SKRIPSI
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PRIVATISASI BUMN
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
OLEH DILLA ASRINI
100502058
PROGRAM STUDI STRATA-I MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PRIVATISASI BUMN
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan BUMN yaitu profitabilitas, leverage, likuiditas dan efisiensi setelah privatisasi.
Pengujian menggunakan 8 rasio keuangan yang mewakili profitabilitas, leverage,likuiditas, dan efisiensi yaitu ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity), ROS (Return On Sales) , DTA (Debt to Total Asset), DER (Debt to Equity Ratio), CR (Current Ratio), QR (Quick Ratio), dan ATO (Asset Turn Over)selama periode 2 tahun sebelum dan 2 tahun setelah privatisasi.
Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu BUMN non jasa keuangan yang go public selama tahun 2004 sampai 2011. Sampel penelitian ini sebanyak 6 perusahaan yang melakukan revenue privatization yaitu PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Krakatau Steel Tbk, dan PT Garuda Indonesia Tbk.
Hipotesis dianalisis menggunakan Paired Sample T-test. Penelitian ini memberikan hasil empiris bahwa tidak terdapat perbedaan profitabilitas, likuiditas, dan efisiensi yang signifikan sedangkan leverage terdapat perbedaan yang signifikan pada BUMN setelah privatisasi.
Kata Kunci: Privatisasi, kinerja keuangan, rasio keuangan
ABSTRACT
INDONESIA STOCK EXCHANGE
The aim of this study was to examine whether there are differences in the financial performance of BUMN is profitability, leverage, liquidity and efficiency after privatization.
Tests using 8 financial ratios representing profitability, leverage, liquidity, and efficiency that is ROA (Return on Assets), ROE (Return On Equity), ROS (Return on Sales), DTA (Debt to Total Assets), DER (Debt to Equity ratio), CR (Current Ratio), QR (Quick Ratio) and ATO (Asset Turn Over) over a period of 2 years before and 2 years after privatization.
This study used purposive sampling method BUMN non-financial services public during 2004 to 2011. Samples this study of 6 companies that privatization revenues are PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Housing Development Tbk PT Krakatau Steel Tbk, and PT Garuda Indonesia Tbk.
Hypotheses were analyzed using paired sample T-test. This research provides empirical results that there is no difference of profitability, liquidity, and leverage significant efficiency while there are significant differences in BUMN after privatization.
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Karena atas berkah, rahmat, dan izinNya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Sebelum Dan Sesudah Privatisasi Bumn Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Shalawat dan salam tak lupa penulis panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Program S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak memperoleh dukungan, bimbingan, semangat, nasehat, doa, dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta Bapak Sujono dan Ibu Eliyati Siagian yang telah memberikan cinta, kasih sayang, dan doa yang tak henti-hentinya selama ini. Penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc.(CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac, Ak, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, ME selaku Ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan Ibu Dra. Marhayanie, Msi selaku Sekretaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, SE, Msi selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan Ibu Dra. Friska Sipayung, MSi selaku Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dr. Khaira Amalia Fachrudin, SE, MBA, Ak selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, arahan, bantuan, dan motivasi kepada penulis selama proses penyusunan skripsi ini. 6. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, ME, MSi selaku dosen pembaca penilai atas saran dan
masukan yang diberikan kepada penulis.
7. Abang – abang tersayang Mardian Sunanda dan Ade Kurniawan serta adik tersayang Dinda Leylan Nazmy yang telah memberikan semangat kepada penulis selama proses penyusunan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat tercinta, yang telah memberikan masukan dan semangat dalam penyusunan skripsi, Wiwit, Caca, Ika, Fani, Lidya dan Adi.
9. Teman-teman Manajemen 2010, serta pihak-pihak lain yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak bisa sebutkan satu per satu.
Medan, Agustus 2014 Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK... ... i
ABSTRACK………... ii
KATA PENGANTAR ………. iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ………... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Landasan Teori ... 9
2.1.1 BUMN ... 9
2.1.2 Privatisasi ... 12
2.1.2.1 Maksud dan Tujuan Privatisasi ………... 14
2.1.2.2 Metode – metode Privatisasi ………... 14
2.1.3 Pengertian dan Manfaat go public ... 18
2.1.4 Analisis Laporan Keuangan ... 21
2.1.5 Analisis Kinerja Keuangan ………. 26
2.1.6 Rasio Keuangan……… 30
2.1.6.1 Rasio Profitabilitas ………. 31
2.1.6.2 Rasio Leverage ………... 32
2.1.6.3 Rasio Likuiditas ……….. 33
2.1.6.4 Rasio Aktivitas atau Efisiensi ………. 34
2.2Penelitian Terdahulu ... 35
2.3 Kerangka Konseptual ... 40
2.4 Hipotesis Penelitian ... 42
BAB III METODE PENELITIAN ... 44
3.1 Jenis Penelitian ... 44
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 44
a. Tempat Penelitian ………. 44
b. Waktu Penelitian ……….. 44
3.3 Batasan Operasional ... 45
3.4 Definisi Operasional Variabel ... 45
3.5 Populasi dan Sampel ... 49
3.6 Jenis Data ... 50
3.8 Teknik Analisis Data ... 51
3.8.1 Statistik Deskriptif ... 51
3.8.2 Uji Normalitas ... 51
3.9. Pengujian Hipotesis ... 52
3.9.1 Uji T (T-test)………... 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 54
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 54
4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia... 54
4.1.2 Gambaran Umum BUMN yang Go Public ... 57
4.2 Hasil Penelitian ... 67
4.2.1 Kondisi Kinerja Keuangan ... 67
4.2.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 79
4.2.3 Uji Normalitas ……… 82
4.2.4 Pengujian Hipotesis ……… 83
4.2.4.1 Uji Hipotesis Pertama ... 84
4.2.4.2 Uji Hipotesis Kedua ... 88
4.2.4.3 Uji Hipotesis Ketiga ... 91
4.2.4.4 Uji Hipotesis Keempat ... 94
4.3 Pembahasan ... 95
4.3.1 Tingkat profitabilitas pada sebelum dan sesudah privatisasi ……… 96
4.3.2 Tingkat leverage pada sebelum dan sesudah privatisasi … 98 4.3.3 Tingkat likuiditas pada sebelum dan sesudah privatisasi … 99 4.4.4 Tingkat efisiensi pada sebelum dan sesudah privatisasi …. 100 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 101
5.1 Kesimpulan ... 101
5.2 Keterbatasan Penelitian ……… 102
5.2 Saran ... 103
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data kinerja BUMN dilihat dari perolehan laba ……… 2
Tabel 2.1 Matriks Penelitian Terdahulu……….. 37
Tabel 3.1 Defenisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ………. 48
Tabel 3.2 Daftar nama BUMN non financial yang go public yang terdaftar di BEI ……… 50
Tabel 4.1 Kinerja keuangan PT Adhi Karya Tbk ……… 67
Tabel 4.2 Kinerja keuangan PT Wijaya Karya Tbk ………. 69
Tabel 4.3 Kinerja keuangan PT Jasa Marga Tbk ………. 71
Tabel 4.4 Kinerja keuangan PT Pembangunan Perumahan Tbk ………. 73
Tabel 4.5 Kinerja keuangan PT Krakatau Steel Tbk ………... 75
Tabel 4.6 Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk ………... 77
Tabel 4.7 Hasil statistik deskriptif ……… 79
Tabel 4.8 Hasil uji normalitas ……….. 82
Tabel 4.9 Hasil paired sample t test ………. 83
Tabel 4.10 Hasil Paired Sample Statistics ROA ……… 84
Tabel 4.11 Hasil Paired Samples Correlations ROA ………. 85
Tabel 4.12 Hasil Paired Sample Statistics ROE ………. 86
Tabel 4.13 Hasil Paired Samples Correlations ROE ………. 86
Tabel 4.14 Hasil Paired Sample Statistics ROS ………. 87
Tabel 4.15 Hasil Paired Samples Correlations ROS ………. 87
Tabel 4.16 Hasil Paired Sample Statistics DTA ……… 88
Tabel 4.17 Hasil Paired Samples Correlations DTA ………. 89
Tabel 4.18 Hasil Paired Sample Statistics DER ……… 90
Tabel 4.19 Hasil Paired Samples Correlations DER ………. 90
Tabel 4.20 Hasil Paired Sample Statistics CR ………... 91
Tabel 4.21 Hasil Paired Samples Correlations CR ……… 92
Tabel 4.22 Hasil Paired Sample Statistics QR ………... 92
Tabel 4.23 Hasil Paired Samples Correlations QR ……… 93
Tabel 4.24 Hasil Paired Sample Statistics ATO ………. 94
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Privatisasi ... 109 Lampiran 2 Output SPSS 12 ... 115 Lampiran 3 Data Average dan Cumulative Rasio Keuanagn ……….. 129 Lampiran 4 UU Nomor 33 Tahun 2005 Tentang Tata Cara
ABSTRAK
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PRIVATISASI BUMN
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan BUMN yaitu profitabilitas, leverage, likuiditas dan efisiensi setelah privatisasi.
Pengujian menggunakan 8 rasio keuangan yang mewakili profitabilitas, leverage,likuiditas, dan efisiensi yaitu ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity), ROS (Return On Sales) , DTA (Debt to Total Asset), DER (Debt to Equity Ratio), CR (Current Ratio), QR (Quick Ratio), dan ATO (Asset Turn Over)selama periode 2 tahun sebelum dan 2 tahun setelah privatisasi.
Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu BUMN non jasa keuangan yang go public selama tahun 2004 sampai 2011. Sampel penelitian ini sebanyak 6 perusahaan yang melakukan revenue privatization yaitu PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Krakatau Steel Tbk, dan PT Garuda Indonesia Tbk.
Hipotesis dianalisis menggunakan Paired Sample T-test. Penelitian ini memberikan hasil empiris bahwa tidak terdapat perbedaan profitabilitas, likuiditas, dan efisiensi yang signifikan sedangkan leverage terdapat perbedaan yang signifikan pada BUMN setelah privatisasi.
Kata Kunci: Privatisasi, kinerja keuangan, rasio keuangan
ABSTRACT
INDONESIA STOCK EXCHANGE
The aim of this study was to examine whether there are differences in the financial performance of BUMN is profitability, leverage, liquidity and efficiency after privatization.
Tests using 8 financial ratios representing profitability, leverage, liquidity, and efficiency that is ROA (Return on Assets), ROE (Return On Equity), ROS (Return on Sales), DTA (Debt to Total Assets), DER (Debt to Equity ratio), CR (Current Ratio), QR (Quick Ratio) and ATO (Asset Turn Over) over a period of 2 years before and 2 years after privatization.
This study used purposive sampling method BUMN non-financial services public during 2004 to 2011. Samples this study of 6 companies that privatization revenues are PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Housing Development Tbk PT Krakatau Steel Tbk, and PT Garuda Indonesia Tbk.
Hypotheses were analyzed using paired sample T-test. This research provides empirical results that there is no difference of profitability, liquidity, and leverage significant efficiency while there are significant differences in BUMN after privatization.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Tantangan persaingan bisnis yang semakin tajam dan mengglobal menuntut perusahaan untuk selalu berkembang dan dinamis karena itu diperlukan adanya peningkatan produktivitas dan efisiensi seluruh kekuatan ekonomi nasional, salah satunya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun kinerja BUMN tidak berkontribusi memadai bagi negara yang juga memiliki hutang dalam jumlah besar.
Namun dalam kurun waktu 50 tahun semenjak BUMN dibentuk, BUMN secara umum belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Perolehan laba yang dihasilkan masih sangat rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2000 BUMN memiliki total asset sebesar Rp. 861,52 trilyun hanya mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 13,34 Trilyun, atau dengan tingkat Return on Assets (ROA) sebesar 1,55%. Tabel berikut menunjukkan bahwa tingkat ROA BUMN Indonesia pada lima tahun terakhir hanya berkisar antara 1,55% sampai dengan 3,25%.
Tabel 1.1
Kinerja Bumn Dilihat Dari Perolehan Laba (juta rupiah)
Tahun Total Asset Laba Bersih ROA
1997 425,971,407 7,310,092 1.72% 1998 437,756,394 14,226,201 3.25% 1999 607,022,845 14,271,101 2.35% 2000 861,520,494 13,336,582 1.55% 2001 845,186,151 20,186,469 2.39% Sumber: Laporan Perkembangan Kinerja BUMN – Dirjen Pembinaan BUMN, 2001
Data tahun 2000 menunjukkan bahwa hanya 78,10% (107 perusahaan) BUMN yang beroperasi dalam keadaan sehat. Sedangkan sisanya, 16,06% (22 perusahaan) dalam kondisi kurang sehat, dan 5,84% (8 perusahaan) dalam keadaan tidak sehat. Agar dapat menjalankan fungsinya, BUMN yang ada dalam kondisi kurang sehat dan tidak sehat perlu dibantu oleh pemerintah, dalam bentuk penyertaan modal pemerintah.
salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatannya adalah dengan melakukan privatisasi BUMN.
Namun demikian, privatisasi BUMN telah mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa BUMN adalah aset negara yang harus tetap dipertahankan kepemilikannya oleh pemerintah, walaupun tidak mendatangkan manfaat karena terus merugi. Namun ada pula kalangan masyarakat yang berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu sepenuhnya memiliki BUMN, yang penting BUMN tersebut dapat mendatangkan manfaat yang lebih baik bagi negara dan masyarakat Indonesia.
Privatisasi BUMN merupakan fenomena yang terjadi di negara maju dan berkembang, dilakukan secara intensif terutama pada awal dekade 1980 an. Privatisasi BUMN yang banyak dijalankan terutama di negara berkembang sering menimbulkan kontroversi terkait dengan tujuan, motivasi, serta implementasi yang sering disertai dengan banyak distorsi. Beberapa pemikiran yang muncul mendukung privatisasi sebagai suatu konsep untuk menciptakan perbaikan kinerja BUMN, sementara pemikiran lain melihat langkah restrukturisasi BUMN lebih tepat dilakukan untuk menghindarkan efek buruk privatisasi.
ditempuh oleh pemerintah sebagai upaya untuk mereformasi perusahaan publik dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas banyak mendapatkan perhatian publik. Berbagai pihak yang pro maupun yang kontra terhadap privatisasi mulai mempertanyakan bagaimana implementasi privatisasi di Indonesia. Kinerja BUMN merupakan faktor yang sangat menentukan penilaian keberhasilan pengelolaan BUMN. Untuk mengukur kinerja ini maka harus dibuat perbandingan antara kinerja sebelum privatisasi dan kinerja setelah privatisasi. Permasalahan pokok yang ada dalam privatisasi menurut kalangan adalah terletak pada pengalihan kepemilikan saham BUMN kepada pihak swasta atau asing. Dengan adanya privatisasi, memungkinkan cabang-cabang produksi yang penting bagi Indonesia akan beralih ke pihak swasta atau asing, seperti halnya salah satu perusahaan telekomunikasi, pertambangan bahkan perbankan kita dikuasai oleh pihak asing.
Kebijakan privatisasi dari tahun 1991 hingga tahun 1997 dilakukan dengan penjualan saham perdana di pasar modal dalam negeri dan pasar moda luar negeri. Tahun 1991 pemerintah menjual 35% saham PT Semen Gresik kemudian dilanjutkan pada tahun 1994, pemerintah menjual 35% saham PT Indosat. Tahun 1995, pemerintah menjual 35% saham PT Tambang Timah dan 23% saham PT Telkom, tahun 1996 saham BNI didivestasi 25% dan tahun 1997 saham PT Aneka
Tambang dijual sebanyak 35%
negara dengan memprivatisasi BUMN. Program privatisasi yang sudah dijalankan Orde Baru dilanjutkan lagi dengan memperbanyak jumlah BUMN yang dijual baik di pasar modal maupun kepada investor strategis. Tahun 1998 pemerintah kembali menjual 14% saham PT Semen Gresik kepada perusahaan asing Cemex. Tahun 1999 pemerintah menjual 9,62%. saham PT Telkom, 51% saham PT Pelindo II kepada investor Hongkong, dan 49% saham PT Pelindo III investor Australia. Tahun 2001 pemerintah kembali menjual 9,2% saham Kimia Farma, 19,8% saham Indofarma, 30% saham Socufindo, 11,9% saham PT Telkom. Antara tahun 2002-2006 privatisasi dilanjutkan dengan menjual saham 14 BUMN dengan cara IPO dan strategic sales (www.bumn-ri.com).
Ukuran utama keberhasilan BUMN yang diprivatisasi adalah semata – mata keberhasilan pemerintah menghemat dana untuk BUMN atau meningkatkan penerimaan pemerintah melalui penjualan saham kepada swasta. Akan tetapi harus diukur dengan kriteria bagaimana pelayanan BUMN tersebut kepada masyarakat. Karena walaupun telah diprivatisasi tetap saja perusahaan tersebut memiliki basis pada pelayanan publik sehingga kepuasan masyarakat harus tetap diperhatikan, dalam arti jangan sampai nantinya harga jual layanan yang disediakan oleh BUMN yang telah diprivatisasi justru berada diatas harga jual normal dan akan memberatkan masyarakat.
akan menunjukkan rata – rata perubahan kinerja perusahaan yang diprivatisasi dengan pertimbangan bahwa perusahaan yang diprivatisasi dengan cara IPO lebih mampu memastikan ketersediaan data dan informasi keuangan sehingga dapat dibandingkan dan 6 dari 7 BUMN yang diprivatisasi sejak tahun 2004 hingga 2011 yang diprivatisasi melalui IPO. Dilakukan pembatasan periode penelitian atas kinerja keuangan perusahaan 2 tahun sebelum dan 2 tahun setelah privatisasi untuk melihat pengaruh privatisasi dalam jangka pendek dan menghindari pengaruh selain privatisasi. Penelitian ini mengecualikan sektor jasa keuangan sebab sektor tersebut memiliki rasio keuangan tersendiri dibandingkan dengan sektor lainnya.
Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai “Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Privatisasi BUMN yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Studi Empiris pada BUMN Sektor Non Jasa Keuangan yang Go Public Tahun 2004 - 2011)”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian dapat diformulasikan sebagai berikut :
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui adanya perbedaan pada kinerja keuangan BUMN sebelum dan sesudah privatisasi BUMN sektor non jasa keuangan yang go public di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi perusahaan (emiten)
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi untuk pertimbangan investasi pada saham BUMN.
2. Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan sebagai tambahan pengetahuan dan informasi mengenai privatisasi BUMN di Indonesia khususnya pengaruh terhadap kinerja keuangan dan menjadi referensi bagi pihak – pihak yang membutuhkan dan berminat mengembangkannya dalam taraf yang lebih lanjut dengan topik sejenis.
3. Bagi Pemerintah
4. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai informasi terhadap masyarakat sehingga meningkatkan pemahaman mengenai privatisasi sehingga mampu respon terhadap privatisasi secara bijaksana dan memadai. 5. Bagi Penelitian Selanjutnya
BAB 1 PENDAHULUAN
1.2Latar Belakang
Tantangan persaingan bisnis yang semakin tajam dan mengglobal menuntut perusahaan untuk selalu berkembang dan dinamis karena itu diperlukan adanya peningkatan produktivitas dan efisiensi seluruh kekuatan ekonomi nasional, salah satunya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun kinerja BUMN tidak berkontribusi memadai bagi negara yang juga memiliki hutang dalam jumlah besar.
Namun dalam kurun waktu 50 tahun semenjak BUMN dibentuk, BUMN secara umum belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Perolehan laba yang dihasilkan masih sangat rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2000 BUMN memiliki total asset sebesar Rp. 861,52 trilyun hanya mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 13,34 Trilyun, atau dengan tingkat Return on Assets (ROA) sebesar 1,55%. Tabel berikut menunjukkan bahwa tingkat ROA BUMN Indonesia pada lima tahun terakhir hanya berkisar antara 1,55% sampai dengan 3,25%.
Tabel 1.1
Kinerja Bumn Dilihat Dari Perolehan Laba (juta rupiah)
Tahun Total Asset Laba Bersih ROA
1997 425,971,407 7,310,092 1.72% 1998 437,756,394 14,226,201 3.25% 1999 607,022,845 14,271,101 2.35% 2000 861,520,494 13,336,582 1.55% 2001 845,186,151 20,186,469 2.39% Sumber: Laporan Perkembangan Kinerja BUMN – Dirjen Pembinaan BUMN, 2001
Data tahun 2000 menunjukkan bahwa hanya 78,10% (107 perusahaan) BUMN yang beroperasi dalam keadaan sehat. Sedangkan sisanya, 16,06% (22 perusahaan) dalam kondisi kurang sehat, dan 5,84% (8 perusahaan) dalam keadaan tidak sehat. Agar dapat menjalankan fungsinya, BUMN yang ada dalam kondisi kurang sehat dan tidak sehat perlu dibantu oleh pemerintah, dalam bentuk penyertaan modal pemerintah.
salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatannya adalah dengan melakukan privatisasi BUMN.
Namun demikian, privatisasi BUMN telah mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa BUMN adalah aset negara yang harus tetap dipertahankan kepemilikannya oleh pemerintah, walaupun tidak mendatangkan manfaat karena terus merugi. Namun ada pula kalangan masyarakat yang berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu sepenuhnya memiliki BUMN, yang penting BUMN tersebut dapat mendatangkan manfaat yang lebih baik bagi negara dan masyarakat Indonesia.
Privatisasi BUMN merupakan fenomena yang terjadi di negara maju dan berkembang, dilakukan secara intensif terutama pada awal dekade 1980 an. Privatisasi BUMN yang banyak dijalankan terutama di negara berkembang sering menimbulkan kontroversi terkait dengan tujuan, motivasi, serta implementasi yang sering disertai dengan banyak distorsi. Beberapa pemikiran yang muncul mendukung privatisasi sebagai suatu konsep untuk menciptakan perbaikan kinerja BUMN, sementara pemikiran lain melihat langkah restrukturisasi BUMN lebih tepat dilakukan untuk menghindarkan efek buruk privatisasi.
ditempuh oleh pemerintah sebagai upaya untuk mereformasi perusahaan publik dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas banyak mendapatkan perhatian publik. Berbagai pihak yang pro maupun yang kontra terhadap privatisasi mulai mempertanyakan bagaimana implementasi privatisasi di Indonesia. Kinerja BUMN merupakan faktor yang sangat menentukan penilaian keberhasilan pengelolaan BUMN. Untuk mengukur kinerja ini maka harus dibuat perbandingan antara kinerja sebelum privatisasi dan kinerja setelah privatisasi. Permasalahan pokok yang ada dalam privatisasi menurut kalangan adalah terletak pada pengalihan kepemilikan saham BUMN kepada pihak swasta atau asing. Dengan adanya privatisasi, memungkinkan cabang-cabang produksi yang penting bagi Indonesia akan beralih ke pihak swasta atau asing, seperti halnya salah satu perusahaan telekomunikasi, pertambangan bahkan perbankan kita dikuasai oleh pihak asing.
Kebijakan privatisasi dari tahun 1991 hingga tahun 1997 dilakukan dengan penjualan saham perdana di pasar modal dalam negeri dan pasar moda luar negeri. Tahun 1991 pemerintah menjual 35% saham PT Semen Gresik kemudian dilanjutkan pada tahun 1994, pemerintah menjual 35% saham PT Indosat. Tahun 1995, pemerintah menjual 35% saham PT Tambang Timah dan 23% saham PT Telkom, tahun 1996 saham BNI didivestasi 25% dan tahun 1997 saham PT Aneka
Tambang dijual sebanyak 35%
negara dengan memprivatisasi BUMN. Program privatisasi yang sudah dijalankan Orde Baru dilanjutkan lagi dengan memperbanyak jumlah BUMN yang dijual baik di pasar modal maupun kepada investor strategis. Tahun 1998 pemerintah kembali menjual 14% saham PT Semen Gresik kepada perusahaan asing Cemex. Tahun 1999 pemerintah menjual 9,62%. saham PT Telkom, 51% saham PT Pelindo II kepada investor Hongkong, dan 49% saham PT Pelindo III investor Australia. Tahun 2001 pemerintah kembali menjual 9,2% saham Kimia Farma, 19,8% saham Indofarma, 30% saham Socufindo, 11,9% saham PT Telkom. Antara tahun 2002-2006 privatisasi dilanjutkan dengan menjual saham 14 BUMN dengan cara IPO dan strategic sales (www.bumn-ri.com).
Ukuran utama keberhasilan BUMN yang diprivatisasi adalah semata – mata keberhasilan pemerintah menghemat dana untuk BUMN atau meningkatkan penerimaan pemerintah melalui penjualan saham kepada swasta. Akan tetapi harus diukur dengan kriteria bagaimana pelayanan BUMN tersebut kepada masyarakat. Karena walaupun telah diprivatisasi tetap saja perusahaan tersebut memiliki basis pada pelayanan publik sehingga kepuasan masyarakat harus tetap diperhatikan, dalam arti jangan sampai nantinya harga jual layanan yang disediakan oleh BUMN yang telah diprivatisasi justru berada diatas harga jual normal dan akan memberatkan masyarakat.
akan menunjukkan rata – rata perubahan kinerja perusahaan yang diprivatisasi dengan pertimbangan bahwa perusahaan yang diprivatisasi dengan cara IPO lebih mampu memastikan ketersediaan data dan informasi keuangan sehingga dapat dibandingkan dan 6 dari 7 BUMN yang diprivatisasi sejak tahun 2004 hingga 2011 yang diprivatisasi melalui IPO. Dilakukan pembatasan periode penelitian atas kinerja keuangan perusahaan 2 tahun sebelum dan 2 tahun setelah privatisasi untuk melihat pengaruh privatisasi dalam jangka pendek dan menghindari pengaruh selain privatisasi. Penelitian ini mengecualikan sektor jasa keuangan sebab sektor tersebut memiliki rasio keuangan tersendiri dibandingkan dengan sektor lainnya.
Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai “Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Privatisasi BUMN yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Studi Empiris pada BUMN Sektor Non Jasa Keuangan yang Go Public Tahun 2004 - 2011)”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian dapat diformulasikan sebagai berikut :
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui adanya perbedaan pada kinerja keuangan BUMN sebelum dan sesudah privatisasi BUMN sektor non jasa keuangan yang go public di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian 6. Bagi perusahaan (emiten)
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi untuk pertimbangan investasi pada saham BUMN.
7. Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan sebagai tambahan pengetahuan dan informasi mengenai privatisasi BUMN di Indonesia khususnya pengaruh terhadap kinerja keuangan dan menjadi referensi bagi pihak – pihak yang membutuhkan dan berminat mengembangkannya dalam taraf yang lebih lanjut dengan topik sejenis.
8. Bagi Pemerintah
9. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai informasi terhadap masyarakat sehingga meningkatkan pemahaman mengenai privatisasi sehingga mampu respon terhadap privatisasi secara bijaksana dan memadai. 10.Bagi Penelitian Selanjutnya
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif komparatif, yang bertujuan untuk membandingkan persamaan atau perbedaan antara satu variabel dengan variabel lainnya, ataupun untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang di teliti
berdasarkan kerangka pemikiran tertentu.
Metode deskriptif komparatif menurut Nazir (1999 : 69) adalah metode penelitian yang bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian telah berlangsung. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data – data yang tersedia.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan situs www.idx.co.id.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret 2014 sampai dengan Juni 2014.
3.3 Batasan Operasional
1. Variabel yang digunakan dalam penelitian, yaitu:
a. Sebelum privatisasi BUMN dan sesudah privatisasi BUMN. b. Profitabilitas
c. Leverage d. Likuiditas e. Efisiensi
2. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari:
a. Data laporan tahunan pada BUMN non jasa keuangan yang di privatisasi di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2002 - 2013.
b. Data yang terdapat di IDX Fact Book periode 2002 - 2013.
3.4Defenisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Profitabilitas (X1) digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba atau seberapa efektif pengelolaan perusahaan oleh manajemen. (Syahyunan, 2004: 83). Rasio yang biasa digunakan adalah Return on Asset (ROA) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari aset, Return on Equity (ROE) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari ekuitas dan Return on Sales (ROS) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari penjualan. Semakin besar profitabilitas maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan.
a. Return On Asset (ROA) = lababersih
b. Return On Equity (ROE) = lababersih
Totalekuitas x 100%
c. Return On Sales (ROS) = lababersih
totalpenjualan x 100%
2. Leverage (X2) menunjukkan seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh
hutang dan menunjukkan struktur modal (Riyanto,2001 : 23). Leverage berkaitan dengan penggunaan biaya tetap untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan perusahaan yang melibatkan pembiayaan aset dengan dana pinjaman dari kreditor maupun pemegang saham preferen yang memiliki tingkat penghasilan atau imbalan yang tetap sehingga merupakan kewajiban bagi perusahaan, semakin tinggi proporsi hutang relatif terhadap ekuitas semakin tinggi risiko yang dimiliki perusahaan dan mempengaruhi kemampuan perusahaan membagi keuntungan dengan pemegang saham. Rasio yang digunakan adalah Debt to Total Assets (DTA) dan Debt to Equity Ratio (DER) . Semakin rendah tingkat leverage semakin baik kinerja keuangan perusahaan.
Debt to Total Assets (DTA) = TotalUtang
TotalAset x 100%
Debt to Equity Ratio (DER) = ����������
����������������� x 100%
3. Likuiditas (X3) merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
manajemen harus mampu mengelola modal kerja yang dimiliki dengan cara menentukan kebijakan kredit yang diberikan, mengatur persediaan dan menjaga siklus produksi. Rasio ini menggambarkan kebutuhan kas perusahaan di masa datang. Rasio yang digunakan adalah Current Ratio (CR) dan Quick Ratio (QR).
a. Current Ratio (CR) = AsetLancar
KewajibanLancar x 100%
b. Quick Ratio (QR) = Asetlancar−persediaan
kewajibanlancar x 100%
4. Efisiensi (X4) adalah mengukur efisiensi penggunaan aset yang dimiliki
perusahaan berupa aktiva tetap, persediaan dan piutang usaha dalam menghasilkan aktivitas penjualan. Rasio yang biasa digunakan adalah Asset Turn Over (ATO) yang mana jika semakin besar maka semakin baik karena efisien.
Asset Turn Over (ATO) = Penjualanbersih
[image:32.595.134.518.575.734.2]Totalaset x 100%
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
Variabel Indikator Skala
Kinerja Keuangan BUMN sebelum Privatisasi
Return on Assets (ROA) = Laba Bersih
Aset x 100% Rasio
Return on Equity (ROE) = Laba Bersih
Return on Sales (ROS) = Laba Bersih
Penjualan x 100% Rasio
Debt to Total Assets (DTA) = Total Utang
Total Aset x 100%
Rasio
Debt to Equity Ratio (DER)
= Total Utang
Total Modal Sendiri x 100% Rasio
Current Ratio (CR) = Aset Lancar
Kewajiban Lancar x 100% Rasio
Quick Ratio (QR)
= Aset Lancar−Persediaan
Kewajiban x 100%
Rasio
Total Asset Turn Over (ATO) = Penjualan bersih
Total aset x 100% Rasio
Kinerja Keuangan BUMN sesudah Privatisasi
Return on Assets (ROA) = Laba Bersih
Aset x 100% Rasio
Return on Equity (ROE) = Laba Bersih
Ekuitas x 100% Rasio
Return on Sales (ROS) = Laba Bersih
Penjualan x 100% Rasio
Debt to Total Assets (DTA) = Total Utang
Total Aset x 100% Rasio
Debt to Equity Ratio (DER)
= Total Utang
Total Modal Sendiri x 100%
Current Ratio (CR) = Aset Lancar
Kewajiban Lancar x 100% Rasio
Quick Ratio (QR) = Aset Lancar−Persediaan
Kewajiban x 100 Rasio
Total Asset Turn Over (ATO)= Penjualan bersih
Total aset x 100% Rasio
3.5Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah BUMN non jasa keuangan yang terprivatisasi yang terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia selama periode 2004 -2011, yang berjumlah 6 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah:
1. BUMN yang diprivatisasi sektor non jasa keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2004 - 2011.
2. BUMN yang diprivatisasi sektor non jasa keuangan yang memiliki data laporan keuangan yang lengkap dan telah diaudit selama periode 2002 - 2013.
[image:34.595.135.517.111.322.2]Jumlah BUMN yang diprivatisasi yang bergerak di bidang non jasa keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang memenuhi seluruh kriteria yang digunakan peneliti dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut:
Sampel Penelitian
No Kode Perusahaan Nama Perusahaan Tanggal IPO
1 ADHI Adhi Karya Tbk 18 Maret 2004
2 WIKA Wijaya Karya Tbk 29 Oktober 2007
3 JSMR Jasa Marga Tbk 12 November 2007
4 PTPP Pembangunan Perumahan Tbk 09 Februari 2010
5 KRAS Krakatau Steel Tbk 10 November 2010
6 GIAA Garuda Indonesia Tbk 11 Februari 2011
Sumber: idx.co.id
3.6 Jenis Data
Jenis data pada penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan hasil publikasi Bursa Efek Indonesia, buku-buku referensi, jurnal, skripsi, dan internet yang berkaitan dengan topik bahasan penelitian.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi dengan mengumpulkan data pendukung dari buku-buku referensi, jurnal, dan mengumpulkan data sekunder dari laporan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia. Internet dengan mengakses situs – situs yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
3.8 Teknik Analisis Data
3.8.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik mengenai nilai rata-rata, nilai minimum dan nilai maksimum dan standar deviasi Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Return On Sales (ROS), Debt to Asset (DTA), Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), dan Asset Turn Over (ATO) sebelum dan setelah privatisasi yang akan diteliti.
3.8.2 Uji Normalitas
Uji Normalitas dilakukan untuk menguji normalitas data yaitu variabel penelitian yaitu Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Return On Sales (ROS), Debt to Asset (DTA), Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), dan Asset Turn Over (ATO) sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis hipotesis yang akan digunakan. Pengujian normalitas yang digunakan adalah one-sample Kolmogorov-Smirnov.
3.9 Pengujian Hipotesis
perbandingan keadaan variabel dari dua sampel atau lebih dengan menggunakan tingkat signifikasi α = 0,05.
Kriteria pengambilan keputusan dalam penelitian ini adalah : a. Ho dapat diterima jika T hitung < T tabel, atau sig > 0,05
b. Ha dapat diterima jika T hitung > T tabel, atau sig < 0,05
3.9.1 Uji Beda Paired Sample t-test
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum
4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia
Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda, tepatnya pada tanggal 14 Desember 1912 di Batavia.Bursa Batavia tersebut merupakan cabang dari Amsterdamse Effectenbuerus, dan penyelenggaranya adalah Verreniging Voor de Effectenhandel. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Sekuritas yang diperjualbelikan adalah saham dan obligasi perusahaan – perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda serta sekuritas Belanda lainnya.
Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman.Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia I (1914-1918) dan II (1942-1952), perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Indonesia akhirnya resmi ditutup pada tanggal 10 Mei 1940 karena terjadinya Perang Dunia II, sekaligus menandai berakhirnya aktivitas pasar modal di Indonesia.
Pada tahun 1952, Bursa efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman (Lukman Wiradinata) dan Menteri Keuangan (Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo) dan instrumen yang diperdagangkan adalah Obligasi Pemerintah RI (1950). Pada tahun 1956-1977, bursa efek vakum karena program nasionalisasi perusahaan Belanda di Indonesia.Hal ini tidak berlangsung lama sebab Bursa Efek Jakarta buka kembali dan akhirnya mengalami kebangkitan pada tahun 1970. Kebangkitan ini disertai dengan dibentuknya Tim Uang dan Pasar Modal.
Pada tanggal 10 Agustus 1977, Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto, BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal).Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT pasar modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT. Semen Cibinong sebagai emiten pertama. Pada awalnya tujuan pengaktifan kembali pasar modal lebih ditekankan pada asas pemerataan, sehingga kepemilikan saham tidak terjatuh pada segolongan masyarakat saja.Untuk itu, pemerintah berperan aktif dalam menangani pasar modal Indonesia.BAPEPAM dan PT. Danareksa diberikan prioritas untuk membeli sedikitnya 50% dari saham yang ditawarkan.
pasar modal. Pada tahun 1987, ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan penawaran umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.Dan Desember 1988 dikeluarkan kebijakan tentang diperbolehkannya swastanisasi Bursa Efek.
Pada tanggal 16 Juni 1989, Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya. Paket deregulasi ini kemudian mendorong Bursa Efek Jakarta berubah menjadi PT Bursa Efek Jakarta pada tanggal 13 Juli 1992. Bursa Efek Jakarta berkembang dengan pesat, jumlah saham yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari 24 saham pada tahun 1988 menjadi lebih dari 200 saham. Pada tahun 1995, Bursa paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya dan diberlakukannya sistem otomatisasi perdagangan di BEJ dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading System).BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading).Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996. Pada tanggal 10 November 2007, Bursa Efek Surabaya (BES) dengan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) (Tandelilin, 2001 : 26).
Merupakan
bermarkas di
tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja pada tanggal 11 Maret 1960.Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perseroan Negara Adhi Karya. Pada tahun itu juga, berdasarkan PP yang sama Perseroan Bengunan bekas milik Belanda yang telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur ke dalam Perseroan.
Perusahaan ini merupakan perusahaan konstruksi pertama yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (Bursa Efek Jakarta) sejak 18 Maret 2004, di mana pada
akhir tahun 2003 negara Republik Indonesia telah melepas 49% kepemilikan
sahamnya kepada masyarakat melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO).
Pada tanggal 8 Maret 2004 Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dengan suratnya No. S-494/PM/2004 untuk melakukan penawaran perdana kepada masyarakat 441.320.000 saham biasa atas nama baru dengan nilai nominal Rp 100 setiap saham dengan harga penawaran Rp 150 setiap saham. Dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum kepada masyarakat tersebut sebesar 10% atau sebanyak 44.132.000 saham biasa atas nama baru dijatahkan secara khusus kepada manajemen dan karyawan Perusahaan melalui program penjatahan saham untuk pegawai Perusahaan (Employee Stock Allocation/ESA).
saham 441.320.000 lbr saham dengan nilai Rp.44.132.000.000 kepada Karyawan dan Manajemen dengan harga Rp. 150 dan nilai nominal Rp.100,-.
Penjualan saham dalam rangka IPO terdiri dari : 397.188.000 lbr (22%) sebesar Rp. 39.718.800.000 dan ESA sebesar 44.132.000 lbr (2,5%) atau sebesar Rp. 4.413.200.000.
Selain bergerak di bidang konstruksi, perusahaan juga bergerak d bidang
terkait seperti bisnis EPC, dan Investasi untuk meningkatkan daya saing
perusahaan dan kekuatan perusahaan di tengah tekanan persaingan dan perang
harga pada tahun 2006. Dengan tagline-nya, “Beyond Construction”, perusahaan
ingin menggambarkan motivasinya untuk bergerak ke bisnis lain yang terkait
dengan core business perusahaan. ADHI juga telah merambah dunia Internasional
di negara-negara Asia Tenggara.
Dalam kegiatan operasionalnya, ADHI didukung oleh delapan divisi
operasi yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri di samping Anak-anak
Perusahaannya. Perusahaan ini memiliki visi untuk menjadi salah satu Perusahaan
konstruksi terkemuka di Asia Tenggara dengan melakukan kinerja berdasarkan
atas peningkatan corporate value secara incorporated, melakukan proses
pembelajaran (learning) dalam mencapai pertumbuhan (peningkatan corporate
value), proaktif melaksanakan lima lini bisnis secara profesional, governance,
mendukung pertumbuhan perusahaan, dan menerapkan Corporate Culture yang
simple tapi membumi/dilaksanakan (down to earth), serta ikut berpartisipasi aktif
dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dan Corporate Social
2. PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk
Merupakan salah satu perusahaan konstruksi di nasionalisasi perusahaan Belanda, Naamloze Vennotschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedijf Vis en Co atau NV Vis en Co, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1960 dan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) No. 5 tanggal 11 Maret 1960, WIKA lahir dengan nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja.
Dimulai sebagai sub-kontraktor, di akhir 1960-an WIKA berkembang menjadi pemborong pemasangan jaringan listrik tegangan rendah, menengah, dan tinggi. Di awal tahun 1970, WIKA memperluas usahanya menjadi perusahaan kontraktor sipil dan bangunan perumahan.
Perusahaan memasuki babak baru pada 20 Desember 1972. Melalui Akta No. 110, dibuat di hadapan Notaris Djojo Muljadi, perusahaan berubah status menjadi Perseroan Terbatas Wijaya Karya (Persero).
Perseroan sukses dalam melaksanakan penawaran saham perdana Initial Public Offering (IPO) sebanyak 35% kepada publik pada 29 Oktober 2007, di Bursa Efek Indonesia. Setelah IPO, pemerintah Republik Indonesia memegang 68,4%, sementara sisanya dimiliki oleh masyarakat, termasuk karyawan, melalui Management Stock Ownership Program (MSOP), Employee Stock Allocation (ESA), dan Employee/ Management Stock Option (E/MSOP).
Dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum kepada masyarakat tersebut sebesr 10% atau sebanyak 184.615.400 lembar saham biasa seri B dijatahkan secara khusus kepada manajemen dan karyawan perusahaan melalui program penjatahan saham untuk pegawai Perusahaan (Employee Stock Allocation / ESA). Porsi saham ESA untuk manajemen (pengurus dan pengawas) adalah sebesar 22,5%, dengan pembagian sebesar 17,5% untuk manajemen perusahaan induk dan sebesar 5% untuk manajemen anak perusahaan. Adapun porsi saham ESA untuk pegawai sebesar 77,5% dengan pembagian sebesar 62,5% untuk pegawai perusahaan induk dan sebesar 15% untuk pegawai anak perusahaan.
3. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk
Melalui Peraturan Pemerintah No. 04 Tahun 1978, pada tanggal 01 Maret
1978 Pemerintah mendirikan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Tugas utama Jasa
Marga adalah merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara jalan
tol serta sarana kelengkapannya agar jalan tol dapat berfungsi sebagai jalan bebas
Pada awal berdirinya, Perseroan berperan tidak hanya sebagai operator
tetapi memikul tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Hingga
tahun 1987 Jasa Marga adalah satu-satunya penyelenggara jalan tol di Indonesia
yang pengembangannya dibiayai Pemerintah dengan dana berasal dari pinjaman
luar negeri serta penerbitan obligasi Jasa Marga dan sebagai jalan tol pertama di
Indonesia yang dioperasikan oleh Perseroan, Jalan Tol Jagorawi
(Jakarta-Bogor-Ciawi) merupakan tonggak sejarah bagi perkembangan industri jalan tol di Tanah
Air yang mulai dioperasikan sejak tahun 1978.
Dengan terbitnya Undang Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan yang
menggantikan Undang Undang No. 13 tahun 1980 serta terbitnya Peraturan
Pemerintah No. 15 yang mengatur lebih spesifik tentang jalan tol terjadi
perubahan mekanisme bisnis jalan tol diantaranya adalah dibentuknya Badan
Pengatur Jalan Tol (BPJT) sebagai regulator industri jalan tol di Indonesia, serta
penetapan tarif tol oleh Menteri Pekerjaan Umum dengan penyesuaian setiap dua
tahun. Dengan demikian peran otorisator dikembalikan dari Perseroan kepada
Pemerintah. Sebagai konsekuensinya, Perseroan menjalankan fungsi sepenuhnya
sebagai sebuah perusahaan pengembang dan operator jalan tol yang akan
mendapatkan ijin penyelenggaraan tol dari Pemerintah.
Pemerintah menetapkan harga penawaran umum perdana (IPO) Jasa Marga Rp 1700 persaham. Dalam prospektus yang dikeluarkan, saham Jasa Marga yang dilepas oleh pemerintah adalah sebesar 30%. Proceed yang didapatkan dari IPO mencapai Rp 3,4 triliun yang semuanya masuk dalam kas perusahaan.
Pemegang saham publik terbesar adalah The Children Trust Fund Investment melalui Deutsche Bank AG,London sebesar 6,71%. Dari total saham publik sebesar 2,040 juta saham 54,3% dimiliki oleh pemegang saham domestik dan dan 45,7% dimiliki oleh pemegang saham asing yang dimiliki oleh 99,7% pemegang saham badan usaha asing. Pemegang saham publik domestik terbesar adalah perorangan 6,7%, Lembaga/Badan Usaha 4,8%, Yayasan 2,4% dan Reksadana 1,82%.
4. PT. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk
Merupakan salah satu
konstruksi bangunan (real estate). Perusahaan ini berdiri tanggal
menjadi PN Pembangunan Perumahan melalui Peraturan Pemerintah No 63
ta
berubah menjadi PT Pembangunan Perumahan (Persero).
Baru pada Perusahaan Perseroan PT Pembangunan Perumahan tanggal 28 Desember 2009. Selanjutnya, pada tanggal 9 Februari 2010 saham Perseroan resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Sebagai suatu BUMN, mayoritas (51%) kepemilikan saham PT PP dipegang oleh Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya (49%) dipegang karyawan dan manajemen PT PP. Sejak IPO, mayoritas (51%) saham dipegang pemerintah, 21,4% saham publik dan 27,6% saham dipegang karyawan dan manajemen PT PP.
Kegiatan Usaha Perseroan meliputi Bidang jasa Konstruksi (Bangunan/Gedung, Jalan/Jembatan, Pengairan, Pelabuhan, dll), EPC (Power Plant, Mining), Properti (Commercial, Residential, Hotel), Investasi (Power Plant& Infrastruktur) dan lain-lain (Pracetak, tiang pancang, peralatan, dll).
5. PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk
Pada 31 Agustus 1970, berdirilah PT Krakatau Steel (Persero) dengan memanfaatkan berbagai fasilitas peninggalan Proyek Besi Baja Trikora, yakni pabrik kawat baja, pabrik baja tulangan dan pabrik baja profil. Pada 1977, Presiden Soeharto meresmikan mulai beroperasinya produsen baja terbesar di Indonesia.
teknologi informasi, serta layanan kesehatan (rumah sakit). Produk-produk baja Krakatau Steel ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan baja nasional, tetapi juga dipasarkan secara internasional.
Kemampuan teknis Krakatau Steel yang tinggi telah memperoleh pengakuan internasional. Bahkan pada tahun 1973, Perseroan telah memperoleh Sertifikat ASTM A252 dan AWWA C200, serta pada 1977 memperoleh Sertifikat API 5L untuk produksi pipa spiral. Sertifikat ISO 9001 diperoleh PT Krakatau Steel (Persero) pada 1993 dan telah ditingkatkan menjadi ISO 9001:2000 pada 2003.Sementara itu, SGS internasional memberikan Sertifikat ISO 14001 pada 1997 atas komitmen Perseroan pada kesadaran lingkungan dan keselamatan kerja.
Pada 10 November 2010, di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, PT Krakatau Steel (Persero) berhasil menjadi perusahaan terbuka dengan melaksanakan penawaran umum perdana Initial Public Offering(IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Pada 2011, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 2.032,85 juta dan laba bersih US$ 151,34 juta. Pada tahun 2011, Perseroan dan anak perusahaan dengan aset senilai US$ 2.398,08 juta memiliki 8.066 orang karyawan.
Pada 2012, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 2.287,45 juta dan mengalami rugi bersih US$ (19,56) juta. Pada tahun 2012, Perseroan dan anak perusahaan dengan aset senilai US$ 2.561,95 juta memiliki 8.092 orang karyawan.
Garuda Indonesia (PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk) adala
sebagai hari jadi Garuda Indonesia, dimana maskapai bernama
bernamaGunung Emas.
Pada tanggal 11 Februari 2011.Garuda memulai menuju bursa saham. Pemerintah menyatakan bahwa harga saham Garuda adalah Rp.750 per saham dan mengurangi penawaran saham dari 9,362 miliar lembar ke 6,3 miliar lembar saham. Garuda Indonesia memutuskan mencatatkan diri
di
Pada 27 April 2012,
saham Garuda Indonesia di harga Rp620 per lembar dengan total sebesar Rp 1,53 triliun. Harga ini lebih rendah dari harga terendah yaitu Rp395 per lembar, tapi masih dibawah harga IPO sebesar Rp750 per lembar.
Sejak IPO mayoritas saham dimiliki oleh Pemerintah Indonesia 69,14% dan selebihnya dimiliki oleh Perseroan Terbatas (PT) 14,64%, Retail 7,15%, Anggkasa Pura I 1,10%, Angkasa Pura II 1,78%, Dana Pensiun 1,14%, Internasional 3,60%, dan lain – lain 1,95%.
Saat ini, Garuda Indonesia menggunakan pesawat
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Kondisi Kinerja Keuangan
[image:50.595.201.426.446.623.2]Berikut ini merupakan analisis kinerja keuangan BUMN sebelum dan sesudah privatisasi dengan menggunakan tujuh rasio yang merupakan indikator kinerja keuangan.
Tabel 4.1
ADHI (PT. Adhi Karya Tk)
Indikator Sebelum Sesudah
ROA 3.60 3.28
ROE 25.23 27.15
ROS 1.01 2.39
DTA 81.36 84.50
DER 437.83 544.83
CR 149.77 126.84
QR 27.62 29.47
ATO 1.55 1.38
Sumber
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Equity(ROE) perusahaan adalah sebesar 25,23 sedangkan rata – rata Return On Equity (ROE) setelah privatisasi sebesar 27,15 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 1,93 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Sales (ROS) perusahaan adalah sebesar 1,01sedangkan rata – rata Return On Sales (ROS) setelah privatisasi sebesar 2,39 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 1,39 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt To Asset (DTA) perusahaan adalah sebesar 81,36 sedangkan rata – rata Debt To Asset (DTA) setelah privatisasi sebesar 84,50 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 3,14 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt Equity Ratio (DER) perusahaan adalah sebesar 437,83 sedangkan rata – rata Debt Equty Ratio (DER) setelah privatisasi sebesar 544,83 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 107,00 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Current Ratio (CR) perusahaan adalah sebesar 149,77 yang berarti bahwa setiap rupiah utang lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 149,77,- sedangkan rata – rata Current Ratio (CR) setelah privatisasi sebesar 126,84 yang berarti mengalami penurunan sebesar 22,94 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
yang berarti mengalami peningkatan sebesar 1,85 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
[image:52.595.201.424.308.486.2]Sebelum privatisasi rata – rata Asset Turn Over(ATO) perusahaan adalah sebesar 1,55 bahwa setiap rupiah modal yang digunakan (capital employed) selama dua tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp 1,55,- sedangkan rata – rata Asset Turn Over (ATO) setelah privatisasi sebesar 1,38 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,16 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Tabel 4.2
WIKA (PT. Wijaya Karya Tbk)
Indikator Sebelum Sesudah
ROA 3.40 3.01
ROE 22.05 11.81
ROS 2.85 2.62
DTA 82.34 72.94
DER 534.02 288.01
CR 124.57 144.45
QR 102.13 110.61
ATO 1.20 1.15
Sumber
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa pada saat sebelum privatisasi rata – rata Return On Asset (ROA) perusahaan adalah sebesar 3,40 sedangkan rata – rata Return On Asset (ROA) setelah privatisasi sebesar 3,01 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,39 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Sales (ROS) perusahaan adalah sebesar 2,85sedangkan rata – rata Return On Sales (ROS) setelah privatisasi sebesar 2,62 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,23 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt To Asset (DTA) perusahaan adalah sebesar 82,34 sedangkan rata – rata Debt To Asset (DTA) setelah privatisasi sebesar 72,94 yang berarti mengalami penurunan sebesar 9,40 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt Equity Ratio (DER) perusahaan adalah sebesar 534,02 sedangkan rata – rata Debt Equty Ratio (DER) setelah privatisasi sebesar 288,01 yang berarti mengalami penurunan sebesar 246,02 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Current Ratio (CR) perusahaan adalah sebesar 124,57 yang berarti bahwa setiap rupiah utang lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 124,57,- sedangkan rata – rata Current Ratio (CR) setelah privatisasi sebesar 144,45 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 19,89 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Quick Ratio (QR) perusahaan adalah sebesar 102,13 sedangkan rata – rata Quick Ratio (QR) setelah privatisasi sebesar 110,61 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 8,48 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
selama dua tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp 1,20,- sedangkan rata – rata Asset Turn Over (ATO) setelah privatisasi sebesar 1,15 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,14 dari saat sebelum melakukan privatisasi
Tabel 4.3
JSMR (PT. Jasa Marga Tbk)
Indikator Sebelum Sesudah
ROA 3.84 5.49
ROE 17.46 12.30
ROS 1.81 2.40
DTA 78.19 52.55
DER 360.56 117.70
CR 46.81 215.71
QR 8.18 45.53
ATO 0.21 0.23
Sumber
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pada saat sebelum privatisasi rata – rata Return On Asset (ROA) perusahaan adalah sebesar 3,84 sedangkan rata – rata Return On Asset (ROA) setelah privatisasi sebesar 5,49,yang berarti mengalami peningkatan sebesar 1,65 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Equity (ROE) perusahaan adalah sebesar 17,46 sedangkan rata – rata Return On Equity (ROE) setelah privatisasi sebesar 12,30 yang berarti mengalami penurunan sebesar 5,16 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt To Asset (DTA) perusahaan adalah sebesar 78,19 sedangkan rata – rata Debt To Asset (DTA) setelah privatisasi sebesar 52,55 yang berarti mengalami penurunan sebesar 25.64 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt Equity Ratio (DER) perusahaan adalah sebesar 360,56 sedangkan rata – rata Debt Equty Ratio (DER) setelah privatisasi sebesar 117,70 yang berarti mengalami penurunan sebesar 242,86 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Current Ratio (CR) perusahaan adalah sebesar 46,81 yang berarti bahwa setiap rupiah utang lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 46,81,- sedangkan rata – rata Current Ratio (CR) setelah privatisasi sebesar 215,71 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 168,90 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Quick Ratio (QR) perusahaan adalah sebesar 8,18 sedangkan rata – rata Quick Ratio (QR) setelah privatisasi sebesar 45,53 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 37,35 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Asset Turn Over (ATO) perusahaan adalah sebesar 0,21 bahwa setiap rupiah modal yang digunakan (capital employed) selama dua tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp 0,21,- sedangkan rata – rata Asset Turn Over (ATO) setelah privatisasi sebesar 0,23 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 0,02 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Tabel 4.4
Indikator Sebelum Sesudah
ROA 4.17 3.94
ROE 41.27 19.80
ROS 3.49 3.86
DTA 85.73 80.04
DER 401.40 603.94
CR 128.35 133.00
QR 11.82 22.27
ATO 1.24 0.95
[image:56.595.194.425.112.266.2]Sumber
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada saat sebelum privatisasi rata – rata Return On Asset (ROA) perusahaan adalah sebesar 4,17 sedangkan rata – rata Return On Asset (ROA) setelah privatisasi sebesar 3,94 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,23 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Equity (ROE) perusahaan adalah sebesar 41,27 sedangkan rata – rata Return On Equity (ROE) setelah privatisasi sebesar 19,80 yang berarti mengalami penurunan sebesar 21,47 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Sales (ROS) perusahaan adalah sebesar 3,49sedangkan rata – rata Return On Sales (ROS) setelah privatisasi sebesar 3,86 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 0,37 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt Equity Ratio (DER) perusahaan adalah sebesar 401,40 sedangkan rata – rata Debt Equty Ratio (DER) setelah privatisasi sebesar 603,94 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 202,54 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Current Ratio (CR) perusahaan adalah sebesar 128,35 yang berarti bahwa setiap rupiah utang lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 128,35,- sedangkan rata – rata Current Ratio (CR) setelah privatisasi sebesar 133,00 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 4,65 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Quick Ratio (QR) perusahaan adalah sebesar 11,82 sedangkan rata – rata Quick Ratio (QR) setelah privatisasi sebesar 22,27 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 10,45dari saat sebelum melakukan privatisasi.
[image:57.595.211.414.614.747.2]Sebelum privatisasi rata – rata Asset Turn Over (ATO) perusahaan adalah sebesar 1,24 bahwa setiap rupiah modal yang digunakan (capital employed) selama dua tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp 1,24,- sedangkan rata – rata Asset Turn Over (ATO) setelah privatisasi sebesar 0,95 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,29 dari saat sebelum melakukan privatisasi
Tabel 4.5
KRAS (PT. Krakatau Steel Tbk) Indikator Sebelum Sesudah
ROA 0.03 3.56
ROE 6.18 7.38
ROS 2.24 0.43
DTA 59.35 53.82
DER 149.78 117.21
QR 44.21 56.78
ATO 0.15 0.87
[image:58.595.186.415.110.160.2]Sumber
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada saat sebelum privatisasi rata – rata Return On Asset (ROA) perusahaan adalah sebesar 0,03sedangkan rata – rata Return On Asset (ROA) setelah privatisasi sebesar 3,56yang berarti mengalami peningkatan sebesar 3,52 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Equity (ROE) perusahaan adalah sebesar 6,18 sedangkan rata – rata Return On Equity (ROE) setelah privatisasi sebesar 7,38yang berarti mengalami peningkatan sebesar 1,20 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Sales (ROS) perusahaan adalah sebesar 2,24sedangkan rata – rata Return On Sales (ROS) setelah privatisasi sebesar 0,43yang berarti mengalami penurunan sebesar 1,81 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt To Asset (DTA) perusahaan adalah sebesar 59,35sedangkan rata – rata Debt To Asset (DTA) setelah privatisasi sebesar 53,82yang berarti mengalami penurunan sebesar 5,53 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Current Ratio (CR) perusahaan adalah sebesar 137,65yang berarti bahwa setiap rupiah utang lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 137,65,- sedangkan rata – rata Current Ratio (CR) setelah privatisasi sebesar 129,44yang berarti mengalami penurunan sebesar 8,21 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Quick Ratio (QR) perusahaan adalah sebesar 44,21sedangkan rata – rata Quick Ratio (QR) setelah privatisasi sebesar 56,78yang berarti mengalami peningkatan sebesar 12,57 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
[image:59.595.195.425.507.675.2]Sebelum privatisasi rata – rata Asset Turn Over (ATO) perusahaan adalah sebesar 0,15bahwa setiap rupiah modal yang digunakan (capital employed) selama dua tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp 0,15,- sedangkan rata – rata Asset Turn Over (ATO) setelah privatisasi sebesar 0,87yang berarti mengalami peningkatan sebesar 0,72 dari saat sebelum melakukan privatisasi
Tabel 4.6
GIAA (PT. Garuda Indonesia Tbk)
Indikator Sebelum Sesudah
ROA 5.33 2.27
ROE 23.30 5.47
ROS 4.17 1.75
DTA 76.43 58.95
DER 326.73 145.12
CR 70.36 83.83
QR 31.65 39.55
ATO 1.32 1.32
Sumber
Return On Asset (ROA) setelah privatisasi sebesar 2,27 yang berarti mengalami penurunan sebesar 3,06 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Equity (ROE) perusahaan adalah sebesar 23,30 sedangkan rata – rata Return On Equity (ROE) setelah privatisasi sebesar 5,47 yang berarti mengalami penurunan sebesar 17,83 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Return On Sales (ROS) perusahaan adalah sebesar 4,17sedangkan rata – rata Return On Sales (ROS) setelah privatisasi sebesar 1,75 yang berarti mengalami penurunan sebesar 2,42 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt To Asset (DTA) perusahaan adalah sebesar 76,43 sedangkan rata – rata Debt To Asset (DTA) setelah privatisasi sebesar 58,95 yang berarti mengalami penurunan sebesar 17,48 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Debt Equity Ratio (DER) perusahaan adalah sebesar 326,73 sedangkan rata – rata Debt Equty Ratio (DER) setelah privatisasi sebesar 145,12 yang berarti mengalami penurunan sebesar 181,61 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Quick Ratio (QR) perusahaan adalah sebesar 31,65 sedangkan rata – rata Quick Ratio (QR) setelah privatisasi sebesar 39,55 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 7,90 dari saat sebelum melakukan privatisasi.
Sebelum privatisasi rata – rata Asset Turn Over (ATO) perusahaan adalah sebesar 1,32 bahwa setiap rupiah modal yang digunakan (capital employed) selama dua tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp 1,32,- sedangkan rata – rata Asset Turn Over (ATO) setelah privatisasi sebesar 1,32 yang berarti tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan dari saat sebelum melakukan privatisasi.
4.2.2 Analisis Statistik Deskriptif
[image:61.595.112.515.511.748.2]Analisis deskriptif memberikan informasi mengenai nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi (standard deviation) data yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 4.7
Hasil Statistik Deskriptif
Rasio N Mean Std. Minimun Maximum
Deviation
ROA1 12 3,3925 1,85194 0,03 6,88
ROA2 12 3,5892 1,83810 0,13 6,31
ROE1 12 22,5783 11,62318 2,62 42,43
ROE2 12 13,9817 8,36635 1,00 27,70
ROS1 12 2,5942 1,36004 0,03 5,70
ROS2 12 2,2425 1,25636 0,13 3,87
DTA1 12 77,2308 9,23960 54,31 86,72
DTA2 12 67,1317 13,34357 51,19 84,52
DER2 12 3,028000 211,69726 104,86 652,83
CR1 12 1,095800 40,00028 32,75 159,94
CR2 12 1,388800 59,68987 83,25 315,77
QR1 12 37,6017 32,99534 5,89 103,9
QR2 12 50,6992 30,50518 18,9 114,05
ATO1 12 0,9425 0,58543 0,14 1,66
ATO2 12 0,9825 0,40495 0,23 1,51
Sumber : output SPSS 16 for windows(data diolah, 2014) Keterangan : 1 = sebelum privatisasi
[image:62.595.110.516.111.291.2]2 = sesudah privatisasi
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa Return On Asset sebelum privatisasi (ROA1) memiliki nilai rata-rata sebesar 3,3925 dengan deviasi standar 1,85194 dan nilaiminimum 0,03 serta nilai maksimum 6,88 sedangkan Return On Asset setelah privatisasi (ROA2) mengalami peningkatan nilai rata-rata menjadi 3,5892 dengan deviasi standar 1,83810 dan nilai minimum 0,13 serta nilai maksimum 6,31.
Return On Equitysebelum privatisasi (ROE1) memiliki nilai rata-rata sebesar 22,5783 dengan deviasi standar 11,62318 dan nilai minimum 2,62 serta nilai maksimum 42,43 sedangkan Return On Equitysetelah privatisasi (ROE2) mengalami penurunan nilai rata-rata menjadi 13,9817 dengan deviasi standar 8,36635 dan nilai minimum 1,00 serta nilai maksimum 27,70.
Debt to Total Asset sebelum privatisasi (DTA1) memiliki nilai rata-rata sebesar 77,2308 dengan deviasi standar 9,23960dan nilai minimum 54,31serta nilai maksimum 86,72sedangkan Debt to Total Asset setelah privatisasi (DTA2) mengalami penurunan nilai rata-rata menjadi 67,1317dengan deviasi standar 13,34357dan nilai minimum 51,19serta nilai maksimum 84,52.
Debt to Equity Ratio sebelum privatisasi (DER1) memiliki nilai rata-rata sebesar 3,683900 dengan deviasi standar 125,75592 dan nilai minimum 118,85 serta nilai maksimum