• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIAS GENDER DALAM PROGRAM PENATARAN GURU SD BPG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BIAS GENDER DALAM PROGRAM PENATARAN GURU SD BPG"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

ANNE HAFINA Jurusan PPB FIP UPI

2010

BIAS GENDER DALAM PROGRAM PENATARAN GURU SD DI BALAI PENATARAN GURU BANDUNG

(Oleh Anne Hafina A., FIP UPI)

ABSTRAK

Sejalan dengan issu-issu gender yang diangkat dalam berbagai kontenks kehidupan, issu gender di bidang pendidikan telah banyak mengungkap tentang terjadinya bias gender dalam penulisan bahan ajar, pemilihan program jurusan, sistem sekolah, jabatan struktural. Selain itu, bias gender dimungkinkan terjadi dalam perilaku pendidik atau guru pada saat menjalankan aktivitasnya di sekolah. Hal ini sangat potensial menjadi “bahan ajar” bagi peserta didik untuk memahami dan menjalankan perilaku kesetaraan gender dalam berbagai konteks kehidupannya. Persoalan yang perlu diangkat adalah bagaimana guru-guru telah memiliki kesadaran dan wawasan kesetaraan gender. Kesadaran guru terhadap wawasan kesetaraan gender akan dipengaruhi oleh kesadarannya terhadap perlakuan yang diterima oleh guru dalam mengikuti aktivitasnya diberbagai kesempatan terutama dalam meningkatkan kompetensi dan karirnya.

Salah satu bentuk peningkatan kompetensi guru SD di Jawa Barat (in service training) dilaksanakan di Balai Penataran Guru (BPG) Bandung yang sekarang ini telah berubah menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Kegiatan penataran atau pelatihan di lembaga tersebut dapat dipandang sebagai sarana strategis untuk turut serta memantapkan kesadaran dan wawasan kesetaraan gender pada guru-guru SD, baik melalui kebijakan, proses pembelajaran, maupun pelayanan-pelayanan selama penataran.

Untuk menelaah persoalan di atas telah dilakukan penelitian terhadap penataran guru SD di BPG. Kajian ini bersifat kausistik dengan menggunakan pendekatan kualitatif, hasil yang diperoleh sebagai berikut.

1. Pada tahap rekrutmen BPG tidak membuat rambu-rambu yang bias gender, tetapi di tingkat Kabupaten/Kota dipandang oleh peserta terjadi bias gender.

2. Dari jumlah instruktur yang terlibat, hanya menempatkan 29,41% perempuan. Hal ini dipandang sudah lebih baik dari tahun sebelumnya.

3. Pada proses pembelajaran yang dialami oleh peserta, instruktur di BPG tidak menunjukkan bias gender. Tetapi peserta perempuan cenderung tidak mau menonjolkan diri.

4. Pada tahap evaluasi, kesempatan untuk menjadi yang terbaik diberikan kepada setiap peserta tanpa ada bias gender.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Firdaus & Wasilah (2012:69) produk cacat adalah sebagai berikut: “Barang/produk cacat (defective goods) adalah barang-barang yang tidak memenuhi standar produksi

Pengelolaan data berita adalah halaman yang diakses oleh administrator untuk memasukkan, merubah dan menghapus data berita yang ada pada Sistem Informasi Geografis

Aksi/Kegiatan Jadwal Pelaksanaan Output/Keluaran Program Kegiatan Nilai (Rp.) Meningkatnya jalan provinsi di wilayah UPT Bina Marga Madiun yang dapat dilalui. oleh kendaraan

Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan

Bahwa pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia dalam rangka mengisi cita-cita Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, nilai opasitas cetak kertas yang dihasilkan berkisar antara 45,99 sampai 97,08 dimana nilai terendah dihasilkan oleh

Instrumen kuesioner ini terdiri dari 20 pertanyaan yaitu: (1) variabel kinerja sistem informasi ini mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Astuti (2003),

Mengurangnya perhatian masyarakat tidak terbatas hanya pada lingkungan, tapi juga terhadap berbagai kegiatan yang mendukung kesehatan, misalnya: Posyandu,