30
AGRlmEDIA
KRISIS KETENAGAKERJAAN
APA YANG TERJADI?
Ada kejadian yang menarik sekaligus prihatin di tengah-tengah bangsa Indonesia sejak akhir Juli tahun lalu. Kita masih ingat di sela pertemuan APEC (19-25 November 1996). Tim peramal ekonomi The Pacific ekonomi Outlooking (PEO) masih memprediksikan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia sebesar 7.0% pada tahun 1998 dan meningkat menjadi 7.3% pada tahun 1999 (Kompas. 16 April 1998). Namun, tanpa diduga prakiraan tersebut meleset setelah mulai dirasakan terjadinya depresiasi rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat sejak pertengahan Juli 1997. Nilai rupiah terus merosot dari Rp 2.500 sampai pernah mencapai sekitar Rp 15.000 per dollar Amerika. Nilai riil rupiah yang merosot diperkirakan mencapai 50 persen lebih. Sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tcrus mcrosot hingga mencapai angka yang neo,"tif yaitu minus lima persen.
Krisis monctcr tcrscbut tcrus merebak ke krisis berbagai segi kehidupan nasional dan masyarakat. Mclambungnya harga-harga umum termasuk scmbilan bahan pokok (sembako) mencerminkan tingkat
Volume 4 No.2 luni 1998
Oleh:
. Dr. Ir.Sjafri Mangkuprawira
(Dekan Fakultas Pertanian IPB)
inflasi yang meninggi. Hal demikian semakin terpicu karena meningkatnya harga bahan bakar minyak, listrik, dan angkutan umum. Tidak ayal lagi selama empat bulan terakhir saja, inflasi telah mencapai sekitar 33 persen. Dengan demikian, daya beli masyarakat akan semakin parah.
Keparahan masyarakat akan lebih dirasakan lagi bagi mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran yang tidak kecil jumlahnya. Sampai akhir Maret 1998 yang terkena PHK mencapai 133.459 ribu orang dari sebanyak 676 perusahaan. (Depnaker, Maret 1998).
Diperkirakan sampai akhir tahun 1998 yang terkena PHK akan
mendekati angka dua juta orang. Sementara itu, jumlah angkatan kerja yang belum mcndapat
mencapai 4.8 juta Diperkirakan
pckerjaan orang. tambahan pengangguran akibat krisis ekonomi akan mencapai enam juta orang. Dengan demikian, hingga akhir tahun
1998 diperklrakan jumlah penganggur mencapai 13.4 juta orang. Suatu angka yang sangat fantastik. Tidak habis pikir mengapa keberhasilan pembangunan selama tiga puluh tahun terakhir 'terpuruk' seolah-olah tanpa makna. Sementara tingkat pengangguran yang tinggi, sekitar 20 persen. seolah-olah menunjukkan masyarakat malas dan tidak butuh kerja alau karena memang lapangan kerja yang relatif sangat terbatas. Benarkah demikian?
KERJA SEBAGAI KEBUTUHAN Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan. Tidak mungkin seseorang mampu makan jika dia tidak memperoleh makanan baik bersumber dari pemberian maupun dari us aha sendiri. Sumber makanan dari pemberian umumnya bersifat sementara, sedang dari upaya sendiri seperti dari pendapatan mencari nafkah bersifat lebih tetap. Dengan demikian setiap pengeluaran individu keluarga dapat diprediksi lebih cermat. Bagi manusia yang normal mereka tidak ingin semua jenis kehidupannya terpenuhi dari pemberian orang lain. Sebaliknya seseorang yang selalu mendambakan pemberian dari orang lain akan selalu tergantung dan menjadi beban hidup orang lain tersebut. Dalam kaitan dengan sumberdaya maka telah terjadi inefisiensi alokasi.
Kerja sebagai kebutuhan manusia dapar dipandang dari
31
A6RlmEDIA
berbagai sudul. l'el1ama, dari sudut ekonomi. Seseorang memandang kerja sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kelangsungan hidup sendiri dan keluarganya. Tanpa kerja dan tanpa pendapatan maka tanpa kehidupan layak. Sebagai sumberdaya produktif, karyawan juga sekaligus sebagai penyumbang penting bagi perekonomian nasional. Kedua, kerja dipandang dari sudut psikologis. Kerja menghasilkan kepuasan batin, karena dengan kerja seseorang memperoleh pengakuan sosial dan harga diri yang pantas. Karena itu wajarlah seseorang akan selalu terpacu untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kedudukan sosialnya dengan car a mengembangkan motivasi kerjanya. Ketiga, kerja dipandang dari sudut sosial. Sebagai anggota masyarakat setiap individu pekerja terdorong untuk menerapkan sistem nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Dia ingin hidup sebagai anggota masyarakat yang berguna bagi lingkungannya, misainya, dalam gotongroyong alau solidaritas sosial. Semakin tinggi prestasi kerja dan pendapatan seseorang seharusnya semakin terpanggil pula untuk memikirkan dan membantu anggota masyarakat lainnya yang tergolong tertinggal.
Karakteristik seseorang yang memandang kerja sebagai salahsatu kebutuhan dan sekaligus sebagai kewajiban dari anggota masyarakat antara lain adalah: (I) cendcrung ingin meraih karirnya seoptimal mungkin dengan cara kerja keras, (2)
rnotivasi kerja dinilai sebagai elemen pokok dalam meningkatkan kinerjanya, (3) kerja tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga sebagai unsur kesenangan alau kepuasan batin, dan (4) kerja rnenjadikan diri seseurang mampu unluk hidup mandiri.
Karakteristik di membawa implikasi
Volume 4 No.2 /uni 1998
alas pada
kel1111nculan beberapa lipe karakleristik manusia dalam hubungannya dengan aspek kerja, yaitu pel1ama, pekerja keras bahkan cenderung sebagai penyandu .kerja. Kedua, pekerja rutin yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan rutin dan standar, Daya cipta dan prakarsa kurang. Ketiga, pekerja asal-asalan, pas if, ketergantungan pada atasan tinggi dan motivasi kerjanya cenderung rendah. Keempat, orang yang anti kerja. Kerja dipandang hanyalah sebagai beban ketimbang kewajiban. Mereka 'senang' serta 'manja' dengan ketergantungan pada orang lain.
Dalam teori motivasi kerja, seseurang yang cenderung pekerja keras dijelaskan dalam teori Y. Teori ini menyebutkan bahwa orang bekerja tidak semata-mata karena
.
MengllJ»;l
sebagianpekerjalllenganggur· ?
SUlltu. pertanyaan
yang
paling
soot
、ゥェセ。ウォ。ョ@dalam ilmu ekonomi
Mengapa ?
faklor insentif upah atall pendapatan, tetapi yang lebih Ulama karena faktur motivasi. Karena ilU, agar produklivitasnya tetap stabil cukup didukung dengan iklim kerja yang kondusif seperti pember ian penghargaan moril dan diciptakannya hubungan sosial antara atasan dan bawahan yang demokralis dan partisipatif.
Berbeda dengan teori Y, maka leori yang menjeiaskan pekerja yang mal as dan cenderung anti kerja adalah teori X. Teori ini menyebutkan bahwa pekerja yang mal as dapat lerjadi disebabkan karena faklor dirinya (motivasi). Dengan demikian, untuk meningkalkan kinerja tipe pekerja ini harus dengan ekstra perlakuan yang relalif lebih keras seperti dengan pendekatan individual disertai dengan
l110tivasi dan bahkan jika dianggap perludengan ancaman-ancaman mori!, misalnya pemutusan hubungan kerja.
Dalam kehidupan biasa, pada dasarnya setiap orang secara rnanusiawi memiliki sifal-sifat yang digambarkan dalam teori Y dan' teori
X. Dengan perkataan lain, sctiap orang memiliki sifat ambivalensi. Tinggal pertanyaannya, apakah seseorang cenderung senang atau anti kerja. Hal itu sangat tergantung pada faktor internal orang yang bersangkutan (pendidikan, pengalaman, motivasi, usia) dan faktor ekstemal (sosialisasi keluarga, iklim kerja).
Berkaitan dengan uraian di atlls maka fenomena pengangguran akan berakibat pada karyawan dalarn beberapa hal seperti:
1) Tekanan jiwa, mulai dari rasa kecewa, stress dan putus asa sampai depresi, dan bahkan gangguan jiwa yang sangat berat (gila).
2) Merasa tidak memperoleh pengakuan sosial sehingga kebutuhan self esteem dan aktualisasi diri menjadi terancam hilang.
3) Bagi keluarga yang tidak siap menghadapi kenyataan pahit ini daJam jangka panjang dapal menimbulkan kerctakan, ketidakharmoni -san dan bahkan perpecahan.
MENGAPA TERJADl PENGANGGURAN 'I
Mengapa sebagian pekerja menganggur? Suatu pertanyaan yang paling sulit dijelaskan dalam ilmu ekonumi. Mengapa? Seperti yang terbiasa dipelajari, leori ekonomi makro menjelaskan bahwa kondisi keseimbangan kompelilif mcnunjuk-kan jumlah suplai pekerja sama dengan permintaan terhadap pekerja (Bellante dan Jackson, 1983).
Dijelaskan pula tidak ada sumberdaya tenaga kerja yang
32
"GRlmEDI"
Upah Upah
We
VMPPe
o
A* A Pekerjaano
B* B PekerjaanIndustri A Industri B
Keterangan: VMPP = Nilai Produk Marginal
Gambar 1. Kondisi Ekonomi Tenaga Kerja Pada Industri Berbeda
menganggur. Tingkat upah berada pada keseimbangan pasar, sementara setiap angkatan kerja mampu memperoleh pekerjaannya. Namun dalam kenyataannya hal itu sangat tergantung pada sejumlah asumsi sederhana yaitu:
1) bahwa sumberdaya tenaga kerja mempunyai informasi dan mobilitas yang sempurna. Dalam hal Inl biaya informasi dan
mobilitas berada pada titik nol. 2) bahwa majikan memandang
semua tenaga kerja sebagai substitusi yang sempurna satu terhadap lainnya.
3) bahwa semua harga produk dan upah adalah sangat luwes.
4) bahwa tingkat permintaan keseluruhan adalah tertentu.
Dalam kenyataannya, 。ウオュウゥセ@ asumsi di atas tidaklah mudah dapat dipakai. Terutama jika dilihat pada kerangka anal isis yang statis tanpa menelaah perubahan dalam perjalanan kurun waktu tertentu. Disitu apa pun dapat terjadi yaitu. apakah adanya perombakan sistem politik pcmerintahan. kebijakan ekonomi, dinamika sosial budaya Illasyarakat, dan perkembangan teknologi. Sementara pada tingkat mikro pun kita tidak mudah menyimpulkan bahwa pengangguran terjadi hanya karena salU faktor saja, misalkan karena upah atau biaya
Volume
4 No.2 Illni 1998produksi. Secara empirik hal itu ditunjukkan oleh mereka yang tergolong pengangguran tidaklah sarna pada semua sektor dan khalayak. Pengangguran dapat terjadi pada mereka yang berbeda kondisi demografinya, sektor spesifik, jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan (Borjas, 1996).
Telaahan yang lebih Illikro lagi akan
kelllungkinan
menghasilkan dua yaitu, apakah seseorang berkeinginan keluar dari pekerjaannya atau tetap pada pekerjaannya. Sementara yang lainnya mungkin barn masuk atau masuk kembali bekerja karena pertimbangan beberapa hal, misalnya baru selesai pendidikan, jenis pekerjaan dengan tingkat upah yang menarik, dan karena tersedianya lapangan pekerjaan itu sendiri.
Dalam pada itu, latar belakang pekerjaan orang yang menganggur dapat discbabkan oleh beberapa hal yaitu (1) kehilangan pekerjaan atau terkena PHK karena perusahaan mengalami pailit, (2) sengaja mcninggalkan pekerjaan dengan berbagai alasan seperti kurang menariknya tingkat upah, iklim kerja dan motivasi, (3) bcrhenti sementara karena masuk ke pekerjaan bukan mencari nafkah, kegiatan rumahtangga dan sosial,
atau mencari peluang pekerjaan yang lebih Illenarik, dan (4) yang bersangkutan berhenti kerja karena memperoleh keselllpatan untuk melanjutkan pendidikannya.
Dengan demikian, fenomena pasar kerja selalu menarik untuk dikaji. Permasalahannya muncul terus menerus dan cenderung tetap. Misalnya, sebagian karyawan berhenti bekerja, tetapi lainnya telap bertahan. Beberapa perusahaan memutuskan hubungan kerja dengan karyawan, sedang lainnya malah memperluas lowongan kerja. Di sisi tertentu angkatan kerja baru masuk kerja setelah menyelesaikan pendidikannya, di sisi lain 'karyawan' terpaksa berhenti karena harus sekolah lagi. Seeara teoretis dan empiris, fenomena di atas dapat Icbih dijelaskan lagi menurut ェ・ョゥウセ@ jenis pengangguran friksional, struktural, musiman, dan pengurangan permintaan menyeluruh (Bellante dan Jackson, 1983).
Pengangguran Friksional
Secara empiris, pada tingkat permintaan terhadap karyawan (kesempatan kerja) eukup tinggi, namun mengapa pengangguran masih terjadi. Hal itu dapat terjadi karena beberapa alasan antara lain
a) ketidaksepadanan antara keinginan perusahaan dan keinginan karyawan,
b) informasi pasar kerja yang kurang sempurna ,dan (e) biiya informasi mahal. Secara teorins dan empiris, fenomena jenis pengangguran friksional dapat dilihat pada Gamb3! 1 (Bellante dan J aekson, 1983).
Perubahan dalam komposisi permintaan keseluruhan, sambil berpegang teguh pada tingkat konstan permintaan keseluruhan. Dalam suatu perekonomian dua buah industri A dan B, suatu penurunan dalam permintaan tenaga kerja dalam industri A mengurangi penggunaan tenaga kcrja di sana sampai A *.
[image:3.536.21.354.40.245.2]33
AGRlmEDIA
Sualu penggantian kenaikan sebagai imbalan
kerja
dalam.permintaan tenaga (tingkat permintaan menyeluruh dianggap konstan) menciptakan B* sebagai lowongan dalam industri B. Para pekerja yang kehilangan pekerjaan dalam industri A secara' kualitas layak untuk mengisi jabatan dalam industri B dan akan melakukan hal demikian. Selama waktu para pekerja ini mencari lowongari yang ada dalam industri B, di pihak lainnya mereka akan mengalami pengangguran yang friksional.
sektor lainnya mengalami stagnasi. Dalam situasi terse but bisa jadi pekerja-pekerja ahli akan pindah ke selttor ekonomi yang tumbuh dan akibatnya sektor-sektor lainnya berkurang jumlah pekerjaan.
Pengangguran Musiman
Pengangguran musiman
sangat terkait dengan proses yang terjadi di suatu perusahaan. Disektor pertanian, jenis pengangguran musiman sangat signifikan terkait dengan proses produksi yang sifatnya musiman. Musim atau kondisi alam berimplikasi ada waktu kegiatan pengolahan lahan, persemaian,
dセ「uャャ@
tiIUauan.eMnoJDi
.makrO,
pt!I1urunan permintaan agrerat
セq。NーᄋーイYYQu\ョIGGGケセᄋᄋ@
penanaman, pemeliharaan, pemupuk-an, pemungutan hasil, pengolahpemupuk-an, dan pemasaran hasil. Setiap musim kegiatan dicairkan oleh intensitas waktu yang digunakan dan sekaligus pada jumlah tenaga kerja yang dibutuh,kan.
Pada musim puncak kesibukan jumlah pekerja akan tinggi dan sebaliknya pada musim paceklik atau pada kegiatan yang jarang. Jadi fluktuasi kegiatan mencerminkan adanya fluktuasi penggunaan sumberdaya tenaga kerja, khususnya yang langsung terlibat dalam kegiatan produksi riil. Pada saat fluktuasi kegiatan menurun itulah Asumsi yang digunakan dalam
analisis di atas ialah, bahwa seluruh permintaan dan penawaran tenaga kerja telah ditentukan. Semua karyawan berbakat memenuhi lowongan pekerjaan yang ada. Dalam kenyataannya asumsi tersebut tidaklah begitu realistis, Ternyata pengangguran friksional terjadi karena tenaga kerja dan perusahaan membutuhkan waktu untuk saling menemukan dan menyelami informasi tentang
dikombiDasikan dengaubaJ;gaselDula
yang kaku dan upah nominaPyang lnw!,!!!
akan memmbuJkan ketidakseimban,gan,
baik dalampasaJ; kOnlodititnaupl$
dalam pasar. tenaga··kerja. Faktor
kegiatandan volume modal
daJ8ln.
pasar
tenagllk!,!tja. Faktor
ォ・Lァゥ。セ。ョN、。ョ@volume modal
ria1am
Nョカセセ。ウiウセ。エ@berpengaruh padatin,gkat
ー・dァセァョイ。ョ@terjadi pengangguran musiman. Dalam kondisi seperti itu dapat pula terjadi situasi pemanfaatan potensi tenaga kerja yang lebih rendah dari standar normal (underutilization). Di Indonesia yang tergolong kelompok ini (lamanya berkerja kurang dari 35 jam per minggul mencapai jumlah 35 sarnpai 40 persen.
nilai suatu pekerjaan.
Pengangguran Struktural
Jenis pengangguran
struktural hampir sarna dengan jenis pengangguran friksional. Terdapat sejumlah lowongan pekerjaan tetapi masih terjadi pengangguran.Namun penyebabnya berbeda. Pengangguran struklUral dicirikarr oleh bcbcrapa hal, yaitu (l) lowongan pekerjaan yang ada membutuhkan keahlian yang ternyata herbeda dengan yang dimiliki pencari kerja, (2) lowongan pekerjaan tcrsebut secara geografis herada di luar kawasan atau lokasi pencari kcrja, (3) ketidakscmpurnaan informasi dan mahalnya biaya untuk memperoleh informasi, dan (4) hiaya transfer tenaga kerja relatif mahal.
Dalam dunia nyata. jcnis pengangguran struklUral tCl]adi manakala bebcrapa sektor ekonomi tumhuh herkembang tetapi beberapa
Volume 4 No.2 /ulli 1998
o
yang
エ・イェセ、ゥ@Upah Nyata
Nt Nf Pekerjaan
Pasar Tenaga Kerja Keseluruhan
k・エ・イ。ョセ。ョZ@
Pengeluaran
p・ョセ。ョァァオイ。ョ@ Karena Kekurangan Permintaan Tenaga Kerja
Dalam tinjauan ekonomi makro, penurunan permintaan
Soy
Y1 YI
E=Y
VMPPo VMPPo
Pendapatan
Pasar Komoditi Keseluruhan
Eo
= Permintaan Menyeluruh dalam arti yang sesungguhnya (bukan arti nominal): Co = Pengeluaran biaya bagi konsumsi; 10 = Pengeluaran biaya nyata bagi ゥョカ・ウエセウゥZ@ Go = Pengeluaran biaya nyata bagi pemerintah; Garis vertikal S = Y pada Ytadalah penawaran menyeluruh pada tingkat pengangguran alamiah; Wf= Upah nyat; Nf= Tenaga kerja pada full employment; Wf= Upah nyata: Yf =
Pendapatan keseimbangan.
'Gambar 2, Pasar Tenaga Kerja dan Komoditi Keseluruhan.
34
AGRlmEDIA
agrerat terhadapap produk nyata yang dikombinasikan dengan harga semula yang kaku dan upah nominal yang luwes akan menimbulkan ketidakseimbangan, baik dalam pasar komoditi maupun dalam pasar tenaga kerja. Faktor kegiatan dan volume modal dalam investasi sangat berpengaruh pada tingkat pengang-guran yang terjadi. Gambar 2 menjelaskan keterkaitan antara pasar kerja dan pasar komoditi agrerat (Bellante dan Jackson, 1983).
makin besamya ekonomi biaya tinggi. Dengan demikian, semakin banyak perusahaan-perusahaan yang tidak mampu melakukan ekspansi usahanya (stagnansi). Pada gilirannya kemampuan perusahaan untuk menyediakan lapangan kerja semakin berkurang.
SOLUSIALTERNATlF
Tingkat pengangguran agregat di suatu negara tidak selalu menunjukkan hal yang sarna pula pada setiap pasar kerja. Data empirik menunjukkan tingkat pengangguran cenderung berbeda pada ragam pasar kerja sesuai dengan kondisi geografis dan sektor-sektor ekonomi. yang spesifik. Gambaran di hampir semua negara,
semakin
.
rendah terkena pengangguran. ,Sementara itu di kalangan karyawan perempuan pengangguran cenderung lebih tinggi dibanding karyawan pria. Hal demikian agak khas karena perempuan sangat lebih mungkin untuk berpindah-pindah pekerjaan, misalnya karena ikut suami. Selain itu, mereka juga terdorong untuk keluar dari pekerjaan karena tuntutan keluarga untuk 'pindah' kerja sebagai pekerja rumahtangga. Namun, saat ini kecenderungannya sudah agak berbeda tergantung pada jenis pekerjaannya. Misalnya, pada sektor industri jasa daya serap kerja bagi kaum perempuan jauh lebih meningkat dibanding pad a sektor industri berat. Tuntutan ekonomi Pada komoditi keselu-ruhan,permintaan nyata keseluruhan pada mulanya adalah
Eo
= Go+
10+
Go; penawaran nyata keseluruhan merupakan gar is vertikal S = Y (pada tingkat pengangguran alamiah). Permintaan nyata keseluruhan dalam hubungan dengan penawaran nyata keseluruhan, menghasilkand。エ。・Qャャーゥイゥォュ・ョオョェオwLHセ@
tingkat
pengangguran .cendem,Qg btlrbedapada
rag8iU PllSar
.kerja.sesuai
dengan kon!tisi
geQgl"afis
dan
Sek;tor-stl«or-ekonomi
yang
suatu tingkat pendapatan Dalam keseimbangan Yj.
seluruh pasar tenaga seluruh
permintaan
penawaran tenaga
kerja, dan kerja
juga menyebabkan kaum perempuan lebih banyak yang memilih untuk bekerja di luar rumah tangga selain di dalam tangga.
Berdasarkan faktor
DセェヲャォN@
menghasil-kan suatu upah nyata keseimbangan Wt dan penggunaan tenaga kerja penuh Nt. Apabila permintaan keseluruhan jatuh pada
G8iUbaran
dihampir
semuam:gara,
terma$uk; Indonesiamenunjukltan I>8hwa
makin
tinggi tingkat' pendidikan "karyawan
penyebab dan siapa yang terkena peugangguran maka solusi alternatif hendaknya dikaitkan dengan kerangka dimensi kebijakan pemerintah, kebijakan
disebabkan adanya kemerosotan dalam investasi keseluruhan, maka tingkat pendapat-an sekarang jatuh pada Y I. Ketidakseimbangan dalam pasar komoditi keseluruhan membawa kepada ketidakseimbangan dalam pasar tenaga kerja keseluruhan yang mengakibatkan para majikan 'terlepas' dari kurva permintaan mereka pada titik K. Kelebihan penawaran tenaga kerja Nt=NI, mewakili pengangguran terpaksa pada upah nyata WI.
Dalam konteks Indonesia gambaran permintaan pasar kerja cenderung semakin menurun dengan semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi. Disamping itu, faktor inflasi yang tinggi dicerminkan oleh makin lemahnya sisi suplai dan
Volume 4 No.2 /uni 1998
Iriakinren.dah
peluangnya
terkena
pengangguran
termasuk Indonesia menunjukkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan karyawan makin rendah peluangnya terkena pengangguran. Resiko karyawan berpendidikan lebih tinggi terkena pengangguran yang lebih rendah bisa jadi karena mereka disamping menyandang pendidikan formal juga lebih banyak menginvestasi dirinya melalui pelatihan kerja, Pekerja seperti inilah yang lebih disukai untuk dipertahankan oleh perusahaan apabila terjadi resesi ekonomi.
Tingkat pengangguran juga berbeda pada kelompok-kelompok karyawan menurut faktor usia dan jenis kelamin. Usia karyawan yang semakin tua sejalan dengan bertambalmya pengalaman kerja
perusahaan, dan perilaku karyawan dan pencari kerja. 1) Sisi pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam upaya mencegah dan memper-kecil tingkat pengangguran yang dapat diformulasikan antara lain adalah:
a) Dalam jangka pendek dilakukan program padat karya, terutama di sektor ,prodl,lktif, pengo\ahan lahan tidur, dan sebagainya. b) Dalam jangka panjang dapat
dilakukan:
Pertama,
identifikasi dan pemetaan jenis dan tingkat pengangguran berdasarkan jenis pekerjaan, usia, jenis kelamin, dan geografis untuk penyusunan kebijakan pemerintah.35
AGRlmEDIA
Kedua, penyediaan informasi pasar kerja berkala yang menyangkut gambaran tingkat upah, lowongan kerja, dan tingkat pengangguran.
Ketiga, kebijakan moneter dan fiskal serta kemudahan perizinan yang mendorong peningkatan keinginan investor untuk menanamkan modalnya di berbagai sektor ekonomi yang menyerap banyak lenaga kerja, antara lain di sektor agribisnis dan agroindusli yang dalam kondisi krismon dan krisek terbukti lebih handal katimbang sektor lain.
Keempat, kebijakan bangan pendidikan
pengem-yang berorientasi pada peningkatan etos moral, etos kerja, pengetahuan dan keterampilan serta kemandirian usaha kerja, dan profesionalisme.
Kelima, pemerataan pembangun-an, terutama di daerah kawasan Indonesia Timur yang didukung oleh infrastruktur yang memadai. Keenam, kebijakan pernbinaan kelenagakerjaan bagi mereka yang bel urn kerja, mencari kerja dan yang sedang bekerja seperti peningkatan pendidikan dan pelatihan kerja, penyaluran kcrja, peningkalan hubungan industrial,perbaikan tingkat upah dan jaminan sosial, serta pengembangan jiwa kewirausahaan.
Ketujuh, menjajagi kemungkinan diselcnggarakannya asuransi pengangguran yang utamanya untuk melindungi para karyawan terhadap kesulitan keuangan pada saat mcngalami pengangguran. 2) Sisi perusallaan
Kebijakan atau upaya yang hendaknya dilakukan oleh perusahaan meliputi ..
a) Melakukan upaya pencapaian efisiensi perusahaan tanpa harus rnernperkecil pcluang kcrja.
Volume 4 No.2
/uAi
1998b)
c)
Menyusun dan melaksanakan perencanaan dan pengernbangan sumberdaya manusia (pelatihan) dan karir struktural/fungsional para karyawan secara transparan dan terprograrn.
Pcrbaikan kondisi dan Iingkungan kerja yang bertujuan rnenghindari gangguan proses produksi dan kerusakan asel perusaIJaan. d) Perbaikan upaIJ dan jarninan
sosial karyawan secara adil dan transparan dalam upaya mendorong
kerja.
produktifitas
e) Penyediaan jaminan pengang-guran agar para karyawan dapat hidup secara wajar dan mampu melakukan aktivitas ekonomi setelah terkena PHK. 3) Perilaku karyawan dan pencari
kerja.
Karyawan dan pencari kerja adalah khalayak yang sangat terkena akibatnya dari fenomena pengangguran. Untuk memper-kecil kemungkinan dampak sosial ekonomi yang dialaminya maka upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah: a) Kesiapan pencari kerja untuk
memiliki daya saing yang begitu keras pada kondisi lowongan kerja yang sangat terbatas rneiaiui upaya peningkatan pendidikan dan pelalihan yang terus menerus dan sosialisasi kerja berupa magang praktek kerja dan aktif mencari informasi pasar kerja.
b) Karyawan hams siap untuk mcnghadapi kemungkinan terkena PHK dengan cara selalu meningkatkan kinerja, menyangkut kesempatan pendidikan dan pelatihan dan aktif mencari informasi pasar kerja.
c) Terus mennmbuhkan jiwa kewirausaIJaan melalni
peningkatan kualitas pendidi-kan, keterampilan, sosialisasi kerja yang berorientasi kemandirian, dan memulai investasi di sektor kewirausahaan serta mencari kiat-kiat peluang kerja mandiri apabiJa terkena PHK. Solusi alternatif di atas merupakan garis besar saja dan masih bersifat umum. Di 'lapangan, yang begitu beragamnya faktor
pengangguran dan multidimensional maka alternatif pun seharusnya sesuai kasus per kasus. fenomena pengangguran
penyebab bersifat solusi spesifik, Bahkan
memiliki ciri yang tidak sering
dapat diperkirakan atau sulit diperkirakan sebelumnya. Kita tahu bahwa fenomena krismon dan krisek akhir· akhir ini tidak pernah diduga akan terjadi. Di sini diperlukan suatu pendekatan yang antisipatif, komprehensif dan sistematis utamanya dari kalangan pemerintah dan perusahaan.
DAFfAR PUSTAKA
Bellante, D and Jackson, M., 1990. E onomi KetenagakeIjaan Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
BOIjas. George J.. 1996. Labor Economics. Teh McGraw Hill Companies. Inc. New York.
Mangkuprawira, Sjafri, 1996. Bahan Kuliah IImu Ekonomi
k・エ・ョ。ァ。ォセイェ。。ョN@
Pascasarjan IPB. dipublikasikan) .
Program Bogor (tidak
Maslow, Abraham. 1994. Motivasi dan Kepribadian 1. Teori MotivaSl dengan Pendekatan Hierarki .Kebutuhan Manusia. Terjemahan .dari Motivation and Personality. Seri Manajemen NO 104 A PT Pustaka Binaman Pressindo.
Simanjuntak, Payaman, 1996. Peranan Penelitian KetenagakelJaan Dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Vtama Bidang Ketenagakerjaan pada Departemen Tenaga Kerja R.I. Jakarta.