• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan serbuk biji kelor (moringa oleifera) sebagai koagulan dan flokulan dalam perbaikan kualitas air limbah dan air tanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penggunaan serbuk biji kelor (moringa oleifera) sebagai koagulan dan flokulan dalam perbaikan kualitas air limbah dan air tanah"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Indra Rani Yuliastri
  • Pengajar:
    • Hendrawati, M.Si
    • Nurhasni, M.Si
  • Sekolah: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
  • Mata Pelajaran: Kimia
  • Topik: Penggunaan Serbuk Biji Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Koagulan dan Flokulan Dalam Perbaikan Kualitas Air Limbah Dan Air Tanah
  • Tipe: Skripsi
  • Tahun: 2010
  • Kota: Jakarta

I. PENDAHULUAN

Bab ini memberikan latar belakang mengenai pentingnya air dalam kehidupan dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga kualitas air. Penelitian ini berfokus pada penggunaan serbuk biji kelor (Moringa oleifera) sebagai koagulan dan flokulan untuk meningkatkan kualitas air limbah dan air tanah. Dengan meningkatnya pencemaran air akibat aktivitas manusia, pendekatan baru dalam pengolahan air yang lebih alami dan berbiaya rendah menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk menggantikan koagulan sintetis yang mahal dan berisiko bagi kesehatan dengan menggunakan bahan alami yang lebih aman.

1.1. Latar Belakang

Air adalah komponen esensial bagi kehidupan, namun kualitas air sering kali terancam oleh pencemaran. Penggunaan koagulan sintetik dalam pengolahan air limbah seringkali mahal dan berisiko. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan penggunaan serbuk biji kelor sebagai alternatif yang lebih aman dan efektif. Moringa oleifera telah terbukti efektif dalam mengurangi turbiditas dan kontaminan dalam air, sehingga dapat menjadi solusi bagi permasalahan pencemaran air.

1.2. Perumusan Masalah

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini mencakup kemampuan serbuk biji kelor sebagai koagulan dan flokulan, serta dosis optimal yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas air limbah dan air tanah. Penelitian ini juga mempertanyakan efektivitas serbuk biji kelor dalam mengurangi berbagai parameter kualitas air seperti turbiditas, konduktifitas, kadar logam, BOD, dan total koliform.

1.3. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa serbuk biji kelor memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai koagulan dan flokulan yang efektif dalam pengolahan air limbah dan air tanah. Selain itu, diharapkan bahwa penggunaan serbuk biji kelor dapat mengurangi pencemaran air lebih baik dibandingkan dengan koagulan sintetik.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan serbuk biji kelor dalam pengolahan air limbah dan air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimal dan untuk menganalisis efektivitasnya dalam memperbaiki berbagai parameter kualitas air.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi serbuk biji kelor sebagai biokoagulan yang lebih aman dan efisien. Manfaat lain adalah memberikan alternatif dalam pengolahan air limbah yang lebih ramah lingkungan dan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan koagulan sintetik.

1.6. Pembatasan Masalah

Penelitian ini membatasi penggunaan serbuk biji kelor yang telah dilarutkan dalam aquades sebagai koagulan. Fokus penelitian adalah pada pengujian kualitas air limbah dan air tanah dengan parameter tertentu, tanpa mencakup semua jenis limbah yang mungkin ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka ini membahas berbagai aspek terkait air, pencemaran air, serta pengolahan air limbah. Penelitian ini mengkaji teori-teori yang mendasari penggunaan koagulan, baik sintetik maupun alami, serta mendalami karakteristik Moringa oleifera sebagai koagulan. Tinjauan ini juga mencakup mekanisme koagulasi dan flokulasi serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses tersebut.

2.1. Air

Air adalah elemen vital bagi kehidupan dan berfungsi sebagai medium untuk berbagai reaksi biokimia. Kualitas air sangat dipengaruhi oleh berbagai pencemar yang dapat mengurangi kelayakannya untuk digunakan. Oleh karena itu, penting untuk memahami karakteristik air dan pencemar yang ada untuk mengembangkan solusi pengolahan yang efektif.

2.1.1. Pencemaran Air

Pencemaran air terjadi ketika zat-zat berbahaya masuk ke dalam sumber air, mengubah kualitasnya. Definisi pencemaran air mencakup berbagai aspek, termasuk pengaruh aktivitas manusia dan fenomena alam. Pencemaran dapat berasal dari limbah industri, rumah tangga, dan pertanian, yang semuanya memerlukan pengelolaan yang tepat.

2.1.2. Sumber Pencemaran Air

Sumber pencemaran air dikategorikan menjadi sumber langsung dan tidak langsung. Sumber langsung mencakup limbah dari industri dan rumah tangga, sementara sumber tidak langsung berasal dari kontaminasi tanah dan atmosfer. Memahami sumber pencemaran penting untuk merancang strategi pengolahan air yang efektif.

2.1.3. Kualitas Air

Kualitas air diukur melalui berbagai parameter, termasuk fisik, kimia, dan mikrobiologi. Parameter seperti pH, kekeruhan, dan kandungan oksigen terlarut merupakan indikator penting untuk menilai kelayakan air. Penelitian ini menekankan pentingnya menjaga kualitas air untuk kesehatan manusia dan lingkungan.

2.4. Koagulasi dan Flokulasi

Proses koagulasi dan flokulasi adalah teknik yang digunakan untuk mengolah air dengan menggabungkan partikel-partikel koloid menjadi endapan. Penggunaan koagulan, baik sintetik maupun alami, menjadi fokus dalam penelitian ini. Moringa oleifera diidentifikasi sebagai alternatif yang efektif dan ramah lingkungan dalam proses ini.

2.4.1. Koagulan dan Flokulan

Koagulan sintetik seperti alumunium sulfat sering digunakan dalam pengolahan air, tetapi memiliki risiko kesehatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa koagulan alami seperti Moringa oleifera dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan efisien, memberikan hasil yang sebanding dengan koagulan sintetik.

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini mencakup desain eksperimen yang digunakan untuk menguji efektivitas serbuk biji kelor dalam pengolahan air limbah dan air tanah. Penelitian ini mencakup pengumpulan data melalui pengujian laboratorium yang sistematis dan analisis parameter kualitas air.

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu penelitian berlangsung selama beberapa bulan untuk memastikan pengumpulan data yang komprehensif dan valid.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini termasuk serbuk biji kelor yang telah disiapkan, serta bahan kimia lain yang diperlukan untuk analisis. Alat-alat laboratorium seperti turbidimeter, pH meter, dan alat ukur konduktifitas juga digunakan untuk mengukur parameter kualitas air.

3.3. Metode Penelitian

Metode penelitian terdiri dari beberapa tahap, termasuk persiapan sampel, pembuatan larutan Moringa oleifera, dan analisis laboratorium. Pengukuran dilakukan untuk parameter seperti turbiditas, pH, konduktifitas, dan kadar logam untuk menilai efektivitas koagulan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh dari pengujian laboratorium. Pembahasan mencakup interpretasi hasil, perbandingan dengan penelitian sebelumnya, dan implikasi dari penggunaan serbuk biji kelor sebagai koagulan.

4.1. Nilai Temperatur Setelah Penambahan Koagulan

Pengukuran temperatur dilakukan untuk memastikan bahwa proses koagulasi tidak mempengaruhi suhu air secara signifikan. Hasil menunjukkan bahwa penambahan koagulan tidak menyebabkan perubahan temperatur yang berarti, mendukung kestabilan proses.

4.2. Pengaruh Penggunaan M. oleifera Terhadap Perubahan Turbiditas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan serbuk biji kelor berhasil menurunkan turbiditas air limbah secara signifikan. Penurunan turbiditas mencapai 98,6%, menunjukkan efektivitas M. oleifera sebagai koagulan alami.

4.3. Pengaruh Penggunaan M. oleifera Terhadap Perubahan pH

Penggunaan M. oleifera tidak menyebabkan perubahan pH yang signifikan, berbeda dengan koagulan sintetik yang sering menurunkan pH. Hal ini menunjukkan bahwa M. oleifera lebih ramah lingkungan dan tidak memerlukan pengolahan lanjutan.

4.4. Pengaruh Penggunaan M. oleifera Terhadap Perubahan Konduktifitas

Penelitian ini mencatat bahwa konduktifitas air limbah menurun sebesar 10,8% setelah penambahan koagulan. Hal ini menunjukkan bahwa M. oleifera efektif dalam mengurangi ion-ion terlarut yang berkontribusi pada konduktifitas.

4.5. Pengaruh Penggunaan M. oleifera Terhadap Perubahan Total Koliform

Hasil menunjukkan bahwa serbuk biji kelor berhasil menurunkan jumlah total koliform dalam sampel air, yang merupakan indikasi keberhasilan dalam memperbaiki kualitas mikrobiologis air. Ini menunjukkan potensi M. oleifera dalam pengolahan air bersih.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa serbuk biji kelor memiliki potensi yang signifikan sebagai koagulan dan flokulan dalam pengolahan air limbah dan air tanah. Penelitian ini menyarankan agar penggunaan M. oleifera dipertimbangkan dalam praktik pengolahan air untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya.

5.1. Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa serbuk biji kelor efektif dalam meningkatkan kualitas air limbah dan air tanah. Penggunaan koagulan alami ini tidak hanya efisien tetapi juga lebih aman dibandingkan dengan koagulan sintetis.

5.2. Saran

Dianjurkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai dosis optimal dan penerapan M. oleifera dalam skala yang lebih besar. Penelitian ini juga menyarankan untuk mengeksplorasi penggunaan koagulan alami lainnya yang dapat berkontribusi dalam pengolahan air.

Gambar

Tabel 1. Hubungan DO dengan Kualitas Air
Gambar 7. Jar Test
Gambar 8. Struktur 4α L-ramnosiloksi-benzil-isotiosianat
Gambar 9. Diagram alir SSA
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh biji kelor sebagai koagulan, pH limbah cair Industri tekstil (pencucian jeans) ukuran partikel biji kalor dan kombinasi biji

Analisis Kemampuan Optimum Biji Kelor (Moringa oleifera) dalam Mengkoagulasi Limbah Cair Laboratorium Kimia; Ikrima, 091810301017; 2013: 45 halaman; Jurusan Kimia

Oleh karena itu, dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan perbedaan massa atau konsentrasi koagulan biji kelor dan PAC sangat mempengaruhi penyerapan logam Cd

Serbuk biji tua kelor ( Moringa oleifera Lam. ) telah diketahui sangat bermanfaat untuk penjernih air, yaitu dengan earn mengkoagulasi partikel, bakteri dan kotoran

Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “Pengaruh Kadar Air, Dosis, dan Lama Pengendapan Koagulan Serbuk Biji Kelor Sebagai Alternatif Pengolahan Limbah Cair Industri

Tesis yang berjudul Efektifitas Biji Kelor (Moringa oleifera ) dalam Menurunkan Kekeruhan, Kadar Ion Besi dan Mangan dalam Air , ini disusun sebagai salah satu syarat untuk

(2012) Efektivitas Biji Kelor ( Moringa oleifera) dalam Menurunkan Kadar Besi (Fe) dan Mangan ( Mn) Air Sumur Gali di Kelurahan Besar Kecamatan Medan Labuhan..

Kadar serbuk biji kelor yang digunakan sebagai koagulan pada limbah cair tahu memberikan hasil yang optimum pada 500mg/100ml sampel limbah dan waktu kontak