ANALISIS SALURAN PEMASARAN
TOMAT BANDUNG DI KUD MITRA TANI
PARAHYANGAN CIANJUR
SKRIPSI
H A I R I A H34104086
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
RINGKASAN
HAIRIA, Analisis Saluran Pemasaran Tomat Bandung di Koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur. Skripsi. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor ( Di bawah bimbingan Amzul Rifin )
Hortikultura merupakan salah satu sumberdaya di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman genetika. Selain itu hortikultura juga merupakan salah satu subsektor pertanian pertanian yang sangat berpotensi secara agroklimat untuk dapat dibudidayakan di Indonesia. Hortikultura terdiri dari buah-buahan, sayuran dan bunga. Produk hortikultura tersebut selain memberikan gizi juga berperan dalam memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan petani serta pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan. Salah satu produk hortikultura yang memiliki prospek di masa mendatang yaitu sayuran. Meskipun Indonesia sangat berpotensi dalam menghasilkan sayuran, tetapi Indonesia masih mengimpor sebagian sayuran untuk memenuhi kebutuhan sayuran dalam negeri. Sehingga diperlukan adanya integrasi dari semua pelaku agribisnis mulai dari hulu hingga hilir untuk saling menjaga kualitas maupun kuantitas produk yang dihasilkan.
Penelitian dilaksanakan di KUD Mitra Tani Parahyangan Cianjur yang terletak di Kecamatan Tegalega, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2012 sampai dengan bulan Februari 2012. Metode penentuan sampel menggunakan non probability sampling, yaitu
purposive sampling. Dalam penelitian ini juga melibatkan lembaga pemasaran
untuk memberikan informasi mengenai pemasaran tomat bandung di koperasi Mitra Tani Parahyangan. Penelitian ini menggunakan metode peramalan Simple
Moving Average, metode Single Exponential Smoothing, metode Double
Exponential Smoothing satu parameter dari Brown dan ARIMA.Untuk
mempermudah melakukan peramalan digunakan program Microsoft Excel, Minitab 14 dan program E-Views.
ANALISIS SALURAN PEMASARAN
TOMAT BANDUNG DI KUD MITRA TANI
PARAHYANGAN CIANJUR
SKRIPSI
H A I R I A H34104086
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi Analisis Saluran Pemasaran Tomat Bandung Di
KUD Mitra Tani Parahyangan Cianjur
Nama H a i r i a
NIM H34104086
Disetujui, Pembimbing
Amzul Rifin Ph. D NIP. 19750921 200012 1 001
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi. MS NIP 19580908 198403 1 002
DAFTAR ISI
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 34
6.2.3. Mengimplementasikan Sistem Mutu Yang Efektif ... 52
7.1.2. Proses Peramalan Produksi Tomat Bandung di Koperasi MTP ... 76
7.1.2.1 Metode Simple Moving Average ... 77
7.1.2.2 Metode Single Exponential Smoothing ... 77
7.1.2.3 Metode Double Exponential Smoothing ... 78
7.1.2.4 Metode Box Jenkins ... 79
7.2. Peramalan Permintaan Tomat Bandung
di Koperasi MTP ... 81
7.2.1. Uji Pola Data ... 81
7.2.2. Proses Peramalan Permintaan Tomat Bandung di Koperasi MTP ... 83
7.2.2.1. Metode Simple Moving Average ... 84
7.2.2.2. Metode Single Exponential Smoothing ... 85
7.2.2.3. Metode Double Exponential Smoothing ... 85
7.2.2.4. Metode Box Jenkins ... 86
7.2.2.5. Penentuan Metode Peramalan ... 88
VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 90
DAFTAR PUSTAKA ... 91
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Data Permintaan Beberapa Komoditas di KUD MTP
Cianjur 12 Oktober 2012 ... 4
2. Jumlah Karyawan pada MTP Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 37
3. Kepemilikan Lahan MTP ... 38
4. Kepemilikan Peralatan Produksi MTP ... 39
5. Standar Tomat Bandung berdasarkan ukuran ... 44
6. Standar Kualitas Mutu Tomat Bandung ... 44
7. Identifikasi Kegiatan Pelaku Dalam Saluran Pemasaran Tomat Bandun ... 45
8. Persentase Margin dari Masing-Masing Lembaga Pemasaran ... 63
9. Hasil Peramalan dengan Software Minitab 14 (Metode MA) 76
10. Perbandingan Nilai MAPE ... 80
11. Hasil Peramalan dengan Software Minitab 14 (Metode MA) 84
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Perkembangan Volume Impor dan Ekspor Komoditas Sayuran Tahun 2007-2011 ... 2
2. Grafik Data Produksi dan Permintaan Tomat Bandung
November 2012 ... 8 3. Ilustrasi Demand Management dan order fulfillment
(Pujawan 2005) ... 25
4. Kerangka Pemikiran Operasional ... 27
5. Struktur Organisasi KUD MTP Cianjur Tahun 2012 ... 35
6. Perkembangan Harga Tomat Bandung Pada Pasar
Tradisional dan Pasar Modern Selama Bulan Januari 2012 51
7. Pola Saluran Pemasaran Tomat di Koperasi MTP ... 54
8. Pola Saluran Pemasaran Tomat di Koperasi melalui Distributor Center (DC) atau Warehouse ... 56 9. Label dan Bentuk Kontainer ... 58
10. Kualitas Tomat Bandung yang Diproduksi
oleh Koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur ... 61 11. Grafik Perkembangan Harga Tomat Bandung Giant
Distributor Center (DC) dengan Koperasi Mitra Tani
Parahyangan Cianjur ... 62 12. Pola Saluran Pemasaran Tomat Bandung melalui
Giant Toko atau Alfamidi Toko (Retailer) ... 64 13. Penjualan Giant Toko Per Bulan ... 67
14. Pola Saluran Pemasaran Tomat Bandung melalui
Restoran atau rumah makan ... 68 15. Uji Pola Data Produksi Tomat Bandung ... 74
16. Uji Stasioner (Autokorelasi) Produksi Tomat Bandung ... 75
17. Uji Stasioner (Partial Autokorelasi) Produksi Tomat Bandung 76
18. Moving Average 12 Produksi Tomat Bandung ... 77
19. Hasil Output SES Produksi Tomat ... 78
20. Hasil output Double Exponential Smoothing
Produksi Tomat Bandung ... 78 21. Hasil Pengolahan Perangkat lunak Minitab 14 ... 79
22. Hasil Pengolahan Perangkat lunak Minitab 14
23. Pola Peramalan Produksi Tomat ... 81
24. Plot Data Permintaan Tomat Bandung ... 81
25. Uji Stasioner (Autokorelasi) Permintaan Tomat Bandung ... 83
26. Uji Stasioner (Partial Autokorelasi)
Permintaan Tomat Bandung ... 83
27. Moving Average Permintaan Tomat Bandung ... 85
28. Hasil Output SES Permintaan Tomat ... 85
29. Hasil output Double Exponential Smoothing
Permintaan Tomat Bandung ... 86 30. Hasil Pengolahan Perangkat lunak Minitab 14 ... 86
31. Hasil Pengolahan Perangkat lunak Minitab 14
model ARIMA (4,0,4) ... 87 32. Hasil Pengolahan Perangkat lunak Minitab 14
model ARIMA (5,0,4) ... 87
33. Pola Peramalan Permintaan Tomat ... 88
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Daftar Outlet Mitra Tani Parahyangan Cianjur ... 95
2. Kuesioner Penelitian Penerapan Manajemen Rantai Pasok
KUD. Mitra Tani Parahyangan ... 96
3. Penanganan Mutu Tomat Bandung Mulai dari Pascapanen
Hingga Packaging ... 98
4. Grafik Produksi dan Permintaan Harian Tomat Bandung
Di Koperasi MTP Tahun 2012 ... 99
5. Grafik Penjualan Harian Tomat Bandung ke Pasar
Tradisional di Koperasi MTP Tahun 2012 ... 100
6. Plot ACF dan PACF berdasarkan output sofware E-views ... 101
7. Hasil Peramalan Produksi Tomat Untuk satu bulan kedepan ... 102
8. Plot ACF dan PACF Permintaan Tomat Bandung ... 103
9. Hasil Peramalan Permintaan Tomat Bandung
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hortikultura merupakan salah satu sumberdaya di Indonesia yang kaya
akan keanekaragaman genetika. Selain itu hortikultura juga merupakan salah satu
subsektor pertanian pertanian yang sangat berpotensi secara agroklimat untuk
dapat dibudidayakan di Indonesia. Hotikultura terdiri dari buah-buahan, sayuran
dan bunga. Produk hortikultura tersebut selain memberikan gizi juga berperan
dalam memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan petani serta
pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan. Salah satu produk
hortikultura yang memiliki prospek di masa mendatang yaitu sayuran. Sayuran
merupakan bahan makanan yang penting dibutuhkan oleh tubuh manusia sebagai
sumber vitamin dan mineral. Meskipun Indonesia sangat berpotensi dalam
menghasilkan sayuran, tetapi Indonesia masih mengimpor sebagian sayuran untuk
memenuhi kebutuhan sayuran dalam negeri. Hal tersebut dapat dilihat pada
Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan volume impor sayuran
dari tahun 2007 sampai dengan 2011. Rata-rata pertumbuhan impor sayuran dari
tahun 2007 sampai dengan 2012 sebesar 12%. Pada tahun 2011 volume impor
sayuran sebesar 1.174.286 ton, bawang putih merupakan komoditas hortikultura
yang memiliki volume impor tertinggi dari tahun ke tahun, selain bawang putih
komoditas yang di impor pada tahun 2011 adalah bawang merah,
kentang,bawang bombay, wortel ,cabe, kacang kapri, tomat , jamur, jagung manis,
kubis, bunga kol, ketimun dan yang terendah volume impornya adalah terung
sebesar -65%, terung mengalami penururnan volume dari 1 ton menjadi 0 ton,
kemudian ditambah dengan sayuran lainnya dengan rata-rata pertumbuhan dari
Gambar 1. Perkembangan Volume Impor dan Ekspor Komoditas Sayuran tahun
2007-2011.
Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura 2012 (diolah)
Selain kegiatan impor sayuran, kegiatan ekspor sayuran mengalami hal
yang sebaliknya. Perkembangan volume ekspor komoditas sayuran pada tahun
2007 sampai dengan 2011 rata-rata menurun -9%. Produk hortikultura pada tahun
2011 yang memiliki volume ekspor tertinggi pada komoditas hortikultura adalah
kubis sebesar 23.941 ton, setelah kubis diikuti oleh komoditas bawang merah,
jamur, cabe, kentang, kacang kapri, terung, tomat , jagung manis, bawang putih,
ketimun, bunga kol, bawang bombay, dan yang terendah sebelum sayuran lainnya
adalah wortel sebesar 30 ton.
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa subsektor hortikultura
khususnya sayuran memiliki prospek yang baik dari tahun ketahun diikuti juga
dengan persaingan dari berbagai negara pengimpor ataupun pengekspor
komoditas sayuran. Data perkembangan volume ekspor komoditas sayuran pada
tahun 2007 lebih tinggi daripada tahun 2012, banyak hal yang menyebabkan
terjadinya penurunan volume tersebut, diantaranya yaitu persaingan terhadap
kualitas produk, kuantitas dan kontuinitas produksi sayuran dalam negeri terhadap
produk sayuran dari negara lain. Produk sayuran dalam negeri harus mampu
bersaing dalam memenuhi tingginya permintaan akan komoditas sayuran tersebut.
Peningkatan akan kebutuhan sayuran tersebut diakibatkan dari terus
bertambahnya jumlah penduduk khususnya di Indonesia sebesar 1,49% pertahun,
-2007 2008 2009 2010 2011
Volume (ton)
Tahun
selain itu semakin meningkatnya kesadaran penduduk terhadap manfaat buah dan
sayur bagi kesehatan. Dirjen Hortikultura (2011) menyatakan bahwa Konsumsi
akan sayuran terus mengalami peningkatan dikarenakan standar konsumsi
sayuran yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO)
adalah sebesar 73 kg/kapita/tahun, sedangkan standar kecukupan untuk sehat
sebesar 91,25 kg/kapita/tahun. Hal ini membuat tingginya prospek kegiatan usaha
budidaya sayuran di Indonesia. Peningkatan ini terlihat dari perkembangan usaha
budidaya sayuran di Indonesia dari tahun ke tahun yang semakin meningkat.
Dirjen Hortikultura (2011) produksi sayuran hingga Oktober 2010 meningkat
sebesar 1,3% menjadi 10,655 juta ton dari nilai tahun 2009 yaitu sebesar 10,510
juta ton. Peningkatan produksi sayuran di Indonesia harus terus dijaga agar
kebutuhan akan sayuran dapat terus terpenuhi dan tidak terjadi kelangkaan yang
nantinya dapat menyebabkan terjadinya peningkatan harga. Sehingga diperlukan
adanya integrasi dalam saluran pemasaran dari semua pelaku agribisnis mulai dari
hulu hingga hilir untuk saling menjaga kualitas maupun kuantitas produk yang
dihasilkan.
Salah satu daerah penghasil sayuran di Indonesia adalah Jawa Barat. BPS Kabupaten Cianjur (2007) menyatakan bahwa produksi hortikultura khususnya
sayuran di Jawa Barat mencapai 31 ton per tahun dari 23 jenis sayuran yang
dibudidayakan. Luas areal tanaman sayuran di Jawa Barat mencapai 1,1 juta Ha
dan tingkat optimalisasi pemanfaatan lahan baru mencapai 75 persen. Potensi luas
panen sayuran di Jawa Barat lebih terkonsentrasi pada beberapa daerah.
Konsentrasi luas panen sayuran dengan pangsa lebih besar dari 10 persen terdapat
di Kabupaten Bandung dan Garut (sayuran dataran tinggi) serta Bekasi (sayuran
dataran rendah), Sumedang (sayuran dataran tinggi dan rendah). Lima Kabupaten
dengan pangsa lebih besar dari lima persen terdapat di Kabupaten Bandung,
Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Bogor (sayuran dataran tinggi) dan Cirebon
(sayuran dataran rendah). Dataran tinggi Jawa Barat (Bandung, Garut, Bogor,
Cianjur dan Tasikmalaya) terletak pada daerah agroklimat basah dengan rata-rata
bulan basah 8-10 bulan dengan curah hujan rata-rata tahunnya lebih dari 2.000
dataran tinggi antara lain paprika, brokoli, lettuce, sawi, kentang, wortel, kubis,
dan lain-lain.
Potensi dari berbagai daerah tersebut dikembangkan tidak hanya sekedar
kegiatan produksi karena peningkatan volume hasil panen atau produksi terbukti
tidak dapat memberikan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Diketahui bahwa ketika hasil panen meningkat seringkali harga jatuh. Namun,
pada sisi lain sering terjadi kelangkaan produk pertanian di beberapa wilayah
yang berdampak terhadap lonjakan harga yang tinggi. Walaupun terjadi lonjakan
harga seringkali petani tidak menjadi pihak yang mendapatkan keuntungan
(Setiadji, 2012). Perbaikan sistem pemasaran produk pertanian, termasuk
hortikultura, perlu mendapat perhatian lebih serius. Perencanaan saluran
pemasaran harus dilakukan secara baik dengan mengintegrasikan proses-proses
bisnis di antara para pelaku. Dalam mengatasi hal tersebut petani di Jawa Barat
bergabung dalam kelompoktani dan gabungan kelompoktani untuk membentuk
koperasi agar dalam malakukan produksi atau pemasaran dapat berintegrasi
dengan mudah untuk kepentingan bersama. Salah satu koperasi di Jawa Barat
yang terletak di daerah Cianjur yang telah menerapakan prinsip tersebut dalam
produksi maupun pemasaran sayuran adalah Koperasi Mitra Tani Parahyangan.
Koperasi Mitra Tani Parahyangan merupakan salah satu koperasi yang
memproduksi dan memasarkan sayuran di daerah Cianjur Jawa Barat. Koperasi
Mitra Tani Parahyangan (MTP) memiliki anggota koperasi yang terdiri dari para
petani yang membudidayakan sekitar 128 komoditas agribisnis yang terletak di
Desa Tegalega, Warung Kondang, Cianjur. Komoditas komoditas tersebut
dikirim ke barbagai outlet atau retailer pasar modern di daerah Jabodetabek.
Salah satu komoditas yang dibudidayakan sekaligus dipasarkan adalah tomat.
Tomat merupakan komoditi yang paling tinggi permintaanya jika dibandingkan
dengan komditi yang lain. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Permintaan Beberapa Komoditas di KUD Mitra Tani Parahyangan Cianjur Tanggal 12 Oktober 2012.
No Nama Item Outlet Restoran
DC Retailer Dapur Sunda Cimory
2 Kacang merah 30(pcs) - 2(pcs) Pcs
5 Leunca 5(pcs) 8(pcs) 1 (pcs) 3(pcs)
6 Sawi putih 200 buah 50buah - -
7 Terong lalap hijau 5 (pcs) - 1(pcs) 5(pcs) 8 Terong lalap ungu - 15(pcs) 2(pcs) -
9 Terong sayur - 16(pcs) - -
11 Tomat tw/tomat bandung 1500(kg) 90(kg) - 10(kg)
12 Wortel 5 (pcs) 34(pcs) - -
14 Jagung acar - - 3 (pcs) 1(pcs)
15 Sawit putih curah - - - 25(buah)
16 Sawih putih wrapping - - 15(buah) - 17 Terong ungu panjang - - 6 (pcs) 10(pcs)
18 Tomat sayur - - - 5 (pcs)
Sumber : KUD MTP, 2012
Koperasi Mitra Tani Parahyangan merupakan salah satu koperasi yang
melaksanakan program OVOP (One Village One Product). OVOP (One Village
One Product) merupakan pendekatan yang dilakukan Kementrian Koperasi dan
UMKM untuk mengembangkan produk unggulan daerah sehingga menciptakan
nilai tambah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan salah
satu produk OVOP di Koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur adalah tomat
bandung. Berbagai sayuran yang ada di Koperasi Mitra Tani Parahyangan di
supply ke berbagai outlet atau retailer di Jabodetabek, adapun daftar outlet-outlet
tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1. Dalam memenuhi berbagai kebutuhan
permintaan produk tersebut Koperasi Mitra Tani Parahyangan bekerjasama
dengan 329 orang petani yang masuk kedalam keanggotaan koperasi Mitra Tani
Parahyangan. Komoditas yang paling banyak dibudidayakan oleh kelompoktani
hortikultura ini adalah tomat badung atau dalam nama dagangnya disebut dengan
tomat gelar.
Pasokan komoditas tomat dari koperasi Mitra Tani Parhyangan yang
dikirim ke berbagai outlet tersebut rata-rata antara 1,5 ton sampai 2 ton per hari
secara kontinu. Banyaknya permintaan sayur khususnya tomat bandung menuntut
permintaan terhadap tomat itu sendiri, walaupun banyak petani yang
membudidayakan tomat bandung, tapi perlu diperhatikan pula ketersediaan tomat
dengan kualitas dan standar yang telah ditentukan. Diketahui bahwa komoditas
tomat bandung yang ada di Koperasi Mitra Tani Parahyangan tersebut merupakan
komoditas pertanian yang memiliki sifat khusus seperti yang dinyatakan Austin
(1992) dan Brown (1994) dalam Marimin dan Maghfiroh (2010) bahwa
komoditas pertanian mempunyai karakteristik khusus, yaitu (1) bersifat mudah
rusak, (2) proses penanaman, pertumbuhan, dan pemanenan tergantung pada iklim
dan musim, (3) hasil panen memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi, dan (4)
produk pertanian bersifat kamba sehingga sulit ditangani. Sifat khusus tersebut
menjadi faktor yang sangat penting dipertimbangkan untuk merancang
perencanaan dan menganalisis saluran pemasaran untuk komoditas pertanian.
Saluran pemasaran merupakan sebuah sistem yang terintegrasi yang melibatkan
banyak proses untuk menciptakana suatu produk barang atau jasa untuk
digunakan untuk dikonsumsi.
Pasar menurut Sudiyono (2002) didefinisikan sebagai lokasi geografis,
dimana penjual dan pembeli bertemu untuk mengadakan transaksi faktor
produksi, barang dan jasa. Dalam perkembangannya definisi perlu ditinjau
mengingat perkembangan teknologi informasi memungkinkan dilakukan transaksi
tanpa komunikasi tatap muka antara penjual dan pembeli, bahkan untuk beberapa
komoditi pertanian terdapat lembaga pemasaran yang berperan sebagai
agenpenjual (selling broker) atau agen pembeli (buying broker). Dengan
demikian, ada kalanya penjual dan pembeli diwakili individu - individu dan
transaksi tidak perlu membutuhkan ruang geografis tertentu. Kotler (2002),
sayuran organik mendefinisikan pemasaran sebagai suatu proses sosial yang
didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan sacra bebas mempertukarkan
produk yang bernilai dengan pihak lain. Diketahui, bahwa di masa lalu konsumen hanya mengevaluasi produk pertanian berdasarkan atribut utama yaitu jenis dan
harga, maka dewasa ini dan di masa mendatang, konsumen sudah menuntut
atribut yang lebih lengkap dan rinci seperti yang dinyatakan Daryanto dan
(nutritional attributes), atribut nilai (value attributes), atribut pengepakan
(package attributes), atribut lingkungan (ecolabel attributes) dan atribut
kemanusiaan (humanistic attributes).
Banyaknya tuntutan atribut tersebut menuntut berbagai pelaku di dalam
saluran pemasaran khususnya komoditas sayuran yang memiliki karakteristik
khusus tersebut membutuhkan manajemen yang proaktif dalam mengelola sistem
saluran pemasaran dari lahan hingga ke konsumen akhir. Saluran pemasaran
merupakan pilihan yang tepat dalam mewujudkan produk sayuran yang mampu
berdaya saing melalui keterpaduan produk dan keterpaduan antar pelaku. Saluran
pemasaranyang baik bisa meningkatkan kemampuan efektifitas dan efisiensi bagi
setiap lembaga pemasaran. Oleh karena itu diperlukan pengertian, kepercayaan
dan aturan main yang jelas. Hubungan antar pihak pada suatu lembaga pemasaran
berlangsung jangka panjang. Pujawan (2005) menyatakan bahwa hubungan yang
jangka panjang memungkinkan semua pihak untuk menciptakan kepercayaan
yang lebih baik serta menciptakan efisiensi
1.2 Perumusan Masalah
Pertanian di negara-negara berkembang semakin berusaha untuk
berpartisipasi dalam pasar global . Rock (2002) menyatakan bahwa partisipasi
merupakan pendorong penting dari ekonomi dan sosial untuk kemajuan di seluruh
dunia berkembang. Liberalisasi perdagangan yang dihasilkan dari kebijakan
program pemerintah memberikan dampak terhadap produk dalam negeri, baik itu
dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu dampak dari liberalisasi
perdagangan khususnya dalam bidang pertanian adalah ketergantungan terhadap
produk hortikultura impor saat ini cukup tinggi. Selama ini, pembangunan sektor
pertanian diarahkan terutama untuk meningkatkan produktivitas dan perluasan
areal produksi. Peningkatan volume hasil panen terbukti tidak dapat memberikan
peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Ketika hasil panen meningkat
seringkali harga jatuh, bahkan dalam beberapa kasus petani sampai membuang
hasil panennya. Di lain sisi, sering terjadi kelangkaan produk pertanian di
beberapa wilayah yang berdampak terhadap lonjakan harga yang tinggi. Pada
keuntungan. Terakait dengan hal tersebut, koperasi Mitra Tani Parahyangan
merupakan produsen sayuran di daerah cianjur, yang memiliki permasalahan yang
sama dengan hal tersebut. Permintaan dan produksi sayuran yang berfluktuasi
terlihat pada Gambar 3. menuntut KUD Mitra Tani Parahyangan harus mampu
menjaga kestabilan produksi baik kualiatas dan kuantitas dari tomat bandung.
Gambar 2. Grafik Data Produksi dan Permintaan Tomat bandung November 2012
Sumber : Mitra Tani Parahyangan, 2012
Dari Gambar 3. Dapat dilihat bahwa produksi tomat bandung bandung di
KUD Mtra Tani Parahyangan Cianjur produksinya cukup tinggi dari hari ke hari
namun tidak dibarengi dengan permintaan pasar. Hal ini tentu menjadi masalah
bagi KUD Mitra Tani Parahyangan Cianjur. Oleh karena itu, perlu adanya
manajemen yang saling terintegrasi dalam memproduksi dan memasarkan tomat
bandung agar dapat menciptakan efektifitas dan efisiensi usaha serta kualitas yang
baik. Selain itu perlu adanya perencanaan saluran pemasaran harus dilakukan
secara baik dengan mengintegrasikan proses-proses bisnis di antara para pelaku.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji berbagai aktifitas saluran
pemasaran yang ada di koperasi tersebut guna sebagai bahan evaluasi bagi
pengambil kebijakan serta pemilik koperasi dan para pelaku utama yang terlibat
didalam kegiatan saluran pemasaran tomat bandung.
Berdasarkan hal-hal tersebut, adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana saluran pemasaran tomat bandung di Koperasi Mitra Tani
Parahyangan Cianjur Jawa Barat ?
2. Bagaimana manajemen permintaan dalam saluran pemasaran tomat bandung
di Koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur Jawa Barat ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan, penelitian ini
bertujuan untuk :
1. Menganalisis saluran pemasaran tomat badnung di Koperasi Mitra Tani
Parahyangan Cianjur Jawa Barat
2. Menganalisis manajemen permintaan dalam saluran pemasaran komoditas
tomat bandung di Koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur Jawa Barat
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Mahasiswa, penelitian ini merupakan sarana untuk menganalisis keadaan
nyata lapangan dengan teori yang telah diperoleh pada bangku pendidikan
perguruan tinggi.
2. Koperasi, sebagai bahan evaluasi dan masukan terhadap kinerja manajemen
rantai pasokan sayuran sehingga manajemen rantai pasokan sayuran akan
dapat lebih baik di masa mendatang dan dapat berdaya saing.
3. Para peneliti, dapat digunakan sebagai salah satu acuan penelitian.
4. Penelitian ini juga dapat memberikan pengaruh positif dan negatif bagi semua
pihak yang terlibat dalam saluran pemasaran tomat bandung, dan hal tersebut
akan menjadi bahan evaluasi bagi pihak yang terkait.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Saluran pemasaran merupakan saluran yang digunakan produsen untuk
tomat bandung ini, membahas mengenai saluran pemasaran tomat bandung di
Koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur, pelaksanaan kegiatan fungsi-fungsi
pemasaran oleh setiap lembaga pemasaran, dan peramalan dan pengukuan
permintaan dalam manajemen permintaa. Penelitian ini hanya menganalisis
saluran pemasaran tomat bandung yang dipasarkan pada lembaga pemasaran
seperti distributor, retailer (mini market, supermarket, hyper market) serta
konsumen institusional seperti restoran yang memiliki perjanjian kerjasama dalam
pemenuhan tomat bandung. Harga pada penelitian ini adalah harga yang berlaku
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Tomat
Definisi tomat segar menurut SNI 01-3162-1992 adalah buah dari
tanaman tomat bandung dalam keadaan utuh, segar dan bersih. Kesamaan sifat
varietas dinyatakan seragam apabila terdapat keseragaman dalam bentuk tomat
normal (bulat, bulat lonjong, bulat pipih, lonjong dan beralur) dan warna kulit
buah. Buah tomat dinyatakan tua apabila buah tomat bandung telah mencapai
tingkat perkembangan fisiologi yang menjamin proses pematangan yang
sempurna, dan isi dari dua atau lebih rongga buah telah berisi bahan yang
mempunyai konsistensi/kekentalan serupa jeli dan biji-biji telah mencapai tingkat
perkembangan yang sempurna. Buah tomat dinyatakan terlalu matang dan lunak
apabila buah tomat telah mencapai kematangan penuh dengan tekstur daging yang
lunak dan dianggap telah lewat waktu pemasarannya. Menurut beratnya, tomat
digolongkan besar (jika beratnya lebih dari 150 gram/buah), sedang (jika beratnya
100-150 gram/buah), dan kecil (jika beratnya kurang dari 100 gram/buah).
Menurut Tugiyono (2007) tomat adalah komoditas hortikultura yang
penting, baik karena harganya yang cukup baik maupun penggunanya dalam
konsumsi masyarakat. Secara umum tomat dapat ditanam di dataran rendah
sampai dataran tinggi dengan ketinggian diatas 750 mdpl pada tanah yang
gembur, sedikit mengandung pasir, dan kadar keasamannya (pH) antara 5-6, curah
hujan 750-1.250 mm/tahun dan kelembaban relatif 25%. Berdasarkan tipe
pertumbuhannya, tanaman tomat dapat dibedakan atas tipe determinate dan
indeterminate. Tanaman tomat yang mempunyai tipe pertumbuhan determinate,
pada ujung tanaman terdapat tandan bunga pada setiap ruas batang dan memiliki
umur panen lebih pendek, yaitu hanya sekitar 60 hari sudah dapat dipetik
buahnya. Tanaman tomat yang mempunyai tipe pertumbuhan indeterminate,
tandan bunga tidak terdapat pada setiap ruas batang dan ujung tanaman senantiasa
terdapat pucuk muda dan memiliki umur panen lebih panjang, yaitu berkisar
antara 70-100 hari setelah tanam baru dapat dipetik buahnya.Tomat merupakan
tanaman yang dipanen berkali-kali. Rata-rata pada satu kali pertanaman tomat
15 kali dengan selang 2-3 hari sekali untuk setiap panen. Petani tomat
membedakan tiga tingkat kematangan saat dipetik, yaitu hijau tua, merah muda
(pecah warna) dan merah tua Cara untuk menentukan indeks panen adalah dengan
mengadakan perubahan fisio-kimia yang terjadi selama proses pematangan buah
yaitu berturut-turut: green mature, break, turning, pink, light red and red. Buah
tomat dapat dipanen dengan cara dipetik dengan tangan (cara tradisional).
Berdasarkan ketinggian tanamannya, jenis tomat dibagi menjadi 3
golongan utama, yaitu Determinate, Intermediate dan Hybrid. Determinate adalah
jenis tomat yang memiliki ketinggian tanaman anatara 50-80 cm. Intermediate
adalah jenis tanaman tomat yang relatif lebih tinggi dan tumbuh hingga 2 m dan
umurnya berkisar 4 bulan. Hybrida adalah hasil persilangan antara determinate
dengan intermediate, karena merupakan persilanngan antara keduanya, varietas ini
memiliki sifat dari keduanya.
Selain dikelompokkan berdasarkan bentuk fisik tanamannya, jenis buah
tomat juga banyak ditentukan berdasarkan bentuk buah dan juga kegunaannya.
Beberapa jenis tomat yang lazim dikenal di masyarakat adalah tomat plum, tomat
beef, tomat ceri, tomat hijau, tomat pear dan tomat anggur. Tomat yang
diproduksi KUD Mitra Tani Parahyangan tergolong kedalam jenis tomat hybrid
bentuk fisiknya masuk kedalam tomat plum. Tomat yang ada di KUD Mitra Tani
Parahyangan biasa disebut dengan tomat bandung atau tomat tw. Disebut tomat tw
dikarenakan tomat tersebut awal benihnya berasal dari Taiwan, di kalangan
retailer dikenal dengan nama dagang tomat gelar.
2.2 Penanganan Tomat bandung
Menurut Sudjadi (1998), bahwa program penelitian pasca panen
hortikultura diarahkan untuk mendapatkan paket teknologi tentang penanganan
primer sebagai program jangka pendek dan penanganan atau pengolahan sekunder
sebagai program jangka panjang.
1. Penelitian mengenai penanganan primer
Digunakan untuk mendapatkan informasi dan data fisik, data fisiologis dan
data biologis. Data tersebut diperlukan dalam menentukan bahan baku yang
hasil sebelum panen sampai ke tangan konsumen bagi produk untuk
konsumsi segar.
2. Penelitian mengenai penanganan sekunder
Diarahkan untuk mendapatkan data mengenai bahan baku yang cocok dan
bermutu untuk konsumsi langsung maupun untuk pengolahan selanjutnya
yang berupa data fisik dan data kimiawi. Data fisik mencakup data mengenai
bentuk warna, dan kekerasan. Data kimiawi meliputi data mengenai
komposisi kimia dan nilai gizi.
Pada saat tomat telah sampai di gerai (Outlet) harus segera dilakukan
penanganan agar mutunya dapat dipertahankan serta berbagai bentuk kehilangan
dapat dikurangi. Secara garis besar sistem penanganan tomat bandung yang biasa
diterapkan sebagai berikut :
a. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan residu pestisida. Namun, hal
ini tidak dilakukan pada tomat bandung yang teksturnya lunak dan mudah lecet
atau rusak.
b. Sortasi
Sortasi dilakukan untuk memisahkan tomat bandung yang mutunya rendah
(ukuran terlalu kecil, kematangan tidak sesuai, rusak, lecet, memar dan busuk).
c. Grading
Grading adalah suatu operasi memisah-misahkan tomat bandung
berdasarkan kelas mutunya, dapat berdasarkan ukuran, baik volumenya maupun
ukuran panjang, tingkat kematangan dan warna.
d. Pengemasan dan Pengepakan
Pengemasan tomat dilakukan agar terhindar dari kerusakan akibat gesekan
atau benturan sehingga mutunya dapat dipertahankan. Pengemasan dilakukan
dengan menggunakan kontainer atau keranjang buah. Selanjutnya
kontainer-kontainer kontainer-kontainer tersebut untuk kemudian dikirim ke ruang pendingin.
e. Pendinginan (cooling)
Proses pendinginan (cooling) sering kali disebut precooling untuk
membedakan dengan proses penyimpanan dingin (cool storage). Pendinginan
(2) memperlambat respirasi; (3) menurunkan kepekaan terhadap serangan
mikroba; (4) mengurangi jumlah air yang hilang dan (5) memudahkan
pemindahan ke dalam ruang penyimpanan dingin atau transportasi yang
berpendingin.
2.3.Saluran Pemasaran
Balitsa Lembang (2011) menyatakan bahwa komoditi tomat dalam
pemasarannya dimulai dari panen oleh produsen, kemudian dilakukan grading
untuk dapat dipisahkan berdasarkan kualitas tomat tersebut. Kemudian dipasarkan
kepada tengkulak ataupun langsung ke konsumen. Menurut Sabang, et al. (2009).
Saluran pemasaran yang terlibat dalam pemasaran tomat merupakan saluran dwi
tingkat yaitu dari petani produsen ke pedagang pengumpul, dari pedagang
pengumpul ke pedagang pengecer sampai produksi tomat tersebut sampai ke
tangan konsumen.
Rismayani (2007) menyatakan bahwa buah tomat yang merupakan
sayuran mempunyai sifat cepat busuk (rusak). Oleh karena itu dalam
penyampaiannya ke konsumen pemakai diperlukan perhatian sehubungan dengan
biaya (cost) transportasi (pengangkutan), pengepakan, dan penyimpanan yang
pada prinsipnya untuk mengatasi risiko atas daya tahan tomat tersebut. Selain itu
yang paling penting adalah proses penyampaian dari petani/produsen ke
konsumen pemakai yaitu saluran distribusi yang menentukan harga dan laba.
Harga atau penenrimaan di tingkat petani dan harga yang berlaku di konsumen
serta margin pemasaran secara keseluruhan. Dalam hal ini ditunjukkan bahwa
penggunaan saluran distribusi mempengauhi keberadaan tataniaga buah tomat.
Saluran distribusi yang panjang, menunjukkan kegiatan tataniaga yang tidak
efektif dan tidak efisien dibandingkan dengan penggunaan saluran distribusi yang
pendek. Pada penggunaan saluran distribusi yang pendek, harga dan penerimaan
(laba) lebih besar pada tingkat petani, dan margin pemasaran secara keseluruhan
pada lembaga pemasaran, serta harga yang lebih baik ditingkat konsumen.
Setyowati (2004) menambahkan bahwa saluran pemasaran yang ada,
perbedaan biaya aktivitas-aktivitas pemasaran yang dilakukan para lembaga
akan mengakibatkan perbedaan besarnya marjin tiap-tiap saluran pemasaran.
Dengan demikian, baik aktivitas maupun harga akan berbeda sesuai dengan
biaya-biaya yang dikeluarkan dan situasi pasar yang akan mempengaruhi keuntungan
yang diperoleh masing-masing lembaga pemasaran yang turut dalam pemasaran
tersebut. Keadaan ini menyebabkan distribusi marjin masing-masing saluran
pemasaran berbeda .
2.4 Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu mengenai saluran pemasaran membantu
penulis dalam melakukan penelitian pada koperasi yang berbeda dan alat analisis
yang beberapa diantaranya memiliki perbedaan.
Rismayani (2007) meneliti tentang analisis saluran distribusi sebagai
penentu harga dan laba pada produk hasil pertanian sayuran buah tomat. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa saluran distribusi yang panjang, baik untuk daerah
Lembang Bandung maupun Pacet Cipanas menunjukkan kegiatan tatatniaha yang
tidak efektif dan tidak efisien dibandingkan dengan penggunaan saluran distribusi
yang pendek. Pada penggunaan saluran distribusi yang pendek, harga dan
penerimaan (laba) lebih besar pada tngkat petani, dan margin pemasaran secara
keseluruhan pada lembaga pemasaran, serta harga yang lebih baik di
pasar/konsumen. Perbedaan pada penenlitian yang dilakukan adalah pada lokasi
dan manajemen permintaan yang dilakukan.
Stanton dan Burkin (2008) meneliti tentang peningkatan partisipasi petani
kecil dalam saluran pemasaran ekspor : persepsi US untuk menghasilkan produk
segar. Tujuan penelitian tersebut adalah mengidentifikasi unsur-unsur penting dari
strategi untuk memfasilitasi petani kasil dalam supply chain (rantai pasok)
internasional. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa tidak semua para importir
pesimis terhadap kemampuan petani kecil untuk memenuhi tuntutan mereka. Oleh
karena itu perlu adanya unsur penting seperti kebijakan pemerintah dan kontrak
kerja antara importir dan petani kecil sangat membantu petani dalam supply chain
(rantai pasok) internasional. Perbedaan dalam penelitian ini adalah penggunaan
penelitian ini adalah pada pembahasan supply chain produk segar seperti sayuran
yang lebih dikhususkan pada tomat bandung.
Sabang, et al. (2009) meneliti tentang sistem pemasaran tomat
(lycopersicum esculentum l. mill.) di Desa Bangunrejo Kecamatan Tenggarong
Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode pengambilan sampel yang di
gunakan adalah metode sampel acak sederhana (Simple random sampling) dari
jumlah petani yang mengusahakan tanaman tomat sebanyak 192 petani.
Sedangkan untuk pengambilan sampel ditingkat lembaga tataniaga yang terlibat
menggunakan metode non probability sampling yaitu metode bola salju (snow
ball sample) yang dilakukan secara berantai dengan cara mencari informasi dari
petani produsen yang diminta untuk menunjukan saluran-saluran yang terlibat di
dalam kegiatan tataniaga seperti pedagang pengumpul yang membeli hasil tomat
dari petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Saluran pemasaran yang terlibat
dalam pemasaran tomat merupakan saluran dwi tingkat yaitu dari petani produsen
ke pedagang pengumpul, dari pedagang pengumpul ke pedagang pengecer sampai
produksi tomat tersebut sampai ke tangan konsumen.Perbedaan dengan
penenlitian yang dilakukan adalah dilakukannya manajemen permintaan untuk
meramalkan permintaan tomat bandung dan produksinya.
Taylor dan Fearne (2009) meneliti tentang saluran pemasaranterkait
manajemen permintaan pada rantai makanan segar serta suatu kerangka untuk
analisa dan perbaikan/penyempurnaa. Penelitian ini menggunakan Collaborative
Planning Forecasting and Replenishment (CPFR) dengan alat analisis VCA
(Value Chain Analysis), penelitian ini hanya memfokuskan pada bukti-bukti
empiris dari berbagai studi kasus yg diperoleh dari berbagai industri/koperasi
makanan di Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adanya variabilitas
dalam permintaan konsumen yang disebabkan kegiatan promosi dan sebab
alamiah seperti musiman dan cuaca oleh karena itu perlu adanya menajemen
permintaan dengan menggunakan Collaborative Planning Forecasting and
Replenishment (CPFR). Dalam penelitia ini disimpulkan juga bahwa untuk
peningkatan kenerja rantai pasok diperlukan sebuah pendekatan yang sistematis
dan terkoordinir mulai dari hulu sampai ke hilir. Perbedaan penelitian ini dengan
yang digunakan dalam peramalan, dalam penelitian Taylor dan Fearne (2009)
menggunakan CPFR sedangkan dalam penelitian yang penulis lakukan
menggunakan model ARIMA.
Dharma (2009), meneliti tentang sistem penunjang keputusan cerdas untuk
mengelola rantai pasokan pada agroindustri hortikultura. Pada penelitian ini
penulis menggunakan IDS-SCM dan Algoritma Genetika, penelitian dilakukan di
PT. Saung Mirwan. IDSS_SCM dapat membantu pengguna untuk mengelola
rantai pasokan pada agroindustri hortikultura selama rentang waktu satu tahun ke
depan. Penerapan algoritma genetika dalam IDSS-SCM membantu sistem untuk
menghasilkan informasi yang berkualitas dalam waktu yang relatif singkat. Hasil
optimasi dengan Algoritma Genetika menunjukkan bahwa biaya perencanaan
yang optimal untuk perencanaan agregat (TCTK) adalah sebesar 153.915.400.
Sedangkan untuk optimasi jarak tempuh, algoritma genetika dengan operasi ERX
(Edge Recombination Crossover) menghasilkan jarak tempuh minimal sebesar
325 km. Hasil ini menunjukkan bahwa algoritma genetika dapat menyelesaikan
masalah optimasi yang tergolong sulit dengan baik dan efisien. Dalam penelitian
ini mengkaji tentang manajemen rantai pasok komoditas sayuran sama seperti
yang akan diteliti namun berbeda dalam penggunaan alat analisi dan software
yang digunakan.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah terkait dengan analisis
saluran pemasaran tomat bandung pada koperasi Mitra Tani Parhyangan yang
terletak didaerah Cianjur. Dalam penelitian ini menganalisis secara deskriptif
kegiatan saluran pemasaran dari lembaga yang terlibat seperti produsen dalam hal
ini koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur, distributor, dan pedagang
eceran/ritel/supermaket dan konsumen. Selain koperasi sebagai produsen tomat
bandung dalam penelitian ini juga melibatkan para petani yang memproduski
tomat bandung yang berada di daerah Kecamatan Warung kondang. Petani
tersebut merupakan anggota kelompoktani yang masuk dalam keanggotaan
koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur. Penelitian ini menggunakan data
produksi dan permintaan tomat bandung dalam harian selama satu tahun, yang
terjadi selama tahun 2012. Data ini akan digunakan dalam proses forecasting
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada lokasi
penelitian dan komoditas yang diteliti. Penelitian sebelumnya secara umum pada
komoditas hortikultura dan produk makanan segar sedangkan yang dilakukan
penulis adalah lebih khusus pada tomat bandung. Penelitian ini lebih menganalisis
interaksi yang terjadi antar pelaku yang terlibat dalam pendekatan saluran
pemasarantomat bandung mulai dari aliran informasi, aliran barang dan aliran
uang. Selain itu, penggunaan perangkat lunak seperti MS. Excel,MINITAB 14
BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Pengertian Pasar dan Konsep Pemasaran
Menurut Lipsey (1995), istilah pasar pada awalnya diperuntukkan hanya
suatu tempat dimana barang - barang diperdagangkan. Namun dalam pengertian
modern, pasar merujuk pada situasi manapun di mana pembeli dan penjual dapat
menegosiasikan pertukaran komoditi. Pasar adalah suatu tempat atau daerah
geografis dimana pembeli dan penjual bertemu dan berfungsi, barang- barang dan
pelayanan ditawarkan untuk dijual dan terjadilah pemindahan pemilik barang.
Pasar menurut Sudiyono (2002) didefinisikan sebagai lokasi geografis, dimana
penjual dan pembeli bertemu untuk mengadakan transaksi faktor produksi, barang
dan jasa. Dalam perkembangannya definisi perlu ditinjau mengingat
perkembangan teknologi informasi memungkinkan dilakukan transaksi tanpa
komunikasi tatap muka antara penjual dan pembeli, bahkan untuk beberapa
komoditi pertanian terdapat lembaga pemasaran yang berperan sebagai agen
penjual (selling broker) atau agen pembeli (buying broker). Dengan demikian, ada
kalanya penjual dan pembeli diwakili individu- individu dan transaksi tidak perlu
membutuhkan ruang geografis tertentu.
Kotler (2002), menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial
yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Pemasaran pada
prinsipnya adalah aliran barang dari produsen ke konsumen. Aliran barang ini
dapat terjadi karena adanya peranan lembaga tataniaga. Peranan lembaga
tataniaga atau pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan
karakteristik aliran yang dipasarkan. Oleh karena itu dikenal istilah “Saluran
Pemasaran” (Marketing Chanel). Fungsi saluran pemasaran ini sangat penting,
khususnya dalam melihat tingkat harga masing masing lembaga pemasaran
(Soekartawi, 2002).
Istilah tataniaga di negara kita diartikan sama dengan pemasaran atau
barang dari produsen ke konsumen, disebut tataniaga karena sesuatu yang
menyangkut aturan permainan dalam hal perdagangan barang sadangkan disebut
pemasaran karena sering terjadinya transaksi di pasar (Mubyarto, 1994). Menurut
Nitisemito (1991), tataniaga merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen secara efisien,
dengan maksud untuk menciptakan permintaan efektif sehingga tataniaga bukan
semata-mata kegiatan untuk menjual barang dan jasa saja, karena sebelum dan
sesudahnya merupakan kegiatan tataniaga. Menurut Sudiyono (2004), tujuan dari
tataniaga adalah untuk mengarahkan barang dan jasa ke tangan konsumen.
Beberapa kegiatan yang perlu dinyatakan sebagai fungsi pemasaran, yaitu:
Fungsi pertukaran meliputi kegiatan yang memperlancar perpindahan hak
milik dari barang dan jasa yang dipasarkan. Fungsi pemasaran ini terdiri dari
fungsi pembelian dan fungsi penjualan. Fungsi pembelian merupakan fungsi yang
berhubungan dengan pemindahan hak milik dari sejumlah barang dan jasa yang
dipasarkan. Fungsi penjualan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari
atau mengusahakan agar ada permintaan atau pembelian terhadap barang dan jasa
yang dipasarkan pada tingkat harga yang menguntungkan.
Fungsi penyediaan fisik yaitu kegiatan kegiatan yang secara langsung
berhubungan dengan barang dan jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat,
bentuk dan waktu. Fungsi fisik ini meliputi pengangkutan dan penyimpanan.
Fungsi pengangkutan meliputi perencanaan, pemilihan dan pergerakan. Fungsi
pengangkutan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan barang dan
jasa di daerah konsumen baik menurut waktu, jumlah dan mutunya.
Fungsi penyimpanan (kegunaan waktu) yaitu untuk menyimpan barang
selama belum dikonsumsi atau menunggu diangkut ke daerah pemasaran, untuk
memperkecil fluktuasi harga komoditi yang bersifat musiman, mengatur
keseimbangan suplai sepanjang tahun, menjaga mutu komoditi pertanian yang
mudah rusak. Fungsi penyediaan fasilitas merupakan usaha-usaha perbaikan
sistem pemasaran untuk meningkatkan efisiensi operasional dan efisiensi
penetapan harga. Fungsi ini meliputi standarisasi, penanggungan resiko, informasi
a) Fungsi standarisasi merupakan suatu ukuran atau penentuan mutu suatu
barang dengan menggunakan berbagai ukuran seperti warna, bentuk,
kekuatan atau ketahanan, kadar air, tingkat kematangan, rasa, ukuran bentuk.
b) Fungsi penanggungan resiko yaitu kemungkinan yang sifatnya merugikan
yang akan dihadapi dalam penyaluran barang dari produsen hingga tingkat
konsumen.
c) Fungsi informasi sangat penting terhadap penawaran dan permintaan.
3.1.2 Saluran Pemasaran
Pemasaran pada prinsipnya adalah aliran barang dari produsen ke
konsumen. Aliran barang ini dapat terjadi karena adanya peranan lembaga
pemasaran. Peranan lembaga pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar
yang berlaku dan karakteristik aliran barang yang dipasarkan. Oleh karena
itu,dikenal istilah saluran pemasaran. Fungsi saluran pemasaran ini sangat
penting, khususnya dalam tingkat harga di masing-masing lembaga pemasaran
(Soekartawi, 2001 ). Saluran pemasaran menurut Kotler dan Keller (2007) adalah
organisasi-organisasi yang saling tergantung yang tercakup dalam proses yang
membuat produk atau jasa menjadi tersedia untuk digunakan atau dikonsumsi.
Mereka adalah perangkat jalur yang diikuti produk atau jasa setelah produksi.
Menurut Saladin (2003) arus saluran pemasaran terbagi menjadi lima tipe
arus saluran, yaitu :
a. The pshical flow (arus fisik), menggambarkan penjualan produk secara fisik
dari bahan mentah sampai ke pelanggan akhir
b. The title flow (arus pemilikan),menggambarkan perpindahan hak milik yang
sebenarnya dari lembaga pemasaran itu ke badan usaha lain. Pemilikan
berpindah dari produsen ke penyalur, kemudian ke konsumen.
c. The payment flow (arus pembayaran),menggambarkan para pelanggan
membayar faktur mereka lewat bank atau lembaga keungan lainnya kepada
penyalur, dan penyalur membayarkan kepada produsen (dipotong komisi) dan
d. The information flow (arus informasi), mengambarkan arus pengaruh yang terarah (periklanan, penjualan, perseorangan, promosi penjualan, dan
publisitas) dari satu bagian ke bagian lainnya dalam sistem yang sama.
e. The promotion flow (arus promosi), menggambarkan bentuk-bentuk promosi
yang dipergunakan.
3.1.3 Identifikasi Lembaga Saluran Pemasaran
Pelaksanaan saluran pemasaran meliputi pengenalan Lembaga saluran
pemasaran dengan siapa dia berhubungan, proses apa yang perlu dihubungkan
dengan tiap anggota inti dan jenis penggabungan apa yang diterapkan pada tiap
proses hubungan tersebut. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan persaingan
dan keuntungan bagi perusahaan dan seluruh lembaganya, termasuk pelanggan
akhir. Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang
menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa, dan komoditi dari produsen
kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau
individu lainnya. Lembaga-lembaga tataniaga dalam menyampaikan komoditi
pertanian dari produsen berhubungan satu sama lain yang membentuk jaringan
tataniaga. Arus tataniaga yang terbentuk dalam proses tataniaga ini beragam
sekali, misalnya produsen berhubungan langsung dengan tengkulak atau pedagang
pengumpul (Sudiyono, 2004).
Menurut Limbong dan Sitorus (1987) lembaga pemasaran merupakan
suatu badan atau orang yang terlibat dalam penyaluran barang dan jasa atau
kehadirannya untuk menggerakkan barang dan jasa dari titik produsen ke titik
konsumen melalui berbagai kegiatan atau aktivitas. Lembaga-lembaga pemasaran
akan melakukan kegiatan dan akan melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran yang
meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Lembaga-lembaga
pemasaran ini melakukan pengangkutan barang dari tingkat produsen sampai ke
tingkat konsumen, juga berfungsi sebagai sumber informasi mengenai suatu
barang dan jasa.
Beberapa Lembaga pemasaran yang merupakan pelaku-pelaku yang
3.1.3.1Pemasok (Suppliers)
Jaringan berawal dari sini, merupakan sumber yang menyediakan bahan
pertama, dimana mata rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini
bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan,
subassemblies, suku cadang, dan sebagainya. Sumber pertama dinamakan
pemasok, termasuk juga pemasoknya pemasok atau sub-pemasok. Jumlah
pemasok dapat berjumlah banyak atau sedikit.
3.1.3.2Produsen (Manufacturer)
Pemasok sebagai mata rantai pertama dihubungkan dengan manufacturer
atau assembler atau fabricator atau bentuk lain yang melakukan pekerjaan
membuat, memfabrikasi, mengasembling, merakit, mengkonversikan, atau
menyelesaikan barang (finishing). Hubungan dengan mata rantai pertama ini
sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Pada tahap ini terjadi
penghematan sebesar 40% - 60 % atau bahkan lebih.
3.1.3.3Distributor (Distribution)
Barang sudah jadi yang dihasilkan oleh manufacturer dapat mulai
disalurkan kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk penyaluran
barang ke pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya
ditempuh oleh sebagian besar rantai pasokan. Barang dari pabrik melalui
gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau warehouse atau pedagang besar
dalam jumlah besar, dan akhirnya pedagang besar menyalurkan dalam jumlah
yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.
3.1.3.4 Pengecer (Retail outlets)
Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat
juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang
sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer. Pada tahap ini terdapat kesempatan
untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah persediaan dan biaya
gudang, dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik
3.1.3.5 Pelanggan (Customers)
Pengecer menawarkan barangnya langsung kepada para pelanggan atau
pembeli atau pengguna barang tersebut. Pihak yang termasuk pengecer antara lain
toko, warung, toko serba ada, pasar swalayan, toko koperasi, mal, clubstore, dan
sebagainya di mana pembeli akhir melakukan pembelian. Walaupun secara fisik
dapat dikatakan bahwa ini merupakan mata rantai yang terakhir, sebenarnya masih
ada satu mata rantai lagi, yaitu pembeli (yang mendatangi toko pengecer) ke
pengguna atau pembeli sesungguhnya, karena pembeli belum tentu pengguna
sesungguhnya. Mata rantai pasokan baru benar-benar berhenti setelah barang yang
bersangkutan tiba di pemakai sebenarnya barang atau jasa yang dimaksud.
3.1.4 Manajemen Permintaan
Kotler (2002) menyatakan bahwa salah satu alasan utama perusahan
melakukan riset pemasaran adalah untuk mengidentifikasi peluang pasar. Setelah
riset selesai perusahaan harus mengukur dan memperkirakan ukuran,
pertumbuhan, dan potensi laba tiap-tiap peluang pasar. Salah satu kegiatan
tersebut adalah melakukan peramalan. Ramalan permintaan merupakan salah satu
kegiatan yang dilakukan dalam demand management.
Setelah Literatur mengenai manajemen permintaan dalam rantai pasok
muncul pada konteks amplifikasi permintaan yang dilakukan oleh Forrester pada
tahun 1958 dan Burbidge 1961 (Taylor dan Fearne 2009). Pujawan (2005)
menyatakan demand management adalah upaya untuk membuat permintaan lebih
mudah dipenuhi oleh supply chain. Secara lebih spesifik bisa dikatakan bahwa
demand management adalah upaya untuk secara aktif meyakinkan bahwa profil
permintaan pelanggan memiliki pola yang halus sehingga mudah dan efisien
untuk dipenuhi. Demand management melihat bahwa input tersebut harus diubah
polanya terlebih dahulu sebelum masuk ke proses peramalan, perencanaan
produksi, pengadaan bahan baku produksi dan pengiriman ke pelanggan. Hal
Gambar 3. Ilustrasi Demand Management dan order fulfillment
Sumber : (Pujawan 2005)
Taylor dan Fearne (2009) menyatakan bahwa selama ini perencanaan
bersama (collaborative planning) dan manajemen permintaan dikenal sebagai
kunci penting dalam perkembangan atau pertumbuhan rantai pasok (supply chain)
atau lembaga pemasaran yang efektif dan efisien terutama pada kebutuhan atau
produk produk segar, produk yang mudah busuk, tidak tahan lama atau
barang-barang yang sangat cepat perpindahannya dengan permintaan yang tidak menentu.
Menurut Russell dan Taylor (2006), pendekatan pendekatan yang
digunakan untuk memecahkan masalah dalam saluran pemasaran antara lain
adalah Forecasting. Forecasting merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan
untuk melakukan manajemen permintaan dengan baik.
3.1.5 Forecasting
Forecast atau peramalan adalah prediksi atas apa yang akan terjadi di masa
depan. Peramalan permintaan produk adalah dasar dari seluruh
keputusan-keputusan perencanaan yang penting. Keputusan perencanaan seperti
penjadwalan, persediaan, produksi, layout fasilitas dan tata letak bangunan, tenaga
kerja, distribusi, pembelian, dan sebagainya adalah fungsi dari permintaan
konsumen. Peramalan terdiri dari metode kualitatif dan metode kuantitatif.
Metode kualitatif didasarkan kepada penilaian, opini, pengalaman sebelumnya
dasarkan kepada metode-metode peramalan seperti time series. Peramalan
kuantitatif dapat diterapkan bila terdapat tiga kondisi berikut :
1. Tersedia informasi tentang masa lalu.
2. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk numerik.
3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus berlanjut
di masa yang akan datang.
3.1.5.1Jenis-Jenis Peramalan
Makridakis et al. (1999) menyatakan ada dua jenis model peramalan
utama, yaitu sebagai berikut :
1. Model deret berkala (time series), pendugaan masa depan dilakukan
berdasarkan nilai masa lalu dari suatu variabel dan/atau kesalahan masa lalu.
Tujuannya adalah untuk menemukan pola dalam deret data historis
mengekstrapolasikan pola tersebut ke masa depan.
2. Model kausal (regresi), faktor yang diramalkan menunjukkan suatu hubungan
sebab akibat dengan satu atau lebih variabel bebas. Tujuannya adalah
menemukan bentuk hubungan tersebut dan menggunakannya untuk
meramalkan nilai mendatang dari variabel tak bebas.
3.1.5.2Metode Deret Waktu (Time Series)
Menurut Heizer dan Render (1993), metode time series memprediksi
berdasarkan asumsi bahwa masa depan adalah fungsi dari masa lalu. Metode ini
melihat pada apa yang terjadi selama periode waktu dan menggunakan seri data
masa lalu untuk membuat suatu ramalan. Metode ini biasanya digunakan untuk
peramalan jangka pendek atau sangat pendek. Alasan utama penggunaan metode
ini adalah sederhana, cepat dan murah. Hanke et al (2003) menyatakan bahwa
salah satu aspek penting dalam memilih metode peramalan yang sesuai untuk data
time series adalah mempertimbangkan beberapa pola data. Pola data tersebut
dapat dibedakan menjadi empat, yaitu :
1. Pola horizontal (stasioner), terjadi apabila data observasi berfluktuasi di
sekitar nilai rata-rata yang konstan.
2. Pola musiman, terjadi ketika data observasi dipengaruhi oleh faktor musiman
tahun-tahun berikutnya. Komponen musiman relatif dominan pada
peubah-peubah yang besarannya tergantung pada musim atau cuaca.
3. Pola siklis, terjadi apabila data observasi terlihat naik atau turun dalam
periode waktu yang tidak tetap. Data berfluktuasi seperti gelombang di sekitar
garis trend.
4. Pola trend, terjadi apabila terdapat kenaikan atau penurunan pada periode
3.2Kerangka Pemikiran Operasional
Adapun kerangka pemikiran operasional dalam penelitian ini adalah :
Keterangan :
Gambar 4. Kerangka Pemikiran Operasional = Hubungan sebab akibat
= Informasi pendukung
• Konsumsi sayuran meningkat
• Fluktuasi Jumlah Produksi dan Permintaan Tomat bandung di KUD Mitra Tani Parahyangan
Identifikasi Kelembagaan
Saluran Pemasaran Tomat
Bandung di KUD Mitra Tani
Identifikasi Saluran Pemasaran
Tomat Bandung didi KUD Mitra
Tani Parahyangan
•Ketidakpastianhasil Produksi •Ketidakpasian pasokan input
•Ketidakpastian Demand
Forecasting
• Metode Time Series
Rekomendasi Manajemen Produksi di
KUD Mitra Tani Parahyangan Cianjur
BAB IV. METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian mengenai “Analisis Saluran Pemasaran Tomat Bandung Di
KUD Mitra Tani Parahyangan Cianjur” dilakukan di Koperasi Mitra Tani
Parahyangan yang terletak di Kecamatan Warungkondang Desa Tegalega,
Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember
2012 sampai dengan bulan Februari 2012. Pengambilan data dan analisis diambil
pada bulan Desember 2012 dan Januri 2013
4.2 Metode Penentuan Sampel
Metode penentuan sampel menggunakan non probability sampling, yaitu
purposive sampling. Sampel yang diambil berdasarkan beberapa kriteria tertentu
yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini juga melibatkan lembaga saluran
pemasaran untuk memberikan informasi mengenai saluran pemasaran di koperasi
Mitra Tani Parahyangan.
4.3 Data Instrumentasi
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan
data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dengan observasi
langsung. Data primer dikumpulkan dengan observasi dan wawancara. Obervasi
dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai kegiatan produksi komoditas sayuran
di KUD Mitra Tani Parahyangan, wawancara dilakukan untuk mendapatkan data
atau informasi melalui pimpinan perusahaan beserta staf. Data sekunder adalah
data yang telah terdokumentasi, data ini di ambil dari text book, hasil penelitian
dan lain-lain. Data sekunder merupakan data penunjang data primer yang
berfungsi untuk memberikan gambaran umum mengenai lokasi penelitian.
4.4 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer maupun sekunder. Data primer
diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan pihak
Data sekunder diperoleh dari literatur yang relevan, dokumen dan laporan yang
dimiliki oleh koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur dan instansi terkait.
Data yang diperlukan meliputi:
1. Data tentang gambaran umum tentang koperasi Mitra Tani Parahyangan
Cianjur meliputi sejarah dan perkembangannya, struktur organisasi dan
manajemen, serta bidang usaha yang merupakan data sekunder dari dokumen
milik koperasi.
2. Data tentang struktur rantai pasok koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur
berupa data primer yang diperoleh dari secara langsung melalui wawancara
dengan pihak koperasi Mitra Tani Parahyangan Cianjur dan survai ke
lapangan.
3. Data yang diperlukan untuk menganalisa menagemen permintaan diperoleh
dari data sekunder, berupa data supply dan demand koperasi Mitra Tani
Parahyangan dalam bentuk harian selama kurun waktu 1 tahun
4.5 Metode Pengolahan Data
Data dan informasi yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif dan
kuantitatif yang diolah dengan menggunakan bantuan komputer. Analisa
kuantitatif dapat menggunakan program MS. Excel, MINITAB 14, dan E-Views.
4.5.1 Metode Analisis Trend
Metode ini digunakan untuk peramalan data time series dengan pola data
yang mengandung unsur trend. Model trend yang bisa digunakan ada empat
macam, yaitu : linier, kuadratik, pertumbuhan eksponensial, dan kurva-s.
Seringkali untuk pola data yang mengandung unsur trend, metode ini lebih akurat
dari metode sejenisnya yang juga bisa dipakai untuk mengatasi data dengan pola
data trend (Hanke et al., 2003).
4.5.2 Metode Rata-Rata
4.5.2.1Metode Rata-Rata Bergerak Sederhana (Simple Moving Average)
Metode ini menggunakan rata-rata sebagai ramalan untuk periode
mendatang. Setiap kali muncul pengamatan baru, nilai rata-rata baru dapat
pengamatan yang terbaru. Metode ini tidak dapat mengatasi unsur trend dan
musiman (Hanke et al., 2003). Metode ini diterapkan dengan bantuan program
Microsoft Excel, MINITAB 14 dan E-Views. Langkah kerja dalam
mengaplikasikan metode ini adalah sebagai berikut :
4.5.2.1.1 Menentukan ordo dan bobot rata-rata bergerak
Ordo dari rata-rata bergerak adalah jumlah data masa lalu yang
dimasukkan ke dalam rataan. Aplikasi metode ini pada setiap data emiten terpilih
menggunakan ordo yang menghasilkan nilai kesalahan paling kecil. Pemilihan
ordo terbaik dilakukan dengan cara coba-coba.
4.5.2.1.2 Menerapkan persamaan metode peramalan
Untuk metode Rata-rata Bergerak Sederhana persamaan umumnya
(Makridakis et al., 1999) adalah :
Ŷt+1 =
∑
Dimana :
Ŷt+1 = nilai ramalan variabel untuk satu periode ke depan
Yi = nilai aktual variabel pada periode ke-i
N = ordo dari rata-rata bergerak
t = periode ke-t
4.5.3 Metode Single Exponential Smoothing (SES)
Metode ini secara terus menerus merevisi nilai ramalan dengan mempertimbangkan perubahan atau fluktuasi data terakhir untuk menghilangkan komponen random. Makridakis et al., (1999) menjelaskan bahwa metode Pemulusan Eksponensial menunjukkan pembobotan menurun secara eksponensial terhadap nilai pengamatan yang lebih tua. Teknik ini sangat cocok untuk pola data stasioner dan tidak efektif untuk menangani peramalan yang pola datanya memiliki komponen tren dan musiman. Teknik ini hanya menyimpan data terakhir, ramalan terakhir dan konstanta pemulusan ( α )sehingga dapat mengurangi masalah penyimpanan data. Dalam penenlitian ini ) metode ini diterapkan dengan bantuan program Microsoft
Excel, MINITAB 14 dan E-Views.Adapun persamaan dalam metode Single
Ŷt+1 = αŶ + (1-α) Ŷt
Keterangan :
Ŷt = nilai ramalan Y pada 1 periode kedepan setelah t
Yt = nilai aktual pada periode ke-t
α = Pembobotan smoothing
4.5.4 Metode DoubleExponential Smoothing
Metode ini memberikan bobot yang semakin menurun pada observasi masa lalu. Metode ini akurat jika diterapkan pada deret data yang mempunyai unsur tren yang konsisten, data dengan faktor musiman dan data stasioner. Metode ini tidak menggunakan rumus pemulusan berganda secara langsung. Adapun persamaan
Double Exponential Smoothing sebagai berikut :
Ŷt+ m = at + bt (m)
Keterangan :
Ŷt+m = nilai ramalan Y untuk m periode kedepan setelah t
Yt = nilai aktual pada periode ke-t
α & β = Pembobotan smoothing
4.5.5 Model Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA)
Model ARIMA adalah gabungan dari model AR dan model MA. Pada
model ini series stasioner adalah fungsi dari lampaunya dan nilai sekarang serta
kesalahan lampaunya. Bentuk umum model ini adalah :
Y = b +b Y b Y + e a e - ... a e
Secara umum notasi model ARIMA yang diperluas dengan
memeperhatikan unsur musiman adalah sabagai berikut : ARIMA (p,d,q) (P,D,Q)
dimana L adalah banyaknya periode dalam setahun.
4.5.4 Pemilihan Metode Peramalan Time Series
Pada tahap ini, beberapa metode yang telah dicoba dibandingkan dan
dipilih salah satu metode yang paling baik, untuk meramalkan permintaan tomat
peramalan yang ada adalah nilai rata-rata kesalahan absolute. MAPE (Mean
Absolute PercentageError), yang mempunyai formulasi sebagai berikut :
Keterangan :
Y = nilai aktual Y pada periode ke –t
Ŷ = nilai ramalan
BAB V
GAMBARAN UMUM
5.1 Sejarah dan Perkembangan Koperasi
Sejarah berdiri koperasi di awali dengan terbentuknya kelompok tani yang
diberi nama Mitra Tani Parahyangan yang didirikan pada tahun 1998. Mitra Tani
Parahyangan adalah koperasi yang bergerak dibidang agribisnis sebagai produsen
dan juga distributor sayuran. Mitra Tani Parahyangan merupakan salah satu
pelaksana agribisnis hortikultura yang tumbuh berkembang berasal dari kelompok
tani kampung Padakati. Koperasi ini didirikan oleh bapak Ujang Majudin yang
dari mulai berdirinya koperasi sampai dengan saat ini beliau menjabat sebagai
ketua sekaligus pemilik dari koperasi Mitra Tani Parahyangan.
Pada tanggal 18 Desember 2000 Mitra Tani Parahyangan ditetapkan
sebagai koperasi Mitra Tani Parahyangan dengan nomor badan hukum :
105/BHdk/10.7/XIII/2000, SITU no. 503/020/SITU/II/2002, TDP no. 100 625
200 777, NPWP no. 01.990.733.8-406.008. Hal ini bertujuan untuk menggalang
kerjasama antara petani yang ada di daerah sekitar Cianjur dan Sukabumi dengan
koperasi. Pemasaran produk sayuran dari Mitra Tani Parahyangan pada tahun
2000 hanya mencakup pasar-pasar tradisonal daerah Kabupaten Cianjur dan
menjadi pemasok sayuran di daerah Cipanas, disamping itu pada tahun 2000
pemilik koperasi berusaha untuk meluaskan pasarnya ke supermarket Lion
Superindo dengan cara memberikan contoh produk sayuran dan memberikan
proposal yang berjudul Pengembangan Agribisnis Mitra Tani Parahyangan yang
akhirnya pada bulan November 2001 koperasi mendapatkan izin menjadi salah
satu supplier Lion Superindo.
Koperasi Mitra Tani Parahyangan mampu mengirim sayuran ke
supermarket-supermarket cabang Fatmawati, Cikampak, Bekasi, Kalimalang,
Tebet, Kelapa Gading, Kedoya, Bintaro, Pamulang, Cibinong, Bogor, Cilandak,
Cileduk, Mampang, Sukabumi, dan Cilegon dan daerah Jabodetabek lainnya.
Mitra Tani Parahyangan memiliki ± 138 jenis komoditas sayuran, dari 138
komoditi sayuran yang ada komoditas unggulan pada koperasi ini adalah tomat