• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 10 Penduduk Usia Lanjut dan Pem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KELOMPOK 10 Penduduk Usia Lanjut dan Pem"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah

Penduduk Usia Lanjut dan Pembangunan Ekonomi

Oleh Kelompok 10

Nama : Hara Regina Oktavia Simamora (1211021060)

Lorentina Nainggolan (1211021072)

Yulianti Siadari (1211021130)

Mata Kuliah : Ekonomi Kependudukan (EBE612320)

Dosen : Syahfirin Abdullah, S.E.,M.Si

Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

(2)

PENDUDUK LANJUT USIA

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Di seluruh dunia penduduk Lansia (usia 60 +) tumbuh dengan sangat cepat bahkan tercepat dibanding kelompok usia lainnya. Diperkirakan mulai tahun 2010 akan terjadi ledakan jumlah penduduk lanjut usia. Hasil prediksi menunjukkan bahwa persentase penduduk lanjut usia akan mencapai 9,77 persen dari total penduduk pada tahun 2010 dan menjadi 11,34 persen pada tahun 2020.

(3)

permasalahan lanjut usia harus menjadi perhatian kita semua, baik pemerintah, lembaga masyarakat maupun masyarakat itu sendiri. Mindset yang selama ini ada bahwa penduduk lanjut usia merupakan kelompok rentan yang hanya menjadi tanggungan keluarga, masyarakat dan negara, harus kita ubah. Kita harus menjadikan lanjut usia sebagai aset bangsa yang harus terus diberdayakan. Hal ini tidak akan tercapai bila kita tidak mempersiapkan diri dari sekarang. Untuk menjadi lanjut usia yang sehat, produktif dan mandiri, kita harus mulai dengan pola hidup sehat dan mempersiapkan masa lanjut usia secara lebih baik. Dengan demikian, sasaran dari permasalahan lansia tidak hanya lansia itu sendiri, tetapi juga penduduk usia muda. Pola hidup sehat harus diterapkan sejak usia dini, bahkan sejak dalam kandungan.

Badan kesehatan dunia WHO bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11,34% atau tercatat 28,8 juta orang, balitanya tinggal 6,9% yang menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia. Badan Pusat Statistik (BPS)

60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90-94 95+ 0

500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000

Penduduk Lansia Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (Sensus Penduduk 2010)

Jenis Kelamin Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan

(4)

Tabel: Jumlah Penduduk Lansia menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (Sensus Penduduk 2010)

Provinsi dengan usia harapan hidup yang lebih tinggi juga mempunyai jumlah penduduk lanjut usia yang lebih banyak. Suatu wilayah disebut berstruktur tua jika persentase lanjut usianya lebih dari 7 persen. Dari seluruh provinsi di Jumlah Persentase Penduduk Lansia Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, Tahun 2009 Indonesia, ada 10 provinsi yang penduduk lansianya sudah lebih dari 7 persen, yaitu DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung. Sedangkan lima provinsi dengan persentase lansia terendah adalah: Papua (1.94%), Papua Barat (3.09%), Kepulauan Riau (3.38%), Kalimantan Timur (4.02%), dan Riau (4.97%).

Kelompok Umur

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan PerempuanLaki-laki +

60-64 2,927,191 3,131,570 6,058,761

65-69 2,225,133 2,468,898 4,694,031

70-74 1,531,459 1,924,872 3,456,331

75-79 842,344 1,135,561 1,977,905

80-84 481,462 661,708 1,143,170

85-89 182,432 255,529 437,961

90-94 63,948 106,951 170,899

95+ 36,095 68,559 104,654

(5)

Diagram: Provinsi dengan Persentase Lansia Tertinggi di Indonesia (Sensus

Perempuan lansia di Indonesia berpotensi mengalami diskriminasi ganda, baik karena statusnya sebagai perempuan maupun karena statusnya sebagai penduduk yang usianya sudah lanjut. Sebagai perempuan, diskriminasi yang disebabkan oleh struktur sosial dan budaya masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak usia muda. Hal ini kita ketahui sebagai akibat dari perbedaan yang sifatnya kodrati maupun sebagai akibat dari perbedaan gender. Perbedaan tersebut juga tercermin dari status perkawinan lanjut usia perempuan yang sebagian besar berstatus cerai mati dan cerai hidup. Karena usia harapan hidup perempuan yang lebih panjang dibandingkan laki-laki, maka lebih banyak lanjut usia perempuan yang ditinggal meninggal lebih dulu oleh suaminya, dan karena perbedaan gender menyebabkan perempuan terbiasa mengurus dirinya sendiri, sehingga lebih siap untuk tinggal sendiri. Sedangkan lanjut usia laki-laki lebih banyak berstatus kawin.

(6)
(7)

Dari sisi kualitas hidup, selain pendidikan, penduduk lanjut usia juga mengalami masalah kesehatan. Data menunjukkan bahwa ada kecenderungan angka kesakitan lanjut usia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini tentunya harus mendapatkan perhatian berbagai pihak. Lanjut usia yang sakit-sakitan akan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan bahkan pemerintah, sehingga akan menjadi beban dalam pembangunan. Oleh sebab itu, kita harus menjadikan masa lanjut usia menjadi tetap sehat, produktif dan mandiri. Hal ini tidak akan tercapai bila kita tidak mempersiapkan masa lanjut usia sejak usia dini.

(8)

setuju lansia bekerja, antara lain karena adanya norma setempat yang menyatakan bahwa jika sudah lansia tidak bekerja lagi, juga ada yang beranggapan karena sarana dan prasarana fisik bagi lansia bekerja masih terbatas/belum memadai, serta karena banyak lansia yang ingin menikmati pensiun.

Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia merupakan keberhasilan pembangunan. Menurunnya angka kelahiran dan kematian diiringi dengan meningkatnya angka harapan hidup menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia meningkat tajam. Berdasarkan hasil Sensus 1971 jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) di Indonesia baru sekitar 5,3 juta (4,5 Persen) namun pada tahun 2000 angka tersebut meningkat tajam lebih dari tiga kali yaitu 14,4 juta jiwa.

Perubahan struktur usia penduduk ini tak lepas dari perubahan demografis, utamanya penurunan fertilitas dan mortalitas, yang bermula sejak dasawarsa 1970-an di belahan dunia Berkembang. Berbagai estimasi menunjukkan bahwa banyak bangsa berkembang, utamanya yang mengalami penurunan fertilitas dan mortalitas secara cepat, mulai menghadapi persoalan pembengkakan penduduk lansia (Chen and Jones, 1988; Rowland, 1984 dan 1991). Repotnya, memasuki abad sekarang, benua Asia akan menampung hampir separuh penduduk lansia, terutama Cina dan India (Asia-Pacific Population Journal, 1986).

Kenyataan tentang peledakan penduduk lansia, di satu sisi, dan suatu anggapan bahwa golongan tua ini merupakan ‘beban,’ di lain sisi, telah mengundang perhatian banyak pakar di berbagai disiplin. Banyak pakar memandang fenomena lansia ini dari sisi yang serba ‘muram.’ Bahkan, banyak pemerintah negara Berkembang belum merasa siap, dan cenderung mengabaikan, kehadiran golongan tua ini (Hugo, forthcoming; Jones 1988). Karena itu, isu lansia (di negara Dunia Ketiga) akan dengan sendirinya mengedepan pada abad sekarang ini.

(9)

Terdapat suatu kekhawatiran di antara para pakar bahwa golongan penduduk lansia, utamanya yang berada di belahan Berkembang, akan semakin memburuk kondisi hidupnya di masa-masa men-datang. Penjelasan teoritik tentang kekhawtiran ini sebenarnya bertolak dari suatu keyakinan bahwa proses modernisasi --yang notabene menjadi fenomena global-- cenderung membawa akibat menurunnya kondisi para penduduk tua (Cowgill and Holmes, 1972; Cowgill, 1974, 1980 dan 1986). Rincian tentang kaitan antara modernisasi –yang dicirikan ke dalam bentuk teknologi kesehatan, teknologi ekonomi, urbanisasi, dan pendidikan-- dan penurunan status golongan lansia ini disajikan pada gambar berikut:

(10)

Di dunia berkembang, daya tarik model Cowgill ini utamanya menyangkut dua isu berikut: dampak modernisasi terhadap struktur organisasi dan terhadap pemberian perawatan golongan tua. Sementara itu, di masyarakat Barat, isu utama terfokus pada pemahaman tentang struktur keluarga—yang disebut-sebut sangat individualistis—dalam kaitannya dengan pemberian perawatan golongan lansia. Berbagai kritik yang berasal dari berbagai kubu ini setidaknya dapat menguak secara jernih permasalahan seputar penduduk lansia.

Cowgill (1986), sehubungan dengan kaitan antara struktur keluarga dan status golongan lansia, sedikitnya mengajukan tiga tesis penting. Pertama, bahwa keluarga luas (extended family) jarang ditemui di kehidupan masyarakat modern. Sebagai gantinya, bentuk yang banyak ditemui adalah keluarga inti (nuclear family). Kedua, status golongan lansia cenderung tinggi di masyarakat petani --seringkali diasumsikan ‘tradisional’-- dan cenderung rendah di masyarakat modern (perkotaan). Ketiga, status golongan lansia cenderung tinggi di masyarakat yang menganut struktur keluarga luas (extended family) dan, sebaliknya, cenderung rendah di masyarakat yang menganut keluarga kecil (nuclear family).

(11)

Selain itu, berbagai temuan lapangan dari Asia berhasil menunjukkan berbagai bukti kelemahan dasar model Cogwill. Penelitian Goldstein dan Bell (1982) di suatu desa terpencil di perbatasan India- Nepal memberi suatu bukti tentang perubahan struktur keluarga, yang terjadi tanpa tersentuh langsung oleh proses modernisasi. Kemudian, Martin (1990a dan 1990b) merangkum berbagai hasil studi di Asia dan menunjukkan bahwa prospek penurunan status golongan lansia masih belum dapat digambarkan secara jelas. Bahkan, Martin (1990a:107) mengajukan suatu argumentasi:

To obtain a better understanding of whether bor not the family situation of the elderly has changed, we need to look at not the proportion of all households that are nuclear, but rather the proportion of elderly people living either alone, with spouse only, or with their adult children…

Masalahnya, perbandingan data antar- periode waktu tidak mungkin dilakukan dan sulit diperoleh, sehingga kesimpulan tentang status golongan lansia sampai saat sekarang tetap kabur (Martin, 1990b; Mason, 1993).

Sekalipun demikian, banyak studi yang dilakukan akhir-akhir ini --di kawasan Asia Selatan, Timur, dan Tenggara—memberikan suatu petunjuk tentang terjadinya pergeseran nilai-nilai sosio-kultural (Martin, 1990b; Mason, 1993). Pergeseran pola hubungan antar generasi dikhawatirkan makin memojokkan keadaan golongan lansia, sebagai akibat dari masuknya nilai-nilai Barat—suatu kecenderungan bahwa golongan muda mulai ‘cuci tangan’ dalam urusan merawat golongan tua (Hugo, 1988; Evans, 1985 dan 1990; Guest, 1991).

IMPLIKASI KEBIJAKAN DI ABAD PENDUDUK TUA

Lansia merupakan dua kesatuan fakta—sosial dan biologi. Sebagai suatu fakta sosial, lansia merupakan suatu proses penarikan diriseseorang dari berbagai status dalam suatu struktur masyarakat. Secara fisik, pertambahan usia dapat berarti semakin melemahnya manusia secara fisik dan kesehatan.

(12)

penduduk lansia sangat relevan dipahami dari dan/atau terkait-erat dengan berbagai kharakteristik sosial-ekonomi yang melekat pada diri golongan lansia itu sendiri.

Estimasi dan studi lapangan di berbagai negara berkembang seputar Asia menunjukkan bahwa golongan lansia cenderung berkelamin wanita, terpuruk dalam suasana kesepian dan kesendirian, miskin, dan tinggal di wilayah pedesaan (Chen and Jones, 1988; Martin, 1990a). Selain itu, mereka, penduduk lansia ini, sangat peka dengan berbagai bentuk penyakit kronis dan kelemahan fisik, karena usia mereka (Siegel, 1982; Keane and Bartram, 1985). Karenanya, berbagai kondisi ini sedikit banyak memberi gambaran tentang semakin besarnya ketergantungan golongan lansia dalam berbagai hal (Adi, 1982; Evans, 1985). Lebih jauh, Mason (1993) menegaskan bahwa isu lansia sebenarnya merupakan isu wanita, karena sebagian besar golongan ini adalah wanita.

Sebagian besar pemerintah negara berkembang masih berkutat dengan persoalan-persoalan seputar penduduk muda, seperti ketenagakerjaan, pendidikan, dan kesehatan anak. Keasikan pada bentuk kebijakan seperti ini memang patut dimaklumi, mengingat struktur penduduk di banyak negara Berkembang masih didominasi oleh golongan usia muda. Selain itu, mereka— pemerintah Berkembang—masih terlalu percaya pada kepercayaan nilai-nilai lama tentang pola hubungan keluarga: bahwa orang tua menjadi tanggung jawab anak (Chen and Jones, 1988; Jones, 1988). Namun demikian, banyak pakar mulai meragukan kekukuhan ikatan tradisional ini, sehubungan mulai memudarnya pola hubungan antar generasi di banyak masyarakat (lihat Hugo, sedang dalam proses terbit; Tu, Liang, and Li, 1989; Martin, 1990b). Karena itu, sudah saatnya masalah penanganan dan/atau pelayanan sosial bagi golongan lansia mendapatkan tempat dalam berbagai rancangan kebijakan pemerintah.

(13)

sumber dana menjadi pertimbangan yang rumit, karena keterbatasan pemerintah negara Berkembang. Untuk itu, membeludaknya golongan penduduk lansia ini, di masa-masa mendatang di abad 21, akan tetap menjadi isu penting, yang dapat merembet ke persoalan-persoalan lain.

Lanjut usia adalah seseorang yang usianya lanjut, mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini akan memberi pengaruh pada seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatannya. Menurut UU kesehatan No 36 Tahun 2009 pasal 138 menegaskan, kesehatan manusia lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus dengan tetap di pelihara dan ditingkatkan agar selama mungkin dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuan nya sehingga dapat ikut serta dalam berperan aktif dalam pembangunan.

Perkembangan Penduduk Lanjut usia (lansia) di Indonesia menarik untuk diamati. Dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung meningkat. Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan, jika tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%) maka pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat (66,2 tahun). Pada tahun 2010 penduduk lansia di Indonesia 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun. Diperkirakan Tahun 2020-2025 Indonesia akan menduduki peringkat keempat dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat (Nugroho, 2008 ).

Peningkatan penduduk lansia tersebut menurut Nugroho (1995), disebabkan oleh karena meningkatnya umur harapan hidup. Peningkatan umur harapan hidup ini disebabkan oleh 3 hal yaitu: (1) kemajuan dalam bidang kesehatan, (2) meningkatnya sosial ekonomi dan (3) meningkatnya pengetahuan masyarakat.

(14)

Masalah kesehatan utama pada lanjut usia merupakan gabungan dari kelainan- kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Menurut Kane dan Ouslander ada empat belas permasalahan kesehatan yang sering terjadi pada lansia yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia), Inspection (infeksi), impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit), impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency daya tahan tubuh yang menurun impotence (impotensi).

(15)

Fenomena di atas dapat menunjukkan adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara umum, tetapi di sisi lain penomena tersebut meningkatkan beban masyarakat maupun pemerintah, karena komposisi penduduk lansia dalam jumlah besar dengan ketergantungan tinggi dan produktipitas rendah.

Lansia yang tidak aktif memanfaatkan layanan kesehatan di posyandu lansia maka kondisi kesehatan mereka tidak dapat terpantau dengan baik. Sehingga apabila mengalami suatu resiko penyakit akibat penurunan kondisi tubuh dan proses penuaan dikhawatirkan dapat berakibat fatal dan mengancam jiwa mereka.

Upaya kesehatan yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat terutama para lansia yaitu dengan dibentuknya pelayanan dasar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), peran serta masyarakat dalam rujukan kesehatan. Upaya kesehatan melalui Puskesmas merupakan upaya menyeluruh dan terpadu yang meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan.

Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri serta Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga telah merumuskan tatanan tersebut yang dilaksanakan dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk masyarakat secara rutin setiap bulannya (Departemen Kesehatan RI, 2001).

Dengan adanya posyandu lansia maka lansia dapat diberikan pelayaan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan agar tercapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya.

(16)

pengetahuan cenderung akan meningkat penghasilannya sehingga jika mereka sakit akan memilih sarana kesehatan yang lebih baik. Oleh karenanya semua ini akan berdampak terhadap adanya usia harapan hidup yang semakin meningkat.

Jumlah lanjut usia terus meningkat dan menurut proyeksi WHO pada 1995 dimana, pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 1990 bahwa pertumbuhan penduduk lanjut usia Indonesia mengalami pertumbuhan terbesar di Asia, yaitu sebesar 414%, Thailand 337%, India 242%, dan China 220%.

Jumlah lanjut usia Indonesia, menurut sumber BPS bahwa pada tahun 2004 sebesar 16.522.311, tahun 2006 sebesar 17.478.282, dan pada tahun 2008 sebesar 19.502.355 (8,55% dari total penduduk sebesar 228.018.900), sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lanjut usia sekitar 28 juta jiwa. Sungguh suatu jumlah yang sangat besar sehingga jika tidak dilakukan upaya peningkatan kesejateraan lanjut usia sejak sekarang akan menimbulkan permasalahan dan bisa jadi merupakan bom waktu di kemudian hari. Kecenderungan timbulnya masalah ini ditandai pula dengan angka ketergantung lanjut usia sesuai Susenas BPS 2008 sebesar 13,72%. Angka ketergantungan penduduk akan menjadi tinggi dan dirasakan oleh penduduk usia produktif jika ditambah dengan angka ketergantungan penduduk usia kurang dari 15 tahun, dimana saat ini jumlah penduduk kurang dari 15 tahun sebesar 29,13%.

(17)

bahkan juga diselenggarakan oleh masyakat dan keluarga. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Nomor 13/1998 disebutkan bahwa pemerintah, masyarakat dan keluarga bertanggungjawab dalam upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia.

Dalam kaitannya dengan tingkat partisipasi lanjut usia dalam bidang pembangunan yaitu adanya lanjut usia yang bekerja sebesar 36,11% (kota) dan sebesar 52,75% (desa). Besarnya jumlah lanjut usia yang bekerja di perdesaan lebih banyak dibandingkan dengan daerah perkotaan antara lain karena pekerjaan di perdesaan didominasi oleh pekerjaan bidang pertanian yang pada umumnya menjadi mata pencarian pokok. Bekerja sebagai petani tidaklah membutuhkan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi sehingga hal ini sesuai dengan tingkat pendidikan lanjut usia dimana jumlah lanjut usia yang tidak sekolah, tidak tamat SD, dan hanya berpendidikan SD totalnya sebesar sekitar 86%.

Adalah sangat ironis bahwa partisipasi lanjut usia dalam bidang pembangunan antara lain hanya dilihat dari lanjut usia yang bekerja, padahal ada sebesar 25,47% peranserta lanjut usia di bidang lain-lain (Sakernas BPS 2008). Di bidang lain-lain ini bisa jadi sangatlah berkualitas misalnya yang bersangkutan melakukan penyiapan sumber daya manusia bangsa ini, bisa jadi angka itu ada yang menjadi pengasuh cucu-cucunya, sebagai guru ngaji, mengajar musik, mengajarkan ilmu pengetahuan lainnya dan banyak pula yang ikutserta dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan tidak sedikit pula sebagai pemilik perusahaan yang mempekerjaan banyak karyawan.

(18)

dipengaruhi oleh kualitas gernerasi mudanya, makanya program yang berkaitan dengan anak dan remaja menjadi prioritas ?

Luar biasa memang, kalaulah bangsa ini berpikir seperti itu maka untuk apa dilakukan upaya peningkatan usia harapan hidup penduduk, jika dihari tuanya hidup lanjut usia kurang mendapat perhatian dari semua kita. Perlu diacungi jempol ucapan seorang menteri bahwa “terpuruknya bangsa pada saat ini, karena kita belum memberikan penghormatan yang selayaknya kepada lanjut usia” Oleh karena itu pula kementerian tersebut secara konsekwen meningkatkan program-programnya di bidang kelanjutusiaan.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Cara atau metoda tersebut tidak terlepas dari penggunaan teknologi sebagai pendukung dan mempercepat proses pembuatan suatu bangunan, agar kegiatan pembangunan dapat berjalan

Menindaklanjuti Kegiatan Verifikasi Administrasi Pengadaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Simalungun

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas di Kelas XII TGB 3 SMK Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon dalam pembelajaran PAI pada materi “Ketentuan

Dari studi genetika populasi (analisis mtDNA dengan metode RFLP) jenis malalugis di sekitar Sulawesi, diduga stok yang tersebar di Teluk Tomini memiliki hubungan

Sebaliknya kegiatan pembalakan hutan dapat menyebabkan berkurangnya atau bahkan punahnya satu atau lebih jenis epifit, khususnya yang habitatnya di batang dan

Jemaah Haji yang ditetapkan tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji untuk sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf c merupakan Jemaah Haji dengan