• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil) pada Jambu Biji di Kebun Percobaan PKHT, Pasir Kuda, Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil) pada Jambu Biji di Kebun Percobaan PKHT, Pasir Kuda, Bogor"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

SIMULASI UJI BUSS (BARU, UNIK, SERAGAM, DAN

STABIL) PADA JAMBU BIJI DI KEBUN PERCOBAAN PKHT,

PASIR KUDA, BOGOR

ISNAENI YUNITA SUSANTI

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil) pada Jambu Biji di Kebun Percobaan PKHT, Pasir Kuda, Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2013

Isnaeni Yunita Susanti

(4)

ABSTRAK

ISNAENI YUNITA SUSANTI. Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil) pada Jambu Biji di Kebun Percobaan PKHT, Pasir Kuda, Bogor. Dibimbing oleh SOBIR.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan (BUSS) dari varietas jambu biji, sehingga data yang dihasilkan dapat digunakan untuk verifikasi Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) dalam pengujian BUSS. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan PKHT, Pasir Kuda, Bogor. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, satu faktor dengan ulangan tidak lengkap, dengan mengacu pada panduan UPOV. Faktor tersebut adalah varietas yang terdiri atas varietas Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Seedless, Super Red, dan Sukun Merah. Hasil simulasi uji BUSS menunjukkan bahwa 35 dari 40 karakteristik terdapat 35 karakteristik yang berbeda dari 40 karakteristik, yang terdiri dari yang terdiri dari 3 karakteristik bagian pohon, 12 karakteristik bagian daun, 3 karakteristik bagian bunga, 15 karakteristik bagian buah, dan 2 karakteristik rekomendasi, sehingga varietas kandidat tersebut dapat disebut unik. Hasil juga menunjukkan tidak adanya varietas yang memiliki tipe simpang (offtype), sehingga dapat disebut seragam, dan stabil. Hal ini dapat disimpulkan bahwa PPU pengujian BUSS dapat digunakan sesuai dengan kondisi di Indonesia, dengan beberapa penambahan karakter baru yang belum ada pada panduan UPOV. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan untuk menentukan varietas-varietas contoh.

Kata kunci: karakter, uji BUSS, jambu biji, verifikasi, PPU

ABSTRACT

ISNAENI YUNITA SUSANTI. Simulation of DUS (novelty, Distinctness, Uniform, and, Stability) test of Guava at Experimental Field PKHT, Pasir Kuda, Bogor. Supervised by SOBIR.

This experiment was conducted to study the Distinctness, Uniformness, and Stability (DUS) of guava varieties, so that the data can be used to verify the Test Implementation Guidelines (PPU) in the DUS test. The experiment was conducted at PKHT experiment station, Pasir Kuda, Bogor. This experiment was conducted using a Complete Randomized Design, one factor with incomplete replications, based on UPOV guidelines. The guava varieties evaluated were Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Seedless, Super Red and Sukun Merah. The DUS test simulation results showed that 35 of 40 characteristics were different, it consisting of 3 tree characteristic, 12 leaf characteristic, 3 flower characteristic, 15 fruit characteristic, and 2 recommended characteristic, so can be called as distinctness. The result also showed that no varieties with offtype, so can called as uniform and stabile. We conclude that the verification for the PPU of DUS test is appropriate and can be used for condition in Indonesia, with a few addition of new characters that not written in UPOV guidelines. The results of this research can also be useful to determine the variety of the samples.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Agronomi dan Hortikultura

SIMULASI UJI BUSS (BARU, UNIK, SERAGAM, DAN STABIL)

PADA JAMBU BIJI DI KEBUN PERCOBAAN PKHT, PASIR

KUDA, BOGOR

ISNAENI YUNITA SUSANTI

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil) pada Jambu Biji di Kebun Percobaan PKHT, Pasir Kuda, Bogor

Nama : Isnaeni Yunita Susanti NIM : A24090139

Disetujui oleh

Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si. Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc.Agr. Ketua Departemen

(8)
(9)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kekuatan, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan dengan baik. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2012 ini ialah uji BUSS, dengan judul Simulasi Uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil) pada Jambu Biji di Kebun Percobaan PKBT, Pasir Kuda, Bogor.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang telah memberikan pendanaan, Prof. Dr. Ir. Sobir, Msi. selaku pembimbing serta Bapak Endang Gunawan yang telah memberikan saran. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Dr. Ir. Rahmad Suhartanto, M.Si., kedua orang tua, keluarga penulis, serta teman-teman Agronomi dan Hortikultura IPB atas nasehat dan doanya. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun di bidang keilmuan.

Bogor, Juli 2013

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Perumusan Masalah 2

METODE 3

Tempat dan Waktu 3

Bahan dan Alat 3

Metode Penelitian 3

Pelaksanaan Penelitian 4

Pengamatan 5

Prosedur Analisis Data 5 TINJAUAN PUSTAKA 5

Botani Jambu Biji 5

Idiotype Ideal Jambu Biji 7

Sistem Pemuliaan Jambu Biji 7

Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 8 Karakteristik Pohon 8 Karakteristik Daun 10 Karakteristik Bunga 11

Karakteristik Buah 15

Analisis Baru, Unik, Seragam, dan Stabil 20

KESIMPULAN DAN SARAN 24

Kesimpulan 24

Saran 24

DAFTAR PUSTAKA 24

LAMPIRAN 27

(11)

DAFTAR TABEL

1 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian pohon jambu biji 12 2 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian daun jambu biji 12 3 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian bunga jambu biji 14 4 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian buah jambu biji 17 5 Nilai Padatan Terlarut Total (PTT) dan Total Asam Tertitrasi (TAT)

rataan dan koefisien keragamannya 19

6 Varietas-varietas contoh jambu biji dengan karakter tertentu 20

DAFTAR GAMBAR

1 Karakteristik warna batang muda 9

2 Karakteristik warna batang tua 9

DAFTAR LAMPIRAN

1 Anova internode cabang 27

2 Anova panjang daun 27

3 Anova lebar daun 27

4 Anova rasio panjang/lebar daun 27

5 Anova diameter bunga 27

6 Anova panjang buah 27

7 Anova diameter buah 28

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu buah tropika yang dapat tumbuh dengan mudah di Indonesia. Hal ini karena Indonesia memiliki agroklimat yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jambu biji. Menurut data Badan Pusat Statistik (2011) produksi jambu biji nasional dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir produksi jambu biji meningkat dari angka 137,598 ton (2001) hingga 211,836 ton (2011), dan angka produksi tertinggi dicapai pada tahun 2003 yaitu sebanyak 239,107 ton.

Tanaman jambu biji atau yang biasa disebut lambo guava atau guava

bukan merupakan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari Brasilia, Amerika Tengah, kemudian menyebar ke Thailand dan negara-negara Asia lainnya, seperti Indonesia (BPPT 2000). Jambu biji berasal dari famili Myrtaceae

dan genus Psidium. Nama ilmiah jambu biji adalah Psidium guajava L. (van Steenis et al. 1981; USDI 1999). Seluruh bagian tanaman jambu biji seperti buah, daun, batang, dan akar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Jambu biji mengandung vitamin A dan vitamin C yang tinggi, dengan kadar gula 8%, mempunyai rasa dan aroma yang khas disebabkan oleh senyawa eugenol, serta daun dan akarnya juga dapat digunakan sebagai obat tradisional (BPPT 2000). Kulit pohon jambu biji dapat digunakan sebagai penyerap Khrom pada limbah cair penyamakan kulit (Handoyo dan Wijoyo 2010). Ekstrak daun jambu biji yang muda juga mempunyai manfaat sebagai penghasil antioxidant, melalui metode

ultrasonication (Nantitanon et al. 2010). Tanaman jambu biji juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias (BPPT 2000). Hal ini yang menyebabkan tanaman jambu biji telah dibudidayakan secara luas baik di negara tropis maupun subtropis di seluruh dunia (BPPT 2000).

Jambu biji memiliki ciri dan keunggulan pada masing-masing varietas. Namun, kualitas varietas jambu biji di Indonesia masih harus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan pasar nasional maupun internasional. Para pemulia meningkatkan varietas jambu biji dengan berbagai teknik ilmu pemuliaan untuk menghasilkan varietas-varietas unggul dan berdaya saing. Varietas-varietas unggul yang telah dihasilkan oleh para pemulia diperlukan adanya suatu perlindungan khusus untuk menjaga dari adanya pencurian varietas secara ilegal dan memberikan motivasi serta penghargaan pada para pemulia, yang disebut dengan hak Perlindungan Varietas Tanaman (Hak PVT).

(13)

2

Definisi dari baru, unik seragam dan stabil dijelaskan pada Pasal 2 ayat 1 s.d 5 UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman. Suatu varietas dianggap baru apabila pada saat penerimaan permohonan hak PVT, bahan perbanyakan atau hasil panen dari varietas tersebut belum pernah diperdagangkan di Indonesia atau sudah diperdagangkan tetapi tidak lebih dari setahun, atau telah diperdagangkan di luar negeri tidak lebih dari empat tahun untuk tanaman semusim dan enam tahun untuk tanaman tahunan. Suatu varietas dianggap unik apabila varietas tersebut dapat dibedakan secara jelas dengan varietas lain yang keberadaannya sudah diketahui secara umum pada saat penerimaan permohonan hak PVT. Suatu varietas dianggap seragam apabila sifat-sifat utama atau penting pada varietas tersebut terbukti seragam meskipun bervariasi sebagai akibat dari cara tanam dan lingkungan yang berbeda-beda. Suatu varietas dianggap stabil apabila sifat-sifatnya tidak mengalami perubahan setelah ditanam berulang-ulang, atau untuk yang diperbanyak melalui siklus perbanyakan khusus, tidak mengalami perubahan pada setiap akhir siklus tersebut.

Namun, PVT merupakan hal yang baru di Indonesia, dan belum adanya Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) untuk melakukan kegiatan uji sifat kebaruan, keunikan keseragaman dan kestabilan (BUSS) yang dapat ditetapkan di Indonesia. Hal ini menjadikan pentingnya verifikasi PPU yang sesuai dengan kondisi dan keragaman di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan simulasi uji coba pemeriksaan bUSS terhadap berbagai jenis tanaman sebagai verifikasi PPU, yang berbasis panduan dari luar negeri yaitu dengan mengacu dari panduan

International Union for The Protection of New Varieties of Plants (UPOV) Tahun 2012.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter kuantitatif dan kualitatif dari jambu biji sebagai verifikasi Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) dalam pengujian BUSS, serta untuk menentukan varietas-varietas contoh.

Perumusan Masalah

(14)

3

METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan PKHT IPB Pasir Kuda, Desa Pasir Mas, Bogor, dan Laboratorium Pascapanen Agronomi dan Hortikultura IPB, selama 8 bulan mulai bulan Oktober 2012 hingga Mei 2013.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman yang digunakan terdiri dari 9 varietas jambu biji, yang terdiri dari 1 varietas referensi dan 8 varietas kandidat, dengan total populasi yaitu 60 tanaman. Varietas referensi yang digunakan yaitu varietas Getas Merah (GM), sedangkan varietas kandidat yang digunakan antara lain, Sukun Putih (SP), Variegata (VGT), Mutiara (MTR), Kristal (KSL), Bangkok (BGK), Seedless Horticultural Society), kamera digital, timbangan, jangka sorong, buret, mortar, dan hand refractometer.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 9 varietas jambu biji sebagai perlakuan, dengan ulangan yang tidak lengkap sehingga secara keseluruhan terdapat 60 satuan pengamatan. Jumlah ulangan dapat dinyatakan dalam sebagai berikut berikut.

(15)

4 Model matematika yang digunakan adalah: Yij = µ + Vi + Gij

Yij : Nilai hasil pengamatan pada varietas ke-i ulangan ke-j µ : Rataan umum

Vj : Pengaruh varietas ke-i

Gij : Galat percobaan pada varietas ke-i, ulangan ke-j Pelaksanaan Penelitian

(16)

5 menjadi putih kekuningan, ujung buah membuka atau merekah, dan aroma mulai tercium. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mempertahankan kualitas buah yang dipanen dengan menyisakan tangkainya sekitar 0.5-1 cm dari pangkal. Penelitian ini dilakukan pengamatan karakter kuantitatif maupun kualitatif pada fase vegetatif, generatif, dan panen serta pascapanen. Hasil pengamatan karakter dibandingkan perbedaannya antara varietas referensi dan varietas kandidat, sehingga akan dianalisis untuk memenuhi sifat Baru, Unik, Seragam, dan Stabil (BUSS).

Pengamatan

Pengamatan karakter-karakter yang diamati mengacu pada panduan

International Union for the Protection of New Varieties of Plants (UPOV) dengan kode TG/ACCA (proj. 1) 18-06-2012. Karakter pengamatan tersebut adalah: (1) pola percabangan, (2) vigor pohon, (3) panjang internode cabang, (4) panjang daun, (5) lebar daun, (6) rasio panjang/lebar, (7) bentuk daun, (8) posisi bagian terlebar daun, (9) bentuk ujung daun, (10) bentuk pangkal, (11) profil melintang daun, (12) perputaran longitudinal daun, (13) warna utama sisi atas daun, (14) belang pada sisi atas daun, (15) warna daun sisi bawah, (16) diameter bunga, (17) warna petal sisi atas bunga (dengan RHS Color Chart), (18) jumlah stamen, (19) bobot buah, (20) panjang buah, (21) diameter buah, (22) rasio panjang/diameter, (23) bentuk buah, (24) simetris longitudinal, (25) kemiringan tangkai buah, (26) letak titik tangkai buah, (27) bentuk titik tumbuh tangkai, (28) kemiringan tangkai, (29) pemisahan calyx, (30) warna kulit buah, (31) tekstur kulit buah, (32) perkembangan longitudinal buah, (33) warna perikap luar, (34) lebar lokul ke buah, (35) warna lokul, (36) penampang pusat biji, (37) waktu mulai panen, (38) tipe penyerbukan. Selain itu terdapat pengamatan tambahan yaitu Padatan Terlarut Total (PTT) dan Titrasi Asam Terlarut (TAT).

Prosedur Analisis Data

Data kuantitatif dari varietas kandidat dan referensi masing-masing diolah dengan software Microsoft Excel dan SAS 9.0, serta diuji lanjut dengan DMRT taraf 5% apabila varietas berbeda nyata. Kemudian, hasil olahan data kuantitatif dianalisis dalam karakter tertentu dan dibandingkan perbedaan karakter antara varietas kandidat maupun referensi. Data kualitatif dari varietas kandidat dan referensi yang diperoleh dianalisis perbedaan karakternya.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Jambu Biji

(17)

6

2004). Tanaman ini dapat tumbuh dengan intensitas curah hujan sekitar 2000-3000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun, serta kelembapan yang cenderung rendah. Tanaman jambu biji dapat tumbuh baik di daerah tropis, terutama pada ketinggian 5-1200 mdpl, mulai pinggir pantai hingga daerah pegunungan dengan kemiringan 0-30o, dan suhu optimal 20-30oC (Sobir dan Amalya 2013). Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau tanaman menjadi kurang sempurna atau kerdil. Lahan untuk tempat tumbuh tanaman ini yaitu lahan yang subur, gembur, banyak mengandung unsur nitrogen, bahan organik atau keadaan liat dan sedikit pasir (BPPT 2000), serta pH sekitar 4.5-8.2, dan toleran terhadap kekeringan dan salinitas (Purseglove 1968, Jaiswal dan Amin 1992).

Tanaman jambu biji merupakan perdu atau pohon yang tingginya 3-10 meter dengan kulit tipis licin (van Steenis et al. 1981) dan halus, berwarna kehijauan, cokelat, cokelat kemerahan, cokelat keabuan yang mudah mengelupas sebagai pergantian atau peremajaan kulit (Purseglove 1968, Cahyono 2010). Batang jambu biji memiliki ciri khusus, diantaranya berkayu keras, liat, tidak mudah patah, kuat, dan padat (Cahyono 2010). Umumnya tanaman ini berumur hingga 30-40 tahun. Sistem perakaran jambu biji adalah berakar tunggang, dengan perakaran lateral, dan berserabut cukup banyak (BPPT 2000). Daun jambu biji sederhana, berlawanan, panjang 10-15 cm, berbentuk oval sampai oblong-elips, halus dan granular (Purseglove 1968), serta bulat panjang atau memanjang (van Steenis et al. 1981). Lebar daun berkisar dan lebar 3-6 cm dan panjang tangkai sekitar 3-7 mm. Warna daunnya beragam seperti hijau tua, hijau muda, merah tua, dan hijau berbelang kuning (BPPT 2000). Bunga terletak di ketiak daun, bertangkai 1-4 cm, anak payung berbunga 1-3, dan tabung kelopak berbentuk lonceng atau corong panjangnya 0.5 cm (van Steenis et al. 1981). Bunga terdiri dari 4-5 petal, berwarna putih, obovate, cekung, cepat rontok, panjangnya 1-2 cm, dan stamen berjumlah banyak (Purseglove 1968). Benang sari terletak pada tonjolan dasar bunga berbulu, putih, pipih, dan lebar seperti halnya putik berwarna serupa mentega (van Steenis et al. 1981). Eksokarp buah berwarna hijau sampai kuning terang dan mesokarpnya lunak, ketebalannya bervariasi, berwarna putih, kuning, merah, atau merah muda dengan sel batu, serta berbiiji banyak berwarna kekuningan (Purseglove 1968). Bobot buah 100-450 g, berdiameter 4-10 cm (Purseglove 1968), panjangnya 5-8.5 cm, daging buah berwarna kekuningan atau merah muda, berbentuk bulat telur, atau bundar (van Steenis 1981).

Jambu biji merupakan tanaman yang cukup banyak rentan terhadapa hama dan penyakit. Hama pada jambu biji yaitu ulat daun (Trabala pallida), ulat keket (Ploneta diducta), semut, tikus, kalong, bajing, ulat putih, ulat penggerek batang (Indrabela sp), dan ulat jengkal (Berta chrysolineate). Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan nogos, sevin, karbofuran seperti furadan, dan musuh alami seperti ulat putih. Sedangkan penyakit pada jambu biji yaitu penyakit karena ganggang (Cihephaleusos vieccons), jamur (Ceroospora psidil),

(18)

7 Idiotype Ideal Jambu Biji

Sejumlah jenis jambu biji, terdapat beberapa varietas jambu biji yang digemari orang dan dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomisnya yang relatif lebih tinggi diantaranya jambu sukun, jambu bangkok, jambu merah, jambu pasar minggu, jambu sari, jambu apel, jambu palembang, dan jambu getas merah (BPPT, 2000). Secara umum konsumen atau masyarakat di pasaran menginginkan jambu biji yang mempunyai ukuran besar, berbiji sedikit, aroma wangi, dan rasa asam-manis yang seimbang. Hal ini diperkuat dengan pernyataan bahwa standar seleksi kultivar untuk dikembangkan sebagai kualitas buah yaitu diameter buah (minimal 7.5 cm), kapasitas diameter buah (tidak lebih dari 3.75 cm), bobot segar 200-300 g, kandungan biji (1-2%), warna merah muda tua, kepadatan (9-12%), mengandung vitamin C, lunak dengan sedikit sel batu dan berkarakteristik aroma jambu (Soetopo 1992), serta memiliki daging yang tebal dan manis (Rahmat 2007).

Sistem Pemuliaan Jambu Biji

Menurut UU No. 29 Tahun 2000, tentang Perlindungan Varietas Tanaman, pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Sistem pemuliaan jambu biji dapat melalui perbanyakan generatif maupun vegetatif. Perbanyakan dengan cara generatif atau dengan biji tidak disukai karena tumbuhannya lama menjadi dewasa dan juga akan berubah sifat dari induknya. Perbanyakan yang sekarang dilakukan adalah secara vegetatif, khususnya dengan cara pencangkokan, penempelan, dan penyambungan agar lebih cepat berbuah (Distan Majalengka 2012). Tanaman yang berasal dari biji relatif berumur lebih panjang dibandingkan hasil cangkokan atau okulasi. Namun, tanaman yang berasal dari okulasi memiliki postur lebih pendek (dwarfing) dan bercabang lebih banyak sehingga memudahkan perawatan tanaman. Tanaman ini sudah mampu berbuah saat berumur sekitar dua sampai tiga bulan meskipun ditanam dari biji (BPPT 2000). Pohon dari hasil biji mulai berbunga 4-5 tahun, sedangkan pohon hasil perbanyakan vegetatif mulai berbunga 2-3 tahun setelah pengadaan (Yadava 1996). Musim berbunga pada waktu musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli sampai September, sedangkan musim buahnya terjadi bulan Nopember sampai Februari bersamaan musim penghujan (BPPT 2000). Jambu biji terjadi penyerbukan sendiri dan silang dan secara alami penyerbukan silang telah terlihat sekitar 35% menggunakan mesokarp merah dominan sebagai penanda (Purseglove 1968).

Perlindungan Varietas Tanaman (PVT)

(19)

8

UU No. 29 Tahun 2000, yang disahkan tanggal 20 Desember 2000, menyebutkan bahwa Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) adalah perlindungan khusus yang diberikan negara, yang diwakili oleh pemerintah dan pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Perlindungan Varietas Tanaman, terhadap varietas tanaman yang dihasilkan oleh pemulia tanaman melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Hak PVT adalah hak khusus yang diberikan negara kepada pemulia dan atau pemegang hak PVT untuk menggunakan sendiri varietas hasil pemuliaannya atau memberi persetujuan kepada orang atau badan hukum lain untuk menggunakannya selama waktu tertentu. Varietas adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji, dan ekspresi karakteristik genotipe atau kombinasi genotipe yang dapat membedakan dari jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan. Varietas yang dapat diberi PVT meliputi varietas dari jenis atau spesies tanaman yang Baru, Unik, Seragam, Stabil, dan diberi nama. Pengujian sifat-sifat tersebut dilakukan dengan pendekatan penetapan karakter varietas yang diuji harus memiliki sifat Baru, Unik, Seragam, dan Stabil, atau dikenal dengan uji BUSS.

Pendekatan yang dilakukan untuk pengujian BUSS yaitu dengan pendekatan karakterisasi kuantitatif maupun kualitatif pada tanaman yang akan diuji. Tanaman yang diuji akan ditanam pada suatu tempat yang sama untuk menghindari adanya faktor eksternal atau lingkungan yang tinggi. Menurut Lengkong (2008), analisis keragaman genetika perlu dilakukan untuk mengetahui potensi keragaman plasma nutfah. Menurut Simmonds dan Shepherd (1995) menyatakan bahwa karakterisasi berdasarkan penanda morfologi kualitatif merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah duplikasi plasma nutfah. Namun, pengujian BUSS ini memerlukan adanya Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) yang diverifikasi sesuai dengan kondisi agroklimat dan keragaman di Indonesia, sehingga perlu dilakukan simulasi uji BUSS. Simulasi uji BUSS ini berbasis luar negeri dengan panduan dari UPOV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil simulasi uji BUSS menunjukkan bahwa dari 8 varietas kandidat dan 1 varietas referensi, terdapat 35 dari 40 karakteristik berbeda. Karakteristik tersebut terdiri dari 3 karakteristik bagian pohon, 12 karakteristik bagian daun, 3 karakteristik bagian bunga, 15 karakteristik bagian buah, dan 2 karakeristik tambahan. Hasil pengamatan dinyatakan dalam beberapa tabel di bawah ini.

Karakteristik Pohon

(20)

9 dan Super Red mempunyai karakter pola percabangan tidak beraturan. Jambu biji mempunyai tingkat vigor (Tabel 1) dengan rata-rata kuat, namun pada varietas Variegata dan Sukun Merah mempunyai vigor yang sedang. Perbedaan karakteristik panjang internode (Tabel 1) terlihat pada varietas Sukun Putih dan Seedless dengan karakter yang sangat pendek yaitu panjang rataannya 4.98 cm dan 4.58 cm. Varietas Variegata, Mutiara, Kristal dan Super Red mempunyai karakter internode yang sedang dengan rataan 5.38 cm, 5.38 cm, 5.24 cm dan 5.37 cm. Varietas Sukun Merah mempunyai karakter internode yang panjang dengan rataannya 5.53 cm. Karakter internode pada varietas Sukun Merah terlihat lebih panjang dibandingkan dengan varietas lainnya. Nilai koefisien keragaman (KK) sebesar 4.67% (Lampiran 1). Selain ketiga karakteristik tersebut terdapat terdapat perbedaan warna batang ketika masih muda dan tua, yang bisa menjadi saran untuk karakteristik baru. Warna batang muda (Gambar 1) pada varietas Bangkok, Sukun Merah, dan Variegata terlihat hijau kekuningan, sedangkan pada varietas Getas Merah, Kristal, Mutiara, Seedless, dan Sukun Putih berwarna hijau, serta varietas Super Red berwarna merah. Warna batang ketika tua (Gambar 2) terlihat berbeda dibandingkan ketika masih muda, yaitu pada varietas Bangkok terlihat warna batangnya cokelat tua kekuningan dengan sangat sedikit corak hijau, varietas Getas Merah dan Sukun Merah berwarna cokelat sangat muda dengan corak sedikit hijau keabuan, varietas Kristal, Mutiara, Seedless, dan Sukun Putih berwarna cokelat tua keabuan, varietas Super Red berwarna cokelat muda keabuan, serta varietas Variegata berwarna cokelat muda kekuningan.

Gambar

Gambar 1 Karakteristik warna batang muda

(21)

10

Karakteristik Daun

Perbedaan karakteristik bagian daun terdapat 12 perbedaan yaitu terlihat pada karakteristik panjang, lebar, rasio panjang/lebar, bentuk, bagian terlebar, bentuk ujung, bentuk pangkal, profil melintang, perputaran longitudinal, warna utama sisi atas, belang pada sisi atas, dan warna sisi bawah daun. Karakteristik panjang daun (Tabel 2) terlihat perbedaan karakternya seperti pada varietas Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Kristal, Seedless, Super Red, dan Sukun Merah mempunyai karakter panjang daun yang sedang dengan rataan antara lain, 13.63 cm, 13.50 cm, 13.22 cm, 13.33 cm, 14.10 cm, 13.73 cm, dan 12.33 cm. Varietas Bangkok mempunyai karakter panjang daun yang sangat panjang dibandingkan varietas lain, dengan rataan 16.69 cm dan nilai KK sebesar 13.74% (Lampiran 2). Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa daun jambu biji berkarakter sederhana, berlawanan, panjang 10-15 cm (Purseglove 1968). Karakter lebar daun (Tabel 2) yang berbeda terlihat pada varietas Variegata, Kristal, dan Super Red mempunyai karakter lebar daun yang sangat sempit dengan rataan 5.98 cm, 5.90 cm dan 5.88 cm. Selain itu, terdapat juga varietas Seedless dan Sukun Merah mempunyai karakter lebar daun yang lebar dengan rataannya 7.25 cm dan 7.30 cm. Nilai KK lebar daun sebesar 13.95% (Lampiran 3). Karakter lebar daun (Tabel 2) pada varietas Sukun Merah terlihat lebih lebar dibandingkan dengan varietas lainnya. Lebar daun berkisar dan lebar 3-6 cm dan panjang tangkai sekitar 3-7 mm. Rasio panjang/lebar daun (Tabel 2) varietas Sukun Merah mempunyai karakter rasio daun yang membulat dengan rataan 1.69. Varietas Sukun Putih, Mutiara, dan Seedless mempunyai karakter rasio daun yang agak memanjang dengan rataan 1.98, 2.03, dan 1.95. Varietas Super Red mempunyai karakter rasio daun yang memanjang kuat dengan rataan 2.36. Varietas Bangkok mempunyai karakter rasio daun yang memanjang sangat kuat dengan rataan 2.46. Nilai KK rasio daun sebesar 5.73% (Lampiran 4).

(22)

11 hanya terlihat pada varietas Variegata, yang menjadi ciri pembeda diantara varietas lainnya. Karakteristik warna sisi bawah daun (Tabel 2) terlihat berbeda hanya pada varietas Super Red yang mempunyai karakter baru yaitu berwarna kemerahan.

Karakteristik Bunga

(23)
(24)

Tabel 1 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian pohon jambu biji

Cetak tebal menunjukkan ciri khas varietas, (*): karakteristik penting, (+): penjelasan karakteristik individual, VG: satu pengamatan visual dari suatu grup tanaman, PQ: karakteristik pseudo-kualitatif, QN: karakteristik kuantitatif.

Tabel 2 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian daun jambu biji

No. kode Karakteristik SP VGT MTR GM KSL BGK SDL SR SM

4 (*)(a) (VG/MS) (QN)

Daun: panjang 13.63b 5) sedang

Daun: lebar 6.35abc

(25)

2

No. Kode Karakteristik SP VGT MTR GM KSL BGK SDL SR SM

7 (+)(a) (VG)(PQ)

Daun: bentuk 4) obovate 2) elips 4) obovate 4) obovate 4) obovate 3) oblong 4) obovate 2) elips 4) obovate

8 (*)(+)(a) (VG)(QN)

Daun: bagian terlebar

3) mendekati ujung

2) di tengah 3) mendekati ujung

3) mendekati ujung

3) mendekati ujung

2) di tengah 3) mendekati ujung

2) di tengah 3) mendekati ujung 9 (+)(a)

(VG)(PQ)

Daun: bentuk ujung

3) membulat 2) obtuse 2) obtuse 2) obtuse 2) obtuse 2) obtuse 3) membulat 2) obtuse 3) membulat

10 (+)(a) (VG)(PQ)

Daun: bentuk pangkal

4) membulat 4) membulat 4) membulat 4) membulat 3) obtuse 4) membulat 3) obtuse 3) obtuse 4) membulat

11 (+)(a) (VG)(QN)

Daun: profil melintang

2) datar 1) cekung 2) datar 1) cekung 2) datar 1) cekung 2) datar 1) cekung 1) cekung

12 (a) (VG)(QL)

Daun: perputaran longitudinal

1) tidak ada 9) ada 1) tidak ada 9) ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada

13 (*)(+) (a)(VG)

Daun: warna sisi atas

2) hijau sedang

1) hijau muda

2) hijau sedang

1) hijau muda

2) hijau sedang

3) hijau gelap

2) hijau sedang

5) hijau kemerahan

2) hijau sedang

14 (*)(a) (VG)(QL)

Daun: belang pada sisi atas

1) tidak ada 9) ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada 1) tidak ada

(26)

3

No. kode Karakteristik SP VGT MTR GM KSL BGK SDL SR SM

15 (+)(a) (VG)(PQ)

Daun: warna sisi bawah

2) hijau 2) hijau 2) hijau 2) hijau 2) hijau 2) hijau 2) hijau 4)

kemerahan

2) hijau

Cetak tebal menunjukkan ciri khas varietas, (*): karakteristik penting, (+): penjelasan karakteristik individual, (a): semua pengamatan daun dilakukan pada bagian tengah cabang ketiga pada pohon umur setahun, MS: pengukuran dari masing-masing individu tanaman, VG: satu pengamatan visual dari suatu grup tanaman, PQ: karakteristik pseudo-kualitatif, QN: karakteristik kuantitatif, QL: karakteristik kualitatif.

Tabel 3. Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian bunga jambu biji

No. Kode Karakteristik SP VGT MTR GM KSL BGK SDL SR SM

16 (b)(VG/ MS)(QN)

Bunga: diameter 1.47c 1) kecil

4.00a 3) lebar

4.05a 3) lebar

4.15a 3) lebar

4.29a 3) lebar

3.55b 2) sedang

1.60c 1) kecil

3.41b 2) sedang

3.50b 2) sedang

17 (*)(+) (b)(MG) (PQ)

Bunga: warna petal sisi atas

putih (NN 155 C)

putih (NN 155 C)

putih (NN 155 B)

putih (NN 155 B)

putih (NN 155 B)

putih (NN 155 B)

Putih (NN 155 A)

*) merah muda

Putih (NN 155 C)

18 (+)(b) (VG/MG) (QN)

Bunga: jumlah stamen

1) sedikit 2) sedang 3) banyak 2) sedang 3) banyak 2) sedang 1) sedikit 3) banyak 2) sedang

Cetak tebal menunjukkan ciri khas varietas, (*): karakteristik penting, (+): penjelasan karakteristik individual, (b): semua pengamatan bunga dilakukan pada saat 50% bunga telah mekar pada pohon tersebut, MG: satu pengukuran dari suatu grup tanaman, MG: satu pengukuran dari suatu grup tanaman, MS: pengukuran dari masing-masing individu tanaman, VG: satu pengamatan visual dari suatu grup tanaman, PQ: karakteristik pseudo-kualitatif, QN: karakteristik kuantitatif.

(27)
(28)

Karakteristik Buah

Perbedaan karakteristik jambu biji bagian buah terlihat pada 15 karakteristik antara lain pada panjang, diameter, rasio panjang/diameter, bentuk, kemiringan tangkai, letak titik tangkai, kemiringan sepal, pemisahan calyx, warna kulit, perkembangan longitudinal, warna perikap luar, lebar lokul relatif, warna lokul, penampang pusat buah, dan waktu panen. Panjang buah (Tabel 4) dengan KK sebesar 7.70% (Lampiran 6), terlihat berbeda pada varietas Kristal yang berkarakter sangat pendek dengan rataan 7.50 cm, sedangkan varietas Mutiara berkarakter pendek dengan rataan 7.75 cm. Selain itu, terdapat perbedaan juga pada varietas Variegata dengan karakter panjang buah sedang yaitu rataan 8.29 cm, sedangkan varietas Bangkok berkarakter sangat panjang dengan rataan 9.02 cm. Diameter buah (Tabel 4) dengan KK sebesar 8.55% (Lampiran 7) menunjukkan perbedaan hanya pada varietas Super Red dengan karakter kecil yaitu rataan 7.02 cm. Nilai dari panjang dan diameter buah, secara tidak langsung akan mempengaruhi rasio buah yang dihasilkan. Rasio buah (Tabel 4) terlihat berbeda hanya pada varietas Super Red dengan karakter yang memanjang sedang yaitu rataan 1.20.

Perbedaan karakter bentuk buah (Tabel 4) terlihat pada varietas Mutiara dan Kristal dengan karakter melingkar, serta pada varietas Sukun Putih mempunyai karakter oblong. Morfologi buah hasil eksplorasi di Manokwari ditemukan 4 bentuk buah yaitu rounded (membulat), ellipsoid (menjorong),

piriform (pear), dan elongate (melanset) (Rahmat 2007). Karakteristik kemiringan tangkai buah (Tabel 4) hanya terlihat berbeda pada varietas Variegata dan Super Red dengan karakter yang sedang. Karakter letak titik tangkai (Tabel 4) menunjukkan perbedaan hanya pada varietas Mutiara dan Kristal dengan karakter yang menekan. Kemiringan sepal (Tabel 4) pada varietas Variegata dan Super Red terlihat berbeda yaitu dengan karakter agak tegak. Varietas Bangkok dan Super Red mempunyai karakter pemisahan calyx (Tabel 4) sedang, yang menunjukkan adanya perbedaan. Perbedaan juga terlihat pada varietas Mutiara dengan karakter pemisahan calyx yang lemah, sedangkan varietas Kristal berkarakter tidak ada atau lemah.

(29)

2

hanya pada varietas Mutiara, Kristal, dan Super Red dengan karakter panen yang sangat genjah.

Selama proses kematangan, buah jambu akan melalui tahap-tahap dari perubahan warna, tekstur, dan aroma, yang menjadi indikator perubahan komposisi kandungannya (Bashir et al. 2003). Perubahan kualitatif pada jambu biji disebabkan oleh penyebaran etilen yang mempercepat kematangan dari buah klimaterik (Reyes dan Paull 1995). Buah yang matang akan menjadi lembut, manis, tidak asam, beraroma kuat, sehingga lebih diminati manusia untuk dikonsumsi. PTT dan total kadar gula meningkat selama buah jambu tersebut mengalami proses kematangan. Kadar TAT pada buah jambu biji juga meningkat sampai titik kematangan, namun setelah itu mengalami penurunan (Bashir et al.

2003). Buah klimaterik, sebagian, akan memperlihatkan perubahan kandungan gula selama proses kematangan buah (Hulme 1970). Strach dan sukrosa mengubah menjadi glukosa selama buah matang (Wills et al. 1981). Glukosa,

fruktosa, dan sukrosa merupaka gula utama dalam buah jambu putih dan merah. Tingkat fruktosa meningkat selama buah jambu biji matang dan akan menurun ketika buah lewat matang (Mowlah dan Itoo 1982).

Karakter PTT dan TAT terlihat nyata lebih besar nilainya pada varietas Getas Merah dibandingkan dengan varietas lainnya (Tabel 5). Nilai PTT yang semakin tinggi menunjukkan bahwa buah tersebut semakin manis, seperti ada varietas Getas Merah dengan nilai rataannya 8.32o Brix. Nilai TAT yang semakin tinggi menunjukkan bahwa kandungan asam terlarut pada buah tersebut semakin tinggi, seperti pada varietas Getas Merah yaitu sekitar 21.01 mg/100 g. Jambu biji mengandung vitamin C yang paling tinggi dan cukup mengandung vitamin A, dibanding buah-buahan lainnya seperti jeruk manis yang mempunyai kandungan vitamin C 49 mg/100 g bahan, sedangkan kandungan vitamin C jambu biji dua kali lipatnya (Rismunandar 1989). Jambu biji juga mempunyai beberapa manfaat antara lain, mengandung vitamin C dengan konsentrasi yang cukup tinggi yaitu 52.0636 mg/100g (Zakaria et al. 2000), mengandung zat antioxidan (Meydani et al. 1995) dan menurunkan resiko kanker (Mangels 1993), dapat meningkatkan kemampuan sel limfosit B dan T untuk berproliferasi dan aktivitas sitotoksik sel NK atau meningkatkan sistem imun tubuh (Zakaria et al. 2000), mempunyai fungsi kesehatan (menurunkan kadar kolesterol darah, mengobati infeksi, menjaga dan mengobati sariawan, memperlancar peredaran darah, melancarkan saluran pencernaan, dan mencegah konstipasi (Distan Majalengka 2102). Kandungan pada jambu biji terdiri dari (0.97+0.04)% lemak, (4.22+0.11)% protein, kalsium sebesar (29.8+2.0) µg/ bobot segar, vitamin C sebesar (1200+46) µg/ bobot segar (McCook-Russell et al. 2012).

Komponen variasi genetik yang tinggi dari buah berkualitas dapat diindikasi bahwa genetik tersebut melalui persilangan dan seleksi yang layak.

Semua kandungan buah berkualitas sangat dipengaruhi oleh variasi musim, sehingga evaluasi harus dilakukan pada beberapa musim untuk mengestimasi parameter genetik tersebut. Perubahan berat buah yang terjadi pada musim-musim utama menyebabkan perubahan berat kapasistas biji tanpa mengubah ketebalan daging buah. Variasi rendah antar pohon dan variasi tinggi antar buah mengindikasi bahwa meningkatkan jumlah contoh buah lebih efektif untuk meminimalkan variasi lingkungan daripada meningkatkan jumlah pohon per genotipe untuk evaluasi genetik (Thaipong dan Boonprakob 2005).

(30)

Tabel 4 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian buah jambu biji

Buah: letak titik tangkai

- 2) datar 1) menekan 2) datar 1) menekan 2) datar - 2) datar -

27 (+)(c) (VG)(PQ)

Buah: bentuk titik tumbuh tangkai

- 3) lingkaran 3) lingkaran 3) lingkaran 3) lingkaran 3) lingkaran - 3) lingkaran -

(31)

2

Buah: lebar lokul relatif ke buah

(32)

3

No. Kode Karakteristik SP VGT MTR GM KSL BGK SDL SR SM

37 (*) (VG)(QN)

Waktu panen - 3) genjah 1) sangat

genjah

3) genjah 1) sangat genjah

3) genjah - 1) sangat

genjah

- 38 (*)(+)

(d)(QN) (VG)

Tipe penyerbukan 100% 3)

penyerbuka n silang

100%

3) penyerbukan silang

100% 3)

penyerbukan silang

100% 3)

penyerbukan silang

100% 3)

penyerbukan silang

100% 3)

penyerbukan silang

100% 3) penyerbu kan silang

100% 3)

penyerbukan silang

-

Cetak tebal menunjukkan ciri khas varietas, (*): karakteristik penting, (+): penjelasan karakteristik individual, (c): semua pengamatan buah dilakukan pada saat panen, (d): semua pengamatan buah dilakukan pada saat buah matang untuk dimakan, VG: satu pengamatan visual dari suatu grup tanaman, PQ: karakteristik pseudo-kualitatif, QN: karakteristik kuantitatif.

Tabel 5 Nilai Padatan Terlarut Total (PTT) dan Total Asam Tertitrasi (TAT) rataan dan koefisien keragaman (KK) Karakter pengamatan Varietas

GM KSL BGK VGT MTR SR KK (%)

Padatan terlarut total (PTT) (obrix) 8.32a 7.16ab 6.77b 7.23ab 7.60ab 6.85b 14.82 Total asam tertitrasi (TAT) (mg/100g) 21.01a 17.31b 17.00b 15.87b 17.82ab 17.34b 15.27

SP: Sukun Putih, GM: Getas Merah, KSL: Kristal, BGK: Bangkok, SDL: Seedless, VGT: Variegata, MTR: Mutiara, SR: Super Red, dan SM: Sukun Merah.

(33)
(34)
(35)

2

Analisis Baru, Unik, Seragam, dan Stabil Jambu Biji

Berdasarkan hasil pengamatan simulasi pengujian BUSS pada varietas kandidat jambu biji, dapat dijelaskan bahwa masing-masing varietas kandidat tersebut mempunyai sifat baru karena varietas kandidat ini masih belum terlalu dikomersialkan dan atau belum mendapat PVT. Masing-masing varietas kandidat juga mempunyai minimal satu sifat unik yang membedakan antar varietas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 8 varietas kandidat dan 1 varietas referensi terdapat 35 karakteristik yang berbeda. Karakteristik berbeda tersebut terdiri dari 3 karakteristik bagian pohon, 12 karakteristik bagian daun, 3 karakteristik bagian bunga, 15 karakteristik bagian buah, dan 2 karakteristik tambahan (PTT dan TAT). Hasil pengamatan simulasi uji BUSS juga memperlihatkan hasil yang seragam karena tidak ada varietas yang memiliki tipe simpang (offtype), dan dapat dikatakan stabil karena tidak adanya perubahan secara genetik dari varietas tersebut. Oleh karena itu, Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) untuk pengujian BUSS dinyatakan valid. Panduan ini juga dapat digunakan untuk menentukan varietas-varietas contoh untuk sifat-sifat tertentu (Tabel 6).

Tabel 6 Varietas-varietas contoh jambu biji dengan karakter tertentu

No. Kode Karakteristik Karakter Notasi Varietas contoh

1

Bangkok, Sukun Merah Getas Merah, Sukun Putih Mutiara, Kristal, Seedless Variegata, Super Red 2

(+)(QN) (VG)

Pohon: vigor Lemah Sedang Kuat

3 5 7

Sukun Merah, Variegata Sukun Putih, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Seedless, Super Red 3

Sukun Putih, Seedless Getas Merah, Bangkok

Variegata, Mutiara, Kristal, Super Red

Daun: panjang Sangat pendek Pendek

Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Kristal, Seedless, Super Red, Sukun Merah

Daun: lebar Sangat sempit Sempit

Variegata, Kristal, Super Red Sukun Putih, Mutiara, Getas Merah, Bangkok

Seedless, Sukun Merah 6

Sukun Putih, Mutiara, Seedless Variegata, Getas Merah, Kristal Super Red

Bangkok

(36)

3

No. kode Karakteristik Karakter Notasi varietas contoh

7

Variegata, Super Red Bangkok

Sukun Putih, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Seedless, Sukun Merah

Variegata, Bangkok, Super Red Sukun Putih, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Seedless, Sukun Merah

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Super Red Sukun Putih, Seedless, Sukun Merah

Kristal, Seedless, Super Red Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Getas Merah, Bangkok, Sukun Merah

Variegata, Getas Merah, Bangkok, Super Red, Sukun Merah

Sukun Putih, Mutiara, Kristal, Seedless

Sukun Putih, Mutiara, Kristal, Bangkok, Seedless, Super Red, Sukun Merah

Variegata, Getas Merah 13

(*)(+)(a) (VG)

Daun: warna utama sisi atas

Hijau muda

Variegata, Getas Merah Sukun Putih, Mutiara, Kristal, Seedless, Sukun Merah Bangkok

Sukun Putih, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Seedless, Super Red, Sukun Merah

Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Seedless, Sukun Merah

Super Red

Sukun Putih, Seedless Bangkok, Super Red, Sukun Merah

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Krsital

(37)

4

No. kode Karakteristik Karakter Notasi Varietas contoh

17 (*)(+)(b) (MG)(PQ)

Bunga: warna petal sisi atas

RHS color chart (indikator nomor warna)

Putih:NN 155 A (Seedless), Putih:NN 155 B (Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok), Putih:NN 155 C (Sukun Putih, Variegata, Sukun Merah), Light Red (Super Red)

Sukun Putih, Seedless

Variegata, Getas Merah, Bangkok, Sukun Merah

Mutiara, Kristal, Super Red 19

(*)(+)(c) (QN)(VG)

Buah: berat Sangat rendah Rendah

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok , Super Red

20 (*)(+)(c) (QN)(VG)

Buah: panjang Sangat pendek Pendek

Getas Merah, Super Red Bangkok

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok

Variegata, Getas Merah, Bangkok, Super Red

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Super Red

25

Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok

Variegata, Super Red 26

Variegata, Getas Merah, Bangkok, Super Red

3 Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Super Red

(38)

5

No. kode Karakteristik Karakter notasi varietas contoh

28

Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok

Variegata, Super Red 29

Tidak ada atau sangat lemah

Bangkok, Super Red Variegata, Getas Merah 30

Variegata, Getas Merah, Bangkok Mutiara, Kristal

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Super Red

32

Variegata, Mutiara, Getas Merah, Bangkok, Super Red

Kristal

Variegata, Getas Merah, Bangkok 35

Variegata, Getas Merah, Bangkok, Super Red

Mutiara, Kristal, Super Red Variegata, Getas Merah, Bangkok 37

Mutiara, Kristal, Super Red Variegata, Getas Merah, Bangkok

38

3 Sukun Putih, Variegata, Mutiara, Getas Merah, Kristal, Bangkok, Seedless, Super Red

(*): karakter penting, (+): penjelasan karakter individu, (a): semua pengamatan daun dilakukan pada bagian tengah cabang ketiga pada pohon umur setahun, (b): semua pengamatan bunga dilakukan pada saat 50% bunga telah mekar pada pohon tersebut, (c): semua pengamatan buah dilakukan pada saat panen, (d): semua pengamatan buah dilakukan pada saat buah matang untuk dimakan, MG: satu pengukuran dari suatu grup tanaman, MS: pengukuran dari masing-masing individu tanaman, VG: satu pengamatan visual dari suatu grup tanaman, PQ: karakteristik pseudo-kualitatif, QN: karakteristik kuantitatif, QL: karakteristik kualitatif. VS:

(39)

6

pengamatan visual dari tanaman secara individu atau bagian tanaman, cetak tebal: rekomendasi sifat karakter baru.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

TG UPOV (TG/ACCA proj. 1, 18-06-2012) dapat digunakan sebagai Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) dalam pengujian BUSS karena berdasarkan hasil pengamatan simulasi uji BUSS, dari 8 varietas kandidat dan 1 varietas referensi terdapat 35 karakteristik yang berbeda dari 40 karakteristik. Karakteristik berbeda tersebut terdiri dari 3 karakteristik bagian pohon, 12 karakteristik bagian daun, 3 karakteristik bagian bunga, 15 karakteristik bagian buah, dan 2 karakteristik tambahan (PTT dan TAT), sehingga varietas kandidat dapat disebut memiliki sifat unik.

Hasil pengamatan juga menunjukkan tidak ada varietas yang memiliki tipe simpang (offtype), sehingga dapat disebut seragam, dan varietas yang seragam sudah bisa dikatakan stabil karena tidak adanya perubahan genetik. Penelitian ini juga digunakan untuk menentukan varietas contoh untuk sejumlah sifat tertentu karena adanya keragaman yang tinggi antar varietas.

Saran

TG UPOV (TG/ACCA proj. 1, 18-06-2012) yang digunakan sebagai Panduan Pelaksanaan Uji (PPU) dapat direkomendasikan adanya penambahan notasi pada nomor kode karakteristik 13, 15, 30, dan 33, serta perlu juga adanya penambahan karakteristik pengamatan yang belum ada sebelumnya yaitu karakteristik Padatan Terlarut Total (PTT) dan Titrasi Asam Terlarut (TAT).

DAFTAR PUSTAKA

Balai Kliring Keaneragaman Hayati. 2000. Undang-Undang No. 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman. Kementerian Lingkungan Hidup [internet]. [diacu 2012 Oktober 15]. Tersedia dari: http://bk.menlh.go.id/. Bashir HA, Abu-Bakr A, Abu-Goukh. 2003. Compositional changes during guava

fruit ripening. Food Chemistry. 80:557-563.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Produksi Buah-Buahan di Indonesia (1997-2011) [internet]. [diacu 2012 September 30]. Tersedia dari: http://www.bps.go.id/.

[BPPT] Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2000. Jambu Biji/ Jambu Batu (Psidium guajava

L.) [internet]. [diacu 2012 September 30]. Tersedia dari: http://www.ristek.go.id.

Cahyono B. 2010. Sukses Budi Daya Jambu Biji di Pekarangan dan Perkebunan. Lily Publisher. Yogyakarta (ID). Lily Publisher.

(40)

7 [Deptan]. Departemen Pertanian. 2007. Profil Perlindungan Varietas Tanaman [internet]. [diacu 2012 September 29]. Tersedia dari: http://www.database1.deptan.go.id/ppvt/profil/pengantar_kapus.php.

Dinas Pertanian Majalengka. 2012. Jambu Biji [internet]. [diacu 2012 September 19]. Tersedia dari: http://distan.majalengkakab.go.id.

Handoyo dan Wijono HW. 2010. Pemanfaatan kulit batang jambu biji (Psidium guajava) untuk adsorpsi chromium limbah industri kulit. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. I(1):78-82.

Hulme AC. 1970. The Biochemistry of Fruits and their Products. Volume ke-1. New York (US): Academic Press.

Jaiswal VS dan Amin MN. 1992. Guava and Jackfruit. Di dalam: Hammerschlag FA dan Litz RE, editor. Biotechnology of Perennial Fruit Crops. Wallingford. UK. CAB international. 421-431 hlm.

Lengkong E. 2008. Keragaman genetika plasma nutfah pisang (Musa sp.) di kabupaten minahasa selatan dan minahasa tenggara. FORMAS 4(1): 302-310. Kays SJ, Paull RE. 2004. Postharvest Biology and Technology: on overview. Di

dalam: Kader AA, editor. Postharvest Technology of Horticultural Crops. Edisi ke-3. University of California Agriculture and Natural Resourses Publication (US). Davis. CA. hlm 39-47.

Mangels AR. 1993. The biovailability to humans of ascorbic acis from oranges juice and cooked broccoli is similar to that of syntethic ascorbic acid. Clin. Nutr. 1054-1061.

Meydani SN, Dayang W, Michelle SS, Michael GH. 1995. Antioxidant and Respon in aged person: overview of present evidence. Am. J. Cli. Num:14625-765.

McCook-Russell KP, Nair MG, Facey PC, Bowen-Forbes CS. 2012. Nutritional and nutraceutical comparison of Jamaican Psidium cattleianum (strawberry guava) and Psidium guajava (common guava) fruits. Food Chemistry. 134:1069-1073. doi: 10.1016/j.foodchem.2012.03.018.

Mowlah G, Itoo S. 1982. Guava (Psidium Guajava L.). Sugar component and relation to enzymes at stages of fruit development and ripening. Journal of Japanese Society for Food Science and Technology. 29(8):472-476.

Nantitanon W, Yotsawimonwat S, Okonogi. 2010. Factors influencing antioxidant activities and total phenolic content of guava leaf extract. LWT-Food Science and Technology. 43:1095-1103. doi:10.1016/j.lwt.2010.02.015.

Paull RE, Bittenbender HC. 2008. Psidium guajava guava. Di dalam: Janick J, Paull RE, editor. The Encyclopedia of Fruit and Nuts. Wallingford. UK: CABI. hlm 541-549.

Purseglove JW. 1968. Tropical Crops-Dicotyledons. London (US). Longman. Rahmat. 2007. Eksplorasi Variasi Jambu Biji (Psidium guajava L.) di Beberapa

Distrik di Kabupaten Manokwari [skripsi]. Papua (ID): Universitas Negeri Papua.

Reyes MU, Paull RE. 1995. Effect of storage of temperature and ethylene treatment on guava (Psidium guajava L.) fruit ripening. Postharvest Biol. Technol. 6:357-365.

Rismunandar. 1989. Tanaman Jambu Biji. Jakarta (ID): Penerbit Sinar Baru. Sobir, Amalya M. 2013. 20 Tanaman Buah Koleksi Eksklusif. Jakarta (ID):

Penebar Swadaya.

(41)

8

Simmods NW, Shepherd K. 1995. The taxonomy and origins of the cultivated bananas. J. Linn Soc Lond Bot. 5: 302-312.

Soetopo L. 1992. Psidium guajava L. Di dalam: Verheij EWM, Coronel RE, editor. Plant Resources of South East Asia, Edible Fruits and Nuts. Wageningen (US). Pudoc-DLO. 266-270 hlm.

Van Steenis, CGGJ, den Hoed D, Bloembergen S, Eyma PJ. 1981. Flora untuk sekolah di Indonesia. Soerjowinoto M, Hardjosuwarno S, Adisewojo SS, Wibisono, Partididjojo M, Wirjadihardja S, penerjemah; Soerjowinoto M, editor. Jakarta (ID): Pradnya Paramita. Terjemahan dari: Flora.

Susanto S, Pribadi. 2004. Pengaruh pemangkasan cabang dan penjarangan bunga jantan terhadap pertumbuhan dan produksi gherkin dengan budidaya hidroponik. Bul. Agron. 32(1):1-5.

Thaipong K, Boonprakob U. 2005. Genetic and environmental variance components in guava fruit qualities. Scientia Horticulturae. 104:37-47. doi: 10.1016/j.scienta.2004.07.008.

[UPOV] Internasional Union for the Protection of New Varieties of Plants. 2012. Guidelines for the Conduct of Tests for Distinctness, Uniformity, and Stability:

Acca sellowiana (Berg) Burret [internet]. [diacu 2012 September 20]. Tersedia dari: http://www.upov.int/.

[USDI] Geological Survey. 1999. Hawaiian Ecosystems at Risk Project, Biological Resources Division, Haleakala Field Station [internet]. [diacu 2012 September 20]. Tersedia dari: http://plants.usda.gov.

Watson L, Dallwitz MJ. 1992. The Familiesof Flowering Plants: Descriptions, Illustrations, Identificatiions, and Information Retrieval [internet]. [diacu 14 2000 Desember 14]. Tersedia dari: http://biodiversity.uno.edu/delta/.

Wills RHH, Lee TH, Graham D, McGlasson, WB, Hall FG. 1981. Postharvest: an introduction to the physiology and handling of fruit and vegetables. Westport. Connecticut (US): AVE Publ. Co.

Yavada UL. 1996. Guava Production in Georgia under Cold Protection Structure. Di dalam: Janick, editor. Properties and Uses. Westport (US). Connecticut. AVI Publishing.

Zakaria FR, Irawan B, Pramudya SM, Sanjaya. 2000. Intervensi sayur dan buah pembawa vitamin C dan vitamin E meningkatkan system imun populasi buruh pabrik di bogor. Bul. Teknol. dan Industri Pangan. XI(2):21-27.

(42)

9 Lampiran 1 Anova internode cabang

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 2.73626667 0.34203333 5.87 <.0001 Error 40 2.97213333 0.05827712

Corrected Total 45 5.70840000 R-Square Lampiran 2 Anova panjang daun

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 119.8596400 14.9824550 3.89 0.0012 Error 40 196.5116000 3.8531686

Corrected Total 45 316.3712400 R-Square Lampiran 3 Anova lebar daun

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 14.03535667 1.75441958 2.12 0.0502 Error 40 42.12240833 0.82592958

Corrected Total 45 56.15776500 R-Square Lampiran 4 Anova rasio panjang/lebar daun

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 2.58517667 0.32314708 20.37 <.0001

Error 40 0.80924167 0.01586748

Corrected Total 45 316.3712400 R-Square Lampiran 5 Anova diameter bunga

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 40.25503561 5.03187945 60.18 <.0001 Error 40 3.76264773 0.08361439

Corrected Total 45 44.01768333 R-Square Lampiran 6 Anova panjang buah

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 15.12245860 3.02449172 7.44 <.0001 Error 40 16.25660227 0.40641506

(43)

10

Lampiran 7 Anova diameter buah

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 8.17108788 1.63421758 3.33 0.0131 Error 40 19.60566212 0.49014155

Corrected Total 45 27.77675000 R-Square 0.294170

Coeff Var 8.553465

Root MSE 0.700101

D Mean 8.185000 Lampiran 8 Anova lokul buah

Source DF Sum of squares Mean Square F value Pr > F Model 5 42.20079736 8.44015947 22.14 <.0001 Error 40 15.25139394 0.38128485

Corrected Total 45 57.45219130 R-Square 0.734538

Coeff Var 14.25914

Root MSE 0.617483

(44)

11

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bojonegoro, tanggal 25 Juni 1990, dari pasangan Soepangat dan Sumiyati, putri kedua dari empat bersaudara. Penulis lulus tahun 2009 dari SMA Negeri 1 Bojonegoro dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Tulis Mandiri IPB (UTMI). Penulis diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Selama mengikuti perkuliahan di IPB, penulis pernah menjadi asisten praktikum Ilmu dan Teknologi Benih pada tahun ajaran 2012/2013. Penulis juga aktif dalam kegiatan organisasi dan kepanitiaan selama di IPB, antara lain: anggota unit Koperasi Mahasiswa (KOPMA) IPB tahun 2009/2010, Kepanitiaan International Scholarship and Education Expo (ISEE) tahun 2010, Kepanitiaan Gebyar Nusantara IPB tahun 2010, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) PAD Bojonegoro IPB tahun 2010, Sekretaris Departemen Olahraga dan Seni BEM-A IPB tahun 2010/2011 dengan predikat sangat baik, Kepanitiaan Masa Perkenalan Fakultas (MPF) tahun 2011, Kepanitiaan Masa Perkenalan Departemen Agronomi dan Hortikultura (MPD) tahun 2011, pengurus Departemen Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura (Himagron) tahun 2011/2012, Sekretaris Ikatan Mahasiswa Jawa Timur (IMAJATIM) tahun 2011-2013, serta Koordinator Expo Bursa Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) dalam rangka Dies Natalis IPB ke-50 tahun 2013. Penulis juga pernah mendapatkan prestasi selama di IPB antara lain, Juara 1 Perkusi Tingkat Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB tahun 2011, dan Ketua Kontingen Fakultas Pertanian dalam IPB Art Contest

Gambar

Gambar 2 Karakteristik warna batang bawah
Tabel 1 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian pohon jambu biji
Tabel 3. Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian bunga jambu biji
Tabel 4 Karakteristik kuantitatif dan kualitatif bagian buah jambu biji
+3

Referensi

Dokumen terkait