Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Keaktifan Kader Posyandu Dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga di Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa-NAD Tahun 2010

104  45 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA DI PUSKESMAS LANGSA BARO KECAMATAN LANGSA BARO

KOTA LANGSA – NAD TAHUN 2010

SKRIPSI

Oleh :

NIM. 081000231 HARDIAN PINEM

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA DI PUSKESMAS LANGSA BARO KECAMATAN LANGSA BARO

KOTA LANGSA – NAD TAHUN 2010

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

NIM. 081000231 HARDIAN PINEM

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judu l :

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA DI PUSKESMAS LANGSA BARO KECAMATAN LANGSA BARO

KOTA LANGSA – NAD TAHUN 2010

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh:

NIM. 081000213 HARDIAN PINEM

Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 14 Juni 2010

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima

TIM PENGUJI Fitri Ardiani, SKM, MPH

Penguji II Penguji III

Dr. Ir.Zulhaida Lubis, M.Kes

NIP. 196806161993032003 NIP. 195803151988112001 Dra. Jumirah, Apt. Mkes

Medan, 14 Juni 2010 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara Dekan,

(4)

ABSTRAK

Keberadaan kader dianggap penting dan mempunyai peran besar dalam penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Namun keberadaan kader relatif labil karena partisipasinya bersifat sukarela sehingga tidak ada jaminan bahwa para kader akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik seperti yang diharapkan. Maka penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan kader posyandu dalam usaha perbaikan gizi keluarga di Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010.

Jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu di Puskesmas Langsa Baro Kota Langsa dengan jumlah kader 160 orang. Sampel yang diambil sejumlah 61 orang yang diperoleh dengan menggunakan teknik random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Data yang diperoleh dalam penelitian di analisa dengan uji linier regresi berganda dengan α 0,05.

Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan faktor pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan terhadap keaktifan kader dengan nilai p value = 0,03 (p > α 0,05). Sedangkan delapan variabel yang lainnya (usia, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, pelatihan dan pembinaan, kelengkapan infrastruktur, dukungan instansi terkait, penghargaan dan insentif) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap keaktifan kader dalam kegiatan UPGK di Puskesmas Langsa Baro Kota Langsa tahun 2010, dimana nilai p value < α.

Disarankan kepada Kepala Dinas Kesehatan mengusulkan kepada Walikota untuk melibatkan tokoh muspida dan muspika maupun perangkat desa untuk melakukan promosi dalam kegiatan UPGK, khususnya untuk memotifasi kader dan membangun kesadaran masyarakat agar lebih memahami pentingnya UPGK. Kepada Kepala Puskesmas hendaknya mengadakan pelatihan, supervisi dan evaluasi kegiatan secara berkala sehingga mampu memotivasi kader untuk mengajak masyarakat berperan aktif dalam kegiatan UPGK.

(5)

ABSTRACK

The existance cadre is important to consider and to have a rank in the conveying information of health in the society. Although the existence of cadre is labile because the quality of participat is voluntary until their is no guarantee that the of cadre will be perform with a good function like which a wish. The purpose of this research is to know the factors which influence the activity cadre in The Implementation of the Improvement in Family Nutrient (UPGK) in Puskesmas Langsa Baro District Langsa in 2010.

The kind of this research was the discriptif survey with the cross sectional approach. The population in this research were the cadres in all whole posyandu in the Puskesmas Langsa Baro district Langsa with the number ofcadres 160 people. The sample that was taken by an amount 61 people who were accepted by using the random sampling. The instrument that was used in this research was questioner. The data that was accepted in the research was processed with the multiple regression test with α 0,05.

The result of the research and discussion can be concluded the kowladge factor has sicnificant relationship with the active cadre the mark p value = 0,03 (p>0,05), meanwhile the eight another variable (age, maritel status, accupation, knowladge, training and conseling, the completeness of the infrastructure, support by institution, appreciation and gift) ware not significant relationship to activity UPGK in Puskesmas Langsa Baro district Langsa in 2010, whare p value < α.

Suggestion to the Head official of public health service to Head of District to involve the Muspida and muspika (council for sub-district level officials) and perangkat desa (village apparatus) to promote the UPGK activities, especially to motivate the cadres and make the community aware and understand more about the importance of UPGK. The head of puskesmas (Primary Health Center) is suggested to follow some training on supervision and gradual evaluation of the activities that they can motivate the cadres to ask the community to play and active in the UPGK activities.

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Hardian Pinem

Tempat / Tanggal Lahir : Cot Girek / 03 November 1982

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Menikah Jumlah Saudara : 3 ( tiga) orang

Alamat Rumah : Jln. Bawang I No.39 Perumnas Simalingkar Medan

Riwayat Pendidikan : 1. MIS Cot Girek

2. SLTP N2 Lhok Sukon 3. SMKN 2 Lhok Seumawe 4. Poltekes Negeri Medan

Riwayat Pekerjaan : 1. Puskesmas Pinggir Kab. Bengkalis 2. RS. Cut Meutia Langsa

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah Nya sehingga skripsi dengan judul” Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Keaktifan Kader Posyandu Dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga di Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa – NAD Tahun 2010“ ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi syarat kelulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Selama dalam proses penyusunan skripsi ini penulis menyadari sekali hambatan-hambatan yang penulis hadapi, akan tetapi berkat bantuan dan bimbingan dari semua pihak dan khususnya pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan penelitian di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat dr. Ria Masriari Lubis M.Si 2. Ketua Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat dra. Jumirah Apt, M.Kes

3. Pembimbing I Ernawati Nasution, SKM., M.Kes yang telah membimbing, memberikan arahan dan motivasi dalam penyusunan skripsi.

4. Pembimbing II Fitri Adriani, SKM., MPH yang telah membimbing, memberikan arahan dan motivasi dalam penyusunan skripsi.

5. Pembimbing Akademik Penulis drh. Hiswani, M.Kes

(8)

7. Kepala Puskesmas Langsa Baro drg. Rudi. H. Zakaria., M.Kes atas izin penelitiannya.

8. K’Sri, K’Er, K’Juli, Hary, Ami, Irfan, Devina, rekan-rekan mahasiswa angkatan 2008 dan peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat, terima kasih atas dukungan dan bantuan dalam penyelesaian skripsi.

9. Secara kusus penulis mengaucapkan terimakasih dan penghargaan yang tak terhinga kepada ayahanda dan ibunda atas motivasi, dukungan dan doa yang tidak pernah hentinya disetiap usaha dan langkah penulis.

10. Kepada abang dan adikku yang selalu memberikan dukungan dan motivasi. 11. Semua pihak yang telah terlibat dan memberikan bantuan sehingga peneliti dapat

menyelesaikan penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, Juni 2010

(9)

DAFTAR ISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kader ... ... 8

2.1.1. Pengertian dan Tugas Kader ... 8

2.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan keder ... 11

2.1.2.1. Faktor Predisposisi ... 14

2.1.2.2. Faktor Pendukung ... 16

2.1.2.3. Faktor Penguat ... 18

2.2. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga... 19

2.2.1. Pengertian Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ... 19

2.2.2. Sejarah Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ... 20

2.2.3. Tujuan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ... 21

2.2.4. Pelaksanaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ... 22

2.3. Posyandu ... 23

2.3.1. Pengertian Posyandu ... 23

2.3.2. Sejarah Posyandu ... 23

2.3.3. Kegiatan-kegiatan Posyandu ... 25

2.3.3.1. Kegiatan Utama ... 25

2.3.3.2. Kegiatan pengambangan / tambahan ... 28

2.3.4. Penyelenggaraan Posyandu ... 29

2.3.5. Tingkat perkembangan Posyandu ... 31

2.4. Hubungan antara kegiatan UPGK dan kegiatan Posyandu ... 32

2.5. Kerangka Konsep ... 35

(10)

BAB III METODE PENELITIN

3.5. Definisi Operasional Variabel ... 38

3.6. Aspek Pengukuran ... 41

3.7. Teknik Pengolahan dan Analaisa Data ... 43

3.7.1. Pengolahan data ... 43

3.7.2. Analisa data ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Diskripsi Lokasi Penelitian ... 45

4.1.1. KeadaanGeografis dan Demografi ... 45

4.2. Karakteristik Responden ... 46

4.3. Faktor Pendukung ... 48

4.3.1. Pelatihan dan Pembinaan ... 48

4.3.2. Kelengkapan Infrastuktur ... 50

4.4. Faktor Penguat ... 53

4.4.1. Dukungan Instansi Terkait ... 53

4.4.2. Penghargaan dan Insentif ... 55 5.1.1. Pengaruh Umur Terhadap Keaktifan Responden Dalam rogram UPGK ... 63

5.1.2. Pengaruh Pendidikan Terhadap Keaktifan Responden Dalam Program UPGK ... 64

5.1.3. Pengaruh Status Perkawinan Terhadap Keaktifan Responden Dalam Program UPGK ... 65

5.1.4. Pengaruh Pekerjaan Terhadap Keaktifan Responden Dalam Program UPGK ... 66

5.1.5. Pengaruh Pengetahuan Terhadap Keaktifan Responden Dalam Program UPGK ... 66

5.2. Faktor Pendukung ... 67

5.2.1. Pengaruh Pelatihan dan Pembinaan Terhadap Keaktifan Responden Dalam Program UPGK ... 67

(11)

5.3. Faktor Penguat ... 70 5.3.1. Pengaruh Dukungan Terhadap Keaktifan Responden Dalam

Program UPGK ... 70 5.3.2. Pengaruh Penghargaan dan Insentif Terhadap Keaktifan

Responden Dalam Program UPGK ... 71 5.4. Keaktifan Kader ...

72

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Ksimpulan ... 74 6.2. Saran ... ... 75 Daftar Pustaka ... 76

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Langkah – langkah dan pelaksanaaan kegiatan Posyandu ... 30 Tabel 2.2 Tingkat perkembangan Posyandu ... 31 Tabel 4.1 Distribusi desa di Kecamatan Langsa Baro berdasarkan wilayah/

Jumlah desa/kelurahan, jumlah penduduk, jumlah rumah tangga

(KK) tahun 2010 ... 45 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Kecamatan Langsa

Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 46 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan Pembinaan Kader di Kecamatan

Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 48 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pertanyaan Pelatihan dan Pembinaan Kader di

Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 48 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Komulatif Persepsi Responden Berdasarkan Kele-

ngkapan Infrastruktur di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun

2010 ... 50 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Terhadap Kelengkapan Infrastruktur di Kecamatan

Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 53 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Komulatif Persepsi Responden Terhadap

Dukungan Instansi Terkait di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa

Tahun 2010 ... 53 Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Instansi Terkait di

Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 53 Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Komulatif Persepsi Responden Terhadap Penghat

Penghargaan dan Insentif Yang di Terima di Kecamatan Langsa Baro

Kota Langsa Tahun 2010 ... 55 Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Penghargaan dan insentif terhadap responden di

Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 55 Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Keaktifan Responden Dalam Program UPGK di

Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 57 Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Keaktifan Responden Berdasarkan Jawaban di

Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 ... 57 Tabel 4.13 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Independen Terhadap

(13)

DAFTAR BAGAN

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

(15)

ABSTRAK

Keberadaan kader dianggap penting dan mempunyai peran besar dalam penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Namun keberadaan kader relatif labil karena partisipasinya bersifat sukarela sehingga tidak ada jaminan bahwa para kader akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik seperti yang diharapkan. Maka penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan kader posyandu dalam usaha perbaikan gizi keluarga di Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010.

Jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu di Puskesmas Langsa Baro Kota Langsa dengan jumlah kader 160 orang. Sampel yang diambil sejumlah 61 orang yang diperoleh dengan menggunakan teknik random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Data yang diperoleh dalam penelitian di analisa dengan uji linier regresi berganda dengan α 0,05.

Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan faktor pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan terhadap keaktifan kader dengan nilai p value = 0,03 (p > α 0,05). Sedangkan delapan variabel yang lainnya (usia, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, pelatihan dan pembinaan, kelengkapan infrastruktur, dukungan instansi terkait, penghargaan dan insentif) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap keaktifan kader dalam kegiatan UPGK di Puskesmas Langsa Baro Kota Langsa tahun 2010, dimana nilai p value < α.

Disarankan kepada Kepala Dinas Kesehatan mengusulkan kepada Walikota untuk melibatkan tokoh muspida dan muspika maupun perangkat desa untuk melakukan promosi dalam kegiatan UPGK, khususnya untuk memotifasi kader dan membangun kesadaran masyarakat agar lebih memahami pentingnya UPGK. Kepada Kepala Puskesmas hendaknya mengadakan pelatihan, supervisi dan evaluasi kegiatan secara berkala sehingga mampu memotivasi kader untuk mengajak masyarakat berperan aktif dalam kegiatan UPGK.

(16)

ABSTRACK

The existance cadre is important to consider and to have a rank in the conveying information of health in the society. Although the existence of cadre is labile because the quality of participat is voluntary until their is no guarantee that the of cadre will be perform with a good function like which a wish. The purpose of this research is to know the factors which influence the activity cadre in The Implementation of the Improvement in Family Nutrient (UPGK) in Puskesmas Langsa Baro District Langsa in 2010.

The kind of this research was the discriptif survey with the cross sectional approach. The population in this research were the cadres in all whole posyandu in the Puskesmas Langsa Baro district Langsa with the number ofcadres 160 people. The sample that was taken by an amount 61 people who were accepted by using the random sampling. The instrument that was used in this research was questioner. The data that was accepted in the research was processed with the multiple regression test with α 0,05.

The result of the research and discussion can be concluded the kowladge factor has sicnificant relationship with the active cadre the mark p value = 0,03 (p>0,05), meanwhile the eight another variable (age, maritel status, accupation, knowladge, training and conseling, the completeness of the infrastructure, support by institution, appreciation and gift) ware not significant relationship to activity UPGK in Puskesmas Langsa Baro district Langsa in 2010, whare p value < α.

Suggestion to the Head official of public health service to Head of District to involve the Muspida and muspika (council for sub-district level officials) and perangkat desa (village apparatus) to promote the UPGK activities, especially to motivate the cadres and make the community aware and understand more about the importance of UPGK. The head of puskesmas (Primary Health Center) is suggested to follow some training on supervision and gradual evaluation of the activities that they can motivate the cadres to ask the community to play and active in the UPGK activities.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kader merupakan relawan yang berasal dari masyarakat yang mempunyai peranan besar dalam penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Kader-kader posyandu pada umumnya adalah relawan yang berasal dari tokoh masyarakat yang dipandang memiliki kemampuan lebih dibanding anggota masyarakat lainnya. Mereka inilah yang memiliki peranan besar dalam memperlancar proses pelayanan kesehatan primer. Namun keberadaan kader relatif labil karena partisipasinya bersifat sukarela sehingga tidak ada jaminan bahwa para kader akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik seperti yang diharapkan. Jika ada kepentingan keluarga atau kepentingan lainnya maka kader akan lebih memilih untuk meninggalkan tugasnya.

Keberadaan kader dianggap penting karena sesuai dengan perkembangan paradigma pembangunan telah ditetapkan arah kebijakan pembangunan kesehatan nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004 – 2009 Bidang Kesehatan, yang lebih mengutamakan pada upaya preventif, promotif dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan (Depkes RI, 2006).

(18)

partisipasi masyarakat termasuk swasta untuk mewujudkan tingkat kesehatan yang lebih baik (Depkes RI, 1992).

Salah satu upaya di dalam meningkatkan kesehatan masyarakat terutama dari aspek gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebahagian kegiatannya dilaksanakan di posyandu dengan tujuan akhir menuju keluarga kecil, bahagia, sehat dan sejahtera. Dalam kegiatanya UPGK di jalankan sepenuhnya dengan bantuan kader. UPGK selama ini dititik beratkan pada kegiatan penyuluhan gizi dengan menggunakan pesan-pesan gizi sederhana, pelayanan gizi, pemanfaatan lahan pekarangan yang secara keseluruhan kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh masyarakat (Depkes RI, 2006).

Hakikatnya UPGK adalah upaya merubah tingkah laku anggota keluarga dan masyarakat yang dilaksanakan melalui alih teknologi gizi. Dengan adanya beberapa faktor penentu pemecahan masalah gizi melalui program UPGK tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja tetapi dari berbagai sudut sehingga program UPGK merupakan salah satu paket kerja sama lintas sektoral, kegiatan UPGK pada dasarnya dilakukan sendiri oleh masyarakat dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi milik masyarakat untuk mengatasi masalah gizi serta meningkatkan status gizi. Dalam hubungan ini puskesmas hanya memberikan bimbingan dan bantuan teknis dalam hal yang tidak dapat dilakukan dan disediakan sendiri oleh masyarakat (Depkes RI, 2006).

(19)

tahun 1986, jumlah posyandu tercatat sebanyak 25.000 posyandu, sedangkan pada tahun 2004, meningkat menjadi 238.699 posyandu, tahun 2005 menjadi 315.921 posyandu dan pada tahun 2006 menurun menjadi 269.202 posyandu. Namun bila ditinjau dari aspek kualitas, masih banyak ditemukan masalah, antara lain kelengkapan sarana dan keterampilan kader yang belum memadai (Depkes RI, 2006d).

Menurut Hemas (2005), pada beberapa tahun terakhir ini, tingkat kinerja dan partisipasi kader posyandu dirasakan menurun, hal ini disebabkan antara lain karena krisis ekonomi, kejenuhan kader karena kegiatan yang rutin, kurang dihayati sehingga kurang menarik, atau juga mungkin karena jarang dikunjungi petugas. Sedangkan posyandu merupakan institusi strategis, karena melalui posyandu berbagai permasalahan kesehatan seperti gizi dan KB dapat diketahui sejak dini, termasuk jika ada anak balita yang mengalami gangguan tumbuh kembang.

(20)

Masalah posyandu ini terjadi pula pada Provinsi NAD, dengan rasio jumlah posyandu dengan penduduk yang kecil (0.93%), masalah klasik seperti cakupan program penimbangan dan jumlah kader yang terlatih masih terjadi pula pada daerah ini. Dari hasil survei data kesehatan NAD diketahui bahwa terjadi penurunan cakupan penimbangan yang terjadi posyandu, antara lain cakupan K/S pada tahun 2000 sebesar 98,1% dan pada tahun 2001 menjadi 94,6%, sedangkan cakupan N/S dari 65,8% pada tahun 2000 menjadi 62,5% pada tahun 2001.

Pada tahun 2006 jumlah posyandu yang berada di Provinsi NAD sebanyak 5.576 posyandu, dimana sebanyak 112 berada dalam wilayah Kota Langsa. Dari laporan posyandu di Kota Langsa pada tahun 2009, terdapat 112 posyandu yang aktif degan jumlah kader aktif sebanyak 360 orang dari yang seharusnya 560 orang kader posyandu. Menurut laporan Riskesdas tahun 2007 terdapat 31,5% balita 6-59 bulan yang tidak pernah ditimbang, dan anak yang rutin ditimbang ≥4 kali dalam enam bulan terakhir sebanyak 57,4%. Sedangkan menurut profil Kota Langsa cakupan program N/D Dinas Kesehatan Kota Langsa sebesar 44,4% dengan jumlah balita yang masuk dalam kategori BGM sebanyak 4,45%.

Puskesmas Langsa Baro terletak di Kecamatan Langsa Baro merupakan salah satu puskesmas yang berada di dalam wilayah Kota Langsa. Puskesmas Langsa Baro merupakan puskesmas dengan kategori puskesmas pemberi pelayanan prima terbaik nasional sesuai dengan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor. 346/KEP/MenPan/10/2008.

(21)

masalah gizi, hal ini dapat dilihat dari cakupan program posyandu D/S tahun 2008 sebesar 61,7% dan terdapat anak dengan indikasi dibawah garis merah sebanyak 4,45%. Selain itu dari laporan penilaian status gizi tahun 2008 diketahui sebanyak 17 orang balita terdeteksi menderita gizi buruk dan 143 anak lainnya mengalami gizi kurang dari 2746 anak yang diukur.

Seiring dengan perkembangan wilayah di Kota Langsa, maka pada pertengahan tahun 2009 terjadi penambahan jumlah desa didalam wilayah kerja Puskesmas Langsa Baro, yaitu dari 7 menjadi 10 desa. Dengan bertambahnya desa tersebut, maka jumlah posyandu juga bertambah dari 19 menjadi 33 posyandu dengan jumlah kader 160 orang. Melihat proporsi antara jumlah Posyandu dengan kader maka dapat diketahui bahwa jumlah kader masih kurang, hal ini dikarenakan setiap posyandu seharusnya memiliki lima orang kader aktif didalam melakukan kegiatannya.

Dari survey pendahuluan yang dilakukan diketahui bahwa pemberian PMT tidak rutin dilakukan, dan kader cenderung hanya melakukan kegiatan pada hari kegiatan Posyandu. Selain itu pembagian tugas dan fungsi kader belumlah jelas, dimana belum ada pembagian tugas yang jelas dan tegas di dalam melaksanakan kegiatan, ditambah lagi dengan banyaknya kader yang tidak mengetahui apa itu program UPGK yang saat ini dimasukkan kedalam program posyandu.

(22)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : “Faktor-faktor apa yang mempengaruhi keaktifan kader di dalam melaksanakan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga”.

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan kader posyandu dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga di Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui faktor predisposisi (umur, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan dan pengetahuan) terhadap keaktifan kader di dalam menjalankan program UPGK

2. Mengetahui faktor pendukung (pelatihan dan pembinaan, kelengkapan infrastruktur) terhadap keaktifan kader di dalam menjalankan program UPGK 3. Mengetahui faktor penguat (dukungan, penghargaan dan insentif) terhadap

(23)

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai masukan bagi Puskesmas dalam rangka peningkatan kinerja dan partisipasi kader Posyandu.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kader

2.1.1. Pengertian dan Tugas Kader

Secara umum kader diartikan sebagai tenaga sukarela yang tertarik dalam bidang tertentu yang tumbuh di masyarakat yang merasa berkewajiban untuk melaksanakan dan meningkatkan serta membina kesejahteraan termasuk bidang kesehatan.

Kader adalah seorang atau tim sebagai tenaga Posyandu yang berasal dari dan dipilih oleh masyarakat setempat yang memenuhi ketentuan dan diberi tugas serta tanggung jawab untuk melaksanakan pemantauan, pertumbuhan dan perkembangan Balita dan memfasilitasi kegiatan lain (Pemprof NAD, 2006). Keriteria kader Posyandu adalah sebagai berikut:

a. Di utamakan berasal dari anggota masyarakat setempat. b. Dapat membaca dan menulis huruf latin.

c. Mempunyai jiwa pelopor, pembaharuan dan penggerak masyarakat. d. Bersedia bekerja secara sukarela, memiliki kemampuan dan waktu luang.

(25)

Adapun tugas kader adalah sebagai berikut : A. Pada hari buka Posyandu (Depkes, 2006):

a. Menyiapkan tempat pelaksanaan, peralatan, sarana dan prasarana Posyandu termasuk menyiapkan dan memberikan makana tambahan.

b. Melaksanakan pendaftaran pengunjung Posyandu.

c. Melaksanakan penimbangan balita dan ibu hamil yag berkunjung ke Posyandu.

d. Mencatat hasil penimbangan di KMS atau buku KIA dan mengisi buku register Posyandu.

e. Memberikan pelayanan kesehatan dan KB sesuai dengan kewenangannya. Misalnya memberikan Vitamin A, pemberian tabelt zat besi, oralit, pil KB, Kondom. Apabila pada hari buka tenaga kesehatan Puskesmas datang berkunjung, penyelenggaraan pelayanan dan KB ini dilakukan bersama petugas kesehatan.

f. Setelah pelayanan Posyandu selesai, kader bersama petugas melengkapi pencatatan dan membahas hasil kegiatan tindaklanjut.

B. Diluar hari buka Posyandu antara lain :

a. Mengadakan pemutakhiran data sasaran Posyandu: 1. Bayi

(26)

b. Membuat grafik SKDN, yaitu :

1. S : Seluruh balita yang bertempat tingal diwilayah kerja Posyandu 2. K : Jumlah balita yang mempunya Kartu MenujuSehat atau buku KIA 3. D : Jumlah balita yang datang dan ditimbang pada hari buka Posyandu 4. N : Jumlah balita yang ditimbang berat badannya dan berat badannya

naik.

c. Melakukan tindak lanjut terhadap : 1. Sasaran yang tidak datang

2. Sasaran yang memerlukan penyuluhan lebih lanjut

3. Memberitahukan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu pada hari buka

4. Melakuakn kunjungan tatap muka ketokoh masyarakat, dan menghadiri pertemuan rutin kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan.

Melihat tugas-tugas kader di atas maka dapat di ketahui bahwa program UPGK yang di tetapkan di dalam kategori kegiatan UPGK lengkap di lakukan oleh kader di Posyandu.

(27)

2.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Keaktifan Kader

Keaktifan kader adalah keterlibatan kader didalam kegiatan kemasyarakatan yang merupakan pencerminan akan usahanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang dirasakan dan pengabdian terhadap pekerjaannya sebagai kader. Keaktifan kader Posyandu tersebut dari ada atau tidaknya dilaksanakannya kegiatan-kegiatan Posyandu sebagai tugas yang diembankan kepadanya. Kegiatan ini akan berjalan dengan baik jika didukung dengan fasilitas yang memadai. Fasilitas yang disediakan hendaknya harus cukup dan sesuai dengan tugas dan fungsi yang harus dilaksanakan serta ada tersedianya waktu, tempat yang tepat, sesuai dan layak untuk menunjang kegiatan Posyandu. (Depkes RI, 2006b).

Pakar manajemen, George Terry dalam LAN (1999) menyatakan bahwa pencapaian tujuan (out put) dalam proses suatu kegiatan di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

a. Perencanaan ( planning )

b. Pengorganisasian ( Organizing ) c. Pelaksanaan ( Actuating ) d. Pengawasan ( Controling )

Menurut Gibson dkk (1996), bahwa kinerja individu dapat diartikan sebagai perilaku dan prestasi kerja individu yang dipengaruhi oleh variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis.

(28)

tersebut akan diikuti dengan hasil tertentu serta pada dayatarik hasil tersebut bagi individu. Dalam hal ini ada tiga variabel yang dikemukakan, yaitu (Robbins, 2002):

a. Daya tarik : Pentingnya individu mengharapkan out come dan penghargaan yang mungkin dapat dicapai dalam bekerja. Variabel ini mempertimbangkan kebutuhan–kebutuhan individu yang tidak terpuaskan.

b. Kaitan kinerja-penghargaan : Keyakinan individu bahwa dengan mewujudkan kinerja pada tingkat tertentu akan mencapai outcome yang di inginkan.

c. Kaitan Upaya-kinerja : Probabilitas yang diperkirakan oleh individu bahwa dengan menggunakan sejumlah upaya tertentu akan menghasilkan kinerja.

Menurut Maryoto (2000) mengutip pendapat Maslow (1970) menyatakan bahwa sebahagian besar perilaku manusia berdasarkan adanya motif (kebutuhan tertentu). Disebut pula bahwa motif memiliki tingkatan-tingkatan mulai dari yang terendah sampai tertinggi. Motif terendah adalah kebutuhan psikologis seperti makan, minum, seks dan sebagainya. Diatas kebutuhan dasar adalah kebutuhan aman, kebutuhan akan rasa disukai dan menyukai, kebutuhan akan kedudukan dan status, dan yang tertinggi adalah kebutuhan akan meningkatkan peran serta diri atau pengabdian. Rasa pengabdian sesungguhnya dimiliki oleh orang yang telah mencapai kebutuhan tinggi.

(29)

mengikuti kegiatan sosial bermasyarakat, inovatif, tinggal di RT/RW Posyandu berada, dan mempunyai motivasi yang positif. Selain itu Nilawati (2008) di Aceh selatan pada penelitian tentang keaktifan kader menemukan bahwa usia 21-30 tahun merupakan usia kader yang paling aktif

Ries dan Elder (2000) melaporkan adanya kasus drop out dan rendahnya motivasi kader / tenaga kesehatan didalam memberikan pelayanan kesehatan. Mereka lebih suka mencari pekerjaan yang lain di industri / pabrik sekaligus membantu keluarga dari lilitan ekonomi. Scrimshaw (1992) mengatakan selain itu faktor lain yang berkontribusi dalam perbaikan pervormance kader adalah pengetahuan dan ketrampilan kader dalam melakukan tugasnya. Hal yang dianggap paling sulit oleh kader adalah menginterprestasikan grafik KMS dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat (Sugeng, 2008).

Hasil penelitian Aniez dan Irawati (2000) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan kader Posyandu di Kecamatan Mianggo Kabupaten Jepara ditemukan beberapa masalah dan hambatan bagi kader di dalam melaksanakan kegiatan Posyandu. Permasalahan yang dialamai kader posyandu tersebut adalah kurangnya koordinasi antara tokoh masyarakat, pamong pemerintah, tenaga kesehatan dan kader, serta lintas program dan lintas sektoral yang terkait diluar kesehatan, selain itu ditemukan hal-hal sebagai berikut :

a. Tokoh masyarakat (pemuka agama) belum sepenuhnya berperan aktif

b. Kader yang bersifat tenaga sukarela tidak dapat melaksanakan aktifitasnya secara rutin

(30)

d. Kurangnya pembinaan (supervisi) dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan

e. Buku petunjuk pedoman (manual) Posyandu yang belum tersebar secara merata Hasil penelitian ini hampir sama dengan apa yang dijumpai di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa, dimana dari survei awal peneliti ditemukan bahwa dukungan dan peran serta dari tokoh masyarakat akan perkembangan Posyandu masih sangat kurang, dimana Posyandu sangat menggantungkan perkembangannya pada Puskesmas.

Melihat beberapa faktor penyebab keaktifan kader diatas, maka faktor-faktor keaktifan kader dapat dikelompokkan kepada tiga faktor yaitu :

2.1.2.1. Faktor Predisposisi 1. Umur

Umur adalah usia seseorang yang dihitung sejak mulai lahir sampai dengan batas akhir hidupnya. Umur sangat mempengaruhi seseorang didalam melaksanakan suatu kegiatan ataupun aktifitas. Menurut Nilawati (2008) menyatakan bahwa kader yang muda lebih banyak memberikan kotribusi semangat, motivasi, dan inovasi didalam melaksanakan waktu luang dalam melaksanakan tugasnya sebagai kader membantu masyarakat.

2. Pendidikan

(31)

masukan (input), dan keluaran (output) didalam mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri yaitu merubahan perilaku (Notoatmojo, 2005).

Jalur pendidikan formal akan membekali seseorang dengan dasar-dasar pengetahuan, teori dan logika, pengetahuan umum, kemampuan analisa serta pengembangan kepribadian. H.L.Blum menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses dengan tujuan utama menghasilkan perubahan perilaku manusia yang secara operasional tujuannya dibedakan kedalam tiga aspek yaitu: pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan aspek ketrampilan (psikomotor).

3. Pekerjaan

Pekerjaan adalah tugas utama atau kegatan rutinitas yang dimiliki oleh seorang kader untuk membantu, dan membiayai kehidupan keluarga serta menunjang kebutuhan rumah tangganya. Pekerjaan juga dapat mempengaruhi seseorang didalam menjaga kesehatan, baik individu maupun kesehatan keluarga. Karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan karena kesibukan membuat seseorang terabaikan akan kesehatannya, termasuk kader Posyandu. Kesibukan akan pekerjaan terkadang membuat ibu lupa terhadap tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Sebaiknya seorang kader Posyandu itu tidak memiliki pekerjaan yang tetap, dan mempunyai pengalaman yang lama menjadi kader dan tidak adanya pergantian kader dalam satu tahun (Suegianto, 2005).

(32)

4. Status perkawinan

Status perkawinan adalah suatu bentuk perkawinan antara laki-laki dan perempuan secara syah dipandang dari segi agama dan tata negara yang dibuktikan dengan surat nikah yang dikeluarkan oleh instansi yang ditunjuk pemerintah. Status perkawinan sangat mempengaruhi kegiatan seorang kader dalam melaksanakan kegiatan Posyandu, dimana dukungan dari keluarga pada umumnya menunjang keaktifan kader didalam menjalankan tugasnya.

2.1.2.2. Faktor Enabling (Pendukung) 1. Pelatihan

Menurut Frank Sherwood dan Wallace dalam Moekijat (1988) pelatihan adalah “Training is the proces of aiding employees to gain effectivaness in their preset of future work throught the development of appropriate habits of thought and action,

sill, knowladge and attitudes ( Pelatihan adalah proses membantu pegawai untuk

memperoleh efektifitas dalam pekerjaan mereka yang sekarag atau yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan-kebiasaan pikiran, tindakan dan ketrampilan. Adapun tujuan umum dari pelatihan sebenarnya menurut Moekijat adalah :

a. Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif.

b. Untuk mengembangkan pengetahuan sehingga pekerjaan dapat deselesaikan secara rasional.

(33)

Pelatihan kader merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam rangka mempersiapkan kader agar mau dan mampu berperan serta dalam melaksanakan kegiatan UPGK/Posyandu di desanya. Kader yang mempunyai ketrampilan serta pengabdian yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya adalah merupakan kunci keberhasilan kegiaatan UPGK/Posyandu. Oleh karena itu pengetahuan dan keterampilan kader yang diperlukan harus disesuaikan dengan tugas mereka dalam melaksanakan dan menembangkan kegiatan UPGK/Posyandu tersebut (Depkes RI, 1992).

2. Pembinaan

Pembinaan merupakan suatu kegiatan berkala dengan tujuan agar kader dapat melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan tugasnya dan tercapainya tujuan dari tugas kader tersebut. Pembinaan yang dilakukan meliputi peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader serta pembinaan administrasi yang mencakup penyelenggaraan kegiatan dan keuangan.

(34)

3. Kelengkapan infrastruktur

Kelengkapan infrastuktur merupakan salah satu hal yang terpenting didalam menunjang keaktifan kader melakukan tugasnya. Kelengkapan infrastuktur ini meliputi sarana (bangunan) dan prasarana pendukung (timbangan berat badan, alat ukur tinggi/panjang badan, buku registrasi, buku KIA, KMS, dll) didalam melakukan kegiatan (Din.Prov. NAD, 2006).

2.1.2.3. Faktor Reinforcing (penguat) 1. Penghargaan

Sebagai salah satu aspek di dalam mendorong seseorang didalam melakukan suatu pekerjaan ataupun kegiatan adalah adanya pengakuan ataupun penghargaan yang diberikan baik dari pimpinan maupun kelompok. Penghargaan tersebut dapat berupa pengakuan ataupun dalam bentuk materi

Salah satu pengaruh yang paling kuat atas prestasi seseorang didalam melakukan suatu kegiatan adalah adanya imbalan. Selain itu imbalan ataupun penghargaan dapat pula dijadikan sebagai daya tarik didalam merekrut anggota sebuah organisasi. Karena dengan adanya perhatian tersebut menangarah kepada rasa tanggung jawab, memiliki, otonomi dan keberanian didalam mempertahankan prestasi yang telah dicapai (Gibson, 1996).

2. Dukungan

(35)

diberikan kepada kader Posyandu, baik secara moril maupun materil untuk mendorong kader di dalam melakukan tugasnya. Berkaitan dengan hal tersebut, mengingat berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh kader, maka keberhasilan akan sangat tergantung dari sejauh mana upaya petugas ataupun pihak-pihak terkait didalam melakukan pendampingan maupun pembinaan kepada kader tersebut.

Mengingat UPGK dan posyandu merupakan suatu kegiatan lintas sektoral dan lintas program, maka dukungan yang diberikan hendaknya meliputi setiap departemen atau badan yang terlibat. Akan tetapi karena sulitnya tercapai kesepahaman didalam melakukan kegiatan ini maka sangat diperlukan dukungan dari muspida dan muspika didalam menjembatani departemen dan badan yang telibat dalam kegiatan UPGK dan posyandu sehingga tercapai masyarakat yang sehat dan mandiri.

2.1.Usaha Perbaikan Gizi Keluarga

2.2.1. Pengertian Usaha Perbaikan Gizi Keluarga

(36)

a. Merupakan usaha keluarga atau masyarakat untuk memperbaiki gizi pada semua anggota keluarga/masyarakat.

b. Dilaksanakan oleh keluarga atau masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat dan petugas beberapa sektor sebagai pembimbing dan pembina. c. Merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari hari dan bagian integral dari

pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

d. Secara operasional ialah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana pada keluarga atau masyarakat.

2.2.2. Sejarah Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)

Program Usaha Perbaikan Gizi dirintis sejak tahun 1950-an. Dimulai dengan terbentuknya Panitia Negara MMR (Menu Makanan Rakyat) dan LMR (Lembaga Makanan Rakyat). Usaha Perbaikan Gizi Keluarga telah ada sejak tahun 1963 di Jawa Tengah yang disebut ANP (Applied Nutrion Program) dan baru diubah menjadi Usaha Perbaikan Gizi Keluarga sejak tahun 1969. Untuk meningkatkan kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, maka pemerintah memperluas program ini secara nasional bersifat 2 (dua) bidang, yaitu: lintas sektoral yang melibatkan peran serta masyarakat dan lintas program (Depkes.RI, 1994).

Kegiatan UPGK merupakan kerjasama dari beberapa badan dan instansi pemerintah. Adapu departemen atau badan yang memegang peran utama di dalam pengembangan program UPGK antara lain adalah :

(37)

c. Departemen Pertanian

d. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Di dalam pelaksanaannya, UPGK dapat di kategorikan kedalam tiga jenis kegiatan yang meliputi :

a. UPGK Dasar

Merupakan kegiatan yang bersifat promotif dan preventif, seperti penyuluhan gizi, penimbangan bulanan balita, pemberian PMT, dsb.

b. UPGK Lengkap

Merupakan kegiatan promotof, preventif dan rehabilitatif, meliputi PMT, imunisasi, kesehatan lingkungan, penyediaan air bersih, penyuluhan kesehatan, dsb.

c. UPGK Intensif

Merupakan kegiatan promotif, kuratif, rehabilitatif, inovatif, income generating, atau lebih sering di sebut Nutrition Inovation Pilot Project.

2.2.3. Tujuan UPGK

(38)

a. Golongan anak 0 – 5 tahun, wanita hamil dan wanita menyusui. b. Golongan pekerja, terutama yang berpenghasila rendah.

c. Golongan penduduk didaerah rawan pangan. 2.2.4. Pelaksanaan UPGK

Upaya Perbaikan Gizi Keluraga merupakan usaha keluarga di dalam memperbaiki gizi seluruh anggota keluarga. Didalam pelaksanaan kegiatannya UPGK di bentuk kader untuk membantu berjalannya program ini. Kader UPGK merupakan anggota masyarakat yang bersedia:

a. Bekerja secara sukarela

b. Sanggup melaksanakan kegiatan UPGK

c. Sanggup menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan UPGK

Pada dasarnya kegiatan kader UPGK sama dengan kader Posyandu, dan umumnya keder Posyandu di desa adalah kader UPGK pula. Hal ini dikerenakan kegiatan UPGK merupakan satu kesatuan dengan kegiatan yang dilakukan oleh Posyandu. Adapun tugas kader UPGK adalah (Depkes,2006) :

a. Melaksanakan kegiatan bulanan Posyandu

1. Memberitahukan satu hari sebelumnya semua ibu hamil, ibu menyusui, ibu balita, dan anggota keluarga lainnya akan kegiatan Posyandu

2. Mempersiapkan peralatan pelaksanaan Posyandu

(39)

b. Melaksanakan kegiatan di luar Posyandu

1. Melaksanakan kunjungan rumah pada anak-anak, ibu hamil, yang dua bulan berturut-turut tidak datang ke posyandu, balita BGM, balita yang dua bulan berturut-turut tidak naik berat badannya, balita kegemukan, ibu hamil dan menyusui yang belum mendapatkan kapsul yodium, dan rumah tidak layak huni.

2. Menggerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan UPGK

3. Memanfaatkan pekarangan untuk meningkatkan gizi keluarga

(40)

2.3. Posyandu

2.3.1. Pengertian Posyandu

Pos Pelayanan terpadu (Posyandu) merupakan salah satu bentuk Upaya Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang di kelola dan di selenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.

2.3.2. Sejarah Posyandu

Untuk mempercepat terwujudnya masyarakat sehat yang merupakan amanat dari UUD 1945, Departemen Kesehatan (DEPKES) pada tahun 1975 menetapkan kebijakan Pembangunan Masyarakat Desa (PKMD) yang merupakan setrategi pembangunan kesehatan dengan cara melibatkan langsung masyarakat dengan prinsip Gotongroyong dan swadaya masyarakat. Penyelesaian masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat di harapkan dapat terselesaikan dengan adanya kerjasama lintas sektoral dan lintas program. Perkenalan PKMD ini di awali dengan kesepakatan Internaional yang di kenal dengan nama Primary Health Care (PHC) seperti yang tercantum di dalam Deklarasi Alma Atta pada tahun 1978.

(41)

Pelayanan Terpadu. Kegiatan yang di lakukan, di arahkan untuk lebih mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi yang sesuai dengan konsep GOBI-3F (Growth Monitoring, Oral Rehydration, Breast Feeding, Imunization, Female Education, Familly Planing, and Food Suplementtation), yang mana di terjemahkan ke dalam 5 kegiatan Posyandu, yaitu (Depkes RI.2006):

1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 2. Keluarga Berencana (KB) 3. Imunisasi

4. Gizi dan

5. Penaggulangan Diare.

Perencanaan Posyandu ini pertama kali dilakukan secara masal di kota Jokjakarta pada tahun 1986 oleh Kepala Negara Repoblik Indonesia bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional. Sejak itulah Posyandu berkembang dengan pesat, di mana masa keemasan Posyandu terjadi pada era 1980-an. Saat itu jumlah Posyandu di Indonesia mencapai sekitar 250.000. Penelitian Megawangi (1991) menunjukkan bahwa keberadaan Posyandu telah berhasil memperbaiki status gizi anak balita. Kunci sukses keberhasilan Posyandu tidak terlepas dari peran penting kader Posyandu itu sendiri. Mereka harus medapatkan training yang cukup sehingga memiliki keterampilan untuk menjalankan program Posyandu (Sugeng, 2008).

(42)

maka di keluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor. 9 Tahun 1990 tentang peningkatan Pembinaan Posyandu, di mana setiap Kepala Daerah ditugaskan untuk peningkatan pengelolaan mutu Posyandu dan pada tahun 2001 Menteri Dalam Negeri kembali mengeluarkan Surat Edaran Nomor.441.3/1116/SJ tahun 2001 tentang Revitalisasi Posyandu (Depkes RI, 2006).

2.3.3. Kegiatan-Kegiatan Posyandu

Posyandu merupakan pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakat sekaligus mendapatkan pelayanan kesehatan. Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan / pilihan. Secara rinci kegiatan Posyandu adalah sebagai berikut :

2.3.3.1. Kegiatan Utama A. Kesehatan Ibu dan Anak

1. Ibu Hamil

Pelayanan yang di selenggarakan untuk ibu hamil mencakup :

a) Penimbangan berat badan dan pemberian tabelt besi yang di lakukan oleh kader kesehatan. Jika ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran pembuluh darah dan pemberian imunisasi tetanus toksoit. Bila tersedia ruang pemeriksaan, ditambah dengan pemeriksaan tinggi fundus / usia kehamilan. b) Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu diselenggarakan

(43)

a. Penyuluhan tanda bahaya ibu hamil, persiapan persalinan, persiapan menyusui, KB dan Gizi.

b. Perawatan Payudara dan pemberian ASI c. Peragaan pola makan ibu hamil

d. Peragaan perawatan bayi baru lahir e. Senam ibu hamil.

2. Ibu Nifas dan Menyusui

Pelayanan yang di selenggarakan pada ibu nifas dan menyusui meliputi : a. Penyuluhan kesehatan, KB, ASI dan Gizi, ibu nifas,perawatan kesehatan

jalan lahir (vagina)

b. Pemberian Vitamin A dan tabelt besi c. Perawatan payudara

d. Senam ibu nifas

e. Jika ada tenaga Puskesmas dan tersedia ruangan, dilakukan pemeriksaan umum , pemeriksaan payudara,

f. Pemeriksaan tinggi fundus dan pemeriksaan lochia. Apabila di temikan kelainan, segera di rujuk ke Puskesmas.

3. Bayi dan Anak Balita

(44)

Untuk itu perlu disediakan sarana permainan yang sesuai dengan umur Balita. Adapun jenis pelayanan yang di selenggarakan di Posyandu untuk Balita meliputi :

a. Penimbangan berat badan b. Penentuan status pertumbuhan c. Penyuluhan

d. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas.

B. Keluarga Berencana (KB)

Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diselenggarakan oleh kader adalah pemberian kondom dan pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas di lakukan suntikan KB dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang menunjang dilakukan pemasangan IUD.

C. Imunisasi

Pelayanan imunisasi Posyandu hanya dilaksanakan apabila ada petugas Puskesmas. Jenis Imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program, baik terhadap bayi dan balita, maupun terhadap ibu hamil.

D. Gizi

(45)

pemberian PMT, pemberian vitamin A dan pemberian sirup Fe. Khusus pada ibu hamil dan ibu nifas ditambah dengan pemberian tabelt besi dan kapsul yodium untuk yang bertempat tinggal di daerah yang endemik

E. Pencegahan dan Penanggulangan Diare

Pencegahan diare di Posyandu di lakukan antara lain dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) . Penaggulangan diare di Posyandu dilakukan antara lain dengan penyuluhan, pemberian larutan gula garam yang dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat atau pemberian oralit yang disediakan.

2.3.3.2. Kegiatan Pengembangan / Tambahan

Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambahkan kegiatan Posyandu dalam kegiatan baru, di samping 5 kegiatan utama yang telah ditetapkan. Penambahan kegiatan baru sebaiknya dilakukan apabila 5 kegiatan utama telah di lakukan dengan baik, dalam arti cakupannya di atas 50% serta didukung oleh sumberdaya yang mendukung. Penetapan kegiatan baru Posyandu ini harus mendapat dukungan dari Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).

Pada saat ini telah dikenal beberapa kegiatan tambahan Posyandu yang telah diselenggarakan antara lain :

a. Bina Keluarga Balita

b. Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)

c. Pertemuan dini dan pengamatan penyakit potensial kejadian luar biasa. d. Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD)

(46)

f. Desa Siaga g. Dll.

2.3.4. Penyelenggaraan Posyandu

Penyelenggaraan Posyandu hakekatnya dilaksanakan 1 (satu) kali dalan satu bulan, dimana tempat pelaksanaan Posyandu hendaknya tidaklah terlalu jauh dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Tempat penyelenggaraan tersebut dapat disalah satu rumah warga, balai desa / kelurahan, balai RT/RW/dusun atau tempat khusus yang di bangun secara swadaya oleh masyarakat.

Pengelolaan Posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat pada saat pembentukan Posyandu. Pengurus Posyandu sekurang-kurangnya terdiri dari seorang ketua, sekertaris dan bendahara. Keriteria pengelola Posyandu antara lain sebagai berikut:

a. Diutamakan berasal dari para dermawan dan tokoh masyarakat setempat.

b. Memiliki semangat pengabdian, berinisiatif tinggi dan mampu memotifasi masyarakat.

c. Bersedia bekerja secara sukarela bersama masyarakat.

(47)

Langsa Baro telah memiliki kelengkapan dalam jumlah kader, walaupun dalam pelayanannya sistim 5 meja tersebut belum dapat dilakukan dengan maksimal (Depkes RI, 2006)

Pelayanan yang dilaksanakan pada setiap langkah dan para penanggung jawab pelaksanaannya secara sederhana dapat diuraikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1. Langkah-langkah dan pelaksana kegiatan Posyandu

LANGKAH PELAYANAN PELAKSANA

Pertama Pendaftaran Kader

Kedua Penimbangan Kader

Ketiga Pengisian KMS Kader

Keempat Penyuluhan Kader

Kelima Pelayanan Kesehatan

Petugas Kesehatan, Sektor Terkait, Bersama Kader Sumber : Depkes RI, 2006

2.3.5. Tingkat Perkembangan Posyandu

(48)

Tabel 2.2. Tingkat Perkembangan Posyandu

No INDIKATOR PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI 1 Frekuensi Penimbangan <8 >8 >8 >8 2 Rerata Kader bertugas <5 >5 >5 >5 3 Rerata cakupan D/S <50% <50% ≥50% ≥50% 4 Cakupa Komulatif KIA <50% <50% ≥50% ≥50% 5 Cakupa Komulatif KB <50% <50% ≥50% ≥50% 6 Cakupa Komulatif Imunisasi <50% <50% ≥50% ≥50% 7 Program tambahan - - + + 8 Cakupan dana sehat <50% <50% ≤50% ≥50% Sumber : Depkes RI, 2006

2.4.Hubungan Antara Kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dan kegiatan Posyandu

Usaha Perbaikan Gizi Keluarga sebagai upaya memperbaiki keadaan gizi masyarakat merupakan serangkaian kegiatan yang saling berkaitan untuk menanggulangi masalah gizi pada masyarakat, yang dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan dukungan berbagai sektor, baik dari departamen maupun badan pemerintahan.

Posyandu adalah suatu wadah komunikas dalam pelayanan kesehatan masyarakat yang di lakukan oleh dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana.

(49)

a. Penyederhanaan pengertian gizi pada masyarakat dengan semboyan “Anak Sehat adalah Bertambah Umur Bertambah Berat”.

b. Pengalihan teknologi sederhana pada masyarakat untuk memonitoring dinamika pertumbuhan Berat Badan (BB) anak balita yaitu penimbangan bulanan dengan dacin dan pencatatan pada KMS.

c. Penimbangan bulanan adalah kegiatan utama dan ciri khas dari Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, tanpa adanya kegiatan penimbangan bukan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga.

d. Ada tindak lanjut setelah ditimbang, minimal penyuluhan gizi dan pesan yang spesifik.

e. Intervensi langsung yang sederhana, misalnya Larutan Gula Garam (LGG), vitamin A dosis tinggi dan tabelt besi.

Agar masyarakat dapat lebih termotivasi dan dapat lebih merasakan manfaat Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, maka dapat dikembangkan bentuk pelayanan lainnya, misainya PMT, penyuluhan, rujukan, pelayanan kontrasepsi, imunisasi dan lain-lain. Kegiatan tersebut sekarang lebih dikenal dengan Posyandu. Oleh karena itu kegiatan posyandu, kelompok kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga merupakan pintu masuk atau “entry point”dari pada kegiatan Posyandu.

(50)

makanan yang dilakukan oleh keluarga di desa, pengaturan pemberian ASI dan makanan pengganti ASI yang dilakukan oleh ibu rumah tangga dan lain-lain.

Di dalam menjalankan program ini di lapangan di gunakan tenaga bantu yang di sebut dengan kader. Perilaku kader di dalam melakukan kegiatan di Posyandu sangat mempengaruhi masalah kesehatan dan gizi yang terjadi di masyarakat. Perilaku kader di dukung oleh faktor determinan seperti faktor predisposisi, faktor enebling dan faktorreinforcing, seperti yang tertera di gambar berikut :

Gambar 2.1. Konsep Teoritis dan Faktor Determinan Perilaku Kader. Sumber : Modifkasi (Soekidjo,2003; Subur, 2005; Wiku, 2007)

Faktor enablling

- Status perkawinan - Sikap

- Struktur Posyandu

Perilaku Kader

Keaktifan Kader

Status Kesehatan

(51)

2.5. Kerangka Konsep

Dari beberapa kajian yang telah dilakukan diatas, banyak faktor yang berhubungan dengan keaktifan kader. Pada penelitian ini peneliti membatasi variabel penelitian yang dianggap sesuai dengan situasi dan kondisi Posyandu di Puskesmas Langsa Barat Kecamatan Langsa Baro yaitu faktor predisposisi, pendukung dan penguat yang digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Keaktifan Kader dalam program UPGK Faktor Predisposisi :

- Usia - Pendidikan

- Status perkawinan - Pekerjaan

- Pengetahuan

Faktor Pendukung :

- Pelatihan dan Pembinaan - Kelengkaan infrastruktur

Faktor Penguat :

(52)

2.6. Hipotesa Penelitian

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat diskriptif, dimana jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional study.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa – NAD yang memiliki 33 (tigapuluh tiga) buah Posyandu yang di lakukan pada bulan Oktober 2009 – Mei 2010.

Adapun alasan dipilihnya Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro karena pada kecamatan ini masih banyak dijumpai anak dengan gizi buruk, dan jumlah kader yang terdaftar tidak sesuai dengan jumlah Posyandu, sedangkan Puskesmas ini merupakan Puskesmas dengan predikat terbaik didalam pelayanan prima tingkat nasional.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian adalah seluruh kader Posyandu dalam wilayah kerja Puskesmas Langsa Baro Kecamatan Langsa Baro, yaitu sebanyak 160 orang kader.

Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 61 orang yang ditentukan dengan rumus penentuan sampel dengan menggunakan formula sebagai berikut :

N n = Besar sampel

n = N = Besar Populasi

(54)

3.4. Metoda Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. 3.4.1. Data Primer

Data primer didalam penelitian ini adalah data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan kader (predisposisi, pendukung dan penguat) yang diperoleh dengan wawancara dengan bantuan kuisioner.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data tentang gambaran umum lokasi penelitian yang diperoleh dari Dinas Kesehatan, Puskesmas dan juga petugas program gizi Puskesmas yang meliputi laporan bulanan dan tahunan.

3.5. Difenisi Operasional Variabel

VARIABEL SUB

VARIABEL DEFINISI HASIL UKUR

F

Umur Usia responden pada

saat penelitian

Pendidikan Pendidikan terakhir

yang dimiliki

Status perkawinan Status responden

(55)

VARIABEL SUB

VARIABEL DEFINISI HASIL UKUR

F

akt

or

P

endukung

Pekerjaan Kegiatan sehari-hari

yang dilakukan

Pengetahuan Segala pengetahuan yang dimiliki kader meja) yang dimiliki oleh posyandu.

(56)

VARIABEL

SUB

VARIABEL

DEFINISI HASIL UKUR

F

Dukungan Suatu perhatian, bantuan, maupun

dorongan yang diberikan oleh TPG, Ketua PKK, BKKBN, masyarakat

maupun tokoh masyarakat setempat.

3. Baik 4. Tidak baik

Penghargaan dan insentif

Ada tidaknya penghargaan yang pernah diterima dalam rangka keaktifan sebagai

kader baik dalam bentuk uang ataupun jenis penghargaan lainnya

DEFINISI HASIL UKUR

K

Keterlibatan kader didalam melakukan kegiatan sesuai dengan tugasya baik pada

hari sebelum Posyandu, saat Posyandu maupun kegiatan setelah melaksanakan

Posyandu.

1. Aktif

(57)

3.6. Aspek Pengukuran

Untuk mengukur variabel dependen dan idependen di atas dengan menggunakan kuisioner dengan pertanyaan tertutup, dilakukan pengkategorian sebagai berikut :

1. Pengetahuan

Pengetahuan diukur dengan memberikan skor pada setiap pertanyaan yang diajukan. Jumlah pertanyaan sebanyak 12 pertanyaan dengan skor tertinggi 24, dan dapat dikategorikan dalam (Arikunto, 2007) :

− Jawaban a diberi skor 2

− Jawaban b diberi skor 1

− Jawaban c diberi skor 0

Berdasarkan nilai diklasifikasi dalam tiga kategori :

− Baik jika nilai >75%

− Kurang jika nilai 50% - 75%

− Buruk jika nilai <50

2. Pelatihan dan pembinaan :

Pertanyaan tentang pelatihan diukur dengan memberikan 6 (enam) pertanyaan kepada responden. Dalam menentukan pengkategorian pelatihan dan pembinaan digunakan skala Guttman, dimana setiap pertanyaan diberikan nilai 1 untuk poin a dan nilai 0 untuk poin b dengan total nilai 6. Berdasarkan nilai tersebut maka kelengkapan dapat diklasifikasi dalam dua kategori (Riduwan,2005) :

− Baik jika nilai ≥50%

(58)

3. Kelengkapan infrastruktur

Kelengkapan infrastruktur diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner yang diberikan nilai pada setiap pertanyaan, dimana poin a diberi skor 1 dan poin b diberi skor 0 dengan nilai tertinggi 10 dan nilai terendah 0.

Berdasarkan nilai tersebut maka kelengkapan dapat diklasifikasi dalam dua kategori :

− Lengkap jika nilai ≥50%

− Tidak lengkap jika nilai < 50

4. Dukungan

Dukungan dapat diukur dengan memberikan pertanyaan kepada responden, dimana poin a diberi skor 1 dan poin b diberi skor 0 dengan nilai tertinggi 5 dan dapat dikategorikan dalam :

− Baik jika nilai ≥50%

− Tidak baik jika nilai < 50

5. Penghargaan

Penghargaan diukur dengan memberikan skor pada tiap pertanyaan yang diajukan kepada responden, dimana dari 5 pertanyaan yang diajukan poin a diberi skor 1 dan poin b diberi skor 0 dan dapat dikategorikan kedalam:

− Baik jika nilai ≥50%

(59)

6. Keaktifan Kader

Keaktifan kader diukur dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang telah diberikan skor. Skor tertinggi dari pertanyaan adalah 28 dari 14 pertanyaan yang diakan kepada responden, dan dapat diklasifikasikan dalam :

− awaban 1 diberi skor 2

− Jawaban 2 diberi skor 1

− Jawaban 3 diberi skor 0

Berdasarkan nilai diklasifikasi dalam tiga kategori :

− Aktif jika nilai >75%

− Kurang aktif 50 - 75

− Tidak aktif jika nilai <50%

3.7. Teknik pengolahan dan Analisa Data 3.7.1. Pengolahan Data

Data yang telah di kumpulkan selanjutnya diolah dengan tahapan sebagai berikut:

3.7.1.1. Editing

Data yang telah terkumpul segera diteliti kelengkapannya dilokasi penelitian guna menghindari kekurangan atau kelengkapan dan kesalahan yang tidak diinginkan.

3.7.1.3. Tabulating

(60)

3.7.2. Analisa Data

(61)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1. Keadaan Geografis dan Demografi

Puskesmas Langsa Baro merupakan salah satu Puskesmas yang berada didalam wilayah kerja Kota Langsa Propinsi Nanggro Aceh Darusalam yang berada di Kecamatan Langsa Baro. Puskesmas Langsa Baro memiliki wilayah kerja dengan luas ± 152,16 km² dan berbatasan dengan :

− Sebelah Utara : dengan kecamatan Langsa Timur

− Sebelah Timur : dengan kecamatan Langsa Lama

− Sebelah Barat : dengan kecamatan Birem Bayeun

− Sebelah Selatan : dengan kecamatan Langsa Barat

(62)

Secara administrasi Puskesmas Langsa Baro memiliki 7 (tujuh) desa dengan jumlah penduduk 47.000 jiwa dan 10.389 KK. Penyebaran penduduk di Kecamatan Langsa Baro tidak merata seperti dapat dilihat pada tabel 4.1. Daerah terpadat penduduknya adalah desa Gampong Jawa dengan jumlah penduduk 6273,84 jiwa/km2, sedangkan desa Karang Anyer merupakan desa dengan penyebaran penduduk yang ranggang yaitu 66,69 jiwa/km2.

4.2 Karakteristik Responden

Dari penelitian yang dilakukan terhadap variabel karakteristik kader posyandu diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kader di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

(63)

No Karakteristik Responden N %

5 Pengetahuan

Baik 37 60,7

Kurang 23 37,7

Buruk 1 1,6

Jumlah 61 100,0

(64)

4.3 Faktor Pendukung

Didalam melakukan suatu kegiatan/aktifitas, faktor pendukung merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan dan merangsang pekerja untuk lebih aktif didalam melakukan tugasnya. Faktor pendukung dapat dibagi kedalam :

4.3.1 Pelatihan dan Pembinaan

Dari penelitian yang dilakukan terhadap persepsi responden akan pelatihan dan pembinaan yang diperoleh responden selama bertugas dapat dilihat pada tabel 4.5 dibawah ini :

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelatihan dan Pembinaan di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

No Pelatihan dan Pembinaan N %

1 Baik 51 83,6

2 Tidak Baik 10 16,4

Total 61 100,0

Dari tabel di atas diketahui bahwa sebahagian besar responden (83,6%) menyatakan pelatihan dan pembinaan yang diperoleh baik dan 16,4% responden menyatakan tidak baik. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban responden tentang dukungan instansi terkait dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berukut :

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pertanyaan Pelatihan dan Pembinaan kader di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

No Pelatihan dan Pemmbinaan N %

1 Pernah mengikuti pelatihan

Ya 47 77,0

Tidak 14 23,0

Total 61 100,0

2 Kesesuaian materi

Sesuai 47 100,0

Tidak sesuai 0 0,0

(65)

No Pelatihan dan Pembinaan N % 3 Pembinaan Puskesmas

Ya 61 100,0

5 Pembinaan BKKBN

Ya 0 0,0

Tidak 61 100,0

Total 61 100,0

6 Pembinaan Bidan Desa

Ya 52 85,2

Tidak 9 14,8

Total 61 100,0

(66)

4.3.2 Kelengkapan Infrastruktur

Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui terhadap persepsi responden terhadap kelengkapan infrastruktur posyandu dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut :

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Berdasarkan Kelengkapan Infrastruktur di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

No Kelengkapan Infrastruktur N %

1 Lengkap 40 65,6

2 Tidak Lengkap 21 34,4

Total 61 100,0

Dari tabel di atas diketahui bahwa sebahagian besar (65,6%) responden menyatakan bahwa infrastuktur pendukung di posyandu telah lengkap dan 34,4% responden menyatakan tidak lengkap.

Kelengkapan infrastruktur terdiri dari 10 pertanyaan yang marupakan unsur terpenting didalam terlaksananya suatu kegiatan Posyandu. Untuk lebih jelas persentase masing-masing kelengkapan infrastruktur posyandu dapat dilihat pada tabel 4.6 di bawah ini :

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden terhadap kelengkapan infrastruktur di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

N0 Kelengkapan Infrastruktur N %

(67)

N0 Kelengkapan Infrastruktur N %

(68)
(69)

4.4 Faktor Penguat

4.4.1 Dukungan Instansi Terkait

Dilihat dari persepsi responden terhadap dukungan instansi terkait maka diketahui sebagian besar (86,9%) respoden menyatakan tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari instansi terkait. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Dukungan Petugas di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

No Dukungan Instansi Terkait N %

1 Mendukung 8 13,1

2 Tidak mendukung 53 86,9

Total 61 100,0

Dukungan yang diberikan instansi terkait terhadap aktifitas dan kegiatan kader merupakan hal yang penting di dalam memberikan motifasi dan semangat dalam melaksanakan tugasnya. Untuk mengetahui jawaban persepsi responden terhadap dukungan instansi terkait dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini :

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Instansi Terkait di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

(70)

No Dukungan Petugas N %

4 Dukungan Masyarakat (ibu)

Baik 48 78,7

Tidak Baik 13 21,3

Total 61 100,0

5 Dukungan Aparatur desa

Baik 7 11,5

Tidak Baik 54 88,5

Total 61 100,0

(71)

4.4.2 Penghargaan dan Insentif

Penghargaan dan insentif merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan motifasi dan kinerja petugas. Untuk mengetahui sejauh mana persepsi responden terhadap penghargaan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini :

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Persepsi dan Insentif Responden Terhadap Penghargaan dan Insentif Yang di Terima di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

No Penghargaan dan Insentif Terhadap Kader N %

1 Baik 5 8,2

2 Tidak baik 56 91,8

Total 61 100,0

Dari tabel di atas diketahui bahwa sebahagian besar responden (91,8%) menyatakan tidak baiknya penghargaan yang mereka terima selama bertugas, dan 8,2% responden menyatakan baik terhadap penghargaan dari berbagai instansi terkait dan masyarakat. Untuk mengetahui jawaban responden terhadap penghargaan dan insentif yang diterima dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut ini :

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Penghargaan dan insentif terhadap responden di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010

No Penghargaan Terhadap Kader N %

Didalam bertugas mendapatkan insentif

Ya 61 100,0

Tidak 0 0,0

(72)

No Penghargaan Terhadap Kader N %

3 Penghargaan dari PKK

Baik 6 9,8

Tidak Baik 55 90,2

Total 61 100,0

4

Penghargaan dari aparatur desa / masyarakat

Baik 5 8,2

Tidak Baik 56 91,8

Total 61 100,0

5 Pe nghargaan dari BKKBN

Baik 0 0,0

Tidak Baik 61 100,0

Total 61 100,0

Figur

Tabel 2.1.  Langkah-langkah dan pelaksana kegiatan Posyandu LANGKAH PELAYANAN PELAKSANA
Tabel 2 1 Langkah langkah dan pelaksana kegiatan Posyandu LANGKAH PELAYANAN PELAKSANA . View in document p.47
Tabel 2.2.  Tingkat Perkembangan Posyandu No INDIKATOR PRATAMA
Tabel 2 2 Tingkat Perkembangan Posyandu No INDIKATOR PRATAMA . View in document p.48
Gambar 2.1. Konsep Teoritis dan Faktor Determinan Perilaku Kader.
Gambar 2 1 Konsep Teoritis dan Faktor Determinan Perilaku Kader . View in document p.50
Gambar 2.2. Kerangka Konsep
Gambar 2 2 Kerangka Konsep . View in document p.51
Tabel 4.1. Destribusi desa di Kecamatan Langsa Baro berdasarkan wilayah / jumlah desa/kelurahan, jumlah penduduk, jumlah rumah tangga (KK) tahun 2010
Tabel 4 1 Destribusi desa di Kecamatan Langsa Baro berdasarkan wilayah jumlah desa kelurahan jumlah penduduk jumlah rumah tangga KK tahun 2010 . View in document p.61
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kader di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kader di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.62
Tabel 4.2 di atas menunjukan bahwa hasil penelitian berdasarkan kelompok
Tabel 4 2 di atas menunjukan bahwa hasil penelitian berdasarkan kelompok . View in document p.63
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pertanyaan Pelatihan dan Pembinaan kader di      Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 4 Distribusi Frekuensi Pertanyaan Pelatihan dan Pembinaan kader di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.64
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelatihan dan  Pembinaan di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelatihan dan Pembinaan di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.64
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden terhadap kelengkapan infrastruktur di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden terhadap kelengkapan infrastruktur di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.66
Tabel 4.8  Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Instansi Terkait di
Tabel 4 8 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Instansi Terkait di . View in document p.69
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Dukungan Petugas di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 7 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Dukungan Petugas di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.69
Tabel 4.8  Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Instansi Terkait di    Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 8 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Instansi Terkait di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.69
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Persepsi dan Insentif Responden Terhadap Penghargaan dan Insentif Yang di Terima di Kecamatan Langsa
Tabel 4 9 Distribusi Frekuensi Persepsi dan Insentif Responden Terhadap Penghargaan dan Insentif Yang di Terima di Kecamatan Langsa . View in document p.71
Tabel 4.10  Distribusi Frekuensi Penghargaan dan insentif terhadap responden di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 10 Distribusi Frekuensi Penghargaan dan insentif terhadap responden di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.71
tabel 4.12 sebagai berikut :
tabel 4.12 sebagai berikut : . View in document p.73
Tabel 4.12   Distribusi Frekuensi Keaktifan Responden Berdasarkan Jawaban di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010
Tabel 4 12 Distribusi Frekuensi Keaktifan Responden Berdasarkan Jawaban di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa Tahun 2010 . View in document p.73
Tabel 4.13 Hasil Analisa Bivariat Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen Pelatihan KelengDukung
Tabel 4 13 Hasil Analisa Bivariat Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen Pelatihan KelengDukung. View in document p.77
Tabel 4.14 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen Unstandardized Standardized
Tabel 4 14 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen Unstandardized Standardized . View in document p.78

Referensi

Memperbarui...