Teks penuh

(1)

KEGIATAN BELAJAR 2

Manusia Sebagai Makhluk Sosial A. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

Kata “sosial” berasal dari kata socioes yang artinya berkumpul. Kata “sosial” dapat diartikan dalam beberapa pengertian, antara lain merujuk pada :

1. Sikap yang menunjukkan kebutuhan untuk masuk dalam bagian orang-orang lain;

2. Karakteristik umum dari orang-orang (sekelompok orang); 3. Hubungan antarorang-orang (social relation);

4. Interaksi-interaksi antarorang;

5. Keanggotaan dari suatu kelompok orang atau suatu komunitas orang;

6. Karakteristik manusia untuk saling bekerja sama; 7. Saling ketergantungan.

Dengan kata lain, kata “sosial” menunjuk pada society (masyarakat) sebagai suatu sistem dari kehidupan bersama. Dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial, manusia terus berusaha mengembangkan self-nya untuk tetap dapat diterima oleh kelompoknya. Perkembangan diri (self) manusia, oleh Charles H. Cooley dijelaskan dalam teorinya yang dinamakan looking-glass self, dimana Cooley melihat bahwa konsep diri seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Ia menganalogikan proses pembentukan diri seseorang dengan perilaku orang yang sedang bercermin. Pada seseorang yang sedang bercermin, cermin akan memantulkan apa yang terdapat di depannya. Dengan demikian diri seseorang pun memantulkan apa yang dirasakan sebagai tanggapan dari orang lain terhadapnya. Proses pembentukan diri ini, menurut Cooley, terbentuk melalui 3 tahap yaitu :

1. Seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya,

(2)

3. Seseorang memiliki perasaan terhadap apa yang dirasakan sebagai penilaian orang lain terhadapnya.

Dengan kata lain, proses perkembangan diri kita sebagai manusia sangat tergantung pada orang lain di sekitar kita. Untuk itulah manusia pada hakikatnya memiliki naluri untuk selalu hidup dengan orang lain (gregoriusness). Akan tetapi, manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkan dirinya untuk menjadi seorang pribadi. Proses seseorang menjadi pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga oleh kelompok sekitarnya.

Dengan kata lain, manusia dapat dikatakan juga sebagai monodualis, yaitu sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial maka manusia butuh berhubungan dengan orang lain atau manusia lain, akan tetapi sebagai makhluk individu manusia mempunyai keinginan untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, dan mengambil jarak dengan individu lain. Berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial, manusia dihadapkan pada adanya fakta-fakta sosial. Apa itu fakta sosial?

Fakta sosial, menurut Emile Durkheim, adalah cara bertindak, berpikir dan berperasaan, yang berada diluar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa serta mengendalikannya. Apa yang dipikirkan, apa yang rasakan dan apa yang dilakukan oleh individu sesungguhnya bukanlah karena semata-mata keinginannya sebagai individu akan tetapi lebih dikarenakan adanya paksaan dan pengaruh dari luar dirinya.

(3)

anda dengar, bahkan mungkin sudah sering kali anda ucapkan. Tapi apakah anda tahu pasti apa pengertiaannya? Tidak semua tindakan yang dilakukan manusia dapat disebut sebagai tindakan sosial. Mengapa? Karena suatu tindakan hanya dapat disebut sebagai tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, dan berorientasi pada perilaku orang lain. Misalnya bersiul untuk mendapat perhatian orang lain, berdandan untuk tampil di depan umum, makan karena disuruh orang tua, dan lain-lain. Sedangkan yang bukan tindakan sosial, misalnya bersiul untuk menghibur diri sendiri, makan karena lapar, dan lain-lain.

Bila kita lihat dengan teliti, ternyata dalam tindakan sosial, kita melakukan transfer simbol kepada orang lain. Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa pada dasar yang sama, kita melakukan apa yang selanjutnya disebut sebagai interaksi sosial. Mengapa demikian?

Dalam batasan konsepnya, interaksi sosial diartikan sebagai hubungan antara individu satu dan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat hubungan yang saling timbal balik. Akan tetapi, karena manusia biasa hidup berkelompok maka konsep interaksi sosial bukan hanya berlaku pada hubungan antarindividu, melainkan juga antara individu dengan kelompok dan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Pada saat seseorang atau suatu kelompok melakukan interaksi, maka sesungguhnya mereka melakukan apa yang disebut dengan pertukaran simbol, baik simbol verbal (bahasa yang dituangkan dalam kata-kata) maupun non-verbal (isyarat atau bahasa tubuh). Ahli sosiologi membahasnya dalam teori interaksionisme simbolis. Sedangkan dalam bahasan ilmu komunikasi maka hal ini lebih lazim disebut dengan komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal.

(4)

laten maupun manifes. Konflik sosial yang manifes adalah konflik sosial yang nampak dan dapat kita lihat dengan jelas (misalnya tawuran pelajar, perang antarsuku, baku hantam antarpemuda, dan lain-lain). Sedangkan konflik sosial laten adalah konflik sosial yang tidak nampak di permukaan dan tersembunyi dalam hubungan sosial yang dikemas dengan baik diluarnya. Dari luar, orang akan melihat bahwa hubungan antara individu, atau antara kelompok yang ada tidak ada masalah, akan tetapi sesungguhnya masing-masing memiliki benih-benih konflik. Bentuk-bentuk konflik sosial antara lain persaingan, pertentangan, kecemburuan, dan lain-lain. Sedangkan interaksi sosial yang berupa hubungan kerja sama, dapat dilakukan dalam bentuk pemberian dukungan dan bantuan baik fisik maupun non-fisik (psikologis), baik materiil maupun non-materiil, baik berupa verbal maupun non-verbal (tindakan).

Peter L. Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member of society”. Definisi ini disajikannya dalam suatu pokok bahasan berjudul Society in Man, dari sini tergambar pandangannya bahwa melalui sosialisasi masyarakat dimasukkan ke dalam manusia. Sehingga dalam perkembangannya sebagai manusia, seorang individu juga sekaligus berperan sebagai makhluk sosial dalam suatu masyarakat.

Kemampuan berinteraksi sosial individu tergantung dari konsep diri yang dimilikinya. Goerge Herbert Mead, dalam teorinya tentang tahap perkembangan diri (self) manusia, melihat bahwa manusia yang baru lahir belum mempunyai diri, diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksinya dengan orang lain, yaitu :

(5)

ini, seorang anak tidak mengetahui makna atau isi dari peran yang ditirunya. Ia hanya menirukan perilaku, kebiasaan dan tingkah laku (gerak tubuh dan lain-lain) yang ia lihat.

2. Tahap Game Stage, yaitu tahap dimana seorang anak tidak hanya mahir menirukan perilaku, kebiasaan dan tingkah laku orang-orang lain disekitarnya, akan tetapi ia sudah mulai memahami apa makna dan arti dari peran orang yang ditirunya. Misalnya, pada saat ia bermain sebagai ibu dalam suatu permainan, ia akan tahu ibu biasanya berinteraksi dengan siapa saja, dan apa yang diharapkan orang-orang lain dari seorang ibu, dan sebagainya. Dengan kata lain, ia sudah mulai dapat mengambil peran orang lain.

3. Tahap Generalized Other, yaitu tahap dimana seorang anak telah mampu memahami perannya dan peran-peran orang lain disekitarnya. Ia sudah mampu berinteraksi dengan orang lain dengan baik, karena ia tahu bagaimana dan apa yang diharapkan orang lain terhadapnya, dan apa peranan orang-orang tersebut untuk dirinya. Pada tahap ini seorang anak juga telah dapat mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat (generalized other). Pihak-pihak atau orang-orang yang berperan penting dalam tahap sosialisasi ini dinamakan significant other.

(6)

B. MANUSIA SEBAGAI BAGIAN DARI SUATU MASYARAKAT

Pengertian dari masyarakat menurut Marion Levy, memiliki 4 kriteria yaitu :

1. Memiliki kemampuan untuk bertahan melebihi masa hidup seorang individu,

2. Rekrutmen seluruh atau sebagian anggota melalui reproduksi,

3. Kesetiaan pada suatu “sistem tindakan utama bersama”, 4. Adanya sistem tindakan utama yang bersifat

“swasembada”

Sedangkan Talcott Parsons (1968) mendefinisikan masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang swasembada, melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi biologis, serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.

(7)

kelompok yang berbeda. Begitu pula selanjutnya, dimana dalam perkembangan diri seorang manusia, ia akan banyak dan semakin banyak menemukan kelompok-kelompok lain yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan hidupnya yang mungkin akan terus berubah dan berkembang.

Dengan demikian, bukan hanya manusia (sebagai makhluk individu) yang berinteraksi dengan manusia lain (sehingga menjadi makhluk sosial), akan tetapi juga kelompok perlu berinteraksi dengan kelompok lain (hubungan antarkelompok). Hubungan antarindividu dan hubungan antarkelompok dalam suatu masyarakat akan membentuk apa yang disebut sebagai pola hubungan/pola interaksi. Di dalam pola interaksi sosial yang terbentuk sesungguhnya berisikan pola-pola tindakan dari tiap-tiap individu yang ada di dalamnya yang terlibat dalam interaksi sosial tersebut. Inilah yang selanjutnya oleh Kornblum disebut struktur sosial. Menurut Kornblum, dalam kaitannya dengan pola perilaku individu dan kelompok, struktur sosial dapat didefinisikan sebagai “the recurring patterns of behavior that create relationships among individuals and groups within a society”—pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubugan antarindividu dan antarkelompok dalam masyarakat.

(8)

pasien, memberikan resep obat, memutuskan pasien harus ditangani secara operasi atau tidak, dan lain-lain.

Dengan demikian, dalam setiap statusnya seseorang akan memiliki banyak peran. Hal ini berarti bahwa bila orang tersebut memiliki banyak status dalam masyarakatnya, maka secara otomatis ia juga memiliki banyak sekali peran yang berkaitan dengan status-statusnya tersebut. Misalnya, seorang wanita yang berstatus sebagai ibu, ia akan memiliki beberapa status dalam masyarakatnya, yaitu status sebagai ibu, sebagai isteri, sebagai seorang yang beragama, sebagai karyawati dari suatu perusahaan, dan lain-lain. Dalam setiap statusnya, ia akan dihadapkan pada sejumlah peran. Dalam kondisi seperti ini. Rober K. Merton menyebutnya dengan konsep perangkat status (status-set).

Status seseorang dalam masyarakat memiliki hierarki (tingkatan). Hierarki status ini biasanya dikaitkan dengan status sosial ekonomi, dan disebut dengan konsep status sosial ekonomi (SSE). Konsep status sosial ekonomi inilah yang selanjutnya sering kali dikaitkan dengan konsep kelas sosial.

(9)

kondisi gigi Anda baik, begitu pula hal yang terjadi pada semua anggota atau unsur tubuh Anda.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (9 Halaman)