• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Bersalin Seksio Sesarea Di RSUD dr.Pirngadi Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Bersalin Seksio Sesarea Di RSUD dr.Pirngadi Medan"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK KLASIK UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA IBU BERSALIN SEKSIO SESAREA DI RSUD

dr. PIRNGADI MEDAN

LELY FEBRIANI NST

NIM : 105102039

KARYA TULIS ILMIAH

PROGRAM DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)
(4)

PROGRAM DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Karya Tulis Ilmiah, Juni 2011

Lely Febriani Nasution

Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Bersalin

Seksio Sesarea Di RSUD dr.Pirngadi Medan

ix + 39 hal + 4 tabel + 2 skema + 9 lampiran

ABSTRAK

Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Musik diterapkan menjadi terapi, karena musik dapat memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Penelitian ini menggunakan desain quasi

eksperimen dengan rancangan penelitian two group intervensi kontrol. Jumlah sampel

dalam penelitian ini adalah 15 orang pada kelompok intervensi dan 15 orang pada kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposif

sampling. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Pirngadi Medan. Hasil penelitian ini

mayoritas responden kelompok intervensi pada usia 20-25tahun sebanyak 8 orang (53,3%) dan kelompok kontrol pada usia 26-30tahun sebanyak 6 orang (40,0%), mayoritas pendidikan responden pada kelompok intervensi berpendidikan SMA sebanyak 15 orang (100%) dan kelompok kontrol sebanyak 10 orang (66,7%), mayoritas responden pada kelompok intervensi bekerja sebagai IRT sebanyak 13 orang (86,7%) dan kelompok kontrol bekerja sebagai IRT sebanyak 7 orang (46,7%), mayoritas responden kelompok intrvensi berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan kelompok kontrol berpenghasilan 1juta - 2juta sebanyak 8 orang (53,3%) dan paritas kelompok intervensi anak ke- 1,2,dan 3 sebanyak 5 (33,3%) dan kelomok kontrol anak ke 2 sebanyak 8 orang (53,3%). Analisis data menggunakan uji t-independent. Hasil uji statistik t-independent dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi musik klasik yang signifikan untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol (P = 0.000). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terapi musik klasik efektif untuk mengurangi kecemasan, sehingga bidan dapat menerapkan terapi musik klasik dalam memberikan asuhan kepada ibu bersalin seksio

sesarea.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti ucapkan kepada ALLAH SWT karena atas berkat rahmat

dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul

efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio

sesarea di RSUD dr. Pirngadi Medan tahun 2011.

Peneliti menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna baik

dari isi maupun susunan bahasa. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan adanya

masukan dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak

yang telah membantu dan membimbing peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah

ini yaitu :

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatra Utara.

2. Nur Asnah Sitohang, S.Kep. Ns. M.Kep selaku Ketua Program Studi D-IV

Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara dan selaku

dosen pembimbing dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang telah

(6)

.

3. Farida Linda Sari Siregar, S.Kep. Ns. M.Kep selaku dosen pembimbing

akademik.

4. Seluruh dosen, staf dan pegawai administrasi program studi D-IV Bidan

Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

5. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan, semangat

kepada peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah.

6. Seluruh teman – teman D-IV Bidan pendidik USU yang telah memberikan

dukungan kepada peneliti sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.

7. Semua pihak yang mendukung peneliti dalam menyelesaikan Karya Tulis

Ilmiah.

Akhir kata peneliti ucapkan terimahkasih atas semua bantuan yang diberikan,

semoga mendapat anugerah dari ALLAH SWT. Amin Ya Robbal Alamin.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK………i

KATA PENGANTAR……….ii

DAFTAR ISI………iv

DAFTAR TABEL………vii

DAFTAR SKEMA……….viii

DAFTAR LAMPIRAN………ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………1

B. Perumusan Masalah………3

C. Tujuan Penelitian...3

1. Tujuan Umum………...3

2. Tujuan khusus………...4

D. Manfaat Penelitian………..4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Seksio sesaraea………5

1. Pengertian………..5

2. Keuntungan seksio sesarea………5

3. Kerugian seksio sesarea………5

4. Indikasi-indikasi seksio sesarea………6

(8)

b. indikasi Sosial………..7

5. Kontraindikasi seksio sesarea………8

6. Anastesi………..8

a. Anastesi general………8

b. Anestesi spinal………..9

B. Terapi musik………..9

1. Pengertian………9

2. Pengaruh musik terhadap otak………10

3. Jenis-jenis musik……….11

4. Manfaat musik………12

5. Rangsangan terapi musik terhadap fungsi otak………..13

C. kecemasan ………13

1. Pengertian………13

2. Etiologi cemas………14

3. Bentuk cemas……….14

4. Faktor-faktor penyebab kecemasan dalam persalianan……….14

a. Faktor emosional……….14

b. Faktor ketakutan……….15

5. Tingkat kecemasan………16

BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep………18

B. Hipotesis………..18

C. Definisi Operasional………19

BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian………21

(9)

1. Populasi………22

2. Sampel……… .22

C. Tempat Penelitian………...23

D. Waktu Penelitian………24

E. Etika Penelitian………..24

F. Alat Pengumpulan Data………24

G. Validitas dan Realibilitas………..25

H. Prosedur Pengumpulan Data………26

I. Analisis Data………27

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian……….29

1. Analisis Univariat………...29

2. Analisis Bivariat……….32

B. Pembahasan 1. Intrepretasi dan Diskusi Hasil.………..34

2. Keterbatasan peneltian………..36

3. Implikasi untuk Asuhan Kebidanan………..36

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………37

B. Saran ……….38

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Bersalin Seksio Sesarea di RSUD

dr. Pirngadi Medan Tahun 2011………..31

Tabel 5.2 Distribusi kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok

Intervensi dan Kontrol di RSUD dr.Pirngadi Medan tahun

2011………32

Tabel 5.3 Perbandingan Kecemasan Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok

Kontrol Pada Ibu Bersalin Seksio Sesarea di RSUD dr. Pirngadi

Medan Tahun

(11)

DAFTAR SKEMA

Skema 1. Kerangka Konsep………18

Skema 2.Desain Penelitian Efektifitas Terapi Musik Klasik Dalam Mengurangi

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 2 : Kuesioner

Lampiran 3 : Prosedur Pemberian Terapi Musik

Lampiran 4 : Prosedur tetap Pemberian Terapi Musik

Lampiran 5 : Surat Izin Balasan Penelitian

(13)

PROGRAM DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Karya Tulis Ilmiah, Juni 2011

Lely Febriani Nasution

Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Bersalin

Seksio Sesarea Di RSUD dr.Pirngadi Medan

ix + 39 hal + 4 tabel + 2 skema + 9 lampiran

ABSTRAK

Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Musik diterapkan menjadi terapi, karena musik dapat memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Penelitian ini menggunakan desain quasi

eksperimen dengan rancangan penelitian two group intervensi kontrol. Jumlah sampel

dalam penelitian ini adalah 15 orang pada kelompok intervensi dan 15 orang pada kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposif

sampling. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Pirngadi Medan. Hasil penelitian ini

mayoritas responden kelompok intervensi pada usia 20-25tahun sebanyak 8 orang (53,3%) dan kelompok kontrol pada usia 26-30tahun sebanyak 6 orang (40,0%), mayoritas pendidikan responden pada kelompok intervensi berpendidikan SMA sebanyak 15 orang (100%) dan kelompok kontrol sebanyak 10 orang (66,7%), mayoritas responden pada kelompok intervensi bekerja sebagai IRT sebanyak 13 orang (86,7%) dan kelompok kontrol bekerja sebagai IRT sebanyak 7 orang (46,7%), mayoritas responden kelompok intrvensi berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan kelompok kontrol berpenghasilan 1juta - 2juta sebanyak 8 orang (53,3%) dan paritas kelompok intervensi anak ke- 1,2,dan 3 sebanyak 5 (33,3%) dan kelomok kontrol anak ke 2 sebanyak 8 orang (53,3%). Analisis data menggunakan uji t-independent. Hasil uji statistik t-independent dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi musik klasik yang signifikan untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol (P = 0.000). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terapi musik klasik efektif untuk mengurangi kecemasan, sehingga bidan dapat menerapkan terapi musik klasik dalam memberikan asuhan kepada ibu bersalin seksio

sesarea.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan Nasioanal adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan.

Visi Indonesia 2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang

akan dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat bangsa dan negara yang

ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat dan perilaku hidup yang

sehat. Pembangunan kesehatan nasional akan tercapai apabila bangsa dan negara

meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga bangsa dan negara dapat hidup dalam

lingkungan sehat dan berperilaku sehat (Depkes RI, 2009 ¶ 1).

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran atau hasil konsepsi yang dapat

hidup di dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan seksio sesarea adalah

mengeluarkan janin melalui irisan pada dinding perut (Laparatomi) dan dinding uterus

( Histerektomi). (Suririnah,2009,hal 183)

Angka kejadian persalinan seksio sesarea menurut WHO (Badan Kesehatan

Dunia), memperkirakan bahwa angka persalinan dengan seksio caesar sekitar 10%

sampai 15% dari semua proses persalinan sesarea di Negara-negara berkembang. Di

Amerika Serikat pada tahun 2003 angka persalinan seksio sesar mencapai 23%. Di

Kanada pada tahun 2003 angka persalinan seksio sesarea mencapai angka 21%. Di

(15)

Sedangkan angka kejadian persalinan seksio sesarea menurut data RSUD dr.Pirngadi

Medan jumlah ibu bersalin seksio sesarea tahun 2008 mencapai 335 orang dan pada

tahun 2009 meningkat mencapai 400 orang. (RM RSUD dr. Pirngadi)

Menurut tenaga dokter diSydney, mereka beranggapan bahwa musik digunakan

sebagai pegobatan antikecemasan terutama pada pasien dalam kondisi kritis.

Implementasi dari terapi musik dapat mengurangi kecemasan yang akhirnya berkaitan

dengan proses pemulihan yang lebih cepat (Wijaya, 2008. ¶ 2).

Musik bisa menjadi terapi yang dapat diartikan sebagai pengobatan. Musik

memiliki aspek terapetik, sehingga musik banyak digunakan untuk penyembuhan,

menenangkan, dan memperbaiki kondisi fisik dan fisiologis pasien maupun tenaga

kesehatan (Visnu, 2008. ¶ 1).

Berdasarkan penelitian Berlioz dan Getry (2004), yang bertujuan untuk

mengetahui kinerja musik terhadap nadi dan sirkulasi darah. Dengan menggunakan

desain penelitian prosfektif, dengan sampel ibu bersalin sebanyak 10 ibu. Didapat hasil

bahwa 5 dari 10 ibu bersalin yang diberi terapi musik ternyata dapat melipatgandakan

cardiacoutput (Visnu, 2008. ¶ 6).

Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Thomatis dan Campbell (1971),

dengan tujuan penelitiannya untuk mengetahui efektifitas Mozzart effect untuk

meningkatkan stimulasi (rangsangan) lebih tenang menghadapi persalinan. Penelitiannya

melibatkan 11 ibu bersalin, didapat hasil bahwa ibu bersalin yang telah didengarkan

musik klasik selama 10 menit, mengalami stimulasi (rangsangan) lebih tenang

menghadapi persalianan (Cendika, 2010. hal 228).

Hasil penelitian yang dilakukan Fauzi (2006), menunjukkan bahwa pelatihan

(16)

perkembangan bagian-bagian tertentu dari otak secara jangka panjang. Namun dengan

mendengarkan musik akan membantu perkembangan positif dari otak manusia

(Fauzi, 2006 ¶ 2).

Dari survey pendahuluan, yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 20

September 2010 di Medan dengan metode wawancara pada 10 ibu yang mempunyai

pengalaman operasi seksio sesarea, 10 orang ibu mengatakan mengalami kecemasan

akan keberhasilan seksio sesarea dan mereka tidak pernah mendapatkan terapi musik

pada saat operasi berlangsung. Peneliti juga mewancara 2 dokter Spesial Obgyn tentang

terapi musik untuk ibu bersalin dengan seksio sesarea, 2 dokter mengatakan, diruangan

mereka menyediakan alat musik, namun alat musik hanya dipergunakan untuk tenaga

medis.

Maka saya sebagai peneliti tertarik untuk meneliti efektifitas terapi musik klasik

untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di Rumah Sakit Umum

Daerah dr. Pirngadi Medan tahun 2010.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat

dirumuskan adalah efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu

bersalin seksio sesarea di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan tahun 2010.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan

(17)

2. Tujuan Khusus

a. Mengindentifikasi karakteristik ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr.

Pirngadi Medan tahun 2010.

b. Mengidentifikasi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea setelah

diberikan terapi musik klasik pada kelompok intervensi di RSUD dr.

Pirngadi Medan.

c. Mengidentifikasi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea pada

kelompok kontrol di RSUD dr. Pirngadi Medan.

d. Membandingkan kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok

intervensi dan kontrol di RSUD dr. Pirngadi Medan

D. Manfaat Penelitian

a. Bagi Praktek Kebidanan

Sebagai sumber informasi bagi peraktek kebidanan dalam memberikan

asuahan kebidanan kepada ibu bersalin seksio sesar.

b. Bagi Insitusi Kebidanan

Sebagai informasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan asuhan

kebidanan pada ibu bersalin khususnya Askeb IV (Patologi) .

c. Peneliti

Memberikan informasi dan data untuk peneliti yang ingin melakukan

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Seksio Sesarea

1. Pengertian

Seksio sesarea adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta

plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson dan

pernoll, 2009. hal 456).

2. Keutungan Seksio Caesar

Operasi caesar lebih aman dipilih dalam menjalani proses persalinan karena

telah banyak menyelamatkan jiwa ibu yang mengalami kesulitan melahirkan. Jalan lahir

tidak teruji dengan dilakukannya seksio sesarea, yaitu bilamana di diagnosa panggul

sempit atau fetal distress didukung data pelvimetri. Bagi ibu yang paranoid terhadap

rasa sakit, maka seksio sesarea adalah pilihan yang tepat dalam menjalani proses

persalinan, karena diberi anastesi atau penghilang rasa sakit (Fauzi, 2007. hal 8).

3. Kerugian Seksio Caesar

Operasi seksio caesar merupakan prosedur medis yang mahal. Prosedur anastesi

pada operasi bias membuat anak ikut terbius, sehingga anak tidak spontan menangis,

keterlambatan menangis ini mengakibatkan kelainan hemodinamika dan mengurangi

apgar score. Ibu akan mendapat luka baru di perut dan kemungkinan timbulnya infeksi

(19)

sehingga proses penyembuhan luka akan semakin lama. Tindakan Seksio

Caesar biasanya dianggap sebagai suatu penyiksaan bagi yang tidak memiliki kebiasaan

beristirahat lama di rumah sakit setelah melahirkan (Fauzi, 2007. hal 11).

4. Indikasi-Indikasi Seksio Caesar

a. Indikasi Ibu

Dalam proses persalinan terdapat tiga faktor penentu yaitu power (tenaga

mengejan dan kontraksi dinding otot perut dan dinding rahim), passageway (keadaan

jalan lahir), passanger (janin yang dilahirkan) dan psikis ibu.

Mula-mula indikasi seksio sesarea hanya karena ada kelainan passageaway,

misalnya sempitnya panggul, dugaan akan terjadinya trauma persalinan pada jalan lahir

atau pada anak, sehingga kelahirannya tidak bisa melalui jalan vagina. Namun, akhirnya

merambat ke faktor power dan pasanger. Kelainan power yang memungkinkan

dilakukannya seksio sesarea, misalnya mengejan lemah, ibu sakit jantung atau penyakit

menahun lainnya mempengaruhi tenaga. Sedangkan kelainan passenger diantaranya

makrosemia, anak kelainan letak jantung, primigravida >35 tahun dengan janin letak

sungsang, persalina tak maju, dan anak menderita fetal distress syndrome (denyut

jantung janin melemah).

Secara terperinci ada tujuh indikasi medis seorang ibu yang harus menjalani

seksio sesarea yaitu: 1) Jika panggual sempit, sehingga besar anak tidak proporsional

dengan indikasi panggul ibu (disporsi). Olehkarena itu, penting untuk melakukan

pengukuran panggul pada waktu pemeriksaan kehamilan awal. Dengan tujuan

memperkirakan apakah panggul ibu masih dalam batas normal. 2) Pada kasus gawat

janin akibat terinfeksi misalnya, kasus ketuban pecah dini (KPD) sehingga bayi

(20)

ibu mengalami preeklamsia/eklamsia, sehingga janin terpengaruh akibat komplikasi ibu.

3) Pada kasus plasenta terletak dibawah yang menutupi ostium uteri internum (plasenta

previa), biasanya plasenta melekat di bagian tengah rahim. Akan tetapi pada kasus plasenta previa menutupi ostium uteri internum. 4) Pada kasus kelainan letak. Jika

posisi anak dalam kandungan letaknya melintang dan terlambat diperiksa selama

kehamilan belum tua. 5) Jika terjadi kontraksi yang lemah dan tidak terkordinasi, hal ini

menyebabkan tidak ada lagi kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari rahim.

(incordinate uterine-action). 6) Jika ibu menderita preeklamsia, yaitu jika selama

kehamilan muncul gejala darah tinggi, ada protein dalam air seni, penglihatan kabur dan

juga melihat bayangan ganda. Pada eklamsia ada gejala kejang-kejang sampai tak

sadarkan diri. 7) Jika ibu mempunyai riwayat persalinan sebelumnya adalah seksio sesar

maka persalinan berikutnya umumnya harus seksio sesar karena takut terjadi robekan

rahim. Namun sekarang, teknik seksio sesar dilakukan dengan sayatan dibagian bawah

rahim sehingga potongan pada otot rahim tidak membujur lagi. Dengan demikian

bahaya rahim robek akan lebih kecil dibandingkan dengan teknik seksio dulu yang

sayatan dibagian tengah rahim dengan potongan yang bukan melintang (Cunningham,

et,al 2006. hal 592).

b. Indikasi sosial

Selain indikasi medis terdapat indikasi nonmedis untuk melakukan seksio sesar

yang indikasi sosial. Persalinan seksio sesar karena indikasi sosial timbul karena adanya

permintaan pasien walaupun tidak ada masalah atau kesulitan untuk melakukan

persalinan normal. Indikasi sosial biasanya sudah direncanakan terlebih dahulu untuk

(21)

5. Kontara indikasi seksio sesarea

Kontraindikasi seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun

untuk kepentingan anak, oleh sebab itu, seksio sesarea tidak dilakukan kecuali tidak

dalam keadaan terpaksa. Seksio sesarea tidak boleh dilakukan pada kasus-kasus seperti

ini: 1) Janin sudah mati dalam kandungan. Dalam hal ini dokter memastikan denyut

jantung janin tidak ada lagi, tidak ada lagi gerakan janin anak dan dari pemeriksaan

USG untuk memastikan keadaan janin, 2)Janin terlalu kecil untuk mampu hidup diluar

kandungan, 3) Terjadi infeksi dalam kehamilan, 4) Anak dalam keadaan cacat seperti

Hidrocefalus dan anecepalus (Cunningham, et,al 2006. hal 592).

6. Anestesi

Ada beberapa anestesi atau penghilang rasa sakit yang bisa dipilih untuk operasi

caesar, baik spinal maupun general. Pada anestesi spinal atau epidural yang lebih umum

digunakan, sang ibu tetap sadar kala operasi berlangsung. Anestesi general bekerja

secara jauh lebih cepat, dan mungkin diberikan jika diperlukan proses persalinan yang

cepat (Gallagther, 2004. hal 20).

a. Anestesi general

Anestesi general biasanya diberikan jika anestesi spinal atau epidural tidak

mungkin diberikan, baik karena alasan teksis maupun karena dianggap tidak aman. Pada

prosedur pemberian anestesi ini akan menghirup oksigen melalui masker wajah selama

tiga sampai empat menit sebelum obat diberikan melalui penetesan intravena. Dalam

waktu 20 sampai 30 detik, maka pasien akan terlelap. Saat pasien tidak sadar, akan

disisipkan sebuah selang ke dalam tenggorakkan pasien untuk membantu pasien

bernafas dan mencegah muntah. Pasien yang menggunakan anestesi general harus

(22)

b. Anestesi spinal

Dalam operasi caesar, pasien diberi penawaran untuk menggunakan anestesi

spinal atau epidural. Pilihan ini membuat pertengahan ke bawah tubuh pasien mati rasa,

tetapi pasien akan tetap terjaga dan menyadari apa yang sedang terjadi. Hal ini berarti

pasien bisa merasakan kelahiran bayi tanpa merasakan sakit, dan pasangan juga bisa

mendampingi untuk memberikan dorongan dan semangat.

B. Terapi musik

1. Pengertian

Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang baik

fisik maupun mental. Musik memberikan rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak

seperti fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisi intelek dan fungsi

kesadaran (Satiadarma, 2004. hal 17).

Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan

kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik

dapat meningkatkan pemulihkan dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional,

social, dan spiritual. (Raymont, 2000 )

Musik adalah segala sesuatu yang menyenangkan, mendatangkan kecerian,

mempunyai irama (ritme), melodi, Timbre (warna suara) tertentu untuk membantu tubuh

dan pikiran saling bekerja sama. Musik memberikan nuansa yang besifat menghibur,

menumbuhkan suasana yang menenangkan dan menyenangkan seseorang (Sari, 2005.

(23)

2. Pengaruh Musik Terhadap Sistem Saraf di Otak

A. Sistem Otak Yang Memproses Perasaan.

Musik adalah bahasa yang membawa perasan. Musik dapat merangsang sistem

saraf yang akan menghasilkan suatu perasaan. Perangsangan sistem saraf ini mempunyai

arti penting bagi pengobatan, karena sistem saraf ambil bagian dalam proses fisiologis.

Dalam ilmu kedokteran jiwa, jika emosi tidak harmonis, maka akan mengganggu sistem

lain dalam tubuh kita, misalnya sistem pernapasan, sistem endokrin, sistem immune,

sistem kardiovaskuler, sistem metabolik, sistem motorik, sistem nyeri, sistem temperatur

dan lain sebagainya. Semua sistem tersebut dapat bereaksi positif jika mendengar musik

yang tepat.

B. Sistem Otak Kognitif

Aktivasi sistem ini dapat terjadi walaupun seseorang tidak mendengarkan atau

memperhatikan musik yang sedang diputar. Musik akan merangsang sistem ini secara

otomatis, walaupun seseorang tidak menyimak atau memperhatikan musik yang sedang

diputar. Jika sistem ini dirangsang maka seseorang akan meningkatkan memori, daya

ingat, kemampuan belajar, kemampuan matematika, analisis, logika, inteligensi dan

kemampuan memilah, disamping itu juga adanya perasaan bahagia dan timbulnya

keseimbangan sosial.

C. Sistem Otak Yang Mengontrol Kerja Otot

Musik secara langsung bisa mempengaruhi kerja otot kita. Detak jantung dan

pernafasan bisa melambat atau cepat secara otomatis, tergantung alunan musik yang

didengar. Ternyata denyut jantung dan tekanan darah bisa diturunkan. Musik juga

mempengaruhi sistem imun, sistem saraf, sistem endokrin, sistem pernafasan, sistem

(24)

berbagai penelitian ilmiah tersebut, dinyatakan bahwa musik dapat digunakan untuk

membantu penyembuhan beberapa penyakit seperti insomnia, stress, depresi, rasa nyeri,

hipertensi, obesitas, parkinson, epilepsi, kelumpuhan, aritmia, kanker, psikosomatis,

mengurangi rasa nyeri saat melahirkan, dan rasa nyeri lainnya.

3. Jenis-Jenis Musik

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi juga semakin

meningkatkan jenis-jenis musik seperti Rock, musik country, musik jazz, musik barok,

musik klasik. Jenis-jenis musik yang sudah diteliti yang memberikan stimulasi

(rangsangan) terhadap kesehatan adalah :

a. Musik Klasik

Musik klasik adalah kompleksitas musik klasik merangsang keseluaran otak,

makin banyak diserap otak makin beragam kemampuan manusia. Secara umum,

beberapa jenis musik klasik dianggap memiliki dampak yang relative, musik klasik

memilki kesan dan dampak psikologi yang menimbulkan kesan rileks, santai,

memberikan dampak menenangkan dan menurunkan steres.

Musik klasik sangat terstruktur secara harfiah yang akan berpegaruh terhadap

arsitektur otaknya. Musik klasik dapat mengaktifkan belahan otak kanan yang

berhubungan dengan kreatifitas, dan otak sebelah kanan dapat membantu ibu untuk

berfikir lebih tenang. Musik klasik juga dapat mengaktifkan otak sebelah kiri yang

berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak pada pendidikan formal.

Musik klasik mempunyai struktur irama yang disesuaikan dengan pola-pola sel

saraf otak manusia, dan musik klasik menggunakan lagu-lagu Indonesia yang bersyair

(25)

Endorfin merupakan zat alamiah di otak, yang akan dilepaskan saat tubuh merasa

rileks. Hormon-hormon stres, yang meliputi adreronocorticotrophic (ACTH), prolaktin,

dan hormon pertumbuhan (GH), dalam darah akan sama kadarnya saat mendengarkan

musik. Keadaan relaks ini akan memperlancar sirkulasi darah ibu dan janin melalui

plasenta. Denyut jantung janin akan mengikuti sinkronasi dengan denyut jantung ibu

sebagai sumber musik pertama yang janin dengar dalam kandungan. Keseimbangan ini

harus dijaga dari stress, baik fisik maupun psikis, agar janin tidak mengalami gangguan

pertumbuhan selama dalam uterus dan penyulit bagi ibu hamil selama kehamilan hingga

persalinan bagi ibu.

b. Musik Barok

Musik barok dianggap sebagai shooting musik atau musik yang membelai,

menimbulkan rasa tenang dan nyaman, musik barok membangkitkan suasana positif

dalam bermain. Musik jenis ini, cendrung mendorong berani bereksplorasi.

c. Nature Sound musik

Musik nature sounds merupakan bagian musik klasik, nature sound musik

merupakan bentuk integrative musik klasik dengan suara-suara alam. Iringan musik

nature sound musik dapat membangkitkan asosiasi stimulasi sebagai sarana memperkuat

imajinasi atau khayalan.

d. Ayat suci

Musik ayat suci adalah pembacaan doa dan ayat suci dilakukan dengan music

dapat mengarahkan konsentrasi untuk berkomunikasi dengan alam semesta atau

lingkungan sekitar. Ritual musik dengan ayat-ayat dan doa dapat mengikat emosional

antara anggota, karena nyanyian ayat dan doa dapat meresapi pesan-pesan ilahi tentang

(26)

4. Manfaat Musik

Musik adalah pengatur yang baik membentuk tubuh dan pikiran untuk saling

bekerja sama. Musik berguna untuk : 1) memberi pengulangan yang menguatkan

pembelajaran, 2) memberi ketukan yang berirama yang membantu koordinasi,

3) memberi pola yang membimbing guna mengantisipasi apa yang terjadi, 4) Memberi

kata-kata yang menyatukan bahasa dan kemampuan membaca, 5) Memberi melodi yang

menarik hati dan perhatian dengan kegembiraan, 6) Musik dapat menenangkan

(relasaksi) dan juga memberikan rangsangan (stimulasi). (Sari, 2005. hal 37-38).

5. Rangsangan Terapi Musik Terhadap Fungsi Otak

Musik dapat berpengaruh untuk : 1) merangsang otak secara fisik, musik

mampu mengaktifkan fungsi otak yang telah mengalami penurunan akibat adanya

gangguan fisik. Sehingga musik memungkinkan kondisi fisik yang baik, 2) merangsang

fungsi kognitif, musik mampu membantu seseorang untuk meningkatkan konsentrasi,

menenangkan pikiran, memberi ketenangan dan membantu seseorang untuk melakukan

motivasi pada diri sendiri, 3) merangsang Rekognisi (mengenali kembali), musik dapat

merangsang penginderaaan dan akan disampaikan ke otak dengan menggunakan sinyal

saraf, kemudian otak menganalisa sinyal yang dikirim oleh penginderaan. maka

seseorang yang mendengar dengan musik, maka individu akan merespon dengan

berbagai macam reaksi, 4) merangsang berfikr ritmis, tidak dapat dipungkiri bahwa

musik mengandung irama atau ritmis, ketika seseorang mendengar musik, maka

seseorang akan mengawali proses berpikir secara ritmis seperti mengikuti irama musik,

(27)

C. Kecemasan

1. Pengertian

Ansietas (cemas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh

situasi. Anietas merupakan alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya

kepada individu (Videbeck, et,al 2008. hal 307).

2. Etiologi Cemas

Penyebab timbulnya kecemasan dapat ditinjau dari 2 faktor yaitu : 1) Faktor

Internal yaitu tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri. Ansietas berlawanan

dengan penyebab psikologis, 2) Faktor Eksternal yaitu dari lingkungan seperti

ketidaknyamanan akan kemampuan diri, Threat (ancaman), Conflik (pertentangan), Fear

(ketakutan), Unfuled need (kebutuhan yang tidak terpenuhi) (Videbeck, dkk, 2008. hal

312-313).

3. Bentuk Cemas

Menurut Bucklew cemas bisa mempengaruhi seseorang dalam berbagai bentuk.

Beberapa orang menunjukkan kecemasannya secara psikologis, emosional, dan

fisiologis. Cemas secara psikologis dan emosional terwujud dalam gejala-gejala

kejiwaan seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkontraksi, perasaan tidak menentu

dan sebagainya. Sedangkan secara fisiologis terwujud dalam gejala-gejala fisik terutama

pada sistem saraf misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut

mual-muntah, diare, nafas sesak disertai tremor pada otot (Videbeck, et,al 2008. hal

308-309).

(28)

a. Faktor Emosional

Rasa takut dan cemasnya seorang wanita dapat dipengaruhi oleh keadaan

emosionalnya. Adapun penyebab dari keadaan emosional itu adalah sebagai berikut :

Kelahiran sebelumnya sangat sulit, keadaan rumah sakit yang sebelumnya sangat

traumatik, penganiayaan pada masa kanak-kanak baik fisik, seksual atau emosional,

Asal usul keluarga yang disfungsional, Ketakutan mengenai masalah kesehatan sekarang

dan kedepannya, kekerasan dalam keluarga dimasa lalu/sekarang, ketidakmampuan

mendengar dan mengerti apa yang terjadi dan apa yang telah dikerjakan dan

kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari cerita-cerita orang bahwa melahirkan itu

sakit sehingga membuat orang merasa cemas dalam menjalani proses persalinan

(Maramis, 1998. hal 107).

b. Faktor Ketakutan

Ketakutan yang umum terjadi pada wanita pada saat menjalani proses

persalinan seksio sesarea yang dapat menghalangi kemajuan persalinan antara lain : 1)

Takut akan menghadapi persalinan seksio sesarea, melahirkan dengan operasi seksio

sesarea dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti takut, cemas, tegang saat

menghadapi persalinan, suasana diruang operasi yang menakutkan. sering juga

gangguan fisik dan psikologis terjadi secara bersamaan sehingga menjadi lingkaran yang

sulit diputus. Mekanisme ini disebut Incordinate Uterine Action. Ketika ibu takut pada

saat persalinan secara otomatis otak mengatur dan mempersiapkan tubuh untuk merasa

sakit, akibatnya rasa sakit saat melahirkan akan semakin terasa. Artinya sakit dan

bimbang semakin terasa maka ibu akan semakin takut (Danuatmaja dan Meilisary,

2008). 2) Takut operasi gagal, seseorang wanita akan merasa takut akan menjelang

(29)

cemas akan kegagalan operasinya. Ibu yang bersalin selalu dikuasai oleh perasaan dan

pikiran mengenai operasinya yang akan dijalaninya gagal dan tanggungjawab dalam

mengurus anaknya. 3) Pengalaman melahirkan sebelumnya, pengalaman melahirkan

sebelumnya merupakan hal penting bagi ibu multipara yang akan melahirkan. Setiap

wanita memiliki pengalaman melahirkan yang tersendiri, pengalaman itu bisa bersifat

positif maupun negatif yang pada akhirnya dapat menimbulkan efek emosional dan

reaksi psikososial. Pengalaman negatif pada kelahiran sebelumnya terhadap persalinan

menyebabkan ibu cemas pada saat melahirkan. gangguan psikologi dan pengalaman

buruk sebagai pasien pada persalinan sebelumnya, merasa tidak aman atau terancam

pada persalinan berikutnya dapat meningkatkan intensitas cemas pada ibu multipara. 4)

Takut akan kematian, seseorang wanita yang akan melahirkan akan merasa takut akan

kematiannya, khusus jika persalinan yang dipilih dengan seksio sesar. Pada saat

melahirkan dan takut akan kematian bayinya atau bahkan kematian pada keduanya.

Takut akan kematian lebih dirasakan oleh ibu yang pernah melahirkan bayi dengan

komplikasi (Henderson dan Benson, 2006).

5. Tingkat Kecemasan

Peplau (1963) mengidentifikasi ansietas (cemas) dalam 4 tingkatan, setiap

tingkatan memiliki karakteristik dalam persepsi yang berbeda, tergantung kemampuan

individu yang ada dan dari dalam dan luarnya maupun dari lingkungannya, tingkat

kecemasan atau ansietas yaitu :

1) Cemas ringan adalah cemas yang normal menjadi bagian sehari-hari dan

menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Cemas

(30)

2) Cemas sedang adalah cemas yang memungkinkan seseorang untuk

memusatkan pada hal-hal yang penting dan mengesampingkan yang tidak penting atau

bukan menjadi prioritas. Cemas sedang bisa mengendalikan diri, dan masih bisa untuk

diarahkan.

3) Cemas berat adalah cemas ini sangat mengurangi persepsi individu,

cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, dan tidak dapat

berfikir tentang hal yang lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk mengurangi

ketegangan individu memerlukan banyak pengesahan untuk dapat memusatkan pada

suatu area lain. Cemas sedang ini biasanya penuh dengan ketakutan, diikuti dengan

gemetar, dan biasanya ditandai dengan mual atau muntah.

4) Panik adalah tingkat panik dari suatu ansietas berbungan dengan ketakutan

dan teromor, karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang mengalami panik tidak

mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan, panik melibatkan

disorganisasi kepribadian, dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik,

menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang

menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan

dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi

(31)

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antarvariabel yang ingin

diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2003. hal

69). Variabel independent dalam penelitian ini adalah efektifitas terapi musik klasik dan

variable dependent adalah kecemasan ibu bersalin seksio sesarea Penelitian ini terdiri

atas dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing kelompok

yang diidentifikasi berdasarkan kecemasan setelah diberikan terapi musik klasik. Hasil

yang diharapkan adalah berkurangnya kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea yang

diberi intervensi terapi musik klasik saat menjalani seksio sesarea.

Variabel Independent Variabel Dependent

Skema 1.Skema Kerangka Konsep

B. Hipotesisis

Hipotesis alternatif yaitu ada pengaruh terapi musik klasik untuk mengurangi

kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Efektifitas terapi

(32)

C. Definisi Opersional

No Variabel Defenisi

Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur

Skala

Wawancara Kecemasan pada

ibu bersalin

Kuesioner Wawancara 1 = 20-25 tahun

2 = 26-30 tahun

3 = 31-35 tahun

4 = 36- 40 tahun

Interval

4. Paritas Jumlah persalinan

yang pernah

5. Pendidikan Jenjang dari tingkat

yang rendah ke

tingkat yang tinggi

untuk

Kuesioner Wawancara 0 = Pendidikan

dasar

(SD/SMP/MTS)

1 = Pendidikan

(33)

menyelesaikan

pendidikan

Menengah

(SMU/SMK)

2 = Pendidkan

Tinggi

3 = Tidak Sekolah

6. Pekerjaan Kegiatan yang

dilakukan setiap

harinya untuk

kehidupan

Kuesioner Wawancara 0 = IRT

1 = PNS

2 = Karyawan

Nominal

7. Penghasilan Upah yang didapat

setelah bekerja

Kuesioner Wawancara 0 = tidak

berpenghasilan

1 = <

Rp1.000.000

3 =

Rp1.000.000-Rp2.000.000

4 = >

Rp2.000.000

(34)

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, menggunakan desain penelitian quasi - eksperimen yang

bersifat two group yaitu kelompok intervensi dan kontrol untuk mengidentifikasi

efektifitas terapi musik klasik dalam mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio

sesarea sesudah diberikan terapi musik. Desain ini digambarkan :

Kelompok Perlakuan Post-test

X I 01

Y 0 01

Skema 2. Desain Penelitian

Keterangan:

X: Kelompok intervensi

Y: Kelompok kontrol

I : Perlakuan terapi musik klasik

0: Tidak diberikan perlakuan terapi musik

01: Pengurungan kecemasan setelah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi

(35)

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr.

Pirngadi Medan. Data dari RSUD dr. Pirngadi Medan Maret sampai April tahun 2010

sebanyak 62 ibu bersalin seksio sesarea.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi. Sampel dalam

penelitian diperoleh dengan menggunakan ketetapan absolute dan menggunakan rumus :

n =

keterangan :

n : Jumlah sampel

N : Jumlah populasi

d : Ketetapan relatif yang ditetapkan oleh peneliti (0,05)

Jadi sampel dalam penelitian ini adalah :

Diketahui :

N = 62

d = 0,05

n =

n =

(36)

n = 53

Sampel yang diperoleh adalah 53 orang. Jadi sampel untuk kelompok intervensi

adalah 53 ibu bersalin seksio sesarea dan kelompok kontrol adalah 53 ibu bersalin seksio

sesarea. Teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan secara Purposif Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan karena sesuai dengan

kriteria sampel yang telah ditentukan. Sampel dalam penelitian ini dengan kriteria

inklusi :

Ibu pertama kali bersalin seksio sesarea (Primi Seksio Sesarea)

Ibu bersalin seksio sesarea dengan indikasi yang terkendali seperti letak

bokong, partus tak maju, dan ibu bersalin dengan rencana SC (elektif)

Ibu bersalin seksio sesarea dengan anastesi spinal

Mengalami kecemasan saat menjelang operasi dan sampel ibu bersalin seksio

sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol dibedakan.

Sampel dengan kriteria eksklusi yaitu :

Ibu previus bersalin secara seksio sesarea

Ibu bersalin seksio sesarea dengan indikasi emergency yang tak terkendali

seperti SC karena rupture uteri.

Ibu bersalin dengan seksio sesarea dengan anatesi general

C. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr.Pirngadi Medan, dengan

pertimbangan rumah sakit umum daerah dr. Pirngadi Medan ditemukan ibu bersalin

seksio sesarea, adalah sebagai tempat praktek peneliti dan merupakan rumah sakit

(37)

D. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada September 2010 sampai dengan Juni tahun 2011.

E. Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari insitusi pendidikan

yaitu Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan USU dan izin Direktur

Rumah Sakit Umum Daerah dr.Pirngadi Medan. Dalam hal ini peneliti melaksanakan

beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan etik, yaitu memberikan penjelasan

kepada responden tentang tujuan penelitian, manfaat, dan prosedur pelaksanaan

penelitian. Semua responden bersedia untuk diteliti, tetapi yang menandatangani

informed consent hanya 25 responden dari 30 responden yang diperoleh. Responden

tidak ada yang menolak maupun mengundurkan diri untuk diteliti. Dalam penelitian ini,

responden juga diberi kebebasan dari tindakan yang dilakukan serta mendapat keadilan

atas tindakan dan tanpa adanya deskriminasi dari penelitian. Kerahasiaan catatan

mengenai data responden dijaga dengan cara tidak menuliskan nama responden

diInstrumen, tetapi menggunakan inisial. Data yang diperoleh dari responden hanya

digunakan untuk kepentingan penelitian.

F. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data berupa kuesioner yang dibuat oleh peneliti berdasarkan

literatur yang ada. Kuesioner yang disebarkan terdiri dari dua bagian, yaitu : bagian

pertama adalah data demografi: yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan

paritas. Sedangkan bagian kedua adalah kuesioner untuk mengidentifikasi kecemasan

ibu bersalin seksio sesarea sesudah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi dan

(38)

dan negatif dengan skala Guttman. Pernytaaan positif terdiri dari 17 pernyataan dan 3

pernyatan negatif, apabila pernyataan positif dijawab “tidak“ mendapat nilai 0, dan

apabila menjawab “ya” mendapat nilai 1 dan pernyataan negatif dijawab “tidak”

mendapat nilai 1, dan apabila menjawab “ya“ mendapat nilai 0.

Responden yang mendapatkan skor tertinggi yaitu 20 maka responden

mengalami cemas yang panik, jika responden mendapat skor 15 -19 maka responden

mengalami cemas yang berat, jika responden mendapat skor 10 – 14 maka responden

mengalami cemas yang sedang, dan jika responden mendapat skor 5 – 9 maka responden

mengalami cemas yang ringan.

G. Validitas dan Realibilitas

1. Uji validitas

Uji validitas adalah uji yang dilakukan untuk menunjukkan tingkat kevalidan dan

kesahihan sebuah instrumen, yang mampu mengukur apa yang diinginkan, sehingga

dapat mengukur instrumen secara benar. Menurut Davies dan Hodnett (2002, dalam

Williams & Wilkins, 2004, hal.312), besarnya sebuah koefisien menunjukkan

bagaimana kesahan sebuah instrument. Rentang koefisien antara 0,00 sampai 1,00,

dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan kriteria ke validitan yang lebih besar. Uji

validitas dilakukan secara content validity kepada ahlihnya Zuhdi Budiman, S.Psi

dengan hasil Content Validity Indeks 0,75.

(39)

Uji realibilitas dilakukan kepada 10 orang ibu bersalin SC di RSUD dr. Pirngadi

Medan yang sesuai dengan kriteria responden. Menurut Burn dan Grove (2001) suatu

instrument yang menggunakan pengukuran yang sudah berkembang dikatakan

realibilitas bila koefisiennya lebih dari 0,80, sedangkan untuk instrument baru yang

reliabilitas jika koefisiennnya lebih dari 0,70. Uji realibilitas menggunakan rumus alpha

croabanch dengan hasil 0,75 yang diperoleh dari 20 pernyataan. Hanya 17 pernyataan

yang valid dan realibel, dan 3 pernyatan tidak valid dan realibel sudah diperbaiki.

H. Prosedur Pengumpulan

Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menerima surat izin penelitian dari

program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara dan

telah mendapat izin dari RSUD dr.Pirngadi Medan.

Setelah mendapat izin, peneliti melaksanakan pengumpulan data pada ibu

bersalin seksio sesarea sesuai kriteria penelitian. Pada saat penegumpulan data peneliti

menjumpai responden di RSUD dr. Pirngadi Medan dengan bantuan kepada salah satu

perawat ruangan kamar bedah (OK) di RSUD dr. Pirngadi Medan yang telah bekerja

selama tiga tahun. Dalam mengumpulkan data di RSUD dr.Pirngadi Medan, peneliti

mendapatkan responden untuk satu hari ada satu atau dua responden yang sesuai dengan

kriteria, atau untuk satu hari tidak ada responden yang sesuai dengan kriteria. Peneliti

datang ke RSUD dr.Pirngadi Medan setelah peneliti menghubungi asisten peneliti atau

peneliti mendapat telepon dari asisten yang di RSUD dr.Pirngadi Medan.

Bila peneliti sudah menjumpai responden maka peneliti menjelaskan tujuan,

(40)

teknik wawancara. Kemudian peneliti meminta kesedian dan memenuhi kriteria

penelitian diminta untuk menandatangani lembar persetujuan (informed consent)

Setelah itu, peneliti melakukan pengumpulan data untuk kelompok intervensi

dengan memberikan terapi musik klasik dengan menggunakan walkman untuk

mengidentifikasi kecemasan pada saat responden telah memasuki ruangan OK dan

responden telah diletakkan dimeja operasi. Peneliti memberikan terapi musik klasik

Mozart Greatest Symphony dengan menggunakan walkman selama + 15 menit sampai

sebelum pemberian anstesi spinal. Setelah +15 menit diberikan terapi musik klasik,

peneliti mewancarai responden sesuai dengan lembar kuesioner dengan didampingi oleh

kepala ruangan atau salah satu perawat diruangan OK dan salah satu dr. PPDS Obgyne.

Kemudian peneliti melakukan pengumpulan data pada kelompok kontrol,

peneliti tidak memberikan terapi musik klasik tetapi peneliti melakukan pengamatan

untuk mengidentifikasi kecemasan pada saat responden memasuki ruangan OK dan

responden telah diletakkan dimeja operasi. Peneliti melakukan pengamatan kepada

responden selama + 15 menit sampai sebelum pemberian anstesi spinal. Setelah +15

menit melakukan pengamatan, peneliti mewancarai responden sesuai dengan lembar

kuesioner dengan didampingi oleh kepala ruangan atau salah satu perawat diruangan OK

dan salah satu dr. PPDS Obgyne.

I. Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, dilakukan analisa data kembali dengan

memeriksa semua kuesioner apakah jawaban sudah lengkap dan benar (editing).

Kemudian data diberi kode (Coding) untuk memudahkan peneliti dalam melakukan

analisa data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan data yang dimasukkan

(41)

terakhir dilakukan cleaning dan entry yakni pemeriksaan semua data yang telah

dimasukkan ke dalam program komputer guna menghindari terjadinya kesalahan.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputerisasi

yang disesuaikan, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Univariat

Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing

variabel yang diteliti. Data yang bersifat kategorik dicari frekuensi dan proporsi yaitu

usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan paritas. Data yang bersifat numerik

dicari mean, dan standar deviasinya yaitu kecemasan ibu bersalin seksio sesarea. Hasil

disajikan dalam bentuk tabel.

2. Bivariat

Analisis ini digunakan untuk menguji efektifitas terapi musik klasik dalam

mengurangi kecemasan ibu bersalin seksio sesarea. Dalam menganalisis data secara

bivariat, pengujian data dilakukan dengan uji statistic uji t-independent digunakan untuk

membandingkan kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan

kontrol setelah diberikan terapi musik klasik. Taraf signifikan (α = 0.05), pedoman

dalam menerima hipotesis : jika data probabilitas (p) < 0.05 maka H0 ditolak, apabila (p)

(42)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Pada Bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang efektifitas terapi musik

klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di RSUD

dr.Pirngadi Medan tahun 2011. Jumlah responden adalah 53 ibu bersalin seksio sesarea,

yang terdiri dari 53 sampel untuk kelompok intervensi dan 53 sampel untuk kelompok

kontrol. Namun, ada keterbatasan sampel karena pada saat dilakukan penelitian

responden sudah tidak termasuk kriteria. Yang memenuhi kriteria untuk kedua

kelompok intervensi dan kontrol adalah 30 ibu bersalin seksio sesarea, yang terdiri dari

15 sampel kelompok intervensi dan 15 sampel untuk kelompok kontrol. Responden

untuk kelompok intervensi diberikan musik selama +15 menit kemudian diamati

kecemasan dengan menggunakan kuesioner, dan responden untuk kelompok kontrol

dillakukan pengamatan +15 menit setelah berada di ruangan OK kemudian diamati

dengan menggunakan kuesioner.

1. Analisis Univariat

Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing

(43)

usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan paritas. Data yang bersifat numerik

dicari mean, dan standar deviasinya yaitu kecemasan ibu bersalin seksio sesarea. Hasil

akan disajikan dalam bentuk tabel.

Hasil penelitian yang diperoleh mayoritas responden pada kelompok intervensi

berusia 20 – 25 tahun sebanyak 8 orang (53,3 %) dan mayoritas responden pada

kelompok kontrol berusia 26 – 30 tahun sebanyak 6 orang (40,0 %). Berdasarkan

pendidikan mayoritas responden pada kelompok intervensi berpendidikan menengah

(SMA) sebanyak 15 orang (100 %) dan mayoritas responden pada kelompok kontrol

berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 10 orang (66,7 %). Berdasarkan pekerjaan

mayoritas responden pada kelompok intervensi adalah (IRT) ibu rumah tangga sebanyak

13 orang (86,7 %) dan mayoritas responden pada kelompok kontrol adalah ibu rumah

tangga sebanyak 7 orang (46,7 %). Berdasarkan penghasilan mayoritas responden pada

kelompok intervensi berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan

mayoritas responden pada kelompok kontrol berpenghasilan 1.000.000-2.000.000

sebanyak 8 orang ( 53,3 %). Berdasarkan paritas mayoritas responden pada kelompok

intervensi adalah anak ke - 1,2, dan 3 sebanyak 5 orang ( 33,3 %) dan mayoritas

responden pada kelompok kontrol adalah anak ke - 2 sebanyak 8 orang (53,3%). Dapat

(44)

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Bersalin Seksio sesarea di RSUD dr. Pirngadi

Medan Tahun 2011

Karakteristik responden Kelompok intervensi Kelompok kontrol

f % f %

• Tidak berpenghasilan

(45)

Hasil penelitian ini diperoleh rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio sesarea

pada kelompok intervensi 12,87 dengan standart deviasi 2,386 sedangkan nilai minimum

11 dan maximum adalah 18 dan 95% confidence interval 11,55 – 14,19. Dan hasil

penelitian pada kelompok kontrol yakni rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio

sesarea 17,53 dengan standart deviasi 1,246 sedangkan nilai minimum 14 dan

maximum 19 dan 95% confidence interval 16,84 – 18,22. Dapat dilihat pada tabel 5.2

dibawah.

Tabel 5.2

Distribusi kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol

di RSUD dr.Pirngadi Medan tahun 2011

No Variabel Mean SD Min - Max 95%

Analisis bivariat digunakan untuk membandingkan kecemasan ibuu bersalin

seksio sesarea pada kelompok intervensi dan kontrol. Dalam menganalisa data secara

bivariat, pengujian data dilakukan uji t- independent.

Hasil uji statistik rata-rata kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok

intervensi 12,87 dengan standar deviasi 0.616 dan rata-rata kecemasan ibu bersalin

(46)

statistik didapatkan nilai P adalah 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh

terapi musik klasik yang signifikan untuk mengurangi kecemasan ibu bersalin seksio

sesarea pada kelompok intervensi. Dapat diliat pada tabel 5.3 dibawah.

Tabel 5.3

Perbandingan Kecemasan Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Ibu

Bersalin Seksio sesarea di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011

Variabel Mean Standar

Deviasi

1. Interpretasi dan Diskusi Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa kecemasan ibu bersalin

seksio sesarea pada kelompok intervensi rata-rata (12,87) dan pada kelompok kontrol

(17,53). Dan hasil uji t-independent diperoleh nilai P = 0,000 (< 0,05). Maka dapat

disimpulkan bahwa ada Pengaruh efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi

kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea setelah dilakukan intervensi.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Campbell dan

(47)

kepada ibu bersalin yang dapat meningkatkan stimulasi (rangsangan) lebih tenang dalam

menghadapi persalinan. (Campbell,2001 ¶5)

Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Cecilia, 2008)

ketika seseorang mendengarkan musik, maka otak akan memproses apa yang didengar.

Detak jantung cenderung mengikuti atau mengsinkronkan dengan kecepatan musik.,

Maka dengan mendengarkan musik tempo yang tinggi detak jantung akan meningkat

dan mendengar musik dengan tempo rendah detak jantung akan melambat dan tubuh

akan menjadi rileks.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fauzi (2006), menunjukkan bahwa

pelatihan dengan musik memberi lebih dari sekedar hubungan sebab akibat terhadap

perkembangan bagian-bagian tertentu dari otak secara jangka panjang. Namun dengan

mendengarkan musik akan membantu perkembangan positif dari otak manusia.

Penelitian ini juga didukung oleh adanya teori yang mengatakan bahwa musik

klasik dapat mengaktifkan belahan otak kanan yang berhubungan dengan kreatifitas,

dari otak kanan akan muncul untuk menerima stimulasi (rangsangan) yang disekitarnya,

Sedangkan otak kiri berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak pada

pendidikan formal. (Irmawati, 2003 ¶ 10)

Kecemasan yang dialami oleh ibu bersalin seksio sesarea sebagian besar

berkurang setelah diberikan terapi musik klasik dengan ditemukannya rata-rata hasil

kuesioner sebesar 12,87 pada responden. Hal ini didukung oleh laporan Journal

American Medical Association tahun 1996, tentang hasil studi terapi musik di Texas

(48)

pelepasan endorfin selama proses persalinan, sehingga 10 ibu bersalin melahirkan

dengan rasa tenang dan rileks. (Campbell, 2001)

2. Keterbatasan penelitian

Pada penelitian ini, peneliti merasakan masih banyak keterbatasan yang dihadapi

dalam melaksanakan penelitian, dari proses pengumpulan data hingga penyajian hasil.

Beberapa kesulitan saat pengumpulan data yaitu sulit menemukan responden yang

sesuai dengan kriteria dan mengontrol faktor-faktor kecemasan diruang operasi seperti

persiapan anastesi, persiapan operasi, dan meja operasi.

3. Implikasi untuk asuhan kebidanan / pendidikan kebidanan.

Dari hasil penelitian ini telah dibuktikan bahwa musik klasik efektif untuk

mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea. Jadi, musik klasik dapat

(49)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang efektifitas terapi musik klasik

untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr. Pirngadi

Medan tahun 2011 ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Karakteristik responden diperoleh bahwa sebagian besar responden pada kelompok

intervensi berusia 20 – 25 tahun sebanyak 8 orang (53,3 %) dan mayoritas responden

pada kelompok kontrol berusia 26 – 30 tahun sebanyak 6 orang (40,0 %).

Berdasarkan pendidikan mayoritas responden pada kelompok intervensi

berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 15 oang (100 %) dan mayoritas

responden pada kelompok kontrol berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 10

orang (66,7 %) . Berdasarkan pekerjaan mayoritas responden pada kelompok

intervensi adalah ibu rumah tangga sebanyak 13 orang (86,7 %) dan mayoritas

responden pada kelompok kontrol adalah ibu rumah tangga sebanyak 7 orang (46,7

%). Berdasarkan penghasilan mayoritas responden pada kelompok intervensi

berpenghasilan <1.000.000 sebanyak 10 orang (66,7%) dan mayoritas responden

pada kelompok kontrol berpenghasilan 1.000.000-2.000.000 sebanyak 8 orang ( 53,3

(50)

intervensi adalah anak ke - 1,2, dan 3 sebanyak 5 orang ( 33,3 %) dan mayoritas

responden pada kelompok kontrol adalah anak ke - 2 sebanyak 8 orang (53,3%).

2. Rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio sesarea pada kelompok intervensi (12,87)

dengan standart deviasi (2,386) sedangkan nilai minimum – maximum adalah (11 - 18)

dan confidence interval (11,55 – 14,19). Dan rata – rata kecemasan ibu bersalin seksio

sesarea pada kelompok kontrol (17,53) dengan standart deviasi (1,246) sedangkan nilai

minimum – maximum ( 14 – 19) dan confidence interval (16,84 – 18,22).

3. Hasil uji statistik didapatkan nilai p adalah 0.000, maka dapat disimpulkan bahwa ada

pengaruh yang signifikan dari frekuensi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea

pada kelompok intervensi dan kontrol.

B. Saran

1. Bagi Praktek Kebidanan / RSUD dr. Pirngadi Medan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai intervensi bagi peraktek kebidanan

dalam memberikan asuahan kebidanan kepada ibu bersalin seksio sesar.

2. Bagi Insitusi Kebidanan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk pengembangan

ilmu pengetahuan kebidanan pada ibu bersalin khususnya Askeb IV (Patologi).

3. Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi

kepada peneliti selanjutnya, dengan melakukan penelitian sejenis yang melihat

kecemasan ibu bersalin seksio sesarea yang indikasi elektif dan emergency yang

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Benson, P & Pernoll. (2009). Buku saku Obsetry Gynecology William. Jakarta

EGC.

Cendika, D, I. (2010). Panduan pintar hamil dan melahirkan. Jakarta: Wahyu

media.

Cecilia, S,P. (2008). Janin Tumbuh Cerdas Lewat Musik. Diambil pada tanggal

30 Maret

Cunningham, F. G. ( 2006). Obsetry :Gynecology William. Jakarta: EGC.

Depkes, RI. Indonesia Sehat. 2009, from

Fauzi, D. A. (2006), Pengaruh musik bagi kecerdasan bayi. Jakarta: Harmoni

Hidayat, A. A. (2007), Metodologi penelitian kebidanan teknik analisis data.

Jakarta: Salemba medika

Irawati. (2003). pengaruh musik dalam kehamilan. Diambil pada tanggal 8 juni

2003, from http://www.kedokterankeluarga.com.

Manik, M, Sitohang, N, A, & Asiah,N. 2010. Panduan penulisan karya tulis

ilmiah. Medan: Tidak dipublikasikan

Nolan, M. (2010). Kelas bersalin. Yogyakarta: Golden books

Nursalam. (2003), Konsep & penerapan metodologi penelitian ilmu

(52)

Satiadarma, M. P. (2004), Cerdas dengan musik. Cetakan pertama, Jakarta:

Puspa Suara.

Scott, E. (2007). Research letter : How music affects us and why music therapy

promotes health. retrieved November 01, 2007, from

http://www.About.com.Guide.

Silalahi, M. (2009). Cerdas dengan terapi musik. 8 Februari 2009, from

file://F//cerdasdenganterapimusik.com

Stuart, G. W. (2006). Pocket Guide to Psychiatric Nursing in Buku saku

keperawatan jiwa dalam Eko. P. K. (eds). Respon ansietas dan gangguan ansietas. Jakarta : EGC.

Suririnah .(2009). Buku pintar kehamilan dan persalinan, Jakarta: PT. Garamedi

Suyanto, & Salamah, U (2009). Riset kebidanan metodologi & aplikasi.

Yogyakarta: Mitra cendika offset.

Videbeck, S. L. (2008). Psychiatric Mental Healt Nursingin Buku ajar

keperawatan jiwa, dakam Eko, K. P (Eds). Ansietas & Gangguan terkait

sters (hal. 307-325) Jakarta : EGC.

Visnu, J. (2008). Yuk kenali terapi musik, Diambil pada tanggal 28 Agustus

(53)

Wijaya, P. (2008) . Terapi musik untuk mengurangi rasa sakit saat persalinan.

Diambil pada tanggal 2 September 2008,

Williams, L, Wilkins. (2004). Canadian Essentials Of Nursing Research.

Philadelpihia : A Wolters Kluwer Company.

Yustina, I. (2008). Pemerdayaaan Masyarakat Untuk Mewujudkan Indonesia

(54)

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bernama Lely Febriani Nasution/ 105102039 adalah mahasiswa

Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara.

Saat ini sedang melakukan penelitian tentang Efektifitas Terapi Musik Klasik Untuk

Mengurangi Kecemasan Pada Ibu bersalin seksio sesarea di RSUD dr. Pirngadi Medan

Tahun 2011. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam meneyelesaikan tugas

akhir di Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra

Utara.

Untuk keperluan tersebut saya mohon kesedian ibu-ibu untuk menjadi responden

dalam penelitian ini. Selanjutnya saya mohon mengisi kuesioner dan lembar ceklis

dengan jujur dan apa adanya. Jika bersedia, silahkan menandatangani lembar

persetujuan ini sebagai bukti kerelaan ibu.

Partisipasi ibu-ibu dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga bebas

mengundurkan diri setiap saat tanpa sanksi apapun. Identitas pribadi ibu dan semua

informasi yang ibu berikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan

penelitian ini. Terimah kasih atas partisipasi ibu dalam penelitian ini.

Medan, November 2010

Peneliti Responden

(55)

Lembar Kuesioner

Efektifitas Terapi Musik Klasik Terhadap Mengurangi Kecemasan Ibu Bersalin Seksio Sesarea Di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan Tahun 2010-2011

No Responden :

Tanggal :

A. karekteristik ibu

Usia : 20-25 tahun

26-30 tahun

31-35 tahun

36- 40 tahun

Tingkat pendidikan : Pendidikan dasar (SD/SMP/MTS)

Pendidikan menengah (SMU/SMK)

Pendidkan tinggi

Tidak Sekolah

Pekerjaan : IRT

PNS

Karyawan

(56)

< Rp1.000.000

Rp1.000.000-Rp2.000.000

> Rp2.000.000

Paritas : 1

2

> 3

B. Kuesioner kecemasan

Berikan tanda checklist () pada salah satu pernyataan dengan pilihan anda, bila ada

pernyataan yang kurang dimengerti dapat dinyatakan pada peneliti.

1. Apakah ibu merasa khwatir memasuki ruangan operasi?

Ya Tidak

2. Apakah ibu merasa takut melihat lampu-lampu yang ada diruangan operasi seksio

sesarea?

Ya Tidak

3. Apakah ibu merasa takut saat alat-alat operasi didekatkan pada ibu?

Ya Tidak

4. Apakah ibu merasa takut saat mau diberikan pembiusan oleh dokter anastesi?

Ya Tidak

5. Apakah ibu merasa tegang saat mau diberikan pembiusan oleh dokter anastesi?

(57)

6. Apakah ibu merasa kaku badan saat mau diberikan pembiusan oleh dokter

anastesi?

Ya Tidak

7. Apakah ibu merasa takut menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

8. Apakah ibu merasa khawatir menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

9. Apakah ibu merasa gemetar menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

10.Apakah ibu merasa tidak tenang menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

11.Apakah ibu merasa tidak semangat menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

12.Apakah ibu merasa tidak nyaman menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

13.Apakah ibu merasa gelisah menghadapi persalinan seksio sesarea?

(58)

14.Apakah ibu merasa berdebar-debar menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

15.Apakah ibu merasa sesak napas saat menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

16.Apakah ibu khawatir akan keberhasilan persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

17.Apakah ibu khawatir bahwa proses persalinan seksio sesarea dapat membahayakan

diri ibu?

Ya Tidak

18.Apakah ibu merasa takut anak yang dilahirkan tidak selamat?

Ya Tidak

19.Apakah ibu merasakan mual menghadapi persalinan seksio sesarea?

Ya Tidak

20.Apakah ibu merasa kedinginan saat berada diruangan operasi ?

(59)

PROSEDUR PEMBERIAN TERAPI MUSIK

1. Defenisi

Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang fisik

maupun mental. Terapi musik memberikan rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak

seperti ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisa intelek dan fungsi kesadaran.

2. Tujuan terapi musik

a. Melihat kecemasan pada ibu bersalinan ibu bersalin seksio sesarea saat menjalani

persalinan seksio sesarea.

b. Mengukur kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea saat menjalani seksio

sesarea

3. Indikasi-indikasi diberikan terapi musik

a. Ibu bersalin seksio sesarea dengan indikasi-indikasi dari ibu dan janin

b. Ibu bersalin dengan pertama kali melakukan operasi seksio sesarea

c. ibu bersalin dengan anastesi spinal.

4. Waktu pemberian terapi musik

Terapi musik klasik diberikan saat anastesi diberikan sampai sebelum pembelahan saat

operasi berlansung. Terapi musik klasik diberikan selama +15 menit.

5. Persiapan terapi musik klasik.

a. Peralatan : Alat yang digunakan Tape dan CD Mozzrad. Terapi musik diberikan

saat pasien diberi anastesi samapi sebelum dilakukan pembelahan.

b. Tempat : Terapi musik diberikan dirungan operasi (OK). Ruangan OK

hendaknya memiliki meja untuk meletakkan tape yang dekat dengan cokkan

(60)

c. Peneliti :

- Peneliti memberitahu responden akan diberikan terapi musik

klasik pada saat anastesi diberikan sampai sebelum pembelahan.

- Peneliti mempersiapkan alat dan tempat saat pasien memasuki

ruangan operasi (OK).

- Peneliti memberikan terapi musik dengan menghidupakan tape

kepada pasien seksio sesarea saat di anastesi sampai saat

menjelang pembelahan.

d. Pasien :

- Posisi pasien saat diberikan terapi musik sebaiknaya dengan

posisi telentang, dan santai.

- Kondisi pasien perlu diperhatikan sebelum melakukan terapi

musik.

- Pasien dianjurkan agar dapat menikmati terapi musik dengan

baik sehingga dapat merasakan manfaatnya.

6. Prosedur kerja

a. Pasien diberi anastesi spinal dari dr. anastesi

b. Terpai musik klasik diberikan oleh peneliti atau pegawai ruangan (asisten

peneliti)

c. Pemberian terapi musik diberikan selama +15 menit saat anastesi diberikan

Gambar

Tabel 5.1
Tabel 5.2
Tabel 5.3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin seksio sesarea darurat ditemukan kasus

Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan efektivitas pemberian terapi musik klasik dan terapi murotal terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Prof.. Margono Soekarjo

Tesis yang berjudul : ―Perbedaan Tingkat Kecemasan Ibu Menghadapi Persalinan Seksio Sesarea dan Persalinan Pervaginam‖ ini adalah karya penelitian penulis

Direkomendasikan dalam penelitian berikutnya dapat diteliti hubungan parameter pola tidur dengan kualitas tidur yang dirasakan oleh ibu pasca operasi seksio sesarea. Kata

Untuk mengetahui karakteristik ibu bersalin dengan seksio sesarea di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 dilakukan penelitian bersifat deskriptif dengan metode total

Proporsi ibu bersalin dengan seksio sesarea berdasarkan riwayat obstetri jelek terbesar adalah ibu tanpa riwayat obstetri jelek pada persalinan sebelumnya yaitu sebanyak 57

ASUHAN KEPERAWATAN NY D POST SEKSIO SESAREA HARI PERTAMA PADA IBU PRIMIPARA DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH SURABAYA FAKULTAS.. ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Sehingga dari pengujian ini dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap penurunan tingkat kecemasan ibu