EVALUASI PENAMBAHAN VITAMIN E PADA PAKAN TERHADAP
STATUS KESEHATAN DAN KINERJA PERTUMBUHAN
IKAN NILA
Oreochromis
niloticus
YANG TERPAPAR TIMBAL (Pb)
SHENY PERMATASARI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul “Evaluasi Penambahan Vitamin E pada Pakan terhadap Status Kesehatan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromis niloticus yang Terpapar Timbal (Pb)” adalah benar karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2015
Sheny Permatasari
RINGKASAN
SHENY PERMATASARI. Evaluasi Penambahan Vitamin E pada Pakan terhadap Status Kesehatan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromisniloticus yang Terpapar Timbal (Pb). Dibimbing oleh NUR BAMBANG PRIYO UTOMO dan KUKUH NIRMALA.
Pertambangan timah di Pulau Bangka menyebabkan terbentuknya kolong bekas tambang. Saat ini telah banyak kolong bekas tambang dimanfaatkan untuk perikanan dengan sistem KJA (Keramba Jaring Apung) salah satunya adalah budidaya ikan nila (O. niloticus). Akan tetapi, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air pada kolong tersebut belum sepenuhnya optimal untuk budidaya karena terdapatnya beberapa logam berat seperti Pb dengan nilai di atas ambang batas. Timbal (Pb) ini akan masuk ke dalam tubuh ikan dan dapat menyebabkan efek toksik pada tubuh ikan berupa perubahan biokimia darah, stress oksidatif, kerusakan sel, dan menyebabkan gangguan fisiologis tubuh ikan termasuk metabolisme tubuh. Hal ini menyebabkan status kesehatan dan pertumbuhan ikan akan menurun. Alpha-tocopherol merupakan bentuk paling aktif dari vitamin E serta merupakan antioksidan non enzimatik paling kuat secara biologi. Vitamin E sebagai antioksidan memainkan peran penting dalam memulihkan stres oksidatif yaitu dengan cara mencari radikal peroksil lipid penyebab lipid peroksida. Selain itu, vitamin E juga dapat menginduksi peningkatan antioksidan utama yaitu GSH (Glutathion) pada hati ikan yang terpapar logam berat, sehingga Reactive Oxygen Species (ROS) yang berlebih bisa dikendalikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan vitamin E (α-tocopherol) pada pakan terhadap status kesehatan dan kinerja pertumbuhan ikan nila (O. niloticus) yang terpapar Pb.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, serta satu perlakuan kontrol negatif yang diolah secara deskriptif. Perlakuan penambahan vitamin E (α-tocopherol) pada pakan diantaranya: KN (kontrol negatif 0 mg kg-1 tanpa paparan Pb); KP (kontrol positif 0 mg kg-1); P100 (100 mg kg-1); P300 (300 mg kg-1); dan P500 (500 mg kg-1). Ikan nila (13,17±1,06 gr ekor-1) dipelihara dalam 15 akuarium (volume 135 liter) dengan kepadatan 13 ekor/akurium selama 60 hari paparan Pb konsentrasi 9,12 mg l-1 kecuali kontrol negatif. Ikan diberi pakan secara at satiation sebanyak 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB. Kondisi kualitas air dijaga dengan dua titik aerasi dan penyiponan. Penyiponan dilakukan tiga hari sekali dengan pergantian air dari air stok. Parameter uji yang diukur meliputi; Kesehatan ikan (Malondialdehid, Glukosa darah, Total Protein Serum, Histopatologi Hati), dan kinerja pertumbuhan (Jumlah Konsumsi Pakan, Laju Pertumbuhan Harian, Efisiensi Pakan, Tingkat Kelangsungan Hidup, Retensi Protein dan Retensi Lemak).
dan efisiensi pakan mencapai 19,90% dan 50,34% lebih besar dibandingkan dengan kontrol positif tanpa suplementasi vitamin E.
SUMMARY
Sheny Permatasari. Evaluation of the addition of vitamin E in diet for healthy status and growth performance of tilapia Oreochromis niloticus Exposed by Lead (Pb). Supervised by NUR BAMBANG PRIYO UTOMO and KUKUH NIRMALA
Tin mining in Bangka Island led to the formation under the former mine. Under this will be filled by the river water, rain water or spring water that would become Lake. It currently has a lot of space under the former quarry used for fishing with the KJA system (keramba floating net), one of them is fish farming of tilapia (O. niloticus). However, some research indicates that the quality of the water in the pit is not fully optimized for cultivation because of the presence of some heavy metals such as Pb with a value above the threshold. Lead (Pb) will go into the fish body and can cause toxic effects on fish body form blood biochemical changes, oxidative stress, cell damage, and cause physiological disorders including fish body metabolism. This causes the health status and growth of fish will decrease. Alpha-tocopherol is the most active form of vitamin E and is the most powerful non-enzymatic antioxidants in biology. Vitamin E is an antioxidant plays an important role in restoring the oxidative stress by finding the lipid peroxyl radicals cause lipid peroxide. In addition, vitamin E can also induce an increase in the primary antioxidants that GSH (glutathione) in the liver of fish exposed to heavy metals, so that the excess ROS can be controlled. This study aimed to evaluate the effects of the addition of vitamin e (α-tocopherol) with different doses in diet toward health status and growth performance of Tilapia (O. niloticus) exposed by lead (Pb)
The research design that used was completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates, also a negative control treatment were processed descriptively. Additional treatment of vitamin E (α-tocopherol) in to the diet i.e: KN
(negative control 0 mg kg-1 without exposure to Pb); KP (positive control 0 mg kg-1); P100 (100 mg kg-1); P300 (300 mg kg-1); and P500 (500 mg kg-1).
Tilapia (13.17 ± 1.06 gr tail-1) kept in 15 aquariums (volume 135 liters) with a density of 13 fishes in each aquarium during 60 days exposure to Pb concentration of 9.12 mg l-1 except the negative control. Fish were fed by at satiation three times daily at 08.00 am, 12.00 pm, and 16.00 pm. Test parameters measured include; Fish health (malondialdehyde, Blood Glucose, Total Protein Serum, Liver Histopathology), and growth performance (Total Consumption Feed, Daily Growth, Feed Efficiency, Survival rate, Protein Retention and Fat Retention).
Results showed that the addition of vitamin E 300 mg kg-1 (P300) in diet exposed by lead is an optimal concentration for feed can significantly improve the health of the fish seen from a decrease in the accumulation of lead in the body reaches 1.47 mg kg-1, MDA fish liver reach 5.41 µg gr -1, the blood glucose value reached 55.80 mg dl-1 and increased total serum protein reached 4.03 g dl-1. In addition, it can improve the growth performance seen from the value of retention of protein and feed efficiency reaches 19.90% and 50.34% greater than the positive control without additional vitamin E exposed by lead.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Akuakultur
EVALUASI PENAMBAHAN VITAMIN E PADA PAKAN TERHADAP
STATUS KESEHATAN DAN KINERJA PERTUMBUHAN
IKAN NILA (
Oreochromis
niloticus
) YANG TERPAPAR TIMBAL (Pb)
SHENY PERMATASARI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah nutrisi dan kesehatan ikan, dengan judul Evaluasi Penambahan Vitamin E pada Pakan terhadap Status Kesehatan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromis niloticus yang Terpapar Timbal (Pb).
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Nur Bambang Priyo Utomo M.Si dan Bapak Dr. Kukuh Nirmala M.Sc, selaku komisi pembimbing, yang telah memberi bimbingan dan saran dalam penyelesaian karya ilmiah ini, serta Dr. Ir. Sukenda, M.Sc selaku dosen penguji luar komisi pada ujian tesis penulis. Selain itu, penghargaan penulis sampaikan atas bantuan dana pendidikan magister yang diperoleh dari Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN), Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua serta seluruh keluarga atas segala dukungan, doa dan kasih sayangnya. Penulis sampaikan pula terima kasih kepada teknisi Laboratorium Nutrisi Ikan serta teman-teman mahasiswa Program Studi Ilmu Akuakultur 2013.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Desember 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Hipotesis 3
Tujuan 3
Manfaat 3
2 METODE 4
Waktu dan Tempat 4
Rancangan Penelitian 5
Persiapan Pakan Uji 5
Pembuatan Larutan Uji 6
Pemeliharaan Ikan Uji 6
Parameter Uji 7
Analisis Data 9
3 HASIL DAN PEMBAHASAN 10
Stres Oksidatif 10
Analisis Histologi Hati 10
Kandungan Timbal (Pb) dalam tubuh ikan 13
Profil Biokimia Darah 14
Kinerja Pertumbuhan Ikan 15
Pembahasan 16
4 SIMPULAN DAN SARAN 21
Simpulan 21
Saran 21
5 DAFTAR PUSTAKA 22
6 LAMPIRAN 25
DAFTAR TABEL
1 Formulasi pakan uji 6
2 Parameter kualitas air 9
3 Pengaruh Vit E terhadap Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Tingkat
Kelangsungan Hidup (TKH) dan pertambahan bobot pada ikan nila
(O. niloticus) terpapar Pb selama 60 hari 15
4 Pengaruh Vitamin E terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila
(O. niloticus) terpapar Pb selama 60 hari. 16
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka Pemikirab 4
2 Profil MDA hati ikan nila (O. niloticus) yang dipelihara dalam media dengan dan tanpa paparan timbal (Pb) pada perlakuan yang berbeda yaitu KN (kontrol negatif tanpa paparan); KP (kontrol positif terpapar Pb vitamin E 0 mg kg-1), P100 (vitamin E 100 mg kg-1); P300 (vitamin E 300 mg kg-1); P500 (vitamin E 500 mg kg-1). Huruf superscript berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05) antar perlakuan 10 3 Histologi hati ikan nila (O. niloticus) diwarnai dengan Hematoxylin &
Eosin. Skala bar 50µm pembesaran 400x. (A) perlakuan kontrol negatif (KN); (B) perlakuan kontrol positif (KP) terpapar Pb (0 mg kg-1 Vit.E); (C) Perlakuan P100 terpapar Pb (100 mg kg-1 Vit.E) (D); Perlakuan P300 terpapar Pb (300 mg kg-1 Vit.E); (E) perlakuan P500 terpapar Pb (500 mg kg-1 Vit.E). HN, Hepatosit normal; DL, degenerasi lemak. 12 4 Histologi hati ikan nila (O. niloticus) diwarnai dengan Hematoxylin &
Eosin Skala bar 20µm pembesaran 1000x. (A) perlakuan kontrol negatif (KN); (B) perlakuan kontrol positif (KP) terpapar Pb (0 mg kg-1 Vit.E); (C) Perlakuan P100 terpapar Pb (100 mg kg-1 Vit.E) (D); Perlakuan P300 terpapar Pb (300 mg kg-1 Vit.E); (E) perlakuan P500 terpapar Pb (500 mg kg-1 Vit.E). K, kariopiknosis; KL, kariolisis 13 5 Kandungan timbal (Pb) pada whole body ikan nila (O. niloticus) setelah
60 hari pemeliharaan dalam media dengan dan tanpa paparan timbal (Pb) pada perlakuan yang berbeda yaitu KN (kontrol negatif tanpa paparan); KP (kontrol positif vitamin E 0 mg kg-1), P100 (vitamin E 100 mg kg-1); P300 (vitamin E 300 mg kg-1); P500 (vitamin E 500 mg kg-1). Huruf
superscript berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05)
antar perlakuan 14
6 Profil biokimia darah ikan nila (O. niloticus) dalam media dengan dan tanpa paparan timbal (Pb) pada perlakuan yang berbeda yaitu KN
(kontrol negatif tanpa paparan); KP (kontrol positif vitamin E 0 mg kg-1); P100 (vitamin E 100 mg kg-1); P300 (vitamin E 300 mg kg-1); P500 (vitamin E 500 mg kg-1). Huruf superscript berbeda
menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05) antar perlakuan 15
DAFTAR LAMPIRAN
1 Prosedur analisis proksimat bahan pakan dan tubuh ikan 25
3 Output Tabel Homogenitas, Analisis Ragam dan Uji lanjut Duncan dari
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penambangan bijih timah sistem terbuka (open pit) mengakibatkan dampak negatif, salah satunya terjadi kerusakan lahan karena terbentuk lubang-lubang bekas galian yang luas (kolong) dengan jumlah banyak. Kondisi kolong bekas tambang timah pada umumnya berukuran panjang dan lebar sekitar 75-200 m dengan kedalaman sekitar 2-20 m (Tjakrawidjaja et al. 2001; Robin 2012). Kolong-kolong ini terisi air yang akan berubah menjadi danau atau kolam yang berukuran besar. Sumber air kolong tersebut dapat berasal dari mata air, air sungai maupun air hujan. Sebagian kecil kolong tua yang sudah mengalami suksesi/reklamasi dan kolong muda yang nilai pH airnya sudah mendekati pH netral telah dimanfaatkan penduduk sekitar, salah satunya untuk budidaya perikanan (Henny 2011a). Pemanfaatan ini berkembang pesat dengan sistem budidaya ikan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) dengan ikan yang dibudidayakan diantaranya adalah ikan nila (Oreochromis niloticus), patin (Pangasionodon hypophthalmus), lele (Clarias sp.), dan bawal air tawar (Colossoma macropomum) (Henny 2011b).
Akan tetapi, kondisi kolong bekas tambang timah yang sudah dimanfaatkan penduduk sekitar tersebut belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat logam berat pada air kolong dengan konsentrasi di atas standar baku mutu budidaya ikan. Logam berat tersebut meliputi Fe (Besi), Al (Aluminium), Pb (Timbal) dan Zn (Zinc) (Henny dan Susanti 2009). Logam timbal (Pb) merupakan logam paling toksik dibandingkan dengan logam-logam Fe, Al dan Zn. Hasil analisis kandungan Pb pada kolong bekas tambang timah diketahui mencapai kisaran 0,04-0,81 mg L-1 (Veriady 2007; Henny dan Susanti 2009; Henny 2011b), sedangkan nilai ambang batas Pb pada air budidaya adalah 0,03 mg L-1 (PPRI No.82 2001). Sehingga, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa kolong bekas tambang yang tercemar Pb dengan nilai di atas ambang batas. Biota akuatik seperti ikan yang hidup di air kolong tercemar Pb akan mampu mengambil logam dari air ataupun rantai makanan yang menyebabkan terjadinya bioakumulasi logam pada tubuh ikan. Hal ini terbukti dari analisis kandungan Pb dalam daging ikan nila yang terdapat pada kolong bekas tambang timah ditemukan mencapai kisaran nilai 0,21-3,6 mg kg-1 (Henny 2011b), bahkan ada yang mencapai 4 mg kg-1 (Henny 2011a). Nilai ini melebihi standar baku mutu yaitu 0,3 mg kg-1 kandungan Pb (PP Nomor HK.00.06.1.52.4011- KBPOM 2009).
Pengaruh logam Pb yang terdapat pada daging/tubuh ikan yang dibudidaya tidak akan terlihat secara kasat mata, akan tetapi mempengaruhi fisiologis dan pertumbuhan tubuhnya. Timbal (Pb) yang mencemari kolong bekas tambang berpotensi masuk ke dalam tubuh ikan. Setelah masuk, memberikan efek toksik seperti yang dilaporkan Mahmoud et al. (2013) menemukan paparan Pb dapat menyebabkan kenaikan stres oksidatif dan perubahan biokimia darah seperti peningkatan glukosa darah (hiperglicemia), penurunan total protein serum (hipoproteinemia) dan penurunan total lipid serum dalam tubuh ikan C. gariepinus. Selain itu, Pb dapat menyebabkan kerusakan organ hati, insang dan ginjal pada ikan nila (O. niloticus) (Lamchungchang et al. 2007). Terjadinya stres oksidatif, kerusakan organ, dan perubahan profil biokimia darah akibat efek toksik Pb mengindikasikan metabolisme dalam tubuh terganggu. Gangguan metabolisme akan mempengaruhi pertumbuhan ikan yang dibudidaya. Hal ini terlihat pada ikan
2
mujair (O. mossambicus) yang menunjukkan penurunan laju pertambahan panjang harian akibat paparan Pb (Yulaipi dan Aunurohim 2013).
Efek toksik Pb dalam tubuh ikan dapat dikurangi, salah satunya dengan suplementasi vitamin E. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak, terdapat dalam 8 bentuk berbeda yaitu 4 tocopherol dan 4 tocotrienol dengan masing-masing bentuknya memiliki aktivitas biologi spesifik atau fungsi tertentu di dalam tubuh. Alpha-tocopherol merupakan bentuk paling aktif dari vitamin E serta merupakan antioksidan non enzimatik paling kuat secara biologi (Schneider 2005; El-Shebly 2009). Vitamin E ini sebagai antioksidan memainkan peranan penting dalam memulihkan stres oksidatif (El-Demerdash et al. 2004). Selain itu, El-Shebly (2009) menyatakan bahwa vitamin E sebanyak 300 mg kg-1 pada pakan ikan nila (O. niloticus) dapat menurunkan akumulasi Pb dari kontrol (pakan ditambah 10 mg kg-1 Pb tanpa vitamin E) 4,09 mg kg-1 menjadi 1,93 mg kg-1 pada daging ikan perlakuan (pakan ditambah vitamin E 300 mg kg-1). Mahmoud et al.
(2013) menemukan bahwa, penambahan vitamin E sebanyak 50 mg kg-1 pada ikan
C. gariepinus yang terpapar Pb, mampu menurunkan aktivitas enzim AST (aspartate aminotransferase), enzim ALT (alanine aminotransferase), glukosa, aktivitas lipid peroksidasi (pada hati, ginjal dan insang) serta peningkatan total protein serum dan albumin. Manfaat lain vitamin E yaitu sebagai pelindung membran lipoprotein dan lipoprotein lain yang tersimpan dalam tubuh sehingga tidak terjadi oksidasi lipid, serta dapat meningkatkan imun, memperbaiki DNA dan proses metabolik (Mekkawy et al. 2012).
Oleh karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan logam Pb yang mencemari beberapa KJA tempat budidaya ikan di kolong bekas tambang timah Pulau Bangka perlu dilakukan pengkajian skala laboratorium tentang pengaruh penambahan vitamin E pada pakanterhadap status kesehatan dan pertumbuhan ikan nila (O. niloticus) dalam media budidaya tercemar Pb.
Rumusan Masalah
3
diketahui merupakan antioksidan yang paling kuat dan dapat mengurangi stres oksidatif serta akumulasi Pb pada ikan yang terpapar Pb. Sehingga, diharapkan perlakuan penambahan vitamin E pada pakan mampu meningkatkan status kesehatan dan pertumbuhan ikan nila yang terpapar Pb.
Hipotesis
Penambahan vitamin E (α-tocopherol) konsentrasi tertentu pada pakan dapat menghambat terjadinya peroksida lipid, sehingga meningkatkan kondisi kesehatan dan pertumbuhan ikan nila yang terpapar timbal (Pb).
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penambahan vitamin E (α-tocopherol) pada pakan terhadap status kesehatan dan pertumbuhan ikan nila yang terpapar Pb.
Manfaat
4
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
2
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Agustus 2015. Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Analisis proksimat
Antioksidan
↑enzim antioksidan
↑Radikal Bebas Terpapar Pb
↑Lipid peroksidase
↑Stress Oksidatif (MDA)
↓enzim antioksidan
Kerusakan Sel Hati (Histopatologi Hati)
↓Detoksifikasi Hati
↑Akumulasi Logam
↓Kesehatan Ikan
(Perubahan Biokimia Darah)
↓Kinerja Pertumbuhan
Vitam[in E
Ikan nila (O. niloticus)
Keterangan:
5
dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ikan, analisis kualitas air dilakukan di Laboratorium Lingkungan Departemen Budidaya Perairan FPIK. Analisis vitamin E dilakukan di SIG (Saraswati Indo Genetech), analisis logam Pb dilakukan di Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan FPIK. Analisis biokimia darah dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan dan pengamatan histopatologi dilakukan di Laboratorium Patologi Hewan Fakultas Kedokteran Hewan.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan, serta 1 perlakuan kontrol negatif dilakukan dengan metode deskriptif 3 ulangan. Perlakuan yang diuji sebagai berikut:
1. KN (kontrol-): pakan tanpa vitamin E (0 mg kg-1), media tanpa tercemar Pb 2. KP (kontrol+): pakan tanpa vitamin E (0 mg kg-1), media tercemar Pb 3. P100: pakan ditambah vitamin E (100 mg kg-1), media tercemar Pb 4. P300: pakan ditambah vitamin E (300 mg kg-1), media tercemar Pb 5. P500: pakan ditambah vitamin E (500 mg kg-1),media tercemar Pb
Konsentrasi Pb yang digunakan adalah 9,119 mg L-1 yang merupakan konsentrasi sublethal berdasar pada hasil penelitian Lamchungchang et al. (2007). Pemeliharaan ikan dalam akuarium dilakukan selama 60 hari. Parameter lingkungan lain yang terdapat pada media dibuat homogen sesuai dengan kebutuhan optimum dari organisme uji. Kualitas air dipertahankan stabil selama pemeliharaan dengan suhu berkisar 26oC-29,8oC, DO (Dissolved Oxygen) 4,2-7,5 mgL-1, TAN (Total Amoniak Nitrogen) berkisar 0,03-0,276 mgL-1, Amoniak (NH
3) berkisar antara 0,001-0,006 mg L-1 dan pH berkisar 6,82-7,93.
Persiapan Pakan Uji
Pakan uji digunakan pada penelitian ini adalah pakan buatan dengan
kandungan protein dan energi yang sama yakni 31,76±0,29% dan 4115,16±122,02 kkal GE kg-1. Formulasi dan hasil proksimat pakan uji disajikan
6
Tabel 1. Formulasi pakan uji
Bahan Baku Perlakuan suplementasi Vit E (mg kg-1)
0 100 300 500 Watanabe (1988) dengan perhitungan karbohidrat/BETN 4,1 kkal g-1; protein 5,6 kkal g-1; lemak 9,4
kkal g-.
Pembuatan Larutan Uji
Paparan timbal (Pb) pada penelitian ini dilakukan melalui media air tempat budidaya ikan. Timbal (Pb) yang digunakan dalam bentuk Timbal (II) nitrat Pb(NO3)2 sebagai senyawa uji. Konsentrasi yang digunakan sebesar 5% dari LC50 yaitu 9,12 mg L-1 dengan nilai LC50-96 h sebesar 182,38 mg L-1 (Lamchumchang
et al. 2007). Sebanyak 14,77 g Pb(NO3)2 serbuk dilarutkan dalam 1 liter air sebagai larutan stok. Selanjutnya dilakukan pengenceran sesuai konsentrasi yang dibutuhkan pada masing-masing akuarium dengan rumus pengenceran :
V1N1 = V2N2 Keterangan :
V1 : Volume air yang diencerkan V2 : Volume air setelah pengenceran
N1 : Konsentrasi larutan yang akan diencerkan N2 : Konsentrasi larutan setelah pengenceran
Pemeliharaan Ikan Uji
7
Parameter Uji
Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH)
Derajat kelangsungan hidup diukur pada akhir penelitian dengan perhitungan rumus, yaitu :
Tingkat Kelangsungan Hidup =No x Nt
Keterangan : Nt = Jumlah ikan akhir (ekor) No = Jumlah ikan awal (ekor)
Laju Pertumbuhan Harian (LPH)
Laju pertumbuhan bobot harian dihitung pada akhir penelitian, dengan menggunakan rumus, yaitu :
Pengukuran efisiensi pakan (EP) dilakukan pada akhir penelitian dan dihitung dengan menggunakan rumus :
KET : WT = bobot total ikan pada akhir pemeliharaan (gram) W0 = bobot total ikan pada awal pemeliharaan(gram)
WD = bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (gram) F = jumlah pakan yang diberikan (gram)
Retensi Protein
Pengukuran nilai retensi protein dilakukan pada akhir penelitian dan dihitung berdasarkan persamaan:
Retensi Lemak
Nilai retensi lemak didihitung pada akhir penelitian dengan persamaan sebagai berikut: I = jumlah protein tubuh pada awal pemeliharaan (g) P/L = jumlah protein yang dikonsumsi ikan (g)
8
Glukosa serum
Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Total Protein serum
Pengukuran protein serum dilakukan pad akhir penelitian dengan metode pengukuran berdasakan Bradford (1976). Plasma diambil dari hasil sentrifugasi darah pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit, kemudian disimpan dalam freezer,
sebanyak 0,1 mL plasma ditambah 5 mL reagen Bradford, kemudian divortex dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10‐60 menit. Absorbansi Larutan sampel protein, dibaca dengan menggunakan spektrofotometri (Lambert‐Beer) pada panjang gelombang 595 nm. Dengan persamaan matematik dari kurva standar protein, akan didapatkan kadar protein terlarut yang terkandung dalam larutan plasma tadi.
Malondialdehida (MDA) hati
Konsentrasi lipid peroksida dapat diukur dengan metode asam tiobarbiturat (TBA) yang mengukur adanya malondialdehida (MDA) sebagai produknya. Pengukuran MDA dilakukan pada akhir penelitian dengan metode pengukuran berdasarkan kepada kemampuan pembentukan kompleks berwarna merah jambu antara MDA dan asam tiobarbiturat (TBA) (Capeyron et al. 2002). Sampel hati dan serum yang telah disimpan pada freezer -20oC dicairkan terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis pada suhu ruang. Sebanyak 1,25 gr hati dimasukan kedalam gelas piala dicacah dengan syring yang telah dilepas jarumnya dengan ditambahkan 2,5 mL buffer fosfat yang mengandung 11,5 g L-1 kalium klorida dalam kondisi dingin pH 7,4 (disimpan pada suhu 50C) campuran ini disentrifuse 4000 rpm selama 10 menit, diambil supernatan keruh dan disentrifuse lagi 4000 rpm selama 10 menit, sebanyak 1 mL supernatan jernih diambil dan ditambahkan 4 mL campuran larutan asam klorida dingin 0,25 N (2,23 mL asam klorida pekat / 100 mL) yang mengandung 15% asam trikloroasetat (w/v); 0,38% asam tiobarbiurat dan 0,5% butilat hidroksitoluen. Campuran asam klorida dan supernatan tersebut dipanaskan 800C (inkubator) selama 1 jam, selanjutnya didinginkan dengan air mengalir dan disentrifuse 3500 rpm selama 10 menit. Supernatan hasil sentrifuse tersebut kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 532 nm.
A = kadar MDA yang diperoleh dari persamaan regresi kurva standar
Pengamatan Histopatologi
Pengamatan histopatologi hati dilakukan pada akhir penelitian. Spesimen jaringan dari organ hati ikan nila diambil, kemudian dicampur dengan 15% formalin neutral buffer (Bouin). Selanjutnya dimasukan ke dalam paraffin, dan dipotong-potong dengan ketebalan kurang lebih 5 µm, setelah itu dicelupkan pada zat warna hematoxylin dan Eosin (Bancroft et al. 1996). Preparat dikeringkan dan
[GD] = AbsSp X [GSt]
AbsSt
Ket : GD = Konsentrasi Glukosa Darah (mg dl-1) AbsSp = Absorbansi Sampel
AbsSt = Absorbansi Standar
GSt = Konsentrasi Glukosa Standar (mg mL-1)
9
diamati dengan menggunakan mikroskop.
Pengukuran kandungan Pb pada tubuh ikan
Pengukuran kandungan Pb pad atubuh ikan awal dan akhir penelitian. Seluruh tubuh ikan dihaluskan dan disimpan di dalam botol vial. Sampel diekstraksi sebanyak 10-15 gram berat basah ditambahkan 2 mL HNO3, 6 mL HCl Kemudian dipanaskan pada suhu 70-80ºC selama 5-6 jam. Sampel kemudian didiamkan selama 1 malam, lalu diencerkan dengan akuades hingga volumenya mencapai 100 mL (Clesceri et al. 1989). Kandungan Pb dalam sampel hasil ekstraksi diukur dengan alat AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Kandungan Pb yang terukur merupakan bentuk Pb murni (Pb0). Data hasil pengukuran dihitung dengan rumus :
Analisis air dilakukan dilakukan pada hari ke 0, 30 dan 60 selama proses penelitian. Alat dan satuan pengukuran beberapa parameter kualitas air yang digunakan tertera pada tabel 2 berikut:
Tabel 2. Parameter Kualitas Air
Parameter Satuan Alatukur
Suhu oC Termometer
Oksigen terlarut mg L-1 DO-meter
pH - pH-meter/lakmus
TAN mg L-1 Spektrofotometer
Kandungan Pb mg L-1 AAS(Atomic Absorption Spectrophotometer)
Analisis Data
10
3
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Status Kesehatan Ikan
Stres Oksidatif
Malondialdehida (MDA) pada jaringan hati merupakan paramater yang mengindikasikan terjadinya stres oksidatif dalam tubuh ikan. Hasil analisis MDA jaringan hati ikan nila setelah 60 hari pemeliharaan disajikan pada Gambar 2. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa paparan Pb dapat menyebabkan peningkatan stres oksidatif pada ikan, hal ini terlihat dari kenaikan nilai MDA mencapai 13,46±2,26 µg g-1 sampel hati pada perlakuan kontrol positif (KP), nilai tersebut lebih tinggi dari kondisi normal yaitu perlakuan kontrol negatif (KN) sebesar 4,61±0,41µg g-1 sampel. Penambahan vitamin E pada perlakuan P100, P300 dan P500 pada pakan ikan nila terpapar Pb, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan stres oksidatif, hal ini terlihat dari penurunan nilai MDA hati ikan yang lebih kecil dibandingkan dengan kontrol positif yaitu sebesar 9,98±1,24 µg g -1(P100); 5,41±1 µg g-1 (P300) dan 6,74±0,34 µg g-1 (P500).
Gambar 2. Profil MDA hati ikan nila (O. niloticus) yang dipelihara dalam media dengan dan tanpa paparan timbal (Pb) pada perlakuan yang berbeda yaitu KN (kontrol negatif tanpa paparan); KP (kontrol positif terpapar Pb vitamin E 0 mg kg-1), P100 (vitamin E 100 mg kg-1); P300 (vitamin E 300 mg kg-1); P500 (vitamin E 500 mg kg-1). Huruf superscript berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05) antar perlakuan
Analisis Histologi Hati
11
menunjukkan kerusakan jaringan hati paling parah diantara perlakuan lainnya. Hal ini terlihat dari histologi ikan nila KP yang mengalami kerusakan jaringan hati berupa gejala pembengkakan sel, dan nekrosis pada Gambar 3B dan 4B. Pembengkakan sel hati ditandai dengan adanya degenerasi lemak tinggi, vakuola (ruang-ruang kosong) akibat hepatosit membengkak yang menyebakan sinusoid menyempit, sedangkan nekrosis ditandai dengan adanya pengerutan inti sel (kariopiknosis), serta inti sel kehilangan kemampuan untuk diwarnai atau tampak samar-samar berongga dan menghilang (karyolisis).
12
Gambar 3. Histologi hati ikan nila (O. niloticus) diwarnai dengan Hematoxylin & Eosin. Skala bar 50µm pembesaran 400x. (A) perlakuan kontrol negatif (KN); (B) perlakuan kontrol positif (KP) terpapar Pb (0 mg kg-1 Vit.E); (C) Perlakuan P100 terpapar Pb (100 mg kg-1 Vit.E) (D); Perlakuan P300 terpapar Pb (300 mg kg-1 Vit.E); (E) perlakuan P500 terpapar Pb (500 mg kg-1 Vit.E). HN, Hepatosit normal; DL, degenerasi lemak
.
DL
B
DL
E
DL
D
DL
13
Gambar 4. Histologi hati ikan nila (O. niloticus) diwarnai dengan Hematoxylin & Eosin. Skala bar 20µm pembesaran 1000x. (A) perlakuan kontrol negatif (KN); (B) perlakuan kontrol positif (KP) terpapar Pb (0 mg kg-1 Vit.E); (C) Perlakuan P100 terpapar Pb (100 mg kg-1 Vit.E) (D); Perlakuan P300 terpapar Pb (300 mg kg-1 Vit.E); (E) perlakuan P500 terpapar Pb (500 mg kg-1 Vit.E). K, kariopiknosis; KL, kariolisis
Kandungan Timbal (Pb) dalam tubuh ikan
Analisis kandungan timbal (Pb) pada tubuh ikan nila setelah 60 hari disajikan pada Gambar 5. Hasil analisis menunjukkan bahwa akumulasi terendah terdapat pada kontrol negatif (KN) hanya sebesar 0,09±0,03 mg kg-1, karena media pemeliharaan kontrol negatif tanpa cemaran Pb. Nilai akumulasi tertinggi didapatkan pada kontrol positif (KP) sebesar 2,75±0,47 mg kg-1 yang merupakan perlakuan terpapar Pb tanpa penambahan vitamin E pada pakan. Perlakuan penambahan vitamin E menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan akumulasi Pb dengan nilai akumulasinya mencapai 1,62±0,13 mg kg-1 (P100); 1,47±0,16 mg kg-1 (P300) dan 1,25±0,37 mg kg-1 (P500) dalam tubuh ikan nila dibanding dengan kontrol positif.
B
A
C
14
Gambar 5 Kandungan timbal (Pb) pada whole body ikan nila (O. niloticus) setelah 60 hari pemeliharaan dalam media dengan dan tanpa paparan timbal (Pb) pada perlakuan yang berbeda yaitu KN (kontrol negatif tanpa paparan); KP (kontrol positif vitamin E 0 mg kg-1), P100 (vitamin E 100 mg kg-1); P300 (vitamin E 300 mg kg-1); P500 (vitamin E 500 mg kg-1). Huruf
superscript berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05) antar perlakuan.
Profil Biokimia Darah
15
(A) (B)
Gambar 6 Profil biokimia darah ikan nila (O. niloticus) dalam media dengan dan tanpa paparan timbal (Pb) pada perlakuan yang berbeda yaitu KN
(kontrol negatif tanpa paparan); KP (kontrol positif vitamin E 0 mg kg-1); P100 (vitamin E 100 mg kg-1); P300 (vitamin E 300 mg kg-1); P500 (vitamin E 500 mg kg-1). Huruf superscript berbeda
menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05) antar perlakuan.
Kinerja Pertumbuhan Ikan (Growth Performance)
Parameter uji kinerja pertumbuhan ikan yang terdiri dari: Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Laju Pertumbuhan Harian (LPH), Efisiensi Pakan (EP), Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH), Retensi Protein (RP) dan Retensi Lemak (RL) pada ikan nila setelah 60 hari pemeliharaan disajikan pada Tabel 3 dan 4. Hasil pengamatan nilai efisiensi pakan ikan nila (Tabel 4) menunjukkan bahwa paparan Pb pada ikan, menyebabkan penurunan EP mencapai kisaran 43,37±2,54 % terlihat dari perlakuan kontrol positif (KP), yang lebih kecil dibandingkan dengan kontrol negatif (KN), sebesar 56,27±1,75 %. Perlakuan penambahan vitamin E P300 dan P500 pakan ikan nila yang terpapar Pb, menunjukkan nilai EP yang signifikan lebih besar dibandingkan dengan perlakuan KP (P<0,05). Hal ini juga diikuti parameter lain yaitu nilai retensi protein (Tabel 4). Penurunan retensi protein terjadi pada ikan yang terpapar Pb terlihat pada perlakuan KP retensinya hanya mencapai 14,69±3,84%, lebih kecil dibandingkan dengan KN tanpa paparan Pb sebesar 26,36±1,21%. Penambahan vitamin E perlakuan P300 dan P500 pada pakan ikan nila yang terpapar Pb menunjukkan nilai retensi protein yang signifikan lebih besar dibandingkan kontrol positif (P<0,05) yaitu mencapai 21,49±2,63% dan 21,30±1,36%.
Tabel 3. Pengaruh Vit E terhadap Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Tingkat
Kelangsungan Hidup (TKH) dan pertambahan bobot pada ikan nila (O. niloticus) terpapar Pb selama 60 hari.
P Pb (mg L-1) Vit E (mg kg-1) Bo Bt JKP TKH
16
Tabel 4. Pengaruh Vitamin E terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila (O. niloticus) terpapar Pb selama 60 hari.
P300 9,119 300 50,34±1,18bc 21,49±2,63b 55,30±8,53a 1,89±0,14a
P500 9,119 500 51,60±1,30c 21,30±1,36b 54,02±3,43a 1,88±0,08a
Keterangan: Huruf superscript berbeda pada kolom yang sama menunjukkan signifikan pada P<0.05; P, Perlakuan; EP, Efisiensi Pakan; RP, Retensi Protein; RL, Retensi Lemak; Laju Pertumbuhan Harian, LPH.
Pada parameter lain yaitu jumlah konsumsi pakan (JKP), menunjukkan bahwa paparan Pb menyebabkan penurunan JKP dilihat dari kontrol positif (KP) hanya mencapai 669,46 gr lebih kecil dibandingkan dengan kontrol negatif (KN) 746,5 gr. Hal ini juga diikuti dengan penurunan parameter lain, seperti nilai TKH juga mengalami penurunan dari nilai 100% perlakuan KN menurun menjadi 92% karena paparan Pb (KP). Laju pertumbuhan harian (LPH) pada kontrol negatif (KN) sebesar 2,04, menurun karena paparan Pb menjadi 1,69 pada kontrol positif (KP), serta nilai retensi lemak (RL) dari 70,04% kontrol negatif (KN) menurun menjadi 51,12% pada KP karena paparan Pb. Hasil pengamatan dari penambahan vitamin E pada pakan menunjukkan bahwa perlakuan penambahan vitamin E tidak berpengaruh nyata terhadap nilai JKP, LPH, RL dan TKH pada ikan yang terpapar Pb (P>0,05).
PEMBAHASAN
Timbal merupakan salah satu logam berat yang memberikan efek berbahaya bagi kesehatan ikan, karena dapat mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuhnya. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa paparan Pb dapat mempengaruhi status kesehatan ikan nila. Hal ini terlihat dari parameter stres oksidatif (MDA hati), histopatologi jaringan hati, kandungan logam Pb dalam tubuhnya, serta profil biokimia darah (total protein serum dan glukosa darah). Efek toksik Pb yang pertama terjadi dalam tubuh ikan adalah mengakibatkan stres oksidatif. Stres oksidatif merupakan proses oksidasi berlebih dari Reactive Oxygen Species (ROS) yang tidak diimbangi pertahanan antioksidan. ROS ini akan menghasilkan molekul reaktif berupa radikal bebas seperti superoxide anion radikal (O2-), hidroksil radikal (OH*), hidro peroxi (HO
17
antioksidan yang terdapat dalam tubuh ikan yaitu Super Oxide Desmutase (SOD),
Reduced Glutathion (GSH), Catalase (CAT) dan lain sebagainya. Sesuai hasil penelitian Hashish et al. (2015), terjadi penurunan signifikan nilai SOD ginjal pada ikan nila yang terpapar Pb. SOD merupakan enzim antioksidan pertahanan pertama suatu sel melawan ROS. Harabawy et al. (2014), juga melaporkan terjadi penurunan GSH pada hati, ginjal, insang, gonad dan otot dari C. gariepinus karena paparan logam berat.
Peran utama vitamin E dalam melawan efek toksik Pb adalah menanggulangi stres oksidatif. Hasil penelitian ini menunjukkan penambahan vitamin E dapat menurunkan ROS, sehingga ROS tidak bereaksi dengan makromolekul penting lain seperti lipid, protein, karbohidrat dan asam nukleat. Hal ini terlihat dari penurunan nilai MDA hati ikan nila terpapar Pb dengan suplementasi vitamin E 100 (P100); 300 (P300) dan 500 (P500) mg kg-1 mendekati kisaran nilai normal. Penurunan MDA ini disebabkan karena vitamin E dapat mencari radikal peroksil lipid penyebab ROS dan mendonorkan atom hidrogen kepada radikal bebas tersebut, sehingga ikatan yang terbentuk menyebabkan radikal bebas menjadi tidak reaktif (El-Demerdash et al. 2004). Selain itu, vitamin E dapat meningkatkan GSH (Reduced Glutathion) pada hati ikan yang terpapar polutan (Kadry et al. 2012). GSH merupakan enzim antioksidan yang merupakan kofaktor untuk enzim GST. Enzim GST ini berfungsi untuk mengkatalis konjugasi grup thiol dari GSH dengan senyawa radikal bebas, sehingga radikal bebas menjadi tidak aktif, tidak toksik dan lebih polar serta larut dalam air akibatnya mudah diekresikan (Moffed and Mosleh
et al. 2013).
18
perjalanan waktu, terjadi penghancuran dan pelarutan inti sel sehingga inti sel sama sekali menghilang, pecahnya membran plasma, dan nekrosis (Thomas 1988).
Pada pengamatan kali ini gejala patologis yang paling dominan pada perlakuan KP adalah degenerasi lemak paling tinggi, membran sel pecah dan kariolisis inti sel. Degenerasi lemak terjadi karena adanya pengumpulan lemak, ditandai dengan penampakan histologi berupa vakuola-vakuola. Pada hasil pengamatan hati ikan nila yang disuplementasi vitamin E 100 mg kg-1 (P100), 100 mg kg-1 (P300) dan 100 mg kg-1 (P500) menunjukan degenerasi lemak sedang, kariopiknosis paling dominan ditemukan dan tidak sampai pada kariolisis, membran sel tidak pecah, (Gambar 3C, D, E dan 4C, D, E), tidak separah pada perlakuan KP dan mendekati kondisi normal yaitu pada hati ikan kontrol negatif KN (Gambar 3A dan 4A). Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa vitamin E dapat mengurangi kerusakan jaringan hati akibat zat toksik Pb. Jika kondisi hati baik, maka detoksifikasi hati terhadap zat toksik akan baik pula. Namun, apabila kondisi hati kurang baik atau mengalami kerusakan karena zat toksik yang berlebih maka fungsi detoksifikasi hati akan mengalami penurunan (Lu 1995).
Sehingga, dengan berkurangnya kerusakan hati ikan nila akibat paparan Pb pada suplementasi vitamin E mengarah kepada peningkatan fungsi detoksifikasi hati terhadap zat toksik Pb. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan pada parameter akumulasi logam Pb, terlihat bahwa paparan Pb menyebabkan peningkatan nilai akumulasi dalam tubuh mencapai 2,75 mg kg-1 melebihi ambang batas standar baku mutu kandungan Pb yaitu 0,3 mg kg-1 (PP Nomor HK.00.06.1.52.4011- KBPOM, 2009). Peningkatan akumulasi ini terjadi karena Pb masuk ke dalam tubuh ikan melalui tiga jalur yaitu saluran pencernaan, insang dan penetrasi langsung lewat kulit. Setelah itu, sebagian besar logam tersebut akan berikatan dengan eritrosit, dan dibawa bersama aliran darah ke seluruh jaringan tubuh. Pada jaringan tubuh, Pb akan membentuk ikatan kovalen dengan gugus metallotionin (sulfihidril –SH) dan amina (nitrogen – NH) dalam jaringan tubuh sehingga terakumulasi (Yulaipi dan Aunurohim 2013). Vitamin E α-tocopherol merupakan salah satu antioksidan yang berpotensi memberikan perlindungan dari efek toksik Pb. Hal in terlihat dari hasil perlakuan penambahan vitamin E pada pakan ikan nila yang terpapar timbal (Pb) menunjukkan nilai yang signifikan dalam mengeliminasi kandungan Pb pada tubuhnya. Akumulasi Pb pada whole body ikan yang diberi vitamin E 100 mg kg-1 (P100); 300 mg kg-1 (P300) dan 500 mg kg-1 (P500) signifikan lebih kecil dibandingkan dengan kontrol positif (KP) tanpa penambahan vitamin E. Vitamin E dilaporkan dapat memberikan perlindungan sel dari stres oksidatif dalam tubuh ikan. Menurunnya stres oksidatif akan mengarah kepada berkurangnya kerusakan jaringan hati, dan detoksifikasi meningkat sehingga akumulasi Pb menurun dalam jaringan tubuh (El Shelby 2009).
19
protein untuk menyediakan ekstra energi yang dibutuhkan dalam menanggulangi stress karena Pb (Fontana et al. 1998; Martinesz et al. 2004). Hypoproteinemia juga dapat disebabkan karena terjadi kerusakan ginjal sehingga protein tereliminasi keluar tubuh (Mekkawy et al. 2012). Dari hasil penelitian ini, penambahan vitamin E sebesar 300 (P300) dan 500 mg kg-1 (P500) pada pakan ikan terpapar Pb dapat mencegah penurunan total protein akibat paparan Pb. Hal ini sesuai dengan penelitian Mekkawy et al. (2012) yang menunjukkan peningkatan total protein serum pada O. niloticus yang terpapar Cadmium. Vitamin E dapat menanggulangi stres oksidatif pada ikan, yang mengarah pada berkurangnya ekstra energi yang dibutuhkan dalam menanggulangi stress Pb. Selain itu, vitamin E juga dapat mencegah kerusakan organ penting seperti hati dan ginjal akibat ROS berlebih, sehingga sintesis protein di hati tidak terganggu dan protein tidak tereliminasi oleh ginjal ke luar tubuh.
Profil biokimia darah lain yaitu glukosa darah menunjukkan bahwa paparan Pb dapat meningkatkan glukosa darah mencapai 74 mg dl-1 dari kondisi normal sebesar 49 mg dl-1. Peningkatan glukosa darah (hyperglicemia) terjadi respon stres dari Pb merangsang sekresi hormon pada adrenal yaitu katekolamin dan kortisol. Hormon katekolamin akan merangsang peningkatan glukagon dan menurunkan insulin, akibatnya terjadi peningkatan proses glikogenolisis (Mekkawy et al. 2012). Glikogenolisis adalah proses perubahan glikogen menjadi glukosa dalam hati, sehingga glikogen hati menurun. Sesuai dengan penelitian Obakior et al. (2013), yang menemukan terjadinya penurunan glikogen hati pada ikan nila yang terpapar Pb, Cd dan Cr. Proses glikogenolisis ini merupakan salah satu mekanisme untuk mendapatkan energi berlebih dalam tubuh serta mempertahankan sumber energi cadangan utama karbohidrat yang tersimpan di hati dan jaringan otot ikan selama stres akut dan kronis akibat Pb. Penambahan vitamin E sebesar 300 mg kg-1 (P300) dan 500 mg kg-1 (P500) pada pakan ikan nila yang terpapar logam Pb signifikan menurunkan nilai glukosa darah mendekati kisaran normal. Hal ini disebabkan karena vitamin E dapat mengurangi stres oksidatif berlebih pada tubuh ikan terpapar Pb, sehingga mengurangi proses glikogenolisis.
20
dan mengurangi nafsu makan ikan karena stres. Akan tetapi, penambahan vitamin E pada pakan ikan nila tidak berpengaruh nyata terhadap nilai JKP ikan.
Selain JKP, pada parameter LPH ikan terpapar Pb terjadi penurunan hanya mencapai 1,69 dibandingkan dengan ikan kontrol negatif sebesar 2,04. Hal ini disebabkan karena paparan Pb menyebabkan kerusakan hati. Hati merupakan organ yang berfungsi untuk detoksifikasi racun dalam tubuh. Jika hati terganggu maka proses metabolisme juga akan terganggu (Yulaipi dan Aunurohim 2013), akibatnya LPH menurun pada perlakuan kontrol positif (KP). Penambahan suplementasi vitamin E pada pakan ikan nila terpapar Pb tidak berpengaruh nyata terhadap nilai LPH. Hal ini sesuai dengan El-Shelby (2009) yang menemukan bahwa terjadi peningkatan GH (growth hormone) pada ikan nila terpapar Pb yang disuplementasi vitamin E, dibandingkan dengan tanpa suplementasi. Akan tetapi, peningkatan GH tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan. Paparan Pb pada penelitian ini hanya sampai mengganggu metabolisme tubuh belum sampai pada pertambahan bobot tubuh ikan.
Retensi protein dan retensi lemak merupakan persentase protein dan lemak yang dimakan oleh ikan selama pemeliharaan dan disimpan dalam tubuh ikan. Retensi protein pada ikan yang terpapar Pb perlakuan kontrol positif (KP) menurun lebih kecil dibandingkan kontrol negatif (KN) tanpa paparan. Begitu juga dengan retensi lemak yang menurun karena paparan Pb. Penurunan ini terjadi karena dua hal, yang pertama dikarenakan ROS yang meningkat akibat paparan Pb dapat mengarah terhadap kerusakan sel dan jaringan hati. Rusak nya sel dan jaringan hati menyebabkan menurunnya tempat cadangan makanan utama dalam tubuh hasil dari penyerapan saluran pencernaan. Hati memiliki tiga fungsi utama : (1) Penyerapan, metabolisme, penyimpanan dan redistribusi nutrien dan molekul endogenous lainnya. Fungsi utamanya adalah untuk mempertahankan homeostasis organisme dengan sintesis (hormon) dan sekresi molekul (protein, kolesterol, dan lemak) ke dalam darah. (2) Metabolisme xenobiotik (biotransformasi dan detoksifikasi). (3) Formasi dan ekskresi empedu (eliminasi degradasi produk senyawa endogenous, degradasi xenobiotik dan metabolitnya serta beberapa logam) (Heath 1987; Hinton 1993). Penyebab kedua penurunan retensi protein dan lemak adalah karena proses katabolisme protein dan lemak meningkat dalam tubuh. Peningkatan katabolisme ini bertujuan untuk menyediakan energi tambahan sebagai respon terhadap stres yang diinduksi Pb. Pada kondisi stres, tubuh mengalami kenaikan kortisol. Kortisol dapat memblok insulin sehingga insulin tidak bekerja secara efektif, akibatnya defisiensi insulin ini akan memicu proses glukoneogenesis yaitu pembentukan glukosa dari sumber selain karbohidrat, misalnya piruvat, laktat, senyawa antara siklus sitrat dan asam amino dari hasil katabolisme protein. Katabolisme protein ini dapat terjadi pada perombakan protein otot atau cadangan protein tubuh sehingga retensi protein dalam tubuh menurun.
21
Efisiensi pakan (EP) merupakan parameter kinerja produksi yang menunjukkan besaran rasio antara biomassa akhir dengan total jumlah pakan yang diberikan dalam bentuk persentase (Zonneveld et al. 1991). Dari hasil pengamatan terlihat bahwa paparan Pb menyebabkan penurunan EP dari perlakuan kontrol negatif (KN) 56,27% menjadi 43,37% pada kontrol positif (KP). Hal ini disebabkan karena tubuh ikan nila yang terpapar Pb tidak bisa memanfaatkan pakan yang masuk dalam tubuh secara optimal akibat dari gangguan metabolisme dan kerusakan organ-organ tubuh seperti hati. Pada penambahan vitamin E, telihat bahwa pakan ikan nila yang disuplementasi sebesar 300 mg kg-1 (P300) dan 500 mg kg-1 (P500) berpengaruh nyata terhadap nilai EP dibanding dengan kontrol positif (KP). Hal ini disebabakan karena vitamin E dapat mengurangi efek toksik Pb dalam tubuh, sehingga perubahan fisiologi tubuh dan gangguan metabolime dapat dikurangi. Akibatnya kerusakan organ-organ penting dalam tubuh salah satunya hati dapat diminimalisasi sehingga pemanfaatan pakan dalam tubuh ikan meningkat lebih baik dibandingkan kontrol positif.
Kelulushidupan (SR) didefinisikan sebagai peluang untuk hidup dalam suatu saat tertentu (Effendi 1991). Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat beberapa ikan yang mati karena paparan Pb selama penelitian sehingga SR ikan nila yang terpapar Pb rata-rata 92,3% dibandingkan kontrol negatif tanpa paparan mencapai 100%. Penambahan vitamin E pada pakan ikan terpapar Pb tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan nilai SR, karena konsentrasi Pb yang digunakan masih dalam kisaran sublethal sehingga membutuhkan paparan yang cukup lama untuk mematikan ikan.
4
SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penambahan vitamin E α-tocopherol sebanyak 300 mg kg-1 pada pakan merupakan nilai yang termasuk dalam kisaran optimal untuk meningkatkan status kesehatan dan meningkatkan kinerja pertumbuhan pada ikan nila yang terpapar Pb (timbal) selama 60 hari dibandingkan kontrol positif tanpa Vitamin E.
Saran
22
DAFTAR PUSTAKA
Capeyron C, Julie B, Eric P, Jean MR, Piere LL, Claude, Benard D. 2002. A diet cholesterol and deficient in vite incudes lipid peroxidation but does not enhace antioxidant enzyme expression in rat liver. jnurt. Biochemistri. 13:296-301.
Clesceri LS, AE Greenberg, RR Trussell. 1989. Standard Method for The Examination of Water and Waste Water. APHA (America Public Health Association) 18th Edition, Washington DC.
Fontana L, Moreira E, Torres MI, Fernandez I, Rios A, Medina FS, Gil A. 1998. Dietary nucleotides correct plasma and liver microsomal fatty acid alterations in rats with liver cirrhosis induced by oral intake of thioacetamide. Journal of Hepatology. 28:662-669.
El-Demerdash EM, Yousef MI, Kedwany FS. Baghdadhi HH. 2004. Cadmiun induced changes in lipid peroxidation, blood hematology, biochemical parameters and semen quality of male rats: protective role of vitamin E and b-carotene. Food Chem. Toxicol. 42:1563-1571.
El-Shebly AA. 2009. Protection of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) from lead pollution and enhancment of its growth by tocopherol vitamin E. Research journal of fisheries and hydrobiology. 4(1):17-21.
Giguère A, Peter GC. Campbell HL, McDonald DG, Joseph BCJ. 2004. Influence of lake chemistry and fish age on cadmium, copper, and zinc concentrations in various organs of indigenous yellow perch (Perca flavescens).Journal Fish Aquatic Science (61): 1702 - 1716.
Harabawy ASA, Mosleh YTI. 2014. The role of vitamins A, C, E and selenium as antioxidants against genotoxicity and cytotoxicity of cadmium, copper, lead and zinc on erythrocytes of Nile Tilapia, Oreochromis niloticus. Ecotoxicology and Environmental Safety. 104: 28-35.
Hashish EA, Elgaml SA, El-Murr A, Khalil R. 2015. Nephroprotective and antioxidant significance of selenium and alpha-tocopherol on lead acetate-induced toxicity of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus). Fish Physiology and biochemistry. 41:651-660.
Henny C. 2011a. Kolong bekas tambang timah di Pulau Bangka: Permasalahan kualitas air dan alternatif solusi untuk pemanfaatan. Oseanologi dan Limnologi Indonesia. 37(1):119-138.
Henny C. 2011b. Bioakumulasi beberapa logam pada ikan di kolong bekas tambang timah di Pulau Bangka. Limnotek. hal:83-94.
Henny C, Susanti E. 2009. Karakteristik limnologis kolong bekas tambang timah di Pulau Bangka. Limnotek. XVI: 119-131.
Heath AG. 1987. Water Pollution and Fish Physiology. Florida. CRC. Press Inc. Boca Raton.
Hinton DE. 1993. Cells, cellular responses, and their markers in chronic toxicity of fishes. Di dalam: Malins DC dan Ostrander GK. Editor. Aquatic Toxicology: Molecular, biochemical, and cellular perspectives. Florida: CRC Press.
Kadry SM, Marzouk MS, Amer A M, Hanna MI, Azmy A H, Hamed HS. 2012. Vitamin E as antioxidant in female african cat fish (Clarias gariepinus) exposed to chronic toxicity of atrazine. Egypt. J Aquat Biol Fish.16(2):83–98.
23
Tilapia (Oreochromis niloticus). Asian Journal of Animal and Veterinary Advances. 2(3):104-114.
Lu FC.1995. Toksikologi Dasar. Jakarta. Universitas Indonesia Press.
Mahmoud MU, Mekkawy IA, Ibrahim AA. 2012. Biochemical response of African Catfish, Claria gariepinus (burchell, 1822) to sublethal concentrations of mercury chloride with supplementation of selenium and vitamin E. Toxicol Environ Health. Sci. 4(4):218-234.
Mahmoud UM, Ebied A.M, Mohamed SM. 2013. Effect of Lead on some haematological and biochemical characteristics of Clarias gariepinus dietary supplemented with lycopene and vitamin E. Egypt. Acad. J Biolog Sci.
5(1):67-89.
Martinez CBR, Nagae MY, Zaia CTBV and Zaia DAM. 2004. Morphological and physiological acute effects of lead in the neotropical fish Prochilodus lineatus.
Brazilian Journal of Biology. 64 (4):797-807.
Mekkawy IAA, Mahmoud UM, Wassif ET, Naguib M. 2012. Protective roles of tomato paste and vitamin E on cadmium-induced histological and histochemical changes of liver of Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758).
Journal of Fisheries and Aquatic Science. 7:240-265.
Mofeed J, Mosleh YY. 2013. Toxic responses and antioxidative enzymes activity of Scenedesmus obliquus exposed to fenhexamid and atrazine, alone and inmix-ture. Ecotoxicol EnvironSaf. 95:234–240.
Obakior MO, Ezeonyejiaku CD. 2013. Biochemical alterations induced by heavy metal mixture on the levels of vitamin E and glycogen in the liver of freshwater fish. Natural Environment. 28-32.
Peraturan Pemerintah. 2009. Nomor HK.00.06.1.52.4011 tentang penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan kimia dalam makanan. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Republik Indonesia. 28 hal.
Peraturan Pemerintah. 2001. Nomor 82 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Presiden Republik Indonesia. 46 hal.
Robin, 2012. Analisis bioakumulasi timbal (Pb) pada ikan Nila Merah (Oreochromis nilotica) dan Patin Jambal (Pangasius djambal) yang dibudidayakan di kolong tua pasca tambang timah Bangka Belitung. Tesis.
Bogor : Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Schneider C. 2005. Chemistry and biology of vitamin E. Mol. Nutr. Food. Res. 49. Page 7-30.
Sutari VT, Sugito, Aliza D, Asmarida. 2013. Kadar malondialdehid (MDA) pada jaringan hati ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang diberi cekaman panas dan pakan suplementasi tepung daun Jaloh (Salix tetraseperma Roxb). Jurnal Medika Veterinaria. l7(1):35-38.
Thomas C. 1988. Histopatologi. Edisi X. Alih Bahasa: Tonang dkk. Jakarta: EGC, p: 169.
Tjakrawidjaja AH, Harun. 2001. Uji coba budidaya ikan Nila Merah dengan pola jaring terapung di lahan bekas galian tambang timah pulau singkep. Laporan Teknik 2001, bidang zoologi puslit biologi LIPI. hal 85-90.
Tripathi PK, Srivastava VK, Singh A. 2003. Toxic effects of dimethoate (organophosphate) on metabolism and enzyme system of freshwater teleost fish Channa punctatus. Asian Fisheries Science. 16:349–359.
Upasani CD, Khera A, Balaraman R. 2001. Effect of lead with vitamin E, C or Spirulina on malondehyde, conjugated dienes and hydroperoxides in rats.
24
Valavanidis A, Vlahogianni T, Dassenakis M, Scoullos M. 2006. Molecular biomarkers of oxidative stress in aquatic organisms in relation to toxic environmental pollutants. Ecotoxicol Environ Saf. 64:178–189.
Veriady. 2007. Studi Pemanfaatan Lahan Pasca Tambang Timah (studi kasus PT. Timah Tbk di Pulau Bangka). Tesis. Universitas Indonesia.
Watanabe T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. Department of aquatic Bioscience, Tokyo University of Fisheries. p 233.
Yulaipi S, Aunurohim. 2013. Bioakumulasi logam berat timbal (Pb) dan hubungannya dengan laju pertumbuhan ikan Mujair (Oreochromis mossambicus). Jurnal Sains dan Seni Pomits. 2(2):166-170.
Zonneveld N, EA Huisman JH. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
25
Lampiran 1. Prosedur analisis proksimat bahan pakan dan tubuh ikan
A. Kadar Protein
Tahap Oksidasi
1. Sampel ditimbang sebanyak 0.5 gram dan dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl. 2. Katalis (K2SO4+CuSo4.5H2O) dengan rasio 9:1 ditimbang sebanyak 3 gram dan
dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl.
3. 10 mL H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam labu Kjeldahl dan kemudian labu tersebut dipanaskan dalam rak oksidasi/digestion pada suhu 400oC selama 3-4 jam sampai terjadi perubahan warna cairan dalam labu menjadi hijau bening. 4. Larutan didinginkan lalu ditambahkan air destilasi 100 mL. Kemudian larutan
dimasukkan ke dalam labu takar dan diencerkan dengan akuades sampai volume larutan mencapai 100 mL. Larutan sampel siap didestilasi.
Tahap Destilasi
1. Beberapa tetes H2SO4 dimasukkan ke dalam labu, sebelumnya labu diisi setengahnya dengan akuades untuk menghindari kontaminasi oleh ammonia lingkungan. Kemudian didihkan selama 10 menit.
2. Erlenmeyer diisi 10 mL H2SO4 0.05 N dan ditambahkan 2 tetes indicator methyl
red diletakkan di bawah pipa pembuangan kondensor dengan cara dimiringkan sehingga ujung pipa tenggelam dalam cairan.
3. Sebanyak 5 mL larutan sampel dimasukkan ke dalam tabung destilasi melalui corong yang kemudian dibilas dengan akuades dan ditambahkan 10 mL NaOH 30% lalu dimasukkan melalui corong tersebut dan ditutup.
4. Campuran alkaline dalam labu destilasi disuling menjadi uap air selama 10 menit terjadi pengembunan pada kondensor.
5. Labu erlenmeyer diturunkan hingga ujung pipa kondensor berada di leher labu, diatas permukaan larutan. Kondensor dibilas dengan akuades selama 1-2 menit. Tahap Titrasi
1. Larutan hasil destilasi ditritasi dengan larutan NaOH 0.05 N. 2. Volume hasil titrasi dicatat.
3. Prosedur yang sama juga dilakukan pada blanko.
Kadar Protein (%) = 0.0007 * x (Vb – Vs) x 6.25 ** x 20 x 100% S
Keterangan : Vb = Volume hasil titrasi blanko (mL) Vs = Volume hasil titrasi sampel (mL)
S = Bobot sampel (gram)
* = Setiap mL 0.05 NaOH ekivalen dengan 0.0007 gram Nitrogen ** = Faktor Nitrogen
B. Kadar Lemak
Metode ekstraksi Soxhlet
1. Labu ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 110o dalam waktu 1 jam. Kemudian didiinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang bobot labu tersebut (X1)
26
3. N-hexan 100-150 mL dimasukkan ke dalam soxhlet sampai selongsong terendam dan sisa N-hexan dimasukkan ke dalam labu.
4. Labu yang telah dihubungkan dengan soxhlet dipanaskan di atas water bath
sampai cairan yang merendam sampel dalam soxhlet berwarna bening. 5. Labu dilepaskan dan tetap dipanaskan hingga N-hexan menguap.
6. Labu dan lemak yang tersisa dipanakan dalam oven selama 15-60 menit, kemudian didinginkan dalam desikator selama 15-30 menit dan ditimbang (X2) Metode Folch
1. Labu silinder dioven terlebih dahulu pada suhu 110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikaotr selama 30 menit kemudian ditimbang (X1).
2. Sampel ditimbang sebanyak 2-3 gram (A) dan dimasukkan ke dalam gelas homogenize dan ditambahkan larutan kloroform / methanol (20xA) sebagian disisakan untuk membilas pada saat penyaringan.
3. Sampel dihomogenizer selama 5 menit setelah itu disraing dengan vacuum pump.
4. Sampel yang telah disaring tersebut dimasukkan dalamlabu pemisah yang telah diberi larutan MgCl2 0.03 N(0.2xC), kemudian dikocok dengan kuat minimal selama 1 menit kemudian ditutup dengan aluminium foil dan didiamkan selama 1 malam.
5. Lapisan bawa yang terdapat dalam labu pemisah disaring ke dalam labu silinder kemudian dievaporator sampai kering. Sisa kloroform / methanol yang terdpat dalam labu ditiup dengan menggunakan vacuum setelah itu ditimbang (X2) Kadar Lemak (%) = X2 –X1 x 100%
A
C. Kadar Air
1. Cawan dipanaskan dalam oven pada suhu 100oC selama 1 jam dan kemudian dimasukkan dalam dessikator selama 30 menit dan ditimbang (X1)
2. Bahan ditimbang 2-3 gram (A)
3. Cawan dan bahan dipansakan dalam oven pada suhu 110oC selama 4 jam kemudian dimasukkan dalam desikator selam 30 menit dan ditimbang (X2) Kadar Air (%) = (X1+A)-X2 x 100%
D. Kadar Abu
1. Cawan dipanaskan dalam oven pada suhu 100oC selama 1 jam dan kemudian dimasukkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang (X1)
2. Bahan ditimbang 2-3 gram (A)
3. Cawan dan bahan dipansakan dalam tanur pada suhu 600oC sampai mnejadi abu kemudian dimasukkan dalam desikator selam 30 menit dan ditimbang (X2) Kadar Abu (%) = X2–X1 x 100%
A
E. Kadar Serat Kasar
1. Kertas filter dipanaskan dalam oven selama 1 jam pada suhu 110oC setelah itu didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang (X1)
2. Sampel ditimbang sebnayak 0.5 gram (A) dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL
27
sebanyak 25 mL ditambahkan ke dalam Erlenmeyer dan dipanskan kembali selama 30 menit.
4. Larutan dan bahan yang telah dipanaskan kemudian disraing dalam corong Buchner dan dihubungkan pada vacuum pump untuk mempercepat filtrasi. 5. Larutan dan bahan yang ada pada corong Buchner kemudian dibilas secara
berturut-turut dengan 50 mL air panas, 50 mL H2SO4 0.3 N, 50 ml air panas, dan 25 mL acetone.
6. Kertas saring dan isinya dimasukkan dalam cawan porselin, lalu dipanaskan dalam oven 105-110oC selama 1 jam kemudian didinginkan dalam desikator 5-15 menit dan ditimbang (X2).
7. Setelah itu dipanaskan dalam tanur 600oC hingga berwarna putih atau menjadi abu (± 4 jam). Kemudian dimasukkan dalam oven 105-110oC selama 15 menit, didinginkan dalam desikator selama 5-15 menit dan ditimbang (X3).
28
Lampiran 2 Komposisi vitamin dan mineral campuran
Komposisi campuran vitamin (mg kg-1 pakan)
Vitamin A 1,8
Vitamin D 9
Vitamin K 40
Tiamin NT
Riboflavin 6
B6 15
Panthothenic Acid 10
Niacin 26
Biosin 0,06
Vitamin B12 NR
Folasin 1
Choline 1000
Myoinositol 400
Vitamin C 50
Sumber : modifikasi dari NRC 2011
Komposisi mineral campuran
Komposisi campuran mineral (g kg-1 pakan)
Mg2SO4.7h20 6,06 Komponen trace element mix (mg kg-1)
KCl 3,125 ZnSO4.7H20 86,96
NaCl 1,5 MnSO4. 19,44
KH2PO4 2,00 CuSO4.5H2O 20
Ca2(PO4)3 19 Fe2SO4 157,4
Maizena 13,92 KIO3 5,56
Total 34
Jumlah total 37
29
Lampiran 3 Output Tabel Homogenitas, Analisis Ragam dan Uji lanjut Duncan dari hasil parameter uji.
Normalitas MDA Hati
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 12
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation 2.08857896
Most Extreme Differences
Absolute .172
Positive .102
Negative -.172
Kolmogorov-Smirnov Z .596
Asymp. Sig. (2-tailed) .869
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Test of Homogeneity of Variances
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
Total Protein Plasma .443 3 8 .729
MDA Hati 1.580 3 8 .269
Akumulasi Pb 3.082 3 8 .090
Efisiensi Pakan 1.944 3 8 .201
Laju Pertumbuhan Harian
.695 3 8 .581
Jumlah Konsumsi Pakan
5.013 3 8 .030
SR .143 3 8 .931
Bobot Akhir .543 3 8 .666
Bobot AKhir2 2.506 3 8 .133
Glukosa Darah 3.013 3 8 .094
Retensi Protein Revisi 1.716 3 8 .241
31
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
32
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
Akumulasi Pb
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
33
Retensi Protein
Duncana Vit E
(gr/kg) N
Subset for alpha = 0.05
1 2
0 gr/kg 3 14.6857
100 gr/kg 3 18.0710 18.0710
500 gr/kg 3 21.3004
300 gr/kg 3 21.4856
Sig. .129 .140
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
34
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Garut pada tanggal 9 Desember 1989 dari pasangan Bapak Adang Kohar dan Ibu Teti Rosmiati. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Tarogong Kidul, Garut pada tahun 2007. Pada tahun yang sama, penulis lulus seleksi masuk UNPAD (Universitas Padjadjaran) melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada program studi Biologi Fakultas Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pendidikan sarjana diselesaikan pada tahun 2011. Pada Tahun 2013, penulis mendapat kesempatan menempuh pendidikan Magister di Sekolah Pascasarjana IPB, pada program studi Ilmu Akuakultur melalui program Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri DIKTI.
Tugas akhir dalam pendidikan tinggi pada jenjang magister ini diselesaikan dengan menulis tesis yang berjudul “Evaluasi Penambahan Vitamin E pada Pakan
Terhadap Status Kesehatan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Terpapar Timbal (Pb)” telah review 1 pada Jurnal