BAB IV HASIL PENELITIAN
2. Lintas Kehidupan KH Hamam Dja’far
a. Riwayat Hidup KH. Hamam Dja’far
KH. Hamam Dja’far lahir di desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, pada hari sabtu paing, 26 Februari 1938, adalah sulung
dari dua putra pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Hadijah. KH. Hamam Dja’far besar di bawah pengasuhan adik kakek pihak ibu, yaitu kiai
Cholil yang tinggal di sebelah selatan dari masjid Pondok. Dalam
keluarga KH. Hamam Dja’far mengalir darah ulama yang diturunkan oleh Kiai Muhammad Ali bin Kiai Kertotaruno, pendiri Pondok Pabelan (sekitar tahun 1800-an) yang pertama, yang juga pengikut setia Pangeran Diponegoro. Menurut masyarakat setempat, Kiai Kertotaruno adalah keturunana Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa.23
20
Wawancara Pribadi dengan Kiai Ahmad Mustofa, op. cit. 21
Ibid. 22
Wawancara Pribadi dengan Mahfudz Masduki, Pabelan, 9 September 2016.
23Ana Suryana Sudrajat, “Warisan KH. Hamam Dja’far 1938
-1993 Sekilas Biografi”, dalam
Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 60
Hal ini dapat dilihat dari silsilahnya, yaitu Sunan Giri-Kiai Sobo (Juru Mertani)-Kiai Abdul Ghoni-Kiai Kertotaruno-Kiai Muhammad Ali (Pendiri Pondok Pabelan tahun 1800). Kiai Muhammad Ali menurunkan Kiai Imam. Generasi Kiai Muhammad Ali II adalah Kiai Hasbullah-Kiai Anwar-Kiai Dimyati dan Kiai Cholil- Kiai Ja’far-Kiai Hamam dan Kiai Ahmad Mustofa. Sedangkan istri KH. Hamam
Dja’far juga putri kiai, yaitu KH. Abdullah Umar dari Pondok
Banaran yang jika ditarik ke atas bersambung ke Pangeran Diposono, keturunan Hamengku Buwono (HB) III.24
Sewaktu anak-anak KH. Hamam Dja’far diangkat menjadi anak Kiai Cholil, karena beliau tidak dikaruniai anak. Ketika KH. Hamam
Dja’far belum masuk sekolah, pada siang hari ia main di tempat orang tuanya dan di malam hari ia menginap di rumah kiai Choli. Sewaktu sudah masuk sekolah kemudian ia di rumah Kiai Cholil terus. Kiai Cholil seorang kiai yang mengajarkan tafsir Qur’an, disela-sela kesibukkannya, beliau masih sempat mengolah sawah.25
KH. Hamam Dja’far tumbuh dalam lingkungan keluarga yang
selalu dekat dengan agama, dan hidup ditengah-tengah keluarga para kiai yang mengajarkan ilmu-ilmu agama atau keIslaman. Diceritakan oleh Kiai Ahmad Mustofa, bahwa dulu ketika masih kanak-kanak di Pabelan terdapat tiga pondok, yaitu pondok timur, pondok barat, pondok tengah.26
KH. Hamam pastilah beruntung lahir dari keluarga kiai, baik dari pihak ibu maupun ayah. Kakeknya seorang kiai yang bernama Kiai Dimyati dan memiliki seorang ayah juga yang bernama Kiai Anwar.
24Zainal Arifin Ahmad, “KH. Hamam Dja’far dan Manajemen Pendidikan Berbasis
Masyarakat”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian
Santri, Kerabat, dan Sahabat, Ibid., h. 98-99 25
Umi Musyarrofah , op. cit., h. 13. 26
Mbah Buyut pernah menyatakan, saat KH. Hamam berusia tiga tahun, bahwa cucunya itu kelak akan menjadi seorang kiai besar.27
KH. Hamam Dja’far semasa mudanya aktif di Gerakan Pemuda Anshor (merupakan organisasi dibawah wadah Nahdhotul Ulama).
Beliau menikah dengan Djuhanah Rafi’ah, putri Kiai Bakir, pada tahun 1964.28 Pada waktu KH. Hamam Dja’far menyunting, Rr. Hj.
Djuhanah Rafi’ah menjabat sebagai wakil ketua Nasyiatul „Aisiyah
(NA), sedangkan KH. Hamam Dja’far salah satu ketua Pemuda Ansyor.29 Dari pernikahan ini KH. Hamam Dja’far dan Rr. Hj.
Djuhanah Rafi’ah dikaruniai dua anak yaitu Ahmad Najib Amin, lahir
27 Juli 1966, dan Ahmad Faiz Amin, lahir 27 Juni 1971. Ahmad Najib Amin yang beristrikan Nurul Faizah, putri almarhumah Prof. Dr. Husnul Aqib Suminto, kini melanjudkan estafeta kepemimpinan ayahnya di Pondok Pesantren Pabelan.30
Ketika beliau pulang dari Gontor tahun 1963, dalam usia 23
tahun, KH. Hamam Dja’far kembali ke kampung halamannya dan
kemudian menghidupkan kembali Pondok Pesantren Pabelan yang cukup lama vakum karena para santri-santrinya ikut terjun dalam peperangan melawan penjajah Belanda. Dengan menempati tanah seluas lima hektar, Pondok Pesantren Pabelan resmi berdiri kembali tanggal pada 28 Agustus 1965. Dengan niat akan mengadopsi sistem yang dipakai di Gontor. Artinya pesantren yang didirika tahun 1965 adalah pesantren yang sudah mengajarkan juga ilmu-ilmu setingkat pendidian mengengah pertama dan menengah atas kedua.31
27
Komaruddin Hidayat, dkk., Pondok Pabelan dan Mobilitas Kaum Santri, (Jakarta: Pondok Pabelan, 2015), h. xi
28Ana Suryana Sudrajat, “Warisan K. H. Hamam Dja’fa
r 1938-1993 Sekilas Biografi”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 61
29
Umi Musyarrofah, op. cit., h. 16
30Ana Suryana Sudrajat, “Warisan K. H. Hamam Dja’far 1938
-1993 Sekilas Biografi”, dalam
Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat. loc. Cit.
31
KH. Hamam Ja’far wafat pada 17 Maret 1993 pada usia 54 tahun, karena sakit beberapa waktu lamanya dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang putra. Beliau dimakamkan di pemakaman masjid Pondok Pesantren Pabelan. Meski beliau telah tiada, tetapi spirit perjuangan dan pengabdian hidupnya demi agama, Negara, dan bangsa senantiasa mengalir.32
Dalam buku Kiai Hamam Ja’far dan Pondok Pabelan Kesansian Santri, Kerabat, dan Sahabat, Ahmad Najib Amin menuliskan sebagai berikut, Walaupun bapak tidak meninggalkan sesuatu yang bersifat materi (tulisan atau karangan atau kurikulum baku) untuk bisa menjadi pegangan para penerus, tetapi buat saya semua kelihatan jelas, sejelas gaya dan cara bapak mendidik yang lebih sering memberi tantangan bukan tuntunan, lebih sering memberi tugas bukan memberi nasehat, lebih sering memberikan santri mengalami, bukan mendengar cerita pengalaman orang lain.33
b. Latar Belakang Pendidikan KH. Hamam Dja’far
Dari kecil KH. Hamam Dja’far didik langsung oleh Kiai Cholil,
dan KH. Hamam Dja’far juga ngaji di Pondok Pabelan yang awalnya dibagi menjadi tiga pondok.34 Ketika KH. Hamam kecil Pabelan merupakan desa tertinggal dari desa yang lainnya dari berbagai bidang. Ketika beliau remaja dikenal sebagai anak yang disegani, waktu itu ada sekelompok pemuda Pabelan yang menamakan dirinya sebagai pemuda Napoleon, dan ditakuti oleh pemuda-pemuda. Namun
32Zainal Arifin Ahmad, “K. H. Hamam Dja’far dan Manajemen Pendidikan Berbasis
Masyarakat”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian
Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h. 99
33Ahmad Najib Amin, “Bapak Saya, Kiai Hamam Dja’far”, dalam Ajip Rosidi (ed.),
Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, Ibid., h. 169
34Ahmad Mustofa, “Mas Hamam itu Sosok Humanis yang Bersungguh
-Sungguh”, dalam Ajip
Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit., h.152
ketika berhadapan dengan KH. Hamam tunduklah pemuda Napoleon tersebut.35
Melihat desa Pabelan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan Kemudian beliau meneruskan Sekolah Rakyat, setelah menamatkan
Sekolah Rakyat di desanya tahun 1949, KH. Hamam Dja’far
melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam di Muntilan sampai tahun 1952.36
KH. Hamam Dja’far kemudian mondok di Pesantren Tebu Ireng,
Jombang, Jawa Timur. Kemudian beliau mondondok lagi di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur selama kurang lebih 11 tahun (1952-1963). Di Gontor KH. Hamam Dja’far berguru secara langsung
kepada “Trimurti” pendiri Pondok Moderen Darussalam Gontor: KH.
Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fanani, dan KH. Imam Zarkasyi.37 Ketika di Gontor beliau aktif dalam kegiatan kepanduan dan konsulat Magelang.38
3. Usaha-Usaha KH. Hamam Dja’far dalam Menghidupkan Pondok