EKSISTENSI PELAKSANAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI NEGARA INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN SEBAGAI PELAKSANAAN AZAS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS
Teks penuh
Dokumen terkait
48 Tahun 2009tentang Kekuasaan Kehakiman menganut politik pluralisme hukum dan mengakui hukum tidak tertulis tetapimasihsamar-samar (pluralisme hukum yanglemah), yangberakibat
Temuan studi membuktikan bahwa: (1) amandemen Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah membawa perubahan bagi konfigurasi kekuasaan kehakiman
Sesuai dengan ketentuan Pasal 18 Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU Kekuasaan Kehakiman) ditentukan bahwa: “Kekuasaan ke- hakiman dilakukan oleh
Dengan demikian eksistensi akan lembaga yudikatif sebagai salah satu pilar dari negara hukum yang demokratis berkonsekuensi terhadap penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang
Dalam penjelasan UU No 48 tahun 2009 menyatakan bahwa adanya perubahan undang-undang tersebut merupakan upaya penyempurnaan terhadap UU No 4 tahun 2004 yang
Dalam Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman pasal 1 ayat 5 disebutkan bahwa Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan
Pada dasarnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman telah sesuai dengan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Pada dasarnya Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman telah sesuai dengan perubahan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di atas,