614. 58852
Ind
p
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN
PENYEHATAN LlNGKUNGAN
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
, :
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 614. 58852
Ind Indonesia. Kementerian Ke sehatan RI. Direktorat P Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Uingkungan
Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya,.. ISBN 9786022351528
614. 58852 Ind p
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Pedoman Pengendalian
Demam Chikungunya
--Kata Sambutan
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP (K)
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas terbitnya buku Pedoman Pengendaliaan Demam Chikungunya untuk melengkapi atau menyempurnakan edisi sebelumnya ( tahun 2007 )
Demam Chikungunya termasuk salah satu penyakit yan9 berpotensi KLB dengan penyebaran penyakit yang cepat.Sehingga dapat menimbulkan keresahan di masyarakat dan menyebabkan menurunnya produktivitas pada orang yang terjangkit
Sebagaimana kita ketahui bahwa vektor penular penyakit ini adalah nyamuk
Aedes spp juga sebagai penular Demam Berdarah Dengue ( DBD) yang merupakan penyakit endemis di IndonesiaDengan demikian Demam
Chikungunya ini sangat berpotensi menjangkiti suatu daerah dan bahkan bisa menyebar ke seluruh wilayah IndonesiaTiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya yaitu Manusia,Virus dan vector perantara.
Pedoman Pengendaliaan Demam Chikungunya ini di harapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan pelatihan bagi seluruh SDM kesehatan di daerah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengendalian Demam Chikungunya.
Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini.Kritik,saran serta masukan sangat kami harapkan guna perbaikan di masa yang akan datang.
Jakarta, 28 Agustus 2012
Prof. dr. Tjan a Yoga Aditama, SpP (K) NIP 195509031980121001
Kata Pengantar
dr. Rita Kusr iastuti, MSc
Dewasa ini Indonesia menghadapi beban ganda dalam pembangunan kesehatan, karena meningkatnya bebe rapa penyakit menular (re-emerging diseases), sementara penyakit tidak menular dan penyakit degenerative mulai mening'kat. Di samping itu timbul pula berbagai penyakit baru (new-emerging diseases), seperti SARS, Avian Influenza dll. Salah satu penyakit menular yang perlu menjadi perhatian Adalah Chikungunya yang jumlah kasusnya cenderung meningkat serta Penyebarannya semakin luas dan cenderung menimbulkan KLB, namun belum Pernah dilaporkan adanya kematian karena penyakit ini.
Kejadian Luar Biasa (KLB) Chikungunya di Indonesia pertama kali dilaporkan Pada tahun 1973 diSamarinda, Provinsi Kalimantan Timur dan Jakarta. Dari tahun 2007 sampai tahun 2012 dilaporkan KLB Chikungunya dibeberapa Provinsi. KLB Sering terjadi pada awal dan akhir musim hujan serta lebih sering terjadi didaerah sub urban.
Demam Chikungunya ditu larkan oleh nyamuk Aedes aegypty dan Aedes Albopictus seperti halnya vector penular Demam Berdarah Dengue (D BD). Banyaknya Tempat perindukan nyamuk sering berhubungan dengan
peningkatan kejadian Demam Chikungunya. Oleh karena itu penanggulangan vector penyakit Demam Chikungunya sama dengan upaya pengendalian vector DBD yaitu PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) baik secara fisik (3M), kimiawi (temephos) Maupun biologis (ikan pemakan jentik).
Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang Telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini. Kritik, saran serta masukan sangat Kami harapkan guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, 28 Agustus 2012
Direktur PPBB
dr. Rita Kusriastuti, MSc
NIP 195406011982122001
Daftar lsi
KATA 5AMBUTAN ...
iiKATA PENGANTAR ...
ivDAFTAR 151...
TIM PENYU5UN ...
viiiBAB I : PENDAHULUAN ...
A. Latar Belakang ... . B. Tujuan... ... 2C. Strategi .... ... 2
D. Sasaran ... 3
E. Ruang Lingkup... 3
BAB II: EPIDEMIOLOGI ...
4A. Besaran Masalah ... 4
B. Etiologi ... 5
C. Vektor Penular Chikungunya ... 5
D. Faktor Resiko ... 8
E. Mekanisme Penularan... 9
BAB III : PROMOSI KESEHATAN
DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ...
10BAB IV : TATALAKSANA ...
13A. Definisi Kasus ... 13
B. Masa Inkubasi ... 14
vi Kemen terian Kesehalan R1201 2Di1Jen PP dan PL; Pedoman Pengendalla n Demam Chlkl,lngunya. Edisl 2
C. Kepekaan dan Kekebalan ... '4
D. Gejala Klinis ... 15
E. Diagnosis Banding ... 17
F. Pemeriksaa n Laboratoriu m ... 17
G. Cara Pengambilan Spesimen ... 20
H. Terapi ... 22
I. Prognosis ... 23
J. Komplikasi ... 23
BAB V : SURVEILANS DAN PENANGGULANGAN KASUS ...
24A. Surveilans ... 24
B. Pengendalian Vektor... 36
C. Penanggulangan Kasus ... 43
BAB VI : LAMPI RAN ...
46KEPUSTAKAAN...
49Tim Penyusun
Pelindung:
Direktur Jenderal PP dan PL :
Prof. dr. Tjandra Yoga Ad itama, SpP (K), MARS, DTM&H, DTCE
Penasehat :
Direktur PPBB :
dr. Rita Kusriastuti, MSc
Penanggungjawab
:
Kasubdit Pengendalian Arbovirosis :
dr. Desak Made Wismarini, MKM
Ketua :
dr. Darmawali Handoko, MEpid
Anggota:
1. drh. Endang Burni Prasetyowati, MKes
2. dr. Iriani Samad
3. dr. Galuh Budhi leksono Adhi
4. dr. Sri Hartoyo
5. dr. Dauries Ariyanti
6. Rohani Simanjuntak, SKM, MKM
7. Erliana Setiani, SKM, MPH
8. Subahagio, SKM
Mitra Bestari :
1. dr. Bangkit Hutajulu, MScPH
2.
Subangkit, S.Si, M.Biomed3.
drg. Ramadura, MPHM4.
Rosmaniar, SKep, Mkes5.
Sigit Darmanto, SKM, MEpid6. Sri Murniati
7. Wahyuni
Penyunt ing :
1. drh. Endang Burni Prasetyowati, MKes
2. dr. Galuh Budhi leksono Adhi
3. dr. Sri Hartoyo
BABI
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di nega ra berkem bang seperti Indonesia, angka kematian penyakit men ular cukup tinggi dan prevalensinya meningkat karena banyak dipengaruhi faktor lingkungan dan perilaku hidup masyarakat. Terlebih lagi dalam kond isi sosial eko nom i yang mem buruk, t entunya kejadian kasus penyakit menular memerlu kan penanganan yang lebih serius, profesional, dan bermutu.
Indonesia juga menghadapi beban ganda dalam pembangunan kesehatan atau yang dikenal dengan double burden. Dewasa ini masih dihadapkan dengan meningkatnya beberapa penyakit menular (re-emerging diseases), sementara penyakit tidak menular atau degeneratif mulai meningkat. Di samping itu telah timbul pula berbagai penyakit baru (new-emerging diseases). Salah satu masalah yang menjadi perhatian dan tercantum dalam PERPRES No.5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 2014 adalah pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular, diikuti upaya penyehatan lingkungan. Salah saW penyakit menular yang masih menjadi perhatian dan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dewasa ini yaitu Demam Chikungunya yang penyebarannya semakin luas.
Di Indonesia, infeksi virus Chikungunya telah ada sejak abad ke18 seperti yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Saat itu infeksi virus ini menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit demam 5 hari (vijfdaagse koorts) yang kadangkala disebut juga sebagai demam sendi
(knokkel koorts) . Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Chikungunya pertama kali dilaporkan pada tahun 1973 di Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dan di Jakarta. Tahun 1982 di Kuala Tungkal Provinsi Jambi dan tahun 1983 diYogyakarta. Sejak tahun 1985 seluruh provinsi di Indonesia pernah melaporkan adanya KLB Chikungunya. KLB Chikungunya mulai banyak dilaporkan sejak tahun 1999 yaitu di Muara Enim, tahun 2000 di Aceh, tahun 2001 di Jawa Barat ( Bogor, Bekasi, Depok), tahun 2002 di Palembang, Semarang, Indramayu, Manado, DKI, Banten, tahun 2003 terjadi di beberapa wilayah pulau Jawa, NTB, Kalimantan Tengah.
Secara epidemiologis, saat ini hampir seluruh wilayah di Indonesia berpotensial untuk timbulnya KLB Chikungunya.
Penyakit Chikungunya ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus seperti halnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang cara penanggulangannya telah dikenal oleh masyarakat secara luas. Penanggulangan secara lintas program dan lintas sektor telah dilaksanakan seca ra rutin da n berkesinambungan, sehingga cara penanggula ngan penyakit Chikungunya bu kan merupakan sesuatu hal yang sangat khusus, nam un dapat dilakukan seca ra bersamaan dengan upaya pengendalian penyakit DBD. Berdasa rkan hal tersebut. pemerintah dalam hal in i Kementerian Kesehatan menyusu n suatu kebija kan yaitu Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya sebagai la ndasan dan acua n bagi seluruh masyarakat dan SDM Kesehatan pada khususnya .
B. Tuj uan
Tujuan dari Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya ini adalah sebagai landasan dan acuan bagi seluruh masyarakat dan SDM Kesehatan dalam melaksanakan kegiatan pengendalian Demam Chikungunya sesuai dengan standar atau prosedur yang telah ditetapkan.
C.
Strategi
Strategi utama pengendalian Demam Chikungunya adalah :
1. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan Demam Chikungunya
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas
3. Meningkatkan sistem surveilans epidemiologi Demam Chikungunya
4. Meningkatkan sumber daya dalam upaya pengendalian Demam Chikungunya
D. Sasaran
Seluruh lapisan masyarakat
SDM Kesehatan
Stakeholdersl pemangku kepentingan terkait
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pedoman ini meliputi :
Epidemiolog i Demam Chikungu nya
Promosi kesehatan dan pemberdayaa n ma syarakat
Tatalaksana penderita
Su rveilans dan penanggulangan kasus
BAB II
EPIDEMIOLOGI
A. Besaran Masalah
1. Sejarah dan Penyebaran Penyakit
Dari sejara h diduga KLB Chikungunya perna h terjadi pada tahun 1779 d i Batavia dan Kairo; 1823 di Zanzibar; 1824 di India; 1870 di Zanzibar; 187 1 d i India; 1901 di Hongkong, Burm a, dan Madras; 1923 di Calcuta.
Pada t ah un 1928 di Cuba pert ama kali dig unaka n ist ilah "dengue'; ini dapat diartikan bahwa infeksi Chi kungunya sangat mirip d engan Den gue. Istilah "Chikungunya" berasa l dari ba hasa suku Swahili yang berarti "Orang yang jalannya membungkukdan menekuk lutu tnya ; suku ini bermukim di dataran tinggi Makonde Provinsi Newala, Tanzania (yang sebelumnya bernama Tanganyika). Istilah Chikungunya juga digunakan untuk menamai viru s yang pertama kali diisolasi dari serum darah penderita penyakit tersebut pada tahun 1953 saat terjadi KLB di negara tersebut. Pada demam Chikungunya adanya gejala khas dan dominan yaitu nyeri sendi.
Dari tahun 1952 sampai kini virus telah tersebar luas di daerah Afrika dan menyebar ke Amer ika dan Asia. Viru s Chikungunya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara sejak tahun 1954. Pada akhir tahun 1950 dan 1960 viru s berkembang di Thailand, Kamboja, Vietnam, Manila dan Burma. Tahun 1965 terjadi KLB di Srilanka.
2. Permasalahan Chick di Indonesia
Di Indonesia, KLB penyakit Chikungunya pertama kali dilaporkan dan t ercatat pada tahun 1973 terjadi di Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dan di DKI Jakarta, Tahun 1982 di Kuala Tungkal Provinsi Jambi dan tahun 1983 di Daerah Istim ewa Yogyakarta. KLB Chikungunya mulai banyak dilaporkan sejak tahun 1999 yaitu di Muara Enim (1999), Aceh (2000)' Jawa Barat ( Bogor, Bekasi, Depok ) pada tahun 2001 , yang menyerang secara bersam aan pada penduduk di satu kesatuan wilayah (RW/ Desa ).
Pada tahun 2002 banyak daerah melaporkan terjadinya KLB Chikungunya seperti Palembang, Semarang, Indramayu, Manado. DKI Jakarta . Banten. Jawa Timur dan lainlain. Pada tahun 2003 KLB Chikungunya terjadi di beberapa wilayah di pulau Jawa, NTB. Kalimantan Tengah. Tahun 2006 dan 2007 terjadi KLB di Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Dari ta hun 2007 sampai tah un 2012 di Indonesia terjadi KLB Chikungunya pada beberapa provinsi dengan 149.526 kasus ta npa kematian.
Penyeba ran penya kit Ch ikungunya biasanya terjad i pada daerah endemis Demam Berdarah Dengue. Banyaknya tempat peri ndukan nyam uk serin g berhubungan dengan peningkata n kejad ian penyaki t Chikungu nya . Saat in i hampir sel uruh provinsi di Indonesia potensial untuk terjadinya KLB Chikungunya. KLB seri ng terjadi pada awal dan akhir mu sim hujan. Penyakit Chikungunya sering terjadi di daerah sub urban.
B. Etiologi
Virus Chikungunya adalah Arthopod borne virus yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk. Hasil uji Hemaglutinasi Inhibisi dan uji Komplemen Fiksasi, virus ini termasuk genus alphavirus ( "Group A" Arthropod-borne viruses)
dan famili Togaviridae. Sedangkan DBD disebabkan oleh "Group 8" arthrophod-borne viruses (f/avivirus).
C.
Vektor Penular Chikungunya
Vektor utama penyakit ini sama dengan DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti
dan Aedes albopictus. Nyamuk lain mung kin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut.
Nyamuk Aedes spp seperti juga jenis nyamuk lainnya mengalami
metamorfosis sempurna, yaitu: telur jentik (larva) pupa nyamuk. Stadium telur, jentik dan pupa hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentikllarva dalam waktu ± 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentikllarva biasanya berlangsung 68 hari, dan stadium kepompong (Pupa) berlangsung antara 2- 4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa selama 910 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan.
Gambar 2.1. Siklus hidup nyamuk Aedes spp
---a・、Nウnセセセ@ ... Bad a nnya ォ HN セi i@ L@tM! n.va,na hh a rn
セLN「ャョエNゥォ@ P4Jtfh
, . Habitat Perkembangbiaka n
Habitat perkembangbiakan Aedes sp . ialah tempattempat yang dapat menampung air di dalam, di luar atau sekitar rumah serta tempattempat umum.
Habitat perkembangbiakan nyamukAedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1) Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan seharihari, seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandilwc, dan ember.
2) Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehar ihari seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut, bak kontrol pembuangan air, tempat pembuangan air kulkas/dispen ser, barang-barang bekas (contoh : ban, kaleng, botol, plastik, dll).
3) Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu dan tempurung coklat/karet, dll.
2. Perilaku Nyamuk Dewasa
Setelah keluar dari pupa, nyamuk istirahat di permukaan air untuk sementara waktu. 8eberapa saat setelah itu, sayap meregang menjadi kaku,
sehingga nyamuk mampu terbang mencari makanan. Nyamuk Aedes sp
jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia daripada hewan (bersifat antropofilik). Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai tel ur d ikeluarkan, waktunya bervariasi antara 34 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik.
Aktivitas menggigit nyamuk Aedes sp biasa nya mulai pagi dan petang hari, dengan 2 puncak aktifitas antara pu kul 09.00 -10.00 dan 16.00 -17.00. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu siklus gonotropik, untuk memenu hi lambungnya dengan darah. Dengan demi kian nyamuk ini sa ngat efe kti f sebagai penular penyakit.
Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada tem pat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Pada tempat te rseb ut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya.
[image:19.421.77.368.448.530.2]Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat pada dinding dind ing habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentikllarva dal am waktu ± 2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±1 00 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika tempattempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat meneta s lebih cepat.
Gambar 2. 2. Siklus 90no tropik
r Siklus gonotropik . .
1
d
I
9 10 11 12
Hari 2 3 4 5 6 7 8
Nyamuk menghisap darah Nyamuk meletakkan telur
3. Penyebaran
Kemampuan terbang nyamuk Aedes spp betina ratarata 40 meter. namun
secara pasif misalnya karena angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Aedes spp tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, di Indonesia nyamuk ini tersebar luas baikdi rumah maupun di tempat umum. NyamukAedes
spp dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah ± 1.000 m dpl. Pada ketinggian diatas ± 1.000 m dpl, suhu udara terlalu rendah, sehingga tidak memungkinkan nyamuk berkembangbiak.
4. Variasi Musi man
Pada musim hl.ljan populasi Aedes sp aka n menin gkat karena telur-telur yang tadi nya belum sempat menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya (TPA bu kan keperluan seharihari dan alam iah) m ulai teri si air hujan. Kond isi tersebut aka n meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan peningkatan pen ularan penyakit Demam Chikungunya.
D. Faktor Resiko
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya. yaitu: manusia. virus dan vektor perantara.
Beberapa faktor penyebab timbulnya KLB demam Chikungunya adalah:
1. Perpindahan penduduk dari daerah terinfeksi
2. Sanitasi lingkungan yang buruk.
3. Berkembangnya penyebaran dan kepadatan nyamuk (sanitasi lingkungan yang buruk)
Ada gelombang epidemi 20 tahunan mungkin terkait perubahan iklim dan cuaca . Anti bodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu perJu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali.
E. Mekanisme Penularan
Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk
Aedes SPP Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam t imbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 810 hari
[image:21.423.38.400.23.437.2](ex trinsic incubation period) sebelu m dapat ditularkan kembali kepada manu sia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan wa ktu masa tunas 47 hari (intrinsic incubation period) sebel um menimbul kan penyakit.
Gambar 2. 3. Mekanisme Penularan
Nyamu k ya ng menga ndung virus [ Peoderita Chikungunya menggigit orang lain yang
sehat
BAB III
PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
Promosi kesehatan diharapkan dapat melaksanakan st rategi yang bersifat paripurna (komprehensif), khususnya dalam menciptakan perilaku baru (perubahan perila ku). Dalam upaya pengendalian Demam Chikungunya st ra tegi promosi kesehatan yang harus dilakukan adalah (1) Pemberdayaan m asyarakat, (2) Pembinaan suasana lingkungan sosialnya, dan (3) Advokasi kesehatan kepada ーゥィ。ォ セ ーゥィ。ォ@ yang dapat mendukung terlaksananya keg iatan pengendalian Dema m Chikungunya. Untuk mendukung dan menangg ulangi masalah kesehatan diperl ukan ke mitraan dengan m elibatkan berbagai sekt or yaitu lemba ga pemeri ntah, dunia usaha, media massa dan organi sasi masyarakat lainnya dalam upaya menangg ulangi masalah kesehatan.
Keg iatan promosi kesehatan dalam pengendalian Chikungunya yang dapat dilakukan meliputi:
1. Advokasi Kesehatan
Advolkasi kesehatan adalah upaya secara sistimatis untukmempengaruhi pimpinan, pembuat/penentu kebijakan, keputusan dan penyandang dana dan pimpinan media massa agar proaktif dan m endukung berbagai kegiatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan Chikungunya sesuai dengan bidang tugas dan keahlian masingmasing. Dengan metod e lobby, pendekatan Informal, dan penggunaan media massa
Adapun hasil yang diharapkan antara lain:
adanya dukungan politis, kebijakan/keputusan dan sumber daya (SDM, dana dan sumber daya lainnya) dalam pengendalian Demam Chikungunya
Terberituknya forum komunikasi / komite/pokjanal yang 「・イ セ@
anggotakan lembaga pemerintah lintas program dan lintas sektor terkait, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader, organisasi pemuda ,
organisasi profesi organisasi wanita, organisasi agama, LSM, organisasi kemasyarakatan, pihak swasta dan dunia usaha untuk membahas dan memberi masukan dalam pengendalian Demam Chikungunya
2. Bina Suasana
Bina Suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan penanggulangan Chikung unya. Seseorang akan terdorong untuk mau melakuka n sesuat u apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada (kelu arga di rum ah, ora ngorang yang menjad i pan utanl idolanya, kelompok arisan, majelis agarn a, dan lainlain, dan bahkan masyarakat umum) memiliki opini ya ng positi f terhadap perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses Pemberdayaan Masyarakat, khususnya dalam upaya mengubah para individu meningkat dari fa se tahu ke fase mau dalam Penanggulangan Chikungunya, perlu dilakukan Bina Suasana dengan metode meliputi orientasi, pelatihan, kunjungan lapangan, jumpa pers, dialog terbuka/interaktif di berbagai media, lokakarya/seminar, penulisan artikel di media massa, khotbah di tempat peribadatan.
Adapun Hasil yang ingin dicapai antara lain:
Adanya opini positif berkembang di masyarakat tentang pentingnya pengendalian Chikungunya
Semua kelompok potensial di masyarakat ikut menyuarakan dan mendukung pengendalian Chikungunya
Adanya dukungan sumber daya (SDM, Dana, Sumber daya lain) dari kelompok potensial yang ada di masyarakat
3. Pemberdayaan Masyarakat
Adalah upaya menumbuhkan kesadaran dan kemampuan individu, keluarga dan masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuannya sebagai aspek perubahan perilaku untuk mengenali/mendeteksi dini penyakit Chikungunya dan melakukan upaya pencegahan melalui
セMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMM MM
Gerakan PSN yang terkoordinir. Dengan metode meliputi promosi individu, promosi kelompok, promosi massa
Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara untuk menumbuhkembangkan norma yang membuat masyarakat mampu untuk pengendalian Chikungunya secara mandiri. Strategi ini tepatnya ditujukan pada sasaran primer aga r berpera n serta secara aktif dalam pengendalian Chikungunya. Tujuan daTi strategi pemberdayaan adalah meningkatkan peran serta Individu, keluarga dan masyarakat agar rahu, mampu dan mau, berp eran serta dalam pengendalian Demam Ch ikungunya.
Hasil yang diharapkan dari pemberdayaan masya raka t adalah :
Tumbuhnya kepedulian masyarakat dalam pengendalian Demam Ch ikungunya
Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pengendalian Demam Chikungunya
Mengingat sampai saat ini belum ada obat dan vaksin terhadap penyakit ini, maka upaya pencegahan ditit ikberatkan pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan membasmi jentik nyamuk penular di sekitar tempat tinggal melalui gerakan PSN 3M Plus.
4. Kemitraan melalui POKJANAL
Adalah percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya
pengendalian Demam Chikungunya melalui semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, lembaga perwakilan rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lainlain.
Hasil yang diharapkan antara lain adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan .
Pelaku Kemitraan meliputi semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain lain, khususnya swasta .
BABIV
TATALAKSANA KASUS
A. Definisi Kasus
Dem am Chi kung unya adalah penyakit infeksi yang d ise bab kan oleh virus Chi kungunya (CHIKV) yang d itularkan m elal ui g igitan nya muk (Arthropod - borne virus/ m osquito-borne virus).Virus Chikungu nya termasuk gen us Alphavirus, fam ili
Togaviridae.
Diagnosis kasus Dema m Chikungunya d iteg akkan berdasarkan kriteria sebagai berikut: (Modifi kasi Kl asifikasi WHO SEARO,2009)
Kriteria Klinis: Demam mendadak
>
38,5°C dan nyeri persendian hebat(severe athralgia) dan atau dapat disertai ruam (rash).
Kriteria Epidemiologis: Bertempat tinggal atau pernah berkunjung ke wilayah yang sedang terjangkit Chikungunya dengan sekurangkurangnya 1 kasus positif RDTI pemeriksaan serologi lainnya, dalam kurun waktu 15 hari sebelum timbulnya gejala (onset ofsymptoms)
Kriteria Laboratoris: sekurangkurangnya salah satu diantara pemeriksaan berikut:
Isolasi virus
Terdeteksinya RNA virus dengan RTPCR
Terdeteksinya antibodi IgM spesifik virus Chik pada sampel serum
Peningkatan 4 kali lipat (four-fold) titer IgG pada pasangan sampel yang diambil pada fase akut dan fase konvalesen (interval sekurangkurangnya 23 minggu)
Berdasarkan kriteria di atas, Diagnosis Demam Chikungunya digolongkan dalam 3 kategori yaitu:
1. KASUS TERSANGKA (Suspected easel Possible ease)
Penderita dengan kriteria klinis.
2. KASUS PROBABEL (Probable case)
Penderita dengan kriteria kJinis + kriteria epidemiologis
3. KASUS KONFIRM (Confirmed case)
Penderita dengan kriteria laboratoris.
B. Masa Inkubasi
Masa inkubasi terdiri dari masa inkubasi intrinsik dan ekstrinsi k. Masa inkubasi intrinsik adala h periode sej ak seseorang terinfeksi virus Chik sam pa i t imbulnya gejala klinis, sedangkan masa inkubasi ekstrinsik adalah periode sejak nyamuk terinfeksi virus Chik sampai viru s tersebut dapat menginfeksi orang lain nya melalui gigitan nyam uk tersebut.
[image:26.422.4.400.20.480.2]Masa inkubasi intrinsik Ch ikungunya ratarata ant ara 37 hari (ra nge 112 hari), sedangkan masa inkubasi ekstrinsik berkisar 10 hari. (WH O PAHO, 2011).
Gambar 4.1. Masa Inkubasi
+ セ ャョャiャiャiャc@ Mエ^@
rncublhon
セイゥッ、@
I
•
Viremia
________
セ N カN iᄋイ N ュ NN
N ・ N ゥ 。 Nl
_____
12 16 20
セ@
24 )21
DAYS
Illness Human "2
C.
Kepekaan dan Kekebalan
Sekali seseorang terinfeksi virus Chik maka akan diikuti dengan terbentuknya imunitas jangka panjang (long-lasting imunity) di dalam tubuh penderita (WHO
PAHO, 201 1). Sampai saat ini hanya diketahui satu serotipe Chikungunya. Terjadinya serangan kedua belum diketahui dengan pasti.
D.
Gejala Klinis
1. Demam
Pada fase akut selama 23 hari selanju tnya dilanjutkan dengan pen urunan suhu tubuh selama 12 hari kemudian naik lagi membentuk kurva "Sadie back fever" (Bifasik). Bisa disertai menggigil dan muka kemerahan (flushed face) . Pada beberapa penderita mengeluh nyeri di belakang bola mata dan bisa terlihat mata kemerahan (conjunctival injection) .
2. Sakit persendian
[image:27.421.10.406.20.521.2]Nyeri persendian ini sering merupakan keluhan yang pertama muncul sebelum timbul demam. Nyeri sendi dapat ringan (arthralgia) sampai berat menyerupai artritis rheumathoid, terutama di sendi sendi pergelangan kaki (dapat juga nyeri sendi tangan) sering dikeluhkan penderita. Nyeri send i ini merupakan gejala paling dominan, pada kasus berat terdapat tandatanda radang sendi, yaitu kemerahan, kaku, dan bengkak. Sendi yang sering dikeluhkan adalah pergelangan kaki . pergelangan tangan. siku. jari. lutut. dan pinggul.
Gambar 4.2. Pembengkakan persendian
Pada posisi berbaring biasanya penderita miring dengan lutut tertekuk dan berusaha mengurangi dan membatasi gerakan.
Artritis ini dapat bertahan selama beberapa minggu, bulan bahkan ada yang sampai bertahan beberapa tahun sehingga dapat menyerupai
Rheumatoid Arthritis.
3. Nyeri otot
Nyeri otot (fibromyalgia) bisa pada seluruh otot t erutama pada otot penyangga berat badan seperti pada otot bag ian leher, daerah bahu, dan anggota gerak. Kadang kadang terjadi pembengkakan pada otot sekitar sendi pergelangan kaki (achilles) atau sekitar mata kaki.
4. Bercak kemerahan (rash) pada kulit
[image:28.420.4.398.16.414.2]Kemerahan di kulit bisa terj adi pada sel uruh tubuh berbentuk makulo-pa pular (viral rash), sentrifugal (mengara h ke bagian anggota gerak, telapak ta ngan dan telapa k kaki) . Be rca k kemerahan ini terjadi pada hari pe rtama demam, tetap i lebih sering muncul pada hari ke 4 5 demam. Lokasi ke mera han di da era h rn uka, badan, tangan, dan kaki .
Gambar 4.3. Bercak kemarahan pada kaki dan telapak tangan
5. Kejang dan penurunan kesadaran
Kejang biasanya pada anak karena demam yang terlalu tinggi, jadi kemungkinan bukan secara lang sung oleh penyakitnya. Kadangkadang kejang disertai penurunan kesadaran. Pemeriksaan cairan spinal (cerebra spinaf) tidak ditemukan kelainan biokimia atau jumlah sel.
6. Manifestasi perdarahan
Tidak ditemukan perdarahan pada saat awal perjalanan penyakit walaupun pernah dilaporkan di India terjadi perdarahan gusi pada 5 anak dari 70 anak yang diobservasi.
7. Gejala lain
Gejala lain yang kadangkadang dapat timbul adalah kolaps pembuluh darah kapiler dan pembesaran kelenj ar getah bening.
E. DIAGNOSIS BANDING
[image:29.421.8.408.11.403.2]Diagnosis banding penyakit Chikungunya yang paling mendekati adalah Demam Dengue atau Demam Berdarah Dengue
Tabel4. 1. Manifestasi Utama yang membedakan Chikungunya dengan Dengue (WHO SEARO, 2009)
kョイョォエセイゥウNゥォ@ セ@ ang
ャQャ・ュィセ、。ォ。ョ@
[)em:l11l cィゥォャャャャァ|ャョセ@ a
I
llrl1llll1l Iknglll'
Tanda dan Gejala klinis
1. Onset demam Akut Gradual
2. Lama demam 1 - 2 hari 5-7 hari
3. Ruam makulopapular Sering Jarang
4. Timbul syok dan perdarahan masif
Tidaklazim Lazim
5. Nyeri sendi Sering dan bisa lebih dari
1 bulan
Jarang dan berlangsung singkat
Parameter Laboratorium
1. Leukopenia Sering Jarang
2. Trombositopenia Jarang Sering
F.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk memastikan diagnosis perlu pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu: Isolasi virus dari inokulasi serum fase akut, pemeriksaan serologis dengan cara ELISA, pemeriksaan IgG dan IgM dengan metode Immuno Fluorescent Assay (IFA), pemeriksaan materi genetik dengan Polymerase Chain Reaction (PCR), pemeriksaan antibodi dengan uji
Hemaglutinasi Inhibisi (H.I Test) menggunakan serum diambil pada masa akut ( hari ke 5 mulai demam ) dan serum konvalesen pad a minggu ke 2 sesudah demam serta sequencing.
1. Isolasi Virus
Isolasi virus chikungunya didasarkan pada inokulasi spesimen biologis dari nyamuk atau dari manusia (serum) secara invitro dengan menggunakan kultur jaringan sel vero, BHK21, HeLa sel dan sel C6/36. Isolasi virus juga dapat dilakukan secara in vivo dengan menggunakan anak mencit yang masih menyusui (suckling mice).
Jenis unt uk isolasi virus chikungunya adalah serum pada masa akut 06 hari, tetapi ada beberapa literatur menyebutkan bisa sampai 8 hari. Spesimen ya ng berasal dari nyamukjuga dapat d igunakan untu k bahan isolasi virus. Sem ua spesimen biologis untuk isolasi virus harus diproses secepatnya, bila memang perlu ditu nda maksimal penu ndaan adalah 48 j am dengan disim pan pada suhu 28oC
2. Dete ksi Viral RNA
Deteksi viral RNA virus chikungu nya dapat dilakukan pada saat akut penderita «8 hari). Deteksi vira l RNA juga dapat menggunakan spesimen biologis dari nyamuk (vektor). Deteksi viral RNA didasarkan pada gen NSPl atau E16 saat ini telah dikembangkan berbagai macam teknik deteksi viral RNA virus chi1kungunya yaitu secara RTPCR (Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction) dan Real Time PCR.
3. Serologi (Deteksi IgM dan atau IgG)
Infeksi Chikungunya juga dapat dideteksi secara serologi dengan mendeteksi anti chik berupa IgM atau IgG. Sampai saat ini telah banyak dikembangkan teknik diagnostik untuk mendeteksi chikungunya secara serologi diantaranya Haemaglutination, Complement Fixation Test (eFT),
Immuno flourescent assay (IFA), dan Plaque Reduction Neutralization Testing (PRNT). Antibodi IgM dapat dideteksi dari hari ke4 infeksi sampai beberapa minggu waktu lamanya. Antibodi IgG dapat dideteksi hari ke-15 sampai beberapa tahun lamanya.
Gambar 4. 4. TImeline antibodi
IgG IgM
Symptoms Gigitan l!yMllUk Klinis
Hari ·4 s.d.·2 Hari 0 Han ke 4 s.d 7 Hari ke·14
Inkubasi
Vir"" RNA
Interpretasi:
1. Bila IgM () dan IgG () dengan geja la klinis jelas, pemeriksaan diu lang 1014 hari kemudian.
Bila hasil pemeriksaan ulang IgM (+) IgG() berarti infeksi akut primer
2. Bila IgM ()lgG(+) dilakukan pemeriksaan ulang 1014 hari kemudian.
Bila hasil pemeriksaan ulang IgG (+) dengan kenaikan tj,ter >4X berarti infeksi sekunder.
3. Bila IgM (+) IgG(+) berarti sedang terjadi infeksi sekunder
Untuk saat ini untuk pemeriksaan konfirmasi diagnosis chikungunya dapat dilakukan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (BALIT BANGKES), B/BTKL PP, RSPI Soelianti Saroso, Labkesda. Metode yang digunakan adalah secara deteksi Antibodi (lgM dan atau IgG), deteksi molekuler (RTPCR) dan Isolasi virus jika diperlukan .
Spesimen yang digunakan adalah Serum atau Plasma penderita pad a masa akut. Jumlah spesimen yang dibutuhkan untuk konfirmasi KLB chikungunya adalah 510 spesimen dari setiap satuan KLB (per kecamatanl per puskesmas). jika jumlah penderita セ@ 10, namun jika jumlah penderita < 10 maka untuk konfirmasi jumlah spesimen yang diperiksa jumlah penderita.
Untuk pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan :
,. Hematologi rutin
a. Pemeri ksaan Kadar Hemoglobin.
Biasanya dijumpai Hb normal atau anemia bila ada perdarahan .
b. Pemeriksaan Trombosit
Dapat ditemukan Trombositopen ia
c.
Pemeriksaan HematokritHt norma l atau meningkat bila dengan dehidrasi
d. Pem eriksaa n Leukosit
Leukopenia ata u juga leukositosis
e. Hit ung Jenis Leu kosi t
Pada hitung j eni s bisa dij umpai relatif limfositosis.
f. Pemeriksaan Laju Endap Darah
LED meningkat karena adanya infeksi
2. Kimia Klinik
Fungsi hati : SGOT, SGPl dan bilirubin total / direk yang bisa meningkat bi la dijumpai hepatomegali.
CK (Creatinin Kinase) yang meningkat karena adanya nyeri otot.
3. Serologis Chik: Rapid Diagnostic Test (RDT ) terhadap antilgM Chikungunya dapat dilakukan sebagai penapisan (screening) untuk diagnosis chikungunya.
Pemilihan Rapid DiagnostikTest (RDT) juga harus memenuhi persyaratan sensitifitas dan spesifisitas diatas 85% dengan uji lokal.
4. Serologis Dengue: Anti Dengue IgMlgG untuk menyingkirkan DBD
G. CARA PENGAMBILAN SP ESIM EN
Waktu pengambilan spesimen adalah pada periode :
Akut : 08 hari setelah timbul gejala / onset of symptom
Konvalesent : 14 hari setelah gejala/symptom
Adapun cara pengambilan adalah sebagai berikut:
1. Lakukan vena punksi untuk mengambil darah vena sebanyak 3- 5 mllalu dimasukkan dalam tabung kaca yang pakai penutup. Pengambilan darah dilakukan secara aseptik dapat menggunakan spuit atau venoject.
2. Oiamkan pada suhu kamar selama 10 15 menit sampai darah membeku.
3. Kemudian lakukan sentrifugasi 15002000 rpm selama 10 menit untuk mem isahka n serumnya.
[image:33.421.29.408.24.475.2]4. Pisahkan serum dengan menggunakan pipet dan masukkan ke dalam tabung sam pel dengan tutup ulir yang sudah diberi identitas pasien. Hindari menggu nakan tabu ng kaca untuk mengirim spesimen serum.
Gambar 4.5. Pengambilan darah
a. menggunakan spuit/jarum suntik b. menggunakan venoject
5. Sebelum dikirim ke laboratorium yang mampu memeriksa misalnya: Litbangkes, B/BTKL Pp, BLK atau LABKESOA, spesimen serum disimpan di lemari pendingin dengan suhu 480 ( (BUKAN 01 OALAM FREEZER). 6. Pengiriman spesimen serum harus sesuai prosedur, didalam cool box
dengan dilapisi dry ice/ cool pack supaya suhu pengiriman tetap antara 480 C. JANGAN mengirimkan spesimen dalam bentuk Whole Blood
(darah lengkap), karena dapat menjadi lisis dan mempengaruhi hasil pemeriksaan lab.
7. Oi dalam wadah tempat pengiriman harus disertakan datadata identitas penderita, juga meliputi tanggal mulai sakit, gejalagejala yang timbul, tanggal pengambilan sam pel.
8. Pada bagian luar wadah pengiriman harus dituliskan alamat pengirim dan penerima dengan jelas.
9. Sebelum mengirim sampel pasien, pengirim sebaiknya memberitahukan kepada penerima sam pel, dalam hal ini Bagian Virologi Litbangkes, BLK, LABKESDA dan BTKL.
10. Jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut (sequensing) maka spesimen dikirim ke Balitbangkes
H.
TERAPI
Chikungunya merupakan self limiting disease, sampai saat ini penya kit ini bel um ada obat ataupu n vaksinn ya, pengobatan hanya be rsifat si mtomatis dan su port if.
1. Si mtomatis
Antipiretik : Parasetamol atau aseta minofen (untuk meredakan dema m)
Analgetik : Ibuprofen, naproxen dan obat Antiinflamasi Non Steroid (AINS) lainnya (untuk meredakan nyeri persendian/athralgia/ arthritis)
Catatan: Aspirin (Asam Asetil Salisilat) tidak dianjurkan karena adanya resiko perdarahan pada sejumlah penderita dan resiko timbulnya Reye's syndrome pada anakanak dibawah 12 tahun.
2. Suportif
Tirah baring (bedrest) , batasi pergerakkan
Minum banyak untuk mengganti kehilangan cairan tubuh akibat muntah, keringat dan lainlain.
Fisioterapi
3. Pencegahan penularan
Penggunaan kelambu selama masa viremia {sejak timbul gejala
(onset of illn ess ) sampai 7 hari
I. PROGNOSIS
Penyakit ini bersifat self limiting disease, tidak pernah dilaporkan adanya kematian. Keluhan sendi mungkin berlangsung lama. Brighton meneliti pada 107 kasus infeksi Chikungunya, 87,9% sembuh sempurna, 3,7% mengalami kekakuan sendi atau mild discomfort, 2,8% mempunyai persistent residual joint stiffness, tapi tidak nyeri, dan 5,6% mempunyai keluhan sendi yang persistent, kaku dan sering mengalami efusi sendi.
J.
KOMPLIKASI
Dalam literatur ilmiah belum pernah dilaporka n kematian, kasus neuroinva sif, atau kasus perdarahan yang berhubun gan denga n infeksi virus Chikungunya. Pada kasus anak komplikasi dapat terj adi dalam ben tuk: kolaps pembuluh darah, renjatan, Miokarditis, Ensefalopati dsb, tapi jarang ditemukan.
BABV
SURVEILANS DAN PENANGGULANGAN KASUS
A. SURVEILLANS
Surveilans Chikungunya adalah proses pengumpulan pengolahan anal isis dan interpretasi dan penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak / instansi terkait secara sistematis dan terus menerus tentang situasi Chikungunya dan kondisi yang mempengaruhi terj adinya peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat dilakuka n tindakan penangg ulangan secara efektif dan efisien.
Surveilan Chikungunya meliputi survey kasu s dan survey vektor yang da pat dilakukan secara pasif dan aktif.
Tuj uan survei llans Chikungu nya, yaitu:
1. Men ghasilkan informasiyang cepatdanakuratagardapatdisebarluaskan sebagai dasar penanggulangan Chikungunya yang cepat dan tepat untuk menyususun perencanaan yang sesuai dengan permasalahannya .
2. Mendapatkan distribusi penyakit Chikungunya menurut orang, tempat, dan waktu .
3. Mendapatkan trend kasus Chikungunya
4. Melakukan pengamatan kewaspadaan dini SKD KLB dalam rangka mencegah dan penanggulangan KLB secara dini.
Penetapan Kejadian Luar Biasa ( KLB) Chikungunya merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 SOl Tahun 2010 tentang jenis Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulanganya .
1. $urveilians Kasus
Surveillan kasus Chikungunya adalah kegiatan surveillans yang dilakukan untuk menemukan kasus Chikungunya. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara aktif maupun pasif.
a. Surveilans pasif
Yaitu penemuan kasus berdasarkan informasi dan laporan dari sarana kesehatan (RS, puskesmas, klinik, laboratorium, KKP) maupun dari masyarakat. Informasi data dapat diperoleh melalui :
a. l .Laporan mingguan sistem ewars
EWARS (Early Warning Alert and Respon System) melal ui tersangka Ch ikung unya dengan trias gej ala utama yaitu demam, nyeri send i hebat dan ruam kemerahan di kulit (rash).
a.2.Laporan bulanan STP Puskesmas / RS
a.3. Laporan bulanan program
aA. Laporan Masyarakat
b. Surveillans aktif
Yaitu penemuan kasus yg diperoleh melalui kunjungan lapangan untuk melakukan penegakan diagnosis secara epidemiologis berdasarkan gambaran umum penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah yang selanjutnya diikuti dengan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Kegiatan surveilans aktif penyakit Demam Chikungunya dapat dalam bentuk kegiatan penyelidikan epidemiologi (PE) berdasarkan kasus terlaporkan atau berdasarkan pertimbangan faktor resiko lainnya.
Kegiatan surveillans aktif dapat dilaksanakan oleh petugas Dinas Kesehatanl Puskesmas setempat.
Tersangka Chikungunya hasil temuan surveilans aktif ditindak lanjuti
I dilaporkan ke sarana kesehatan I Puskesmas untuk di lakukan pemeriksaan lanjutan .
2. Surveillans Vektor
Surveillans vektor Chikungunya adalah kegiatan surveillans yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya penularan kasus setempat dalam kegiatan penyelidikan epidemiologi (PE) dan untuk mengetahui tingkat kepadatan vektor Chikungunya melalui kegiatan survey berdasarkan faktor resiko (iklim, ting kat
[image:37.421.28.410.17.358.2]kepadatan vektor, mobilisasi masyarakat). Selain itu kegiatan ini dapat digunakan sebagai evaluasi kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB).
Tujuan dilaksanakan surveilan vektor Chikungunya adalah:
Untuk mengetahui tingkat kepadatan vektor Chikungunya
Untuk mengetahui tempat perindukan potensial vektor Chikungunya Untuk mengetahui jenis larva/jentik vektor Chikungunya
Untuk mengukur indekindek larva/jentik (ABJ, (I , HI, dan BI)
Untuk meneari eara pengendalian vektor Chikungunya yang tepat Untuk menilai hasil pengendalian vektor
Untu k mengetahu i tingkat kerentanan vektor Ch ikungunya terhadap insektisida.
Dalam metode Surveilans Vektor Chikung unya yang ingin kita peroleh antara lain adalah datadata kepadatan vekto r. Untuk mem peroleh datadata tersebut tent ulah diperlukan keg iatan survei, ada beberapa metode survei yang kita ketahui, meliputi metode survei terhadap nyamuk, jentik dan survei perangkap telur (ovitrap). Sebelum melakukan survei vektor Chikungunya diperlukan penentuan lokasi surveilansl pengamatan, waktu pengamatan, eara pengamatanl pengukuran vektor Chikungunya, persiapan peralatan dan bahan surveilans vektor Chikungunya, pengumpulan, peneatatan dan analisa data hasil survei lans/ pengamatan .
1. Penentuan Lokasi Pengamatan
Lokasi yang akan diamati/diukur tingkat kepadatan vektor Chikungunya adalah lokasi yang diduga sebagai tempat perkembangbiakan/ istirahati meneari makan nyamuk Aedes sp. yang berdekatan dengan kehidupan l kegiatan manusia, antara lain:
a. permukiman penduduk,
b. tempattempat umum (sekolah, tempat ibadah, perkantoran dsb).
Pengamatan/ pengukuran kepadatan populasi vektor Chikungunya dapat dilakukan pada :
a. Wilayah endemis Chikungunya.
b. Wilayah yang pernah terjadi KLB Chikungunya.
c. Wilayah yang menjadi sasaran pengendalian vektor Chikungunya secara kimiawi dan biologi.
2. Pelaksanaan Pengamatan
Pengamatan kepadatan populasi vektor Ch ikungunya dilakukan mulai dari tingkat Puskesmas sampai Pusat, sebagai berikut :
a. Kader I PKK I Jumantik
Melakukan pemeriksaan jentik minimal minggu sekali disetiap ru ma h pada wilayah kerja jumantik. Sebaiknya dilaku kan bersamaan dengan pelaksaanaan PSN.
b. Petugas puskesmas
1) Monitoring secara berkala minimal 3 bulan sekali pada wilayah kerja Puskesmas (PJB) dan dilakukan evaluasi pelaksaanaan PSN.
2) Pemeriksaan jentik berkala (PJB) juga dilakukan oleh masing-masing puskesmas terutama di desa/kelurahan endemis (cross check) pada tempattempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegyptilalbopictus dari 100 sampel rumah/bangunan yang dipilih secara acak serta diu lang untuk setiap siklus pemeriksaan.
3) Contoh cara memilih sampel 100 rumah/bangunan sebagai berikut:
a) Dibuat daftar RW dan RT untuk tiap desa/kelurahan
b) Setiap RT diberi nomor urut
c) Dipilih sebanyak 10 RT sampel secara acak (misalnya dengan cara systematic random sampling) dari seluruh RT yang ada di wilayah desa/kelurahan
d) Dibuat daftar nama kepala keluarga (KK) atau nama TTU dari masingmasing RT sampel atau yang telah terpilih.
e) Tiap KKirumah/TTU diberi nomor urut, kemudian dipilih 10 KKI rumah/TTU yang ada di tiap RT sampel secara acak (misalnya dengan cara systematic random sampling).
c. Pengelola Program Arbovirosis di Dinkes Kab/Kota
Monitoring dan evaluasi PSN yang telah dilakukan oleh kader jumantik dan Puskesmas secara berkala minimal 6 bulan sekali
d. Pengelola Program Arbovirosis di Dinkes Propinsi
Monitoring dan evaluasi PSN yang telah dilakukan oleh Dinkes Kab/ Kota secara berkala minimal3 bulan sekali, untuk Dinkes Provinsi dan Pusat minimal 6 bulan sekal i
Teknis Pengamatan
Beberapa teknis pengamatan terhadap telur, jenti k, dan nyamuk melalui beberapa metode survei sebagai berikut :
a. Survei t elu r
Survei ini d ilakukan denga n cara memasang perangkap telur (ovitrop )
ya ng dinding sebelah dalamnya dicat hitam, kem udian diberi air secukupnya. Ovitrap berbentuk tabu ng yang dapat dibuat dari potongan bambu, kaleng dan gelas platik/ kaca. Ovitrap diletakkan di dalam dan di luar rumah atau tempat yang gelap dan lembab. Cara kerja ovitrap adalah padel (berupa potongan bila h ba mbu atau kain yang tenunannya kasar dan berwarna gelap) yang dimasukkan kedalam tabung tersebut berfun 9si sebagai tempat meletakkan telur nyamuk. Setelah 1 minggu d ilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya telur nyamuk di padel,
kemudian dihitung ovitrap in dex.
Perhitungan ovitrap index adalah:
Ovitrap Index:
Jumlah padel dengan telur
--- x 1000/0
Jumlah padel diperiksa
Untuk mengetahui gambaran kepadatan populasi nyamuk penular secara lebih tepat, telurtelur padel tersebut dikumpulkan dan dihitung jumlahnya .
-- -
-••
Kepadatan populasi nyamuk :
Jumlah tel ur
= ... .
tel ur per ovitrap [image:41.422.10.413.26.344.2]Jumlah ovitrap yang digunakan
Gambar 5. 1. Contoh Ovitrap
Nセ
.
lubang untuk mencegah ba1aS pecmukaan air meluapnya air hujan
__...r.
"padel"b. Survei jentik
Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut:
') Memeriksa tempat penampungan air dan kontainer yang dapat menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes sp. di dalam dan di luar rumah untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
2) Jika pada penglihatan pertama tidak menemukan jentik, tunggu kirakira V2 -, menit untuk memastikan bahwa benarbenar tidak ada jentik.
3) Gunakan senter untuk memeriksa jentik di tempat gelap atau air keruh.
Metode survei jentik:
') Single larva
Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.
2) Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentlk di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
Biasanya dalam program CHIKUNGUNYA mengunakan cara visual.
Ukuranukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik
Aedes sp. :
1) Angka Bebas Jentik (ABJ):
Jumlah rumahl bangunan yang tidak ditemukan j entik
x 100%
Jumlah rumahl bangunan yang diperiksa
2) House Index (HI) :
Jumlah rumahl bangunan yang ditemukan jentik
---xl00%
Jumlah rumahlbangunan yang diperiksa
3) Container Index (CI ):
Jumlah container dengan jentik
---
x 100%
Jumlah container yang diperiksa
4) Breteau Index (BI):
Jumlah container dengan jentik dalam 100 rumah/bangunan
c. Survei nyamuk
Gambar 5. 2. Contoh aspirator Survei nyamuk dilakukan dengan cara
menangkap nyamuk menggunakan umpan orang di dalam dan di luar rumah, masingmasing selama 20 menit per rumah serta penangkapan nyamuk yang hinggap di dinding
dalam rumah. Penangkapan
nyamuk biasanya dilakukan dengan menggunakan aspirator.
[image:42.420.6.415.7.535.2]Indeksindeks nyamuk yang digunakan:
1} Landing rate:
Jumlah Aedes aegypti betina tertangkap umpan orang
Jumlah penangkapan x jumlah jam penangkapan
2) Resti ng per rumah:
Jumlah Aedes aegypti betina tertangkap pada penangkapan nyamuk hinggap
Jumlah ruma h yang dilakukan penangkapan
Apabila ingin diketahui ratarata umur nyamuk di suatu wilayah, dilakukan pembedahan perut nyamuknyamuk yang ditangkap untuk memeriksa keadaan ovariumnya di bawah mikroskop. Jika ujung pipa -pipa udara (trachea/us) pada ovarium masih menggulung, berarti nyamuk itu belum pernah bertelur (nu/iparous). Jika ujung pipa-pipa udara sudah terurai/terlepas gulungannya, maka nyamuk itu sudah pernah bertelur
[image:43.421.28.400.10.519.2](parous).
Gambar 5.3. Aedes sp .
.. UJung plpa-plpa udara menggulung Ovarlum null-parous
セN
Ujung plpa-plpaudara tarural Ovarlum parous
Untuk mengetahui ratarata umur nyamuk, apakah merupakan nyamuk-nyamuk baru (menetas) atau nyamuknyamuk yang sudah tua digunakan indek parity rate.
Parity rate:
Jumlah nyamuk Aedes aegypti dengan ovarium parous
__________________________________________ xl00%
Jumlah nyam uk yang diperiksa ovariumnya
Bila hasil survei entomolog i suatu wilayah, parity rate-nya renda h bera rti populasi nyamuknyamuk di wilaya h tersebut sebagian besa r masih muda. Sedang kan bila parity rate -nya tin ggi menunjukka n ba hw a keadaan dari popul asi nyamuk di wila yah itu sebagian besar sudah t ua.
Untuk menghitung ratarata umur suatu populasi nyamuk secara lebi h te pat dilakukan pembedahan ovarium dari nyamuknyamuk paro us, untuk menghitung jumlah dilatasi pada saluran telur (pedikulus).
Umur populasi nyamuk
=
ratarata jumlah dilatasi x satu siklus gonotropikContoh :
[image:44.420.0.399.11.548.2]Bila jumlah dilatasi nyamuk ratarata 3 dan siklus gonotropiknya 4 hari, maka umur ratarata nyamuk tersebut adalah: 3x4=12 hari. Semakin tua ratarata umur nyamuk semakin besar potensi terjadinya penularan di suatu wilayah.
Gambar 5.3. Dilatasi pada saluran telur (pedikulus) Aedes sp.
SaJuran telur (pediculus)
Ollatasl
3. Alat dan Bahan Survei
Alat dan bahan yang minimal harus tersedia untuk melaksanakan survei kepadatan populasi vektor Chikungu nya adalah :
a. Peralatan
1) Peralatan umum
Compound microskop, untuk memeriksajenti k dan ova rium
Senter, untuk menera ngi sasa ran survei (jentiklnyamu k)
Petridish, unt uk tempat jentik aatau nyamuk yang akaan diperiksa
Tas, untuk membawa peralatan serta bahan survei
2) Peralatan survei telur
Perangkap telur (ovitrap)
Padel untuk tempat peletakan telur
3) Peralatan survei jentik
Gayung, untuk mengambil jentik
Pipet, untuk mengambil jentik
Botol kecil (vial larva), untuk tempat larva
Susceptibility test kit larva (1 set peralatan uji kerentanan
larva), untuk mengetahui tingkat kerentanan jentik terhadap insektisida
4) Peralatan survei nyamuk
Stereo mikroskop, untuk identifikasi dan membedah nyamuk
Loupe/kaca pembesar 10 x atau 20 x, untuk identifikasi nyamuk dan kondisi perut nyamuk
Aspirator, untuk menangkap nyamuk
Kotak nyamuk, untukmembawa nyamuk hidup
Kurungan nyamuk, untuk memelihara nyamuk
Pinset ujung runcing, untuk memegang nyamuk
Jarum seksi untuk membedah nyamuk
Gunting kecil, untuk memotong kain kasa dan kertas
Susceptibility
test
kit untuk mengukur tingkat kerentanan nyamuk terhadap insektisidaBio Assay test kit, untuk mengukur tingkat efikasi insektisida
b. Bahan survei
1) Bahan survei umum
Objek glass (sl ide glass), untuk pemeriksaan jentik dan pembedahan ovarium
Kaca penutup (cover glass), unt uk menutup persediaa n Kerta s label, unt uk pemberian etiket
Form u lirformulir ent omologi Chikungunya, untuk pe nca tatan has il survei
Alatalat tulis untuk m enu lis hasil survei Kertas tissu untuk m embersihkan kaca benda
2) Bahan survei telur
Kantong plastik, untu k tempat padel
Kantong plastik besar, untuk membawa padel
3) Bahan survei nyamuk
Paper cup, untuk wadah nyamuk Kain kasa, untuk menutup paper cup
Karet gelang, untuk mengikat kain kasa di paper cup
Kapas untuk menutup lobang di kain kasa dan pemakaian kloroform
Kloroform, untuk membius nyamuk
jarum serangga no. 3, untuk pinning nyamuk jarum secsi untuk membedah abdomen nyamuk.
4. Laporan hasil su rvey
Pencatatan hasil pemeriksaan jentik dilakukan oleh petugas kader dan pelaporannya dilakukan secara berjenjang sebagai berikut :
a. Laporan hasil survei oleh Kader / PKK / Jumantik
Hasil pemeriksaan jentik dicatat pada kartu jentik rumah / bangunan yang ditinggalkan di rumah/bangunan.
FORMULIR JPJ l digunakan untuk pelaporan ke Puskesmas dan instansi terkait.
b. Laporan hasil survei oleh Puskesmas
Pemeriksaan jentik yang dilakukan oleh kader/ PKK/Jumantik harus dilakukan monitoring dan evaluasi oleh petugas Puskesmas secara berkala minima l 3 bulan sekali. Rekapitulasi hasil PJB dilaksanakan oleh Puskesmas setiap 3 bulan dengan melakukan pencatatan hasil pemeriksaan jentik di pemukiman (ruma h) dan tempattempat umum pada FORMULI R PJBl dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.
c.
Laporan hasil survei oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota .Laporan PJB yang dila kukan oleh Pu skesmas kem udian dilaku kan rekapitulasi oleh Pengelola Program Chikungunya di Dinkes Ka b/ Kota menggunakan FORMULIR PJ B2 dan dilaporkan kepada Din kes Provinsi
d. Laporan hasil survei oleh Dinas Kesehatan Provinsi
Hasil pemeriksaan jentik dari Dinkes Kab/ Kota d ilakukan
rekapitulasi oleh Pengelola Program Chikungunya di Dinkes Provinsi menggunakan FORMULIR PJB3 dan dilaporkan ke Pusat (Ditjen PP dan PL, Subdit Pengendalian Arbovirosis)
3. Pencatatan dan Pelaporan
Alur laporan dilakukan secara berjenjang dari puskesmas/rumah sakit ke Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, hingga Kemenkes RI (Cq. Subdit Pengendalian Arbovirosis, Ditjen PP dan PL). Alur pelaporan ini disesuaikan dengan yang terc antum dalam Permenkes No 1501 /2 010 .
Puskesmas yang men erima / menemukan kasus Chikungunya akan menindaklanjuti dengan kegiatan PE dan melaporkan kasus menggunakan form form pelaporan :
a. EWARS
b. Laporan hasil PE dapat dilihat pada Lampiran 2)
c. Laporan bulanan (lampiran 3)
B.
PENGENDALIAN VEKTOR
1. Metode Pengendalian Vektor
Pengendalian vektar adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan oleh vektor dengan meminimalkan habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan dan umu r vektar, mengurangi kantak antara vektor dengan manusia serta memutus rantai penu laran penyakit
Metode pengendalian vektor Ch ikungunya bers ifat spesifik lakal, dengan mempert imbangkan faktor faktor lingkungan fi sik (c ua ca/ik lim, permuki man, habitat perkembangbiakan); li ng kun gan sosialbud aya (Peng etah uan Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor.
Pada dasarnya metode pengendalia n vektor Chikungu nya yang paling efektif adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat (PSM). Sehingga berbagai metode pengendalian vektor cara lain merupakan upaya pelengkap untuk secara cepat memutus rantai penularan.
Berbagai metode PengendalianVektor (PV) Chikungunya yaitu:
Kimiawi
Biologi
Manajemen lingkungan
Pemberantasan Sarang Nyamuk/ PSN
Pengendalian VektorTerpadu (Integrated Vector Management/IVM)
a. Kimiawi
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida merupakan salah satu metode pengendalian yang lebih populer di masyarakat dibanding dengan cara pengendalian lain. Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan pradewasa. Karena insektisida adalah racun, maka penggunaannya harus mempertimbangkan dampak
terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran termasuk mamalia. Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode aplikasi merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam kebijakan pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang berulang di satuan ekosistem akan menimbulkan terjadinya resistensi serangga sasaran.
Golongan insektisida kimiawi untuk pengendalian vekt or adala h :
Sasaran nyam uk dewasa adalah : Organophospat (Malathion, methyl pirimiphos), Pyrethroid (Cypermethrine, lamda -cyhalotrine, cyflu trine, Permethrine & S-Bioalethrine). Ya ng ditujukan untuk stadium dewasa yang diaplikasi kan dengan cara pengabutan panas/Fogg ing dan pengabutan dingin/U LV
Sasa ran jentik dengan menggunakan larvasida : golongan Organophospat (Temephos).
b. Biologi
Pengendalian vektor dengan biologi menggunakan agent biologi seperti predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra dewasa vektor Jenis predator yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang, tampalo, gabus, guppy, dll), sedangkan larva Capung,
Toxorrhyncites, Mesocyclops dapatjuga berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian vektor .
Jenis pengendalian vektor biologi : Parasit : Romanomermes iyengeri
Bakteri : Baccilus thuringiensis israelensis
Golongan insektisida biologi untuk pengendalian vektor (Insect Growth Regulator/IGR dan Bacillus Thuringiensis Israelensis/BTi), ditujukan untuk stadium pra dewasa yang diaplikasikan kedalam habitat perkembangbiakan vektor.
Insect Growth Regulators (IGRs) mampu menghalangi pertumbuhan nyamuk di masa pra dewasa dengan cara merintangi/menghambat proses chitin synthesis selama masa jentik berganti kulit atau mengacaukan proses perubahan pupae dan nyamuk dewasa. IGRs
memiliki tingkat racun yang sang at rendah terhadap mamalia (nilai LD50 untuk keracunan akut pada methoprene adalah 34.600 mg/kg ).
Bacil/us thruringiensis (Bli) sebagai pembunuh jent ik nyamukllarvasida yang tidak menggangu lingkungan. Bli terbukti aman bagi manusia bila digunakan dalam air minum pada dosis normal. Keunggulan Bli adalah menghancurkan jentik nyamuk tanpa menyerang predator entomophagus dan spesies lain. Formul a Bli cenderung secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu dianj urkan pemakaian yang beru