• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nutrisi, Tingkat Kecernaan Dan Performa Trenggiling Jawa (Manis Javanica) Yang Diberi Campuran Pakan Alami.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Nutrisi, Tingkat Kecernaan Dan Performa Trenggiling Jawa (Manis Javanica) Yang Diberi Campuran Pakan Alami."

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

STATUS NUTRISI, TINGKAT KECERNAAN

DAN PERFORMA TRENGGILING JAWA

(Manis javanica)

YANG DIBERI CAMPURAN PAKAN ALAMI

FITRIA NOVITA ANDESIP

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Status Nutrisi, Tingkat Kecernaan dan Performa Trenggiling Jawa (Manis javanica) yang diberi Campuran Pakan Alami adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2015

(4)

ABSTRAK

FITRIA NOVITA ANDESIP Status Nutrisi, Tingkat Kecernaan dan Performa Trenggiling Jawa (Manis javanica) yang diberi Campuran Pakan Alami. Dibimbing oleh CHAIRUN NISA‟ dan DEWI APRI ASTUTI.

Trenggiling Jawa (Manis javanica) merupakan kekayaan fauna Indonesia yang harus dilestarikan dan dilindungi dari kepunahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan campuran pakan alami, menganalisis konsumsi nutrien dan tingkat kecernaan pakan, serta pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan trenggiling. Penelitian ini menggunakan empat ekor trenggiling yang terdiri dari dua ekor jantan dan dua ekor betina. Pakan diberikan setiap sore hari dalam keadaan segar yang terdiri dari pakan alami yaitu kroto dengan campuran pakan berupa pelet ikan koi dan ulat hongkong. Jumlah pakan yang diberikan pada trenggiling A, B dan C (dengan bobot badan > 3.5 kg) terdiri dari 63.03% kroto, 30.27% pelet ikan koi dan 6.70% ulat hongkong, sedangkan trenggiling D (dengan bobot badan < 2 kg) terdiri dari 57.70% kroto, 34.64% pelet ikan koi dan 7.66% ulat hongkong. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa campuran pakan alami trenggiling mengandung protein, lemak dan serat kasar berturut-turut sejumlah 36.44%, 11,37% dan 4.54%. Campuran pakan ini memiliki palatabilitas yang baik sehingga selalu dikonsumsi habis. Setiap zat nutrien memiliki koefisien cerna yang berbeda-beda. Koefisien cerna protein pada masing-masing individu trenggiling A, B, C, dan D berturut-turut sebesar 81.75%, 90.90%, 89.99% dan 85.12%. Koefisien cerna lemak berturut-turut 95.90%, 96.87%, 94.83% dan 94.14%. Adapun koefisien cerna serat kasar berturut-turut 12.59%, 45.94%, 52.28% dan 12.21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah pakan yang diberikan hanya memenuhi kebutuhan hidup pokok dan sedikit untuk pertumbuhan yang mampu menambah rata-rata bobot badan trenggiling sebesar 6.96 g perhari.

(5)

ABSTRACT

FITRIA NOVITA ANDESIP. Nutritional Status, Level of Digestibility and Performance of Javan Pangolin (Manis javanica) Given a Mixture of Natural Feed. Supervised by CHAIRUN NISA' and DEWI APRI ASTUTI.

Javan pangolin (Manis javanica) is an Indonesian biodiversity which must be preserved and protected from extinction. The study aims to determine the content of a mixture of natural feed, analyzing nutrient intake and digestibility of the feed level, and the effect on body weight gain of pangolin. The study used four pangolins, two males and two females. Feed was given fresh every afternoon consisted of natural feed that is kroto and mixtured with pellet of koi fish and meal worm. The feed that given to the individual pangolin of A, B and C (body weight > 3.5 kg) consisted of 63.30% kroto, 30.27% pellet koi and 6.70% meal worm, while for pangolin D (body weight < 2 kg) consisted of 57.70% kroto, 34.63% pellet koi and 7.66% meal worm. Results from the study indicate that a mixture of natural feed of pangolin consisted of protein, fat and crude fiber which were 36.44%, 11.37% and 4.54% respectively. This feed mixture has a good palatability and always all consumed. Each nutrient has a different of digestibility coefficients. Protein digestibility coefficients for each individual pangolin A, B, C, and D, were 81.75%, 90.90%, 89.99% and 85.12% respectively. Fat digestibility coefficients were 95.90%, 96.87%, 94.83% and 94.14% respectively. While the crude fiber digestibility coefficients were 12:59%, 45.94%, 52.28% and 12:21% respectively. The results showed that the amount of feed given only covered basic living needs for growth and less able to increase the average weight of 6.96 g per day of pangolin.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

pada

Fakultas Kedokteran Hewan

STATUS NUTRISI, TINGKAT KECERNAAN

DAN PERFORMA TRENGGILING JAWA

(Manis javanica)

YANG DIBERI CAMPURAN PAKAN ALAMI

FITRIA NOVITA ANDESIP

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, karunia dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Judul penelitian yang dipilih adalah : Status Nutrisi, Tingkat Kecernaan dan Performa Trenggiling Jawa (Manis javanica) yang diberi Campuran Pakan Alami. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr Drh Chairun Nisa‟, MSi, PAVet dan Prof Dr Ir Dewi Apri Astuti, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, dorongan, nasehat serta segala kemudahan yang diperoleh penulis mulai dari penelitian sampai penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing akademik yaitu Dr Drh Anita Esfandiari, MSi. Ungkapan terima kasih sebesar-besarnya juga disampaikan kepada keluarga terutama mama, papa, suami, anak dan saudara kandung serta seluruh keluarga besar atas segala doa, kasih sayang, dan dorongan moral tanpa keluhan. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Sefi Maulida, dan teman-teman seperjuangan Acromion 47, Ganglion 48 dan sahabat setia Mayah, Fitri, Alfonsa, Dwi, Sinta, Nadia, Raja, Abel, Firman, Gerard serta Danu atas segala kebersamaan dan dukungannya.

Penulis menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan dalam skripsi ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran terhadap skripsi ini sangat diharapkan. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk pembaca dan yang berkepentingan.

Bogor, September 2015

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Trenggiling Jawa (Manis javanica) 2

Saluran Pencernaan Trenggiling 3

Pakan Trenggiling Jawa 4

Konsumsi dan Koefisien Cerna Bahan Pakan 4

METODE 5

Waktu dan Tempat 5

Bahan dan Alat 5

Metode Penelitian 5

Pemberian Pakan 5

Konsumsi Pakan 6

Konsumsi Zat Makanan 6

Pengumpulan Feses dan Preparasi Sampel 6

Kecernaan Pakan 6

1. Kecernaan bahan kering 6

2. Kecernaan nutrien (protein kasar, lemak kasar, serat kasar) 6

Penimbangan Bobot Badan 7

Feed Convertion Ratio (FCR) 7

Parameter yang Diamati 7

Analisis Data 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Kandungan Nutrisi Pakan 7

Konsumsi dan Kecernaan Pakan 8

Pertambahan Bobot Badan 11

SIMPULAN DAN SARAN 13

Simpulan 13

Saran 13

DAFTAR PUSTAKA 13

(14)

DAFTAR TABEL

1. Hasil analisis proksimat kroto 4

2. Kandungan zat nutrisi bahan pakan alami (%BK) 5 3. Susunan campuran pakan alami trenggiling Jawa (Manis javanica) 6 4. Hasil analisis proksimat campuran pakan alami trenggiling Jawa

(Manis javanica)

7 5. Kandungan bahan pakan yang dikonsumsi dan tingkat kecernaan pakan

trenggiling Jawa (Manis javanica) 9

6. Pertambahan bobot badan trenggiling Jawa (Manis javanica) 11

DAFTAR GAMBAR

1. Karakteristik morfologi trenggiling Jawa (Manis javanica) 3 2. Morfologi lidah trenggiling Jawa (Manis javanica) 3 3. Campuran pakan alami yang diberikan pada trenggiling Jawa (Manis

javanica) 8

4. Grafik Pertambahan bobot badan trenggiling Jawa (Manis javanica)

setiap dua minggu 11

5. Grafik pertambahan bobot badan trenggiling Jawa (Manis javanica)

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati flora dan fauna. Salah satu kekayaan fauna Indonesia yang perlu mendapat perhatian dalam perlindungan dan pelestariannya agar tidak terjadi kepunahan, adalah trenggiling Jawa (Manis javanica). Salah satu penyebab terjadinya kepunahan adalah kerusakan habitat dan eksploitasi yang berlebihan untuk kepentingan manusia.

Populasi trenggiling Jawa di Indonesia diduga mengalami penurunan sebagai dampak dari maraknya perburuan dan perdagangan liar karena sebagian masyarakat, khususnya masyarakat cina percaya bahwa daging dan sisik trenggiling dapat berkhasiat sebagai obat. Oleh karena itu, berdasarkan UU No. 5/1990 dan PP No. 17/1999, trenggiling merupakan hewan yang dilindungi oleh pemerintah RI dan termasuk ke dalam daftar red list sebagai criticallyendangered

spesies menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) (Challender et al. 2015). Namun, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) masih memasukkan trenggiling dalam kategori Appendix II yang berarti masih boleh diperdagangkan dengan kuota (Inskip dan Gillett 2005).

Trenggiling merupakan spesies mamalia yang unik, karena sisik yang menutupi seluruh bagian atas tubuhnya dan membuatnya menyerupai reptil, tidak memiliki gigi seperti unggas, dan dapat menggulung tubuhnya saat tidur ataupun terancam. Trenggiling merupakan hewan yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan menggali lubang di bawah tanah untuk tempat tinggalnya. Habitat hewan ini adalah hutan tropis di Asia dan Afrika. Terdapat delapan spesies trenggiling yang terdistribusi di hutan-hutan tropis Asia dan Afrika. Tiga spesies trenggiling Asia yaitu Manis javanica, M. crassicaudata, dan M. pentadactyla; sedangkan empat spesies trenggiling Afrika yaitu M. gigantea, M. temminckii, M. tricuspis, dan M. tetradactyla (Robinson 2005); serta satu spesies baru dari trenggiling Asia yaitu

M. culionensis (Gaubert dan Antunes 2005). Menurut Corbet dan Hill (1992), penyebaran trenggiling Jawa di Indonesia meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan beberapa pulau kecil di Kepulauan Riau, Pulau Lingga, Bangka, Belitung, Nias, Pagai, Pulau Natuna, Karimata, Bali dan Lombok.

Trenggiling memiliki cakar panjang yang digunakan pada saat mencari makan untuk mengoyak sarang semut atau rayap. Semut dan rayap merupakan pakan alami trenggiling pada habitatnya, sehingga menjadi kendala pada upaya penangkaran untuk konservasi ex situ. Trenggiling yang dipelihara di kandang diberi pakan kroto. Istilah kroto mengacu pada semut dan telur yang dihasilkannya, terutama semut rang-rang (Oecophylla smaragdina). Kroto merupakan bahan pakan dengan kandungan protein yang tinggi mencapai 49.35% sedangkan lemak dan serat kasar 14.45% dan 8.05% (Ninasari 2014).

(16)

2

karena itu penelitian tentang status nutrisi dan tingkat kecernaan pakan trenggiling ini penting dilakukan sebagai langkah awal dalam upaya penangkaran trenggiling. Hal ini akan menjadi informasi dasar mengenai kecukupan nutrient dan aspek teknis penangkaran, khususnya yang terkait dengan pengelolaan pakan trenggiling.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang kandungan campuran pakan alami, menganalisis konsumsi nutrien dan tingkat kecernaan pakan, serta pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan trenggiling.

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya informasi biologi mengenai pakan trenggiling yang dapat digunakan sebagai data dasar untuk membuat campuran pakan pengganti, sehingga dapat menjaga kontinyuitas pakan pada penangkaran trenggiling dalam upaya mendukung konservasi ex situ.

TINJAUAN PUSTAKA

Trenggiling Jawa (Manis javanica)

Trenggiling Jawa (Manis javanica) yang disebut juga Malayan pangolin merupakan spesies mamalia unik yang memiliki sisik pada bagian dorsal tubuhnya sehingga mirip reptil (Gambar 1), memiliki lidah yang panjang untuk mengambil makanan, tidak mempunyai gigi seperti halnya unggas, serta dapat menggulung tubuhnya pada saat tidur dan terancam (Breen 2003). Kemampuan penciuman trenggiling lebih baik dibandingkan dengan penglihatannya (Robinson 2005). Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitasnya yang lebih banyak pada malam hari (nokturnal) untuk mencari makan. Hewan ini menghabiskan waktunya pada siang hari untuk tidur di dalam liang-liang tanah atau lubang-lubang pohon.

Klasifikasi trenggiling termasuk dalam kelas Mamalia, ordo Pholidota yang hanya memiliki satu famili Manidae, dan satu genus Manis. Terdapat delapan spesies trenggiling di dunia yang terdistribusi di hutan-hutan tropis Asia dan Afrika. Tiga spesies trenggiling Asia yaitu, Manis javanica, M. crassicaudata,

dan M. pentadactyla; sedangkan empat spesies trenggiling Afrika yaitu

(17)

3

Gambar 1 Karakteristik morfologi trenggiling Jawa (Manis javanica)

Saluran Pencernaan Trenggiling

Trenggiling merupakan hewan insektivora sehingga mempunyai saluran pencernaan yang sederhana. Lidah trenggiling berbentuk vermiform, dapat menjulur panjang karena tidak memiliki frenulum yang mengikat lidah ke dasar mulut, serta lengket oleh sekreta kelenjar ludah untuk menangkap semut dan rayap. Permukaan dorsalnya memiliki sulcus medianus dan terdapat tiga tipe papilla yaitu papilla filliformis, papilla fungiformis, dan papilla sirkumvallata yang terdapat putik pengecap di bagian lateral intraepitel (Sari 2007). Lidah trenggiling ditunjang dengan otot-otot ekstrinsik yang kuat serta berorigo pada

processus xyphoideus os sternum (Grzimek 1975).

Gambar 2 Morfologi lidah trenggiling Jawa (Sumber: Sari 2007)

Trenggiling tidak memiliki gigi, sehingga semut dan rayap yang telah ditangkap oleh lidahnya tidak mengalami proses pengunyahan di ruang mulut. Pakan yang masuk akan mengalami proses pencernaan di dalam lambungnya dengan bantuan batu kerikil yang tertelan. Bagian antrum pilorusnya terdapat penebalan otot yang menyerupai gizzard pada sistem pencernaan unggas, dimana pada permukaan mukosanya terdapat tonjolan-tonjolan berbentuk konikal dan

(18)

4

Kelenjar ‘oxyntic’ tersusun oleh sel-sel mukus yang menyusun epitel permukaan, sel-sel leher, sel-sel parietal, sel-sel utama dan sel-sel endokrin. Kelenjar ini menyalurkan sekretanya ke lumen lambung. Kelenjar pilorus tersusun atas sel-sel mukus dan sel-sel endokrin (Nisa‟ et al. 2010).

Pakan Trenggiling

Pakan utama trenggiling di habitat alaminya adalah semut dan rayap. Di alam trenggiling mendapatkan pakan berupa semut dan rayap langsung dari sarangnya di atas pohon atau di dalam tanah. Namun, di penangkaran trenggiling diberikan pakan berupa kroto. Kroto merupakan campuran pupa dan larva semut rang-rang yang dijual atau dimanfaatkan sebagai pakan burung berkicau dan umpan memancing (Sari 2005). Kroto memilki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 47.28 % (Krisna 2006). Pemberian kroto di penangkaran memiliki kendala berupa ketersediaan yang terbatas, harganya yang mahal, dan bergantung pada hasil penangkapan. Ketersediaan kroto tidak kontinyu terutama saat musim hujan karena mortalitas semut rang-rang tinggi akibat tidak ada ketersediaan makanan di sekitar sarang, aktivitas mencari makan rendah, dan kelembaban tinggi (Wojtusiak dan Godznska 1993). Dari hasil analisis proksimat kroto menunjukkan bahwa kroto memiliki kandungan protein, lemak dan energi total yang tinggi seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil analisis proksimat kroto dan rayap

Zat-zat Makanan Kroto Rayap

Abu (%) 4.25 5.29

Konsumsi dan Koefisien Cerna Bahan Pakan

Informasi tentang perilaku makan trenggiling meliputi cara makan, konsumsi, waktu pemberian pakan dan pola makan merupakan hal penting untuk penangkaran trenggiling. Trenggiling mempunyai kebiasaan sebelum makan dan minum seperti mengendus dan membaui pakan lalu menjulurkan lidahnya secara cepat dan kadang-kadang kedua kaki depan dimasukkan ke dalam tempat makan (Sawitri et al. 2012).

(19)

5 Menurut McDonald et al (2002), kecernaan pakan didefinisikan sebagai bagian dalam pakan yang tercerna dan tidak dieksresikan dalam feses. Pakan yang tercerna tersebut diasumsikan diserap oleh tubuh hewan, biasanya dinyatakan dalam bahan kering dan sebagai suatu koefisien atau presentase.

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan di kandang pemeliharaan trenggiling di Laboratorium Konservasi Ex situ Satwa Liar, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, yang berlokasi di kampus IPB Dramaga. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat IP. Pengambilan data lapangan dilakukan dari bulan April 2014 sampai Mei 2014.

Bahan dan Alat

Penelitian ini menggunakan empat ekor trenggiling Jawa (Manis javanica) terdiri dari dua ekor jantan dan dua ekor betina yang dipelihara dalam kandang terpisah. Kandang dibangun dengan desain khusus berukuran masing-masing 3 x 2 x 2 m3, dilengkapi dengan enrichment berupa kotak kayu tempat bersembunyi/istirahat, peralatan pakan dan minum, batang pohon untuk memanjat, dan kamera CCTV. Pakan alami yang diberikan adalah kroto dan diberi campuran ulat hongkong serta pelet ikan koi. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan (pegas dan dudukan), kamera digital, blender, plastik, lemari pendingin dan neraca digital.

Metode Penelitian Pemberian Pakan

Pemberian pakan dilakukan pada sore hari, saat trenggiling mulai

melakukan aktivitas. Untuk masing-masing individu A (BB = 4 330 g), B (BB = 4 090 g) dan C (BB = 3 620 g) diberikan pakan yang terdiri dari kroto

125 g, pelet ikan koi 15 g, serta ulat hongkong 10 g. Adapun untuk individu D (BB = 1 850 g), komposisi pakan yang diberikan adalah kroto 100 g, pelet ikan

koi 15 g serta ulat hongkong 10 g.

Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi pada masing-masing bahan pakan berupa kroto, ulat hongkong dan pelet ikan koi (Tabel 2). Sedangkan komposisi pakan alami yang diberikan pada trenggiling A, B dan C, serta trenggiling D ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 2 Kandungan zat nutrisi bahan pakan alami (%BK)

Zat Makanan Kroto Pelet Ulat hongkong

(20)

6

Tabel 3 Susunan campuran pakan alami trenggiling Jawa (Manis javanica)

No Bahan Pakan 1 Pakan 2

BS (g) BK (%) BS (g) BK (%)

1 Kroto 125 63.03 100 57.70

2 Pelet ikan koi 15 30.27 15 34.64

3 Ulat hongkong 10 6.70 10 7.66

Keterangan: Pakan 1: Pakan trenggiling A, B & C, Pakan 2: Pakan trenggiling D, BS: Bahan segar, BK: Bahan kering

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan (g/ekor/hari) diperoleh dengan cara mengurangi jumlah pakan yang diberikan dengan pakan sisa setiap hari. Konsumsi BK pakan diperoleh dengan mengalikan konsumsi (g/ekor/hari) dengan presentase BK pakan. Konsumsi Zat Makanan

Konsumsi zat makanan (g/ekor/hari) diperoleh dengan cara mengalikan konsumsi BK pakan (g/ekor/hari) dengan persentase kandungan zat makanan. Pengumpulan Feses dan Preparasi Sampel untuk Analisis Proksimat

Koleksi feses dilakukan dengan metode koleksi feses total. Feses dikoleksi setiap hari dari masing-masing individu kemudian ditimbang. Preparasi sampel untuk analisis proksimat meliputi pencampuran seluruh feses dari masing-masing individu, kemudian diambil sebanyak 20 g dari keseluruhan feses yang sudah tercampur merata. Feses selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 60 oC selama 24 jam, kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender dan siap untuk dianalisis proksimat.

Kecernaan Pakan

1. Kecernaan bahan kering

Kecernaaan bahan kering didapatkan dengan cara mengurangi bahan kering konsumsi dengan bahan kering feses lalu dibagi dengan bahan kering yang dikonsumsi kemudian dikalikan seratus persen. Koefisien cerna bahan kering dihitung dengan menggunakan rumus :

2. Kecernaan nutrien ( protein kasar, lemak kasar, serat kasar)

Kecernaan nutrien didapatkan dengan cara mengurangi kandungan nutrien bahan yang dikonsumsi dengan kandungan nutrien feses lalu dibagi dengan jumlah pakan yang dikonsumsi kemudian dikalikan seratus persen. Koefisien cerna nutrien dihitung dengan menggunakan rumus:

(21)

7 Penimbangan Bobot Badan

Penimbangan bobot badan trenggiling dilakukan setiap dua minggu selama penelitian. Pertambahan bobot badan diperoleh dengan menghitung selisih bobot badan akhir dengan bobot badan awal, sedangkan rata-rata pertambahan bobot badan perhari dihitung dari selisih bobot badan akhir dengan bobot badan awal dibagi dengan lama waktu penelitian.

Feed Convertion Ratio (FCR)

Rasio konversi pakan atau FCR adalah jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mendapatkan bobot badan tertentu. FCR diperoleh dari perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi dengan penambahan bobot badan trenggiling. Parameter yang diamati

Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kandungan nutrisi pakan alami, konsumsi nutrien, tingkat kecernaan pakan, dan penambahan bobot badan trenggiling.

Analisis Data

Seluruh data dianalisis secara deskriptif dan hasil ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kandungan Nutrisi Pakan

Bahan pakan yang diberikan pada penelitian ini merupakan modifikasi dari pakan alami di habitat aslinya, dalam hal ini diberikan kroto dengan ditambahkan ulat hongkong dan pelet ikan koi untuk menambah jumlah pakan yang diberikan. Hasil analisis proksimat pakan yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil analisis proksimat campuran pakan alami trenggiling Jawa (Manis javanica)

Keterangan: Pakan 1: Pakan trenggiling A, B & C, Pakan 2: Pakan trenggiling D

Ulat hongkong dan pelet ikan koi dipilih sebagai campuran pakan adalah berdasarkan kesukaan trenggiling dan kandungan nutrisi yang terdapat dalam bahan pakan tersebut (Semiadi 2013, konsultasi pribadi). Selain itu juga harus mempertimbangkan stuktur dan sistem saluran pencernaannya. Trenggiling merupakan hewan insektivora dengan saluran pencernaan sederhana. Memiliki lambung tunggal yang unik karena mukosanya dilapisi oleh epitel pipih banyak

(22)

8

Kadar air dalam campuran pakan alami A, B dan C yaitu 68.97%, dan D sebesar 55.18% (Tabel 4). Kadar air merupakan kandungan air yang terdapat pada pakan dalam bentuk bahan segar, semakin tinggi kadar air pada pakan maka akan berbanding terbalik dengan kandungan bahan kering yang akan berpengaruh terhadap persentase nutrient bahan pakan.

Kandungan protein pada pakan lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan lemak dan serat kasar. Kandungan protein sebesar 36.44% dan 20.19%, serta kandungan lemak sebesar 11.37% dan 6.30%. Kandungan serat kasar lebih rendah dibandingkan dengan lemak dan protein yaitu 4.54% dan 2.52%. Serat kasar pada semut dan ulat hongkong berupa kitin yang terdapat pada eksoskeleton dan kulit, sedangkan serat kasar pada pelet ikan koi yaitu hemiselulosa yang berasal dari jagung dan kedelai. Kandungan serat kasar merupakan faktor pembatas pada pakan karena trenggiling kurang mampu mencerna serat kasar (Krisna 2006).

Konsumsi dan Kecernaan Pakan

Konsumsi dan kecernaan pakan merupakan hal penting untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup hewan. Dengan mengetahui konsumsi dan kecernaan maka dapat ditentukan jumlah zat-zat makanan yang dimakan dan tercerna. Jumlah konsumsi dan tingkat kecernaan pakan trenggiling dapat dilihat pada Tabel 5.

Konsumsi bahan kering pakan trenggiling Jawa dalam penelitian ini rata-rata 48.92 g atau 1.48% dari bobot badan. Hasil tersebut masih belum sesuai dengan konsumsi bahan kering hewan monogastrik, yaitu sebesar 1.5-3% dari bobot badan (Parakkasi 1986). Hal ini disebabkan karena pakan yang diberikan setiap harinya merupakan pemberian jumlah pakan minimal (Gambar 3).

Hal tersebut dapat dilihat dari pakan yang diberikan selalu dikonsumsi habis dalam waktu yang relatif cepat, pemberian pakan tidak dilakukan secara ad libitum, mengingat keterbatasan jumlah kroto yang ada. Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa rataan konsumsi lemak sebesar 1.63 g atau 3.65% BK, rataan konsumsi protein sebesar 5.22 g atau 11.70% BK dan rataan konsumsi serat kasar sebesar 0.80 g atau 1.79% BK. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah umur, status fisiologi hewan (tumbuh, bunting atau laktasi), kualitas pakan, palatabilitas jenis dan jumlah pakan dan lingkungan ( McDonald 2002).

(23)

9 Tabel 5 Kandungan bahan pakan yang dikonsumsi dan tingkat kecernaan pakan

trenggiling Jawa (Manis javanica)

Trenggiling Peubah Konsumsi (g) Feses (g) Tercerna (g) Koef. cerna(%)

Keterangan: BK: Bahan kering, LK: Lemak kasar, PK: Protein kasar, SK: Serat kasar

Salah satu faktor yang harus dipenuhi oleh bahan pakan ialah tinggingya kecernaan dari bahan pakan tersebut, artinya bahan pakan tersebut harus cukup mengandung zat makanan dalam bentuk yang dapat dicerna di dalam saluran pencernaan (Widyastuti 2002). Faktor yang mempengaruhi daya cerna pakan yaitu suhu, laju perjalanan pakan melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan pakan dan komposisi pakan.

(24)

10

cadangan energi berupa lemak dan memberikan energi yang lebih tinggi dibandingkan karbohidrat dan protein (Sudarman et al. 2008), selain itu lemak juga berfungsi sebagai lapisan lemak di bawah kulit yang merupakan insulator sehingga dapat mempertahankan suhu tubuh dan sebagai pelindung organ vital seperti mata dan ginjal (Irianto 2004).

Protein digunakan untuk pembentukan sel-sel tubuh dan sumber energi apabila tubuh kekurangan karbohidrat dan lemak. Protein harus dipecah menjadi struktur yang lebih sederhana yaitu berupa asam amino agar dapat diserap melalui dinding usus dan masuk ke dalam sirkulasi darah dan kemudian dibawa ke jaringan-jaringan tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan kandungan protein di dalam feses menjadi meningkat, selain itu dapat juga disebabkan oleh adanya zat anti tripsin yang terdapat pada pelet ikan koi. Zat anti tripsin akan mengikat enzim tripsin dalam usus halus sehingga proses pencernaan protein terganggu. Dengan demikian enzim tripsin yang telah berikatan dengan anti tripsin akan kehilangan fungsi sebagai enzim pencerna protein sehinggan proses hidrolisis protein menjadi asam amino akan terganggu (Soetrisno dan Suryana 1991).

Tingkat kecernaan serat kasar lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kecernaan protein dan lemak, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Krisna (2006) yang menunjukkan bahwa trenggiling kurang mampu mencerna serat kasar. Hal ini sesuai dengan struktur saluran pencernaan trenggiling yang memiliki lambung

tunggal dan usus pendek (Nisa‟ 2005). Menurut Linder (1992), serat kasar merupakan bagian dari makanan yang tidak dapat tercerna secara enzimatis sehingga bukan sebagai sumber zat makanan. Hasil analisis proksimat pakan menunjukan bahwa kandungan serat kasar pada pakan alami yaitu 1.41% yang diduga terdiri dari kitin ( merupakan eksoskeleton semut dan ulat hongkong) dan hemiselulosa (campuran dedak pada pelet ikan koi). Kitin hanya bisa dipecah oleh enzim khitinase. Sel-sel penghasil enzim khitinase ditemukan pada daerah

(25)

11 Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan serta kecepatan pertumbuhan hewan dapat diukur dari kemampuan hewan dalam mencerna makanan. Fluktuasi pertambahan bobot badan trenggiling selama penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 5 dan Tabel 6. Tabel 6 Pertambahan bobot badan trenggiling Jawa (Manis javanica)

Peubah Trenggiling Rataan

Keterangan: BB: bobot badan, PBB: pertambahan bobot badan, FCR: feed convertion ratio

Gambar 4 Grafik pertambahan bobot badan trenggiling Jawa (Manis javanica) setiap dua minggu

Gambar 4 menunjukan bahwa trenggiling D memiliki bobot badan paling rendah dibandingkan dengan trenggiling lainnya yaitu 2.8 kg, hal ini disebabkan oleh trenggiling D merupakan trenggiling muda. Kenaikan grafik yang cukup tinggi terlihat pada trenggiling C sedangkan trenggiling B memperlihatkan grafik yang turun.

(26)

12

Pertumbuhan dapat terjadi dengan penambahan jumlah sel atau penambahan ukuran. Pada penelitian ini pakan yang diberikan untuk masing-masing trenggiling merupakan jumlah yang cukup memenuhi kebutuhan metabolisme minimal. Hal tersebut tercermin dari pertambahan bobot badan yang relatif sedikit yaitu rata-rata 6.96 g/hari, dengan aktivitas minimal didalam kandang. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan pertambahan berat badan kuskus yang mencapai 7.62 g/hari (Widyastuti 2002).

Pemberian jumlah pakan yang sama pada masing-masing trenggiling setiap harinya menyebabkan kenaikan yang berbeda-beda pada masing-masing trenggiling. Pertambahan bobot badan yang paling tinggi terdapat pada trenggiling C yaitu sebesar 720 g, hal ini dapat disebabkan oleh aktivitas trenggiling C yang pasif sehingga pakan yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan bobot badan, namun dengan jumlah pakan yang sama tersebut ternyata tidak dapat meningkatkan pertambahan bobot badan pada trenggiling B, hal ini dapat terjadi karena kecernaan protein pada trenggiling B lebih rendah dibandingkan dengan trenggiling lainnya (Tabel 4). Penurunan bobot badan pada trenggiling B juga dapat dipengaruhi oleh waktu penelitian yang berlangsung pada saat periode musim kawin, yaitu bulan Mei sampai Juni (Yang et al. 2007), sehingga mengakibatkan penurunan nafsu makan yang berdampak pada penurunan bobot badan, selain itu kemungkinan pakan yang dikonsumsi trenggiling B tidak seluruhnya digunakan untuk pertambahan bobot badan melainkan untuk aktifitas hariannya, mengingat selama penelitian berlangsung trenggiling B teramati lebih aktif dibandingkan dengan trenggiling lainnya yang cendrung lebih pasif, ini sesuai dengan Krisna (2006) yang mengatakan bahwa pertambahan bobot badan dapat dipengaruhi oleh aktifitas hewan. Sedangkan kemungkinan pakan yang dikonsumsi trenggiling A, C, dan D lebih banyak digunakan untuk pertambahan bobot badan.

Gambar 5 Grafik pertambahan bobot badan trenggiling Jawa (Manis javanica) selama penelitian

Laju pertumbuhan yang tinggi dengan pakan yang baik akan berpengaruh pada nilai konversi pakan, semakin rendah nilai konversi pakan maka pakan semakin dapat dimanfaatkan oleh trenggiling dengan efisien. Rasio konversi pakan alami pada penelitian ini menghasilkan rata-rata sebesar 1.44. Menurut

(27)

13 Bintang et al. (1999), konversi pakan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain kandungan gizi pakan (protein dan energi) yang lebih tinggi akan lebih efisien dalam pengolahan bahan pakan sehingga konversi pakan yang dihasilkan cenderung lebih rendah (lebih efisien) dari tingkat konsumsi pakan serta pertambahan bobot badan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pemberian campuran pakan alami yaitu kroto dengan penambahan ulat hongkong dan pelet ikan koi memiliki palatabilitas yang baik. Pemberian pakan < 4% BB hanya dapat memenuhi kebutuhan minimal untuk hidup trenggiling dengan rata-rata pertambahan bobot badan sebesar 6.96 g perhari.

Saran

Penelitian ini merupakan penelitian awal tentang pakan alami trenggiling, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pakan pengganti yang lebih murah dan mudah didapatkan dengan nilai gizi yang cukup dan memenuhi kebutuhan hidup dan produksi trenggiling.

DAFTAR PUSTAKA

Bintang IAK, Sinurat AP, Murtisari T, Pasaribu T, Purwadaria T, Haryati T. 1999. Penggunaan bungkil inti sawit dan produk fermentasinya dalam ransum itik sedang bertumbuh. J Ilmu Ternak Vet. 4 (3) : 179 -185.

Breen K. 2003. Manis javanica [Internet]. [diunduh pada tanggal 22 Agustus 2015]. Tersedia pada:http://animaldiversity.org/accounts/Manis-javanica/. Challender D, Nguyen VT, Shepherd C, Krishnasamy K,Wang A, Lee B, Panjang

E, Fletcher L, Heng S, Seah Han Ming J, Olsson A, Nguyen TTA, Nguyen VQ, Chung Y. 2015. Manis javanica. The IUCN Red List of Threatened Species 2014: e.T12763A45222303. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK. 20142.RLTS.T12763A45222303.en

Corbet GB, Hill JE. 1992. The Mammal of Indomalayan Region: A Systematik Review. Natural History Museum Publikations, London (GB): Oxford Univercity Pr.

Gaubert P, Antunes A. 2005. Assessing the taxonomic status of the Palawan pangolin Manis culionensis (Pholidota) using discrete morphological characters. J Mammal. 86(6): 1068-1074.

Guyton AC, Hall EJ. 2006. Medical Physiology. 11th Ed. Philadelphia (US): Elsivier. Grzimek B. 1975. Animal Life Encyclopedia. Vol II. Mammals II. New York (US):

(28)

14

Inskip, T and Gillett HJ. 2005. Checklist of CITES species and annoted CITES Appendices and reservations. CITES Secretariat and UNEP-WCMC, Geneva and Cambridge.

Irianto K. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. Bandung: Yrama Widya. Krisna R. 2006. Kandungan Nutrisi Pakan Trenggiling (Manis javanica) dan

Kaitan Terhadap Pertumbuhannya [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor

Lin MF, Chang CY, Yang CW, Dierenfeld ES. 2015. Aspects of digestive anatomy, feed intake and digestion in the Chinese pangolin (Manis pendadactyla) at Taipei zoo. Zoo Biol. 34 (3): 262-70. Doi: 10.1002/zoo.21212. Epub 2015 Apr 23.

Linder CM. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Aminuddin Parakkasi, penerjemah; Jakarta (ID): UI Pr. Terjemahan dari: Nutritional Biochemistry and Metabolism.

Ninasari RA. 2014. Komposisi nutrisi dan tanin dalam beberapa bahan pakan alami burung kicau. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Nisa‟ C. 2005. Morphological studies of the stomach of Malayan Pangolin, Manis javanica. [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor

Nisa‟ C, Agungpriyono S, Katimura N, Sasaki M, Yamada J, Sigit K. 2010. Morphological features of the stomach of Malayan Pangolin, Manis javanica. JAnat. Histol. Embryol. 39(2010): 432 - 439

Nowak R. 1999. Walker’s Mammals of the World. Ed ke-6. Baltimore (US): The Jhe Jhons Hopkins University Pr.

McDonald P, Edward RA, Greenhalg JED, Morgan CA. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Gosport (GB): Ashford Colour Pr. Ltd.

Parakkasi A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Jakarta (ID): UI Pr.

Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta (ID): UI Pr.

Robinson PT. 2005. Pholidota (Pangolins) inFowler ME and Miller RE. Zoo and Wild Animal Medicine. 5th Ed.Misoury (US): Saunders.

Sari GK. 2005. Tingkat kesukaan semut rangrang (Oecophylla smaragdina) pada berbagi ransum pakan yang berbeda. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Sari RM. 2007. Kajian morfologi lidah trenggiling (Manis javanica). [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Sawitri R, Bismark M, Takandjandji M. 2012. Perilaku trenggiling (Manis javanica desmarest, 1822) di penangkaran Purwodadi, Deli Serdang, Sumatera Utara (Pangolin behaviour in captive breeding at Purwodadi, Deli Serdang, North Sumatra). J Penel Hut Konserv Alam. 9(3): 285 – 297. Soetrisno USS dan Suryana P. 1991. Pengembangan prosedur analisis zat

antitripsin (Tripsin in-hibitor) pada sumber protein nabati. J Penel Gizi Makanan. 14: 153-158

Sudarman A, Wiryawan KG, Markhamah H. 2008. Penambahan sabun kalsium dari minyak ikan lemuru dalam ransum dan pengaruhnya terhadap tampilan produksi domba. Media Petern. 31(3): 166-171.

(29)

15 Tillman AD, Reksohadiprodjo S, Prawirokusumo S, Lebdosoekojo S. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Pr.

Widyastuti R. 2002. Konsumsi pakan dan gambaran umum kecernaan pakan pada kuskus (Spilocuscus maculatus dan Phalanger sp.) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Wojtusiak J, Godznska EZ. 1993. Factors influencing the responses to nest damage in the Africa weaver ant, Oecophylla longinoda (Latrille). Acta Neurobiol Exp 53(2): 401-408.

(30)

16

RIWAYAT HIDUP

Fitria Novita Andesip dilahirkan di Pangkalan, Indonesia pada tanggal 15 Februari 1992 dari pasangan Adnan dan Yulinar. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan awal di Sekolah Dasar (SD) Negri 007 selama 6 tahun. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negri 001 selama 3 tahun dan melanjutakan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negri 2 selama 3 Tahun. Pada tahun 2009, penulis diterima di Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Gambar 1 Karakteristik morfologi trenggiling Jawa ( Manis javanica)
Tabel 1 Hasil analisis proksimat kroto dan rayap
Tabel 2 Kandungan zat nutrisi bahan pakan alami (%BK)
Tabel 5 Kandungan bahan pakan yang dikonsumsi dan tingkat kecernaan pakan trenggiling Jawa (Manis javanica)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan silase ransum komplit memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, persentase karkas dan kadar lemak, dengan nilai

Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan harian, efisiensi pakan, bobot potong, persentase karkas dan non karkas, kadar lemak daging, bobot hati, bobot

Tingginya tingkat konsumsi pakan seharusnya dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian yang lebih tinggi, namun dari hasil penelitian diperoleh bahwa

Pertambahan bobot tertinggi terjadi pada ikan kerapu hibrid yang diberi perlakuan pakan dengan bakteri probiotik (237±0,04%) diikuti pakan dengan enzim

Hasil performa itik selama penelitian yang diberi campuran larutan daun sirih (Piper betle Linn) ke dalam pakan meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan

Berdasarkan hasil analisis penelitian yang telah dilakukan yaitu pengaruh jenis pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan bulu, pertambahan bobot badan, konsumsi pakan

Perlakuan silase ransum komplit memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, persentase karkas dan kadar lemak, dengan nilai

Pemberian pakan dengan level protein yang berbeda tidak menyebabkan adanya perbedaan yang nyata (P &gt; 0,05) pada pertambahan bobot badan, pertambahan tinggi