• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

1. Pondok Pesantren Pabelan

a. Letak Geografis Pondok Pesantren Pabelan

Secara geografis Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan terletak di desa Pabelan atau sering disebut dengan Mbelan, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang. Posisi Pondok Pesantren Pabelan sangat setrategis karena berada di tengah-tengah aktivitas bidang sosial dan pendidikan, di sebelah utara dengan jarak 10 km terdapat dua lembaga pendidikan yaitu SMU Taruna Nusantara dan SMU Seminari (Katolik), 4 km sebelah timur berdiri SMU Van Lith di Muntilan, sementara 8 km sebelah barat berdiri megah cagar wisata Candi Borobudur dan Vihara Budha dekat Candi Mendut, di sebelah selatan berjarak 12 km terdapat lembaga tinggi AKMIL Magelang, jarak kota Yogyakarta dengan Pondok Pabelan 35 km disebelah tenggara Pabelan.1

Komplek Pesantren Pabelan terlihat masih asri dan alami dengan dihiyasi pohon-pohon langka dan berukuran besar, sepi dari suara kebisingan perkotaan karena Pondok Pesantren Pabelan terletak sekitar 1,5 km dari jalan raya Yogyakarta Semarang. Suasana tenang juga ditunjang dengan alat transportasi yang melawati Pondok Pesantren Pabelan hanya delman atau dokar, ojek sepeda motor dan angkutan pedesaan itupun jumlahnya hanya sedikit.2

Pada saat menuju Pondok Pesantren Pabelan kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah yaitu hamparan sawah sejauh mata memandang dan pegunungan yang seolah-olah menjadi benteng

1

Observasi Pondok Pesantren Pabelan, Pabelan, 1-7 September 2016. 2

pelindung disekitar desa Pabelan, karena Pondok Pabelan berada di lembah antara gunung Merapai, Sumbing, dan gunung Menoreh.3

Terlihat di sekitar Pondok Pesantren Pabelan masyarakat hilir mudik melewati kawasan pesantran untuk menuju ke sawah, tampak anak-anak desa bermain dengan bebas di komplek pesantren karena kawasan pesantren tidak diberi pagar. Jawaban KH. Hamam Dja’far

ketika ditanya tentang lingkungan pesantren yang tidak dipagar, “saya

punya pemikiran jangan sampai pondok ini terpisah dari lingkungan, terpisah dari masyarakat, serta pagar hati itu lebih kuat dari pada pagar tembok atau pagar hidup berupa tanaman.”4

b. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Pabelan

Kiai Muhammad Ali mendirikan Pondok Pesantren Pabelan pada abad 19, ketika itu masih tanah kosong. Pondok Pesantren Pabelan muncul, tumbuh dan berkembang bersama dengan munculnya desa Pabelan sehingga keberadaan desa Pabelan tidak bisa lepas dari keberadaan Pondok Pesantren Pabelan. Menurut cerita ketika Pondok Pesantren Pabelan dibangun pada waktu itu masih tanah kosong, kemudian banyak orang yang bermukim di sekitar Pesantren dan menjadi santri Pondok Pesantren Pabelan.5 Pondok Pesantren Pabelan didirikan dalam bentuk pengajian wetonan, seperti pesantren- pesantren lain umumnya yang mengajarkan agama Islam berdasarkan kitab-kitab klasik.6

Pada abad ke-19, terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), yaitu perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap penjajah Belanda, waktu itu seluruh santri Pondok Pabelan terpanggil ikut membela perjuangan

3 Ibid.

4Sadjijo Slamet Budihardjo, “Ustadz Hamam yang Saya Kenal”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 466

5

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Najib Amin, Pabelan, 10 September 2016. 6

Pangeran Diponegoro. Akibat Perang Diponegoro kegiatan Pondok Pesantren Pabelan menjadi terhenti, untuk sementara waktu.7

Kemudian pada tahun 1900-an, kehidupan pondok pesantren ramai kembali. Hal ini disebabkan tampilnya tokoh Kiai Anwar yang menghidupkan kembali Pondok Pesantren Pabelan.8 Saat itu Pondok Pabelan dikenal hingga ke provinsi lain karena terdapat tiga Pondok Pesantren, dengan tiga orang kiai dan spesialisasi yang berbeda: Pondok Pabelan Barat diasuh oleh Kiai Adam yang dipelajari ilmu Al-

Qur’an, Pondok Pabelan Tengah diasuh oleh Kiai Anwar yang dipelajari ilmu fiqh, yang kemudian dilanjutkan oleh Kiai Chalil, sedangkan Pondok Pabelan Timur diasuh oleh Kiai Asrori yang mempelajari ilmu nahwu.9

Pabelan Timur yang diasuh Kiai Asrori merupakan pondok yang terbesar dengan jumlah santrinya yang diperkirakan mencapai ribuan.10 Namun seperti pesantren pada umumnya, kiai merupakan elemen paling esensial dari Pesantren Pabelan. Setelah kiai wafat santri-santri semakin sedikit dan lambat laun Pondok Pabelan vakum.11

Pada tahun 1953 terjadi peristiwa diambilnya 12 warga Pabelan oleh aparat Polres (Polisi Resort) Magelang secara tiba-tiba. Mereka diduga terlibat kegiatan desersi Bataliyon 426 Jawa Tengah. Karena ketidakpahaman warga terhadap permasalahan politik, warga menganggap para desertir sebagai tamu biasa. Selama 10 hari, mereka di inapkan di markas kepolisian Pejagoan Magelang. Namun, mereka akhirnya dilepaskan karena tidak ditemukan cukup bukti. Secara resmi

7

Umi Musyarrofah, op. cit., h. 5 8

Ibid.

9Ahmad Mustofa, “Mas Hamam itu Sosok Humanis yang Bersungguh

-Sungguh”, dalam Ajip

Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h.153

10

Wawancara Pribadi dengan Muhtarom, Pabelan, 8 September 2016. 11

kejadian tersebut dapat terselesaikan.12 Bisa dikatakan pada setelah kejadian itu, Pondok Pesantren Pabelan mengalami kemerosotan, karena ketakutan warga atas kejadian itu, pondok semakin kosong dan akhirnya vakum.

Dengan berjalannya waktu, masyarakat Pabelan menjadi kehilangan pegangan dan panutan yang dapat dipercaya pada kalangan masyarakat, kemudian pendidikan, sosial dan ekonomi masyarakat semakin melemah, masyarakat terkotak-kotak dalam berbagai golongan, kemudian pengangguran semakin meningkat pada tahun 1962-1965.13

Melihat keadaan diatas membuat hati seorang pemuda yang baru pulang mondok dari Jawa Timur, tergugah untuk melakukan pembaharuan pada desa Pabelan. Beliau menginginkan kondisi ekonomi dan pendidikan masyarakat Pabelan berubah. Tetapi beliau tidak gegabah, KH. Hamam waktu itu seorang pemuda yang berusia 23 tahun, mencoba mencari tahu selama dua tahun. Ditemuilah tokoh- tokoh sepuh desa Pabelan dan anak-anak muda yang pengangguran, dari hasil pendekatan selama dua tahun, beliau menyimpulkan bahwa sebenarnya mereka ingin berubah, yang anak muda ingin melanjutkan belajar dan tokoh-tokoh tua juga ingin kondisi keterbelakangan di Pebelan berubah, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya, dengan bekal pendekatan dua tahun dan ilmu yang didapat dari mondok di Pesantren Gontor dan beberapa pesantren di Jawa Timur lainnya. KH. Hamam dengan bismilah mencoba memulai kembali Pesantren Pabelan.14 Pada tahun 1961 KH. Hamam Dja’far kembali ke pondok. Setelah kembali beliau menikah dengan gadis asli pabelan, namun beliau harus segera kembali ke Gontor untuk menyelesaikan tugasnya

12 Ibid. 13

Umi Musyarrofah, op. cit., h. 6 14

mengajar di sana dan baru benar-benar kembali pada awal tahun 1965.15

Langkah pertama KH. Hamam Dja’far yaitu melakukan pendekatan

secara pribadi kepada para sesepuh, tokoh masyarakat, dan pemuda dari segala golongan.16 Mereka diajak berdialog memikirkan bersama nasib desa Pabelan dan masyarakat yang mengalami kemunduran. Beliau sangat antusias dalam bertukar pikiran, berusaha mengembangkan gagasan konkrit, objektif, jujur terhadap materi, kedudukan atau setatus sosial. Kiai Hamam memanfaatkan berbagai pertemuan yang ada baik di masjid, mushola, tempat orang hajatan, di pinggir sawah, kolam, dan bahkan KH. Hamam tidak segan-segan ikut nimbrung dalam obrolan para pemuda dasa.17

Pada pertengahan 1965 KH. Hamam mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Pabelan (PPP) kemudian dibina dan diberi motivasi pada malam sabtu, kemudian beliau juga membuat wadah kegiatan bagi kaum tua dengan organisasi Pemeliharaan Tradisi Islam Pabelan (PTIP). Dan memberikan pembinaan ruhani setiap malam selasa kepada masyarakat dalam kajian tasawuf modern.18 Dengan adanya forum komunikasi itu, rencana KH. Hamam untuk mendirikan Pondok Pabelan semakin mendapat dukungan kuat dari masyarakat.19

Kemudian KH. Hamam meresmikan berdiri kembali Pondok Pesantren Pabelan dengan mencari hari baik, dan hari itu adalah pada

15

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Mustofa , op. cit. 16

Wawancara Pribadi dengan Muhtarom, op. cit.

17Zainal Arifin Ahmad, “K. H. Hamam Dja’far dan Manajemen Pendidikan Berbasis

Masyarakat”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian

Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 102-103

18Ahmad Mustofa , “Mas Hamam itu Sosok Humanis yang Bersungguh

-Sungguh”, dalam Ajip

Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h.155.

19Zainal Arifin Ahmad, “K. H. Hamam Dja’far dan Manajemen Pendidikan Berbasis

Masyarakat”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian

hari sabtu paing, 28 agustus 1965. Setelah saat itu Pondok Pesantren resmi berdiri.20

KH. Hamam menghidupkan pondok dengan berproses, kemudian pondok resmi berdiri kembali pada hari sabtu paing, 28 agustus 1965. Ketika pondok sudah diresmikan berdiri kemudian muncul masalah tentang Pondok Pabelan dijadikan pondok putra atau putri, awalnya putra, kemudian para ulama dan tokoh-tokoh yang memiliki anak perempuan komplain, bahwa mereka memiliki anak perempuan. Dengan adanya masalah itu jadilah Pabelan, Pondok Pesantren campuran.21 Dengan adanya hal ini menunjukkan bahwa Pondok Pabelan sudah sangat modern dan berbeda dengan pondok-pondok disekitar Pabelan. Waktu itu saja Pondok Gontor belum ada putri dan hanya putra saja.22