DAMPAK
TRADE FACILITATION
TERHADAP ARUS
PERDAGANGAN SEKTOR MANUFAKTUR
DI KAWASAN ASEAN+6
DIAN PERTIWI WARDANI
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Dampak Trade Facilitation terhadap Arus Perdagangan Sektor Manufaktur di Kawasan ASEAN+6 adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2014
Dian Pertiwi Wardani
ABSTRAK
DIAN PERTIWI WARDANI. Dampak Trade Facilitation Terhadap Arus Perdagangan Sektor Manufaktur di Kawasan ASEAN+6. Dibimbing oleh TANTI NOVIANTI.
Trade Facilitation merupakan salah satu mekanisme untuk mendukung kelancaran arus perdagangan sehingga dapat meningkatkan volume perdagangan antar negara anggota ASEAN dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015. Dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan variabel trade facilitation terhadap arus perdagangan sektor manufaktur di ASEAN+6. Metode Revealed Comparative Advantage (RCA) digunakan untuk menganalisis keunggulan komparatif sektor manufaktur di ASEAN+6. Cina merupakan negara yang memiliki daya saing ekspor manufaktur tertinggi, sedangkan Australia merupakan negara yang memiliki daya saing ekspor manufaktur yang paling rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN+6 lainnya pada tahun 2007 hingga 2012. Sedangkan model gravitasi data panel digunakan untuk mengestimasi hubungan variabel trade facilitation terhadap arus perdagangan sektor manufaktur di ASEAN+6. Hasil pengolahan data dan analisis menunjukkan bahwa arus perdagangan sektor manufaktur ASEAN+6 dipengaruhi signifikan oleh variabel GDP per kapita negara pengekspor, GDP per kapita negara pengimpor, kurs, jarak ekonomi, port efficiency, custom environment ,
regulatory environment dan dummy krisis.
Kata kunci: ASEAN+6, manufaktur, model gravitasi, RCA, trade facilitation
ABSTRACT
DIAN PERTIWI WARDANI. The Impact of Trade Facilitation to Trading Flow on Manufactured Sector in ASEAN+6. Supervised by TANTI NOVIANTI.
Trade Facilitation is one of the mechanisms to support the trading flows, so the volume of trade between ASEAN member countries in the ASEAN Economic Community (AEC) will increase in 2015.This study analysis the impact of trade facilitation to trading flow on manufactured sector in ASEAN+6. A Revealed Comparative Advantage (RCA) method is used to estimate the performance of comparative advantage on manufactured sector in ASEAN+6. China is the country that has the highest competitiveness on exporting manufacture, while Australia is the country that has the lowest competitiveness on exporting manufacture compared to other countries in ASEAN+6, in 2007 to 2012. Meanwhile, gravity panel data model is used to estimate the impact of trade facilitation to trading flow on manufactured sector in ASEAN+6, in 2007 to 2012. The results of the estimation and the analysis shows that the trading flow on manufactured sektor in ASEAN+6 is significantly influenced by these variables: GDP per capita of the exporting country, the GDP per capita of the importing country, exchange rate , economic distance, port efficiency, customs environment, regulatory environmentand the dummy crisis.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Ilmu Ekonomi
DAMPAK
TRADE FACILITATION
TERHADAP ARUS
PERDAGANGAN SEKTOR MANUFAKTUR
DI KAWASAN ASEAN+6
DIAN PERTIWI WARDANI
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Dampak Trade Facilitation Terhadap Arus Perdagangan Sektor Manufaktur di Kawasan ASEAN+6
Nama : Dian Pertiwi Wardani NIM : H14100051
Disetujui oleh
Dr. Tanti Novianti, S.P, M.Si Pembimbing I
Diketahui oleh
Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2014 ini ialah perdagangan, dengan judul Dampak Trade Facilitation Terhadap Arus Perdagangan Sektor Manufaktur di Kawasan ASEAN+6.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Tanti Novianti, S.P, M.Si selaku dosen pembimbing, Dr. Lukytawati Anggraeni selaku dosen penguji utama dan Deni Lubis, MA selaku dosen komisi pendidikan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah dan ibu penulis yang telah mendidik, membesarkan, dan selalu mendoakan setiap saat dengan cinta dan kasih sayang, serta Kak Suci, Kak Wulan, Ashlyn dan Vian atas bantuan, keceriaan dan semangat yang menyertai ketika lelah mengerjakan skripsi. Selain itu, ucapan terima kasih kepada teman-teman Ilmu Ekonomi 47, sahabat DNA HIPOTESA, teman-teman sebimbingan (Laura, Rahayu, Ramos dan Pangrio), dan sahabat SMA. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Tika, Arti, Cika, Uke, Heni, Fida, Pupu, Amel, Erlangga, Alfin, Fazri, Dwiki serta seluruh teman-teman JYJ dan DBSK atas dukungan dan bantuan selama menjalankankan penelitian ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Juni 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN x
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian 7
Manfaat Penelitian 7
Ruang Lingkup Penelitian 7
TINJAUAN PUSTAKA 8
Teori Perdagangan Internasional 8
Teori Daya Saing 10
Trade Facilitation 11
Strategi Pembangunan Perdagangan 12
Faktor-Faktor Penentu Arus Perdagangan 13
Konsep Revealed Comparative Advantage (RCA) 16
Gravity Model dan Metode Regresi Data Panel 17
Tinjauan Penelitian Terdahulu 19
Kerangka Pemikiran 20
METODE 22
Jenis dan Sumber Data 22
Metode Analisis 22
Perhitungan Indeks Indikator Trade Facilitation 23 Analisis RCA (Revealed Comparative Advantage) 23
Analisis Regresi Data Panel 24
Definisi Operasional 29
HASIL DAN PEMBAHASAN 29
Gambaran Umum Trade Facilitation di Negara-negara Kawasan ASEAN+6 29 Daya Saing Sektor Manufaktur di Negara-negara Kawasan ASEAN+6 34 Dampak Trade Facilitation terhadap Arus Perdagangan di Negara-negara
SIMPULAN DAN SARAN 43
Simpulan 43
Saran 44
DAFTAR PUSTAKA 45
LAMPIRAN 48
DAFTAR TABEL
1 Nilai ekspor dan nilai impor di Negara-negara ASEAN+6 tahun 2007
dan 2012 2
2 Kontribusi ekspor sektor manufaktur terhadap ekspor non-migas di negara-negara ASEAN+6 pada tahun 2007 hingga 2012 (persen) 4 3 Perkembangan ekspor sektor manufaktur di Negara-negara ASEAN+6
tahun 2007-2012 (juta US$) 4
4 Jenis dan sumber data dalam penelitian 22
5 Selang nilai statistik DW dan keputusannya 27 6 Indeks port efficiency di negara-negara kawasan ASEAN+6 pada
tahun 2007-2012 30
7 Indeks custom environment di negara-negara kawasan ASEAN+6
pada tahun 2007-2012 31
8 Indeks regulatory environment di negara-negara kawasan ASEAN+6
pada tahun 2007-2012 32
9 Indeks e-business di negara-negara kawasan ASEAN+6 pada tahun
2007-2012 34
10 Hasil RCA sektor manufaktur ASEAN+6 pada tahun 2007-2012 38 11 Uji model terbaik (pooled least square, fixed effect model dan random
effect model) 38
12 Hasil estimasi koefisien parameter sektor manufaktur model FEM
dengan GLS weighted 40
DAFTAR GAMBAR
1 Kurva perdagangan internasional dan setelah ada trade facilitation 9
2 Kerangka pemikiran 21
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil estimasi pooled least square (PLS) sektor manufaktur dengan
menggunakan program Eviews 6 48
2 Hasil estimasi fixed effect model (FEM) sektor manufaktur dengan
menggunakan program Eviews 6 49
3 Hasil estimasi random effect model (REM) sektor manufaktur dengan
menggunakanprogram Eviews 6 50
4 Hasil uji Chow sektor manufaktur 51
5 Hasil uji Hausman sektor manufaktur 52
6 Hasil estimasi fixed effect model (FEM) dengan GLS weighted sektor
manufaktur dengan program Eviews 6 53
7 Korelasi antar variabel 54
PENDAHULUAN
Latar Belakang
ASEAN (Association of South East Asian Nation) merupakan kerja sama regional yang bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di kawasan Asia Tenggara, melalui percepatan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan budaya dengan tetap memperhatikan kesetaraan dan kemitraan, sehingga menjadi landasan terciptanya perdamaian dan kesejahteraan. Negara di kawasan Asia Tenggara yang termasuk dalam ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Rencana jangka panjang pembentukan komunitas ASEAN ini terdiri dari tiga pilar, yaitu ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Security Community (ASC), dan ASEAN Socio-cultural Community (ASCC). Ketiga pilar tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling memperkuat tujuan pencapaian perdamaian yang berkelanjutan, menjaga stabilitas serta pemerataan kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara.
Integrasi ekonomi di berbagai kawasan di dunia, mampu memberikan manfaat ekonomi baik bagi pelaku ekonomi maupun perekonomian kawasan. Proses integrasi ekonomi akan mendorong peningkatan kompetisi aktual dan potensial dari negara anggota maupun negara non-anggota, selain itu juga dapat menstimulasi arus perdagangan intra-regional. Menurut Salvatore (1997), perdagangan bebas akan memaksimalkan output dunia dan keuntungan bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Sementara Stephenson (1994) mengidentifikasikan bahwa liberalisasi perdagangan akan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya domestik dan meningkatkan akses pasar ke negara lain. Dengan demikian suatu negara akan berusaha membuka dirinya terhadap perdagangan dengan negara lainnya.
Integrasi ekonomi ASEAN+6 atau Comprehensive Economic Partnership for East ASIA (CEPEA) yang mencakup kerjasama ekonomi dengan enam negara Asia lain yakni Jepang, Korea Selatan, Cina, India, Australia dan New Zealand, sangat mendukung kesiapan ASEAN dalam menghadapi AEC 2015. Tujuan CEPEA adalah untuk meningkatkan integrasi ekonomi di Negara ASEAN+6 dan memperkecil gap pembangunan di antara negara-negara tersebut guna mencapai pembangunan yang berkesinambungan. Adanya mitra kerjasama dengan enam negara yang perekonomiannya cukup berpengaruh terhadap perekonomian ASEAN, diharapkan dapat menjadikan ASEAN Economic Community menjadi
single market yang lebih besar, mengingat bahwa populasi CEPEA besarnya 49,6 persen dari populasi dunia dan tujuh kali lebih besar dari populasi EU (CEPEA Report 2008).
2
kemudian meningkat menjadi US$ 326,718 jutapada tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan pada kinerja perekonomian pada negara-negara ASEAN+6, seperti yang terdapat pada Tabel 1. Tabel 1 Nilai ekspor dan nilai impor di Negara-negara ASEAN+6 tahun 2007 dan
2012
Negara Ekspor (Juta US$) Impor (Juta US$)
2007 2012 2007 2012
China 1,220,059 2,048,782 956,115 1,818,199
Jepang 714,327 798,567 622,243 885,843
Korea Rep. 371,477 547,854 356,841 519,575
Australia 139,122 256,242 155,656 250,464
New Zeland 26,931 37,305 30,890 38,242
India 145,898 289,565 218,645 488,976
Indonesia 114,101 190,032 74,473 191,691
Singapura 299,297 408,393 263,154 379,722
Malaysia 175,961 227,449 146,104 196,196
Thailand 153,571 229,544 143,761 247,576
Vietnam 48,561 114,529 62,765 113,780
Kamboja 3,531 7,838 3,554 7,062
Laos 1,163 3,210 1,886 5,806
Myanmar 8,510 15,429
Filipina 50,466 51,995 57,995 65,349
Brunei Darussalam 13,001 3,572
ASEAN+6 247,462 327,051 221,006 326,718
Sumber: World Development Indicators 2012
ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu dari tiga pilar konsep ASEAN Integration yang disetujui oleh sepuluh kepala negara yang mewakili sepuluh negara anggota ASEAN dalam Declaration of ASEAN
3 Langkah untuk memperkuat kerangka kerja AEC kembali bergulir di 2006 dengan adanya formulasi blue print atau cetak biru yang berisi target dan waktu pencapaian AEC dengan jelas. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan kepentingan ASEAN untuk menghadapi tantangan daya saing global, diputuskan untuk mempercepat pembentukan MEA dari 2020 menjadi 2015 (12th ASEAN
Summit, Januari 2007), dengan partisipasi sepuluh anggota ASEAN serta enam negara Asia lainnya yaitu Cina, Jepang, Korea, India, Australia dan Selandia Baru (ASEAN+6). Kelompok yang lebih luas ini berfokus pada isu-isu umum untuk peserta yang lebih luas, seperti masalah energi dan lingkungan.
Terdapat kemungkinan bahwa ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015 akan menjadi pusat dari kerjasama ekonomi Asia Timur. Dimana inti dari kerjasama Asia Timur terletak di ASEAN sebagai "kekuatan pendorong”, ASEAN +3 sebagai "kendaraan utama" untuk realisasi akhir komunitas ekonomi Asia Timur, dan East Asia Summit (EAS) sebagai "bagian integral dari kawasan berkembang secara keseluruhan". Jepang menganggap bahwa ASEAN +6 adalah kelompok yang sesuai untuk perdagangan dan investasi kerjasama Asia Timur.
Dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) yang akan diberlakukan tahun 2015, beberapa negara di ASEAN semakin mengoptimalkan ekspor non-migas. Hal ini dilakukan karena ekspor migas yang terus mengalami penurunan sejak tahun 1990-an. Menurunnya ekspor migas tersebut, menyebabkan negara-negara di ASEAN menetapkan kebijakan untuk meningkatkan ekspor non-migas. Hal ini dimaksudkan guna peningkatan penerimaan devisa negara, penyerapan tenaga kerja maupun penerimaan pajak.
Dalam periode 1980-2000, kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang disebut sebagai mesin pertumbuhan bagi peningkatan peran negara berkembang dalam pengembangan industri manufaktur (world bank, 2012). Hal ini dapat berdampak pada integrasi ASEAN+6 yang sebagian anggotanya yaitu Cina, Jepang dan Korea Selatan merupakan negara-negara pengekspor manufaktur terbesar, sehingga dapat memacu negara-negara di kawasan ASEAN untuk meningkatkan dayasaing manufakturnya.
4
Tabel 2 Kontribusi ekspor sektor manufaktur terhadap ekspor non-migas di negara-negara ASEAN+6 pada tahun 2007 hingga 2012 (persen)
Negara 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Rata-rata
Perkembangan perekonomian yang terus membaik pada tahun 2007 hingga 2012 menyebabkan ekspor di negara-negara ASEAN+6 juga mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut juga terjadi pada ekspor sektor manufaktur di negara-negara ASEAN+6. Ekspor sektor manufaktur di negara-negara ASEAN+6 pada tahun 2007 hingga 2012, rata-rata ekspor tertinggi terjadi di China, dengan setiap tahunnya terjadi ekspor sebesar 1232985.38 juta US$. Sedangkan rata-rata ekspor terendah terjadi di New Zealand, dengan rata-rata ekspor sebesar 6771.77 juta US$ pertahun. Rata-rata ekspor terbesar di negara-negara ASEAN+6 dikuasai mitra ASEAN yaitu China, Jepang dan Korea Selatan seperti yang disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Perkembangan ekspor sektor manufaktur di Negara-negara ASEAN+6 tahun 2007-2012 (juta US$)
Negara 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Rata-rata Australia 31734.77 35163.89 27223.97 32216.51 37188.00 37400.83 33449.33 Cina 1135582.72 1330388.05 1124429.52 1476007.90 1771185.18 1924509.17 1232985.38 Indonesia 48685.08 52855.24 46903.23 58722.48 68756.26 68021.72 50770.16 India 93667.32 114174.07 117976.39 140471.52 187324.24 187481.70 103920.70 Jepang 640259.50 692576.09 507283.56 679372.72 724408.77 708881.33 666417.80 Korea Selatan 330768.60 365627.26 323154.95 412266.41 474398.11 463494.46 348197.93 Malaysia 124748.60 107642.47 109442.77 133266.31 140879.40 140058.92 116195.54 New Zealand 6641.96 6901.58 5287.32 6084.44 7107.70 7245.55 6771.77 Filipina 42853.77 40551.15 32847.08 29085.50 27936.64 42561.62 41702.46 Singapura 227500.25 237056.13 198159.81 254427.82 279989.87 283156.64 232278.19 Thailand 116811.55 127484.79 109565.74 142219.19 160373.66 164384.74 12148.17 Vietnam 26605.53 34385.10 33812.14 46680.32 62924.53 79380.33 30495.31 Rata-rata 235488.30 262067.15 219673.87 284235.09 328539.36 342214.75
Sumber: COMTRADE 2012
5 manufaktur juga terkena imbas krisis finansial global pada awal tahun 2008, bahkan krisis lebih terasa pada sektor manufaktur karena memberi tekanan ekonomi pada hampir semua negara di kawasan ASEAN+6.
Trade facilitation merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara dan termasuk dalam agenda nasional seperti kesejahteraan sosial, penurunan kemiskinan dan pembangunan ekonomi suatu negara dan masyarakatnya, serta memiliki pengaruh yang signifikan pada daya saing ekonomi suatu negara dan dalam pertumbuhan perdagangan internasional dan pembangunan pasar global. Kebijakan trade facilitation lebih menitikberatkan kepada kemudahan dalam prosedur perdagangan seperti kerjasama dalam melakukan penyeragaman sistem pada kode barang (harmonized system),
kesepatan dalam aturan asal barang (rule of origin), national single windows, modernisasi infrastruktur dan administrasi kepabeanan dan manifest kargo pada pelabuhan. Dengan adanya trade facilitation diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan antar negara anggota ASEAN dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015.
Trade facilitation muncul sebagai isu penting dalam ASEAN Economic Community (AEC). Sebagian besar negara-negara melakukan perubahan luar biasa yang ditujukan pada penurunan biaya transaksi perdagangan. Akan tetapi tidak semua negara menempatkan trade facilitation tersebut dalam memulai perbaikan. Beberapa negara membutuhkan dukungan ekstra untuk memudahkan perdagangan karena mereka kekurangan sumber daya manusia dan sumber daya finansial. Dengan adanya trade facilitation ini akan memudahkan aliran perdagangan antar negara-negara yang melakukan perdagangan, sehingga diharapkan dengan adanya
trade facilitation ini perdagangan akan menjadi lebih efisien dan aliran perdagangan menjadi semakin meningkat.
Perumusan Masalah
Kesiapan dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015 dinilai belum memadai. Dalam menghadapi AEC 2015, beberapa negara di ASEAN semakin mengoptimalkan ekspor non migas. Kontribusi ekspor manufaktur terhadap ekspor non-migas di negara-negara kawasan ASEAN cenderung tinggi, yaitu diatas 50 persen. Namun kontribusi ekspor sektor manufaktur terhadap ekspor non-migas di negara-negara ASEAN+6 pada tahun 2007 hingga 2012 mengalami fluktuasi. Hal tersebut disebabkan oleh masalah logistik dan trade facilitation yang masih jauh dari kapasitasnya untuk mendorong kesiapan negara-negara di ASEAN+6 dalam menghadapi AEC.
Beberapa tahun belakangan ini, trade facilitation menjadi isu penting dalam perdagangan internasional. Dalam konfrensi Menteri Perdagangan di Doha tahun 1998 dihasilkan kesepakatan yaitu: “WTO akan meningkatkan aspek yang relevan dan mengidentifikasi kebutuhan trade facilitation yang diprioritaskan kepada anggotanya, khususnya negara-negara berkembang dan negara maju.
6
mengenai perdagangan. Permasalahan kemacetan (congestion) pergerakan barang di pelabuhan juga mencakup kelangkaan fasilitas pelabuhan, regulasi dan sumber daya manusia. Hal ini berkaitan dengan clearence time untuk ekspor yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan mulai barang masuk pelabuhan untuk muat sampai barang berangkat dari pelabuhan, serta clearence time untuk impor yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan mulai kapal sandar untuk bongkar barang sampai barang keluar dari pelabuhan.
Permasalahan clearence time di sebagian besar negara-negara ASEAN+6 masih tergolong tinggi sehingga mempengaruhi daya saing produk ekspor dan impor Negara tersebut. Tingginya clearence time pada negara-negara ASEAN+6 yang sebagian besar adalah negara sedang berkembang menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan negara ASEAN+6 yang sudah maju seperti Singapura, Cina, Jepang dan Korea Selatan, dimana rata-rata clearence time untuk ekspor tahun 2008 sampai 2012 pada negara-negara ASEAN+6 yang tergolong negara berkembang berada diatas 14 hari sementara negara-negara ASEAN+6 yang tergolong maju berada dibawah 10 hari. Sedangkan pada rata-rata clearence time
untuk impor pada negara-negara ASEAN+6 yang tergolong sedang berkembang berada diatas 13 hari dan untuk negara-negara ASEAN+6 yang sudah maju berkisar dibawah 11 hari. Oleh karena itu, perbaikan sistem serta infrastruktur perlu dipercepat untuk meningkatkan daya saing produk industri nasional dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015. Menurut TSA
(Transpacific Stabilization Agreement 2007), adanya peningkatan kemacetan di pelabuhan Asia disebakan adanya booming perdagangan intra-Asia dan Asia-Eropa.
Perkembangan teknologi informasi saat ini sudah berkembang dengan pesat dan memberikan dampak yang positif untuk masyarakat luas. Salah satu konsep yang dinilai sebagai paradigma baru dalam berbisnis adalah e-busines. E-business mengacu kepada definisi e-commerse yang lebih luas, bukan hanya pembelian dan penjualan barang dan jasa tetapi, juga melayani pelanggan, berkolaborasi dengan mitra bisnis, mengadakan e-learning, dan melakukan transaksi elektronik dalam suatu organisasi. Sebagian yang lain memandang e-business sebagai aktifitas “apapun selain pembelian dan penjualan” di internet,
misalnya kolaborasi dan aktivitas intrabisnis. Namun, sistem keamanan e-business lebih beresiko dibandingkan bisnis tradisional, oleh karena itu sangat penting untuk melindungi sistem keamanan e-business dari resiko-resiko yang ada. Selain itu, jumlah orang yang dapat mengakses e-business melalui internet jauh lebih besar dibanding yang mengakses bisnis tradisional. Pelanggan, pemasok, karyawan, dan pengguna lain banyak menggunakan sistem e-business
tertentu setiap hari dan mengharapkan rahasia dari informasi mereka tetap aman.
7 Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi umum trade facilitation di negara-negara kawasan ASEAN+6, dalam rangka menuju ASEAN Economic Community (AEC)
2015?
2. Bagaimana daya saing ekspor sektor manufaktur di negara-negara kawasan ASEAN+6?
3. Bagaimana dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral di negara-negara kawasan ASEAN+6 pada sektor manufaktur?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan kondisi umum trade facilitation di negara-negara kawasan ASEAN+6, dalam rangka menuju ASEAN Economic Community (AEC) 2015. 2. Menganalisis daya saing sektor manufaktur di negara-negara kawasan
ASEAN+6.
3. Menganalis dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral di negara-negara kawasan ASEAN+6 pada sektor manufaktur.
Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran umum trade facilitation dan dampaknya terhadap perdagangan bilateral sektor manufaktur di negara-negara kawasan ASEAN+6.
2. Menambah pengetahuan dan memperluas wawasan tentang trade facilitation
bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
3. Sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam orientasi perdagangan internasional.
4. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan pada masa yang akan datang.
Ruang Lingkup Penelitian
8
COMTRADE), yang didefinisikan sebagai komoditas dalam kategori 5 sampai 8 di SITC 1 digit industri dan tidak termasuk kategori 68 (non-ferrous logam).
TINJAUAN PUSTAKA
Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional dapat didefinisikan sebagai perdagangan antar atau lintas negara, yang mencakup ekspor dan impor. Menurut Halwani (2005), sebab-sebab yang mendorong perdagangan internasional adalah perbedaan potensi sumber daya alam (natural resources), sumber daya modal (capital resources), sumber daya manusia (human capital) dan kemajuan teknologi antarnegara. Sejumlah keunggulan khusus yang dimiliki oleh masing-masing negara akan dijadikan basis dalam meningkatkan perdagangan yang saling menguntungkan. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya perdagangan interrnasional yaitu, terwujudnya suatu kemakmuran bagi masyarakat (faktor pendorong utama), untuk memenuhi kebutuhan (barang/jasa) yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri maupun melalui kegiatan impor, untuk menyebarluaskan dan mengembangkan penggunaan teknologi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi, memperoleh dan mengembangkan penggunaan teknologi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi dan untuk memperoleh manfaat yang ditimbulkan dengan adanya spesialisasi perdagangan. Sedangkan manfaat dari adanya perdagangan internasional adalah untuk meningkatkan pendapatan Negara, hal ini ditujukan dengan semakin bertambahnya penerimaan devisa umum, yaitu devisa yang diperoleh dari hasil ekspor (manfaat utama), dapat mencukupi kebutuhan barang/jasa yang tidak dapat tau belum mampu diproduksi di dalam negeri, memperlancar kegiatan ekspor dan membantu impor barang-barang yang dibutuhkan industri dalam negeri, meningkatkan industri dalam negeri, meningkatkan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan/perkembangan dunia usaha serta mendorong adanya hubungan ekonomi secara timbal balik.
Dalam teori (factor-proportion theory) Eli Hecksher dan Bertil Ohlin menjelaskan adanya saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antarnegara dan perbedaan proporsi dalam penggunaannya untuk memroduksi berbagai macam barang. Teorema Hecksher-Ohlin (H-O theorem)
menyatakan bahwa sebuah negara akan mengekspor komoditas yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu yang bersamaan mengimpor komoditas yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara tersebut. Kemudian, Paul Samuelson menelaah sebuah teorema mengenai penyamaan harga faktor (price factor equalization theorem) yang merupakan kelanjutan dari teorema Hecksher-Ohlin. Teorema tersebut (H-O-S theorem)
9 demikian pula terjadi pada tingkat hasil (bunga modal), yakni risiko dan produktivitas modal relatif sama, di negara-negara yang terlibat dalam perdagangan (Salvatore 1997).
Integrasi ekonomi regional melalui pembentukan blok perdagangan bebas memiliki implikasi terhadap kesejahteraan negara-negara anggota, yaitu: efek positif berupa kreasi perdagangan (trade creation) dan efek negatif karena diversi perdagangan (trade diversion). Perubahan tingkat kesejahteraan tersebut ditentukan oleh seberapa besar terjadinya kreasi dan diversi perdagangan. Apabila kreasi lebih besar dari diversi perdagangan, maka kesejahteraan meningkat dan sebaliknya (Krugman & Obstfeld 2000).
Secara teoritis, suatu negara A akan mengekspor suatu komoditi Z ke negara lain, misal negara B apabila harga domestik negara A (sebelum terjadinya perdagangan internasional) relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan harga domestik negara B (Gambar 1). Stuktur harga yang terjadi di negara A lebih rendah karena produksi domestiknya lebih besar daripada konsumsi domestiknya sehingga di negara A terjadi excess supply (kelebihan produksi). Dengan demikian, negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. Dilain pihak, di negara B terjadi kekurangan supply karena konsumsi domestiknya lebih besar daripada produksi domestiknya (excess demand) sehingga harga yang terjadi di negara B lebih tinggi. Jika negara B berkeinginan untuk membeli komoditi Z dari negara lain yang relatif lebih murah. Kemudian terjadi komunikasi antara negara A dan negara B, maka akan terjadi perdagangan antar keduanya dengah harga yang diterima oleh kedua negara adalah sama.
Gambar 1 memperlihatkan sebelum terjadinya perdagangan internasional harga di negara A sebesar PA, sedangkan di negara B sebesar PB. Penawaran pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih tinggi dari PA sedangkan permintaan di pasar internasional akan jika harga internasional lebih rendah dari PB. Pada saat harga internasional (P*) sama dengan PA maka negara B akan terjadi
excess demand (ED) sebesar B. Jika harga internasional sama dengan PB maka di negara A akan terjadi excess supply (ES) sebesar A. Dari A dan B akan terbentuk kurva ES dan ED akan menentukan harga yang terjadi di pasar internasional sebesar P*. Dengan adanya perdagangan tersebut, maka negara A akan mengekspor komoditi Z sebesar X sedangkan negara B akan mengimpor komoditi Z sebesar M, dimana di pasar internasional sebesar Q*
Sumber: Salvatore (1997)
10
Kemudian, secara teoritis trade facilitation sebagai bagian dari kebijakan perdagangan internasional yang bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi perdagangan, meningkatkan daya saing dan meningkatkan efisiensi perdagangan akan berimplikasi kepada meningkatnya kemakmuran suatu negara. Secara teoritis pengaruh trade facilitation terhadap perdagangan internasional diperlihatkan oleh Gambar 1. Di negara eksportir (negara A), trade facilitation akan menyebabkan
supply suatu negara akan semakin meningkat (SA2) dari sebelumnya (SA) dengan harga yang relatif tetap, hal ini dikarenakan pergerakan arus barang ekspor yang semakin baik. Sedangkan di negara importir, penentuan kebijakan trade facilitation yang tepat akan menyebabkan membaiknya arus barang impor sehingga membuat demand suatu negara akan meningkat (DB2) dengan harga yang relatif tetap atau dapat lebih rendah dari sebelumnya.
Peningkatan supply di negara pengekspor dan demand di negara pengimpor yang saling berdagang akan menyebabkan terbentuknya kurva ES dan ED yang baru yaitu ES2 dan ED2 dengan harga yang terjadi di pasar internasional relatif sama atau bahkan lebih rendah dengan harga sebelumnya. Dengan adanya perdagangan tersebut, maka negara A akan mengekspor komoditi Z yang lebih besar dari sebelumnya yaitu sebesar X2 sedangkan negara B akan mengimpor komoditi Z yang juga lebih besar yakni sebesar M2. Peningkatan arus barang dalam perdagangan menunjukkan peningkatan kemakmuran baik dari negara pengekspor maupun dari negara pengimpor yang saling berdagang.
Peningkatan kurva supply di negara pengekspor (negara A) dan peningkatan kurva demand di negara pengimpor (negara B) akibat peningkatan
trade facilitation tergantung dari elastisitas kurva supply dan demand di masing-masing negara. Peningkatan trade facilitation terhadap kurva supply yang lebih elastis di negara pengekspor akan meningkatkan ekspor yang lebih besar. Sedangkan peningkatan trade facilitation terhadap kurva demand yang lebih elastis di negara pengimpor akan meningkatkan impor yang lebih besar. A2) dari sebelumnya (SA) dengan harga yang relatif tetap, hal ini dikarenakan pergerakan arus barang ekspor yang semakin baik.
Dari sisi negara pengekspor peningkatan dalam kebijakan trade facilitation, dilihat dari sisi negara pengekspor akan meningkatkan penawarandengan harga suatu komoditi yang sama bahkan lebih murah sehingga akan meningkatkan surplus perdagangan. Dari sisi negara pengimpor, peningkatan
trade facilitation akan meningkatkan permintaan barang impor disebabkan harga barang yang lebih murah, di sisi lain peningkatan permintaan impor akan memotivasi para produsen di suatu negara untuk lebih efisien untuk meningkatkan daya saing produknya.
Teori Daya Saing
11 suatu negara akan memperoleh keunggulan dalam daya saing jika perusahaan kompetitif dan mampu meningkatkan kemampuannya serta melakukan inovasi dalam industri perdagangan. Daya saing bersifat dinamis dan berfluktuasi dari waktu ke waktu yang tergantung pada perubahan dari perilaku dasar permintaan, tingkat kompetisi, dan kemampuan dasar yang dimiliki oleh industri di suatu negara.
Faktor biaya sangatlah berhubungan dengan daya saing, dimana jika suatu negara dapat memasarkan produk unggulannnya dengan biaya input yang rendah, harga yang rendah dan memiliki kualitas barang yang baik, maka negara tersebut dapat memenangkan kompetisi di pasar global. Selain itu daya saing juga sangat berhubungan erat dengan teknologi, jika suatu industri mampu memiliki teknologi yang canggih maka akan memiliki pertumbuhan dan prospek dagang yang baik. Kemudian jika sektor industri tersebut memiliki insentif terhadap teknologi akan memberikan nilai tambah yang lebih pada produk yang akan dihasilkannya. Adanya teknologi juga akan membuat hambatan masuk yang lebih tinggi bagi pendatang baru.
Konsep daya saing yang memiliki dasar produktifitas, selain menjamin adanya daya saing yang lebih tinggi, juga haruslah berkelanjutan. Daya saing yang berkelanjutan harus dituntut untuk mampu menyeimbangkan seluruh komponen
triple bottom line, yaitu profit, people, danplanet. Ketiga komponen tersebut haruslah berkaitan satu sama lain. Komponen triple bottom line ini bersifat dinamis yang tergantung pada kondisi dan tekanan sosial, politik, ekonomi, dan sosial. Triple bottom line ini merupakan kerangkan kerja untuk meminimalkan kerusakan pada lingkungan dan gangguan pada manusia yang diakibatkan oleh aktivitas industri.
Trade Facilitation
Trade facilitation, menurut definisi yang digunakan oleh WTO adalah penyederhanaan dan harmonisasi dari prosedur perdagangan internasional, termasuk, praktek kegiatan dan formalitas yang terlibat dalam mengumpulkan, presentasi, komunikasi dan pengolahan data dan informasi lainnya yang diperlukan untuk pergerakan barang dalam perdagangan internasional. Dalam pengertian sempit, trade facilitation menunjukkan logistik perpindahan barang-barang melalui pelabuhan atau yang lebih efisien melalui perpindahan dokumentasi yang dihubungkan dengan perdagangan antar negara. Dalam pengertian yang lebih luas definisi trade facilitation mencakup lingkungan dimana didalamnya terdapat transaksi perdagangan, transparansi dan profesionalisme bea cukai dan lingkungan pengaturan sebagaimana harmonisasi dari standarisasi dan dikonversikan terhadap peraturan internasional atau peraturan regional. Perpindahan ini difokuskan pada usaha trade facilitation
12
Dalam menerangkan perluasan definisi trade facilitation, definisi trade facilitation memasukkan secara relatif elemen “batas” yang konkrit seperti
efisiensi pelabuhan dan administrasi bea cukai, dan elemen “di dalam batas” seperti lingkup kebijakan domestik dan infrastruktur yang memungkinkan pelaksanaan e-bisnis (Wilson et al 2003). Dalam arti yang sempit, trade facilitation dapat didefinisikan sebagai rasionalisasi sistematis prosedur dan dokumentasi untuk perdagangan internasional. Dalam arti yang lebih luas, namun mencakup semua langkah-langkah regulasi yang mempengaruhi aliran impor dan ekspor, namun tidak terbatas pada:
a. Pengawasan bea cukai dalam melakukan langkah-langkah untuk memperoleh kepatuhan hukum bea cukai dan regulasi.
b. Peraturan teknis untuk memastikan bahwa barang memenuhi standar wajib ditetapkan dalam hukum dan peraturan nasional.
c. Inspeksi hewan dan produk hewan dan inspeksi fitosanitasi tanaman dan produk tanaman untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit dan melindungi hewan dan kehidupan manusia.
d. Pemeriksaan kualitas kontrol lainnya untuk memastikan bahwa barang tersebut sesuai dengan standar minimum internasional dan standar nasional.
Trade facilitation bertujuan untuk meminimalkan biaya transaksi dan kompleksitas perdagangan internasional, dengan tetap menjaga tingkat efisiensi dan efektifitas dalam kontrol pemerintah. Berdasarkan penelitian Wilson et al pada tahun 2003, didapatkan hasil bahwa keuntungan dari penyederhanaan prosedur perdagangan dapat melebihi keuntungan dari liberalisasi perdagangan (misalnya, pengurangan tarif).
Kemampuan negara-negara untuk mengirimkan barang-barang dan jasa-jasa yang tepat waktu pada kemungkinan biaya terendah adalah faktor kunci dari integrasi ke dalam ekonomi dunia. Dengan penghapusan hambatan perdagangan dan ekspansi dalam volume perdagangan, kebijakan yang menghilangkan hambatan non-tarif dan mempercepat pergerakan barang-barang dan jasa melewati batas wilayah seperti trade facilitation yang mengedepankan agenda perdagangan.
Selain itu, kelebihan dari trade facilitation merupakan masalah yang penting baik negara sedang berkembang dan negara maju karena dapat berkontribusi pada:
a. Pertumbuhan Ekspor b. Meningkatkan Daya Saing
c. Meningkatkan Foreign Direct Investmen (FDI)
d. Meningkatkan jumlah perusahaan ukuran kecil dan menengah dalam perdagangan internasional.
Strategi Pembangunan Perdagangan
Trade facilitation lebih baik dipahami dalam konteks strategi pembangunan perdagangan secara keseluruhan yang tujuannya adalah untuk mengembangkan dan memperluas arus perdagangan yang berkelanjutan untuk mendukung pembangunan ekonomi suatu negara. Berdasarkan publikasi dari
13 empat komponen strategi pembangunan perdagangan yang komprehensif. Empat komponen tersebut antara lain:
1. Trade Facilitation
Trade facilitation memberikan kontribusi terhadap strategi pembangunan perdagangan secara keseluruhan dengan mengoptimalkan penggunaan infrastruktur perdagangan dan melakukan promosi perdagangan dengan meningkatkan citra negara sebagai pusat perdagangan yang efisien. Hal ini juga memfasilitasi pembangunan dan pengelolaan hubungan perdagangan dengan membuat peraturan perdagangan dan prosedur yang lebih transparan dan konsisten dengan standar dan konvensi internasional.
2. Infrastruktur Development
Pembangunan infrastruktur diperlukan untuk memungkinkan penanganan volume perdagangan yang lebih besar dan meningkatkan diversifikasi barang dan jasa yang diperdagangkan. Ini mencakup penyediaan utilitas dasar seperti listrik dan air serta pengembangan pergudangan, transportasi, pengiriman dan infrastruktur teknologi informasi, dan mengatur badan-badan dan sistem administratif terkait.
3. Trade Promotion
Trade Promotion terdiri dari program dan kegiatan untuk mempromosikan dan mengembangkan perdagangan dengan negara lain. Hal ini juga mencakup langkah-langkah yang akan membantu dalam membangun dan meningkatkan partisipasi suatu negara atau perusahaan dalam perdagangan, misi dagang dan kampanye publisitas, serta memberikan informasi dan saran pada prospek, kontak dan akses pasar luar negeri. Secara khusus, hal ini melibatkan bagaimana sebuah negara membantu para eksportir untuk memperluas perdagangan ke pasar luar negeri dan bagaimana membuat produk-produk tersebut memiliki dayasaing yang tinggi di pasar luar negeri.
4. Trade Relations Management
Hubungan perdagangan internasional melibatkan pengembangan hubungan perdagangan baik dengan negara lain untuk melindungi kepentingan perdagangan suatu Negara serta untuk menjamin akses pasar untuk barang dan jasa. Ini juga mencakup mengenai isu-isu dalam mengatasi pembatasan produk oleh negara pengimpor. Hubungan perdagangan biasanya dilakukan pada tiga tingkatan, yaitu hubungan bilateral, hubungan regional (contohnya AFTA) dan hubungan multilateral (contohnya WTO).
Faktor-Faktor Penentu Arus Perdagangan
1. Gross Domestic Product
14
Jika diasumsikan negara memproduksi komoditi ekspor X, apabila terjadi kenaikan GDP, maka suatu negara akan menambah kapasitas negara untuk memproduksi komoditi X untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Besar perubahan GDP yang terjadi menggambarkan pertambahan produksi domestik suatu negara. Adanya peningkatan GDP dan asumsi konsumsi masyarakat sama, maka negara akan mengekspor komoditi X menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
2. Tarif
Tarif adalah pajak atau cukai yang dikenakan untuk komoditi yang diperdagangkan lintas batas teritorial. Tarif merupakan bentuk kebijakan perdagangan yang telah digunakan sebagai sumber penerimaan pemerintah sejak lama. Ditinjau dari aspek asal komoditi, ada dua macam tarif, yakni tarif impor (import tariff) dan tarif ekspor (expor tariff).
Tarif impor adalah pajak yang dikenakan untuk setiap komoditi yang diimpor dari negara lain. Sedangkan tarif ekspor adalah pajak untuk suatu komoditi yang diekspor. Apabila ditinjau dari mekanisme perhitungannya, ada beberapa jenis tarif, yaitu tarif spesifik, tarif ad valorem, dan tarif campuran. Tarif spesifik (specific tariff) dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor (misalnya pungutan 3 dolar untuk setiap barel minyak). Tarif ad valorem (ad valorem tariff) adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya suatu negara memungut tarif 25 persen atas nilai atau harga dari setiap unit mobil yang diimpor). Sedangkan tarif campuran (compound tariff) adalah gabungan dari keduanya. Jika mengenakan tarif spesifik maka harga domestik setelah impor yang dikenakan tarif akan memiliki nilai sebesar :
PD = Pm + ts dimana :
PD = Harga domestik setelah impor yang dikenakan tarif Pm = Harga impor dunia
ts = tarif spesifik
Sedangkan tarif ad valorem dikenakan pada persentase dari nilai impor. Harga domestik setelah impor yang dikenakan tarif adalah sebesar :
PD = Pm (l + ta) dimana :
ta = tingkat pajak
Keuntungan dari tarif ad valorem adalah dapat menyesuaikan dengan sendirinya dalam periode inflasi, karena ketika mengenakan tarif pada tingkat yang telah ditentukan maka nilai rill dari tarif tersebut akan tetap.
3. Jarak Antara Negara
Jarak adalah indikator dari biaya transportasi dalam melakukan perdagangan. Biaya transportasi adalah salah satu faktor penghambat perdagangan internasional. Jarak dapat meningkatkan biaya transaksi pertukaran barang dan jasa internasional. Semakin jauh jarak suatu negara dengan yang lain semakin besar pula biaya transportasi pada perdagangan diantara keduanya sehingga menyebabkan keuntungan yang diterima oleh suatu negara dari perdagangan internasional semakin kecil. Jarak ekonomi memiliki rumus sebagai berikut :
� . =
� ∗
15 dimana :
Distcountry.f = jarak ekonomi antar negara pada tahun f
Distf = jarak geografis antar negara pada tahun f
GDPf = GDP rill negara pada tahun f 4. Kurs riil
Kurs riil adalah harga relatif dari barang-barang diantara dua negara. Kurs riil menyatakan tingkat dimana suatu negara dapat memperdagangkan barang-barang ke negara lain. Kurs riil berhubungan negatif dengan arus perdagangan ekspor. Semakin rendah nilai kurs riil maka menunjukkan bahwa harga domestik lebih rendah dibandingkan dengan harga di luar negeri, sehingga ekspor akan meningkat. Kurs riil dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini:
Dimana Q adalah kurs riil, S adalah kurs nominal, P adalah tingkat harga domestic dan P* adalah tingkat harga diluar negeri.
5. Dummy krisis Eropa tahun 2010
Suatu model regresi memiliki variabel independen X (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen Y (variabel yang dipengaruhi). Namun, terkadang variabel-variabel penjelasnya dapat bersifat kualitatif. Variabel kualitatif ini yang disebut variabel dummy atau beberapa istilah lainnya, seperti variabel indikator, variabel biner, variabel kategori, dan variabel dikotomi (Gujarati, 2006). Variabel yang sering kali tidak hanya dipengaruhi oleh variabel-variabel yang bisa dikuantifikasi pada beberapa skala yang sudah tertentu (pendapatan, output, biaya, harga) namun ada juga variabel-variabel yang pada dasarnya bersifat kualitatif (jenis kelamin, ras, warna, agama, kebangsaan). Variabel-variabel kualitatif biasanya menunjukkan ada atau tidaknya “kualitas” atribut. Salah satu metode yang digunakan untuk “mengkuantifikasikan” atribut -atribut tersebut adalah dengan membentuk variabel-variabel artifisial yang memperhitungkan nilai-nilai 0 atau 1, 0 menunjukkan ketiadaan suatu atribut dan 1 menunjukkan keberadaan atribut tersebut. Variabel yang diasumsikan dengan nilai 0 dan 1 disebut variabel buatan (variabel dummy).
Krisis ekonomi global yang terjadi di Eropa tahun 2010 telah membuat perkembangan ekonomi global mengalami banyak perubahan terutama untuk industri nasional. Oleh sebab itu, krisis Eropa tahun 2010 digunakan sebagai
dummy karena diduga dapat mempengaruhi ekspor sektor manufaktur di kawasan ASEAN+6.
Berikut ini merupakan faktor-faktor penunjang arus perdagangan yang berkaitan dengan trade facilitation, yaitu:
1. Efisiensi Pelabuhan (Port Efficiency)
Efisiensi pelabuhan merupakan salah satu faktor penting dari pengukuran
16
meningkatkan diversifikasi barang yang diperdagangkan. Ini mencakup penyediaan utilitas dasar seperti listrik dan air, tetapi juga pengembangan pergudangan, transportasi, pengiriman dan infrastruktur teknologi informasi, dan mengatur badan-badan administratif terkait dan sistem.
2.Custom Environment
Custom Environment merupakan gambaran dari kinerja kepabeanan setiap negara. Custom Environment juga melibatkan, penetapan tarif yang sesuai, verifikasi barang impor dengan persyaratan peraturan di suatu negara dan internasional, dan mencegah barang impor yang dilarang atau tidak aman. Dalam penelitian Wilson et al (2005) custom environment memberikan dampak yang baik terhadap arus perdagangan di berbagai kawasan ekonomi.
3. Regulatory Environment
Regulatory Environment adalah hukum dan peraturan yang telah dirancang dan dikembangkan untuk mengukur pendekatan ekonomi serta melakukan kontrol atas praktek bisnis. Kualitas Regulatory Environment yang tinggi dapat berdampak negatif terhadap arus perdagangan, karena adanya indikasi peraturan-peraturan yang menjadi hambatan alternatif dalam perdagangan.
4. E-Business
Electronic business dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan proses pertukaran barang dan/atau jasa dengan memanfaatkan internet sebagai media komunikasi dan transaksi, serta sebagai salah satu aplikasi teknologi yang menjangkau dunia bisnis internal, melingkupi sistem, pendidikan pelanggan, pengembangan produk, dan pengembangan usaha. Pada masa sekarang, hal ini dilakukan sebagian besar melalui teknologi berbasis web, yaitu dengan memanfaatkan jasa internet.
Konsep Revealed Comparative Advantage (RCA)
17 Gravity Model dan Metode Regresi Data Panel
1. Gravity Model
Model gravitasi adalah salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk mengestimasi berapa besarnya nilai barang yang keluar dan masuk di suatu wilayah. Gravity model pertama kali dikembangkan oleh Tinberger pada tahun 1962 untuk menjelaskan aliran perdagangan bilateral oleh mitra dagang pada GNP dan jarak geografi antar negara. Model ini disebut gravity model, karena menggunakan suatu perumusan yang sama dengan model gravitasi Newton, dimana interaksi antara dua objek adalah sebanding dengan massanya dan berbanding terbalik dengan jarak masing-masing. Dalam bentuknya yang paling umum, konsep gravitasi dapat dirumuskan sebagai berikut (Baldwin & Taglioni 2006).
(2.1)
dimana :
Iij = tingkat interaksi antara wilayah i dengan j Ai, Aj = besarnya daya tarik wilayah i dan j dij = ukuran jarak antar wilayah i dan j k = konstanta
a, b, c = Parameter Dugaan
Interaksi antara i dan j (Iij) mencerminkan nilai dari aliran perdagangan suatu komoditas dari wilayah i ke wilayah j. Aliran perdagangan tersebut tidak hanya terbatas pada aliran perdagangan yang terjadi di tingkat negara tetapi juga meliputi arus perdagangan di wilayah bawahnya (propinsi/kabupaten). Di tingkat negara, penerapan model gravitasi tidak hanya diterapkan pada aliran perdagangan antar dua negara melainkan juga dapat diterapkan lebih dari dua negara. Umumnya variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur besarnya daya tarik wilayah i dan j (A) adalah jumlah penduduk, Produk Domestik Bruto (PDB) ataupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai tukar, harga relatif komoditas yang diperdagangkan, dan lain-lain. Sedangkan variabel jarak (dij) dapat diukur melalui pendekatan biaya transportasi.
Kemudian Beers (2000), memperlihatkan standar gravity model dalam bentuk logaritma adalah sebagai berikut :
Log Xij= β0+β1logYi+β2logYj +β3logNi +β4logNj +β5logDij+β6logPij + uij (2.2) dimana :
Xij : Komoditi aliran perdagangan bilateral dari negara i ke negara j Yi : GDP negara i
Yj : GDP negara j Ni : Populasi negara i Nj : Populasi negara j
Dij : Jarak antara negara i dan j Pij : Dummy
uij : standar error
18
perdagangan seperti Yi, Yj, Ni, Nj, dan Dij. Variabel dummy integrasi ekonomi diperkenalkan untuk menjelaskan deviasi dari pola perdagangan ini pada faktor preferensial perdagangan. Variabel jarak bilateral dipakai untuk setiap aliran perdagangan bilateral. Spesifikasi model mengasumsikan bahwa rintangan hubungan jarak pada perdagangan menyebabkan timbulnya hambatan yang sama per unit jarak pada perdagangan dalam setiap arah.
Gravity model menunjukkan hubungan jarak bilateral relatif terhadap rata-rata terbobot dari jarak pengimpor ke semua para supplier yang potensial. Jika jarak bilateral tinggi dibandingkan dengan jarak rata-rata ke semua pengekspor potensial, pengimpor dilokasikan secara relatif kurang baik dan oleh sebab itu perdagangan bilateral menjadi menurun. Apabila pengimpor j dilokasikan secara relatif kurang baik, misalnya jarak efektif yang tinggi sebagai spesifikasi dalam persamaan di atas, hal tersebut masih menyisakan kemungkinan bahwa lokasi tersebut secara relatif menguntungkan dari perspektif pengekspor karena secara relatif akhirnya lokasi yang kurang baik menyebabkan tingginya rata-rata jarak untuk semua demanders potensial. Aliran perdagangan bilateral akan berpengaruh positif karena dampak spesifik tersebut (Beers 2000).
2. Metode Regresi Data Panel
Berdasarkan data yang digunakan, maka metode regresi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah regresi data panel dengan model gravitasi. Baltagi (2005) mengungkapkan beberapa keunggulan dalam penggunaan metode data panel sebagai berikut:
a) Mampu mengontrol heterogenitas individu karena estimasi dapat dilakukan secara eksplisit dengan memasukkan unsur heterogenitas individu.
b) Mampu memberikan data yang informatif, mengurangi kolinearitas antar peubah, meningkatkan derajat bebas dan lebih efisien.
c) Sangat baik digunakan dalam studi yang bersifat dynamics of adjustment, sehingga sangat sesuai untuk mengukur perubahan dinamis karena berkaitan dengan observasi cross section yang terjadi berulang.
d) Sangat baik dalam mengidentifikasi dan mengukur efek yang tidak mampu dideteksi dalam data cross section saja atau data time series saja.
e) Dapat digunakan untuk mengkonstruksi dan menguji model perilaku yang lebih kompleks dibandingkan dengan data cross section atau data time series. Penggunaan metode data panel juga memiliki beberapa keterbatasan terutama jika pengumpulan data menggunakan metode survei. Beberapa keterbatasanmya adalah:
a) Permasalahan dalam desain survei panel, pengumpulan dan manajemen data akibat besarnya unit observasi dalam data panel. Permasalahan tersebut terkait dengan cakupan (coverage), nonresponse, kemampuan daya ingat responden (recall), frekuensi dan waktu wawancara.
b) Distorsi kesalahan dalam pengamatan (measurement errors). Kesalahan dalam pengukuran umumnya terjadi karena respon yang tidak sesuai, pertanyaan yang tidak jelas, ketidaktepatan informasi, dan sebagainya.
19 jawaban yang diberikan oleh responden, serta attrition yaitujumlah responden yang cenderung berkurang pada putaran survei berikutnya yang biasanya terjadi karena responden pindah, meninggal dunia atau biaya menemukan responden yang terlalu tinggi
d) Dimensi waktu (time series) yang pendek. Jenis panel mikro biasanya mencakup data tahunan yang relatif pendek untuk setiap individu.
e) Cross-section dependence. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan contoh, data panel yang sifatnya makro dengan unit observasi negara dan saling memiliki ketergantungan antara negara yang satu dengan negara lainnya. Jika series
mencakup waktu yang panjang maka akan mengabaikan cross-country dependence sehingga menyebabkan penarikan kesimpulan yang salah (misleading inference).
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian Wilson et al (2003) menganalisis hubungan antara trade facilitation, arus perdagangan, dan GDP per kapita di wilayah Asia-Pasifik untuk sektor manufaktur menggunakan gravity model. Penelitian ini mendefinisikan dan mengukur trade facilitation menggunakan empat indikator dasar yaitu port efficiency, customs environment, regulatory environment, dan e-business usage. Penelitian ini menjelaskan bahwa arus perdagangan manufaktur selain dipengaruhi oleh GDP negara pengekspor dan negara pengimpor, GDP per kapita negara pengekspor dan pengimpor, jarak geografis, namun juga dipengaruhi oleh fasilitas perdagangan yang diukur melalui port efficiency, customs environment,
regulatory environment, dan e-business usage, sedangkan tarif tidak mempengaruhi arus perdagangan ekspor sektor manufaktur.
Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Wilson et al (2005) menggunakan gravity model untuk mengestimasi hubungan antara trade facilitation dan arus perdagangan pada barang-barang manufaktur selama 2000-2001 di 75 negara. Penelitian menggunakan empat indikator dalam trade facilitation, yaitu efisisensi perdagangan, bea cukai, regulasi, dan jasa sektor infrastruktur. Hasil menunjukkan bahwa perbaikan dalam trade facilitation dapat meningkatkan ekspor dan impor di setiap negara dan dunia.
Penelitian Shepherd dan Wilson (2008) menganalisis impor dan ekspor dengan biaya bervariasi di negara-negara anggota, mulai dari sangat rendah ke tingkat yang cukup tinggi. Tarif dan hambatan non-tarif pada umumnya rendah sampai sedang. Kualitas Infrastruktur dan layanan berbagai sektor memiliki daya saing dari tingkatan adil (fair) sampai tingkatan sangat baik (excelent). Penelitian ini menggunakan model gravitasi standar. Hasil menunjukkan bahwa arus perdagangan di Asia Tenggara sangat sensitif (particulary sensitive) untuk infrastruktur transportasi dan teknologi informasi serta komunikasi. Hasil menunjukkan bahwa jarak geografis antar negaramemiliki pengaruh yang signifikan terhadap keuntungan ekonomi dari reformasi perdagangan fasilitasi. Keuntungan ini bisa jauh lebih besar dari reformasi tarif sebanding (comparable tariff reforms).
20
adalah prosedur dalam melakukan ekspor dan impor barang dengan fokus penelitian pada jumlah dokumen dan waktu yang dibutuhkan (clearence time)
dalam menyelesaikan administrasi prosedur ekspor dan impor. Penelitian ini menggunakan model gravitasi dengan penduga OLS, PPML dan model Havey, pada 13 negara ekportir dan 167 negara importir. Hasil menunjukkan bahwa arus perdagangan akan meningkat dengan menurunkan biaya transportasi dan mengurangi waktu atau hari yang dibutuhkan untuk berdagang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa peningkatan trade facilitation tidak hanya memberikan manfaat kepada negara yang sedang berdagang atau satu negara saja, tapi juga kepada negara tujuan yang berdagang.
Kemudian penelitian Zahidi (2012) menganalisis pengaruh trade facilitation terhadap arus perdagangan di tingkat sektoral. Indikator trade facilitation yang digunakan adalah efisiensi pelabuhan dan efisiensi prosedur kepabeanan. Penelitian ini menggunakan model gravitasi standar. Hasil menunjukkan bahwa pada sektor pertanian barang mentah, trade facilitation
melalui variabel efisien prosedur kepabeanan, memberikan dampak baik terhadap arus perdagangan impor di kawasan ASEAN+3. Namun, jarak ekonomi yang besar memberikan dampak buruk di negara-negara kawasan ASEAN+3. Sedangkan pada sektor manufaktur, biaya administrasi impor yang besar berdampak buruk terhadap arus perdagangan impor, hal ini disebabkan biaya adaministrasi impor akan menambah kepada biaya produksi. Kemudian variabel efisiensi prosedur kepabeanan memberikan dampak yang positif terhadap arus perdagangan. Namun, jarak ekonomi yang besar berdampak negatif terhadap arus perdagangan di negara-negara kawasan ASEAN+3.
Sementara pada penelitian ini juga membandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang mengkaji tentang dampak trade facilitation terhadap arus perdagangan dan peranannya bagi perkembangan negara-negara yang diobservasi. Bedanya penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada fokus penelitian yaitu mengakaji pada kerjasama yang lebih luas pada kawasan ASEAN, yaitu pada ASEAN+6 dimana perluasan ini akan memberikan dampak yang berbeda dan lebih besar terhadap perekonomian negara-negara ASEAN+6 serta fokus penelitian yang membahas dampak trade facilitation terhadap arus perdagangan khususnya pada sektor manufaktur di negara-negara ASEAN+6.
Pada penelitian ini menggunakan analisis comparative advantage untuk melihat daya saing sektor manufaktur di Negara-negara ASEAN+6 serta model panel
gravity yang menganalisis dampak trade facilitation terhadap arus perdagangan sektor manufaktur di negara-negara ASEAN+6.
Kerangka Pemikiran
21 pengukuran trade facilitation ini diharapkan dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada perekonomian masing-masing negara dalam rangka meningkatkan volume perdagangan di kawasan ASEAN+6.
Kerangka pemodelan yang telah disesuaikan dengan fenomena dan ketersediaan data yang ada, serta dengan batasan penelitian adalah sebagai berikut:
Keterangan :
: tidak dibahas dalam penelitian
Gambar 2 Kerangka pemikiran
Implikasi Kebijakan
• GDP riil per kapita negara eksportir
• GDP riil per kapita negara importir
• Jarak
• Tarif
• Nilai Tukar Riil
• Port Efficiency
• Custom Environment
• Regulatory Environment
• E-Business
• Dummy krisis
Integrasi ASEAN+6
Revealed Comparative Advantage (RCA) ASEAN Economic Community (AEC)
Trade Development Strategy
Trade
Facilitation Trade
Promotion
Trade Relations Management
Gravity Model (Panel) Peningkatan Ekspor
Sektor Manufaktur
Daya Saing Sektor Manufaktur Infrastructure
22
METODE
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berasal dari beberapa sumber, yaitu United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN COMTRADE), World Bank, International Financial Statistics
(IFS), International Monetary Fund (IMF), World Integrated Trade Solution
(WITS), Centre d'Etudes Prospectives et d'Informations Internationales (CEPII),
Trade Analysis and Information System (TRAINS), United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dan beberapa publikasi internasional seperti
Global Competitiveness Report dan Coruption Perceptions Index Report. Jenis dan sumber data untuk bahan kajian secara ringkas disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4 Jenis dan sumber data dalam penelitian
No Data Sumber
1. Ekspor (US$) WITS dan UN COMTRADE
2. GDP Riil(US$) IFS dan World Bank
3. GDP Riil per kapita (US$) World Bank
4. Nilai Tukar IMF
5. Indeks Harga Konsumen UNCTAD
6. Jarak (km) CEPII
7. Tarif (persen) TRAINS
8. Port Efficiency Global Competitiveness Report
9. Custom Environment Global Competitiveness Report
10. Regulatory Environment Global Competitiveness Report
11. E-Business Global Competitiveness Report
12. Corruption Perception Index Transparency International
Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian tediri dari analisis deskriptif kuantitatif yang mengacu pada kerangka teoritis analisis keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan analisis regresi data panel dengan gravity model. Analisis deskriptif digunakan untuk mengkaji dinamika arus perdagangan internasional, pertumbuhan ekonomi, daya saing perdagangan dan trade facilitation. Analisis ekonometrika dengan regresi data panel gravitasi digunakan untuk mengkaji keterkaitan antara trade facilitation dengan arus perdagangan, dan beberapa variabel lainnya.
23 Beberapa teknik yang digunakan adalah dengan menyusun data dalam bentuk tabel atau grafik disertai dengan interpretasi dan argumentasi terhadap data yang disajikan. Analisis deskriptif dengan tabulasi maupun grafis merupakan metode yang paling sederhana tetapi memiliki kemampuan yang cukup kuat untuk menjelaskan secara kualitatif hubungan antar peubah yang diamati.
Perhitungan Indeks Indikator Trade Facilitation
Berdasarkan penelitian dari Wilson et al (2003) dan Wilson et al (2005), maka Indikator trade facilitation dihitung dengan menggunakan rata-rata dari beberapa indeks trade facilitation terkait, yang terdapat di Global Competitiveness Report dan Transparency International. Indikator port efficiency dihitung dengan menggunakan indeks port infrastructure quality (GCR). Indikator custom environment dihitung dengan menggunakan rata-rata dari indeks hidden import barriers(GCR) dan corruption perceptions index(TI). Indikator regulatory environment dihitung dengan menggunakan rata-rata dari indeks transparency and stability of environmental regulations(GCR), stringency of regulatory standards(GCR) dan public trust of politicians(GCR). Indikator e-business
dihitung dengan menggunakan indeks percentage of companies that use the Internet for e-commerce (GCR).
Analisis RCA (Revealed Comparative Advantage)
RCA adalah indeks yang mengukur kinerja ekspor suatu komoditas dari suatu negara dengan mengevaluasi peranan ekspor suatu komoditas dalam ekspor total negara tersebut, dibandingkan dengan pangsa komoditas tersebut dalam perdagangan dunia. Dengan kata lain, RCA merupakan rasio antara nilai ekspor komoditas tertentu di negara tertentu dengan total nilai ekspor (dunia) komoditas yang sama.
Konsep keunggulan ini dikemukakan oleh Balassa pada tahun 1965. Balassa (1965) menyatakan bahwa hasil dari kegiatan ekspor digunakan untuk mengungkap keunggulan komparatif dari bagian negara yang kurang terhadap bagian lain yang memiliki keunggulan pada faktor biaya. Pola ekspor komoditas ini dinyatakan sebagai suatu pola yang merefleksikan biaya relatif sebagaimana perbedaan pada faktor non-harga, yang dapat menentukan struktur dari perdagangan, khususnya ekspor. Balassa (1965) juga mengemukakan teori bahwa indeks RCA dapat dijadikan sebagai derajat spesialisasi perdagangan suatu negara.
Indeks RCA merupakan indikator yang menunjukkan perubahan keunggulan komparatif atau perubahan tingkat daya saing suatu komoditas dari suatu negara di pasar global. Secara matematis, indeks RCA yang dikenal sebagai Balassa Index dapat dirumuskan sebagai berikut:
RCAij = Xij /X Xi w /Xw Dimana :
24
Xiw = Nilai ekspor suatu komoditas i di dunia ke negara tujuan (US$) Xw = Nilai ekspor seluruh komoditas i di dunia ke negara tujuan (US$)
Jika nilai indeks RCA suatu negara untuk komoditas tertentu adalah lebih besar dari satu (>1), maka negara yang bersangkutan memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia untuk komoditas tersebut. Sebaliknya, jika lebih kecil dari satu (<1), berarti keunggulan komparatif untuk komoditas tersebut tergolong rendah, di bawah rata-rata dunia. Semakin besar nilai indeks, semakin tinggi pula tingkat keunggulan komparatifnya. RCA digunakan untuk menjelaskan kekuatan daya saing komoditas ekspor suatu negara secara relatif terhadap produk sejenis dari negara lain atau dunia.
Analisis Regresi Data Panel
Data panel adalah data yang memiliki dimensi ruang dan waktu, yakni kombinasi antara data cross section dan data time series. Data cross section adalah data yang dikumpulkan dalam satu waktu terhadap banyak individu. Sedangkan data time series adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu terhadap suatu individu. Jika setiap unit cross section memiliki jumlah observasi time series yang sama maka disebut sebagai balanced panel dan jika jumlah waktu observasi berbeda untuk setiap unit cross section maka disebut unbalanced panel.
Data panel dapat didefinisikan sebagai observasi berulang pada setiap unit
cross section yang sama, yang memiliki karakteristik di mana jumlah unit cross section lebih dari 1 (N>1) dan unit time series juga lebih dari satu (T>1). Jika unit
cross section sama dengan 1 (N=1) dan unit time series banyak (T>1) maka dikenal dengan struktur data time series murni atau sebaliknya jika unit cross section banyak1 (N>1) dan unit time series sama dengan satu (T=1) maka dikenal dengan struktur data cross section murni.
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi parameter dalam model regresi data panel statis, yakni pooled least square estimator (PLS), metode efek tetap (fixed effects model) dan metode efek random (random effects model). Metode yang paling sederhana digunakan adalah pooled least square (PLS) atau dikenal sebagai metode least square yang umumnya digunakan pada model cross section dan time series murni. Kemudian metode efek tetap (fixed effects model) dan metode efek random (random effects model).
Dalam bentuk umum persamaan regresi data panel = � ′ + � , maka pada one way error component model, komponen error atau gangguan acak dispesifikasikan dalam bentuk:
� = + (3.1)
Untuk two way error components model, komponen error atau gangguan acak dispesifikasikan dalam bentuk:
� = + + (3.2)