• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha-Usaha KH Hamam Dja’far dalam Menghidupkan Pondok

BAB IV HASIL PENELITIAN

3. Usaha-Usaha KH Hamam Dja’far dalam Menghidupkan Pondok

a. Visi, Misi, Panca Jiwa dan Moto Pondok

KH. Hamam Dja’far menghidupkan pondok dengan visi

terdidiknya santri menjadi mukmin, muslim, dan muhsin yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikir bebas. Kemudian misinya sebagai berikut:

1) Menanamkan dan meningkatkan disiplin santri untuk melaksanakan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. 2) Menanamkan jiwa keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah

islamiyah, mendiri, dan bebas.

35

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Mustofa, op. cit. 36

Umi Musyarrofah , op. cit., h. 15

37Ana Suryana Sudrajat, “Warisan K. H. Hamam Dja’far 1938

-1993 Sekilas Biografi”, dalam

Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 61

38

3) Menyelenggarakan pendidikan formal dengan kurikulum pesantren yang disesuaikan dengan pendidikan nasional.

4) Mendidik dan mengantarkan santri untuk mampu mengenali jati diri dan lingkugannya, serta mempunyai motivasi dan keberanian utuk memilih peran di masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

5) Mendidik dan mempersiapkan santri untuk menjadi manusia mandiri yang berkhidmat kepada masyarakat, Negara dan Agama.39

Nilai-nilai dasar yang ditanamkan KH. Hamam Dja’far kepada santri-santrinya tidak berbeda dengan nilai-nilai yang ditanamkan di Pondok Gontor yaitu:

1) Panca Jiwa Pondok

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam panca jiwa pondok pesantren, yaitu: Jiwa Keihlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa

Ukhuwwah Islamiyah, Jiwa Berdikari, Jiwa Bebas.40 2) Moto Pondok

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam panca jiwa pondok pesantren, yaitu: Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, Berpikir Bebas.41

b. Pendidik

Awalnya KH. Hamam dalam mengajar menangani semuanya sendiri. Kemudian dengan berjalnnya waktu dibantu oleh adik kandungnya Ahmad Mustofa dan seorang keluarga dekatnya, Wasit Abu Ali.42 Untuk perekrutan guru, tidak seperti sekarang yang sesuai dengan bidang pendidikannya, perlu diingat bahwa dulu sangat langka

39

Brosur Pondok Pesantren Pabelan. 40

Ibid 41

Ibid 42

yang sudah sarjana, guru-guru yang mengajar tanpa izajah tetapi mereka memiliki keahlian yang mumpuni.43

Pada tahun 1981 seluruh guru berjumlah 75 orang, terdiri dari 56 orang laki-laki dan 19 perempuan. Kebanyakan tergolong usia muda, antara 18 tahun sampai 35 tahun. Kebanyakan berasal dari lingkungan pondok, alumni Pondok Pesantren Pabelan, dan alumni Pondok Gontor Jawa Timur. Dari 75 guru ada 8 orang sarjana selebihnya sarjana muda dan lulusan KMI Pabelan dan Gontor.44 Dalam berinteraksi dengan murit guru-guru menggunakan bahasa Arab, Inggris dan Indonesia.45

Di Pondok Pabelan ada pelajaran yang unik dan mungkin jarang dilakukan oleh para pendidik adalah mewajibkan santri menulis buku

harian dan karangan lepas. KH. Hamam Dja’far dengan membaca

buku harian akan melihat kegiatan dan jalan pikiran santri secara transparan karena setiap pagi buku dikumpulkan, dibaca dan diberi komentar.46

KH. Hamam adalah guru yang selalu memotivasi santrinya

dengan mengatakan: “anak-anakku, kalian semua adalah bintang, sudah barang tentu bintang ketemu bintang tidak nampak sinarnya, tapi kelak setelah kalian meninggalkan Pondok ini dan kembali ke masyarakat, akan tampak kalian di antara batu-batu kebanyakan”.47

c. Peserta Didik

Berawal dari 35 santri dengan 19 lelaki, 16 wanita yang belajar di lantai beralaskan tikar, tanpa meja tulis.48 Tempat belajarnya bermula

43

Wawancara Pribadi dengan Mahfuz Masduki, op. cit.

44Moh. Amaluddin, “Kiai Hamam Pemimpin Pondok Pabelan”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 395

45

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Najib Amin, op. cit.

46Komaruddin Hidayat, “Oh Pondokku, Ibuku”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far

Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 21 47

Pak najib

48Bahtiar Effendi, “Etos yang Terus Mengalir”, dalam Muhammad Nasirudin (ed.),

Setengah Abad Pondok Pabelan, Perjalanan Meraih Impian, (Yogyakarta: Pustaka Sempu, t.t.), h. vii

di serambi masjid, lalu pindah ke ruang pendopo rumah keluarga kiai. Santri pada awalnya pada siang hari belajar di emperan masjid.49 Para guru mengajar hanya menggunakan satu-satunya papan tulis, walaupun dengan kesederhanaan pelajaran tetap berjalan dengan lancar dan para santri belajar dengan tekun.50

Agak berbeda dengan pesantren di sekitar. Pondok Pesantren Pabelan yang diasuh oleh KH. Hamam para santrinya terdiri atas laki-

laki dan perempuan. “mendidik pria itu hanya mendidik dia seorang.

Tetapi kalau mendidik perempuan di samping mendidiknya, juga

mendidik suami, anak serta keluarga”.51

KH. Hamam memulai Pondok Pesantren Pabelan dengan model campuran dan itu mengundang reaksi dari berbagai pihak. Ditambah santriwati berseragam rok merah selutut, baju putih dan menggunakan dasi merah darah. Hal ini membuat para tokoh dan ulama di sekitar

Pabelan bereaksi negatif. “kami sengaja memancing perhatian orang

agar mereka mau melihat pondok. Toh semua hanya alat sementara. Adapun selanjutnya bukan begitu pakaian seragam para santri,” kata

KH. Hamam Dja’far.52

Pada tahun akhir 70-an, pesantren Pabelan menjadi sangat kondang dan seolah menjadi pesantren percontohan se-Jawa Tengah, santrinya setiap tahun bertambah dan berasal dari berbagai daerah termasuk Timor Timur, jumlah santri pada saat itu mencapai 1000 orang.53 Dengan latar belakang pekerjaan orangtua: 32,8% petani, 30,7% pedagang, 2,7% ABRI, 1,4% pegawai swasta dan pemong desa.54

49Komaruddin Hidayat, “Oh Pondokku, Ibuku”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 18

50

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Mustofa, op. cit. 51

Umi Musyarrofah, op. cit., h. 65 52

Wawancara Pribadi dengan Mahfuz Masduki, op. cit.

53Muhammad Aji Surya, “Nyantri di P

abelan: Episode Nano-Nano”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 90- 91

54

Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan memiliki dua jenis santri, yaitu santri mukim (tinggal di pondok) dan santri kalong (tinggal di rumah). Pada umumnya santri kalong berasal dari sekitar lingkungan Pondok Pesantren Pabelan.55 Santri kalong pada saat santri menginjak kelas enam santri diwajibkan untuk menetap di pondok guna mendapatkan pelajaran yang lebih. Dan santri-santri yang sudah senior diberi tanggung jawab untuk mendampingi dan membimbing adik-adiknya.56

Di Pondok Pesantren Pabelan diajarkan konsep kerukunan beragama. Di asrama para santri dikondisikan agar tidak menonjolkan golongan, partai, etnis, bahkan orang tuanya. Semua bergaul dengan

kesetaraan dan kerukunan. KH. Hamam Dja’far mengajarkan para

santri untuk tidak berlaku eksklusif kepada sesama santri. Oleh karena itu baik Ustadz maupun santri terdiri dari berbagai golongan, bahkan pernah ada pula guru yang beragama non- Islam, para santri datang dari berbagai macam latar belakang NU, Muhammadiyah, Persis, maupun yang lainnya.57

Para santri Pondok Pesantren Pabelan diberi kebebasan namun mereka dididik untuk bertanggung jawab, hal ini terlihat dari kehidupan mereka sehari-hari di asrama pondok, santri hidup dalam serba kesederhanaan, tapi penuh kegiatan.58 Santri mengatur diri sendiri dengan gotong royong secara demokratis dengan penuh suasana persaudaraan melalui Organisasi Pondok Pesantren Pabelan (OPP), semacam OSIS di SMU.59

Setiap santri Pondok Pabelan harus mengkuti Khutbah iftitah atau khutbatul arsy, hal ini identik dengan ospek atau MOS-nya SMP dan

55

Wawancara Pribadi dengan Khudori, op. cit., 56

Observasi Pondok Pesantren Pabelan, op. cit., 57

Umi Musyarrofah, op. cit., h. 33-34 58

Ibid., h. 35 59

SMA. Khutbatul iftitah ini dipersiapkan mental dan pikiran santri dan pemikiran santri untuk menjadi santri Pondok Pesantran Pabelan.60

Kegiatan santri Pondok Pabelan seperti kebanyakan pondok pesantren yang ada di Indonesia, santri di Balai pendidikan Pondok Pesantren Pabelan memiliki berbagai aktvitas yang telah diprogram untuk dilaksanakan. Program kegiatan yang dilaksanakan oleh santri dituangkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari selama dua puluh empat jam sehari yang harus dipatuhi oleh para santri.61

Kegiatan harian santri Pondok Pesantren Pabelan dimulai pukul empat pagi, para santri dibangunkan oleh petugas pondok (santri yang dapat jadwal untuk bulis). Para santri dibangunkan untuk menunaikan sholat subuh, mereka melakukan senam pagi kemudian dilanjutkan dengan olah raga pilihan sendiri, yaitu voli, bulu tangkis, atau tenis meja. Bersenam pagi dan berolahraga berlangsung dari pukul 05.00 sampai dengan pukul 07.25 para santri makan pagi dan menyiapkan diri untuk mengikuti pelajaran pelajaran di ruang kelas. Pelajaran dikelas dilaksanakan pada hari sabtu sampai dengan rabu, dimulai pukul 09.00 dan diakhiri pukul 13.00, sedangkan dengan pada hari kamis pelajaran berlangsung dari pukul 07.00 sampai dengan pukul

11.00. Hari jum’at libur, tidak diselenggarakan pelajaran.62

Pada pukul 13.00 sampai dengan pukul 14.00 para santri melakukan solat dhuhur berjamaah dan makan siang. Jamaah dhuhur para santri tidak diwajibkan sholat di masjid, namun kini sholat jamaah dhuhur wajib di masjid. Kemudian makan siang dilakukan di ruang makan yang terletak di komplek pondok. Tersedia lima tempat makan. Setiap santri ditentukan tempat ia makan setiap harinya.63

60Imam Munadjat, “KH. Hamam Dja’far Selalu dalam Totalitas Peran”, dalam Ajip Rosidi

(ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 25-26

61

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Najib Amin, op. cit.

62Moh. Amaluddin, “Kiai Hamam Pemimpin Pondok Pabelan”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 397-398

63

Pada pukul 14.00-15.30 diselenggarakan kursus bahasa Arab dan Inggris yang diperuntukkan bagi santri kelas I, agar mereka mampu mengikuti program pendidikan pada kelas berikutnya, antara lain penggunaan bahasa Arab sebagai pengantar pada pelajaran agama, praktek berpidato dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris, percakapan bahasa Arab dan Inggris dengan ustadz pembimbingnya dan sebagainya.64

Pukul 16.00 sampai pukul 17.30 para santri melakukan olah raga voli, bulu tangkis, tenis meja, atau berenang. Pada pukul 18.15 sampai dengan pukul 19.00 para santri diwajibkan sholat magrib berjamaah dan membaca Al-Qura’an baik di masjid maupun di asrama masing- masing. Pada pukul 19.00 sampai dengan pukul 20.00 makan malam.65

Sesudah makan para santri belajar secara individual di bawah bimbingan dan pengawasan ustadz pembimbing. Bagi santri yunior, bimbingan diberikan pula oleh santri senior. Pembimbing santri senior disebut pendamping, mereka kelas VI, agar bimbingan berjalan dengan lancar, para pendamping ditempatkan menyebar secara merata di setiap kamar asrama.66

Kemudian kegiatan mingguan santri adalah latihan berpidato, krida dan prakarya (latihan ketrampilan), dan latihan pramuka. Latihan berpidato menggunakan bahasa Arab dan Inggris di hadapan kelompok santri. Latihan itu diselenggarakan setiap hari kamis malam dan ahad malam. Setiap santri diberi kesempatan melakukan pidato satu kali dalam setiap latihan. Jadwal pidato disusun oleh para santri sendiri, dalam hal ini dibuat oleh pengurus organisasi santri. Krida dan prakarya dilakukan setiap kamis siang seusai mengikuti pelajaran di ruang kelas, berbentuk kerja praktel membersihkan halaman komplek pondok. Praktek PKK santri puteri dan kerja praktek lain ditentukan

64 Ibid. 65 Ibid. 66 Ibid.

oleh ustazd atau pengurus pondok. Latihan pramukaan dilaksanakan pada hari kamis sore, diselenggarakan oleh pengurus pramuka.67

Pembaharuan KH. Hamam berdampak sampai setelah kepemimpinannya, sepanjang lima tahun 2003-2008 santri Pabelan berhasil menjadi duta pendidikan Indonesia ke Amaerika Serikat (AS) dalam program Youth Exchange and Study (YES), kemudian tahun 1977 Bahtiar Effendi santri Pabelan lolos dalam program sejenis dengan nama American Field Service (AFS). Beasiswa untuk santri Pabelan lebih banyak berasal dari luar negeri.68 Tidak hanya itu di Pondok Pesantren Pabelan santri-santrinya mengikuti program

Internasional Award For Young People (IAYP) dikenal juga dengan nama The Duke of Edinburgh’s Internasional Award.

d. Lingkungan

Masyarakat Pondok Pesantren Pabelan itu juga masyarakat santri karena menurut cerita ketika Kiai Muhammad Ali tahun 1820 menjadikan pesantren, ketika itu masih babat alas, jadi tanah kosong dijadikan pesantren jadilah orang-orang bermukim di sekitar Pesantren dan menjadi santri beliau, mungkin karena belum terlalu lama merdeka dan perekonomian belum maju jadi etos kerja masyarakat itu lemah sekali, sehingga dapat dilihat kondisi ekonomi dan pendidikan itu sangat rendah. Kata-kata kondusif itu bisa dijadikan tantangan untuk berbuat maksimal dan bisa juga dikatakan lingkungan pendidikan sangat tidak kondusif karena berat sekali menghadapi itu. Tetapi alhamdulilah, karena semua santrinya berasal dari Pabelan sehingga ketika lulus kemudian menjadi bagian masyarakat Pabelan. Di Pabelan 3 lingkungan pendidikan ada di

67 Ibid. 68

Asrori S. Karni, Etos Studi Kaum Santri: Wajah Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2009), h. 210

dalamnya semua sehingga semuanya saling berkesambungan dan saling melengkapi.69

Tiga lingkungan pendidikan di Pondok Pabelan yaitu sebagai berikut. Ketika anak diserahkan oleh orang tuanya untuk mondok, kiai sebagai pengasuh pondok bertindak sebagai kepala keluarga (lingkungan keluarga), sedangkan guru dan santri merupakan anggota keluarganya. Lingkungan sekolah diwakili oleh KMI dan Madrasah. Lingkungan masyarakat, terutama di sekitar lingkungan Pondok Pabelan, masyarakat merupakan laboratorium kehidupan bagi santri Pabelan.70

Pada masa KH. Hamam Dja’far penciptaan lingkungan dirancang secara sistematis untuk menjadi bagian yang sama penting dalam proses pendidikan. Kehidupan santri diatur selama 24 jam diatur dan diprogram dengan kegiatan-kegiatan yang produktif dan kondusif. Di pondok santri memperoleh pendidikan kemasyarakatan, latihan berorganisasi dan kepemimpinan. Tidak hanya itu namun penempatan santri di asrama tidak didasarkan dari suku, daerah, kelas dan lain- lain, penempatan tidak permanen namun setiap semester selalu diadakan perpindahan kamar.71

Tidak hanya lingkungan di dalam Pondok Pesantren Pabelan tetapi lingkungan masyarakat Pabelan, Pesantren Pabelan memiliki peranan penting dalam perubahan desa Pabelan. Gubuk-gubuk sebelumnya tidak memiliki ventilasi dan jendela karena kealasan keamanan. Kemudian lantai dapur dan lantai ruang tinggal tanah liat telah berubah secara mendasar. KH. Hamam merubah rumah dengan memiliki jendela, kebun kecil yang berguna dan terawat, tempat penyerap jamban yang jaraknya dari sumur diatur, dan di mana-mana

69

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Najib Amin, op. cit.

70Ana Suryana Sudrajat, “Warisan K. H. Hamam Dja’far 1938

-1993 Sekilas Biografi”, dalam

Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 72-74

71

ditanam pohon baru sehingga desa-desa sekitar pesantren terkesan higienis.72

Pada tahun 1980 Pondok Pesantren Pabelan menerima penghargaan The Aga Khan Award for Architecture walaupun tak ada penemuan arsitektural yang luar biasa, Pondok Pabelan mampu mengembangkan ekspresi arsitektural yang asli yang menjawab tuntutan pedesaan modern, alasan 9 juri memilih Pondok pabelan adalah pertama juri umum kagum pada pendidikan pesantren seperti yang dilakukan Pabelan, di samping mendidik para santri juga melatih masyarakat setempat. Kemudian mampu menerjemahkan nilai Islam ke dalam arsitektur, dibangun dengan bahan-bahan setempat, tidak mewah cukup sehat dan tidak merusak lingkungan. Arsitektur Pondok Pesantren Pabelan memiliki makna yaitu perpustakan sebagai simbol ilmu pengetahuan yang terletak di bagian timur pondok, setelah perpustakaan ada lapangan, yang menggambarkan dunia yang bakal diarungi dengan bekal ilmu pengetahuan itu. Berikutnya masjid, tempat bersujud kepada Allah sebagai perlambangan bahwa apa pun peran yang dibawakan oleh seseorang di dunia, di barat masjid ada komplek pemakaman, sebagai pertanda bahwa hidup tidak langgeng dan pada akhirnya kembali kepada sang pemilik hidup.73

Tidak hanya penghargaan Aga Khan saja, pada tahun 1982 KH. Hamam memperoleh penghargaan Kalpataru dari presiden Republik Indonesia sebagai penyelamat lingkungan.74 KH. Hamam menanam pohon jeruk, segera menjadi pembelajaran bagi santri dan masyarakat, sehingga ketika pohon itu berbuah lebat masyarakat secara otomatis meniru dan santri mengingatnya. KH. Hamam memelihara kambing, ayam, KH. Hamam menata lingkungan pondok sehingga menjadi ijo

72

Umi Musyarrofah, op. cit., h. 47

73Ana Suryana Sudrajat, “Warisan K. H. Hamam Dja’far 1938

-1993 Sekilas Biografi”, dalam

Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 58

74

royo-royo, kiai menerima tamu dari luar negeri, juga ketika kiai memberlakukan santri, semuanya menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat. Bahkan bagaimana santri berpakaian, bagaimana bersikap dan berprilaku santri di luar maupun di dalam Pondok, semuanya akan dibaca masyarakat sebagai bahan pembelajaran.75

KH. Hamam menciptakan lingkungan yang mendidik santri dengan membangun jaringan intelektual dengan berbagai kalangan tidak hanya dari tokoh-tokoh pemikir pendidikan Islam saja, bahkan tokoh pendidikan Katolik Ivan Illich dari AS dan Romo Mangunwijaya.76

e. Lembaga Pendidikan

Manajemen Pondok Pesantren Pabelan pada masa perintisan, KH. Hamam tidak mengelola sendiri namun dibantu oleh beberapa staf dan dijalankan oleh dua lembaga yaitu: lembaga majlis guru dan lembaga tata usaha.77 Dengan berjalannya waktu dalam pengelolan, Pondok Pesantren Pabelan memiliki beberapa lembaga yaitu yayasan Wakaf Pondok Pabelan yakni lembaga paling tinggi dalam tata organisasi Pondok Pabelan, kemudian di bawah pimpinan ada lembaga-lembaga pembantu yang terdiri dari Kulliyat al-Muallimin al-Islamiyah (KMI), Kepengasuhan, Sekretariat Balai Pendidikan Pondok Pabelan, Pepustakaan Pondok Pabelan, Sekretariat Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Pabelan (SPPWPP), Balai Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat (BPPM), Keluarga Besar Pondok Pabelan

75Muhammad Balya, “Kiai Hamam Dja’far Sebagai Pemimpin dan Pendidik”, dalam Ajip

Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h.193

76Zainal Arifin Ahmad, “K. H. Hamam Dja’far dan Manajemen Pen

didikan Berbasis

Masyarakat”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian

Santri, Kerabat, dan Sahabat, Ibid., h. 107

77Moh. Amaluddin, “Kiai Hamam Pemimpin Pondok Pabelan”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, Ibid., h. 394

(KBPP), Pemelihara Tradisi Islam Pabelan (PTIP), Badan Amil Zahat Infak Sedekah (BAZIS).78

f. Media

Pada masa sebelum KH. Hamam memimpin hanya kitab saja medianya, pada masa KH. Hamam menggunakan media yang ada di alam atau lingkungan sekitar, kemudian menggunakan gambar dan benda aslinya. Alhamdullilah sekarang media pembelajaran tidak hanya menggunakan media alam atau gambar saja, namun sekarang sudah ada laboratorium bahasa, tata busana, kimia, fisika, biologi, komputer. Dan sekarang bisa menggunakan proyektor dan lain sebagainya.79

g. Kurikulum

Di Pondok Pabelan tidak diajarkan dikotomi pelajaran agama dan umum, menurut KH. Hamam semuanya adalah ajaran Islam, asalkan diniati ibadah dan mendatangkan kebaikan buat manusia dan masyarakat.80 Pondok Pabelan dengan kesederhanaannya tetap menyediakan guru, walaupun tidak selalu terikat dengan latar belakang pendidikannya, karena waktu itu sangat langka sekali sarjana, sehingga guru-guru yang mengajar sesuai dengan kebutuhan.81

Pabelan berbeda dengan model pesantren yang dikembangkan para kiai terdahulu, Pondok Pabelan di bawah KH. Hamam

menggunakan kurikulum KMI (kuliyatul Mu’alimien Islamiyah)

seperti yang dipakai di almamater beliau yaitu Pondok Moderen

“Darussalam” Gontor, Ponorogo dan pendidikan di kelas dengan

78

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Najib Amin, op. cit. 79

Ibid.

80Komaruddin Hidayat, “Oh Pondokku, Ibuku”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far

Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 20 81

classikal.82 Kemudian tahun 1990-an itu tidak satu pun perguruan tinggi yang menerima lulusan pesantren tanpa ijazah formal. Sehingga resmi tahun 1991 di Pondok Pesantren Pabelan berdiri MTS dan MA. Pondok Pesantren Pabelan tetap menggunakan kurikulum KMI namun kelas 3 dan kelas 6 tetap ikut UN.83 Di Pondok Pesantren Pabelan mempelajari ilmu agama saja namun ilmu-ilmu umum yang lain, seperti berhitung, ilmu bumi, sejarah, aljabar, ilmu ukur, bahasa inggris, dan lain sebagainya.84

Program pendidikan Pondok Pesantren Pabelan ada beberapa macam yaitu sebagai berikut:

1) Pendidikan Umum, menyangkut ilmu pengetahuan umum yang diberikan pada kelas I, II, III setingkat dengan SLTP dan kelas IV, V, VI diberikan pelajaran setingkat dengan SLTA.85

2) Pendidikan Kepramukaa, pendidikan kepramukaan berkaitan dengan kegitan keterampilan dan pembinaan kepribadian, kepramukaan Pondok Pesantren Pabelan bernomor Gugus Depan 12.19/ 12.20-12.71/ 12.72. Pramuka Pondok Pabelan ikut aktif dalam kepengurusan serta kegiatan-kegiatan yang diadakan pramuka Kabupaten Magelang, bahkan tanggal 21-27 Januari 1982 Ahmad Najib Amin salah satu seorang pramuka Penggalang Terap Gugus Depan 1261 Pondok Pesantren Pabelan diberikan kesempatan untuk mewakili Kwarda Pramuka Jawa Tengah mengikuti The Annual Islamic Jamboree di Doha Qatar.86

3) Pendidikan Kesenian, yang diadakan setiap kamis malam setelah

latihan pidato, dan pada jum’at pagi, di antaranya sebagai berikut: folk song, orkes Melayu, drama, baca puisi, seni lukis, kaligrafi,

band, qasidah missal, drum band, qira’ah, seni bela diri. Dengan

82Ahmad Faiz Amin, “KH. Hamam Dja’far di Mata Anak”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 172

83

Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Najib Amin, op. cit.