Bahan Kuliah Ekologi Hutan buku

229  425  Download (6)

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Pengertian Ekologi Hutan

Istilah Ekologi diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (1869), yang mana ekologi ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu :

Oikos = Tempat tinggal (rumah) Logos = ilmu, telaah.

Oleh karena itu, Ekologi adalah ilrnu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan dengan lingkungannya.

Hubungan tersebut demikian komplek dan eratnya se-hingga Odum (1959) menyatakan bahwa ekologi adalah Envi-romental Ecology.

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohonan dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Didalam suatu hutan, hubungan antara tumbuh-tumbuhan, margasatwa, dan alam lingkungannya demikian eratnya, sehingga hutan dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem.

Ekologi Hutan adalah cabang ekologi yang khusus mempelajari masyarakat atau ekosistim hutan.

B. Bidang Kajian Ekologi Kutan

Didalam Ekologi ada dua bidang kajian, yaitu

(2)

jenis atau bagian ekologi yang mempela jari pengaruh sesuatu faktor lingkungan terhadap satu atau lebih jenis-jenis organisme.

2. Sinekologi : Bagian ekologi yang mempelajari

berbagai kelompok organisme sebagai satu kesatuan yang saling berinteraksi antar sesamanya dan dengan lingkungannya dalam suatu daerah.

Dalam ekologi hutan, autekologi mempelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya satu atau lebih jenis-jenis pohon. Jadi, penyelidikannya mirip fisiologi tumbuh-tumbuhan, sehingga aspek-aspek tertentu dari autekologi, seperti penelitian tentang pertumbuhan pohon serir.g disebut fisioekologi (phisiological ecology). Contoh penelitian autekologi adalah :

1) Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan jenis Shorea leprosula

2) Pengaruh dosis pupuk N terhadap pertumbuhan jenis sengon.

(3)

keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi, struktur dan produktivitas hutan.

Dalam ekologi hutan baik penge tahuan autekologi maupun sinekologi bersama-sama diperlukan, karena kita memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat berbagai jenis pohon yang membentuk hutan dan pengetahuan tentang hutan sebagai suatu ekosistem.

C. Sangkut Paut Ekologi Hutan dengan Bidang Ilmu Lain

Berhubung di dalam ekologi hutan yang dipelajari adalah tumbuh-tumbuhan hutan dan keadaan tempat tumbuhnya, maka semua bidang ilmu yang mempelajari kedua komponen ekosistem hutan tersebut sangat diperlukan, yakni:

(1). Taksonomi tumbuh-tumbuhan (terutama Dendrologi). Bidang ilmu ini sangat diperlukan untuk pengenalan jenis-jenis tumbuhan di hutan. Untuk pengenalan jenis ini diperlukan buku-buku pengenalan jenis yang praktis, selain buku-buku flora yang sudah ada yang bersifat komprehensif. Cara pengenalan jenis pohon dalam buku-buku itu dititikberatkan pada sifat-sifat generatif (reproduktif), yaitu berdasarkan sifat-sifat bunga dan buah. Padahal menurut pengalaman di lapangan seringkali dijumpai pohon-pohon yang sedang tidak berbunga atau berbuah, atau sukar sekali untuk mendapatkan contoh-contoh bunga dan buah.

(4)

(kulit, getah dan kayu) , daun dan kuncup, kemudian baru sifat-sifat generative. Cara pengenalan ini tidak terikat pada sistem taksonomi tumbuh-tumbuhan. Di Filipina cara pengenalan demikian telah dirintis oleh Tamolang (1959), di Malaysia oleh Kochummen (1963), di Indonesia oleh Endert (1928, 1956) dan Verteegh (1971) dan di Pantai Gading, Afrika, oleh den Outer (1972) .

Kepulauan Indonesia, sebagai bagian dari daerah flora Malesia, terkenal sebagai daerah flora hutan yang kaya. tetapi pengetahuan kita tentang jenis tumbuh-tumbuhan di daerah ini masih amat kurang. Banyaknya jenis tumbuh-tumbuhan di daerah inipun belum diketahui dengan pasti (Van Steenis, 1948). Menurut taksiran Van Steenis (op.cit) di daerah Malesia terdapat kira-kira 3000 jenis pohon. Menurut Lembaga Penelitian Hutan di Indonesia terdapat lebih kurang 4000 jenis pohon. Dari sekian banyak jenis itu baru sebagian kecil tercakup dalam buku-buku flora yang tersedia. Akibatnya, pengenalan masih tergantung pada jasa para pengenal pohon setempat. Dengan bantuan koleksi contoh tumbuh-tumbuhan yang kemudian dideterminasi, dapatlah disusun daftar nama pohon-pohon untuk daerah tertentu, yang dapat mempermudah inventarisasi hutan.

(2). Geologi dan Geomorfologi

(5)

tumbuh-tumbuhan.

Pada keadaan iklim yang sama, jenis-jenis batuan yang berbeda akan menghasilkan jenis-jenis tanah yang berlainan. Pada jenis dan keadaan tanah yang khusus, seperti tanah pasir kuarsa dan tanah serpentin, akan terbentuk tipe hutan yang khusus pula.

Keadaan topografi juga mempengaruhi komposisi dan kesuburan tegakan hutan, melalui perbedaan pada kesuburan dan keadaan air tanah.

Disamping itu, perbedaan letak tinggi mempengaruhi penyebaran tumbuh-tumbuhan, melalui perbedaan iklim yang ditimbulkannya.

(3). Ilmu Tanah

Ilmu tanah yang murni seringkali disebut pedologi tetapi sebagai faktor tempat tumbuh disebut edafologi. Perbedaan jenis tanah, sifat-sifat serta keadaan tanah seringkali mempengaruhi penyebaran tumbuh-tumbuhan, menyebabkan terbentuknya tipe-tipe vegetasi berlainan, serta mempengaruhi kesuburan dan produktivitas hutan.

(4). Klimatologi

(6)

topografi dapat mempengaruhi penyebaran dan pertumbuhan pohon.

(5). Geografi tumbuh-tumbuhan

Pada permulaan perkembangannya ekologi tumbuh-tumbuhan merupakan cabang dari geografi tumbuh-tumbuan (phytogeografi) yang membahas pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap penyebaran tumbuh-tumbuhan. Dari cabang inilah berkembang sosiologi tumbuh-tumbuhan (phytososiologi) dan ekologi tumbuh-tumbuhan.

Pada taraf kemajuan sekarang ekologi hutan masih memerlukan informasi dari geografi tumbuh-tumbuhan untuk mengerti pola penyebaran berbagai jenis pohon dalam hubungannya dengan keadaan fisik bumi, terutama iklim dan geomorfologi atau fisiografi, dan akan sangat membantu dalam mempelajari susunan serta penyebaran £ormasi-formasi hutan.

(6). Fisiologi Tumbuh-tumbuhan dan Biokimia

(7)

pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap produksi getah karet atau getah pinus perlu pula pengetahuan tentang proses pembentukan getah dan proses-proses biokimia lainnya yang mempengaruhi atau berkaitan dengannya.

(7). Genetika Tumbuh-tumbuhan

Suatu jenis tumbuh-tumbuhan yang penyebarannya luas seringkali memperlihatkan perbedaan menurut letak geografi dan keadaan lingkungan-nya. Perbedaan ini bukan hanya dalam bentuk pertumbuhannya tetapi seringkali pula dalam hal adaptasi dan persyaratan terhadap keadaan tempat tumbuhnya, yang berakar pada sifat-sifat genetis, sebagai akibat dari mutasi dan polyploidy.

Adakalanya apabila daerah penyebaran dari dua jenis pohon berimpitan pada suatu tempat, maka pada tempat itu terjadi hybridisasi antara kedua jenis itu, sehingga timbul jenis pohon baru yang sifat-sifatnya berada diantara sifat-sifat kedua jenis induknya. Demikianlah, pada keadaan-keadaan tertentu, untuk mengerti sifat-sifat ekologis sesuatu jenis atau beberapa jenis pohon diperlukan pula pengatahuan tentang genetika.

(8). Matematika dan Statistika

(8)

faktor lingkungan yang berperan dan seberapa jauh peranannya terhadap penelitian kelestarian suatu hutan dapat diperkirakan.

D. Status Ekologi Hutan dalam Ilmu Pengetahuan Kehutanan Ekologi Hutan merupakan ilmu dasar yang bersifat integratif (mengintegrasikan ilmu-ilmu dasar lain) yang merupakan ilmu dasar penting bagi silvikultur. dalam terminologi kehutanan, ekologi hutan hampir sama dengan silvika. Perbedaan ekologi hutan dengan silvika hanyalah pada lawasan kajiannya, yakni ekologi hutan mempelajari hutan sebagai ekosistem (jadi lawasannya lebih luas), sedangkan silvika lebih terarah pada silvikultur dan lebih mendekati autekologi. Dengan pengetahuan ekologi hutan dan fisiologi pohon yang tepat bisa ditentukan tindakan silvikultur yang tepat, sehingga produksi hutan dapat ditingkatkan baik kualita rnaupun kuantitanya.

E. Aspek-aspek Ekologi Hutan yang renting

Dalam ilmu kehutanan, aspek-aspuk ekologi hutan yang penting dipelajari adalah :

(1). mempelajari komposisi dan struktur hutan alam (2). mempelajari hubungan tempat tumbuh denyan:

a.komposisi dan struktur hutan b.penyebaran jenis-jenis pohon

(9)

e.fenologi pohon (musim berbunga, berbuah, pergantian daun).

(3). mempelajari syarat-syarat keadaan tempat tumbuh penanaman atau permudaan alam

(4). mempelajari siklus hara mineral, siklus air, dan metabolisme.

(5). mempelajari hubungan antara kesuburan tanah, iklim dan faktor-faktor lain dengan produktivitas hutan (6). mempelajari suksesi vegetasi hutan secara alam dan

(10)

II. EKOSISTEM A. Pengertian

Ekosistem adalah suatu sistem di alam yang mengandung komponen hayati (organisme} dan komponen non-hayati (abiotik), dimana antara kedua komponen tersebut terjadi hubungan timbal balik untuk mempertukarkan zat-zat yang perlu untuk mempertahankan kehidupan.

Dalam beberapa kepustakaan, istilah biocoenosis, geocoenosis, dan biogeocoenosis (geobiocoenosis) secara berurutan digunakan untuk komponen biotik, abiotik dan ekosistem.

Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar ekologi, karena ekosistem mencakup organisme dan lingkungan abiotik yang saling berinteraksi.

Pencetus istilah ekosistem adalah A.G. Tarisley pada tahun 1935, seorang ekolog Inggeris.

B. Komponen Ekosistem

1. Dari Segi "trophic level", ekosistem terdiri atas: 1) Komponen autotrofik, yaitu organisme yang mampu

mensitesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun. 2) Komponen heterotrofik, yaitu organisme yang sumber

(11)

kompleks yang telah mati kedalam senyawa anorganik sederhana.

Dari segi penyusunnya (struktur), komponen ekosistem terdiri atas :

1) Komponen abiotik yaitu komponen fisik dan kirnia seperti tanah, air, udara, sinar matahari, dll.' yang merupakan medium untuk berlangsungnya kehidupan.

2) Produsen yaitu organisme autotrofik, umumnya tumbuhan berklorofil, yang mampu mensintesis makanannya sendiri dari bahan anorganik

3) Konsumen yaitu organisme heterotrofik

4) Pengurai, yaitu organisme heterotrofik yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati, menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepas bahan-bahan yang sederhana yang dapat dipakai oleh produsen.

Untuk tujuan deskripsif, komponen-komponen ekosistem seyogyanya diperinci sebagai berikut :

1) Bahan-bahan anorganik (C, N, Co2, H20, dll)

2) Senyawa organik (protein, lemak, karbohidrat, dll) 3) Iklim fsuhu, dan faktor fisik lainnya)

4) Produser

5) Konsumer makro ("phagotroph" yaitu organisme heterotrofik, umumnya hewan) yang memakan organisme lain atau bahan organik.

(12)

organisme heterotrofik, umumnya jamur dan bakteri, yang menghancurkan bahan organik mati, menyerap sebagian hasil perombakannya, dan membebaskan bahan-bahan anorganik sederhana yang berguna bagi produser.

Point (1) s/d (3) adalah Komponen abiotik. Point (4) s/d (6) adalah komponen biotik.

Organisme heterotrofik dapat juga dibedakan kedalam : 1) Biophage, yaitu organisme yang mengkonsumsi organisme

lainnya.

2) Saprophage, yaitu organisme pengurai bahan-bahan organik yang telah mati. Dari segi fungsional, suatu ekoisist em sebaiknya dianalisis menurut : (1). Aliran energi

(2). Rantai pangan

(3). Pola keanekaragaman dalam ruang dan wakcu (4}. Siklus nutrien

(5). Pengembangan dan evolusi (6). Kontrol (sibernetik)

Dalam hal konsumer, selain pembagian di atas, konsumer dapat juga dibedakan kedalam:

1) Konsumer I (konsumer primer) adalah hewan-hewan herbivora yang makanannya bergantung pada produser (tumbuhan hLjau), contoh : insekta, rodentia, kelinci, dll. (ekosistem daratan), moluska, krustacea, dll (ekosistem akuatik)

(13)

dan omnivora yang memakan herbivora, contoh: burung gagak, rubah, kucing, ular, dll.

3) Konsumer III (konsumer tertier) adalah karnivora dan omnivora, misal singa, hari-mau, dll., disebut juga Top-Konsumer

4) Parasit, Scavenger dan saprobe

C. Faktor Penyebab Perbedaan Ekosistem

Ekosistem yang satu berbeda dengan ekosistem yang lain, karena:

1) Perbedaan kondisi iklim (hutan hujan, hutan musim, hutan savana)

2) Perbedaan letak dari permukaan laut, topografi dan formasi geologik (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai)

3) Perbedaan kondisi tanah dan air tanah (pasir, lempung, basah, kering)

D. Macam dan Ukuran Ekosistem

Berdasarkan proses terjadinya ada dua macam ekosistem, yaitu:

1) Ekosistem alam: laut, sungai, hutan alam, danau alam, dll.

2) Ekosistem buatan: sawah, kebun, hutan tanaman, tambak, all.

(14)

Secara umum, ada dua tipe ekosistem, yaitu: 1) Ekosistem terestris

− Ekosistem hutan

− Ekosistem padang rumuput − Ekosistem gurun

− Ekosistem anthropogen (sawah, kebun, dll.} 2) Ekosistem akuatik

(a). Ekosistem air tawar - Kolam

- Danau - Sungai - dll.

(b). Ekosistem lautan

E. Tahap-tahap Dasar Operasi pada Ekosistem 1)Penerimaan energi radiasi

2)Pembuatan bahsn-bahan organik dari bahan anorganik oleh produser

3)Pemanfaatan produser oleh konsumer dan lebih jauh lagi pada bahan-bahan terkonsumsi

4)Perombakan bahan-bahan organik dari organisme yang mati oleh dekomposer kedalam bentuk anorganik sederhana untuk penggunaan ulang oleh produser.

F. Ekologi Niche

(15)

total dari suatu species dalam komunitas. Ekologi niche mencakup species organisme, faktor lingkungan, areal tempat hidup, spesialisasi dari populasi species dalam suatu komunicas.

G. Energi dalam Ekosistem

- Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. - Bentuk energi yang berperan penting pada mahkluk

hidup adalah energi mekanik, kimia, radiasi dan panas.

- Perilaku energi di alam mengikuti Hukum Thermodinamika, yaitu:

Hukum Thermodinamika I:

Energi dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya, tetapi energy tak pernah dapat diciptakan atau dimusnahkan.

Hukum Thermodinamika II:

(16)

diserap dan ±2% (0.5 -3,5%) dari total energi cahaya digunakan fotosintesis serta sisanya dirubah menjadi bentuk panas.

H. Rantai Pangan

Rantai pangan ada1ah pengalihan energi dari sumberdaya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Semakin pendek rantai pangan semakin besar energi yang dapat disimpan dalam bentuk tubuh organisme di ujung rantai pangan.

Rantai pangan terdiri atas tiga tipe:

1) Rantai pemangsa, dimulai dari hewan kecil sebagi mata rantai pertama ke hewan yang lebih besar dan berakhir pada hewan terbesar dimana landasan permulaan adalah tumbuhan sebagai produsen.

2) Rantai parasit, berawal dari organisme besar ke organisme kecil.

3)Rantai saprofit, berawal dari organisme mati ke mikroorganisme, dikenal juga sebagai rantai pangan detritus. Dalam suatu ekosistem, rantai-rantai pangan berkaitan satu sama lain membentuk suatu jaring-jaring pangan (food web).

- Dalam suatu ekosistem dikenal adanya tingkat tropik dari suatu kelompok organisme.

(17)

- Berdasarkan tingkat tropik :

Tumbuhan hijau : tingkat tropik I Herbivora : tingkat tropik II Karnivora : tingkat tropik III Karnivora sekunder : tingkat tropik IV

I. Struktur Tropik dan Piramida Ekologi

- Ukuran individu menentukan besarnya metabolisms suatu organisme. Semakin kecil ukuran organisme, semakin besar rnetabolisrne per gram biomassa. Oleh karena itu, semakin kecil organisme semakin kecil biomassa yang dapat ditunjang pada suatu tingkat tropik dalam ekosistemnya.

- Fenomena interaksi antara rantai-rantai makanan dan hubungan metabolisme dengan ukuran organisme menyebabkan berbagai komunitas mempunyai struktur tropik tertentu.

- Struktur tropik dapat diukur dan dipertelakan, baik dengan biomassa per satuan luas maupun dengan banyaknya energi yang ditambat per satuan luas per satuan waktu pada tingkat tropik yang berurutan. - Piramida ekologi dapat menggambarkan struktur dan

fungsi tropic: Ada tiga tipe paramida ekologi yaitu : a)Piramida jumlah individu, yang menggambarkan

jumlah individu dalam produser dan konsumer suatu ekosistem

b)Piramida biomassa, yang menggambarkan biomassa dalam setiap tingkat tropik.

(18)

energi pada setiap tingkat tropik. Semakin tinggi tingkat tropik, semakin efisien dalam penggunaan energi.

J. Produktivitas

- Produktivitas primer adalah kecepatan penyimpanan energi potensial oleh organisme produsen melalui proses fotosintesis dalam bentuk bahan-bahan organik yang dapat digunakan sebagai bahan pangan. Unit satuannya:

1) Ash Free Dry Weight Kal./ha/th. 2) Dry Weight Ton/ha/th.

Produktivitas primer dibagi dua macam: (1). Produktivitas primer kotor:

Kecepatan total fotosintesis, mencakup pula bahan organic yang dipakai untuk respliasi selama pengukuran. Istilah ini sama dengan asimilasi total.

(2). Produktivitas primer bersih:

Kecepatan penyimpanan bahan-bahan organik dalam jaringan tumbuhan sebagai kelebihan bahan yang dipakai untuk respirasi oleh tumbuh-tumbuhan selama pengukuran. Istilah ini sama dengan asimilasi bersih.

(19)

Produktivitas Primer kotor pada Ekosistem Akuatik

Ho. Ekosistem Prod . Primer Kotor Kcal/m2/th

1. Laut terbuka 1.000

2. Pesisir 2.000

3. Upwelling Zone 4. Estuari dan reefs

6.000 20.000

Produktlvitas Primer Kotor pada Ekosistem Terestris

No. Ekosistem Kcal/m2/th

1. Gurun dan tundra 200

2. Padang rumput 3. Hut an lahan kering 4. Hutan konifer

2.500 2.500 3.000 5. Hutan temperate basah

6. Pertanian

8.000 12.000 7. Hutan tropik dan subtropik 20 .000

K. Siklus Biogeokimia

- Di alam telah diketahui ada ±100 unsur kimia, tetapi hanya 30 - 40 unsur yang sangat diperlukan oleh mahkluk hidup.

(20)

pergerakan unsur-unsur dan senyawa-senyawa anorganik yang penting untuk menunjang kehidupan disebut siklus hara. Kedua siklus tersebut masing-masing terdiri atas dua kompartemen atau dua pool, yaitu :

1)Reservoir poo_l : besar, lambat bergerak, umumnya bukan komponen ekologi.

2)Exchange atau Cycling pool : kecil, tapi lebih aktif bertukar dengan cepat antara organisme dengan lingkungannya.

Dilihat dari sudut biosfir secara keseluruhan, siklus biogeokimia terdiri atas :

a)Tipe gas, dimana reservoir adalah di atmosfir atau hidrosfir {lautan), misal siklus Karbon (CO2) dan siklus Nitrogen (N)

(21)

III.HUTAN SEBAGAI KOMUNITAS TUMBUHAN

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon yang menempati suatu tempat dan mempunyai sadaan lingkungan yang berbeda dengan di luar hutan. Sedangkan satuan masyarakat hutan adalah tegakan. Karakteristik Komunitas Tumbuhan

1. Perkembangan Komunitas adalah sejarah pembentukan dan evolusi komunitas atau

tahap-tahap suksesi.

2. Organisasi Komunitas adalah struktur, komposisi jenis dan organisasi tropic suatu komunitas.

Struktur Komunitas terdiri atas: - Struktur vertikal (stratifikasi)

- Struktur horizontal (distribusi spatial jenis) - Kelimpahan atau "abundance" (kerapatan,

biomasa).

(22)

B. Jenis Data Vegetasi

1.Data Kualitatif a.Komposisi Flora

Komposisi flora adalah daftar jenis tumbuhan dalam komunitas, yang berguna untuk mengetahui :

- keaneragaman jenis - tahap suksesi

- kondisi lingkungan/habitat - struktur tiap unit vegetasi

- pengelompokkan secara kuantitatiif: species DATA KUALIFIKATIF

• Komposisi flora

• Stratifikasi dan aspection • Fenology

• Vitalitas • Sosiabilitas

• Life-form & fisiognomy • Organisasi tropic, rantai

makanan

DATA KUANTITATIF • Pola disttribusi • Frekuensi

• Kerapatan

• Penutupan tajuk; dominansi

DATA ANALITIK

ORGANISASI KOMUNITAS • Struktur

• Komposisi

• Organisasi tropik

DATA SINTETIK

• Kehadiran dan konstansi • Kesetiaan

• Dominansi

(23)

dominan, frequent (daya adaptasi luas), jenis yang jarang (indikator habitat).

b. Stratifikasi dan "aspection"

Stratifikasi adalah lapisan vertikal komunitas tumbuhan.

Stratifikasi terdiri : - pucuk

- akar Manfaat Stratifikasi : - optimalisasi ruang tumbuh

- peningkatan pemanfaatan energi solar

- optimalisasi pemanfaaCan unsur hara tanah. Aspect ion adalah perubahan per:ampakan vegetasi dalam kaitannya dengan musim.

c. Fenologi

Fenologi adalah kalender fase-fase pertumbuhan yang dilalui oleh suatu tumbuhan selama sejarah hidupnya, atau studi tentang fase-frase pertumbuhan penting dalam sejarah hidup suatu tumbuhan, seperti: saat biji berkecambah, gugur daun, berbunga, berbuah dan tersebarnya biji.

(24)

Vitalitas dan Vigor

Vitalitas adalah kondisi dan kapasitas tumbuhan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Sedangkan vigor adalah keadaan kesehatan tumbuhan.

Klasifikasi vitalitas :

Klas 1 : Tumbuhan yang berkembang baik dan dapat menyelesaikan siklus hidupnya.

Klas 2 : Tumbuhan yang tumbuh sehat yang tersebar secara vegetatif.

Klas 3 : Tumbuhan yang lemah yang tersebar secara vegetatif dan tak pernah menyelesaikan siklus hidupnya.

Klas 4 : Tumbuhan yang jarang tumbuh dari biji, tetapi jumlahnya tak bertambah.

Sosiabilitas

Sosiabiiitas adalah hubungan antara masing-masing jenis dan menunjukkan cara tumbuhan tersebar. Sosiabilitas bergantung pada :

- life-form - vigor

- kondisi habitat - kemampuan bersaing.

Klas Sosiabilitas (Brown-Blanquet, 1932): Klas 1 : Hidup menyendiri.

(25)

Klas 3 : Mengelompok dalam kelompok-kelompok yang tersebar.

Klas 4 : Mengelompok dalam kelompok yang besar dan kelompok terputus-putus.

Klas 5 : Membentuk hamparan yang luas dan rapat.

Life-form (bentuk hidup) tumbuhan

- bisa menggunakan klas-klas life-form dari Raunkaier (1934), Brawn-Blanquet (1951), Backer (1968) : pohon, semak, liana, epifit, pakuan , herba, lumut, dll.

- Persentase Life-form adalah Σ species dalam suatu life-form

—————————————————————————————— X 100% Σ species dalam semua life-form

- Species dari life-form yang berbeda dapat hidup berasosiasi, karena mereka memanfaatkan sumberdaya alam pada waktu/ruang yang berbeda.

Organisasi tropik dan rantai pangan

Rantai pangan ada1ah pengalihan energi dari sumbernya berupa tumbuhan melalui sederetan organisma yang memakan dan yang dimakan.

Ada dua tipe rantai makanan : a) "Grazing food chain" :

Rantai pangan yang dimulai dari tumbuhan, terus ke herbivora dan karnivora.

(26)

Rantai pangan yang dimulai dari organisme mati ke mikroorgnisme, detrivor dan predatornya.

Jaring-jaring pangan ("food web") adalah keterkaitan antara berbagai rantai makanan dalam suatu komunitas. Species diversity meningkat maka "food chain" makin panjang. Studi food chain dalam komunitas sangat berguna untuk mengetahui sistem transfer energi dalam komunitas.

2. Data Kuantitatif

a. Distribusi Spasial Individu tumbuhan Tiga tipe Pola Distribusi

1) Random (acak)

Pola ini mencerminkan homogenitas habitat dan/atau pola behavior yang tidak selektif.

2) Mengelompok ('clumped')

Mencerminkan habitat yang heterogen, mode reproduktif, behavior berkelompok, dll.

3) Beraturan (reguler, uniform)

Mencerminkan adanya interaksi negatif antara individu seperti persaingan untuk ruang dan unsur hara atau cahaya. Faktor yang mempengaruhi pola sebaran spatial individu:

(27)

b)Faktor reproduksi sebagai akibat dari mode reproduktif organisme (cloning dan regenerasi progeni).

c)Faktor sosial akibat pembawaan behavior (misal, behavior teritorial)

4) Faktor koaktif akibat dari interaksi intraspecific (misal kompetisi).

5) Faktor stokastik akibat dari variasi acak dari berbagai faktor tersebut di atas, yaitu :

a)faktor intrinsik species (mis., reproduktif, sosial, koaktif)

b)Faktor extrinsic (vector).

Beberapa indeks penentuan poia Distribusi Spasial individu

(1). Variance Mean Ratio V/M = 1 (random) V/M > 1 (clumped) V/M < 1 (regular)

(28)

Ada 100 petak

Σ Ind. Sp-X dalam masing-masing kuadrat

0 1 2 3

Frekuensi kehadiran dalam 100 petak

46 34 14 6

0(46)+1(34)+2(14)+3(6) Mean (M)=

100 = 0.8

ΣX2 – (ΣX)2/n Variance =

n-1

[12(34)+22(14)+32(6)+02(46)] – (80)2/100 =

100 - 1

= 0.808

V/M = 0.808/0.800 = 1.01

Pengujian V/M = 1?

1). Menghitung banyaknya petak yang mengandung 0,1,2,3 individu

Є(0) = (n)p(0) = (100)p(0)

= (100)e-0.8 = 44.9 Є(1) = (n)p(1)

= (100)(0.8/1)(p(0))

= 100 x 0.8/1 x 0.4493 = 0.3594 Є(1) = m e-m x n

= 0.8 x e-0.8 x 100

= 0.8 x 0.4493 x 100 = 0.3594 Є(2) = 0.82/2! x e-m x 100

(29)

Є(3) = 0.83/3! x e-m x 100

terobservasi dan harapan

1.1 1.9 0.4 2.2

2). Indeks Morisita (IS)  

Dimana : Xi = jumlah individu species X dalam petak ke-I (i=1,2,3,………,q)

q = jumlah seluruh petak

T = jumlah total individu dalam semua petak

(30)

Pengujian IS = 1?

3). Green’s Index

1

GI bervariasi dari: 0 sampai maximum. 0 = random, 1 = clumping.

b. Kerapatan

Adalah jumlah suatu spesies dalam suatu unit area. Kerapatan menunjukkan kelimpahan suatu spesies dalam suatu komunitas.

Satuan : ind/m2 (tumbuhan bawah)

Ind/ha (pohon)

Kerapatan relative: persentase kerapatan suatu spesies terhapdap jumlah kerapatan semua spesies.

c.Frekuensi

Frekuensi adalah derajat penyebaran suatu jenis di dalam komunitas yang diekspresikan sebagai perbandingan antara banyaknya petak yang diisi oleh suatu jenis terhadap jumlah petak contoh seluruhnya.

(31)

Frekuensi Klas (Raun kaier, 1934} :

Klas A: species dengan frekuensi 1 - 20% Klas B: species dengan frekuensi 21 - 40% Klas C: species dengan frekuensi 41 - 60% Klas D: species dengan frekuensi 61 - 80% Klas E: species dengan frekuensi 81 - 100% "Law of Frequency"

>

A>B>C=D<E <

(Persentase Frekuensi berdistribusi normal) Jika : (1) E > D : Komunitas Homogen

(2) E < D : Komunitas terganggu (3) A, E tinggi : Komunitas buatan (4) B,C,D tinggi: komunitas heterogen

4.Cover (Penuntupan Tajuk)

Cover adalah proyeksi vertikal tajuk terhadap permukaan tanah. Tajuk adalah semua bagian tanaman yang terdapat di atas permukaan tanah. Di dalam hutan, cover harus ditentukan untuk setiap strata vegetasi, sehingga cover bisa > 100 %.

Di dalam komunitas rumput, cover digambarkan dalam "graph paper" dengan bantuan kuadrat (misal, 25 X 25 cm)atau menggunakan plantigraph.

(32)

Klas A : Species dengan cover 5%

Klas B : Species dengan cover 6 - 25% Klas C : Species dengan cover 26 - 50% Klas D : Species dengan cover 51 - 75% Klas E : Species dengan cover 76 - 100%

Foliage cover meningkat ————-> Intercepting solar energi meningkat . Naungan meningkat

Pengukuran foliage cover bisa diganti dengan "basal area" (luas bidang dasar, Ibds).

3. Data Sintetik

Presence

Presence adalah suatu kehadiran species dalam komunitas.

Klas Kehadiran

- Jarang : 1 - 20 % petak contoh terisi species. - Kadang terdapat : 21 - 40 petak

contoh terisi species.

- Sering terdapat: 41 – 60% terisi spesies - Banyak terdapat : 61 - 80 terisi species. - Selalu ada : 81 - 100 % petak contoh

terisi species.

Constance (Kontansi)

Constance adalah derajat/tingkat kehadiran suatu species dalam komunitas. Klas Konstansi

(33)

Klas 2 : 21 - 40 % Frekuensi Klas 3 : 41 - 60 % Frekuensi Klas 4 : 61 - 80 % Frekuensi Klas 5 : 81 - 100 % Frekuensi

c. Dominansi Jenis

Jenis dominan adalah jenis yang bei k..i :\sa dan mencirikan suatu komunitas. Konsep dominansi jenis sebagai petunjuk :

- species tersebut menang dalam persaingan - species tersebut mempunyai toleransi tinggi - species tersebut berhasil beradaptasi

- terhadap habitat . Parameter Penentu Dominansi Jenis - Foliage Cover (penutupan tajuk)

- Kerapatan

- Luas Bidang Dasar - Biomasa

- Volume

- Indeks Nilai Penting (INP)

INP = Kerapatan Relatif + Frekuensi Relatif + Dominansi Relatif INP maksimal 300%.

Dominansi adalah luas penutupan tajuk atau luas bidang dasar suatu species dalam satuan unit area tertentu. Satuannya: M/ha.

(34)

d. Fidelity {Kesetiaan)

Fidelity adalah tingkat kesetiaan suatu species dalam suatu komunitas. Klas Kesetiaan Jenis:

Klas 1: Ekslusif terhadap suatu jenis komunitas.

Klas 2: Selektif (sering berada pada satu macam komunitas,tetapi tidak pada komunitas lain).

Klas 3 : Preferensial {berada pada beberapa habitat, tetapi tumbuh banyak pada beberapa habitat saja).

Klas 4 : Indifferent/masa bodoh (berada secara teratur pada semua habitat).

Kals 5 : Strange/aneh (jarang dan secara kebetulan berada dalam komunitas).

e. Indeks of Dominance (ID)

Indeks of dominance adalah indeks untuk memeriksa tingkat dominansi suatu species dalam komunitas.

Nilai ID tinggi dominansi jenis dipusatkan pada satu atau beberapa jenis. Nilai ID rendah dominansi jenis dipusatkan pada banyak jenis.

Simpson (1949)

ID = C = E (ni/N)2 C = indeks of dominance

ni = INP atau kerapatan atau biomasa suatu species. N = Total INP atau total kerapatan ,atau biomasa dari

semua species.

(35)

f. Interspecific Assosiation

Interspecific assosiation ada1ah suatu asosiasi/kekariban antara dua species dalam komuninas. Interspecific Assosiation terjadi bila :

- kedua species tumbuhan pada lingkungan yang serupa.

- distribusi geografi kedua species ;>erupa dan keduanya hidup di daerah yang sama.

- kedua jenis berbeda life-form.

- bila salah satu species hidupnya bergan-tung pada yang lain.

- bila salah satu species menyediakan per lindungan terhadap yang lain.

Metode mendeteksi interspesif ic asosiasi. ion (1). Data Kualitatif

(a). 2x2 contingency table, bila datanya kualitatif (hadir atau tidak).

Spesies A

(36)

a = Σ petak dimana 2 spesies ada

b = Σ petak, sp. A ada, sp. B tak ada c = Σ petak, sp. A tak ada, sp. B ada d = Σ petak, sp. A dan B tak ada

N = Σ total petak contoh

(b). JACCARD INDEX (JI)

c

b

a

a

JI

+

+

=

(2). Data Kuantitatif Koefisien Korelasi

Σ[(X1-X1)(X2-X2)] R hit =

√[Σ(X1-X1)2 x (Σ(X2-X2)2]

R hit. ≥ R tab. Untuk p = 0.05 atau p = 0.01

g. Index of Diversity

• keanekaragaman jenis adalah suatu parameter penting dalam membandingkan dua komunitas, terutama untuk mempelajari pengaruh gangguan biotic atau mengetahui tahap suksesi dan stabilitas komunitas

• pada komunitas klimak, spesies diversity meningkat food chain meningkat komunitas stabil

Respirasi komunitas

• Ecological turnover =

Biomassa komunitas

(37)

• Metode/cara penentuan spesies diversity 1) Shanon-Weiner Diversity Index

H = -Σ[(ni/N) log (ni/N)]

ni = Nilai kuantitatif suatu spesies

N = jumlah nilai kuantitatif semua spesies dalam komunitas

Variasi nilai H

0 = satu spesies tak terhingga nilai yang tinggi (banyak spesies)

2) Simpson’s Diversity Index

Variasi nilai D:

0 = satu spesies tak terhingga 1 – 1/s = diversity spesies max.

h. Koefisien Kesamaan Komunitas (Index of Similarity) • Index ini sangat berguna untuk membandingkan

kesamaan jenis dua komunitas • Caranya:

1). Jaccard’s presence-community coefficient ISJ = [C/(A+B+C)] x 100%

A = Σ jenis di komunitas 1 B = Σ jenis di komunitas 2 C = Σ jenis di dua komunitas 2). Motyka’s Index of Similarity IS = [2 Mw/(Ma + Mb)] x 100%

(38)

Ma = Σ nilai kuantitatif semua spesies di komunitas 1

Mb = Σ nilai kuantitatif semua spesies di komunitas 2

Nilai IS : 0 – 100

C. Fungsi Komunitas 1. Biomassa

Biomassa adalah jumlah bahan organic yang diproduksi oleh organism per satuan unit area pada suatu saat. Satuannya g/m2 atau Kg/ha.

• Biomassa menunjukkan net production

• Biomassa production rate adalah laju akumulasi biomassa dalam kurun waktu tertentu (Kg/ha/yr) • Biomassa dinyatakan dalam “dry weight” (berat

kering) oven pada suhu 105o selama 12 jam atau 800C selama 48 jam. Satuan lain adalah berat kering bebas abu (“ash free dry weight”)

• Biomassa profil menunjukkan jumlah bahan organic kering pada tingkat yang berbeda dari komunitas

• Akumulasi biomassa di tropic lebih rendah daripada di temperate karena laju respirasi di tropic lebih tinggi

2. Aliran Energi

(39)

• Dalam setiap transfer energy dari tanaman ke

tingkat tropic yang berbdea, efisiensi konversi energy hingga 10%, 90% hilang sebagai panas

• Persediaan energy dalam komunitas meningkat

dengan meningkatnya perkembangan vegetasi (suksesi). Akumulasi energy dalam biomassa maksimal pada komunitas klimaks, karena adanya stratifikasi dan spesies diversitas yang tinggi • Estimasi energy dalam bahan organic tumbuhan

bisa diduga dengan alat Bomb calori meter. • Efisiensi energy

Energy yang ditangkap tumbuhan (Kcal/m2/t)

= x 100% Energy solar yang datang sampai di

komunitas (Kcal/m2/t)

adalah suatu rasio antara output (kalori yang Matahari

Tumbuhan

ditangkap

Energi makanan

biomas Proses metabolisme pertumbuhan

Dimakan konsumer refleksi

(40)

dimanfaatkan tumbuhan) terhadap input (energy solar sampai di komunitas) dalam suatu unit area dalam periode waktu tertentu.

• Efisiensi energy adalah rasio antara aliran energy di setiap titik/tahap yang berbeda sepanjang rantai makanan, satuannya %.

3. Gross Ecological Effisiency (GEE)

Kalori mangsa yang dikonsumsi pemangsa

= x 100% Kalori makanan yang dikonsumsi mangsa

Siklus hara, Produktivitas dan Dekomposisi Serasah

• Siklus Biogeokimia, termasuk unsure-unsur utama dari protoplasma, dari lingkungan ke organism dan kembali lagi ke lingkungan dalam biosfir • Siklus hara adalah pergerakan unsur-unsur dan

senyawa-senyawa yang penting bagi kehidupan

Tipe Gas - Siklus N - Siklus CO2

(41)

Tipe-tipe interaksi antara dua spesies dalam komunitas

No. Tipe Interaksi Spesies Sifat Umum Interaksi 1 2

1 Netralisme 0 0 Tak satupun individu populasi yang satu mempengaruhi yang lainnya

2 Kompetisi - - Penghambatan terhadap semua jenis

3 Amensalisme - 0 Individu (1) menghambat individu (2), sedang individu (2) tak terpengaruh

4 Parasitisme + - Individu spesies yang satu dirugikan oleh individu spesies yang lain

5 Predasi + - Individu spesies yang satu dimangsa oleh individu spesies yang lain

6 Komensalisme + 0 Individu spesies yang

satu mendapat keuntungan tapi individu spesies dua

tak terpengaruh

7 Protokooperasi + + Interaksi yang menguntungkan kedua spesies dan tak merupakan kewajiban berinteraksi

8 Mutualisme + + Interaksi yang

menguntungkan kedua spesies, interaksinya mutlak harus terjadi

1) Netralisme : sebenarnya hanya asosiasi saja, bukan interaksi

2) Persaingan

(1) Persaingan antar jenis berbeda

(interspesifik)

(2) Persaingan antar jenis yang sama (intraspesifik)

(42)

(4) Persaingan sumberdaya (makanan) Akibat persaingan:

- Pertumbuhan tewrganggu

- Produksi berkurang, jumlah biji sedikit

-Menstimulasi serangan hama-penyakit dan kekurangan unsure hara

- Terjadi stratifikasi dimana jenis tertentu lebih berkuasa

- Komposisi jenis berubah (Σ jenis, Σ individu, life-form).

Competitif Ability

Ditentukan secara sederhana dengan rumus: GA/B = MA/MB atau

GB/A = MB/MA

G = kemampuan pertumbuhan M = bobot kering tanaman A,B = spesies A dan B

3) Amensalisme, merupakan persaingan dalam bentuk yang lemah, adalah hubungan antara individu yang mana individu yang satu dirugikan (tetapi sesaat) tetapi individu lain tidak dirugikan (netral). Amensalisme merupakan persaingan dalam bentuk yang lemah. Contoh : allelopathy yaitu pengaruh merugikan baik langsung maupun tak langsung dari suatu tumbuhan terhadap tumbuhan lain melalui produksi senyawa kimia. Dalam hal ini, bahan kimia dapat dikategorikan sebagai : (a). Autotoxic (bahan penghambat) terhadap :

- anakan sendiri

- individu lain sejenis

(43)

Cara tanaman melepaskan bahan kimia (bahan allelopati)adalah melalui :

- pencucian daun/batang oleh air hujan

- bahan tanaman yang jatuh sebagai aerasah yang menjadi humus dalarn tanah.

- gas yang menguap dari permukaan tanaman - eksudat akar

Media pengeluaran zat alelopatik

jenis tanaman

1. Daun Camelina

2. Akar Eucalyptus globulus 3. Setelah mati Apel, sereh

4. Gas Reliant bus, Aster

Bahan kimia allelopathic diantaranya adalah

- phenolic, terpeties, alkaloids, nitrit difenol, - asam benzoat, fenin, sulfida. Pengaruh allelopathy

terhadap pertumbuhan tumbuhan :

- perpanjangan/perbanyakan sel terhambat - penyerapan hara mineral berkurang

- laju fotosintesa dan respirasi terganggu - perlambatan perkecambahan biji

- laju pertumbuhan terhambat - gangguan sistem perakaran - klorosis

(44)

Parasitisme (+,-)

Suatu organisme untuk hidupnya mengambil makanan dari organisme lainnya. Interaksi parasitisme memungkinkan adanya tumbuhan inang (host) dan tumbuhan parasit.

Host seringkali mengeluarkan antibodi Parasit yang heterofog lebih bertahan daripada monoloq.

Parasit meliputi parasit akar -» Rafflesia, semipara-sit {yang tumbuh di cabang-cabang di pohon -> benalu (famili horuntuceae).

Rafflesia -» bunga liar (famili Rafflesiaceae) Genus lain : - Rhizanthes

- Mitrastemon Di Sumatera 4 jenis : - Rafflesia atjehensis - Rafflesia hasseltii - Rafflesia arnoldi

- Rafflesia patma. Rafflesia -» paling khas diantara parasit lain

- besar ukuran bunga

- tidak punya batang, daun dan akar

- hanya punya benang-benang yang tumbuh di bagian dalam batang dan akar pohon. Inang (Tetrastigma, famili vitaceae) - waktu bunga lama, tergantung ukuran R.

arnoldi

(45)

H. 5 bulan 0 15 cm -» 2 bulan 0 25 cm -* 20-30 hari.

(5). Commensalisme ( + , 0)

Interaksi antara individu yang memberikan keuntungan kepada salah satu individu jenis populasi sementara yang lain tak memperoleh keuntungan apa-apa (netral). Merupakan hubungan (+) yang mendasari protokoperasi. Contoh Epifit: paling banyak terdapat di hutan hujan tropika (10% pohon hutan hujan tropika ditumbuhi epifit).

- Anggrek, paku-pakuan, dll.

- Menempel pada batang atau daun (epifit) Setelah dapat sinar matahari akan menutupi tajuk.

- liana (tumbuhan merambat suka cahaya = heliophyta)

- pengaruh negatif liana

1.Menutupi daerah tajuk sehingga mengurangi proses fotosintesis.

2.Menurunkan kualitas kayu

3.Mengganggu tumbuhan pohon yang dipanjati 4.Berpengaruh negatif terhadap anakan yang suka

cahaya (heliophyta)

(46)

Dipterocarpaceae)

- sistem silvikultur (tropical shelter-wood system) penangkaran liana (pembebasan)/tebang penerang

(6). Protocoperasi (+,-)

Kedua jenis individu yang berinteraksi mendapat keuntungan tetapi bukan merupakan keharusan untuk saling berhubungan. contoh : Asosiasi lumut dengan keong air tawar

- Lumut menggunakan zat hara dari keong - Keong ditumbuhi lumut sebagai perlindungan Protocoperasi merupakan awal evolusi sebelum mutualisme.

(7). Mutualisme (+,+)

Memberikan keuntungan kepada masing-masing jenis yang berinteraksi dan merupakan suatu keharusan untuk hidupnya, jika dipisahkan akan rugi. Contoh :

- Mikoriza : asosiasi antara jamur dengan akar tumbuhan. Jamur merubah unsur-unsur sehingga tersedia dan dapat dihisap oleh akar tumbuhan, jamur mendapatkan makanan dari hasil fotosintesa inang.

- Jenis mikoriza adalah:

a)Ektotropik: di luar akar mis: Basidiomycetes b)Endotropik: di dalam akar mis: Phycomycetes

(47)

ekstra material

Ektotropik : Micorhyza di bagian luar sel akar micelia fungi, misal pada Pinus strobus, Dipterocarpaceae, Eucalyptus.

Endotropik: Micorhyza di bagian dalam sel akar micelia fungi, yakni hampir semua tanaman kecuali tanaman air.

Peritropik: Micorhyza membentuk selubung mantel rongga yang mengelilingi akar, misal pada anakan spruce (Picea pungens).

- Karena tanah Imtan Indonesia relatif miskin hara, maka banyak pohon-pohon hutan alam yang mengandung mikoriza.

- Di hutan Cibodas 32% pohon-pohon yang ada mengandung mikoriza.

- Mikoriza mengeluarkan enzim phosphatase - Manfaat mikoriza

a) penyerapan unsur hara meningkat terutama Phospor b) mencegah infeksi perakaran mempertinggi daya

tahan kekeringan akar lebih lama hidup (memproduksi hormon penumbuh).

(48)

Bakteri rhizobium adalah pengikat N tumbuhan mendapatkan Nitrogen, rhizobium mendapatkan karbohidrat berdasarkan jenis tanaman dengan mikroba pembentuk nodul, maka ada tiga bentuk simbiosa:

1. Legume, (rhizobium)

(Albizia, Akasia, Leucoem -» Leguminosae) tidak semua legum berasosiasi dengan rhizobium

2. Non Legume, (rhizobium) (Trema, pnrasponia}

3. Non Legume, (Aktinomisetes) (Frankia) (Casuarina, Podocarpus)

- Keuntungan adanya nodul akar:

1. Tanaman inang bisa hidup pada tanah miskin N 2. Dapat meningkatkan kesuburan tanah

3. Memungkinkan tanaman tumbuh setelah tanaman legume

Hewan Hutan, berperan besar dalam pembiakan tanaman, misal beberapa jenis pohon dalam pembuahan dan penyerbukan biji/benih tergantung pada hewan tertentu : serangga, burung, kelelawar, babi hutan, musang, dll. Tetapi hewan juga bisa merusak tanaman (hama) dan penular penyakit pada tanaman.

Leguminosae

Mimosaceae

Caesalpiniaceae Papilionaceae

(49)

IV. DINAMIKA MASYARAKAT TUMBUH-TUMBUHAN (SUKSESI)

A. Pengertian Suksesi (Sere)

Spurr (1964), mengatakan bahwa suksesi merupakan proses yang terjadi secara terus-menerus yang ditandai oleh perubahan vegetasi, tanah dan iklim dimana proses ini terjadi. Sedangkan Costing (1956), menyatakan bahwa perubahan-perubahan bertahap atau proses suksesi ini berlangsung karena habitat tempat tumbuh masyarakat tumbuhan mengalami modifikasi oleh beberapa daya kekuatan alam dan aktivitas organisme berupa perubahan-perubahan terhadap tanah, air, kimia dan lain-lain.

Perubahan masyarakat tumbuhan dimulai dari tingkat pionir sederhana sampai pada tingkat klimaks, dalam hal ini tumbuhan pioner merubah habitatnya sendiri sehingga cocok untuk species baru, keadaaan ini berlangsung terus hingga tingkat klimak tercapai (Clements, 1923; halle, 1.97G; Clark, 1954, Ewuse, 1980).

(50)

Secara singkat suksesi adalah suatu proses perubahan komunitas tumbuh-tumbuhan secara teratur mulai dari tingkat pionir sampai pada tingkat klimaks di suatu tempat tertentu

Komunitas klimaks adalah komunitas yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamis dengan lingkungannya. Sedangkan tingkat sere adalah setiap tingkat/tahap dari sere, dan komunitas sere adalah setiap komunitas tumbuhan yang mewakili setiap tingkat sere.

Species klimak adalah suatu species yang berhasil beradaptasi terhadap suatu habitat sehingga species tersebut menjadi dominan di habitat yang bersangkutan.

S. Faktor Penyebab Suksesi 1. Faktor Iklim

- fluktuasi kondisi iklim yang tidak konsisten - kekeringan

- radiasi yang kuat

- dan lain-lain yang merusak vegetasi sehingga terjadi suksesi.

2. Faktor Topografi/Edafis

Faktor ini berkaitan dengan perobahan dalam tanah. Ada 2 faktor penting yang berkaitan dengan tanah yang membawa perobahan habitat, yaitu:

(51)

permukaan tanah oleh angin, aliran air dan hujan. b. Deposisi tanah, yaitu proses pengendapan/

penimbunan tanah oleh angin, longsor, glacier atau turunya salju di suatu tempat.

3. Faktor biotik penyebab rusaknya vegetasi yang mengakibatkan suksesi adalah :

- penggembalaan - penebangan - deforestasi

- hama dan penyakit - perladangan

- dan lain-lain

C. Tipe-tipe Suksesi 1. Hidrosere

Hidrosere adalah suksesi tumbuhan yang terjadi di habitat air atau basah".

2. Halosere

Halosere adalah suksesi tumbuhan yang terjadi di tanah/air masin.

3. Xerosere

Xerosere adalah suksesi tumbuhan yang terjadi di habitat kering. Tumbuhan pionirnya berupa lumut kerak,bakteria,dan ganggang.

4. Psammosere

(52)

di habitat berpasir. 5. Lithosere

Lithosere adalah suksesi tumbuhan yang terjadi di permukaan batuan.

6. Serule

Serule adalah miniatur suksesi mikroorganisme bakteri, jamur, dll) pada pohon yang mati, kulit pohon, dll.

D. Tahab-tahab Suksesi

Shukla dan Chandel (1932) mengemukakan sembilan macam tahapan dalam proses suksesi, yaitu:

1. Nudation : terbukanya vegetasi penutup tanah (terbentuknya tanah kosong). 2. Migrasi : cara-cara dimana tumbuhan sampai

pada daerah tersebut di atas. Biji-biji tumbuhan sampai pada daerah tersebut di atas mungkin terbawa angin, aliran air, mungkin pula melalui tubuh hewan tertentu.

3. Ecesis : proses perkecambahan,

pertumbuhan, berkembang biak dan menetapnya tumbuhan baru

(53)

mapan di suatu tempat (established).

4. Agregation : sebagai hasil dari ecesis, individu-individu dari suatu jenis berkembang dan menghasilkan biji, maka biji-biji tersebut akan tersebar pada areal yang te rbuka di sekelilingnya sehingga tuinbuh berkelompok

(beragregasi).Ecesis dan agregasi merupakan invasi species

tersebut.

5. Evolution of community relationship : merupakan suatu proses apabila daerah yang kosong ditempati species-species yang berkoloni. Species tersebut akan berhubungan satu sama lain-nya. Bentuk hubungan ini kemung-kinan akan mengikuti salah satu dari tipe eksploitasi, mutualisme dan co-existance.

6. Invation : dalam proses koloni, biji

(54)

agresif dan adaptif).

7. Reaction : terjadinya perubahan habitat yang disebabkan oleh tumbuhan tersebut dengan merubah lingkungannya terutama dengan cara:

a. Merubah sifat dan reaksi tanah b. Merubah iklim mikro

Reaksi merupakan proses yang terus menerus dan menyebabkan kondisi yang cocok bagi species yang telah ada dan lebih cocok pada individu yang baru. Dengan demikian reaksi memegang peranan penting dalam pergantian species. 8.Stabilization: kompetisi dan reaksi berlangsung

(55)

merupakan suatu proses dimana individu-individu tumbuhan mantap tumbuh di suatu habitat tanpa banyak dipengaruhi oleh perobahan-perobahan dalam habitat tersebat.

9. Klimaks :setelah stabilisasi, pada tahap ini species yang dominan mempunyai keseimbangan dengan 1ingkungannya, keadaan habitat dan struktur vegetasi relatif koristan karena pertumbuhan jenis dominan telah mencapai batas.

E. Macam Suksesi

Berdasarkan proses terjadinya terdapat dua macam suksesi;

1. Sukesesi primer (prisere)

Suksesi primer adalah perkembangan vegetasi mulai dari habitat tak bervegetasi hingga mencapai masyarakat yang stabil dan klimaks.

2. Suksesi sekunder (subsere)

Suksesi sekunder terjadi apabila klimaks atau suksesi yang normal terganggu atau dirusak, misalnya oleh

(56)

penebangan, penggembalaan, dan kerusakan-kerusakan lainnya.

F. Faham-fahara tentang Klimaks

1. Faham Monoklimaks (Costing, 1956)

Beranggapan bahwa pada suatu daerah iklim hanya ada satu macam klimaks yaitu suatu formasi yang paling metaphysic. Jadi klimaks boleh dikatakan suatu pencerminan keadaan iklim. Disamping itu iklim sebagai faktor yang paling stabil dan berpengaruh, terdapat pula faktor-faktor lain atau profaktor-profaktor, seperti faktor tanah, biotis dan fisiografi. Profaktor-profaktor ini menyebab-kan terbentuknya proklimaks-proklimaks sebagai berikut :

a.Subklimaks terjadi apabila perkembangan vegetasi terhenti di bawah tingkat terakhir, dibawah klimaks, sebagai akibat faktor-faktor bukan iklim, misalnya karena keadaan geografi seperti keadaan di Pulau Krakatau.

(57)

c.Disklimaks, terjadi sebagai akibat beberapa gangguan sekunder yang menyebabkan tak dapat berkembang lagi ke arah klimaks karena keadaan tempat tumbuh amat berubah menjadi buruk, misalnya terhenti pada tingkat semak belukar

2. Faham Polyklimaks(Braun-Blanquet, 1932)

Beranggapan bahwa tidak hanya iklim yang dapat menumbuhkan klimaks. Bagi penganut faham kedua ini ada beberapa macam kilmaks: klimaks iklim, klimaks edafis, klimaks fisiografis, klimaks kebakaran dan sebagainya.

3. Teori Informasi

Merupakan faham terbaru yang dikembangkan oleh margalef (1968) dan Odum (1969). Pada tahap klimaks komunitas tersebut mempunyai informasi maksimum dan entrophy maksimum. Enthrophy adalah jumlah energy yang tidak terpakai dalam suatu sistem ekologi

(58)

KLIMAKS

Kalau kita bandingkan keadaan umum jalannya suksesi primer (prisere) dengan suksesi sekunder (subsere), dapat dibuat bagan sebagai berikut:

Ficus - Macaranga

Hutan payau

XEROSERE PADA TUF BATU KEMBANG

Gangguan

Vegetasi

terganggu Vegetasi klimaks hutan

(59)

V. KLASIFIKASI VEGETASI HUTAN

A. Beberapa Pengertian yang Harus Dipahami dalam Klasifikasi

1. Vegetasi adalah Masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam arti luas.

2. Formasi hutan adalah satuan vegetasi hutan yang terbesar.

Perbedaan formasi hutan di trcpika disebabkan oleh:

- Perbedaan iklim.

- Fisiognom.i (struktur) hutan - Perbedaan habitat

- Suksesinya.

3. Asosiasi adalah satuan-satuan di dalam formasi hutan yang diberi nama menurut pohon jenis dominan. Oleh karena itu, Asosiasi adalah satuan dasar dalam klasifikasi. Asosies adalah istilah lain untuk asosiasi, dimana satuan ini berada dalam hutan yang mengalami suksesi sekunder.

4. Asosiasi konkrit adalah bagian dari asosiasi hutan yang betul-betul diselidiki dan diketahui komposisi jenis pohonnya.

Asosiasi hutan yang berlainan komposisinya tetapi memiliki fisiognomi yang sama, digolongkan menjadi formasi hutan.

(60)

6. Varian adalah variasi-variasi di dalam asosiasi hutan.

7. Asosiasi segregat adalah varian-varian di dalam hutan campuran yang disebabkan oleh adanya jenis-jenis pohon yang lebih berkuasa (dominan) daripada yang lain.

8. Konsosiasi adalah varian yang dikuasai oleh satu jenis pohon saja. Sedangkan konsosies adalah varian di dalam suatu hutan yang mengalami sub-sere/suksesi sekunder.

9. Fasiasi adalah varian yang disebabkan oleh perbedaan topografi.

10.Losiasi adalah varian yang disebabkan oleh perbedaan edafis.

11.Ekoton adalah daerah peralihan yang sering dijumpai apabila ada dua atau lebih type atau asosiasi vegetasi yang letaknya berbatasan.

3. SISTEM-SISTEM KLASIFIKASI VEGETASI HUTAN TROPIKA

Ada dua cara pendekatan di dalam klasifikasi vegetasi:

1.Menetapkan dahulu satuan yang besar, kemudian mengadakan pemisahan berdasarkan sifat-sifat yang berbeda. Contoh : klasifikasi Schimper(1898) dan Burtt Davy (1938).

(61)

besar. Contoh : klasifikasi oleh Beard (1944), dan Richard et. al. (1933) .

Adanya bermacam-macam sistem klasifikasi disebabkan :

karena perbedaan kriteria yang digunakan, antara lain: "Sistem Klasifikasi Fisiognomis, Ekologis, Fisiognomis- Ekologis, Floristis, Fisiognomis-Floristis, Geografis-Ekologis.

Menurut Aichinger, pada klasifikasi vegetasi, kriteria pertama yang digunakan adalah fisiognomi, selanjutnya floristik, geografi tumbuhan, ekologi, syngenesisi, dan pengaruh manusia.

Menurut Fosberg (1958), klasifikasi vegetasi yang rasional harus didasarkan kepada kriteria :

(1) Fisiognomi (rupa vegetasi, bentuk umum vegetasi) . (2) Struktur vegetasi (susunan komponen di dalam

ruang, stratifikasi, jarak, dimcnsi).

(3) Fungsi (sifat-sifat phenothypik yang menyatakan adaptasi terhadap keadaan lingkungan).

(4) Komposisi susunan floristik

(5) Dinamika suksesi atau perubahan dengan perbedaan lingkungan.

(62)

C. Berbagai Macam Sistem Klasifikasi Vegetasi Hutan C.I. Klasifikasi Ekosistem Menurut Van Steenis

Van Steenis (1957) dalam Soerianegara dan Indrawan (1934), telah mengemukakan dan membahas tipe-tipe vegetasi yang dijumpai di Kepulauan Indonesia dan wilayah sekitarnya.

Cara penetapan dan pembagian formasi-formasi hutan di dalam sistem ini, yang disebut sistem alami, didasarkan atas perbedaan iklim basah dan bermusim, perbedaan edafis, dan perbedaan altitudinal.

Forrnasi-formasi hutan yang ditentukan dalam sistem ini adalah :

I. IKLIM BASAH

Kadang-kadang selalu tergenang

Air asin (laut), dipengaruhi pasang surut : ... 1. Mangrove Air tawar (hujan, sungai) , diam :

Eutrofik ... 2. Hutan rawa oligotropik ... 3. Hutan gambut Air tawar (tepi sungai), deras:

... 4.Vegetasi Rheofit Tanah Kering

Pantai

(63)

Pedalarnan hingga batas pohon (timber line) Tanah podsol kuarsa, dataran rendah :

... 6 . Vegetasi tanah kuarsa

Tanah kapur, dataran rendah :

... 7 . Vegetasi tanah kapur

Jenis- jenis tanah lain

Elevasi 2 - 1000 m .... 8. Hutan Hujan Tropika Elevasi 1000-2400 m ... 9. Hutan Hujan Pegunungan Elevasi 2400-4150 m .. 10. Hutan Hujan

Sub-alpin

II. IKLIM BERMUSIM

Elevasi di bawah 1000 m

... 11 . Hutan Musim (monsoon) Dataran Rendah

Elevasi di atas 1000 m

... 12 . Hutan Musim Pegunungan .

C.2. Klasifikasi Vegetasi Dunia Menurut Unesco

(64)

floristik, klasifikasi selanjutnya didasarkan terutama pada sifat-sifat fisiognomi struktural dan sifat-sifat ekologi yang digabungkan dengan vegetasi natural dan semi natural sebagai tambahan.

Menurut klasifikasi ini, vegetasi dunia dibedakan menjadi enam tingkatan, dari tingkatan tertinggi sampai kelas terendah, yaitu : Kelas Formasi (Formation Class), Sub-kelas Formasi (Formation Subclass), Kelompok Formasi (Group Formation), Formasi (Formation), dan Subdivisi (Subdivisions).

Kelas Formasi sebagai tingkatan tertinggi, membagi vegetasi menjadi lima bagian. Pembagian ini berdasarkan kepada struktur tegakan, dalam hal ini penutupan kanopi tegakan (tajuk-tajuk pohon), tingkatan vegetasi (pohon atau semak belukar); dan habitus veqetasi (berkayu atau herba).

Kelas formasi pertama adalah Closed forest (hutan tertutup) adalah hutan-hutan yang mempunyai kanopi tertutup, dimana tajuk-tajuk pohon saling mengisi. Tinggi pohon paling rendah 5 m, kecuali untuk pohon, yang belum dewasa atau masa reproduksi kurang dari 5 m.

Kelas Formasi Woodland (tegakan terbuka) terdiri dari pohon-pohon dengan ketinggian paling rendah 5 m, penutupan tajuk paling rendah 40%. Penutupan tajuk dikatakan 40% jika jarak antara dua tajuk pohon sama dengan jari-jari sebuah tajuk pohon.

(65)

bertautan, misalnya rumput-rumputan, sedangkan belukar saling bertautan.

Kelas Formasi dwart-scrub dan Related Communities (semak-semak kecil dan komunitas kerabat lainnya), sering disebut formasi rumput-rumputan, tinggi jarang yang melebihi 50 cm. Berdasarkan kepadatannya dibedakan atas Dwart Shrub thicket (cabang-cabangnya saling bertautan), Dwart Shrubland (individu-individu saling terpisah atau dalam rumpun-rumpun), dan Formasi Cryptogamic dengan semak-semak kecil.

Kelas Formasi terakhir adalah Herbaceous vegetation (vegetasi herba). Ada dua tipe besar dari vegetasi ini, yaitu graminoid dan forbs. Termasuk graininoid adalah semua rumput herba dan tanaman rumput-rumputan seperti Carex sejenis alang-alang), Juncus (sejenis tebu) dan sebagainya. Forbs adalah tanaman herba daun lebar seperti Helianthus (bunga matahari), Trifolium dan sebagainya.

(66)

Selanjutnya, Subkelas Formasi dibagi menjadi kelompok-kelompok formasi (Group Formation) berdasarkan antara lain : tempat atau garis 1intang (tropik, sub-tropik, temperate, subpolar, dan lain-lain), keadaan daun (evergreen, decidous, semi decidous), bentuk daun (daun jarum atau lebar), dan kombinasi sifat-sifat di atas. Sedangkan formasi-formasi hutan dibentuk berdasarkan antara lain : ketinggian tempat (lowland dan montane), jenis tanah (alluvia), keadaan habitat (swamp, bog, desert), bentuk tajuk, bentuk daun, dan sebagainya.

Di bawah ini diberikan bagan klasifikasi vegetasi menurut Unesco (1973) secara global.

I. CLOSED FOREST A. EVERGREEN

1. Tropical Ombrophilous Forest (Tropical Rain Forest)

2. Tropical and Subtropical Evergreen Seasonal Forest

3. Tropical and Subtropical Semi Decidous Purest 4. Subtropical Ombrophilous Forest

5. Mangrove Forest

6. Temperate and Subpolar Evergreen Ombropuilous Forest

7. Temperate Evergreen Seasonal Broad heaved Forest

8. Winter-Rain Evergreen Sclerophykous Forest

(67)

10.Temperate and Subpolar Evergreen Needle-Leaved Forest

B. DECIDUOUS

1. Tropical and Subtropical Drought-Deciduous Forest

2. Cold-Deciduous Forest with Evergreen Trees (or Shrubs) Admixed

3. Cold-Deciduous Forest without Evergreen Trees

C. XEROMORPHIC

1. Sclerophyllous-Dominated Extremely Xero-morphic Forest

2. Thorn-Forest

3 . Mainly Succulent Forest

II. WOODLAND A. EVERGREEN

1. Evergreen Broad-Leaved Woodland 2. Evergreen Needle-Leaved Woodland

3. Cold-Deciduous Woodland without Evergreen Trees

B. XEROMORPHIC

1. Sclerophyllous-Dominated Extremely Xeromorphic Woodland

(68)

3. Mainly Succulent Woodland

III. SCRUB A. EVERGREEN

1. Evergreen Broad-Leaved Shrubland

2. Evergreen Needle-Leaved and Microphylous Shrubland

B. DECIDUOUS

1. Drought-Deciduous Scrub with Evergreen Woody Plants Admixed

2. Drought-Deciduous Scrub eithout Evergreen Woody Plant Admixed

3. Cold-Deciduous Scrub

C. XEROMORPHIC

1. Mainly Evergreen Subdesert Shrubland 2. Deciduous Subdesert Shrubland

IV. DWARF-SCRUB AND RELATED COMMUNITIES A. EVERGREEN

1. Evergreen Dwarf-Shurb Thicket 2. Evergreen Dwarf-Shrubland

(69)

B. DECIDUOUS

1. Facultatively Drought-Deciduous Dwarf-Thicket 2. Obligatory, Drought-Deciduous Dwarf-Thicket 3. Cold-Deciduous Dwarf-Thicket

C. XEROMORPHIC

1. Mainly Evergreen Subdesert Dwart-scrub 2. Deciduous Subdesert Dwarf-Scrub

D. TUNDRA

1. Mainly Bryophyte Tundra

2. Mainly Lichen Tundra

E. MOSSY BOG FORMATIONS WITH DWARF-SHRUB 1. Raised Bog

2. Non-Raised Bog

V. HERBACEOUS VEGETATION

A. TAIL GRAMINOID VEGETATION B. MEDIUM TALL GRASSLAND C. SHORT GRASSLAND

D. FORB VEGETATION

E. HYDROMORPHIC FRESH-WATER GRASSLAND

C.3. Klasifikasi Ekosistem Menurut Kartawinata

(70)

ada di Indonesia. Tipe ekosistem dianggap unit-unit yang paling kecil dan dibentuk berdasarkan fisiognomi (kenampakan) struktur dan takson (unit taksonomi) yang khas atau dominan dari vegetasi yang dikombinasikan dengan faktor-faktor iklim dan ketinggian dari permukaan laut serta tanah. Faktor-faktor tidak dimasukkan karena datanya kurang, lagipula perincian ekositem dengan ciri-ciri vegetasi dan lingkungan dapat dianggap cukup. Berdasarkan komposisi jenis masing-masing tipe ekosistem dapat saja terdiri dari unit-unit yang lebih kecil. Ekosistem hutan kerangas, misalnya, mungkin tersusun dari unit komunitas Combretocarpus- Dactylocladus dan Tristania-Cratoxylum.

Menurut Klasifikasi Kartawinata (1976) ini, ada tiga tingkatan klasifikasi, yaitu : Bioma, Subbioma, dan Tipe Ekosistem. Bioma dapat pula disebut sebuah ekosistem yang merupakan unit komunitas terbesar yang mudah dikenal dan terdiri atas forrnasi vegetasi dan hewan serta mahluk hidup lainnya, baik yang sudah mencapai fase klimaks maupun yang masin dalam fase perkembangan. Di Indonesia dapat dikenal beberapa bioma, yaitu : (a) Hutan Hujan, (b) Hutan Musim, (c) Savana, (d) Padang Rumput. Unit-unit ekosistem ini masih terlalu besar untuk digunakan dengan maksud-maksud khusus, sehingga memerlukan pembagian yang lebih kecil lagi.

(71)

keadaan iklim, misalnya, untuk Hutan Hujan dibedakan antara Hutan Hujan Tanah Kering dan Hutan Hujan Tanah Rawa (permanen atau musiman). Sedangkan pembagian Tipe-tipe Ekosistem sebagai unit yang paling kecil dibentuk berdasarkan struktur fisiognomi, faktor-faktor iklim, ketinggian dari permukaan laut, dan jenis tanah. Klasifikasi Ekosistem menurut Kartawinata tertera dalam Tabel 1, berikut.

(72)

Tabel 1. Satuan - satuan Ekosistem di Indonesia

Bioma Subbioma Tipe Ekosistem

Nama Iklim Nama Nama Ketinggian dpl (m)

Suhu

rata-rata (0)

Q Tanah Takson/khas/umum/dominan

1. Hutan Hujan Selalu basah sampai kering Pandanus tectorius, dsb

5. Belukar < 1000 26-21 <60.0 Podsolik merah kuning,latosol,p odsol

Macaranga, Mallotus, Vitex, Trema, Melastoma, enduspermum, dsb

6. Hutan Fagaceae

1000-2000 21-26 <14.3 Andosol, regosol pada abu gunung

Castanopsis, Lithocarpus, Quercus, Engel hardia, Podocarpus,

Altingia,Magnoliaceae, Phyllociadus,Dacrydium

7. Hutan Casuarina

1000-2000 21-11 <60.0 Andosol,Regosol, Litosol

(73)

Tabel 1. Lanjutan

Bioma Subbioma Tipe Ekosistem

Nama Iklim Nama Nama Ketinggian dpl (m)

Suhu

rata-rata (0)

Q Tanah Takson/khas/umum/dominan

2. Hutan

700-1000 23-18 <60.0 Andosol, Regosol, Litosol

Pinus merkusii

9.Hutan Nothofagus

1000-3000 21-11 <14.3 Regosol, Litosol Nothofagus spp.

10. Hutan Ericaceae

1500-2400 18-23 <14.3 Andosol, regosol Rhodendron, Vaccinium,

Styphella coprosma, Anaphalia, dsb

11.Hutan Araucaria

1500-3000 18-11 <14.3 Regosol, Litosol Araucaria cuninghamii

12. Hutan konifer

2400-4000 13-6 - Litosol, regosol Podocarpus papuanus, Libocedrus, Dacrydium, Phyllocladus

13. semak 4000 < 6 - Litosol Rhodendron, Vaccinium,

Styphella coprosma, Anaphalia, dsb

14. Hutan rawa

< 100 ± 26 <33.3 Organosol,aluvial Barringtonia

asiatica,Camnosperma,Cocceras,

< 100 ± 26 <60.0 Organosol Calophylum,Combretocarpus rotundatus,Cratoxylon

< 1000 26-23 <60.0 Podsol Dactyloccladus,Tristania obovata,Shorea

(74)

Tabel 1. Lanjutan

Bioma Subioma Tipe Ekosistem

Nama Iklim Nama Nama Ketinggian dpl (m)

Suhu

rata-rata (0)

Q Tanah Takson/Khas/Umum/Dominan

18. Hutan

Payau (Mangrove)

< 5 ± 26 <60.0 Aluvial Rhizophora, Bruguiera, Avicennia,Sonneratia,dsb

II. Hutan Musim Sangat kering tengah tahun: floribunda, Eucalyptus, Acacia cophioea, dsb

Schleicera oleaosa, Schoutenia ovate,Tamarindus

indica,Albizia chinensis, dsb

III. Savana Selalu basah sampaisangat kering tengah tahun; Q=0-300 (tipe A-F);curah hujan per tahun 700-7100 mm

4. Sabana 21.Sabana pohon-pohon

1500-2400 18-13 <60.0 Andosol,Regosol, Litosol

Casuarina, Pennistum,dsb

IV. Padang rumput Selalu basah samapai sangat kering tengah tahun;Q=0-300 (tipe A-F);curah hujan per tahun 700-7100 mm

Saccharum spontaneum, Themeda vilosa, dsb

24. Rawa

rumput dan terna tanah rendah

< 100 ± 26 <60.0 Organosol, Aluvial Panicumstangineum,Phragintes karka,Scirpus,Cyperus,Cladium, Fimbristylis,Eguisetum,Monocho ria ischaemum, Eichornia crassipes, dsb

25.Padang

rumput pegunungan

1500-2400 18-23 <60.0 Andosol,Regosol, Litosol

(75)

Tabel 1. Lanjutan

Bioma Subioma Tipe Ekosistem

Nama Iklim Nama Nama Ketinggian dpl (m)

Suhu

rata-rata (0)

Q Tanah Takson/Khas/Umum/Dominan

26.Padang

rumput berawa gunung

1500-2400 18-23 <60.0 Regosol, Litosol Pragmites

karka,Panicum,Machelina schipus, Cares, dsb

27. Padang

rumput alpin

4000-4500 (batas salju)

< 6 - Litosol Deschamsia, Pesluca,

Manostachya,Aulacolepis,Oreobo lus,Scirpus,Potentilia,Ranyneo lus,Epilobium,Spagnum, dsb

28.Komunitas

dan lumut kerak

>4500 6 - Litosol Lumut-lumut kerak,Agrastis,dsb

6. Padang

rumput iklim kering

29.Padang rumput iklim kering

< 900 < 22 < 60.0 Mediteran merah kuning,Regosol, Litosol,Rensina

(76)

C.4.Klasifikasi Tipe-tipe Hutan di Indonesia oleh Departemen Kehutanan

Departemen Kehutanan dalam Vademecum (1976) telah mengklasifikasikan hutan di Indonesia berdasarkan keadaan iklim, edafis, dan komposisi tegakan. Faktor iklim menurut pembagian F.H. Schimidt dan J.H. Ferguson yang didasarkan pada nilai Q, yaitu persentase perban-dingan antara jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah, sehingga diperoleh tipe-tipe iklim A, B, C, D dan seterusnya berturut-turut dari nilai Q yang terkecil sampai terbesar. Faktor iklim yang mempengaruhi pernbentukan vegetasi adalah temperatur, kelembaban, intensitas cahaya dan kecepatan angin.

Tipe hutan yang pembentukannya sangat dipengaruhi oleh faktor iklim disebut Formasi Klimatis (Klimatic Formation). Termasuk kedalamnya, yaitu : Hutan Hujan (Tropical Rain Forest), Hutan Musim (Monsoon Forest), dan Hutan Gambut (Peat Forest).

Hutan Nipa [Nipa Formation) dianggap sebagai suatu konsosiasi dari Hutan Payau atau Hutan Rawa tergantung kepada faktor edafis yang ada.

Hutan Palma tanah rawa (Palm swamp forest.) dimana banyak terdapat jenis-jenis Phoenix atau Oncosperma dianggap sebagai suatu konsosiasi.

Berikut diberikan bagan klasifikasi tipe-tipe hutan di Indonesia menurut Departemen Kehutanan :

I. FORMASI KLIMATIS

1. Hutan Hujan (Tropical Rain Forest)

Ciri-ciri : iklim A atau B; jenis tanah latosol, aluvial, dan regosol; drainase baik,jauh dari pantai; dan tegakan selalu hijau.

a. Hutan Hujan Bawah (0-1000 m dpl)

Figur

Tabel 1. Satuan - satuan Ekosistem di Indonesia

Tabel 1.

Satuan - satuan Ekosistem di Indonesia p.72
Tabel 1. Lanjutan

Tabel 1.

Lanjutan p.73
Tabel 1. Lanjutan

Tabel 1.

Lanjutan p.74
Tabel 1. Lanjutan

Tabel 1.

Lanjutan p.75
Tabel Hasil Klasifikasi Ekosistem Makro di Indonesia

Tabel Hasil

Klasifikasi Ekosistem Makro di Indonesia p.80
Gambar 1. Suatu Petak tunggal dalam analisis vegetasi

Gambar 1.

Suatu Petak tunggal dalam analisis vegetasi p.86
gambar 2

gambar 2

p.88
Gambar 2. Desain Petak Ganda di Lapangan

Gambar 2.

Desain Petak Ganda di Lapangan p.88
Gambar 3. Desain jalur contoh di lapangan

Gambar 3.

Desain jalur contoh di lapangan p.89
Gambar 4. Desain metoda garis berpetak

Gambar 4.

Desain metoda garis berpetak p.90
Gambar 5. Desain Kombinasi Metoda Jalur dan Metoda garis

Gambar 5.

Desain Kombinasi Metoda Jalur dan Metoda garis p.91
Gambar 6. Desain Point quarter method di lapangan

Gambar 6.

Desain Point quarter method di lapangan p.92
Gambar 7. Ilustrasi metoda berpasangan acak dalam analisis vegetasi

Gambar 7.

Ilustrasi metoda berpasangan acak dalam analisis vegetasi p.94
Tabel 1. Luas hutan Indonesia dalam juta Ha (Departemen Kehutanan, 1985)

Tabel 1.

Luas hutan Indonesia dalam juta Ha (Departemen Kehutanan, 1985) p.143
Tabel Hubungan antara jenis-jenis pohon dengan keadaan ekologis (Soerianegara dan Indrawan, 1998)

Tabel Hubungan

antara jenis-jenis pohon dengan keadaan ekologis (Soerianegara dan Indrawan, 1998) p.152
Tabel 1. Daftar jenis pohon, riap, rotasi dan asalnya (Manan, 19..)

Tabel 1.

Daftar jenis pohon, riap, rotasi dan asalnya (Manan, 19..) p.153
Tabel Kriteria prioritas dan penentuan jenis untuk hutan tanaman industry di Dataran rendah (Al rasjid, 1984)

Tabel Kriteria

prioritas dan penentuan jenis untuk hutan tanaman industry di Dataran rendah (Al rasjid, 1984) p.154
Tabel Kalori dari beberapa jenis kayu bakar, dalam berat jenis dan kelas kayu bakar (KKB)

Tabel Kalori

dari beberapa jenis kayu bakar, dalam berat jenis dan kelas kayu bakar (KKB) p.155
Tabel 12.1 Klasifikasi sistem penyebaran diaspor dalam

Tabel 12.1

Klasifikasi sistem penyebaran diaspor dalam p.219

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Bahan Kuliah Ekologi Hutan buku Geologi dan Geomorfologi Ilmu Tanah Klimatologi Geografi tumbuh-tumbuhan Bidang Kajian Ekologi Kutan Status Ekologi Hutan dalam Ilmu Pengetahuan Kehutanan Faktor Penyebab Perbedaan Ekosistem Macam dan Ukuran Ekosistem Tahap-tahap Dasar Operasi pada Ekosistem Ekologi Niche Energi dalam Ekosistem Fidelity {Kesetiaan Indeks of Dominance ID Interspecific Assosiation Index of Diversity Koefisien Kesamaan Komunitas Index of Similarity Fungsi Komunitas Struktur Tropik dan Piramida Ekologi Pengertian Suksesi Sere Tipe-tipe Suksesi Tahab-tahab Suksesi Struktur Tropik dan Piramida Ekologi Macam Suksesi Faham-fahara tentang Klimaks Hutan Pantai Littoral Forest Ciri-ciri : Ukuran, Jumlah dan Bentuk Petak Cara Meletakkan Petak Contoh Kriteria Stadium Pertumbuhan Parameter Vegetasi yang Diukur di Lapangan Ukuran Sub-plot untuk Berbagai Stadium Pertumbuhan Metoda Analisis Vegetasi I. Metoda dengan petak Tujuan Pengamatan Faktor Lingkungan Faktor-Faktor Lingkungan Iklim ADAPTASI TUMBUHAN Grup Ekologi Tumbuhan berdasarkan Jenis Tanah sebagai Media Tumbuh : Grup Ekologi Tumbuhan berdasarkan kebutuhannya terhadap air : Pengertian Klasifikasi Hydrophytes Adaptasi Hydrophytic HUBUNGAN MASYARAKAT TUMBUHAN DENGAN LINGKUNGAN A. Pengertian Lingkungan Modifikasi Anatomi HUBUNGAN MASYARAKAT TUMBUHAN DENGAN LINGKUNGAN A. Pengertian Lingkungan Formasi Hutan utama di Indonesia Hutan lindung yang terdapat di daerah yang curah Tanah Tinggi Tempat Kebutuhan Cahaya Kesarangan Tanah Pometia pinnata kayu MewahIndah dan Rot