• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MOTOR INDUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB II MOTOR INDUKSI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

MOTOR INDUKSI

2.1 Umum

Motor-motor listrik pada dasarnya digunakan sebagai sumber beban untuk

menjalankan alat-alat tertentu atau membantu manusia dalam menjalankan

pekerjaannya sehari-hari, terutama dalam bidang perindustrian. Motor listrik

memiliki beberapa klarifikasi berdasarkan pasokan input, konstruksi dan

mekanisme operasi seperti ditunjukan dapa gambar 2.1

Gambar 2.1Klarifikasi Motor Listrik

Karakteristik dari motor AC (alternating current) :

1. Perawatan dan perbaikan hampir tidak diperlukan.

2. Pada daya yang sama ukuran fisik lebih kecil daripada motor DC.

3. Lebih murah dibandingkan dengan motor DC.

Motor Listrik

Motorarusbolak-balik

(2)

4. Mampu berkerja pada kecepatan diatas kecepatan yang tertera pada

nameplate

5. Sederhana dan konstruksinya kuat.

Motor induksi dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama seperti

ditunjukan pada gambar 2.1

1. Motor induksi satu fasa. Motor ini hanya memiliki satu gulungan stator

beroperasi dengan pasokan daya satu fasa, memiliki sebuah rotor sangkar

tupai dan memerlukan sebuah alat untuk menghidupkan motornya. Sejauh

ini motor ini merupakan jenis motor yang paling umum digunakan dalam

peralatan rumah tangga, seperti kipas angin, mesin cuci dan pengering

pakaian dan untuk penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp.

2. Motor induksi tiga fasa. Medan magnet yang berputar dihasilkan oleh

pasokan tiga fasa yang seimbang. Motor tersebut memiliki kemampuan

daya yang tinggi jenis rotor sangkar tupai atau rotor lilitan dan penyalaan

sendiri. Diperkirakan bahwa sekitar 70 % motor di industri menggunakan

jenis ini sebagai contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik

dan grinder. Tersedia dalam ukuran 1/3 hingga ratusan Hp.

Ada dua tipe rotor pada motor induksi tiga fasa yaitu :

1. Motor sangkar tupai ( squirrel-cage motor ).

2. Motor rotor lilitan ( wound-rotor motor ).

Pada Tugas Akhir ini penulis menggunakan motor induksi tiga fasa dan tipe

rotor sangkar tupai seperti ditunjukkan pada gambar 2.2. karena motor ini paling

(3)

Gambar 2.2 Motor Induski Rotor Sangkar Tupai

karakteristik motor sangkar tupai adalah sebagai berikut :

1. Rotor terdiri dari penghantar tembaga yang dipasangkan pada inti yang

solid dengan ujung-ujung yang dihubung singkat.

2. Kecepatan konstan.

3. Arus start yang besar diperlukan oleh motor menyebapkan tegangan

berfluktasi.

4. Arah putaran dapat dibalik dengan menukarkan dua dari tiga fasa daya

utama pada motor.

5. Faktor daya cendrung buruk untuk beban yang dikurangi.

6. Apabila tegangan diberikan pada lilitan stator dihasilkan medan magnet

putar yang menginduksikan tegangan pada rotor. Tegangan tersebut pada

gilirannya menimbulkan medan magnet. Medan rotor dan medan stator

cendrung saling tarik menarik satu sama lain. Situasi tersebut

membangkitkan torka yang memutar rotor dengan arah yang sama dengan

(4)

2.2 Konstruksi

Secara umum motor induksi terdiri dari rotor dan stator. Rotor merupakan

bagian yang bergerak, sedangkan stator yang diam. Diantara stator dengan rotor

ada celah udara (gap) yang jaraknya sangat kecil. Konstruksi motor induksi dapat

dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 . Konstruksi Motor Induksi

Komponen stator adalah bagian terluar dari motor yang merupakan bagian

yang diam dan mengalirkan arus phasa. Stator terdiri dari susunan laminasi inti

yang memiliki alur (slot) yang menjadi tempat dudukan kumparan yang dililitkan

dan berbentuk silindris.

Motor induksi memiliki dua komponen yang utama,kedua komponen

tersebut adalah :

1. Stator (bagian yang diam)

2. Rotor (bagian yang bergerak)

Stator dihubungkan ke catu tegangan AC. Rotor tidak dihubugkan secara listrik ke

(5)

transformator. Oleh sebab itu, stator kadang-kadang dianggap sebagai primer dan

rotor sebagai sekunder motor.

2.2.1 Stator

Inti stator terbuat dari lapis-lapis pelat baja beralur yang didukung dalam

rangka stator yang terbuat dari besi tuang atau pelat baja yang di pabrikasi.

Lilitan-lilitan sama halnya dengan lilitan stator dari generator sinkron, diletakkan

dalam alur stator yang terpisah 120 derajat. Lilitan fasa ini bisa tersambung delta

ataupun bintang. Gambar 2.4 menunjukan konstruksi dari stator

(a) (b)

(c)

Gambar 2.4. komponen stator motor induksi tiga fasa

(a). lempengan inti

(b). tumpukan inti dengan kertas isolasi pada beberapa alurnya

(6)

2.2.2 Rotor

Rotor dari motor sangkar tupai adalah konstruksi dari inti berlapis dengan

konduktor dipasang paralel dengan poros dan mengelilingi permungkaan inti.

Konduktornya tidak terisolasi dari inti karena arus rotor secara alamiah akan

mengalir melalui tahanan yang paling kecil yaitu konduktor rotor. Pada setiap

unjung rotor, konduktor rotor semuanya dihubung singkat dengan cincin ujung .

konduktor rotor dan cincin ujung serupa dengan sangkar tupai yang berputar

sehingga dinamakan demikian gambar 2.5 menunjukkan kontruksinya rotor motor

induksi sangkar tupai.

(a) (b)

Gambar 2.5. konstruksi rotor motor induksi rotor sangkar

(a).tipikal roto sangkar

(b).bagian-bagian rotor sangkar

Batang rotor dan cincin ujung motor sangkar tupai yang lebih kecil adalah

coran tembaga atau aluminium dalam satu lempengan pada inti rotor. Dalam

motor yang lebih besar, batang rotor tidak dicor melainkan dibenamakan ke dalam

alur rotor dan kemudian dilas dengan kuat ke cincin ujung. Batang rotor motor

sangkar tupai tidak selalu ditempatkan paralel terhadap poros motor tetapi kerap

kali di miringkan. Hal ini menghasilkan torka yang lebih seragam dan juga

(7)

2.3 Medan Magnet Putar

Apabila belitan stator dihubungkan dengan catu daya tiga fasa maka akan

dihasilkan medan magnet yang berputar, medan magnet ini dibentuk oleh kutub –

kutubnya yang berada pada posisi yang tidak tetap pada stator tetapi berubah –

ubah mengelilingi stator. Adapun magnitud dari medan putar ini selalu tetap yaitu

sebesar 1.5 Φm dimana Φm adalah fluks yang disebabkan suatu fasa.

Untuk melihat bagaimana medan putar dibangkitkan, maka dapat diambil

contoh pada motor induksi tiga fasa dengan jumlah kutub dua. Dimana ke-tiga

fasanya R,S,T disuplai dengan sumber tegangan tiga fasa, dan arus pada fasa ini

ditunjukkan sebagai IR, IS, dan IT, maka fluks yang dihasilkan oleh arus – arus ini

adalah :

ΦR = Φm sin ωt………(2.1a)

ΦS = Φm sin (ωt – 1200)………..(2.1b)

ΦT = Φm sin (ωt – 2400 )………..(2.1c)

(a). arus tiga fasa yang seimbang (b).diagram phasor fluksi

(8)

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 2.6. medan putar pada motor induksi tiga fasa

(a). Pada keadaan 1 ( gambar 2. ), ωt = 0 ; arus dalam fasa R bernilai nol sedangkan besarnya arus pada fasa S dan fasa T memiliki nilai yang sama

dan arahnya berlawanan. Dalam keadaan seperti ini arus sedang mengalir

ke luar dari konduktor sebelah atas dan memasuki konduktor sebelah

bawah. Sementara resultan fluks yang dihasilkan memiliki besar yang

konstan yaitu sebesar 1,5 Φm

= 0 ; = sin (-1200) = - ;

(9)

Oleh karena itu resultan fluks, adalah jumlah phasoro dari dan -

sehingga resultan fluks, = 2 x cos 300 = 1,5

(b). Pada keadaan 2, arus bernilai maksimum negatif pada fasa S, sedangkan

pada R dan fasa T bernilai 0,5 maksimum pada fasa R dan fasa T, dan

pada saat ini ωt = 300,

Maka jumlah phasor ΦR dan - ΦT adalah = Φr’ = 2 x 0,5 Φm cos 60 = 0,5

Φm. Sehingga resultan fluks Φr = 0,5 Φm + Φm = 1,5 Φm.dari gambar diagram phasor tersebut dapat dilihat bahwa resultan fluks berpindah

sejauh 300 dari posisi pertama

(c). Pada keadaan 3, ωt = 60o, arus pada fasa R dan fasa T memiliki besar yang sama dan arahnya berlawanan ( 0,866 Φm ),

sin (-1800) = 0

(10)

dari gambar diagram phasor tersebut dapat dilihat bahwa resultan fluks

berpindah sejauh 600 dari posisi pertama

(d). Pada keadaan 4, ωt = 900, arus pada fasa R maksimum ( positif), dan arus pada fasa S dan fasa T = 0,5 Φm ,

Maka jumlah phasor - ΦT dan – ΦS adalah = Φr’ = 2 x 0,5 Φm cos 60 = 0,5 Φm. Sehingga resultan fluks Φr = 0,5 Φm + Φm = 1,5 Φm. Dari gambar diagram phasor tersebut dapat dilihat bahwa resultan fluks

berpindah 900 dari posisi pertama

2.4 Kecepatan Medan Magnet Putar

Dalam lilitan dua kutub pada gambar 2.6, medan membuat satu putaran

penuh dalam satu siklus arus. Dalam lilitan empat kutub yang mana setiap fasa

mempunyai dua grup kumparan terpisah yang dihubungkan seri, dapat

ditunjukkan bahwa medan magnet putar membuat satu putaran dalam dua siklus

arus. Dalam lilitan enam kutub, medan membuat satu putaran dalam tiga siklus

(11)

Siklus = x putaran

Atau

Siklus per detik = x putaran per detik

Oleh karena putaran per detik sama dengan putaran per menit, putaran (n) dibagi

60 dan banyaknya siklus per detik adalah frekuensi (f ), maka

f = x =

n

=

kecepatan putar dari medan magnet putar disebut kecepatan sinkron atau

kecepatan stator dari motor.

2.5 Prinsip Kerja

Berkerjanya motor induksi bergantung pada medan magnet putar yang

ditimbulkan dalam celah udara motor oleh arus stator. Lilitan stator tiga fasa di

lilitkan dengan lilitan fasanya berjarak 1200

Ada beberapa prinsip kerja motor induksi :

1. Apabila sumber tegangan 3 fasa dipasangkan pada lilitan stator

timbullah medan putar dengan kecepatan Ns =

f

2. Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada

(12)

3. Akibat dari medan putar pada lilitan rotor timbul induksi gaya

gerak listrik (ggl).

4. Karena lilitan rotor merupakan rangkaian yang cukup tertutup, ggl

akan menghasilkan arus.

5. Adanya arus didalam medan magnet menimbulkan gaya pada

rotor.

6. Bila torka mulai yang dihasilkan oleh gaya pada rotor cukup besar

untuk memikul torka beban, rotor akan berputar searah dengan

medan putar stator

7. Seperti yang telah dijelaskan pada point 3 tegangan induksi timbul

karena terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh medan putar

stator, artinya agar tegangan terinduksi diperlukan adanya

perbedaan relative antara kecepatan medan putar stator (Ns) dengan

kecepatan berputar rotor (Nr).

8. Perbedaan kecepatan antara (Nr) dan (Ns) disebut slip dinyatakan

dengan

S = x 100

9. Bila (Nr) = (Ns), tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak

mengalir pada lilitan rotor, dengan demikian tidak dihasilkan torka.

Torka motor akan timbul apabila (Nr) lebih kecil dari (Ns).

10.Dilihat dari cara kerjanya motor induksi disebut juga sebagai motor

(13)

2.6 Frekuensi Rotor

Jika motor induksi 60 Hz dua kutub (kecepatan sinkron = 3600 rpm)

bekerja pada slip 5 %, slip dalam putaran setiap menitnya adalah 3600 x 0,05 atau

180 rpm. Ini berarti bahwa sepasang kutub stator melewati konduktor rotor

tertentu 180 kali setiap menit, atau tiga kali setiap detik. Jika sepasang kutub

bergerak melewati konduktor, satu siklus ggl diinduksikan dalam konduktor. Jadi

konduktor yang dikemukakan diatas akan menginduksikan ggl di dalamnya

dengan frekuensi rotor menjadi 60 Hz. Maka jelaslah bahwa frekuensi rotor

bergantung pada slip. Makin besar slip makin besar frekuensi rotor. Untuk setiap

harga slip, frekuensi roto (fr) sama dengan frekuensi stator (fs) dikalikan dengan

slip (S) yang dinyatakan dengan decimal atau

(fr) = S (fs)

Frekuensi rotor sangar berarti karena jika saja berubah maka reaktansi rotor (Xr =

2 fr Lr) juga berubah, berarti menpengaruhi karakteristik start maupun

(14)

2.7 Torsi pada motor induksi

Dari rangkaian ekivalen dan diagram aliran daya motor induksi tiga fasa yang

telah diperoleh sebelumnya dapat diturunkan suatu rumusan umum untuk torsi

induksi sebagai fungsi dari kecepatan. Torsi motor induksi diberikan oleh persamaan:

= ……….(2.2)

= ...(2.3)

Persamaan diatas sangat berguna, karena kecepatan sinkron selalu bernilai

konstan untuk tiap-tiap frekuensi dan jumlah kutub yang diberikan oleh motor.

Karena kecepatan sinkron selalu tetap, maka daya pada celah udara akan

menentukan besar torsi induksi pada motor. Untuk menentukan besarnya arus I2,

kemungkinan penyelesaian paling mudah dapat dilakukan dengan menentukan

rangkaian ekivalen thevenin, agar dapat menentukan rangkaian ekivalen thevenin

dari sisi input rangkaian ekivalen motor induksi, pertama-tama terminal X’s

dihubungkan buka (open-circuit) kemudian tegangan open-circuit diterminal

tersebut ditentukan. Untuk menentukan impedansi thevenin maka tegangan fasa

dihubung singkat (short circuit) dan Zeg ditentukan dengan melihat ke sisi dalam

terminal

(15)

Dari gambar diatas ditunjukkan bahwa terminal di open circuit untuk

mendapatkan tegangan ekivalen thevenin. Magnitud dari tegangan thevenin Vth

adalah :

=

………...(2.4)

Karena reaktansi magnetic Xm >> X1 dan Xm >> R1, harga pendekatan dari

magnitud tegangan ekivalen thevenin :

V1 ………(2.5)

Gambar 2.8. Impedansi Ekivalen Thevenin pada Sisi Rangkaian Input

Gambar diatas menunjukkan tegangan input dihubung singkat. Impedansi

ekivalen thevenin dibentuk oleh impedansi paralel yang terdapat pada rangkaian

Impedansi Thevenin diberikan oleh :

= + = ………(2.6)

Karena Xm >> X1 dan Xm + X1 >> R1, tahanan reaktansi thevenin secara

(16)

X1

Gambar dibawah ini menunjukkan rangkaian ekivalen thevenin :

Gambar 2.9.Rangkaian Ekivalen Thevenin Motor Induksi

Dari gambar diatas arus I2 diberikan oleh :

Magnitud dari arus

………..(2.7)

=

3

;

= ………(2.8)

Sedangkan torsi induksi pada rotor :

=

;

= ...(2.9)

Gambar kurva torsi kecepatan (slip) pada motor induksi ditunjukkan pada gambar

(17)

Gambar 2.10. Karakteristik torsi – slip pada motor induksi

Sedangkan kurva torsi kecepatan motor induksi yang menunjukkan kecepatan

diluar daerah operasi normal terlihat pada gambara dibawah ini :

Gambar 2.11. Karakteristik torsi – putaran pada motor induksi pada berbagai

daerah operasi

Dari kedua kurva karakteristik torsi motor induksi diatas dapat diambil

(18)

1. Torsi motor induksi akan bernilai nol pada saat kecepatan sinkron

2. kurva torsi – kecepatan mendekati linear di antara beban nol dan

beban penuh. Dalam daerah ini, tahanan rotor jauh lebih besar dari

reaktansi rotor, oleh karena itu arus rotor, medan magnet rotor, dan

torsi induksi meningkat secara linear dengan peningkatan slip.

3. Akan terdapat torsi maksimum yang tak mungkin akan dapat

dilampaui. Torsi ini disebut juga dengan pull – out torque atau

break down torque, yang besarnya 2 – 3 kali torsi beban penuh dari

motor.

4. Torsi start pada motor sedikit lebih besar daripada torsi beban

penuhnya, oleh karena itu motor ini akan start dengan suatu beban

tertentu yang dapat disuplai pada daya penuh.

5. torsi pada motor akan memberikan harga slip yang bervariasi

sebagai harga kuadrat dari tegangan yang diberikan. Hal ini sangat

penting dalam membentuk pengaturan kecepatan dari motor.

6. jika rotor motor induksi digerakkan lebih cepat dari kecepatan

sinkron, kemudian arah dari torsi induksi di dalam mesin menjadi

terbalik dan mesin akan bekerja sebagai generator, yang

mengkonversikan daya mekanik menjadi daya elektrik.

7. jika motor induksi bergerak mundur relatif arah dari medan

magnet, torsi induksi mesin akan menghentikan mesin dengan

sangat cepat dan akan mencoba untuk berputar pada arah yang lain.

Karena pembalikan arah medan putar merupakan suatu aksi

(19)

digunakan sebagai suatu cara yang sangat cepat untuk

menghentikan motor induksi. Cara menghentikan motor seperti ini

disebut juga dengan plugging.

2.8 Rangkaian Ekivalen Motor Induksi

Untuk menentukan rangkaian ekivalen dari motor induksi tiga phasa,

pertama-tama perhatikan keadaan stator.

Gambar 2.12. Rangkaian ekivalen stator

Besarnya tegangan terminal stator berbeda dengan ggl lawan sebesar jatuh

tegangan pada impedansi bocor stator, sehingga dinyatakan dengan persamaan

= + ( + j ) Volt………(2.10)

Dimana : = Tegangan terminal stator (Volt)

= ggl lawan yang dihasilkan oleh fluksi celah udara resultan (Volt)

= arus stator (Ampere)

(20)

X1 = reaktansi bocor stator (Ohm)

Kedua perhatikan rangkaian ekivalen pada rotor sebagai berikut :

Gambar 2.13 Rangkaian ekivalen rotor

= R2 + R2 ( 1 )...(2.11)

Dari penjelasan mengenai rangkaian ekivalen pada stator dan rotor di atas,

maka dapat dibuat rangkaian ekivalen motor induksi tiga phasa pada

masing-masing phasanya.

Gambar 2.14 Rangkaian ekivalen motor induksi dari sisi stator

Untuk mempermudah perhitungan dapat dilihat dari sisi stator,rangkaian ekivalen

(21)

2.15. Rangkaian ekivalen pendekatan motor induksi

Atau seperti gambar berikut :

2.16. Rangkaian ekivalen motor induksi tiga phasa

Dimana :

X’2 = X2

R’2 = R2

V1/ fasa = tegangan masuk motor / fasa

R1 = tahanan stator

X1 = reaktansi stator

R2 = tahanan rotor

X2 = reaktansi rotor

Rc = tahanan rangkaian magnetasi motor

(22)

= menggambarkan tahanan yang mewakili beban yang

merupakan fungsi dari S

Nilai parameter rangkaian ekivalen motor diperoleh dari hasil pengukuran

laboratorium. Contoh penggunaan rangkaian ekivalen ini misalnya untuk

menghitung efisiensi, daya keluaran dan lain-lain.

2.9 Slip

Perbedaan kecepatan putaran rotor (Nr) terhadap kecepatan medan putar

stator (Ns) disebut dengan slip. Berubahnya kecepatan motor dapat

mengakibatkan berubahnya besar lip 100 % pada saat start sampai 0 % pada saat

diam (Nr) = (Ns). karena terjadi slip maka kecepatan relative medan putar stator

terhadap putaran rotor adalah S x Ns. frekuensi tegangan yang terinduksi pada

rotor sebanding dengan putaran relative medan putar stator terhadap putaran rotor.

Hubungan antar frekuensi slip dapat dilihat dari persamaan berikut :

Bila f1= frekuensi

Ns = atau

f1 =

pada rotor berlaku hubungan f2 =

(23)

karena S = dan f1 =

maka f2 = f1. S

karena pada saat start S = 100 %, jadi f2 = f2

dengan demikian terlihat bahwa pada saat start dan rotor belum berputar,

frekuensi arus rotor sama dengan frekuensi arus stator. Dalam keadaan rotor

berputar, frekuensi arus rotor di pengaruhi oleh slip ( f2 = f1 . S ). Karena tegangan

induksi dan reaktansi kumparan rotor merupakan fungsi frekuensi, maka besarnya

juga di pengaruhi oleh slip.

E2 = 4,44. f2. N2 . m

E2 = Tegangan induksi pada saat rotor diam (start)

E2s = Tegangan induksi pada saat rotor berputar

N2 = Jumlah lilitan rotor

m = Fluks putaran maksimal

X2 = Reaktansi pada saat rotor diam (start)

X2s = Reaktansi pada saat rotor berputar

(24)

2.10 Daya Motor Induksi

Diagram aliran daya ditunjukkan pada gambar 2.10 untuk tipe motor

induksi dan sebagai gambaran dengan jelas bagaimana daya listrik yang disuplay

ke lilitan stator dirubah hingga menjadi daya mekanik pada rotor.

Daya input (Pin) pada lilitan stator = .V1.I1.cos , sebagian dari daya

input ini akan hilang atau berubah menjadi panas seperti pada inti stator dan

tembaga stator. Pada tembaga stator daya akan hilang kira-kira 3,5 % dan pada

inti stator daya akan hilang kira-kira 2,5 % dari daya input motor induksi. Sisia

tersebut kira-kira 94 % dan daya ini di transfer secara induksi melalui celah udara

ke lilitan rotor. Sebagian daya yang diterima rotor kira-kira 3,5 % akan hilang

atau berubah menjadi panas seperti pada tembaga rotor, sisa daya kira-kira 90,5 %

dari daya input motor induksi kemudian disini daya akan hilang lagi kira-kira 2 %

akibat adanya gesekan pada angin sehingga daya yang akan dikeluarkan menjadi

daya mekanik kira-kira 88,5 % Pada motor induksi, tidak ada sumber listrik yang

langsung terhubung ke rotor, sehingga daya yang melewati celah udara sama

dengan daya yang dimasukkan ke rotor. Daya total yang dimasukkan pada

kumparan stator (Pin) dirumuskan dengan

Pin=3V1I1co ...(2.12)

Dimana :

V1 = Tegangan sumber (Volt)

(25)

= Perbedaan sudut phasa antara arus masukan dengan tegangan

sumber

Sebelum daya ditransfer melalui celah udara, motor induksi mengalami

rugi-rugi berupa rugi-rugi tembaga stator (PSCL) dan rugi-rugi inti stator (PC).

Daya yang di transfer melalui celah udara (PAG) sama dengan penjumlahan

rugi-rugi tembaga rotor (PRCL) dan daya yang dikonversi (Pconv). Daya yang melalui

celah udara ini sering juga disebut sebagai daya input rotor.

PAG = PRCL + Pconv (Watt)...(2.13)

= 3(I’2)2 = 3(I’2)2 R’2 + 3(I’2)2 R’2 ...(2.14)

2.17. Diagram aliran daya motor induksi

Dimana :

- PSCL = rugi - rugi tembaga pada belitan stator (Watt)

- Pc = rugi - rugi inti pada stator (Watt)

- PAG = daya yang ditransfer melalui celah udara (Watt)

- PRCL = rugi — rugi tembaga pada belitan rotor (Watt)

(26)

- PSLL = stray losses (Watt)

- PCONV = daya mekanis keluaran (output) (Watt)

Hubungan antara rugi-rugi tembaga rotor dan daya mekanis dengan daya

masukan rotor dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :

PRCL = 3 (I’2)2 R’2 = sPAG (watt)...(2.15)

Pconv = 3 (I’2)2 R’2 = (1 – s) sPAG (watt)...(2.16)

Dari gambar 8.1 dapat dilihat bahwa motor induksi juga mengalami

rugi-rugi gesek + angin (PG+A), sehingga daya mekanis keluaran sama dengan daya

yang dikonversi (PCONV) dikurangi rugi-rugi gesek + angin.

Pout = Pconv – PG+A

Secara umum, perbandingan komponen daya pada motor induksi dapat

dijabarkan dalam bentuk slip yaitu

PAG : PRCL : Pconv = 1 : s : 1 – s

2.11 Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi

Adapun rugi-rugi yang terdapat pada motor induksi dapat didefinisikan

dari persamaan-persamaan berikut :

Rugi tembaga stator

Pts = 3. . R1

Rugi inti

(27)

Rugi tembaga rotor

Ptr = 3. . R2

Atau Ptr = S. Pcu

Daya celah udara

Pcu = 3. .

Atau dari gambar 2.10 diatas

Pcu = Pin – Pts - Pi

Daya mekanik

Pmek = Pcu - Ptr

Pmek = 3. . - 3. . R2

Pmek = 3. .

Pmek = Ptr x

Sehingga daya keluaran

Pout = Pmek – Pag - Pb

Adapun efisiensi motor induksi

= Pts + Pi + Ptr + Pag + Pb

(28)

2.12 Jatuh Tegangan (Voltage Drop = Vd)

Jatuh tegangan adalah selisih antara tegangan ujung pengirim dan

tegangan ujung penerimaan, jatuh tegangan disebabkan oleh hambatan dan arus

pada saluran bolak-balik besarnya tergantung dari impedansi dan admitansi

saluran serta pada beban dan faktor daya. Jatuh tegangan dinyatakan dengan

rumus :

Vd = x 100 %

Dimana :

Vs = Tegangan ujung pengirim (volt)

Vr = Tegangan ujung penerima (volt)

Seperti kita ketahui PLN memproduksi tegangan listrik dengan nilai

nominal 220/380 volt tiga fasa dan pada frekuensi 50 Hz dan dalam bentuk

gelombang sinus. Besar tegangan listrik ini berbeda pada setiap Negara, sebagai

contoh di America tegangan jala-jalanya 110/60 Hz, dan lain-lain

Dalam penyedian tenaga listrik disyarakan suatu level standard tertentu

untuk menentukan kualitas tegangan pelayanan. Secara umum ada tiga hal yang

perlu dijaga kualitasnya :

1. Frekuensi (50 Hz)

2. Tegangan (220/380) volt ± 5%-10%

(29)

Dalam penyediaan tenaga listrik dilakukan penggolongan beban untuk

memenuhi keandalan dari sistem. Dengan bervariasinya karakteristik beban maka

perlu digolongkan berdasarkan faktor-faktor dominan. Misalnya

lingkungan/geografis. Pada kenyataannya tegangan listrik produk PLN bukanlah

tegangan sinus murni yang berkualitas sempurna.

Faktor-faktor yang mendasari bervariasinya tegangan sistem distribusi

adalah :

1. Konsumen pada umumnya memakai peralatan yang memerlukan

tegangan tertentu

2. Letak konsumen terbesar, sehingga jarak tiap konsumen dengan

titik pelayanan tidak sama

3. Pusat pelayanan tidak dapat diletakkan merata atau tersebar

Faktor-faktor diatas dapat menyebabkan tegangan yang diterima

konsumen tidak selalu sama. Konsumen yang letaknya jauh dari titik

pelayanan akan cenderung menerima tegangan relative lebih rendah

dibandingkan dengan konsumen yang letaknya decant dengan pusat

pelayanan.

2.13 Penjelasan Singkat Matlab

Matlab (matrix laboratory) adalah bahasa pemograman level tingkat tinggi

yang dikhususkan untuk komputasi teknis. Bahasa ini mengintergrasikan

kemampuan komputasi, visualisasi dan pemrograman dalam sebuah lingkungan

yang tunggal dan mudah digunakan. Matlab dikembangkan oleh MathWork Inc,

(30)

pada proyek LINSPACK dan EISPACK. Selanjutnya menjadi sebuah aplikasi

untuk komputasi matrix.

Simulink (simulation and Link) adalah merupakan salah satu dari fitur

yang ada pada matlab, simulink bekerja dengan menawarkan pemodelan, simulasi

dan analisis system dinamis pada sebuah lingkungan Graphical User Interface

(GUI) atau sebuah sarana interkasi antara operator dengan computer. Didalam

fitur simulink terdiri dari beberapa Blockset salah satunya yang digunakan untuk

pemodelan dan simulasi untuk system tenaga adalah Power System Blockset

(PSB).

Power System Blockset telah diganti ke Sim Power Systems. Sebagai

bagian dari keluarga Modeling Fisik, Sim Power System dan Sim Mechanics

Gambar

Gambar 2.1 Klarifikasi Motor Listrik
Gambar 2.2 Motor Induski Rotor Sangkar Tupai
Gambar 2.3 . Konstruksi Motor Induksi
Gambar 2.4. komponen stator motor induksi tiga fasa
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Makalah ini akan membahas penentuan parameter motor induksi 3 fasa dengan data-data masukan seperti torsi locked rotor, torsi beban penuh, torsi breakdown, tegangan rating motor,

“Analisis Pengaruh Beban Tidak Seimbang Terhadap Torsi dan Putaran Motor Induksi Tiga Fasa”.. Mesin Bolak-balik Yogyakarta:

Pada dasarnya, prinsip kerja motor induksi 1-fasa sama dengan motor induksi 2-fasa yang tidak simetris karena pada kumparan statornya dibuat dua kumparan (yaitu kumparan bantu

Dengan menggunakan analisis rangkaian ekivalen, maka didapatkan parameter rangkaian ekivalen motor induksi 3 fasanya seperti yang tertulis pada Tabel 6.. Gambar rangkaian

Mengetahui seberapa besar nilai aliran daya pada motor induksi lima phasa. Mengetahui seberapa besar nilai effisiensi dan torsi pada motor

Berdasarkan jenis rotor nya, motor induksi tiga fasa dapat dibedakan menjadi dua jenis, yang juga akan menjadi penamaan untuk motor tersebut, yaitu rotor belitan (wound rotor)

Genetic Algorithm adalah metode lain yang biasa digunakan untuk menentukan parameter rangkaian ekivalen motor induksi tiga phasa, sehingga diperoleh arus maksimum..

Grafik Torsi Terhadap Kecepatan Motor Dari Tabel di atas didapatkan hasil perhitungan torsi serta hasil pengukuran kecepatan motor induksi 3 Fasa Konvensional dan Motor 3 fasa yang di