• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesepian Dan Depresi Pada Penderita Kanker Paru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kesepian Dan Depresi Pada Penderita Kanker Paru"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

KESEPIAN DAN DEPRESI PADA PENDERITA

KANKER PARU

Skripsi

Guna Memenuhi Persyaratan Sarjana Psikologi

Oleh:

LINDA Y S SIREGAR

031301091

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAK Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

Kesepian dan depresi merupakan kondisi psikologis yang dapat terjadi pada setiap orang. Saat kesepian seseorang akan merasa putus asa (desperation), bosan dan tidak sabaran (impatient boredom), mengutuk diri sendiri

(self-deprecation) dan depresi. Depresi merupakan gangguan perasaan (afek) yang

ditandai dengan afek disforik (kehilangan kegembiraan/gairah) disertai dengan gejala-gejala lain seperti gangguan tidur dan menurunnya selera makan. Kesepian dan depresi bisa terjadi karena penyakit kronis seperti kanker. Ada beberapa alasan kenapa penyakit kanker dapat menyebabkan seseorang menderita kesepian dan depresi, antara lain: kanker merupakan salah satu penyakit serius yang dapat menimbulkan kematian, pengobatan penyakit yang dapat menimbulkan perubahan permanen pada bentuk fisik seseorang, perubahan dalam hubungan, perubahan dalam ketertarikan dan orang lain mungkin akan melihat penderita kanker tersebut sebagai orang yang berbeda. Pada dasarnya kesepian dan depresi yang terjadi terkait erat dengan minimnya dukungan sosial yang diperoleh penderita kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesepian dan depresi pada penderita kanker paru ditinjau dari perasaan yang dirasakan saat kesepian, penyebab kesepian, reaksi terhadap kesepian, gejala depresi, penyebab depresi dan reaksi terhadap depresi.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena peneliti ingin melihat pengalaman subjektif seorang penderita kanker paru, apa yang terjadi pada mereka saat mengalami kesepian dan depresi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam Penelitian ini melibatkan sebanyak 2 orang dewasa yang didiagnosa kanker paru dan berada/ dirawat di Kotamadya Medan sebagai subjek penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua responden mengalami kesepian dan depresi. Masing-masing responden menunjukkan kesepian dan depresi dengan fenomena yang unik dan tersendiri.

Implikasi dari penelitian ini berguna bagi penderita kanker paru agar tidak berputus asa dalam menghadapi penyakitnya dan juga bagi orang-orang disekitar seperti dokter, suster, keluarga, dan lain-lain untuk memberikan dukungan yang lebih bagi penderita kanker paru.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkar dan karunia-Nya yang senantiasa menyertai penulis sehingga penulis dapat menyelasaikan skripsi ini sampai selesai.

Skripsi yang penulis selesaikan ini berjudul “KESEPIAN DAN DEPRESI PADA PENDERITA KANKER PARU” yang diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat untuk mencapai gelar sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucap syukur pada Tuhan, atas keluarga yang mendukung perkuliahan penulis. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat bimbingan, bantuan dan dukungan, serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak dr. Chairul Yoel, Sp. A (K), selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Namora Lubis, BA(Horn), MSc selaku dosen pembimbing. Penulis mengucapkan terima kasih atas segala pelajaran, semangat dan waktunya. 4. Ibu Rodiatul Hasanah Siregar, Msi, psikolog dan Ibu Hasnida sebagai dosen

penguji, terima kasih atas kesempatan dan waktunya.

5. Ibu Bapak Aswan, SE dan Drs. Iskandar Muda atas dukungannya sehingga penulis bersemangat dalam menyelesaikan skripsinya.

(4)

7. Teman-teman penulis dan pihak lain, yang memungkinkan untuk disebutkan satu persatu, yang mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Terima kasih buat semua pihak yang telah membantu. Semoga Tuhan memberkati, memberikan yang terbaik dalam hidup kita semua, amin.

Sebagai manusia yang masih dalam proses belajar, penulis menyadari kekurangan dan kesalahan dalam skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Medan, Juni 2008

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... 2

KATA PENGANTAR ... 3

DAFTAR ISI ... 5

DAFTAR TABEL ... 9

BAB I PENDAHULUAN ... 10

I.A.Latar Belakang Masalah ... 10

I.B. Permasalahan ... 20

I.C.Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 20

I.D. Sistematika Penulisan ... 21

BAB II LANDASAN TEORI ... 23

II.A.Kesepian ... 24

II.A.1.Definisi Kesepian ... 25

II.A.2.Tipe-tipe Kesepian ... 24

II.A.3.Karakteristik Orang yang Kesepian ... 25

II.A.4.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesepian ... 27

II.A.5.Penyebab Kesepian ... 30

II.A.6.Reaksi terhadap Kesepian ... 33

II.B. Depresi ... 34

(6)

II.C. Kanker ... 36

II.C.1. Gambaran Umum Kanker ... 38

II.C.2. Kanker Paru ... 38

II.C.3. Gejala Kanker Paru ... 39

II.C.4. Faktor Penyebab Kanker Paru ... 40

II.C.5. Stadium Kanker Paru ... 41

II.C.6. Diagnosa dan Pengobatan Medis Kanker Paru ... 42

II.D. Kondisi Psikologis yang Dialami Penderita Kanker Paru ... 43

II.E.Paradigma... 45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 48

III.A. Pendekatan Kualitatif ... 48

III.B. Metode Pengumpulan Data ... 48

III.B.1. Wawancara Terbuka dan Mendalam ... 49

III.B.2. Observasi ... 50

III.C. Alat Bantu Pengumpulan Data Penelitian ... 51

III.D.Subjek Penelitian ... 53

III.D.1. Prosedur Pengambilan Subjek Penelitian ... 53

III.D.2. Jumlah Subjek Penelitian ... 53

III.D.3. Kriteria Subjek Penelitian ... 54

III.E. Prosedur Penelitian ... 55

III. E.1. Tahap Persiapan ... 55

(7)

III.E.3. Tahap Pencatatan Data ... 56

III.E. Prosedur Analisis Data ... 56

BAB IV HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN... 58

IV.A. Analisis Kasus Responden A ... 58

IV.A.1 Gambaran Diri Responden A ... 58

IV.A.2 Gambaran Kesepian yang Dialami Responden A ... 62

IV.A.3 Gambaran Penyebab Kesepian yang Dialami Responden A 68 IV.A.4 Gambaran Reaksi Responden A terhadap Kesepian ... 69

IV.A.5 Gambaran Depresi yang Dialami Responden A ... 71

IV.A.6 Gambaran Penyebab Depresi yang Dialami Responden A . 77 IV.A.7 Gambaran Reaksi Responden A terhadap Depresi ... 78

IV.B. Interpretasi Data Responden A ... 79

IV.C. Analisis Kasus Responden B ... 89

IV.C.1 Gambaran Diri Responden B ... 89

IV.C.2 Gambaran Kesepian yang Dialami Responden B ... 89

IV.C.3 Gambaran Penyebab Kesepian yang Dialami Responden B 101 IV.C.4 Gambaran Reaksi Responden B terhadap Kesepian ... 102

IV.C.5 Gambaran Depresi yang Dialami Responden B ... 103

IV.C.6 Gambaran Penyebab Depresi yang Dialami Responden B . 108 IV.C.7 Gambaran Reaksi Responden B terhadap Depresi ... 109

(8)

IV.E.1 Analisis Banding Antar Responden Berdasarkan Gambaran

Kesepian ... 123

IV.E.2 Analisis Banding Antar Responden Berdasarkan Gambaran Penyebab Kesepian ... 124

IV.E.3 Analisis Banding Antar Responden Berdasarkan Gambaran Reaksi Responden Terhadap Kesepian yang Dialami ... 125

IV.E.4 Analisis Banding Antar Responden Berdasarkan Gambaran Depresi yang Dialami ... 126

IV.E.5 Analisis Banding Antar Responden Berdasarkan Gambaran Gambaran Penyebab Depresi yang Dialami Responden B ... 127

IV.E.6 Gambaran Reaksi Responden B terhadap Depresi ... 128

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 130

V.A Kesimpulan ... 130

V.B Diskusi ... 137

V.C Saran ... 141

V.C.1 Saran Praktis ... 141

V.C.1 Saran Penelitian Lanjutan ... 142

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Rasio Penderita Kanker Paru pada Pria Di Indonesia (1995-1999)

Ditinjau dari Rentang Usia ... 12

Tabel 1.2 Rasio Penderita Kanker Paru pada Pria Di Medan (1995-1999) Ditinjau dari Rentang Usia ... 13

Tabel 2.1 Perasaan Yang Dirasakan Ketika Mengalami Kesepian ... 26

Tabel 2.3 Stadium Kanker Paru ... 23

Tabel 2.2 Reaksi Terhadap Kesepian ... 23

Tabel 4.1 Analisa banding antar responden berdasarkan gambaran kesepian .. 116

Tabel 4.2 Analisa banding antar responden berdasarkan penyebab kesepian ... 118

Tabel 4.3 Analisa banding antar responden berdasarkan reaksi terhadap kesepian ... 119

Tabel 4.4 Analisa banding antar responden berdasarkan gambaran depresi ... 120

Tabel 4.5 Analisa banding antar responden berdasarkan penyebab depresi ... 122

(10)

ABSTRAK Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

Kesepian dan depresi merupakan kondisi psikologis yang dapat terjadi pada setiap orang. Saat kesepian seseorang akan merasa putus asa (desperation), bosan dan tidak sabaran (impatient boredom), mengutuk diri sendiri

(self-deprecation) dan depresi. Depresi merupakan gangguan perasaan (afek) yang

ditandai dengan afek disforik (kehilangan kegembiraan/gairah) disertai dengan gejala-gejala lain seperti gangguan tidur dan menurunnya selera makan. Kesepian dan depresi bisa terjadi karena penyakit kronis seperti kanker. Ada beberapa alasan kenapa penyakit kanker dapat menyebabkan seseorang menderita kesepian dan depresi, antara lain: kanker merupakan salah satu penyakit serius yang dapat menimbulkan kematian, pengobatan penyakit yang dapat menimbulkan perubahan permanen pada bentuk fisik seseorang, perubahan dalam hubungan, perubahan dalam ketertarikan dan orang lain mungkin akan melihat penderita kanker tersebut sebagai orang yang berbeda. Pada dasarnya kesepian dan depresi yang terjadi terkait erat dengan minimnya dukungan sosial yang diperoleh penderita kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesepian dan depresi pada penderita kanker paru ditinjau dari perasaan yang dirasakan saat kesepian, penyebab kesepian, reaksi terhadap kesepian, gejala depresi, penyebab depresi dan reaksi terhadap depresi.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena peneliti ingin melihat pengalaman subjektif seorang penderita kanker paru, apa yang terjadi pada mereka saat mengalami kesepian dan depresi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam Penelitian ini melibatkan sebanyak 2 orang dewasa yang didiagnosa kanker paru dan berada/ dirawat di Kotamadya Medan sebagai subjek penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua responden mengalami kesepian dan depresi. Masing-masing responden menunjukkan kesepian dan depresi dengan fenomena yang unik dan tersendiri.

Implikasi dari penelitian ini berguna bagi penderita kanker paru agar tidak berputus asa dalam menghadapi penyakitnya dan juga bagi orang-orang disekitar seperti dokter, suster, keluarga, dan lain-lain untuk memberikan dukungan yang lebih bagi penderita kanker paru.

(11)

BAB I PENDAHULUAN

I.A. Latar Belakang Masalah

Penyakit kanker adalah penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karena itu sangat diperlukan perhatian yang sangat serius, karena penyakit kanker yang sudah pada tahap stadium tinggi biasanya berujung kepada kematian. Diperkirakan pada tahun 2015 mendatang, penyakit kanker akan menjadi penyebab 54% kematian di semua negara (Pikiran Rakyat, 2005). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap 11 menit, ada satu penduduk dunia meninggal karena kanker dan setiap tiga menit, ada satu penderita kanker baru. Data WHO menyebutkan setiap menit di dunia terdapat penambahan 6,25 juta penderita kanker baru dan dua pertiga penderita kanker di dunia berada di negara berkembang (Badan Litbang Kesehatan, 2001). Di Indonesia, masalah penyakit kanker menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Dalam jangka waktu 10 tahun, terlihat bahwa peringkat kanker sebagai penyebab kematian, naik dari peringkat dua belas menjadi peringkat enam. Setiap tahun diperkirakan terdapat 190 ribu penderita baru dan seperlimanya akan meninggal akibat penyakit ini (Mediasehat, 2005).

(12)

sel yang abnormal, yang mempunyai kecenderungan menyebar pada bagian tubuh yang lain. Sel kanker ini bertindak sebagai penghambat dan perusak bagi organ-organ tubuh dimana ia berkembang, terutama jika sel tersebut tumbuh pada organ-organ vital seperti otak, hati dan paru-paru, yang pada akhirnya sering kali menyebabkan kematian pada penderitanya (Sarafino, 1998).

Kanker bisa menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Ada beberapa jenis yang sifatnya lebih spesifik dan lebih sering menyerang pria seperti kanker prostat dan kanker paru (Medicastore, 2004). Berdasarkan laporan tengah tahunan catatan medik RS Dr. Soetomo kurun waktu Juni sampai dengan Desember 1984, didapatkan bahwa karsinoma bronkogenik (kanker paru) telah menduduki peringkat pertama untuk kasus kanker pada pria (Amin, Alsagaff & Saleh, 1989). Kanker paru menduduki urutan ketiga sebagai penyebab kematian bagi kaum laki-laki di Indonesia (Gatra, 2001).

(13)

Kanker Indonesia di bawah ini. Kita dapat melihat perkembangan jumlah penderita kanker paru yang terdapat di Indonesia selama 5 tahun.

Tabel 1.1

Rasio Penderita Kanker Paru pada Pria Di Indonesia (1995-1999) Ditinjau dari Rentang Usia

Tahun <15 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 >75 Jumlah

Usia

Bandingan

1995 0 1 6 8 22 44 28 5 118 6.35

1996 2 4 16 40 71 131 114 26 417 4.94

1997 0 3 6 28 60 81 86 22 289 3.93

1998 0 5 9 40 69 120 96 18 366 4.92

1999 0 4 12 48 105 193 154 42 563 7.28

(Sumber : Data Histopatologik Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan R.I, 1995-1999)

Tabel 1.1 di atas menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker paru di Indonesia pada tahun 1996 sampai tahun 1997 mengalami penurunan. Pada tahun 1998 jumlah penderita kanker paru meningkat, disusul dengan meningkatnya jumlah penderita kanker sebesar 1997 orang pada tahun 1999. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa jumlah penderita kanker paru meningkat selama 5 tahun, sejak tahun 1995. Jika dilihat dari kelompok umur, penderita kanker paru di Indonesia yang paling banyak berasal dari kelompok umur 55 – 64 tahun.

(14)

bahan karsinogen (penyebab kanker) mencemari udara, terutama di kota-kota besar dan di kawasan industri sehingga penduduk kota berisiko lebih tinggi untuk menderita kanker. Selain itu, lingkungan di kota lebih tercemar oleh buangan air dan sisa produksi industri yang sering mengandung berbagai macam karsinogen (Sjamsuhidajat & de Jong, 2005). Polusi udara lingkungan dan tempat kerja tidak diragukan lagi dapat meningkatkan kemungkinan mengidap kanker paru (Robbins & Kumar, 1995). Kita dapat melihat perkembangan jumlah penderita kanker paru yang ada di Medan melalui Tabel 2. di bawah ini

Tabel 1.2

Rasio Penderita Kanker Paru pada Pria Di Medan (1995-1999) Ditinjau dari Rentang Usia

Tahun <15 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 >75 Jumlah

Usia

Bandingan

1995 0 0 1 2 6 9 7 0 26 5.71

1996 0 1 0 4 3 12 3 1 27 5.72

1997 0 0 0 0 1 1 2 0 4 1.03

1998 0 0 1 3 0 5 2 0 11 2.38

1999 0 0 2 6 4 4 2 0 18 6.64

(Sumber : Data Histopatologik Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan R.I, 1995-1999)

(15)

kanker paru di Medan yang paling banyak umumnya berada pada kelompok umur 55-64 tahun (Yayasan Kanker Indonesia, 1999). Sesuai dengan data statistik yang ada, survey epidemiologis kanker paru umumnya melaporkan bahwa kurang lebih 90% kasus, didapatkan pada penderita di atas 40 tahun(Amin, Alsagaff & Saleh, 1989).

Kanker paru merupakan pertumbuhan abnormal sel malignant dalam jaringan paru dan atau saluran pernafasan yang tidak terkendali dan menghancurkan sel yang sehat (Everydayhealth, 2004). Kebanyakan kanker paru berawal pada saluran bronchi, yang membuat kanker paru juga dikenal dengan

bronchogenic cancer. Kanker paru menyebar sangat cepat dan seringnya tidak

(16)

(Mangoenprasodjo & Hidayati, 2005). Berhenti merokok akan menurunkan risiko ini menjadi sama dengan bukan perokok setelah jangka waktu kurang lebih 10 tahun (Amin, Alsagaff & Saleh, 1989).

Gejala kanker paru tergantung pada letak tumor, penyebaran dan anak sebar kanker paru. Sebagian pasien bahkan terdiagnosis dengan sebelumnya tanpa ada gejala. Adapun gejala yang sering ditemukan adalah batuk lama, sesak napas, nyeri dada dan penurunan nafsu makan, penurunan berat badan dan lekas lelah (Mangoenprasodjo & Hidayati, 2005).

Masalah kesehatan pada penderita kanker paru sering menyertai perawatan atau treatment yang dijalani. Selama menjalani perawatan, pasien penderita kanker akan mengalami pendarahan, rambut rontok, rasa sakit di mulut dan reaksi kulit yang menimbulkan rasa tidak suka pada orang lain (Steams, Lauria, Hermann dan Fogelberg, dalam Rokeach, 2000). Tubuh berubah secara permanen, baik dari segi penampilan dan fungsi tubuh. Kapasitas paru yang terbatas menghalangi aktivitas sosial, pasien menjadi mudah lelah (DiMatteo, 1991).

(17)

bahwa ada hubungan yang positif antara kanker dan ketidakmampuan di dalam mengekspresikan emosi (Fox, Harper, Hyner, & Lyle, 1994). Di lain pihak, orang-orang mungkin mulai menghindari dan membatasi diri dengan pasien. Walaupun kadang ini terjadi karena ketakutan dan ketidaktahuan mereka, contohnya ketika orang percaya kanker menular. Dengan demikian, banyak pasien penyakit kanker mengalami masalah psikososial karena berubahnya hubungan dengan keluarga dan teman (Wortman dan Dunkel dalam Sarafino, 1998).

Selain itu, salah satu perubahan yang berdampak pada aspek psikososial adalah masalah seksual. Kepuasan seksual dan sensual sangat penting artinya bagi pria. Bagi beberapa pria, fakta bahwa dirinya dan pasangan mengalami orgasme berarti bahwa ia telah melakukan aktivitas seksual secara adekuat. Masalah seksual sering terjadi pada pasien laki-laki dan perempuan yang menderita kanker yang berhubungan dengan organ seksual, tetapi banyak pasien dengan kanker jenis lain juga mengalami masalah seksual sebagai akibat dari aturan medis seperti kemoterapi, salah satunya adalah kanker paru (Sarafino, 1998). Treatmen ini dapat mempengaruhi seksualitas pasien, dalam hal bagaimana kemampuan fisik dalam memberi dan menerima kepuasan seksual, pemikiran dan perasaan mengenai tubuhnya (body image) (American Cancer Society, 2007).

(18)

suatu hal yang mengancam dan melakukan coping secara pasif. Banyak penderita kanker yang benar-benar menerima kondisi mereka sebagai penyakit yang berakhir dengan kematian dan menganggap dirinya tidak bisa sembuh kembali (Gawler, 1997). Kondisi ini tergambar melalui hasil wawancara dengan salah satu pasien kanker paru yakni Bapak Simanjuntak (56 tahun) yang mengatakan

“Pertama-tama istri saya sangat sedih dan menangis, cuma dibilangnya sabarlah pak…sembuhnya itu. Dalam hatiku ah..mana mungkin bisa lagi sembuh, tinggal tunggu waktu saja”

Perasaan kesepian pada penderita kanker berasal dari perasaan tidak berpengharapan, tidak tertolong dan takut akan kematian yang muncul di dalam pikiran pasien dan kekurangan dukungan sosial dan emosional yang sangat dibutuhkan (Cohen, Friedman, Florian dan Zernitsky Shurka, dalam Rokeach, 2000). Kondisi ini dialami oleh Bapak Simanjuntak (56 tahun), yang ia ceritakan sebagai berikut:

”Semenjak dibilang dokter saya menderita kanker paru saya merasa bahwa hidup saya tinggal sebentar dan saya akan meninggalkan orang-orang yang saya sayangi. Hidup saya berubah..orang-orang di sekitar saya pun berubah. Saya merasa mereka memandang aneh dan menganggap saya penyakitan. Apalagi kalau saya batuk-batuk..pasti mereka memandang sinis dan menjauh, bahkan untuk dekat dengan cucu saya udah engga bisa lagi. Apalagi kalau sedang dirawat di Medan, jarang ada yang mau mengunjungi saya...yah mungkin karena jauh dari kampung (Kutacane). Saya merasa sendiri, tapi untung ada istri saya.”

Selain itu, kurangnya hubungan interpersonal baik secara kualitas maupun kuantitas dapat menyebabkan perasaan kesepian (Perlman dan Peplau dalam Sears, dkk, 1999). Kesepian yang dialami oleh Bapak Simanjuntak (56 tahun) yang menderita kanker paru, diceritakannya sebagai berikut:

(19)

Kesepian yang dialami akan terasa lebih menyakitkan dengan adanya diagnosa terminal illness, salah satunya adalah kanker (Rokach, 2000). Penderita kanker sering mengalami ketakutan terhadap penolakan yang akan didapat dari orang lain. Penolakan dapat mengurangi hubungan mereka dengan keluarga dan teman-teman, membatasi jarak emosi dengan mereka (Gawler, 1997). Ironisnya, orang yang kesepian cenderung menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk (Anderson & Snogdgrass dalam Myers, 1999). Dengan demikian, kesepian dapat menimbulkan perasaan sengsara yang hebat dan menetap (Sears dkk. 1999).

Menurut Rubenstein, Shaver, dan Peplau (dalam Bhrem, 2002) salah satu perasaan yang berhubungan dengan kesepian adalah depresi, dimana individu merasakan kesedihan, empty, isolasi, dan terasing. Depresi dikaitkan dengan mood negatif (seperti sadness dan despair), self esteem yang rendah, pesimis, kurangnya inisiatif dan lamban (Holmes, dalam Bhrem, 2002). Depresi juga melibatkan gangguan tidur dan pola makan, serta mengurangi hasrat seksual. Individu yang depresi terlihat semakin memuruk dalam hal perilaku interpersonal, menolak kehadiran orang lain, menurunnya kemampuan sosial dan ditolak oleh orang lain (Burchill & Stile, Gurtman et al., Hokanson, Loeweinstein, Hedeen & Howes, Strack & Rook, dalam Bhrem, 2002).

(20)

kanker paru dan menemukan bahwa depresi merupakan hal yang umum, dengan gejala dan keterbatasan fungsi tubuh (dalam Massie, 2004). Pembatasan dan rasa tidak leluasa yang berhubungan dengan penyakitnya menyebabkan penderita kanker mengalami kesulitan di dalam hubungan interpersonal (Dunkel-Schetter, 1984; Engleberg dan Hilborne, 1982; Revenson, Wollman dan Felton, 1983, dalam Bhrem, 2002). Menurut Cavanaugh dan Blanchard (2006) individu yang depresi cenderung menarik diri, tidak berbicara pada orang lain, dan tidak mempedulikan fungsi tubuh sehingga mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.

Gawler (1997) penderita kanker sekaligus penulis buku ”Anda Dapat Mengatasi Kanker: Pencegahan dan Penatalaksanaan” menyatakan bagaimana ia menghadapi penyakit kanker secara positif dan ia berjuang mengatasi penyakitnya dengan optimis. Pada awalnya ia merasa down dan tidak menerima kenyataan, namun akhirnya ia menyadari bahwa hidupnya sangat berarti untuk dijalani dengan sebaik-baiknya. Ia tidak rela hidupnya diambil alih oleh penyakitnya, ia merasa bahwa ia mampu mengendalikan hidup dan penyakitnya.

(21)

I.B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana gambaran kesepian dan depresi yang dialami oleh pria yang menderita kanker paru. Gambaran tersebut dilihat dari:

1. Perasaan yang dirasakan ketika kesepian, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kesepian dan bagaimana individu bereaksi terhadap kesepian. 2. Gejala-gejala yang muncul saat depresi, faktor-faktor apa saja yang

menyebabkan depresi dan bagaimana individu bereaksi terhadap depresi.

I.C. Tujuan dan Manfaat Penelitian I.C.1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam tentang gambaran kesepian dan depresi pada pria penderita kanker paru.

I.C.2. Manfaat Penelitian I.C.2.a. Manfaat Teoritis

Menambah khasanah ilmu psikologi terutama ilmu psikologi klinis khususnya tentang dinamika kesepian dan depresi yang dialami oleh pria yang menderita kanker paru.

I.C.2.b. Manfaat Praktis

(22)

dapat memberi sumbangan bagi penderita kanker paru dan juga pihak-pihak yang terlibat dengan penderita kanker paru.

I.D. Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun dengan sistematika penulisan yang terdiri atas 5 bab, dengan perincian sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan

Berisikan latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Berisikan teori-teori yang digunakan sebagai landasan dalam menjelaskan permasalahan penelitian, yang meliputi landasan teori kesepian, landasan teori depresi, landasan teori kanker secara umum dan kanker paru.

BAB III : Metodologi Penelitian

Berisikan pendekatan yang digunakan, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data penelitian, subjek penelitian, prosedur penelitian dan prosedur analisis data.

BAB IV : Analisis dan Interpretasi Data

(23)

BAB V : Kesimpulan, Diskusi dan Saran

(24)

BAB II LANDASAN TEORI

II.A. Kesepian

II.A.1. Defenisi Kesepian

Menurut Brehm dan Kassin (dalam Dayakisni, 2003), kesepian adalah perasaan kurang memiliki hubungan sosial yang diakibatkan ketidakpuasan dengan hubungan sosial yang ada. Sesuai dengan Hogg (1995), yang mengatakan bahwa kesepian merupakan ketidakpuasaan dalam suatu hubungan. Kesepian juga berarti suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan–perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain (Bruno dalam Dayakisni, 2003).

Kesepian merupakan emosi yang tidak menyenangkan dan pemikiran yang didasari oleh keinginan berhubungan dekat tapi mereka tidak dapat memperolehnya (Baron dan Bryne, 2000)

Wrigtsman & Deaux (1993) mengatakan bahwa kesepian merupakan pengalaman subjektif dan tergantung pada interpretasi individu terhadap suatu kejadian. Berdasarkan definisi tersebut, Wrigtsman & Deaux menyimpulkan ada tiga elemen penting dari kesepian, yaitu:

a. Kesepian merupakan pengalaman subjektif yang tidak bisa diukur dengan observasi sederhana

(25)

c. Secara umum kesepian merupakan hasil dari kurangnya atau terhambatnya hubungan sosial

Peplau & Perlman (dalam Taylor, Peplau & Sears, 2000) mengatakan bahwa kesepian terjadi sebagai akibat kurangnya hubungan yang berarti dengan orang lain dan hal ini dapat menyebabkan keadaan yang tidak menyenangkan. Baron & Byrne (2000) mengatakan bahwa kesepian muncul ketika terjadi kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kenyataan dalam kehidupan interpersonal individu.

Kesepian mengacu pada ketidaknyamanan subjektif yang dirasakan seseorang ketika beberapa kriteria penting dari hubungan sosial individu tersebut terhambat atau tidak terpenuhi. Kekurangan tersebut dapat bersifat kuantitatif seperti tidak memiliki teman seperti yang diinginkan dan bersifat kualitatif seperti merasa bahwa hubungan sosial yang dibina hanya bersifat seadanya atau kurang memuaskan (Perlman & Peplau dalam Taylor, Peplau & Sears, 2000).

Dengan demikian, kesepian merupakan pengalaman subjektif dan perasaan yang tidak menyenangkan akibat kurangnya hubungan interpersonal baik secara kualitas maupun kuantitas dan ketidakpuasan akan hubungan sosial yang ada karena kurangnya hubungan yang berarti dengan orang lain.

II.A.2. Tipe-tipe Kesepian

Weiss (dalam Bhrem 2002) mengatakan ada dua tipe kesepian, yaitu:

1. Emotional Isolation, yaitu kesepian yang disebabkan oleh terbatasnya

(26)

2. Social Isolation, yaitu kesepian yang dihasilkan dari tidak adanya teman atau

saudara atau orang lain dari jaringan sosial untuk berbagi aktivitas dan kesenangan

II.A.3. Karakteristik Orang yang Kesepian

Karakteristik orang yang kesepian antara lain cenderung menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk (Anderson & Snogdgrass dalam Myers, 1999), menerima orang lain secara negatif (Jones, Wittenberg & Reiss dalam Myers, 1999), kesulitan dalam berteman dan berpartisipasi dalam kelompok (Rock, Spitzberg & Hurt, dalam Myers, 1999), serta cenderung menjadi pemalu, tidak asertif (Jones & Cutrona, dalam Saks & Krupart, 1998), memiliki harga diri yang rendah dan cenderung menyalahkan diri sendiri daripada yang seharusnya atas kekurangan mereka (Frankel & Prentice-Dhun dalam Santrock, 1999), memiliki kekurangan dalam keterampilan sosial (Riggio, Trockmorton & DePaola; Jones, Hobbs & Hockenbury dalam Santrock, 1999).

Orang yang kesepian cenderung menjadi pemalu, sadar diri (self

conscious), introvert, memiliki harga diri yang rendah, tidak asertif (Jones &

(27)

Rubenstein, Shaver & Peplau (dalam Brehm, 2002) menjelaskan ada empat set perasaan yang dirasakan oleh seseorang ketika mengalami kesepian, yaitu desperation, impatient, boredom, self-deprecation dan depression. Berikut perasaan spesifik ketika seseorang mengalami kesepian:

Tabel 2.1

Perasaan Yang Dirasakan Ketika Mengalami Kesepian

Desperation Impatient Boredom Self-deprecation Depression

Putus asa Tidak sabaran Merasa tidak menarik

(28)

II.A.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesepian

Menurut Brehm (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesepian, yaitu:

1. Usia

Stereotip yang berkembang dalam masyarakat yang beranggapan bahwa semakin tua seseorang, maka akan semakin merasa kesepian, tetapi banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa stereotip tersebut keliru. Berdasarkan penelitian Ostrov & Offer (dalam Brehm, 2002) ditemukan bahwa orang yang paling kesepian justru berasal dari orang-orang yang berusia remaja dan dewasa awal. Fenomena ini kemudian diteliti oleh Perlman pada tahun 1990 (dalam Taylor, Peplau & Sears, 2000) dan menemukan hasil yang sama, dimana kesepian lebih tinggi pada remaja dan dewasa awal dan lebih rendah pada yang lebih tua.

Menurut Brehm (2002) hal tersebut disebabkan orang yang lebih muda menghadapi banyak transisi sosial yang besar, misalnya merantau, memasuki dunia kuliah, memasuki dunia kera secara full time untuk pertama kalinya yang dapat menimbulkan kesepian. Sejalan dengan bertambahnya usia, kehidupan sosial mereka menjadi semakin stabil. Bertambahnya usia seiring dengan meningkatnya keterampilan sosial seseorang dan mereka menjadi semakin realistik terhadap hubungan sosial yang mereka harapkan.

2. Sosioekonomi

(29)

juga ditemukan oleh Page & Cole (dalam Brehm, 2002) berdasarkan survey yang dilakukan ditemukan bahwa anggota keluarga dengan penghasilan rendah lebih mengalami kesepian daripada anggota keluarga dengan penghasilan yang lebih tinggi. Berdasarkan studi, tingkat pendidikan menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik dengan kesepian (Brehm, 2002).

3. Status Perkawinan

Secara umum, orang yang menikah kurang merasa kesepian daripada orang yang tidak menikah (Page & Cole, 1991; Perlman & Peplau, 1981; Stack 1998, dalam Brehm, 2002). Tidak menikah dikategorikan dalam subgrup (tidak pernah menikah, bercerai, atau janda) diperoleh hasil yang berbeda, dimana orang yang tidak pernah menikah lebih tidak kesepian. Kesepian dilihat sebagai reaksi hilangnya hubungan pernikahan daripada respon ketidakhadiran (Bhrem, 2002).

4. Gender

(30)

laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan (Borys & Perlman dalam Wrightsman & Deaux, 1993)

Brehm (2002) menambahkan bahwa gender berinteraksi dengan status pernikahan. Berdasarkan studi cross-national (Stack 1998, dalam Brehm, 2002) pernikahan mengurangi kemungkinan laki-laki mengalami kesepian. Di antara pasangan yang menikah dilaporkan bahwa perempuan lebih sering mengalami kesepian dibandingkan dengan perempuan (Peplau & Perlman, Rubenstein & Shaver, dalam Brehm, 2002).

Brehm (2002) mengatakan penemuan ini menunjukkan bahwa laki-laki cenderung mengalami kesepian ketika tidak memiliki pasangan yang intim. Sementara perempuan cenderung mengalami kesepian ketika ikatan perkawinan mengurangi akses untuk terlibat pada jaringan yang lebih luas. Dengan demikian, laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami

emotional isolation, sedangkan perempuan memiliki resiko lebih tinggi untuk

mengalami social isolation (Brehm, 2002). 5. Karakteristik latar belakang yang lain

(31)

dewasa. Selain itu, dikatakan juga bahwa hubungan antara orangtua-anak penting dalam mengidentifikasi kesepian.

II.A.5. Penyebab Kesepian

Brehm (2002) mengatakan bahwa secara umum kesepian disebabkan oleh kurangnya hubungan sosial. Berikut merupakan penyebab kesepian, yaitu:

1. Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki

Brehm (2002) mengatakan ada sejumlah alasan mengapa seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang dimiliki. Rubenstein & Shaver, 1982 (dalam Brehm, 2002) menyimpulkan alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang kesepian, yaitu:

a. Being unattached; tidak memiliki pasangan, tidak memiliki patner

seksual, berpisah dengan pasangan atau kekasih.

b. Alienation; merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak

dibutuhkan, dan tidak memiliki teman dekat.

c. Being alone; pulang ke rumah tanpa ada yang menyambut.

d. Forced isolation; dikurung di dalam rumah, dirawat inap di

rumahsakit, tidak bisa kemana-mana.

e. Dislocation; jauh dari rumah (merantau), memulai pekerjaan atau

sekolah baru, sering pindah rumah, dan sering melakukan perjalanan jauh.

2. Perubahan dalam hubungan yang diinginkan seseorang

(32)

yang diinginkan seseorang dalam suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan sehingga orang tersebut tidak mengalami kesepian. Tetapi pada saat yang lain, dimana hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah merubah apa yang diinginkan dari hubungan tersebut.

Menurut Perlman & Peplau, dkk (dalam Brehm, 2002) perubahan itu dapat muncul dari beberapa sumber yaitu perubahan mood dan jenis hubungan yang diinginkan seseorang. Ketika dalam keadaan senang jenis hubungan yang diinginkan seseorang mungkin berbeda dengan jenis hubungan saat sedih; usia, seiring dengan bertambahnya usia akan membawa berbagai perubahan yang mempengaruhi harapan atau keinginan seseorang terhadap suatu hubungan. Selain itu, perubahan situasi juga dapat berperan. Banyak orang yang tidak mau menjalin hubungan emosional yang dekat dengan orang lain ketika mereka sedang membina karir.

3. Harga diri

(33)

4. Perilaku interpersonal

Menurut Brehm (2002) seseorang yang mengalami kesepian akan menyebabkan individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan dengan orang lain. Orang yang kesepian cenderung menilai orang lain secara negatif, kurang menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan orang lain secara negatif, dan cenderung memiliki sikap yang bermusuhan. Perilaku tersebut menyebabkan individu memiliki kesempatan yang terbatas bersama-sama dengan orang lain sehingga menyebabkan pola interaksi yang tidak memuaskan.

5. Social anxiety & Shyness

Kesepian merupakan salah satu masalah dari sejumlah permasalahan yang termasuk dalam distress individu dan ketidakpuasan sosial (Brehm, 2002). Masalah lainnya seperti social anxiety (kecemasan sosial) merupakan perasaan tidak nyaman akan kehadiran orang lain. Ada beberapa tipe kecemasan sosial seperti ketakutan berbicara di depan umum, dan shyness (malu) yang digabungkan dengan social inhibition dan menghindari perasaan tidak nyaman dalam hubungan interpersonal. Kesepian, rasa malu dan kecemasan sosial saling berhubungan.

6. Depresi

(34)

mengatakan kesepian dan depresi sering terjadi secara bersamaan, namun tidak pada kondisi yang identik.

7. Causal atribution

(35)

II.A.6. Reaksi Terhadap Kesepian

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Rubenstein & Shaver (1982 dalam Brehm, 2002) disimpulkan beberapa reaksi terhadap kesepian.

Tabel. 2.2

Reaksi Terhadap Kesepian

Sad Passivity Active Solitude Social Contact Distraction

Menangis Belajar atau bekerja

Menelpon teman Menghabiskan uang

Tidur Menulis Mengunjungi

(36)

Rubenstein & Shaver (1982, dalam Brehm, 2002) mengelompokkan reaksi seseorang terhadap kesepian ke dalam empat kelompok. Dua diantaranya bersifat positf karena merupakan coping yang konstuktif yaitu active solitude dan social

contact. Kemudian sad passivity dikelompokkan sebagai respon-respon yang

bersifat negatif karena berpotensi untuk merusak diri. Sedangkan respon-respon yang sulit untuk diklasifikasikan ke dalam respon yang positif maupn respon yang negatif dikelompokkan sebagai distration.

II.B. DEPRESI

II.B.1. Definisi Depresi

Depresi merupakan istilah yang samar-samar dan tidak jelas. Orang awam menggunakannya untuk menggambarkan tentang spektrum tingkah laku yang luas yaitu segala sesuatu yang berasal dari gangguan hati yang ringan sampai kepada penyakit kejiwaan atau psikosis. Depresi merupakan kesakitan yang menghancurkan sehingga bisa mempengaruhi seluruh tubuh baik fisik, emosi maupun spiritual. Derita emosional akibat depresi jauh lebih berat daripada penderitaan fisik dan penderitaan akibat depresi datangnya secara berangsur-angsur dan bertahan lebih lama (Minirth, 2000).

Secara sederhana Hadi (2004) mengatakan bahwa depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan-suatu perasaan tidak ada harapan lagi.

(37)

mood dengan adekuat harus mempertimbangkan hadirnya emosi yang menyakitkan (painful) dan ketidakhadiran rasa kesenangan (anhedonia).

II.B.2. Faktor-faktor Penyebab Depresi

Hadi, 2004 menyatakan bahwa untuk menemukan penyebab depresi kadang-kadang sulit karena sejumlah penyebab dan mungkin beberapa diantaranya bekerja pada saat yang sama. Namun dari sekian banyak penyebab dapatlah dirangkumkan sebagai berikut :

1. Karena kehilangan. Kehilangan merupakan faktor utama yang mendasari depresi. Archibald Hart (dalam Hadi, 2004) menyebut empat macam kahilangan : pertama, kehilangan abstrak; kehilangan harga diri, kasih sayang, harapan atau ambisi. Kedua, kehilangan sesuatu yang konkrit; rumah, mobil, orang atau bahkan binatang kesayangan. Ketiga, kehilangan hal yang bersifat khayal; tanpa fakta tapi ia merasa tidak disukai atau dipergunjingkan orang. Keempat; kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang; menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian, dan lain-lain.

2. Reaksi terhadap stress. 85% depresi ditimbulkan oleh stres dalam hidup. 3. Terlalu lelah atau capek karena terjadi pengurasan tenaga baik secara fisik

maupun emosi.

(38)

II.B.3. Gejala-gejala Depresi

Dalam DSM IV-TR dapat diperoleh simptom-simptom depresi, antara lain:

1. Depresi mood hampir seharian, hampir setiap hari (seperti perasaan sedih atau hampa, menangis)

2. Ditandai dengan berkurangnya minat dan kesenangan dalam seluruh atau hampir seluruh aktivitas sehari-hari atau hampir setiap hari

3. Kehilangan atau bertambah berat badan secara signifikan ketika tidak sedang diet atau juga penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari

4. Insomnia atau hypersomnia hampir setiap hari

5. Pergerakan atau retardasi psikomotor hampir setiap hari 6. Lelah dan kehilangan energi setiap hari

7. Perasaan tidak berharga atau berlebihan terhadap rasa bersalah tidak pada tempatnya hampir setiap hari.

8. Berkurangnya kemampuan berpikir atau berkonsentrasi atau merasa bimbang hampir setiap hari.

(39)

II.C. Kanker

II.C.1 Gambaran Umum Kanker

Pada tubuh yang sehat terdapat mekanisme alamiah yang mengatur pembuatan, pertumbuhan dan kematian sel yang disebut dengan apoptosis. Ketika apoptosis mengalami malfungsi maka sel tumbuh tak terkontrol sehingga akan terakumulasi menjadi sekumpulan sel yang disebut dengan tumor atau

neoplasm (Tortore dan Grabowski dalam Sarafino, 1998). Ada dua jenis tumor

(40)

Banyak ahli mengemukakan bahwa kanker disebabkan oleh banyak faktor, bisa dari makanan, kekurangan vitamin, lingkungan alam, zat kimia, juga gaya hidup, merokok dan tekanan (stressor) psikologis. Faktor-faktor psikologis yang dapat dianggap sebagai sumber timbulnya penyakit kanker baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti konflik-konflik yang tidak disadari yang belum terselesaikan, kejadian-kejadian traumatis yang sifatnya pribadi (kehilangan pasangan), dan faktor-faktor kepribadian. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi sistem endokrin atau hormonal yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh (Hadjam, 2000). Di Indonesia dikenal sepuluh jenis kanker terbanyak: kanker serviks uteri, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker limfoma, kanker kolon dan rektum, kanker paru, kanker ovarium, kanker kelenjar tiroid, kanker rongga mulut, kanker payudara (Tambunan, 1995).

II.C.2. Kanker Paru

(41)

kanker nasofaring, mengingat frekuensi kanker nasofaring pada laki-laki lebih banyak dibanding dengan kanker paru. Insiden kanker paru berhubungan erat dengan rokok (Tambunan, 1995).

Tumor paru merupakan salah satu bagian dari tumor dada (tumor of the chest). Mayoritas dari tumor paru mengadakan anak sebar, yang paling sering adalah karsinoma bronkogenik, yang dikenal dengan kanker paru. Karsinoma bronkogenik terbagi atas kategori histologi yang mempunyai implikasi klinik yang berbeda (Robbins & Kumar, 1995). Secara histologik tumor ini sangat bervariasi, ada yang berdiferensiasi baik (well differentiated), ada pula yang sama sekali anaplastik (undifferentiated). Tumor ini dapat dibagi atas 3 jenis:

1. carcinoma planocellulare

Tumor ini selalu terdapat pada pria. Jenis inilah yang dihubungkan dengan asap rokok. Tumor ini cenderung untuk bermetastasis lokal, melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan terjadi agak lambat. Walau demikian, kecepatan tumbuh tumor primernya lebih cepat daripada jenis lain, yaitu diduga dibutuhkan waktu 9 tahun untuk mencapai ukuran garis tengah 2 cm. 2. adenocarcinoma

Tumor ini terdapat sama banyak pada pria maupun wanita. Tumor jenis ini kadang-kadang tumbuh pada daerah parut, sehingga diduga proses radang menahun merangsang pembentukannya. Waktu yang dibutuhkan tumor primer untuk mencapai ukuran 2 cm adalah lebih kurang 25 tahun.

(42)

Dinamakan juga anaplastic carcinoma atau oat-cell carcinoma. Tumor ini ada yang terdiri dari sel besar (large cell carcinoma) dan sel kecil (small cell

carcinoma). Pertumbuhannya paling cepat dan prognosis kedua-duanya sama

buruknya (terburuk). II.C.3 Gejala kanker paru

Kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala sebelum sel kanker menyebar, namun beberapa gejala berikut ini merupakan pertanda awal (American Cancer Society, 2007):

1. batuk yang tidak kunjung sembuh

2. sakit pada bagian dada, diperparah dengan sesak ketika bernafas, batuk atau tertawa

3. serak

4. mengeluarkan darah ketika meludah atau batuk 5. nafas pendek

6. kambuhnya infeksi seperti bronchitis dan pneumonia 7. bunyi mengi

Ketika kanker paru menyebar pada organ lain, akan menyebabkan: 1. nyeri tulang

2. lengan dan kaki mati rasa 3. sakit kepala, pusing

(43)

II.C.4 Faktor Penyebab Kanker Paru

Di dalam tubuh kita terjadi siklus setiap hari. Melalui proses ini muncul sel-sel yang berpotensi kanker, tumbuh dan kemudian menghilang. Sejauh ini, penyebab pasti kanker paru masih belum diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi jangka panjang dari bahan-bahan karsinogenik (pemicu kanker) merupakan faktor utama, tanpa mengesampingkan kemungkinan peranan predisposisi hubungan keluarga ataupun suku bangsa/ ras serta status imunologis. Bahan inhalasi karsinogenik yang banyak disorot adalah rokok (Amin, Alsagaff & Saleh, 1989).

1) Rokok

Secara statistik, ada korelasi yang hampir linear antara frekuensi kanker paru dan lamanya merokok. Risiko naik 20 kali lebih besar pada perokok berat (40 atau lebih rokok sehari untuk jangka waktu beberapa tahun). Kurang lebih 80% dari kanker paru terjadi pada perokok atau pada mereka yang telah berhenti merokok. Perokok pasif juga meningkatkan risiko, tetapi seberapa banyak masih belum pasti (Robbins & Kumar, 1995).

2) Pengaruh paparan industri

(44)

mengandung arsen, kromium, uranium, nikel, vinil klorida dan mustar di tempat kerja (Robbins & Kumar, 1995).

3) Pengaruh adanya penyakit lain

Tuberkulosis paru banyak dikaitkan sebagai faktor predisposisi kanker paru, sebagai akibat adanya jaringan parut tuberkulosis (Amin, Alsagaff & Saleh, 1989). Hal ini merupakan salah satu bentuk kanker paru adenokarsinoma (Robbins & Kumar, 1995).

4) Pengaruh genetik dan status imunologis

Pada tahun 1954, Tokuhotu membuktikan adanya pengaruh keturunan yang terlepas dari adanya faktor paparan lingkungan, hal ini membuka wacana bahwa kanker paru dapat diturunkan. Penelitian akhir-akhir ini condong bahwa faktor yang terlibat berkaitan dengan enzim Aryl Hidrokarbon Hidrokilase (AHH). Karsinoma bronkogenik lebih banyak didapatkan pada orang dengan aktivitas AHH yang sedang atau tinggi.

(45)

II.C.5 Stadium kanker paru

Penyakit kanker leher rahim dibagi menjadi beberapa stadium diantaranya (American Cancer Society, 2007) :

Tabel 2. 3 Stadium kanker paru

Stadium Kriteria I Pertumbuhan kanker hanya terbatas pada paru-paru dan dikelilingi

oleh jaringan paru-paru.

II Kanker telah menyebar dekat kelenjar getah bening. III Kanker telah menyebar keluar paru-paru.

IV Kanker telah menyebar dari tempat pertumbuhan awal ke bagian tubuh lainnya.

II.C.6 Diagnosa dan pengobatan medis kanker leher rahim

Diagnosa kanker paru dilakukan dengan menggunakan sinar X, bidang magnetis atau zat radioaktif untuk mendapatkan gambar bagian tubuh dan mencari kaner paru-paru dan melihat penyebarannya.

Pasien penderita kanker paru biasanya dirawat tidak hanya dengan satu terapi tetapi dengan menggunakan kombinasi dari berbagai terapi, yakni:

1. bedah, yakni dengan mengangkat sel-sel kanker.

2. radioterapi, teknik yang menggunakan sinar X dosis tinggi. Penyinaran ini dapat dilakukan dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh dengan mendekatkan zat radioaktif pada tumor.

(46)

5. immunoterapi, penggunaan obat-obatan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar menyerang kanker dalam tubuh.

6. terapi gen merupakan metode membasmi mutasi genetika yang menjadi penyebab kanker.

7. penggunaan obat.

II.D Kondisi Psikologis yang Dialami Penderita Kanker Paru

Manusia mempunyai sifat yang holistik, dalam artian manusia adalah makhluk fisik yang sekaligus psikologis, yang mana kedua aspek ini saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi. Sehingga apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologisnya, dengan kata lain setiap penyakit fisik yang dialami seseorang tidak hanya menyerang manusia secara fisik saja tetapi juga dapat membawa masalah-masalah bagi kondisi psikologisnya.

(47)

Pada dasarnya, perasaan yang pertama timbul pada diri seseorang yang didiagnosis sebagai pengidap kanker adalah rasa shock, takut, cemas, stres yang berkembang menjadi berat, bahkan depresi. Individu akan dibayangi oleh ketakutan akan adanya perubahan dalam hidupnya dan bahkan dibayangi oleh kematian. Kecemasan juga akan selalu timbul selama proses penyakit sedang berlangsung (Popkin dkk., 1988). Dapat dipastikan diri yang bersangkutan akan mengalami stres berkepanjangan yang berakibat pada gangguan-gangguan emosional dan fisik yang melelahkan.Untuk itulah dukungan moril dan empati dari anggota keluarganya, terutama yang berhubungan dekat secara emosional seperti suami, istri, anak, ibu, dan bapak akan sangat dibutuhkannya. Demikian juga dengan sahabat-sahabat dekatnya meskipun hubungan emosionalnya tidak terlalu dekat. Dukungan dan perhatian yang diperoleh penderita akan membantu meringankan penderitaannya.

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

III.A. Pendekatan Kualitatif

Pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, dimana pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik atau keutuhan (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2000).

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena ingin melihat pengalaman subjektif laki-laki dewasa madya yang menderita kanker paru, yaitu pengalaman kesepian dan depresi yang dihadapi, apa yang ia rasakan dan pikirkan tentang dirinya saat ini dan untuk masa mendatang (dalam konteks menghadapi penyakitnya), bagaimana ia memaknai setiap kemunduran fungsi tubuhnya serta rasa sakit yang dirasakannya, dan bagaimana ia memaknai sikap dan perilaku orang-orang di sekelilingnya terhadap penyakit yang sedang dideritanya.

III.B. Metode Pengumpulan Data

(49)

digunakan sebagai data pendukung karena tidak semua hal dapat terungkap melalui wawancara, dan observasi dapat membantu mengamati gerak-gerik, ekspresi dan bahasa tubuh subjek, yang mewakili perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikirannya.

III.B.1. Wawancara Terbuka dan Mendalam

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dkk dalam Poerwandari, 2001).

Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka dan mendalam. Wawancara terbuka adalah jenis wawancara dimana subjek tahu bahwa dirinya sedang diwawancara dan mengetahui pula apa maksud wawancara tersebut (Guba dan Lincoln dalam Moleong, 2000), sedangkan wawancara mendalam berusaha untuk mengungkap data yang dibutuhkan secara mendalam dan personal (Creswell dalam Poerwandari, 2001).

(50)

Bentuk pertanyaan yang digunakan pada umumnya adalah pertanyaan terbuka (open ended question), yang memungkinkan partisipan bebas mengekspresikan diri mereka.

Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

funnelling, dimana peneliti memulai pertanyaan dari hal-hal umum dan makin

lama makin khusus (Smith dalam Poerwandari, 2001). III.B.2. Observasi

Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”. Observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut (Banister dkk, dalam Poerwandari, 2001)

(51)

Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi tidak terkendali (uncontrolled observation) dan non partisipan. Observasi tidak terkendali (uncontrolled observation) adalah jenis observasi yang mengamati perilaku subjek dalam situasi alami (Arken dalam Minauli, 2002), sedangkan observasi non partisipan merupakan jenis observasi dimana observer, dalam hal ini adalah peneliti, hanya bertindak sebagai peneliti total yang tidak terlibat dalam peristiwa tersebut (Abdullah dalam Minauli, 2002).

Observasi dapat digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian ini karena melalui observasi, berbagai hal yang tidak terungkap melalui wawancara dapat diamati oleh peneliti, seperti ekspresi wajah subjek saat menceritakan tentang apa yang dirasakan dan dipikirkannya (yang berkaitan dengan ketakutannya), intonasi suara subjek yang terkadang terdapat penekanan-penekanan di dalamnya (yang dapat menggambarkan tentang apa yang sesungguhnya dirasakan subjek), gerakan-gerakan anggota tubuh tertentu dari subjek, dan sebagainya.

III.C. Alat Bantu Pengumpulan Data Penelitian

Alat bantu pengumpul data dalam penelitian ini digunakan pada saat melakukan wawancara dengan subyek penelitian yaitu menggunakan peralatan bantu sebagai berikut:

1. Alat perekam (tape recoder), kaset dan baterai

(52)

sehingga tidak bijaksana bila peneliti hanya mengandalkan ingatan. Untuk tujuan tersebut, perlu digunakan alat perekam agar peneliti mudah mengulangi kembali rekaman wawancara dan dapat menghubungi subyek kembali apabila masih ada hal yang belum lengkap atau belum jelas. Dengan adanya alat perekam ini, hasil wawancara yang direkam juga merupakan data yang utuh karena sesuai dengan apa yang disampaikan subyek dalam wawancara. Penggunaan alat perekam ini dilakukan dengan seizin subyek.

2. Pedoman umum wawancara

Pedoman umum wawancara memuat isu-isu yang berkaitan dengan tema-tema tanpa menentukan urutan pertanyaan karena akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat wawancara berlangsung. Pedoman ini digunakan untuk mengingatkan sekaligus sebagai daftar pengecek bahwa semua aspek yang relevan telah dibahas atau ditanyakan agar tidak menyimpang dari tujuan wawancara. Selain itu, pedoman wawancara berfungsi sebagai alat bantu untuk mengkategorikan jawaban sehingga peneliti mudah di dalam melakukan analisis data (Poerwandari, 2001). 3. Lembar Observasi dan catatan subyek

(53)

wawancara, suasana lingkungan, sikap dan reaksi subyek, serta hal-hal yang menarik maupun yang menggangu dalam pelaksanaan wawancara.

III.D. Subjek penelitian

III.D.1. Prosedur Pengambilan Subjek Penelitian

Pada penelitian ini, prosedur pengambilan subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan prosedur snowball sampling, yaitu pengambilan subjek penelitian yang bisa bertambah dalam dan selama proses penelitian berlangsung (Poerwandari, 2001). Dalam hal ini peneliti menanyakan kepada subjek penelitian yang telah didapat tentang informasi individu yang dapat dihubungi untuk diminta menjadi subjek dalam penelitian ini, yang memiliki kriteria yang sama dengan subjek penelitian tersebut.

III.D.2. Jumlah Subjek Penelitian

(54)

pun dapat dipakai, bila secara potensial memang sangat sulit bagi peneliti untuk memperoleh kasus lebih banyak, dan bila dari kasus tunggal tersebut memang diperlukan informasi yang memang mendalam. Apabila data yang dikumpulkan telah cukup mendalam maka dapat diambil subjek penelitian dalam jumlah kecil.

Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 3 orang. III.D.3. Kriteria Subjek Penelitian

Kriteria subjek dalam penelitian ini adalah : 1. Laki-laki dewasa madya.

Masa dewasa madya merupakan suatu masa dimana seseorang banyak mengalami kemunduran fisik yang akan menyebabkan tubuhnya rentan terhadap penyakit, dimana akhirnya penyakit tersebut akan mempengaruhi kondisi psikologis individu (Hurlock, 1999). Usia dewasa madya juga merupakan usia dimana resiko berkembangnya kanker semakin meningkat (Sarafino, 1998). Selain itu, berdasarkan data statistik yang diperoleh, jumlah penderita kanker paru di Medan paling banyak berada pada kelompok umur 55-64 tahun.

Menurut Hurlock (1980), masa dewasa madya dimulai dari usia 40 tahun sampai 60 tahun. Oleh sebab itu, kriteria usia subjek yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 40-60 tahun.

2. Berdomisili/dirawat di kota Medan.

(55)

III.E. Prosedur Penelitian III.E.1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini, peneliti mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk berjalannya penelitian, antara lain :

1. Mengumpulkan teori-teori yang dibutuhkan untuk penelitian, yaitu teori-teori

loneliness, depresi dan kanker paru.

2. Membuat pedoman wawancara (interview guide) yang bermanfaat dalam membantu peneliti selama proses wawancara dengan subjek penelitian. Pertanyaan dalam pedoman wawancara berkaitan dengan pengalaman atau perilaku, pendapat atau nilai, respon emosional dan pengetahuan, indera serta latar belakang (Moleong, 2000).

3. Mencari informasi tentang laki-laki dewasa madya yang menderita kanker paru pada stadium lanjut. Informasi ini diperoleh dari Rumah Sakit, teman-teman, dan saudara.

4. Menghubungi subjek penelitian untuk menanyakan kesediaannya diwawancarai, sekaligus membina rapport.

III.E.2. Tahap Pelaksanaan

(56)

Pada saat wawancara dimulai, peneliti mulai melakukan percakapan ringan dengan subjek, untuk menciptakan suasana yang santai. Setelah itu, peneliti mulai melakukan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara. Pertanyaan yang diajukan kepada subjek dimulai dari pertanyaan yang sifatnya umum, kemudian mengarah pada pertanyaan yang sifatnya khusus.

Wawancara yang dilakukan peneliti terhadap subjek penelitian direkam dengan menggunakan tape recorder. Peneliti juga harus cermat mengobservasi hal-hal apa saja yang muncul selama proses wawancara, misalnya ekspresi wajah subjek, bahasa tubuh subjek, dan sebagainya. Hasil observasi tersebut dicatat dengan menggunakan kata-kata kunci (key words) yang akan disempurnakan setelah wawancara selesai.

III.E.3. Tahap Pencatatan Data

Semua data yang telah disampaikan oleh subjek selama proses wawancara ditranskripkan secara verbatim untuk dianalisis. Verbatim adalah mendengarkan lalu menulis kata per kata hasil rekaman wawancara, kemudian diketik.

III.F. Prosedur Analisis Data

Prosedur analisis data dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut (Poerwandari, 2001) :

1. Mencatat data menjadi bentuk teks.

(57)

2. Mengelompokkan data dalam kategori-kategori tertentu sesuai dengan pokok permasalahan yang ingin dijawab.

Dalam tahap ini, pertama-tama dilakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok permasalahan dan tahap kedua dilakukan koding atau pengelompokan data dalam berbagai kategori.

3. Melakukan interpretasi awal terhadap setiap kategori data.

Setiap kelompok data yang diperoleh kemudian dianalisa dan diinterpretasi secara terpisah (tanpa dikaitkan dengan kelompok data yang lain) untuk memperoleh gambarannya.

4. Mengidentifikasi tema utama dari data yang terkumpul. Hal ini dilakukan untuk melihat gambaran apa yang paling utama tampil dan dirasakan oleh subjek penelitian.

5. Menulis hasil akhir.

(58)

BAB IV

HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN

IV. A Analisis Kasus Responden A Tempat wawancara : Rumah Sakit

Tanggal : 30 Juli 2008

20 Agustus 2008

Nama : Amir Munthe

Usia : 57 tahun

Agama : Islam

Suku : Batak

Pekerjaan : Petani

Status perkawinan : Menikah

Jumlah anak : 7 orang

Tahun diagnosis : 2007

Stadium kanker : Stadium IIB

Pengobatan medis : Kemoterapi

Pengobatan lain : -

IV.A.1 Gambaran diri responden A

Responden A dalam penelitian ini adalah Amir, seorang pria berumur 57

tahun dan suku Batak. Amir adalah seorang penderita kanker paru stadium II-B.

Peneliti mengenal Amir dari salah seorang kenalan peneliti yang bekerja sebagai

(59)

Amir dilahirkan dan dibesarkan di Aek Kanopan. Amir hanya sempat

mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP karena kondisi ekonomi yang tidak

mendukung. Sejak remaja, Amir harus bekerja untuk membantu kehidupan

keluarganya. Amir bersama dengan ayahnya bekerja sebagai buruh tani di ladang

karet milik tuan tanah di kampungnya. Pekerjaan ini terus dilakoninya hingga ia

menikah dan punya anak. Selain itu, Amir juga pernah bekerja sebagai penebang

kayu. Sejak bekerja pula Amir memulai mengenal kebiasaan merokok, ia terbiasa

menghisap rokok 4-5 batang perhari bahkan sebungkus dalam sehari.

Amir menikah 30 tahun yang lalu dan memiliki 7 orang anak. Amir

tinggal di Aek Kanopan bersama 4 orang anaknya, sementara 3 anak yang lain

tinggal di luar kota. Salah seorang dari anaknya kuliah di Rantau Parapat. Amir

merasa bangga karena dapat membiayai pendidikan anak tersebut hingga

perguruan tinggi. Amir bertekad dan memiliki keinginan kuat agar anaknya dapat

menyelesaikan kuliahnya hingga selesai. Namun hal ini terhambat oleh kondisi

kesehatannya sendiri. Sejak menderita gejala kanker paru, Amir tidak dapat

bekerja seperti sedia kala dan harus beristirahat agar sembuh. Keadaan ini

membuat Amir merasa khawatir, terutama mengenai biaya kuliah anaknya. Ia

khawatir tidak dapat membiayai kuliah anaknya hingga selesai.

Kondisi ekonomi keluarga Amir semakin buruk karena harus membiayai

pengobatan, terlebih sejak Amir didiagnosa menderita kanker paru stadium II-B.

Amir harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan yang harus

(60)

dengan tidak dikenakan biaya kemoterapi. Amir hanya perlu mengeluarkan uang

untuk membeli obat penahan rasa sakit dan vitamin. Mengingat segala kemudahan

yang didapatnya, Amir berharap dapat menjalani kemoterapi hingga selesai.

Kanker paru tidak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi, namun juga

mempengaruhi hubungan Amir dengan orang lain, khususnya dengan

teman-temannya. Sejak mengalami gejala batuk yang berkepanjangan, Amir menarik diri

dari pergaulan. Amir merasa tidak enak apabila batuk-batuk di depan

teman-temannya. Sebaliknya dari pihak teman-teman Amir juga menjaga jarak karena

tidak ingin tertular batuk. Kesan bahwa teman-teman menghindar dan menjaga

jarak membuat Amir merasa dikucilkan. Perasaan dikucilkan semakin membuat

Amir menghindari kontak dan menjauhi teman-temannya. Berkurangnya interaksi

dengan teman-teman membuat Amir merasa kesepian.

Kesepian yang dirasakan berlanjut hingga Amir menjalani rawat inap di

rumah sakit. Selama menjalani perawatan di rumah sakit, interaksi yang dilakukan

Amir semakin terbatas. Ia harus dirawat di rumah sakit tanpa interaksi dengan

teman-teman. Ia hanya ditemani oleh istrinya. Amir tidak memiliki teman untuk

berbagi cerita dan penderitaan sehingga membuat Amir merasa sendiri dan sedih.

Amir sering menangis karena memikirkan penyakit dan juga nasib keluarganya

apabila ditinggalkan olehnya.

Peneliti mengenal Amir dari salah satu kenalan yang bekerja di rumah

sakit tempat Amir menjalani pengobatan kemoterapi. Pertemuan pertama peneliti

dengan Amir terjadi pada tanggal 27 Juli 2007, peneliti datang tanpa

(61)

perawat tersebut. Awalnya Amir merasa canggung dan merasa bingung sampai

akhirnya peneliti menjelaskan maksud kedatangannya. Pertemuan pertama ini

dimanfaatkan peneliti untuk membangun rapport. Setelah itu peniliti segera

mengatur pertemuan berikutnya untuk melakukan wawancara.

Wawancara pertama dilakukan pada 30 Juli 2007. Pertemuan ini diawali

dengan melakukan rapport agar tercipta hubungan yang baik. Setelah Amir

merasa nyaman dengan peneliti, peneliti mulai menanyakan mengenai penyakit

kanker paru yang dideritanya. Amir mengawali dengan menceritakan bagaimana

ia mengetahui dengan pasti penyakit yang dideritanya serta pengobatan yang

dijalaninya. Pertemuan pertama berlangsung selama kurang lebih satu jam.

Sebelum mengakhiri pertemuan, peneliti dan Amir mengadakan temu janji untuk

pertemuan berikutnya.

Pertemuan kedua berlangsung pada tanggal 20 Agustus 2007 di rumah

sakit, tepatnya di bangsal tempat ia dirawat. Suasana rumah sakit kali ini lebih

sunyi karena peneliti berkunjung pada malam hari. Amir menyambut peneliti

dengan ramah. Awalnya Amir masih merasa sungkan untuk menceritakan

mengenai penyakitnya, hal ini mungkin dikarenakan adanya pihak ketiga, namun

setelah pihak ketiga pergi Amir bisa bercerita dengan lebih leluasa. Amir adalah

seorang yang mampu mengekspresikan perasaannya dengan baik. Hal ini terlihat

dari kata-kata yang diucapkannya. Sewaktu menceritakan mengenai anak-anaknya

matanya terlihat berkaca-kaca. Ia mengungkapkan kesedihannya karena tidak

(62)

dideritanya. Ia merasa takut karena menderita penyakit parah dan bisa

mengakibatkan kematian. Selain itu, ia juga merasa marah karena banyak

orang-orang di sekitarnya yang meninggalkannya.

IV. A. 2 Gambaran Kesepian yang dialami Responden A

Batuk merupakan salah satu gejala penyakit dialami Amir sebelum

didiagnosa kanker paru. Gejala batuk tersebut disertai darah dan berlangsung

selama kurang lebih setahun. Batuk yang dideritanya tidak hanya berdampak

secara fisik, namun juga psikis. Amir merasa teman-temannya menjauh karena

takut tertular batuk yang dideritanya. Teman-temannya menganggap Amir

menderita TBC (Tuberkolosis), sehingga enggan untuk berdekatan dengannya.

Teman-temannya juga kerap menutup mulut mereka apabila Amir batuk di dekat

mereka. Respon negatif yang diberikan oleh teman-temannya ini membuat Amir

merasa bahwa teman-temannya mulai menjauh.

“ya itulah kira-kira mengatakan benci. Perasaan bencilah nengok kita karena orang itu pula senang-senang kita pula batuk-batuk. Itulah membikinnya kita mundur diri sendiri karena penyakit itu. Itulah yang disesalkan sehingga kita tak bisa buat untuk berteman lagi seperti biasa.”

Respon negatif yang diterima dari teman-temannya membuat Amir

semakin menjauh karena merasa tidak enak jika harus batuk-batuk di depan

teman-temannya. Ia mulai menarik diri dari pergaulannya di warung. Amir

menarik diri karena menyadari kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk

terlalu sering berada di luar rumah. Ia takut batuk yang dideritanya semakin parah.

Ia juga menghindari teman-temannya yang merokok karena takut akan

(63)

“iyalah jadi kita pun menghindari dari asap-asap rokok ini terpaksa menjauh juga. Umpamanya ketemu teman-teman dari warung. Itulah keluhan ketika sudah mengandung penyakit ini.”

Berbagai usaha dilakukan untuk mengobati penyakit batuknya, mulai dari

meminum obat batuk dari warung hingga berobat ke dokter di kota asalnya,

namun batuk yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Amir tidak berdaya karena

berbagai usaha telah dilakukan namun tidak membawa kesembuhan. Saat tidak

berdaya Amir sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya,

namun penyakitnya membuat orang-orang menjauh karena tidak ingin tertular

batuk. Kondisi ini semakin membuat Amir merasa tidak ada satupun yang peduli

akan perasaannya. Amir harus berjuang sendirian dengan penyakitnya.

“Kadang memang saya merasa sudah tidak bisa lagi…apapun yang dilakukan sudah memang beginilah. Mudah-mudahanlah doktor bisa mengobati. Itu sajalah. Cuma itu. Kadang pun seperti tidak peduli dia, cuma ngobati saja. Seperti tidak peduli dia dengan saya, perasaan saya. Tuhan saja yang tahu semua itu, bagaimana saya harus berjuang sendiri.”

Amir putus harapan, terlebih saat batuk yang dideritanya semakin parah dan mengeluarkan darah. Saat berobat ke dokter, Amir didiagnosa menderita

TBC (Tuberkolosis), namun setelah beberapa kali pengobatan dokter tersebut

menyerah dan merekomendasikan agar Amir berobat ke Medan. Amir sempat

merasa tidak berdaya dan putus harapan, karena dokter pun sudah tidak dapat

menolongnya. Amir tidak tahu pasti penyakit apa yang dideritanya, namun ia

menyadari kalau penyakit yang dideritanya cukup serius.

Pada Juni 2007 akhirnya Amir memutuskan untuk memeriksakan

(64)

paru stadium II-B. Mendengar hal ini Amir merasa terkejut dan ngeri karena

penyakit kanker yang kemungkinan dapat merenggut nyawanya.

Dokter yang memeriksa Amir segera menyarankan untuk menjalani

kemoterapi. Mendengar hal ini Amir segera mengkonsultasikannya dengan istri

dan anaknya. Setelah mendapat persetujuan, Amir menyatakan bersedia untuk

menjalani kemoterapi dan menandatangani surat pernyataan yang menyatakan

bahwa ia bersedia menjalani kemoterapi dari awal hingga akhir.

Kemoterapi yang dijalaninya membuat Amir harus pulang pergi Aek

Kanopan – Medan setiap 2 – 3 minggu sekali. Perjalanan dari desanya menuju

Medan harus ditempuhnya dengan dua kali naik bus. Perjalanan dari rumahnya di

desa memakan waktu sekitar dua jam menuju kota Aek Kanopan. Setelah tiba di

Aek Kanopan Amir dan istrinya baru bisa menumpang bus menuju Medan, yang

memakan waktu sekitar 5 jam. Hal ini dirasakan sangat melelahkan, terlebih

karena kondisi kesehatannya yang tidak baik.

Kemoterapi pertama dijalani pada akhir bulan Juni 2007. Selama

menjalani kemoterapi Amir merasa badannya terasa tidak berfungsi dan mati rasa.

Ia juga merasakan panas di bagian dadanya dan merasa mual. Rasa mual yang

dialami membuatnya tidak selera makan, sebaliknya jika makan, tidak berapa

lama makanan tersebut dimuntahkan. Kondisi perutnya tidak baik dan sering

menderita mencret.

Selama menjalani kemoterapi, Amir hanya ditemani oleh istrinya. Jauh

dari kota tempat tinggalnya membuat Amir harus jauh dari anak-anak dan juga

Gambar

Tabel 1.1 Rasio Penderita Kanker Paru pada Pria Di Indonesia (1995-1999)
Tabel 1.2 Rasio Penderita Kanker Paru pada Pria Di Medan (1995-1999)
Tabel 2.1 Perasaan Yang Dirasakan Ketika Mengalami Kesepian
Tabel. 2.2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bila seseorang baru pindah tempat tinggal dan pindah tempat kerja, kemudian merasa sedih, kesepian dan tidak punya teman yang bisa berlanjut menuju depresi, maka penyembuhannya

4. Pengetahuan dan pandangan subjek tentang penyakit payudara 5. Pengalaman subyek terkait dengan penyakit kanker payudara 6. Dampak psikologis akibat menderita kanker payudara..

Ada perbedaan status depresi berdasarkan tingkat pendidikan pasien kanker payudara, sedangkan berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, dan jenis pembiayaan

4. Pengetahuan dan pandangan subjek tentang penyakit payudara 5. Pengalaman subyek terkait dengan penyakit kanker payudara 6. Dampak psikologis akibat menderita kanker payudara1.

Kesepian dan depresi yang melanda mereka ini umumnya disebabkan karena hidup sendirian atau karena kurangnya ikatan keluarga dekat dan adanya pengurangan hubungan dengan budaya

Ada perbedaan status depresi berdasarkan tingkat pendidikan pasien kanker payudara, sedangkan berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, dan jenis pembiayaan

SIMPULAN Setelah dilakukan penelitian di Yayasan Kanker Indonesia Surabaya tentang tingkat pengetahuan tentang kanker serviks dengan tingkat depresi pada penderita kanker serviks

Paparan asbes dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker