikian manbusho
akan memperkuat langkah-langkah untuk pengembangan kesehatan remaja juga
pencegahan masalah-masalah kelankalan remaja.
Selanjutnya di sekolah manbusho akan menyebarkan pendirian asas
yang menentang tindakan ijime terhadap orang lain seperti “tidak aka nada
toleransi terhadap orang yang melakukan ijime terhadap orang lain” manbusho
juga mempertimbangkan pelaksanaan sistem konseling yang efektif dan perbaikan
sistem konseling dengan cara mempekerjakan penasihat sekolah.
3.1.1.4 Perbaikan Kegiatan Komunitas dan Mewujudkan Lingkungan Sosial yang Bersih
Berkenaan dengan pembersih lingkungan sosial untuk remaja,
kepemudaan untuk membentuk jaringan kerja sama dengan sekolah-sekolah dan
organisasi-organisasi terkait yang bertujuan untuk membersihkan lingkungan
yang berbahaya juga untuk meminta bantuan pada komunitas terkait. Untuk tujuan
ini, di samping meningkatkan kerja samadengan departemen dan agen-agen
terkait. Manbusho juga mendorong lifelong learning council untuk mendiskusikan
langkah-langkah yang tepat.
Walaupun usaha dan cara dari manbusho ini tidak terlihat tegas namun
jika dilihat dari jangka waktu yang panjang akan berpengaruh besar terhadap
penanganan kateinai boryouku yang dimana sebagai salah satu penyebab
umumnya dalah depresi terhadap lingkungan hidup
.
3.1.2 Penyedian Kantor pengaduan
Penyediaan kantor pengaduan merupakan salah satu cara yang di
lakukan pemerintah dalam penangulangan kateinai boryouku, di mana fungsi dari
kantor pengaduan ini adalah sebagai tempat mengadunya korban kekerasan
ataupun pihak lain yang melaporkan adanya kekerasan di dalam sebuah kelurga.
Kantor pengaduan ini bukan hanya sebuah tempat pengaduan, di katakan bukan
hanya tempat pengadua dikarenakan pihak pengaduan tersebut langsung turun
ketempat kejadian dan langsung turun tangan dalam penangan korban maupun
pelaku kekerasan, dan pihak pengaduan ini juga bekerja sama dengan pihak
kepolisian terdekat sehingga memungkinkan penanganan yang cepat turn
Setiap pengaduan ataupun laporan yang di adukan ke kantor ini respon
dan aksinya sangat cepat dan bahkan para pegawai kantor ini juga turun
kelapangan tempat terjadinya kekerasan demi mendapatkan info dan kebenaran
dari laporan yang di laporkan, selain menyelidiki kebenaran dari laporan, kantor
pengaduan ini juga melakukan konseing terhadap korban dan pelaku dari
kekerasan yang di laporkan demi mencari penyebab dan motif-motif kekerasan
yang bekerja sama dengan pihak kepolisian.
Dengan adanya kantor pengaduan ini, segala bentuk kekerasan dapat
langsung di ketahui bahkan di antisipasi secara langsung. Dan dengan adanya
kantor pengaduan ini jelas dapat menjadi pemantau bagi setiap masyarakat.
3.1.3 Fasilitas Tombol Darurat di Dalam Rumah
Salah satu usaha dari pemerintah demi menanggulangi dan mengatasi
kateinai boryouku berikut ini adalah sebuah tombol darurat yang di sarankan bagi
setiap keluarga menggunakannya. Adapun fungsi dari tombol darurat ini adalah
sebagai alat pengaduan darurat, yang dimaksud darurat di sini adalah dimana
korban tak dapat lagi berjalan ataupun keluar dari rumah sehingga hanya dengan
menekan tombol ini, pihak yang bersangkutan dalam penanganan kekerasan
dalam rumah tangga langsung merespon dan turun kelapangan ke tempat kejadian,
adapun pihak bersangkutan yang di maksud di sini adalah pihak kepolisian dan
pihak kantor pengaduan terdekat. Seperti yang telah di jelaskan di atas
bahwasanya kantor pengaduan merupakan tempat pengaduan segala kekerasan
pihak yang berwajib, tombol darurat ini juga dapat menjadi sebuah tanda
permintaan pertolongan kepada maysrakat sekitar, di katakan tanda permintaan
pertolongan dikarenakan setelah tambol ini di tekan akan mengeluarkan sebuah
bunyi pertanda adanya sebuah kejadian ataupun kemalangan, di Indonesia bunyi
ini biasa dkatakan bunyi sirene. Adapun maanfaat dari tombol ini adalah:
1. Korban dapat di selamatkan dengan cepat
2. Pelaku dapat segera di hentikan
3. Sebuah permintaan pertolongan yang instan
4. Dapat menjadi penghalang bagi pelaku kekerasan
5. Menjadi senjata bagi korban yang tidak berdaya atau
lemah.
6. Dan sebagainya.
Selain di dalam rumah, tombol ini juga di gunakan untuk anak sekolah
dasar. Biasanya tombol ini di bagikan melalui pihak sekolah kepada setiap
murid-muridnya, tombol ini biasanya di tempelkan di tas anak. Adapun tujuan tombol
keamanan pada anak adalah juga sebagai alat untuk meminta pertolongan kepada
pihak berwajib dan masyarakat sekitar. Penggunaan tombol keamanan pada
anak-anak sekolah di dasari oleh status mereka yang sebagai anak-anak-anak-anak yang di anggap
tidak berdaya jika di bandingkan dengan orang dewasa, juga dikarenakn saat ini di
jepang banyak terjadi kekerasan kepada anak-anak di bawah umur, salah satu
3.2 Usaha Masyarakat dan Norma Agama
Selain usaha dari pemerintah, masyarakat dan agama juga telah
menjadi salah satu sarana penanggulangan kateinai boryouku.
3.2.1 Usaha dari Masyarakat
Adapun usaha masyarakat dalam mengatasi kateinai boryouku adalah
usaha yang tidak terlihat secara langsung, yang di maksud tidak secara langsung
di sini adalah usaha yang beransur-ansur yang perlahan-lahan dalam jangka waktu
yang lama di mana hasilnya tidak dapat langsung di lihat. Penanganan kateinai
boryouku oleh masyarakat jepang tidak langsung tertuju kepada kasus kateinai
boryouku ini tetapi melalui penanganan yang tertuju kepada norma-norma yang
menjadi penghalang munculnya kenakalan-kenakalan remaja yang
memungkinkan menjadi dasar dari segala kekerasan yang dilakukan seorang anak
terhadap orang tua.
Masyarakat yang dimaksud dalam penanganan kasus kateinai
boryouku ini adalah setiap lapisan masyarakat jepang. Sehingga terhubung dengan
segala upaya-upaya yang di lakukan pemerintah maupun upaya-upaya yang di
lakukan di dalam keluarga. Penangan yang di maksud adalah pencegahan ataupun
menghambat bahkan mengurangi setiap kenakalan-kenakalan remaja, seperti yang
kita ketahui selain gangguan kejiwaan, kondisi keluarga dan pergaulan anak dapat
menjadi penyebab dasar dari kausus kateinai boryouku. Adapun yang dapat di
lakukan masyarakat umum dalam penanganan kateinai boryouku ini adalah
Omoiyari (empati) merupakan peringkat tertinggi
dalam kerangka moral bangsa jepang, dan sekaligus
merupakan norma yang paling mendasar yang harus
dimiliki oleh orang jepang. Omoiyari merupakan
kemampuan dan kemauan untuk merasakan apa yang
orang lain rasakan, merasakan suka dan dukayang
mereka alami, dan membantu mereka untuk
mewujudkan keinginan mereka yang kesusahan.
Omiyari dapat berbentuk kesiapan seseorang dalam
mengantisipasi keperluan orang lain. Dan dia berusaha
meningkatkan kesenangan orang lain dengan
memberikan apa yang di butuhkan dan disukainya,
serta berusaha mencegah apa yang mungkin
membuatnya tidak suka.
Sebagai contohnya jika di kaitkan dengan remaja yang
sedang menghadapi masalah dan frustasi, sebagaimana
kita ketahui rasa frustasi dapat menjadi pemicu kateinai
boryouku, maka seseorang yang menghadapi masalah
tersebut tidak akan di biarkan terlantar, melainkan di
perhatikan oleh teman-temanya dan keluarganya
ataupun anggota keluarga yang lain.seorang teman
ataupun keluarga dapat dengan segera mengetahui
yang dirasakan sehingga dapat segera membantgu
ataupun menghiburnya. Dengan demikian seseorang
yang sedang kesusahan tidak lagi menghadapi
permasalahan sendirian.
Omoiyari berkaitan dengan ketulusan.seseorang yang
memberiempatinya kepada seseorang tidak mempunyai
maksud meminta balasan. Balas budi hanya timbul dari
pihak penerima empati.
2. Amae (ketergantungan)
Bila konsep omoiyari berlaku, maka konsep Amae
manjadi konsep yang penting dalamkerangka moral
masyarakat jepang karena si pelaku omoiyari
memerlukan orang yang bergantung padanya dan
sebaliknya.
Amae pada awalnya lahir di dalam lingkungan ilmu
psikologi. Menurut Takeo Doi, seorang psikoanalis dan
penulis jepang, amae memiliki makna hubungan
kejiwaan antara bayi dan ibu yang sedang menyusuinya.
Takeo Doi mengatakan bahwa jika seseorang ataupun
seorang anak mengalami perkembangan. Setelah si
dengan dirinya, ia memberi pengakuan terhadap
eksistensi ibunya tersebut dengan amae. Kata amae
sendiri mengandung makna manja. Tetapi istilah manja
ini tidak bisa disamakan dengan makna manja dalam
arti Indonesia, yang berkesan negatife. Manja dalam
konsep amae adalah perwujudan pengakuan eksistensi
orang tua dalam bentuk ekinginan akan kedekatan
hubungan orang tua.
Konsep amae yang berlaku sebagai tata nilai norma
bangsa jepang hingga sekarang adalah sikap diri yang
menganggap bahwa orang lain selalu memiliki niat
yang baik dan selalu siap menolong dirinya bila ia
mengalami kesulitan.
Dengan demikian konsep ini dapat menjadi pengerat
setiap hubungan batin antara orang tua anak, dan
sesame anggota kelurga yang dapat menjadi
pengurangan akan adanya gejolak pemberontakan di
dalam rumah tangga.
3. On, Gimu dan Giri (hutang balas budi)
Norma penting lainya adalah masalah hutang budi dan
Dalam masyarakat jepang hal ini dikenal dengan istilah
on,gimu,dan giri.
Konsep On ini tidak mudah dijelaskan artinya, karena
mempunyai arti yang sangat luas. On bukan hanya
sekedar mengadung arti kewajiban, keramahan bahkan
cinta kasih. Namun secara umum On mengandung arti
beban, hutang, atau sesuatuyang harus dipikul
seseorang sebaik mungkin. Seperti halnya dalam kasus
kekerasan dalam keluarga di mana seorang ibu bunuh
diri setelah mengetahui suami telah meninggal dunia,
untuk menanggapi kasus seperti ini, Edwin Reischauer
dalam Manusia Jepang(1982) menyebutkan bahwa
kisah-kisah tersebut mencerminkan moralitas bangsa
jepang yang sangat tinggi nilainya. Kesetiaan,
ketulusan dan pengabdian menjadi sesuatu yang sangat
di hormati dan di agungkan. Ruth Benedict dalam
pedang samurai dan bunga seruni (1982) menyebutkan
sebagai sifat ekstrim bangsa jepang sulit dimengertioleh
bangsa lain, sedangkan Djodjok Soepardjo (1999),
seorang ahli budaya jepang, menyebutkan sebagai pola
komunikasi intrapersonal dalam budaya jepang.
Pada masa kini contoh On masi dapat dilihat pada
hungungan antara ibu dan anak. Contohnya, seorang
bahwa ia tidak dapat melupakan On yang diterima dari
ibunya. Istilah On tersebut tidak sepenuhnya tertuju
pada cinta si anak kepada ibunya, melainkan pada
segala sesuatu yang telah dilakukan sang ibu semenjak
ia lahir. Ia merasa berhutang budi atas segala kerepotan
yang di hadapi orangtuanya selala membesarkan
dirinya, dan ia merasa harus menebusnya dengan segala
cara.
Jika dikaitkan dengan kasus kateinai boryouku, maka
nilai moral On sangat kuat dalam penanganan awal
ataupun pencegahan dasar terhadap kasus kateinai
boryouku.
Gimu dapat diartikan sebagai kewajiban membayar on
yang telah diterima seseorang.gimu harus dibayar
seseroang karena adanya ikatan-ikatan yang kuat dan
ketat pada saat di lahirkan,misalnya ikatan pada
keluarga dan ikatan pada negaranya. Pembayaran ini
tidak memiliki batas waktu dan pembayaran yang telah
dilakukan pun kadang-kadang tidak pernah cukup
walaupun di lakukan seumur hidup.
Giri merupakan jenis kwajiban pemenuhan on yang lain.
pembayaran dan hutang-hutang tersebut wajib di bayar
dalam jumblah yang tepat sama dengan yang diterima.
Giri mempunyai pembagian yang jelas. Yang pertama
adalah Giri kepada dunia, yaitu kewajiban seseorang
untuk membayar On kepada sesamanya,misalnya
karena seseorang telah menerima hadiah. Yang kedua
adalah Giri kepada nama sendiri,yaitu kewajiban untuk
tetap menjaga kebersihan nama dan reputasi
seseorang.kewajiban ini termasuk kewajiban untuk
membersihkan nama baik seseorang atas penghinaan
atau tuduhan atas kegagalan dengan cara melakukan
balas dendam,kewajiban seseorang untuk menunjukkan
atau mengakui kegagalan atau ketidaktahuannya dalam
menjalankan suatu peran dalam masyarakat, dan
kewajiban seseorang mengindahkan sopan santun
jepang dengan melaksanakan semua norma yang
berlaku serta dapat mengekang emosi dalam situasi
yang tidak tepat.
Norma mengajarkan untuk bertanggung jawab ataupun
menjaga diri dalam setiap kehidupan.
Dengan adanya norma-norma ini dalam masyarakat dapat menekan
dan mencegah adanya bibit munculnya kekerasan ataupun kenakalan remaja.
Seperti yang telah di jelaskan di atas bahwasanya masyarakat melakukan
jika dilihat dalam jangka waktu yang lama dampaknya sangat baik. Selain
menekankan norma-norma ini masyarakat jepang juga bekerja sama kepada setiap
agen-agen yang berhubungan dalam penanganan kateinai boryouku ini.
3.2.2 Norma Agama (kepercayaan)
Norma agama di jepang sangat sulit dijelaskan, sebagai mana kita
ketahui bahwasanya masyarakat jepang banyak menganut bermacam-macam
agama. Namun jika membahas agama kita tahu bahwasanya sebuah agama
mengajarkan hal yang baik untuk semua umatnya. Disini penulis tidak membahas
penting tidaknya sebuah agama dalam pandangan orang jepang melainkan,
membahas nilai-nilai dan ajaran agama yang dapat mengurangi ataupun
menjegah terjadinya sebuah kekerasan yang di lakukan oleh anak-anak, remaja
dan bahkan orang tua.
Sebagai sebuah contoh keterkaitan agama (kepercayaan) dalam
penanganan kateinai bryouku adalah pada masyarakat Korea dan Taiwan yang
pengaruh ajaran konfusianismenya masi kental, masalah kateinai boryouku dan
sejenisnya hampir tidak ditemukan. Salah satu ajaran yang masi kuat dan hidup
adalah penghormatan terhadap orang yang lebih tua dan kewajiban seorang anak
untuk berbakti kepada orang tua. Jadi norma ajaran ini dapat menjadi kekuatan
penghalang, penghenti dan pengontrol untuk menghindari munculnya gejala
penganiayaan anak terhadap orang tua.
Di jepang, di daerah Okinawa dimana ajaran konfusianisme masi kuat
karena itu dapat disimpulkan disini bahwasanya di dalam masyarakat yang masi
menganut norma Agama (kepercayaan) yang kuat terhadap masalah
penghormatan terhadap orang tua, penganiayaan anak terhadap orang tua akan
sulit timbul dan berkembang. Seperti yang kita ketahui tidak ada agama yang
mengajarkan hal buruk kepada umatnya, apapun agamanya pastinya ajarannya itu
baik. Selanjutnya setelah refomasi pendidikan yang di lakukan di jepang, pihak
keagamaan juga ambil alih dalam pendidikan dan penyebaran ajarannya dalam
sekolah-sekolah di jepang, sehingga pihak keagamaan juga kerja sama dengan
pemerintah dalam pendidikan moral anak sehingga di adakannya mata pelajaran
keagamaan. Dengan adanya mata pelajaran ini juga dapat menekankan kepada
siswa/siswi ajaran-ajaran agama di mana kita ketahui bahwasanya ajaran agaman
mengajrakan ajaran yang baik, dan hal ini juga dapat menjadi pengontrol
siswa/siswi dalam bertingkah laku.
Selain mata pelajaran agama di sekolah, ada juga pembukaan sekolah
baru yang berdasarkan ajaran agama, sebagai contohnya di Indonesia banyak
sekolah-sekolah berdasarkan ajaran agama-agama yang ada di Indonesia, sebagai
contoh nilai normanya adalah sekolah yang berdasarkan ajaran agama islam,
dimana di sekolah ini siswa dan siswinya di ajarkan bertatakrama sesuai ajaran
agama islam, misalnya dalam berpakaian, setiap wanitanya menggunakan jilbab
kesekolah dan bertingkah laku sesuai ajaran agama, sehingga hal ini menjadi
peran penting dalam pembentukan mental dan spiritualitas seorang anak. Dan
begitu juga di jepang setiapsekolah yang berdasarkan agama akan mengajarkan
Selain berkerja sama dengan pihak pemerintah, agama juga memiliki
tempat-tempat beribadah, misalnya agama Kristen dan katolik di jepang yang
menerima umatnya untuk beribadah dalam gereja, sehingga gereja menjadi suatu
tempat tujuan bagi setiap umatnya untuk melakukan ibadah terhadap tuhannya,
dan di gereja ini juga mereka menerima ajaran-ajaran agama sebagaimana yang
kita ketahui semua ajaran norma-norma agama adalah baik. Norma yang baik
sudah jelas menjadi salah satu kekuatan dan pengontrol tingkah laku seorang anak
ataupun orangtua sehingga menjadi penghalang muncul atau berkembangnya
kasus kateinai boryouku.
3.3 Usaha dalam Keluarga (Rumah Tangga)
Penangan dan pencegahan kateinai boryouku dalam keluarga tidak
jauh berbeda dengan usaha yang di lakukan masyarakat, namun usaha dalam
kelurga lebih mengutamakan nilai-nilai penghormatan terhadap orangtua dan
nilai-nilai kasih sayang antar sesama anggota keluarga dan pengajaran ini lebih
intensif. Dalam hal ini peran orang tua sangat besar, sebagaimana kita ketahui
tugas orang tua adalah mendidik, mengajarkan kebudayaan dan norma-norma
dalam masyarakat.
Usaha yang dilakukan dalam pencegahan dan penanganan kateinai
boryouku di dalam keluarga adalah:
- Penekanan nilai norma-norma
Penekanan norma-norma Omoiyari, Amae, On,Gimmu dan Giri.
dapat mempelajari nilai-nilai norma yang baik dalam keluarga,
sebagai mana kita ketahui tujuan dari norma ini adalah tau
diri,bertanggung jawab, menjalin hubungan kasih sayang, peduli antar
sesama. Sehingga dengan adanya peran konsep norma ini seorang
anak dapat mengerti bahwasanya dia tidak sendiri, dia tau bahwasanya
keluarga peduli terhadapnya. Maksud kata tidak sendiri disini adalah
dia dapat menghadapi masalah yang di hadapi bersama dengan
keluarganya sehingga rasa frustasi tidak di hadapi sendiri, sebagai
mana rasa frustasi dapat menjadi pemicu
penyimpangan-penyimpangan tingkah laku remaja.
- Pertanggung jawaban
Pertanggung jawaban yang di maksud disini adalah mengetahui posisi
dan fungsi dalam keluarga, hal ini lebih di tujukan kepada ayah/ibu
dimana seorang ayah atau ibu harus mempertanggung jawabkan posisi
sebagai orang tua yang fungsinya sebagai kepala keluarga yang
mendidik dan mempersatukan anggota keluarga. dengan adanya
pertanggung jawaban ayah/ibu sebagai orang tua maka sebuah
keluarga akan menjalin hubungan batin yang kuat.
- Menjalin keharmonisan
Keharmonisan dalam keluarga sangat diperlukan dalam menjalin
hubungan yang baik antar sesama anggota keluarga.
hubungan antar sesama anggota keluarga sangat dekat, tidak adanya
rasa terpendam dan bahkan tidak adanya rahasia seorang anak
terhadap orang tua, artinya seorang anak jujur dan mau bercerita
tentang keluh kesal yang di hadapai di luar rumah tangga, sehingga
mudah di atasi dan di mengerti.
- Berkerja sama
Maksud berkerja sama disini adalah melibatkan seluruh anggota
keluarga dalam kegiatan maupun usaha dalam keluarga. Melibatkan
anak dalam setiap kegiatan dengan sewajarnya di dalam rumah
sehingga tidak muncul anggapan “tidak dianggap” sebagai mana kita
ketahui kata “tidak dianggap” dapat menjadi salah satu pemicu
munculnya sifat apatis yang tidak peduli terhadap sesuatu hal. Sifat
apatis ini sangat berbahaya, sifat ini egois dan memiliki pola fikir
tersendiri dan tidak ambil peduli dengan sekitar.
- Memberikan pendidikan yang wajar tanpa adanya harapan yang
berlebihan
Pendidikan sangat penting bagi seorang anak. Terutama di Jepang
pendidikan merupakan tolak ukur umum untuk setiap anak. semakin
bagus sekolah yang ia dapatkan semakin dekat pula ia dengan
kesuksesan. Orang tua juga memandang pendidikan anak yang
menjadi gambaran masa depan seorang anak. Sebagai mana kita
hingga akhirnya muncul pengharapan yang berlebihan terhadap anak.
Dan pengharapan berlebihan ini yang dapat memicu terjadinya
pertentangan keinginan orang tua dan anak, dan hal inilah yang
memingkinkan terjadinya kateinai boryouku.
Dengan adanya pendidikan seorang anak juga mendapatkan
pembelajaran dari sekolah.sebagaimana telah dijelaskan di atas
bahwasanya di sekolah juga ada pendidikan keagamaan.selain
dirumah ,di sekolah anak juga mendapatkan pendidikan moral.
Sehingga moral ini dapat menjadi pencegah seorang anak berprilaku
menyimpang, lain halnya pada anak yang mengidap kejiwaan.
- Konseling
Seperti yang di jelaskan di atas bahwasanya keluarga yang harmonis
akan dapat mengetahui keluh kesal yang di alami seorang anak.
Begitu juga dengan seorang anak yang mengalami gangguan kejiwaan.
Dengan hubungan yang dekat, seorang ayah ataupun ibu dapat
mengetahui kelainan dalam jiwa si anak. sehingga dapat dengan
segera melakukan konseling terhadap pihak ahli, untuk mengatasinya.
Karna kateinai boryouku tidak hanya di lakukan oleh anak yang sehat,
melaikan anak yang mengidap kelainan jiwa juga sering melakukan
- Pemasangan tombol darurat
Sebagaimana guna tombol darurat ini merupakan program pemerintah,
namun tidak berarti danpa persetujuan keluarga. Seperti namanya
tombol darurat ini merupakan sebuah normor darurat untuk meminta
pertolongan kepada pihak berwajib ataupun masyarakat sekitar.
Sebagaimana telah di jelasakan di bab II bahwasanya kateinai
boryouku juga dapat terjadi dalam rumah tangga yang biasa, yang
dalam arti keluarga yang mencukupi tanpa adanya pertanda akan
terjadinya kekerasan. Seperti halnya anak yang di kenal baik ternyata
mengalami kateinai boryouku secara tiba-tiba. Untuk hal tersebutlah
tombol ini berguna. tombol ini terhubung langsung kepada kantor
polisi ataupun kantor pengaduan daerah terdekat rumah tangga yang
terjadi kateinai boryouku.
- Pengenalan terhadap agama
Memperkenalkan agama terhadap anak dan terhadap seluruh anggota
keluarga, seperti yang telah di jelaskan di atas norma agama juga
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Segala bentuk kekerasan yang di lakukan anak adalah sebuah
gambaran akan ketidak puasan seorang anak atau kurangnya perhatian dan
kepedulian keluarga terhadapnya. Dapat dilihat dari perkumpulan atau pun group
anak-anak yang lebih sering berkumpul dengan teman-temannya di luar, di
bandingkan dengan keluarga sendiri. Mereka lebih merasa nyaman berada di luar
bersama teman-temannya. Dan dari sini dapat kita kita lihat bahwasanya seorang
anak tidak lagi mengutamakan keluarga dalam bersosialisasi, namun tak
selamanya juga keluarga dapat menjadi teman sosialisasi yang baik mislanya
keluarga yang orang tuanya tidak bertanggung jawab akan posisinya sebagai
kepala keluarga.
Di jepang fenomena-fenomena kenakalan remaja sangat banyak,
dimulai dari ijime, enjo kosai, kateinai boryouku, konai boryouku dan
kenakalan-kenakalan remaja lainnya. Kasus ini sudah menjadi hal yang biasa kita jumpai di
jepang. Jika dilihat dari segala penyebab dari kenekalan remaja ini dapat di
simpulkan bahwasanya kekeluargaan jepang sangat rentan mengalami kateinai
broyouku, hal ini di sebabkan dengan berbagai permasalahan-permasalahn dalam
keluarga, mulai dari kurangnya sosok ayah/ibu, pengharapan yang berlebihan dari
orang tua, sampai kedalam faktor kejiwaan anak. Selain dari dalam keluarga itu
semua penyebab-penyebab ini, yang menjadi acuan utama adalah peran orang tua
dalam keluarga.
Michiyoshi Hayashi, penulis buku best seller berjudul fusei no fukken
(1996) atau rehabilitas karakter ayah, mengemukakan secara kritis masalah peran
ayah yang memudar dalam sebuah keluraga.
Selain hayashi, ada pendapat yang senada yang di kemukakan oleh
seorang professor dari universitas Keio Gijuku bernama Keigo Okonogi, dalam
pendapatnya ini ia mengemukakan bahwasanya seorang ayah atau suami telah
hilang posisinya dalam keluarga, mereka telah kehilangan perannya dalam
keluaraga. Mereka telah menjadi manusia kantoran super sibuk dan hampir tidak
punya waktu untuk keluarga. Walaupun secara fisik mereka ada.
Dan begitu juga dengan peran seorang ibu, sang ibu juga yang telah
menjadi seorang yang paling dekat dengan anak, otomatis jalinan kasih sayang
juga lebih kuat. Namun seorang ibu juga menjadi orang yang paling rentan
mendapatkan perlakuan kateinai boryouku. Seperti yang kita ketahui semua orang
tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun dengan pernyataan inilah
muncul sebuah pengharapan yang berlabihan, dimana tanpa meihat potensi si anak
terlebih dahulu, sang ibu memberikan pengharapan yang berlebihan sehingg si
anak frustasi dengan perasaan ketidak mampuan ataupun merasa terpaksa. Seperti
yang kita ketahui rasa frustasi merupakan gejala-gejala awal terjadinya kateinai
boryouku.
Istilah kateinai boryouku mulai di pergunakan secara umum pada awal
kekerasan yang di lakukan oleh anak terhadap orang tuanya atau anggota keluarga
yang lain, kekerasan ini dapat berupa kekerasan mencederai orang alain bahkan
sampai membunuh dan kebanyakan objek kekerasan adalah seorang ibu.
Yang menjadi penyebab utama munculnya kekerasan oleh anak
terhadap orang tua ini, masi dalam berdasarkan penelitian inamura, terdapat pada
sikap asuh orang tua sedikit bertolak belakang. Pada ibu harapan yang berlebihan
yang di bebankan kepada anak dan seorang ibu terlalu ikut campur dalam urusan
dan masalah si anak. Sementara pada si ayah, anak meniali mereka terlalu lepas
tangan dan apatis pada masalah keluarga, terutama dalam hal pengasuhan anak.
Dengan hilangnya peran seorang ayah dalam keluarga, maka seorang ibu akan
berusaha dalam menggantikan posisi itu sehingga tanpa di sadari seorang ibu
terjatuh dalam intervensi yang besar dan cukup dirasakan menggangu oleh anak.
Kedua hal ini menjadi faktor penyebab yang dominan dan menonjol dalam kasus
kateinai boryouku.
Adapun penanganan yang di lakukan adalah dari berbagai kalangan,
kalangan pemerintah telah melancarkan program reformasi pendidikan manbusho,
pemfasilitasi keamanan di daerah-daerah, dapat berupa kantor polisi dan kantor
pengaduan. Dan kemudian penangan yang di lakukan masayarakat adalah
penerapan budaya atau norma-norma yang seharusnya dimiliki orang jepang
seperti, Omoiyari, Amae, On, Gimu, Giri. Dan kemudian penanganan yang di
lakukan keluarga. Penanganan ini tidak jauh berbeda dengan penangan dari
masyarakat, namun disini lebih intensif dan penuh dengan rasa kasih sayang
4.2 Saran
Pelaku dari kekerasan ini (kateinai boryouku) adalah anak-anak yang
berumur 20 tahun kebawah. Sebagaimana anak dibawah umur 20 sangat
memerlukan perhatian dan pengendalian dalam bertingah laku, sebagai mana kita
ketahui dalam usia tersebut seorang anak mengalami masa puberitas. Biasanya di
saat-saat puber ini anak-anak sangat terlihat bertingkah laku sedikit ekstrim, hanya
mau bersenang-senang dan terlihat labih. Dan dimasa ini pula anak remaja sangat
rentan menghadapai masalah-masalah, sehingga di seharusnya di masa-masa ini
diperlukannya perhatian yang lebih namun sewajarnya tanpa terlalu ikut campur
dalam urusan mereka, sebagai mana yang di ungkapkan Inamura sebaiknya
biarkan mereka beristirahat secara fisik maupun mental, karna mereka
benar-benar membutuhkannya.
Kateinai boryouku ini terjadi dalam sebuah rumah tangga yang
kurang harmonis , sebagai mana telah di jelaskan di atas. Dengan demikian ada
baiknya permasalahan kateinai boryouku ini di selesaikan ataupun di cegah
dalam rumah tangga, karna pemicu utama dalam munculnya kateinai broyouku
ini adalah kondisi dan keadaan sebuah rumah tangga tersebut.
Dan yang menjadi peran penting dalam penanganan dan pencegahan
kateiani boryouku ini adalah kedua orang tua. Dimana orang tualah yang menjadi
BAB II
KATEINAI BORYOUKU DALAM RUMAH TANGGA
DI JEPANG
2.1 Pengertian Kateinai Boryouku
Secara harfiah kateinai boryouku merupakan berbagai bentuk kekerasan
yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga. Jika di lihat dari frase kanji yang
membentuk kateinai boryouku mengandung makna di dalam frase tersebut.
Kateinai boryouku mengandung dua frase kanji yaitu kateinai ( 家 庭 内 ) yang
bermakna di dalam rumah tangga, dan boryouku ( 暴 力 ) yang bermakna
kekerasan.
Di dalam the great japans dictionary terbitan kondansha juga terdapat
pengertian kateinai boryouku yaitu kekerasan yang di lakukan anak remaja atau
anak di bawah umur terhadap orang tuanya. Pada umumnya kasus kateinai
boryouku ini merupakan kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga, namun
khususnya sejak tahun 1997 kateinai boryouku merujuk pada kasus kekerasan
yang di lakukan anak terhadap orang tua, mulai menonjol di dalam kalangan
masyarakat dan kemudian pada awal tahun 1980-an istilah kateinai boryouku di
pergunakan secara umum. Sebelumnya konsep dan sebutan seperti ini tidak ada
karna kasus ini relative baru di dalam masyarakat jepang. Kemungkinan istilah ini
dulunya di gunakan kepada kasus kekerasan antara suami-istri atau orang tua-anak
ataupun yang berkuasa terhadap orang yang lemah atau pun di bawah taraf.
Pengertian seperti ini jelas sangat berbeda dengan pengertian kateinai boryouku
yang sekarang di gunakan, di mana fenomena yang muncul sekarang adalah
kateinai boryouku di mana pelaku kekerasan tersebut adalah seorang anak
terhadap orang tua, si lemah ( anak) terhadap orang tua (kuat). Pengertian kateinai
boryouku yang di gunakan di jepang saat ini adalah seorang anak yang melakukan
kekerasan terhadap orang tua ataupun terhadap anggota keluarga yang lain. Dan
pengertian yang seperti ini lah yang di gunakan saat ini di jepang.
Kekerasan ini juga bermacam-macam bentuknya bisa berupa bentuk
kekersan terhadap fisik ataupun penghancuran terhadap barang-barang bahkan
pengucapan kata-kata kasar dan tidak etis kepada anggota keluarga, terutama
kepada orang yang seharusnya di hargai di dalm sebuah rumah tangga yaitu,
ayah-ibu ataupun kakek nenek dan kakak-abang. Di berbagai kasus tertentu bentuk
kekerasan ini sangat kejam dimana sang korban bisa saja mengaalami luka fisik
maupun psikologis yang parah, adakalanya kasus ini berlangsung dalam jangka
waktu yang panjang umumnya kepada anggota keluarga yang seharusnya di
hormati namun lemah dalam fisik, yaitu seorang ibu yang lemah ataupun seorang
ibu yang telah lanjut usia, sedangkan kasus kekerasan terhadap ayah jarang sekali
terjadi. Namun tetap saja kasus ini merambat terhadap anggota keluarga yang lain
yang ingin membela atau menyelamatkan sang korban kekersan dan biasanya
kepada kakak perempuan ataupun sang ayah yang rela menerima kekerasan fisik
2.2 Jenis-Jenis Kateinai Boryouku
Jenis-jenis kateinai boryouku juga di bagi menjadi dua tipe yakni:
2.3.1 Tipe Kekerasan Berdasarkan Aksi
Menurut Inamura di dalam kateinai boryouku terdapat berbagai tipe.
Salah satunya tipe yang di lihat dari aksi apa saja yang telah di lakukan si pelaku
pada saat kekerasan itu terjadi.
a. Kateinai boryoku nomi (kateinai boryouku saja)
Perlakuan kekerasan terjadi di dalam rumah, si pelaku melempar dan
menghancurkan benda ataupun barang-barang yang ada di dalam rumah, dan hal
ini sangat berbanding terbalik dengan sifat pelaku di luar rumah, sehingga sulit
menyadari bahwasanya telah melakukan kekerasan di dalam rumah.
b. Kateinai boryouku dan toko kyohi
Koto kyohi merupakan penolakan seorang anak untuk pergi ke sekolah
dan latar belakang penolakan ini adalah penyakit kejiwaan yang di derita sang
anak. Umunya kateinai boryouku di barengi dengan toko kyohi yang telah ada
sebelum kateinai boryouku. Dapat di katakan toko kyohi ini merupakan gejala
awal kateinai boryouku ini. Mereka memberontak karna di paksa melakukan
sesuatu oleh orang tuadan pemberontakan ini di wujudkan dengan melakukan
c. Kateinai boryouku dan toko kyohi dan hiko
Hiko merupakan pelanggaran hukum yang di lakukan anak di bawah
umur 20 tahun atau kenakalan remaja. Selain kateinai boryouku dan toko kyohi,
pelaku juga melakukan hiko atau kenakalan-kenakalan remaja seperti menguntit,
mencuri uang, menginap tanpa seijin orang tua dan sebagainya.
d. Kateinai boryouku dan hiko
Pelaku terlebih dahulu melakukan kenakalan, mengabaikan pelajaran
dan bolos sekolah, dan ketika orang tua atau anggota keluarga yang lain
mengingatkan agar menasehati, dia langsung marah tidak terima dengan nasihat
dan melakukan kateinai boryouku terhadap orang yang mengingatkan dan
biasanya korban adalah seorang ibu.
2.2.2 Tipe Kateinai Boryouku yang Berdasarkan Seishin Igaku
( Ilmu Penyembuhan Mental)
Berdasarkan penelitian psikolog Inamura terhadap para pelaku yang
melakukan konsultasi padanya, membagi lagi tipe kateinai boryouku berdasarkan
seishin igaku. Tipe-tipe tersebut adalah sebagai berikut:
a. Shinkeisho gata (tipe neurosis)
Dalam kasus ini sang pelaku mengalami atau memiliki penyakit kejiwaan
seperti kyohaku shinkensho atau memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu
untunya, fuan shinkensho ( rasa cemas yang berlebihan), kyufusho (ketakutan)
sendiri yang di lakukannya sebagai salah satu cara yang di lakukannya untuk
melepaskan diri dari penderitaannya.
Isi dari kekerasan bentuk ini beragam, terjadi hampir setiap hari dan
berlangsung dalam waktu yang relative panjang. Misalnya pelaku selalu
menyerang ibu dengan kata-kata kasar, menedang dan memukul, memaksa ibu
untuk berkali kali minta maaf karena cara mengasuh anak dan sikap yang tidak
baik, lekas meledak emosinya apabila ibu melakukan kesalahan sekicil apapun
terhadapnya.dan sebagainya.
b. Seishinbyo gata (tipe penyakit mental)
Meningkatnya impuls-impuls sangat berhubungan dengan ketidak stabilan
emosi yang di sebabkan oleh penyakit mental. Yang di maksud dengan penyakit
mental di sini adalah adalah mengarah kepada skizofrenia yang artinya penyakit
kejiwaan yang di tandai ketidak acuhan, halusinasi, merasa berkuasa untuk
menghukum dan sifat dari tipe kekerasan ini sangat hebat, impulsive dan tak
terduga.
c. Ippan gata (tipe umum)
Sebagian besar pelaku kekerasan ini berada dalam keadaanke jiwaan yang
mendekati gangguan mental. Jadi,buka gangguan mental yang jelas terlihat.
Pelaku memberontak dan merasakan dendam dan benci yang besar kepada urang
tua sehingga pada saat meledak menjadi tindak kekerasan yang hebat. Kekerasan
ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan beragam.pada umumnya
d. Ikkasei gata (tipe memendam)
Penderita ini memendam rasa ingin menyerang dan rasa ingin balas
dendam hingga pada suatu saat perasaan dendam ini dikeluarkan. Akhir-akhir ini
banyak anak-anak yang memiliki control diri yang lemah. Apabila mereka
berhadapan dengan suatu konflikatau suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan
yang di harapkan, mereka segera melampiaskan amarahnya kepada orang lain
walaupun penyebabnya adalah masalah sepele.
2.3 Karakteristik Kateinai Boryouku
2.3.1 Ibu Sebagai Objek Kateinai Boryouku
Orang tua yang menjadi korban kekerasan anak merupakan bukti bahwa kekerasa anak terhadap orang tua itu ada. Seperti telah di sebutkan
sebelumnya, kateinai boryouku yang terjadi di jepang memiliki dua kesamaan
yaitu objek kekerasannya adalah anggota keluarga dan pelakunya adalah “anak
biasa” berusia remaja yang masi bersekolah yang berasal dari “keluarga biasa”,
yang mementingkan pendidikan dan secara ekonomi mampu. Berdasarkan data
terahir pada tahun 2005 keseluruhan kasus berjumlah 1275 kasus yang dilaporkan,
diantaranya 773 kasus kekerasan terhadap ibu dan 111 kekerasan terhadap ayah
dan yang menjadi sorotan utama adalah kasus kekerasan terhadap ibu yang selalu
jauh lebih besar daripada kekerasan terhadap ayah.
Menurut Futagami, alasan anak melakukan kekerasan terhadap ibu
menghabiskan waktu bersama anak-anak di bandingkan dengan ayah, karena ibu
yang membesarkan dan merawat anak sejak lahir dan ayah lebih banyak bekerja
di luar. Kedua adanya rasa bergantung anak terhadap ibu. Hal ini berhubungan
dengan kondisi minimnya ayah di rumah. Ayah selalu bekerja hingga larut malam
atau bekerja keluar kota, sehingga frekuensi untuk bertemu anak sangat sedikit.
Dengan kondisi rendahnya frekuensi pertemuan dengan ayah, secara
otomatis anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu. Dan ketiga, salah
satu alasan kuat seorang anak melakukan kekerasan terhadap ibu, yaitu
ketidakberdayaan ibu dan kasih sayng ibu yang berlebihan. Hal ini diperkuat oleh
hasil data kuesioner yang di lakukan terhadap anak SD,SMP dan SMU mengenai
ibu yang meributkan masalah belajar dan nilai di sekolah dan ibu yang memahami
mereka.
Berdasarkan pertanyaan yang di ajukan kepada anak-anak mengenai
ibu yang meributkan masalah belajar dan nilai, jawaban yang di dapatkan yaitu
pada anak SD yang menjawab “iya” hanya sebesar 39,8 persen, sedangkan yang
menjawab “tidak” 55,8 persen. Lain halnya pada anak SMP dan SMU, yang
menjawab “iya” yaitu sebesar 53 dan 49,8 persen, sedangkan yang menjawab
“tidak” hanya 42,8 dan 46<8 persen (soumuchou 1993). Pada anak SMP dan
SMU, mereka menyadari ibu mereka meributkan masalah belajar dan nilai
sekolah lebih besar daripada yang tidak, karena berhubungan dengan adanya
pesaing ketat dalam ujian masuk sekolah menengah maupun perguruan tinggi,
yang menuntut ibu untuk memperhatikan pelajaran dan nilai anak di sekolah
2.3.2 “Anak Biasa” sebagai Pelaku Kateinai boryouku
Seperti yang telah di jelaskan di atas mayoritas objek kateinai
boryouku adalah orang tua, terutama ibu. Dan anak-anak yang melakukan
kekersan terhadap orang tua adala mereka yang di kenal sebagai murid baik
ataupun di kenal sebagai “anak biasa” di sekolah dan sangat perhatian terhadap
yang lain. Maksud dari “anak biasa” adalah anak yang baik, pandai, pendiam, dan
tak pernah berulah tidak baik di sekolah maupun di depan public. Menurut
Japanese journal of sociological criminology terdapat dua image “anak biasa”,
seperti di kutip berikut:
1. Biasanya, anak yang pendiam, anak yang rajin, dan anak yang tidak
bermasalah dengan nilai.
2. Setidaknya, kebutuhan hidup dan pendidikan anak dalam keluarga terpenuhi
Selain anak yang pendiam, rajin dan tak berulah, image “anak biasa”
juga termasuk dalam keluarga menengah ke atas. Menurut Saitou Tamaki, “anak
biasa” yang melakukan kateinai boryouku diikuti pula dengan kondisi keluraga
yang tidak memiliki figure ayahdan kasih saying ibu yang berlebihan. Memang
cukup mengagetkan, anak yang sehari-hari mendapat julukan “biasa” tiba-tiba
melakukan hal yang tak terduga.
Dalam masyarakat Jepang, pada jenjang usia 15-16 di perkirakan
sebagai masa kritis karena tiga alasan. Pertama kedewasaan adalah masa yang
penuh dengan tekanan untuk lulus tes masuk, dan merupakan masa bagi generasi
muda mengalami ketidakstabilan emosional. Kedua, kenyataan bahwa hamper 90
perguruan tinggi membuat generasi muda semakin cemas. Ujian masuk sekolah
menengah dan perguruan tinggi merupakan hal yang sangat diperhatiakn dalam
pendidikan jepang, karena keberhasilan dalam ujian masuk adalah tahap yang
sangat penting agar dapat masuk ke dalam kelompok elit masyarakat jepang, dan
dianggap memiliki kemampuan. Hal ini sesuai dengan yang di katakana kiefer dan
di kutip oleh lebra, mengen ai system ujian masuk masyarakat jepang berikut ini:
Kiefer saw the Japanese examination system as a
series of crisis rites through which the child passes from family-centered to peer-group-centered values rather than as a mechanism for minimazing competition within group.
kiefer menilai bahwa system ujian masuk di jepang cenderung sebagai
kegiatan penting yang dengan melalui ujian tersebut, seorang anak beralih dari
nilai-nilai yang berpusat pada keluarga dari pada sebagai suatu mekanisme untuk
mempersempit persaingan dalam sebuah kelompok.
Jadi menurut kiefer, ujian masuk sekolah menengah dan perguruan
tinggi dipandang sebagai tahap untuk memasuki kelompok baru setelah keluarga,
bukan dinilai sebagai ajang untuk saling menjatuhkan para pesaing lain. Dan yang
ketiga, anak usia 15-16 tahun memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan
kekerasan secara langsung pada orang tu, terutama terhadap ibu, karena secara
biologis, ibu yang melahirkan, merawat, dan membesarkan anak; ibu lebih banyak
menghabiskan waktu bersamak anak dibanding ayah, ketika ayah bekerja di luar,
terdekat bagi anak, sehingga memudahkan anak untuk melampiaskan rasa kesal
pada orang terdekat, yaitu ibu.
Disamping itu, anak-anak yang melakukan kekerasan terhadap orang
tua dapat juga dilihat dari faktor kejiwaan seperti yang telah di diskripsikan di atas.
2.3.2 Kateinai Boryouku yang Terjadi dalam “keluarga biasa”( futsu
no katei )
“Anak biasa” yang melakukan kekerasan terhadap orang tua, di
besarkan dalam lingkungan “keluarga biasa”. Maksud dari “keluarga biasa” (futsu
no katei) disini adalah keluarga berlatar belakang ekonomi menengah ke atas,
mementingkan pendidikan dan tidak terjadi masalah di dalamnya, sebagaimana
diungkap oleh futagami berikut.
Yang di sebut “ keluarga biasa” adalah kedua orang tua yang
berhubungan baik (dengan anak), orang tua yang memperhatikan pendidikan anak
dan secara ekonomi mampu.
“keluarga biasa” yang berlatar belakanng ekonomi mampu (menengah
ke atas) dan memperhatikan anak, didalmnya terjadi kateinai boryouku. Pada
tahun 1977, terjadi kateinai boryouku dalam “keluarga biasa” sebesar 61,4 persen.
Jumlah ini meningkat pada tahun 1988 dan 1995, yaitu 72,6 persen dan 79,2
persen. Persentase munculnya kateinai boryouku “keluarga biasa” tahun 2001,
malah terjadi pada keluarga miskin sebesar 72,8 persen, tetapi jumlah ini menurun
menjadi 68,2 persen pada tahun 1960.
2.3.4 Kateinai Boryouku yang Terjadi dalam Keluarga Tanpa Ayah atau Ibu
kateinai boryouku yang terjadi tanpa ayah ataupun ibu sudah jelas
terjadi di karenakan kurangnya perhatian ataupun kasih sayang orang tua
(ayah,ibu) terhadap anak. Yang seharusnya tugas seorang ayah adalah
menyatukan keluarga, memberikan saran dan ide, mengajarkan kebudayaan
norma-norma dalam masyarakat. Namun, tugas ayah yang seperti ini semakin
menghilang. Akibatnya keluarga berantakan, muncul istilah hoteru no kazoku
(keluarga hotel), tumbuh orang-orang yang tak punya kesadaran yang dalam akan
makna yang baik dan buruk, makin bertambah orang-orang yang tak punya
semangat dan egosentris.
Tugas seorang ayah takbisa terlaksanakan bila si ayah bukan ayah
yang berwibawa atau rippana chichioya. Walaupun ia bersusah payah
melaksanakan fungsinya, ia hanya akan di anggap remeh oleh keluarganya. Upaya
untuk menciptakan ayah yang terhormat ini di pandang penting, tetapi dalam
masyarakat sekarang hal ini bukanlah pekerjaan yang susah sehingga tidak
menjadi permasalahan yang perlu di perhatikan sehingga menimbulkan
kemungkinan kemungkina terjadinya kateinai boryouku di dalam rumah tangga
yang memiliki ayah yang tidak berwibawa ataupun di remehkan, kemudian rumah
di sini adalah ibu yang melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga
yang menjaga dan memperhatikan anak-anak, namun sekarang kebanyakan
seorang ibu rumah tangga dalah seorang ibu karir, dimana si ibu lebih banyak
ataupun lebih mementingkan pekerjaannya dari pada anak-anaknya, sehingga hal
ini menjadi pemicu besar akan terjadinya kateinai boryouku di dalam rumah
tangga. Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya pemicu utama kateinai
boryouku adalah tidak adanya keharmonisan ataupun ikatan batin (emosional)
terhadap sesama anggota keluarga. Dalam posisi ini seorang anak juga tidak akan
perduli dengan apa yang terjadi di dalam rumah tangga yang demikian, hal yang
sering terjadi pada seorang anak pada posisi keadaan keluarga seperti ini adalah
menjadi anak yang tak tau aturan , semena-mena dan tak ada peduli terhadap
sesama anggota keluarga(serizawa, op. cit, hal 23).
Seperti yang telah di uraikan di atas hubungan dalam keluarga sangat
mempengaruhi keadaan keluarga, untuk lebih jelasnya lagi, ada dua faktor utama
dan esensial dari kateinai boryouku ini, yaitu faktor fusei ketsujo (kurangnya
figure ayah) dan kakansho (campur tangan orang tua, khusunya , ibu yang
berlebihan. Tidak hanya itu, ada pula faktor-faktor lain yang berhubungan dengan
orang tua-anak. D sini bisa di simpulkan empat tipe utama yang menyangkut
hubungan orang tua dan anak yang memungkinkan timbulnya tindakan
menyimpang dari seorang anak.
1. Hubungan yang tidak harnonis di antara kedua orang tua
2. Kurangnya figure ayah. Biasanya untuk menutupi hal tersebut, peran ibu
anak, serta memiliki harapan berlebihan. Hal ini merupakan faktor tipikal mun
culnya penyimpangan pada anak.
3. Orang tua yang overreaksi. Yang dimaksud overreaksi adalah orang tua yang
telalu campur tangan, menaruh harapan berlebihan tau mencintai secara
berlebihan, sehingga justru menyebabkan mereka terlalu ketat dalam peraturan
dan control terhadap anak.
4. Orang tua yang apatis dalam pengasuhan anak. Baik ayah maupun ibu tidak
peduli terhadap perkembangan anak.
Keempat tipe di atas merupakan penyebab dominan dan kerap di
temui dalam masalah kekeluargaan di jepang.
2.4 Faktor-faktor Penyebab Munculnya Kekerasan
Agar dapat memahami penyebab mengapa seorang anak tega sampai
mampu melakukan kekerasan kepada orang tuanya sendiri, berikut ini merupakan
beberapa hal yang dapat menjelaskan hal tersebut.
(1) Harapan berlebihan
Fenomena harapan berlebihan kepada anak dapat di
karenakan cara mengasuh ayah dan ibu terhadap anaknya.
Orang tua manapun juga, khususnya ibu jepang, memiliki
harapan besar terhadap anak-anaknya.harapan ini
memang sudah selayaknya dimiliki oleh setiap orang tua.
terkotak pada masalah sistem sekolah dan keberhasilan si
anak dalam sistem ujian. Di mana antara para pengamat
masalah masyarakat jepang di kenal dengan istilah kyoiku
mama atau ibu pendidikan dan shaken jigoku yang bila di
terjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi neraka
ujian. Hal ini menggambarkan betapa kerasnya tekanan
maupun persaingan di antara anak-anak jepang untuk bisa
mendapatkan pendidikan unggul dan terbaik dalam
hidupnya.
Setiap orang tua menginginkan pendidikan yang
terbaik untuk anak-anaknya dan peran orang tua dalam
hal pendidikan anak sangat penting . hal ini berdasarkan
asumsi yang menyatakan bahwa dengan memberikan
pendidikan yang baik, berarti orang tua telah
mempersiapkan kehidupan anak yang lebih baik.hal itu
sulit di sangkal.
Akan tetapi, di dalam diri si anak akan mengalami
stress akibat tekanan yang di lancarkan kepada mereka
untuk senantiasa melanjutkan pendidikan ke sekolah
unggulan yang sulit untuk dimasuki. Mereka tentu
merasa takut apabila tidak bisa memenuhi harapan orang
tuanya. Mereka takut gagal. Ketakutan dan kecemasan
yang mereka rasakan hamper tidak bisa di pahami oleh
Dari sinilah biasanya muncul anak-anak yang bermasalah
dengan sekolah, mereka takut untuk pergi ke sekolah
yang di kenal dengan sebutan toko kyohi. Bisa ditebak
kemudian, dan dengan dukungan oelh hasil
penelitian,setelah toko kyohi, biasanya dilanjutkan
dengan kateinai boryouku.
(2) Terlalu ikut campur, perlindungan dan kasih sayang
berlebihan
Perlindungan dan kasih sayang berlebihan di sini bisa di
simpulkan bahwa apa yang di anggap oleh orang tua
sebagai ungkapan kasih sayang diterima oleh si anak
sebagai suatu gangguan karena terlalu berlebihan sifatnya.
Mungkin ada baiknya orang tua memberikan sedikit
kebebasan kepada anak-anaknya dalam memutuskan
suatu masalah. Hal ini penting untuk menumbuhkan sifat
mandiri pada anak.
(3) Kekhawatiran
Mungkin sedikit sulit dibayangkan bahwa adda orang tua
yang tidak yakin dan khawatir dengan kemampuan untuk
mengasuh anak. Tetapi hal inilah yang sebagian besar
dirasakan oleh para orang tua yang anak-anaknya terlibat
(4) Karakteristik ayah yang menonjol
Masalah sikap asuh ayah adalah keapatisan, seorang ayah
seolah-olah menghindar dan melepas begitu saja
tanggung jawab dalam masalah pengasuhan anak.
Mereka cenderung bersikap masa bodoh dan tidak mau
tau. Bisa di katakan bahwa ikatan batin antara anak
dengan ayah tidak kuat. Parahnya sang ayah sangat di
sibukkan dengan masalah kantor/pekerjaan, ketika pulang
ke rumah mereka hanya ingin istirahat dan tidak ingin di
ganggu dengan masalah anak-anak. Mereka menyerahkan
sepenuhnya tugas mengasuh kepada istri. Pendapat Keigo
Okonogi mengenai chichioya fuzai atau fenomena
non-eksistensi ayah senada dengan hal ini. Ia mengatakan
bahwa kini dalam keluarga-keluarga jepang, suami dan
ayah telah hilang kedudukannya sebagai kepada keluarga.
Mereka kehilangan kedudukan dan perannya dalam
keluarga. Kebanyakan ayah telah menjadi manusia
kantoran yang super sibuk dan tak ada waktu luang untuk
keluarga. Walaupun secara fisik mereka ada, tetapi secara
psikologis mereka tidak dirasakannya keberadaannya.
.
Menurut hasil penelitian kantor keperdanamentrian, muncul data yang
ini kurang lebih senada dengan sikap mengasuh ayah dan ibu yang sudah di bahas
sebelumnya, menurut psikolog S. Supardi, secara teoritis terdapat tiga jenis pola
asuh, yang pertama dominan otoriter, sikap orang tua dalam hal ini tidak bisa di
bantah, anak harus patuh dan menurut penuh terhadap orang tua.
2.4.1 Kondisi Kejiwaan Anak
Berdasarkan pengamatan inamura, di dalam diri anak-anak yang
melakukan kateinai boryoukuI terdapat beberapa konflik mental. Konflik-konflik
tersebut dapat di simpulkan sebagai berikut:
(1) Perasaan hancur dan kesadaran diri sebagai korban
Pelaku merasa canggung dan serba salah. Mereka juga di
penuhi oleh perasaan hancur, rasa cemas dan aseri atau
rasa diburu-buru sehingga mereka tidak tahu apa yang
sebaiknya di lakukan. Selain itu mereka berfikir bahwa
“saya yang sekarang adalah korban” saya berada dalam
kondisi yang menyedihkan dan sangat sengasara” mereka
berfikir bahwa penyebab semua penderitaan ini adalah
orang tua yang salah mengasuh.
(2) Rasa benci terhadap orang tua
Seperi yang telah di jelaskan di atas,pelaku sangat putus
asamemandang diri sendiri, mereka berfikir bahwa semua
dengan sedikit berhalusinasi bahwa sumber dari
malapetaka ini adalah orang tua sehingga mereka merasa
wajar bila mereka benci kepada orang tua
(3) Pembenaran akan kekerasan
Para pelaku menganggap tindak kekerasan yang mereka
lakukan adalah benar, oleh karena hal ini di dukung oleh
peratusan secara psikologis yang menyatakan bahwa rasa
benci kepada orang tua dan kesadaran diri sebagai korban
sperti uraian di atas.
(4) Tiadanya rasa takut akan dosa
Pelaku tidak memiliki rasa takut akan dosa sehingga pada
tahap mengkhawatirkan terhadap apa yang ia lakukan.
Indikasi seperti ini menunjukkan bahwa esensi dari
kateinai boryouku terletak pada usaha si anak untuk
mengikatkan diri pada inosens pribadi yang sampai pada
tahap berorienasi hanya kepada satu prinsipdan tidak mau
mengubahnya sedikit pun.
Dari sudut psikologis si anak, kebanyakan mereka
merasakan frustasi dan kekecewaan dalam dirinya. Rasa
frustasi yang di alami ini penyebab beragam
kasus,misalnya pada kasus toko kyohi,bila hal ini berlajut,
atau rasa diburu-buru. Atau mungkin juga, mereka tetap
pergi kesekolah, tetapi mereka tidak merasa puas dengan
prestasi di sekolah, tidak percayadengan kemampuannya
bisa mengikuti ujian. Ataupun, di sekolah mereka merasa
dikucilkan oleh teman-temannya, menerima perlakuan
ijime, dan sebagainya. Mereka menghadapi
masalah-masalah seperti itu yang menyebabkan frustasi cukup
dalam.pada akhirnya,oleh karena keccemasan dan
keputus asa-an, di dalam diri mereka meningkat sifat
ofensif.
Sementara itu pada orang tua yang melihatkondisi
anaknya seperti itu, merasa sangat khawatir dan berusaha
keras untuk turun tangan dalam penyelesaian masalah
toko kyohi ini. Mereka berusaha berbagai cara supaya si
anak bisa terbebas dari masalah yang di hadapi. Cara-cara
tersebut misalnya dengan mengundang guru walikelas ke
rumah untuk berdiskusi, atau memanggilteman-temanya
kerumah. Dengan kata lain, orang tua melakukan
berbagai langkah yang di anggap memaksa si anak
kembali ke sekolah. Akan tetapi lantas si anak bukannya
meras tertolong dengan tindakan orang tua, melainkan
merasa kesal kerena campur tangan orang tua dan
akibatnya frustasi yang di alami semakin menjadi. Rasa
dengan harapan orang tua mereka. Mereka merasa gagal
untuk memenuhi harapan tersebut. Akibanya, mereka
merasa tidak tenang secara mental hingga pada suatu saat,
kondisi mental yang tidak tenang tersebut meledak
menjadi sebuah tindak kekerasan. Sebenarnya menurut
inamura, langkah yang sebaiknya di ambil orang tua
adalah tidak terlalu memaksakan anaknya untuk kembali
kesekolah. Tindakan yang tergesa-gesa dan tanpa
perhitungan akan semakin menambahburuk keadaan saja.
Sebaiknya mereka membiarkan anak untuk sementara
waktu, biarkan si aank istirahat secara mental, karena
mereka sangat membutuhkannya.
Jadi, dapat di simpulkan disini, dalam diri si anak itu
awalnya mun cul rasa frustasi.hal ini kemudian didukung
dengan sifat mereka yang oversensitive, senantiasa
berkecil hati dan tidak percaya diri. Maka, walaupun
sebenarnya masalahnya tidak besar, mereka memikirkan
hal itu sebagai suatu hal yang besar dan penting sekali.
Mereka menjadicemas yang berlebihan karenanya.
Sementara itu orang tua tidak memahami hal tersebut,
malah mereka memperburuk keadaan dengan usaha
intervensi untuk menyelesaikan masalah yang di hadapi
si anak. Pada umumnya esensi struktur masalah kateinai
Sementara itu, ada faktor yang lain di samping kondisi kejiwaan anak.
Faktor tersebut adalah figure dan kedudukan orang tua dalam keluarga.
2.4.2 Figur dan Kedudukan Orang Tua dalam Keluarga
Sebagai mana telah di jelaskan pada bab I bahwasanya setiap anggota
keluarga memiliki fungsi-fungsi tertentu, dalam hal ini fungsi orang tua sangat di
perhatikan dalam pengembangan dan pembentukan sifat seorang anak dalam
rumah tangga. Banyak yang memandang bahwasanya asuhan orang tua terfokus
kepada seorang ibu saja, sebagai mana yang telah kita ketahui di bab I seorang
ayah juga sangat penting dalam pembentukan sifat seorang anak dalam sebuah
rumah tangga. Berikut merupakan sebuah pendapat dari Inamura sehubungan
dengan figure ayah terhadap permasalahan kateinai boryouku.
Dari sudut lingkungan rumah tangga yang memicumunculnya kateinai boryouku,
ada satu lagi faktor penyebab yang besar. Faktor itu adalah,keberadaan ayah yang
memudar di dalam rumah tangga. Dalam psikologis sejak dahulu,ayah dianggap
sebagai symbol dari otoritas dan kekuatan. Akan tetapi, yang menjadi masalah
adalah bahwa hal tersebut tidak terdapat lagi di dalam rumah tangga. Ayah yang
seperti ini, tidak bisa memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua terhadap
anaknya, kebanyakan merekahanya tenang dan baik hati tetapi tidak punya spirit,
atau ada juga kasus seperti mereka jarang berada di rumah karena pergi berdinas
Di dalam sebuah rumah tangga, perceraian dan kematian juga bisa menimbulkan
fusei ketsujo atau kurangnya figure ayah. Dalam rumah tangga yang ada hanya
ada ibu dan anak, atau juga sebaliknya ketika ibu meninggal yang ada hanya ayah
dan anak. Kebanyakan kasus yang telah di jelaskan bahwasanya didalam kelurga
jepang sang ayah biasanya mendapat kasus tidak adanya existensi di dalam rumah
dan biasanya bersifat apatis dalam pengasuhan anak. Begitu juga kasus yang di
hadapi seorang ibu adalah biasanya seorang ibu kebanyakan terlalu memanjakan
taupun memaksakan kehendak terhadap seorang anak, yang memungkinkan
membuat seorang anak merasa stress atau frustasi di mana telah di jelaskan
bahwasanya rasa stress dan frustasi dapat memicu terjadinya kateinai boryouku.
Ketika seorang ayah ataupun ibu tidak lagi memiliki vigur ataupun
kedudukan dalam rumah tangga, sudah dapat di pastikan keadaan rumah tangga
itu tidak lagi memiliki hubungan batin yang kuat antara sesama anggota keluarga
dan ketika sebuah keluarga tidak memiliki itu, keluarga tersebut rentan akan
permasalahan kateinai boryouku.
2.4.3 Pengaruh Norma Agama dan Masyarakat
Norma agama dan masyarakat tidak terlepas pengaruhnya dalam
permasalahan kateinai boryouku ini. Sebagai contohnya dalam pengaruh norma
agama adalah, di dalam masyarakat korea dan Taiwan yang pengaruh ajaran
konfusianismenya yang masih sangat kental, masalah kateinai boryouku dan
sejenisnya hamper tidak di temukan, salah satu ajaran yang masi ada sampai
seorang anak untuk berbakti kepada orang tua.yang dapat kita simpulkan
bahwasanya ajaran tersebut dapat menjadi kekuatan untuk menghentikan dan
pengontrol dalam usaha menghindarai segala macam bentuk penganiayaan anak
terhadap orang tua.
Salah satu contoh yang bisa kita ambil dari jepang sendrir adalah, di
daerah Okinawa dimana di daerah ini ajaran konfusianismenya juga kuat dan
hidup sampai sekarang, dan kasus kateinai boryouku nyaris tidak di jumpai. Oleh
karena itu, dapat di simpulkan bahwa masyarakat yang masi menganut ajaran
ataupun norma yang kuat sangat jarang menghadapi permasalahan kateinai
boryouku ini. Namun selain di daerah Okinawa Negara jepang telah banyak yang
tidak mengikuti ajaran-ajaran agama sehingga sangat memungkinkan terjadinya
kateinai boryouku, seorang psikologis Inamura mengemukakan bahwa norma
yang bertindak sebagai pengontrol telah pudar di dalam masyarakat jepang. Ia
mengkritik kondisi keluarga jepang dewasa ini yang sepertinya tidak ketat dalam
pengawasan dan pendidikan moral anak.
Teori empirisme yang di pelopori oleh john lock (1632-1704)
menyatakan bahwa seorang individu semenjak lahir bahkan semenjak dalam
kandungan, telah berinteraksi dengan orang lain. Dan melalui interaksi ini seorang
bayi belajar, dan dengan bersamaan dengan proses tersebut,pada bayi timbul
pengetahuan bahwa orang-orang di sekitar menginginkannya bertingkah dan
berprilaku tertentu dalam keadaan-keadaan tertentu.
Teori ini tidak percaya akan adanya sifat pembawaan pada manusia.
Seluruh perkembangan hidupnya sejak lahir sampai dewasa semata-mata
Berdasarkan curse of study (kurikulum pendidikan) yang di keluarkan
oleh departemen pendidikan jepang di dalam kurikulum SD dan SMP
terdapatpendidikan moral sebagai salah satu bidang studi. Tujuan dari pendidikan
moral ini adalah:
- Menghormati martabat manusia dalam kehidupan
- Menciptakan kebuyaaan yang kaya dan
membangun Negara dan masyarakat yang
demokratis.
- Melatih manusia jepang yang mampu
memberikan konstribusi kepada masyarakat
internasional yang damai
- Menumbuhkan moralitas sebagai pondasi
pemikiran hal-hal baru.
Di samping waktu khusus yang di berikan dalam pengajaran
pendidikan moral di kelas, standar moral anak juga diharapkan dapat tumbuh dan
berkembang melalui seluruh kegiatan di sekolah. Di beberapa sekolah swasta,
pendidikan moral ini biasa di gantikan dengan pendidikan Agama.
2.5 Sejarah Kateinai Boryouku
Kataeinai boryouku merupakan fenomena yang muncul pada awal
tahun 1980-an. Pada tahun 1980, ada sebuah peristiwa pembunuhan yang sangat
mengejutkan public jepang dengan menggunakan pemukul bisbol. Kasus ini
saat itu. Yang menjadi tersangka adalah seorang ayah yang berlatar belakang
pendidikan tinggi, sementara yang menjadi korban adalah anak laki-lakinya.
Berdasarkan penyelidikan, latar belakang pembunuhan itu adalah si anak yang
telah lama melakukan kateinai boryouku kepada ayah-ibu. Pada beberapa tahun
sebelumnya ada juga kasus pembunuhan yang dilakukan seorang anak SMU pada
tahun 1977 dan kasus bunuh diri seorang pelajar SMU setelah dia membunuh
neneknya (1980) (shibundo.1981).
Kasus kateinai boryouku kebanyakan disertai dengan masalah took
kyohi. Oleh karena itu, pada awalnya banyak psikiater yang menangani masalah
ini hanya sebagai kasus took kyohi. Dengan kata lain, penanganannyalebih
difokuskan ke masalah took kyohi. Bukan ke masalah kekerasan itu sendiri.
Pada awal tahun muncul fenomena ini, pada banyak kasus kateinai
boryouku dianggap sebagai penyakit jiwa yang di sebut skizofernia.
Di bawah ini ada kutipan yang menarik untuk disimak sehubungan
dengan hal ini.
Hal yang tak bisa dilupakan mengenai kateinai boryouku pada masa
awalnya adalah pada beberapa kasusu kateinai boryouku disalahartikan sebagai
skizofernia. Bila di lihat dari pandangan umum saat itu, kekerasan anak terhadap
orang tua, dalam hal ini melakukakn kekerasa yang mengerikan adalah hal yang