TINGKAT PERSEPSI DAN ADOPSI PETANI PADI TERHADAP
PENERAPAN
SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
(SRI)
DI DESA SIMARASOK, SUMATERA BARAT
AGUS HARIANTO
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Tingkat Persepsi dan Adopsi Petani Padi terhadap Penerapan System of Rice Intensification (SRI) di Desa Simarasok, Sumatera Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, November 2014
Agus Harianto
ABSTRAK
AGUS HARIANTO. Tingkat Persepsi dan Adopsi Petani Padi terhadap Penerapan System of Rice Intensification (SRI) di Desa Simarasok, Sumatera Barat. Dibimbing oleh SITI JAHROH
System of Rice Intensification atau metode SRI merupakan salah satu metode dalam teknik budidaya padi yang lebih memperhatikan kondisi pertumbuhan tanaman yang lebih baik terutama di zona perakaran jika dibandingkan dengan teknik budidaya tradisional. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat persepsi dan adopsi petani terhadap penerapan metode SRI dalam budidaya padi serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap penerapan metode SRI. Penelitian ini dilakukan di Desa Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Data diperoleh dengan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling
sebanyak 35 orang responden. Selanjutnya, data diolah dengan menggunakan analisis regresi logistik. Data hasil penelitian menunjukkan 57.1 persen responden yang memiliki persepsi baik terhadap penerapan SRI sisanya sebesar 42.9 persen responden memiliki persepsi tidak baik terhadap penerapan metode SRI. Sedangkan tingkat adopsi petani terdapat 51.4 persen responden yang telah menerapkan metode SRI sesuai dengan pedoman SRI dan terdapat 48.6 persen petani yang tidak menerapkan sesuai dengan pedoman penerapan budidaya metode SRI. Berdasarkan analisis regresi logistik, terdapat tiga variabel terbukti berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi petani terhadap penerapan metode SRI yaitu lama usahatani, usia dan tingkat persepsi.
Kata kunci: analisis regresi logistik, budidaya padi, purposive sampling
ABSTRACT
AGUS HARIANTO. Perception and Adoption of Rice Farmers in Implementing System of Rice Intensification (SRI) at Simarasok Village, West Sumatera. Supervised by SITI JAHROH
System of Rice Intensification or SRI is one of the methods in rice cultivation techniques. SRI is a rice cultivation practice that gives more attention to the conditions of better plant growth, especially in the root zone compared to traditional cultivation techniques. The aims of this study are to identify the perception and adoption level of farmers’ adoption in implementing SRI method and to analyze the factors that influence the adoption of SRI method. A questionnaire survey was conducted at Simarasok Village, Baso Sub-district, Agam District, West Sumatera to 35 farmers by purposive sampling. The data were processed by using logistic regression. The results showed that 57.1 percent of respondents had a good perception of the adoption of SRI while the remaining 42.9 percent had a bad perception. Meanwhile, the adoption rate of farmers was 51.4 percent of respondents have implemented the method in accordance with the guidelines of SRI and the remaining 48.6 percent have not yet. Logistic regression analysis showed that there were three variables that significantly affect the rate of SRI adoption which are farming experience, age and level of perception.
TINGKAT PERSEPSI DAN ADOPSI PETANI PADI TERHADAP
PENERAPAN
SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
(SRI)
DI DESA SIMARASOK, SUMATERA BARAT
AGUS HARIANTO
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Tingkat Persepsi dan Adopsi Petani Padi terhadap Penerapan
System of Rice Intensification (SRI) di Desa Simarasok, Sumatera Barat
Nama : Agus Harianto
NIM : H34100007
Disetujui oleh
Siti Jahroh, PhD Pembimbing Skripsi
Diketahui oleh
Dr Ir Dwi Rachmina, MSi Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret sampai April 2014 ini adalah usahatani, dengan judul Tingkat Persepsi dan Adopsi Petani Padi terhadap Penerapan System of Rice Intensification (SRI) di Desa Simarasok, Sumatera Barat.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Siti Jahroh, Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam upaya penyempurnaan skripsi ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga atas doa dan dukungan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Drs. John Ismedi selaku kepala Unit Pelayanan Pertanian Kecamatan Baso Provinsi Sumatera Barat beserta rekan kerja yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam proses pengambilan data. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Dr. Megawati Simanjuntak, SP, M.Si dan Rico Juni Artanto, S.KH yang telah memberikan semangat dan arahan kepada penulis. Rasa terimakasih juga penulis sampaikan kepada Beasiswa Bidikmisi yang telah membantu penulis dalam pembiayaan kuliah dari semester satu hingga semester delapan sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih atas dukungan sahabat seperjuangan Ade Nurjaman, Mohammad Rizal Izzati, Laras Lestari, Munawaroh, Ali Mahmudin, Azmal Gusri Berliansyah, Irvan Afikri, Jaka Rahmaddan serta rekan-rekan agribisnis angkatan 47 semasa perkuliahan yang telah menorehkan cerita dan memberikan warna indah di kampus tercinta ini serta kepada seluruh pihak yang tidak dapat diucapkan satu per satu.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, November 2014
DAFTAR ISI
Penelitian Adopsi dan Persepsi Masyarakat terhadap Metode SRI
4
DAFTAR TABEL
1 Teori-teori prinsip dasar penerepan metode SRI 6
2 Pola pengaturan air metode SRI 11
3 Prinsip dasar penerapan metode SRI berdasarkan Dinas Pertanian Provinsi
Sumatera Barat 16
4 Data jumlah penduduk wilayah Desa Simarasok 28
5 Data jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian (petani dan non petani)
wilayah Desa Simarasok 29
6 Data luas penggunaan lahan usahatani wilayah Desa Simarasok 30
7 Penyebaran kategori usia pada responden 31
8 Penyebaran 4 kategori lama pendidikan pada responden 31 9 Penyebaran kategori lama pelatihan pertanian yang diterima pada responden 32 10 Penyebaran kategori lama pengalaman usahatani responden 32
11 Penyebaran kategori luas lahan responden 33
12 Persentase tingkat persepsi petani terhadap penerapan metode SRI 34 13 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI 34 14 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI seleksi benih 35 15 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI pemindahan bibit
ke lahan 35
16 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI jumlah
penanaman bibit perlubang 36
17 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI jarak tanam 36 18 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI penggunaan
pupuk organik 37
18 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI pengaturan air
macak-macak 37
20 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI pengendalian
hama secara alami 38
21 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI pengendalian
gulma 38
22 Tingkat adopsi responden terhadap penerapan metode SRI pengendalian
gulma sebanyak dua kali 38
23 Dugaan parameter regresi logistik biner berdasarkan omnibus test of model coefficient dengan metode enter
39 24 Dugaan parameter regresi logistik biner berdasarkan hosmer dan lemeshow
test 39
25 Dugaan parameter regresi logistik biner berdasarkan negelkerke R square 40 26 Dugaan parameter regresi logistik biner berdasarkan variables in the
DAFTAR GAMBAR
1 Benih hampa dan benih bernas pada perendaman air garam 8
2 Benih muda yang siap dipindahkan ke lahan sawah 9
3 Jarak tanam dan tanam tunggal pada metode SRI 10
4 Pola pengaturan macak-macak pada metode SRI 10
5 Bagan kerangka berpikir penelitian persepsi dan tingkat adopsi petani
terhadap metode SRI 22
6 Peta Kecamatan Baso 27
7 Sebaran umur penduduk Desa Simarasok 29
DAFTAR LAMPIRAN
1 Produksi, luas panen, produktivitas, dan persentase produktivitas padi di
Provinsi Sumatera Barat tahun 2013 49
2 Tabulasi hasil perhitungan tingkat persepsi petani terhadap penerapan
metode SRI 50
3 Tabulasi hasil perhitungan tingkat adopsi petani terhadap penerapan metode
SRI 52
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemenuhan pangan merupakan kebutuhan primer manusia. Namun, dalam proses pemenuhan pangan tersebut seringkali terjadi kendala karena adanya ketidaksesuaian antara pangan yang tersedia dan kebutuhan bahan pangan. Rendahnya produktivitas hasil pertanian dan masih banyaknya petani yang kehilangan hasil pertanian saat melakukan panen menjadi kendala tercapainya ketahanan pangan.
Pada tahun 1960-an, sebagai tanggapan atas kekhawatiran terhadap masalah ketahanan pangan, pemerintah meluncurkan sebuah program nasional yang sekarang kita kenal dengan nama revolusi hijau. Revolusi hijau merupakan usaha pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan. Revolusi hijau mengubah metode usahatani dari pertanian yang menggunakan teknologi tradisional menjadi pertanian yang menggunakan teknologi yang lebih maju atau modern. Hasilnya, secara signifikan produktivitas padi meningkat lebih dari dua kali lipat. Keberhasilan peningkatan produktivitas padi erat kaitannya dengan dinamika intensifikasi yang didukung oleh pendekatan dan teknologi revolusi hijau dengan andalan utama Varietas Unggul Baru (VUB) yang didukung oleh sarana irigasi, teknologi pemupukan, dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dukungan penggunaan benih bermutu, pergantian varietas unggul, dan pemupukan berimbang (Las 2009).
Hingga tahun 1990-an, pendekatan dan penerapan teknologi revolusi hijau mampu meningkatkan produksi padi di Asia dengan indeks kenaikan yang lebih tinggi dari indeks kenaikan jumlah penduduk. Kenaikan produksi padi di Asia Tenggara secara signifikan dialami oleh Indonesia, Vietnam, dan Myanmar, sedangkan di Asia Selatan dan Asia Timur terjadi di India dan Cina. Namun, dalam 15 tahun terakhir, laju kenaikan produksi padi melandai (leveling off). Hal ini terkait dengan lambatnya laju kenaikan hasil padi per satuan luas dalam periode tersebut. Produksi padi dengan teknologi revolusi hijau ternyata telah mencapai batas maksimal dan tidak dapat ditingkatkan lagi. Bahkan pada tahun-tahun tertentu, produksi menurun akibat kemarau panjang (El Nino) dan dampaknya berupa ledakan hama dan penyakit. Pada tahun 1999, pemerintah kembali membuka sebuah metode baru untuk diterapkan di Indonesia demi menjawab tantangan ketahanan pangan. Metode ini kemudian dikenal dengan
System of Rice Intensification (SRI).
yang didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka dan Bangladesh dengan hasil yang positif (Berkelaar 2001).
Beberapa penelitian telah membuktikan hasil yang signifikan dari metode SRI. Percobaan-percobaan di lapangan juga telah memperlihatkan hasil yang memuaskan. Hasil percobaan pertama dilakukan di Sukamandi Jawa Barat pada musim kemarau tahun 1999. Berdasarkan hasil penelitian, produktivitas padi dengan metode SRI mencapai 6.2 ton/ha, sedangkan untuk tanah kontrol hanya mencapai 4.1 ton/ha. Pada musim penghujan produktivitas padi dengan metode SRI mencapai 8.2 ton/ha. Penelitian serupa juga dilakukan di wilayah bagian timur Jawa Barat pada tahun 2002 oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Adventist Development and Relief Agency (LSM ADRA) yang bekerja sama dengan tujuh petani yang menggunakan metode SRI. Hasil yang didapatkan sebelum menggunakan metode SRI produktivitasnya hanya mencapai 4.4 ton/ha, setelah menerapkan metode SRI produktivitas meningkat hingga 7-11 ton/ha sedangkan di Lampung produktivitas rata-rata mencapai 8.5 ton/ha yang awalnya hanya 3 ton/ha (Wardana et al. 2005).
Seiring dengan adanya peningkatan produksi maka penerapan metode SRI juga dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniadiningsih dan Legowo (2011) tentang perbandingan pendapatan budidaya padi dengan metode konvensional dan metode SRI menunjukkan penerimaan usahatani dengan menggunakan metode konvensional sebesar Rp7 342 200 per hektar per musim sedangkan dengan menggunakan metode SRI pendapatan petani meningkat menjadi Rp12 277 800. Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan, ternyata metode SRI mampu meningkatkan pendapatan hingga 59.8 persen.
Meskipun penerapan budidaya padi menggunakan metode SRI dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani tetapi di beberapa daerah belum memperlihatkan hasil yang signifikan. Tidak semua daerah menerapkan metode SRI sesuai dengan anjuran. Kasus di Sumatera Barat, penerapan SRI masih sedikit meskipun sudah disosialisasikan dari tahun 2000. Demikian halnya di Desa Simarasok, Kabupaten Agam saat ini banyak petani yang mengadopsi metode SRI tidak sesuai dengan anjuran penerapan SRI. Oleh karena itu, perlu diketahui alasan yang mendasari masyarakat tidak menerapkan metode SRI sesuai dengan anjuran dan lebih lanjut mengetahui tingkat persepsi dan adopsi petani terhadap metode SRI. Tingkat persepsi petani merupakan pandangan petani terhadap metode SRI. Sedangkan adopsi merupakan tingkat penyerapan metode baru pada usahatani padi. Kedua hal ini diduga berhubungan. Adopsi petani diduga dipengaruhi oleh tingkat persepsi petani. Selanjutnya, perlu juga diteliti faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap metode SRI.
Perumusan Masalah
dengan Pemerintah Sumatera Barat khususnya Dinas Pertanian Sumatera Barat dalam mengupayakan sosialisasi metode SRI. Nama dari SRI diubah menjadi
“Padi Tanam Sabatang” yang dikenal dengan nama PTS. Nama ini lebih lazim
digunakan masyarakat Sumatera Barat (Agustamar dan Syarif 2007). Program PTS diterapkan di sentra-sentra produksi padi Sumatera Barat salah satunya adalah di Kabupaten Agam yang merupakan penghasil padi terbanyak kedua yaitu sebanyak 12.61 persen dari total produksi padi di Sumatera Barat (Produksi padi di Sumatera Barat lihat Lampiran 1).
Tantangan utama bagi pengembang SRI adalah sulitnya meyakinkan para petani bahwa metode yang telah digunakan selama bertahun-tahun (membanjiri tanah pertanian, menaruh beberapa bibit per lubang, dan membajak tanah dengan dalam) benar-benar menghambat dan bukan menghasilkan tanaman yang sehat serta meningkatkan hasil tinggi. Sulitnya meyakinkan para petani menimbulkan masalah rendahnya tingkat adopsi petani terhadap metode SRI. Asumsi bahwa metode baru yang dibawa adalah metode yang berbelit-belit merupakan faktor utama menjadi ketidakberkembangan metode SRI. Adopsi yang rendah dari petani secara otomatis memengaruhi tingkat penerapan petani dalam menggunakan metode SRI.
Pada kenyataannya, tidak semua daerah dapat menerima dan menerapkan metode SRI pada sawah mereka. Banyak kendala dan faktor penyebab yang harus ditemukan dan dikaji lebih lanjut. Hal ini menjadikan setiap daerah memiliki karakteristik persepsi dan kecenderungan adopsi metode SRI yang berbeda-beda. Salah satu daerah yang telah menerapkan metode SRI adalah Desa Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Daerah ini merupakan salah satu lumbung padi di Sumatera Barat. Namun, penerapan metode SRI masih belum sesuai dengan cara dan ketentuan sebenarnya sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis tingkat persepsi masyarakat terhadap SRI dan korelasi antara karakteristik petani terhadap peluang menerapkan metode SRI sesuai anjuran.
Tingkat adopsi SRI diduga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal petani. Faktor tersebut dapat disebabkan oleh faktor sosial, karakter petani, topografi daerah, dan kondisi politik daerah setempat. Dalam penelitian ini akan diteliti faktor karakteristik petani yang terdiri atas umur, lama pelatihan, pendidikan, luas penguasaan lahan, persepsi, dan pengalaman usahatani. Sehingga, pada penelitian ini fokus menjawab beberapa pertanyaan terkait tingkat adopsi dan persepsi petani, yaitu:
1. Bagaimana persepsi petani Desa Simarasok terhadap penerapan metode SRI?
2. Bagaimana tingkat adopsi petani Desa Simarasok terhadap penerapan metode SRI?
3. Apakah karakteristik dan persepsi petani memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap metode SRI?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
2. Mengidentifikasi tingkat adopsi petani Desa Simarasok terhadap penerapan SRI.
3. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap metode SRI.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Dapat mengetahui tingkat persepsi dan adopsi petani terhadap penerapan metode SRI dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
2. Memberikan alternatif, saran, dan masukan terhadap permasalahan tingkat adopsi metode SRI di Desa Simarasok khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di Desa Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dengan target responden adalah petani padi yang telah menerapkan metode penanaman padi secara SRI. Kabupaten Agam adalah salah satu sentra padi di Sumatera Barat. Metode SRI juga telah diterapkan di daerah ini. Sedangkan lingkup kajian yang akan diteliti adalah mengenai persepsi dan tingkat adopsi petani padi terhadap metode SRI.
TINJAUAN PUSTAKA
Perkembangan System of Rice Intensification
SRI atau System of Rice Intensification atau Le Systéme de Riziculture Intensive bukan merupakan varietas padi baru ataupun padi hibrida, namun suatu metode atau cara penanaman dan perawatan padi (Suitna dan Utju 2010). Dalam istilah lain SRI (System of Rice Intensification) diartikan sebagai salah satu pendekatan dalam praktik budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan (Deptan dalam
Tarbiah 2010). Berdasarkan kedua penjelasan ini dapat diambil kesimpulan bahwa SRI merupakan sebuah terobosan baru dalam budidaya tanaman padi dengan cara mengefisienkan input untuk memperoleh hasil output yang maksimal dan ramah ligkungan.
Secara historis, metode SRI pertama kali ditemukan secara tidak sengaja di Madagaskar antara tahun 1983 sampai 1984 oleh biarawan Yeswit asal Perancis bernama FR. Henri de Laulani, S.J. Metode ini selanjutnya dalam bahasa Perancis dinamakan Le Systéme de Riziculture Intensive dan bahasa Inggris dengan nama
dibentuk Association Tefy Sains (ATS), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Madagaskar untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institute for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerjasama dengan Tefy Sains untuk memperkenalkan SRI di sekitar
Ranomafama National Park di Madagaskar Timur yang didukung oleh US Agency for International Development. Metode SRI juga telah diuji di berbagai Negara di Kawasan Asia, termasuk Asia Selatan seperti, India, Bangladesh, dan Srilangka, serta di negara kawasan Asia Tenggara seperti, Filipina dan Vietnam serta di Cina Daratan dengan hasil yang positif (Berkelaar 2001).
Pada tahun 1999, kerjasama Nanjing Agricultural University di China dan AARD (Agency for Agriculture Research and Development) di Indonesia melakukan percobaan pertama di luar Madagaskar. SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director of Cornell International Institute for Food, Agriculture and Development). Pada tahun 1997 Uphoff mengadakan presentasi di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan diluar Madagaskar. Sampai dengan tahun 2006, SRI telah berkembang di beberapa negara, yaitu Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar, Philipina, Thailand, Vietnam, Banglades, Cina, India, Nepal, Srilangka, Gandia, Afganistan, Irak, Iran, Pakistan, Burkina Faso, Ethiopia, Guinea, Mali, Zambia, Kolombia dan Republik Dominika. Di Indonesia, uji coba teknik SRI pertama dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Sukamandi Jawa Barat pada musim kemarau 1999 dengan hasil 6.2 ton/ha dan pada musim hujan 1999/2000 menghasilkan padi rata-rata 8.2 ton/ha. SRI juga telah diterapkan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang sebagian besar dipromosikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (Wardana et al. 2005).
Metode System of Rice Intensification
Penerapan budidaya padi dengan menggunakan metode SRI memberikan beberapa keunggulan. Adapun keunggulan tersebut menurut Mutakin (2005), yaitu:
1. Tanaman hemat air, selama pertumbuhan mulai dari tanam sampai panen digenangi air maksimal 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus).
2. Hemat biaya karena hanya membutuhkan benih 5 kg/ha. Metode SRI tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, biaya pindah bibit, dan tenaga untuk proses penanaman kurang.
3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hari setelah tanam sehingga waktu panen akan lebih awal.
4. Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha.
5. Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk kompos, pupuk kandang, dan mikro-organisme lokal).
disampaikan oleh Berkelaar (2001), Mutakin (2005), LSK Bina Bakat Surakarta (2011), dan Dinas Pertanian Sumatera Barat (2008) yang menjelaskan beberapa prinsip penerapan metode SRI dalam Tabel 1 berikut:
Tabel 1 Teori-teori prinsip dasar penerapan metode SRI Prinsip Dasar Teori
Menggunakan Menggunakan Menggunakan
Prinsip Dasar Teori
Dilakukan Dilakukan Dilakukan Dilakukan
Dinas Pertanian Sumatera Barat dadalah adanya penyeleksian benih dengan perendaman air garam. Berikut dijelaskan prinsip-prinsip dasar yang diterpkan oleh Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat.
1. Perendaman dengan Air Garam
Persemaian SRI dilakukan dengan cara kering (tidak digenang). Persemaian bisa dilakukan dilahan sawah/darat, pekarangan, atau di media buatan seperti nampan. Media tumbuh persemaian berupa campuran tanah dengan bahan organik dengan perbandingan 1:1. Sebelum benih disemai perlu dilakukan uji benih bermutu/bernas dengan menggunakan larutan garam. Benih diuji dengan melakukan perendaman dengan air garam. Benih yang dianggap bernas adalah benih yang terendam, sedangkan benih yang terapung dianggap tidak bernas sehingga tidak baik untuk disemai. Berikut gambar perendaman benih dengan air garam.
Gambar 1. Benih hampa dan benih bernas pada perendaman air garam Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat (2008) 2. Bibit Umur Muda
Demikian halnya dengan metode konvensional, sebelum melakukan pembenihan terlebih dahulu dilakukan pemilihan benih yang unggul dan baik. Pada implementasi metode budidaya padi secara konvensional, sebagian besar petani cenderung menggunakan bibit yang relatif tua yaitu sekitar 25 hingga 30 hari. Kecendrungan ini didasari pada kemudahan dalam pencabutan benih, asumsi ketahanan terhadap hama dan penyakit, kemudahan pada penanaman, dan asumsi akan lebih cepat hidup. Kenyataannya, penggunaan bibit berumur tua berakibat pada jumlah anakan yang tidak maksimal dan pertumbuhan yang terhambat karena terjadinya stagnansi akibat tidak tercabutnya semua daya jelajah akar. Dalam praktiknya, menanam bibit padi yang berumur 5–15 hari menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih cepat karena pada saat pemindahan bibit akar tercabut semua. Bahkan, ketika tanaman padi telah berumur 13 hari setelah tanam, jumlah anakan sudah mencapai rata‐rata 5 batang. Jumlah anakan ini berpotensi untuk terus bertambah sesuai dengan perkembangan umur tanaman. Praktik yang sudah dilakukan dengan menggunakan bibit tanaman umur 10 hari, menghasilkan jumlah anakan maksimal 30 sampai 50 batang dalam setiap rumpunnya.
Benih Hampa (tidak bernas)
Gambar 2. Benih muda yang siap dipindahkan ke lahan sawah Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat (2008) 3. Tanam Tunggal
Pada metode konvensional, petani menggunakan bibit rata-rata 3 hingga 5 batang per lubang, bahkan sebagian petani menggunakan 6 hingga 12 bibit per lubang. Asumsi petani terhadap jumlah penanaman padi ini adalah semakin banyaknya padi yang ditanam maka akan menghasilkan malai dan bulir yang lebih banyak. Selain itu, dengan banyaknya batang yang ditanam maka dapat mengantisipasi serangan hama. Kenyatannya, dengan menanam jumlah yang banyak setiap lubang maka terjadi kompetisi hara dan matahari. Akibatnya padi yang tumbuh tidak akan menghasilkan malai yang banyak bahkan anakan tidak berkembang secara cepat. Dengan metode SRI penanaman bibit hanya 1 hingga 3 bibit per lubang maka proses pertumbuhan bibit akan cepat dan malai yang dihasilkan pun lebih banyak.
4. Jarak Tanam
Gambar 3. Jarak tanam dan tanam tunggal pada metode SRI
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat (2008) 5. Penggunaan Pupuk Organik
Tanaman akan tumbuh dengan baik jika berada dalam lahan yang memiliki kualitas baik. Lahan yang berkualitas baik adalah lahan yang memiliki unsur hara mencukupi bagi tanaman, memiliki keanekaragaman mikroorganisme yang mampu menjaga kesuburan tanah, dan terbebas dari pencemaran. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida (buatan pabrik) dalam jumlah yang tinggi, terbukti telah memberikan dampak atas turunnya kualitas tanah. Untuk itu diperlukan perbaikan‐perbaikan penggunaan bahan organik atau pupuk organik sebagai syarat mutlak yang harus dilakukan dalam memperbaiki kualitas tanah tersebut. Penggunaan bahan organik telah terbukti mampu memperbaiki struktur tanah dan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman (Barkelaar 2001).
6. Pengaturan Air
Padi telah lama diyakini sebagai tanaman air. Sejumlah ahli menyatakan bahw padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasarkan pada adanya tipe padi yang hidup di rawa‐rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan).
Gambar 4. Pola pengaturan macak-macak pada metode SRI
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat (2008)
Jarak tanam 25 cm
Tanaman padi memang membutuhkan air pada sebagian tahap kehidupannya, sehingga dalam praktik budidaya, tanaman padi selalu diupayakan dalam genangan. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek sebagai syarat tumbuh. Untuk itu, tanaman padi sebenarnya tidak perlu air yang melimpah (penggenangan), namun juga tidak dalam situasi tanah kering. Dengan demikian, diperlukan pengaturan air dengan bijaksana. Dalam praktiknya, air yang diperlukan adalah macak‐macak (becek). Dengan pengaturan air yang baik, akan terjaga aerasi tanah yang baik pula. Aerasi yang baik adalah syarat tumbuh yang baik bagi tanaman padi. Jika sawah selalu digenangi air maka aerasi (siklus udara dalam tanah) tidak maksimal sehingga tanah menjadi asam, tanaman menjadi mengkrek (jawa; keasaman) yang akhirnya dibutuhkan pengapuran dan pengeringan. Berikut disajikan pola pengaturan air dengan metode SRI:
Tabel 2 Pola pengaturan air metode SRI
Umur (hst) Keadaan tanaman Pengaturan air
0-7 Saat tanaman pindah Air macak-macak
7-41 Anakan aktif sampai mejelang anakan maksimum
Pemberian air berselang 5 hari digenangi maksimal 3 cm
41-90 Primordia, pembuangan,
pengisian gabah hingga sepuluh hari sebelum panen
Digenangi air maksimal 3 cm, paling tidak macak-macak
90-100 10 hari sebelum panen Lahan dikeringkan
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat (2008) 7. Pengendalian hama
Pengendalian hama dalam metode SRI harus menerapkan cara organik dengan konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yaitu pada dasarnya menjaga kesehatan tanaman mengendalikan hama dengan memperhatikan sisi ekonomi serta melestarikan sumber daya hayati. Penggunaan pestisida harus dibatasi agar tidak terjadi kekebalan hama.
8. Pengendalian gulma dengan metode organik
Pengendalian gulma dilakukan secara manual seperti wangkil dan landak dengan cara dicabut menggunakan tangan merupakan cara yang bijak. Teknologi PHT akan lebih efektif dengan menggunakan sistem jajar legowo karena padi akan mendapatkan udara yang cukup dan memudahkan dalam perawatan tanaman.
9. Pengendalian gulma 2 kali
Penggunaan Teori Persepsi dan Adopsi Rogers
Beberapa peneliti seperti Putri (2011), Pamungkas (2013), dan Nurfitri (2014) menggunakan teori Rogers dalam mengkaji persepsi dan adopsi petani terhadap suatu inovasi. Putri (2011) menggunakan acuan tahapan proses adopsi teori Rogers yaitu 5 tahapan pengambilan keputusan inovasi. Pengambilan keputusan oleh petani, baik berupa penolakan maupun penerimaan suatu inovasi tidak terlepas dari berbagai pertimbangan menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu teknologi bagi pengusahanya (petani). Terdapat beberapa tahapan dalam proses pengambilan keputusan inovasi menurut Rogers (1983), yaitu terdiri dari (1) knowledge, yaitu individu mulai mengenal adanya inovasi dan memperoleh berbagai pengertian tentang bagaimana fungsi/kegunaan dari inovasi tersebut; (2) persuasion, yaitu individu mulai membentuk sikap suka-tidak suka terhadap inovasi; (3) decision, yaitu individu melakukan aktivitas yang akan membawanya kepada pembuatan suatu pilihan untuk memutuskan menerima atau menolak inovasi; (4) implementation, yaitu individu menggunakan inovasi yang telah ia putuskan untuk digunakan; dan (5) confirmation, yaitu individu mencari penguatan atas keputusan yang telah ia ambil, atau dapat menolak inovasi tersebut apabila bertentangan dengan pengalaman sebelumnya.
Putri (2011) meneliti hubungan antara persepsi petani terhadap penerapan padi organik yang dilihat dari lima aspek karakteristik inovasi. Adapun kelima aspek persepsi tersebut meliputi aspek keuntungan relatif (relative advantage), kesesuaian (compatibility), kerumitan (complexity), kemungkinan untuk dicoba dalam skala yang lebih kecil (trialability), serta kemungkinan hasilnya dapat diamati (observability). Pengkategorian persepsi dilihat dari dua kategori, yaitu persepsi yang netral dan persepsi yang positif.
Hasil penelitian menunjukkan, sebesar 100 persen petani menilai bahwa inovasi pertanian padi organik menguntungkan, sehingga tergolong ke dalam tingkat persepsi petani yang positif. Sebagian besar para petani tergolong ke dalam kategori tingkat persepsi terhadap karakteristik inovasi pertanian padi organik yang positif dengan persentase sebesar 86 persen dan sebanyak 14 persen petani lainnya tergolong ke dalam persepsi yang netral/sedang pada aspek karakteristik kesesuaian (compatibility). Aspek kerumitan (complexity) menunjukkan bahwa para petani di Kampung Ciburuy sebagian besar tergolong ke dalam tingkat persepsi yang positif dengan persentase sebesar 95 persen dan 5 persen petani lainnya tergolong ke dalam tingkat persepsi yang netral tentang karakteristik inovasi pertanian padi organik. Aspek karakteristik inovasi pertanian padi organik pada kemungkinan untuk dicoba dalam skala kecil (trialability) menunjukkan sebagian besar petani tergolong ke dalam tingkat persepsi yang positif dengan persentase sebesar 95 persen dan 5 persen petani lainnya tergolong ke dalam kategori persepsi yang netral/sedang tentang karakteristik inovasi pertanian padi organik. Semua petani di Kampung Ciburuy tergolong ke dalam kategori persepsi yang postif tentang karakteristik inovasi pertanian padi organik dengan persentase sebesar 100 persen pada aspek kemungkinan hasilnya dapat diamati (observability).
aspek karakteristik inovasi sama halnya dengan penelitian Putri (2011). Setiap prinsip dasar penerapan SRI dikaji berdaraskan karakteristik inovasi secara deskriptif. Pengkategorian aspek karakteristik inovasi berdasarkan atas dua kelompok yaitu aspek karakteristik tergolong rendah dan tinggi.
Selanjutnya, karakteristik inovasi dikorelasikan dengan tingkat adopsi petani terhadap penerapan metode SRI. Berdasarkan penelitian, sebanyak 60 persen petani telah mengadopsi teknik satu bibit per rumpun. Dengan teknik SRI ini produktivitas hasil usahatani meningkat 80 persen dan penggunaan pupuk menurun hingga 33 persen. Sifat inovasi (keuntungan relatif, kesesuaian, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas) berhubungan positif dengan keputusan adopsi teknik satu bibit per rumpun. Hal tersebut menunjukan bahwa petani di Desa Purwasari sudah berfikir secara rasional dalam mengadopsi inovasi pertanian. Keputusan adopsi inovasi oleh petani didasarkan pada penilaian secara obyektif dari sifat-sifat yang dimiliki inovasi.
Nurfitri (2014) mengkaji hubungan antara karakteristik petani terhadap tingkat adopsi pada penerapan budidaya sayur organik di Desa Cikarawang Bogor. Teori yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pada teori Rogers dan Shoemaker (1971) yang mengatakan bahwa karakteristik seseorang akan ikut memengaruhi persepsi dan selanjutnya akan memengaruhi tindakan atau perilaku. Karakterisitik personal menurut Rogers (1983) meliputi status sosial-ekonomi, ciri kepribadian, dan perilaku komunikasi. Secara lebih rinci karakteristik personal tersebut dijabarkan lagi ke dalam umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, jumlah keluarga, pengalaman berusahatani, usaha keluarga, penghasilan keluarga, kekosmopolitan, partisipasi, kelembagaan masyarakat, partisipasi dalam kelompok, dan kontak media. Karakteristik adopter diduga kuat memiliki hubungan dengan persepsi seseorang dalam kaitannya dengan proses adopsi inovasi, menyangkut pencaharian terhadap ide-ide baru. Nurfitri (2011) menduga terdapat tujuh karakteristik petani yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi petani yaitu umur, pendidikan formal, luas penguasaan lahan, pengalaman usahatani, lama bermitra, status pekerjaan, dan status lahan yang diusahakan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua karakteristik petani berpengaruh nyata terhadap penerapan budidaya sayur organik yaitu tingkat pendidikan dan pengalaman usahatani.
Teori-teori Rogers yang digunakan oleh para peneliti tentang adopsi dan inovasi merupakan proses adopsi yang terdiri dari tahapan-tahapan adopsi, teori persepsi yang disebut sebagai lima karakteristik inovasi, dan keterkaitan antara karakteristik adopter terhadap tingkat adopsi. Teori-teori ini kemudian dikembangkan dalam sudut pandang yang berbeda untuk mengidentifikasi permasalahan terkait adopsi inovasi.
Penelitian Adopsi dan Persepsi Masyarakat terhadap Metode SRI
Kajian tentang System of Rice Intensification (SRI) merupakan kajian yang selalu menjadi trend topik untuk dibicarakan terbukti dengan banyaknya tulisan jurnal yang membahas tentang SRI. Banyak penelitian yang mengkaji dan meneliti tentang segala aspek terkait metode SRI. Kajian tersebut diantaranya tingkat pendapatan, efesiensi metode SRI, keunggulan, dan tingkat penerimaan masyarakat tertentu terhadap metode SRI.
memberikan keuntungan lebih kepada petani. Dengan demikian, hal ini akan memengaruhi persepsi dan adopsi petani terhadap teknologi tersebut. Penelitian Kurniadiningsih dan Legowo (2011) tentang perbandingan keuntungan yang diperoleh ketika seorang petani menerapkan metode SRI dengan metode konvensional terlihat perbedaan penerimaan antara keduanya. Metode yang digunakan adalah survei dan wawancara, dengan membandingkan hasil data sebelum menggunakan SRI dan setelah menggunakan SRI di desa yang sama. Berdasarkan analisis usahatani penggunaan biaya ternyata dengan menggunakan metode SRI mengeluarkan biaya lebih banyak dibanding metode konvensional yaitu Rp 4 160 000 dengan metode SRI dan Rp 3 825 000 untuk metode konvensional. Hasil penerimaan usahatani dengan menggunakan metode SRI pendapatan petani meningkat menjadi Rp 12 277 800 sedangkan dengan metode konvensional penerimaan hanya sebesar Rp 7 342 200 per hektar per musim.
Kurniadiningsih dan Legowo (2011) juga menganalisis faktor eksternal pendorong dalam percepatan adopsi metode SRI oleh petani. Data dianalisis dengan metode kualitatif deskripsi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa hal yang menjadi kunci utama penerimaan petani untuk menerapkan metode SRI. Adapun hal tersebut adalah sistem penyuluhan yang mudah dimengerti petani, frekuensi penyuluhan yang intensif setiap minggu, lokakarya petani yang dilakukan setiap dua bulan secara bergilir oleh petani sendiri di tiap Koperasi Simpan Pinjam (KSP), dan orientasi pembelajaran petani yang menekankan perubahan pola pikir dan perilaku yang ramah lingkungan.
Penelitian lain dijelaskan Richardson (2010) tentang kemampuan petani-petani Indonesia menerima metode SRI untuk diterapkan sebagai sebuah terobosan baru dalam budidaya tanaman padi. Richardson menggunakan metode kualitatif dalam mengolah dan menyajikan data hasil penelitian tentang adopsi SRI di Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian diketahui faktor-faktor eksternal responden yang paling berpengaruh terhadap tingkat adopsi petani terhadap metode SRI adalah peranan penyuluh. Petani diyakinkan untuk menerapkan metode SRI oleh penyuluh pertanian yang mengerti tentang situasi petani di Indonesia. Penyuluh mengajarkan petani di sekolah lapangan dalam bahasa yang sederhana. Hal terpenting adalah petani merasa nyaman dan memercayai orang yang mengajari mereka. Petani lebih mungkin mengubah metode penanaman padi yang penuh dengan resiko, jika resiko untuk mencoba metode baru lebih rendah atau jika dapat berbagi resiko pada kelompok petani. Oleh karena itu, petani-petani dan keluarganya sangat puas dengan metode SRI. Berdasarkan petani-petani yang diwawancarai, semuanya percaya bahwa prospek usahatani berhasil di masa depan dengan metode SRI bahkan mereka ingin terus memakai metode SRI dan melakukan lebih banyak dengan prinsip setiap tahun.
usahatani, luas lahan, status kepemilikan lahan, dan status keanggotaan kelompok tani. Sedangkan pertanyaan terhadap persepsi disusun berdasarkan atas 10 pernyataan terkait pendapat responden terhadap produktivitas VUB, keuntungan yang dapat diperoleh, kemudahan teknis budaya, resiko kegagalan, kebiasaan, kesesuaian agroekosistem, harga gabah, rasa nasi, dan kesesuaian permintaan pasar. Untuk mengetahui hubungan tingkat adopsi dengan variabel bebas tersebut Sugandi dan Astuti (2011) menggunakan analisis regresi logistik yang kemudian diolah dengan software SPSS versi 17. Berdasarkan hasil penelitian, persepsi petani terhadap VUB diolah secara deskriptif diperoleh 53 responden. Sebanyak 86.89 persen memiliki persepsi yang baik terhadap VUB, sedangkan yang lainnya sebanyak 13.11 persen memiliki persepsi yang kurang baik. Selanjutnya, setelah dilakukan pengolahan data dengan SPSS untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap persepsi petani terhadap VUB. Berdasarkan enam variabel bebas yang diasumsikan berpengaruh nyata terhadap persepsi petani hanya variabel pengalaman berusahatani yang berpengaruh nyata terhadap usahatani dengan nilai
p-value 0.059 dan taraf nyata α=10 persen sedangkan variabel lain berpengaruh tidak nyata. Saat dilakukan uji likelihood secara keseluruhan variabel bebas mampu menjelaskan ketepatan persepsi sebesar 33.9 persen sedangkan 66.10 persen dijelaskan oleh faktor lain.
Selanjutnya, minat adopsi petani terhadap penerapan teknologi VUB dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil survei, dari 53 orang petani yang memiliki persepsi baik terhadap VUB hanya 39 petani yang menggunakan VUB di lahan sawah mereka. Kendala yang dihadapi petani adalah harga VUB yang relatif masih mahal dan biaya produksi pupuk yang tinggi untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi.
terhadap tingkat adopsi petani. Hasil perhitungan diperoleh bahwa nilai Negelkerke R2 yang mampu menjelaskan variabel ketepatan adopsi sebesar 13.40 persen sedangkan sisanya sebesar 86.60 persen dijelaskan oleh faktor lain. Berdasarkan penelitian ini terlihat bahwa faktor-faktor yang telah ditetapkan sebenarnya tidak berpengaruh nyata terhadap penerimaan petani dalam penerapan metode SRI.
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian tentang penerapan metode SRI baik terkait tingkat adopsi, keuntungan dan kerugian, bahkan analisis usahatani. Secara keseluruhan menunjukkan penerapan metode SRI pada hakikatnya menguntungkan petani hal ini dilihat dari jumlah pendapatan yang diterima oleh petani. Selain itu, keuntungan dari metode ini dapat menghindari lingkungan dari kerusakan karena dalam proses penerapan metode tidak menggunakan bahan-bahan perusak lingkungan. Namun untuk tingkat adopsi, berbagai penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Tidak semua daerah yang menerapkan sebagian penelitian menunjukkan hasil yang tinggi terkait tingkat adopsi. Namun, pada kenyataannya masih banyak daerah yang belum menerapkan metode SRI sebagaimana mestinya. Tingkat adopsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor terutama karakteristik petani. Dengan demikian, setiap daerah memiliki tingkat adopsi dan persepsi yang berbeda-beda terhadap penerapan SRI.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Metode System of Rice Intensification
Teknik budidaya padi dengan metode SRI sebetulnya tidak memiliki standar baku. Namun, berdasarkan pendapat para ahli seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya terdapat beberapa prinsip dalam penerapan metode SRI. Adapun prinsip tersebut dirangkum pada Tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3 Prinsip dasar penerapan metode SRI berdasarkan Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat
No Prinsip Pelaksanaan
Metode SRI Keterangan
1 Perendaman dengan air garam
Benih yang disemai adalah benih yang terendam oleh air garam
2 Umur benih Umur benih yang akan dipindahkan ke lahan sawah berkisar umur 5-15 hari
3 Jumlah bibit per lubang Jumlah bibit perlubang 1 hingga 3 bibit 4 Jarak Tanam Jarak tanam metode SRI 25x25 cm hingga
30x30 cm
5 Asupan pupuk Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik 6 Pengaturan air Air pada penerapan metode SRI adalah air
No Prinsip Pelaksanaan
Metode SRI Keterangan
kimia, biasanya menggunakan musuh alami 8 Pengendalian gulma Pengendalian gulma menggunakan tangan atau
kuil/gasrok 9 Pengendalian gulma
sebanyak 2 kali
Pengendalian gulma dilakukan minimal sebanyak 2 kali dari pemindahan benih hingga panen
Persepsi dan Adopsi Inovasi
Suprapto dan Fahrianoor (2004) menyatakan bahwa adopsi, adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai cara bertindak yang paling baik. Keputusan inovasi merupakan proses mental sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau menolaknya kemudian mengukuhkannya. Adopsi petani terhadap suatu teknologi pertanian sangat ditentukan oleh kebutuhan mereka terhadap teknologi tersebut dan kesesuaian teknologi dengan kondisi biofisik dan sosial budaya. Oleh karena itu, introduksi suatu inovasi teknologi baru harus disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi.
Proses terjadinya adopsi tidak dapat berlangsung secara serta merta. Terdapat proses dan tahapan dalam mencapai adopsi. Rogers (1983) mengemukakan lima tahap proses adopsi yaitu:
1. Knowledge, yaitu individu mulai mengenal adanya inovasi dan memperoleh berbagai pengertian tentang bagaimana fungsi/kegunaan dari inovasi tersebut.
2. Persuasion, yaitu individu mulai membentuk sikap suka-tidak suka terhadap inovasi.
3. Decision, yaitu individu melakukan aktivitas yang akan membawanya kepada pembuatan suatu pilihan untuk memutuskan menerima atau menolak inovasi.
4. Implementation, yaitu individu menggunakan inovasi yang telah ia putuskan untuk digunakan.
5. Confirmation, yaitu individu mencari penguatan atas keputusan yang telah ia ambil, atau dapat menolak inovasi tersebut apabila bertentangan dengan pengalaman sebelumnya.
Lima tahap inovasi ini bukan merupakan pola kaku yang pasti diikuti oleh petani, tetapi hanya untuk menunjukkan adanya lima urutan yang sering ditemukan oleh peneliti maupun penyuluh. Peneliti menunjukkan perlunya waktu yang lama antara saat pertama kali petani mendengar suatu inovasi dengan saat melakukan adopsi.
penelitian ini. Faktor eksternal terdiri atas metode penyuluhan dan peran penyuluh. Metode penyuluhan adalah cara yang digunakan oleh penyuluh dalam penyampaian pesan. Peran penyuluh adalah penyampai pesan dalam sebuah program. Sedangkan, dalam penelitian yang dilakukan Ishak dan Afrizon (2011) menambahkan faktor internal yang diduga memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap metode SRI yaitu luas penguasaan lahan dan tingkat pendapatan. Kedua hal ini diduga memengaruhi tingkat adopsi petani terhadap penerapan metode SRI.
Pengertian persepsi menurut Rahmat (2005) merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Persepsi diduga akan menentukan masyarakat mengadopsi atau tidak suatu teknologi. Keberhasilan dari metode SRI tidak terlepas dari penerimaan petani terhadap teknologi baru. Penerimaan tersebut akan dapat berjalan dengan baik ketika persepsi masyarakat terhadap suatu teknologi baik. Persepsi adalah cara seseorang menginterpretasikan atau mengerti pesan yang telah diproses oleh sistem indrawi. Dengan kata lain, persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi. Proses persepsi didahului oleh proses sensasi. Sensasi merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi berasal dari kata sense, yang artinya alat indera yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Sensasi adalah proses menangkap stimulus melalui alat indra. Proses sensasi terjadi saat alat indera mengubah informasi menjadi impuls saraf yang dimengerti oleh otak. Dengan melakukan persepsi, manusia memperoleh pengetahuan baru. Persepsi mengubah sensasi menjadi informasi (Mutmainnah 1997). Dengan kata lain persepsi dapat juga dikatakan sebagai tanggapan terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan sehingga memunculkan aksi tertentu. Jika dihubungkan dengan persepsi petani terhadap metode SRI, maka secara harfiah dapat diartikan bahwa persepsi petani terhadap metode SRI merupakan pandangan yang dimiliki petani dalam melihat manfaat yang diperoleh dari penerapan metode SRI yang mereka lakukan.
Selanjutnya, menurut Lionberger (1962) terdapat lima atribut yang mendukung penjelasan tingkat adopsi dari suatu inovasi, meliputi keuntungan relatif, kecocokan, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas:
1. Keuntungan relatif, menjelaskan bahwa teknologi yang baru dapat menciptakan sesuatu hal yang lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan teknologi yang lama. Dalam hal penerapan SRI keuntungan relatif dapat dilihat dari efesiensi input dan output yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.
2. Kecocokan, menjelaskan tingkat suatu inovasi dirasa konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu, dan potensi kebutuhan
adopter. Penerapan metode SRI sangat ditentukan oleh faktor sosial, budaya, dan politik setempat.
4. Triabilitas, merupakan tingkatan suatu inovasi mungkin dicoba pada suatu basis terbatas. Triabilitas penerapan metode SRI belum tentu sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Hal ini disebabkan oleh faktor fisik alam, budaya, dan politik setempat.
5. Observabilitas, adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Petani akan mengadopsi suatu teknologi jika teknologi itu sudah pernah dicoba dan terbukti berhasil.
Tingkat adopsi petani terhadap metode SRI disebabkan berbagai faktor salah satunya adalah faktor karakteristik petani. Faktor tersebut meliputi umur, tingkat pendidikan, luas penguasaan lahan, tingkat pendapatan, dan pengalaman usahatani. Umur, kecenderungan semakin tua usia biasanya semakin lambat mengadopsi inovasi dan melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah biasa diterapkan oleh masyarakat. Tingkat pendidikan petani adalah tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh petani sampai saat dilakukan penelitian. Semakin tinggi tingkat pendidikan diduga akan semakin mudah seorang petani untuk menerima teknologi baru karena dimungkinkan pola pikir petani akan semakin terbuka. Sedangkan luas penguasaan lahan akan memengaruhi tingkat kemudahan dalam penerapan SRI. Semakin luas lahan yang digunakan maka akan semakin susah untuk menerapkan SRI. Dugaan ini muncul karena metode SRI menggunakan pupuk organik dalam penerapannya yang dibutuhkan dalam jumlah besar. Pengalaman usahatani juga diduga memengaruhi tingkat adopsi petani padi terhadap penerapan metode SRI. Petani yang sudah berpengalaman akan lebih mudah menerapkan metode SRI karena lebih mengetahui teknik-teknik dalam budidaya padi sehingga dengan cepat dapat mempelajari gejala-gejala perkembangan dan permasalahan budidaya padi.
Analisis Regresi Logistik
Regresi logistik adalah sebuah pendekatan model matematik yang dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan beberapa variabel independent (X) dengan variabel dependent (Y) yang dikotomus/politomus (Kleinbaum & Klein 2002). Model analisis ini digunakan untuk pemodelan masalah yang menggunakan variabel respon berupa kategorik dan dipengaruhi oleh lebih dari satu variabel independent, yang mencapai ukuran metrik ataupun gabungan metrik dan nonmetrik.
Model analisis regresi logistik diformulasikan sebagai berikut;
Pi =
Xi = veriabel independen X observasi ke-i
Model tersebut dapat ditransformasikan ke dalam bantuk nilai odds dan model logit (pi), yang dimaksudkan untuk memudahkan proses dan interpretasi. Nilai odds secara manual dapat dihitung dengan formula;
Nilai Odds =
Sedangkan untuk model logitnya dapat diformulasikan sebagai berikut; Logit (pi) = ln ( ) = β1+ β2X1+ β2X2 + … + βiXi
Pengujian model regresi logistik dilakukan secara overall dan secara parsial. Pengujian secara overall ditujukan untuk mengetahui apakah model signifikan dapat menjelaskan variabel dependent, maka digunakan uji likelihood
sedangkan secara parsial ditujukan untuk mengetahui variabel independent yang paling berpengaruh terhadap variabel dependent, maka digunakan uji Wald.
H0: βi = 0 (variabel Xi tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel respon)
H1: βi ≠ 0 (variabel Xi berpengaruh signifikan terhadap variabel respon)
Statistik uji Wald di bawah ini digunakan untuk menguji hipotesa tersebut. Wi =
Keterangan;
bi = Koefisien model dugaan untuk variabel independen Xi
SE Coef (bi) = Simpangan baku koefisien Xi
Statistik Wi menyebar mengikuti sebaran normal baku (Z). Pada output komputer disajikan nilai P, P = Peluang (│Z│>Wi ). Apabila P < Zα/2 maka disimpulkan tolak H0pada taraf nyata α. Sebaliknya, apabila P ≤ Zα/2 maka disimpulkan terima
H0pada taraf nyata α.
Uji likelihood ratio dilakukan melalui uji hipotesis, yang dinyatakan sebagai berikut;
H0: β1= β2= β3 = β4= β5 = 0 (model dugaan tidak signifikan)
H1 : minimal ada satu βi ≠ 0 (model dugaan signifikan)
Untuk menguji hipotesa tersebut, digunakan statistik uji likelihood ratio sebagai berikut:
G = -2ln
Keterangan; ln adalah logaritma dengan basis bilangan natural (e).
Pada output SPSS disajikan nilai P, dimana P = Peluang (X2df = k > G). Apabila P < α atau G >X2
(df = k)a maka disimpulkan tolak H0 pada taraf nyata α. Interpretasi model logistik dimaksudkan untuk mendeskripsikan seberapa besar perubahan variabel respon jika ada perubahan pada variabel independent. Nilai odds ratio digunakan untuk keperluan tersebut. Nilai odds ratio berkisar antara nol hingga tak hingga. Adapun nilai odds ratio dapat dikategorikan menjadi tiga kategori sebagai berikut:
a) Jika bi bertanda positif, maka odds ratio akan bernilai lebih dari satu, yang artinya xi berpengaruh positif terhadap variabel respon sukses.
b) Jika bi bertanda negatif, maka odds ratio akan bernilai antara nol dan satu, yang artinya xi berpengaruh negatif terhadap variabel respon sukses. c) Jika bi bernilai nol, maka odds ratio akan bernilai satu, yang artinya xi
Kerangka Pemikiran Operasional
Penelitian ini mengkaji tentang tingkat persepsi masyarakat terhadap penerapan SRI pada budidaya padi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa persepsi dengan sendirinya akan memengaruhi tingkat adopsi masyarakat terhadap penerapan suatu teknologi, maka pada penelitian ini juga akan meneliti tentang tingkat adopsi masyarakat untuk menerapkan teknologi tersebut.
Persepsi terhadap SRI merupakan pandangan yang diperoleh terhadap manfaat dari metode SRI (Ishak dan Afrizon 2011) sedangkan adopsi merupakan penerapan suatu ide, alat-alat, dan teknologi baru melalui proses penyuluhan (Mardikanto, Totok, dan Sutarni 1982). Kedua hal ini adalah sebuah kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam penelitian ini, persepsi masyarakat akan diukur secara kualitatif dengan menyebar kuesioner yang disusun dengan pengukuran interval skala likert. Pada kuesioner ini, terdapat lima kategori yang menjadi skala untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat terhadap penerapan metode SRI. Lima skala tersebut meliputi sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Persepsi petani dikatakan baik jika dalam data ditemukan skor yang diperoleh responden lebih besar dari kuartil III keseluruhan data, dan dikatakan tidak baik ketika skor responden lebih kecil dari kuartil III.
Gambar 5 Bagan kerangka berpikir penelitian persepsi dan tingkat adopsi petani terhadap metode SRI
1. Bagaimana persepsi petani terhadap metode SRI? 2. Apakah metode SRI sudah diadopsi sesuai anjuran?
3. Apakah hal-hal yang memengaruhi tingkat adopsi masyarakat Desa Simarasok terhadap metode SRI?
Interval dengan skala likert (sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju)
pembahasan kualitatif deskriptif
Penerapan sistem penanaman padi dengan SRI di Desa Simarasok
Persepsi petani
Regresi logistik
Data gambaran persepsi, tingkat adopsi, dan faktor-faktor (lama pelatihan, luas lahan, lama usahatani, usia, tingkat pendidikan, persepsi) yang berkolerasi
terhadap penerapan SRI di Desa Simarasok Tingkat adopsi petani terhadap metode SRI
Baik Tidak baik
Kualitatif Kuantitatif
Saran kepada pemerintah terkait tingkat adopsi petani terhadap penerapan metode SRI
Masalah: Sulitnya meyakinkan petani beralih ke metode SRI, adopsi metode SRI rendah, tidak semua daerah mau menerapkan SRI
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Waktu penelitian dilakukan selama empat minggu, mulai dari 28 Maret hingga 28 April 2014.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survei dengan responden dan pengamatan langsung ke daerah penelitian. Adapun data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah menjawab tentang persepsi masyarakat terhadap metode SRI, tingkat adopsi masyarakat terhadap metode SRI, dan faktor-faktor yang berkemungkinan berkolerasi terhadap tingkat adopsi metode SRI. Sedangkan data sekunder dilakukan dengan studi literatur.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani padi yang menerapkan metode SRI di Desa Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Adapun populasi setelah dilakukan pembatasan sebanyak 65 responden. Selanjutnya, diambil sebanyak 35 sampel dengan metode purposive sampling 35 dengan kriteria telah menerapkan SRI lebih dari satu tahun, tergabung dalam kelompok tani, dan sampai saat dilakukan wawancara masih menerapkan metode SRI. Jumlah sampel sebanyak 35 sudah memenuhi syarat cukup untuk menyebar normal.
Metode Pengolahan dan Alat Analisis Data
Analisis data dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Metode kualitatif dilakukan dengan pendekatan deskriptif hasil penelitian tanpa melakukan generalisasi data. Metode ini dilakukan untuk memperoleh data dari wawancara. Selain itu, metode ini dilakukan dengan menginterpretasikan hasil wawancara tersebut secara deskriptif. Metode kuantitaif akan membahas dan mengolah data kuantitatif yang diperoleh setelah melakukan penelitian.
Sangat setuju = skor 4
Setuju = skor 3
Ragu-ragu = skor 2 Tidak setuju = skor 1 Sangat tidak setuju = skor 0
Adapun interpretasi dari masing-masing skala di atas adalah sebagai berikut:
Sangat setuju = Jika responden sependapat dengan pernyataan, selalu mengalami kejadian sesuai pernyataan, dan tetap mau menerapkan metode SRI.
Setuju = Jika responden sependapat dengan pernyataan, namun tidak selalu mengalami kejadian sesuai pernyataan, tetapi tetap mau menerapkan metode SRI.
Ragu-ragu = Jika responden sependapat dengan pernyataan, namun tidak selalu mengalami kejadian sesuai pernyataan, lebih cendrung tidak mengalami kejadian sesuai pernyataan, tetapi tetap mau menerapkannya.
Tidak setuju = Jika responden tidak sependapat dengan pernyataan, pernah mengalami kejadian sesuai pernyataan, dan tidak mau mendukung dan menerapkan metode SRI kedepannya.
Sangat tidak setuju = Jika responden tidak sependapat dengan pernyataan, tidak pernah mengalami kejadian sesuai pernyataan, dan tidak mau mendukung dan menerapkan metode SRI.
Tingkat persepsi petani dihitung berdasarkan skor total persepsi dari karakteristik inovasi yang diturunkan dari teori Rogers. Adapun hasil turunan dari karakteristik inovasi Rogers pada penerapan metode SRI yaitu menguntungkan atau tidaknya SRI dari segi ekonomis, meningkat atau tidaknya hasil panen dengan metode SRI, efesiensi modal dengan metode SRI, tingkat kerumitan metode SRI, dan tingkat kecocokan SRI untuk diterapkan oleh petani. Skor setiap karakteristik inovasi mengikuti skala likert dengan lima alterntif jawaban (sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju) kemudian dijumlahkan dan dikelompokkan berdasarkan asumsi sebagai berikut:
1. Persepsi petani baik terhadap SRI, diasumsikan ketika total skor responden > skor kuartil III (QIII).
2. Persepsi petani tidak baik terhadap SRI, diasumsikan ketika total skor
responden ≤ skor kuartil III (QIII).
Pengelompokkan persepsi petani terhadap penerapan metode SRI di Desa Simarasok menggunakan analisis pemusatan kuartil III (QIII). Nilai QIII merupakan nilai kuartil dari total skor maksimal untuk 5 pernyataan karakteristik inovasi yaitu sebesar 20. Dengan demikian nilai QIII diperoleh sebesar 15.
melalui beberapa pernyataan yang diberi nilai dengan 5 tingkatan berdasarkan Adapun interpretasi dari skala di atas adalah sebagai berikut:
Selalu = Jika responden menerapkan sesuai pernyataan setiap masa panen padi.
Sering = Jika responden menerapkan minimal ¾ kali dari total budidaya padi sesuai pernyataan selama menerapkan metode SRI.
Kadang-kadang = Jika responden menerapkan minimal ½ kali dari total selama budidaya padi sesuai pernyataan selama menerapkan metode SRI.
Jarang = Jika responden menerapkan minimal ¼ kali dari total selama budidaya padi sesuai pernyataan selama menerapkan metode SRI.
Tidak pernah = Jika responden tidak menerapkan sama sekali sesuai pernyataan.
Tingkat adopsi petani dihitung berdasarkan total skor penerapan setiap prinsip dasar metode SRI. Berdasarkan prinsip dasar SRI, petani memilih skala penerapan yang sesuai dengan kondisi petani bersangkutan yang terdiri atas skala selalu, sering, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah. Pengelompokkan skala ini berdasarkan kepada interpretasi skala dengan asumsi jumlah panen setiap tahun sebanyak tiga kali panen. Adapun prinsip metode SRI meluputi:
1. Perendaman dengan air garam
2. Bibit dipindah pada umur muda kisaran 10 hingga 15 hari 3. Tanam tunggal (1-3 bibit satu lubang tanam)
4. Jarak tanam lebar ( 25-30 cm) 5. Penggunaan Pupuk Organik 6. Pengaturan air
7. Pengendalian hama
8. Pengendalian gulma dengan metode organik 9. Pengendalian gulma sebanyak dua kali
Jumlah skor dari responden dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu adopsi sesuai dengan anjuran dan adopsi yang tidak sesuai dengan anjuran. Berbeda dengan metode yang digunakan oleh Ishak dan Afrizon (2011), pada penelitian ini pengelompokkan didasarkan atas skor kuartil III data responden dengan pertimbangan dan asumi bahwa kuartil III dapat menjelaskan data dengan krtieria lebih baik dibandingkan dengan penggunaan median, sehingga pengelompokkannya sebagai berikut:
1. Adopsi petani terhadap penerapan metode SRI sesuai anjuran, diasumsikan ketika total skor responden > skor kuartil III (QIII).
Nilai QIII diperoleh dari total skor maksimal yaitu 36 sehingga diperoleh QIII sebesar 27. Nilai QIII (27) digunakan dalam asumsi tingkat adopsi metode SRI.
Selanjutnya untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi petani untuk mengadopsi SRI digunakan metode kuantitatif. Alat analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan variabel tidak bebas (Y) yaitu adopsi petani terhadap metode SRI dan empat asumsi variabel bebas yang merupakan karakteristik pribadi dari responden, yaitu lama pelatihan (X1), luas lahan (X2), lama usahatani (X3), usia (X4), tingkat pendidikan (X5), dan persepsi (X6) adalah regresi logistik dengan tools pengolahan data menggunakan software SPSS 2010. Rancangan model yang akan terbentuk adalah;
Yi= Ln (
Keterangan:
Selanjutnya untuk melakukan pengujian parameter secara parsial dan
overall dan memeriksa peranan koefisien regresi antara setiap variabel bebas terhadap variabel terikat (tingkat adopsi petani) maka akan digunakan uji Wald
dan uji likelihood ratio yang diolah menggunakan SPSS 2010. Secara teoritis penghitungan manual, hipotesis yang akan digunakan dalam uji Wald;
H0: βi = 0 (variabel Xi tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel respon)
H1 : βi ≠ 0 (variabel Xi berpengaruh signifikan terhadap variabel respon)
Statistik uji Wald di bawah ini, digunakan untuk menguji hipotesa tersebut.
Wi =
Keterangan:
bi = Koefisien model dugaan untuk variabel independen Xi
SE Coef (bi) = Simpangan baku koefisien Xi
Statistik Wi menyebar mengikuti sebaran normal baku (Z). Pada output komputer disajikan nilai P, P = Peluang (│Z│>Wi ). Apabila P < Zα/2 maka disimpulkan tolak H0 pada taraf nyata α. Sebaliknya, apabila P ≤ Zα/2 maka disimpulkan terima
H0 pada taraf nyata α.
Uji likelihood ratio dilakukan melalui uji hipotesis, yang dinyatakan sebagai berikut;
H0 : β1 = β2= β3 = β4 = β5 = β6 = 0 (model dugaan tidak signifikan)
H1 : minimal ada satu βi≠ 0 (model dugaan signifikan)
Yi : Peluang adopsi (1 = sesuai dengan anjuran; 0 = tidak sesuai anjuran)
X1 : lama pelatihan (tahun)
X2 : luas lahan (ha)
X3 : lama usahatani (ha)
X4 : usia (tahun)
X5 : tingkat pendidikan (tahun)
X6 : Persepsi (1= baik, 2=tidak baik)
β1 , β2, β3, β4, β5,
β6
Untuk menguji hipotesa tersebut, digunakan statistik uji likelihood ratio sebagai berikut:
G = -2ln
Keterangan; ln adalah logaritma dengan basis bilangan natural (e). Pada output
SPSS tersaji nilai P, P = Peluang (X2df = k > G). Apabila P < α atau G >X2(df = k)a maka disimpulkan tolak H0 pada taraf nyata α.
GAMBARAN UMUM DESA SIMARASOK
Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Simarasok
Desa Simarasok terbagi ke dalam 4 wilayah bagian yang disebut Jorong. Adapun keempat Jorong tersebut yaitu Jorong Sungai Angek, Jorong Koto Tuo, Jorong Kampeh, dan Jorong Simarasok. Keempat jorong ini terbagi lagi menjadi 2 wilayah binaan pertanian. Jorong Sungai Angek dan Jorong Koto Tuo merupakan daerah binaan Simarasok I, sedangkan Jorong Kampeh dan Jorong Simarasok termasuk ke dalam daerah binaan Simarasok II. Luas wilayah Simarasok adalah 16.52 km2 sedangkan luas Kecamatan Baso adalah 70.30 km2 atau luas Desa Simarasok 23.49 persen luas total Kecamatan Baso. Berikut disajikan peta Kecamatan Baso:
Gambar 6 Peta Kecamatan Baso Desa Simarasok