Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semes-ta alamo
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 4. Yang menguasai hari kemudian.
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya Engkaulah kami mohon ー・イエッャッョセ@
an.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus. 7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan ni'mat kepada me-reka; bukan jalan mereka yang dimur-kai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(Al Faatihah)
PENGENDALIAN DAN PENYERENTAKAN BERAHI
PADA SAPI
SKRIPSI
ol€b
MUHAMMAD SYIBLI
B. 16Q193
FAKUL TAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOG OR
MUHAMMAD SYIBLI. Pengendalian dan Penyerentakan Berahi pada Sapi (di bawah bimbingan R. KURNIA ACHJADI).
Dewasa ini kebutuhan akan protein hewani masih belum terpenuhi, maka salah satu cara untuk mengetasinya yaitu dengan meningkatkan populasi ternak. Pengendalian dan pe-nyerentakan berahi merupakan suatu cara untuk mempermudah pengamatan berahi pada ternak dan memperpendek siklus be-rahi dari ternak. Pengendalian dan penyerentakan berahi dapat digunakan dengan menggunakan hormonal ataupun non-hormonal.
Penggunaan estrogen dalam pengendalian dan penyeren-takan berahi karena dapat meregresikan corpus luteum. Dengan dosis 5 mg estradiol atau 25 - 100 mg est ron akan menimbulkan berahi 3 sampai 7 hari setelah pemberian.
Sedangkan penggunaan progesteron karen a dalam jumlah yang tinggi dalam darah akan menghambat pelepasan hormon LH sehingga ovulasi dan berahi tidak terjadi. Penyisipan Progesteron Releasing Intravaginal Devices (PRIDs) selama 9 sampai 14 hari akan memberikan hasil yang cukup memuas-kan, dimana hewan-hewan yang diberikan akan muncul berahi 2 sampai 4 hari setelah PRIDs dicabut.
PENGENDALI AN DMl PENYERENT P.KAN BERAH I
P !I,DP. SP.P I
OLEH
muhamセQad@
SYIBLI
B. 160193
SI(R I PS I
Sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Dokter Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PADA SAPI
SKRIPSI
oleh
MUHAMMAD SYIBLI
B.
160193
(Sarjana Kedokteran Hewan 1983)
Telah Diperiksa dan disetujui
oleh :
,
(Drh. R.
KURNIA ACBJADI, !viS)
Ibsen Ilnru Kebidanan dan Reproduksi
Fakul tas Kedokteran Bewan
Institut Pertanian Bogor
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 28 Mei 1960 di Ja-karta, sebagai anak ke lima dari tujuh bersaudara. Ayah bernama Muhammad Fadhil Tasmi dan ibu Salijah.
Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan pada tahun 1972 di Sekolah Dasar Negeri Slipi III pagi, Jakarta. Kemudi-an melKemudi-anjutkKemudi-an ke Sekolah Menengah Pertama Islam Al-Azhar
di Jakarta dan lulus pada tahun 1975. Pada tahun 1979 penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas Islam Al-Azhar,
di Jakarta.
Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kehadi-rat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat serta Bida-yahnya maka skripsi ini dapat diselesaikan.
Pengendalian dan penyerentakan berahi merupakan sua-tu cara unsua-tuk mempermudah mengetahui berahi dan disamping i tu akan memperpendek siklus berahi sehingga dapat mening-katkan populasi dan mutu ternak.
Pada kesempatan ini penulis sampaikan penghargaan dan
ucapan terima kasih kepada Drh. R. Kurnia Achjadi MS yang telah memberikan bimbingan dan saran selama penulisan ini. Juga kepada segenap staf dan pegawai Fakultas Kedokteran Bewan penulis ucapkan banyak terima kasih atas segala blin-bingannya selama penulis be1ajar, begitu pula untuk staf perpustakaan BPT dan BAKITWAN yang te1ah memberikan
bantu-an selama penulisbantu-an ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh da-ri sempurna, walaupun demikian semoga apa yang dituangkan dalam skripsi ini bermanfaat bagi mereka yang memerlukan.
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
PENDAHULUAN
DAFTAR
IS I
SIKLUS REPRODUKSI HEWAN BET INA
Siklus Berahi
Tanda-tanda dan Lama Berahi pada Sapi . . . .
Ovulasi
Horman-harmon Siklus Berahi
PENGENDALIAN DAN PENYERENTAKAN BERAHI
Penggunaan Estrogen Penggunaan Progesteron Penggunaan Prostaglandin
KESIMPULAN
DAFTAR PUS TAKA
Halaman iv
v vi vii
1
4
4
6
9
10 13 14 19 25 33
Nomor
Teks
1. Lama siklus berahi dan waktu ovulasi pada sapi
2. Efek dosis rendah estradiol valeret pada regresi corpus luteum, berahi dan ovulasi
3. Waktu berahi setelah pencabutan PRIDs angka konsepsi pada sapi yang
diberi-Halaman
9
18
kan PGF
2 alpha dan estradiol benzoat 23 4. Hasil pengamatan pemakaian PRIDs yang
berulang-ulang selama 9 hari dan di-kombinasikan dengan 0.5 mg PGF
2 alpha
sebelum PRIDs dicabut . . . 24 5. Waktu berahi yang ditimbulkan oleh
penyuntikan PGF
2 alpha 2 kali yang di berikan dengan perbedaan pemberian Efek dosis PGF
2 alpha secara intra u-terin dan subcutan pada pengendalian 6.
dan penyerentakan berahi
30
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Rumus bangun (kimia) macam-macam estrogen yang terdapat pada ma-malia
2. Gugus fungsional prostaglandin .. 3. Rumus molekul prostaglandin F2
alpha
4. Kemungkinan mekanisme PGF2 alpha pada proses luteolisis . . . .
15
27
27
Kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan peternak-an ypeternak-ang telah digariskpeternak-an. dalam Repelita bertujupeternak-an meles-tarikan sumber daya ternak dengan meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak.
Dewasa ini kebutuhan akan protein hewani masih jauh dari cukup, dimana kebutuhan manusia akan protein rata-ra-ta 55 gram yang terdiri dari 35 gram protein nabati, 15 gr protein hewani asal ikan dan 5 gr protein hewani asal ter-nak. Sedangkan pada tahun 1982 diperkirakan
konsumsilillu-.
sus protein hewani asal ternak baru akan mencapai 2,5 gr per kapita per hari. Hal ini disebabkan karena masih cu-kup tingginya angka kematian dan banyalmya pemotongan ter-nak yang masih produktif walaupun undang-undang veteriner
1 melarangnya
Kebutuhan akan daging, susu dan hasil ternak lainnya akan meningkat dengan adanya perbaikan pendapatan dan pen didikan masyarakat serta lajunya pertambahan pendudukyang cukup besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan peningkat-an populasi ternak, dpeningkat-an salah satu cara untuk mencapaitu-juan tersebut adalah dengan menggalakan inseminasi buatan (IB) khususnya pada ternak besar.
Ternak sapi merupall:an salah satu jenis ternak yang dipelihara hampir merata di seluruh Indonesia baik dipe -desaan maupun di kota dalam bentuk peternakan rakyat atau peternakan besar. Karena sapi bersifat polifungsi dalam masyarakat maka j ika populasi dan mutunya dapat ditinglmtkan 1Hutasoit, J, H. 1982. Menuju Swasembada Protein Hewani. Media
2
berarti sumbangannya terhadap pembangunan bangsa cukup besar. Dalam hubungannya dengan mutu ternak melalui insemi-nasi buatan, masalah pengamatan dan pelaporan berahi sapi sering mengalami kesulitan oleh karen a siklus berahi se-tiap indi vidu ternak berbeda-beda. Untuk mengatasi hal tersebut diatas, maIm metode yang telah dikenal dan telah diterapkan adalah pengendalian dan penyerentakan berahi. Metoda yang digunakan untuk pengendalian dan penyerentakan berahi dapat dibagi menjadi empat katagori, yaitu dengan progestogen, prostaglandin, hormon-hormo- lainnya dan non hormonal (Smith, 1974). Dan yang akan dibahas disini adalah pengendalian dan penyerentakan berahi dengan menggu -nakan estrogen, progesteron dan prostaglandin.
Estrogen adalah suatu hormon yang dapat menimbulkan berahi pada hewan betina dan termasuk dari tiga kelompok hormon yang dihasilkan ovarium. Selain oleh ovarium es-trogen juga dihasilkan oleh plasenta, testis dan korteks adrenal. Dan zat-zat yang mempunyai aktifitas estrogenik telah ditemukan juga pada dunia tumbuha-tumbuhan seperti Clover subterranian, dan ini telah banyak disintesa.
Progesteron adalah progestogen alamiah terpenting yang dihasilkan oleh sel-sel lutein corpus luteum. Disamping itu hormon ini dihasilkan juga oleh plasenta dan sejumlah kecil progesteron telah diisolir dari testis dan kelenjar
adrenal, dan sintetik-sintetik progesteron telah banyak di-buat.
Sebagaimana steroid-steroid lainnya, progesteron tidak disimpan di dalam tubuh, progesteron ini dipakai dan disek-resikan secara cepat dan hanya terdapat dalam konsentrasi rendah di dalam jaringan-jaringan tubuh (Toelihere, 1981b).
Sedangkan prostaglandin merupakan hormon yang dihasil-kan oleh uterus dan saluran reproduksi lainnya seperti da-lam cairan seminal, ovarium, plasenta, cairan amnion, dan cairan menstruasi. Selama tahun-tahun terakhir ini telah banyak dibuktikan bahwa prostaglandin F2 alpha merupakan ho-rmon luteolitik uterus utama pada jenis hewan selama kebun-tingan, fetus mungkin menghambat sekresi PGF
2 alpha oleh u-terus sehingga corpus luteurn tetap dipertahankan (Niswander et al., 1974 dalam Toelihere, 1981b).
SIKLUS REPRODUKSI HEWAN BETINA
SIKLUS BERAHI
Siklus berahi dikenal sebagai suatu interval antara timbulnya satu periode berahi ke permulaan periode berahi berikutnya. Dan siklus berahi ini terj adi pada hewan yang
telah mencapai pubertas dan berahi terjadi pada hewan be-tina tidak bunting menurut ritmik yang khas.
Sesuai dengan siklus berahinya, hewan-hewan dapat di-bagi menjad- tiga golongan, (1) hewan-hewan monoestrusya-itu hewan yang mempunyai satu siklus berahi per tahunnya, termasuk golongan ini biasanya hewan-hewan liar seperti beruang, srigala, ajak dan sebagainya; (2) hewan - hewan poliestrus adalah hewan yang mempunyaibanyak periode
be-rahi per tahunnya, yang termasuk kedalamnya, yaitu babi sapi dan Imda; (3) Hewan poliestrus bermusim yaitu hewan yang mempunyai siklus berahi periodik hanya dalam musim tertentu dalam setahunnya, termasuk didalamnya domba.
Walaupun setiap hewan mempunyai ciri-ciri khas dari pada siklus berahinya, namun pada dasarnya adalah sarna. Siklus berahi umumnya dibagi dalam empat fase yaitu pro-estrus, pro-estrus, metestrus dan diestrus. Beberapa penulis membagi sikl us berahi dalam dua fase, yai tu fase folikuler atau estrogenik yang meliputi proestrus dan estrus, dan fase luteal atau progestational yang terdiri dari metes-trus dan diesmetes-trus (Toelihere, 1981b).
n:enghasilkan sejumlah estradiol yang makin bertanbah. Setiap fo-likel bertumbuh cepat selama 2 - 3 hari sebelum berahi. Pada akhir periode proestrus hewan betina biasanya mem-perlihatkan perhatian pada hewan jantan.
Berahi adalah periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Sela-rna periode ini umumnya hewan bet ina akan mencari dan me-nerima pejantan untuk berkopulasi. Folikel de Graaf mem-besar dan menjadi matang, ovum mengalami perubahan-peru-bahan menjadi matang.
Metestrus atau post estrus adalah periode segera se-telah berahi dimana corpus luteum bertumbuh cepat dari sel-sel granulosa folikel yang telah pecah dibawah pe-ngaruh hormon LH dari adenohipofisa. Metestrus sebagian besar berada dibawah pengaruh hormon progesteron yang di-hasilkan corpus luteum. Progesteron menghambat sekresi FSH oleh adenohypophysa sehingga menghambat pembentukan folil,el de graaf yang lain dan mencegah terjadinya be-rahi. Selama metestrus uterus mengadakan persiapan-persiapanseperlunya untuk menerima dan memberi makan pada janin. Pada sapi, selama permulaan metestrus, epi-telium pada caruncula uterus sangat hiperemis dan terja-dihaemorragia kapiler yang mana disebut perdarahan met-estrus atau perdarahan posmet-estrus atau menstruasi. Apa-bila kebuntingan tidak terjadi, uterus dan saluran repro-duksi beregresi ke keadaan yang kurang aktif yang
sebelum proestrus, disebut diestrus.
sarna
men-6
jadi lebih menebal dan kelenjar-kelenjar berhipertrophi. Cervix menutup dan lendir vagina mulai kabur dan lengket selaput mukosa vagina pucat dan otot uterus mengendor. Pada akhir periode ini corpus luteum memperlihatkan peru-bahan-perubahan retrogresif dan vacuolisasi secara gra-dual. Endometrium dan kelenjar-kelenjar beratrophi atau beregresi ke ukuran semula dan mulai terjadi perkembang-an folikel-folikel primer dperkembang-an sekunder dperkembang-an akhirnya kem-bali ke periode proestrus.
Siklus reproduksi dari hewan piara berada di bawah pengaruh endokrin serta dipengaruhi juga oleh linglmngan
luar yang bertindak melalui syaraf pusat dan hipothalamus untuk memulai dan mengatur pelepasan hormon pertumbuhan dari adenohypophysa.
Tanda-tanda dan Lama Berahi pada Sapi
Gejala-gejala berahi pada ternak sapi dan kerbau di tandai dengan sifat homoseksual. Intensitas kegiatan sek-sual pada hewan bet ina umumnya berhubungan dengan jum-lahestrogen yang terdapa t dalam darah. Namun demikian banyak di temukan perbedaan-perbedaan antara bangsa ternak
dan antara individu. Sapi dara umumnya memperlihatkan berahi yang lebih jelas dari pada sapi induk.
Sapi dalam keadaan berahi umumnya tidak tenang dan sering tetap berdiri, j arang berbaring. Nafsu makan, me-mamah biak dan produksi turun. Apabila sapi ini
vulva sapi berahi, gejala yang terpenting yaitu ekor di-angkat dan lendir transparan menggantung di vulva atau terdapat didaerah peritoneum. Vulva membengkak, lunak, oedematus dan relaks. Sapi yang dikandangkan akan me-ngangkat kepalanya dan memperlihatkan kelakuan yang ti-dak tenang, sapi berahi sering mengeluarkan urin.
Pada pemeriksaan vaginal, mukosa vagina merah dan odematus. Lendir berahi cukup banyak 50 - 100 ml, yang terdapat didalam vagina yang berasal dari sel-sel sela-put lendir vagina dan cervix dibawah pengaruh hormon es-trogen (Marinov dan Lovel, 1967). Pada puncak berahi viskositas lendir ini rendah dan elastisitas pengaliran-nya paling tinggi.
Pada pemeriksaan rektal selama berahi dan selama sa-tu atau dua hari sebelum atau sesudah berahi uterus bia-sanya menegang, kaku dan oedamatus karen a rangsangan es-trogenik terhadap urat daging dan tenunan uterus. Hal
ini sang at j elas teraba pada sapi dara, pada palpasi rek-tal permulaan estrus folikel mempunyai diameter 1.25 cm atau kurang, licin, konveks, tegang dan agak berfluktua-sikarena adanya cairan folikuler, dan cairan ini berwar-na keruh. Folikel de Graaf yang sudah matang berdiame-ter 1.5 sampai 2 em.
Siklus berahi yang sempurna ditandai dengan :
se-8
ring hanya kelihatan sebagian bahkan ada yang tidak menun-jukkan gejala apapun pada saat berahi, keadaaan ini dise-but berahi tenang (Toelihere, 1981a).
Lamanya siklus berahi dan waktu terjadinya ovulasi perlu dipelajari untuk mengetahui waktu yang tepat dalam melaksana.kan inseminasi bua tan (IB). Hal ini berhubungan
erat dengan daya h±dup spermatozoa di dalam alat reproduk-si betina. Sel jantan (spermatozoa) hanya dapat bertahan hidup dalam alat reproduksi bet ina selama 24 sampai 30 jam.
(Cole dan Cupp, 1969).
Hewan sapi termasuk hewan yang bersifat polyestrus dan memperlihatkan berahi secara periodik sepanjang tahun. Lama siklus berahi pada sapi dara rata-rata 20 hari dengan kisaran antara 18 sampai 22 hari. Dan sapi-sapi induk me-nunjukkan kisaran antara 18 sampai 24 hari dengan rata-rata.· 21 hari. Setiap sapi bet ina mempunyai p6la siklus berahi tersendiri sedangkan musim tidak mempengaruhi lama siklus berahi.
Pada sapi-sapi zebu dan persilangannya lama berahi cukup pendek, masing-masing 4,7 jam dan 7,4 jam (Plasse et aI, 1970 dalam Toelihere, 1981a). Akan tetapi sapi induk zebu cenderung berhubungan dengan pejantan untuk waktu yang lebih lama, dan banyak sapi-sapi tersebut mem-perlihatkan berahi pada waktu malam dan pagi hari. Rata-rata berahi pada sapi perah atau sapi potong di daerah tropis lebih pendek 12 - 13 jam dibandingkan dengan di daerah subtropis (Hall et al. 1959; Gangwar et al. 1964).
anaknya, mungkin karen a gangguan makanan. Masa kebuntingan sampai mencapai 271 sampai 310 hari, rata-rata 293 hari. Sapi-sapi Eropa tidak tahan terhadap panas ya-g mempengaruhi performan reproduksi da- produksi ternak tersebut.
Lama siklus berahi dan waktu ovulasi pada sapi menu rut Cole dan Cupp (1969) dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Lama siklus berahi dan waktu ovulasi pada sapi.
===========================================================
Lama siklus berahi Lama berahi Waktu ovulasi
(hari) (jam) (jam)
Rata-rata Kisaran Rata-rata Kisaran Rata-rata
21. 3 18-24 19.3 13-27 10.7 setelah berahi
Sumber .: Cole dan Cupp (1969) Ovulasi
Ovulasi adalah suatu kejadian dimana ovum lepas dari fo1ikel de Graaf yang telah matang beserta sel-sel yang me-nyelubungi dan cairan folikuler dan siap untuk dibuahi oleh sel jantan (spermatozoa). Jumlah telur yang diovulasikan dari kedua ovaria pada satu berahi (ovulation rate atau de-rajat ovulasi) berbeda-beda menurut jenis hewannya mulai sa-tu buah pada sapi dan kuda hingga 18 - 20 buah pada babi. Derajat ovulasi pada ternak dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk makanan, umur dan hereditas.
Mekanisme ovulasi secara umum dikenal bahwa ovulasi di-stimulir oleh hormon LH, tetapi mekanisme yang sebenarnya belum diketahui. Disini mungkin menyebabkan pengenduran
[image:19.565.76.516.234.365.2]10 Ovulasi terjadi spontan 10,5 sampai 15,5 jam, rata-rata 12 jam sesudah akhir berahi. Kisaran ini dapat men-capai 2 sampai 26 jam. Sapi dar a cenderung untuk berovu-lasi 5 jrup lebih cepat dari pada sapi induk. Sekitar 80% ovulasi terjadi antara jam 16.00 sore dan jam 04.00 pagi
(Asdell, 1964 dalam Toelihere, 1981b).
Sinkhronisasi antara berahi dan ovulasi diperlukan untuk menjamin terjadinya fertilisasi karen a umur ovum dan
sperma singkat di dalam saluran kelamin betina.
Hormon-hormon Siklus Berahi
Siklus reproduksi dari hewan pelihara berada dibawah pengaruh endokrin serta dipengaruhi juga oleh lingkungan
luar yang bertindak melalui syaraf pusat dan hyphotalamus untuk memulai dan mengatur pelepasan hormon pertumbuhhn
dari adenohyphophysa.
Kadar hormon-hormon pada sapi, kecuali hormon LH re-latif sangat rendah dibandingkan dengan ternak lain.
Faftor-faktor pelepas LH dari hipothalamus meningkat ュオセ@ lai hari ke 20 sampai hari ke 7 dan menurun mulai hari ke 11 sampai hari ke 18 siklus berahi. Periode penurunan faktor pelepas LH bersamaan dengan periode sekresi pro-gestoran tertinggi. FSH dari hyphophysa menurun dari mak-simum 450 mikrogram pada hari ke 18 sampai minimum 122 mikrogram pada waktu berahi. LH dari hyphohysa menurun
Kadar LH di dalam serum darah meningkat dari 8 jam sebe-lum sampai 6 jam sesudah permulaan estrus. Sapi dara berovulasi 24 sampai 36 jam, rata-rata 30'jam sesudah puncak kadar LH didalam darah atau setelah permulaan
es-trus (Swansons dan Hafs, 1970).
Kadar estrogen di dalam darah tertinggi pada hari ke 6 sampai ke 8 dan ke 14 sampai ke 16 siklus berahi dan
terendah pada hari ke 10 sampai ke 12. Ekskresi estrogen di dalam urine tertinggi pada hari ke 6 sampai hari ke 8 dan hari ke 18 sampai ke 20 siklus berahi (Varman et aI, 1964 dalam Toelihere, 1981a).
pro-12 gesteron rnenurun pada hari ke 16 dan ke 19 siklus berahi dan dalarn waktu 48 jam sesudah partus, dan ukuran corpus luteurn rnenurun pada waktu yang sarna (Hansel dan Snook, 1970).
Pengendalian dan penyerentakan berahi dapat dilaku-kan dengan berbagai cara, yaitu dengan cara alamiah atau
penggunaan preparat hormonal. Smith (1974) membagi meto-de yang digunakan untuk pengendalian dan penyerentakan berahi dalam empat katagori, yaitu dengan menggunakan progestogen, protaglandin, hormon-hormon lainnya dan non hormonal. Pada prinsipnya pengedalian dan penyerentakan berahi dilakukan dengan menghambat ovulasi atau merang-sang regresi corpus luteum.
Penyerentakan berahi pada ternak telah memungkinkan ki ta untuk mengambil langkah-langkah dalam bidang budi daya ternak dan hewan piara menuju perbaikan mutu dan pe-ningkatan populasi ternak. Dengan melakukan pengendalian
dan penyerentakan berahi pada ternal, maka akan didapatkan keuntungan , seperti ;
(1) Penghematan waktu dan tenaga kerja dalam mendeteksi berahi, perkawinan (inseminasi buatan), pemeliharaan
dan pember ian makanan.
(2) Memungkinkan pengaturan saat perkawinan secara tepat sehingga kelahiran anak-analmya dapat disesuaikan de ngan kondisi persediaan makanan, iklim dan musim pa-da pa-daerah tertentu.
(3) Penyerentakan berahi dapat dilakukan sebagai cara un-tuk penyerentakan stadium siklus berahi antara pem-beri (donor) dan penerima (recipient) pada tehnikpe-mindahan janin (embryo transfer).
14 (5) Dapat mengobati hewan yang tidak berahi dan
mengura-ngi kejadian kawin berulang (repeat breeder).
(6) Dari segi hewan piara memberikan keuntungan dalam pen-cegahan, pembrantasan penyakit dan pengawasan ferti-litas.
Dan dalam hal ini akan dibicarakan mengenai pengen-dalian dan penyerentakan berahi dengan menggunakan estro-gen, progesteron, prostaglandin dan preparatnya.
PENGGUNAAN ESTROGEN
Sumber estrogen. Estrogen adalah suatu hormon yang menimbulkan berahi pada hewan bet ina dan termasuk dari tiga kelompok hormon yang disekresikan oleh ovarium, ke-dua hormon lainnya adalah progesteron dan relaksin. Es-trogen beserta progesteron umumnya disebut hormon-hormon kelamin bet ina dan tergolong hormon steroid.
Hormon estrogen disekresikan oleh theca interna dari folikel de Graaf, jaringan ini kaya akan estrogen dan mem-perlihatkan aktifitas yang maksimum selama fase estro-genik dalam siklus berahi. Cairan folikel yang kaya akan estrogen, mungkin karen a difusi dari jaringan theca inter-na (Toelihere, 1981b).
HO
OH OH
OH
HO HO
17 betha estradiol Estriol
o
H RO
Estron
o
OR
16-Epiestriol
OH
OH
o
B
Equilin 16 betha hydroxy estron
[image:25.558.76.493.81.646.2]Equilenin
Gambar 1. Rumus bangun kimia macam-macam estrogen yang terdapat di mamalia.
rOidal. Estradiol, est ron dan estriol adalah estrogenik alamiah yang disekre silmn oleh theca interna folikel de Graaf atau oleh placenta. Potensi ketiga estrogen ini tidak sarna, dimana yang paling potensial diantara ketiga-nya adalah estradiol, kedua adalah estron dan yang pa-ling lemah yaitu estriol (Asdell, 1968). Menurut Guyton
(1961) potensi estradiol 12 kali lebih besar dari estron dan 80 kali dari estriol.
Mekanisme dalam pengendalian dan penyerentakan berahi. Pada prinsipnya pemakaian estrogen dalam pengendali-an dpengendali-an penyerentakpengendali-an berahi yaitu dengpengendali-an meregresikpengendali-an corpus luteum (Greenstein et al., 1958, Loy et al., 1960 dan Wiltbank et al., 1971) sedangkan mekanisme terjadinya belum diketahui. Tinggi kadar estrogen dalam darah akan menekan produksi Folikel Stimulating Hormone (FSH) dan merangsang pelepasan hormon Luteinizing Hormone (LH) (Cole dan Cupps, 1969).
Loy et al. (1960) mengatakan bahwa pemberian estrogen akan
menyebabkan hypothalamus memperbanyak pelepasan hormon LH yang mengakibatkan pelepasan LHtidak sebanding dan ini menunjukkan bahwa regresi corpus luteum yang disebabkan pemberian estrogen karena kekurangan LH dan hal ini dibuk-tikan dengan penyundibuk-tikan estrogen yang diikuti dengan pe-nyuntikan hormon gonadotrophin (FSH dan LH) tidak menye-babkan regresi corpus luteum.
penyuntik-implatasikan secara intramuskular atau subcutan dalam ben-tuk padat, dimana estrogen tersebut akan diabsorpsi perla-han-lahan selama beberapa waktu. Preparat estrogen lain -nya terdapat dalam suspensi aquous dan larutan estrogen di dalam basa alkohol atau resopitol. Apabila preparatpre -parat estrogen ini disuntukan secara intramuskular, maka cairannya segera diabsorpsi meninggalkan partikel-part ike 1 estrogen sebagai bahan implantasi yang dimodifikasi. Es-terifikasi estrogen akan mengurangi kecepatan absorpsi dan memperlama day a kerjanya, misalnya pengaruh stilbestrol
dalam minyak berlangsung 24 sampai 36 jam sedangkan penga-ruh ・ウセイッ、ゥッャ@ propionat akan berlangsung 24 sampai 48 jam dan estradiol cyclopentylpropionat dalam minyak ECP dan Estradiol valeret efektif lebih dari 72 sampai 96 jam (To-elihere, 1981b).
Dosis yang digunakan untuk meregresikan corpus luteum dalam rangka penyerentakan berahi telah dicoba oleh Wilt -bank et al. (1961) dengan menyuntikan 5 mg, 3 mg dan 1 mg estradiol pada sapisapi dar a dan m engakibatkan regresi -corpus luteum dengan pemberian 5 mg estradiol sedangkan dengan penyuntukan 3 mg estradiol hanya satu dari 4 ekor -yang diberikan mengalami regresi corpus luteum dan penyuntikan dengan 1 mg estradiol tidak ada yang mengalami reg -resi. Dan hewan yang memperlihatkan berhai hanya 2 ekor sapi dari 5 ekor yang diberikan dengan penyuntikan 5 mg estradiol (tabel 2 ) .
18 Tabel 2. Efek dosis rendah estradiol valeret pada
re-gresi corpus luteum, berahi dan ovulasi.
==========================================================
Dosis Banyaknya yany regresi Jarak penyuntik yang sapi corpus luteuiTI an ke regresi berahi
(hari)
5 mg 5 4 2
-
8 23 mg 4 1 8 0
1 mg 3 0 0
Sumber Wiltbank et al. (1961). pada hari ke 3 sampai 7 setelah penyuntikan dan berahipun muncul setelah itu dengan persentase penyerentakan berahi
yang rendah dan tak teratur (Wil tbank et al., 1961).
Menurut Bone et al., (1963), menyatakan bahwa harmon diethylstilbestrol 5 - 25 mg dapat menginduksi berahi de-ngan efektif. Dan penyuntikan estradiol 17 betha dari ha-ri ke 1 sampai 13 siklus berahi menyebablmn pengecilan be-rat corpus luteum (Loy et al., 1960).
Penyuntikan harmon estrogen dan preparatnya hendaknya dilakukan pada awal atau pertengahan siklus berahi karena bila disuntikan pada pada akhir masa berahi (hari ke 15 dan
16) akan menyebabkan terjadi cystic ovari (Loy et al., 1960 dan Wil tbank et al., 1961), maka hal ini terjadi karena kekurangan harmon LH dengan bertambahnya perkembangan fali -kel (Wiltbank et al., 1961).
1961) .
Disamping terjadinya efek cystic ovari akibat penyun-tikan hormon estrogen, juga pengendalian dan penyerentakan berahi yang dihasilkan sangat rendah persentasenya. Dan be-rahi serta ovulasi yang diinginkan terjadi dengan tidak teratur (Wiltbank et al., 1961). Oleh sebab itu pengenda-lian dan penyerentakan berahi dengan menggunakan hormones-trogen sendiri jarang dipergunakan.
PENGGUNAAN PROGESTERON
Sumber progesteron. Sumber utama progesteron adalah sel-sel lutein corpus luteum, disamping itu sel ini juga dihasilkan oleh placenta dan sejumlah kecil telah diisolir dari kelenjar adrenal dan testis.
Progesteron merupakan anggota progestogen yang terpen-ting dan tergolong dalam kelompok steroid yang terdiri da-ri 21 atom C. Rangkaian-rangkaian hidroksil (OH), keton
(C=O), methyl (CH
3), halogen (CI,F) yang dirangkaikan pada atom C tertentu ataupun ikatan rangkap (isomer) memberikan kemungkinan pembuatan steroid-steroid dalam jumlah yang sa-ngat besar. Dapat dikatakan bahwa perubahan struktur yang kecil saja dapat mengakibatkan kelainan sifat-sifat biolo-gis yang sangat menyolok.
Sekarang progesteron telah dapat dibuat dengan nama 6-methyl-17-acetoxyprogesteron (MAP), 6-Chloro-6-dehydro-17-acetoxyprogesteron (CAP) dan melengesterol (MGA).
20 tangkapnya daya kerja steroid progresif ini, namun dapat dipastilcan bahwa progesteron akan mempengaruhi penekanan ovulasi. Dan prinsip inilah yang dipergunakan untuk nyerentakan berahi dimana progesteron akan menghambat pe-lepasan LH dari hypofisa anterior yang merupakan hambatan·· terhadap perkembangan folikel de Graaf sehingga ovulasi dan berahi tidak terjadi. Keadaan ini terjadi karen a urn, pan balik negatif sekresi gonadotrophin karena pengaturan
siklus berahi pada ternak yang secara nyata merupakan peng-aturan lamanya hidup corpus luteum. Karena progesteron menghambat pelepasan LH maka progesteron merupakan ーイ・ー。セ@
rat pertama yang dipalcai untuk pengendalian dan penyeren-takan berahi (Britt dan Roche, 1980).
Car a pemalcaian, dosis dan efek progesteron. Cara pemberi-an progesteron untuk menimbulkpemberi-an pengendalipemberi-an dpemberi-an penye-rentakan berahi dapat dilakulcan dengan car a peroral yang dicampurkan dalam makanan, melalui penyuntikan atau dita-nam dalam vagina (Toelihere, 1981a).
Car a pemberian atau penyuntikan progesteron hendalmya diberikan pada pertengahan sampai akhir fase luteal dari siklus berahi dan sebagian besar sapi-sapi yang diberikan akan memperlihatkan berahi 3 sampai 6 hari setelah penyun-tikan dihenpenyun-tikan.
Pemberian 135 mg 6-methyl-17alpha-acetoxyprogesterone (MAP) perhari selama 12 hari pada sapi-sapi dar a atau induk akan menghambat berahi secara efektif (Hansel et al., 1961, Anderson et al., 1962). Pada umumnya berahi kembali mun-cul 2 sampai 5 hari setelah pemberian dihentikan.
6-chloro-6-dehYdro-17-acetoxyprogesterone (CAP) yang dibe-rikan secara peroral juga efektif menghambat berahi dan ovulasi pada sapi-sapi perah dara dan induk dengan dosis yang cukup rendah. Berahi terjadi 4 sampai 8 hari setelah akhir pemberian CAP tetapi angka konsepsi masih rendah.
Wilson et al., (1969) menggunakan melengestrol acetat (MGA) untuk penyerentalmn berahi pada sapi daging. Pemoe-rian 0,5 mg MGA perekol" setiap harinya selama 14 hari, di-ikuti pember ian MGA dalam makanan selama 10 hari setelah 12 hari periode perkawinan pada sebagian sapi-sapi yang se-telah menerima pemberian pertama menghasilkan penyerentak-an berahi 77,1% pada sapi-sapi ypenyerentak-ang menerima MGA pertama dalam makanan dan 82,9% yang menerima MGA kedua kalinya. Dan angka konsepsinya rata-rata 73,5 % yang menerima MGA
satu kali dan 62,9 % yang menerima pemberian ulangan. Se-dangkan pember ian 1 mg MGA per-ekor setiap harinya selama 14 hari menghasilkan penyerentakan berhai 90,7 % dengan -angka konsepsi rata-rata 76,7 %.
Dewasa ini progesteron dipergunakan yang ditanamkan da1am vagina (PRIDs) untuk pengendalian dan penyerentakan berahi CSreenan, 1975). Dan cara ini menguntungkan disam-ping penggunaan dosis yang lebih rendah juga ュ・ョァセ。ウゥャォ。ョ@
22 pencabutan PRIDs yang disisipkan pada hari l,e 13 dan 14 siklus berahi sedangkan penyisipan pada hari ke 2 dan 3 ovulasi terjadi lebih dari 100 jam setelah pencabutan PRIDs (Cuming et al., 1982).
Untuk memperpendek siklus berahi maka penggunaan progesteron dikombinasikan dengan hormon yang dapat mempengaruhi corpus luteum, yaitu dengan estradiol ben-zoat (Sreenan, 1975; Smith and Mac Millan, 1978; Smith et al., 1980 dan Folman et al., 1983) maupun dengan pros-taglandin dan sintetiknya (Cuming et al., 1982; MacPhee-et al., 1983; Folman MacPhee-et al., 1983).
Pengendalian dan penyerentakan berahi dengan menyi-sipkan PRIDs selama 10 hari yang dikombinasikan dengan oestradiol benzoat 10 mg lebih baik dibandingkan dengan penyisipan selama 14 hari dimana rata-rata berahi hanya 47% untuk penyisipan selama 14 hari dan 55% penyisipan selama 10 hari (Smith et al., 1980). Sedangkan penyi-sipan selama 12 hari yang dikombinasikan dengan 10 mg Oestradiol benzoat menghasilkan 65% hewan yang diberikan, mengalami berahi dengan angka konsepsi yang tinggi (Fol-man et al., 1983).
Folman et al., (1983) melakukan percobaan dengan membandingkan penggunaan kombinasi PRIDs dengan PGF2 al-pha yang disuntikkan 1 hari sebelum dan sesudah penca-butan PRIDs sebelum 12 dan 14 hari, juga memperbanding-kan penggunaan PRIDs yang dikombinasimemperbanding-kan dengan PGF
2 al-pha dan Oestradiol benzoat. Dari hasil percobaan ini di dapatkan bahwa kombinasi antara PRIDs dengan cloprostenol
(analog PGF
le-tu hari setelah pencabutan PRIDs dimana angka konsepsi
un-tuk kombinasi PRIDs dengan PGF2 alpha yang diberikan satu
sebelum pencabutan adalah 83% dibandingkan 75% untuk
pem-berian PGF 2 alpha sehari sete1ah pencabutan. Dan Immbinasi
PRIDs dengan PGF
2 alpha lebih baik dibandingkan kombinasi
antara PRIDs dengan oestradiol benzoat yaitu 83% berbanding
70% untuk angka konsepsinya. Juga jarak antara waktu
pen-cabutan PRrDs dengan mulai berahi lebih pendek dengan
meng-gunakan kombinasi PRrDs dengan PGF 2 alpha yai tu 57.8
2:
3.8jam dibandingkan 81.7
2:
7.2 jam jika menggunakan kombinasiPRrDs dengan oestradiol benzoat (tabe13)
Ta be 1 3. Waktu berahi setelah pencabutan PRIDs, angka konsepsi pada sapi yang diberikan PGF2 alpha dan oestradiol benzoat
Perlakuan
PRrDs 12 hari +
PGF 2 1 hari se tel1ih dicabut
PRIDs 12 hari +
10 rrg ODB
PRrDs 12 hari +
PGF 2 1 hari se belum dicabut
PRrDs 14 hari +
PGF 2 1 hari se belum dicabut
yang di- yang berahi (%) berikan
40 34 (87)
40 25 (65)
42 36 (85)
38 34 (89)
Jarak antara pencabutan dg
mu1ai berahi
54.1 + 4.6
81.7 + 7.2
57.8 + 3.8
59.2 + 4.9
Angka konsepsi 75% 7(f/o
83%
82%
Sumber : Folman et al. (1983)
Kemudian MacPhee, et al. (1983), melalmkan percobaan
dengan menyisipkan PRIDs selama 9 hari dan dikombinasikan
dengan penyuntikan 0,5 mg cloprostenol (analog PGF
2 alpha)
gunakan kembali untuk kedua kalinya setelah disterilkan dengan autoclave dan ethylene oxyde dan begitu juga untuk yang ketiga kalinya. Pada sapi yang menerima PRIDs untuk pertama kalinya, 85% berahi antara 30 sampai 60 jam sete-lah PRIDs dicabut, ketika PRIDs digunakan untuk kedua ka-linya maka 100% sapi-sapi menunjukkan berahi antara 30-60 jam. Sedangkan pemakaian untuk ketiga kalinya jarak antara pencabutan PRIDs dengan timbulnya berahi mempunyai variasi yang besar, 29% sapi menunjukkan berahi dalam 30 sampai 60 jam dan 59% berahi antara 12 sampai 42 jam se-telah PRIDs dicabut (tabel 4).
Tabel 4. Hasil pengamatan pemakaian PRIDs yang ber-ulang-ulang selama 9 hari dan dikombinasi-kan dengan 0.5 mg PGF2 alpha sebelum PRIDs dicabut.
=========================================================
Perlakuan
Pemakaian I n = 41 Pemakaian II
n = 20 Pemakaian III
n = 17
Munculnya be-rahi setelah
PRIDs dicabut
(jam)
43.97 +
-
8.38 n = 37 40.95 +-
7.30n = 20 36.67 + - 23.91
n = 15
Jarak ovulasi setelah mun-cuI berahi
(jam)
33.03 + - 4.65 n = 36 34.76 + - 10.48
n = 17 32.30 +
-
3.12n = 15
Jarak ovulasi setelah PRIDs dicabut.
(jam)
77.34 +
-
10.06 n = 36 76.24 +-
12.38n = 17 71.97 +
-
24.38 [image:34.558.81.523.372.595.2]PENGGUNAAN PROSTAGLANDIN
Sumber prostaglandin. Prostaglandin merupakan hor-mon yang dihasilkan oleh uterus dan ·saluran reprodull:si
lainnya seperti dalam cairan seminal, ovarium, plasenta, cairan amnion dan cairan menstruasi. Semen manusia me-ngandung kadar prostaglandin tertinggi yaitu 300 ug/ml
(Katz dan Katz, 1974). Dengan kemajuan ilmu pengetahuan sekarang prostaglandin telah dapat diekstrasi dari tum-buhan laut.
Pada tahun 1935 Ulf S. von Euler, seorang ahli ilmu faal telah menemukan suatu zat di dalam semen manusia yang dapat menyebabkan otot licin berkontraksi dan menye-babkan penurunan tekanan darah hewan yang disuntikan. Karena menduga zat tersebut hanya berasal dari kelenjar prostat maka beliau menamakan zat tersebut prostaglandin
(Ross, 1975).
Prostaglandin termasuk golongan zat dari lemak aktif dan merupakan asam hydroxYl yang tidak jenuh, yang ter-diri dari 20 atom C dan mempunyai daya kerja terhadap u-rat daging licin dan tekanan darah.
Berdasarkan strukturnya prostaglandin dibedakan atas lima ll:elompok yaitu PGA, PGB, PGC, PGE dan PGF (Cohen et al., 1977). Perbedaannya hanya terletak pada gugus fung-sional yang terletak pada cincin segi lima (gambar 2).
26 C nomor 5 dan 6 serta 13 dan 14 juga tiga gugus hidroksil pada atom karbon nomor 9, 11 dan 15 (gambar 3).
Fungsi prostaglandin. . Prostaglandin merupalmn sua tu zat yang paling sering diteliti pengaruhnya terhadap pro-ses-proses reproduksi. Bermacam-macam l,egunaannya antara lain untuk menginduksi proses partus, sinkhronisasi bera-hi dan meniadakan corpus luteum persisten (Inskeep, 1973).
Menurut Lauderdale (1972), prostaglandin dapat digunakan untuk mengakhiri kebuntingan yang tidak diingin -kan (abortus provocatus), menstimulir sekresi progesteron
(Watson and Walker, 1977), dan meningkatkan efisiensi pe-ngangkutan sel telur dan sperma ke tuba fallopii, tetapi bila kadar prostaglandin terlalu tinggi dari keadaan nor-mal maka motilitas sperma dapat menurun (Cohen et al., 1977) . lni disebabkan karena efek langsung prostaglandin terhadap sperma dimana dalam jumlah yang banyak akan mem-pengaruhi pergerakan sperma.
Prostaglandin dilepas dari uterus ke ovarium melalui mekanisme "Counter current" dan secara periodik meregresi kan corpus luteum (Mc Cracken, et al., 1972). Prostaglan-din endogen secara alam tidak disirkulasikan melalui paru paru tetapi dialirkan dari uterus ke ovarium. Prinsip pe-mindahan prostaglandin dari vena ke arteri yaitu berdasar kan keseimbangan kosentrasi di dalam membran, jadi kosen-trasi yang terdapat dalam pembuluh vena lebih tinggi di-bandingkan dalam pembuluh arteri. Selanjutnya disebutkan juga oleh Green dan Samuelson dalam Mc Cracken (1972) yang menyatakan bahwa kadar prostaglandin F2 alpha tinggi dalam
o
"
A
o
oo
"
"
B
c
Gambar 2. Gugus fungsional prostaglandin
6 5
11
OH OH
OH F
COOH
[image:37.558.86.509.65.229.2] [image:37.558.79.503.69.591.2]28 Mekanisme kerja prostaglandin. Pada prinsipnya pema-kaian prostaglandin dalam pengendalian dan penyerentakan berahi karena bersifat luteolisis maka akan meregresikan corpus luteum.
Sedangkan mekanisme terjadinya luteolisis akibat pe-ngaruh pemberian prostaglandin terutama PGF
2 alpha hingga kini masih kurang j elas. Menurut Pharis, et al. (1972) ada lima (5) kemungkinan mekanisme PGF
2 alpha pada proses lu-teolisis (gambar 4), antara lain adalah (1) " Feed back "
(umpan balik negatif) secara langsung terhadap Hyphopysa anterior karena aktifitas corpus luteum sangat dipengaruhi oleh hipofisa; (2) Efek antigonadotropik, baik dalam alir-an darah maupun pada receptor corpus luteum; (3) Stimulasi pada uterus untuk sintesa luteolisin; (4) Daya kerja toksi sitas secara langsung terhadap corpus luteum dan (5) Kon-traksi vena utero ovarika.
Car a pemberian, dosis, dan efek prostaglandin. Pada saat sekarang sudah banyak dilakukan penelitian pengendali an dan penyerentakan berahi dengan menggunakan prostaglan-din terutama PGF
2 alpha pada sapi. Pemakaian PGF2 alpha dan analognya ケ。ョァセ・イウゥヲ。エ@ luteolitik telah memberikan hasil yang memuaskan pada ternak (Smith, 1974).
Cara pemberian PGF
2 alpha dapat dilakukanmelalui pe-nyuntikan secara intramuskuler, subcutan ataupun intra ute-rin. Dan pada umumnya cara yang paling sering dilakukan yaitu dengan penyuntikan secara intra muskuler.
Gonadotropin
(LH)
\
\
lenjar hipofisa
Vena utero-ovarika
"-
[image:39.559.93.509.74.680.2]
'-Luteolisin MMセLセ@
Gambar 4. Kemungkinan Mekanisme PGF
2 alpha pada proses luteolisis.
1. Feed back secara langsung terhadap hipofisa. 2. Efek antigonadotropik.
3. Stimulasi pada uterus untuk sintesa luteo-lisin.
4. Daya kerja toksisitas secara langsung pada corpus luteum.
30 ditimbulkan setelah penyuntikan PGF2 alpha menunjukkan bahwa 88% berahi muncul pada hari ke 2 sampai 4 setelah penyuntikan. Dan angka konsepsinya yaitu 55.8%.
Inskeep (1973) dan Donaldson (1977) telah melaku-kan percobaan dengan memperbandingmelaku-kan dosis yang diper-gunakan, yaitu penyuntikan dengan dosis 15, 20, 25 dan 30 mg PGF
2 alpha, rata-rata 25 mg memperlihatkan bahwa sapi-sapi berahi dalam waktu 2 sampai 5 hari setelah pe-nyuntikan.
Sapi-sapi yang tidak memperlihatkan berahi pada pe-nyuntikan pertama maka 11 hari kemudian dapat disuntik-an kembali untuk ydisuntik-ang kedua kalinya, ddisuntik-an sapi-sapi akdisuntik-an memperlihatkan berahi 48 sampai 72 jam setelah penyun-tikan kedua (Lauderdale, et al., 1974; Donaldson, 1977; Burfening, et al., 1978). Dan Greyling dan Van der Wes-thuysen (1980) telah melakukan penelitian mengenai jarak antara penyuntikan pertama PGF
2 alpha dengan yang kedua. Dan terlihat bahwa jarak penyuntikan pertama 10 dan 11 hari lebih baik dibandingkan dengan jarak 9 hari antara penyuntikanpertama dengan kedua (tabeI5).
Tabel :). Walrtu berahi yang ditinibulkan oleh penyuntikan PGF
2 alpha 2 kali yang diberikan dengan perbeda-an ;i arak pemberian.
========================================================
Jarak antara pemberian ャセ・@ I dan II 9 hari 10 hari 11 hari
Banyaknya sapi 10 10 10
Yang berahi 9 10 10
Jarak berahi dengan
+
akhir penyuntikan. 58.67 + 9.38 -55:2 - 10.2 52.8+6.2
.Dosis pemakaian PGF2 alpha secara intra uterin telah dicoba oleh Inskeep (1973) dengan memberilmn sapi-sapi 1.5 sampai 2 mg PGF 2 alpha, dan menghasilkan 60% dari sapi-sa-pi yang diberikan muncul berahi 60 sampai 72 jam setelah pemberian PGF2 alpha.
Donaldson (1977) telah memberikan sapi-sapi dengan PGF 2 alpha secara subcutan dan intra uterin. Hasilnya menun-jukkan bahwa pemberian 5 dan 6 mg PGF2 alpha secara intra uterin menghasilkan penyerentakan berahi 70%, dan 74% da-ri sapi-sapi yang dibeda-rikan sedangkan pembeda-rian dengan do-sis 8, 10, 15 dan 20 mg secara subcutan tidak memperlihat kan hasil yang berbeda jauh (tabel 6).
no
1.
2.
3.
Tabel 6. Efek dosis PGF
2 alpha secara intra uterin dan sub-cutan pada pengendalian dan penyerentakan berahi.
Tipe sapi Dosis Aplikasi
Campuran umur 5mg intrauterin 6mg intrauterin Sapi dara
be-rat 270 - 300
Kg. 10 mg Subcutan Sapi induk 10 mg Subcutan 15 mg Subcutan 20 mg Subcutan Sapi dara
be-rat 270 - 300
Kg. 8mg Subcutan 10 mg Subcutan
Jumlah sapi
Sinkro-Perlakuan sinkron nisasi
(%)
333 232 70
222 164 74
40 26 65
58 38 66
58 39 67
58 40 69
10 7 70
10 7 70
32 Dari sini dapat dilihat bahwa pemberian secara subcu-tan pada sapi dara dengan dosis 8 mg lebih efektif diban-dingkan dengan pemberian 10 mg.
Dari uraian diatas maka pemberian PGF
2 alpha secara intra muskuler kurang efektif dibanding dengan pemakaian secara intra uterin dimana dosis yang dipergunakan dengan penyuntikan secara intra muskuler cukup tinggi yaitu 25
-30 rng dibandingkan 1 - 5 mg secara intra uterin, sedangkan harga prostaglandin sangat mahal. Dosis yang tinggi diper-gunakan dengan penyuntikan secara intra muskuler karena prostaglandin ini sebagian besar (80%) akan dihancurkan da-lam paru-paru sedangkan sebagian kecil dipecah dada-lam hati, ginjal dan limpa.
Pemberian PGF
2 alpha untuk pengendalian dan penyeren-takan berahi pada sapi tidak memberikan efek apa-apa pada hewan yang diberikan, dan hewan mempunyai siklus berabi yang sarna seperti hewan yang normal (Louis, et al., 1973; Britt dan Roche, 1980). Sedangkan penyuntikan prostaglandin se-cara berulang-ulang dengan dosis tinggi pada dornba menye-babkan tidak semua dornba yang diberikan akan berahi, hal ini mungkin disebabkan karena
(1). s・ョウゥエセヲゥエ。ウ@ prostaglandin telah berkurang.
(2). Timbulnya anti terhadap prostaglandin, karen a prost a-glandin yang disuntikkan merupakan zat asing bagi tu-buh, sehingga akan menggertak sel B dalam tubuh untuk
*
membentuk anti bodi .
(3). Adanya respon pengaturan anti bodi.
Pengendalian dan penyerentakan berahi merupakan su-atu cara untuk memudahkan pengamatan berahi dan memper-pendek waktu siklus berahi dari pada yang normal. Dan ini dapat dilakukan dengan memberikan hormon estrogen, pros-taglandin, progesteron dan derivatnya atau dengan kombi-nasi diantaranya.
Penggunaan estrogen dalam pengendalian dan penyeren-takan berahi yaitu dengan jalan meregresikan corpus lu-teum. Dosis yang digunakan yaitu 5 mg oestradiol atau 25 sampai 100 mg est ron yang akan menimbulkan berahi 3 - 7 hari setelah pemberian. Pemakaian preparat estrogen
ti-dak disukai karen a disamp.ing menimbulkan efek terjadinya cystic ovari juga angka konsepsinya rendah.
Sedangkan penggunaan progesteron secara intravaginal lebih disukai dibandingkan secara intra muskuler karen a dosis yang dipergunakan lebih rendah. Hasil yang dipero-leh cukup tinggi dimana dengan penyisipan PRIDs selama 9 sampai 14 hari memperlihatkan lebih dari 70% hewanhewan yang diberikan menunjukkan berahi dan angka konsep -sinyapun cukup tinggi. Pada umumnya hewan-hewan yang di-berikan akan menunjukkan berahi 2 sampai 4 hari setelah pencabutan PRIDs.
Pengendalian dan penyerentakan berahi dengan セ・イᆳ
34
Dosis yang dipergunakan yaitu 25 sampai 30 mg secara intra muskuler atau dosis 1 セM 5 mg secara intra uterin, dan sapi akan memperlihatkan berahi 2 sampai 4 hari setelah pembe-rian. Untuk lebih mendapatkan hasil yang memuaskan maka dapat diberikan dengan dua (2) kali pemberian dimana j arak antara pemberian pertama dengan kedua yai·tu 9 sampai 11 ha-rio
Cara lain untuk pengendalian dan penyerentakan berahi dengan hasil yang memuaskan yai tu menggunakan kombinasi an-tara Progesteron dengan prostaglandin atau estrogen. Dima-na Pemakaian kombiDima-nasi antara progesteron dengan PGF
2alpha lebih baik dibandingkan menggunakan kombinasi antara pro-gesteron dengan oestradiol benzoat dimana- disamping angka konsepsi yang lebih baik dengan mempergunakan kombinasi progesteron dengan PGF 2 alpha juga menghasilkan j arak antara mulai berahi dengan pencabutan PRIDs yang lebih pendek.
Anderson, L. L., D. chronisation Heifers. J.
E. Ray and R. L. Nelampy. of oestrus and Conception Anim. Sci., 21 : 449.
1962. Syn-in the Beef
Asdell, S. A. 1968. Cattle Fertility and Sterility. 2nd Edition. Little, Brown and Company. Boston.
Bone, J. F., E. J. Catcott, A. A. Gabel, L. E. Johnsons, and W. F. Relley. 1963. Equine Medicine and Sur-gery. 1st ed. American Veterinary Publication. INQ California.
Britt, J. H. and J. F. Roche. 1980. Induction and Syn-chronisation of Ovulation. In: Reproduction in Farm Animal. ESE. Hafez (editor). 4th ed. Lea and Febiger, Philadelphia.
Burfening, P. J., D. C. Anderson, R. A. ams and R. L. Friedrich. 1978. on of. o・ウエイセウ@ with PGF 2 alpha in of Anlm. SCl., 47 : 999.
Kinkie, J. Willi-Synchronisation Beef Cattle. J.
Cohen, M. S., M. J. Cohn, M. Golimbu and R. S. Hotchkiss 1977. The Effect of Prostaglandins on Sperma Mo-tility. Fertil. Steril., 28 : 78.
Cole, H. H. and P. T. Cupp. 1969. Reproduction in Domes-tic Animal. Academic Press., New York and London. Cumming, I. A., MacPhee, S. R., W. A. Charnley and Y.
Fol-man. 1982. The Time of Oestrus and Ovulation Fol-lowing Various Synchronisation Techniques Using Progesteron Impregnated Intravaginal Devices. Aust. Vet. J., 59 : 14.
Donaldson, L. E. 1977. Synchronisation of Oestrus in Beef Cattle Artificial Breeding Program Using Pros-taglandins F2 alpha. Aust. J. Vet., 53 : 72.
Folman, Y., S. R. MacPhee, I. A. Cumming, I. F. Davis and W. A. Charnley. 1983. Conception Rates in Cow af-ter Various Synchronisation Techniques Using Pro-gesteron Intravaginal Devices. Aust. Vet. J. 60:44. Gangwar, P. C., C. Branton and D. L. Evans. 1964. Effect
of Climates Streess on Ovarian Activity of Dairy Heifers. J. Dairy SCi., 47 : 348 (Abstr.).
36 Greyling. J. P. C. and J. M. Van der Westhuysen. 1980.
The Synchronisation of Oestrus in Sheep. 4. Insemi-nation at Oestrus or on Time Basis. S. Afr. J. Anim. Sci., 10 : 69.
Guyton, A. C. 1961. Text Book Medical Physiology. 2nd ed. W. B. Saunders Company. Philadelphia and London. Hall, J. G., C. Brannon and E. J. Stone. 1959. Estrus, Estrus Cycle, Ovulation Time, Time of Service and Fertility of 'Dairy Cattle Lousianna. J. Dairy Sci. 42 : 1086.
Hansel, W. and R. R. Snook. tionship in the Cow.
1970. Pitutary Ovarium Rela-J. Dairy Sci., 53 : 945.
Hansel, W., P. V. Mal ven and D. L. Blacke. 1961. Oestrus Cycle Regulation in the Bovine. J. Anim. Sci., 20 : 621.
Inskeep, E. K. 1973. Potential Uses of Prostaglandins in Control of Reproductive Cycle of Domestic Animal. J. Anim. SCi., 36 : 1150.
Imori, T. 1967. The Biological of Half Life of Progesteron in the Peripherol Blood of Cow. Jap. J. Vet. SCi., 29 201.
Kazt, R. L. and G. J. Kazt. 1974. Clinical of Considerration.
Prostaglandin Basic and Anesthesiology., 40:471. Lauderdale, J. W. 1972. Effect of Prostaglandins F2 alpha
on Pregnancy and Oestrus Cycle of Cattle. J. Anim. SCi., 35 : 246.
Lauderdale, J. W., B. E. Seguin, J. N. Stellflug, J. R. Ckenault, W. W. Thatcher, C. K. Vincent and A. F. Loyancanno. 1974. Fertility of Cattle Following PGF2 alpha Injection. J. Anim. Sci., 38 : 964.
Loy, R. G., R. G. Zimbelman and L. E. Casida. 1960. Effect Injected Ovarium Hormones on the Corpora Luteum of
the Estrual Cycle in the Cattle. J. Anim. Sci. 19:175. Louis, T. M., H. D. Hafs and B. E. Seguin. 1973.
Progeste-ron, LH, Estrus and Ovulation after Prostaglandins F2 alpha in Heifers. Proc. Soc. Exp. BioI. Med. 143:152. MacPhee, S. R., M. W. Doyle, 1. F. Davis, and W. A. Charnley.
1983. Multiple of Uses of Progesteron Releasing Intra vaginal Devices for Synchronisation of Oestrus and . Ovulation in Cattle. Aust. Vet. J., 60 : 40.
Marinov, U. and J. E. Lovel. 1967. Cells of the Bovine Cervix.
Mc. Cracken •. J. A., J. C. Carlson, M. E. Glew, J. R. Goding, D. T. Baird, K. Green and B. Samuelson. 1972. PGF
2 alpha Identified as Luteolityc Hormone in Sheep. Na-ture New Biology, 238 : 129.
O'Grady, J. P., E. 1. Kohen, R. H. Glass, B. V. Caldwell, W. A. Brock and L. Speroff. 1972. Inhibition of Pro-gesteron Synthesis in vitro by PGF2 alpha. J. Reprod. Fertility, 30 : 153.
Phariss, B. B., S. A. Tillson and R. R. Erickson. 1972.
Prostaglandins in Luteal Function. Recent. Progr. Hor-mone Res., 28 : 51.
Ross, W. S. 1975. Prostaglandins are Coming. In Rede's July 1975 issue pp. 73 - 76. Reder's Digest. Far East Ltd. Hongkong.
Smith, J. F. 1974. Synchronisation of Oestrus in Cattle. N.Z. J. of Agriculture, p. 26 - 31.
Smith, J. F. and K. L. MacMillan. 1978. The Applied and Eco-nomic Aspects of Oestrus Synchronisation in Cattle. New Zaeland Vet.
J.,
26 : 173.Smith, J. F., H. R. Tervit and P. G. Goold. 1980. Synchroni-sation of Oestrus and Ovulation in Beef Cow with Pro-gesteron Releasing Intravaginal Devices (PRIDs) : Effect of Duration of Treatment and of Temporary Calf Removal. Aust. Soc.·of Anim. SCi., 13 : 309.
Sreenan, J. M. 1975. Effect of Long nal Progesterone Treatments on trus and Fertility in He-fers.
and Short Term Intravagi-Synchronisation of
Oes-J. Reprod. Fert. 45:479. Sreenan, J. M. and M. G. Diskin. 1983. Early Embrionic
Mor-tality in the Cow. : It Relationship with Progesteron Concentration. J. Vet. Record, 112 : 517.
Swansons, L. V. and H. D. Hafs. 1970. Luteining Hormone and Prolactine in Heifers.
J.
Dairy Sci., 53:652 (Abstr.). Toelihere, M. R. 1981a. Diktat Kuliah Ilmu Kemajiran padaTernak Sapi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Per-tanian Bogor.
1981b. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa - Bandung.
Van Blacke, H., M. A. Brunner and W. Hansel. 1963. Use of 6-chloro-6-dehydro-17-acetoxyprogesteron (CAP) in Oes-trus Cycle Synchronisation of Dairy Cattle. J. Dairy Sci., 46 : 459.
Watson, A. M. and J. C. Walker. Prostaglandins with Level N. Z. Vet. J., 25 : 366.
38 Wilson, L. L., N. J. Simpson, J, M. Stout and W. H. Rishel.
1969. Synchronisation of Oestrus in Beef Heifers with MGAR. J. Anim. Sci., 28 : 878.
Wiltbank, J. N., J. E. Ingells and W. W. Rowden. 1961. Effect of Various Form and Level of Oestrogens alone or in Combination with Gonadotrophines on the Oestrus Cycle of Beef Heifers. J. Anim. Sci., 20 : 341. Wiltbank, J. N., J. C. Sturges, D. E. Le Fever and L. C.
Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semes-ta alamo
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 4. Yang menguasai hari kemudian.
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya Engkaulah kami mohon ー・イエッャッョセ@
an.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus. 7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan ni'mat kepada me-reka; bukan jalan mereka yang dimur-kai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(Al Faatihah)
PENGENDALIAN DAN PENYERENTAKAN BERAHI
PADA SAPI
SKRIPSI
ol€b
MUHAMMAD SYIBLI
B. 16Q193
FAKUL TAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOG OR
MUHAMMAD SYIBLI. Pengendalian dan Penyerentakan Berahi pada Sapi (di bawah bimbingan R. KURNIA ACHJADI).
Dewasa ini kebutuhan akan protein hewani masih belum terpenuhi, maka salah satu cara untuk mengetasinya yaitu dengan meningkatkan populasi ternak. Pengendalian dan pe-nyerentakan berahi merupakan suatu cara untuk mempermudah pengamatan berahi pada ternak dan memperpendek siklus be-rahi dari ternak. Pengendalian dan penyerentakan berahi dapat digunakan dengan menggunakan hormonal ataupun non-hormonal.
Penggunaan estrogen dalam pengendalian dan penyeren-takan berahi karena dapat meregresikan corpus luteum. Dengan dosis 5 mg estradiol atau 25 - 100 mg est ron akan menimbulkan berahi 3 sampai 7 hari setelah pemberian.
Sedangkan penggunaan progesteron karen a dalam jumlah yang tinggi dalam darah akan menghambat pelepasan hormon LH sehingga ovulasi dan berahi tidak terjadi. Penyisipan Progesteron Releasing Intravaginal Devices (PRIDs) selama 9 sampai 14 hari akan memberikan hasil yang cukup memuas-kan, dimana hewan-hewan yang diberikan akan muncul berahi 2 sampai 4 hari setelah PRIDs dicabut.
PENGENDALI AN DMl PENYERENT P.KAN BERAH I
P !I,DP. SP.P I
OLEH
muhamセQad@
SYIBLI
B. 160193
SI(R I PS I
Sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Dokter Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PADA SAPI
SKRIPSI
oleh
MUHAMMAD SYIBLI
B.
160193
(Sarjana Kedokteran Hewan 1983)
Telah Diperiksa dan disetujui
oleh :
,
(Drh. R.
KURNIA ACBJADI, !viS)
Ibsen Ilnru Kebidanan dan Reproduksi
Fakul tas Kedokteran Bewan
Institut Pertanian Bogor
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 28 Mei 1960 di Ja-karta, sebagai anak ke lima dari tujuh bersaudara. Ayah bernama Muhammad Fadhil Tasmi dan ibu Salijah.
Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan pada tahun 1972 di Sekolah Dasar Negeri Slipi III pagi, Jakarta. Kemudi-an melKemudi-anjutkKemudi-an ke Sekolah Menengah Pertama Islam Al-Azhar
di Jakarta dan lulus pada tahun 1975. Pada tahun 1979 penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas Islam Al-Azhar,
di Jakarta.
Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kehadi-rat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat serta Bida-yahnya maka skripsi ini dapat diselesaikan.
Pengendalian dan penyerentakan berahi merupakan sua-tu cara unsua-tuk mempermudah mengetahui berahi dan disamping i tu akan memperpendek siklus berahi sehingga dapat mening-katkan populasi dan mutu ternak.
Pada kesempatan ini penulis sampaikan penghargaan dan
ucapan terima kasih kepada Drh. R. Kurnia Achjadi MS yang telah memberikan bimbingan dan saran selama penulisan ini. Juga kepada segenap staf dan pegawai Fakultas Kedokteran Bewan penulis ucapkan banyak terima kasih atas segala blin-bingannya selama penulis be1ajar, begitu pula untuk staf perpustakaan BPT dan BAKITWAN yang te1ah memberikan
bantu-an selama penulisbantu-an ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh da-ri sempurna, walaupun demikian semoga apa yang dituangkan dalam skripsi ini bermanfaat bagi mereka yang memerlukan.
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
PENDAHULUAN
DAFTAR
IS I
SIKLUS REPRODUKSI HEWAN BET INA
Siklus Berahi
Tanda-tanda dan Lama Berahi pada Sapi . . . .
Ovulasi
Horman-harmon Siklus Berahi
PENGENDALIAN DAN PENYERENTAKAN BERAHI
Penggunaan Estrogen Penggunaan Progesteron Penggunaan Prostaglandin
KESIMPULAN
DAFTAR PUS TAKA
Halaman iv
v vi vii
1
4
4
6
9
10 13 14 19 25 33
Nomor
Teks
1. Lama siklus berahi dan waktu ovulasi pada sapi
2. Efek dosis rendah estradiol valeret pada regresi corpus luteum, berahi dan ovulasi
3. Waktu berahi setelah pencabutan PRIDs angka konsepsi pada sapi yang
diberi-Halaman
9
18
kan PGF
2 alpha dan estradiol benzoat 23 4. Hasil pengamatan pemakaian PRIDs yang
berulang-ulang selama 9 hari dan di-kombinasikan dengan 0.5 mg PGF
2 alpha
sebelum PRIDs dicabut . . . 24 5. Waktu berahi yang ditimbulkan oleh
penyuntikan PGF
2 alpha 2 kali yang di berikan dengan perbedaan pemberian Efek dosis PGF
2 alpha secara intra u-terin dan subcutan pada pengendalian 6.
dan penyerentakan berahi
30
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Rumus bangun (kimia) macam-macam estrogen yang terdapat pada ma-malia
2. Gugus fungsional prostaglandin .. 3. Rumus molekul prostaglandin F2
alpha
4. Kemungkinan mekanisme PGF2 alpha pada proses luteolisis . . . .
15
27
27