• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pribumi, Non-Pribumi Dan Negara (Suatu Studi Terhadap Pidato Soepomo tahun 1945 Tentang Negara Integralistik)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pribumi, Non-Pribumi Dan Negara (Suatu Studi Terhadap Pidato Soepomo tahun 1945 Tentang Negara Integralistik)"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

PRIBUMI, NON-PRIBUMI DAN NEGARA

(Suatu Studi terhadap Pidato Soepomo tahun 1945 tentang Negara Integralistik)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

Untuk Mendapat Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

O L E H

RONALD W.S. 050906073

Dosen Pembimbing : Drs. P. Antonius Sitepu, M.Si. Dosen Pembaca : Warjio, SS, MA.

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KATA PENGANTAR

Sebelum Indonesia merdeka, para founding fathers telah mendiskusikan

bagaimana nantinya bentuk negara yang akan dijalankan di Indonesia. Pada

sidang BPUPKI semua yang berkaitan dengan masa depan Indonesia dirancang

pada saat itu. Pada 31 Mei 1945, founding fathers diantaranya yang

menyampaikan konsep bentuk negara yaitu, Muhammad Yamin, Soepomo, dan

Soekarno. Soepomo membacakan konsepnya dalam bentuk pidato yang mengenai

negara integralistik.

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, bahasa, ras, suku, agama dan

lain sebagainya memerlukan suatu sistem yang mampu mengontrol masyarakat

agar terhindar dari disintegrasi. Inilah alasan Soepomo mengapa konsep

integralistik ditawarkan beliau. Konsep negara integralistik yang ditawarkan

Soepomo perpaduan antara unsur totaliter yang pada sifat aslinya menghimpun

masyarakat secara organik, utuh dan total, sehingga tidak dikenal perbedaan

apapun dan konsep beliau sesuai dengan sifat ketimuran Indonesia yang pluralis.

Sedangkan unsur demokrasi yang terdapat dalam konsep beliau merupakan bagian

yang mengupayakan dimana totalitarisme dalam integralistik tidak total bekerja

atau kediktatoran bekerja total. Demokrasi menjadi unsur yang mengembalikan

kedaulatan masyarakat dalam pemerintahan dan negara. Sehingga pada akhirnya

konsep negara integralistik merupakan jawaban dari pluralisme yang dimiliki

Indonesia dan konsep tersebut mampu mengatasi aspirasi masyarakat yang

beragam tanpa memihak minoritas, mayoritas ataupun kelompok manapun,

disamping mampu mewujudkan kesejahteraan masayarakat Indonesia secara

(3)

ABSTRAKSI

Judul : PRIBUMI, NON-PRIBUMI DAN NEGARA

(Suatu Studi terhadap Pidato Soepomo tahun 1945 tentang Negara Integralistik)

Nama : Ronald W.S NIM : 050906073 Departemen : Ilmu Politik

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Dalam penelitian yang dituangkan dalam skripsi ini merupakan penelitian yang mengkaji permasalahan pribumi atau non-pribumi yang timbul dalam suatu negara terutama negara Indonesia sendiri. Indonesia yang menganut pluralisme dengan keberagaman budaya, suku, agama, ras, dan lain sebagainya seringkali menjadi pemicu munculnya pertikaian, kesenjangan sosial antara mayoritas dan minoritas serta menimbulkan disintegrasi bangsa yang pada akhirnya mampu merusak persatuan negara Indonesia. Pada saat sidang BPUPKI yang membahas bentuk negara, pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Dr. R. Soepomo menyajikan konsepnya dalam bentuk pidato. Beliau membacakan pidatonya tentang konsep negara Integralistik. Beliau menyatakan bahwa konsep negara Integralistik dengan sifat totaliter mampu menyatukan masyarakat secara organis tanpa melihat apapun identitas dibalik setiap individu, apakah dia pribumi ataupun non-pribumi. Beliau menawarkan konsep negara integralistik setelah ia menelitinya dan menyatakan konsep tersebut sesuai dengan sifat ketimuran terutama Indonesia yang pluralis. Dalam sifat aslinya, totaliter mengikat masyarakat secara utuh dan total sehingga dengan seperti itu negara dengan mudah mencapai cita-citanya. Sedangkan unsur demokrasi yang juga terkandung didalamnya menjadi kontrol terhadap unsur totaliter sehingga tidak sepenuhnya totalitarisme seperti pada rezim Hitler berjalan pada pemerintahan Indonesia. Disamping itu dengan beragamnya latar belakang masyarakat Indonesia, unsur demokrasi yang terkandung dalam konsep negara integralistik menjadi sistem yang memastikan setiap lapisan masyarakat mendapatkan hak dan kewajibannya. Dalam unsur demokrasi juga tidak dikenal siapa pribumi atau non-pribumi dalam susunan masyarakatnya. Sehingga perpaduan unsur totalitarian dan demokrasi dalam konsep integralistik memastikan masyarakat yang pluralis dalam satu negara dapat hidup bersama tanpa menimbulkan masalah karena perbedaan yang terdapat dalam negara.

(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI………. ... i

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah………. ... 1

2. Perumusan Masalah……….... ... 11

3. Pembatasan Masalah………... ... 11

4. Tujuan Penelitian………... .... 12

5. Manfaat Penelitian………... .... 12

6. Kerangka Teori... 13

6.1. Teori Tentang Negara... ... 13

6.1.1. Negara Plato dan Aristoteles... 13

6.1.2. Teori Negara Hegelian ... 15

6.2. Demokrasi... ... 17

6.3. Negara Integralistik... .. 21

7. Metodologi Penelitian... ... 24

7.1. Jenis Penelitian... 24

7.2. Teknik Pengumpulan Data... ... 25

8. Teknik Analisa Data... ... 25

9. Sistematika Penulisan... ... 25

BAB II KONSEP NEGARA INTEGRALISTIK 1. Pidato Soepomo ... 27

2. Negara Integralistik Menurut Soepomo ... 47

3. Konsep Negara ... 48

3.1. Sejarah Negara... 48

3.2. Sifat Negara ... 54

(5)

3.4. Tujuan Negara ... 57

3.5. Bentuk Negara ... 59

BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN 1. Negara Integralistik ... 63

2. Totalitarisme ... 66

2.1. Negara dalam Totalitarisme ... 67

2.2. Pribumi dan Non-Pribumi ... 70

3. Demokrasi ... 73

3.1. Negara dalam Sistem Demokrasi ... 74

3.2. Masyarakat Pribumi dan Non-Pribumi ... 76

3.2.1. Azas Kewarganegaraan ... 77

3.2.2. Musyawarah Mufakat ... 81

3.2.3. Negara, Individu dan Kelompok ... 82

3.2.4. Pemimpin Ideal ... 86

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ... 88

2. Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA... ... 93

(6)

ABSTRAKSI

Judul : PRIBUMI, NON-PRIBUMI DAN NEGARA

(Suatu Studi terhadap Pidato Soepomo tahun 1945 tentang Negara Integralistik)

Nama : Ronald W.S NIM : 050906073 Departemen : Ilmu Politik

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Dalam penelitian yang dituangkan dalam skripsi ini merupakan penelitian yang mengkaji permasalahan pribumi atau non-pribumi yang timbul dalam suatu negara terutama negara Indonesia sendiri. Indonesia yang menganut pluralisme dengan keberagaman budaya, suku, agama, ras, dan lain sebagainya seringkali menjadi pemicu munculnya pertikaian, kesenjangan sosial antara mayoritas dan minoritas serta menimbulkan disintegrasi bangsa yang pada akhirnya mampu merusak persatuan negara Indonesia. Pada saat sidang BPUPKI yang membahas bentuk negara, pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Dr. R. Soepomo menyajikan konsepnya dalam bentuk pidato. Beliau membacakan pidatonya tentang konsep negara Integralistik. Beliau menyatakan bahwa konsep negara Integralistik dengan sifat totaliter mampu menyatukan masyarakat secara organis tanpa melihat apapun identitas dibalik setiap individu, apakah dia pribumi ataupun non-pribumi. Beliau menawarkan konsep negara integralistik setelah ia menelitinya dan menyatakan konsep tersebut sesuai dengan sifat ketimuran terutama Indonesia yang pluralis. Dalam sifat aslinya, totaliter mengikat masyarakat secara utuh dan total sehingga dengan seperti itu negara dengan mudah mencapai cita-citanya. Sedangkan unsur demokrasi yang juga terkandung didalamnya menjadi kontrol terhadap unsur totaliter sehingga tidak sepenuhnya totalitarisme seperti pada rezim Hitler berjalan pada pemerintahan Indonesia. Disamping itu dengan beragamnya latar belakang masyarakat Indonesia, unsur demokrasi yang terkandung dalam konsep negara integralistik menjadi sistem yang memastikan setiap lapisan masyarakat mendapatkan hak dan kewajibannya. Dalam unsur demokrasi juga tidak dikenal siapa pribumi atau non-pribumi dalam susunan masyarakatnya. Sehingga perpaduan unsur totalitarian dan demokrasi dalam konsep integralistik memastikan masyarakat yang pluralis dalam satu negara dapat hidup bersama tanpa menimbulkan masalah karena perbedaan yang terdapat dalam negara.

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki ribuan

pulau yang diperkaya juga oleh keanekaragaman kebudayaan. Keanekaragaman

yang ada ditandai dengan tampaknya perbedaan suku bangsa atau etnis, budaya,

bahasa, dan keyakinan agama.

Keanekaragaman yang dimiliki Indonesia menjadi satu dilemma yang

cukup menantang sekaligus membanggakan. Pada satu sisi, kekayaan budaya dari

berbagai etnis yang ada menjadi kemajemukan budaya yang bernilai tinggi,

namun disisi lainnya pluralitas kultural tersebut memiliki potensi sebagai pemicu

disintegrasi atau perpecahan bangsa.

Pluralitas kultural sering kali menjadi salah satu pemicu munculnya

konflik ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Konflik suku bangsa (etnis),

agama, ras dan antar golongan (SARA) sebenarnya tidak murni karena hal

tersebut dan pada dasarnya berawal dari hal-hal lain, baik karena ekonomi,

ketidakadilan sosial, politik, salah paham, dan faktor lainnya.

Munculnya konflik pribumi dan non-pribumi diawali dari perbedaan

antara etnis setempat dengan etnis pendatang. Hal ini dialami Indonesia sejak

masuknya masa kolonial Portugis, Spanyol dan Belanda.

Konsep masyarakat majemuk pertama kali diperkenalkan oleh J.S.

(8)

berasal dari temuan hasil penelitiannya di Indonesia. Menurutnya masyarakat

Indonesia terbagi atas tiga lapisan:

1. Bangsa-bangsa Eropa menempati urutan teratas dalam stratifikasi

masyarakat.

2. Bangsa-bangsa Asia (Cina, Arab, dan India) berada diurutan

berikutnya.

3. Dan lapisan terbawah adalah kaum pribumi

Konsep masyarakat majemuk yang dirumuskan oleh Furnivall tersebut

merujuk pada pengertian sebuah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih

elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa adanya pembauran satu sama lain dalam

kesatuan politik. Pada masa penelitian Furnivall, konsep masyarakat majemuk

diteliti pada masa kolonial Belanda di Indonesia. J.S. Furnival melihat

pembauran yang terjadi sangat sulit sehingga kaum pendatang dalam hal ini

kolonial Belanda lebih mendominasi dan lebih berkuasa.

Dalam konsep masyarakat majemuk, J.S. Furnival melihat dari studi

kasusnya di Indonesia bahwa masyarakat pribumi adalah masyarakat yang

tertindas atau pada sistem stratifikasi sosial, merupakan lapisan masyarakat paling

bawah. Masyarakat pribumi atau penduduk setempat asli daerah jajahan bangsa

kolonial masyarakat yang menjadi lapisan terbawah pada saat itu dikarenakan

masyarakat pribumi menjadi subjek dari penindasan bangsa Belanda. Mulai dari

saat itu, saat pendatang memasuki daerah Indonesia, masyarakat Indonesia-lah

yang disebut pribumi dan sebaliknya para pendatang disebut non-pribumi. J.S.

Furnival membedakan bahwa diluar bangsa Indonesia adalah merupakan

(9)

etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab, dan etnis lainnya yang masuk ke

Indonesia.

Di samping itu J.S. Furnival juga menggambarkan stratifikasi sosial ke

dalam bentuk piramida sebagai berikut1

a. Lapisan atas, orang kulit putih, Belanda yang bekerja di perkebunan

dan pemerintahan

:

b. Lapisan menengah, yaitu kelompok keturunan Asia atau Timur Asing,

khususnya etnis Tionghoa yang menguasai perdagangan

c. Lapisan Menengah ke bawah, kaum priyayi, dan pamong praja

d. Lapisan bawah, yaitu rakyat atau penduduk pribumi.

Tampak jelas stratifikasi sosial yang terjadi dimana yang dimaksud

masyarakat pribumi dan masyarakat non-pribumi. Hal ini tidak jauh dengan apa

yang dimaksud dengan masyarakat pribumi pada masa modern yang pada

dasarnya masyarakat pribumi adalah diluar dari etnis-etnis yang ada di Indonesia

atau seperti yang dikategorikan diatas.

Pada dasarnya istilah pribumi sendiri tidak diketahui lebih pasti kapan

munculnya, yang pasti pada masa kolonial Belanda istilah pribumi dan

non-pribumi telah akrab disebut pada masyarakat Indonesia pada masa itu. Ditinjau

dari segi pengertian kamus Indonesia bahwa pribumi memiliki arti sebagai

penghuni asli dari tempat keberadaan yang bersangkutan. Sedangkan non-pribumi

berarti yang bukan pribumi atau penduduk asli suatu negara. Dari makna tersebut,

pribumi berarti penduduk yang asli (lahir, tumbuh, dan berkembang) berasal dari

tempat negara tersebut berada. Dalam hal ini terkait negara Indonesia, anak dari

1

(10)

orang tua yang lahir dan berkembang di Indonesia adalah orang pribumi,

meskipun sang kakek dan nenek adalah orang asing.

Ditinjau dari sudut pandang masyarakat Indonesia, pribumi didefenisikan

sebagai penduduk Indonesia dari salah satu suku asli Indonesia. Sebaliknya yang

disebut non-pribumi adalah kebalikan dari makna pribumi dan cenderung

diklasifikasikan berdasarkan warna kulit mereka. Contoh dari objek yang

dimaksud yaitu etnis Tionghoa, Arab, India, bangsa Eropa dan lain-lain.

Penggolongan pribumi dan non-pribumi muncul sebagai akibat adanya

perbedaan mendasar (diskriminasi) terutama pada perlakuan oleh penguasa rezim

yang sedang berkuasa. Ini hanya terjadi jika rezim yang berkuasa adalah

pemerintahan otoriter, penjajah dan kroninya ataupun nasionalisme yang sempit.

Contoh, di zaman penjajahan Belanda, Belanda memperlakukan orang di

Indonesia secara berbeda didasari oleh etnik/keturunan. Mereka yang

berketurunan Belanda akan mendapat pelayanan kelas wahid, sedangkan golongan

pengusaha/pedagang mendapat kelas kedua, sedangkan masyarakat umum

(penduduk asli) diperlakukan sebagai kelas rendah (“kasta sudra”).

Masalah siapa yang pribumi dan non-pribumi selalu dipertanyakan ketika

menyangkut etnis, dan ras. Hal tersebut juga menjadi pembatas untuk hak dan

kewajiban yang pada akhirnya bertentangan dengan cita-cita luhur bangsa

Indonesia seperti yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945. Sadar atau tidak

sadar bahwa sebenarnya semua penduduk Indonesia sekarang ini secara

(11)

seperti yang dinyatakan oleh antropolog senior Universitas Airlangga Surabaya,

Dr. Josef Glinka SVD, dalam seminar Man: Past, Present, and Future2

2

Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, Jakarta; TransMedia Pustaka, 2008, hal. 17.

.

Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa konflik muncul karena

adanya perbedaan unsur SARA yang otomatis membuat cara pandang yang

berbeda terhadap segala sesuatu. Tindakan yang timbul dari konflik tersebut pada

akhirnya sampai pada tingkat tinggi, yaitu eksterminasi yang diaplikasikan seperti

menghukum tanpa peradilan (lynching), pembunuhan massal yang terorganisasi

(pogrom), pembunuhan besar-besaran (massacre) dan pemusnahan terhadap

kelompok etnis tertentu (genocide). Di Indonesia sendiri sendiri contoh dari

peristiwa bentuk eksterminasi tersebut mungkin masih dapat di ingat kembali

peristiwa Sanggau Ledo, Sambas, Sampit yang dikenal dengan konflik antar etnis

Dayak/Melayu dengan Madura, kemudian adanya peristiwa Ambon dan Poso

yang berlatar-belakangkan masalah agama dan peristiwa Mei 1998, yakni konflik

paling ekstrim di mana konflik politik yang berimbas pada sentimen etnis

Tionghoa dan peristiwa tersebut hampir saja menjadi peristiwa genocide ketiga di

dunia.

Hal ini merupakan perwujudan masyarakat multikultur secara sosiologis

dan demografis. Setiap lapisan masyarakat membuat identitas mereka dan pada

kondisi tertentu mereka akan menentukan ke dalam ingroup dan outgroup atau

dalam arti luasnya menggolongkan bagi mereka siapa pribumi yang berhak atas

tempat keberadaan mereka dan siapa non-pribumi sebagai pendatang. Hal ekstrim

(12)

Pada masa Proklamasi Indonesia di mana Indonesia mulai terbentuk, pada

pidato Soekarno menegaskan kembali untuk memahami kembali budaya

Indonesia3

Satu negara tidak pernah terlepas dari bangsa yang membentuknya. Oleh

karena itu hal pertama ketika negara akan ditujukan berjalan baik sesuai cita-cita

kehidupan bangsa untuk mendapat keamanan, tentram sampai sejahtera

dibutuhkan penggalangan persatuan antar warga tanpa terkecuali dalam

kebangsaan yang dibangun dalam organisasi warga, yaitu negara. Menurut

Soekarno negara adalah suatu organisasi kekuasaan, suatu alat perjuangan .

“Ingat kita ini bukan dari satu adat istiadat. Ingat, kita ini bukan dari satu agama. Bhineka Tunggal Ika, berbeda tetapi satu, demikianlah tertulis di lambing Negara kita, dan tekanan kataku sekarang ini kuletakkan kepada kata bhinna, yaitu beda. Ingat kita ini bhinna, kita ini berbeda-beda…”

Pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun

1945, pada alinea ke-4 ditegaskan lagi, yaitu “…Persatuan Indonesia…” dapat

disimpulkan bahwa apa yang disebut dengan Negara Indonesia adalah ketika

adanya persatuan yang terjaga dengan baik bukan saja dalam sistem sosial

masyarakat, tetapi dalam sistem negara antar masyarakat dan pemerintahan.

Adanya dikotomi pribumi dan non-pribumi yang ditujukan pada salah satu

etnis atau warga negara yang berkembang di tengah masyarakat secara langsung

keutuhan negara telah mulai terganggu. Apa yang disebut sebagai negara yang

merupakan suatu kumpulan integral atau kesatuan masyarakat secara organis yang

bersatu untuk mencapai kemakmuran bersama sudah tidak utuh lagi.

3

(13)

organisasi yang diorganisir di atas suatu wilayah, yang diatasnya ada

manusia-manusianya4

Selanjutnya Roger H. Soltau menyatakan bahwa tujuan negara ialah

memungkinkan rakyatnya, berkembang serta menyelenggarakan daya cipta

sebebas mungkin dan menurutnya mennciptakan keadaan dimana rakyatnya dapat

mencapai terkabulnya keinginan-keinginan secara maksimal .

Negara menjadi penentu akan cara-cara dan batas-batas untuk masyarakat

dalam mendapatkan kesejahteraan atau cita-cita bangsa. Masyarakat yang

membentuk negara secara tidak langsung juga mematuhi dan mengikuti aturan

main yang disediakan oleh negara. Dengan kata lain negara menjadi pengontrol

dalam integrasi bangsa yang sedang dijalankan oleh pemerintah negara. Sehingga

dengan demikian masyarakat dalam mencapai tujuannya dipimpin oleh negara.

5

. Sama halnya

dengan negara Republik Indonesia yang memiliki tujuan yang tercantum dalam

Undang-Undang Dasar 1945, bahwa "...untuk membentuk suatu Pemerintahan

Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan

seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, dengan

berdasarkan kepada ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan

beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan

dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan

Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia6

4

Agus Surata dan Tuhana Taufiq A, Runtuhnya Negara Bangsa, Yogyakarta:UPN "VETERAN" Yogyakarta Press, 2002, hal. 3.

5

Agus Surata, Ibid. hal. 35.

6

(14)

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang dibentuk melalui

kesepakatan masyarakat setelah masa penjajahan. Setelah berpuluh tahun di jajah

oleh bangsa asing, pada akhirnya masyarakat Indonesia pada masa itu dengan

kesepakatan bersama dan memiliki tujuan dan cita-cita yang sama membentuk

Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membentuk sistem dan pemerintahan

yang akan mambawa masa depan negara Indonesia.

Dalam konsep teori integralistik seperti yang diutarakan oleh Soepomo

bahwa masyarakat dalam satu negara merupakan satu kesatuan sah yang organis

dan menjadi satu dengan negara sehingga tidak menimbulkan perbedaan yang

pada akhirnya menimbulkan disintegrasi bangsa atau perpecahan. Dalam hal ini

masyarakat yang dimaksud adalah sesuai peraturan negara yang berlaku dalam

sistem pemerintahan. Paham integralistik menurut Soepomo, bahwa dalam negara

sebagai organisasi terbesar yang dibentuk oleh masyarakat awalnya, merupakan

bangsa yang teratur, persatuan rakyat yang saling terkait demi kemajuan negara

dan kesejahteraan masyarakat7

Bagi Soepomo sendiri pertama kali Beliau mengkonsep negara

integralistik dan mengajukan konsep tersebut sebagai bentuk negara Indonesia.

Dia melihat konsep yang diserap dari unsur Hegelian dengan adaptasi yang sesuai

dengan negara timur seperti keadaan Indonesia yang multikultur, konsep negara

intralistik sesuai dengan Indonesia. Pada awalnya sebelum negara Indonesia

terbentuk, Soepomo membuat urutan yang sistematis dalam syarat sebuah negara

terbentuk. Penetapan dasar sistem pemerintahan tergantung pada konsep negara

yang disepakati bersama. Kemudian Soepomo melihat keadaan Indonesia seperti .

7

(15)

apa. Berdasarkan pengembangan hasil pemikiran filsafat Hegelian, Spinoza dan

Adam Muller, kemudian Soepomo menghasilkan konsep negara integralistik.

Soepomo menyatakan bahwa teori integralistik masih tetap dalam hubungan

negara yang tidak lain dengan negara persatuan. Secara luasnya, merupakan

keseluruhan masyarakat negara, dan tidak hanya menyangkut bentuk negara

kesatuan atau semangat persatuan nasional semacam yang sering dianjurkan

Soekarno.

Hal ini menjadi bagian yang menarik ketika membahas integrasi bangsa

terkait dengan konflik-konflik etnis yang terjadi di Indonesia baik itu melibatkan

bangsa Indonesia maupun warga negara asing yang sah menjadi warga NKRI.

Persatuan adalah salah satu hal yang perlu di jaga pemerintah. Persatuan yang

dimaksud bukan semata persatuan pada sistem yang makro tetapi juga mikro,

dimana seluruh warga bangsa secara terintegrasi.

Dengan catatan yang dibuat, bahwa ketika istilah ‘negara persatuan’

dipakai, bukan hanya antara masyarakat dengan masyarakat tetapi juga hubungan

integral antara masyarakat dengan negara8

8

Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1994, hal. 94-95.

. Sehingga setiap individu masyarakat

dalam negara harus menjaga integritas nasionalisme dengan menjalin persatuan

antar sesame selain itu negara juga berfungsi untuk mengawasi setiap peran serta

masyarakat dan komponen dalam sistem negara, baik itu aparat negara dalam

struktur maupun jabatan sampai ke daerah. Sehingga segala hak dan kewajiban

setiap individu dapat terjamin. Di samping itu keutuhan dan kesenjangan sosial

(16)

Ketertarikan penulis dalam melihat permasalahan tentang negara yang

sangat kompleks terkait dengan konsep negara integralistik, seperti yang pernah

dibicarakan Prof. Mr. Dr. R. Soepomo dalam pidatonya pada tanggal 31 Mei

19459

Dikotomi pribumi dan non-pribumi yang semakin dipermasalahkan

ditengah masyarakat menjadi dilema bagi negara Indonesia yang multietnis. merupakan satu konsep negara yang sesuai dengan keadaan Indonesia.

Maksudnya bahwa Indonesia yang multietnis, dalam arti bahwa ada banyak

individu berbeda yang memiliki kepentingan atau harapan berbeda yang akan

diaplikasikan dalam negara. Negara Indonesia terkait hal ini harus mampu

mengintegrasikan segala aspirasi masyarakatnya disamping menjaga keutuhan

organis setiap elemen. Penulis tertarik membahas permasalahan ini disebabkan

bahwa dalam satu negara tidak ada perbedaan antarwarganegara. Segala hal

mengenai warganegara telah diatur dalam peraturan negara, namun seiring siapa

yang pribumi dan yang non-pribumi dipermasalahkan oleh masyarakat itu sendiri

memunculkan dikotomi yang serius dan cenderung bisa dikatakan keamanan

negara sedang terganggu oleh masyarakatnya sendiri, karena hal tersebut dapat

memunculkan konflik kecil bahkan konflik yang besar antar-etnis. Mengapa hal

ini dipermasalahkan ketika negara telah mengatur segalanya demi kesejahteraan

bersama. Apa kemungkinan dasar sistem atau bentuk negara yang dibentuk oleh

founding fathers sedang mengalami kegagalan? Atau apakah bentuk negara

sekarang ini kurang sesuai dengan perkembangan yang dialami Indonesia dalam

arti apakah bentuk negara yang ada tidak mampu mengatasi permasalahan yang

ada dalam masyarakat?

9

(17)

Negara yang memegang teguh persatuan namun pribumi dan non-pribumi menjadi

hal yang masih berkembang ditengah masyarakat. Hal ini menjadi bertolak

belakang dengan cita-cita bangsa Indonesia. Ini menjadi salah satu penyebab bagi

penulis untuk meneliti dikotomi pribumi dan non-pribumi yang terjadi di

Indonesia dilihat dari sudut pandang Soepomo, lebih tepatnya berdasarkan pidato

Soepomo yang dibacakan pada tanggal 31 Mei 1945.

2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan satu bagian pertanyaan yang akan menjadi

inti permasalahan yang akan diselesaikan dalam penelitian. Dalam penelitian yang

dilakukan ini, yang menjadi perumusan masalahnya adalah bagaimana Soepomo

melihat dikotomi pribumi, non-pribumi yang muncul ditengah masyarakat

Indonesia yang multietnis terkait dengan konsep teoritis negara integralistik yang

terdapat pada pidato Soepomo yang dibacakan pada tanggal 31 Mei 1945.

3. Pembatasan Masalah

Dalam sebuah penelitian tentunya harus memiliki pembatasan masalah

yang diteliti, Agar ruang masalah yang diteliti tersebut tidak terlalu melebar atau

bahkan keluar dari jalur inti pembahasan yang diteliti. Oleh sebab itu untuk lebih

fokus terhadap penelitian yang dilakukan, penulis membatasi permasalahan pada

seputar integritas bangsa Indonesia sesuai konsep teoritis negara integralistik oleh

(18)

4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

integritas bangsa Indonesia ketika permasalahan pribumi, nonpribumi dalam

konsep negara semakin melebar yang dilihat dari sudut pandang teori Soepomo

tentang negara integralistik yang terdapat dalam pidato beliau yang dibacakan

pada tanggal 31 Mei 1945.

5. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini berharap mempunyai nilai yang bermanfaat

bagi para pembaca, terutama di kalangan akademis, masyarakat dan pemerintah.

Adapun manfaat menurut penulis dari penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah ilmu terutama mengenai

penelitian ini, mengasah daya pikir dan daya kritis, meningkatkan

kreatifitas menulis karya ilmiah serta menambah wawasan dalam

membaca berbagai literatur penelitian ini.

2. Bagi akademis, hal ini bermanfaat dalam memperkaya penelitian di

bidang politik, khususnya pada permasalahan integritas bangsa dan

negara.

3. Bagi masyarakat, dengan adanya penelitian ini dapat memberikan

pemahaman yang lebih tentang tanggung jawab bersama dalam

menjaga keutuhan negara dan integritas bangsa.

4. Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat membuka wacana

berfikir untuk lebih melihat Indonesia yang multietnis dengan

(19)

keutuhan negara tanpa melupakan setiap kepentingan masyarakat

dalam mencapai cita-cita bangsa.

6. Kerangka Teori

Kerangka teori menjadi acuan dasar bagi peneliti untuk menggambarakan

apa yang akan diteliti. Sebelum melakukan penelitian, maka peneliti akan

menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berpikirnya dalam penelitiannya.

Teori adalah rangkaian asumsi, konsep, konstruksi, defenisi, dan proporsi untuk

menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan

hubungan antar konsep10. Menurut Kerlinger, teori adalah sebuah konsep atau

construct yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set dari proposisi

yang mengandung suatu pandangan yang sistematis dan fenomena11

Dua pemikir besar yang berasal dari Yunani, Plato dan Aristoteles

memiliki pemikiran tentang negara bahwa negara merupakan kekuasaan yang

besar. Setiap individu akan bertindak liar diluar jangkauan bila negara itu tidak . Penggunaan

teori penting kiranya dalam menalaah atau suatu masalah atau fenomena yang

terjadi sehingga fenomena tersebut dapat diterangkan secara eksplisit dan

sistematis. Kerangka teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

6.1. Teori Tentang Negara 6.1.1. Negara Plato dan Aristoteles

10

Masri Simangarimbun dan Sofyan Efendy, Metode Penelitian Sosial Surveri, Jakarta: Rajawali Pers, 1999, hal. 112.

11

(20)

ada. Dengan kata lain negara merupakan satu aturan yang mengikat dan disepakati

oleh masyarakat yang ada didalamnya.

Plato berpendapat bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan untuk

bertindak keras terutama dalam memenuhi kepentingan pribadinya. Hal ini

menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat dan negara bertindak sebagai

pengontrol. Bagi Plato dan Aristoteles, kekuasaan negara atas individu ini perlu

untuk menegakkan moral12

Negara merupakan satu komponen dalam sistem pemerintahan yang

terbesar. Pada dasarnya komponen negara dibentuk dari bagian-bagian yang kecil

dan hal ini berawal dari aplikasinya yang terkecil, yaitu desa. Manusia disebut . Negara dalam hal ini harus mendidik masyarakat

sehingga kekacauan dalam negara dapat terkendali. Disamping itu negara timbul

akibat adanya rasa timbal balik yang terjadi dan rasa saling membutuhkan antara

sesama, dan negara menjamin semua ini agar terjadi dan kebutuhan masyarkat

dapat terjamin dengan baik.

Satu hal bagi Plato bahwa negara ideal itu merupakan negara yang

melarang pemilikan harta kekayaan, uang, istri, anak dan lain sebagainya secara

berlebihan. Plato melihat ketidakseimbangan dalam pemilikan tersebut.hal ini

dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang tinggi yang pada akhirnya

memunculkan persaingan yang tidak sehat. Negara berperan dalam hal ini untuk

menjaga keseimbangan kesejahteraan disetiap lapisan masyarakat. Plato

menegaskan pada masa itu bahwa negara ideal yang dimaksudkan tersebut hanya

berlaku kepada para penguasa negara dan mereka di kelas menengah keatas,

namun tidak berlaku bagi mereka kelas bawah.

12

(21)

Aristoteles merupakan zoon politicon, dimana dimaksudkan sebagai mahluk yang

berpolitik juga dan manusia menjadi penentu dari watak politik dari satu unit yang

sedang berlangsung. Negara terbentuk karena ketergantungan antar manusia yang

saling membutuhkan satu sama lain.

Aristoteles sendiri menyatakan bahwa negara merupakan suatu lembaga

yang paling berdaulat. Sehingga pada akhirnya negara memiliki kekuasaan

tertinggi yang bertujuan dalam mensejahterakan seluruh warga negara, bukan

antar individu saja13

Hegel, sebagai seorang filsuf dari Jerman memiliki analisis yang berbeda

tentang pandangan terhadap negara. Dia mengembangkan filsafatnya tentang

dialektika dari yang ideal dan yang real. Teori ini kemudian dihidupkan lagi di

jaman modern melalui Teori Negara Organis .

6.1.2. Teori Negara Hegelian

14

. Pemikiran Hegel lebih cenderung

menempatkan posisinya pada perkembangan sejarah umat manusia. Dalam sejarah

umat manusia merupakan proses sebuah ide yang universal yang sedang

merealisasikan dirinya mengikuti perkembangan15

13

. Hal ini dikarenakan manusia

merupakan mahluk yang tidak sempurna, terkait dengan ide yang natural yang

berupaya merealisasikan diri demi menciptakan perkembangan manusia yang

sempurna. Kemudian, Hegel mengembangkan pemikirannya bahwa negara

merupakan penjelmaan dari ide yang universal yang dimaksudnya. Sedangkan

individu merupakan penjelmaan dari yang pertikular, dalam bentuk kepentingan

14

Arief Budiman , Teori Negara, Negara, Kekuasaan, dan Ideologi, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996, hal. 7.

15

(22)

yang sempit. Negara sebagai bagian kumpulan masyarakat yang modern

membantu ide masyarakat secara umum dalam menciptakan kesejahteraan dari

manusia yang sempurna. Pada akhirnya Hegel berpendapat bahwa keinginan

negara merupakan keinginan umum untuk kebaikan semua orang, karena itulah

negara harus dipatuhi16

Pemikiran Hegel mengalami perkembangan dan mendukung berdirinya

negara kuat, diteruskan oleh teori Negara Organis di jaman modern. Maksud dari

konsep Negara Organis yang juga merupakan bagian dari konsep Negara

Integalistik Soepomo bahwa negara merupakan sebuah lembaga yang memiliki

kemauan sendiri untuk mandiri .

17

. Dalam hal ini keinginan yang akan diwujudkan

negara bukan kepentingan pribadi ataupun kelompok melainkan berdasarkan misi

negara itu sendiri dalam mewujudkan masyarakat yang lebih baik, dan

menegakkan moralitas baru di dalam masyarakat18

Pada dasarnya negara bisa saja bertentangan negara dan bahkan sering

terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang diharapkan terealisasi melalui

kebijakan yang dibuat. Dalam pandangan Hegelian antara masyarakat dan negara,

maka kepentingan negara-lah yang harus dimenangkan karena negara .

Alfred Stepen salah seorang tokoh yang membahas teori Negara Organis:

Konsep kebaikan umum, denga keharusan moral yang dibebankan kepada negara untuk menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat, membuka kesempatan bagi negara untuk merumuskan dan mengambil prakarsa sendiri untuk memaksakan perubahan-perubahan besar kepada sebuah masyarakat yang sudah mapan, supaya dapat diciptakan sebuah masyarakat baru yang lebih baik.

16

Arief Budiman, Ibid., hal. 16.

17

Arief Budiman, Ibid., hal. 17.

18

(23)

mendasarkan kebijakannya bagi kepentingan publik, sedangkan masyarakat sipil

terpecah-terpecah dan hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan

golongannya saja19

Disamping semua hak, kebebasan, dan kesempatan yang amat diperlukan

supaya pemerintahan berjalan demokratis, warga negara di negara demokrasi pasti

menikmati banyak kebebasan yang lebih bagus .

6.2. Demokrasi

Robert A. Dahl melontarkan pertanyaan mengenai mengapa harus

demokrasi yang dipilih dalam suatu sietem pemerintahan diterapkan. Robert A.

Dahl menyatakan bahwa demokrasi mampu menghindari adanya tirani, jaminan

akan hak asasi, kebebasan umum yang terjamin juga, kemampuan bagi tiap

individu untuk menetukan nasib sendiri dan adanya persamaan politik. Demokrasi

bukan hanya masalah sebuah pemerintahan. Hak menjadi bagian utama ketika

berbicara demokrasi.

20

Dalam sebuah negara yang memiliki masyarakat pluralistik dalam negara

demokrasi merupakan satu tantangan yang cukup besar dan kuat. Namun, dalam

negara-negara besar yang memiliki bentuk lain: distriki, negara bagian, propinsi,

wilayah, dan lain-lain. Sekecil apapun sebuah negara dalam skala dunia, negara . Di samping itu demokrasi

melindungi kesempatan dan kebebasan ini lebih baik daripada semua sistem

politik alternative yang pernah terjadi. Jhon Stuart Mill menyatakan juga bahwa

tidak ada yang lebih diinginkan daripada pengakuan dari semuanya untuk berbagi

kekuasaan dalam memerintah negara.

19

Arief Budiman, Op. Cit., hal. 59-60.

20

(24)

akan membutuhkan sederetan asosiasi dan organisasi yang bebas, yaitu

masyarakat sipil yang pluralistik21

Untuk memerintah suatu negara dengan baik membutuhkan lebih dari

sekedar ilmu pengetahuan

.

Robert A. Dahl melihat demokrasi bukan berbicara sekedar pemerintahan

yang oleh masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Kedaulatan

pemerintahan memang terlihat pada masyarakat. Masyarakat merupakan salah

satu bagian dari sistem demokrasi oleh sebab itu segala sesuatu yang berhubungan

dengan masyarakat dioptimalkan berjalan dengan baik dan memiliki

keseimbangan yang baik. Kecenderungan terganggunya hak dari masyarakat

sudah tentu akan mengganggu implementasi demokrasi yang sedang dijalankan.

Oleh sebab itu Robert A. Dahl lebih menekankan pada hak, persamaan dan

segala hal yang menitikberatkan pada kepentingan pribadi yang dasar. Dalam hal

ini bukan terlalu fokus pada kepentingan pribadi namun hal tersebut menjadi hal

yang dilihat dalam negara demokrasi. Dimana demokrasi melihat masyarakat

lebih subjektif sebagai pemeran utamanya.

22

. Maksud dari Dahl bahwa suatu negara demokrasi

tidak membtuhkan ilmu yang begitu tinggi untuk menerapkan demokrasi. Sama

halnya pada masa awal yang disebut negara muncul dan dikolaborasi dengan

demokrasi, ilmu tidak mendominasi namun suatu perasaan peka terhadap isu yang

berkembang dalam masyarakat. Paling utamanya bahwa satu pemimpin harus

mampu melihat tujuan awal dari demokrasi dan mampu melaksanakan

(25)

dahulunya. Pada dasarnya ilmu yang berlebihan menjadi bumerang sendiri

melalui adanya penyalahgunaan kekuasaan.

Hal ini berbeda dengan pemikiran David Held dalam memandang konsep

demokrasi. Jika Robert A. Dahl melihat hak sebagai unsur dasar dalam demokrasi

yang dikonsepnya, sementara David Held melihat keseimbangan dalam sistem

pemerintahan. Maksudnya tersebut dituangkanya dalam 6 (enam) prinsip yang

harus ada dalam sebuah negara yang mengaku demokrasi23

1. Para pejabat yang dipilih. Pemegang atau kendali terhadap segala

keputusan pemerintahan mengenai kebijakan secara konstitusional berada

di tangan para pejabat yang dipilih oleh warga negara. Jadi, pemerintahan

demokrasi modern ini merupakan demokrasi perwakilan;

, yaitu sebagai berikut:

2. Pemilihan umum yang jujur, adil, bebas, dan periodik. Para pejabat ini

dipilih melalui Pemilu;

3. Kebebasan berpendapat. Warga negara berhak menyatakan pendapat

mereka sendiri tanpa halangan dan ancaman dari penguasa;

4. Akses informasi-informasi alternatif. Warga negara berhak mencari

sumber-sumber informasi alternatif;

5. Otonomi asosiasional, yakni warga negara berhak membentuk

perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi yang relatif bebas,

termasuk partai politik dan kelompok kepentingan;

6. Hak kewarganegaraan yang inklusif

23

(26)

Pada dasarnya bila diteliti lebih dalam lagi, ke-6 prinsip dasar yang harus ada

pada negara demokrasi seperti yang diutarakan oleh David Held tersebut

tercantum dalam konstitusi tertinggi oleh negara Amerika Serikat. Sama halnya

seperti di negara Indonesia sendiri. Indonesia memiliki aturan tertinggi yang

terdapat pada Undang-undang dank ke-6 dari prinsip David Held telah membaur

didalamnya.

Demokrasi yang diagungkan oleh David Held tidak jauh berbeda halnya

dengan Robert A. dahl. Patokan mereka dalam menggerakkan demokrasi berawal

dari warga negara yang menjadi bagian dasar atau komponen utama dari negara.

Jika Robert A. Dahl menekankan pada warga melalui hak individunya, maka

David Held menjurus kepada hal-hal yang mendukung pada kepentingan asasi

warga negara. Hal ini berbeda halnya dengan konsep demokrasi ala Jean Jacques

Rousseau yang mengkonsepkan The Social Contract. Rousseau berasumsi bahwa

walaupun manusia bahagia dalam sebuah komunitas mereka, mereka akan

menggunakan sebuah kontrak social dalam menghadapi rintangan hidup mereka.

Rousseau menyatakan bahwa manusia memiliki suatu hak yang absolut. Sama

halnya seperti Robert dan David yang terpusat pada hak. Rousseau menyatakan

bahwa ketika kebebasan satu individu terhalang dan seperti berada pada sebuah

tekanan secara tidak langsung maka hal tersebut tidak akan membedakan manusia

dengan hewan.

Hal yang dimaksud Rousseau tidak termasuk pada saat warga harus

mematuhi undang-undang. Undang-undang merupakan bagian dari satu

kedaulatan yang dibuat oleh warga negara sendiri. Pada dasarnya undang-undang

(27)

pada hak individu dan kelompok. Rousseau adalah pemikir politik teoritikus

demokrasi modern yang pertama. Rousseau percaya bahwa demokrasi langsung

tidak dapat direalisasikan secara langsung. Ia tidak percaya pada partai golongan

kelompok penekan. Rousseau hanya melihat pada kesepakatan yang dihasilkan

bersama dengan warga yang disetujui dengan suara bulat. Rousseau menghendaki

kekuasaan rakyat dan kesetaraan semua warga. Hal ini terealisasi dari kontrak

sosial yang dimaksudkannya dalam konsepnya sendiri.

Rousseau melihat kontrak sosial sebagai bagian dari demokrasi yang

berjalan dengan baik. adanya jaminan akan suatu kebebasan yang terjamin bagi

setiap individu. Kontrak sosial mempercayakan keterwakilan pemerintahan pada

individu tertentu yang mampu mewakili rakyat atau warga negara dalam

memerintah negara. Sehingga secara tidak langsung kedaulatan rakyat berjalan

melalui kontrak sosial sebagai jaminan dalam negara demokrasi. Selain itu dalam

konsep kontrak sosial negara merupakan kehendak umum. Maksudnya di sini

bahwa kepentingan bersama menjadi bagian utama. Sama halnya seperti ketika

kontrak sosial disepakati warga negara, segala keputusan di ambil berdasarkan

kepentingan umum dan menghindari adanya kepentingan pribadi.

6.2. Negara Integralistik

Sebagai bangsa yang multietnis dengan berbagai kebudayaan yang

dimiliki, kecenderungan adanya konflik antaretnis dapat menghancurkan cita-cita

integritas nasional yang dicita-citakan oleh Indonesia sejak dari awal. Maurice

Duverger menyatakan bahwa konflik dan integrasi bukan seharusnya dua

(28)

negara dan pemerintah dalam menjaga integritas nasional merupakan satu hal

yang harus dijalankan oleh pemerintah. Hal ini dapat ditandai dengan jaminan

bagi setiap warga negara baik mayoritas maupun minoritas. Disamping itu

berdasarkan Undang-Undang RI setiap warga negara telah memberi jaminan

namun tidak harus lepas tangan. Misalnya kepada etnis Tionghoa yang merupakan

salah satu etnis yang dimiliki Indonesia cenderung masih ragu dalam

melaksanakan hak politik mereka. Rendahnya tingkat partisipasi aktif politik

mereka disetiap wilayah menjadi bukti. Disamping itu setiap pengurusan bidang

administrasi masih ada pemisahan yang dilakukan oleh birokrasi, dalam hal

partisiapasi politik masih adanya streotip pribumi dan non-pribumi yang selalu

mengenai etnis Tionghoa. Dalam hal ini pemerintah perlu mengkaji kembali

cita-cita integrasi nasional yang terdahulu. Masalah seperti ini dapat menjadi pemicu

terciptanya disintegrasi nasional.

Salah karakteristik sebagai sifat dasar dari suatu masyarakat majemuk

sebagaimana yang dikemukakan oleh van den Berghe yaitu adanya dominasi

politik oleh suatu kelompok oleh kelompok-kelompok lainnya24

24

Jacobus Ranjabar, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Ghalia Indonesia: 2006, hal. 186. . Etnis Tionghoa

sebagai satu etnis yang minoritas dan etnis lainnya memberikan tekanan tersendiri

yang pada akhirnya melumpuhkan sistem demokrasi dalam integrasi nasional.

Seperti yang diajarkan oleh Spinoza, Adam Muhler, Hegel pada abad ke -18 dan

19 bahwa yang berpaham negara bukanlah untuk kepentingan individu melainkan

menjamin kepentingan masyarakat bersama dalam kesatuan yang disebut negara.

(29)

masyarakat yang integral yang berbeda dan saling keterkaitan secara erat dan

merupakan persatuan masyarakat yang organis25

25

Moh. Mahfud, Op. Cit., hal. 38.

.

Pandangan Soepomo terhadap integritas nasional Indonesia terkonsep

dalam pandangan konsep integralistiknya. Konsep negara integralistik muncul

mengatasi segala paham golongan, mengatasi segala paham perseorangan, dan

menghendaki persatuan. Dalam teks pidato Prof. Mr. Dr. R. Soepomo tanggal 31

Mei 1945, konsep negara integralistik dikumandangkan pertama kali sebagai

suatu jenis konsep negara dan hal ini menurutnya sesuai dengan pola masyarakat

ketimuran terutama masyarakat Indonesia.

Dalam pidato Soepomo secara tersirat bahwa negara tidak terlalu

mencampuri semua urusan masyarakat tetapi tetap berperan dalam kehidupan

masyarakat. Dalam hal ini negara tetap harus berupaya menjaga persatuan seperti

konsep Hegel yang dianutnya dalam teori negara organis. Sama halnya dalam

teori negara organis, konsep negara integralistik menjaga kesatuan dari setiap

komponen di dalam negara tersebut. Seperti halnya pada satu tumbuhan organis

yang didalamnya terdapat berjuta-juta sel demi mendukung pertumbuhan dan

perkembangan tumbuhan tersebut, maka setiap sel harus membentuk sistem yang

saling mendukung dan tumbuhan tersebut harus mampu merangkum seluruh sel

tersebut. Demikian halnya yang dilihat Hegel yang kemudian dikembangkan oleh

Soepomo. Indonesia dengan berbagai komponen masyarakat yang berbeda harus

mampu merangkum semua dalam satu sistem pemerintahan yang utuh demi

(30)

Pada dasarnya konsep negara integralistik yang sedikit banyaknya

menyerap pemikiran dari pemikir Hegel. Namun dalam hal ini Soepomo

mengadaptasikan konsepnya ke dalam sistem yang dianut Indonesia. Hal ini dapat

dilihat ketika memilih penguasa negara dilakukan dengan cara pemungutan suara

secara dengan demokratis. Artinya bahwa masyarakat memiliki ruang publik yang

bebas dalam menentukan aspirasi mereka. Masih terkait permasalahan ini, konsep

negara integrelistik tidak harus sepenuhnya diserap dan perlu adanya penyesuaian

dengan konsep demokrasi yang juga berjalan agar dapat terhindar dari adanya

otoriter atau totaliternya penguasa negara. Bila ditinjau lebih dalam konsep negara

integralistik merupakan rancangan yang tidak menyalahi. Seperti konsep dari

pemikir Hegel, John Locke dan Montesquieu bila disesuaikan dengan aspirasi

masyarakat maka semuanya itu dapat berjalan seimbang dengan bentuk negara

yang demokrasi tanpa menghilangkan peran, hak dan kewajiban setiap komponen

negara.

7. Metodologi Penelitian 7.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah merupakan penelitian kualitatif, penekanan pada

deskriptif dan analisis. Metode ini dapat digunakan untuk mengunkap dan

memahami sesuatu dibalik fenomena yang sedikit pun mungkin belum diketahui.

Metode ini member rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkap

oleh metode kuantitatif. Disamping itu, metode ini dapat dipergunakan untuk

menyelidiki lebih dalam konsep-konsep atau ide-ide26

26

Ansem Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, Tata Langkah dan Teknik-teknik Teorisasi Data, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 5.

(31)

7.2. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Deskriptif, yaitu analisis

masalah dengan pengumpulan data melalui Studi Pustaka (library research)

dengan teknik pengumpulan bahan kepustakaan buku-buku, artikel, media massa

cetak maupun media massa elektronik serta data-data tertulis yang berkaitan

dengan masalah penelitian.

8. Teknik Analisa Data

Metode kualitatif merupakan metode yang digunakan penulis dalam

menganalisis yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Data-data yang

diperoleh dalam penelitian ini kemudian disusun sehingga memberikan

keterangan terhadap masalah-masalah yang aktual dan berdasarkan data yang

sudah terkumpul. Dalam penelitian kualitatif ini penulis tidak mencari kebenaran

dan moralitas tetapi lebih kepada upaya pemahaman.

9. Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini merupakan pemaparan Latar Belakang, Perumusan

Masalah, Pembatasan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat

Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, Teknik Analisa

(32)

BAB II : KONSEP NEGARA INTEGRALISTIK

Bab ini membahas mengenai suatu konsep negara integralistik

sesuai konsep yang diutarakan oleh Soepomo dalam pidatonya

yang juga sesuai dengan situasi negara Indonesia.

BAB III : ANALISA DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang analisa yang dilakukan terhadap

permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.

BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran atas penelitian

(33)

BAB II

KONSEP NEGARA INTEGRALISTIK

1. PIDATO SOEPOMO

Berikut adalah isi pidato Soepomo yang dibacakan pada tanggal 31 Mei

1945 berdasarkan yang tertulis pada notulen rapat sidang BPUPKI27

Soal yang kita bicarakan ialah bagaimanakah akan dasar-dasarnya Negara

Indonesia Merdeka. Tadi oleh beberapa pembicara telah dikemukakan beberapa

faktor dari beberapa Negara, syarat-syarat mutlak (faktor-konstitutif) dari suatu .

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia Sidang Pertama

Rapat Besar tanggal 31 Mei 1945

Waktu :

Tempat : Gedung Tyuuoo Sangi-In (sekarang Departemen Luar Negeri)

Acara : - Pembicaraan tentang Dasar Negara Indonesia (lanjutan)

- Pembicaraan tentang Daerah Negara dan Kebangsaan Indonesia.

Ketua : Dr K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat

Anggota, Soepomo:

Paduka Tuan Ketua, hadirin yang terhormat!

27

(34)

Negara. Syarat-syarat mutlak untuk mengadakan Negara dipandang dari sudut

hukum dan dari sudut formeel, (jurisprudence), yaitu harus ada daerah (territory),

rakyat, dan harus ada perintah yang daulat (souverein) menurut hukum

internasional. Akan tetapi, syarat-syarat mutlak ini tidak mengenai dasar

kemerdekaan dari Negara dalam arti sosiologi dan arti politik. Juga suatu syarat

mutlak yang telah dibicarakan dalam sidang ini ialah tentang pembelaan tanah air.

Maka pembelaan tanah air sangat penting adanya dan tentang ini saya setuju

dengan nasihat-nasihat dan anjuran-anjuran dari pihak Pemerintah Bala tentara,

yaitu dari Paduka Tuan Soomubutyoo yang telah dimuat dalam surat kabar Asia

Raya dan setuju juga dengan pandangan yang baru tadi diuraikan oleh anggota

yang terhormat Tuan Abdulkadir.

Tentang syarat mutlak lain-lainnya. Pertama tentang daerah, saya mufakat

dengan pendapat yang mengatakan, “Pada dasarnya Indonesia, yang harus

meliputi batas Hindia-Belanda”. Akan tetapi jikalau, misalnya daerah Indonesia

lain, umpamanya negeri Malaka, Borneo Utara hendak ingin juga masuk

lingkungan Indonesia, hal itu kami tidak keberatan. Sudah tentu itu bukan kita

saja yang akan menentukan, akan tetapi juga pihak saudara-saudara yang ada di

Malaka dan Borneo Utara.

Tentang syarat mutlak kedua, hal rakyat sebagai warga Negara. Pada

dasarnya ialah sebagai warga Negara yang mempunyai kebangsaan Indonesia,

dengan sendirinya bangsa Indonesia asli. Bangsa peranakan, Tionghoa, India,

Arab yang telah berturun-temurun tinggal di Indonesia dan baru saja diuraikan

oleh anggota yang terhormat Dahler, mempunyai kehendak yang

(35)

sebagai warga-negara dengan diberi kebangsaan Indonesia (nasionaliteit

Indonesia).

Yang penting juga kita harus menjaga supaya tidak ada ”dubbele

onderdaanscap” dan menjaga jangan ada “staatloosheid”. Hal yang sebagian

tergantung juga dari sistem undang-undang dari Negara lain-lain. Sebagai pokok

dasar kewarganegaraan Indonesia ialah ius sanguinis (prinsip keturunan) dan ius

soli (prinsip teritorial).

Syarat mutlak yang ketiga, ialah pemerintah daulat menurut hukum

internasional.

Jikalau kita hendak membicarakan tentang dasar system pemerintahan

yang hendak kita pakai untuk Negara Indonesia, maka dasar sistem pemerintahan

yang hendak kita pakai untuk Negara Indonesia, maka dasar sistem pemerintahan

itu bergantung kepada staatsidee, kepada “begrip” (pengertian – red.) “staat”

(Negara) yang hendak kita pakai untuk pembangunan negara Indonesia akan

didirikan? Oleh anggota terhormat Moh. Hatta dan lain-lain pembicara

dikemukakan tiga soal ialah:

Pertama, apakah Indonesia akan berdiri sebagai persatuan Negara

(eenheidsstaat) atau Negara serikat (bondstaat) atau sebagai persekutuan Negara

(statenbond).

Kedua, dipersoalkan hubungan antara Negara dan agama,

Ketiga, apakah republik atau monarki. Menurut pendapat saya, hadirin

yang terhormat, sebelum kita membicarakan soal persatuan negara, atau negara

(36)

yang disebut negara itu, negara menurut dasar pengertian pengertian apa, oleh

karena segala pembentukan susunan negara itu tergantung daripada dasar

pengertian negara (staatsidee) tadi.

Tentang persatuan negara atau negara serikat atau tentang republik atau

monarki, itu sebetulnya menurut pendapat saya, soal bentuk susunan negara.

Maka saya sekarang hendak membicarakan dasarnya negara Indonesia Merdeka.

“Negara” menurut dasar pengertian (staatsidee) apa?

Sebagaimana Tuan-tuan telah mengetahui, dalam ilmu negara kita,

mendapati beberapa teori, beberapa aliran pikiran tentang negara. Marilah dengan

singkat kita meninjau teori-teori negara itu.

1. Ada suatu aliran pikiran yang menyatakan bahwa negara itu terdiri atas

dasar teori perseorangan, teori individualistis. Sebagaimana diajarkan

oleh Thomas Hobbes dan John Locke (abad ke-17), Jean Jacques

Rousseau (abad ke-18), Herbert Spencer (abad ke-19), H.J. Laski

(abad ke 20). Menurut aliran pikiran ini, negara ialah masyarakat

hukum (legal society) yang disusun atas kontrak antara seluruh

seseorang dalam masyarakat itu (contract social). Susunan hukum

negara yang berdasar individualism terdapat di negeri Eropa Barat dan

di Amerika.

2. Aliran pikiran lain tentang negara ialah teori “golongan” dari negara

(class theory) sebagai diajarkan oleh Marx, Engels, dan Lenin. Negara

dianggap sebagai suatu alat dari suatu golongan (suatu klasse) untuk

menindas klasse lain. Negara ialah alatnya golongan yang mempunyai

(37)

golongan-golongan lain yang mempunyai kedudukan yang lembek. Negara

kapitalis ialah perkakas bourgeoisi untuk menindas kaum buruh, oleh

karena itu para Marxis menganjurkan revolusi politik dari kaum buruh

untuk merebut kekuasaan negara agar kaum buruh dapat ganti

menindas kaum bourgeoisi.

3. Aliran pikiran lain dari pengertian negara ialah teori yang dapat

dinamakan teori integralistik yang diajarkan oleh Spinoza, Adam

Muller, Hegel, dan lain-lain (abad ke-18 dan abad ke-19). Menurut

pikiran ini negara ialah tidak untuk menjamin kepentingan seseorang

atau golongan, akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat

seluruhnya sebagai persatuan.

Negara ialah suatu susunan masyarakat yang integral, segala golongan,

segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan

merupakan persatuan masyarakat yang organis. Yang terpenting dalam

negara yang berdasar aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa

seluruhnya. Negara tidak memihak kepada suatu golongan yang paling

kuat, atau yang paling besar, tidak menganggap kepentingan seseorang

sebagai pusat, akan tetapi negara menjamin keselamatan hidup bangsa

seluruhnya sebagai persatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan.

Sekarang Tuan-tuan akan membangunkan negara Indonesia atas aliran

(38)

Kami hendak mengingatkan lagi nasihat P.T. Soomubutyoo bahwa

pembangunan negara bersifat barang yang bernyawa. Oleh karena itu, corak dan

bentuknya harus disesuaikan dengan keadaan umum pada masa sekarang dan

harus mempunyai keistimewaan yang sesuai dengan keadaan umum tadi. Kecuali

itu P.T. Soomubutyoo juga member nasihat janganlah kita meniru belaka susunan

negara lain. Contoh-contoh negara lain hendaknya menjadi peringatan saja,

supaya bangsa Indonesia jangan sampai mengulang kegagalan yang telah dialami

oleh bangsa lain, atau paling banyak hanya mengambil contoh-contoh yang

sungguh patut dipandang sebagai teladan.

Sungguh benar, dasar dan bentuk susunan dari suatu negara itu

berhubungan erat dengan riwayat hukum (rechtsgeschichte) dan lembaga social

(sociale structuur) dari negara itu. Berhubung dengan itu apa yang baik dan adil

untuk negara lain, oleh karena keadaan tidak sama.

Tiap-tiap negara mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri berhubung

dengan riwayat dan corak masyarakatnya. Oleh karena itu, politik pembangunan

negara Indonesia harus disesuaikan dengan “sociale structuur” masyarakat

Indonesia, yang nyata pada masa sekarang, serta harus disesuaikan dengan

panggilan zaman, misalnya cita-cita negara Indonesia dalam lingkungan Asia

Timur Raya.

Dengan mengingat ini, marilah kita melihat contoh-contoh dari negara

lain. Dasar susunan hukum negara Eropa Barat ialah perseorangan dan

liberalisme. Sifat perseorangan ini, yang mengenai segala lapangan hidup (sistem

undang-undang ekonomi, kesenian, dan lain-lain), memisah-misahkan manusia

(39)

yang lain. Seorang manusia dan negara yang dianggap sebagai seseorang pula,

selalu segala-galanya itu menimbulkan imperialisme dan sistem memeras

(uitbuitings systeem) membikin kacau-balaunya dunia lahir dan batin.

Tuan-tuan telah mengerti sendiri bahwa sifat demikian harus kita jauhkan

dari pembangunan negara Indonesia, bahkan Eropa sendiri pada waktu sekarang

mengalami krisis rohani yang maha hebat berhubung dengan jiwa rakyat Eropa

telah jemu kepada keangkaramurkaan, sebagai akibat semangat perseorangan

tersebut.

Dasar susunan negara Soviet Rusia pada masa sekarang ialah dictator dari

proletariat. Boleh jadi dasar itu sesuai dengan keistimewaan keadaan social dari

negeri Rusia, akan tetapi dasar pengertian negara itu bertentangan dengan sifat

masyarakat Indonesia yang asli.

Lain negara ialah negara Jerman nasional sosialis sebelum menyerah

dalam peperangan sekarang. Negara itu berdasar atas aliran pikiran negara

totaliter, das Ganze der politischen Einheit des Volkes (integrate theory). Prinsip

“pimpinan” (fuhrung) sebagai kernbegriff (ein totaler fuhrerstaat) dan sebagai

prinsip yang dipakainya juga ialah persamaan darah dan persamaan daerah (blut

and boden theorie) antara pimpinan dan rakyat.

Tuan-tuan yang terhormat, dari aliran pikiran nasional sosialis ialah

prinsip persatuan antara pimpinan dan rakyat dan prinsip persatuan dalam

negara seluruhnya cocok dengan aliran pikiran ketimuran.

Kita sekarang meninjau negara Asia ialah dasar negara Dai Nippon.

(40)

Yang Maha Mulia Tennoo Heika, negara, dan rakyat Nippon seluruhnya. Tennoo

adalah pusat rohani dan seluruh rakyat. Negara bersandar atas kekeluargaan.

Keluarga Tennoo yang dinamakan “Konshitu” ialah keluarga yang terutama.

Dasar persatuan dan kekeluargaan ini sangat sesuai pula dengan corak

masyarakat Indonesia.

Setelah kita meninjau dengan ringkas contoh-contoh dari sifat

negeri-negeri lain, maka tadi dengan sepatah dau patah kata kami mengatakan apa yang

tidak sesuai dan apa yang sesuai dengan lembaga social (struktur sosial) dari

masyarakat Indonesia yang asli. Sebagai Tuan-tuan telah mengetahui juga,

struktur sosial Indonesia yang asli tidak lain ialah ciptaan kebudayaan Indonesia,

ialah buat aliran pikiran atau semangat kebatinan bangsa Indonesia.

Maka semangat kebatinan, struktur kerohanian dari bangsa Indonesia

bersifat dan bercita-cita persatuan hidup, persatuan kawulo dan gusti, yaitu

persatuan antara dunia luar dan dunia batin, antara mikrokosmos dan

makrokosmos, antara rakyat dan pemimpin-pemimpinnya. Segala manusia

sebagai seseorang, golongan manusia manusia dalam suatu masyarakat, dan

golongan-golongan lain dari masyarakat itu, dan tiap-tiap masyarakat dalam

pergaulan hidup di dunia seluruhnya dianggap mempunyai tempat dan kewajiban

hidup (darma) sendiri-sendiri menurut kodrat alam dan segala-galanya ditujukan

kepada keimbangan lahir dan batin. Manusia sebagai seseorang tidak terpisah

dari seseorang lain atau dari dunia luar, golongan-golongan manusia. Malah

segala golongan makhluk, segala sesuatu bercampur-baur dan bersangkut-paut,

(41)

Inilah ide totaliter, ide integralistik dari bangsa Indonesia yang berwujud juga

dalam susunan tata negaranya yang asli.

Menurut sifat tata negara Indonesia yang asli, yang sampai zaman

sekarang pun masih dapat terlihat dalam suasana desa baik di Jawa, maupun di

Sumatera dan kepulauan-kepulauan Indonesia lain, maka para pejabat negara ialah

pemimpin yang bersatu-jiwa dengan rakyat dan para pejabat negara senantiasa

wajib memegang teguh persatuan keseimbangan dalam masyarakatnya.

Kepala desa, atau kepala rakyat wajib menyelenggarakan keinsafan

keadilan rakyat, harus senantiasa memberi bentuk (gestaltung) kepada rasa

keadilan dan cita-cita rakyat. Oleh karena itu kepala rakyat “memegang adat”

(kata pepatah Minangkabau) senantiasa memperhatikan segala gerak-gerik dalam

masyarakatnya. Dan untuk maksud itu, senantiasa bermusyawarah dengan

rakyatnya atau dengan kepala-kepala keluarga dalam desanya supaya pertalian

batin antara pemimpin dan rakyat seluruhnya senantiasa terpelihara.

Dalam suasan persatuan antara rakyat dan pemimpinnya, antara

golongan-golongan rakyat satu sama lain, segala golongan-golongan diliputi oleh semangat gotong

royong, semangat kekeluargaan.

Maka teranglah Tuan-tuan yang terhormat, bahwa jika kita hendak

mendirikan negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat corak

masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasar atas aliran pikiran

(staatsidee) negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh

rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongan-golongannya dalam lapangan

(42)

Menurut aliran pikiran ini, kepala negara dan badan-badan pemerintah lain

harus bersifat pemimpin yang sejati, penunjuk jalan kea rah cita-cita luhur, yang

diidam-idamkan oleh rakyat. Negara harus bersifat "badan penyelenggara", badan

pencipta hukum yang timbul dari hati sanubari rakyat seluruhnya. Dalam

pengertian ini, menurut teori ini yang sesuai dengan semangat Indonesia yang asli,

negara tidak lain ialah seluruh masyarakat atau seluruh rakyat Indonesia sebagai

persatuan yang teratur dan tersusun.

Dalam pengertian ini, negara tidak bersikap atau bertindak sebagai

seseorang yang mahakuasa, yang terlepas dari seseorang-seseorang manusia

dalam daerahnya dan yang mempunyai kepentingan sendiri, terlepas dari

kepentingan warga-warga negaranya sebagai seseorang (paham individualis).

Tuan-tuan yang terhormat, menurut pengertian "negara" yang integralistik,

sebagai bangsa yang teratur, sebagai persatuan srakyat yang tersusun, maka spada

dasarnya tidak akan ada dualisme "staat dan individu", tidak akan ada

pertentangan antara susunan staat dan ssusunan hukum individu, tidak akan ada

dualisme "staat and staatsfreie gesellschaft", tidak akan membutuhkan jaminan

grund und freiheitsrechte dari individu contra staat. Oleh karena individu tidak

lain adalah suatu bagian organic dari staat. Dan sebaliknya oleh karena staat

bukan suatu sbadan kekuasaan atau raksasa politik yang berdiri di luar lingkungan

suasana kemerdekaan seseorang.

Paduka Tuan Ketua, seseorang filosof Inggris, bernama Jeremy Bentham

(akhir abad ke-18) mengajarkan bahwa staat menuju kepada "the greatest

happiness of the greatest number”, akan tetapi pikiran ini berdasar atas pikiran

(43)

dengan semangat Indonesia asli tadi, negara tidak mempersatukan dirinya dengan

golongan yang terbesar dalam masyarakat, pun tidak mempersatukan dirinya

dengan golongan yang paling kuat (golongan politik atau ekonomi yang paling

kuat), akan stetapi mengatasi segala golongan dan segala sseseorang

mempersatukan diri dengan segala lapisan rakyat seluruhnya.

Tuan-tuan yang terhormat, hendaknya jangan salah paham. Teori negara

integralistik atau negara totaliter ini tidak berarti bahwa negara tidak akan

memperhatikan adanya golongan-golongan sebagai golongan, atau tidak akan

memperdulikan manusia sebagai seseorang. Bukan itu maksudnya! Aliran pikiran

ini mempunyai sifat concrete dan reel, tidak meng-abstraheer segala keadaan

(seperti sifat teori individualism).

Negara akan mengakui dan menghormati adanya golongan-golongan

dalam masyarakat yang nyata, akan tetapi setiap orang dan segala golongan akan

insaf kepada kedudukannya sebagai bagian organik dan negara seluruhnya, wajib

meneguhkan persatuan dan harmoni antara segala bagian-bagian itu.

Negara persatuan tidak berarti bahwa negara atau pemerintah akan

menarik segala kepentingan masyarakat ke dirinya untuk dipelihara sendiri, akan

tetapi menurut alas an-alasan yang “doelmatig” akan membagi-bagi kewajiban

negara kepada badan-badan pemerintahan di pusat dan di daerah masing-masing

atau akan memasrahkan sesuatu hal untuk dipelihara oleh suatu golongan atau

seseorang, menurut masa, tempat, dan soalnya.

Paduka Tuan Ketua, setelah saya menguraikan dasar-dasar yang menurut

(44)

sekarang hendak menguraikan kensekuensi dari teori negara tersebut terhadap

pada soal-soal:

1. Perhubungan negara dan agama,

2. Cara pembentukan pemerintahan.

3. Hubungan negara dan kehidupan ekonomi.

Sebelum saya membicarakan soal-soal ini, saya mengingatkan kepada

Tuan-tuan, bahwa bukan saja negara yang berdasar persatuan itu akan sesuai

dengan corak masyarakat Indonesia, akan tetapi negara yang bersifat persatuan itu

telah menjadi cita-cita pergerakan politik Indonesia pada zaman dahulu sampai

sekarang.

Saya hendak memperingatkan kepada Tuan-tuan pasal 2 dari Panca

Dharma yang telah diterima oleh Chuuoo Sangi-In bahwa kita hendak mendirikan

negara Indonesia yang merdeka, bersatu. Jadi, cita-cita ini tepat dan sesuai dengan

corak masyarakat Indonesia yang asli.

Bagaimanakah dalam negara yang saya gambarkan tadi hubungan antara

negara dan agama?

Oleh anggota yang terhormat Tuan Moh. Hatta telah diuraikan dengan

panjang-lebar bahwa dalam negara persatuan di Indonesia hendaknya urusan

negara dipisahkan dari urusan agama. Memang disini terlihat ada dua paham ialah

paham dari anggota-anggota ahli agama yang menganjurkan supaya Indonesia

didirikan sebagai negara Islam. Dan anjuran lain sebagaimana telah diajurkan oleh

Tuan Moh. Hatta ialah negara persatuan nasional yang memisahkan urusan negara

Referensi

Dokumen terkait

(FIFA) berlaku terhadap kedaulatan suatu negara, dan dalam penelitian ini kasus yang diangkat adalah dualisme di dalam salah satu anggota FIFA yaitu Persatuan Sepakbola

Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk., teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Komunikasi Organisasi, Teori kepemimpinan dan Motivasi. Populasi dalam penelitian

(FIFA) berlaku terhadap kedaulatan suatu negara, dan dalam penelitian ini kasus yang diangkat adalah dualisme di dalam salah satu anggota FIFA yaitu Persatuan Sepakbola

Menejemen organisasi dalam hal ini PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) harus berjalan dengan baik sesuai dengan program-program kerja serta didukung adanya

Pola ini dalam bernegara perlu diatur dalam suatu naskah berupa aturan hukum tertinggi dalam kehidupan Negara Republik Indonesia yang dinamakan Undang-Undang Dasar Negara Republik

Khusus terkait dengan negara hukum Pancasila, dalam tesis ini dapat diketemukan mengenai bagaimana pengaturan mengenai negara hukum di dalam UUD Indonesia, serta konsep

Peraturan Pem erintah Nom or 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pim pinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lem baran Negara Republik Indonesia Tahun

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1)Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 Pasca amandemen Indonesia adalah negara yang berpaham