Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perpajakan Melalui Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

151  Download (1)

Teks penuh

(1)

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

PERPAJAKAN MELALUI PENERAPAN UNDANG-UNDANG

NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

PENCUCIAN UANG

TESIS

OLEH:

SURANTA RAMSES TARIGAN 097005027/ HK

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

PERPAJAKAN MELALUI PENERAPAN UNDANG-UNDANG

NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

PENCUCIAN UANG

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum

Dalam Program Studi Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH:

SURANTA RAMSES TARIGAN 097005027/ HK

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

JUDUL TESIS : PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERPAJAKAN MELALUI PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

NAMA : SURANTA RAMSES TARIGAN

N.I.M. : 097005027

PROGRAM STUDI : ILMU HUKUM

MENYETUJUI KOMISI PEMBIMBING

K e t u a

Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., M.Hum

Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum A n g g o t a A n g g o t a

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Dekan Fakultas Hukum

Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum

(4)

Telah diuji pada

Tanggal 10 Januari 2013

Panitia penguji tesis :

Ketua : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., M.Hum

Anggota : 1. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H.

2. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum

3. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum

(5)

ABSTRAK

Pajak merupakan sumber pendapatan terbesar bagi negara. Tindak pidana pajak rentan mengakibatkan kerugian bagi negara itu sendiri. Penanganan terhadap tindak pidana pajak diperlukan langkah-langkah yang serius. Undang-undang perpajakan telah tiga kali mengalami perubahan sampai diundangkannya UU No.28 Tahun 2007 sebagai Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Undang-undang lain yang dapat diterapkan sebagai bentuk keseriusan dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pajak dapat diterapkan melalui penerapan UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai kebijakan pemerintah untuk mencegah dan memberantas pelaku tindak pidana khususnya pajak melakukan tindakan berlanjut untuk melakukan pencucian uang.

Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini sebagai berikut: pertama, bagaimanakah pengaturan tindak pidana pajak menurut undang-undang perpajakan? kedua, bagaimanakah kelemahan undang-undang pajak dalam mengadili tindak pidana pajak? dan ketiga, bagaimanakah pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pajak melalui UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang?

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif. Sumber bahan hukum primer yaitu UU No.28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

(6)

dalam Pasal 37, Pasal 39, dan Pasal 40 UU No.34 tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No.18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang tidak menentukan secara tegas kualifikasi tindak pidana terhadap perbuatan Wajib Pajak ataupun Wajib Retribusi dan pejabat perpajakan. Ketiga, pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pajak melalui UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang berkaitan dengan tindak pidana pajak sebagai kejahatan awal pencucian uang. Walaupun undang-undang pajak tidak mengatur pencegahan tindak pidana pajak, namun dalam UU No.8 Tahun 2010 mengandung prinsip customer due diligence yang berarti dengan prinsip ini pencegahan dapat dilakukan terhadap tindak pidana pajak tersebut.

Saran yang diharapkan: pertama, UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan perlu dilakukan revisi untuk dibuat penegasan makna kata “pencegahan” baik pasal-pasalnya maupun dalam penjelasannya. Kedua, sistem self assessment (Wajib Pajak aktif) seharusnya diganti dengan menerapkan sistem official assessment (Wajib Pajak pasif dan menggunakan wewenang pemerintah menentukan besarnya pajak terutang) atau menerapkan sistem with holding (Wajib Pajak pasif dan menggunakan pihak ketiga menentukan besarnya pajak terutang), Pengadilan Pajak seharusnya ditempatkan secara utuh di bawah MA sesuai dengan UU No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengamanatkan pengadilan satu atap di bawah MA. Ketiga, diharapkan dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pajak seharusnya aparat penegak hukum lebih memprioritaskan penggunaan UU No.8 Tahun 2010 daripada UU No.28 Tahun 2007.

(7)

ABSTRACT

Tax is the biggest revenue resources for a country. Tax criminal act results in inflicting loss to the country itself. Law on tax has been amended for three times until the enactment of Law No.28/2007 as the Third Amendment of Law No.6/1983 on General Provision and Taxation Procedures. The other law that can be applied as the form of seriousness in preventing and eradicating tax crimes is through the application of Law No.8/2010 on Money Laundering Perevention and Eradication as the policy of government to prevent and eradicate the criminals especially the tax criminals that they cannot practice money launderinh anymore.

The problems studied in this study were, first, how tax crime is regulated according to law on tax; second, the limitation of law on tax used in prosecuting tax crime; and third, how Law No.8/2010 on Money Laundering Perevention and Eradication was used to prevent and eradicate tax crimes.

The data for this qualitative study with normative juridical method referring to the legal norms and principles stated in the regulations of legislation and court decisions were obtained from thrimary legal materials such as Law No.28/2007 on the Third Amendmend of Law No.6/1983 on General Provision and Taxation Procedures and Law No.8/2010 on Money Laundering Perevention and Eradication.

(8)

It is suggested that, first, Law No.28/2007 on General Provision and Taxation Procedures need a revision and the word “prevention” either its articles or in its explanation should be emphasized; second, self assesment system (active tax payers) should be changed by applying official assessment system (passive tax payers using the government authority to determine the tax payable) or by applying with holding system (passive tax payers using the third party to determine the amount of tax payable). Tax Court should be permanently placed under the Supreme Court according to Law No.48/2009 on Judicial Power which mandates the practice of one-roof court under the Supreme Court. Third, In preventing and eradicating tax criminal act, it is expected that law enforcement officers should more prioritize the application of Law No.8/2010 than Law No. 28/2007.

(9)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat

limpahan rahmat dan karunia-Nya yang maha pemurah lagi maha penyayang, penulis

dapat menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Magister Hukum (M.H.) di

Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara dengan judul

penelitian tentang, ”Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perpajakan

Melalui Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang”.

Dengan kerendahan hati yang tulus dan ikhlas, penulis mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,

DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A (K) atas kesempatan fasilitas yang diberikan

kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan program magister.

2. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Runtung

Sitepu, S.H., M.Hum atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi Mahasiswa

Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera

Utara.

3. Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum, Bapak Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H.,

telah banyak memberikan motivasi mulai sejak awal perkuliahan selalu

mengingatkan tesis sampai pada akhirnya meja hijau.

4. Terima kasih yang tidak terhingga dan penghargaan setinggi-tingginya penulis

sampaikan kepada Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., M.Hum, selaku Ketua

Komisi Pembimbing, Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H, M.H., dan Prof. Dr.

Sunarmi, S.H., M.Hum., selaku anggota komisi pembimbing yang dengan penuh

perhatian telah memberikan bimbingan, arahan, petunjuk dan ide serta saran yang

(10)

5. Penghormatan saya atas apresiasi yang sangat luar biasa dari Dr. Mahmul Siregar,

S.H., M.Hum., dan Syafruddin S.Hasibuan, S.H., M.H., DFM., selaku penguji

tesis penulis.

6. Seluruh Dosen Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara, beserta seluruh teman-teman Mahasiswa yang telah banyak

memberikan dukungan dan bantuannya.

7. Terimakasih juga kepada orang tua saya Ayahanda Djaman Tarigan, S.H. dan

Ibunda Dra. Yuspita Baik Singarimbun yang telah memberi dukungan dalam

setiap waktu dan sepanjang hari tidak lupa dengan doa agar penulis dapat

mencapai cita-citanya dengan sukses.

8. Terimakasih juga kepada kedua saudara saya, Indra Fransiskus Tarigan dan Harry

Raymond Tarigan yang tidak henti henti memotivasi dan mendoakan penulis

dalam upaya penyelesaian tesis.

Demikianlah sebagai kata pengantar, mudah-mudahan penelitian ini memberi

manfaat bagi semua pihak dan menambah serta memperkaya wawasan ilmu

pengetahuan. Akhir kata, mohon maaf atas ketidaksempurnaan substansi dalam

penelitian ini, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi

perbaikan ke depannya. Semoga penulis lebih giat lagi menambah wawasan ilmu

pengetahuan di masa-masa yang akan datang.

Medan, Januari 2013

Penulis

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi

Nama : Suranta Ramses Tarigan

Tempat/Tanggal lahir : Medan, 9 Juni 1981

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Katholik

Alamat : Jalan Sei Seruwei No.20 Kelurahan Babura

Kecamatan Medan Baru Kota Medan 20154

II. Pendidikan Formal

1. TK Swasta Methodist 1 Medan Tahun 1987

2. SD Swasta Methodist 1 Medan Tahun 1993

3. SMP Swasta Methodist 1 Medan Tahun 1996

4. SMU Swasta Cahaya Medan Tahun 1999

5. Strata Satu (S-1) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan

Tahun 2005

6. Strata Dua (S-2) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vii

DAFTAR ISI ... viii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian ... 13

D. Manfaat Penelitian ... 13

E. Keaslian Penelitian ... 14

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional ... 14

1. Kerangka Teori... 14

2. Landasan Konsepsional ... 21

G. Metode Penelitian ... 22

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 22

2. Sumber Data ... 23

3. Teknik Pengumpulan Data ... 24

(13)

BAB II : PENGATURAN TINDAK PIDANA PAJAK MENURUT

UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN ... 26

A. Tindak Pidana Pajak ... 26

1. Pengertian Pajak ... 26

2. Bentuk-Bentuk Tindak Pidana Pajak ... 31

B. Pengaturan Tindak Pidana Pajak dalam Undang-Undang Perpajakan ... 34

1. UU No.13 Tahun 1985 tentang Bea Materai ... 37

2. UU No.12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas UU No.12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan ... 40

3. UU No.19 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No.19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ... 43

4. UU No.28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ... 44

BAB III : KELEMAHAN UNDANG-UNDANG PAJAK DALAM MENGADILI TINDAK PIDANA PAJAK ... 59

A. Kelemahan Sistem Pemungutan Pajak ... 59

B. Prosedur Penyelesaian Sengketa Pajak di Pengadilan Pajak ... 67

C. Dualisme Hukum dalam Mengadili Tindak Pidana Pajak ... 74

(14)

BAB IV : PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERPAJAKAN MELALUI UU NO.8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

PENCUCIAN UANG ... 95

A. Tindak Pidana Pajak Sebagai Predicate Crime dalam Tindak Pidana Pencucian Uang ... 95

B. Prinsip Customer Due Diligence dalam Tindak Pidana Pencucian Uang ... 103

C. Sanksi Hukum dalam Tindak Pidana Pencucian Uang ... 109

D. Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pajak Melalui Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang ... 114

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 123

A. Kesimpulan ... 123

B. Saran ... 125

(15)

ABSTRAK

Pajak merupakan sumber pendapatan terbesar bagi negara. Tindak pidana pajak rentan mengakibatkan kerugian bagi negara itu sendiri. Penanganan terhadap tindak pidana pajak diperlukan langkah-langkah yang serius. Undang-undang perpajakan telah tiga kali mengalami perubahan sampai diundangkannya UU No.28 Tahun 2007 sebagai Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Undang-undang lain yang dapat diterapkan sebagai bentuk keseriusan dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pajak dapat diterapkan melalui penerapan UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai kebijakan pemerintah untuk mencegah dan memberantas pelaku tindak pidana khususnya pajak melakukan tindakan berlanjut untuk melakukan pencucian uang.

Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini sebagai berikut: pertama, bagaimanakah pengaturan tindak pidana pajak menurut undang-undang perpajakan? kedua, bagaimanakah kelemahan undang-undang pajak dalam mengadili tindak pidana pajak? dan ketiga, bagaimanakah pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pajak melalui UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang?

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif. Sumber bahan hukum primer yaitu UU No.28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

(16)

dalam Pasal 37, Pasal 39, dan Pasal 40 UU No.34 tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No.18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang tidak menentukan secara tegas kualifikasi tindak pidana terhadap perbuatan Wajib Pajak ataupun Wajib Retribusi dan pejabat perpajakan. Ketiga, pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pajak melalui UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang berkaitan dengan tindak pidana pajak sebagai kejahatan awal pencucian uang. Walaupun undang-undang pajak tidak mengatur pencegahan tindak pidana pajak, namun dalam UU No.8 Tahun 2010 mengandung prinsip customer due diligence yang berarti dengan prinsip ini pencegahan dapat dilakukan terhadap tindak pidana pajak tersebut.

Saran yang diharapkan: pertama, UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan perlu dilakukan revisi untuk dibuat penegasan makna kata “pencegahan” baik pasal-pasalnya maupun dalam penjelasannya. Kedua, sistem self assessment (Wajib Pajak aktif) seharusnya diganti dengan menerapkan sistem official assessment (Wajib Pajak pasif dan menggunakan wewenang pemerintah menentukan besarnya pajak terutang) atau menerapkan sistem with holding (Wajib Pajak pasif dan menggunakan pihak ketiga menentukan besarnya pajak terutang), Pengadilan Pajak seharusnya ditempatkan secara utuh di bawah MA sesuai dengan UU No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengamanatkan pengadilan satu atap di bawah MA. Ketiga, diharapkan dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pajak seharusnya aparat penegak hukum lebih memprioritaskan penggunaan UU No.8 Tahun 2010 daripada UU No.28 Tahun 2007.

(17)

ABSTRACT

Tax is the biggest revenue resources for a country. Tax criminal act results in inflicting loss to the country itself. Law on tax has been amended for three times until the enactment of Law No.28/2007 as the Third Amendment of Law No.6/1983 on General Provision and Taxation Procedures. The other law that can be applied as the form of seriousness in preventing and eradicating tax crimes is through the application of Law No.8/2010 on Money Laundering Perevention and Eradication as the policy of government to prevent and eradicate the criminals especially the tax criminals that they cannot practice money launderinh anymore.

The problems studied in this study were, first, how tax crime is regulated according to law on tax; second, the limitation of law on tax used in prosecuting tax crime; and third, how Law No.8/2010 on Money Laundering Perevention and Eradication was used to prevent and eradicate tax crimes.

The data for this qualitative study with normative juridical method referring to the legal norms and principles stated in the regulations of legislation and court decisions were obtained from thrimary legal materials such as Law No.28/2007 on the Third Amendmend of Law No.6/1983 on General Provision and Taxation Procedures and Law No.8/2010 on Money Laundering Perevention and Eradication.

(18)

It is suggested that, first, Law No.28/2007 on General Provision and Taxation Procedures need a revision and the word “prevention” either its articles or in its explanation should be emphasized; second, self assesment system (active tax payers) should be changed by applying official assessment system (passive tax payers using the government authority to determine the tax payable) or by applying with holding system (passive tax payers using the third party to determine the amount of tax payable). Tax Court should be permanently placed under the Supreme Court according to Law No.48/2009 on Judicial Power which mandates the practice of one-roof court under the Supreme Court. Third, In preventing and eradicating tax criminal act, it is expected that law enforcement officers should more prioritize the application of Law No.8/2010 than Law No. 28/2007.

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

UU No.28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983

tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, dilandasi falsafah dari Pancasila

dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang di dalamnya tertuang ketentuan

yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban perpajakan

bagi Wajib Pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Norma tersebut termaktub dalam

Pasal 23A UUD 1945 yaitu: “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk

keperluan negara diatur dengan undang-undang”.

Pengaturan di bidang perpajakan merupakan salah satu peraturan pelaksanaan

dari norma yang ada dalam Pasal 23A UUD 1945. Tujuannya sebagaimana dijelaskan

dalam Penjelasan Umum UU No.28 Tahun 2007 (UU KUP) bertujuan untuk lebih

memberikan keadilan, meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, meningkatkan

kepastian dan penegakan hukum, serta mengantisipasi kemajuan di bidang teknologi

informasi dan perubahan ketentuan material di bidang perpajakan. Selain itu,

perubahan tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur

perpajakan, meningkatkan keterbukaan administrasi perpajakan, dan meningkatkan

kepatuhan sukarela Wajib Pajak.1

1

Pasal 1 angka 2 UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau

(20)

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi

atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak

mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.2 Pajak merupakan sumber pendapatan suatu

negara terbesar dan sumber penerimaan negara Indonesia paling besar berada di

sektor pajak. Bahkan menurut Wakil Fraksi PKB, Chusnusnia di ruang rapat sidang

paripurna di DPR, rasio pajak (tax ratio) dapat ditingkatkan menjadi 14 persen dari

sebelumnya 12,1 persen.3

Menurut Anny Ratnawati (Wakil Menteri Keuangan), bahwa selama empat

bulan pertama pada tahun 2011, Pemerintah Republik Indonesia menghimpun

pendapatan dan hibah sampai Rp.331,1 triliun atau 30 persen dari target Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2011. Terjadi peningkatan sebesar

Rp.54,8 triliun atau 19,8 persen jika dibandingkan tahun 2010. Pendapatan negara

tersebut berdasarkan data Kementerian Keuangan menunjukan penerimaan negara

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp.262,6 triliun atau 30,9 persen dari

target APBN 2011. Penerimaan pajak terbesar berasal dari pajak dalam negeri sebesar

Rp.244,5 triliun dan pajak perdagangan internasional Rp.18,1 triliun.

4

badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2

Pasal 1 angka 1 UU No.28 Tahun 2007.

3

http://economy.okezone.com/read/2011/05/25/20/460777/tax-ratio-bisa-ditingkatkan-jadi-14, diakses tanggal 26 Mei 2011.

4 http://bisnis.vivanews.com/news/read/221430-hingga-april--ri-kantongi-pendapatan-rp331-t,

diakses tanggal 26 Mei 2011. Lihat juga: Vivanews.com, Kamis, Tanggal 19 Mei 2011. Sementara

(21)

Fakta di lapangan menurut laporan Kepolisian Negara Republik Indonesia

mencatat, ada sembilan modus atau model penyimpangan hukum yang sering terjadi

di sektor pajak. Kesembilan model penyimpangan hukum pajak itu adalah:

Pengaturan nilai pajak; Faktur pajak fiktif; Penyelesaian keberatan Wajib Pajak;

Menghilangkan berkas surat permohonan keberatan; Petugas pajak melawan dirinya

sendiri pada pengadilan banding; Penggunaan perusahaan di luar negeri; Jual beli

saham antar perusahaan dalam satu kelompok usaha; Konsultan pajak gelap; dan

Menahan surat ketetapan pajak.5

Penerbitan faktur pajak fiktif semakin marak. Direktorat Jenderal (Ditjen)

Pajak menemukan sekitar 53 kasus tindak pidana perpajakan pada tahun 2010, faktur

pajak fiktif merupakan modus yang paling banyak dilakukan. Ditjen Pajak mencatat

sejumlah 17 kasus telah dinyatakan P-19, dengan kerugian negara mencapai Rp.233

miliar. Sementara, yang telah dinyatakan P-21 sebanyak 20 kasus, dengan kerugian

negara mencapai Rp.513 miliar. Sementara yang divonis bersalah ada sebanyak 16

migas Rp.6,5 triliun dan PNBP lainnya sebesar Rp.20,06 triliun. Sementara dari sisi pengeluaran, pemerintah telah merealisasikan belanja sebesar Rp.279,6 triliun atau 22,7 persen dari Pagu. Hal ini terjadi peningkatan dibandingkan realisasi tahun 2010 hanya sebesar 20,5 persen dari pagu. Realisasi belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp.161 triliun atau 19,25 persen dari pagu. Belanja pemerintah pusat ini diantaranya digunakan untuk belanja pegawai sebesar Rp.51,7 triliun, belanja barang-barang keperluan negara Rp.16,4 triliun, belanja modal Rp.9,3 persen. Pemerintah juga mengeluarkan belanja untuk kegiatan subsidi sebesar Rp.46,4 triliun, belanja bunga utang sebesar Rp.32,2 triliun, dan belanja bantuan sosial sebesar Rp.4,6 triliun. Khusus untuk realisasi transfer ke daerah-daerah, Kementerian Keuangan mencatat anggaran sebesar Rp.118,6 triliun atau 30,2 persen dari pagu hingga pada bulan April 2011. Sedangkan realisasi pembiayaan mencapai Rp.37,2 triliun atau 29,9 persen.

5

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/10/13095456/Inilah.Sembilan.Modus,

diakses tanggal 25 Mei 2011. Lihat juga: Kompas, Tanggal 10 Mei 2010. Hal ini disampaikan di

Jakarta, Selasa tanggal 10 Mei 2011, saat berbicara dalam seminar nasional “Menuju Keadilan dalam

(22)

kasus. Total kerugiannya Rp.424 miliar.6 Pada tahun 2011 hingga April, yang

dinyatakan P-19 sebanyak 7 kasus dengan kerugian negara Rp.65 miliar, P-21

sebanyak 4 kasus dengan kerugian negara Rp.6,5 miliar, dan yang telah divonis

sebanyak 7 kasus dengan kerugian negara sebesar Rp 34,4 miliar.7

Beberapa kasus tersebut ditemukan dalam penyidikan oleh Ditjen pajak terkait

maraknya faktur pajak bermasalah. Selain itu, tersangka penggelapan juga melakukan

modus rekayasa atas penjualan, menggelembungkan biaya dengan pembebanan biaya

fiktif dan penerbitan, juga penggunaan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi

yang sebenarnya. Faktur pajak fiktif menurut Ditjen Pajak, termasuk modus

penggelapan pajak dengan cara pemalsuan faktur pajak sedang marak, pembuktian

pemalsuan pajak ini tidak mudah. Faktur pajak fiktif paling banyak terjadi.

Karakteristik dari faktur pajak adalah pengurusnya fiktif, jadi sangat sulit diterapkan

dilapangan.

8

Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta Utara mengungkap perusahaan penerbit

faktur pajak fiktif yang merugikan negara senilai Rp.29 miliar. Perusahaan ini

menggunakan modus baru untuk menggelapkan pajak, yakni menerbitkan faktur

pajak palsu tanpa menggunakan bukti restitusi. Perusahaan penerbit faktur pajak fiktif

memiliki kekayaan senilai Rp.290 miliar namun tidak melakukan bisnis usaha

sebagaimana layaknya badan usaha seperti melakukan transaksi pembelian dan

6

http://bisnis.vivanews.com/news/read/221567-faktur-pajak-palsu-paling-banyak-digunakan, diakses tanggal 25 Mei 2011.

7

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1532712/pelanggaran-pajak-capai-75-kasus-senilai-rp105-m, diakses tanggal 25 Mei 2011.

8

(23)

penjualan. Perusahaan tersebut juga diduga tidak membayar pajak sesuai ketentuan yang

berlaku karena hanya menyetor sekitar Rp.6 juta per tahun dan tempat kegiatan usaha

tidak ditemukan. Perusahaan yang memiliki kekayaan besar Rp.290 miliar tetapi

pembayaran pajak hanya Rp.300–Rp.500 ribu per bulan. Perusahaan tersebut, diduga

telah melakukan tindakan penerbitan faktur pajak tidak sah mulai 2007 hingga awal

2011.9

Terungkapnya kasus penyuapan dalam perkara tindak pidana korupsi Gayus

Halomoan Tambunan dengan jumlah aset Gayus yang disita sekitar Rp.109 miliar, di

antaranya rekening senilai Rp.28 miliar serta aset berupa uang US$659.800,

Sin$9.680.000, dan 31 batang emas (@100 gram) senilai Rp.74 miliar,

10 terkait dengan

19 perusahaan Wajib Pajak yang bermasalah sehingga merugikan keuangan negara

terkait penyuapan terhadap Gayus Halomoan Tambunan.11

Kasus pajak Asian Agri terjadi pembukuan fiktif pada laporan perusahaan

dilakukan dengan cara manipulasi dalam membuat laporan keuangan agar selalu terlihat

kurang mendapatkan untung. Tindakannya, merekayasa harga penjualan dengan tujuan

memperkecil besaran keuntungan dari jumlah sebenarnya yang diperoleh sehingga pajak

tertanggung atas hasil keuntungan menjadi lebih kecil. Hal itu menimbulkan potensi

kerugian negara dari penerimaan pajak senilai Rp.1,259 triliun.12

9

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/398832/, diakses tanggal 25 Mei 2011. Lihat juga: Bisnis Indonesia, Tanggal 15 Mei 2011. Lihat juga: Tempo, Tanggal 13 Mei 2011.

10

Metanews.com., ”Kasus Gayus Diusulkan Dilebur”, Tanggal 26 Januari 2011.

11

http://nasional.kompas.com/read/2011/05/23/15433162/Kasus.Gayus.Hanya.Pelanggaran, diakses tanggal 25 Mei 2011. Lihat juga: Kompas, Tanggal 23 Mei 2011.

12

(24)

Berbagai macam kasus tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana

diuraikan di atas, adalah contoh kasus dari sekian banyak kasus tindak pidana di

bidang perpajakan terjadi di Indonesia. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya

bahwa pajak merupakan sumber pendapatan terbesar di negara Indonesia, apabila

tindak pidana di bidang perpajakan semakin marak terjadi, maka sangat berpotensi

mengakibatkan kerugian terhadap keuangan negara. Oleh sebab itu, UU No. 8 Tahun

2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU

PPTPPU) diundangkan sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk mencegah dan

memberantas pelaku tindak pidana (salah satunya adalah di bidang perpajakan)

melakukan tindakan berlanjut untuk melakukan tindak pidana pencucian uang (money

laundering).

Tindak pidana di bidang perpajakan termasuk tindak pidana khusus, sebab

jenis-jenis perbuatan serta pejabat yang berwenang untuk melakukan penyidikan telah

diatur tersendiri dalam UU KUP yang merupakan ketentuan khusus (lex specialis).

Tindak pidana di bidang perpajakan adalah perbuatan yang diancam dengan sanksi

(pidana dan/atau denda) sebagaimana dimaksud dalam undang-undang perpajakan.13

13

Mochamad Tjiptardjo, “Ketentuan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan Sesuai dengan UU

Nomor 28 Tahun 2007”, Makalah, Disampaikan pada Seminar Mengejar Pelaku Kejahatan

Perpajakan Melalui Undang-Undang Anti Pencucian Uang, Direktur Intelijen dan Penyidikan Direktorat Jenderal Pajak, di Hotel Tiara Medan, Tanggal 16 Agustus 2008, hal. 1. Sebagian kalangan berpendapat bahwa tindak pidana yang dilakukan di bidang perpajakan yang mengakibatkan kerugian pada pendapatan negara termasuk dalam dalam tindak pidana korupsi. Dalam praktiknya, sebagian Jaksa menuntut perkara pidana dalam bidang perpajakan dengan pidana korupsi seperti Kasus PT. Galunggung Mega Sakti di Pengadilan Negeri Bandung. Sebaliknya, ada pula Jaksa yang menuntut perkara yang serupa, tetapi dengan pidana pajak, misalnya pada Kasus PT. Mega Radilan Mandiri di Pengadilan Negeri Cibinong.

(25)

melakukan penyamaran atau menyembunyikan asal-usul harta hasil dari tindak

pidana perpajakan tersebut ke dalam lembaga keuangan misalnya bank. Tanpa

disadari atau tidak oleh pelaku bahwa yang bersangkutan telah melakukan suatu

tindak pidana lain yaitu tindak pidana pencucian uang.14

Mengantisipasi dan memberantas tindakan pelaku yang demikian, maka selain

sanksi tindak pidana di bidang perpajakan15 sebagaimana diatur dalam UU No.28

Tahun 2007, juga diatur penegasan sanksi tersebut dalam UU PPTPPU dan

menempatkan tindak pidana perpajakan dengan memasukkannya ke dalam kelompok

kejahatan (predicate crime)16

Hasil dari tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dicontohkan

dalam kasus-kasus di atas, oleh pelaku dapat pula melakukan atau berkemungkinan

melakukan tindak pidana pencucian uang. Hal ini dilakukan oleh pelaku dengan

tujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang dalam Pasal 2 ayat 1 UU PPTPPU. Hal ini dimaksud

bahwa apabila hasil dari tindak pidana di bidang perpajakan tersebut kemudian oleh

pelaku melakukan tindak pidana pencucian uang, maka dapat dijerat berdasarkan UU

PPTPPU.

14 Muhammad Djumhana,

Hukum Perbankan Di Indonesia, Cetakan Ketiga, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal. xv. Lembaga perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai strategis dalam kehidupan perekonomian suatu negara. Lembaga tersebut dimaksudkan sebagai perantara (intermediary) pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana (surflus of funds) dengan

pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lack of funds). Guna mencapai nilai strategis tersebut

kegiatan perbankan dibentuk dalam suatu sistem perbankan yang berlaku secara umum dan menyeluruh.

15

UU No.28 Tahun 2007 menegaskan sanksi hanya menyebutkan dua jenis pidana yaitu: pidana penjara (karena adanya tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja) dan pidana kurungan (karena adanya tindak pidana yang dilakukan karena kealpaan).

16

(26)

diperolehnya dari tindak pidana di bidang perpajakan tersebut, maka oleh UU

PPTPPU perbuatan yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta

kekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang.

Perbuatan tersebut secara tegas dilarang dan diancam sanksi sebagaimana

Pasal 3 UU PPTPPU menegaskan sebagai berikut:

Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pelaku kejahatan sebelum melakukan pencucian uang, terlebih dahulu

melakukan suatu tindak pidana tertentu misalnya tindak pidana asal (predicate crime)

yang terdiri dari 26 (dua puluh enam) jenis sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2

ayat (1) UU PPTPPU, dalam hal ini tindak pidana di bidang perpajakan yang

dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah

Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan

tindak pidana menurut hukum Indonesia.17

Kejahatan-kejahatan dalam kelompok predicate crime tersebut dapat

menghasilkan harta kekayaan yang sangat besar jumlahnya. Harta kekayaan yang

17

(27)

berasal dari kejahatan-kejahatan itu atau dari suatu tindak pidana, umumnya tidak

secara langsung dibelanjakan atau digunakan oleh para pelaku kejahatan karena

apabila langsung digunakan akan mudah dilacak oleh penegak hukum mengenai

sumber diperolehnya harta kekayaan tersebut.18

Pelaku kejahatan-kejahatan (orang atau badan atau suatu organisasi kejahatan)

memiliki kecenderungan untuk tidak segera mempergunakan harta kekayaan yang

didapatkan, melainkan lebih memilih untuk menyembunyikan atau mengalihkannya

berkali-kali uang hasil kejahatan tersebut dengan modus yang berbeda-beda agar

aparat penegak hukum tidak dapat atau mengalami kesulitan untuk mengungkap dan

mencurigai pelaku kejahatan tersebut. Hal ini adalah merupakan bagian yang tak

terpisahkan dari perbuatan pencucian uang.19

Biasanya para pelaku kejahatan terlebih dahulu mengupayakan agar harta

kekayaan yang diperoleh dari kejahatan tersebut masuk ke dalam sistem keuangan

(financial system) terutama ke dalam sistem perbankan (banking system). Dengan

cara demikian asal-usul harta kekayaan tersebut diharapkan pelaku tindak pidana

tidak dapat dilacak oleh aparat penegak hukum.20

Tujuan seseorang atau organisasi kejahatan melakukan pencucian uang adalah

agar asal-usul uang yang diperolehnya dari suatu tindak pidana tidak dapat diketahui

18Adrian Sutedi,

Tindak Pidana Pencucian Uang, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2008), hal. 4.

19

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, (Bandung: Books Terrace & Library,

2005), hal. 270-271.

20

(28)

atau tidak dapat dilacak oleh aparat penegak hukum. Ada 3 (tiga) faktor seseorang

atau suatu organisasi kejahatan melakukan pencucian uang, yaitu:21

1. Kepemilikan yang sebenarnya dan sumber yang sesungguhnya dari uang yang dicuci itu harus disembunyikan;

2. Bentuk uang tersebut harus diubah; dan

3. Jejak yang ditinggalkan oleh proses pencucian uang harus tersamar atau tidak dapat diketahui.

Mekanisme selanjutnya, pelaku kejahatan pada umumnya melakukan proses

melalui beberapa tahapan yaitu penempatan (placement)22, transfer (layering)23, dan

menggunakan harta kekayaan (integration)24. Penempatan (placement) merupakan

upaya menempatkan uang tunai yang berasal dari tindak pidana ke dalam sistem

keuangan (financial system) atau upaya menempatkan uang giral (cheque, wesel

bank, sertifikat deposito, dan lain-lain) Kembali ke dalam sistem keuangan, terutama

sistem perbankan.25

21

Sutan Remy Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan

Terorisme, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2007), hal. 5.

22

Pengalihan dana hasil penempatan (placement) ke beberapa rekening atau lokasi tertentu lainnya dengan serangkaian transaksi yang kompleks yang didesain untuk menyamarkan atau mengelabui sumber dana “haram” tersebut.

23

Melalui tahap transfer (layering) uang antar rekening bank yang berbeda. Tahapan ini

merupakan upaya mentransfer harta kekayaan, berupa bentuk bergerak atau tidak bergerak, yang berwujud atau tidak berwujud, yang berasal dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam

sistem keuangan melalui penempatan. Layering dapat pula dilakukan dengan transaksi jaringan

internasional baik melalu bisnis yang sah atau perusahaan-perusahaan shell (perusahaan yang

mempunyai nama dan badan hukum namun tidak melakukan kegiatan usaha apapun).

24 Menggunakan harta kekayaan (

integration) merupakan suatu upaya yang menggunakan harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam sistem keuangan melalui placement atau layering sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang halal. Proses ini merupakan upaya untuk mengembalikan uang yang telah dikaburkan jejaknya sehingga pemilik

semula dapat menggunakan dengan aman. Uang yang dicuci melalui placement maupun layering

dialihkan ke dalam kegiatan-kegiatan resmi sehingga tampak seperti tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas kejahatan yang menjadi sumber dari uang tersebut.

25

(29)

Terdapat pergerakan fisik uang tunai baik melalui penyelundupan uang tunai

dari suatu negara ke negara lain dalam proses penempatan ke dalam sistem keuangan,

penggabungan antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan uang yang

diperoleh dari hasil kegiatan yang sah, atau cara-cara lain seperti pembukaan

deposito, pembelian saham-saham atau juga mengkonversikannya ke dalam mata

uang negara lain.

Harta yang sudah ditempatkan dalam bank dan transfer antar rekening bank,

kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan bisnis, misalnya harta kekayaan itu

digunakan untuk membeli rumah, mobil, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian,

harta tersebut seolah-olah tidak berasal dari suatu tindak pidana dan menurut

anggapan pelaku kejahatan akan dapat menyembunyikan asal-usul harta berupa uang

tersebut karena sudah digunakan dalam bentuk harta fisik yakni benda-benda nyata.

Melalui tahapan-tahapan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana pencucian

uang tersebut, tidak berarti hukum tidak dapat dijalankan untuk mencegah dan

memberantas pelaku pencucian uang. Itulah sebabnya karena dalam hal untuk

membuktikan ada atau tidak terjadinya tindak pidana pencucian uang, dalam

perspektif UU PPTPPU dianut asas pembuktian terbalik dimana yang dicari dan yang

pertama dibuktikan adalah mengejar harta hasil kejahatan, setelah diperoleh ada

indikasi tindak pidana pencucian uang, baru dilakukan penangkapan dan penahanan

terhadap pelaku.26

26

TB. Irman S., Hukum Pembuktian Pencucian Uang, (Jakarta: MQS Publishing & Ayyccs

(30)

Berdasarkan uraian di atas, dengan mengingat besarnya kerugian keuangan

negara yang dicuci oleh pelaku tindak pidana pencucian uang yang berasal dari hasil

tindak pidana di bidang perpajakan, maka dirasa penting untuk dilakukan penelitian

tesis dengan judul “Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perpajakan

Melalui Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, masalah yang diteliti dalam penelitian ini sebagai

berikut:

1. Bagaimanakah pengaturan tindak pidana pajak menurut undang-undang

perpajakan?

2. Bagaimanakah kelemahan undang-undang pajak dalam mengadili tindak

pidana pajak?

3. Bagaimanakah pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pajak melalui

UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana

Pencucian Uang?

(31)

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Untuk mengetahui dan memahami pengaturan tindak pidana pajak menurut

undang-undang perpajakan;

2. Untuk mengetahui dan memahami kelemahan undang-undang pajak dalam

mengadili tindak pidana pajak;

3. Untuk mengetahui dan memahami pencegahan dan pemberantasan tindak

pidana pajak melalui UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

D. Manfaat Penelitian

Sedangkan manfaat dalam penelitian ini, dapat dikelompokkan menjadi 2

(dua) bagian yaitu secara teoritis dan praktis sebagai berikut:

1. Manfaat secara teoritis. Manfaat secara teoritis adalah sebagai bahan kajian

penelitian bagi para akademisi maupun masyarakat pada umumnya dan

bermanfaat menambah khasanah ilmu hukum perbankan khususnya mengenai

pencegahan dan pemberantasan tindak pidana perpajakan melalui

undang-undang tindak pidana pencucian uang.

2. Manfaat secara praktis. Manfaat secara praktis adalah sebagai kontribusi bagi

pejabat penyelenggara negara khususnya yang bekerja di bidang perpajakan,

(32)

Jaksa, Hakim, PPNS, dan lain-lain) dalam kajian mengenai

kebijakan-kebijakan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana perpajakan melalui

undang-undang tindak pidana pencucian uang.

E. Keaslian Penelitian

Untuk menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang

sama dengan penelitian ini, maka dilakukan pemeriksaan terhadap judul dan

permasalahan tesis-tesis di Perpustakaan Program Studi Magister Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan hasil pemeriksaan tidak

ditemukan judul dan permasalahan tesis yang sama dalam penelitian ini. Oleh sebab

itu, penelitian ini dapat dikatakan memiliki keaslian, dan jauh dari unsur plagiat serta

sesuai dengan asas-asas keilmuan yang harus dijunjung tinggi yaitu kejujuran,

rasional, objektif, dan terbuka dan berimplikasi secara etis dari proses menemukan

kebenaran sebuah karya ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional

1. Kerangka Teori

Terhadap pelaku tindak pidana di bidang perpajakan berpotensi dapat

merugikan keuangan negara, oleh sebab itu terhadap pelaku harus diupayakan

pencegahan dan pemberantasannya melalui kebijakan-kebijakan pidana dan

pemidanaan. Perlu adanya suatu pedoman pemidanaan untuk dapat menjerat pelaku

tindak pidana melalui undang-undang anti pencucian uang. Pedoman pemidanaan

(33)

prinsip-prinsip atau ide-ide yang melatarbelakangi disusunnya konsep untuk

mengefektifkan penggabungan jenis sanksi yang lebih bersifat pidana dengan jenis

sanksi yang bersifat tindakan.27

Mahmud Mulyadi dan Feri Antoni Surbakti memandangnya pentingnya

menginformasikan secara sistematis mengenai prinsip-prinsip atau ide-ide dasar

“sistem dua jalur” atau double track system. Menetapkan jenis sanksi, tidak hanya

meliputi sanksi pidana tetapi sanksi tindakan. Penekanan kesetaraan sanksi pidana

dan sanksi tindakan dalam kerangka double track system, sesungguhnya terkait

bahwa unsur pencelaan lewat sanksi pidana dan unsur pembinaan melalui sanksi

tindakan memiliki kedudukan yang sama pentingnya.

28

Hukum pidana mengenal adanya sanksi pidana (straf) dan tindakan

(maatregel).29 Bagian dari pemidanaan adalah penerapan sanksi pidana (straf) bukan

tindakan (maatregel), akan tetapi menurut Jan Remmelink, terkadang penerapan

tindakan (maatregel) dalam praktiknya sering juga menimbulkan penderitaan

terhadap pelaku.30

27

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Perkembangan

Penyusunan Konsep KUHP Baru, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 119.

Salah satu tujuan pemidanaan adalah untuk menjadikan efek jera

pelaku tindak pidana. Pemidanaan dimaksud dalam hal ini adalah penerapan sanksi

pidana (straf) terhadap pelaku tindak pidana perpajakan melalui undang-undang anti

28 Mahmud Mulyadi dan Feri Antoni Surbakti,

Politik Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Korporasi, (Jakarta: Sofmedia, 2010), hal. 91 dan hal 92. Sanksi tindakan lebih menekankan kepada nilai-nilai kemanusiaan dalam reformasi dan pendidikan kembali pelaku kejahatan sedangkan sanksi pidana lebih menekankan stelsel sanksi dalam hukum pidana yang menyangkut pembuat undang-undang.

29

Muhammad Eka Putra dan Abul Khair, Sistem Pidana Di Dalam KUHP Dan

Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, (Medan: USU Press, 2010), hal. 7.

30

(34)

pencucian uang. Penerapan sanksi pidana dalam pemidanaan merupakan suatu

penghukuman bagi pelaku agar menjadikan efek jera terhadap pelaku. Penerapan

sanksi pidana menurut Jan Remmelink, lebih menitikberatkan pada perbuatan

pembalasan atau penderitaan yang dijatuhkan kepada seseorang yang melanggar

pidana.31

Tujuan pemidanaan dalam penerapan sanksi pidana selama ini selalu berkaitan

dengan peraturan perundang-undangan. Penerapan sanksi pidana tidak mengurangi

terjadinya kejahatan, justru menambah kejahatan.

32

Teori retributif bersifat absolute yakni menekankan pembalasan karena pelaku kejahatan dianggap layak menerima sanksi pidana atas kejahatan yang dilakukannya.

Teori retributif dalam perkembangan kemudian menimbulkan masalah, sebab semakin

diterapkannya sanksi pidana kepada pelaku, kejahatan itu justru meningkat. Muncul teori

yang mengedepankan apa sebenarnya tujuan atau apa sebenarnya yang dicari dalam

pemberian sanksi pidana. Teori semacam ini disebut teori relatif (teori tujuan) yang

muncul sebagi protes terhadap teori retributif (absolute). Orientasi teori relatif pada upaya pencegahan terjadinya tindak pidana yang mengedepankan tujuan mencegah,

menimbulkan rasa takut, dan memperbaiki yang salah.

Munculnya teori-teori pemidanaan

yang menekankan sanksi maupun tindakan dikenal dalam hukum pidana yaitu teori

retributif (absolut), teori relatif (teori tujuan), teori pengobatan (treatment), teori tertib sosial (social defence), dan teori restoratif (restorative).

(35)

Perkembangan selanjutnya, muncul teori pengobatan (treatment) yang memandang bahwa pemidanaan sangat pantas diarahkan kepada pelaku kejahatan, bukan

kepada perbuatannya. Pemidanaan dimaksud adalah untuk memberi tindakan perawatan

atau pengobatan (treatment) kepada pelaku kejahatan sebagai pengganti dari penghukuman yang didasarkan kepada alasan bahwa pelaku kejahatan adalah orang yang

sakit sehingga dibutuhkan tindakan perawatan atau pengobatan.34

Teori tertib sosial (social defence) hadir sebagai jawaban dari pemidanaan yang bersifat tindakan. Aliran dalam teori ini dibagi dua yaitu aliran radikal dan aliran

moderat. Aliran radikal memandang hukum perlindungan sosial harus menggantikan

hukum pidana yang ada sekarang. Aliran ini masih mengintegrasikan individu ke dalam

tertib sosial dan bukan pemidanaan terhadap perbuatannya. Sedangkan aliran moderat

memandang bahwa setiap masyarakat mensyaratkan tertib sosial dalam seperangkat

peraturan-peraturan yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan untuk kehidupan

bersama, tetapi sesuai dengan aspirasi warga masyarakat pada umumnya. Oleh karena

itu, peranan yang besar dari hukum pidana merupakan kebutuhan yang tidak dapat

dielakkan dalam suatu sistem hukum.35

Teori restoratif (restorative) memandang pula adanya perlindungan secara berimbang

terhadap hak-hak dan kepentingan pelaku dan korban tindak pidana, masyarakat dan negara.

Orientasinya adalah pada upaya perbaikan-perbaikan atau pemulihan dampak-dampak

kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan yang merupakan bagian

dari tindak pidana.

34

Mahmud Mulyadi, Criminal Policy, Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal

Policy Dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 79.

35

(36)

Konstruksi pemikiran teori restoratif memandang perlindungan akan hak-hak dan

kepentingan korban tindak pidana tidak semata-mata berupa perlakuan yang menghargai

hak-hak asasi para korban tindak pidana dalam mekanisme sistem peradilan pidana,

melainkan juga mencakup upaya sistematis untuk memperbaiki dan memulihkan dampak

kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan pelaku tindak pidana baik yang

bersifat kebendaan maupun yang bersifat emosional.36

Skema di bawah ini menggambarkan teori-teori pemidanaan dalam sistem

peradilan pidana di Indonesia. Teori retributif dan Treatment bersifat memaksa. Inilah teori pemidanan yang sering digunakan dalam aliran hukum positivistik murni, dimana

terhadap pelaku tindak pidana diterapkan hukum pidana yang bersifat memaksa.

Teori relatif memfokuskan kepada pemidanaan yang bersifat mencegah tindak

pidana misalnya UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak

Pidana Pencucian Uang saat ini sudah mengenal istilah pencegahan. Selain itu juga

mengenal istilah pemberantasan. Khusus pada teori social defence dan restoratif fokusnya adalah pemidanaan yang bersifat pemberantasan tindak pidana yang mementingkan

terhadap perampasan aset hasil dari tindak pidana tersebut. Berikut ini digambarkan

kerangka teori yang melandasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana perpajakan

melalui UU PPTPPU.

UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana

Pencucian Uang mengenal istilah pencegahan dan pemberantasan terhadap tindak pidana

pencucian uang. Oleh sebab itu, pelaku tindak pidana di bidang perpajakan yang secara

36

(37)

bersamaan juga melakukan tindak pidana pencucian uang, menurut teori-teori di atas,

dapat digunakan sebagai teori untuk memberikan efek jera dan antisipasi terhadap pelaku

tindak pidana pencucian uang. Sebab, kata “pencegahan” lebih menitikberatkan kepada

kebijakan legislasi untuk mengantisipasi tindak pidana sebelum dilakukan oleh pelaku

sedangkan kata “pemberantasan” titik beratnya berada pada kebijakan legislasi untuk

menerapkan hukum pidana khususnya hukum anti pencucian uang.

1

Skema : Teori Pemidanaan

(38)

Kerangka teori di atas digunakan untuk mewujudkan keadilan,37 walaupun

keadilan itu bukan satu-satunya yang digunakan untuk mewujudkan tujuan hukum.

Karena dalam suatu negara hukum modern, tujuan hukum adalah untuk mewujudkan

kesejahteraan (welfare state).38 Sektor hukum yang sangat berperan untuk menemukan kembali keadilan yang telah hilang (the lost justice) apabila terjadi tindakan yang tidak adil (unfair prejudice) di dalam kehidupan. Inilah yang disebut Aristoteles sebagai keadilan korektif.39

Keadilan akan diperoleh jika dilakukan maksimum penggunaan barang secara

merata dengan memperhatikan kepribadian masing-masing (justice fairnes). Prinsip keadilan dirinci dalam bentuk pemenuhan hak yang sama terhadap dasar (aqual liberties) dan pengaturan perbedaan ekonomi dan sosial sehingga akan terjadi kondisi yang tertib.

Oleh sebab itu, keadilan yang hilang mesti dikembalikan oleh hukum.40 Perdamaian

manusia yang dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan

manusia, kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda, dan sebagainya terhadap yang

merugikannya.41 Hukum nasional dibuat selain untuk mencapai keadilan dan ketertiban,

juga sebagai sarana pembaharuan kehidupan masyarakat, agar perubahan (pembangunan)

itu dilakukan dengan teratur dan tertib.42

37

E. Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: Ikhtiar Baru, 1975), hal. 20.

38

Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum Dalam Pembangunan

Nasional, (Bandung: Bina Cipta, Tanpa Tahun), hal. 2-3.

39

Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2007), hal. 92.

40

Ibid, hal. 94.

41

Lili Rasjidi, “Peranan Hukum Dalam Pembangunan Nasional Indonesia”, dalam: Jurnal

Hukum Padjdjaran Review, Hukum Responsif, Bandung, Vol. 1 No. 1, Tahun 2005, hal. 8.

42

Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu

(39)

2. Landasan Konsepsional

Digunakan beberapa istilah sebagai landasan konsepsional untuk menghindari

kesimpangsiuran pemahaman mengenai definisi atau pengertian serta istilah yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berkut:

a. Pajak adalah iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat

(Wajib Pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya

pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung.

b. Perpajakan adalah segala sesuatu yang menyangkut dengan Pajak Penghasilan

(PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah

(PPnBM), Bea Materai, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak

Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

c. Tindak pidana di bidang perpajakan adalah perbuatan yang melanggar hukum

di bidang perpajakan.

d. Pencegahan adalah suatu tindakan yang menyangkut kebijakan-kebijakan

hukum yang bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan atau tindak

pidana.

e. Pemberantasan adalah suatu tindakan yang menyangkut penerapan sanksi

melalui kebijakan-kebijakan hukum bertujuan untuk menerapkan hukum yang

ada kepada pelaku tindak pidana.

f. Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai

(40)

yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan

kewajiban tersebut.43

g. Tindak pidana pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi

unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam UU PPTPPU.

G. Metode Penelitian

Metode adalah cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami obyek yang

menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.44 Sedangkan penelitian

merupakan suatu kerja ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran

secara sistematis, metodologis, dan konsisten.45 Penelitian hukum merupakan suatu

kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu

yang bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa gejala hukum tertentu

dengan cara menganalisisnya.46 Sehingga, metode penelitian adalah upaya ilmiah

untuk memahami dan memecahkan suatu masalah berdasarkan metode tertentu.

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis

normatif yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum

yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Jenis

43

Pasal 1 Ayat (1) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

44

Soerjono Soekanto, Ringkasan Metodologi Penelitian Hukum Empiris, (Jakarta: Indonesia

Hillco, 1990), hal. 106.

45

Soerjono Soekanto dan Sri Mumadji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,

(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2001), hal. 1.

46

(41)

penelitian ini bersifat kualitatif.47 Alasan penggunaan penelitian yuridis normatif

yang bersifat kualitatif ini didasarkan pada paradigma hubungan yang dinamis antara

teori, konsep-konsep, dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang

tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan.48

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

yang meliputi:

a. Bahan hukum primer, yaitu UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga

atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara

Perpajakan (UU KUP) dan UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU PPTPPU).

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer, seperti buku-buku, makalah hasil-hasil

seminar atau pertemuan ilmiah lainnya, majalah, jurnal ilmiah, artikel,

artikel bebas dari internet, surat kabar, bahkan dokumen pribadi dan

pendapat dari kalangan pakar hukum yang relevan dengan objek telaahan

dalam penelitian ini.49

47

Bismar Nasution, ”Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum”,

Makalah, disampaikan pada dialog interaktif tentang Penelitian Hukum dan Hasil Penulisan Hukum pada Majalah Akreditasi, Fakultas Hukum USU, Tanggal 18 Februari 2003, hal. 1.

48

Ibid., hal. 38.

49

(42)

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum penunjang yang memberi petunjuk

dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder,

seperti ensiklopedia dan kamus umum sepanjang memuat informasi yang

relevan dengan penelitian ini.50

3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi dokumen-dokumen yang

relevan dengan penelitian ini di perpustakaan (library research) dan melakukan

identifikasi data yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan dan pencucian uang.

Data yang diperoleh melalui studi kepustakaan selanjutnya akan ditafsirkan atau

diinterpretasikan untuk memperoleh kesesuaian penerapan peraturan dihubungkan

dengan permasalahan yang sedang diteliti dan disistematiskan sehingga menghasilkan

klasifikasi yang selaras dengan permasalahan dalam penelitian ini.51

4. Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kualitatif yaitu penafsiran dan penerapan

hukum atau interpretasi pasal-pasal terpenting dalam UU KUP dan UU PPTPPU yang

relevan dengan permasalahan. Kemudian membuat klasifikasi dari data sehingga

50

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op. cit., hal. 14-15.

51

Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (Suatu Pengantar), (Jakarta: PT. Raja

(43)

akan menghasilkan klasifikasi tertentu sesuai dengan permasalahan yang dibahas

dalam penelitian ini. Data yang dianalisis akan dikemukakan dalam bentuk uraian

secara deduktif hingga sampai pada kesimpulan secara sistematis sehingga pokok

(44)

BAB II

PENGATURAN TINDAK PIDANA PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

A. Tindak Pidana Pajak

3. Pengertian Pajak

Terdapat berbagai perbedaan penafsiran tentang pengertian pajak.52

Para ahli di bidang perpajakan memberikan pengertian pajak yang

berbeda-beda namun perberbeda-bedaan itu tidak terlalu prinsipal dan tidak mengaburkan makna yang Secara

umum pajak diartikan sebagai pungutan yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan

peraturan perundang-undangan untuk selanjutnya digunakan dalam hal pembiayaan

pengeluaran umum pemerintah yang balas jasanya tidak secara langsung diberikan

kepada pembayarnya (Wajib Pajak) dan pelaksanaannya dapat dipaksakan. Balas jasa

dalam hal ini diberikan kepada seluruh masyarakat seperti pemeliharaan keamanan

dan ketertiban umum, pembangunan sarana-sarana umum masyarakat, dan

sebagainya.

52 Zainul Pelly,

Pengantar Hukum Pajak, (Medan: Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1994), hal. 1. Chairuddin Syah Nasution, “Penerimaan

Pajak Penghasilan (PPh) di Indonesia Periode 1990-2000”, Artikel dalam Jurnal Kajian Ekonomi Dan

Keuangan, Vol. 7, No. 2 Juni 2003, hal. 63. Istilah pajak dalam Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa baku yang sudah menjadi bahasa rakyat yang berurat berakar dalam sehari-hari. Istilah pajak baru muncul pada abad XIX di Jawa pada saat pulau Jawa dikuasai Pemerintah Inggris tahun

1811-1814 yang pada waktu itu diadakan pungutan landrente oleh Thomas Stafford Rafflles. Penduduk

menamakan pembayaran landrente itu pajag atau duwit pajag atau pajag diartikan jumlah uang yang tetap pada setiap tahunnya harus dibayar dalam jumlah yang sama. Ada pula versi yang mengatakan istilah pajak itu bermula dari istilah bahasa Belanda yaitu pacht yang berarti sewa tanah yang harus

dibayar oleh penduduk pada zaman kolonial Belanda hingga rakyat terbiasa menyebutnya pajag.

(45)

terkandung di dalamnya. Beberapa sarjana memberikan pengertian pajak sebagai

berikut:53

a. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H. mengatakan: Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara (peralihan kekayaan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah), berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan imbalan (tegen prestatie) yang secara langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.

b. Drs. B. Boediono mengatakan: Pajak adalah suatu iuran penduduk (rakyat) kepada negara yang berdasarkan undang-undang dapat dipaksakan dimana pembayarannya tidak mendapat imbalan secara langsung yang ditunjuk oleh negara yang gunanya untuk membiayai pengeluaran umum berhubung tugas negara harus menyelenggarakan pemerintahan.

c. Prof. Dr. P.J.A. Adriani mengatakan: Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak mendapatkan prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk pembiayaan pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Soeparman Soemahamidjaja mendefinisikan pajak adalah iuran wajib berupa

uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum

guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai

kesejahteraan umum.54

Tampak dari beberapa pengertian pajak di atas penting dipahami bahwa pajak

merupakan iuran rakyat kepada negara. Maksud iuran di sini adalah suatu kewajiban

rakyat untuk mengalihkan kekayaannya ke dalam kas negara untuk membiayai

pengeluaran-pengeluaran umum, seperti biaya pengeluaran rutin dan biaya

pembangunan. Pengeluaran rutin dimaksud termasuk pengeluaran negara berupa

53

Ibid, hal. 25-26.

54

Muahmmad Djaja Sadli, Pembaharuan Hukum Pajak, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,

(46)

pembiayaan sehari-hari atau pengeluaran rumah tangga negara seperti administrasi

penggajian para pegawai pemerintah. Termasuk biaya pembangunan misalnya

pengeluaran negara yang khusus ditujukan untuk pembayaran pembangunan negara

seperti pembuatan jalan-jalan raya, irigasi, rumah sekolah, puskesmas, dan lain-lain.

Pajak tidak dapat ditunjuk kontra prestasi langsung secara indvidual. Kontra

prestasi yang dimaksud di sini bahwa seseorang Wajib Pajak yang telah membayar

pajak, tidak dapat ditunjuk kontra prestasi tertentu kepadanya atau imbalannya tidak

secara langsung diberikan kepada mereka yang membayar pajak melainkan

disampaikan secara umum, sehingga orang yang tidak membayar pajak juga

menikmati hasil pembayaran tersebut.55

Pajak dapat pula dipaksakan dalam artian bahwa apabila hutang-hutang pajak

tidak dibayar oleh Wajib Pajak, maka hutang pajak tersebut dapat ditagih dengan

menggunakan paksaan dan sita. Mengenai hal “paksaan” ini Soeparman

Soemahamidjaja mengatakan terlalu berlebihan kiranya kalau kasus mengenai pajak

ditekankan pentingnya “paksaan” itu, seakan-akan tidak ada kesadaran masyarakat

untuk melakukan kewajibannya oleh sebabnya lebih tepat hanya cukup dikatakannya

saja bahwa pajak adalah “iuran wajib” tidak perlu diberi tambahan yang

dipaksakan.56

55

Ibid.

Pajak pada hakikatnya dipungut dengan bantuan dan kerja sama dengan

Wajib Pajak berdasarkan kesadaran sehingga unsur “paksaan” dapat dihindari.

56

(47)

Pasal 1 angka 1 UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.6

Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menegaskan pula

adanya paksaan demikian: “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang

oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan

negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

bersifat memaksa berdasarkan undang-undang. Hal ini dapat dipahami bahwa dalam

memungut pajak dapat dipaksakan apabila terjadi penunggakan oleh Wajib Pajak namun

paksaan dimaksud di sini diperhalus dalam UU No.19 Tahun 2000 tentang Penagihan

Pajak dengan Surat Paksa yaitu dengan mempergunakan surat perintah membayar utang

pajak dan biaya penagihan pajak.57

Surat Paksa berkepala kata-kata “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang

Maha Esa” menurut Pasal 7 angka 1 UU No.19 Tahun 2000 mempunyai kekuatan

eksekutorial dan kedudukan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah

mempunyai kekuatan hukum tetap. Surat Paksa yang memberikan kekuatan eksekutorial dan

memberi kedudukan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memiliki

kekuatan hukum tetap dimaksudkan bertujuan agar tercapai efektivitas dan efisiensi

penagihan pajak. Kedudukannya sama dengan grosse akte yaitu putusan pengadilan perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dengan demikian, Surat Paksa langsung dapat

dilaksanakan tanpa bantuan putusan pengadilan lagi dan tidak dapat diajukan banding.

57

(48)

Berdasarkan pengertian-pengertian pajak yang disebutkan di atas, dapat

dipahami bahwa unsur-unsur pajak adalah:

a. Iuran rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak adalah negara dan

iuran tersebut berupa uang (bukan barang atau jasa);

b. Ketentuan pajak berdasarkan undang-undang yang dibuat oleh penyelenggara

negara dan pemerintahan;

c. Tanpa jasa timbal balik dan kontra prestasi dari negara atau yang secara

langsung dapat ditunjuk; dan

d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara yaitu pembiayaan negara

yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Secara umum jenis-jenis pajak yang tersebar dalam peraturan

perundang-undangan perpajakan dapat dibagi menjadi:

a. Pajak Penghasilan (PPh);

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN);

c. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM);

d. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan

e. Pajak Lainnya.

Menurut Prabowo berdasarkan penerimaannya pajak dibedakan menjadi pajak

langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung adalah pajak yang harus dipikul

sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang

lain, contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...