Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Pendidikan (S.Pd)
Oleh :
Mei Annisa
NIM 1112011000050
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
i
Mei Annisa (NIM: 1112011000050). Usaha-Usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan Pondok Pesantren Pabelan
pada masa KH. Hamam Dja’far, untuk mengetahui usaha-usaha KH. Hamam
Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan, untu mendeskripsikan
hambatan dan tantangan yang dihadapi KH. Hamam Dja’far dalam usaha-usaha menghidupkan Pondok Pesantren Pebelan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung dengan mengamati sistem pendidikan Pondok Pesantren Pabelan, kemudian wawancara langsung dengan keluarga dan kerabat yang berjumpa dengan KH. Hamam
Dja’far, sumber data primernya KH. Ahmad Mustofa sebagai adik kandung KH. Hamam Dja’far dan KH. Ahmad Najib Amin sebagai anak KH. Hamam Dja’far
teknik pengumpulan data selanjutnya adalah dokumentasi, berupa foto-foto kegiatan para santri, kegiatan KH. Dja’far dan buku-buku tentang Pondok Pesantren Pabelan seperti KH. Hamam Dja’far dan Pondok Pabelan. Teknik analisis data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik content analysis, dimaksud untuk menggali usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan dan kemudian diuraikan kembali sebagaimana hasil analisis, dengan maksud untuk memahami, menggali informasi, tantangan, dan usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pebelan.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa keadaan Pondok Pesantren Pabelan
pada masa kepemimpinan KH. Hamam Dja’far, mengalami perkembangan yang
ii
This study aims to determine how to gather information, obstacles, challenges, and efforts KH. Hamam Dja'far in turn Pebelan boarding school. This research is qualitative research and using the phenomenological approach to explore on efforts KH. Hamam Dja'far in turn Pebelan boarding school. Data collection techniques used in this research is the direct observation observe Pabelan boarding school education system, conducted direct interviews with the family and relatives who met with KH. Hamam Dja'far, documentation of student activities’s, KH. Hamam Dja'far activities’s pictures and books about Pabelan boarding school. Data analysis techniques in this study, researchers used the technique of content analysis, in this paper is to explore efforts KH. Hamam Dja'far in turn Pabelan boarding school and later elaborated returned as results of the analysis, with the intent to understand, gather information, challenges, and efforts KH. Hamam Dja'far in turn Pebelan boarding school.
iii
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-NYA kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan skripsi ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
“Pembaharuan Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan Oleh KH. Hamam
Dja’far”.
Shalawat beserta salam semoga Allah senantiasa melimpahkannya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Beserta keluarga dan sahabatnya yang telah memberikan tuntutan bagi kita (umat Islam) kejalan yang di ridhoi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan skripsi ini dari awal sampai akhir, semoga Allah senantiasa meridhai segala usaha kita, amin. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.
2. Dr. H. Abdul Majid Khon. M.Ag, sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. yang selalu memberikan kemudahan dalam setiap kebijakan yang beliau berikan selama penulis menjadi mahasiswi di jurusan Pendidikan Agama Islam.
iv
5. Prof. Dr. Armai Arief, M.Ag. Sebagai pembimbing skripsi, yang selalu sabar dalam memberikan bimbingan dan arahan serta bantuan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Bapak dan ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan keleluasaan dalam peminjaman buku-buku yang dibutuhkan.
8. Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian bagi penulisan skripsi ini.
9. Para Staf Pondok Pesantren Pabelan serta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Pabelan, yang telah membantu dan memberikan banyak informasi kepada penulis dalam penelitian skripsi ini.
10. Ayahanda Alm. Syamhudi dan Ibunda Juyati tercinta yang selalu memberikan limpahan kasih dan sayang yang tak terhingga, yang tidak
bisa dibalas dengan apapun, dan selalu mendo’akan serta memberi
dukungan dengan segala pengorbanan dan keihklasan. (semoga Allah membalas segala pengorbanan bapak dan ibu).
11. Terima Kasih juga untuk Deni Pahlefi, SE dan Mamah Muslikah, adek Nanda Wijayanti, adek Juang Hadi Wibowo, adek Sulton Abni Sukaji Yusuf, keluarga Ngabidiyah dan keluarga Sutiem tercinta yang selalu memberikan dukungan.
v
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan penelitian ini dari awal sampai akhir, semoga Allah senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Ciputat, 25 November 2016 Penyusun
vi
ABSTRAC ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Fokus Penelitian ... 6
D. Rumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori ... 8
1. Pengertian Usaha ... 8
2. Pengertian Menghidupkan ... 8
3. Pendidikan ... 9
a. Pengertian Pendidikan ... 9
b. Pengertian Pendidikan Islam ... 10
4. Sistem Pendidikan Islam ... 11
a. Pengertian Sistem Pendidikan Islam ... 11
b. Komponen atau Unsur-Unsur Sistem Pendidikan Islam ... 12
1) Tujuan Pendidikan Islam ... 12
2) Pendidik ... 13
3) Peserta Didik ... 14
4) Lingkungan Pendidikan ... 15
vii
9) Evaluasi ... 22
10)Manajemen ... 23
5. Pondok Pesantren ... 24
a. Pengertian Pondok ... 24
b. Elemen-Elemen Pesantren ... 25
c. Bentuk-Bentuk Pesantren ... 27
B. Hasil Penelitian Relevan ... 29
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31
B. Metode Penelitian ... 31
C. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 32
D. Pemeriksaan Atau Pengecekan Keabsahan Data ... 37
E. Analisis Data ... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 40
1. Pondok Pesantren Pabelan ... 40
2. Lintas Kehidupan KH. Hamam Dja’far ... 45
3. Usaha-Usaha KH. Hamam Dja’far dalam Menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan... 49
B. Pembahasan ... 67
1. Hambatan dan Tantangan KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan ... 67
viii
ix 1. Dokumentasi Penelitian.
2. Hasil Observasi di Pondok Pesantren Pabelan.
3. Hasil Wawancara KH. Ahmad Najib Amin (Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan. Anak pertama KH. Hamam Dja’far).
4. Hasil Wawancara KH. Ahmad Mustofa (Pimpinan Pondok Pesantran Pabelan, dan Satu-satunya adik KH. Hamam Dja’far).
5. Hasil Wawancara Bapak Khudori (Santri Pondok Pesantren Pabelan dan sekarang mengabdi menjadi guru Pondok Pesantren Pabelan).
6. Hasil Wawancara Bapak Dr. Mahfudz Masduki, MA (Santri dan Guru Pondok Pesantren Pabelan).
7. Hasil Wawancara Bapak Muhtarom (Guru pertama di Pondok Pesantren
Pabelan dan kerabat KH. Hamam Dja’far). 8. Surat Bimbingan Skripsi
1
A.
Latar Belakang Masalah
Negara kita telah merdeka lebih dari 70 tahun. Bukan waktu yang sebentar bagi sebuah negara untuk mempersiapkan bangsa yang maju. Sebuah negara akan maju jika anak bangsanya memiliki moral yang baik. Namun sangat disayangkan, dalam Harian Surat Kabar Kompasiana menyebutkan, kini terjadi kemerosotan moral seperti tawuran antar pelajar, seks bebas, penggunaan narkoba, dan tindakan kriminal yang lainnya, terjadi dilingkungan penerus bangsa ini.1 Kondisi semacam ini memunculkan pertanyan, bagaimana selama ini pendidikan di negara kita? seharusnya dunia pendidikan menjadi ranah penting dalam pembangunan karakter sumber daya manusia, dan menjadi agent of change (agen-agen perubahan) sebuah bangsa. Dewasa ini pendidikan Islam termasuk di dalamnya pesantren dan madrasah tengah menghadapi tantangan serius. Seperti yang disebutkan
dalam jurnal yang ditulis Sholehuddin bahwasanya, “pada era ini pendidikan
Islam menghadapi tantangan globalisasi yang berakibat terjadinya komersialisasi pendidikan, mengakumulasi kapital dan mengeruk keuntungan. Pendidikan mereka jadikan sebagai komoditi dan tidak semua
masyarakat dapat mengaksesnya”.2
Presiden Megawati juga menyatakan, “pendidikan agama justru
mengembangkan sikap fanatisme yang berlebihan sehingga toleransi sangat
rendah”.3
kritik seperti ini memang tidak dapat dipungkiri, karena pendidikan agama selama ini hanya mementingkan popularitas dan dokmatis, hanya
1Kamaludin Makmuun, “Kemerosotan Moral Pertanda Kehancuran Bangsa,”
artikel diakses pada 17 juni 2015 dari http://www.kompasiana.com/kamaludinmakmuun/kemerosotan-moral-pertanda-kehancuran-bangsa_55547b2b6523bd3e164af02f
2Sholehuddin, “Tantangan Pesantren dalam Komersialisasi Pendidikan di Tengah Globalisasi,” Lentera Pendidikan, vol. 15, 2012, h. 221.
3Muhammad Munadi,”Pendidikan Agama dan Toleransi,”
sebatas menghafal teks tanpa ada pemaknaan realitas. Sehingga para siswa hanya sekedar menghafal tanpa mengetahui maknanya. 4
Era globalisasi seperti saat ini, menghadirkan banyak peluang namun juga tantangan, kondisi seperti ini tidak bisa dihindari oleh siapapun termasuk pendidikan Islam. Pendidikan Islam dituntut untuk bisa lebih menyaring segala hal yang terjadi akibat globalisasi karena tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam juga diharapkan bisa berperan dan mewarnai peradaban dunia dan tidak hanya berorientasi pada tujuan yang bersifat eskatologis (hidup setelah mati).5
Dengan berbagai masalah yang dihadapi pendidikan Islam saat ini, seharusnya bukan dijadikan untuk penghambat berlangsungnya pendidikan, namun untuk koreksian dan dijadikan tantangan sebagai pembaharuan pendidikan Islam di negara kita yang tidak lain adalah pesantren. Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang memiliki integritas, daya saing yang tinggi.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah dikenal jauh sebelum lembaga pendidikan lainya ada di Indonesia. Pesantren telah memberi andil yang besar dalam menyiarkan ajaran agama Islam ke seluruh Nusantara meskipun dengan kesederhanaan dan keterbatasan prasarana yang dimiliki.
Menurut M. Dawam Rahardjo, sebagaimana yang dikutip Arief Armai,
pernah „menuduh’ pesantren sebagai lembaga yang kuat dalam mempertahankan keterbelakangan dan ketertutupan.6 Perkembangan dunia (globalisasi), pesantren dihadapkan pada beberapa perubahan sosial-budaya. Sebagai konsekuensi logis dari perkemangan ini, pesantren mau tidak mau harus memberikan respon yang mutualis. Sebab, pesantren tidak dapat melepaskan diri dari bingkai perubahan-perubahan itu.7
4
Ibid.
5Abd. Haris, “Pemecahan Dikotomi Keilmuan Pendidikan Islam
dengan Pendekatan Filsafat Ilmu,” Nizamia, vol. 8, 2005, h. 139.
6
Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam, (Jakarta: CRDS Press, 2005), h. 41 7
Segala bentuk kegiatan di pesantren dipengaruhi oleh kiai sehingga dalam setiap pesantren memiliki beragam variasi pembelajaran sesuai dengan kiai. Kemudian dalam buku sejarah pendidikan Islam di Indonesia menyebutkan bahwa pesantren amat tergantung pada daya tarik kiai, pesantren akan menjadi mundur dan mungkin menghilang, jika tidak ada yang mewarisinya.8 Pesantren juga mempertahankan sistem tradisionalnya.9
Penelitian ini akan membahas tentang usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan kembali Pondok Pesantren Pabelan. Beliau merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan. Dengan pandangan yang luas dan wawasan yang dalam terhadap ajaran Islam mempengaruhi pemikiran KH. Hamam Ja’far dalam menghadapi persoalan pendidikan, sosial, dan ekonomi Pabelan. Sejumlah ide dan pemikirannya yang luas mempu memperbaiki sosial, ekonomi, dan yang pasti pendidikan di Pabelan dan sekitarnya.
Beliau merupakan murid Kiai Imam Zarkasyi, lahir di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, pada hari sabtu paing, 26 Februari 1938,
beliau adalah sulung dari dua putra pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Hadijah.
KH. Hamam besar di bawah pengasuhan adik kakek pihak ibu. Dalam keluarga K.H Hamam mengalir darah ulama yang diturunkan oleh KH. Muhammad Ali bin Kiai Kertotaruno, pendiri Pondok Pabelan (sekitar tahun 1800-an) yang pertama dan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Menurut masyarakat setempat, Kiai Kertotaruno adalah keturunana Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. 10
Pendidikan KH. Hamam Dja’far pada masa anak-anak dimulai dari ngaji dengan Kiai Cholil. Desa Pabelan ketika KH. Hamam Dja’far kecil, merupakan sebuah desa yang sangat tertinggal di antara desa-desa lainnya, baik dibidang pendidikan, ekonomi, dan informasi. Melihat kondisi yang
8
Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1986), h. 54 9
Ibid., h. 61
sedemikian rupa tertinggal dalam segala bidang. Maka setelah menamatkan Sekolah Rakyat (SR), beliau mondok di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur selama kurang lebih 11 tahun (1952-1963). Di Gontor, KH. Hamam berguru secara langsung dan sangat dekat dengan salah satu
“Trimurti Gontor” yaitu KH. Ahmad Sahal.11
Setelah 11 tahun nyantri beliau harus mematuhi Kiai Cholil yang memintanya pulang untuk meneruskan dan sekaligus menjadi pimpinan Pondok Pabelan yang sudah sekian lama vakum. Ketika melihat keadaan lingkungan di sekitar desa Pabelan.
Yang dikutip oleh Umi Musyarrofah dari Komaruddin Hidayat menuliskan bahwa, pada waktu itu masyarakat Pabelan dan sekitarnya sangat memprihatinkan. Masyarakatnya mengalami kemunduran, kondisi ekonomi dan sosial melemah, pengangguran meningkat, masyarakat terpecah kedalam beberapa fraksi yang sekali-kali menimbulkan ketegangan sosial. Krisis ini terutama (ekonomi dan pendidikan).12
Dengan keadaan yang seperti ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam pada diri KH. Hamam Dja’far. Lalu beliau menghidupkan kembali Pondok Pesantren Pabelan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh KH.
Hamam Dja’far kemudian melahirkan generasi yang menjadi sosok dinamis,
terbuka, percaya diri, menjadi gawang Islam moderat dan progresif menyongsong perkembangan zaman.
Penelitian tentang Pondok Pesantren Pabelan yang dilakukan oleh Khoirul Bariyah tentang “Peranan Pondok Pesantren Pabelan Dalam Perubahan Sosial Di Pabelan Mungkid Magelang Pada Masa KH. Hamam DJa'far 1965-1993”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Pabelan pada masa KH. Hamam
Dja’far membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat baik dalam
11
Ibid., h. 61
bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan budaya.13 Ahmad Zamharir juga meneliti tentang “Peranan Pesantren dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Pabelan Desa Pabelan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah)”. Menyatakan bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Pabelan merupakan suatu proses pemberdayaan dan transformasi masyarakat secara efektif, peranan sosial Pondok Pesantren Pabelan dalam masyarakat dapat diketahui dari realitas.14
Penelitian yang dilakukan oleh Umi Musyarofah dengan judul “dakwah KH. Hamam Dja’far dan Pondok Pesantren Pabelan.” Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa KH. Hamam adalah tuan rumah yang sekaligus teman yang baik untuk berdiskusi, keterbukaan dan dialog merupakan salah
satu watak KH. Hamam Dja’far yang terlihat dalam kehidupan Pondok,
dakwah KH. Hamam Dja’far baik melalui media lisan (kuliah subuh) yang diselenggarakan di serambi masjid mampu mengentaskan kebodohan dan keterbelakangan agama bagi masyarakat Pabelan, kemudian dakwah KH. Hamam melalui Pesantren Pabelan baik dalam bidang kesehatan, lingkungan, dan pengadaan air bersih mampu menjawab permasalahan keterbelakangan Pabelan dan KH. Hamam merupakan kiai yang energik mampu menggabungkan kebutuhan masyarakat dan keinginan dari anggota masyarakat berpadu dengan Pondok Pesantren Pabelan.15
Atas pemaparan diatas membuat penulis tertarik untuk meneliti tentang
“USAHA-USAHA KH. HAMAM DJA’FAR DALAM
MENGHIDUPKAN PONDOK PESANTREN PABELAN”.
13Khoirul Bariyah, “
Peranan Pondok Pesantren Pabelan Dalam Perubahan Sosial Di Pabelan
Mungkid Magelang Pada Masa Kh Hamam Ja'far 1965-1993,” Skripsi pada UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Yogyakarta, 2010, h. i, tidak dipublikasikan 14Ahmad Zamharir, “
Peranan Pesantren dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Pabelan Desa Pabelan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah),” Skripsi pada IAIN Walisongo Semarang, Semarang, 2005, h. i, tidak dipublikasikan.
15
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat diidentifikasikan beberapa masalah yaitu sebagai berikut:
1. Tantangan yang dihadapi pesantren seperti komersialisasi pendidikan, tuntutan masyarakat global yang semakin beraneka ragam, dan toleransi yang rendah.
2. Pendidikan Islam dituntut untuk melahirkan generasi yang mampu memiliki daya saing yang tinggi tanpa meninggalkan syariat agama Islam. 3. Pendidikan, sosial, ekonomi, dan kehidupan masyarakat di sekitar Pondok
Pabelan sangat memprihatinkan.
4. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang kuat dalam mempertahankan keterbelakangan dan ketertutupan.
C.
Fokus Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka fokus penelitian ini adalah pada usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan, yang dimaksud disini yaitu usaha-usahanya pada sistem pendidikan yaitu meliputi komponen tujuan, pendidik, anak didik, lingkungan, lembaga pendidikan, media pendidikan, kurikulum, metode, evaluasi, dan manajeman, pada masa KH. Hamam Dja’far.
D.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana keadaan Pondok Pesantren Pabelan pada masa KH. Hamam
Dja’far?
2. Bagaimana usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan?
E.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan jawaban kualitatif terhadap pertanyan utama yang tersimpul dalam rumusan masalah. Lebih rinci tujuan itu dapat diungkapkan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui keadaan Pondok Pesantren Pabelan pada masa KH.
Hamam Dja’far.
2. Untuk mengetahui usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan.
3. Untuk mendeskripsikan hambatan dan tantangan yang dihadapi KH.
Hamam Dja’far dalam usaha-usaha menghidupkan Pondok Pesantren Pebelan.
4.
Manfaat Penelitian
8
A.
Kajian Teori
1. Pengertian Usaha
Menurut Budhi Setyono, “Usaha dapat diartikan sebagai segala upaya
untuk mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya seorang siswa berusaha memecahkan soal-soal dalam ujian”.1
Menurut Aip Saripudin dkk, “Kata usaha dalam kehidupan sehari-hari adalah berbagai aktivitas yang dilakukan manusia, contohnya Vaentino Rossi berusaha meningkatkan kelajuan motornya untuk menjadi juara
dunia Moto GP yang kedelapan kalinya”.2
Menurut Harmaizar, “Usaha adalah suatu bentuk yang melakukan kegiatan secara tetap dan terus-menerus dengan tujuan memperoleh keuntungan baik yang diselenggarakan oleh perseorangan maupun yang
lainnya”.3
Dari penjelasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa usaha adalah segala upaya kegitan atau aktivitas dengan mengarahkan pikiran dan tenaga untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
2. Pengertian Menghidupkan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menghidupkan adalah memnyebabkan hidup, membuat hidup, menyalakan. Contohnya pembantu itu menghidupkan lilin.4
1
Budhi Setyono, Bahas Total Soal Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia SMA IPA Kelas XI, (Yogyakarta, Indonesia Tera, 2011), cet. 1, h. 107
2
Aip Saripudin, Dede Rustiawan K, dan Adit Suganda, Praktis Belajar Fisika Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas Program Ilmu Pengetahuan Alam, (T.tp.: PT Grafindo Media Pratama, t.t), h. 70
3
Harmaizar Z, Menangkap peluang Usaha, (Bekasi: CV Dian Anugerah Perkasa, t.t), h. 14 4
Menurut Ahzami Samiun, “menurut beliau hidup adalah lawan dari mati, interpretasi dari kata menghidupkan adalah manusia sebelumnya
belum pernah ada hingga akhirnya dimulailah penciptaan awalnya”.5
Kemudian “hidup dan mati adalah istilah yang berlawanan seperti terang dan gelap, jika diam adalah makna asal mati secara bahasa, maka
gerak adalah makna asal kehidupan”.6
Dari penjelasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa menghidupkan adalah sebelumnya pernah ada kemudian tidak, hingga akhirnya dimulailah kembali.
3. Pendidikan
a. Pengertian Pendidikan
Istilah pendidikan adalah terjemah dari bahasa Yunani paedagogie yang berarti “pendidikan”, orang yang tugasnya membimbing atau
mendidik dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri disebut
paedagogos, Istilah ini berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin).7
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan berasal dari kata didik, dan pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses; cara; perbuatan mendidik.8
Menurut Ahmad Tafsir, “Pendidikan adalah usaha meningkatkan
diri dalam segala aspeknya. Definisi ini mencakup kegiatan pendidikan yang melibatkan guru maupun yang tidak melibatkan guru, mencakup
pendidikan formal, maupun nonformal serta informal”.9
5
Ahzami Samiun Jazali, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, Terj. Dari Al-Hayaatu Fil-Qur’an al-Kariim, oleh Sari Narulita, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), cet. 1, h. 1
6
Umar Sulaiman al asygar, Ensiklopedia Kiamat, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2011), h. 27 7
Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam, op. cit., h. 17 8
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, op. cit., h. 263. 9
Menurut Heri Jauhari Muchtar, “Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta memiliki potensi atau kemampuan sebagaimana mestinya”.10
Menurut Ibrahim Amini, “Pendidikan adalah memilih tindakan dan
perkataan yang sesuai, menciptakan syarat-syarat dan faktor-faktor yang diperlukan, dan membantu seseorang individu agar menjadi objek pendidikan sehingga potensi dalam dirinya dapat berkembang dan
bergerak menuju kesempurnaan yang diharapkan”.11
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses pengembangan, mengaktifkan atau membangkitkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia. Melalui upaya pengajaran, pelatiahan, perbuatan mendidik, dan lain sebagainya. Dengan adanya pendidikan manusia dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
b. Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-tarbiyah, al-ta’dib, dan al-ta’lim. Istilah al-ta’dib
merupaka term yang tepat dalam khazanah bahasa Arab karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-tarbiyah, dan al-ta’lim
sudah tercakup didalam term al-ta’dib.12
Menurut Ahmad Tafsir, “Pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai degan ajaran Islam. Bila disingkat pendidikan Islam
10
Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), cet. 2, h. 14
11
Ibrahim Amini, Agar Tidak Salah Mendidik Anak, Terj. Dari Ta’lim va Tarbiyat oleh Ahmad Subandi dan Salman Fadhlullah, (Jakarta: Al-Huda, 2006), h. 5.
12
adalah bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi muslim semaksimal mungkin”. 13
Menurut Samsul Nizar, “Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologinya Islam”. 14
Muhaimin, Suti’ah dan Nur Ali, “Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya yaitu al-Qur’an dan sunnah”.15
Dari beberapa pengertian di atas terlihat bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan kepada peserta didik atau seseorang dengan berlandaskan al-Qur’an dan sunnah, dengan tujuan agar peserta didik menjadi manusia yang dapat mengarahkan hidupnya sesuai dengan nilai-nilai Islam.
4. Sistem Pendidikan Islam
a. Pengertian Sistem Pendidikan Islam
Menurut Armai Arief, “Sistem pendidikan Islam adalah seperangkat unsur yang terdapat dalam pendidikkan yang berorientasi pada ajaran Islam yang saling berkaitan sehingga membentuk satu kesatuan dalam mencapai tujuan”.16
Menurut Arifin, “Sistem pendidikan Islam merupakan usaha pengorganisasian proses kegiatan kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam, sistem kegiatan belajar-mengajar diprogramkan ke dalam struktur kurikulum yang berjenjang pula dari sejak pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang semakin meningakat mutunya. Antara materi, metode, tujuan pendidikan harus saling berkaitan, berdaya saling mengembangkan sehingga benar-benar efektif, dan
13
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2007), cet. 7, h. 32.
14
Samsil Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 32
15Muhaimin, Suti’ah, dan Nur Ali,
Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), cet. 3, h.29
16
efisien, dan relevan dengan tujuan akhir pendidikan Islam yang hendak dicapai”.17
Menurut Hasan Basri, “Sistem pendidikan Islam adalah dalam pendidikan Islam terdapat gagasan, prinsip-prinsip, dan sub-sistem lainya yang saling berhubungan”.18
Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud sistem pendidikan Islam adalah suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsur-unsur pendidikan untuk mencapai tujuan sesuai dengan ajaran Islam.
b. Komponen atau Unsur-Unsur Sistem Pendidikan Islam
Komponen dalam sistem pendidikan Islam terdiri dari: tujuan, pendidik, anak didik, lingkungan pendidikan, lembaga pendidikan, media, kurikulum, metode, evaluasi, manajeman.19 Untuk menghasilkan
out put dari sistem pendidikan yang bermutu, hal yang paling penting adalah bagaimana membuat semua komponen berjalan dengan baik, dari semua komponen di atas merupakan langkah menuju tujuan pendidikan itu sendiri.
1) Tujuan Pendidikan Islam
Ada beberapa pendapat para ahli mengenai tujuan pendidikan Islam. Menurut Ahmad Tafsir, tujuan pendidikan Islam adalah pertama, tujuan umum pendidikan Islam ialah muslim yang sempurna, atau manusia yang taqwa, atau manusia beriman, atau manusia yang beribadah kepada Allah. Kedua, tujuan khusus pendidikan Islam adalah muslim yang sempurna itu ialah manusia yang memiliki jasmani sehat serta kuat, akalnya yang cerdas serta pandai, dan hatinya taqwa kepada Allah.20
Kemudian M Arifin mengatakan pendidikan Islam bertujuan mengembangkan pola kepribadian manusia yang bulat yang
17
M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), cet. 3, h. 77
18
Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), h. 148 19
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 70 20
mencakup semua aspek, aspek jasmaniah, aspek spiritual, intelektual, ilmiah maupun bahasa yang diperlukan untuk hidup sebagai anggota masyarakat. Pendidikan Islam mendorong agar semua aspek dapat berkembang secara maksimal guna mancapai kesempurnaan hidup.21
Menurut Abdurrahman An Nahlawi, “Tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun secara sosial”.22
Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah membentuknya pribadi yang beriman, berakhlak, berilmu dan berketerampilan yang senantiasa berupaya mewujudkan dirinya dengan baik secara maksimal guna memperoleh kesempurnaan hidup karena didorong oleh sikap ketaqwaan dan penyerahan dirinya kepada Allah SWT agar memperoleh ridho-Nya.
2) Pendidik
Kata pendidik berasal dari kata didik, artinya memelihara, merawat dan memberi latihan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan. Selanjudnya dengan awalan pe hingga menjadi pendidik, yang artinya orang yang mendidik.23
Menurut Sukring, “Pendidik adalah orang dewasa yang memberikan bimbingan, memiliki kapasitas ilmu, sehat jasmani dan ruhani, ikhlas menjalankan perintah Allah demi mengabdi pada bangsa dan agama”.24
21
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), cet. 3, h. 40-41
22
Abdurrahman An Nahlawi, Buku pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, penerjemah Shihabuddin. Terj. Dari Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha Fil Baiti Wal Madrasati Wal Mujtama’ oleh Shihabuddin, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), cet. 1, h. 117
23
Ramayulis, op. cit., h. 208 24
Menurut Syafruddin Nurdi, “Guru adalah bukan sekedar
pemberi ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya tetapi guru merupakan seorang tenaga profesional yang dapat menjadikan murid-muridnya mampu merencanakan, menganalisis, dan
menyimpulkan masalah yang dihadapi”.25
Menurut Ahmad Tafsir, “Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan dan perkembangan potensi anak didik, baik potensi kognitif psikomotorik, maupun potensi efektifnya”.26
Beberapa definisi di atas mengisyaratkan, bahwa guru adalah seseorang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dari berbagai aspek, guru tidak hanya mentrasfer ilmu namun membimbing, sehingga anak didik mampu menyelesaikan masalah dalam hidupnya
3) Peserta Didik
Ketika kita menelaah tentang pendidikan, kita akan menemukan kata-kata peserta didik. Banyak yang membahas tetang pengertian peserta didik dan memiliki berbagai macam makna, Siapakah sesungguhnya peserta didik itu?.
Menurut Hasan Basri dan Beni Ahmad, “Peserta didik adalah
semua orang yang melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan atau dilibatkan secara langsung, yaitu semua masyarakat yang mengikuti kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan formal dan
informal”.27
Menurut Ahmad Syar’i, “Peserta didik adalah manusia muda,
baik dari segi biologis maupun psikologis, tetapi bisa pula manusia
25
Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), h. 7
26
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, op. cit., h. 74 27
dewasa yang masih memerlukan pengetahuan dan ketrampilan
tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup”.28
Menurut Marimba, “Pengertian umum, peserta didik mencakup manusia seluruhnya, tanpa pembatasan usia. Setiap manusia berpeluang untuk dididik".29
Dari berbagai pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah sasaran atau objek dan sekaligus sebagai subjek pendidikan, yang mencakup seluruh manusia tanpa dibatasi usia yang masih memerlukan pengetahuan dan ketrampilan tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
4) Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan atau tempat suatu kegiatan pendidikan, akan sangat mempengaruhi pada diri peserta didik. Lingkungan pendidikan yang baik akan menghasilkan penerus bangsa yang baik pula, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan anak didik, dalam sistem pendidikan Islam dikenal tiga lingkungan pendidikan Islam seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
a) Lingkungan Keluarga
Pendidikan dilakukan sejak anak dalam kandungan Rasulullah SAW memerintahkan kepada ibu-ibu yang mengandung agar banyak melakukan dzikir dan membaca
al-Qur’an, dan ketika anak lahir didengarkan adzan dan iqamat di
telinga anak sebagai kalimat yang mengandung ketauhidan kepada Allah.Orang tua dan anggota keluarga yang serumah sebagai pendidik, sedangkan pendidik adalah profil manusia
28Ahmad Syar’i,
Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011), cet. 2, h. 44 29
yang setiap hari didengar perkataannya, dilihat, dan ditiru prilakunya oleh anak-anaknya.30
Maka dari itu orang tua diharapkan membentuk lingkungan keluarga yang Islami karena anak mudah meniru apa yang ia lihat, seperti perbuatan orang tuanya atau anggota keluarga yang lainnya, semua aktivitas dalam keluarga harus dipantau dan diarahkan, seperti nonton televisi, internet dan lain sebagainya, anak harus selalau diperhatikan dan dibina. karena lingkungan keluarga sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembanan seorang anak.
b) Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah terdiri atas tempat belajar dan mengajar, lingkungan sekolah merupakan tindak lanjut dari pendidikan di lingkungan keluarga. Pendidikan di sekolah diarahkan untuk melatih perkembangan daya intelektual anak didik dengan memberikan materi yang sesua dengan tingkat usia dan kematangan anak.31
Guru dalam lingkungan sekolah merupakan pelaku utama, guru harus selalu bertaqwa kepada Allah SWT, senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Para pendidik harus dibekali ilmu yang luas; akhlaq, sehat jasmani dan rohani, berpenampilan menarik, rapi, dan sopan.32
c) Lingkungan Masyarakat
Setelah berada di lingkungan sekolah peserta didik pasti akan hidup dan bergaul di lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat. Setalah mendapatkan bekal dari sekolah di sinilah peserta didik akan mengamalkan ilmu yang ia dapat dan menerapkan teori-teori yang sudah ia pelajari.
30
Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, op. cit., h. 115 31
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 77 32
Sebagai manusia penting untuk bermasyarakat karena kita makhluk sosial yang saling membutuhkan, banyak ayat-ayat
al-Qur’an yang menyebutkan kata-kata perkumpulan atau jama’ah tersebut menunjukkan pentingnya perkumpulan bagi masyarakat.33
5) Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan Islam adalah wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam yang bersamaan dengan proses pembudayaan.34
Lembaga-lembaga pendidikan dapat berbentuk formal (pendidikan diberikan di sekolah yang terikat pada aturan-aturan tertentu), informal (berupa kursus yang aturan tidak terlalu ketat), dan non formal (pendidikan diberikan di lingkungan keuarga).35
Lembaga-lembaga pendidikan Islam diselenggarakan sesuai dengan syariat Islam, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia terdiri dari pesantren, madrasah, majlis taklim, dan Institusi Agama Islam Negeri.
6) Media pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia media adalah alat; sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan sepanduk; perantara, penghubung.36 Menurut Ulian Barus dan
Suratno, “Media pembelajaran adalah alat dalam proses belajar
33
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), h. 173 34
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1996), cet. 1, h. 37-39
35
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 79 36
mengajar antara guru dan peserta didik untuk mempermudah tercapainya tujuan pendidikan”.37
Menurut Arief Armai, “Media adalah alat-alat atau benda yang dapat membantu kelancaran proses pendidikan yang pada masa klasik sudah memadai sesuai dengan zamannya lalu mulai meningkat pada masa pertengahan dan pada masa modern alat-alat
tersebut sudah semakin canggih”.38
Menurut Yudi Munadi, “Media pembelajaran dapat dipahami
sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses
belajar secara efisien dan efektif”.39
Dari penejelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa media pendidikan adalah segala perantara, alat yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran secara efisien dan efektif.
Ada empat kelompok besar media menurut Yudi Munadi, yaitu pertama media audio yang terlibat pendengaran seperti program radio, rakaman, kedua media visual yang terlibat penglihatan misalnya gambar, buku, poster, komik, diorama dan lan sebagainya, ketiga media audio visual yang melibatkan pendengaran dan penglihatan misalnya film dokumenter, video, film drama dan lain sebagainya, keempat multimedia sifat pesannya pengalamann langsung misalnya komputer, pengalaman berbuat: lingkungan nyata dan karyawisata, permainan, simulasi dan lain sebagainya.40
37
Ulian Barus dan Suratno, Pemanfaatan Candi Bahal Sebagai Media Pembelajaran Alam Terbuka dalam Proses Belajar Mengajar, (Medan: Perdana Mitra Handalan, 2012), h. 18
38
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 79 39
Yudi Munadi, Media Pembelajaran sebuah pendekatan baru, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2012), h. 7-8
40
Dari penejelasan di atas maka dapat disimpulkan ada beberapa kelompok media pendidikan yaitu pertama media audio yang terlibat pendengaran seperti program radio, rakaman, kedua media visual yang terlibat penglihatan misalnya gambar, buku, poster, komik, diorama dan lan sebagainya, ketiga media audio visual yang melibatkan pendengaran dan penglihatan misalnya film dokumenter, video, film drama dan lain sebagainya, keempat multimedia sifat pesannya pengalamann langsung misalnya komputer, pengalaman berbuat: lingkungan nyata dan karyawisata, permainan, simulasi dan lain sebagainya.
7) Kurikulum
Kurikulum secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu
curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”.41
Menurut Zainal Arifin, “Kurikulum adalah semua kegiatan dan
pengalaman potensial (isi atau materi) yang telah disusun secara ilmiah, baik yang terjadi di halaman sekolah maupun luar sekolah
atas tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan”.42
Menurut Ahmad Tafsir, “Kurikulum adalah pengalaman belajar,
karena pengalaman belajar yang banyak berpengaruh dalam kedewasaan anak, tidak hanya mempelajari mata-mata pelajaran”.43
Dari definisi di atas, terlihat bahawa kurikulum bukan hanya dokumen yang dicetak tetapi pengalaman belajar atau semua kegiatan dan pengalaman potensial (isi atau materi) yang telah disusun secara ilmiah, baik yang terjadi di halaman sekolah maupun luar sekolah atas tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
Para ilmuan Islam telah menjaskan apa saja yang harus dibahas atau dipelajari oleh manusia selaku hamba Allah, yaitu sebagai berikut:
Al-Ghazali membagi menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari kepentinganya, yaitu:
a) Ilmu fardhu’ain (wajib) yang wajib diketahui semua orang muslim yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumberkan dalam kitab suci Allah dan Sunnah.
b) Ilmu fardhu kifayah yang bisa dipelajari setiap muslim, ilmu ini yang dimanfaatkan untuk memudahkan hidup dunawi,contohnya ilmu hitung, ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan sosial dan lain sebagainya. 44
Kemudian Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam yaitu:
a) Ilmu lisan yaitu ilmu lughah, nahwu, bayan dan satra (adab) atau
bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
b) Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi, ilmu ini seperti ilmu tafsir, ilmu hadis, ushul fiqh dan lain sebagainya.
c) Ilmu aqli yaitu ilmu yang dapat mengembangkan daya pikir atau kecerdasannya, seperti filsafat dan ilmu pengetahuan yang lainnya.45
Dari penjelasan diatas maka kita dapat memahami bahwa kurikulum dalam lembaga pendidikan Islam, sebaiknya semua kategori diatas perlu dilakukan namun harus dimodifikasi atau disempurnakan sesuai dengan tuntutan zaman.
44
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 80 45
8) Metode
Metode dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalm ilmu pengetahuan), cara kerja yang bersistem untuk mempermudah pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.46
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah “Metode adalah
suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan”.47
Menurut Idrus Alwi dkk, “Metode adalah upaya yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nayata untuk mencapai tujuan pembelajaran”.48
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah seperangkat cara yang digunakan untuk mempermudah pelaksanaan suatu kegiatan tertentu, agar tercapai tujuan yang ditetapkan.
Lebih dari 2400 tahun silam, Konfusius menyatakan: yang saya dengar saya lupa, yang saya lihat saya ingat, yang saya kerjakan saya pahami.49 Dari pernyataan di atas menyatakan perlunya tentang cara belajar aktif, jika guru hanya berbicara dan siswa mendengarkan maka pembelajaran itu kurang diingat. Belajar itu tidak cukup jika hanya dengan mendengar dan melihat. Disini terlihat bahwa perlunya memiliki metode yang efektif dan menarik. ada beberapa macam metode pendidikan menurut para tokoh.
Menurut Idrus Alwi, Ida Saidah dan Umi Nihayah, macam-macam metode pembelajaran yaitu metode jigsau, metode
investigasi, metode Student team-achievement devisions, team- game- tournament, metode number heads togather, metode make- a
46
Departemen pendidikan Nasional, op. cit., h. 740 47
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010 ), cet. 4, h. 46
48
Idrus Alwi, Ida Saidah, dan Umi Nihayah, Panduan Implementasi Kurikulum 2013 untuk Pendidik dan Tenaga Pendidik, (Jakarta: Saraz Publising, 2014), cet. 1, h. 62
49
match, metode think pair dan share, metode role playing, metode
mind mapping, metode power of two.50
Metode pendidikan yang digunakan pada masa klasik (610-1258 M) sebagai berikut: ceramah, hafalan, membaca tadarus, tanya jawab, bercerita, menulis, metode khusus. Masa pertengahan (1258-1800 M) sebagai berikut: ceramah, hafalan, membaca-menulis, membaca-tadarus, tanya jawab, cerita lewat buku, menulis
Al-Qur’an mulai ada titik, keyakinan atau pembenaran, mudzakarah,
umum dan sederhana, metode khusus, menyeluruh, pemberian contoh, membimbing. Masa modern (1800-sekarang) sebagai berikut: ceramah menggunakan media, hafalan mandiri, membaca dengan pemahaman, murid bertanya dan menjawab, cerita lewat media, menulis Al-Qur’an secara utuh sintesis analasis, diskusi, deduktif, induktif, komprehensif, demonstrasi.51
Macam-macam metode pembelajaran yang digunakan Rasulullah yaitu sebagai berikut: metode drill dan eksperimen, metode asistensi, metode tanya jawab, metode drama.52
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa seorang pendidik perlunya memiliki metode yang efektif dan menarik sehingga siswa untuk ingin tahu.
9) Evaluasi
Pendidikan merupakan proses pengembangan, mengaktifkan atau membangkitkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia. Untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai secara efektif dan efisien, maka diperlukan evaluasi.
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris
evaluation; dalam bahasa Arab al-Taqdir; dalam bahasa Indonesia
50
Idrus Alwi, Ida Saidah, dan Umi Nihayah, op. cit., h . 92-96 51
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 47- 49 52
adalah nilai. 53 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia evaluasi adalah penilaian: hasil itu hingga saat ini belum diperoleh.54
Menurut Purwanto, “Evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria”.55 Menurut Ngalim Purwanto, “Evaluasi yaitu kegiatan yang terencana dan dilakukan berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan kagiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung, dan pada akhir program”.56
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil (tes dan non tes) dan setandar kriteria, evaluasi dilakukan tidak hanya diakhir namun diawal, saat proses berlangsung dan diakhir.
10) Manajemen
Dalam kamus besar bahasa indonesia manajemen adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.57
Menurut Jejen Musfa, “Manajeman umumnya diartikan sebagai proses perencanaan, mengorganisasi, pengarahan, dan pengawasan, agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.58
Menurut Muhaimin dkk, “Manajeman adalah suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu”.59
Salah satu hal penting dalam lembaga pendidikan adalah manajemen keuangan. Suatu lembaga dalam hal ini sering
53
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 1 54
Departemen pendidikan Nasional, op. cit., h. 310 55
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), cet. 6, h. 1 56
Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), cet. 16, h.3- 4
57
Departemen pendidikan Nasional, op. cit., h. 708 58
Jejen Musfah, Manajemen Pendidikan Teori, Kebijakan, dan Praktik, (Jakarta: Kencana, 2015), h. 2
59
mengalami permasalahan yang serius bila pengelolaannya kurang baik. dalam masalah keuangan perlunya pengolalaan yang transparan dan baik. masalah keungan dikelola di bagian administrasi lembaga pendidikan yang biasanya dipegang bendahara.60
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan yang baik, sehingga menghasilkan manusia-manusia yang mampu memjawab tantangan zaman. Kemudian manajemen meliputi segala aktivitas yang berhubungan dengan pengelolaan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah diracang.
5. Pondok Pesantren
a. Pengertian Pondok
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pondok adalah bangunan untuk tempat sementara; madrasah dan asrama (tempat mengaji, belajar agama Islam).61 Sementara pesantren adalah asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji.62
Menurut Zaini menyebutkan bahwa, “Pesantren berasal dari kata
„santri’ yang diberi awalan pe- dan akhiran -an, yang berarti sebuah pusat pendidikan Islam tradisional. Guru pesantren disebut kiai, yaitu orang tua terhormat atau guru agama yang mandiri dan berwibawa”.63
Menurut Samsul Nizar pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan dan pengajaran lainnya dalam menyelenggarakan sistem pendidikan dan pengajaran agama.64
60
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidika Islam, op. cit., h. 83 61
Departemen Pendidikan Nasional, op. cit., h. 888. 62
Ibid., h. 866 63
Zaini Muchtarom, Santri dan Abang di Jawa, jilid II, (Jakarta: INIS, 1998), h. 6 64
Dari keterangan di atas penulis dapat disimpulkan bahwa Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki asrama atau tempat seseorang santri menginap atau tinggal. pengajarannya berorientasi pada ajaran agama Islam yang dibersamai dengan suatu kegiatan untuk mendalami agama Islam, namun tidak hanya itu juga tetapi juga harus mengamalkannya.
b. Elemen-Elemen Pesantren
Walaupun pesantren mangalami perubahan, namuan ada beberapa ciri khas di dalam pesantren. Adapun ciri-ciri khas pondok pesantren yang sekaligus menunjukkan unsur-unsur pokoknya, serta membedakan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Menurut Amin Haedari ada beberapa unsur-unsur dalam pesantren yaitu:
1) Kiai, merupakan figur sentral di sebuah pesantren, kiai tidak hanya sebagai pemimpin spiritual namun kiai memegang peranan penting dalam mengendalikan dan mengatur sebuah pondok pesantren. Kiai juga mengajarkan kitab-kitab klasik dengan metode sorogan, wetonan.
2) Santri, adalah seorang yang menuntut ilmu di pondok pesantren, jumlah santri biasanya menjadi tolak ukur perkembangan pondok pesantren. Santri ada dua yaitu santri mukim (santri selama menuntut ilmu tinggal di pondok pesantren) dan santri kalong (santri yang tinggal di pondok pesantren).
3) Asrama Pondok, pondokan merupakan bangunan asrama tempat para santri tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan kiai. Di pondok inilah para santri menetap, belajar, beribadah, dan bergaul bersama.
terutama yang kental dengan aroma Islaminya dan menjadi pusat kegiatan kemasyarakatan.
5) Kitab-kitab literatur klasik Islam atau yang dikenal dengan kitab kuning. Pondok pesantren tradisional biasanya lebih mengutamakan pengajaran kitab-kitab klasik tersebut, sedangkan pondok pesantren yang lebih modern seringkali menjadikan sebatas komplemen.65
Menurut Muljono, unsur-unsur pesantren yang diklasifikasikannya kedalam beberapa hal yaitu:
1) Pondok, adalah asrama para santri yang dibangun di dalam kompleks pesantren, disinilah santri belajar dibawah bimbingan seorang guru yang lebih dikenal dengan santri.
2) Masjid, dalam kontek pesantren masjid dan kiai merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan erat satu dengan lainnya. Masjid digunakan kiai sebagai pusat kegiatan.
3) Pengajaran Kitab-Kitab Islam Klasik, secara sederhana kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab dan ditulis menggunakan aksara Arab dapat dipahami kitab kuning atau kitab gundul. Dalam hal ini kitab-kitab klasik Islam yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan dalam beberapa kelompok yaitu: nahwu dan saraf, fiqih, usul fiqh, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf, dan cabang-cabang lainnya.
4) Santri, dalam pesantren terkenal beberapa macam setatus santri yaitu santri mukim (biasanya santri tinggal di pesantren dalam waktu yang lama dan memiliki tanggung jawab mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab dasar dan menengah) dan santri-santri kalong (mereka yang berasal dari keliling pesantren, mereka ini memiliki rumah orang tua yang letaknya tidak jauh dari pesantren, dengan begitu mobilitas mereka tetap tinggal di rumah milik orang tuanya).
65
5) Kiai, dipandang sebagai lembaga kewahyuan, ia merupakan pemimpin karismatik dalam bidang agama. Pengaruh kiai tergantung pada kualitas pribadi, kemampuan, dan kedinamisannya.66
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur atau elemen penting dalam pesantren secara umum ada lima elemen yang tidak dapat dipisahkan yaitu Kiai, Santri, Pondok, Masjid, Kitab-Kitab,
c. Bentuk-Bentuk Pesantren
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dalam kenyataannya dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, pengelompokannya berdasarkan karaktristik pengajaran dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk pesantren dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1) Pesantren Tradisional (Salaf)
Dalam konteks keilmuan, pesantren tradisional merupakan jenis pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikannya. Pelajaran (kurikulum dalam arti sempit) pondok salafiah memberikan ciri yang membedakan dengan lembaga pendidikan lain.
Adapun metode pengajaran dalam pondok salafi yaitu: wetonan atau bandongan, sorogan, dan hafalan. Metode sorogan adalah menyodorkan kitabnya untuk minta diajari dengan teknik ini antara santri dan kiai terjadi interaksi langsung. Kemudian bandongan adalah belajar secara kelompok yang diikuti oleh seluruh santri dan biasanya kiai menggunakan bahasa daerah setempat dan langsung menerjemahkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajari. Metode hafalan adalah santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya.67
66
Muljono Damopolii, Pesantren Modern IMMIM: Pencetak Muslim Modern, Ed.1, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), cet.1, h. 66-78.
67
Jenjang pendidikan yang dipakai dalam pesantren tidak dibatasi. Bila seorang santri telah menguasiai suatu kitab atau beberapa kitab yang lulus ujian dan diuji oleh kiai, maka diperbolehkan pindah ke kitab sebelumnya. Kenaikan kelas pada pondok salafiyah, tidak ditandai dengan kitab yang dipelajari tersebut, dan kitab yang paling rendah sampai kepada kitab-kitab tingkat tinggi. Dalam menggunakan sarana, pondok pesantren salafiyah mengamalkan prinsip kesederhanaan. 68
Pada pesantren tradisional kemutlakan seorang kiai sebagai pemegang kekuasaan dan penentuan suatu keputusan, pesantren ini biasanya secara manajemen pun adalah manajeman keluarga.69 2) Pesantren Modern
Yang dikutip oleh Umi Musyarofah menurut Masdar,
“Pesantren tradisional modern adalah pesantren yang
menggabungkan sistem tradisional di satu sisi dan di sisi lain menggunakan sistem madrasah (klasikal), yang mengarahkan kepada sistem atau pola modern dari segi penyampaian dan pengajaran nilai-nilai Islam”.70
Ciri-ciri pesantren modern menurut Umi Musyarofah sebagai berikut: kewenangan seorang kiai tidak mutlak lagi akan tetapi sudah ada pembagian tugas di antara para pengurusnya, dari segi pengajaran menggunakan cara-cara tradisional juga memakai sistem modern (sistem kelas dan kurikulum) dengan menggunakan tingkatan-tingkatan. Pesantren ini juga mengadakan kegiatan pendidikan formal untuk memberikan keseimbangan antara tuntutan dunia dan ukhrawi (pelajaran-pelajaran agama).71
ciri-a) Memakai cara diskusi dan tanya jawab dalam penyampaian materi.
b) Adanya pendidikan kemasyarakatan. Segenap santri berlatih memperhatikan dan mengerjakan hal-hal yang nantinya akan dialami dalam masyarakat.
c) Santri diberi kebebasan, akan tetapi harus bertanggung jawab. d) Adanya organisasi pelajar yang mengatur aktivitas para santri
segala sesuatu mengenai kehidupan santri diatur dan diselenggarakan sendiri oleh santri dengan cara demokrasi, gotong royong, dan dalam suasana ukhuwah yang mendalam. Tetapi semua tidak terlepas dari pengawasan dan bimbingan pengasuhan-pengasuhannya.
e) Adanya organisasi pelajar yang bertanggung jawab atas sesuatu dalam kehidupan dan kegiatan belajar sehari-hari, tata tertib, dan disiplin.72
B.
Hasil Penelitian Relevan
Penelitian Pondok Pesantren Pabelan yang dilakukan oleh Khoirul Bariyah tentang “Peranan Pondok Pesantren Pabelan Dalam Perubahan Sosial Di Pabelan Mungkid Magelang Pada Masa KH. Hamam DJa'far
1965-1993”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua aktivitas yang
dilakukan oleh Pondok Pesantren Pabelan pada masa KH. Hamam Dja’far
membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat baik dalam bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan budaya.73
Persamaan yaitu sama meneliti Pondok Pesantren Pabelan dan KH.
Hamam Dja’far namun penelitian ini fokus pada perubahan sosial di Pabelan Mungkid Magelang pada masa KH. Hamam Dja’far, sedangkan penelitian
yang dilaksanakan sekarang fokus terhadap usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan.
72 Ibid., 73
Penelitian yang dilakukan Ahmad Zamharir meneliti tentang “Peranan Pesantren Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Pabelan Desa Pabelan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah)”. Menyatakan bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Pabelan merupakan suatu proses pemberdayaan dan transformasi masyarakat secara efektif, peranan sosial Pondok Pesantren Pabelan dalam masyarakat dapat diketahui dari realitas.74
Persamaannya yaitu sama meneliti tentang Pondok Pesantren Pabelan, namun penelitian yang dilakukan Ahmad Zamharir fokus terhadap peranan pesantren dalam pemberdayaan masyarakat, sedangkan penelitian yang penulis laksanakan sekarang fokus pada usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan.
Penelitian yang dilakukan oleh Umi Musyarofah dengan judul “dakwah KH. Hamam Dja’far dan Pondok Pesantren Pabelan.” Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa KH. Hamam adalah dakwah KH. Hamam Dja’far baik melalui media lisan (kuliah subuh) yang diselenggarakan di serambi masjid mampu mengentaskan kebodohan dan keterbelakangan agama bagi masyarakat pabelan, kemudian dakwah KH. Hamam melalui Pesantren Pabelan baik dalam bidang kesehatan, lingkungan, dan pengadaan air bersih mampu menjawab permasalahan keterbelakangan Pabelan.75
Penelitian yang dilakukan Umi Musyarofah fokus terhadap dakwah KH.
Hamam Dja’far, sedangkan penelitian yang dilakukan sekarang fokus
terhadap usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan, persamaan penelitian ini sama-sama meneliti
Pondok Pabelan dan KH. Hamam Dja’far.
74
Ahmad Zamharir, op, cit., h. i. 75
31
A.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlokasi dekat 4 gunung, yaitu gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Sindoro-Sumbing dan gunung Menoreh, tepatnya di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya berada di jalan yang menghubungkan antara Yogyakarta dan Semarang. Kira-kira 35 kilometer dari arah Yogyakarta, 4 kilometer. Waktu dilaksanakannya penelitian tanggal 01 sampai 11 September 2016.
B.
Metode Penelitian
Metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.1
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif, menurut Lexy J. Moleong penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, tindakan, motivasi, persepsi dan lain sebagainya.2
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yang dikutip oleh Iskandar menurut Bogdan dan Biklen, penelitian dengan pendekatan fenomenologis berusaha memahami makna dalam suatu peristiwa atau fenomena yang saling berpengaruh dengan manusia dalam situasi tertentu.3 Dikarenakan penelitian fenomenologis merupakan jenis pendekatan penelitian kualitatif, dimana peran peneliti adalah sebagai instrumen kunci dalam mengumpulkan data, dan menafsirkan data. Alat pengumpulan data
1Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung : Alfabeta, 2013), h. 6
2
Lexy J Melong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 2010), h. 6 3
biasanya menggunakan pengamatan langsung, wawancara, studi dokumen, sedangkan kesahihan dan keterandalan data menggunakan triangulasi.4
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis, dan merupakan jenis penelitian kualitatif, untuk menggali tentang usaha-usaha KH. Hamam
Dja’far dalam menghidupkan Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan, peneliti melakukan pengumpulan data, fakta dan informasi. Dalam memperoleh data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Untuk kesahihan dan keterandalan data menggunakan triangulasi.
C.
Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
1. Prosedur Pengumpulan
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu kegiatan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan gambaran nyata suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan peneliti.5 Karena dalam penelitian kualitatif tidak cukup dengan penuturan seseorang saja. Maka dalam penelitian ini, dibutuhkan observasi langsung mengamati sistem pendidikan Pondok Pesantren Pabelan, dengan tujuan untuk menambah informasi secara nyata mengenai usaha-usaha KH. Hamam Dja’far dalam menghidupkan Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan.
Tabel 3.1 Instrumen Observasi
Variabel Dimensi Indikator
Komponen-Komponen
Tujuan 1) Visi dan misi
2) Tujuan Pondok Pabelan
4
Ibid., h. 207 5
Sistem
Pendidikan
Islam
3) Panca jiwa dan Moto
Pendidik 1) Jumlah guru 2) Kegiatan guru
Anak Didik 1) Kegiatan santri Pondok Pabelan. 2) Jumalah santri Pondok Pabelan. Lingkungan 1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan sekolah 3) Lingkungan masyarakat Lembaga
Pendidikan
1) Lembaga pendidikan 2) Organisasi Pondok Pabelan Media 1) Laboratorium
2) Media pembelajaran Kurikulum 1) KMI
2) Mengukuti Pemerintah Metode 1) Ceramah
2) Diskusi 3) Bandongan 4) Sorogan 5) Wetonan 6) Active learning Evaluasi 1) Lisan
2) Tulis
Manajeman 1) Terbuka 2) Tertutup
b. Wawancara
resmi di tempat umum atau tidak resmi.6 Wawancara dilakukan langsung dengan keluarga dan kerabat yang berjumpa dengan KH.
Hamam Dja’far.
Tabel 3.2 Instrumen Wawancara
Variabel Dimensi Pertanyaan
Kompon
Tujuan 1) Apa yang melatar belakangi berdirinya Pondok Pesantren Pabelan?
2) Apa pula yang menjadi tujuan Pondok Pesantren Pabelan pada masa KH. Hamam memimpin? 3) Apa visi dan Misi Pondok Pesantren
Pabelan pada masa KH. Hamam memimpin?
Pendidik 1) Sebelum KH. Hamam memimpin, ada berapa jumlah gurunya? apa saja tugas guru? Dan siapa saja yang menjadi guru?.
2) Ada berapa guru yang membantu KH. Hamam dan siapa saja?
3) Apakah pada waktu itu guru yang mengajar sesuai dengan bidang pendidikannya?
4) Apa saja tugas guru waktu itu hingga sekarang?
5) Apakah sekarang guru-guru sudah sertifikasi?
6) Bahasa apa yang digunakan guru
6
ketika berinteraksi dengan santri? Anak Didik 1) Ada berapa jumlah santri pada masa
sebelum KH. Hamam memimpin dan pada masa perintisan kembali? 2) Di Pondok Pabelan ada berapa
macam santri, (santri kalong dan santri yang tinggal di asrama)? 3) Apa saja kegiatan santri sehari-hari? Lingkungan 1) Bagaimana penciptaan lingkungan
yang baik bagi santri di Pondok Pesantren Pabelan?
2) Apakah tiga lingkungan pendidikan di Pondok Pesantren Pabelan ada dan berjalan dengan baik pada masa sebelum KH. Hamam memimpin sampai sesudah memimpin?
Lembaga Pendidikan
1) Pada masa sebelum KH. Hamam memimpin apakah ada aspek kelembagaan?
2) Bagaimana aspek kelembagaan pada masa KH. Hamam memimpin? Media 1) Apa saja media pembelajaran yang
digunakan pada masa kiai Hamam dan masa sebelumnya?
2) Bagaimana perkembangan media pembelajaran di Pondok Pabelan pada saat ini?
Kurikulum 1) Bagaiamana kurikulum di Pondok Pesantren Pabelan?