43 SUARA MUHAMMADIYAH 06 / 96 | 16 - 31 MARET 2011
K A L A M
M
anusiaterdiri dari berbagai macam ras, suku, dan bangsa. Warna kulit dan bahasa mereka pun beragam. Demikian pula agama yang mereka peluk berbeda satu sama lain. Jadi, mereka hidup dalam kemajemukan, keanekaragaman. Kemajemukan ini selain merupakan kekuasaan Allah, juga menjadikan kehidupan mereka dinamis. Karena ada kompetisi dari masing-masing yang ada di dalamnya untuk berbuat yang terbaik. Apabila tidak ada kemajemukan, maka dalam masyarakat tidak ada saling dorong. Tidak ada kompetisi untuk mewujudkan kebaikan, kemajuan, peningkatan, dan pembaharuan.Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dalam ras, suku, dan agama Bangsa ini memiliki semboyan, sebagai konsensus bersama, “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan yang bermakna beranekaragam. Tetapi tetap satu tersebut merupakan salah satu pilar penting yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia untuk mempertahankan NKRI. Bangsa Indonesia akan tetap kuat dan jaya, apabila kita sebagai warganegara senantiasa melaksanakan dan mengembangkan sikap tasamuh, toleransi, dan saling menghormati. Dari lubuk hati paling dalam, terus terang, kita melahirkan rasa prihatin, Karena akhir-akhir ini persatuan dan kesatuan bangsa kita terasa terganggu. Sungguh terasa ada kurang keserasian hubungan di kalangan internal umat beragama, ada ketegangan antar umat beragama, dan keterusikan hubungan umat beragama dengan Pemerintah. Kita prihatin melihat perilaku dan perbuatan kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama, perusakan masjid serta gereja, dan sebagainya. Terhadap semua itu, masyara-kat memandang Pemerintah seperti membiarkan, tak cepat melakukan antisipasi, serta tidak ada ketegasan dalam bersikap dan bertindak. Hal itu semoga menyadarkan semua pihak untuk segera melakukan introspeksi, evaluasi, dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak berulang di masa depan.
Kemajemukan, sebagai sebuah kenyataan terutama di Indonesia, semestinya kita terima dan rasakan sebagai kenikmatan. Bukan sebaliknya, malah menjadi pintu bagi terbukanya perpecahan dan perceraiberaian.. Sebagai anugerah dan karunia Allah, maka kemajemukan harus kita syukuri. Syukur mengandung makna menggunakan anugerah Allah sesuai tujuan penganugerahannya. Di antaranya untuk membangun kerukunan. Dalam kemajemukan dan kerukunan, meskipun berbeda agama, antarumat beragama hendaklah saling tasamuh, toleransi, menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing, serta hidup berdampingan secara damai. Untuk terciptanya kerukunan internal umat beragama dan antar umat beragama, kita perlu melakukan dan atau memiliki sikap beberapa hal sebagai berikut :
1. Kejujuran. Kita sepakat bahwa kerukunan itu penting. Kerukunan, ibarat sebuah bangunan, harus didirikan atas kejujuran. Sehingga menjadi rumah tempat tinggal yang kokoh kuat. Tetap tegak tegar berdiri, tidak gampang roboh meski dilanda badai. Semua penghuni yang berada di dalamnya
merasa nyaman, tenteram, dan aman. Tidak demikian halnya, kerukunan yang dibangun bukan di atas kejujuran. Jangankan dilanda badai, baru terkena tiupan angin yang sumilir saja sudah cukup menjadikannya goyah dan roboh. Sehingga penghuninya menderita.
2. Kasih sayang. Semua agama mendidikkan kasih sayang kepada para pemeluknya dan sesama. Beda agama tidak boleh menjadi penyebab untuk meninggalkan sikap kasih sayang dan menggantinya dengan kekerasan. Kasih sayang menimbulkan rasa kedekatan, ketenangan, dan ketenteraman. Sebaliknya, kekerasan mengakibatkan perpecahan, kerugian, kesusahan, kesengsaraan, dan terganggunya komunikasi hubungan bahkan bisa menjadi terputus sama sekali.
3. Bersangka baik. Menyadari kenyataan bahwa kita hidup dalam kemajemukan dan mendambakan kelestarian kerukunan. Meskipun berbeda agama antara satu dengan lainnya, kita harus bersangka baik atau husnudzan. Bukan sebaliknya, saling
bersangka buruk atau suudzan. Dengan bersangka baik yang
dilandasi kejujuran dan keterbukaan, maka ketika menghadapi persoalan kita akan mudah mengurai dan memecahkannya. Sebab, semua berkecenderungan mempermudah dan memperingan, bukan mempersulit dan memperberat persoalan. sehingga cepat dicarikan solusinya.
4. Dialog konstruktif. Dialog konstruktif i adalah pertukaran pikiran dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih dari kalangan para pemuka internal umat beragama dan atau antar umat beragama untuk saling memahami ajaran agama dan aliran paham masing-masing di samping untuk memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Dialog konstruktif sama sekali bukan bertujuan untuk melebur, melenyapkan, dan menegasikan pihak lain. Dalam dialog konstruktif ini bukan bermaksud untuk saling mencela dan melukai perasaan mitra dialog.
5. Bekerjasama. Dalam kemajemukan diakui adanya perbedaan. Perbedaan agama dan aliran paham agama antara satu sama lain dihadapi dan ditanggapi secara wajar. Tidak secara emosional. Meski berbeda keyakinan dan pendapat, tetapi tetap dapat menjaga diri. Sebab, tiap agama menuntunkan kerukunan kepada umatnya masing-masing. Seperti Islam menuntunkan kepada kita, sebagai umatnya, dalam menjaga hubungan dengan umat beragama lain, “Lakum dinukum waliyadin” – “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Al-Kafirun [109] : 6). Ya, kita dalam kemajemukan ini, memang, setuju dalam perbedaan Namun, bagaimana pun, baik internal umat beragama maupun antarumat beragama mutlak harus bekerjasama dan sama-sama bekerja untuk kebajikan. Muhammadiyah hendaklah dapat mengambil peran sebagai motivator, pendorong terwujudnya kerukunan yang hakiki. Sehingga terbuka secara luas bagi bangsa ini melakukan pembangunan menuju kemajuan dan perkembangan positif terus-menerus.l
M MUCHLAS ABROR