• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Terhadap Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion, dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011 – 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbedaan Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Terhadap Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion, dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011 – 2014"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN PROPORSI LEBAR GIGI ANTERIOR

RAHANG ATAS TERHADAP KONSEP

GOLDEN

PROPORTION, PRESTON’S PROPORTION,

DAN

RED PROPORTION

PADA MAHASISWA

INDONESIA FKG USU ANGKATAN

2011

2014

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

VANDERSUN LESTARI NIM: 110600049

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Prostodonsia Tahun 2015

Vandersun Lestari

Perbedaan Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Terhadap Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion, dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011 – 2014

xiv + 58 Halaman

(3)
(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan

di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 26 Juni 2015

Pembimbing: Tanda tangan

Syafrinani, drg., Sp. Pros(K) ...

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji

pada tanggal 26 Juni 2015

TIM PENGUJI

KETUA : Dwi T. Putranti, drg., MS

ANGGOTA : 1. Syafrinani, drg., Sp. Pros(K)

2. Ricca Chairunnisa, drg., Sp.Pros

(6)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta, yaitu Ayahanda Taufik Lestari Lim dan Ibunda Lina Chiuman yang telah membesarkan, memberikan kasih sayang yang tidak terbalas, doa, nasehat, semangat, dan dukungan baik moril maupun materil kepada penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada keempat abang dan kakak penulis Starlim Lestari Lim, Lyrian Lim, Jacqueline Lim, dan Funken Lim yang senantiasa memberikan semangat dan dukungan kepada penulis selama penulisan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan, bimbingan, serta saran dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih serta penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Syafrinani, drg., Sp.Pros(K) selaku Ketua Departemen dan dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan, saran, nasehat, dorongan, serta meluangkan waktu, tenaga, pemikiran dan kesabaran kepada penulis selama penelitian dan penulisan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

2. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

(7)

4. Dwi Tjahyaning Putranti, drg., M.S. selaku Pembantu Dekan II Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan ketua tim penguji skripsi yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ricca Chairunnisa, drg., Sp.Pros dan Siti Wahyuni, drg selaku anggota tim penguji yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat menjadi lebih baik.

6. Yendriwati, drg., M.Kes. selaku penasehat akademik yang telah memberikan bimbingan dan motivasi selama masa pendidikan maupun selama penulisan skripsi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

7. Seluruh staf pengajar serta pegawai Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara atas motivasi dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini hingga selesai.

8. Sahabat-sahabat terbaik penulis William Njomin, Caleb Darlius, Andre Winata, Agus Wijaya, Calson, Catherine, Cherlin Wade, Debby Claudi, Furianti, Wirianto, Fransdinata, Jefry Kusuma, Kevin Effendi, Sutanto, Fredysen W Megosurya, Alvin Leonardi, Jennifer Limurti, Christina Kosasih, Ingrid Patricia Khosalim, Sumery, Novia H.H, Fenny, Fellicia Lestari, Melissa Oei, Jessica Winata, Dwi Rizki Rahmahwati, Vannya Adissya, Melvin, Wilson Hartanto, Julia Maharani dan juga teman-teman angkatan 2011 serta senior dan junior yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas segala bantuan, perhatian, dukungan, dan dorongan semangat yang diberikan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

(8)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena masih terdapat keterbatasan ilmu yang penulis miliki, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Akhir kata, penulis mengharapkan agar skripsi ini dapat berguna bagi pengembangan disiplin ilmu Departemen Prostodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, dan masyarakat.

Medan, 26 Juni 2015 Penulis,

(9)

Halaman

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 5

1.3 Rumusan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 6

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 6

1.5.2 Manfaat Praktis ... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Golden Proportion ... 8

2.1.1 Definisi ... 8

2.1.2 Sejarah ... 9

2.1.3 Alat ... 10

2.1.4 Penggunaan ... 12

(10)

2.1.4.2 Golden Proportion pada Gigi Anterior ... 14

2.1.4.2.1 Proporsi Lebar Gigi Insisivus Sentralis, Insisivus Lateralis Dan Kaninus Rahang Atas ... 14

2.1.4.2.2 Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas dengan Empat Gigi Anterior Rahang Bawah ... 15

2.1.4.2.3 Proporsi Lebar Delapan Gigi Anterior Rahang Atas terhadap Lebar Senyum .... 16

2.1.4.2.4 Proporsi Panjang dan Lebar kedua Insisivus Sentralis Rahang Atas ... 16

2.2 Konsep Preston’s Proportion ... 17

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion, dan RED Proportion ... 22

2.4.1 Ras ... 22

3.4 Variabel dan Definisi Operasional ... 33

3.4.1 Variabel ... 33

3.4.1.1 Variabel Bebas ... 33

3.4.1.2 Variabel Terikat ... 33

3.4.1.3 Variabel Terkendali ... 33

3.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali ... 33

(11)

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian ... 36

3.5.1 Tempat Penelitian ... 36

3.5.2 Waktu Penelitian ... 36

3.6 Alat dan Bahan Penelitian ... 37

3.7 Metode Pengumpulan Data/Pelaksanaan Penelitian ... 38

3.7.1 Ethical Clearance ... 38

3.7.2 Pemilihan Sampel ... 39

3.7.3 Informed Consent ... 39

3.7.4 Pemotretan Foto Gigi Anterior Rahang Atas ... 39

3.7.5 Pengukuran Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas . 40 3.8 Analisis Data ... 41

3.9 Kerangka Operasional ... 42

BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Rerata Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin .... 43

4.2 Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44

4.3 Perbedaan Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas dengan Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44

BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Rerata Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin .... 46

5.2 Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin ... 48

5.3 Perbedaan Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas dengan Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin ... 49

(12)

6.2 Saran ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 55

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Penentuan RED proportion berdasarkan tinggi gigi yang berbeda 22

2 Definisi Operasional Variabel Bebas... ... 34

3 Definisi Operasional Variabel Terikat ... 34

4 Definisi Operasional Variabel Terkendali ... 35

5 Definisi Operasional Variabel Tidak Terkendali ... 36

6 Rerata lebar gigi-geligi anterior rahang atas pada laki-laki dan perempuan (mm) ... 43

7 Rerata proporsi gigi-geligi anterior rahang atas laki-laki dan perempuan ... 44

8 Perbedaan proporsi gigi-geligi anterior rahang atas terhadap konsep estetik ... 45

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Konsep golden proportion ... 9

2 Golden proportion calipers ... 11

3 Levin’s diagnostic grid ... 12

4 Proporsi wajah vertikal ... 12

5 Proporsi wajah transversal ... 13

6 Proporsi wajah eksternal ... 13

7 Konsep golden proportion pada gigi insisivus sentralis, insisivus lateralis dan kaninus rahang atas ... 14

8 Kalkulasi konsep golden proportion pada gigi anterior rahang atas dengan anggapan lebar insisivus sentralis adalah x ... 15

9 Proporsi lebar gigi anterior rahang atas dan empat gigi anterior rahang bawah ... 15

10 Golden proportion grid ... 16

11 Golden rectangle pada kedua insisivus sentralis ... 17

12 Perbandingan Preston (natural) proportion dengan golden propotion.... ... 18

13 Kalkulasi konsep Preston’s proportion pada gigi anterior rahang atas dengan anggapan lebar insisivus sentralis adalah x ... 18

14 Konsep RED Proportion ... 21

(15)

16 Ras Kaukasoid ... 25

17 Ras Negroid ... 26

18 Alat dan Bahan penelitian ... 38

19 Posisi sampel saat pengambilan foto ... 39

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Data Personalia Peneliti

2 Ethical Clearance

3 Lembar Penjelasan kepada Calon Subjek Penelitian

4 Informed Consent

5 Kuesioner Penelitian

(17)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Prostodonsia Tahun 2015

Vandersun Lestari

Perbedaan Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Terhadap Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion, dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011 – 2014

xiv + 58 Halaman

(18)
(19)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya gigitiruan. Masyarakat mulai berusaha mengganti gigi yang hilang dengan gigitiruan. Berbagai studi telah menyatakan bahwa orang-orang lebih peduli saat kehilangan gigi anterior dan berusaha menggantinya daripada gigi posterior. Hal ini umum terjadi karena estetik gigi sering dianggap lebih penting daripada fungsinya.1

“Senyuman” adalah salah satu aspek estetis penting yang tidak hanya membuat wajah terlihat cantik dan menarik, tetapi juga menjadi faktor yang paling umum dalam memotivasi pasien untuk mencari perawatan dental2-4, namun penilaian suatu senyuman dikatakan cantik masih belum pasti diperoleh dari suatu pengukuran, atau hanya murni berdasarkan persepsi dan kesadaran orang yang menilai.2

(20)

Konsep golden proportion didasari oleh teori yang menyatakan adanya hubungan antara keindahan alam dan matematika.5,6 Konsep ini menunjukkan adanya suatu proporsi konstan antara panjang bagian yang besar dengan bagian yang kecil pada setiap keindahan7, yaitu 1 : 0,618 (atau 1,618 : 1) sebagai bentuk paling sederhana yang diakui secara universal8, dan dapat ditemukan tidak hanya pada elemen geometrik, tetapi juga pada subjek yang hidup seperti tubuh manusia.9 Saat diaplikasikan pada ilmu kedokteran gigi, konsep golden proportion berbunyi : Setelah melakukan pengukuran gigi-geligi anterior rahang atas dari arah frontal, dan menganggap lebar insisivus lateralis adalah 1, maka lebar gigi kaninus dibandingkan dengan insisivus lateralis adalah 0,62, sedangkan lebar insisivus sentralis dibandingkan dengan insisivus lateralis adalah 1,62.6,10,11 Relasi spesifik ini bersifat unik, sempurna, ideal, dan telah digunakan dari dahulu untuk mempelajari keindahan, hingga desain daripada restorasi yang estetik. Keunikan konsep ini adalah rasio daripada bagian yang lebih kecil saat dibandingkan dengan bagian yang lebih besar, adalah sama dengan rasio saat bagian yang lebih besar dibandingkan dengan keseluruhan bagian.11

(21)

Preston (1993) yang mempelajari frekuensi adanya golden proportion pada gigi-geligi asli rahang atas secara antero posterior, dan menemukan bahwa golden proportion jarang ditemukan pada susunan gigi-geligi asli, yaitu hanya 17% subjek yang memiliki ukuran lebar gigi insisivus lateralis rahang atas bersifat golden proportion terhadap gigi insisivus sentralis rahang atas, dan tidak ada subjek yang memiliki ukuran lebar kaninus rahang atas yang bersifat golden proportion terhadap lebar insisivus lateralis rahang atas.1,5,11,13,14 Preston juga melaporkan rata-rata rasio insisivus lateralis dengan sentralis rahang atas adalah 0,66, dan rata-rata rasio kaninus dengan insisivus lateralis rahang atas adalah 0,84.1 Penemuan ini yang memunculkan Preston’s proportion, dimana lebar insisivus lateralis rahang atas seharusnya 66% dari lebar insisivus sentralis rahang atas, dan lebar kaninus rahang atas seharusnya 55% dari lebar insisivus sentralis rahang atas pada pandangan frontal.5

(22)

Salah satu kesulitan utama dalam menerapkan estetika pada pembuatan gigitiruan penuh adalah menentukan seberapa besar atau lebar anasir gigi insisivus rahang atas untuk mendapatkan lebar senyuman yang proporsional.7,15-18 Berbagai jenis teori mengenai proporsi gigi telah dikemukakan dapat mengukur lebar relatif gigi anterior rahang atas yang harmonis.6 Banyak literatur (Levin, 1978, 2011; Shoemaker, 1987; Chiche, 1994; Baratieri, 1995; Singh R dkk, 2008; Paul MMC dkk, 2008; Parveen N, 2009; Nikgoo dkk, 2009) yang mendukung Golden proportion sebagai pedoman dalam mencapai restorasi yang estetik.2,7-9 Hasil memuaskan yang didapat saat menggunakan konsep ini, membuat konsep golden proportion banyak diajari di seluruh belahan dunia (Rabanus, 2003; Edward P, 2008)7. Tetapi bagi beberapa penelitian (Gillen dkk, 1994; Mahshid dkk, 2004; Fayyad MA dkk, 2006; Sulaiman E, dkk 2010; Chander NG dkk, 2012; Al-Marzok dkk, 2013; Forster A dkk, 2013), konsep golden proportion jarang ditemukan pada gigi-geligi asli.1,3,10,11,13,19,20 Hal ini membuat banyak studi masih mempertanyakan validitas aplikasi konsep golden proportion dalam bidang kedokteran gigi selama 2 dekade terakhir.10 Seperti golden proportion, konsep RED proportion juga memiliki literatur yang mendukungnya (Basting dkk, 2006)21. Sebuah studi menunjukkan mayoritas dokter gigi di Amerika Utara memilih penggunaan RED proportion pada gigi dengan ukuran normal daripada golden dan Preston’s proportion (Ward DH, 2007, 2008).6,22 Namun, beberapa penelitian (Fayyad MA dkk, 2006; Shreenivasan 2008; Shetty S dkk, 2011) juga menyatakan konsep RED proportion tidak ditemukan pada subjek penelitian mereka dan tidak dapat menjadi metode yang cocok untuk menentukan lebar gigi-geligi anterior rahang atas.5,13

(23)

atau RED proportion. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (Daulay NW, 2009; Jennifer, 2012; Prima F, 2014) juga menunjukkan adanya variasi rata-rata proporsi lebar gigi-geligi asli anterior rahang atas pada penduduk Indonesia. Variasi proporsi ini dimungkinkan karena adanya pengaruh ras dan jenis kelamin terhadap ukuran gigi dan telah terbukti bahwa terdapat perbedaan ukuran gigi antara ras Mongoloid dengan Kaukasoid.23-25

1.2Permasalahan

Estetika dentofasial dianggap sangat penting untuk psikososial seorang individu. Seseorang dengan gigi-geligi yang rapi dan normal dinilai lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain, dibandingkan dengan orang yang gigi-geliginya tidak rapi ataupun maloklusi. Orang-orang dengan estetika gigi yang jelek sering dihubungkan dengan masalah percaya diri, dan dianggap tidak efektif dalam bersosial, edukasional, dan dalam hal pekerjaan. Saat interaksi antar individu, pada umumnya mata seseorang akan melihat mata dan mulut orang yang dihadapinya, dan kurang memerhatikan hal lainnya. Oleh karena itu, bukanlah hal yang mengejutkan bila masyarakat umum menilai senyuman sebagai peringkat kedua setelah mata, dalam mempertimbangkan hal terpenting pada estetika wajah.

Ukuran, bentuk, dan posisi daripada gigi-geligi khususnya insisivus sentralis memegang peran penting untuk menciptakan keharmonisan gigi anterior dan senyuman yang menarik, yang tidak terbatas hanya pada gigi asli, tetapi juga gigitiruan khususnya saat pemilihan dan penyusunan anasir anterior rahang atas. Beberapa konsep seperti golden proportion, Preston’s proportion dan RED proportion telah disarankan berbagai studi dan peneliti untuk digunakan sebagai konsep estetik dalam melakukan restorasi gigi anterior, tetapi masih banyak studi yang meragukan dan mempertanyakan validitas aplikasi setiap konsep estetik tersebut selama 2 dekade terakhir sehingga belum dapat ditentukan sebuah konsep estetik yang dapat berlaku secara universal.

(24)

golden proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014.

1.3Rumusan Masalah

1. Berapa rerata lebar gigi anterior rahang atas mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin?

2. Bagaimana rerata proporsi lebar insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis dan proporsi lebar kaninus terhadap insisivus lateralis rahang atas pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin?

3. Apakah ada perbedaan rerata proporsi lebar insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis dan proporsi lebar kaninus terhadap insisivus lateralis rahang atas dengan konsep golden proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui rerata lebar gigi anterior rahang atas mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin

2. Untuk mengetahui rerata proporsi lebar insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis dan proporsi lebar kaninus terhadap insisivus lateralis rahang atas pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin 3. Untuk mengetahui perbedaan proporsi lebar insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis dan proporsi lebar kaninus terhadap insisivus lateralis rahang atas dengan konsep golden proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin

1.5Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

(25)

2. Sebagai masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran gigi dalam mengenal proporsi gigi-geligi anterior rahang atas pada penduduk Indonesia

1.5.2 Manfaat Praktis

(26)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Golden Proportion 2.1.1 Definisi

Golden proportion merupakan suatu konsep proporsi matematis spesifik yang diperoleh dari relasi antara matematika dan keindahan alami.6,26 Proporsi ini dikatakan“golden”, karena sangat cocok saat diaplikasikan pada berbagai keindahan benda maupun alam.2,7 Nilai dari golden proportion merupakan angka ideal yang didapat apabila membandingkan panjang dari sesuatu yang estetis, indah dan sempurna.2 Golden proportion juga dikenal dengan beberapa istilah lain, yaitu phi(Φ), golden ratio, golden section, golden rectangle, Aurea proportion, divine proportion, magical proportion, divine ratio, Fibonacci numbers, Fibonacci

series.1,2,8,9,12,14,21

(27)

Gambar 1. Konsep golden proportion.8

2.1.2 Sejarah

Konsep golden proportion telah banyak digunakan oleh banyak seniman, pemusik, ahli matematis dan ahli filosofi. Para ahli pada zaman Yunani kuno sering dikenal sebagai penemu golden proportion.26 Mereka terdorong untuk merumuskan kecantikan sebagai prinsip matematis yang tetap. Mereka percaya bahwa kecantikan dapat dihitung dan dipresentasikan dalam bentuk formula.27 Hal ini yang mendorong Plato untuk mengusulkan Beautiful proportion6, Phytagoras (560-480 SM) mengusulkan dan menciptakan Golden proportion pada abad ke 6 SM, yang disetujui oleh ahli geometrik Yunani Euclid (365-300 SM).1,7,9,12,27 Kedua ide menyatakan bahwa sebuah objek yang memiliki proporsi spesifik, maka dipandang memiliki kecantikan dari dalam.27

(28)

Walaupun terdapat perdebatan tentang asal usulnya, proporsi ini jelas terdapat pada budaya Mesir, Yunani, Roman, Gothic, dan Renaissance. 1,26

Golden proportion juga terdapat dalam bidang kesenian. Seniman terkenal seperti Michaelangelo, Raphael, Leonardo da Vinci menggunakan konsep ini.1,7,26 Bukti-bukti juga memberikan sugesti bahwa musik klasik yang diciptakan Mozart, Beethoven, dan Bach juga berhubungan dengan Golden proportion. Tidak diketahui apakah penggunaan golden proportion oleh para seniman dan musisi tersebut dilakukan secara sadar, intuisi, ataupun ketidaksengajaan.26 Leonardo Pisano, ahli matematika Itali, memberikan pandangan yang mendukung Golden proportion, dalam seri angka-angkanya (the enigmatic Fibonacci sequence).12

Pada abad ke-19, seorang ahli matematika Prancis dan ilmuwan Edouard Lucas mendokumentasikan Golden proportion yang terdapat di alam. Arsitek Prancis Le Corbusier (1954) juga menerapkan konsep ini pada arsitektur modern. Sekarang, desain bangunan, lemari, mobil, hingga senyuman juga menggunakan konsep Golden proportion.7,26

Penerapan konsep golden proportion dalam kedokteran gigi pertama kali dipelopori oleh Lombardi (1973), dimana dijelaskan bahwa proporsi lebar insisivus lateralis dengan insisivus sentralis, dan proporsi lebar kaninus dengan insisivus lateral merupakan proporsi berulang.1,6,9,12,13,19 Levin (1978) menyarankan penggunaan golden proportion untuk mendapatkan lebar gigi anterior rahang atas yang sempurna saat dilihat dari arah fasial.1-3,8,9,11-13,19Golden proportion yang disarankan oleh Levin telah diusulkan dalam banyak artikel dan buku sebagai guideline estetik dalam merestorasi serta mengganti gigi-geligi anterior rahang atas.7,19

2.1.3 Alat

(29)

digunakan, golden proportion calipers akan melebar secara konstan dimana porsi antara bagian yang lebih besar dengan yang lebih kecil akan selalu dalam keadaan golden proportion. Kaliper ini juga berguna untuk mempermudah dan mempercepat penentuan validitas golden proportion (Gambar 2).2,8

Levin juga membuat sebuah sistem penggarisan dengan ruang-ruangnya mengikuti golden proportion yang dinamakan Levin’s diagnostic grid atau golden proportion grid,2,7,8,14 dan menyarankan sistem ini digunakan untuk mengevaluasi dan membentuk gigi anterior dengan proporsi yang baik dan harmonis (Gambar 3). 1-3,8,9,11-13

Gambar 2. Golden proportion calipers.7,12,14 A. Ricketts golden divider.

B. Golden mean gauge/ Golden proportion ruler.

C. Penggunaan golden proportion calipers pada garis lurus.

A B

(30)

Gambar 3.Levin’s diagnostic grid. 8,12

2.1.4 Penggunaan

2.1.4.1 Golden Proportion pada Wajah

Pada wajah seseorang yang ideal, konsep golden proportion meliputi proporsi wajah vertikal (Gambar 4), proporsi wajah horizontal atau transversal (Gambar 5) dan proporsi wajah eksternal (Gambar 6).18,28

Gambar 4. Proporsi wajah vertikal.

A. TRI= Trichion,LN = Lateral Nose, ME= Menton, LC= Lateral Canthus of the eyes, CH= Cheilion corner of the mouth.28

B. Golden proportion tampak dari trichionke mata dan mata ke dagu (menton.)29

(31)

Gambar 5. Proporsi wajah transversal.

A.TS= Temporal soft tissue, LC = Lateral canthus of the eyes, LN= Lateral Nose, CH= Cheilion corner of the mouth).28

B. Golden proportion tampak pada pengukuran proporsi lebar hidung dengan lebar bibir (tanpa mengubah keadaan alat).29

Gambar 6. Proporsi wajah eksternal (TH = Top of the Head, ME = Menton).28

(32)

2.1.4.2 Golden Proportion pada Gigi Anterior

2.1.4.2.1 Proporsi Lebar Gigi Insisivus Sentralis, Insisivus Lateralis, dan Kaninus Rahang Atas

Menurut Levin, konsep golden proportion pada gigi anterior rahang atas bila dilihat dari depan yaitu:2

1. Lebar insisivus sentralis 1,618 kali lebih besar daripada lebar insisivus lateralis

2. Lebar insisivus lateralis 1,618 kali lebih besar daripada lebar kaninus 3. Lebar kaninus 1,618 kali lebih besar daripada lebar premolar pertama Misalkan lebar insisivus lateralis adalah 1, maka dapat disimpulkan rasio lebar gigi insisivus sentralis berbanding insisivus lateralis berbanding kaninus adalah 1,618 : 1 : 0,618 (Gambar 7)27, atau misalkan lebar insisivus sentralis rahang atas adalah x, maka lebar insisivus lateralis adalah 0,62x, dan lebar kaninus adalah 0,38x (Gambar 8).5,6

Gambar 7. Konsep golden proportion pada gigi insisivus sentralis, insisivus lateralis dan kaninus rahang atas.7,27

A. Pandangan frontal. B. Pandangan oklusal.

!

(33)

Gambar 8. Kalkulasi konsep golden proportion pada gigi anterior rahang atas dengan anggapan lebar insisivus sentralis adalah x. 5,6

2.1.4.2.2 Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas dengan Empat Gigi Anterior Rahang Bawah

Konsep golden proportion saat diterapkan pada gigi anterior rahang atas dengan rahang bawah, maka lebar keseluruhan gigi anterior rahang atas yang terlihat diantara titik insisial kaninus adalah 1,618 kali lebih besar daripada empat gigi insisivus rahang bawah (Gambar 9). 11,29

Gambar 9. Proporsi lebar gigi anterior rahang atas dan empat gigi anterior rahang bawah.29

1,618

(34)

2.1.4.2.3 Proporsi Lebar Delapan Gigi Anterior Rahang Atas terhadap Lebar Senyum

Konsep golden proportion saat diterapkan diantara segmen estetik gigi anterior rahang atas dengan lebar senyum, maka lebar senyum terlihat 1,618 kali lebih besar dari lebar delapan gigi anterior rahang atas jika dilihat dari arah depan (Gambar 10).2,7,12

Gambar 10. Golden proportion grid.7,12

2.1.4.2.4 Proporsi Panjang dan Lebar kedua Insisivus Sentralis Rahang Atas

(35)

Gambar 11. Golden rectangle pada kedua insisivus sentralis.2,8

2.2 Konsep Preston’s Proportion 2.2.1 Definisi

Berbagai ilmuwan telah mengindikasikan bahwa golden proportion tidak selalu ada, dan berbagai variasi sering muncul pada gigi-geligi asli.27 Salah satu konsep proporsi yang mencoba menyesuaikan variasi-variasi tersebut adalah Preston’s proportion atau yang juga sering disebut naturally occurring proportion6. Konsep ini merupakan salah satu bentuk modifikasi konsep golden proportion oleh Preston (1993) (Gambar 12).5

(36)

Gambar 12. Perbandingan Preston (natural) proportion dengan golden propotion. 6

Gambar 13. Kalkulasi konsep Preston’s proportion pada gigi anterior rahang atas dengan anggapan lebar insisivus sentralis adalah x.5

2.2.2 Sejarah

(37)

Penelitian yang dilakukan oleh Preston adalah mengukur 58 gambar model stone rahang atas dan bawah yang dihasilkan oleh komputer dan 52 model stone asli dengan program pengukur gambar dan kaliper khusus yang telah dimodifikasi, lalu frekuensi yang memenuhi konsep golden proportion dievaluasi (dengan membuat rentang 0,61-0,63) pada rasio lebar insisivus lateralis rahang atas terhadap insisivus sentralis, dan kaninus trahang atas terhadap insisivus lateralis.1,14 Hasil dari penelitiannya adalah :14

1. Golden proportion (1,618 : 1) tidak ditemukan memiliki hubungan antara lebar insisivus sentralis rahang atas dengan insisivus lateralis rahang bawah.

2. Golden proportion ditemukan memiliki hubungan antara lebar insisivus sentralis rahang atas dengan insisivus sentralis rahang bawah hanya sebesar 25% dari materi yang disurvei.

3. Golden proportion ditemukan memiliki hubungan antara lebar insisivus sentralis rahang atas dengan insisivus lateralis hanya pada 10 dari 58 gambar (17%).

4. Golden proportion tidak ditemukan pada lebar insisivus lateralis rahang atas dengan kaninus.

2.2.3 Penggunaan

Konsep Preston’s Proportion digunakan untuk menentukan proporsi lebar gigi anterior rahang atas. Sebuah turunan rumus matematis dapat digunakan untuk menghitung lebar insisivus sentralis, dengan mengukur jarak interkaninus dari arah depan dihitung terlebih dahulu. Rumusnya adalah sebagai berikut:6

Preston Central Insisor Width (CIW) =

))

2.3 Konsep RED Proportion 2.3.1 Definisi

(38)

seiring ke arah distal dari midline, dimana rasio hasil perbandingan lebar pandangan frontal gigi insisivus lateralis dengan insisivus sentralis rahang atas akan sama dengan rasio hasil perbandingan lebar pandangan frontal gigi kaninus dengan insisivus lateralis rahang atas.6,13 Konsep ini didasari oleh pertimbangan adanya perbedaan tinggi gigi-geligi anterior rahang atas setiap individu yang tidak pernah dipertimbangkan oleh konsep-konsep proporsi sebelumnya,5 dan pernyataan Lombardi yang mengusulkan adanya rasio berulang (repeated ratio / continuous proportion) pada lebar insisivus sentralis dan lateralis rahang atas.12 Ward juga menyatakan bahwa RED proportion lebih konsisten dalam penggunaannya dibandingkan dengan golden proportion pada saat mengevaluasi estetika pada lengkung rahang.12,16

2.3.2 Sejarah

(39)

Gambar 14. Konsep RED Proportion.

A.Konsep 70% RED Proportion.

B. Perbandingan konsep 70% RED proportion dengan konsep Goldenproportion.6

2.3.3 Penggunaan

Konsep RED Proportion digunakan untuk menentukan proporsi lebar gigi rahang atas. Nilai proporsi ini dikalkulasi dengan membagi lebar dari setiap insisivus lateralis rahang atas dengan gigi insisivus sentralis rahang atas di sebelahnya dan dikali dengan 100, dan lebar dari setiap gigi kaninus rahang atas dibagi dengan lebar gigi insisivus lateralis di sebelahnya, dan dikali dengan 100. Jika nilai yang didapat adalah konstan, maka insisivus sentralis, insisivus lateralis dan kaninus rahang atas termasuk kedalam konsep RED proportion.13

Sebuah rumus matematis dapat digunakan untuk menghitung lebar gigi insisivus sentralis rahang atas, untuk semua nilai RED proportion, dengan terlebih dahulu menghitung lebar jarak interkaninus dari arah depan. Rumusnya adalah sebagai berikut :6

RED Central Insisor Width (CIW) =

)

(40)

Nilai RED proportion pada rumus di atas dinyatakan dalam bentuk desimal lebih kecil dari 1, dan dapat berbeda pada setiap orang, selama nilai RED proportion yang digunakan selalu sama pada satu senyuman individual yang sama.6 Untuk gigi yang tinggi ataupun pendek, nilai RED proportion dapat disesuaikan (Tabel 1).

Tabel 1. Penentuan RED proportion berdasarkan tinggi gigi yang berbeda.5

Tinggi gigi RED Proportion yang diinginkan (%)

Sangat tinggi 62

Tinggi 66

Normal 70

Pendek 75

Sangat Pendek 80

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion, dan RED Proportion

2.4.1 Ras

(41)

Ras yang terdapat di dunia secara umum diklasifikasikan menjadi Kaukasoid, Mongoloid, Negroid, dan Australoid (penduduk asli Australia / Aborigin). Karakteristik yang membedakan ras yang satu dengan yang lain dapat berupa warna kulit, rambut, bentuk kepala, bentuk wajah, hidung, mata, tinggi badan, dan gigi-geliginya. Gigi merupakan salah satu sumber informasi yang dapat dipercaya untuk mengindikasikan hubungan seseorang dengan sebuah ras. Menurut Dahlberg, secara umum karakteristik pada gigi dapat berupa ridge, buldge, ukuran dan lokasi cusp, occlusal groove, pit, hingga ukuran mahkota dan akar gigi berguna untuk mengidentifikasi ras seseorang.30 Berdasarkan ilmu antropologi dan dimensi tengkorak, pengelompokan ras terbagi atas Kaukasoid, Negroid, dan Mongoloid atau sering dikenal dengan istilah White, Black and Far Eastern.32

2.4.1.1 Mongoloid

Ras Mongoloid terdiri dari orang-orang yang termasuk dalam sub ras Asia Timur, Asia Utara, dan Native American. Ras ini memiliki karakteristik warna kulit berwarna kuning dengan bulu rambut sedikit, rambut yang lurus dan hitam, mata berbentuk seperti almond, dan tubuh yang kecil. Bagian dunia yang dianggap sebagai tempat asal ras Mongoloid adalah Orients, India bagian timurlaut, dan beberapa negara amerika. Ras ini terbagi atas Neo-Mongoloid dan Paleo-Mongoloid.33 Menurut McCulloch, Indonesia termasuk kedalam ras Mongoloid.34

(42)

Gambar 15. Ras Mongoloid A. Pria

B. Wanita

2.4.1.2 Kaukasoid

Ras Kaukasoid tersebar di berbagai tempat seperti Australia, Afrika Utara, Afrika Selatan, Eropa, dan Pasifik. Tetapi tempat pasti asal dari ras Kaukasoid masih diperdebatkan para ahli antropologi. Ras Kaukasoid terbagi menjadi sub ras Aryans, Semitic, Hamitic, Nordic, Mediterranean, Dinaric, Alpin, Arabid, East Baltic,

Turanid, Iranid, dan Armenoid, dimana pembagian sub ras ini didasari oleh lokasi geografis dan bahasa yang digunakan. Ras Kaukasoid dan seluruh sub ras kaukasoid memiliki karakteristik warna kulit yang terang, berbadan tinggi, rambut lurus dan bergelombang dengan warna kecoklatan hingga gelap, mata sedikit menonjol dengan warna hitam, biru, hijau, coklat, atau abu-abu, dan hidung yang mancung dan tajam.33,36

(43)

Karakteristik gigi-geligi pada ras Kaukasoid antara lain lebih seringnya ditemukan variasi bentuk insisivus lateralis rahang atas seperti chisel shaped, peg-shaped dan Cusp of Carabelli (cusp tambahan pada sisi mesiolingual molar rahang atas dengan frekuensi 35-50% pada gigi Kaukasoid), ukuran gigi lebih kecil, akar gigi lebih lurus dibandingkan gigi-geligi pada ras Mongoloid ataupun Negroid. Lengkung rahang pada ras Kaukasoid cenderung lebih sempit dan berbentuk “V” yang mempertinggi kemungkinan gigi-geligi menjadi berjejal.30,35

Gambar 16. Ras Kaukasoid A. Pria

B. Wanita

2.4.1.3 Negroid

Ras Negroid terbagi sub ras nya menjadi Aborigines, Melanesians, Negritos, Papuans, Dravidians, dsb. Orang-orang dengan ras Negroid secara fisik memiliki karakteristik warna kulit gelap, rambut hitam yang kasar dan keriting, hidung dan kening kepala yang lebar, bibir tebal, berbadan besar dan struktur skeletal yang lebar. Ras Negroid terkenal dengan stamina dan kemampuan bertahan hidup di kondisi lingkungan yang sangat ekstrem, khususnya pada suhu sinar matahari yang sangat

(44)

panas. Bahkan sekarang, jumlah penduduk dengan ras Negroid paling banyak ditemukan di daerah ekuatorial seperti Afrika, dan India Selatan.33

Gigi-geligi pada ras Negroid pada umumnya berukuran lebih kecil, dengan adanya spacing (khususnya midline diastema), juga memiliki kecenderungan bergigi lebih (supernumerary). Pada gigi premolar pertama rahang bawah dapat ditemukan dua hingga tiga cusp. Keberadaan cusp of Carabelli dan shovel shaped incisor jarang ditemukan.30 Molar ketiga selalu ada, dan jarang impaksi. Alveolar prognathism pada rahang atas dan bawah, dan Tuberculum Intermedium (cusp lingual tambahan) juga sering ditemukan pada ras Negroid. 35

Gambar 17. Ras Negroid A. Pria B. Wanita

2.4.2 Jenis Kelamin

Pernyataan jenis kelamin sebagai faktor yang mempengaruhi konsep proporsi gigi anterior masih bersifat kontroversial. Penelitian oleh Alwazzan (1995) menunjukkan bahwa lebar mesiodistal gigi anterior rahang atas pada pria lebih besar daripada wanita.37 Hal ini disetujui oleh Khan SH dkk (2011), dengan menambahkan

(45)
(46)

2.5 Landasan Teori

(47)

2.6 Kerangka Konsep

Perawatan Gigi Prostodonsia

Konsep Estetis melalui Analisa Foto Profil Senyum

Konsep Golden Proportion

Pengukuran proporsi lebar I sentralis : I lateralis : kaninus RA

Pengukuran proporsi lebar I sentralis : I lateralis : kaninus RA

Pengukuran proporsi lebar I sentralis : I lateralis : kaninus RA

Faktor yang Mempengaruhi

Ras Jenis Kelamin

Lebar I lateral = 0,62 x Lebar I sentralis Lebar kaninus = 0,62 x Lebar I lateralis

Lebar I lateral = 0,66 x Lebar I sentralis Lebar kaninus = 0,84 x Lebar I lateralis

Lebar I lateral = 0,70 x Lebar I sentralis Lebar kaninus = 0,70 x Lebar I lateralis

(48)

2.7 Hipotesis Penelitian

1. Ada perbedaan proporsi lebar insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis dengan konsep golden proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011-2014 berdasarkan jenis kelamin.

(49)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang mengumpulkan data ukuran lebar gigi anterior rahang atas dengan pendekatan cross sectional menggunakan foto senyum dari arah frontal sebagai alat pengumpulan data.

3.2 Populasi Penelitian

Mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2011 – 2014.

3.3 Sampel

3.3.1 Kriteria Sampel

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a) Mahasiswa/i Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara angkatan 2011-2014 yang masih aktif kuliah.

b) Merupakan Ras Mongoloid

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Kehilangan gigi anterior rahang atas

b) Terdapat karies atau morfologi yang tidak normal pada gigi anterior rahang atas (erosi, abrasi, fraktur)

c) Terdapat restorasi pada gigi anterior rahang atas, meliputi permukaan fasial, interproksimal atau insisal

d) Susunan gigi yang tidak memuaskan (intrusi, ekstrusi, rotasi, malposisi gigi, gigi berjejal atau diastema)

e) Kondisi jaringan gingiva atau periodontal tidak dalam keadaan sehat f) Memiliki riwayat penggunaan pesawat orthodonti

(50)

h) Pasien yang menolak menjadi subjek penelitian.

3.3.2 Besar Sampel

Pada penelitian ini, pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu sampel dipilih dengan memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan terlebih dahulu. Rumus yang digunakan untuk menentukan besar sampel minimum adalah sebagai berikut:

Dimana,

n = Besar sampel σ2

= Standar deviasi dari penelitian sebelumnya (Prima, 2014)

Zα = Deviat baku alpha, kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 5 % (1,96) Zβ = Deviat baku beta (beta 10% = 1,28)

µ1 - µ2 = selisih hasil penelitian sekarang dengan sebelumnya (10%)

= (0,05592)

= 58,7025… ≈ 59 orang

(51)

3.4 Variabel dan Definisi Operasional 3.4.1 Variabel

3.4.1.1 Variabel Bebas

Variabel bebas yang terdapat dalam penelitian ini adalah : 1. Ras Mongoloid

2. Jenis kelamin

3.4.1.2 Variabel Terikat

Variabel terikat yang terdapat dalam penelitian ini adalah : 1. Lebar insisivus sentralis rahang atas kiri dan kanan 2 Lebar insisivus lateralis rahang atas kiri dan kanan 3. Lebar kaninus rahang atas kiri dan kanan

4. Proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis rahang atas, kiri dan kanan sesuai dengan konsep golden proportion, konsep Preston’s proportion, dan konsep RED proportion

5. Proporsi lebar gigi kaninus terhadap insisivus lateralis rahang atas, kiri dan kanan sesuai dengan konsep golden proportion, konsep Preston’s proportion, dan konsep RED proportion

3.4.1.3 Variabel Terkendali

Variabel terkendali yang terdapat dalam penelitian ini adalah : 1. Kamera digital

(52)

3.4.2 Definisi Operasional

Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Bebas

Tabel 3. Definisi Operasional Variabel Terikat

No Variabel (dua generasi) Indonesia asli atau Indonesia turunan (Ras Mongoloid) dan masih aktif menjalani aktivitas kuliah dan memenuhi kriteria

- - Kuesioner

2. Jenis

Kelamin

Pria dan wanita - Kategorik Kuesioner

No Variabel antara garis vertikal midline ke garis vertikal distal gigi insisivus sentralis (kiri dan kanan) antara garis vertikal mesial ke garis vertikal distal gigi insisivus lateralis (kiri dan kanan) vertikal distal gigi kaninus (kiri dan kanan)

(53)

Tabel 4. Definisi Operasional Variabel Terkendali

lebar gigi insisivus sentralis rahang atas (kiri dan kanan)

terhadap konsep golden

proportion, konsep Preston’s proportion, dan konsep RED

konsep golden proportion,

konsep Preston’s proportion,

Kamera yang digunakan untuk pengambilan foto gigi anterior rahang atas sampel sejajar Frankfort plane sampel

(54)

Tabel 5. Definisi Operasional Variabel Tidak Terkendali

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian 3.5.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Klinik Prostodonsia RSGMP Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3.5.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret hingga April 2015.

No Variabel

4. Komputer Komputer yang digunakan

untuk mengukur lebar gigi saat pengambilan foto, serta pengukuran lebar gigi anterior rahang atas

terjadi saat pemotretan akibat keterbatasan teknik fotografi

(55)

3.6 Alat dan Bahan Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kamera Digital Canon IXUS 950 IS 8.0Megapixels

2. Tripod

3. Measuring tape 5 meter 4. Kursi

5. Laptop HP Pavilion HDX9300 Notebook PC © Hewlett - Packard 6. Microsoft Office Word 2007 (Microsoft Corporation)

7. Microsoft Office Excel 2007 (Microsoft Corporation) 8. ImageJ

9. SPSS version 22.0 (IBM) 10. Printer CanonMX300 11. Pensil 2B

12. Penghapus 13. Pulpen

14. Cheek/ buccal retractor

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Lembar Kuesioner

(56)

(a) (b) (c) (d)

(e) (f) (g)

(h) (i) (j) (k)

Gambar 18. Alat dan Bahan penelitian : a. Kamera Digital Canon IXUS, b. Tripod, c. Measuring tape, d. Kursi, e. Laptop HP Pavilion, f. Printer Canon MX300, g. Pensil, h. Penghapus, i. Pulpen, j. Kertas HVS, k. Tinta printer

3.7 Metode Pengumpulan Data/Pelaksanaan Penelitian 3.7.1 Ethical Clearance

(57)

3.7.2 Pemilihan Sampel

Seluruh mahasiswa/i Indonesia FKG USU angkatan 2011- 2014 yang mewakili ras Mongoloid (Indonesia Asli dan Indonesia Turunan) diberi lembar kuesioner dan dilakukan pemeriksaan klinis secara langsung untuk mendapatkan sampel yang memenuhi kriteria.

3.7.3 Informed Consent

Setiap calon subjek penelitian akan diberikan Lembaran Penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan, dan jika bersedia menjadi subjek penelitian, maka subjek penelitian diwajibkan menandatangani Lembaran Persetujuan Setelah Penjelasan (informed consent) yang sudah disediakan oleh peneliti.

3.7.4 Pemotretan Foto Gigi Anterior Rahang Atas

1. Kamera dan tripod kamera dipersiapkan dan diatur untuk stabilitas dan ketepatan tinggi kamera saat pemotretan

2. Sampel diposisikan di kursi dengan posisi kepala rileks, Frankfort plane sejajar lantai, dan garis median wajah disesuaikan dengan fokus lensa

3. Jarak dari lensa kamera diatur 60 cm dengan menggunakan measuring tape 4. Sampel diminta untuk senyum maksimal hingga bagian servikal gigi anterior rahang atas terlihat, lalu dilakukan pemotretan.

Gambar 19. Posisi sampel saat pengambilan foto: A. Sampel, B. Kamera dan tripod (jarak 60 cm dari sampel dan setinggi Frankfort plane)

60 cm

(58)

3.7.5 Pengukuran Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas

1. Hasil pemotretan foto ditransfer ke dalam komputer, kemudian dilakukan pengukuran foto dengan softwareImageJ

2. Cara pengukuran untuk mendapatkan nilai lebar gigi

a. Pembuatan tanda berupa garis vertikal pada titik paling mesial dan distal dari gigi insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus rahang atas (kiri dan kanan)

b. Jarak antara dua garis vertikal diukur untuk mendapatkan nilai lebar gigi insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus (kiri dan kanan)

3. Proporsi lebar insisivus lateralis dengan insisivus sentralis, dan proporsi lebar insisivus lateralis dengan kaninus rahang atas (kiri dan kanan) diukur dengan Microsoft Office Excel 2007 (Microsoft Corporation)

4. Analisis data dilakukan dengan SPSS version 22.0 (IBM)

(59)

3.8 Analisis Data

Data yang diperoleh setelah pengukuran akan diolah dan dilakukan :

a. Analisis statistik one-way ANOVA dengan Bonferroni post hoc test menggunakan SPSS version 22.0 (IBM) untuk melihat perbedaan proporsi lebar insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis terhadap konsep golden proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion

(60)

3.9 Kerangka Operasional

Populasi

Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014

Kuesioner

Sampel yang memenuhi kriteria

Pemotretan Sampel

Pengukuran Proporsi Lebar Gigi Anterior Rahang Atas dengan

SoftwareImageJ

Hasil Data

Analisis Data dengan Microsoft Office Excel 2007 dan

SPSS version 22.0

Kesimpulan Golden Proportion

Preston’s Proportion

(61)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Rerata Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil dari pengukuran diperoleh rerata lebar gigi anterior rahang atas saat dipandang dari arah depan. Rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus pada laki-laki secara berurutan adalah 8,29±0,59; 5,95±0,49 dan 5,02±0,52,

dimana rerata pada sisi kanan secara berurutan adalah 8,30±0,62; 5,91±0,53 dan

5,03±0,58, sedangkan rerata pada sisi kiri secara berurutan adalah 8,28±0,58;5,99±0,46

dan 5,00±0,47. Rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus pada

perempuan secara berurutan adalah 8,21±0,52; 5,84±0,61 dan 4,79±0,56 dimana rerata pada sisi kanan secara berurutan adalah 8,23±0,53;5,80±0,62 dan 4,71±0,61, sedangkan

rerata pada sisi kiri secara berurutan adalah 8,18±0,52;5,87±0,62 dan 4,87±0,51. (Tabel

6)

Tabel 6. Rerata lebar gigi-geligi anterior rahang atas pada laki-laki dan perempuan (mm) Laki-laki

Sentralis 8,30±0,62 8,28±0,58 8,29±0,59 8,23±0,53 8,18±0,52 8,21±0,52

Insisivus

Lateralis 5,91±0,53 5,99±0,46 5,95±0,49 5,80±0,62 5,87±0,62 5,84±0,61

(62)

4.2 Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil pengukuran 71 orang sampel diperoleh rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan rerata proporsi lebar gigi kaninus terhadap insisivus lateralis. Rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan gigi kaninus terhadap insisivus lateralis pada laki-laki secara berurutan adalah 0,719±0,044 dan 0,847±0,084. Sedangkan rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan gigi kaninus terhadap insisivus lateralis pada perempuan secara berurutan adalah 0,712±0,056 dan 0,826±0,093. (Tabel 7)

Tabel 7. Rerata proporsi gigi-geligi anterior rahang atas laki-laki dan perempuan Rerata Proporsi Lebar Gigi Anterior

4.3 Perbedaan Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas dengan Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014

Berdasarkan Jenis Kelamin

(63)

berbeda signifikan dengan konsep golden proportion (p=0,001), Preston’s proportion (p=0,001), dan RED proportion (p=0,018). Rerata proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis pada laki-laki secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan RED proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap Preston’s proportion (p=1,000).

Pada perempuan, rerata proporsi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan Preston’s proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap RED proportion (p=0,267), sedangkan rerata proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan RED proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap Preston’s proportion (p=0,882). (Tabel 8)

(64)

BAB 5 PEMBAHASAN

Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik yaitu sebuah rancangan yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Rancangan ini tidak memerlukan administrasi atau pengontrolan terhadap perlakuan, dan informasi yang telah dikumpulkan akan digunakan untuk menguji serta menganalisis hipotesis penelitian.41

5.1 Rerata Lebar Gigi Anterior Rahang Atas Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada pengukuran lebar gigi anterior rahang atas dari arah depan penelitian ini, rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus pada laki-laki secara berurutan adalah 8,29±0,59; 5,95±0,49 dan 5,02±0,52, dimana rerata pada sisi kanan secara berurutan adalah 8,30±0,62;5,91±0,53 dan 5,03±0,58, sedangkan rerata pada sisi kiri secara berurutan adalah 8,28±0,58; 5,99±0,46 dan 5,00±0,47. Pengukuran pada perempuan menunjukkan rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus secara berurutan adalah 8,21±0,52;5,84±0,61 dan 4,79±0,56 dimana rerata pada sisi kanan secara berurutan adalah 8,23±0,53; 5,80±0,62 dan 4,71±0,61, sedangkan

rerata pada sisi kiri secara berurutan adalah 8,18±0,52;5,87±0,62 dan 4,87±0,51 (Tabel

6). Nilai ukuran gigi-geligi ini berbeda bila dibandingkan dengan penelitian oleh Alwazzan KA (1995) dan Khan SH, dkk (2011), khususnya pada ukuran insisivus lateralis dan kaninus.37,38

(65)

dan kaninus kanan secara berurutan adalah 8,18±0,96; 6,32±0,60 dan 7,50±0,53, sedangkan rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus kiri secara berurutan adalah 8,21±0,93, 6,28±0,56 dan 7,44±0,55.37 Penelitian oleh Khan SH, dkk menunjukkan ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus kanan laki-laki secara berurutan adalah 9,10±0,71; 7,48±0,81 dan 8,25±0,55, sedangkan rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus kiri secara berurutan adalah

9,11±0,68; 7,33±0,79 dan 8,21±0,59. Pengukuran pada perempuan menunjukkan rerata

ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus kanan secara berurutan adalah 8,75±0,66; 7,09±0,77 dan 7,94±0,56, sedangkan rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus kiri secara berurutan adalah 8,70±0,63, 7,03±0,74 dan 7,85±0,53.38

(66)

5.2 Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014 Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada pengukuran proporsi lebar gigi anterior rahang atas dari arah depan penelitian ini, rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan gigi kaninus terhadap insisivus lateralis pada laki-laki secara berurutan adalah 0,719±0,044 dan 0,847±0,084. Pengukuran pada sampel perempuan menunjukkan rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan gigi kaninus terhadap insisivus lateralis pada perempuan secara berurutan adalah 0,712±0,056 dan 0,826±0,093. (Tabel 7)

(67)

5.3 Perbedaan Rerata Proporsi Lebar Insisivus Lateralis Terhadap Insisivus Sentralis dan Proporsi Lebar Kaninus Terhadap Insisivus Lateralis Rahang Atas dengan Konsep Golden Proportion, Preston’s Proportion dan RED Proportion pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2011-2014

Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel 8, hasil uji statistik perbedaan proporsi lebar gigi anterior rahang atas terhadap konsep golden proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion menggunakan ANOVA dengan Bonferroni test sebagai metode post hoc menunjukkan rerata proporsi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis pada laki-laki secara statistik berbeda signifikan dengan konsep golden proportion (p=0,001), Preston’s proportion (p=0,001), dan RED proportion (p=0,018). Rerata proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis pada laki-laki secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan RED proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap Preston’s proportion (p=1,000). Pada perempuan, rerata proporsi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan Preston’s proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap RED proportion (p=0,267), sedangkan rerata proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan RED proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap Preston’s proportion (p=0,882).

(68)

insisivus sentralis rahang atas secara berurut adalah 0,026 dan 0,017 (p<0,05).20 Penelitian oleh Prima (2013) pada sampel yang terdiri dari suku Proto Melayu, Deutro Melayu dan Tionghua memberikan hasil yaitu perbedaan yang tidak signifikan (p>0,05) hanya ditemukan pada sampel bersuku Deutro Melayu dengan konsep RED proportion, membuktikan pada penduduk Indonesia tidak ditemukan konsep rasio berulang yang merupakan konsep dasar pada golden proportion serta RED proportion.25 Forster dkk dalam hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa penggunaan konsep golden proportion dalam rencana perawatan tidak boleh digunakan tanpa melakukan observasi terlebih dahulu mengenai faktor-faktor individual yang dapat berpengaruh.10 Dibandingkan konsep estetik lainnya, hasil penelitian ini menunjukkan konsep Preston’s proportion dapat digunakan sebagai konsep estetik pada laki-laki dan perempuan, tetapi hanya pada proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis. Konsep RED proportion 70% juga dapat digunakan sebagai konsep estetik gigi-geligi anterior rahang atas, tetapi hanya pada proporsi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis perempuan. Adanya hasil yang berbeda dari berbagai penelitian mungkin disebabkan oleh metodologi yang berbeda. Pada penelitian-penelitian oleh Mahshid dkk (2004), Basting RT dkk (2006), Fayyad MA dkk (2006), Nikgoo dkk (2009), Sulaiman E dkk (2010), Al-Johany SS dkk (2011), Shetty S dkk (2011), Jennifer (2012), Forster A dkk (2013), Prima F (2014) dan termasuk penelitian ini metode yang digunakan adalah pengambilan foto dari arah depan dan mengukur serta mengkalkulasi dengan teknik komputerisasi.1,5,9,10,13,15,19,21,24,25 Studi lainnya yang dilakukan oleh Gillen RJ dkk (1994) dan Al-Marzok MI dkk (2013) menggunakan metode pengukuran langsung pada hasil cetakan gigi-geligi pasien3,20, atau penelitian oleh Preston JD (1993) menggunakan kombinasi kedua metode tersebut.14

(69)
(70)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Rerata lebar gigi anterior rahang atas sampel penelitian ini adalah :

 Rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus pada laki-laki

secara berurutan adalah 8,29±0,59; 5,95±0,49 dan 5,02±0,52, dimana rerata pada sisi kanan adalah 8,30±0,62;5,91±0,53 dan 5,03±0,58, sedangkan rerata pada sisi kiri adalah 8,28±0,58;5,99±0,46 dan 5,00±0,47.

 Rerata ukuran insisivus sentralis, insisivus lateralis, dan kaninus pada

perempuan secara berurutan adalah 8,21±0,52;5,84±0,61 dan 4,79±0,56, dimana

rerata pada sisi kanan adalah 8,23±0,53; 5,80±0,62 dan 4,71±0,61, sedangkan

rerata pada sisi kiri adalah 8,18±0,52;5,87±0,62 dan 4,87±0,51.

2. Rerata proporsi lebar gigi anterior rahang atas sampel penelitian ini adalah:

 Rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan

gigi kaninus terhadap insisivus lateralis pada laki-laki secara berurutan adalah 0,719±0,044 dan 0,847±0,084.

 Rerata proporsi lebar gigi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis, dan

gigi kaninus terhadap insisivus lateralis pada perempuan secara berurutan adalah 0,712±0,056 dan 0,826±0,093.

3. Perbedaan proporsi lebar gigi anterior rahang atas dengan konsep golden

proportion, Preston’s proportion, dan RED proportion pada sampel penelitian ini adalah:

 Rerata proporsi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis pada laki-laki

(71)

 Rerata proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis pada laki-laki secara

statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan RED proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap Preston’s proportion (p=1,000).

 Rerata proporsi insisivus lateralis terhadap insisivus sentralis pada perempuan

secara statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan Preston’s proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap RED proportion (p=0,267).

 Rerata proporsi kaninus terhadap insisivus lateralis pada perempuan secara

statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan terhadap golden proportion (p=0,001) dan RED proportion (p=0,001), tetapi tidak berbeda signifikan terhadap Preston’s proportion (p=0,882).

Formulasi proporsi yang dapat disimpulkan dan dijadikan aplikasi klinis adalah sebagai berikut: (Tabel 9)

Tabel 9. Perbandingan ukuran lebar gigi dilihat dari arah depan setiap proporsi

Proporsi Perbandingan ukuran lebar gigi dilihat dari arah depan

Insisivus Sentralis : Insisivus Lateralis : Kaninus Hasil penelitian

1,39 : 1 : 0,847

1,40 : 1 : 0,826

Golden proportion 1,618 : 1 : 0,618

Preston’s Proportion 1,52 : 1 : 0,84

RED Proportion(normal) 1,43 : 1 : 0,70

6.2Saran

(72)

2. Pada penelitian selanjutnya disarankan menggabungkan teknik pengukuran fotografi digital dengan teknik pengukuran lain seperti pengukuran pada model gigi untuk medapatkan hasil ukuran yang lebih akurat.

(73)

DAFTAR PUSTAKA

1. Mahshid M, Khoshvaghti A, Varshosaz M, Vallaei N. Evaluation of “golden

proportion” in individuals with an esthetic smile. J Esthet Restor Dent 2004;

16: 185-92.

2. Paul MMC, Abraham ST. Golden proportion in denture esthetics. Health

Sciences 2013; 2(1): 1-10.

3. Gillen RJ, Schwartz RS, Hilton TJ, Evans DB, et al. An analysis of selected

normative tooth proportions. Intl J Prosthodont 1994; 7(5): 410-7.

4. Hasanreisoglu U, Berksun S, Aras K, Arslan I. An analysis of maxillary anterior teeth: facial and dental proportions. J of Prosthet Dent 2005; 94(6): 530-8.

5. Shetty S, Pitti V, Babu S, Kumar S, Jnanadev. To evaluate the validity of Recurring Esthetic Dental. Journal of Conservative Dentistry 2011; 14(3): 314-7.

6. Ward DH. A study of dentists’ preferred maxilarry anterior tooth width

proportions: comparing the recurring esthetic dental proportion to other mathematical and naturally occurring proportions. J Esthet Restor Dent 2007; 19(6): 324-39.

7. Levin EI. The updated application of the golden proportion to dental aesthetics. Aesthetic Dentistry Today 2011; 5(3): 22-7.

8. Singh R, Datta K. The golden proportion – God’s building block for the world. The Journal of Indian Prosthodontic Society 2008; 8(1): 6-9.

9. Nikgoo A, Alavi K, Alavi K, Mirfazaelian A. Assesment of the golden ratio in pleasing smiles. World Journal of Orthodontics 2009; 10(3) : 224-8.

(74)

11.Chander NG, Kumar VV, Rangarajan V. Golden proportion assessment

14.Preston JD. The golden proportion revisited. J Esthet Dent 1993; 5(6): 247-51.

15.Al-Johany SS, Alqahtani AS, Alqahtani FY, Alzahrani AH. Evaluation of different esthetic smile criteria. Int J Prosthodont 2011; 24(1): 64-70.

16.Singh A, Rai M, Singh P. Golden proportion in prosthodontics part-3. GUIDENT 2013: 23-8.

17.George S, Bhat V. Inner canthal distance and golden proportion as predictors

of maxillary central incisor width in south Indian population. Indian J Dent

Res 2010; 21(4): 491-5.

18.Sunilkumar LN, Jadhav KS, Nazirkar G, Singh S, Nagmode PS, Ali FM.

Assessment of facial golden proportions among North Maharashtrian

PopulAl-Marzok ation. J Int Oral Health 2013; 5(3): 48-54.

19.Sulaiman E, Yaakub MS, Zulkifli NA, Abdullah M, Gonzales MAG.

Existence of golden proportion in maxillary anterior teeth of University of

Malaya dental students. Annal Dent Univ Malaya 2010; 17: 9-14.

20. Al-Marzok MI, Majeed KRA, Ibrahim IK. Evaluation of maxillary anterior

teeth and their relation to the golden proportion in Malaysian population.

BMC Oral Health 2013; 13: 9.

21.Basting RT, Triandade RS, Flὁrio FM. Comparative study of smile analysis

by subjective and computerized methods. Operative Dentistry 2006; 31(6):

652-9.

22.Ward DH. Using the RED proportion to engineer the perfect smile. 30 April

Gambar

Gambar
Gambar 1. Konsep golden proportion.8
Gambar 2. Golden proportion calipers. 7,12,14 A. Ricketts golden divider. B. Golden mean gauge/ Golden proportion ruler
Gambar 3. Levin’s diagnostic grid. 8,12
+7

Referensi

Dokumen terkait

PERBEDAAN JARAK ANTARA GIGI INSISIVUS SENTRALIS RAHANG ATAS DENGAN PAPILA INSISIVUM. BERDASARKAN RAS DAN JENIS KELAMIN PADA MAHASISWA

An analysis of maxillary anterior teeth: facial and dental proportions.. To evaluate the validity of Recurring Esthetic

PERBEDAAN LEBAR GIGI ANTERIOR RAHANG ATAS DENGAN KONSEP GOLDEN PROPORTION PADA MAHASISWA FKG3. UNIVERSITAS ANDALAS

Hasil ini memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara lebar gigi anterior rahang atas dengan konsep golden proportion pada 26

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan lebar enam gigi anterior yang diukur melalui jarak interkaninus rahang atas dengan jarak interkantal dan lebar interalar

8 Perbandingan lebar enam gigi anterior rahang atas yang diukur melalui jarak puncak interkaninus dengan lebar interalar pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan

Hubungan antara Proporsi Wajah Eksternal dan Gigi Insisivus Sentralis Rahang Atas dengan Konsep Golden Proportion pada Mahasiswa Malaysia FKG USU Angkatan 2008-2011?.

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang kesesuaian penggunaan konsep golden proportion pada proporsi wajah eksternal dan gigi insisivus sentralis rahang