Layanan Pesan Pendek Sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pertanian Di Kabupaten Karawang

90  Download (1)

Teks penuh

(1)

LAYANAN PESAN PENDEK SEBAGAI MEDIA

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN

DI KABUPATEN KARAWANG

HARIS TRI WIBOWO

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2016

Haris Tri Wibowo

(4)

RINGKASAN

HARIS TRI WIBOWO. Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang. Dibimbing oleh DJUARA P LUBIS dan RESFA FITRI.

Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini telah terintegrasi dengan pembangunan pertanian. Teknologi informasi dan komunikasi seperti telepon seluler telah digunakan dalam kegiatan pembangunan pedesaan. LISA merupakan sebuah program inovatif yang bertujuan untuk memberikan layanan pertanian terpadu mencakup layanan tips pertanian, layanan tanya jawab interaktif, dan layanan iterasi keuangan keluarga yang berbasis layanan pesan pendek telepon seluler. Penelitian ini mempunyai tujuan utama untuk mengetahui sejauh mana efektivitas LISA sebagai media diseminasi informasi pertanian yang berbasis layanan pesan pendek berperan dalam pembangunan pertanian. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini antara lain: 1) Mendeskripsikan keterdedahan pengguna terhadap LISA; 2) Menganalisis hubungan karakteristik petani dan faktor eksternal dengan keterdedahan terhadap LISA; 3) Menganalisis hubungan keterdedahan terhadap LISA dengan efektivitas komunikasi LISA; dan 4). Menganalisis hubungan interaksi dengan sumber informasi lain dengan efektivitas komunikasi LISA.bagaimana efektivitas LISA sebagai media penyebaran informasi pertanian

Penelitian didesain sebagai penelitian survey yang bersifat deskriptif korelasional. Penelitian dilakukan di Kabupaten Karawang pada bulan Mei 2015 sampai dengan Juni 2015. Metode pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Multiple Stage Sampling. Tahap pertama, pemilihan kecamatan yang dijadikan subpopulasi. Kecamatan yang terpilih untuk dijadikan subpopulasi adalah Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Jatisari, Kecamatan Karawang Timur, dan Kecamatan Pedes. Tahap kedua, pemilihan responden dilakukan secara accidental sampling. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin didapatkan responden sebanyak 100 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif korelasional dan SEMpls.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan budidaya responden secara signifikan mempengaruhi keterdedahan terhadap LISA. Faktor eksternal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keterdedahan LISA. Keterdedahan terhadap LISA berpengaruh secara nyata terhadap efektivitas komunikasi. Interaksi dengan sumber informasi lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas komunikasi.

(5)

SUMMARY

HARIS TRI WIBOWO. Short Message Service as Communications Media of Agricultural Development in Karawang District. Supervised by DJUARA P LUBIS and RESFA FITRI.

Application of information and communication technology (ICT) currently has integrated with agricultural development. Information and communication technologies (ICT) such as mobile phones have been used in rural development activities. LISA is a groundbreaking program that aims to provide an integrated agricultural services include agricultural tips services, the interactive dialogue, and iteration financial services based on mobile phone short message service. The main objective of this study to determine the effectiveness of LISA as agricultural information dissemination media based short message service in agricultural development. The purposes of the study were 1) to analyze the exposure of LISA user; 2) to analyze the relationship between user characteristics and external factors against LISA exposure; 3) to analyze the relationship between LISA exposure against the effectiveness of communication; and 4) to analyze the relationship between interaction with other information sources against the effectiveness of communication.

The research was designed as a survey descriptive correlational. The study was conducted in Karawang District in May 2015 - June 2015. The method of selecting samples using Multiple Stage Sampling. The first phase, determination of sub-populations. Sub-district that elected to be a subpopulation is Pangkalan, Jatisari, Karawang Timur, and Pedes. The second stage, the selection of respondents by accidental sampling. Based on Slovin’s formula, found as many as 100 respondents. Data analysis was performed using descriptive correlational analysis and SEMpls.

The result showed that the land area cultivated respondent significantly affect LISA exposure. External factors do not significantly affect the LISA exposure. LISA exposure significantly affect the effectiveness of communication. Interactions with other information sources does not significantly influence the effectiveness of communication.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

LAYANAN PESAN PENDEK SEBAGAI MEDIA

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN

DI KABUPATEN KARAWANG

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

(8)
(9)

Judul Tesis : Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang

Nama : Haris Tri Wibowo NIM : I352130181

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Djuara P Lubis, MS Ketua

Dr Resfa Fitri, MPlSt Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

Dr Ir Djuara P Lubis, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian dengan judul Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang dilakukan pada bulan Mei 2015 – Juni 2015.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Djuara P Lubis, MS dan Dr Resfa Fitri, MPlSt selaku komisi pembimbing yang dengan ikhlas dan sabar meluangkan waktu memberikan saran, arahan, bimbingan, motivasi dan membagikan pengalamannya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Penulis juga menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada:

1. Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Ketua Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dan Ketua Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP) beserta seluruh staf;

2. Dosen-dosen pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP);

3. Dr Ir Pudji Muljono, MSi selaku penguji luar komisi;

4. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, khususnya kepada Ir Pending Dadih Permana, MEcDev, Dr Ir Momon Rusmono, MS, Ir Heri Suliyanto, MBA, Ir Rusmini, MSi, dan Dr Ir Ranny Mutiara Chaidirsyah;

5. Pimpinan Mercy Corps Indonesia beserta staf;

6. Indonesia Programe Coordinator Agri-Fin Mobile, Andi Ikhwan; 7. Direktur PT 8villages Indonesia beserta staf;

8. Teman-teman petani dan penyuluh pertanian di Kabupaten Karawang;

9. Rekan-rekan mahasiswa KMP angkatan 2013, angkatan 2012, dan angkatan 2014;

10. Secara khusus, penulis mengucapkan terimakasih kepada istri Diah Sulistyorini, MP dan anak-anak: Hanum Amira Nisyafiqa dan Hatta

Fahrizal Wibowo, keluarga M Salim dan keluarga Slamet Santoso. Semoga penelitian ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2016

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Magelang pada tanggal 28 Desember 1980 anak ketiga dari pasangan Much Salim dan Sifatun. Jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas dilalui di Magelang. Setelah lulus dari SMU Negeri 3 Magelang, penulis melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada dengan mengambil Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian. Pendidikan sarjana diselesaikan penulis pada tahun 2005.

Pada tahun 2008, penulis diterima sebagai Calon Widyaiswara di Departemen Pertanian dengan ditempatkan di Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada tahun 2011, penulis dimutasi menjadi Fungsional Umum di Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian di Jakarta.

(12)

ii

Perkembangan Penyuluhan Pertanian di Indonesia 9

Penyuluh Pertanian 11

Kelompoktani 13

Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Penyuluhan Pertanian 15

Layanan Operator Telepon Seluler 19

LISA sebagai Media Komunikasi Pertanian 20

Penelitian Terdahulu 21

Kerangka Pemikiran 22

METODOLOGI 24

Desain Penelitian 24

Lokasi dan Waktu Penelitian 24

Populasi dan Sampel Penelitian 24

Data dan Instrumentasi Penelitian 25

Definisi Operasional 25

Validitas dan Reliabilitas 29

Analisis Data 30

DESKRIPSI UMUM 31

Layanan Informasi Desa (LISA) 31

Deskripsi Lokasi Penelitian 33

Karakteristik Responden 35

Faktor Eksternal 40

Interaksi dengan Sumber Informasi Lain 44

KETERDEDAHAN TERHADAP LISA 48

Keterdedahan terhadap LISA 48

Hasil Analisis menggunakan Model Persamaan Struktural PLS 53 Hubungan Karakteristik Responden dengan Keterdedahan terhadap LISA 56 Hubungan Faktor Eksternal dengan Keterdedahan terhadap LISA 56

EFEKTIVITAS KOMUNIKASI 58

Tingkat Pengetahuan 58

Sikap 60

Hubungan Keterdedahan terhadap LISA dengan Efektivitas Komunikasi 61 Hubungan Interaksi dengan Sumber Informasi Lain dengan Efektivitas

Komunikasi

(13)

iii RIWAYAT HIDUP

DAFTAR TABEL

1 Definisi operasional dan indikator peubah karakteristik petani 26 2 Definisi operasional dan indikator peubah faktor eksternal 27 3 Definisi operasional dan indikator peubah interaksi dengan sumber

informasi lain

27 4 Definisi operasional dan indikator peubah keterdedahan terhadap LISA 28 5 Definisi operasional dan indikator peubah efektivitas komunikasi 29 6 Jumlah desa, luas wilayah, dan luas lahan di 4 kecamatan lokasi penelitian

tahun 2014

34 7 Jumlah penduduk di 4 kecamatan lokasi penelitian menurut jenis kelamin

tahun 2014

34 8 Jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut golongan luas lahan yang

dikuasai di Kabupaten Karawang tahun 2013

35 9 Jumlah rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan menurut golongan

luas lahan yang dikuasai di 4 kecamatan lokasi penelitian tahun 2014

35 10 Jumlah responden menurut karakteristik di 4 kecamatan lokasi penelitian 36 11 Penilaian responden terhadap konten tips pertanian dan tanya jawab

interaktif di 4 kecamatan lokasi penelitian

50 12 Persentase konten tips pertanian berdasarkan tema di 4 kecamatan lokasi

penelitian tahun 2015

51 13 Persentase konten tanya jawab interaktif berdasarkan tema di 4 kecamatan

lokasi penelitian tahun 2015

52

14 Outer loading model perbaikan 54

15 Crossloading terhadap variabel laten 55

16 Uji koefisiensi dan t-hitung variable karakteristik, faktor eksternal, interaksi dengan sumber informasi lain terhadap keterdedahan LISA dan efektivitas komunikasi

55

DAFTAR GAMBAR

1 Layanan grup Indosat pengguna LISA 21

2 Kerangka pemikiran Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang

23

3 Alur Layanan Informasi Desa (LISA) 33

4 Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut jenis kelamin 37 5 Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut usia 37 6 Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut jenjang pendidikan 38 7 Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut status kepemilikan

lahan

(14)

iv diberikan LISA

13 Penilaian responden terhadap kemudahan untuk menerapkan tips/jawaban/ulasan

42 14 Penilaian responden terhadap kualitas operator telepon seluler 43 15 Penilaian responden terhadap tarif telepon dan pesan pendek 43 16 Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan pemuka pendapat 44 17 Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan kelompoktani 45 18 Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan petani 46 19 Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan penyuluh pertanian 46 20 Frekuensi akses responden terhadap layanan LISA 48 21 Frekuensi akses responden terhadap layanan grup 49 22 Model persamaan struktural Layanan Pesan Pendek sebagai Media

Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang

53 23 Perbaikan model persamaan struktural Layanan Pesan Pendek sebagai

Media Komunikasi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Karawang

54 24 Model persamaan struktural karakteristik dan faktor eksternal terhadap

keterdedahan LISA

56 25 Tingkat pengetahuan responden terhadap konten LISA di 4 kecamatan

lokasi penelitian

58 26 Tingkat pengetahuan responden menurut sub tema di 4 kecamatan lokasi

penelitian

59 27 Kecenderungan sikap responden terhadap konten LISA di 4 kecamatan

lokasi penelitian

60 28 Kecenderungan sikap responden terhadap konten LISA menurut sub tema

di 4 kecamatan lokasi penelitian

(15)

Latar Belakang

Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam mendukung perekonomian nasional. Peran tersebut terutama dalam terciptanya ketahanan pangan, penyumbang produk domestik bruto, penciptaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan, penyedia bahan pangan dan bahan baku industri, sumber pendapatan masyarakat, serta penciptaan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan sektor lainnya (Kementan 2014).

Tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian di masa mendatang yang bersifat multidimesi antara lain: (1) tantangan meningkatkan pendapatan petani yang sebagian besar memiliki lahan di bawah 0,5 ha; (2) tantangan untuk meningkatkan produksi pangan dan komoditas pertanian lainnya; (3) tantangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terus berkembang; (4) tantangan untuk memfasilitasi proses transformasi perekonomian nasional dari berbasis fosil ke basis bioekonomi; serta (5) tantangan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dalam konteks perubahan iklim global (Kementan 2014).

Untuk menjawab tantangan di atas, diperlukan sumberdaya manusia pertanian yang andal, berkualitas, dan mempunyai kemampuan. Hal tersebut merupakan hal yang harus dimiliki para pelaku pembangunan pertanian. Pengembangan kualitas pelaku utama dan pelaku usaha pertanian dapat dilakukan melalui pendidikan dan penyuluhan pertanian.

Seiring dengan perkembangan teknologi, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah terintegrasikan dalam berbagai kegiatan pembangunan dan pengembangan masyarakat. Teknologi informasi dan komunikasi secara signifikan telah mengubah cara hidup manusia dan menjadikannya hal yang tidak terpisahkan. Teknologi informasi dan komunikasi, seperti telepon seluler, telepon

fixed-line, komputer, dan internet, telah menjadi bagian integral dari kehidupan modern dalam semua masyarakat. Teknologi informasi dan komunikasi menghubungkan orang, menghasilkan lebih banyak perdagangan barang dan jasa di seluruh dunia, dan meningkatkan akses ke informasi dan pengetahuan. Pohjola (2003) dan UNCTAD (2008) dalam Kilenthong dan Odton (2014) menyatakan bahwa TIK merupakan faktor kunci bagi pembangunan ekonomi. Peran TIK juga telah masuk ke bidang perbankan yang terbukti meningkatkan akses keuangan dan kesejahteraan masyarakat, seperti dalam kasus M-PESA di Kenya (Jack et al.

2010 dalam Kilenthong dan Odton 2014). Hampir semua orang mempunyai dan menggunakan telepon seluler untuk memenuhi kebutuhan harian dan untuk berbagai tujuan (Salehan dan Negahban 2013). Di bidang pertanian, TIK berperan dalam penyuluhan pertanian yang memperkuat sistem komunikasi. Dengan bantuan internet beberapa hambatan terkait dengan komunikasi dapat dihilangkan. Semua komponen sistem komunikasi seperti komunikator, pesan, saluran, perlakuan pesan, penerima dan umpan balik akan berfungsi lebih efektif (Kumar 2012).

(16)

membuktikan bahwa cyber extension dimanfaatkan oleh petani sayuran sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi, promosi usahatani, serta untuk akses informasi produksi dan teknologi pertanian. Hal lain yang didapat dari penelitian tersebut, bahwa masyarakat di Jawa Barat dan Jawa Timur sudah dapat mengakses internet melalui telepon seluler. Dengan adanya telepon seluler, petani dapat memperoleh atau mendiseminasikan informasi dengan cepat dan mereka dapat menghubungi penyuluh pertanian atau petani lainnya untuk melakukan pertemuan atau diskusi kelompok di luar jadwal yang telah ditetapkan.

Data Badan Pusat Statistik (2014) menyebutkan bahwa sebanyak 83,52 persen rumah tangga di Indonesia yang menguasai/ memiliki telepon seluler. Data dari Mercy Corps Indonesia (2012) dalam Ikhwan (2014) menyebutkan bahwa sebanyak 70 persen petani di Indonesia memiliki/ menguasai telepon seluler. Tetapi baru sekitar 12 persen petani tersebut yang memanfaatkan layanan internet melalui telepon seluler.

Telepon seluler memiliki kelebihan dibandingkan dengan teknologi informasi komunikasi lainnya, antara lain mudah dan fleksibel dalam penggunaannya. Dengan kelebihan tersebut, PT 8villages Indonesia dengan didukung Agri-Fin Mobile dari Mercy Corp Indonesia meluncurkan layanan diseminasi informasi pertanian berbasis telepon seluler melalui Layanan Informasi Desa (LISA). LISA merupakan sebuah program yang bertujuan memberikan layanan pertanian terintegrasi melalui telepon seluler meliputi tips-tips pertanian, tanya jawab interaktif, dan iterasi keuangan keluarga bagi ibu rumah tangga dan wanita tani. Petani pengguna dari berbagai daerah terhubung dengan pusat layanan melalui LISA.

Pemakaian telepon seluler sebagai sarana diseminasi informasi pertanian masih merupakan fenomena yang tergolong baru di Indonesia. Penelitian mengenai cyber extension yang berbasis layanan internet, diketahui bahwa cyber extension dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi, serta untuk akses informasi mengenai usahatani (Mulyandari 2011). Cyber extension

merupakan bentuk yang paling penting dari penyebaran teknologi di masa depan.

Cyber extension membantu dalam pembangunan pedesaan. Cyber extension

memiliki kemungkinan besar untuk memecahkan masalah kemiskinan, ketimpangan dan menjembatani kesenjangan antara masyarakat kaya informasi dan masyarakat miskin informasi di pedesaan. Penggunaan internet akan menarik partisipasi masyarakat dalam proyek-proyek pembangunan. Melalui internet masyarakat dapat berinteraksi dengan pemerintah secara dua arah, mengenai masalah dan solusi yang mereka tawarkan, serta diseminasi informasi pertanian dari pemerintah kepada masyarakat (Kumar 2012).

(17)

menjadi modern dengan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi. Diseminasi yang biasanya melibatkan fasilitas berupa material/fisik seperti buku berkembang dengan memanfaatkan fasilitas jaringan kerja dengan memanfaatkan teknologi komputer dan internetnya serta telepon seluler. Menurut Hudson (2006) dalam Martin (2010) dan Burrell (2008) dalam Martin (2010), penggunaan telepon seluler oleh petani bertujuan untuk akses ke input pertanian, mencari informasi pasar, bantuan darurat pertanian, memantau transaksi keuangan, dan konsultasi dengan ahli.

Sejalan dengan uraian di atas, untuk mengetahui sejauh mana efektivitas LISA sebagai media diseminasi informasi pertanian yang berbasis layanan pesan pendek berperan dalam pembangunan pertanian, perlu dilakukan kajian dan analisis secara mendalam dan terarah.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan utama yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana efektivitas LISA sebagai media diseminasi informasi pertanian yang berbasis layanan pesan pendek berperan dalam pembangunan pertanian. Sedangkan permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana keterdedahan petani pengguna terhadap LISA?; 2) Bagaimana hubungan karakteristik petani dan faktor eksternal dengan keterdedahan terhadap LISA? 3) Bagaimana hubungan keterdedahan terhadap LISA dengan efektivitas komunikasi LISA?; dan 4) Bagaimana hubungan interaksi dengan sumber informasi lain dengan efektivitas komunikasi LISA?

Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana efektivitas LISA sebagai media diseminasi informasi pertanian yang berbasis layanan pesan pendek berperan dalam pembangunan pertanian. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini untuk:

1. Mendeskripsikan keterdedahan petani pengguna terhadap konten LISA;

2. Menganalisis hubungan karakteristik petani dan faktor eksternal dengan keterdedahan terhadap LISA;

3. Menganalisis hubungan keterdedahan terhadap LISA dengan efektivitas komunikasi LISA; dan

4. Menganalisis hubungan interaksi dengan sumber informasi lain dengan efektivitas komunikasi LISA.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pengambil kebijakan di bidang penyuluhan pertanian di semua tingkatan;

2. Sebagai bahan evaluasi bagi Mercy Corps Indonesia dan PT 8villages dalam perbaikan program di masa akan datang;

(18)

Efektivitas Komunikasi

Komunikasi dikatakan efektif apabila rangsangan yang disampaikan dan dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima. Semakin besar kaitan antara yang dimaksud oleh komunikator dapat direspon oleh komunikan, maka semakin efektif pula komunikasi yang dilaksanakan.

Selanjutnya Effendy (2001) menyatakan komunikasi untuk dapat dikatakan efektif jika dapat menimbulkan dampak yaitu: 1) kognitif, yakni meningkatnya pengetahuan komunikan, 2) afektif, yaitu perubahan pandangan komunikan, karena hatinya tergerak akibat komunikasi dan 3) behavioral yaitu perubahan perilaku atau tindakan yang terjadi pada komunikan. Efek pada aras kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan. Pada aras afektif meliputi efek berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap, sedangkan efek pada aras konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu (Jahi 1988).

Tubbs dan Moss (2005) mengemukakan bahwa secara sederhana komunikasi dikatakan efektif bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudnya. Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima. Tubbs dan Moss (2005) menyatakan ada lima hal yang menjadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif, yaitu: pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.

1. Pemahaman

Arti pokok pemahaman adalah penerimaan yang cermat atas kandungan stimuli seperti yang dimaksud oleh pengirim pesan (komunikator), dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikan.

2. Kesenangan

Komunikasi tidak semua ditujukan untuk menyampaikan maksud tertentu, adakalanya komunikasi hanya sekedar untuk bertegur sapa dan menimbulkan kebahagian bersama.

3. Mempengaruhi sikap

(19)

4. Memperbaiki hubungan

Komunikasi yang dilakukan dalam suasana psikologis yang positif dan penuh kepercayaan akan sangat membantu terciptanya komunikasi yang efektif. Apabila hubungan manusia dibayang bayangi oleh ketidakpercayaan, maka pesan yang disampaikan oleh komunikator yang paling kompeten pun bisa saja mengubah makna.

5. Tindakan

Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang diinginkan merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi. Lebih mudah mengusahakan agar pesan dapat dipahami orang lain daripada mengusahakan agar pesan tersebut disetujui, tindakan merupakan feed back

komunikasi paling tinggi yang diharapkan pemberi pesan.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi yang efektif. Menurut Moekijat (1993), faktor-faktor tersebut adalah: (1) kemampuan orang untuk menyampaikan informasi; (2) pemilihan dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh komunikator; (3) saluran komunikasi yang jelas dan langsung; (4) media yang memadai untuk menyampaikan pesan; (5) penentuan waktu dan penggunaan media yang tepat; dan (6) tempat-tempat penyebaran yang memadai apabila diperlukan untuk memudahkan penyampaian pesan yang asli, tidak dikurangi, tidak diubah dan dalam arah yang tepat.

Keterdedahan terhadap Media Massa

Keterdedahan pada media massa adalah aktivitas komunikasi seseorang dalam memperoleh informasi melalui media massa, baik media cetak (surat kabar, buku, brosur) maupun media elektronik (televisi, radio, internet). Komunikasi ini memanfaatkan kekuatan media massa dalam hal cakupan khalayak yang luas, serentak, dan pesan yang relatif seragam (Rogers dan Shoemaker 1971). Senada dengan Rogers, Rakhmad (2007) berpendapat bahwa keterdedahan berkaitan dengan aktivitas pencarian informasi berupa aktivitas mendengarkan, melihat, membaca, atau secara umum mengalami, dengan sedikitnya sejumlah perhatian minimal pada pesan media. Keterdedahan media komunikasi adalah intensitas masyarakat yang menggunakan media komunikasi. Keterdedahan dapat dilihat dengan dua indikator, yaitu 1) frekuensi keterdedahan, adalah jumlah intensitas khalayak terdedah terhadap media massa; dan 2) lamanya keterdedahan, adalah lamanya waktu khalayak terdedah terhadap media massa. Rogers (2003) menjelaskan tiap indikator keterdedahan pada media komunikasi paling tidak dibagi menjadi pernah terdedah dan tidak terdedah. Agustini (2009) mengungkapkan bahwa keterdedahan adalah penggunaan media yang diperoleh yang dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan.

(20)

komunikasi personal dapat menimbulkan efek perubahan perilaku. Media massa memiliki peranan memberikan informasi untuk memperluas cakrawala, memusatkan perhatian, menumbuhkan aspirasi dan sebagainya, tetapi tergantung pada keterdedahan khalayaknya di media massa (Schramm 1984). Menurut Jahi (1988), keterdedahan pada media massa akan memberikan kontribusi terhadap perbedaan perilaku. Sejalan dengan hal tersebut, perubahan perilaku khalayak tidak saja dipengaruhi oleh keterdedahannya pada satu saluran media massa, tetapi juga memerlukan lebih dari satu saluran komunikasi massa lainnya seperti televisi, radio, film, dan bahan-bahan cetakan (Kincaid dan Schramm 1984).

Hasil penelitian Nugroho (2011), semakin tinggi intensitas masyarakat dalam mendengarkan, melihat, membaca, atau sedikitnya ada perhatian terhadap pesan media atau intensitas masyarakat dalam pencarian informasi melalui berbagai media, maka masyarakat cenderung aktif dan terbuka. Kondisi masyarakat yang cenderung terbuka dan aktif akan memudahkan diseminasi teknologi kepada masyarakat tersebut. Hasil penelitian Asmirah (2006) menunjukkan bahwa keterdedahan petani pada media komunikasi berhubungan dengan tingkat penerapan teknologi. Keterdedahan terhadap media massa mempunyai indikasi positif terhadap respon peternak guna meningkatkan produktivitasnya.

Karakteristik Individu

DeVito (1997) menerangkan bahwa dalam memberikan informasi ataupun mempengaruhi khalayak harus memperhatikan beberapa peubah karakteristik individu, antara lain: umur, jenis kelamin, faktor budaya, pekerjaan, pendapatan, status, dan agama.

Karakteristik individu adalah ciri-ciri atau sifat pribadi yang dimiliki seseorang dan ditentukan oleh status demografik, psikografik, dan geografik yang diwujudkan dalam pola pikir, sikap, dan tindakan terhadap lingkungan kehidupannya. Siagian dalam Erwiantono (2004) mengemukakan bahwa umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan keluarga, dan lamanya berinteraksi dengan seseorang atau lingkungannya merupakan karakteristik biografi yang berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap objek tertentu.

Rogers (2003) mengemukakan bahwa terdapat tiga kategori dari karakteristik adopter untuk penerimaan suatu hasil inovasi, yaitu:

1. Status sosial ekonomi, meliputi umur, pendidikan formal, status sosial, serta tingkat mobilitas sosial;

2. Peubah personal, meliputi empati, tingkat dogmatis, rasionalistis dan fatalis, intelegensi, kemudahan dalam menerima perubahan sikap dan ilmu pengetahuan, kemudahan dalam menghadapi ketidakpastian dan resiko, serta tingkat aspirasi terhadap pendidikan, pekerjaan, dan status;

(21)

Penelitian Nugroho (2011) menunjukkan bahwa karakteristik tokoh masyarakat yang berhungan nyata dengan efektivitas program tanggungjawab sosial perusahaan PT Indocement, antara lain: (a) pekerjaan utama dengan tingkat pemahaman tokoh masyarakat, (b) pekerjaan utama dengan sikap tokoh masyarakat, dan (c) keterdedahan media massa dengan sikap dan tindakan tokoh masyarakat.

Pemuka Pendapat

Dalam kehidupan masyarakat biasanya terdapat seseorang yang mempunyai pengaruh dan dianggap sebagai “tokoh” atau yang dianggap “tua” dalam suatu perkara. Rogers and Shoemaker (1971) menyebutnya orang-orang yang demikian sebagai tokoh masyarakat, pemuka pendapat, pemuka opini, pemimpin informal atau sebutan lainnya yang sejenis. Rogers (2003) dalam Browning (2007), pemuka opini adalah “the degree to which an individual is able to influence others

individuals’ attitude or overt behavior informally in a desires way with relative

frequency”.

Nurudin (2005) mendefinisikan pemuka pendapat sebagai orang yang mempunyai keunggulan dari masyarakat kebanyakan yang mempunyai karakteristik sebagai berikut: (1) Lebih tinggi pendidikan formalnya dibandingkan dengan anggota masyarakat lain; (2) Lebih tinggi status sosial ekonominya; (3) Lebih inovatif dalam menerima dan mengadopsi ide baru; (4) Lebih tinggi pengenalan medianya; (5) Kemampuan empatinya lebih besar; (6) Partisipasi sosialnya lebih besar; (7) Lebih kosmopolit (mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas).

Rogers (2003) menjelaskan karakteristik pemuka pendapat yang membedakan dari masyarakat lainnya, yaitu (1) Pemuka pendapat mempunyai ekspose lebih besar ke media massa dibandingkan para pengikutnya; (2) Pemuka pendapat lebih kosmopolit daripada pengikutnya; (3) Pemuka pendapat mempunyai hubungan lebih luas dengan agen perubahan dibandingkan pengikutnya; (4) Pemuka pendapat memiliki partisipasi sosial lebih besar dibanding pengikutnya; (5) Pemuka pendapat memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan pengikutnya; (6) Pemuka pendapat lebih inovatif dibandingkan pengikutnya; (7) Ketika suatu sistem norma sosial menyukai perubahan, para pemuka pendapat menjadi lebih inovatif, tetapi ketika norma-norma tidak menyukai perubahan, maka para pemimpin pendapat tidak terlalu inovatif.

Para pemimpin pendapat boleh jadi berasal dari tingkat sosial, ekonomi dan pekerjaan mana saja. Dalam setiap lapisan masyarakat yang berbeda, terdapat pemimpin pendapat yang berbeda, karena cenderung mempunyai lebih banyak informasi dan lebih sering menggunakan berbagai media massa (Tubbs dan Moss 2005).

(22)

Sebagian besar orang menerima efek media dari pemuka pendapat yang mempunyai akses terlebih dahulu kepada media massa. Tahap pertama, pemuka pendapat menerima informasi dari media massa, kemudian pemuka pendapat berbagi dengan orang-orang di sekitar lingkaran sosialnya. Setiap tahapan dalam proses pengaruh sosial dimodifikasi oleh norma-norma dan kesepakatan dari setiap lingkaran sosial baru itu. Opini-opini yang berasal dari media akan dicampur dengan opini-opini lainnya dan secara perlahan akan melebihi informasi yang diberikan media. Opini lain yang muncul dapat menyebabkan efek positif maupun negatif. Hal ini menyebabkan pemuka pendapat juga berfungsi sebagai

gatekeepers (Ardianto et al. 2012).

Menurut Valera et al. (1987) dalam Adi dan Setyowati (2010), peranan pemuka pendapat dalam proses adopsi dan difusi inovasi adalah :

1. Fungsi inisiatif (initiation function), memberikan inisiatif dan membangkitkan motivasi masyarakat dengan mengusahakan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

2. Fungsi diseminasi atau penyebaran inovasi (dissemination function), membantu menyebarkan kegiatan-kegiatan penyuluhan untuk menjangkau sebagian besar masyarakat.

3. Fungsi pengungkapan minat (interest articulation function), membantu agen penyuluhan dalam menerangkan sesuatu dan melayani kesulitan-kesulitan, serta memecahkan masalah anggota masyarakat.

4. Fungsi penghubung (linkage function), membantu agen penyuluhan dalam memperkuat keputusan-keputusan, dengan mempengaruhi anggota-anggota masyarakat yang lain, yang tidak tahu mengenai keputusan tersebut, dan juga bertindak sebagai penanggung jawab bagi masyarakat.

5. Fungsi pengawas (overseer function), dapat dimintai oleh agen penyuluhan untuk mengawasi kegiatan-kegiatan penyuluhan yang berjalan, dan membantu menetapkan prosedur kerja sesuai dengan sumber daya yang ada.

6. Fungsi mobilisasi sosial (social mobilization function), membantu agen penyuluhan dengan mengorganisasi kelompok–kelompok kegiatan masyarakat dan memelihara kegiatan-kegiatan tersebut, membantu dalam memelihara kesatuan kelompok, dan membangkitkan iklim sosial yang lebih kondusif.

Hasil penelitian Adi dan Setyowati (2010), pemuka pendapat berpengaruh secara nyata dalam proses difusi teknologi konservasi lahan kering oleh petani kepada petani lain. Pemuka pendapat melalui peranannya sebagai penyebar inovasi, penghubung atau katalisator dan mobilisator bagi penerapan teknologi dapat mempengaruhi keputusan petani untuk menyebarkan teknologi konservasi kepada petani lain.

(23)

Perkembangan Penyuluhan Pertanian di Indonesia

Dalam catatan Lubis (2012), sejarah perkembangan penyuluhan pertanian di Indonesia dapat dibagi menjadi:

1. Era Kolonial

Pembangunan pertanian dimulai sejak pembangunan Kebun Raya Bogor pada tahun 1817. Belanda mengembangkan bermacam-macam komoditas pertanian komersial dibarengi dengan pendidikan dan pengembangan penelitian pertanian di daerah. Selain itu, penyuluhan pertanian mulai dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian. Kemudian pada tahun 1910, Belanda mendirikan kantor penyuluhan pertanian. Penyuluhan dilakukan dengan mendidik orang-orang, mengenalkan penemuan baru hasil penelitian kepada petani, memodernisasi sistem pertanian, menyebarluaskan bibit tanaman komersial, pelatihan bagi petani, mengenalkan demplot, studi banding untuk petani, membuat analisis usaha tani, serta pengenalan sistem kredit pertanian.

2. Era Soekarno (1945 – 1963)

Pembangunan pertanian yang sistematis pertama yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah Kasimo Plan. Namun karena ketidakstabilan politik, rencana pembangunan tidak terlaksana dengan baik. Pada tahun 1950, didirikan Pusat Pendidikan Masyarakat Desa yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Pada masa ini petani diperkenalkan kepada pupuk kimia dan pestisida, varietas baru tanaman, dan sistem irigasi. Pada era ini, pemerintah melaksanakan proyek intensifikasi untuk 1.000 hektar sawah dan memberikan bantuan keuangan bagi petani (berupa pupuk, bibit, dan uang tunai). Mereka berharap bahwa demonstrasi ini ditiru oleh petani lainnya.

Pada tahun 1959 ada sedikit perubahan dalam pengembangan penyuluhan pertanian. Pemerintah mengubah pendekatan penyuluhan pertanian dari slow-but-sure menjadi pendekatan personal yang cepat;

olievlek-sijsteem ke sistem tetes air. Pemerintah meluncurkan Komando Operasi Gerakan Makmur untuk mencapai swasembada beras. Pendekatan “perintah” dianggap menjadikan persepsi negatif terhadap penyuluhan pertanian. Bimbingan Massal, atau yang lebih dikenal dengan BIMAS merupakan salah satu pendekatan yang lahir di era ini. Bimas pertama kali diperkenalkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (cikal bakal IPB) yang memperkenalkan 5 teknologi baru, meliputi bibit, pupuk kimia, pengendalian hama, pengaturan jarak tanam, dan sistem irigasi.

3. Era Suharto

Pemerintahan di era Presiden Suharto melanjutkan BIMAS sebagai pendekatan utama dalam pembangunan pertanian. Selain itu, pemerintah juga menyediakan kredit dan menyediakan bibit, pupuk, dan pestisida dengan harga rendah. Pemerintah juga mendirikan koperasi untuk memudahkan petani mendapatkan sarana produksi dan memasarkan produk mereka.

(24)

ditempatkan di daerah. Gerakan pembangunan pertanian secara langsung dipimpin oleh Bupati. Namun demikian, banyak kritik kepada pemerintah terhadap pembangunan pertanian di era ini. Penyuluhan pertanian dianggap menggunakan pendekatan “paksaan” untuk untuk mengubah perilaku petani. Slamet (2003) dalam Lubis (2012) mengatakan bahwa penyuluhan pertanian hanya digunakan sebagai alat untuk meningkatkan produksi pertanian, terutama beras. Melalui pendekatan ini, kegiatan penyuluhan pertanian hanya untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk mendidik petani (Prabowo 2003 dalam Lubis 2012). Menurut Saragih (2007) dalam Lubis (2012) menyebutkan bahwa pembangunan pertanian selama era Soeharto telah berhasil mengatasi masalah klasik pengembangan pertanian yaitu produksi dan masalah on-farm. Menurut Fakih (2000) dalam Lubis (2012), pembangunan pertanian selama era ini banyak menggunakan input pertanian yang modern, seperti pupuk kimia dan pestisida.

4. Era Demokrasi dan Desentralisasi

Setelah reformasi tahun 1998, penyuluhan pertanian di Indonesia mengalami perubahan, yaitu penyuluhan yang demokratis dan desentralisasi. Dengan adanya desentralisasi, maka pemerintah kabupaten/kota mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan. Perkembangan ini membawa masalah serius untuk pembangunan pertanian pada umumnya dan khususnya untuk penyuluhan pertanian. Secara umum, banyak pemerintah daerah tidak lagi menekankan sektor pertanian sebagai mesin utama pembangunan ekonomi dan pembangunan pertanian menjadi terabaikan. Penyuluhan pertanian menjadi stagnan dan kelembagaan penyuluhan banyak yang dipinggirkan. Menurut Slamet (2003b) dalam Lubis (2012), desentralisasi telah membawa penyuluhan pertanian di Indonesia ke situasi terburuk setelah 30 tahun pembangunan.

5. Penyuluhan pertanian saat ini

(25)

provinsi telah mempunyai kelembagaan penyuluhan pertanian berbentuk badan koordinasi, dan sebanyak 342 kabupaten/ kota telah membentuk badan pelaksana penyuluhan pertanian. Selain berbentuk badan pelaksana penyuluhan, masih ada 171 kabupaten/ kota yang kelembagaan penyuluhan masih bergabung dengan dinas pertanian.

Kelembagaan penyuluhan pertanian di Indonesia diperkuat oleh 69.723 tenaga penyuluh, yang terdiri dari 25.875 penyuluh pertanian pemerintah, 19.052 orang Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TB PP) dengan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, 2.365 THL-TB PP dengan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, 21.343 penyuluh pertanian swadaya, dan 89 penyuluh pertanian swasta.

Penyuluh Pertanian

Rogers (2003) mengemukakan bahwa penyuluh merupakan seseorang yang atas nama kelembagaan penyuluhan berkewajiban untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan sasaran penyuluhan dalam mengadopsi inovasi.

Menurut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, penyuluh adalah adalah perorangan warga negara Indonesia yang melakukan kegiatan penyuluhan. Penyuluhan di Indonesia dilakukan oleh penyuluh pertanian pemerintah, penyuluh swasta dan penyuluh swadaya.

Tugas pokok penyuluh pertanian menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: Per/02/Menpan/2/2008 meliputi:

1. Melakukan kegiatan persiapan penyuluhan pertanian, meliputi identifikasi potensi wilayah, memandu penyusunan rencana usaha petani, penyusunan programa penyuluham pertanian, dan penyusunan rencana kerja tahunan penyuluhan pertanian;

2. Melaksanakan penyuluhan pertanian, meliputi penyusunan materi, perencanaan penerapan metode penyuluhan pertanian, dan menumbuhkembangkan kelembagaan petani;

3. Evaluasi dan pelaporan, meliputi evaluasi pelaksanaan penyuluhan pertanian, dan evaluasi dampak pelaksanaan penyuluhan pertanian;

4. Pengembangan penyuluhan pertanian, meliputi penyusunan pedoman/ petunjuk pelaksanaan/ petunjuk teknis penyuluhan pertanian, kajian kebijakan pengembangan penyuluhan pertanian, dan pengembangan metode/ sistem kerja penyuluhan pertanian;

5. Pengembangan profesi, meliputi pembuatan karya tulis ilmiah di bidang pertanian, penerjemahan/ penyaduran buku dan bahan-bahan lain di bidang pertanian, dan pemberian konsultasi di bidang pertanian yang bersifat konsep kepad institusi kepada institusi dan/ atau perorangan; dan

(26)

penerbitan di bidang pertanian, perolehan penghargaan/ tanda jasa, pengajaran/ pelatihan pada pendidikan dan pelatihan, keanggotaan dalam organisasi profesi, dan perolehan gelar kesarjanaan lainnya.

Peran penyuluhan dalam penyelenggaraan lebih mengarah pada perubahan berencana. Boyle (1981) dalam Nuryanto (2008) mengemukanan bahwa perubahan berencana sebagai kegiatan yang disadari, sengaja dan bersama-sama untuk meningkatkan suatu sistem sosial secara operasional, baik itu sistem sosial sendiri, sistem sosial atau sistem kebudayaan melalui pemanfaatan pengetahuan yang tepat. Perubahan yang diinginkan atau berencana harus diidentifikasi dan ditentukan. Perubahan tersebut merupakan deskripsi dari kondisi yang ada antara “what is” dan “what should be”, antara yang ada dan yang seharusnya ada.

Perubahan yang direncanakan tersebut membutuhkan peran penyuluh. Levin dalam Nuryanto (2008), penyuluh mempunyai tiga peran utama, yaitu (1) peleburan diri dengan masyarakat sasaran; (2) menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan berencana; dan (3) memantapkan hubungan sosial dengan masyarakat sasaran. Selanjutnya Lippit dalam Nuryanto (2008), peran penyuluh berkembang sebagai berikut: (1) mengembangkan kebutuhan untuk melakukan perubahan berencana dengan tahapan (a) mengenal masalah dan kebutuhan sistem sosial untuk mengadakan pembaruan; (b) menilai motivasi dan sumberdaya agen pembaharuan; (c) menyeleksi tujuan-tujuan pembaharuan dengan tepat; (d) memilih tipe peran dan bantuan yang akan dimainkan dengan tepat, (2) menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan dengan melakukan tindakan: (a) membina hubungan baik dan kerjasama terus menerus dengan masyarakat sasaran dan tokoh formal dan tokoh informal; (b) dengan tokoh masyarakat bersama-sama merencanakan upaya perubahan sesuai dengan tahap-tahap pembangunan pertanian jangka panjang; dan (c) mampu menyumbangkan pengetahuan dan keahlian sebagai tenaga professional dalam membangun khalayak sasaran di wilayahnya.

Mosher dalam Mardikanto (1996) mengemukakan bahwa seorang penyuluh harus mampu melakukan peran ganda, yaitu (1) sebagai guru, artinya penyuluh harus terampil menyampaikan inovasi untuk mengubah perilaku sasaran; (2) sebagai analisator, artinya penyuluh harus mempunyai keahlian untuk melakukan pengamatan terhadap keadaan, masalah, dan kebutuhan masyarakat sasaran serta mampu memecahan masalah petani; (3) sebagai konsultan, artinya penyuluh harus terampil dan ahli untuk memilih alternatif perubahan yang paling tepat, yang secara teknis dapat dilaksanakan, secara ekonomi menguntungkan, dan dapat diterima oleh nilai-nilai budaya setempat, dan (4) sebagai organisator, artinya penyuluh harus mempunyai keahlian dan ketrampilan untuk menjalin hubungan yang baik dengan segenap lapisan masyarakat, mampu menumbuhkan kesadaran dan menggerakkan partisipasi masyarakat, mampu berinisiatif bagi terciptanya perubahan-perubahan, dapat memobilisasi sumberdaya, mengarahkan dan membina kegiatan maupun mengembangkan kelembagaan yang efektif untuk melaksanakan perubahan yang direncanakan.

(27)

Hasil penelitian Adamides dan Stylianou (2013) memberikan bukti kuat bahwa telepon seluler digunakan petani untuk memperoleh informasi pertanian. Penyuluhan pertanian akan lebih efektif dalam diseminasi informasi pertanian dan lebih fokus pada pengembangan aplikasi untuk petani dan kebutuhan informasi petani jika dapat memanfaatkan keunggulan telepon seluler.

Kari (2007) menemukan bahwa sebagian besar masyarakat di Nigeria tidak mempunyai akses ke teknologi informasi modern. Sebanyak 24 persen responden masyarakat mendapatkan informasi melalui penyuluh pertanian dan 2,6 persen responden mendapatkan informasi melalui telepon seluler. Sebagian besar menganggap peran penyuluh pertanian sangat penting. Penyuluh pertanian dianggap orang yang menguasai semua permasalahan

Kelompoktani

Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian diharapkan mempunyai kemampuan manajerial, andal, mempunyai jiwa kewirausahaan dan berorientasi bisnis. Petani yang berkualitas, andal, berkemampuan manajerial, kewirausahaan dan organisasi bisnis dibutuhkan untuk menguatkan posisi tawar petani. Penyuluhan pertanian melalui pendekatan kelompok merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas petani. Pendekatan kelompok dalam penyuluhan dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan penyuluhan. Pendekatan kelompok juga dimaksudkan untuk mendorong penumbuhan kelembagaan petani (kelompoktani, gabungan kelompoktani). Hal ini dilakukan karena masih banyaknya jumlah petani yang belum bergabung dalam kelompoktani (poktan), terbatasnya jumlah tenaga penyuluh pertanian sebagai fasilitator, serta terbatasnya pembiayaan dalam pembinaan bagi poktan dan gabungan kelompoktani (gapoktan). Berdasarkan Sensus Pertanian Tahun 2013 yang dilakukan, saat ini diperkirakan ada 26 juta orang yang bermata pencaharian sebagai petani. Data Kementerian Pertanian, saat ini kelompoktani yang tercatat sebanyak 322.309 poktan, dengan jumlah anggota lebih dari sembilan juta petani. Dengan demikian terdapat sekitar 15 juta petani yang belum bergabung dalam kelompoktani.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 82/Permentan/OT.140/8/2013 tentang Pedoman Pembinaan Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan Kelompoktani, mendefinisikan kelompoktani (poktan) sebagai kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan; kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan sumberdaya; kesamaan komoditas; dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

Kelompoktani pada dasarnya merupakan kelembagaan petani non-formal di pedesaan yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Ciri Kelompoktani

a. Saling mengenal, akrab dan saling percaya di antara sesama anggota; b. Mempunyai pandangan dan kepentingan serta tujuan yang sama dalam

(28)

c. Memiliki kesamaan dalam tradisi dan/atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi dan sosial, budaya/kultur, adat istiadat, bahasa serta ekologi.

2. Unsur Pengikat Kelompoktani

a. Adanya kawasan usahatani yang menjadi tanggungjawab bersama di antara para anggotanya;

b. Adanya kader tani yang berdedikasi tinggi untuk menggerakkan para petani dengan kepemimpinan yang diterima oleh sesama petani lainnya; c. Adanya kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh sebagian besar

anggotanya;

d. Adanya dorongan atau motivasi dari tokoh masyarakat setempat untuk menunjang program yang telah ditetapkan.

e. Adanya pembagian tugas dan tanggungjawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.

3. Fungsi Kelompoktani

a. Kelas Belajar: Kelompoktani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggota guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap agar tumbuh dan berkembang menjadi usahatani yang mandiri sehingga dapat meningkatkan produktivitas, pendapatan serta kehidupan yang lebih baik. b. Wahana Kerjasama: Kelompoktani merupakan tempat untuk memperkuat

kerjasama baik di antara sesama petani dalam poktan dan antar poktan maupun dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan usahatani lebih efisien dan lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, gangguan serta lebih menguntungkan;

c. Unit Produksi: Usahatani yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota poktan secara keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomis usaha, dengan menjaga kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.

Sadjad (2010) dalam Nuryanti dan Swastika (2011), pembentukan kelompoktani merupakan proses perwujudan pertanian yang terkonsolidasi sehingga dapat berproduksi secara optimal dan efisien. Dengan kelompok yang terkonsolidasi, pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil pertanian dapat dilakukan secara bersama-sama, sehingga biaya produksi menjadi lebih murah dan biaya pemasaran juga rendah. Selain itu, dengan berkelompok, diseminasi teknologi pertanian juga lebih efektif. Penyuluh/ agen pembaharu dapat menjangkau petani dengan jumlah yang lebih banyak dalam waktu tertentu.

(29)

Nwanze (2010), Attwood dan Bavista (2002) dalam Okafor dan Malizu (2013) mengatakan bahwa beberapa tujuan pertanian dapat dicapai dengan baik apabila petani bergabung dengan kelompoktani. Selanjutnya hasil penelitian Okafor dan Malizu (2013) memaparkan beberapa keuntungan petani berkelompok, antara lain: (1) kelompoktani dapat membantu petani mengakses informasi dan perlengkapan pertanian; (2) adanya layanan simpan pinjam yang dapat digunakan petani; dan (3) petani dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya.

Nuryanti dan Swastika (2011) mencatat ada beberapa potensi yang dimiliki kelompoktani dalam penerapan adopsi teknologi, antara lain: (1) besarnya anggota kelompoktani, (2) luasnya hamparan lahan, sehingga terjadi konsolidasi lahan usahatani, (3) kepatuhan anggota terhadap kesepakatan kelompoktani, (4) pemahaman individu anggota yang berkonsolidasi dalam kelompok terhadap tujuan bersama, (5) kesamaan persepsi untuk mewujudkan nilai-nilai positif dari adopsi teknologi oleh kelompok, dan (6) munculnya lembaga pembiayaan yang dapat diakses oleh kelompoktani.

Keanggotaan dalam kelompoktani akan meningkatkan penggunaan telepon seluler untuk kebutuhan kelompoktani, misalnya dalam mengkoordinasikan kegiatan kelompok. Ada sinergi antara kelompoktani dan penggunaan telepon seluler yang efektif. Penggunaan telepon seluler yang efektif untuk fungsi komunikasi kelompoktani meliputi penyediaan informasi melalui konsultasi, koordinasi bantuan darurat, dan dukungan akses kelompok ke input pertanian (Blau dan Scott, 1962; Hudson 2006 dalam Martin 2010). Martin (2010) menyatakan bahwa keanggotaan dalam kelompoktani meningkatkan kemungkinan penggunaan telepon seluler untuk pertanian. Sebaliknya, petani yang terisolasi secara sosial akan memiliki sedikit akses ke informasi pertanian dan lebih sedikit menggunakan telepon seluler untuk kepentingan pertanian.

Martin (2010) menemukan bahwa petani yang menjadi anggota kelompoktani lebih cenderung menggunakan telepon seluler untuk keperluan pertanian. Salah satu alasan bahwa menjadi bagian dari kelompoktani berarti petani memiliki lebih banyak akses ke informasi pertanian. Ketika ada informasi pertanian yang baru, anggota kelompoktani akan menggunakan telepon seluler untuk menyebarkannya. Selain itu, anggota kelompoktani mempunyai lebih besar kesempatan berhubungan dengan ahli pertanian dibandingkan petani yang tidak bergabung dengan kelompoktani.

Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Penyuluhan Pertanian

(30)

menjadi sebuah desa global (Zahedi dan Zahedi 2012). Technical Centre for Agricultural and Rural Cooperation (CTA, 2003) dalam Olaniyi et al. (2013) mendefinisikan TIK sebagai teknologi yang mempermudah komunikasi dan proses pengiriman informasi melalui sarana elektronik untuk kepentingan penggunanya. Ngenge (2003) dalam Kituyi dan Adigun (2008) menganggapnya sebagai teknologi yang memungkinkan penanganan informasi dan memfasilitasi berbagai bentuk komunikasi antara manusia, manusia dan sistem elektronik, dan antara sistem elektronik.

Secara garis besar, TIK dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: tradisional dan baru. Yang termasuk ke dalam kategori TIK tradisional antara lain media cetak dan teknologi analog, seperti: radio, televisi, telepon rumah, dan mesin faksimili. Kategori TIK baru terdiri dari komputer dan aplikasi pengolahan data yang dapat diakses melalui email, internet, telepon seluler, teknologi nirkabel dan aplikasi pengolahan data lainnya (Marcelle 2000 dalam Kituyi dan Adigun 2008).

Teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu terobosan yang mendorong pengembangan dan perubahan sekarang ini. Transformasi besar dalam kehidupan orang-orang terutama di negara-negara berkembang tergantung pada kemajuan TIK (Emenari 2004 dalam Olaniyi et al. 2013). Pesatnya perkembangan TIK memiliki pengaruh besar terhadap penghidupan orang di seluruh dunia. Penerapan TIK dapat menjadi pendorong utama pembangunan ekonomi dan masyarakat di daerah pedesaan (Osiakade et al. 2010 dalam Olaniyi et al. 2013). Perkembangan TIK telah meruntuhkan batas nasional dan internasional dan mengubah dunia menjadi sebuah desa global, membuat informasi tersedia untuk semua orang, di mana-mana dan kapan saja diperlukan (Onasanya et al. 2011 dalam Olaniyi et al. 2013).

Meskipun disadari TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia masih belum dipertimbangkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan (Lubis 2010).

Teknologi informasi dan komunikasi mempunyai peranan penting dalam menghadapi berbagai tantangan dan mengangkat penghidupan di pedesaan (ITU 2009 dalam Olaniyi et al. 2013). Penggunaan radio, televisi dan telepon seluler untuk menyebarkan informasi pertanian yang sesuai kepada petani dapat mendorong pencapaian ketahanan pangan dan mendukung kehidupan pedesaan di Nigeria (Olaniyi et al. 2013). Peran TIK dalam penyuluhan dapat mendorong terjadinya realisasi bottom-up, mendorong masuk ke generasi teknologi (Meera 2003 dalam Moon 2013). Penggunaan telepon seluler dapat meningkatkan keuntungan dan kesejahteraan nelayan India (Jensen 2007 dalam Kilenthong dan Odton 2014); mengurangi biaya yang dikeluarkan dalam berusahatani (Ogutu et al. 2014). Dalam program 1Nita di Malaysia, 60 persen peserta pelatihan TIK menjadi mempunyai lebih banyak pengetahuan dan keterampilan tentang penggunaan komputer dan akses internet (Hashima et al. 2011). Senada dengan 1Nita, SPARK, sebuah program pendidikan TIK di Turki menunjukkan bahwa pendidikan TIK dapat membuat perubahan dalam kehidupan orang-orang dengan penggunaan TIK (Tas 2011).

(31)

kasus M-PESA di Kenya (Jack et al. 2010 dalam Kilenthong dan Odton 2014). Telepon seluler dianggap sebagai alat yang mudah diakses dan lebih murah dibandingkan dengan teknologi TIK lainnya (Wade 2004 dalam Adamides dan Stylianou 2013). Rashid dan Elder (2009) dalam Adamides dan Stylianou (2013) menyatakan bahwa telepon seluler adalah bentuk komunikasi yang dominan di negara berkembang. Telepon seluler efektif digunakan sebagai alat berbagi informasi pertanian (Rashid dan Elder 2009; Aker 2010 dalam Adamides dan Stylianou 2013). Program-program yang berbasis TIK akan berkelanjutan apabila menggunakan teknologi yang dikenal dan dikuasai dengan baik oleh penggunanya, misalnya telepon seluler (Flor 2008).

Michailidis et al. (2010) dalam Adamides dan Stylianou (2013), menjelaskan beberapa hal yang menjadikan telepon seluler dapat diterima dan diadopsi lebih banyak dan cepat dibandingkan perangkat TIK yang lain, yaitu: (a) socio-economic, contohnya mengurangi jarak antara petani dengan lembaga penyuluhan, menjadikan penyebaran informasi pertanian lebih mudah dan efektif, dan (b) rural, contohnya memuat konten lokal dan membuat layanan pedesaan lebih efisien dalam hal logistik, koordinasi, dan biaya.

Penelitian Adamides dan Stylianou (2013) menyatakan bahwa 98 persen petani memperoleh informasi menggunakan telepon seluler, 89 persen petani memperoleh informasi dari sesama petani, 85 persen berasal dari penyuluh pertanian, 81 persen dari konsultan swasta, dan 74 persen dari supplier input. Petani menggunakan telepon seluler setiap hari untuk mendapatkan informasi pertanian.

Pada kemunculannya telepon seluler hanya dimiliki oleh orang-orang kaya, masyarakat perkotaan dan masyarakat yang lebih terdidik. Namun dalam perkembangannya telepon seluler telah diadopsi oleh penduduk di pedesaan dan perkotaan di beberapa negara berkembang di dunia (Aker dan Mbiti 2010 dalam Aker 2011). Telepon seluler secara signifikan mengurangi biaya untuk kebutuhan komunikasi dan informasi bagi masyarakat miskin pedesaan. Hal ini tidak hanya memberikan peluang baru bagi petani pedesaan untuk mendapatkan akses ke informasi teknologi pertanian, tetapi juga untuk menggunakan TIK dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Sejak tahun 2007, aplikasi dan jasa berbasis telepon seluler di sektor pertanian berkembang dengan memberikan informasi mengenai harga pasar, cuaca, transportasi dan teknik pertanian melalui suara, layanan pesan pendek, radio dan internet (Aker 2011).

Pemerintah Indonesia telah memanfaatkan TIK dalam pembangunan pertanian. Lubis (2012) mencatat ada beberapa program berbasis TIK dari Kementerian Pertanian diantaranya adalah:

1. Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi/ Poor Farmers Income Improvement through Innovation (PFI3)

Merupakan proyek kerjasama antara kementerian Pertanian dan Bank Pembangunan Asia. Dalam proyek ini, pemerintah mengembangkan website pertanian di tingkat nasional yang memberikan informasi tentang teknologi pertanian dan pasar.

2. Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian/ Farmers Empowerment through Agricultural Technology and Information (FEATI)

(32)

dengan berbasis penggunaan TIK. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa akses petani terhadap teknologi, pasar, dan modal semakin meningkat. 3. Pusat Informasi Agribisnis/ Center for Agricultural Information

Dengan adanya Pusat Informasi Agribisnis (PIA), petani dapat memperluas aksesnya kepada informasi pertanian. PIA dirancang sebagai one stop shop

untuk pertukaran pengetahuan di antara stakeholder pembangunan pertanian.

4. Cyber Extension

Pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 sebagai terobosan baru dalam sistem penyuluhan pertanian. Pemerintah membagikan perangkat TIK yang terhubung dengan akses internet ke kelembagaan penyuluhan di itngkat provinsi, kabupaten/ kota, sampai dengan balai penyuluhan di kecamatan. Adanya layanan cyber extension, penyuluh pertanian, petani, dan pelaku usaha dapat mengakses informasi pertanian dengan mudah dan cepat. Pemanfaatan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun keterampilan dalam bisnis secara elektronik (Lubis 2010). Senada dengan Lubis (2010), Moghaddam dan Abadi (2013) merekomendasikan bahwa sebelum pembentukan pusat TIK Gharn Abad di Iran, maka harus ada program pelatihan yang dapat mendukung peningkatan ketrampilan penggunaan TIK. Pelatihan TIK dapat memberikan dorongan baru untuk kegiatan pertanian, yang dapat bertindak sebagai agen transformatif untuk pengembangan pedesaan (Botsiou dan Dagdilelis 2013). Menurut Francis dan Addom (2014), peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengguna TIK dapat mengurangi kesenjangan digital, sehingga berkontribusi untuk demokratisasi informasi dan komunikasi dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk adopsi teknologi baru/ pengetahuan.

(33)

pemerintah setempat telah berusaha mengintegrasikan TIK ke dalam penyuluhan pertanian, khususnya dengan mendirikan pusat-pusat informasi kabupaten (FARA 2009 dalam Aker 2011). Dengan pertumbuhan kepemilikan telepon seluler, kegiatan penyuluhan sudah banyak berpindah dari perangkat TIK "tradisional" menuju ke penggunaan suara, layanan pesan pendek, dan internet dari telepon seluler (Aker 2011). Pemerintah Jamaika juga telah menggunakan TIK dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Mereka tidak hanya menggunakan satu metode komunikasi. Penyuluhan dilakukan dengan komunikasi tatap muka yang dikombinasikan dengan komunikasi melalui media TIK untuk memenuhi kebutuhan petani yang beragam mengingat sifat kompleks dari sektor pertanian (Francis dan Addom 2014).

Layanan Operator Telepon Seluler

Telepon seluler adalah perangkat telekomunikasi elektronik nirkabel (wireless) yang dapat dibawa kemana-mana (Jogiyanto 2007 dalam Budiono 2013). Sedangkan menurut Theodora (2007) dalam Budiono (2013), telepon seluler adalah alat komunikasi tanpa kabel yang bersifat mobile atau bergerak.

Telepon seluler dianggap sebagai salah satu cara mengatasi masalah informasi. Persentase populasi dunia dengan kepemilikan telepon seluler naik dari sekitar 12 persen pada tahun 1999 menjadi sekitar 76 persen pada tahun 2009. Hampir tiga perempat dari telepon seluler di dunia pada tahun 2010 berada di negara-negara berkembang (Donovan 2011 dalam Tadesse dan Bahiigwa 2015). Di negara berkembang, masyarakat lebih banyak memiliki akses ke telepon seluler dibandingkan kepada teknologi komunikasi lain seperti telepon rumah, surat kabar, dan radio (Aker 2011 dalam Tadesse dan Bahiigwa 2015).

Telepon seluler berfungsi sebagai pengirim dan penerima pesan pendek atau

Short Message Service (SMS), pesan gambar, video call, hingga televisi online (Farley 2005 dalam Budiono 2013). Pada perkembangan selanjutnya, telepon seluler berkembang dengan menyediakan fitur-fitur seperti kamera digital, pemutar musik, internet, global positioning system (gps), dan lainnya. Fungsi yang terus berkembang tersebut menjadikan telepon seluler sebagai alat yang berperan dalam pembangunan. Banyak penelitian, telah mengkonfirmasi bahwa telepon seluler berperan dalam pembangunan pertanian. Lio dan Liu (2006) dalam Tadesse dan Bahiigwa (2015) menemukan bahwa penerapan telepon seluler meningkatkan produktivitas pertanian secara keseluruhan. Mittal, Gandhi, dan Tripathi (2010) dalam Tadesse dan Bahiigwa (2015) mewawancarai petani India dan nelayan yang menyatakan informasi yang disampaikan via perangkat telepon seluler memungkinkan mereka untuk meningkatkan hasil usahanya.

(34)

produk Three “3”). Sementara operator telepon seluler CDMA adalah Telkom (dengan produk TelkomFlexy), Sinar Mas Smart (dengan produk SmartFren), Indosat (dengan produk Starone), dan Bakrie Telekom (dengan nama produk Esia).

Kualitas layanan (service quality) diartikan sebagai sebuah ukuran seberapa baik tingkat layanan yang mampu diberikan oleh operator telepon seluler (Budiono 2013). Untuk menjaga loyalitas pelanggan, kualitas layanan menjadi hal yang sangat penting. Penelitian Segoro (2011), persepsi kualitas layanan operator telepon seluler akan mempengaruhi kepuasan dan loyalitas pelanggan. Namun, beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa kepuasan pelanggan tidak selalu memiliki hubungan dengan loyalitas pelanggan (Fornell dan Wernerfelt 2002 dalam Segoro 2011). Dalam penelitiannya, Segoro (2011) mengemukakan konsep bahwa persepsi kualitas layanan operator telepon seluler dapat dikaji dari aspek call quality, biaya, mobile device, value added service, kemudahan prosedur, dan customer support.

LISA sebagai Media Komunikasi Pertanian

LISA merupakan salah satu terobosan inovatif program Agri-Fin Mobile dari Mercy Corps Indonesia dan PT 8villages Indonesia untuk memberikan layanan terintegrasi kepada petani berpenghasilan rendah di negara berkembang. Basis layanan LISA menggunakan telepon seluler. Telepon seluler dapat digunakan untuk mendapatkan informasi seputar pertanian mulai dari perencanaan usahatani sampai pada tahap pemasaran hasil pertanian. Layanan yang diberikan LISA meliputi layanan tips pertanian, layanan tanya jawab interaktif dengan ahli, dan layanan iterasi keuangan keluarga (khusus wanita tani).

Dalam merencanakan usahatani, program ini akan membantu para petani untuk mendapatkan informasi tentang ketersediaan berbagai perlengkapan dan bibit yang digunakan. Informasi ini akan membantu petani untuk memilih dan memutuskan usahatani yang dilakukan dengan mempertimbangkan biaya yang rendah dan hasil yang tinggi. Pada tahap penanaman, LISA membantu petani memperoleh cara bercocok tanam yang baik sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan menggunakan telepon seluler, petani akan dapat memperoleh informasi mengenai bibit terbaik untuk menggunakan dan mendapatkan asuransi tanaman. Pada tahap pemeliharaan tanaman, program ini membantu para petani terhubung dengan informasi tentang pupuk, pengendalian hama dan penyakit, serta informasi mengenai cuaca. Sedangkan dalam tahap pemanenan dan pemasaran, LISA memberikaninformasimengenai cara penanganan pasca panen, penyimpanan hasil pertanian, informasi harga jual hasil pertanian dan lainnya.

(35)

operator LISA bekerjasama dengan operator telepon seluler, diantaranya: Telkomsel (dengan produk SIMcard Simpati, As, Halo) dan Indosat (dengan produk SIMcard Mentari, IM3, Matrix), XL Axiata (dengan produk SIMcard XL dan Axis), sedangkan untuk operator yang lain belum dapat digunakan untuk mengakses layanan LISA. Salah satu operator telepon seluler juga memberikan layanan grup bagi pengguna yang menggunakan layanan operator tersebut. Dalam layanan grup tersebut, sesama pengguna dapat saling berbagi pengalaman, tips, dan juga tanya jawab antar pengguna. Penyuluh pertanian lokal biasanya menjadi sumber informasi (Gambar 1).

Gambar 1 Layanan grup Indosat pengguna LISA

Penelitian Terdahulu

Penelitian Syatir (2014) menunjukkan bahwa penyuluh pertanian dan kelompoktani berperan dalam akses informasi petani. Jenis ragam materi terbanyak diperoleh petani dari penyuluh dan kelompoktani. Hal ini karena komunikasi tatap muka lebih efektif dan tanpa ada multi interpretasi yang berbeda dibandingkan mengakses informasi dari media cetak dan media elektronik. Informasi yang diperoleh petani lebih banyak diolah menjadi informasi yang sebatas pencerahan yang berarti petani belum sepenuhnya menerapkan cara bercocok tanam yang baik dan belum mampu menangani penjualan sendiri dan masih lebih banyak bergantung pada pedagang pengepul. Selain itu, Syatir (2014) juga menyatakan bahwa terdapat hubungan nyata antara karakteristik petani dengan keterdedahan sumber informasi, umur berhubungan dengan frekuensi penyuluh, pengalaman berhubungan dengan frekuensi dan durasi dari penyuluh, pengalaman berhubugan sangat nyata dengan akses poktan, pengalaman berhubungan nyata dengan durasi akses poktan. Terdapat hubungan nyata antara keterdedahan sumber informasi dengan pemanfaatan informasi.

Penelitian Awaliah (2012) menunjukkan bahwa faktor usia dan pengalaman berusahatani tidak berhubungan dengan pengetahuan dan tindakan petani dalam budidaya padi. Interaksi petani dengan penyuluh pertanian berhubungan dengan

Petani/ pengguna Penyuluh pertanian (tenaga ahli lokal)

Lembaga Penelitian / Tenaga Ahli

Figur

Gambar 2 Kerangka pemikiran Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi

Gambar 2

Kerangka pemikiran Layanan Pesan Pendek sebagai Media Komunikasi p.37
Tabel 1 Definisi Operasional dan Indikator Peubah Karaktersitik Petani (X1)

Tabel 1

Definisi Operasional dan Indikator Peubah Karaktersitik Petani (X1) p.40
Tabel 2 Definisi Operasional dan Indikator Peubah Faktor Eksternal (X2)

Tabel 2

Definisi Operasional dan Indikator Peubah Faktor Eksternal (X2) p.41
Tabel 4 Definisi Operasional dan Indikator Peubah Keterdedahan terhadap LISA

Tabel 4

Definisi Operasional dan Indikator Peubah Keterdedahan terhadap LISA p.42
Gambar 3     Alur Layanan Informasi Desa (LISA)

Gambar 3

Alur Layanan Informasi Desa (LISA) p.47
Tabel 6  Jumlah desa, luas wilayah, dan luas lahan di empat kecamatan lokasi

Tabel 6

Jumlah desa, luas wilayah, dan luas lahan di empat kecamatan lokasi p.48
Tabel 8 Jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut golongan luas lahan yang        dikuasai di Kabupaten Karawang tahun 2013

Tabel 8

Jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut golongan luas lahan yang dikuasai di Kabupaten Karawang tahun 2013 p.49
Tabel 10  Jumlah responden menurut karakteristik di empat kecamatan lokasi penelitian tahun 2015

Tabel 10

Jumlah responden menurut karakteristik di empat kecamatan lokasi penelitian tahun 2015 p.50
Gambar 4    Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut jenis kelamin

Gambar 4

Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut jenis kelamin p.51
Gambar 6 Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut jenjang

Gambar 6

Sebaran responden pengguna layanan LISA menurut jenjang p.52
Gambar 10  Tingkat kepuasan responden pengguna terhadap layanan LISA

Gambar 10

Tingkat kepuasan responden pengguna terhadap layanan LISA p.55
Gambar 11   Pemahaman responden terhadap bahasa yang digunakan dalam LISA

Gambar 11

Pemahaman responden terhadap bahasa yang digunakan dalam LISA p.55
Gambar 12 Penilaian responden terhadap kelengkapan tips/ jawaban/ ulasan yang

Gambar 12

Penilaian responden terhadap kelengkapan tips/ jawaban/ ulasan yang p.56
Gambar 14  Penilaian responden terhadap kualitas operator seluler

Gambar 14

Penilaian responden terhadap kualitas operator seluler p.57
Gambar 13 menjelaskan bahwa sebagian besar pengguna layanan operator

Gambar 13

menjelaskan bahwa sebagian besar pengguna layanan operator p.57
Gambar 15  Penilaian responden terhadap tarif telepon dan pesan pendek

Gambar 15

Penilaian responden terhadap tarif telepon dan pesan pendek p.57
Gambar 16  Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan pemuka

Gambar 16

Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan pemuka p.58
Gambar 17  Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan kelompoktani

Gambar 17

Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan kelompoktani p.59
Gambar 18  Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan petani

Gambar 18

Sebaran responden menurut jumlah interaksi dengan petani p.60
Gambar 20  Frekuensi akses responden terhadap layanan LISA

Gambar 20

Frekuensi akses responden terhadap layanan LISA p.62
Gambar 21  Frekuensi akses responden terhadap layanan grup

Gambar 21

Frekuensi akses responden terhadap layanan grup p.63
Tabel 11 Penilaian responden terhadap konten tips pertanian dan tanya jawab interaktif  di 4 kecamatan lokasi penelitian tahun 2015

Tabel 11

Penilaian responden terhadap konten tips pertanian dan tanya jawab interaktif di 4 kecamatan lokasi penelitian tahun 2015 p.64
Gambar 22   Model persamaan struktural Layanan Pesan Pendek sebagai Media

Gambar 22

Model persamaan struktural Layanan Pesan Pendek sebagai Media p.67
Gambar 23  Perbaikan model persamaan struktural Layanan Pesan Pendek sebagai

Gambar 23

Perbaikan model persamaan struktural Layanan Pesan Pendek sebagai p.68
Tabel 16   Uji koefisiensi dan t hitung variabel karakteristik, faktor ekternal

Tabel 16

Uji koefisiensi dan t hitung variabel karakteristik, faktor ekternal p.69
Tabel 15    Cross loading terhadap variabel laten

Tabel 15

Cross loading terhadap variabel laten p.69
Gambar 24  Model persamaan struktural karakteristik dan faktor eksternal

Gambar 24

Model persamaan struktural karakteristik dan faktor eksternal p.70
Gambar 25  Tingkat pengetahuan responden terhadap konten LISA di 4

Gambar 25

Tingkat pengetahuan responden terhadap konten LISA di 4 p.72
Gambar 28  Kecenderungan sikap responden terhadap konten LISA menurut sub

Gambar 28

Kecenderungan sikap responden terhadap konten LISA menurut sub p.75
Tabel 16.  Kesesuaian konten sesuai untuk menggambarkan/ mewakili peubah

Tabel 16.

Kesesuaian konten sesuai untuk menggambarkan/ mewakili peubah p.75

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di