• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGHIDUP SUBURKAN NURANI IHSAN DALAM GERAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MENGHIDUP SUBURKAN NURANI IHSAN DALAM GERAKAN"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

12 6 - 21 RAMADLAN 1431 H

BINGKAI

MENGHIDUPSUBURKAN

NURANI IHSAN

DALAM GERAKAN

K

iai Haji Ahmad Dahlan selain dikenal cerdas dan pembaru, juga sosok tokoh yang hidup hati nuraninya. Figur yang mempraktikan jalan ihsan. KRH Hadjid menggambarkan sosok Kiai Ahmad Dahlan di samping mempunyai sifat dzakak cerdas akalnya untuk me-mahami kitab yang sukar, beliau mempunyai maziyah atau keistimewaan dalam khauf atau rasa takut terhadap naba al-adhim (kabar bahaya besar), yang tersebut dalam Al-Quran surat An-Naba’, sehingga nampak dalam kata-kata-nya, pelajaran yang diberikan dan nasehat-nasehat serta wejangan-wejangannya. Pada akhir usianya, ketika beliau sakit nampak dalam sifat raja’, yaitu mengharap-harap rahmat Tuhan (Hadjid, t.t., hal. 6). Sementara H Djarnawi Hadikusuma melukiskan Kiai Dahlan sebagai berikut: “Pandangan matanya lunak dan tenang tetapi menembus hati siapa yang dipandangnya. Cahaya matanya memancarkan kasih mesra dan keikhlasan yang tiada taranya, dan sinar yang tenang menandakan kedalaman ilmunya, terutama dalam bidang tashawuf (Hadikusuma, t.t., hal. 5).

Tentu Kiai Dahlan meneladani sosok dan akhlak Nabi Muhammad, yang dikenal jujur, amanah, tabligh, fatanah, penyantun, kasih sayang, penyabar, dan segala sifat baik atau ihsan yang menjadi ushwah hasanah dalam segala hal. Setiap muslim, tentu dan lebih-lebih orang Muhammadiyah yang mentafa’ulkan nama gerakannya pada Nabi akhir zaman itu, selalu berusaha untuk meneladani kebaikan akhlak Rasulullah. Demikian pula dengan Kiai Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah. Bahwa hidup dalam serba kebaikan, yang muaranya adalah jiwa yang baik, yang memantulkan sikap, kepribadian, dan tindakan yang baik. Jika ingin meraih sesuatu, selalu dipertanyakan dalam hati nurani, apakah itu baik dan bagaimana menempuh atau meraihnya dengan cara yang juga baik. Selalu ingin meraih yang baik, dengan niat yang baik, sekaligus cara yang baik.

Kini ribuan bahkan jutaan orang menjadi penerus gerakan Kiai Haji Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah, sekaligus menjadi penerus perjuangan Nabi Muhammad dalam menegakkan dan menjunjungtinggi Agama Islam untuk terwujudnya masyarakat

Islam yang sebenar-benarnya. Segala tindakan dan langkah perjuangan baik secara individu maupun kolektif harus senantiasa dilandasi, dibingkai, diarahkan, dibimbing, diwarnai, dan dijiwai oleh nilai-nilai ajaran Islam yang utama. Dalam bingkai organisasi bahkan perjuangan meng-gerakkan Muhammadiyah tersebut harus mengacu pada Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, yang men-jadi pola bagi kelakuan seluruh anggota Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa dalam perjuangan atau apa pun yang dilakukan semestinya didasarkan pada ni-lai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepantasan sebagai la-wan dari kebatilan, keburukan, dan ketidakpatutan.

Di sinilah pentingnya menghidupsuburkan nurani atau hati nurani dalam perjuangan mewujudkan gerakan Muhammadiyah sebagaimana jati diri sebagai Gerakan Islam, yang fondasinya telah diletakkan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan dan para generasi awal Muhammadiyah. Di samping hal-hal yang rasional, dalam kehidupan Muslim lebih-lebih dalam perjuangan Islam, diperlukan fondasi hati atau nurani yang kokoh sebagai basis spiritualisasi gerakan. Bahwa dalam perjuangan tidak sekadar diperlukan bagaimana melakukan suatu cara yang rasional untuk mencapai tujuan, tetapi juga diperlukan bingkai nurani atau moral bagaimana caranya agar apa yang dilakukan itu sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam, yang melahirkan cara-cara yang juga Islami. Tidak menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan sebagaimana pandangan dan tindakan kaum sekuler, yang membolehkan segala cara dilakukan demi meraih tujuan, karena lepasnya nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepatutan yang berbasis pada ajaran agama.

Dalam kehidupan modern ketika manusia terbiasa dalam pola pikir sekularisme, bahwa nilai-nilai benar-salah, baik-buruk, dan pantas-tidak pantas yang berbasis pada agama seringkali diabaikan. Sekularisme bukan sekadar ideologi, tetapi juga membentuk perilaku. Boleh jadi ada orang yang anti sekularisme secara ideologis dan menjadikan agama sebagai fondasi hidupnya, tetapi ketika melakukan tindakan-tindakan yang menyangkut kepentingan dirinya demi meraih tujuan, tidak jarang melepaskan nilai-nilai benar-salah,

(2)

13 SUARA MUHAMMADIYAH 16 / 95 | 16 - 31 AGUSTUS 2010

buruk, dan pantas-tidak pantas, sehingga menghalalkan segala cara demi meraih tujuan. Model perilaku seperti itu merupakan bentuk sekularisme tindakan, kendati bukan sekularisme ideologis. Karena itu dalam kehidupan modern terjadi perang, kekerasan, invasi, penjajahan, dan sejenisnya, sebagai tindakan yang meluas dan bahkan menjadi kebijakan atau pilihan tanpa merasa bersalah karena lepasnya nilai-nilai fundamental sebagaimana diajarkan agama secara substansial. Standar ganda pun dilakukan, yang mencerminkan disorientasi atau kehilangan arah dalam menentukan tindakan. Agama pun sekadar formalisme, indah dalam tutur dan tulisan, tetapi paradoks dalam laku dan tindakan, sehingga tidak melahirkan pencerahan jiwa, perilaku, dan perbuatan.

Alam pikiran modern juga mengajarkan pragmatisme, yakni orientasi mengejar kegunaan. Bahwa yang benar dan baik itu yang serbaguna, sedangkan yang serbaguna itu dicerminkan dalam nilai materi, kekuasaan, dan hal-hal yang duniawi atau inderawi. Karena itu demi meraih yang serbaguna itu maka dibolehkan segala cara dilakukan asalkan membawa kemanfaatan secara duniawi. Jika ingin cepat memperoleh tiket, tidak perlu antri, bila perlu menerabas. Jika ingin meraih tujuan dan cita-cita, lakukan segala cara. Soal alasan dan segala halnya dapat dilakukan rasionalisasi atau pembenaran secara rasional, sehingga yang salah pun dapat dikonstruksi seolah benar dalam bentuk falsifikasi. Itulah model rasional instrumental, yang selalu membenarkan setiap cara apa pun yang salah, dengan sejumlah argumentasi yang dibangun dengan sempurna.

Karena demikian mekar pola hidup dan tindakan yang serba nalar intrumental berbasis alam pikiran sekular dan pragmatis, maka orang modern menurut sosiolog Max Weber kehilangan pesona dunia. Nalar instrumentalnya hidup subur, tetapi nalar komunal, nalar batin, dan nalar rasanya mati suri. Pada kondisi yang demikian, manusia modern mengalami sakit

the lost of soul alias kegersangan ruhaniah. Sosoknya cerdas, pandai, sigap, terampil, dan cekatan dalam hidup tetapi rasa dan batinnya mati. Lama kelamaan, kata Alvin Toffler, manusia modern seperti robot atau menjadi manusia modular (the modular man). Apa pun dapat dilakukan oleh manusia robot tanpa rasa dan getaran hati. Akibatnya, ketika merusak, dayarusaknya melebihi hewan, bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bal-hum adhalun, justru lebih ganas ketimbang binatang. Otak dan tangannya hidup luar biasa, tetapi telinga, penciuman, rasa, dan nuraninya mati suri.

Dalam perjuangan menegakkan agama Islam tentu menjadi sangat penting dan fundamental bingkai akhlak atau moral atau etika, yang berbasis pada nilai-nilai Islami. Di sinilah pentingnya menghidupkan hati nurani atau nurani, yang memancarkan cahaya serba kebaikan dalam hidup dan perjuangan. Bahwa apa pun yang dilakukan dalam menggerakkan Islam melalui Muhammadiyah maupun dalam

kehidupan sehari-hari, tidak boleh lepas dari bingkai nurani yang Islami. Nurani yang Islami akan membimbing setiap gerak dan langkah dengan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepantutan. Bukan sembarang berbuat dan melangkah kendati untuk mencapai tujuan. Bahkan untuk tujuan yang baik pun harus dilakukan dengan niat dan cara yang baik, tidak boleh dengan niat dan cara yang salah. Menegakkan yang ma’ruf harus dengan cara yang ma’ruf, tidak boleh dengan cara yang munkar. Bekerjasama pun harus dalam kebaikan dan ketakwaan, tidak boleh dalam hal dosa dan permusuhan. Itulah pesan nurani Al-Qur’an yang luhur.

Referensi

Dokumen terkait

Strategi diperlukan dalam komunikasi karena kita tidak hanya berurusan dengan bagaimana pesan diterima oleh komunikan tetapi juga bisa mendapatkan respon atau

Pendidikan karakter mempunyai makna yang lebih tinggi dari pada pendidikan moral, karna pendidikan karakter bukan hanya berkaitan dengan masalah benar dan salah, tetapi

Perpustakaan tidak lagi sekadar dilihat dari besarnya gedung atau banyaknya rak buku, tetapi lebih pada bagaimana mampu menyajikan informasi secara tepat dan cepat, mampu

Akan tetapi dengan adanya peran gereja dalam melakukan gerakan misi, tentu Allah memiliki tujuan bahwa anak-anak-Nya akan mencapai suatu kedewasaan, iman yang kuat dan

Akan tetapi, karena yang lebih menarik dari kedua novel adalah tema yang diusungnya, kajian yang berhubungan dengan gender pun diperlukan untuk melihat upaya

Melalui metode tersebut peneliti berusaha mengungkapkan dan membongkar makna dalam teks narasi tentang bagaimana perjuangan perempuan mencapai kesetaraan gender ini

Untuk mencapai fungsi psikologis secara optimal, yang diperlukan tidak hanya karakteristik-karakteristik yang telah dibahas sebelumnya, tetapi juga dimensi

Perpustakaan tidak lagi sekadar dilihat dari besarnya gedung atau banyaknya rak buku, tetapi lebih pada bagaimana mampu menyajikan informasi secara tepat dan cepat,