• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Pola Tanam (Studi Deskriptif Tentang Perubahan Pola Tanam Dengan Berbagai Jenis Tanaman di Desa Munte)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perubahan Pola Tanam (Studi Deskriptif Tentang Perubahan Pola Tanam Dengan Berbagai Jenis Tanaman di Desa Munte)"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Nama : Salsalinaita Br Tarigan NIM : 050905037

Departemen : Antropologi

Judul : PERUBAHAN POLA TANAM

(Studi Deskriptif Tentang Perubahan Pola Tanam Dengan Berbagai Jenis Tanaman)

Medan, 25 Juni 2010

Pembimbing Skripsi Ketua Departemen

( Drs. Lister Berutu, MA) (Drs. Zulkifli Lubis, MA) NIP. 196007171987031005 NIP.196011011986011001

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

(2)

ABSTRAK

Salsalinaita Br Tarigan 2010, judul : PERUBAHAN POLA TANAM (Studi Deskriptif Tentang Perubahan Pola Tanam Dengan Berbagai Jenis Tanaman di Desa Munte). Pada skripsi ini terdiri dari 5 bab, 82 halaman, 11 tabel, 4 gambar, 13 daftar pustaka ditambah 3 sumber lain dan lampiran.

Secara umum masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras yang berasal dari tanaman Padi sebagai makanan pokok mereka. Oleh karena itu sudah sepantasnya pula masyarakat Indonesia memelihara tanaman Padi dengan sebaik-baiknya. Tanaman Padi biasanya ditanam di sawah, namun ada juga petani yang menanam Padi di lahan kering atau di ladang. Akan tetapi mayoritas petani di Indonesia menanam tanaman Padi di sawah.

Desa Munte memiliki lahan sawah yang luas dan memiliki sungai irigasi yang membantu petani dalam masalah perairan. Beras yang dihasilkan dari tanaman Padi dari desa ini dijual sampai ke luar daerah dan bahkan sampai ke luar propinsi. Semakin lama petani dihadapkan pada masalah-masalah dan mencari alternatif lain. Petani mencoba untuk merubah pola tanam mereka. Berkenaan dengan itu penelitian ini memusatkan perhatian pada perubahan pola tanam yang terjadi dan bagaimana pengetahuan petani tentang perubahan yang mereka lakukan.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Melihat bagaimana petani merubah pola tanam mereka yang tidak menentu karena dipengaruhi oleh musim dan juga pasar, serta melihat juga bagaimana konsekuensi yang terjadi akibat perubahan pola tanam tersebut.

(3)

KATA PENGANTAR Salam sejahtera…..!!!!!

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya-lah maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis sadar bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan skripsi ini sehingga masih jauh dari sempurna, baik dalam hal penuturan kata ilmiah maupun dalam hal pengumpulan data. Tujuan dari pembuatan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat seorang mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Penelitian yang dilakukan oleh penulis ini berjudul “ PERUBAHAN POLA TANAM (Studi Deskriptif Tentang Perubahan Pola Tanam Dengan Berbagai Jenis Tanaman di Desa Munte).

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini mulai dari awal sampai akhir skripsi ini, kepada:

1. Bapak Prof. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, MA selaku Ketua Departemen Antropologi, Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Irfan Simatupang, MSi selaku Sekretaris Departemen Antropologi, Universitas Sumatera Utara dan sekaligus sebagai ketua penguji proposal dan meja hijau yang telah mengarahkan penulis.

(4)

arahan dan masukan yang baik. Terimakasih untuk waktu, ilmu, saran, dan pengetahuan yang telah diberikan.

5. Ibu Dra. Sri Alem Sembiring, MSi selaku penguji proposal dan meja hijau, terimakasih atas bimbingan dan saran yang telah diberikan.

6. Bapak Drs. Zulkifli, MA selaku dosen wali penulis, terimakasih atas bimbingan dan dukungannya.

7. Para Dosen Antropologi, Staf Pegawai FISIP, Pegawai Perpustakaan Fakultas dan Pegawai Perpustakaan Universitas.

8. Bapak Sahnan Sembiring selaku Kepala Desa Munte dan kepada Bapak Setia Utama Bangun selaku Sekretaris Desa Munte, terimakasih penulis ucapkan atas penerimaan, kerja sama serta pemberian informasi, dan kepada seluruh masyarakat Desa Munte yang telah menjadi informan bagi penulis dan yang telah meluangkan waktu bagi penulis.

9. Secara khusus skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orangtua penulis, TM. Tarigan dan T. Br Perangin-angin, terimakasih atas kasih sayang yang tulus, doa, materi, serta dukungannya selama ini.

10.Adik-adik penulis: E.harapenta Tarigan dan Salvionita Br Tarigan, terimakasih untuk dukungan dan doanya dan teruskan perjuangan kalian untuk mencapai cita-cita.

(5)

12.Seluruh keluarga besar penulis: terimakasih untuk segala doa dan dukungannya.

13.Sahabat-sahabat terbaikku: Eldevia Endora Tarigan, Sri Ulina Girsang S.Sos, Mia Falentina Barus S.Sos, dan Roseva Sari Bangun S.Sos, terimakasih atas segala dukungan, bantuan dan doa yang telah diberikan kepada penulis.

14.Kerabat-kerabat Antropologi: Ciwul, Domi, Santi, Omi, Eva, Kak Adis, Kak Mece, Vina dan lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimakasih untuk dukungannya.

15.Suami penulis Hardinal Meliala, terimakasih untuk kasihsayang, dukungan dan doanya.

16.Sikecilku Shara Mareysa Br Meliala, terimakaih atas kehadiranmu sebagai penambah semangat buat Ibu.

17.Sahabatku Peronika Sari Br Tarigan, Amd dan Winda Br Bangun yang telah membantu penulis dalam pengumpulan data serta penyelesaian skripsi ini.

(6)

Terimakasih. Tuhan Memberkati……..!!!!!!

Medan, 25 Juni 2010

(7)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah dan Lokasi Penelitian ... 5

1.2.1. Rumusan Masalah ... 5

1.2.2. Lokasi Penelitian ... 6

1.3. Tujuan Masalah ... 6

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

1.5. Tinjauan Pustaka ... 7

1.6. Metode Penelitian ... 10

1.6.1. Tipe Penelitian ... 10

1.6.2. Teknik Pengumpulan Data ... 11

1.7. Analisa Data ... 13

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 14

2.1. Desa Munte ... 14

2.2. Letak dan Kondisi Geografis ... 16

2.3. Keadaan Alam ... 17

2.3.1. Iklim ... 17

2.3.2. Keadaan Tanah ... 18

2.4. Pola Perkampungan ... 19

2.4.1. Keadaan Jalan ... 23

2.4.2. Media Massa dan Kesehatan Penduduk ... 24

2.5. Penduduk ... 25

2.5.1. Gambaran Umum Penduduk ... 25

2.5.2. Suku Bangsa ... 27

(8)

2.5.4. Sarana Pndidikan ... 29

2.5.5. Agama ... 32

BAB III SISTEM PERTANIAN DI DESA MUNTE ... 34

3.1. Jenis Produk Pertanian ... 34

3.2. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Tanah, Bibit, Musim, Pasar, Serta Hama dan Penyakit ... 39

3.2.1. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Tanah ... 39

3.2.2. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Bibit ... 42

3.2.3. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Musim ... 43

3.2.4. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Pasar ... 46

3.2.5. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Hama dan Penyakit ... 47

3.2.5.1. Hama ... 47

3.2.5.2. Penyakit ... 51

3.3. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pupuk dan Pestisida ... 52

3.3.1. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pupuk ... 52

3.3.2. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pestisida ... 54

3.4. Masa Panen dan Tenaga Kerja ... 55

3.4.1. Masa Panen ... 55

3.4.2. Tenaga Kerja ... 56

3.5. Pemasaran ... 56

BAB IV POLA TANAM DAN PERUBAHAN YANG TERJADI 58

4.1. Pola Tanam Sebelum Tahun 1997 ... 58

4.1.1. Padi Sebagai Tanaman Utama ... 58

4.1.2. Varietas Lain Sebagai Tanaman Tambahan ... 65

4.2. Perubahan Pola Tanam Sesudah Tahun 1997 Hingga Sekarang ... 69

4.2.1. Cokelat ... 70

(9)

4.2.3. Kayu Putih ... 73

4.3. Konsekuensi Perubahan Pola Tanam ... 73

4.3.1. Pendapatan yang Tidak Menentu ... 73

4.3.2. Terjadinya Pengalihan Fungsi Lahan ... 75

4.3.3. Munculnya Dampak Positif dan Negatif ... 77

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 78

5.1. Kesimpulan ... 78

5.2. Saran ... 80

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Komposisi Desa di Kecamatan Munte ... 15

Tabel 2. Komposisi Luas Wilayah Desa Munte Berdasarkan Jenis Tanah ... 19

Tabel 3. Jenis Rumah Adat serta Jumlahnya ... 20

Tabel 4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 26

Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur ... 26

Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa ... 28

Tabel 7. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 29

Tabel 8. Sekolah yang ada di Desa Munte serta Jumlahnya ... 31

Tabel 9. Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan ... 31

Tabel 10. Bangunan Ibadah serta Jumlahnya ... 33

(11)

ABSTRAK

Salsalinaita Br Tarigan 2010, judul : PERUBAHAN POLA TANAM (Studi Deskriptif Tentang Perubahan Pola Tanam Dengan Berbagai Jenis Tanaman di Desa Munte). Pada skripsi ini terdiri dari 5 bab, 82 halaman, 11 tabel, 4 gambar, 13 daftar pustaka ditambah 3 sumber lain dan lampiran.

Secara umum masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras yang berasal dari tanaman Padi sebagai makanan pokok mereka. Oleh karena itu sudah sepantasnya pula masyarakat Indonesia memelihara tanaman Padi dengan sebaik-baiknya. Tanaman Padi biasanya ditanam di sawah, namun ada juga petani yang menanam Padi di lahan kering atau di ladang. Akan tetapi mayoritas petani di Indonesia menanam tanaman Padi di sawah.

Desa Munte memiliki lahan sawah yang luas dan memiliki sungai irigasi yang membantu petani dalam masalah perairan. Beras yang dihasilkan dari tanaman Padi dari desa ini dijual sampai ke luar daerah dan bahkan sampai ke luar propinsi. Semakin lama petani dihadapkan pada masalah-masalah dan mencari alternatif lain. Petani mencoba untuk merubah pola tanam mereka. Berkenaan dengan itu penelitian ini memusatkan perhatian pada perubahan pola tanam yang terjadi dan bagaimana pengetahuan petani tentang perubahan yang mereka lakukan.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Melihat bagaimana petani merubah pola tanam mereka yang tidak menentu karena dipengaruhi oleh musim dan juga pasar, serta melihat juga bagaimana konsekuensi yang terjadi akibat perubahan pola tanam tersebut.

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sejak tahun 1980-an Desa Munte telah dikenal sebagai salah satu daerah yang menghasilkan beras dengan kualitas baik, bahkan hal tersebut masih berlangsung sampai sekarang. Namun keberhasilan masyarakat dalam mengusahakan tanaman Padi mereka kini telah mengalami penyusutan. Hal ini terbukti dengan timbulnya berbagai macam masalah yang mengganggu tanaman Padi dan sampai sekarang belum ditemukan cara yang tepat untuk mengatasinya. Ada beberapa varietas Padi yang dikenal baik dari Desa Munte, antara lain adalah yang diberi nama “Cantik Manis”. Masyarakat masih mengakui rasa dan kualitasnya sampai sekarang.

Dari tanaman Padi inilah masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, bahkan mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil panen Padi mereka. Sistem pemasaran Padi biasanya dilakukan masyarakat melalui agen. Agen-agen tersebut berasal dari Desa Munte juga. Hal ini membuat hubungan antar petani Padi dengan agen baik. Tidak pernah timbul konflik antar mereka. Agen akan membeli Padi petani dengan harga yang sewajarnya, artinya agen membeli Padi dengan harga pasar.

(13)

Masyarakat mengakui bahwa terjadinya hal tersebut karena gangguan alam dan kurang sadarnya masyarakat akan pentingnya peranan sungai irigasi tersebut. Akibat dari runtuhnya sungai irigasi tersebut membuat para petani Desa Munte banyak yang mengeluh, karena banyak diantara mereka yang tidak panen sesuai dengan biasanya bahkan ada juga yang tidak panen sama sekali. Menyadari hal tersebut pemerintah setempat mengajukan permohonan kepada pemerintah Kabupaten untuk segera memperbaiki sungai irigasi tersebut. Sungai irigasi tersebut diperbaiki dengan adanya bantuan dari pemerintah serta dibantu oleh masyarakat itu sendiri.

Padi yang ada di Desa Munte ada yang ditanam di lahan basah (sawah) dan ada juga yang ditanam di lahan kering atau yang sering disebut dengan “page tuhur”. Namun mayoritas petani desa ini menanam Padi yang ditanam di lahan basah (sawah). Hal ini didukung oleh adanya sungai irigasi yang terdapat di desa tersebut.

Sejak munculnya isu harga pupuk dan pestisida mulai meninggi di Indonesia sekitar tahun 1998, di desa ini juga timbul berbagai macam masalah. Masalah-masalah tersebut kemudian memunculkan masalah yang baru pula. Sehingga petani diharuskan mencari alternatif masing-masing. Hal inilah yang membuat petani Padi di Desa Munte mulai kewalahan dan mau tidak mau hal ini dapat menimbulkan kerugian pada petani lainnya.

(14)

maka besar kemungkinan hasil yang mereka peroleh pun tidak sama seperti sebelumnya, bisa saja bertambah dan mungkin saja berkurang. Mereka mengambil keputusan untuk tetap menggunakan pupuk dan pestisida yang biasa mereka gunakan meskipun sebenarnya mereka sulit untuk memperolehnya dan harganya mahal. Keputusan ini diambil oleh para petani karena mereka takut hasil panen yang mereka peroleh berkurang hasilnya. Namun tidak selamanya keputusan yang seperti ini membuat hasil panen mereka tetap atau bertambah, tidak jarang para petani mengalami kerugian disebabkan oleh permasalahan lain yang mereka alami.

Petani selalu menghadapi problema yang ada di sekitarnya. Hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan semasa penanaman dan tidak cukup meskipun untuk dikonsumsi sendiri. Belum lagi Padi yang rusak akibat gangguan alam.

Sampai sekarang alternatif yang diperoleh petani Padi belum memuaskan bagi mereka. Bahkan setelah mengganti tanaman Padi ke jenis tanaman lain, masih saja belum memuaskan mereka. Artinya meskipun telah beralih ke tanaman lain banyak petani yang masih mengeluh karena belum mendapat hasil yang memuaskan bagi mereka.

(15)

dalam mengatasi penyakit dan hama yang menyerang tanaman mereka. Biasanya para petani mengganti tanaman Padi dengan tanaman-tanaman yang mudah cara perawatannya. Jenis tanaman lainnya tersebut antara lain adalah Jagung, Cabai, Cokelat, Sayur Pahit, dan berbagai tanaman lainnya yang menurut petani lebih mudah cara merawat dan mengelolanya.

Ada beberapa faktor sosial budaya yang mempengaruhi pertanian Padi di Desa Munte ini. Terkait dengan makin menurunnya hasil panen yang diperoleh petani Padi banyak masyarakat yang melakukan acara sesajian di sawah mereka dengan tujuan pada hasil panen berikutnya akan memperoleh hasil yang lebih baik lagi. sesajian itu disebut dengan istilah “mbere nakan begu juma” yang artinya memberi makan hantu ladang. Biasanya petani membuat sesajiannya berupa nasi putih beserta lauk seperti ayam dan ikan mas yang dibuat di atas daun pisang. Selain itu petani juga menyertakan rokok, korek dan sirih. Semua sesajian tersebut diletakkan di atas tanaman petani. Mereka meyakini dengan memberikan sesajian tersebut hasil panen mereka lebih meningkat. Dari sesajian yang mereka lakukan ada petani yang mengalami panen yang lebih baik dari sebelumnya tapi ada juga petani yang hasil panennya menurun lagi.

(16)

Beras yang dihasilkan dari tanaman Padi merupakan makanan pokok utama manusia. Begitu juga dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas mengkonsumsi beras sebagai makanan utama mereka. Dengan alasan ini masyarakat Indonesia sudah seharusnya menjaga kelestarian Padi. Namun hingga sekarang ini permasalahan yang dihadapi para petani Padi semakin banyak dan solusi yang mereka peroleh belum maksimal.

Tulisan ini dibuat untuk mengetahui penyebab-penyebab yang mendorong petani merubah pola tanamannya ke jenis tanaman lain. Kemudian memunculkan kesimpulan bahwa perubahan pola tanam yang terjadi pada kalangan petani adalah keputusan yang tepat buat mereka, terutama bagi kelangsungan hidup mereka.

1.2 Ruang Lingkup Masalah dan Lokasi Penelitian 1.2.1 Rumusan Masalah

Seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang diatas bahwa masyarakat Desa Munte kini dihadapkan pada masalah yang sulit. Masyarakat harus memilih untuk tetap mempertahankan pola tanaman Padi atau melakukan perubahan pola tanam ke jenis tanaman lain.

Berdasarkan masalah di atas maka pertanyaan penelitian ini adalah :

1. Bagaimana konsep masyarakat tentang jenis tanaman lain yang diproduksi dan bagaimana cara mereka melakukan produksi?

(17)

3. Bagaimana implikasi yang terjadi setelah melakukan perubahan pola tanam ke jenis tanaman lain dibandingkan dengan tetap mempertahankan pola tanaman Padi?

1.2.2. Lokasi Penelitian

Penelitian yang peneliti lakukan ini adalah di Desa Munte, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo dimana mayoritas penduduknya bermata pencaharian bertani (petani pemilik lahan sampai petani yang hanya bekerja sebagai buruh tani). Hal ini tentunya mendukung peneliti dalam mengadakan penelitian. Ditambah lagi mayoritas penduduk desa ini bersuku Karo, hal ini juga memudahkan peneliti dalam mengadakan penelitian, khususnya dalam mengadakan wawancara dan observasi partisipasi dengan masyarakat. Perubahan pola tanam yang terjadi di desa ini juga mendorong peneliti untuk memilih Desa Munte sebagai lokasi penelitian.

1.3. Tujuan Penelitian

(18)

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan gambaran tentang perubahan pola tanam serta faktor-faktor yang mempengaruhi petani di Desa Munte kepada pihak-pihak terkait, baik para petani sendiri maupun pihak lain yang ada hubungannya dengan permasalahan ini. Penelitian ini juga diharapkan sebagai referensi serta pengkaryaan studi di jurusan Antropologi dan juga melatih penulis untuk membuat karya ilmiah.

1.5. Tinjauan Pustaka

Petani merupakan manusia yang kreatif dan inovatif memiliki pengetahuan yang kaya, rinci dan adaptif terhadap keadaan lingkungan hidupnya (Robert Chamber dalam Kusnaka A. 1999:3).

Petani adalah orang-orang yang mempunyai usaha untuk menanam tanaman dalam berbagai jenis tanaman. Dalam masyarakat ada yang berperan sebagai petani pemilik lahan dan juga petani yang hanya sebagai buruh saja, namun yang menjadi objek penelitian adalah petani yang melakukan perubahan pola tanam dalam berbagai jenis tanaman.

(19)

Sistem pengetahuan dalam mengelola suatu produksi sangat mempengaruhi baik tidaknya hasil yang diperoleh. Semakin banyaknya pengalaman seseorang maka semakin luas pula pengetahuannya untuk memproduksi hasil pertaniannya, dan dengan demikian hasil yang akan diperoleh juga akan semakin baik. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit pengalaman seseorang petani dalam memproduksi suatu produk pertanian maka akan sedikit pula hasil yang akan diperoleh.

Sistem pengetahuan yang merupakan salah satu pedoman hidup diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui sosialisasi. Artinya pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan yang ada disekitar mereka. Dengan cara sosialisasi tersebut pedoman itu dikokohkan atau berkembang menyesuaikan diri dengan cara hidup dan sifat-sifat lingkungannya, meskipun pemahaman sifat-sifat-sifat-sifat karakteristik lingkungannya itu sangat terbatas pada wilayahnya. Jadi pengetahuan yang dimiliki manusia berbeda-beda antara suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain serta bervariasi diantara sesama anggota suatu kebudayaan.

Aktivitas petani dalam bercocok tanam seperti mengolah sawah atau berladang menunjukkan bahwa petani mengetahui keadaan alam,misalnya untuk bisa bertanam petani harus mengetahui musim yang paling baik untuk melakukan penanaman, apakah pada musim kemarau atau musim hujan, hal ini berguna untuk meningkatkan hasil-hasil tanaman yang dikerjakan atau diusahakan (Koentjaraningrat 1984:3).

(20)

yang digunakan untuk menginterpretasikan pengalaman dan menghasilkan tingkah laku. Karena setiap kehidupan manusia mempunyai kebudayaan sehari-hari berdasarkan alam, lingkungan alam untuk bertahan. Begitu juga dengan masyarakat petani, mereka mempunyai kebudayaan sendiri dalam memandang tata cara pengelolaan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki dalam melihat kondisi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada lahan pertanian mereka dan tata cara pengelolaan seperti apa saja yang digunakan dalam meningkatkan produktivitas pertanian mereka.

Dari gambaran di atas dapat terlihat bahwa pengetahuan mengenai pertanian merupakan suatu keyakinan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan proses pertanian yang membimbing para petani beraktivitas di lahan pertanian. Dengan adanya pengetahuan yang dimiliki para petani, menurut mereka dalam melakukan tindakan dalam usaha tani. Usaha tani menentukan tindakan seperti informasi mengenai metode pertanian, kredit dan berbagai pengaruh (Zulkifli,1996:19).

Menurut Ortiz (dalam Zulkifli, 1996), petani tidak mendasarkan keputusan mereka pada perkiraan (forecast) tentang kejadian dimasa datang atau pada prospek yang disusun sesuai dengan keinginan mereka, melainkan lebih didasarkan pada rentangan kejadian-kejadian yang baru dialami. Dengan pengetahuan itulah petani menghadapi masa depan, dengan kata lain petani membuat keputusan berdasarkan pengalamannya dimasa lalu.

(21)

pengetahuan yang seperti ini biasanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui sosialisasi dan merupakan pedoman hidup bagi mereka. Artinya pengetahuan dikembangkan dari pengalaman-pengalaman dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di sekitar mereka kemudian diimplementasikan dalam bentuk tindakan aktivitas (A.L. Kroeber dan C. Kluchkhon).

Kebudayaan merupakan perangkat teknik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi dalam situasi/kondisi alam, baik geografisnya maupun iklim. Dengan menguasai alam dan potensi alam serta hasil dari alam maka manusia setempat menginterpretasikan dan menjawab tantangan dengan kerangka kebudayaan. Kita dapat melihat bahwa alam dapat memberikan kehidupan manusia seperti misalnya, mengolah tanah. Selanjutnya dikatakan jelas oleh antropolog bahwa kebudayaan merupakan seperangkat pengetahuan yang diperoleh manusia yang digunakan untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial (Spradley,1997:5). Berhubungan dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli di atas, itu artinya alam seperti halnya tanah untuk lahan pertanian harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan baik geografisnya maupun iklim.

1.6. Metode Penelitian 1.6.1. Tipe Penelitian

(22)

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode kualitatif yaitu berupa pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Metode kualitatif akan menghasilkan data deskriptif yang berisi kutipan data berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi untuk mempermudah penelitian ini.

1.6.2. Teknik Pengumpulan Data

Untuk dapat menunjang data ketika penelitian dilaksanakan, diperlukan beberapa cara yang relevan dalam mencapai tujuan penelitian, yakni studi lapangan. Teknik pengumpulan data yang dipakai ketika peneliti melakukan penelitian lapangan adalah menggunakan wawancara dan observasi partisipasi.

 Wawancara

Wawancara yang dipakai dalam penelitian ini adalah bentuk wawancara mendalam (depth interview) kepada beberapa informan dengan menggunakan alat bantu pedoman wawancara (interview guide) yang berhubungan dengan masalah penelitian. Wawancara mendalam dimaksudkan untuk memperoleh sebanyak mungkin pengetahuan para petani tentang perubahan pola tanaman yang mereka lakukan.

(23)

dalam perubahan pola tanaman yang dilakukan oleh petani di Desa Munte (informan pokok). Dimana informan tersebut bukan hanya terlibat, tetapi benar-benar memiliki pengetahuan dan bisa mengungkapkan apa yang telah dilakukannya.

Dalam membuktikan keabsahan data dan memperkuat data yang diperoleh dari informan kunci dan informan pokok maka diwawancarai informan biasa yaitu penduduk desa yang juga mengetahui masalah yang diteliti. Jumlah informan tersebut tidak dibatasi, tetapi jumlah itu berhenti ketika sudah berulang-ulang.

 Observasi Partisipasi

Metode observasi partisipasi dengan melakukan pengamatan langsung dalam penelitian atau dengan kata lain menggunakan metode observasi partisipan. Seperti pada saat petani melakukan kegiatan penyiangan, pemberian pupuk serta kegiatan lainnya. Ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung kapan dan bagaimana para petani perlu memberikan perhatian lebih pada tanaman mereka dengan tujuan untuk menghindari sebisa mungkin masalah yang akan muncul.

 Studi Kepustakaan

(24)

1.7. Analisa Data

Data yang diperoleh tersebut dianalisis secara kualitatif. Proses analisa data pada penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh dari observasi dan wawancara serta studi kepustakaan yang seterusnya disusun secara sistematis agar lebih mudah dipahami dan dapat memberi arti. Data yang diperoleh disusun atau dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori tertentu.

(25)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1. Desa Munte

Desa Munte adalah sebuah Kecamatan yang berada di daerah Kabupaten Karo. Letaknya cukup strategis untuk dijangkau, transportasi yang dimiliki desa ini juga sudah cukup banyak. Kecamatan Munte merupakan daerah yang mempunyai luas wilayah 125,64 km2

Sesuai dengan uraian di atas, bahwa jumlah desa yang ada di Kecamatan Munte ada 22 desa dan tiap desa dikepalai oleh seorang Kepala Desa. Adapun desa-desa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

(26)

Tabel 1

Komposisi Desa di Kecamatan Munte

No

Nama Desa

No

Nama Desa

1

Sarimunte

12

Gunung Manumpak

2

Kutambaru

13

Selakkar

3

Gunung Saribu

14

Sarinembah

4

Kabantua

15

Singgamanik

5

Gurubenua

16

Nageri

6

Barung Kersap

17

Kutasuah

7

Biak Nampe

18

Kineppen

8

Tanjung Beringin

19

Buluh Naman

9

Pertumbungen

20

Bandar Meriah

10

Parimbalang

21

Sukarame

11

Munte

22

Kutagerat

Sumber: Kantor Kepala Desa Munte 2009

Kelebihan Desa Munte dari desa yang lain adalah wilayahnya yang lebih luas, dan karena itu juga jumlah penduduk di Desa Munte lebih banyak dibandingkan dengan desa yang lain. Tidak hanya itu saja, fasilitas yang ada di Desa Munte juga jauh lebih baik dari desa lainnya. Fasilitas tersebut antara lain seperti angkutan yang lebih banyak, Puskesmas, Kantor Pos, dan Sekolah yang lebih banyak.

(27)

Tanaman Padi pernah menjadi tanaman utama petani di Desa Munte, namun kini secara perlahan-lahan hal itu mulai berubah. Memang masih ditemukan tanaman Padi di desa ini tapi tidak sebanyak dulu lagi. Banyak alasan petani merubah pola tanaman mereka ke jenis tanaman yang lain. Bahkan ada juga petani yang sengaja mengeringkan sawah mereka agar bisa menanam jenis tanaman lain.

Masyarakat Desa Munte mayoritas adalah masyarakat yang bersuku Karo, namun ada juga suku lain di desa ini. Perbedaan suku pada masyarakat tidak terlihat dikehidupan sehari-hari mereka. Suku yang lain dapat beradaptasi dengan Suku Karo, artinya mereka dapat bersosialisasi dengan masyarakat Karo. Hal tersebut terbukti dengan bahasa Karo yang dipakai dalam kegiatan mereka sehari-hari.

Sama halnya dengan Suku Batak yang lain Suku Batak Karo di Desa Munte ini juga mengnut sistem kekerabatan patrilineal. Sistem kekerabatan patrilineal adalah garis keturunan menurut garis keturunan ayah. Oleh karena itu hanya anak laki-laki yang menjadi ahli waris untuk mendapat harta warisan dari orangtuanya. Tidak jarang juga hal ini menjadi konflik dalam masyarakat di desa ini.

2.2. Letak dan Kondisi Geografis

(28)

Karo yaitu Kabanjahe, dan akan memakan waktu kurang lebih setengah jam untuk menuju Ibukota Kabupaten tersebut.

Adapun batas-batas wilayah Desa Munte adalah sebagai berikut: 1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Singgamanik 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pertumbungen 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Gunung Manumpak 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tanjung Beringin.

Secara administratif, pemerintahan Desa Munte dibagi kedalam wilayah pemerintahan yang lebih kecil yang disebut dengan dusun atau ”kesain”. Desa Munte memiliki 6 dusun yaitu:

1. Kesain Munte mergana, yang dihuni oleh Marga Ginting Munte dengan anak berunya.

2. Kesain Ginting Babo, yang dihuni oleh Marga Ginting Babo dengan anak berunya.

3. Kesain Depari, yang dihuni oleh Marga Depari dengan anak berunya.

4. Kesain Milala, yang dihuni oleh Milala dengan anak berunya 5. Kesain Tarigan, yang dihuni oleh Tarigan dengan anak berunya.

2.3. Keadaan Alam 2.3.1. Iklim

(29)

berikutnya, dan musim kemarau berlangsung dari bulan April hingga bulan Agustus. Rata-rata curah hujan di daerah ini adalah 2500 mm pertahun.

Dengan kondisi alam seperti ini masyarakat Desa Munte sangat cocok dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. Para petani banyak yang menanam tanaman palawija, karena menurut mereka tanaman seperti itulah yang cocok dengan kondisi di desa tersebut. Beberapa jenis tanaman yang mereka tanam ialah Padi, Jagung, tanaman sayur-sayuran dan sebagainya. Petani pun mencocokkan tanaman yang akan mereka tanam dengan musim yang sedang berlangsung. Biasanya pada musim kemarau petani menanam tanaman seperti Jagung, dan pada musim hujan merka menanan tanaman seperti Sayur Pahit.

2.3.2. Keadaan Tanah

Desa Munte mempunyai ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Permukaan tanah berbentuk seperti kuali yang artinya tanah yang digunakan masyarakat untuk bertani berbukit-bukit sedangkan tanah yang digunakan sebagai pemukiman berdataran rendah. Tanahnya subur sehingga cocok digunakan sebagai lahan pertanian.

(30)
[image:30.595.118.503.107.260.2]

Tabel 2

Komposisi Luas Wilayah Desa Munte Berdasarkan Jenis Tanah

No Jenis Tanah Luas (Ha) Persentase (%)

1 Tanah Sawah 484 46,8

2 Tanah Kering 440 42,5

3 Tanah Pekarangan/Bangunan 35 3,3

4 Lainnya 75 7,2

Jumlah 1034 100

Sumber: Kantor Kepala Desa Munte, Tahun 2009

Dari data di atas dapat diketahui bahwa tanah terluas adalah tanah sawah, yaitu 484 ha. Oleh karena itu dari tahun 1980-an Desa Munte sudah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi yang baik. Namun sekarang bukan hanya tanaman padi saja yang ditanam di tanah sawah melainkan juga tanaman lain pun juga. Tanah kering pun diusahakan masyarakat untuk pertanian. Tanaman-tanaman yang sering ditanam dilahan kering tersebut antara lain adalah Jeruk, Cokelat, Cabai dan lain-lain. Tanah pekarangan yang dimaksud di atas adalah areal pemukiman masyarakat. Lainnya pada data di atas adalah tanah lain dari tanah sawah, tanah kering dan pekarangan, seperti lapangan, sekolah dan pekuburan.

2.4. Pola Perkampungan

(31)

Bentuk rumah umumnya membentuk empat persegi dengan variasi luas yang beraneka ragam. Setiap rumah ada yang ditempati hanya oleh satu keluarga, namun ada juga yang ditempati lebih dari satu kepala keluarga seperti rumah adat.

[image:31.595.164.461.389.512.2]

Masih ditemui beberapa rumah adat di desa ini. Satu rumah adat ada yang dihuni 8 keluarga (waluh jabu) terdiri dari 2 unit, ada juga yang dihuni 10 keluarga (sepuluh jabu) terdiri dari 1 unit dan ada juga yang dihuni oleh 6 keluarga (enem jabu) terdiri dari 1 unit. Pada zaman dulu setiap keluarga yang menghuni rumah adat tersebut harus memiliki hubungan darah, namun sekarang hal tersebut tidak berlaku lagi. Bahkan keluarga yang mendiami rumah adat tersebut pada awalnya tidak saling kenal sama sekali.

Tabel 3

Jenis Rumah Adat serta Jumlahnya

No Jenis Rumah Adat Jumlah

1 10 Keluarga 1 unit

2 8 Keluarga 2 unit

3 6 Keluarga 1 unit

Jumlah 4 unit

Sumber Kantor Kepala Desa Munte 2009

(32)

Desa Munte memilki 2 unit “Losd”. Losd ini digunakan ketika ada acara adat, seperti acara perkawinan. Losd tersebut diberi nama Losd Silima Merga dan Losd Tiga Munte. Namun losd yang sering digunakan masyarakat adalah Losd Silima Merga, Losd Tiga Munte digunakan apabila ada acara adat yang bentrok harinya. Setiap sore hari Losd Silima Merga digunakan sebagai pajak sore oleh masyarakat kecuali hari Jumat. Hari Jumat masyarakat berjualan/belanja di Losd Tiga Munte, karena Hari Jumat adalah Tiga Munte (pajak Munte). Orang-orang yang berjualan di losd tersebut adalah masyarakat Desa Munte itu sendiri. Mereka menjual hasil dari ladang mereka dan sebagian dibeli ke Kabanjahe untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.

Selain dari berjualan di pajak sore, banyak juga masyarakat yang membuka usaha sendiri seperti membuka kedai kopi dan warung. Orang-orang yang berkunjung ke kedai kopi biasanya adalah kaum laki-laki, baik yang sudah berumah tangga maupun anak laki-laki lajang (pada umumnya laki-laki yang sudah dewasa). Warung-warung yang ada menjual kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti sabun, minyak goreng dan lain-lain. Selain itu warung juga menyediakan makanan ringan untuk anak-anak. Selain kedai kopi dan warung di Desa Munte juga ditemukan beberapa kios phone dan toko pupuk. Kios phone terdiri dari 4 unit sedangkan toko pupuk/pestisida 3 unit.

(33)

yang ada di rumah adat tersebut). Selain itu pemerintah setempat juga menyediakan pipa umum (digunakan untuk mengambil air bersih), bila terjadi kerusakan tiba-tiba pada PAM masyarakat menggunakan sungai irigasi untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk pembuangan air limbah pada umumnya penduduk membuang ke tempat yang sudah dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah, yang kemudian akan dibakar. Untuk sampah yang tidak bisa dibakar seperti sisa sayur-sayuran penduduk menggunakannya untuk pakan ternak mereka. Tapi ada juga di antara masyarakat yang membuang sampah ke parit yang akibatnya parit menjadi kotor dan bau. Hal ini membukt ikan bahwa masih ada sebagian masyarakat yang masih kurang menyadari pentingnya kebersihan.

Hasil pertanian penduduk biasanya dijual pada agen yang tinggal di desa tersebut, akan tetapi ada juga sebagian toke yang berasal dari luar. Sebagian kecil dari hasil pertanian penduduk tersebut akan dijual eceran oleh pemiliknya, karena menurut mereka akan lebih menguntungkan bila dijual eceran. Selain itu penduduk juga terkadang menjual hasil panen mereka ke Kabanjahe (tiga=pajak) yang merupakan Ibukota Kabupaten, apabila hasil panen mereka berjumlah besar sehingga tidak memungkinkan dijual secara eceran.

(34)

2.4.1. Keadaan Jalan

Jalan menuju Desa Munte sudah diaspal tapi kini keadaannya sangat memprihatinkan. Banyak lubang-lubang besar yang didapati. Pemerintah setempat sudah mengajukan permohonan ke pemerintah pusat untuk segera memperbaiki jalan tersebut, namun sampai kini belum ada hasilnya. Pemerintah setempat merasa pemerintah pusat penting untuk mengatasi hal tersebut, dikarenakan jalan menuju desa ini juga jalan antar propinsi.

Banyaknya hambatan yang dialami sepanjang perjalanan mengakibatkan memakan waktu yang banyak untuk sampai ketujuan. Seharusnya Desa Munte dapat ditempuh dengan waktu 45 menit, namun sekarang bisa memakan waktu satu jam lebih. Banyak orang yang akan mengeluh apabila melintasi jalan ini. Kata mereka” pinggang pun seras patah”. Masyarakat hanya bisa berharap pemerintah pusat akan segera mengatasi masalah ini, karena hal ini juga berpengaruh terhadap produksi pertanian mereka, termasuk dalam hal pengangkutan hasil-hasil pertanian mereka.

(35)

2.4.2. Media Massa dan Kesehatan Penduduk

Kemajuan teknologi kini juga telah sampai kehadirannya di Desa Munte. Hal ini dibuktikan dengan adanya penduduk yang kini telah memiliki computer/laptop, TV, radio dan lain sebagainya. Ada juga beberapa penduduk yang telah memiliki telepon di rumah mereka dan hampir sebagian besar dari penduduk Desa Munte menggunakan handphone sebagai sarana telekomunikasi. Selain itu, ditemukan juga beberapa rental PS (playstation) di desa ini. Umumnya PS ini digunakan oleh anak-anak hingga remaja. Selain itu dapat ditemukan juga sarana surat kabari. Jika tidak berlangganan pribadi, surat kabar dapat ditemukan pada setiap kedai kopi.

Desa Munte memiliki sebuah Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang terdiri dari 2 dokter umum, 2 dokter gigi, dan beberapa bidan serta perawat. Pasien yang datang berobat bukan hanya dari Desa Munte saja melainkan juga dari desa lain, alasan mereka ingin diperiksa langsung oleh dokter. Puskesmas tersebut dibuka pukul 07:30 WIB-13:30 WIB setiap harinya. Setiap sore dan malam hari juga ada yang jaga oleh pegawai puskesmas secara bergantian.

Setiap desa yang bernaung di Kecamatan Munte disediakan layanan kesehatan yaitu BKIA (Badan Kesehatan Ibu dan Anak). Setiap desa memiliki satu sampai dua bidan dan setiap bidan harus memberikan laporan setiap bulannya ke Puskesmas Munte sebagai pusatnya. Ada juga beberapa bidan di Desa Munte yang membuka praktek sendiri di rumah mereka masing-masing, dan tentunya mereka harus mendapat surat izin terlebih dahulu.

(36)

aneh yang dibawa berobat ke orang pintar, selebihnya dapat ditangani oleh pihak Puskesmas.

2.5. Penduduk

2.5.1. Gambaran Umum Penduduk Desa Munte luasnya 10,34 Km2

Marga Ginting Munte adalah marga tanah yang artinya ”simanteki kuta”, dan sudah sewajarnya kalau marga inilah yang seharusnya mendominasi Desa Munte. Namun hal tersebut tidak terjadi. Marga Ginting Munte hanya ada sebagian kecil saja sedangkan marga yang mendominasi desa ini adalah marga Tarigan, kemudian diikuti oleh marga Sembiring, Ginting, Karo-karo dan Perangin-angin.

dengan jumlah penduduk 3398 jiwa. Penduduk Desa Munte umumnya memiliki latar belakang kebudayaan yang sama yaitu kebudayaan suku Batak Karo. Suku yang mendiami Desa Munte selain Suku Batak Karo adalah suku Jawa, suku Batak Toba dan suku Batak Simalungun. Mereka perlahan-lahan telah bisa beradaptasi dengan suku Batak Karo. Hal ini terbukti dengan dipakainya marga–marga Karo di belakang nama mereka dan ditentukannya orangtua angkat mereka di desa ini. Mereka juga telah menggunakan Bahasa Karo dengan fasih dalam berkomunikasi serta turut juga menjalankan adat istiadat Karo yang ada di desa ini.

(37)
[image:37.595.122.505.181.266.2]

jenis kelamin laki-laki dengan penduduk jenis kelamin perempuan hanya 22 jiwa. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4

Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase(%)

1 Laki-laki 1688 49,7

2 Perempuan 1710 50,3

Jumlah 3398 100

Sumber: Kantor Kepala Desa Munte, Tahun 2009

Tabel 5

Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur

No Umur Jumlah Persetase(%)

1 0-4 143 4,2

2 5-9 200 5,9

3 10-14 196 5,8

4 15-19 202 5,9

5 20-24 414 12,1

6 25-29 365 10,8

7 30-34 427 12,6

8 35-39 358 10,6

9 40-44 279 8,2

10 45-49 182 5,4

11 50-54 135 3,9

12 55-59 117 3,4

13 60-64 95 2,8

14 65-69 100 2,9

15 70-74 98 2,9

16 75- keatas 87 2,6

[image:37.595.121.493.344.734.2]
(38)

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa penduduk Desa Munte yang berumur 0 sampai 4 tahun berjumlah 143 orang atau 4,2 %. Penduduk yang berumur 5 sampai 9 tahun berjumlah 200 orang atau 5,9 %. Penduduk yang berumur 10 samoai 14 tahun berjumlah 196 orang atau 5,8 %. Penduduk yang berumur 15 sampai 19 tahun berjumlah 202 orang atau 5,9 %. Penduduk yang berumur 20 sampai 24 tahun berjumlah 414 orang atau 12,1 %. Penduduk yang berumur 25 sampai 29 tahun berjumlah 365 orang atau 10,8 %. Penduduk yang berumur 30 sampai 34 tahun berjumlah 427 orang atau 12,6 %. Penduduk yang berumur 35 sampai 39 tahun berjumlah 358 orang atau 10,6 %. Penduduk yang berumur 40 sampai 44 tahun berjumlah 279 orang atau 8,2 %. Penduduk yang berumur 45 sampai 49 tahun berjumlah182 orang atau 5,4 %. Penduduk yang berumur 50 sampai 54 tahun berjumlah 135 orang atau 3,9 %. Penduduk yang berumur 55 sampai 59 tahun berjumlah 117 orang atau 3,4 %. Penduduk yang berumur 60 sampai 64 tahun berjumlah 95 orang atau 2,8 %. Penduduk yang berumur 65 sampai 69 tahun berjumlah 100 orang atau 2,9 %. Penduduk yang berumur 70 sampai 74 tahun berjumlah 98 orang atau 2,9 %. Penduduk yang berumur 75 tahun ke atas berjumlah 87 orang atau 2,6 %.

2.5.2. Suku Bangsa

(39)
[image:39.595.119.505.203.337.2]

25 jiwa. Perkawinan antar suku juga ada terjadi di Desa Munte, seperti antara Suku Karo dengan Suku Jawa.

Tabel 6

Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa

No Suku Bangsa Jumlah Persentase(%)

1 Karo 2972 87,5

2 Jawa 276 8,1

3 Batak Toba/Simalungun 125 3,7

4 Dan Lain-lain 25 0,7

Jumlah 3398 100

Sumber: Kantor Kepala Desa Munte, Tahun 2009

2.5.3. Sistem Mata Pencaharian

Penduduk Desa Munte mayoritas bermata pencaharian bertani. Ada petani pemilik lahan dan ada juga hanya sebagai buruh tani saja atau yang sering disebut sebagai “aron”. Terkadang bila tak ada pekerjaan lagi yang dikerjakan di lahannya ada petani yang bekerja sebagai buruh tani, dan tentunya akan mendapat imbalan yang sepantasnya. Sekarang imbalan yang akan diterima seorang buruh tani adalah sekitar Rp 40.000,-/hari. Penduduk Desa Munte yang bekerja sebagai petani terdiri dari 1487 jiwa.

(40)

Sayur-sayuran lainnya. Jumlah penduduk yang bekerja sebagai pegawai adalah sekitar 389 jiwa.

[image:40.595.120.508.342.477.2]

Wiraswasta juga menjadi salah satu mata pencaharian penduduk Desa Munte. Wiraswasta di sini adalah penduduk yang membuka lahan pekerjaan sendiri, seperti membuka warung dan kedai kopi. Penduduk yang berwiraswasta terdiri dari 185 jiwa. Selain itu ada juga penduduk yang berprofesi sebagai peternak, supir angkutan dan lain sebagainya. Penduduk yang tergolong dalam pekerjaan dan lain-lain ini terdiri dari 1337 jiwa.

Tabel 7

Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

No Pekerjaan Jumlah Persentase(%)

1 Petani 1487 43,8

2 Pegawai 389 11,4

3 Wiraswasta 185 5,5

4 Dan Lain-lain 1337 39,3

Jumlah 3398 100

Sumber: Kantor Kepala Desa Munte, Tahun 2009

2.5.4. Sarana Pendidikan

Dengan majunya teknologi juga memajukan pemikiran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Mereka mengetahui akan arti pentingnya pendidikan melalui media informasi seperti dari TV, Koran dan juga dari rekan-rekan mereka yang anak-anak mereka telah sukses (dari daerah lain). Mereka seolah malu jika tidak menyekolahkan anak-anak mereka.

(41)

masih aktif, namun masih kekurangan tenaga pengajar. Guru-guru yang kini masih aktif sudah banyak yang tua dan kemungkinan sebentar lagi akan pensiun. Di samping itu ada juga tenaga pengajar yang masih honor. Ini juga dapat mengakibatkan dampak negatif bagi anak-anak didik mereka. Sering guru-guru mereka tidak masuk sekolah karena sakit, akibatnya sering pula anak-anak didik mereka ketinggalan pelajarannya.

Selain memiliki 4 unit sekolah dasar, Desa Munte juga memiliki 2 unit Sekolah Menengah Pertama yang masing-masing adalah negeri. Namun tidak ke-2 sekolah berada di Desa Munte. Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Munte berlokasi di Desa Munte, Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Munte berada di Desa Sarinembah (salah satu desa yang berada dalam naungan Kecamatan Munte). Hal ini diakibatkan karena kurangnya lahan untuk membangun sekolah tersebut di Desa Munte juga.

(42)
[image:42.595.148.485.113.234.2]

Tabel 8

Sekolah yang ada di Desa Munte serta Jumlahnya

No Sekolah Jumlah

1 SD 4 unit

2 SMP 2 unit

3 SMA 1 unit

Jumlah 9 unit

Sumber Kantor Kepala Desa Munte 2009

[image:42.595.118.506.430.583.2]

Sedangkan untuk meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi anak-anak Desa Munte harus keluar daerah, seperti ke Kabanjahe, Medan dan bahkan ada yang sampai ke luar propinsi. Pada umumnya mereka adalah anak-anak yang berprestasi, yang membanggakan orangtua mereka.

Tabel 9

Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah Persentase(%)

1 SD 673 19,8

2 SMP 891 26,2

3 SMA 544 16

4 Perguruan Tinggi 437 12,9

5 Tidak Sekolah 853 25,1

Jumlah 3398 100

Sumber: Kantor Kepala Desa Munte, Tahun 2009

(43)

atau yang sedang kuliah berjumlah 437 orang atau 12,9 %. Namun masih ada juga penduduk Desa Munte yang tidak bersekolah. Jumlah penduduk yang tidak bersekolah adalah 853 orang atau 25,1 %.

2.5.5. Agama

Penduduk Desa Munte mayoritas menganut agama Kristen Protestan. Dimana dari observasi di lapangan diperoleh data penduduk yang menganut agama Kristen Protestan berkisar 1621 jiwa yang terdiri dari GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), GPdI (Gereja Protestan di Indonesia), dan GJAI (gereja Jemaat Allah Indonesia). Meskipun demikian penganut GBKP tetap mendominasi dari segi jumlah penganut agama. Bangunan GBKP terdiri dari 2 unit, mengingat jumlah penganutnya yang banyak sehingga tidak memungkinkan 1 unit bangunan saja. Sedangkan bangunan GPdI dan GJAI masing-masing terdiri dari 1 unit.

Agama Katolik di desa ini penganutnya sekitar 983 jiwa. Namun kondisi bangunan ibadahnya sangat memprihatinkan dan lokasinya sangat jauh dari pemukiman penduduk. Sudah pernah ada keinginan untuk membuat bangunan yang baru untuk agama Katolik, namun hal tersebut tidak tercapai karena para penganutnya tidak mencapai kata sepakat.

(44)
[image:44.595.153.480.104.276.2]

Tabel 10

Bangunan Ibadah serta Jumlahnya

No Nama Bangunan Jumlah

1 Mesjid 1 unit

2 GBKP 2 unit

3 Gereja Katolik 1 unit

4 GPdI 1 unit

5 GJAI 1 unit

Jumlah 6 unit

Sumber Kantor Kepala Desa Munte 2009

Tabel 11

Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

No Agama Jumlah Persentase(%)

1 Protestan 1621 47,7

2 Katolik 983 28,9

3 Islam 311 9,2

4 Kristen Protestan Lainnya 483 14,2

Jumlah 3398 100

[image:44.595.119.505.354.492.2]
(45)

BAB III

SISTEM PERTANIAN DI DESA MUNTE

3.1. Jenis Produk Pertanian

Masyarakat Desa Munte mayoritas adalah petani dan jenis tanaman yang mereka tanam ada bermacam-macam. Dahulu tanaman yang terkenal dari desa ini adalah tanaman Padi. Namun disebabkan oleh beberapa hal, para petani kini secara perlahan-lahan mulai beralih ke tanaman lain dan secara perlahan-lahan pula pola tanam yang ada di desa ini juga berubah.

Selain menghasilkan Padi, Desa Munte umumnya menghasilkan tanaman palawija. Tanaman palawija adalah tanaman muda yang umurnya hanya berkisar 3 sampai 6 bulan saja. Tanaman palawija juga dapat dipanen lebih dari sekali hingga tanaman tersebut mati. Contoh tanaman palawija yang ada di desa ini adalah tanaman Kacang Panjang, Cabai, Sayur Pahit, dan Buncis. Masyarakat mengakui bahwa perawatan tanaman palawija ini lebih mudah. Saat diwawancarai Pak Rahmat Tarigan mengungkapkan hal seperti di bawah ini:

“sinuan si bage maka banci ndatken hasil si mbue, la sekali ngenca banci perani. Apai ka adi sangana ka merga kurang dekah akap sinuan e maka mate”.

Artinya: tanaman seperti itulah yang bisa memberikan hasil yang banyak, tidak hanya sekali dipanennya. Apalagi kalau harganya sedang tinggi maunya tanaman tersebut hidup lebih lama lagi.

(46)

dibandingkan dengan tanaman Padi, tidak hanya lebih sulit cara perawatannya, perhatian yang lebih pun harus dilakukan. Dalam setahun petani dapat memanen Padi 2 sampai 3 kali saja.

Desa Munte adalah juga merupakan sebuah Kecamatan di Kabupaten Karo. Kecamatan Munte mencakup 22 desa dan seluruh desa mayoritas penduduknya adalah petani. Sama halnya dengan Desa Munte, desa lainnya juga menanam tanaman yang sama karena faktor musim dan jenis tanah yang hampir sama. Tak jarang bila petani Desa Munte membutuhakn tenaga kerja yang banyak maka mereka meminta petani atau buruh tani dari desa lain untuk membantu mereka. Tapi petani atau buruh tani tersebut akan dibayar upahnya per hari dan juga transportasi disediakan.

(47)

Padi yang ditanam di lahan kering pada umumnya adalah beras merah dan memiliiki batang yang lebih tinggi dan biji yang lebih besar. Bila dibandingkan setelah dimasak pun beras yang ditanam di lahan kering lebih besar nasinya daripada beras yang ditanam di sawah.

Tanaman palawija yang ditanam di Desa Munte adalah tanaman Sayur-sayuran seperti Kacang Panjang, Buncis, Cabai, dan Sayur Pahit. Tanaman ini ada yang ditanam di lahan kering/ladang dan ada juga yang ditanam di sawah yang memang sudah kering atau yang sengaja memang dikeringkan. Sama halnya dengan tanaman Padi, tanaman palawija juga membutuhkan pupuk. Pupuk yang biasa digunakan petani untuk tanaman mereka adalah seperti pupuk urea (PUSRI), Amapos (SS), Garam (ZA), Paten Kali (KCL), dan NPK. Selain pupuk anorganik petani juga sering menggunakan pupuk organik seperti kotoran hewan peliharaan petani sendiri, misalnya kotoran kerbau atau lembu, dan ayam. Selain itu tanaman-tanaman ini juga membutuhkan penyemprotan yang rutin. Hal ini untuk menghindari munculnya penyakit dan juga hama. Hama yang sering muncul pada tanaman ini adalah ulat. Penyemprotan ini menggunakan pestisida dan penyemprotan ini dilakukan 2 sampai 3 kali dalam seminggu.

(48)

Tanaman Cokelat juga terdapat di Desa Munte ini. Tanaman ini mulai berkembang sekitar tahun 1999, ketika PPL (petugas penyuluh lapangan) datang ke desa ini dan mengusulkan untuk menanam tanaman Cokelat. Awalnya hanya beberapa orang petani saja yang mengikuti saran tersebut. Melihat tanaman Cokelat tersebut mulai berkembang dan juga menghasilkan, secara perlahan-lahan para petani mulai berlomba menanam Cokelat. Akhirnya, hampir semua petani kini memiliki tanaman Cokelat.

Cara perawatan tanaman Cokelat tidak susah, tidak perlu terlalu sering disiangi dan pemberian pupuk pun boleh dilakukan 2-3 kali dalam setahun. Pupuk yang diberikan pun tidak hanya pupuk anorganik saja, pupuk buatan atau pupuk organik juga sering digunakan. Tanaman Cokelat ini dapat dipanen seminggu sekali atau pada masa “pemberasenna” buah Cokelat ini dapat dipanen 2 sampai 3 kali dalam seminggu.

Penduduk Desa Munte pada umumnya mengonsumsi hasil tanaman mereka sendiri. Jarang mereka membeli produk pertanian dari daerah lain kecuali produk tersebut memang tidak dihasilkan oleh petani di Desa Munte. Ada juga petani yang menanam tanaman produk daerah lain setelah mengkonsumsi produk tersebut. Hasilnya, ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Bila berhasil maka ada juga petani yang mengikuti jejak petani tersebut. Namun tidak semua petani yang mengikuti jejak yang berhasil, ada juga diantara mereka yang gagal. Ketika diwawancarai bapak Wanta Bangun mengakui bahwa faktor coba-cobalah yang membuat dia berhasil menanam Buncis.

(49)

ntah 4 bulan nggo ka merga erga sinuan-sinuan. Pas kel perkiraenku nda sebab pas kenca rani, erga buncis nda nggo merga”.

Artinya: dulu ketika harga Buncis murah, mami kam menggulai Buncis di rumah. Selesai makan saya berpikir apa yang akan saya tanam supaya berhasil. Besok saya akan mencoba untuk menanam Buncis sebab biasanya setelah harga murah sekitar 3 atau 4 bulan kemudian harga tanaman sudah mulai meninggi lagi. Perkiraan saya tepat sekali, ketika saya panen harga Buncis sudah tinggi.

Setelah itu banyak petani yang mengikuti jejak bapak Wanta Bangun ini, namun tidak semuanya yang berhasil. Apabila hasil panen melebihi untuk dikonsumsi sendiri petani biasanya menjual hasil pertanian mereka.

Pemasaran hasil tanaman para petani dapat dilakukan di Desa Munte itu sendiri dan juga dapat dijual ke pasar yang ada di Ibukota Kabupaten yakni Kabanjahe, tetapi hal ini tergantung pada jenis tanamannya. Umumnya hasil tanaman yang dijual ke Kabanjahe adalah tanaman Sayur-sayuran yang sebagian kecil telah dijual di desa itu sendiri untuk dikonsumsi oleh masyarakat desa. Biasanya para petani menjual hasil tanaman mereka ke Kabanjahe pada hari Senin, karena hari tersebut adalah hari pajaknya atau sering disebut dengan “pajak singa” dan harga barang pada hari tersebut dapat lebih tinggi bila dibandingkan dengan hari biasa.

(50)

Bila ada petani yang tidak merasa puas dengan harga yang ditawarkan oleh agen, biasanya mereka menjual langsung hasil pertaniannya ke Tigabinanga. Perbedaan harganya memang tidak terlalu jauh namun para petani tetap merasa rugi, apalagi bila petani memiliki hasil pertanian yang banyak. Para agen atau petani yang menjual barang mereka ke Tigabinanga biasanya menjual barang mereka pada hari Selasa karena pada hari tersebut merupakan hari pajak di daerah tersebut.

Hasil tanaman petani seperti sayur-sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat desa itu sendiri dijual di pajak sore (tiga karaben). Pajak sore ini ada setiap sore dan bertempat di “losd silima merga” kecuali hari Jumat. Hari Jumat pajak sore akan berpindah ke “losd tiga” yang letaknya lebih jauh dari losd silima merga. Losd tiga memang sedikit lebih besar dari losd silima merga. Biasanya pajak sore yang hari Jumat akan lebih meriah dibandingkan dengan pajak sore pada hari lainnya, karena para petani dari desa lain banyak berdatangan untuk menjual hasil pertanian mereka sekaligus untuk berbelanja keperluan sehari-hari mereka juga.

3.2. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Tanah, Bibit, Musim, Pasar, serta Hama dan Penyakit

3.2.1. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Tanah

(51)

lain. Bagi masyarakat Karo tanah sangat dianggap berharga karena hanya tanah yang dapat dan lebih sering terwariskan, karena tidak semua keluarga yang memiliki kekayaan seperti emas, atau benda lain yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya.

Selain nilai tanah seperti yang telah dijelaskan diatas, dengan bermata pencaharian bertani pengalaman-pengalaman bertani pun dimiliki oleh petani di Desa Munte. Pengetahuan-pengetahuan atau pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh petani didapatkan secara turun-temurun dan juga dari orang-orang yang terlebih dahulu telah berhasil. Petani mengharapkan hasil yang baik dari setiap tanaman yang mereka tanam, meskipun hal tersebut tidak selalu tercapai.

Permukaan tanah yang ada di Desa Munte berbentuk seperti kuali yang artinya tanah yang digunakan masyarakat untuk bertani berbukit-bukit sedangkan tanah yang digunakan sebagai pemukiman berdataran rendah. Masyarakat mengakui tanahnya yang subur sehingga cocok untuk pertanian.

(52)

berwarna hitam, tetapi lama-kelamaan akan berubah berwarna kecokelatan dan hanya cocok ditanami Jagung.

Tanah yang kering adalah tanah yang kurang baik bagi petani di Desa Munte. Tanah seperti ini biasanya dibiarkan saja atau ditanami dengan tanaman Jagung atau Cokelat. Selain itu tanah liat juga dianggap tidak baik karena tidak akan menghasilkan apa-apa. Di tanah liat tersebut akan tumbuh ilalang yang sangat mengganggu pertumbuhan tanaman yang ditanam oleh petani atau di tanah liat tersebut akan dibangun gubuk untuk tempat berlindung bagi petani atau sering disebut dengan istilah “sapo”.

Bila petani sudah merasa kalau tanah yang dimiliki sudah tidak baik lagi maka petani membiarkan tanahnya begitu saja, tidak ditanami apa-apa. Bila tetap ditanami tidak akan memberikan hasil yang maksimal bagi petani, karena unsur hara dalam tanah sudah berkurang. Berkurangnya unsur hara yang ada dalam tanah diakibatkan oleh pemakaian pupuk dan obat-obatan kimia dalam jumlah yang besar dan dalam jangka waktu yang lama juga. Tanah tersebut akan dibiarkan ditumbuhi semak belukar selama 1 sampai 3 tahun. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menyuburkan kembali tanah tersebut. Setelah itu baru petani akan menanami kembali tanahnya. Hasilnya tanaman yang mereka tanam dapat tumbuh dengan subur.

3.2.2. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Bibit

(53)

perkembangan, pertumbuhan serta hasil tanaman. Penggunaan bibit yang baik diyakini menjadi kunci utama dalam keberhasilan tanaman yang ditanam oleh petani.

Dalam penggunaan bibit petani dapat membeli atau membuat bibit yang digunakan sendiri. Tetapi petani mengakui lebih baik membuat sendiri bibit yang digunakan karena akan memberikan hasil yang lebih baik. Petani memilih tanaman yang berkualitas baik untuk dijadikan sebagai bibit. Bibit ditentukan menurut ukuran, warna, bentuk dan juga umur tanaman yang dijadikan bibit. Selain itu petani harus memastikan bahwa bibit yang dipilih tersebut bebas dari penyakit dan juga hama. Tidak jarang bila petani ingin mendapatkan bibit yang baik, mereka membelinya dari petani lain yang tanamannya dianggap lebih baik.

Setelah pemilihan bibit, maka bibit tersebut disemai terlebih dahulu hingga beberapa waktu. Waktu penyemaian disesuaikan dengan bibit yang ditanam. Setelah disemai kemudian bibit-bibit tersebut masih dipilih yang baik lagi, karena tidak semua bibit-bibit tersebut tumbuh dengan baik. Biasanya bibit yang siap tanam berumur berkisar antara 30 sampai 40 hari.

(54)

Selain pemberian pupuk tanaman palawija juga membutuhkan beberapa kali penyemprotan. Tujuannya adalah untuk menghindari atau mengusir penyakit atau hama yang menyerang tanaman tersebut. Penyemprotan yang dilakukan petani menggunakan pestisida. Biasanya petani akan menyemprot tanaman mereka 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Sebaiknya jangan menggunakan pestisida yang terlalu banyak karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu penggunaan pestisida juga dapat menimbulkan penyakit bagi yang mengkonsumsi tanaman yang menggunakan pestisida. Dampak negatif lain yang ditimbulkan oleh pemakaian pestisida adalah menimbulkan penyakit atau hama lain yang mengganggu tanaman. Hal ini disebabkan oleh pemakaian pestisida yang berlebihan. Oleh karena itu hendaknya para petani berhati-hati dalam menggunakan pestisida yang digunakan.

3.2.3. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Musim

(55)

Untuk menghindari kerugian para petani di Desa Munte kini mulai menanam tanaman yang dianggap sesuai dengan musim yang sedang berlangsung. Bila musim hujan tiba maka para petani akan menanam tanaman yang membutuhkan debet air yang banyak, seperti tanaman sayur-sayuran dan begitu juga dengan sebaliknya.

Apabila musim kemarau berlangsung terlalu lama masyarakat di Desa Munte yang penduduknya mayoritas petani pernah melakukan ritual memanggil hari hujan yang disebut dengan “ndilo wari udan” atau sering juga disebut dengan istilah “dogal-dogal”. Pada tahun 2008 lalu masyarakat Desa Munte pernah melakukan ritual tersebut. Ketika itu musim kemarau sudah berlangsung selama 7 bulan. Hasil tanaman petani pun banyak yang tidak berhasil. Sungai irigasi yang ada di desa tersebut pun perlahan-lahan debet airnya mulai berkurang, hingga menimbulkan kekeringan pada lahan pertanian petani. Padahal sungai tersebut menjadi salah satu harapan petani. Hingga suatu hari timbul kesepakatan masyarakat untuk melaksanakan ritual “ndilo wari udan”. Kesepakatan ini muncul setelah diadakan musyawarah terlebih dahulu.

(56)

Desa Munte pada waktu itu juga ikut disirami masyarakat. Mereka tidak perduli dengan tujuan mereka, yang mereka tahu hanya menyirami setiap orang yang melintasi desa.

Air yang digunakan untuk menyirami setiap orang diambil dari rumah sendiri dan ada juga masyarakat yang mengambil air yang berasal dari parit dan disiramkan juga pada orang yang lewat. Yang harus disiram oleh setiap orang awalnya adalah “rebuna”, yang artinya “ simehangkena”. Setelah itu kemudian dapat menyirami siapa saja.

Upacara ndilo wari udan ini diadakan selama 4 hari. Setiap hari masyarakat hanya bersiram-siraman mengelilingi desa sambil menari dan pantang pergi ke lading atau “kujuma”. Selama itu pula setiap orang yang melintasi desa ini akan kena siraman masyarakat. Upacara ini dapat juga dilakukan oleh anak-anak dan artinya semua masyarakat Desa Munte ikut dalam pelaksanaan ritual tersebut. Selama berlangsungnya acara ritual “ndilo wari udan“ masyarakat kelihatan sangat gembira. Mereka bahkan rela menggunakan kendaraan sendiri sambil membawa air dan menyiram setiap orang yang dilihat tapi hanya orang yang berada dalam kawasan Desa Munte saja.

(57)

3.2.4. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Pasar

Tanaman yang akan ditanam oleh petani di Desa Munte tidak ditentukan dengan sembarangan. Biasanya mereka menentukannya dengan musim yang sedang berlangsung dan juga dengan permintaan pasar. Tanaman yang disesuaikan dengan harga pasar biasanya adalah tanaman sayur-sayuran, seperti Buncis dan juga Cabai.

Mereka akan memulai menanam ketika harga pasar sedang turun. Harga yang rendah sudah berlangsung beberapa waktu ketika petani mulai melakukan masa penanaman. Dengan demikian mereka yakin ketika masa panen tiba maka harga sudah mulai tinggi lagi. Hal ini sering dilakukan oleh petani di Desa Munte, bahkan hal tersebut masih berlaku hingga sekarang. Namun tidak jarang juga dugaan mereka ini tidak tepat. Terkadang mereka juga mengalami kerugian dari hasil panen yang didapatkan. Harga tanaman yang mereka tanam tetap saja rendah, inilah resiko yang harus mereka terima. Bila sudah demikian mereka bahkan rela membiarkan tanaman mereka begitu saja. Tidak diurus hingga menyebabkan tanaman tersebut lebih cepat mati. Kemudian petani akan menggantinya dengan tanaman yang lain tetapi setelah tanaman sebelumnya mati.

(58)

Jeruk saja yang dijual sampai ke antar propinsi , tanaman lainnya pun ada dijual sampai ke antar propinsi, seperti sayuran. Akan tetapi tidak semua jenis sayuran yang bisa dikirim sampai ke antar propinsi. Sayuran yang di jual sampai ke antar propinsi adalah sayuran seperti Labu Kuning atau disebut “Jambe” dalam bahasa lokalnya, juga Terong. Penjualan sampai ke antar propinsi ini tentunya juga melalui agen. Agen-agen tersebut ada yang berasal dari Desa Munte sendiri dan ada juga yang berasal dari luar dareah ini.

3.2.5. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Hama dan Penyakit

Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dan yang kini menjadi salah satu hal utama yang harus dihadapi oleh para petani adalah masalah hama dan penyakit yang menyerang tanaman mereka. Hama dan penyakit yang muncul tidak sama pada setiap tanaman, tetapi ada juga penyakit atau hama yang sama menyerang tanaman yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh musim yang sedang berlangsung.

3.2.5.1. Hama

a. Hama Tikus

(59)

Banyak usaha yang telah diusahakan oleh petani untuk mengusir hama ini dari tanaman mereka, tetapi usaha yang mereka lakukan belum maksimal, masih ada saja hama tikus yang menyerang tanaman Padi mereka. Usaha sekeras apapun sampai sekarang yang dilakukan oleh petani belum menampakkan hasil yang maksimal. Usaha-usaha yang dilakukan oleh petani untuk mengusir hama tikus dari tanaman mereka antara lain adalah dengan menjebak tikus menggunakan perangkap, kegiatan ini sering disebut dengan “niding”. Perangkap atau “siding” yang digunakan disebut dengan “rakgum”. Biasanya alat ini dibuat sendiri oleh petani dan dapat juga dibeli. Perangkap tersebut dipasang di tengah-tengah Padi atau di tempat kemungkinan hama tikus akan menyerang. Usaha ini belum dapat memberikan hasil yang maksimal.

Usaha lainnya adalah dengan mengitari tanaman Padi dengan plastik secara keseluruhan, kegiatan ini disebut dengan “mbide”. Usaha ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Tak jarang pula petani menyewa plastik yang akan digunakan karena tidak memiliki biaya yang cukup. Seluruh Padi ditutup dengan plastik yang penahan atau tiangnya dibuat dari bambu. Usaha ini mencegah hama tikus memasuki tanaman Padi petani tapi plastik tersebut masih dapat dijebol tikus sehingga plastik berlobang.

(60)

inilah yang sampai sekarang memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan usaha-usaha lainnya. Biasanya kegiatan berburu ini dilakukan petani pada malam hari, alhasil petani dapat mengumpulkan tikus sampai puluhan ekor per malam.

Usaha lainnya yang juga dilakukan oleh petani adalah dengan menebar racun pada tanaman Padi mereka. Namun usaha ini masih jarang dilakukan petani karena dapat menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif tersebut antara lain adalah tanaman Padi petani pun dapat ikut terkena racun.

Petani sudah meminta bantuan ke Pemda setempat untuk mengatasi hama ini, namun sampai sekarang permohonan tersebut belum terkabulkan. Para petani sangat berharap agar Pemda setempat dapat segera membantu mereka dengan memberikan solusi yang tepat untuk menghindarkan hama tikus ini dari tanaman mereka.

Hal unik seperti yang disinggung sebelumnya adalah masyarakat Desa Munte mengkonsumsi tikus. Tikus yang dikonsumsi diperoleh dari hasil buruan sendiri atau bahkan masyarakat rela membeli tikus untuk dikonsumsi. Hal ini merupakan satu hal positif dari keberadaan tikus di desa ini. Di bawah ini merupakan ungkapan dari salah satu masyarakat yang mengkonsumsi tikus:

“ adina ku akap menci e tabehen asangken daging manok, apai ka adi sikap ban nggulesa e lanai lit tandingenna”. Artinya menurut saya tikus ini lebih enak dibandingkan dengan daging ayam, apalagi kalau memasaknya dibuat dengan benar maka tidak akan ada lagi tandingannya.

(61)

Mereka biasanya menjualnya ke pajak sore (tiga karaben) atau hanya pada tetangga mereka.

Sebelum dijual tikus-tikus tersebut “itutung” terlebih dahulu agar bulu-bulunya hangus. Setelah itu bagian dalamnya atau “tukana” dibuang kecuali hatinya, karena menurut masyarakat bagian yang paling enak dari tikus ini adalah hatinya. Setelah “itukai” maka tikus-tikus tersebut dibungkus dan dijual.

Akan tetapi tidak semua masyarakat Desa Munte yang mengkonsumsi tikus ini. Masyarakat yang tidak mengkonsumsinya adalah penganut agama Islam. Menurut mereka tikus ini tidak halal dan tidak layak untuk dikonsumsi. Mereka juga beranggapan bahwa tikus ini jorok.

b. Hama Siput atau Keong

Hama siput atau keong ini akan banyak menyerang tanaman ketika berlangsungnya musim hujan karena pada musim ini juga hama tersebut berkembang biak dengan cepat. Pada musim hujan ini hampir keseluruhan tanaman masyarakat akan diserang oleh hama ini. Hama ini biasanya akan menyerang daun dan juga batang tanaman, dan sebagian kecil menyerang buah juga. Hama ini akan membuat tanaman menjadi tidak tumbuh dengan subur dan juga membuat daun menjadi kuning.

(62)

Usaha untuk mencegah Keong ini petani biasanya menyemprot tanaman mereka dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang digunakan seperti Sepitok, pestisida ini dapat dibeli di toko pupuk yang ada di desa ini sendiri.

c. Hama Ulat

Hama ulat biasanya akan menyerang daun pada tanaman dan hama ini paling banyak menyerang tanaman seperti sayur-sayuran. Daun tanaman berlubang-lubang karena dimakan oleh hama ulat ini. Hal tersebut menyebabkan kerugian bagi petani, khususnya bagi petani yang menanam sayuran seperti Sayur Pahit. Harga jual sayur ini akan turun bila pembeli melihat ada daun yang berlubang diakibatkan oleh ulat. Selain menyerang daun tanaman hama ulat ini juga sebagian kecil menyerang batang tanaman juga yang membuat tanaman menjadi kering hingga akhirnya mati. Biasanya pengendalian hama ini dilakukan dengan menyemprotkan bahan pestisida sejenis racun sesuai dengan dosis yang terter dalam kemasan, namun apabila hama sudah terlalu banyak dosis yang digunakan akan lebih dari dosis yang ditetapkan. Akan tetapi pemakaian pestisida yang berlebihan dapat juga mengakibatkan munculnya hama atau penyakit yang baru pada tanaman.

3.2.5.2. Penyakit

a. Penyakit Yang Menyerang Batang

(63)

penyakit sudah menyerang maka batang tanaman menjadi kering. Akibatnya, daun serta buah pun ikut menjadi kering pula hingga kemudian mati.

b. Penyakit Yang Menyerang Daun

Penyakit yang menyerang daun tanaman biasanya akan membuat daun menjadi kuning dan kering. Contohnya pada tanaman Cabai, daunnya menjadi keriting dan juga “meseng”. Bila sudah demikian tanaman tidak dapat lagi tumbuh dengan baik lagi dan juga tidak bisa menghasilkan buah yang maksimal. Daun Cabai yang menjadi keriting dan juga “meseng” ini dapat juga diakibatkan karena musim kemarau yang berkepanjangan.

c. Penyakit Yang Menyerang Buah

Penyakit yang menyerang buah misalnya pada tanaman Padi. Bila penyakit sudah menyerang buahnya sering buah Padi tidak berisi atau kosong. Padi yang tidak berisi ini disebut dengan “lapong”. Contoh lainnya adalah tanaman sayuran seperti Terong. Bila penyakit menyerang buahnya maka sering buahnya berulat atau disebut dengan “nipe-nipen”. Hal ini disebabkan karena penyemprotan pestisida pencegah penyakit yang kurang teratur.

3.3. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pupuk dan Pestisida 3.3.1. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pupuk

(64)

harganya akan jauh lebih murah. Akan tetapi sekarang ini ada subsidi pupuk dari pemerintah. Masyarakat dituntut untuk membentuk kelompok masing-masing, biasanya masyarakat membagi kelompoknya menurut letak lahan pertanian yang merekamasing-masing. Tapi hal ini menjadi masalah baru bagi petani di desa ini. Berikut adalah keluhan

Gambar

Tabel 1 Komposisi Desa di Kecamatan Munte
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Produksi dan Produktivitas Usahatani Kedelai dan Jagung di Daerah Penelitian 56 Motivasi Petani dalam Melakukan Perubahan Pola Tanam dari Kedelai – Kedelai Padi Ke Jagung – Jagung

Optimalisasi Pola Tanam Jahe dengan Berbagai Jenis Kombinasi Tanaman (Di bawah bimbingan R NUNUNG NURYARTONO).. Jahe merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki

Analisis pendapatan dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui besarnya pendapatan petani padi sawah di Desa Laantula Jaya selama satu kali musim tanam, cara

Analisis pendapatan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya pendapatan petani responden padi sawah di Desa Dolago Kecamatan Parigi selatan Kabupaten

Hasil penelitian: karakteristik sosial ekonomi petani yang memiliki hubungan positif dengan pendapatan usahatani padi sawah sistem tanam legowo 4:1 adalah umur, lamanya

Hasil dari perhitungan ini digunakan untuk mengetahui luas sawah yang bisa ditanami sesuai dengan jenis tanaman dan musim tanamnya serta keuntungan hasil tani optimum yang

Hasil analisis pendapatan usahatani padi sawah dengan metode tanam benih langsung yang diterapkan di Desa Simagaya Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala rata-rata produksi

Petani sampel adalah petani pemilik dan penggarap yang melakukan pola tanam jajar legowo dalam budidaya padi sawah pada Kelompok Tani Sekar Arum di Desa Pabuaran, Kecamatan Salem,