• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Ampas Sisa Jagung Pipilan Sebagai Bahan Produk Serat Pangan Tidak Larut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Ampas Sisa Jagung Pipilan Sebagai Bahan Produk Serat Pangan Tidak Larut"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PEMANFAATAN AMPAS SISA JAGUNG PIPILAN SEBAGAI BAHAN

PRODUK SERAT PANGAN TIDAK LARUT

OLEH: YA’QUB ALFIN NIM : 040804030

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PEMANFAATAN AMPAS SISA JAGUNG PIPILAN SEBAGAI BAHAN

PRODUK SERAT PANGAN TIDAK LARUT

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH:

NIM : YA’QUB ALFIN NIM : 040804030

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

PEMANFAATAN AMPAS SISA JAGUNG PIPILAN SEBAGAI BAHAN

PRODUK SERAT PANGAN TIDAK LARUT

OLEH: YA’QUB ALFIN NIM : 040804030

Dipertahankan dihadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Pada tanggal: Mei 2009

Pembimbing I, Panitia Penguji,

Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt Dr. Ginda Haro, M. Sc.,Apt. NIP : 130535837 NIP: 131872282

Pembimbing II,

Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt. NIP : 130535837

Drs. Syahrial Yoenoes, SU., Apt.

NIP : 131286001 Drs.Maralaut Batubara, M.Phill., Apt. NIP: 130535839

Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. NIP: 131126695

Dekan,

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan penulis

kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Terima

kasih tidak terhingga kepadah Ayahnda Muhammad Ramlan, Ibunda Hj. Mardiah Lubis,

Kakanda Yasir Arfan dan Adinda Mukhlis Trinop Saputra yang memberikan do’a dan dorongan

demi suksesnya penulis.

Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Siti

Morin Sinaga, M.Sc., Apt. dan Bapak Drs. Syahrial Yoenoes, SU, Apt. selaku dosen

pembimbing yang telah memberikan waktu dan nasehat selama melakukan penelitian hingga

selesainya penyusunan skripsi ini. Kemudian terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dekan beserta staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Kasmirul Ramlan, M.Si, Apt., selaku penasehat akademik yang telah

memperhatikan dan membimbing penulis selama masa perkuliahan.

3. Bapak Dr. Ginda Haro, M. Sc.,Apt., Bapak Drs. Maralaut Batubara, M.Phill., Apt. dan

Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si, Apt.,selaku dosen penguji yang telah memberikan kritikan

dan saran kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Kakak, Abang dan Adik-adik di Fakultas Farmasi, serta teman-teman se-angkatan

Farmasi angkatan 2004.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis

dengan segala kerendahan hati bersedia menerima kritikan dan saran yang membangun

dari kesempurnaan skripsi ini.

Medan, Mei 2009

(5)

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian, pemanfaatan ampas sisa jagung pipilan sebagai bahan produk

serat pangan. Produk serat pangan yang dibuat berupa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan

penambahan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 g, 400 g dan 500 g. Dilakukan penetapan

kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa jagung pipilan

dengan metode analisis Neutral Detergen Fiber (NDF) serta uji organoleptik rasa kerupuk

kerupuk ampas sisa jagung pipilan yang disajikan kepada panelis.

Hasil penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas

sisa jagung pipilan dengan metode analisis NDF diperoleh: dalam ampas sisa jagung pipilan

kadar serat tak larut sebanyak 18,2736%<μ<19,0724%, kerupuk ampas sisa jagung pipilan 200 g

,400 g dan 500 g berturut-turut sebanyak 5,1979%<μ<5,9109%, 7,6901%<μ<7,8473% dan

8,6910%<μ<8,7806%.

Perlakuan terhadap nilai kesukaan rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan menunjukkan nilai

kesukaan yang paling tinggi terdapat pada produk I, dari hasil penilaian dengan sekala hedonik

yang menunjukkan rataan tertinggi yaitu 3,60 ini disukai oleh panelis dibandingkan produk II

dan III. Hasil analisis statistik dari data uji organoleptik dengan menggunakan analisis sidik

ragam pada taraf α 0,05 dimana nilai F hitung = 2,80 lebih kecil dari F tabel = 3,07 , di dapati

tidak ada perbedaan yang berpengaruh secara nyata terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung

pipilan dengan penambahan berbagai variasi ampas sisa jagung pipilan.

Ditinjau dari hasil penelitian diatas ampas sisa jagung pipilan dapat dimanfaatkan sebagai

(6)

ABSTRACK

A research is already done about the use of shelled corn waste as material for fiber food

product. The food fiber product made is shelled corn waste chip by addition of 200 g (product I),

400 g (product II) and 500 g (product III) shelled corn waste. Determination of insoluble fiber

concentration is made in shelled corn waste and shelled corn waste chip by Neutral Detergent

Fiber (NDF) method analysis also organoleptic test on taste of shelled corn waste chips presented

to writer.

The result indicated that concentration of insoluble fiber in shelled corn waste and shelled

corn waste chip with method of NDF analysis : grained, insoluble fiber shelled corn waste of

concentration 18,2736% < μ < 19,0724%, shelled corn waste chip 200 g, 400 g and 500 g

respectively 5,1979% < μ < 5,9109%, 7,6901% < μ < 7,8473% dan 8,6910% < μ < 8,7806%.

The treatment on shelled corn waste chips preference indicated the highest preference value

is found in product I, from the result of evaluation by hedonic scale indicating highest average is

3,60 , this is liked by writer compared with product II and III. The result of statistical analysis of

α 0,05 in which the F-count= 2,80smaller than F tabel = 3,07. This means that there is no

significant differrence on taste of mustard chips by addition of several variations of shelled corn

waste from writer evaluation.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Hipotesis ... 4

1.4 Tujuan Penelitian ... 5

1.5 Manfaat Penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... ... 6

2.1 Karbohidrat... 6

2.2 Polisakarida ... 6

2.3 Serat Makanan ... 7

2.4 Komponen Serat Makanan ... 8

2.5 Peranan Serat Makanan Bagi Tubuh ... 10

(8)

Halaman

2.7 Analisis Serat Pangan ... 13

2.7.1 Metode Analisi Serat Kasar (crude fiber) ... 13

2.7.2 Metode Deterjen ... 13

2.7.3 Metode Enzimatis ... 14

2.7.4 Metode Englyst ... 14

2.8 Penilaian Organoleptik ... 14

2.8.1 Panel... 15

2.8.2 Seleksi Panel Hedonik ... 17

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 18

2.1 Alat-alat ... 18

2.2 Bahan Pereaksi ... 18

2.3 Pembuatan Larutan Pereaksi Neutral Detergent Fiber (NDF) .... 18

2.4 Lokasi Pengambilan Sampel ... 19

2.5 Pembutan Ampas Sisa Jagung Pipilan ... 19

2.6 Pembuatan Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan... 19

2.7 Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan ... 20

2.8 Penetapan Kadar Serat tak Larut Dalam Kerupuk Ampas Sisa Jagung pipilan... 21

2.9 Pengorengan Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan... 21

(9)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

3.1 Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan Dan Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan Dengan Metode Analisis NDF ... 23

3.2 Hasil Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan ... 23

3.3 Hasil Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan ... 24

3.4 Hasil Uji Organoleptik ... 25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 26

4.1 Kesimpulan ... 26

4.2 Saran ... 26

DAFTAR PUSTAKA ... 28

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan ... 32

Tabel 2. Data penimbangan ampas sisa jagung pipilan ... 32

Tabel 3. Data penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan ... 32

Tabel 4. Data penimbangan kerupuk ampas sisa jagung pipilan 20% ... 34

Tabel 5. Data penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk ampas sisa jagung pipilan 20% ... 34

Tabel 6. Data penimbangan kerupuk ampas sisa jagung pipilan 40% ... 36

Tabel 7. Data penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk ampas sisa jagung pipilan 40% ... 36

Tabel 8. Data penimbangan kerupuk ampas sisa jagung pipilan 50% ... 36

Tabel 10.Hasil Uji Organoleptik ... 53

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Histogram nilai kesukaan rasa

kerupuk ampas sisa jagung pipilan ... 25

Gambar 2. Ruangan uji organoleptik ... 51

Gambar 3. Penyajian uji organoleptik. ... 51

Gambar 4. Panelis sedang memberikan penilaian

(12)

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian, pemanfaatan ampas sisa jagung pipilan sebagai bahan produk

serat pangan. Produk serat pangan yang dibuat berupa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan

penambahan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 g, 400 g dan 500 g. Dilakukan penetapan

kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa jagung pipilan

dengan metode analisis Neutral Detergen Fiber (NDF) serta uji organoleptik rasa kerupuk

kerupuk ampas sisa jagung pipilan yang disajikan kepada panelis.

Hasil penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas

sisa jagung pipilan dengan metode analisis NDF diperoleh: dalam ampas sisa jagung pipilan

kadar serat tak larut sebanyak 18,2736%<μ<19,0724%, kerupuk ampas sisa jagung pipilan 200 g

,400 g dan 500 g berturut-turut sebanyak 5,1979%<μ<5,9109%, 7,6901%<μ<7,8473% dan

8,6910%<μ<8,7806%.

Perlakuan terhadap nilai kesukaan rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan menunjukkan nilai

kesukaan yang paling tinggi terdapat pada produk I, dari hasil penilaian dengan sekala hedonik

yang menunjukkan rataan tertinggi yaitu 3,60 ini disukai oleh panelis dibandingkan produk II

dan III. Hasil analisis statistik dari data uji organoleptik dengan menggunakan analisis sidik

ragam pada taraf α 0,05 dimana nilai F hitung = 2,80 lebih kecil dari F tabel = 3,07 , di dapati

tidak ada perbedaan yang berpengaruh secara nyata terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung

pipilan dengan penambahan berbagai variasi ampas sisa jagung pipilan.

Ditinjau dari hasil penelitian diatas ampas sisa jagung pipilan dapat dimanfaatkan sebagai

(13)

ABSTRACK

A research is already done about the use of shelled corn waste as material for fiber food

product. The food fiber product made is shelled corn waste chip by addition of 200 g (product I),

400 g (product II) and 500 g (product III) shelled corn waste. Determination of insoluble fiber

concentration is made in shelled corn waste and shelled corn waste chip by Neutral Detergent

Fiber (NDF) method analysis also organoleptic test on taste of shelled corn waste chips presented

to writer.

The result indicated that concentration of insoluble fiber in shelled corn waste and shelled

corn waste chip with method of NDF analysis : grained, insoluble fiber shelled corn waste of

concentration 18,2736% < μ < 19,0724%, shelled corn waste chip 200 g, 400 g and 500 g

respectively 5,1979% < μ < 5,9109%, 7,6901% < μ < 7,8473% dan 8,6910% < μ < 8,7806%.

The treatment on shelled corn waste chips preference indicated the highest preference value

is found in product I, from the result of evaluation by hedonic scale indicating highest average is

3,60 , this is liked by writer compared with product II and III. The result of statistical analysis of

α 0,05 in which the F-count= 2,80smaller than F tabel = 3,07. This means that there is no

significant differrence on taste of mustard chips by addition of several variations of shelled corn

waste from writer evaluation.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sesuai dengan trend global, saat ini banyak produk pangan yang berlabel kesehatan.

Salah satu produk pangan kesehatan yang muncul di pasaran adalah makanan yang mengandung

serat, dalam ilmu pangan dikenal sebagai dietary fibre. Salah satu pesan yang muncul dalam

produk pangan berserat adalah kemampuannya untuk mengurangi kesulitan buang air besar

(constipation).

Serat pangan adalah bagian dari makanan yang tidak dapat dicerna oleh enzim

pencernaan manusia, sehingga tidak digolongkan sebagai sumber zat gizi. Serat pangan meliputi

selulosa, hemiselulosa, pelitin, gum dan lignin. Meskipun tidak dapat dicerna oleh enzim

pencernaan, tetapi bakteri flora saluran pencernaan terutama dalam kolon, dapat merombak serat

tersebut. Sumber utama serat pangan adalah sayuran dan buah-buahan, serta biji-bijian dan

kacang-kacangan. Jumlah serat pangan yang harus dikonsumsi oleh orang dewasa adalah 20 – 35

g/hari.

Berdasarkan sifat fisik-kimia dan manfaat nutrisinya, serat dalam makanan dapat

dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu larut (soluble) dan tak larut (insoluble) dalam air. Serat

larut terdiri dari: pektin, gum, dan alga. Serat tak larut terdiri dari: selulosa, hemiselulosa dan

lignin. Selain sifat fisik-kimia yang khas sehingga secara teknologi amat menarik bagi industri

pangan untuk mengembangkan jenis dan bentuk produk pangan baru. Selain itu terbuka peluang

pemanfaatan produk maupun limbah pertanian berserat sebagai bahan pangan.

(15)

Pemanfaatan limbah tongkol jagung pipilan masih sangat terbatas. Kebanyakan limbah tongkol

jagung pipilan hanya digunakan untuk bahan tambahan makanan ternak, dan sebagai pengganti

kayu bakar. Dilihat dari kandungan tongkol jagung pipilan merupakan bahan yang berpotensi

untuk dikembangkan menjadi sumber bahan serat pangan. Hal ini dikarenakan tongkol jagung

pipilan banyak mengandung senyawa jenis selulosa. Komponen tongkol jagung pipilan terdiri

dari air 7,68 %, serat kasar 38,99%, selulosa 19,49%, hemiselulosa 12,4%, lignin 9,1% (Richana

dkk. 2004). Melihat komposisi selulosa dan hemiselulosa yang cukup besar seperti yang tertera

di atas, tongkol jagung pipilan sangat potensial untuk dimanfaatkan menjadi sumber bahan serat

pangan yang dapat diolah kembali untuk dibuat menjadi produk serat misalnya sebagai bahan

tambahan dalam pembuatan kerupuk berserat.

Kerupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan

perasa seperti udang atau ikan. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sebelum dipotong

tipis-tipis, dikeringkan dibawah sinar matahari dan digoreng dengan minyak goreng. Kerupuk

bertekstur garing dan sering dijadikan pelengkap untuk berbagai makanan Indonesia seperti nasi

goreng, gado-gado dan juga makanan ringan yang sangat digemari sebagai cemilan dalam

menemani waktu luang maupun lauk makanan sehari-hari. Namun tidak semua kerupuk mampu

memenuhi kebutuhan nutrisi yang seimbang didalam tubuh. Oleh sebab itu kerupuk dapat

dimanfaatkan sebagai produk alternatif makanan berserat dengan penambahan bahan serat

pangan sebagai tambahan nutrisi.

Beberapa metode analisis serat yaitu metode serat kasar (crude fiber), metode deterjen

Acid Detergent Fiber (ADF) dan Neutral Detergen Fiber (NDF), metode enzimatis (Joseph,

2002). Dalam hal ini peneliti memilih metode analisis NDF, karena analisis NDF lebih

(16)

Pada metode analisis ADF hanya diperoleh komponen serat selulosa dan lignin, sedangkan NDF

diperoleh selulosa, hemiselulosa dan lignin (Birch,1987).

Nurlidia (2003) telah melakukan penelitian penetapan kadar serat tak larut pada beberapa

sayuran dan suplemen serat dengan metode analisis NDF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

kadar serat tak larut dari sayur-sayuran yaitu: Daun ubi kayu, Kacang panjang, Pakis, Kangkung

dan Bayam berturut-turut, 2,4526% < µ < 3,4192%, 2,1920% < µ < 2,5846%, 2,2566% < µ <

2,6846%, 1,7954% < µ < 1,8246%, dan 1,2364% < µ < 1,4494%. Kadar serat yang diperoleh

dari suplemen serat yaitu: Vegeta, Slimmy dan Fiber berturut-turut, 39,4539% < µ < 64,3305%,

24,4100% < µ < 3,8749% dan 16,9478% < µ < 21,3516%.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut :

1. Apakah ampas sisa jagung pipilan dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat pangan

dalam bahan pembuatan kerupuk

2. Apakah penambahan ampas sisa jagung pipilan dengan berbagai variasi berpengaruh

terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dari penilaian panelis

3. Berapakah kadar serat tak larut pada ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa

jagung pipilan dengan berbagai variasi.

4. Apakah panelis suka mengkonsumsi kerupuk yang ditambah dengan penambahan ampas

(17)

1.3 Hipotesis

Dalam penelitian ini diduga bahwa :

1. Ampas sisa jagung pipilan dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat pangan dalam bahan

pembuatan kerupuk

2. Penambahan ampas sisa jagung pipilan dengan berbagai variasi dalam kerupuk ampas

sisa jagung pipilan tidak memberikan pengaruh rasa dari penilaian panelis

3. Terdapat serat tak larut pada ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa jagung

pipilan dengan berbagai variasi

4. Panelis suka mengkonsumsi kerupuk ampas sisa jagung pipilan sebagai sumber serat

pangan

1.4Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk memanfaatkan ampas sisa jagung pipilan sebagai sumber serat pangan dalam

bahan pembuatan kerupuk

2. Untuk mengamati pengaruh penambahan ampas sisa jagung pipilan dengan berbagai

variasi terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dari penilaian panelis

3. Untuk mengetahui kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk

ampas sisa jagung pipilan dengan berbagai variasi

4. Untuk mengetahui, apakah panelis suka mengkonsumsi kerupuk ampas sisa jagung

(18)

1.5 Manfaat Penelitian

1. Pemanfaatan ampas sisa jagung pipilan sebagai sumber serat pangan

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karbohidrat

Susunan kimia karbohidrat terdiri dari atom karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O).

Tanaman merupakan sumber karbohidrat yang utama, melalui proses fotosintesis senyawa air

dari tanah dan karbon dioksida dari udara bereaksi dengan sinar matahari dan pigmen klorofil

menghasilkan glukosa dan oksigen. Energi yang terbentuk disimpan dalam daun, batang, akar,

biji, maupun buah yang akan dilepaskan melalui proses oksidasi makanan dalam tubuh

(Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007).

Karbohidrat diklasifikasikan sebagai monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan

polisakarida. Monosakarida (gula sederhana) tidak dapat dihidrolisa untuk menjadi bentuk yang

lebih sederhana. Disakarida dapat dihidrolisa dan memberikan dua molekul monosakarida.

Oligosakarida menghasilkan 3 sampai 10 unit monosakarida. Polisakarida menghasilkan lebih

dari 10 sampai 10.000 unit lebih (Piliang dan Djojosoebagio, 1996).

2.2 Polisakarida

Beberapa polisakarida utama, pati, dekstrin, selulosa dan glikogen adalah merupakan kumpulan unit-unit glukosa. Daya kelarutan polisakarida lebih rendah daripada monosakarida,

tapi lebih stabil dari monosakarida. Pati dan glikogen dapat dicerna sempurna, tetapi beberapa

polisakarida lain tidak dapat dicerna dengan sempurna (Piliang dan Djojosoebagio, 1996).

Klasifikasi polisakarida berdasarkan jenis monosakarida pembentuknya :

a. Homopolisakarida yaitu golongan polisakarida yang apabila dihidrolisa hanya

(20)

b. Heteropolisakarida yaitu golongan polisakarida yang apabila dihidrolisa menghasilkan

lebih dari satu macam jenis monosakarida atau turunannya.

(Iswari S, Retno, 2006)

2.3 Serat Pangan

Serat pangan merupakan salah satu komponen penting makanan yang sebaiknya ada dalam susunan diet sehari-hari. Serat telah diketahui mempunyai banyak manfaat bagi tubuh

terutama dalam mencegah berbagai penyakit, meskipun komponen ini belum dimasukkan

sebagai zat gizi (Piliang dan Djojosoebagio, 1996).

Serat pangan dapat didefinisikan sebagai seluruh komponen makanan yang tidak rusak

oleh enzim pencernaan manusia (Pomeranz and Meloan, 1987). Defenisi terbaru serat makanan

yang disampaikan oleh the American Assosiation of Ceral Chemist adalah merupakan bagian

yang dapat dimakan dari tanaman atau kabohidrat analog yang resisten terhadap pencernaan dan

absorpsi pada husus halus dengan fermentasi lengkap atau partial pada usus besar (Joseph,

2002).

Saat ini di masyarakat terutama yang di perkotaan terjadi pergeseran pola konsumsi

pangan, yaitu cenderung memakan makanan jadi dan siap saji, disamping miskin serat,

umumnya mempunyai kandungaan lemak dan protein tinggi (Sulistijani, 2001). Kurangnya

asupan serat dalam waktu lama menyebabkan resiko terserang penyakit degeneratif seperti

kanker kolon, diabetes melitus dan jantung koroner. Kanker kolon yang selama ini menjadi

masalah kesehatan di negara Barat ternyata termasuk kasus kanker yang terbanyak juga di

Indonesia. Risiko kanker ini dapat diturunkan dengan meningkatkan asupan serat, terutama serat

(21)

Hasil penelitian menunjukan bahwa serat yang larut dapat menurunkan kadar kolestrol

darah, sedangkan serat yang tidak larut hanya sedikit berpengaruh. Hal ini diduga karena serat

yang larut mengikat asam dan garam empedu sehingga reabsorpsinya dapat dicegah. Dengan

demikian, garam empedu dibuang dari sirkulasi usus-hati (entero-hepatic circulation) dan hanya

sedikit yang tersedia untuk absorpsi lipida di usus. Produk fermentasi serat pangan oleh

mikroflora di dalam kolon (Bifidobacteria), yang juga disebut probiotik, mungkin juga

berpengaruh terhadap metabolisme lipida (Silalahi, 2006).

2.4 Komponen Serat Pangan

Komponen serat pangan dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur molekul dan

kelarutannya. Serat makanan berdasarkan kelarutan terdiri atas serat larut dan serat tidak larut,

tergantung kelarutan komponen serat tersebut di dalam air atau larutan bufer. Contoh serat tak

larut, yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin, serat larut, yaitu pektin, gum, musilase, glukan dan

alga (Almatsier, 2001).

2.5 Serat Dalam Makanan

Serat dalam makanan (dietary fibre) bukanlah suatu kelompok bahan pangan yang

memiliki sifat kimia yang mirip. Meskipun umumnya tergolong karbohidrat yang komplek,

namun berdasarkan sifat kimiawi sebenarnya mereka sangat heterogen. Ada yang berasal dari

polisakarida penyusun dinding sel tumbuhan (struktural), yaitu selulosa, hemiselulosa dan

pektin. Adapula yang termasuk polisakarida nonstruktural, yaitu getah (secreted & reserve

gums). Kelompok lain adalah polisakarida asal rumput laut (agar, carrageenans & alginates).

Salah satu definisi yang paling banyak disepakati adalah “semua oligosakarida,

polisakarida dan derivatnya yang tak dapat diubah menjadi komponen terserap oleh ensim

(22)

Berdasarkan sifat fisik-kimia dan manfaat nutrisinya, serat dalam makanan dapat

dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu: larut (soluble) dan tak larut (insoluble) dalam air. Serat

yang soluble cenderung bercampur dengan air dengan membentuk jarigan gel (seperti agar-agar)

atau jariangan yang pekat. Sedangkan serat insoluble umumnya bersifat higroskopis: mampu

menahan air 20 kali dari beratnya. Serat yang berasal dari biji-bijian (cereals) umumnya bersifat

insoluble, sedangkan serat dari sayur, buah dan kacang-kacangan cenderung bersifat soluble.

Manfaat nutrisi merupakan salah satu manfaat serat dalam produk pangan, selain sifat

fisik-kimia yang khas sehingga secara teknologi sangat sesuai bagi industri pangan untuk

mengembangkan jenis dan bentuk produk pangan baru dan terbentuknya peluang pemanfaatan

produk maupun limbah pertanian berserat sebagai bahan pangan (Widianarko, 2000). Limbah

pertanian yang mengandung serat masih belum dimanfaatkan sebagai bahan serat pangan

diantaranya limbah yang dihasilkan dari usaha tani jagung yaitu tongkol jagung. Pemanfaatan

tongkol jagung masih sangat terbatas. Kebanyakan limbah tongkol jagung hanya digunakan

untuk bahan tambahan makanan ternak, dan sebagai pengganti kayu bakar.

Limbah jagung meliputi jerami dan tongkol. Penggunaan jerami jagung semakin populer

untuk makanan ternak, sedangkan untuk tongkol jagung belum ada pemanfaatan yang bernilai

ekonomi. Limbah jagung sebagian besar adalah bahan berlignoselulosa yang memiliki potensi

untuk pengembangan produk masa depan. Seringkali limbah yang tidak tertangani akan

menimbulkan pencemaran lingkungan. Pada dasarnya limbah tidak memiliki nilai ekonomi,

bahkan mungkin bernilai negatif karena memerlukan biaya penanganan.

Limbah lignoselulosa sebagai bahan organik memiliki potensi besar sebagai bahan baku

industri pangan, minuman, pakan, kertas, tekstil, dan kompos. Di samping itu, fraksinasi limbah

(23)

industri. Lignoselulosa terdiri atas tiga komponen fraksi serat, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan

lignin. Komponen tongkol jagung terdiri dari Air 7,68 %, Serat kasar 38,99%, Selulosa 19,49%,

Hemiselulosa 12,4%, Lignin 9,1% (Richana dkk. 2004).

2.6 Analisis Serat Pangan

Ada beberapa metode analisis serat makanan, yaitu metode analisis serat kasar (crude

fiber). Metode deterjen, metode enzimatis (Joseph, 2002) dan metode Englyst (Ferguson dan

Philip, 1999).

2.6.1. Metode Analisis Serat Kasar (Crude Fiber)

Serat kasar dari lignin dan selulosa, merupakan bahan yang tertinggal setelah bahan

makanan mengalami proses pemanasan dengan asam dan basa kuat selama 30 menit

berturut-turut dalam prosedur yang dilakukan dalam prosedur yang dilakukan dilaboratorium (Piliang dan

Djojosoebagio, 1996).

2.6.2. Metode Deterjen

Metode deterjen ini terdiri atas 2 yaitu Acid Detergent Fiber (ADF) dan Neutral

Detergent Fiber (NDF). Kedua metode ini hanya dapat menentukan kadar total serat yang tak

larut dalam larutan deterjen digunakan (Meloan and Pomeranz, 1987).

a. Acid Detergent Fiber (ADF)

ADF hanya dapat untuk menurunkan kadar total selulosa dan lignin. Metode ini

digunakan pada AOAC (Association of Offical Analytical chemist). Prosedurnya sama dengan

NDF, namun larutan yang digunakan adalah CTAB (Cetyl Trimethyl Amonium Bromida) dan

(24)

b. Neutral Detergent Fiber (NDF)

Dengan metode NDF dapat ditentukan kadar total dari selulosa, hemiselulosa dan lignin.

Selisih jumlah serat dari analisis NDF dan ADF dianggap jumlah kandungan hemiselulosa,

meski sebenarnya terdapat juga komponen-komponen lainnya (selain selulosa, hemiselulosa dan

lignin) pada metode deterjen ini (Meloan and Pomeranz, 1987).

2.6.3 Metode Enzimatis

Metode enzimatis dirancang berdasarkan kondisi fisiologi tubuh manusia. Metode yang

dikembangkan adalah fraksinasi enzimatis yaitu menggunakan enzim amilase, diikuti

penggunaan enzim pepsin, kemudian pankreatin. Metode ini dapat mengukur kadar serat makan

total, serat larut dan tak larut secara terpisah (Joseph, 2002). Kekurangan metode ini, enzim yang

digunakan mungkin mempunyai aktivitas lebih yang bisa saja merusak komponen serat.

Kemudian kemungkinan protein yang tidak terdegradasi sempurna dan ikut terhitung sebagai

serat (Meloan and Pomeranz, 1987).

2.6.4 Metode Englyst

Pada metode Englyst, serat makanan ditentukan sebagai polisakarida non pati dengan

menentukan bagian monosakarida penyusunnya. Tapi bukan hanya polisakarida sebagai

penyusun dinding sel tumbuh-tumbuhan. Kelemahan metode ini menetapkan kadar serat dengan

menggunakan kromatografi cair-gas, HPLC atau alat spektrofotometer (Ferguson dan Philip,

1999).

2.7 Penilaian Organoleptik

Penilaian dengan indera atau penilaian organoleptik atau pennilaian sensorik merupakan suatu cara penilaian yang paling primitif. Penilaian sensorik pada manusia adalah mulanya

(25)

Baru pada tahun 1950-an bidang seni ini mulai berkembang menjadi bidang ilmu. Penilaian

dengan indera menjadi ilmu setelah prosedur penilaian dibakukan dan dihubungkan dengan

penilaian secara objektitif (Soekarto, 1981).

2.7.1 Panel

Untuk melaksanakan suatu penilaian organoleptik diperlukan panel. Dalam penilaian mutu

atau analisa sifat-sifat sensorik suatu komoditi panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Alat

ini terdiri dari orang atau kelompok orang yang disebut panel yang bertugas menilai sifat atau

mutu benda berdasarkan kesan subjektif. Orang yang menjadi anggota panel disebut panelis.

Jadi, penilaian makanan secara panel berdasarkan kesan subjektif dari para panelis dengan

prosedur sensorik tertentu yang harus dituruti (Soekarto, 1981).

Pengunaan panel ini dapat dibedakan tergantung dari tujuan. Menurut Soekarto (1981)

terdapat 6 macam panel yang biasa digunakan dalam penelitian organoleptik yaitu :

a. Panel pencicip perorangan

Pencicip perorangan juga disebut pencicip tradisional digunakan dalam industri-industri

makanan seperti pencicip teh, kopi, anggur, es krim atau penguji bau pada industri minyak wangi

(parfum). Pencicip ini mempunyai kepekaan yang sangat tinggi jauh melebihi kepekaan rata-rata

manusia.

b. Panel pencicip terbatas

Untuk menghindari ketergantungan pada pencicip perorangan maka industri menggunakan

3-5 orang penilai yang mempunyai kepekaan tinggi yang disebut panel pencicip terbatas.

Biasanya panel ini diambil dari personal laboratorium yang sudah mempunyai pengalaman luas

akan komoditi tertentu.

(26)

Anggota panel ini lebih besar dari panel diatas yaitu 15-25 orang. Untuk menjadi panel ini

perlu diseleksi dan dipilih dan terlatih.

d. Panel tak terlatih

Jika panel terlatih biasanya untuk menguji perbedaan (difference test), maka panel tak

terlatih umumnya untuk menguji kesukaan (preference test). Anggota panel tak terlatih tidak

tetap.

e. Panel agak terlatih

Panelis dalam katagori ini mengetahui sifat-sifat sensorik dari contoh yang karena mendapat

penjelasan atau sekedar latihan. Tetapi latihan-latihan yang diterima tidak cukup intensif dan

tidak teratur, karena itu belum mencapai tingkat sebagai panel terlatih. Jumlah untuk panel agak

terlatih jumlahnya terletak di antara panelis terlatih dan tidak terlatih. Jumlah itu berkisar antara

15-25 orang. Makin kurang terlatih makin besar jumlah panelis yang diperlukan.

f. Panel konsumen

Panel ini biasanya mempunyai anggota yang besar jumlahnya, dari 30 sampai 1000 orang.

Pengujiannya biasanya mengenai uji kesukaan (preference test) dan dilakukan sebelum

pengujian pasar. Hasil uji kesukaan dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu jenis

makanan dapat diterima oleh masyarakat. Anggota panel konsumen dapat diambil dari sejumlah

orang yang ada dipasar atau dapat pula dilakukan dengan mendatangi rumah konsumen, dalam

hal kelompok pertama pengujian dapat diselenggarakan sekaligus, sedangkan dalam hal yang

kedua diselenggarakan dengan mendatangi rumah-rumah.

2.7.2 Seleksi Panelis Hedonik

(27)

tidak boleh dijadikan anggota panel hedonik. Jumlah panel hedonik makin besar semakin baik,

sebaiknya jumlah itu melebihi 30 orang. Jumlah lebih besar tentu menghasilkan kesimpulan yang

dapat diandalkan. Tetapi biaya penyelenggaraanya terlalu tinggi karena itu biasanya ada

kompromi antara jumlah anggota dan biaya penyelenggaraan.

Kriteria panelis (Soekarto, 1981):

1. Memiliki kepekaan dan konsistensi yang tinggi

2. Panelis yang digunakan adalah panelis tidak terlatih yang diambil secara acak. Jumlah

anggota penelis hedonik semakin besar semakin baik

3. Berbadan sehat

4. Tidak dalam keadaan tertekan

5. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang cara-cara penilaian organoleptik

2.7.3 Laboratorium Penilaian Organoleptik

Suatu laboratorium yang menggunakan manusia sebagai alat ukur berdasarkan

kemampuan pengindraanya, yang paling utama dalam laboratorium penilaian organoleptik

adalah ruang pencicipan, tempat para anggota panelis dapat melakukan penilaian. Kepada

panelis diberikan format evaluasi dimana ada banyak jenisnya. Salah satunya mempunyai kolom

untuk sampel dengan penilaian seperti sangat suka, agak suka, tidak suka, agak tidak suka dan

sangat tidak suka. Panelis memberi pendapat untuk setiap sampel dan dapat memberikan

komentar tambahan. Penilaian diberikan peringkat angka oleh pemimpin uji panel, seperti 5

untuk amat sangat suka menurun hingga 1 untuk tidak suka. Setelah semua format evaluasi

lengkap, pemimpin uji panel mentabulasikan dan merata-ratakan hasilnya. Skala peringkat angka

(28)

Contoh skala hedonik yang umum digunakan:

Skala hedonik Skala numerik

Amat sangat suka

Sangat suka

Suka

Agak suka

Tidak suka

5

4

3

2

(29)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan terdiri dari: labu alas bulat 500 ml, pendingin bola,

elektromantel, corong Buchner, vakum, statif dan klem, cawan porselen, kertas saring,

indikator universal, alat tanur (Philips Haris Ltd), desikator, oven, neraca analitis, mortir

dan stemper, dan alat-alat gelas laboratorium lainnya.

3.2 Bahan-bahan

Bahan pereaksi bila tidak dinyatakan lain adalah berkualiatas pro analisis (E.Merck), air suling, natrium lauril sulfat, dinatrium etilenadiaminatetraasetat, natrium borat

dekahidrat, dinatrium fosfat anhidrat, aseton dan 2-etoksietanol. Bahan pembuatan

kerupuk yang digunakan adalah tepung tapioka, tepung gandum, garam, penyedap rasa,

bawang putih dan terasi.

3.3 Pembuatan Larutan Pereaksi Neutral Detergent Fiber (NDF)

Sebanyak 18,61 gram dinatrium etilenadiaminatetraasetat dan 6,81 gram natrium

borat dekahidrat dimasukkan ke gelas beaker, ditambah air suling secukupnya hingga

larut, kemudian ditambahkan 30 gram natrium lauril sulfat dan 10 ml 2-etoksietanol

(larutan I). Sebanyak 4,56 gram dinatrium fosfat anhidrat dilarutkan dalam air suling

secukupnya hingga larut (larutan II). Campur larutan I dan II, hingga pH 7 diatur dengan

(30)

3.4 Lokasi Pengambilan Sampel

Sebagai sampel digunakan yaitu ampas sisa jagung pipilan yang dibuat dari tongkol jagung pipilan yang diambil dari Desa Namo Suro Baru, Dusun 3 Namo Pecawir,

Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang.

3.5 Pembuatan Ampas Sisa Jagung Pipilan

Tongkol jagung pipilan sebanyak 7 kg dicuci, kemudian dimasukkan kedalam

panci, ditambahkan air secukupnya dan direbus selama 20 menit sampai mendidih.

Setelah dingin bagian atas sisa dari jagung pipilan diambil dengan cara dikikis dan bagian

yang keras dari tongkol jagung dibuang. Kemudian dihaluskan. Lalu diperas untuk

mengurangi airnya dan diperoleh ampas sebanyak 1,4 kg.

3.6 Pembuatan Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan

Pembuatan kerupuk menggunakan 1 kg tepung tapioka, 200 gram tepung gandum, ditambahkan bumbu penyedap yang terdiri dari bawang putih, terasi, dan garam

secukupnya. Terakhir tambahkan air hingga adonan mengental. Kemudian ditambahkan

ampas sisa jagung pipilan dengan variasi 200 gram, 400 gram dan 500 gram. Kemudian

dimasukkan kedalam loyang dengan ukuran 30 x 20 cm, dikukus selama 20 menit sampai

bagian tengah adonan matang, kemudian dinginkan dan dipotong dengan ukuran 5 x 3

cm. Kerupuk ampas sisa jagung pipilan basah dijemur sampai kering di bawah sinar

matahari. Kerupuk yang sudah kering mudah dipatahkan.

(31)

3.7 Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan

Penentuan kadar serat tak larut dengan metode analisis NDF ini berdasarkan

Birch, 1987.

Ditimbang 15,0170 gram ampas sisa jagung pipilan dan dikeringkan dioven pada

suhu 50°C sampai berat konstan, didapat berat kering ampas sisa jagung pipilan sebanyak

3,4530 gram. Kemudian ditimbang seksama 0,5 gram ampas sisa jagung pipilan kering,

dimasukkan kedalam labu alas bulat 500 ml, ditambah pereaksi NDF sebanyak 100 ml.

Dipanaskan dengan elektromantel, menggunakan pendingin bola. Setelah mendidih

selama 5 menit, pemanasan dihentikan hingga busa habis. Kemudian dilakukan

pemanasan kembali selama 60 menit, terhitung sejak campuran mulai mendidih.

Campuran diaduk, kemudian disaring dengan corong Buchner. Residu dicuci dengan air

suling panas (80 - 90 °C) , Lalu dicuci dengan aseton, masing-masing. Hasil penyaringan

dikeringkan pada suhu 105 °C selama 9 jam, dinginkan dalam desikator lalu ditimbang

kembali. Pengeringan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W1). Hasil

penimbangan diabukan pada suhu 800 °C selama 3 jam. Didinginkan dalam desikator

lalu ditimbang. Pengabuan dilakukan lagi selama 1 jam, didinginkan dalam desikator lalu

ditimbang kembali. Pengabuan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W2 ).

Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan

(32)

3.8 Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan Penentuan kadar serat tak larut dengan metode analisis NDF ini berdasarkan

Birch, 1987.

Ditimbang seksama 0,5 gram kerupuk yang telah dihaluskan, dimasukkan kedalam

labu alas bulat 500 ml, ditambah pereaksi NDF sebanyak 100 ml. Dipanaskan dengan

elektromantel, menggunakan pendingin bola. Setelah mendidih selama 5 menit,

pemanasan dihentikan hingga busa habis. Kemudian dilakukan pemanasan kembali

selama 60 menit, terhitung sejak campuran mulai mendidih. Campuran diaduk, kemudian

disaring dengan corong Buchner. Residu dicuci dengan air suling panas (80 - 90 °C) ,

Lalu dicuci dengan aseton, masing-masing. Hasil penyaringan dikeringkan pada suhu 105

°C selama 9 jam, dinginkan dalam desikator lalu ditimbang kembali. Pengeringan ulang

ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W1). Hasil penimbangan diabukan pada

suhu 800 °C selama 3 jam. Didinginkan dalam desikator lalu ditimbang. Pengabuan

dilakukan lagi selama 1 jam, didinginkan dalam desikator lalu ditimbang kembali.

Pengabuan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W2 ).

Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk ampas sisa jagung

pipilan dapat dilihat pada Lampiran 5 halaman 33

3.9 Pengorengan Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan

Kerupuk ampas sisa jagung pipilan digoreng dengan minyak panas, sambil

(33)

3.10 Uji Organoleptik

Uji organoleptik dilakukan dengan metode hedonik (Soekarto, 1981), yaitu analisis

menurut uji kesukaan terhadap rasa. Panelis diharapkan dapat mengemukakan penilaian

suka atau tingkat kesukaan.

Kriteria panelis :

1. Panelis yang digunakan adalah panelis konsumen yang diambil secara acak dengan

jumlah anggota penelis seluruhnya 40 orang

2. Tidak dalam keadaan sakit (dilihat bahwa panelis tidak sedang demam, flu dan batuk).

3. Panelis yang digunakan adalah mahasiswa.

Langkah-langkah uji organoleptik:

1. Pengujian dilakukan didalan ruangan yang bersih

Gambar ruangan uji organoleptik dapat dilihat pada Lampiran 13 gambar 3

halaman 50

2. Kerupuk yang sudah digoreng, masing-masing diberi kode produk I, II dan III

dengan variasi ampas sisa jagung pipilan berturut-turut 200 gram, 400 gram dan

500 gram.

3. Kepada panelis disajikan kerupuk untuk dicicipi, air putih dan formulir

pertanyaan. Sebelumnya panelis diberikan penjelasan singkat mengenai produk

yang diperiksa dan cara penilaian

Formulir pertanyaan dan gambar penyajian dapat dilihat pada Lampiran 12 dan 13

halaman 49 dan 50.

(34)

Penjelasan yang diberikan kepada panelis:

i. Produk yang diperiksa adalah kerupuk ampas sisa jagung pipilan

ii. Setiap melakuakan pencicipan panelis dianjurkan untuk minum, agar panelis

dapat menilai secara objektif terhadap setiap produk

iii. Setelah panelis selesai mencicipi produk yang diperiksa, panelis diminta untuk

memberi penilaian berdasarkan tingkat kesukaan sesuai dengan penilaian

mereka masing-masing. Gambar panelis sedang memberikan penilaian

terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dapat dilihat pada Lampiran

13 gambar 4 halaman 50

4. Untuk penganalisaan, skala hedonik ditarnsformasi menjadi skala numerik dengan

angka menaik sesuai tingkat kesukaan. Dengan data numerik dilakukan analisa

satistik

5. Skala hedonik dan skala numerik yang digunakan sebagai berikut:

Skala hedonik Skala numerik

Amat sangat suka

Sangat suka

Suka

Agak suka

Tidak suka

5

4

3

2

(35)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan Dan Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan Dengan Metode Analisis NDF

Penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan, suhu yang

digunakan untuk pengeringan ampas sisa jagung pipilan menggunakan oven adalah 50°C.

Ini merupakan suhu maksimal yang bisa digunakan karena protein dan kabohidrat dapat

membentuk komponen tak larut pada suhu yang lebih tinggi (Mertens, 1992). Sampel

terlebih dahulu dihaluskan untuk memperbesar interaksi partikel sampel dengan larutan

NDF. Dalam mengerjakan tiap sampel, waktu refluks benar-benar harus diperhatikan,

yaitu 1 jam sejak mulai mendidih. Bertambahnya waktu refluks akan mengurangi jumlah

serat (Mertens, 1992).

Penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk ampas sisa jagung pipilan, kerupuk

menjadi gel ketika penyaringan, karena itu pencucian residu serat dengan air suling panas

menggunakan volume air suling yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama untuk

menghasilkan ekstraksi komponen larut yang lebih sempurna. Volume air suling panas

adalah 400 ml. Begitu pula halnya pencucian dengan aseton yang berguna untuk

menghilangkan sisa lemak pada residu serat adalah 50 ml aseton tiap pencucian. Aseton

juga digunakan untuk membilas kertas saring. Residu serat dan kertas saring harus

benar-benar bersih dari larutan NDF karena jika tidak, sisa larutan akan melekat pada residu

serat dan kertas saring. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada residu serat dan kertas

(36)

mengurangi berat dan dengan demikian akan mempengaruhi kadar serat yang diperoleh

(Mertens, 1992).

Menurut Birch (1987), suhu yang digunakan untuk pengabuan adalah 550° C

selama 3 jam. Kertas saring yang digunakan harus tidak bersisa agar tidak terikut dalam

penetapan kadar. Ternyata pada suhu 550° C selama 3 jam, kertas saring yang digunakan

masih meninggalkan sisa, padahal seharusnya pada suhu tersebut kertas saring telah habis

karena terbuat dari senyawa selulosa. Ternyata dari percobaan, kertas saring baru habis

tak bersisa setelah pengabuan pada suhu 800° C selama 3 jam.

4.2 Hasil Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Ampas Sisa Jagung Pipilan Dari penetapan kadar serat tak larut pada ampas sisa jagung pipilan diperoleh:

18,2736 % < μ < 19,0724 %. Menurut Richana dkk. 2004, komponen tongkol jagung

terdiri dari: selulosa 19,49%, hemiselulosa 12,4% dan lignin 9,1%. Dapat dikatakan

keduanya sesuai karena serat tak larut terdiri dari: selulosa, hemiselulosa dan lignin.

Perhitungan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dapat dilihat pada

(37)

4.3 Hasil Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan

Hasil penetapan kadar serat tak larut pada kerupuk, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan Produk Jumlah Ampas Sisa Jagung Pipilan yang

ditambahkan dalam Kerupuk (gram)

Kadar Serat Tak Larut (%)

I 200 5,1979 % < μ < 5,9109 %

II 400 7,6901 % < μ < 7,8473 %

III 500 8,6910 % < μ < 8,7806 %

Ampas sisa jagung pipilan dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat pangan

dalam pembuatan kerupuk dan sebagai alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

serat setiap harinya. Serat makanan yang dianjurkan untuk konsumsi orang dewasa

adalah 20-35 gram setiap hari, US Departement of Agriculture and Health dalam Dietary

Guidelines for American dan US National Center Institue menyarankan dari 20-35 gram

serat yang dianjurkan, hanya 8 gram serat larut (sekitar sepertiganya), selebihnya adalah

serat tak larut. Perhitungan kadar serat tak larut dalam kerupuk ampas sisa jagung pipilan

200 gram, 400 gram dan 500 gram dapat dilihat pada Lampiran 9, 10 dan 11 halaman 40,

(38)

4.4 Hasil Uji Organoleptik

Hasil analisis statistik dari data Uji organoleptik dengan menggunakan analisis

sidik ragam pada taraf α 0,05 dimana nilai F hitung = 2,80 lebih kecil dari F tabel = 3,07 ,

ini berarti tidak ada perbedaan yang berpengaruh secara nyata terhadap rasa kerupuk

ampas sisa jagung pipilan dengan penambahan berbagai variasi ampas sisa jagung pipilan

dari penilaian panelis.Hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 15 Tabel 11,

halaman 54.

Dari histogram dapat dilihat bahwa nilai kesukaan terhadap rasa kerupuk ampas sisa

jagung pipilan menunjukkan nilai kesukaan yang paling tinggi terdapat pada produk I,

dari hasil penilaian dengan sekala hedonik yang menunjukkan rataan tertinggi yaitu 3,60

ini disukai oleh panelis dibandingkan produk II dan III. Histogram nilai kesukaan

terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dapat dilihat pada Gambar 1.

0.50 1.50 2.50 3.50 4.50

R

at

aan

k

e

su

k

aan

I II III

Produk

(39)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan adalah 18,2736 % < μ <

19,0724 %.

2. Kadar serat tak larut dalam kerupuk ampas sisa jagung pipilan 200 gram, 400

gram dan 500 gram berturut-turut sebanyak 5,1979% < μ < 5,9109%, 7,6901% <

μ < 7,8473% , dan 8,6910% < μ < 8,7806%.

3. Penambahan ampas sisa jagung pipilan dengan berbagai variasi tidak memberikan

pengaruh terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dari penilaian panelis

4. Panelis suka mengkonsumsi kerupuk ampas sisa jagung pipilan

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk membuat produk serat pangan lain

misalnya sareal, biskuit dan roti dengan memanfaatkan ampas sisa jagung pipilan sebagai

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Birch, G.G. (1985). Analysis of Food Carbohydrate. New York: Elsevier Applied Science Publishers. Hal.278-279

Departermen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. (2007). Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Hal 29

Ferguson,L.R, and Philip J.H.(1999). Wheat Bran and Cancer: The Role of Dietary Fiber. Asia Pasific J Clin Nurt.8 (suppl): S42-43

Iswari S, Retno. (2006). Biokimia. Semarang: Penerbit Graha Ilmu. Hal 17.

Joseph, G. (2002). Manfaat Serat Bagi Kesehatan Kita.

ipb.com/users/rudyct/PPs702/DEDIN_FR.htm. Tanggal Akses 18 April 2008

Meloan,C and Pomeranz, Y. (1987). Food analysis : Theory and Practice. Second Edition, New York: Van Nostrand Reinhold Company. Hal, 25,679-680.

Mertens, D.R (1992), Critical Conditions in Determining Detergent Fibers.

Nurlidia, (2003). Penetapan Kadar Serat Tak Larut pada Beberapa Sayuran dan Suplemen Serat dengan Metode Analisis NDF. Skripsi. Jurusan farmasi FMIPA USU

Piliang, W.G. dan S. Djojosoebagio, Al Haj. (1996). Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi Ke- 2. UI-Press. Jakarta. Hal 195

Richana N dan Suarni. (2004). Teknologi Pengolahan Jagung.Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen. Bogor

Silalahi, J. (2001). Kabohidrat, Kimia dan Analisa. Medan: FMIPA-USU. Hal.22-23

Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional. Cetakan ke-1.Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Hal 73-74

Soekarto. (1981). Penilaian Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi Pangan, Bogor. Hal 45

(41)

Suyono, H.A (2001). Serat, benteng terhadap aneka penyakit,

Wardlaw, G.M and M.W. Kessel, (2000). Perspectives in Nutrition. Fifth edition, New York: Mc Graw Hill. Hal.167,178

(42)

Lampiran 1. Bagan pembuatan ampas sisa jagung pipilan

Dicuci

Direbus selama 20 menit sampai mendidih

Didinginkan

Bagian atas sisa dari jagung pipilan diambil

dan bagian yang keras dari tongkol dibuang

Dihaluskan

Diperas untuk mengurangi airnya

7 kg Tongkol jagung

Ampas Sisa Jagung

(43)

Lampiran 2. Bagan pembuatan kerupuk ampas sisa jagung pipilan

Ditambahkan 200 gr tepung gandum

Ditambahkan bumbu penyedap yang terdiri dari

bawang putih, terasi dan garam secukupnya

Ditambahkan air hingga adonan mengental

Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan

Dimasukkan kedalam loyang dengan

ukuran 30 x 20 cm

Dikukus selama 20 menit, sampai bagian tengah

adonan matang

Didinginkan

Dipotong dengan ukuran 5 x 3 cm

Dijemur samapai kering di bawah sinar matahari

1 kg Tepung tapioka

Adonan kental

Adonan matang

(44)

Lampiran 3. Bagan penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan metode analisis NDF

Ditambahkan 100 ml larutan NDF

Direfluks hingga mendidih selama 5 menit

Pemanasan dihentikan hingga busa habis

Dididihkan kembali selama 60 menit

Disaring dengan corong Buchner

Dicuci dengan air suling panas (80-90° C)

Dicuci dengan Aseton

Dikeringkan di oven pada suhu 105° C (hingga berat konstan)

Didinginkan dalam desikator

Ditimbang

Diabukan pada suhu 800°C selama 3 jam (hingga berat konstan)

Ditimbang dihitung berat yang hilang

0,5 g Sampel

Residu Filtrat

(45)

Lampiran 4. Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dengan metode analisis NDF

Tabel 2. Data penimbangan ampas sisa jagung pipilan

No Berat sampel

Berat

kertas

saring

Berat keretas saring +

Sampel setelah di

keringkan

Berat

krusibel

Berat krusibel + Sampel

setelah diabukan

Tabel 3. Data penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan

W1= Berat kertas saring ditambah sampel setelah dikeringkan – Berat kertas saring

(46)

Keterangan : W1 = Berat residu serat (g)

W2= Berat abu (g)

Keterangan : a = Berat sampel kering

b = Berat sampel basah

Berat ampas tongkol jagung basah : 15,0170 g

Berat ampas tongkol jagung kering : 3,4530 g

Contoh perhitungan sampel nomor 1

%NDF = 0,4160g-0,0039g x 100% = 82,4035%

0,5001

Kadar serat tak larut pada sampel = 3,4530 / 15,0170 x 82,4035% = 18,9478%

Dengan cara yang sama diperoleh kadar serat tak larut untuk sampel nomor 2 sampai

nomor 6.

%NDF= W1-W2 x 100% Berat sampel

(47)

Lampiran 5. Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 gram dengan metode analisis NDF

Tabel 4. Data penimbangan kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 gram

No Berat sampel

Berat

kertas

saring

Berat keretas saring +

Sampel setelah di

keringkan

Berat

krusibel

Berat Krusibel + Sampel

setelah diabukan

Tabel 5. Data penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 gram

No Berat sampel

W1 = Berat kertas saring ditambah sampel setelah dikeringkan – Berat kertas saring

(48)

Keterangan : W1 = Berat residu serat (g)

W2= Berat abu (g)

Keterangan : a = Berat 1 kerupuk

b = Berat 6 kerupuk

Berat 6 kerupuk : 16,7817g

Berat 1 kerupuk : 2,8763 g

Contoh perhitungan sampel nomor 1

%NDF = 0,1896g-0,0203g x 100% = 33,8532%

0,5001

Kadar serat tak larut dalam kerupuk = 2,8763g / 16,7817g x 33,8532% = 5,8023%

Dengan cara yang sama diperoleh kadar serat tak larut untuk sampel nomor 2 sampai

nomor 6 dan perhitungan yang sama untuk penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk

ampas sisa jagung pipilan 400 gram dan 500 gram. % NDF pada kerupuk = W1-W2 x 100%

Berat sampel

(49)

Lampiran 6. Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 400 gram dengan metode analisis NDF

Tabel 6. Data penimbangan kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 400 gram

No Berat sampel

Berat

kertas

saring

Berat keretas saring +

Sampel setelah

dikeringkan

Berat

krusibel

Berat krusibel + Sampel

setelah diabukan

Tabel 7. Data penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 400 gram

(50)

Lampiran 7. Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 500 gram dengan metode analisis NDF

Tabel 8. Data penimbangan kerupuk ampas sisa jagung pipilan 500 gram

No Berat sampel

Berat

kertas

saring

Berat kertas saring +

Sampel setelah

dikeringkan

Berat

krusibel

Berat krusibel + Sampel

setelah diabukan

Tabel 9. Data penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 500 gram

(51)

Lampiran 8. Perhitungan kadar serat tak larut sebenarnya dalam ampas tongkol

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0.05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57 Data diterima jika t-hitung < t tabel

(52)

t-hitung data 5 =

Data 5 dan 2 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data

1,3,4 dan 6

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 4-1 diperoleh t-tabel = 3,18

Data diterima jika t-hitung < t-tabel

(53)

t-hitung data 3 =

Kadar serat tak larut sebenarnya dalam ampas sisa jagung pipilan adalah

18,2736 %< μ < 19,0724 %

(54)

Lampiran 9. Perhitungan kadar serat tak larut sebenarnya dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 gram

No. Kadar Serat (%) Xi -X (XiX)2

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57

Data diterima jika t-hitung < t-tabel

(55)

t-hitung data 5 =

Data 2 dan 3 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data

1,4,5 dan 6

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 4-1 diperoleh t-tabel = 3,18

Data diterima jika t-hitung < t-tabel

(56)

t-hitung data 3 =

4 2242 , 0

5544 , 5 4493 ,

5 −

= -1,0616

t-hitung data 4 =

4 2242 , 0

5544 , 5 2983 ,

5 −

= -2,4068

μ = x ± t

n SD

×

μ = 5,5544 ± 0,3565

Kadar serat tak larut sebenarnya dalam kerupuk yang ditambahkan ampas sisa jagung

(57)

Lampiran 10. Perhitungan kadar serat tak larut sebenarnya dalam yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 400 gram

No. Kadar Serat Tak

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57

Data diterima jika t-hitung < t-tabel

(58)

t-hitung data 3 =

Data 3 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data 1,2,4,5

dan 6

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 5-1 diperoleh t-tabel = 2,78

(59)

t-hitung =

Kadar serat tak larut sebenarnya dalam kerupuk yang ditambahkan ampas sisa jagung

(60)

Lampiran 11. Perhitungan kadar serat tak larut sebenarnya dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 500 gram

No. Kadar Serat Tak

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57

Data diterima jika t-hitung < t-tabel

(61)

t-hitung data 4 =

Data 1 dan 6 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data

2,3,4 dan 5

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 4-1 diperoleh t-tabel = 3,18

Data diterima jika t-hitung < t-tabel

(62)

t-hitung data 2 =

Kadar serat tak larut sebenarnya dalam kerupuk yang ditambahkan ampas sisa jagung

(63)

Lampira 12. Formulir uji organoleptik

Nama panelis : ……… Tanggal : ………

Nim : ……… Produk : Kerupuk

Berilah tanda dalam kotak di bawah ini sesuai dengan kesan anda setelah

mencicip kerupuk

Produk : I II III

Amat sangat suka :

Sangat suka :

Suka :

Agak suka :

Tidak suka :

(64)

Lampiran 13. Gambar uji organoleptik

Gambar 2. Ruangan uji organoleptik

Gambar 3. Penyajian uji organolpetik

Gambar 4. Panelis sedang memberikan penilaian terhadap rasa kerupuk ampas sisa

(65)
(66)

Nilai numerik organoleptik

1 = Tidak suka

2 = Agak suka

3 = Suka

4 = Sangat suka

5 = Amat sangat suka

Perhitungan analisis sidik ragam

Fk ( Faktor koreksi) = (Y)2/ t x r

= (402)2/ 40 x 3

= 1346,7

JK total (Jumlah Kuadrat Total) =

= =

r

j t

i 1 1

( Y ij )2 – Fk

= [(32 + 42 + 52 …) + (22 + 42 + 42…) + (52 + 12 + 52…)] – 1346,7

= 121,3

JK perlakuan (Jumlah Kuadrat Perlakuan) = (

=

t

i 1

Yi 2 ) / r – Fk

= (1442 + 1352 + 1232 ) / 40 – 1346,7

= 5,55

JK galat = JK total – JK perlakuan

= 121,7 – 5,55

(67)

Db (Derajat bebas)

Db perlakuan = t – 1

= 3 – 1

= 2

Db galat = t (r-1)

= 3 (40 – 1 )

= 117

Db total = (t)(r) – 1

= (3)(40) – 1

= 119

KT perlakuan (kuadrat tengah perlakuan) = JK perlakuan / t -1

= 5,55 / 3 – 1

= 2,775

KT galat = JK galat / t (r-1)

= 115,75 / 3 (40 – 1)

= 0,9893

F hitung = KT perlakuan / KT galat

= 2,775 / 0,9893

= 2,80

(68)

Lampiran 15. Tabel 11. Daftar Analisis Sidik Ragam

Sumber

keragaman Db JK KT Fhit F 0.05

Perlakuan 2 5,55 2,775 2,80 3,07

Galat 117 115,75 0,9893

Gambar

Tabel 1. Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Ampas Sisa Jagung Pipilan
Gambar 1. Histogram nilai kesukaan rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan
Tabel 2. Data penimbangan ampas sisa jagung pipilan
Tabel 5. Data penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk yang Ditambahkan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 gram
+4

Referensi

Dokumen terkait

b) Hasil pengujian keausan menunjukkan kampas rem variasi 1 gram serat ampas tebu lebih sedikit laju keausanya pada kondisi kering yaitu 136,40 mm 3 /jam, sedangkan pada

Dengan memanfaatkan ampas tebu 5%, 7,5%, dan 10% terhadap berat semen serta kadar air 8,86% pada pembuatan lembaran serat semen yang menggunakan campuran 1 pc : 2 tepung

Berdasarkan hasil pengujian DSC, pada tahapan I yaitu Gambar 4.10 menunjukan hasil analisis sifat termal plafon tanpa penambahan serat kulit jagung dengan variasi