EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK KLASIK UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA IBU BERSALIN SEKSIO SESAREA DI RSUD
dr. PIRNGADI MEDAN
LELY FEBRIANI NST
NIM : 105102039
KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROGRAM DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2011
Lely Febriani Nasution
Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Bersalin
Seksio Sesarea Di RSUD dr.Pirngadi Medan
ix + 39 hal + 4 tabel + 2 skema + 9 lampiran
ABSTRAK
Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Musik diterapkan menjadi terapi, karena musik dapat memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Penelitian ini menggunakan desain quasi
eksperimen dengan rancangan penelitian two group intervensi kontrol. Jumlah sampel
dalam penelitian ini adalah 15 orang pada kelompok intervensi dan 15 orang pada kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposif
sampling. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Pirngadi Medan. Hasil penelitian ini
mayoritas responden kelompok intervensi pada usia 20-25tahun sebanyak 8 orang (53,3%) dan kelompok kontrol pada usia 26-30tahun sebanyak 6 orang (40,0%), mayoritas pendidikan responden pada kelompok intervensi berpendidikan SMA sebanyak 15 orang (100%) dan kelompok kontrol sebanyak 10 orang (66,7%), mayoritas responden pada kelompok intervensi bekerja sebagai IRT sebanyak 13 orang (86,7%) dan kelompok kontrol bekerja sebagai IRT sebanyak 7 orang (46,7%), mayoritas responden kelompok intrvensi berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan kelompok kontrol berpenghasilan 1juta - 2juta sebanyak 8 orang (53,3%) dan paritas kelompok intervensi anak ke- 1,2,dan 3 sebanyak 5 (33,3%) dan kelomok kontrol anak ke 2 sebanyak 8 orang (53,3%). Analisis data menggunakan uji t-independent. Hasil uji statistik t-independent dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi musik klasik yang signifikan untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol (P = 0.000). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terapi musik klasik efektif untuk mengurangi kecemasan, sehingga bidan dapat menerapkan terapi musik klasik dalam memberikan asuhan kepada ibu bersalin seksio
sesarea.
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kepada ALLAH SWT karena atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul
efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio
sesarea di RSUD dr. Pirngadi Medan tahun 2011.
Peneliti menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna baik
dari isi maupun susunan bahasa. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan adanya
masukan dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dan membimbing peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah
ini yaitu :
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatra Utara.
2. Nur Asnah Sitohang, S.Kep. Ns. M.Kep selaku Ketua Program Studi D-IV
Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara dan selaku
dosen pembimbing dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang telah
.
3. Farida Linda Sari Siregar, S.Kep. Ns. M.Kep selaku dosen pembimbing
akademik.
4. Seluruh dosen, staf dan pegawai administrasi program studi D-IV Bidan
Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
5. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan, semangat
kepada peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah.
6. Seluruh teman – teman D-IV Bidan pendidik USU yang telah memberikan
dukungan kepada peneliti sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.
7. Semua pihak yang mendukung peneliti dalam menyelesaikan Karya Tulis
Ilmiah.
Akhir kata peneliti ucapkan terimahkasih atas semua bantuan yang diberikan,
semoga mendapat anugerah dari ALLAH SWT. Amin Ya Robbal Alamin.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK………i
KATA PENGANTAR……….ii
DAFTAR ISI………iv
DAFTAR TABEL………vii
DAFTAR SKEMA……….viii
DAFTAR LAMPIRAN………ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………1
B. Perumusan Masalah………3
C. Tujuan Penelitian...3
1. Tujuan Umum………...3
2. Tujuan khusus………...4
D. Manfaat Penelitian………..4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Seksio sesaraea………5
1. Pengertian………..5
2. Keuntungan seksio sesarea………5
3. Kerugian seksio sesarea………5
4. Indikasi-indikasi seksio sesarea………6
b. indikasi Sosial………..7
5. Kontraindikasi seksio sesarea………8
6. Anastesi………..8
a. Anastesi general………8
b. Anestesi spinal………..9
B. Terapi musik………..9
1. Pengertian………9
2. Pengaruh musik terhadap otak………10
3. Jenis-jenis musik……….11
4. Manfaat musik………12
5. Rangsangan terapi musik terhadap fungsi otak………..13
C. kecemasan ………13
1. Pengertian………13
2. Etiologi cemas………14
3. Bentuk cemas……….14
4. Faktor-faktor penyebab kecemasan dalam persalianan……….14
a. Faktor emosional……….14
b. Faktor ketakutan……….15
5. Tingkat kecemasan………16
BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep………18
B. Hipotesis………..18
C. Definisi Operasional………19
BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian………21
1. Populasi………22
2. Sampel……… .22
C. Tempat Penelitian………...23
D. Waktu Penelitian………24
E. Etika Penelitian………..24
F. Alat Pengumpulan Data………24
G. Validitas dan Realibilitas………..25
H. Prosedur Pengumpulan Data………26
I. Analisis Data………27
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian……….29
1. Analisis Univariat………...29
2. Analisis Bivariat……….32
B. Pembahasan 1. Intrepretasi dan Diskusi Hasil.………..34
2. Keterbatasan peneltian………..36
3. Implikasi untuk Asuhan Kebidanan………..36
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………37
B. Saran ……….38
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Bersalin Seksio Sesarea di RSUD
dr. Pirngadi Medan Tahun 2011………..31
Tabel 5.2 Distribusi kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok
Intervensi dan Kontrol di RSUD dr.Pirngadi Medan tahun
2011………32
Tabel 5.3 Perbandingan Kecemasan Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok
Kontrol Pada Ibu Bersalin Seksio Sesarea di RSUD dr. Pirngadi
Medan Tahun
DAFTAR SKEMA
Skema 1. Kerangka Konsep………18
Skema 2.Desain Penelitian Efektifitas Terapi Musik Klasik Dalam Mengurangi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 2 : Kuesioner
Lampiran 3 : Prosedur Pemberian Terapi Musik
Lampiran 4 : Prosedur tetap Pemberian Terapi Musik
Lampiran 5 : Surat Izin Balasan Penelitian
PROGRAM DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2011
Lely Febriani Nasution
Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Bersalin
Seksio Sesarea Di RSUD dr.Pirngadi Medan
ix + 39 hal + 4 tabel + 2 skema + 9 lampiran
ABSTRAK
Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Musik diterapkan menjadi terapi, karena musik dapat memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Penelitian ini menggunakan desain quasi
eksperimen dengan rancangan penelitian two group intervensi kontrol. Jumlah sampel
dalam penelitian ini adalah 15 orang pada kelompok intervensi dan 15 orang pada kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposif
sampling. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Pirngadi Medan. Hasil penelitian ini
mayoritas responden kelompok intervensi pada usia 20-25tahun sebanyak 8 orang (53,3%) dan kelompok kontrol pada usia 26-30tahun sebanyak 6 orang (40,0%), mayoritas pendidikan responden pada kelompok intervensi berpendidikan SMA sebanyak 15 orang (100%) dan kelompok kontrol sebanyak 10 orang (66,7%), mayoritas responden pada kelompok intervensi bekerja sebagai IRT sebanyak 13 orang (86,7%) dan kelompok kontrol bekerja sebagai IRT sebanyak 7 orang (46,7%), mayoritas responden kelompok intrvensi berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan kelompok kontrol berpenghasilan 1juta - 2juta sebanyak 8 orang (53,3%) dan paritas kelompok intervensi anak ke- 1,2,dan 3 sebanyak 5 (33,3%) dan kelomok kontrol anak ke 2 sebanyak 8 orang (53,3%). Analisis data menggunakan uji t-independent. Hasil uji statistik t-independent dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi musik klasik yang signifikan untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol (P = 0.000). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terapi musik klasik efektif untuk mengurangi kecemasan, sehingga bidan dapat menerapkan terapi musik klasik dalam memberikan asuhan kepada ibu bersalin seksio
sesarea.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan Nasioanal adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan.
Visi Indonesia 2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang
akan dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat bangsa dan negara yang
ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat dan perilaku hidup yang
sehat. Pembangunan kesehatan nasional akan tercapai apabila bangsa dan negara
meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga bangsa dan negara dapat hidup dalam
lingkungan sehat dan berperilaku sehat (Depkes RI, 2009 ¶ 1).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran atau hasil konsepsi yang dapat
hidup di dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan seksio sesarea adalah
mengeluarkan janin melalui irisan pada dinding perut (Laparatomi) dan dinding uterus
( Histerektomi). (Suririnah,2009,hal 183)
Angka kejadian persalinan seksio sesarea menurut WHO (Badan Kesehatan
Dunia), memperkirakan bahwa angka persalinan dengan seksio caesar sekitar 10%
sampai 15% dari semua proses persalinan sesarea di Negara-negara berkembang. Di
Amerika Serikat pada tahun 2003 angka persalinan seksio sesar mencapai 23%. Di
Kanada pada tahun 2003 angka persalinan seksio sesarea mencapai angka 21%. Di
Sedangkan angka kejadian persalinan seksio sesarea menurut data RSUD dr.Pirngadi
Medan jumlah ibu bersalin seksio sesarea tahun 2008 mencapai 335 orang dan pada
tahun 2009 meningkat mencapai 400 orang. (RM RSUD dr. Pirngadi)
Menurut tenaga dokter diSydney, mereka beranggapan bahwa musik digunakan
sebagai pegobatan antikecemasan terutama pada pasien dalam kondisi kritis.
Implementasi dari terapi musik dapat mengurangi kecemasan yang akhirnya berkaitan
dengan proses pemulihan yang lebih cepat (Wijaya, 2008. ¶ 2).
Musik bisa menjadi terapi yang dapat diartikan sebagai pengobatan. Musik
memiliki aspek terapetik, sehingga musik banyak digunakan untuk penyembuhan,
menenangkan, dan memperbaiki kondisi fisik dan fisiologis pasien maupun tenaga
kesehatan (Visnu, 2008. ¶ 1).
Berdasarkan penelitian Berlioz dan Getry (2004), yang bertujuan untuk
mengetahui kinerja musik terhadap nadi dan sirkulasi darah. Dengan menggunakan
desain penelitian prosfektif, dengan sampel ibu bersalin sebanyak 10 ibu. Didapat hasil
bahwa 5 dari 10 ibu bersalin yang diberi terapi musik ternyata dapat melipatgandakan
cardiacoutput (Visnu, 2008. ¶ 6).
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Thomatis dan Campbell (1971),
dengan tujuan penelitiannya untuk mengetahui efektifitas Mozzart effect untuk
meningkatkan stimulasi (rangsangan) lebih tenang menghadapi persalinan. Penelitiannya
melibatkan 11 ibu bersalin, didapat hasil bahwa ibu bersalin yang telah didengarkan
musik klasik selama 10 menit, mengalami stimulasi (rangsangan) lebih tenang
menghadapi persalianan (Cendika, 2010. hal 228).
Hasil penelitian yang dilakukan Fauzi (2006), menunjukkan bahwa pelatihan
perkembangan bagian-bagian tertentu dari otak secara jangka panjang. Namun dengan
mendengarkan musik akan membantu perkembangan positif dari otak manusia
(Fauzi, 2006 ¶ 2).
Dari survey pendahuluan, yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 20
September 2010 di Medan dengan metode wawancara pada 10 ibu yang mempunyai
pengalaman operasi seksio sesarea, 10 orang ibu mengatakan mengalami kecemasan
akan keberhasilan seksio sesarea dan mereka tidak pernah mendapatkan terapi musik
pada saat operasi berlangsung. Peneliti juga mewancara 2 dokter Spesial Obgyn tentang
terapi musik untuk ibu bersalin dengan seksio sesarea, 2 dokter mengatakan, diruangan
mereka menyediakan alat musik, namun alat musik hanya dipergunakan untuk tenaga
medis.
Maka saya sebagai peneliti tertarik untuk meneliti efektifitas terapi musik klasik
untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Pirngadi Medan tahun 2010.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat
dirumuskan adalah efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu
bersalin seksio sesarea di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan tahun 2010.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan
2. Tujuan Khusus
a. Mengindentifikasi karakteristik ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr.
Pirngadi Medan tahun 2010.
b. Mengidentifikasi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea setelah
diberikan terapi musik klasik pada kelompok intervensi di RSUD dr.
Pirngadi Medan.
c. Mengidentifikasi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea pada
kelompok kontrol di RSUD dr. Pirngadi Medan.
d. Membandingkan kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok
intervensi dan kontrol di RSUD dr. Pirngadi Medan
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Praktek Kebidanan
Sebagai sumber informasi bagi peraktek kebidanan dalam memberikan
asuahan kebidanan kepada ibu bersalin seksio sesar.
b. Bagi Insitusi Kebidanan
Sebagai informasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan asuhan
kebidanan pada ibu bersalin khususnya Askeb IV (Patologi) .
c. Peneliti
Memberikan informasi dan data untuk peneliti yang ingin melakukan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Seksio Sesarea
1. Pengertian
Seksio sesarea adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta
plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson dan
pernoll, 2009. hal 456).
2. Keutungan Seksio Caesar
Operasi caesar lebih aman dipilih dalam menjalani proses persalinan karena
telah banyak menyelamatkan jiwa ibu yang mengalami kesulitan melahirkan. Jalan lahir
tidak teruji dengan dilakukannya seksio sesarea, yaitu bilamana di diagnosa panggul
sempit atau fetal distress didukung data pelvimetri. Bagi ibu yang paranoid terhadap
rasa sakit, maka seksio sesarea adalah pilihan yang tepat dalam menjalani proses
persalinan, karena diberi anastesi atau penghilang rasa sakit (Fauzi, 2007. hal 8).
3. Kerugian Seksio Caesar
Operasi seksio caesar merupakan prosedur medis yang mahal. Prosedur anastesi
pada operasi bias membuat anak ikut terbius, sehingga anak tidak spontan menangis,
keterlambatan menangis ini mengakibatkan kelainan hemodinamika dan mengurangi
apgar score. Ibu akan mendapat luka baru di perut dan kemungkinan timbulnya infeksi
sehingga proses penyembuhan luka akan semakin lama. Tindakan Seksio
Caesar biasanya dianggap sebagai suatu penyiksaan bagi yang tidak memiliki kebiasaan
beristirahat lama di rumah sakit setelah melahirkan (Fauzi, 2007. hal 11).
4. Indikasi-Indikasi Seksio Caesar
a. Indikasi Ibu
Dalam proses persalinan terdapat tiga faktor penentu yaitu power (tenaga
mengejan dan kontraksi dinding otot perut dan dinding rahim), passageway (keadaan
jalan lahir), passanger (janin yang dilahirkan) dan psikis ibu.
Mula-mula indikasi seksio sesarea hanya karena ada kelainan passageaway,
misalnya sempitnya panggul, dugaan akan terjadinya trauma persalinan pada jalan lahir
atau pada anak, sehingga kelahirannya tidak bisa melalui jalan vagina. Namun, akhirnya
merambat ke faktor power dan pasanger. Kelainan power yang memungkinkan
dilakukannya seksio sesarea, misalnya mengejan lemah, ibu sakit jantung atau penyakit
menahun lainnya mempengaruhi tenaga. Sedangkan kelainan passenger diantaranya
makrosemia, anak kelainan letak jantung, primigravida >35 tahun dengan janin letak
sungsang, persalina tak maju, dan anak menderita fetal distress syndrome (denyut
jantung janin melemah).
Secara terperinci ada tujuh indikasi medis seorang ibu yang harus menjalani
seksio sesarea yaitu: 1) Jika panggual sempit, sehingga besar anak tidak proporsional
dengan indikasi panggul ibu (disporsi). Olehkarena itu, penting untuk melakukan
pengukuran panggul pada waktu pemeriksaan kehamilan awal. Dengan tujuan
memperkirakan apakah panggul ibu masih dalam batas normal. 2) Pada kasus gawat
janin akibat terinfeksi misalnya, kasus ketuban pecah dini (KPD) sehingga bayi
ibu mengalami preeklamsia/eklamsia, sehingga janin terpengaruh akibat komplikasi ibu.
3) Pada kasus plasenta terletak dibawah yang menutupi ostium uteri internum (plasenta
previa), biasanya plasenta melekat di bagian tengah rahim. Akan tetapi pada kasus plasenta previa menutupi ostium uteri internum. 4) Pada kasus kelainan letak. Jika
posisi anak dalam kandungan letaknya melintang dan terlambat diperiksa selama
kehamilan belum tua. 5) Jika terjadi kontraksi yang lemah dan tidak terkordinasi, hal ini
menyebabkan tidak ada lagi kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari rahim.
(incordinate uterine-action). 6) Jika ibu menderita preeklamsia, yaitu jika selama
kehamilan muncul gejala darah tinggi, ada protein dalam air seni, penglihatan kabur dan
juga melihat bayangan ganda. Pada eklamsia ada gejala kejang-kejang sampai tak
sadarkan diri. 7) Jika ibu mempunyai riwayat persalinan sebelumnya adalah seksio sesar
maka persalinan berikutnya umumnya harus seksio sesar karena takut terjadi robekan
rahim. Namun sekarang, teknik seksio sesar dilakukan dengan sayatan dibagian bawah
rahim sehingga potongan pada otot rahim tidak membujur lagi. Dengan demikian
bahaya rahim robek akan lebih kecil dibandingkan dengan teknik seksio dulu yang
sayatan dibagian tengah rahim dengan potongan yang bukan melintang (Cunningham,
et,al 2006. hal 592).
b. Indikasi sosial
Selain indikasi medis terdapat indikasi nonmedis untuk melakukan seksio sesar
yang indikasi sosial. Persalinan seksio sesar karena indikasi sosial timbul karena adanya
permintaan pasien walaupun tidak ada masalah atau kesulitan untuk melakukan
persalinan normal. Indikasi sosial biasanya sudah direncanakan terlebih dahulu untuk
5. Kontara indikasi seksio sesarea
Kontraindikasi seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun
untuk kepentingan anak, oleh sebab itu, seksio sesarea tidak dilakukan kecuali tidak
dalam keadaan terpaksa. Seksio sesarea tidak boleh dilakukan pada kasus-kasus seperti
ini: 1) Janin sudah mati dalam kandungan. Dalam hal ini dokter memastikan denyut
jantung janin tidak ada lagi, tidak ada lagi gerakan janin anak dan dari pemeriksaan
USG untuk memastikan keadaan janin, 2)Janin terlalu kecil untuk mampu hidup diluar
kandungan, 3) Terjadi infeksi dalam kehamilan, 4) Anak dalam keadaan cacat seperti
Hidrocefalus dan anecepalus (Cunningham, et,al 2006. hal 592).
6. Anestesi
Ada beberapa anestesi atau penghilang rasa sakit yang bisa dipilih untuk operasi
caesar, baik spinal maupun general. Pada anestesi spinal atau epidural yang lebih umum
digunakan, sang ibu tetap sadar kala operasi berlangsung. Anestesi general bekerja
secara jauh lebih cepat, dan mungkin diberikan jika diperlukan proses persalinan yang
cepat (Gallagther, 2004. hal 20).
a. Anestesi general
Anestesi general biasanya diberikan jika anestesi spinal atau epidural tidak
mungkin diberikan, baik karena alasan teksis maupun karena dianggap tidak aman. Pada
prosedur pemberian anestesi ini akan menghirup oksigen melalui masker wajah selama
tiga sampai empat menit sebelum obat diberikan melalui penetesan intravena. Dalam
waktu 20 sampai 30 detik, maka pasien akan terlelap. Saat pasien tidak sadar, akan
disisipkan sebuah selang ke dalam tenggorakkan pasien untuk membantu pasien
bernafas dan mencegah muntah. Pasien yang menggunakan anestesi general harus
b. Anestesi spinal
Dalam operasi caesar, pasien diberi penawaran untuk menggunakan anestesi
spinal atau epidural. Pilihan ini membuat pertengahan ke bawah tubuh pasien mati rasa,
tetapi pasien akan tetap terjaga dan menyadari apa yang sedang terjadi. Hal ini berarti
pasien bisa merasakan kelahiran bayi tanpa merasakan sakit, dan pasangan juga bisa
mendampingi untuk memberikan dorongan dan semangat.
B. Terapi musik
1. Pengertian
Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang baik
fisik maupun mental. Musik memberikan rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak
seperti fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisi intelek dan fungsi
kesadaran (Satiadarma, 2004. hal 17).
Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan
kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik
dapat meningkatkan pemulihkan dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional,
social, dan spiritual. (Raymont, 2000 )
Musik adalah segala sesuatu yang menyenangkan, mendatangkan kecerian,
mempunyai irama (ritme), melodi, Timbre (warna suara) tertentu untuk membantu tubuh
dan pikiran saling bekerja sama. Musik memberikan nuansa yang besifat menghibur,
menumbuhkan suasana yang menenangkan dan menyenangkan seseorang (Sari, 2005.
2. Pengaruh Musik Terhadap Sistem Saraf di Otak
A. Sistem Otak Yang Memproses Perasaan.
Musik adalah bahasa yang membawa perasan. Musik dapat merangsang sistem
saraf yang akan menghasilkan suatu perasaan. Perangsangan sistem saraf ini mempunyai
arti penting bagi pengobatan, karena sistem saraf ambil bagian dalam proses fisiologis.
Dalam ilmu kedokteran jiwa, jika emosi tidak harmonis, maka akan mengganggu sistem
lain dalam tubuh kita, misalnya sistem pernapasan, sistem endokrin, sistem immune,
sistem kardiovaskuler, sistem metabolik, sistem motorik, sistem nyeri, sistem temperatur
dan lain sebagainya. Semua sistem tersebut dapat bereaksi positif jika mendengar musik
yang tepat.
B. Sistem Otak Kognitif
Aktivasi sistem ini dapat terjadi walaupun seseorang tidak mendengarkan atau
memperhatikan musik yang sedang diputar. Musik akan merangsang sistem ini secara
otomatis, walaupun seseorang tidak menyimak atau memperhatikan musik yang sedang
diputar. Jika sistem ini dirangsang maka seseorang akan meningkatkan memori, daya
ingat, kemampuan belajar, kemampuan matematika, analisis, logika, inteligensi dan
kemampuan memilah, disamping itu juga adanya perasaan bahagia dan timbulnya
keseimbangan sosial.
C. Sistem Otak Yang Mengontrol Kerja Otot
Musik secara langsung bisa mempengaruhi kerja otot kita. Detak jantung dan
pernafasan bisa melambat atau cepat secara otomatis, tergantung alunan musik yang
didengar. Ternyata denyut jantung dan tekanan darah bisa diturunkan. Musik juga
mempengaruhi sistem imun, sistem saraf, sistem endokrin, sistem pernafasan, sistem
berbagai penelitian ilmiah tersebut, dinyatakan bahwa musik dapat digunakan untuk
membantu penyembuhan beberapa penyakit seperti insomnia, stress, depresi, rasa nyeri,
hipertensi, obesitas, parkinson, epilepsi, kelumpuhan, aritmia, kanker, psikosomatis,
mengurangi rasa nyeri saat melahirkan, dan rasa nyeri lainnya.
3. Jenis-Jenis Musik
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi juga semakin
meningkatkan jenis-jenis musik seperti Rock, musik country, musik jazz, musik barok,
musik klasik. Jenis-jenis musik yang sudah diteliti yang memberikan stimulasi
(rangsangan) terhadap kesehatan adalah :
a. Musik Klasik
Musik klasik adalah kompleksitas musik klasik merangsang keseluaran otak,
makin banyak diserap otak makin beragam kemampuan manusia. Secara umum,
beberapa jenis musik klasik dianggap memiliki dampak yang relative, musik klasik
memilki kesan dan dampak psikologi yang menimbulkan kesan rileks, santai,
memberikan dampak menenangkan dan menurunkan steres.
Musik klasik sangat terstruktur secara harfiah yang akan berpegaruh terhadap
arsitektur otaknya. Musik klasik dapat mengaktifkan belahan otak kanan yang
berhubungan dengan kreatifitas, dan otak sebelah kanan dapat membantu ibu untuk
berfikir lebih tenang. Musik klasik juga dapat mengaktifkan otak sebelah kiri yang
berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak pada pendidikan formal.
Musik klasik mempunyai struktur irama yang disesuaikan dengan pola-pola sel
saraf otak manusia, dan musik klasik menggunakan lagu-lagu Indonesia yang bersyair
Endorfin merupakan zat alamiah di otak, yang akan dilepaskan saat tubuh merasa
rileks. Hormon-hormon stres, yang meliputi adreronocorticotrophic (ACTH), prolaktin,
dan hormon pertumbuhan (GH), dalam darah akan sama kadarnya saat mendengarkan
musik. Keadaan relaks ini akan memperlancar sirkulasi darah ibu dan janin melalui
plasenta. Denyut jantung janin akan mengikuti sinkronasi dengan denyut jantung ibu
sebagai sumber musik pertama yang janin dengar dalam kandungan. Keseimbangan ini
harus dijaga dari stress, baik fisik maupun psikis, agar janin tidak mengalami gangguan
pertumbuhan selama dalam uterus dan penyulit bagi ibu hamil selama kehamilan hingga
persalinan bagi ibu.
b. Musik Barok
Musik barok dianggap sebagai shooting musik atau musik yang membelai,
menimbulkan rasa tenang dan nyaman, musik barok membangkitkan suasana positif
dalam bermain. Musik jenis ini, cendrung mendorong berani bereksplorasi.
c. Nature Sound musik
Musik nature sounds merupakan bagian musik klasik, nature sound musik
merupakan bentuk integrative musik klasik dengan suara-suara alam. Iringan musik
nature sound musik dapat membangkitkan asosiasi stimulasi sebagai sarana memperkuat
imajinasi atau khayalan.
d. Ayat suci
Musik ayat suci adalah pembacaan doa dan ayat suci dilakukan dengan music
dapat mengarahkan konsentrasi untuk berkomunikasi dengan alam semesta atau
lingkungan sekitar. Ritual musik dengan ayat-ayat dan doa dapat mengikat emosional
antara anggota, karena nyanyian ayat dan doa dapat meresapi pesan-pesan ilahi tentang
4. Manfaat Musik
Musik adalah pengatur yang baik membentuk tubuh dan pikiran untuk saling
bekerja sama. Musik berguna untuk : 1) memberi pengulangan yang menguatkan
pembelajaran, 2) memberi ketukan yang berirama yang membantu koordinasi,
3) memberi pola yang membimbing guna mengantisipasi apa yang terjadi, 4) Memberi
kata-kata yang menyatukan bahasa dan kemampuan membaca, 5) Memberi melodi yang
menarik hati dan perhatian dengan kegembiraan, 6) Musik dapat menenangkan
(relasaksi) dan juga memberikan rangsangan (stimulasi). (Sari, 2005. hal 37-38).
5. Rangsangan Terapi Musik Terhadap Fungsi Otak
Musik dapat berpengaruh untuk : 1) merangsang otak secara fisik, musik
mampu mengaktifkan fungsi otak yang telah mengalami penurunan akibat adanya
gangguan fisik. Sehingga musik memungkinkan kondisi fisik yang baik, 2) merangsang
fungsi kognitif, musik mampu membantu seseorang untuk meningkatkan konsentrasi,
menenangkan pikiran, memberi ketenangan dan membantu seseorang untuk melakukan
motivasi pada diri sendiri, 3) merangsang Rekognisi (mengenali kembali), musik dapat
merangsang penginderaaan dan akan disampaikan ke otak dengan menggunakan sinyal
saraf, kemudian otak menganalisa sinyal yang dikirim oleh penginderaan. maka
seseorang yang mendengar dengan musik, maka individu akan merespon dengan
berbagai macam reaksi, 4) merangsang berfikr ritmis, tidak dapat dipungkiri bahwa
musik mengandung irama atau ritmis, ketika seseorang mendengar musik, maka
seseorang akan mengawali proses berpikir secara ritmis seperti mengikuti irama musik,
C. Kecemasan
1. Pengertian
Ansietas (cemas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh
situasi. Anietas merupakan alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya
kepada individu (Videbeck, et,al 2008. hal 307).
2. Etiologi Cemas
Penyebab timbulnya kecemasan dapat ditinjau dari 2 faktor yaitu : 1) Faktor
Internal yaitu tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri. Ansietas berlawanan
dengan penyebab psikologis, 2) Faktor Eksternal yaitu dari lingkungan seperti
ketidaknyamanan akan kemampuan diri, Threat (ancaman), Conflik (pertentangan), Fear
(ketakutan), Unfuled need (kebutuhan yang tidak terpenuhi) (Videbeck, dkk, 2008. hal
312-313).
3. Bentuk Cemas
Menurut Bucklew cemas bisa mempengaruhi seseorang dalam berbagai bentuk.
Beberapa orang menunjukkan kecemasannya secara psikologis, emosional, dan
fisiologis. Cemas secara psikologis dan emosional terwujud dalam gejala-gejala
kejiwaan seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkontraksi, perasaan tidak menentu
dan sebagainya. Sedangkan secara fisiologis terwujud dalam gejala-gejala fisik terutama
pada sistem saraf misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut
mual-muntah, diare, nafas sesak disertai tremor pada otot (Videbeck, et,al 2008. hal
308-309).
a. Faktor Emosional
Rasa takut dan cemasnya seorang wanita dapat dipengaruhi oleh keadaan
emosionalnya. Adapun penyebab dari keadaan emosional itu adalah sebagai berikut :
Kelahiran sebelumnya sangat sulit, keadaan rumah sakit yang sebelumnya sangat
traumatik, penganiayaan pada masa kanak-kanak baik fisik, seksual atau emosional,
Asal usul keluarga yang disfungsional, Ketakutan mengenai masalah kesehatan sekarang
dan kedepannya, kekerasan dalam keluarga dimasa lalu/sekarang, ketidakmampuan
mendengar dan mengerti apa yang terjadi dan apa yang telah dikerjakan dan
kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari cerita-cerita orang bahwa melahirkan itu
sakit sehingga membuat orang merasa cemas dalam menjalani proses persalinan
(Maramis, 1998. hal 107).
b. Faktor Ketakutan
Ketakutan yang umum terjadi pada wanita pada saat menjalani proses
persalinan seksio sesarea yang dapat menghalangi kemajuan persalinan antara lain : 1)
Takut akan menghadapi persalinan seksio sesarea, melahirkan dengan operasi seksio
sesarea dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti takut, cemas, tegang saat
menghadapi persalinan, suasana diruang operasi yang menakutkan. sering juga
gangguan fisik dan psikologis terjadi secara bersamaan sehingga menjadi lingkaran yang
sulit diputus. Mekanisme ini disebut Incordinate Uterine Action. Ketika ibu takut pada
saat persalinan secara otomatis otak mengatur dan mempersiapkan tubuh untuk merasa
sakit, akibatnya rasa sakit saat melahirkan akan semakin terasa. Artinya sakit dan
bimbang semakin terasa maka ibu akan semakin takut (Danuatmaja dan Meilisary,
2008). 2) Takut operasi gagal, seseorang wanita akan merasa takut akan menjelang
cemas akan kegagalan operasinya. Ibu yang bersalin selalu dikuasai oleh perasaan dan
pikiran mengenai operasinya yang akan dijalaninya gagal dan tanggungjawab dalam
mengurus anaknya. 3) Pengalaman melahirkan sebelumnya, pengalaman melahirkan
sebelumnya merupakan hal penting bagi ibu multipara yang akan melahirkan. Setiap
wanita memiliki pengalaman melahirkan yang tersendiri, pengalaman itu bisa bersifat
positif maupun negatif yang pada akhirnya dapat menimbulkan efek emosional dan
reaksi psikososial. Pengalaman negatif pada kelahiran sebelumnya terhadap persalinan
menyebabkan ibu cemas pada saat melahirkan. gangguan psikologi dan pengalaman
buruk sebagai pasien pada persalinan sebelumnya, merasa tidak aman atau terancam
pada persalinan berikutnya dapat meningkatkan intensitas cemas pada ibu multipara. 4)
Takut akan kematian, seseorang wanita yang akan melahirkan akan merasa takut akan
kematiannya, khusus jika persalinan yang dipilih dengan seksio sesar. Pada saat
melahirkan dan takut akan kematian bayinya atau bahkan kematian pada keduanya.
Takut akan kematian lebih dirasakan oleh ibu yang pernah melahirkan bayi dengan
komplikasi (Henderson dan Benson, 2006).
5. Tingkat Kecemasan
Peplau (1963) mengidentifikasi ansietas (cemas) dalam 4 tingkatan, setiap
tingkatan memiliki karakteristik dalam persepsi yang berbeda, tergantung kemampuan
individu yang ada dan dari dalam dan luarnya maupun dari lingkungannya, tingkat
kecemasan atau ansietas yaitu :
1) Cemas ringan adalah cemas yang normal menjadi bagian sehari-hari dan
menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Cemas
2) Cemas sedang adalah cemas yang memungkinkan seseorang untuk
memusatkan pada hal-hal yang penting dan mengesampingkan yang tidak penting atau
bukan menjadi prioritas. Cemas sedang bisa mengendalikan diri, dan masih bisa untuk
diarahkan.
3) Cemas berat adalah cemas ini sangat mengurangi persepsi individu,
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, dan tidak dapat
berfikir tentang hal yang lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk mengurangi
ketegangan individu memerlukan banyak pengesahan untuk dapat memusatkan pada
suatu area lain. Cemas sedang ini biasanya penuh dengan ketakutan, diikuti dengan
gemetar, dan biasanya ditandai dengan mual atau muntah.
4) Panik adalah tingkat panik dari suatu ansietas berbungan dengan ketakutan
dan teromor, karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang mengalami panik tidak
mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan, panik melibatkan
disorganisasi kepribadian, dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik,
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan
dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antarvariabel yang ingin
diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2003. hal
69). Variabel independent dalam penelitian ini adalah efektifitas terapi musik klasik dan
variable dependent adalah kecemasan ibu bersalin seksio sesarea Penelitian ini terdiri
atas dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing kelompok
yang diidentifikasi berdasarkan kecemasan setelah diberikan terapi musik klasik. Hasil
yang diharapkan adalah berkurangnya kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea yang
diberi intervensi terapi musik klasik saat menjalani seksio sesarea.
Variabel Independent Variabel Dependent
Skema 1.Skema Kerangka Konsep
B. Hipotesisis
Hipotesis alternatif yaitu ada pengaruh terapi musik klasik untuk mengurangi
kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Efektifitas terapi
C. Definisi Opersional
No Variabel Defenisi
Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Skala
Wawancara Kecemasan pada
ibu bersalin
Kuesioner Wawancara 1 = 20-25 tahun
2 = 26-30 tahun
3 = 31-35 tahun
4 = 36- 40 tahun
Interval
4. Paritas Jumlah persalinan
yang pernah
5. Pendidikan Jenjang dari tingkat
yang rendah ke
tingkat yang tinggi
untuk
Kuesioner Wawancara 0 = Pendidikan
dasar
(SD/SMP/MTS)
1 = Pendidikan
menyelesaikan
pendidikan
Menengah
(SMU/SMK)
2 = Pendidkan
Tinggi
3 = Tidak Sekolah
6. Pekerjaan Kegiatan yang
dilakukan setiap
harinya untuk
kehidupan
Kuesioner Wawancara 0 = IRT
1 = PNS
2 = Karyawan
Nominal
7. Penghasilan Upah yang didapat
setelah bekerja
Kuesioner Wawancara 0 = tidak
berpenghasilan
1 = <
Rp1.000.000
3 =
Rp1.000.000-Rp2.000.000
4 = >
Rp2.000.000
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, menggunakan desain penelitian quasi - eksperimen yang
bersifat two group yaitu kelompok intervensi dan kontrol untuk mengidentifikasi
efektifitas terapi musik klasik dalam mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio
sesarea sesudah diberikan terapi musik. Desain ini digambarkan :
Kelompok Perlakuan Post-test
X I 01
Y 0 01
Skema 2. Desain Penelitian
Keterangan:
X: Kelompok intervensi
Y: Kelompok kontrol
I : Perlakuan terapi musik klasik
0: Tidak diberikan perlakuan terapi musik
01: Pengurungan kecemasan setelah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr.
Pirngadi Medan. Data dari RSUD dr. Pirngadi Medan Maret sampai April tahun 2010
sebanyak 62 ibu bersalin seksio sesarea.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi. Sampel dalam
penelitian diperoleh dengan menggunakan ketetapan absolute dan menggunakan rumus :
n =
keterangan :
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
d : Ketetapan relatif yang ditetapkan oleh peneliti (0,05)
Jadi sampel dalam penelitian ini adalah :
Diketahui :
N = 62
d = 0,05
n =
n =
n = 53
Sampel yang diperoleh adalah 53 orang. Jadi sampel untuk kelompok intervensi
adalah 53 ibu bersalin seksio sesarea dan kelompok kontrol adalah 53 ibu bersalin seksio
sesarea. Teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan secara Purposif Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan karena sesuai dengan
kriteria sampel yang telah ditentukan. Sampel dalam penelitian ini dengan kriteria
inklusi :
• Ibu pertama kali bersalin seksio sesarea (Primi Seksio Sesarea)
• Ibu bersalin seksio sesarea dengan indikasi yang terkendali seperti letak
bokong, partus tak maju, dan ibu bersalin dengan rencana SC (elektif)
• Ibu bersalin seksio sesarea dengan anastesi spinal
• Mengalami kecemasan saat menjelang operasi dan sampel ibu bersalin seksio
sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol dibedakan.
Sampel dengan kriteria eksklusi yaitu :
• Ibu previus bersalin secara seksio sesarea
• Ibu bersalin seksio sesarea dengan indikasi emergency yang tak terkendali
seperti SC karena rupture uteri.
• Ibu bersalin dengan seksio sesarea dengan anatesi general
C. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr.Pirngadi Medan, dengan
pertimbangan rumah sakit umum daerah dr. Pirngadi Medan ditemukan ibu bersalin
seksio sesarea, adalah sebagai tempat praktek peneliti dan merupakan rumah sakit
D. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada September 2010 sampai dengan Juni tahun 2011.
E. Etika Penelitian
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari insitusi pendidikan
yaitu Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan USU dan izin Direktur
Rumah Sakit Umum Daerah dr.Pirngadi Medan. Dalam hal ini peneliti melaksanakan
beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan etik, yaitu memberikan penjelasan
kepada responden tentang tujuan penelitian, manfaat, dan prosedur pelaksanaan
penelitian. Semua responden bersedia untuk diteliti, tetapi yang menandatangani
informed consent hanya 25 responden dari 30 responden yang diperoleh. Responden
tidak ada yang menolak maupun mengundurkan diri untuk diteliti. Dalam penelitian ini,
responden juga diberi kebebasan dari tindakan yang dilakukan serta mendapat keadilan
atas tindakan dan tanpa adanya deskriminasi dari penelitian. Kerahasiaan catatan
mengenai data responden dijaga dengan cara tidak menuliskan nama responden
diInstrumen, tetapi menggunakan inisial. Data yang diperoleh dari responden hanya
digunakan untuk kepentingan penelitian.
F. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data berupa kuesioner yang dibuat oleh peneliti berdasarkan
literatur yang ada. Kuesioner yang disebarkan terdiri dari dua bagian, yaitu : bagian
pertama adalah data demografi: yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan
paritas. Sedangkan bagian kedua adalah kuesioner untuk mengidentifikasi kecemasan
ibu bersalin seksio sesarea sesudah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi dan
dan negatif dengan skala Guttman. Pernytaaan positif terdiri dari 17 pernyataan dan 3
pernyatan negatif, apabila pernyataan positif dijawab “tidak“ mendapat nilai 0, dan
apabila menjawab “ya” mendapat nilai 1 dan pernyataan negatif dijawab “tidak”
mendapat nilai 1, dan apabila menjawab “ya“ mendapat nilai 0.
Responden yang mendapatkan skor tertinggi yaitu 20 maka responden
mengalami cemas yang panik, jika responden mendapat skor 15 -19 maka responden
mengalami cemas yang berat, jika responden mendapat skor 10 – 14 maka responden
mengalami cemas yang sedang, dan jika responden mendapat skor 5 – 9 maka responden
mengalami cemas yang ringan.
G. Validitas dan Realibilitas
1. Uji validitas
Uji validitas adalah uji yang dilakukan untuk menunjukkan tingkat kevalidan dan
kesahihan sebuah instrumen, yang mampu mengukur apa yang diinginkan, sehingga
dapat mengukur instrumen secara benar. Menurut Davies dan Hodnett (2002, dalam
Williams & Wilkins, 2004, hal.312), besarnya sebuah koefisien menunjukkan
bagaimana kesahan sebuah instrument. Rentang koefisien antara 0,00 sampai 1,00,
dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan kriteria ke validitan yang lebih besar. Uji
validitas dilakukan secara content validity kepada ahlihnya Zuhdi Budiman, S.Psi
dengan hasil Content Validity Indeks 0,75.
Uji realibilitas dilakukan kepada 10 orang ibu bersalin SC di RSUD dr. Pirngadi
Medan yang sesuai dengan kriteria responden. Menurut Burn dan Grove (2001) suatu
instrument yang menggunakan pengukuran yang sudah berkembang dikatakan
realibilitas bila koefisiennya lebih dari 0,80, sedangkan untuk instrument baru yang
reliabilitas jika koefisiennnya lebih dari 0,70. Uji realibilitas menggunakan rumus alpha
croabanch dengan hasil 0,75 yang diperoleh dari 20 pernyataan. Hanya 17 pernyataan
yang valid dan realibel, dan 3 pernyatan tidak valid dan realibel sudah diperbaiki.
H. Prosedur Pengumpulan
Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menerima surat izin penelitian dari
program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara dan
telah mendapat izin dari RSUD dr.Pirngadi Medan.
Setelah mendapat izin, peneliti melaksanakan pengumpulan data pada ibu
bersalin seksio sesarea sesuai kriteria penelitian. Pada saat penegumpulan data peneliti
menjumpai responden di RSUD dr. Pirngadi Medan dengan bantuan kepada salah satu
perawat ruangan kamar bedah (OK) di RSUD dr. Pirngadi Medan yang telah bekerja
selama tiga tahun. Dalam mengumpulkan data di RSUD dr.Pirngadi Medan, peneliti
mendapatkan responden untuk satu hari ada satu atau dua responden yang sesuai dengan
kriteria, atau untuk satu hari tidak ada responden yang sesuai dengan kriteria. Peneliti
datang ke RSUD dr.Pirngadi Medan setelah peneliti menghubungi asisten peneliti atau
peneliti mendapat telepon dari asisten yang di RSUD dr.Pirngadi Medan.
Bila peneliti sudah menjumpai responden maka peneliti menjelaskan tujuan,
teknik wawancara. Kemudian peneliti meminta kesedian dan memenuhi kriteria
penelitian diminta untuk menandatangani lembar persetujuan (informed consent)
Setelah itu, peneliti melakukan pengumpulan data untuk kelompok intervensi
dengan memberikan terapi musik klasik dengan menggunakan walkman untuk
mengidentifikasi kecemasan pada saat responden telah memasuki ruangan OK dan
responden telah diletakkan dimeja operasi. Peneliti memberikan terapi musik klasik
Mozart Greatest Symphony dengan menggunakan walkman selama + 15 menit sampai
sebelum pemberian anstesi spinal. Setelah +15 menit diberikan terapi musik klasik,
peneliti mewancarai responden sesuai dengan lembar kuesioner dengan didampingi oleh
kepala ruangan atau salah satu perawat diruangan OK dan salah satu dr. PPDS Obgyne.
Kemudian peneliti melakukan pengumpulan data pada kelompok kontrol,
peneliti tidak memberikan terapi musik klasik tetapi peneliti melakukan pengamatan
untuk mengidentifikasi kecemasan pada saat responden memasuki ruangan OK dan
responden telah diletakkan dimeja operasi. Peneliti melakukan pengamatan kepada
responden selama + 15 menit sampai sebelum pemberian anstesi spinal. Setelah +15
menit melakukan pengamatan, peneliti mewancarai responden sesuai dengan lembar
kuesioner dengan didampingi oleh kepala ruangan atau salah satu perawat diruangan OK
dan salah satu dr. PPDS Obgyne.
I. Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, dilakukan analisa data kembali dengan
memeriksa semua kuesioner apakah jawaban sudah lengkap dan benar (editing).
Kemudian data diberi kode (Coding) untuk memudahkan peneliti dalam melakukan
analisa data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan data yang dimasukkan
terakhir dilakukan cleaning dan entry yakni pemeriksaan semua data yang telah
dimasukkan ke dalam program komputer guna menghindari terjadinya kesalahan.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputerisasi
yang disesuaikan, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Univariat
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing
variabel yang diteliti. Data yang bersifat kategorik dicari frekuensi dan proporsi yaitu
usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan paritas. Data yang bersifat numerik
dicari mean, dan standar deviasinya yaitu kecemasan ibu bersalin seksio sesarea. Hasil
disajikan dalam bentuk tabel.
2. Bivariat
Analisis ini digunakan untuk menguji efektifitas terapi musik klasik dalam
mengurangi kecemasan ibu bersalin seksio sesarea. Dalam menganalisis data secara
bivariat, pengujian data dilakukan dengan uji statistic uji t-independent digunakan untuk
membandingkan kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan
kontrol setelah diberikan terapi musik klasik. Taraf signifikan (α = 0.05), pedoman
dalam menerima hipotesis : jika data probabilitas (p) < 0.05 maka H0 ditolak, apabila (p)
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Pada Bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang efektifitas terapi musik
klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di RSUD
dr.Pirngadi Medan tahun 2011. Jumlah responden adalah 53 ibu bersalin seksio sesarea,
yang terdiri dari 53 sampel untuk kelompok intervensi dan 53 sampel untuk kelompok
kontrol. Namun, ada keterbatasan sampel karena pada saat dilakukan penelitian
responden sudah tidak termasuk kriteria. Yang memenuhi kriteria untuk kedua
kelompok intervensi dan kontrol adalah 30 ibu bersalin seksio sesarea, yang terdiri dari
15 sampel kelompok intervensi dan 15 sampel untuk kelompok kontrol. Responden
untuk kelompok intervensi diberikan musik selama +15 menit kemudian diamati
kecemasan dengan menggunakan kuesioner, dan responden untuk kelompok kontrol
dillakukan pengamatan +15 menit setelah berada di ruangan OK kemudian diamati
dengan menggunakan kuesioner.
1. Analisis Univariat
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing
usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan paritas. Data yang bersifat numerik
dicari mean, dan standar deviasinya yaitu kecemasan ibu bersalin seksio sesarea. Hasil
akan disajikan dalam bentuk tabel.
Hasil penelitian yang diperoleh mayoritas responden pada kelompok intervensi
berusia 20 – 25 tahun sebanyak 8 orang (53,3 %) dan mayoritas responden pada
kelompok kontrol berusia 26 – 30 tahun sebanyak 6 orang (40,0 %). Berdasarkan
pendidikan mayoritas responden pada kelompok intervensi berpendidikan menengah
(SMA) sebanyak 15 orang (100 %) dan mayoritas responden pada kelompok kontrol
berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 10 orang (66,7 %). Berdasarkan pekerjaan
mayoritas responden pada kelompok intervensi adalah (IRT) ibu rumah tangga sebanyak
13 orang (86,7 %) dan mayoritas responden pada kelompok kontrol adalah ibu rumah
tangga sebanyak 7 orang (46,7 %). Berdasarkan penghasilan mayoritas responden pada
kelompok intervensi berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan
mayoritas responden pada kelompok kontrol berpenghasilan 1.000.000-2.000.000
sebanyak 8 orang ( 53,3 %). Berdasarkan paritas mayoritas responden pada kelompok
intervensi adalah anak ke - 1,2, dan 3 sebanyak 5 orang ( 33,3 %) dan mayoritas
responden pada kelompok kontrol adalah anak ke - 2 sebanyak 8 orang (53,3%). Dapat
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Bersalin Seksio sesarea di RSUD dr. Pirngadi
Medan Tahun 2011
Karakteristik responden Kelompok intervensi Kelompok kontrol
f % f %
• Tidak berpenghasilan
Hasil penelitian ini diperoleh rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio sesarea
pada kelompok intervensi 12,87 dengan standart deviasi 2,386 sedangkan nilai minimum
11 dan maximum adalah 18 dan 95% confidence interval 11,55 – 14,19. Dan hasil
penelitian pada kelompok kontrol yakni rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio
sesarea 17,53 dengan standart deviasi 1,246 sedangkan nilai minimum 14 dan
maximum 19 dan 95% confidence interval 16,84 – 18,22. Dapat dilihat pada tabel 5.2
dibawah.
Tabel 5.2
Distribusi kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol
di RSUD dr.Pirngadi Medan tahun 2011
No Variabel Mean SD Min - Max 95%
Analisis bivariat digunakan untuk membandingkan kecemasan ibuu bersalin
seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol. Dalam menganalisa data secara
bivariat, pengujian data dilakukan uji t- independent.
Hasil uji statistik rata-rata kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok
intervensi 12,87 dengan standar deviasi 0.616 dan rata-rata kecemasan ibu bersalin
statistik didapatkan nilai P adalah 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
terapi musik klasik yang signifikan untuk mengurangi kecemasan ibu bersalin seksio
sesarea pada kelompok intervensi. Dapat diliat pada tabel 5.3 dibawah.
Tabel 5.3
Perbandingan Kecemasan Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Ibu
Bersalin Seksio sesarea di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011
Variabel Mean Standar
Deviasi
1. Interpretasi dan Diskusi Hasil
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa kecemasan ibu bersalin
seksio sesarea pada kelompok intervensi rata-rata (12,87) dan pada kelompok kontrol
(17,53). Dan hasil uji t-independent diperoleh nilai P = 0,000 (< 0,05). Maka dapat
disimpulkan bahwa ada Pengaruh efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi
kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea setelah dilakukan intervensi.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Campbell dan
kepada ibu bersalin yang dapat meningkatkan stimulasi (rangsangan) lebih tenang dalam
menghadapi persalinan. (Campbell,2001 ¶5)
Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Cecilia, 2008)
ketika seseorang mendengarkan musik, maka otak akan memproses apa yang didengar.
Detak jantung cenderung mengikuti atau mengsinkronkan dengan kecepatan musik.,
Maka dengan mendengarkan musik tempo yang tinggi detak jantung akan meningkat
dan mendengar musik dengan tempo rendah detak jantung akan melambat dan tubuh
akan menjadi rileks.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fauzi (2006), menunjukkan bahwa
pelatihan dengan musik memberi lebih dari sekedar hubungan sebab akibat terhadap
perkembangan bagian-bagian tertentu dari otak secara jangka panjang. Namun dengan
mendengarkan musik akan membantu perkembangan positif dari otak manusia.
Penelitian ini juga didukung oleh adanya teori yang mengatakan bahwa musik
klasik dapat mengaktifkan belahan otak kanan yang berhubungan dengan kreatifitas,
dari otak kanan akan muncul untuk menerima stimulasi (rangsangan) yang disekitarnya,
Sedangkan otak kiri berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak pada
pendidikan formal. (Irmawati, 2003 ¶ 10)
Kecemasan yang dialami oleh ibu bersalin seksio sesarea sebagian besar
berkurang setelah diberikan terapi musik klasik dengan ditemukannya rata-rata hasil
kuesioner sebesar 12,87 pada responden. Hal ini didukung oleh laporan Journal
American Medical Association tahun 1996, tentang hasil studi terapi musik di Texas
pelepasan endorfin selama proses persalinan, sehingga 10 ibu bersalin melahirkan
dengan rasa tenang dan rileks. (Campbell, 2001)
2. Keterbatasan penelitian
Pada penelitian ini, peneliti merasakan masih banyak keterbatasan yang dihadapi
dalam melaksanakan penelitian, dari proses pengumpulan data hingga penyajian hasil.
Beberapa kesulitan saat pengumpulan data yaitu sulit menemukan responden yang
sesuai dengan kriteria dan mengontrol faktor-faktor kecemasan diruang operasi seperti
persiapan anastesi, persiapan operasi, dan meja operasi.
3. Implikasi untuk asuhan kebidanan / pendidikan kebidanan.
Dari hasil penelitian ini telah dibuktikan bahwa musik klasik efektif untuk
mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Jadi, musik klasik dapat
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang efektifitas terapi musik klasik
untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr. Pirngadi
Medan tahun 2011 ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Karakteristik responden diperoleh bahwa sebagian besar responden pada kelompok
intervensi berusia 20 – 25 tahun sebanyak 8 orang (53,3 %) dan mayoritas responden
pada kelompok kontrol berusia 26 – 30 tahun sebanyak 6 orang (40,0 %).
Berdasarkan pendidikan mayoritas responden pada kelompok intervensi
berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 15 oang (100 %) dan mayoritas
responden pada kelompok kontrol berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 10
orang (66,7 %) . Berdasarkan pekerjaan mayoritas responden pada kelompok
intervensi adalah ibu rumah tangga sebanyak 13 orang (86,7 %) dan mayoritas
responden pada kelompok kontrol adalah ibu rumah tangga sebanyak 7 orang (46,7
%). Berdasarkan penghasilan mayoritas responden pada kelompok intervensi
berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan mayoritas responden
pada kelompok kontrol berpenghasilan 1.000.000-2.000.000 sebanyak 8 orang ( 53,3
intervensi adalah anak ke - 1,2, dan 3 sebanyak 5 orang ( 33,3 %) dan mayoritas
responden pada kelompok kontrol adalah anak ke - 2 sebanyak 8 orang (53,3%).
2. Rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi (12,87)
dengan standart deviasi (2,386) sedangkan nilai minimum – maximum adalah (11 - 18)
dan confidence interval (11,55 – 14,19). Dan rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio
sesarea pada kelompok kontrol (17,53) dengan standart deviasi (1,246) sedangkan nilai
minimum – maximum ( 14 – 19) dan confidence interval (16,84 – 18,22).
3. Hasil uji statistik didapatkan nilai p adalah 0.000, maka dapat disimpulkan bahwa ada
pengaruh yang signifikan dari frekuensi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea
pada kelompok intervensi dan kontrol.
B. Saran
1. Bagi Praktek Kebidanan / RSUD dr. Pirngadi Medan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai intervensi bagi peraktek kebidanan
dalam memberikan asuahan kebidanan kepada ibu bersalin seksio sesar.
2. Bagi Insitusi Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk pengembangan
ilmu pengetahuan kebidanan pada ibu bersalin khususnya Askeb IV (Patologi).
3. Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi
kepada peneliti selanjutnya, dengan melakukan penelitian sejenis yang melihat
kecemasan ibu bersalin seksio sesarea yang indikasi elektif dan emergency yang
DAFTAR PUSTAKA
Benson, P & Pernoll. (2009). Buku saku Obsetry Gynecology William. Jakarta
EGC.
Cendika, D, I. (2010). Panduan pintar hamil dan melahirkan. Jakarta: Wahyu
media.
Cecilia, S,P. (2008). Janin Tumbuh Cerdas Lewat Musik. Diambil pada tanggal
30 Maret
Cunningham, F. G. ( 2006). Obsetry :Gynecology William. Jakarta: EGC.
Depkes, RI. Indonesia Sehat. 2009, from
Fauzi, D. A. (2006), Pengaruh musik bagi kecerdasan bayi. Jakarta: Harmoni
Hidayat, A. A. (2007), Metodologi penelitian kebidanan teknik analisis data.
Jakarta: Salemba medika
Irawati. (2003). pengaruh musik dalam kehamilan. Diambil pada tanggal 8 juni
2003, from http://www.kedokterankeluarga.com.
Manik, M, Sitohang, N, A, & Asiah,N. 2010. Panduan penulisan karya tulis
ilmiah. Medan: Tidak dipublikasikan
Nolan, M. (2010). Kelas bersalin. Yogyakarta: Golden books
Nursalam. (2003), Konsep & penerapan metodologi penelitian ilmu
Satiadarma, M. P. (2004), Cerdas dengan musik. Cetakan pertama, Jakarta:
Puspa Suara.
Scott, E. (2007). Research letter : How music affects us and why music therapy
promotes health. retrieved November 01, 2007, from
http://www.About.com.Guide.
Silalahi, M. (2009). Cerdas dengan terapi musik. 8 Februari 2009, from
file://F//cerdasdenganterapimusik.com
Stuart, G. W. (2006). Pocket Guide to Psychiatric Nursing in Buku saku
keperawatan jiwa dalam Eko. P. K. (eds). Respon ansietas dan gangguan ansietas. Jakarta : EGC.
Suririnah .(2009). Buku pintar kehamilan dan persalinan, Jakarta: PT. Garamedi
Suyanto, & Salamah, U (2009). Riset kebidanan metodologi & aplikasi.
Yogyakarta: Mitra cendika offset.
Videbeck, S. L. (2008). Psychiatric Mental Healt Nursingin Buku ajar
keperawatan jiwa, dakam Eko, K. P (Eds). Ansietas & Gangguan terkait
sters (hal. 307-325) Jakarta : EGC.
Visnu, J. (2008). Yuk kenali terapi musik, Diambil pada tanggal 28 Agustus
Wijaya, P. (2008) . Terapi musik untuk mengurangi rasa sakit saat persalinan.
Diambil pada tanggal 2 September 2008,
Williams, L, Wilkins. (2004). Canadian Essentials Of Nursing Research.
Philadelpihia : A Wolters Kluwer Company.
Yustina, I. (2008). Pemerdayaaan Masyarakat Untuk Mewujudkan Indonesia
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bernama Lely Febriani Nasution/ 105102039 adalah mahasiswa
Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara.
Saat ini sedang melakukan penelitian tentang Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk
Mengurangi Kecemasan Pada Ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr. Pirngadi Medan
Tahun 2011. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam meneyelesaikan tugas
akhir di Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra
Utara.
Untuk keperluan tersebut saya mohon kesedian ibu-ibu untuk menjadi responden
dalam penelitian ini. Selanjutnya saya mohon mengisi kuesioner dan lembar ceklis
dengan jujur dan apa adanya. Jika bersedia, silahkan menandatangani lembar
persetujuan ini sebagai bukti kerelaan ibu.
Partisipasi ibu-ibu dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga bebas
mengundurkan diri setiap saat tanpa sanksi apapun. Identitas pribadi ibu dan semua
informasi yang ibu berikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan
penelitian ini. Terimah kasih atas partisipasi ibu dalam penelitian ini.
Medan, November 2010
Peneliti Responden
Lembar Kuesioner
Efektifitas Terapi Musik Klasik Terhadap Mengurangi Kecemasan Ibu Bersalin Seksio Sesarea Di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan Tahun 2010-2011
No Responden :
Tanggal :
A. karekteristik ibu
Usia : 20-25 tahun
26-30 tahun
31-35 tahun
36- 40 tahun
Tingkat pendidikan : Pendidikan dasar (SD/SMP/MTS)
Pendidikan menengah (SMU/SMK)
Pendidkan tinggi
Tidak Sekolah
Pekerjaan : IRT
PNS
Karyawan
< Rp1.000.000
Rp1.000.000-Rp2.000.000
> Rp2.000.000
Paritas : 1
2
> 3
B. Kuesioner kecemasan
Berikan tanda checklist () pada salah satu pernyataan dengan pilihan anda, bila ada
pernyataan yang kurang dimengerti dapat dinyatakan pada peneliti.
1. Apakah ibu merasa khwatir memasuki ruangan operasi?
Ya Tidak
2. Apakah ibu merasa takut melihat lampu-lampu yang ada diruangan operasi seksio
sesarea?
Ya Tidak
3. Apakah ibu merasa takut saat alat-alat operasi didekatkan pada ibu?
Ya Tidak
4. Apakah ibu merasa takut saat mau diberikan pembiusan oleh dokter anastesi?
Ya Tidak
5. Apakah ibu merasa tegang saat mau diberikan pembiusan oleh dokter anastesi?
6. Apakah ibu merasa kaku badan saat mau diberikan pembiusan oleh dokter
anastesi?
Ya Tidak
7. Apakah ibu merasa takut menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
8. Apakah ibu merasa khawatir menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
9. Apakah ibu merasa gemetar menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
10.Apakah ibu merasa tidak tenang menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
11.Apakah ibu merasa tidak semangat menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
12.Apakah ibu merasa tidak nyaman menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
13.Apakah ibu merasa gelisah menghadapi persalinan seksio sesarea?
14.Apakah ibu merasa berdebar-debar menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
15.Apakah ibu merasa sesak napas saat menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
16.Apakah ibu khawatir akan keberhasilan persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
17.Apakah ibu khawatir bahwa proses persalinan seksio sesarea dapat membahayakan
diri ibu?
Ya Tidak
18.Apakah ibu merasa takut anak yang dilahirkan tidak selamat?
Ya Tidak
19.Apakah ibu merasakan mual menghadapi persalinan seksio sesarea?
Ya Tidak
20.Apakah ibu merasa kedinginan saat berada diruangan operasi ?
PROSEDUR PEMBERIAN TERAPI MUSIK
1. Defenisi
Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang fisik
maupun mental. Terapi musik memberikan rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak
seperti ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisa intelek dan fungsi kesadaran.
2. Tujuan terapi musik
a. Melihat kecemasan pada ibu bersalinan ibu bersalin seksio sesarea saat menjalani
persalinan seksio sesarea.
b. Mengukur kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea saat menjalani seksio
sesarea
3. Indikasi-indikasi diberikan terapi musik
a. Ibu bersalin seksio sesarea dengan indikasi-indikasi dari ibu dan janin
b. Ibu bersalin dengan pertama kali melakukan operasi seksio sesarea
c. ibu bersalin dengan anastesi spinal.
4. Waktu pemberian terapi musik
Terapi musik klasik diberikan saat anastesi diberikan sampai sebelum pembelahan saat
operasi berlansung. Terapi musik klasik diberikan selama +15 menit.
5. Persiapan terapi musik klasik.
a. Peralatan : Alat yang digunakan Tape dan CD Mozzrad. Terapi musik diberikan
saat pasien diberi anastesi samapi sebelum dilakukan pembelahan.
b. Tempat : Terapi musik diberikan dirungan operasi (OK). Ruangan OK
hendaknya memiliki meja untuk meletakkan tape yang dekat dengan cokkan
c. Peneliti :
- Peneliti memberitahu responden akan diberikan terapi musik
klasik pada saat anastesi diberikan sampai sebelum pembelahan.
- Peneliti mempersiapkan alat dan tempat saat pasien memasuki
ruangan operasi (OK).
- Peneliti memberikan terapi musik dengan menghidupakan tape
kepada pasien seksio sesarea saat di anastesi sampai saat
menjelang pembelahan.
d. Pasien :
- Posisi pasien saat diberikan terapi musik sebaiknaya dengan
posisi telentang, dan santai.
- Kondisi pasien perlu diperhatikan sebelum melakukan terapi
musik.
- Pasien dianjurkan agar dapat menikmati terapi musik dengan
baik sehingga dapat merasakan manfaatnya.
6. Prosedur kerja
a. Pasien diberi anastesi spinal dari dr. anastesi
b. Terpai musik klasik diberikan oleh peneliti atau pegawai ruangan (asisten
peneliti)
c. Pemberian terapi musik diberikan selama +15 menit saat anastesi diberikan